Love, Trust & Hate 10 (END)

114f2364b1a3b81e90c1df08a7ec65f5

#10 : End of everything.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 (END)

***

“HEI, apa yang kalian lakukan di sini? Kenapa tidak bergabung dengan yang lain?”

Byul dan Eunhyuk serentak menoleh begitu suara alto yang dikenal baik seumur hidup mereka itu terdengar. Sedari tadi, hanya mereka berdua yang berada di serambi belakang rumah. Tidak ada orang lain. Karena memang mereka tidak ingin ada yang mendengar apa yang mereka bicarakan.

Tetapi kini, mereka tertangkap basah oleh sang nenek seperti pencuri yang tidak bisa melarikan diri.

“Ah, itu..” Byul berpikir cepat. “Ada yang ingin Eunhyuk bicarakan denganku..”

“Coba kutebak..” Hyejung mengusap dagu. “Soal Minjung?”

Keduanya berusaha untuk tidak terlihat tegang.

“Ini soal nenek yang mengizinkan ayah dan ibuku tinggal bersama nenek.” Eunhyuk berkata pasti. “Byul bertanya apa aku masih boleh tinggal di rumahnya atau tidak.”

Wanita tua itu diam. Ia tahu betapa dekatnya dua cucu termuda nya ini. Meski ia terkadang kesal dengan sikap Byul dan tingkahnya yang selalu menimbulkan perhatian, ia tetap menyayangi potensi keluarganya yang satu ini. Bagaimana pun, Byul tetap lebih muda dari Eunhyuk meski mereka berdualah cucu termuda yang ia miliki.

Sang nenek mengangkat bahu. “Itu pilihanmu, Eunhyuk-ah. Tapi kusarankan tetaplah bersama Byul kalau kita tidak mau melihatnya menjadi sangat menyedihkan.”

Keduanya melompat kegirangan dan memeluk wanita itu erat. “Terima kasih, Nek!” seru Byul senang. “Aku janji tidak akan merepotkan nenek!”

Hyejung mendengus. “Omong kosong.” ucapnya. “Terakhir kali kau merepotkan aku, kau nyaris membunuh sepupumu.”

Byul terkekeh meminta maaf.

Keduanya melepas pelukan seraya tersenyum lebar. Sang nenek meninggalkan mereka.

Byul menghela napas lega. “Pengalihan yang bagus sekali.”

“Tapi kau senang ‘kan?”

Byul menyeringai. “Jadi, bagaimana dengan Minjung? Kau belum menjawabku!”

Laki-laki itu tidak langsung menjawab. “Tidak.” ia menggeleng. “Nenek tidak tahu.”

Mereka kembali duduk berdampingan, menatap taman dan pepohonan di halaman belakang dengan pikiran masing-masing.

“Kau tidak mungkin mengecewakan nenek ‘kan?”

“Bukan hanya itu, Byul-ah..” Eunhyuk menghela napas berat.

Byul tersenyum mengerti.

“Malam itu, saat aku menolongnya,” laki-laki itu bercerita, mengenang kejadian itu. “dia meminta maaf dan mengatakan kalau dia mencintaiku lalu menciumku.” ia menghela napas berat. “Entah kenapa di situ harapanku sedikit muncul untuk kembali padanya, tapi saat bertemu tuan dan nyonya Hwang setelahnya, aku tidak yakin apa aku bisa kembali padanya.”

Gadis itu tercenung. Ia benar-benar mengerti apa yang Eunhyuk rasakan. Byul sudah tahu semuanya mengenai apa yang terjadi di Jepang. Jadi tidak mengherankan bila Minjung begitu berarti bagi sepupunya.

Eunhyuk sebenarnya warga negara Korea asli. Ia terpaksa ikut kedua orangtuanya karena sang nenek meminta ayahnya mengelola perusahaannya di sana. Ia tidak mau pindah, karena itu berarti ia harus berpisah dari teman-temannya dan Byul. Ketidaksukaannya ia salurkan ketika ia mulai dewasa dan mengenal wanita. Ia memacari semua wanita tanpa mengenal status dan umur. Singkatnya, ia mempermainkan para wanita Jepang itu hanya untuk uang dan kesenangan. Tanpa ada dasar cinta, atau komitmen untuk saling memiliki.

Namun saat ia kembali ke Korea, entah mengapa dirinya begitu terpikat pada Minjung. Gadis itu berbeda. Gadis itu tidak peduli dengan kehadirannya di sekolah dulu di saat semua orang menjadikannya pusat perhatian. Bahkan saat pertama kali mereka bertemu, gadis itu membencinya.

Hal itulah yang membuat sepupunya mengerti bahwa wanita di dunia ini tidaklah sama. Karena Minjung, ia mengerti apa itu cinta, apa itu cemburu, bagaimana cara memperjuangkan dan mempertahankan seseorang yang begitu berarti, bagaimana rasanya saat seseorang yang dicintai tersakiti, dan bagaimana rasanya memiliki seseorang yang dicintai seutuhnya.

Bahkan sejak bersama gadis itu, Eunhyuk sama sekali tidak berminat melirik gadis lain meski ia selalu digoda para jalang murahan itu.

Ketika melihat Eunhyuk seperti ini, Byul tahu bahwa sepupunya terluka. Ini untuk pertama kalinya Byul melihat bahwa laki-laki yang dulunya mudah menaklukan wanita, menjadi lemah hanya karena satu wanita. Minjung benar-benar melakukan perubahan besar pada sepupunya.

Gadis itu merangkul bahu Eunhyuk, menepuk-nepuknya. “Kau harus memperjuangkannya lagi.” ucap Byul. “Di depan tuan dan nyonya Hwang. Kau tidak boleh melepasnya untuk alasan apapun.”

Eunhyuk menoleh, melihat raut sepupunya yang benar-benar peduli akan dirinya. Kali ini, ia tidak melihat sisi gila dari gadis itu. Gadis yang sedang menyemangatinya ini adalah gadis yang sangat menyayanginya meski gadis ini pernah hampir membunuhnya. Byul sedang serius. Percayalah.

“Dan jika kau berhasil, panggil aku untuk membantumu mempersiapkan lamaran untuk Hwang Min Jung.”

“Lee Min Jung.” koreksi Eunhyuk tersenyum.

☆☆☆

Jikyung membuka pintu kamar sang kakak dan menoleh. “Noona butuh bantuan?”

Minjung menggeleng.

Anehnya, Jikyung malah masuk ke kamar kakaknya dan duduk di tepi ranjang. Mengamati gadis yang sering memarahinya dengan tidak berperikemanusiaan ini tampak tak berdaya karena kakinya yang dibebat. Ia duduk di ranjang bersandar pada kepala tempat tidur, sementara kakinya diluruskan begitu saja. Sebuah tongkat diletakkan di dekat ranjang, hanya untuk membantu Minjung ke kamar kecil sebenarnya. Sepertinya luka tembak yang didapat sang kakak benar-benar serius. Sudah beberapa minggu ini sebagian besar kegiatan Minjung dilakukan di tempat tidur.

Noona..”

“Ya?”

Kini Jikyung duduk berhadapan dengan gadis itu. “Apa noona baik-baik saja?”

Minjung tersenyum. “Kata dokter, kakiku akan sembuh dalam beberapa minggu. Jangan khawatir.”

“Bukan itu maksudku.”

Minjung menyipitkan mata ingin tahu.

“Ini soal Eunhyuk hyung..”

Hatinya digerogoti sesuatu yang aneh saat otaknya menangkap informasi soal nama itu. Sejak ia tahu hubungan laki-laki itu dengan kedua orangtua tirinya, nama Eunhyuk adalah nama yang paling haram disebutkan di rumah ini. Nenek, kakek, dan Jikyung benar-benar membencinya. Ia juga benci laki-laki itu. Tapi itu sebelum malam itu terjadi.

Ia mengingat dengan jelas bagaimana Eunhyuk menggendongnya dan membawanya keluar untuk menjauh dari mereka. Ia ingat bagaimana sentuhan Eunhyuk di kepala dan pipinya, juga betapa lembutnya kecupan Eunhyuk di kening dan bibirnya, setelah sekian lama tidak merasakannya. Jujur saja, ia bersyukur karena Eunhyuk menolongnya. Ia bersyukur Eunhyuk ada di sana malam itu. Dan ia benar-benar bahagia karena Eunhyuk berpihak padanya dan masih memprioritaskan dirinya meskipun ia pernah membenci laki-laki itu.

Dirinya sama sekali tidak menyesal setelah kembali menyatakan perasaannya pada laki-laki itu.

Ia sudah memaafkan Eunhyuk dan menerima laki-laki itu kembali dalam hidupnya. Ia merasa tidak jauh lebih baik sejak berada jauh dari jangkauan laki-laki itu. Ia mencintai Eunhyuk-nya dan berjanji tidak akan melepas laki-laki itu untuk alasan apapun.

Namun bagaimana dengan tuan dan nyonya Hwang? Kakek dan neneknya? Akankah mereka mau memaafkan dan menerima laki-laki itu kembali?

“Dari awal aku tidak pernah membencinya, asal noona tahu.” gumam Jikyung setengah merenung. “Aku tahu Eunhyuk hyung pasti dijebak dan tidak akan mungkin melakukan semua itu pada noona karena aku tahu betapa cintanya dia pada noona. Aku yakin dia tidak akan melepas noona begitu saja kalau bukan karena kakek dan nenek.” Jikyung menghela napas. “Setelah mendengar apa yang Eunhyuk hyung katakan malam itu, mereka awalnya sedikit ragu. Aku meyakinkan mereka, dengan menunjukkan beberapa bukti kalau dia sangat baik padaku dan bagaimana perasaannya pada noona. Mereka juga kembali memikirkan bagaimana sikapnya terhadap mereka. Mereka memaafkannya, noona.”

Minjung tersenyum sedih. “Benarkah?” lirihnya ragu. “Benarkah semua itu?”

Jikyung mengangguk dan tersenyum lebar. “Aku menguping pembicaraan kakek dan nenek ketika aku tidak sengaja mendengar mereka meneybut nama Eunhyuk hyung.” jelasnya. “Mereka mengerti. Eunhyuk hyung tidak bersalah. Mereka memaafkannya. Dan mereka ingin noona kembali padanya.”

Minjung terperangah untuk waktu yang cukup lama. Ia menyibak selimut penuh semangat. Ia mendengus. “Jadi ini alasanmu kemari.”

Jiyung tersenyum lagi. “Pergilah. Ada yang harus noona perjuangkan.”

☆☆☆

Eunhyuk berjalan santai di tengah hiruk pikuk kota ini. Ia mengamati orang-orang dengan kesibukan mereka, berjalan kesana kemari seraya menelepon, memeriksa tas, bercengkerama dengan orang lain, bahkan membaca sambil berjalan. Ia tersenyum haru. Ketika orang yang sedang membaca itu menabrak seseorang dan seketika mereka beradu mulut sengit, Eunhyuk terkekeh sendirian. Hal itu kembali mengingatkannya pada pertemuan pertama dengan gadis itu.

Kejadiannya persis sama. Namun saat itu Eunhyuk tengah menikmati es krim. Es krim itu mengotori buku Minjung. Minjung marah-marah, lalu menyeka es krim itu di bajunya. Berharap mereka tak akan bertemu lagi itu mustahil karena pada akhirnya Eunhyuk pindah di sekolah Byul ― yang juga sekolah Minjung ― berada di satu kelas yang sama, bahkan satu tempat duduk. Mereka dulu saling membenci, saling tidak menyukai satu sama lain, tapi siapa sangka sekarang mereka saling mencintai wakaupun saat ini keduanya tengah mengalami situasi yang sulit?

Ia menghela napas. Kira-kira, apa yang sedang dilakukan Minjung dengan satu kakinya itu? Apa gadis itu hanya mendekam di kamarnya sementara Jikyung menjadi korban gerutuannya, atau malah, gadis itu kini sedang berjalan-jalan tanpa menggunakan tongkatnya? Ia bisa saja mengirim pesan pada gadis itu dan bertanya berbagai macam hal, namun entah mengapa ia merasa sulit melakukannya lagi.

Ia tiba di sebuah halte bus, duduk selagi masih terdapat tempat kosong, dan bersama para penumpang yang ada di sini sedang menunggu bus. Orang-orang itu melakukan banyak hal seraya menunggu; menelepon, membaca koran, mempelajari peta rute bus, berpikir, merenung, dan mengamati jalanan.

Dari kejauhan, ia melihat seseorang berjalan terpincang-pincang. Sepertinya orang itu membutuhkan penyesuaian untuk berjalan dengan tongkat dan satu kaki. Ketika orang itu tiba di halte ini, Eunhyuk sadar tidak ada yang memperhatikan orang itu selain dirinya, sehingga tidak ada satupun yang berkenan untuk memberikan tempat duduk berharga mereka.

Laki-laki itu bangun, mempersilahkan orang tadi. “Duduklah.”

Orang itu mengangkat wajah dan tersenyum singkat. “Terima kasih.”

Eunhyuk mengangguk. Beberapa detik kemudian, keduanya terkesiap.

“Tunggu sebentar!” keduanya berteriak kaget. Eunhyuk menatap tak percaya orang itu, sedangkan orang itu seketika berdiri dan menatap Eunhyuk dengan perasaan campur aduk.

“Minjung-ah?!”

Gadis itu mengerjap beberapa detik.

YA!” Minjung memukul belakang bahu laki-laki itu, memandangnya berkaca-kaca. “YA..”

Sebelum Minjung mengamuk dan menimbulkan perhatian, Eunhyuk memeluk gadis itu dan membawanya pergi dari tempat ini.

☆☆☆

Keduanya berakhir di sebuah taman di pusat kota yang cukup ramai. Mereka bisa melihat orang-orang berolahraga, bermain sepeda, bercengkerama, dan tertawa. Keduanya duduk berhadap-hadapan di sebuah bangku taman, saling memandang seolah tidak yakin mereka akan bertemu seperti ini.

Minjung tersenyum haru. Ia kerap mengelus wajah dan kepala laki-laki di depannya, seolah memastikan bahwa laki-laki ini nyata. Ia sedang tidak bermimpi. Orang yang memiliki separuh jiwanya tengah duduk di depannya saat ini.

Gadis itu sontak memeluk Eunhyuk erat, membenamkan wajahnya di bahu laki-laki itu, dan dengan tiba-tiba, menangis tersedu-sedu.

Laki-laki itu jelas tertegun. Yang bisa ia lakukan hanya bisa mengusap-usap punggung dan kepala gadis itu.

Minjung menghentikan suara tangisannya. Ia menopang dagu di bahu laki-laki itu, memejamkan mata, membiarkan air matanya turun begitu saja. “Bogoshipeo..” lirihnya begitu pelan.

Eunhyuk juga menopang dagu di bahu gadisnya, dan tanpa diduga, juga menangis dalam diam. “Kau tidak pernah hilang dari pikiranku..”

Pelukan keduanya semakin erat.

“Maaf karena aku begitu bodoh dan naif..” Minjung masih meracau.

“Dan maaf karena menyembunyikan banyak hal darimu..” sambung Eunhyuk.

“Jangan tinggalkan aku..”

“Tidak pernah sekalipun untuk memikirkan hal itu..”

Minjung tersenyum. Ia melepas pelukan dan menyeka kasar air matanya. Ia mendelik kala tahu Eunhyuk-nya juga menangis.

Ya..” ia menyeka air mata laki-laki itu dengan jemarinya. “Kenapa kau juga menangis?”

“Ini menyedihkan, dasar bodoh..” Eunhyuk menurunkan tangan Minjung dari wajahnya. Sejurus kemudian, ia memeluk gadis itu, membenamkan wajah di bahunya, dan menangis dalam diam.

Kini Hwang Min Jung yang tertegun.

Seharusnya ia tahu. Seharusnya ia tidak perlu bertanya. Laki-laki itu ― mau tidak mau Minjung harus mengakuinya ― agak sedikit.. er.. sentimentil. Persis dengan Byul bila gadis itu berubah normal. Harus ia akui, apa yang dialami keduanya memang menyedihkan, dan apa yang ditanggung Eunhyuk juga cukup berat. Ia bukan tipe gadis yang memandang aneh pada laki-laki yang menangis, justru ia malah mensyukuri hal itu. Ia benci melihat pria sok kuat yang menahan segala emosi yang bergejolak dalam dirinya.

Ia mengusap penuh kasih sayang kepala Eunhyuk, memejamkan mata di sana, tanpa disadarinya air matanya juga jatuh lagi.

Ketika Eunhyuk melepas pelukan, Minjung menyeka air mata itu dengan jemarinya.

“Sudah?” tanyanya lembut.

Laki-laki itu mengangguk sekali.

“Kau masih belum berubah..” laki-laki itu melepas kacamata Minjung, yang rupanya digenangi air mata. Ia menyeka benda itu dengan ujung bajunya, kemudian kembali memakaikannya pada gadis itu.

Ia mengamati kaki Minjung yang berbalut perban. “Bagaimana?”

“Kata dokter kakiku akan sembuh dalam seminggu.”

“Bukan itu maksudku..” Eunhyuk tersenyum geli. “Bagaimana kau menjalani hidup dengan tongkat dan satu kaki? Kau seperti baru saja menggunakan tongkat itu hari ini, kau tahu?”

“Itu memang benar.” Minjung tertawa pelan. “Aku tidak punya niat untuk keluar dari kamarku kalau bukan karena kau, bodoh!” ia menjitak kepala laki-laki itu.

“Jadi.. kau pergi hari ini untuk menemuiku? Dengan bus itu?”

“Apa lagi?”

Laki-laki itu mendengus. “Kau benar-benar!”

Ia memangku kaki Minjung yang terluka, lalu mengamati perbannya. Ia mengusap lembut perban itu. Ia masih tidak menyangka dirinya dan gadisnya akan melalui malam seberat itu. Ia juga tidak percaya Minjung mendapat luka ini karena dirinya. Dan gadis itu masih bertingkah kalau di baik-baik saja.

Ya.” Minjung menurunkan kakinya dari pangkuan Eunhyuk. “Kau ini kenapa? Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu sekhawatir itu, sungguh!”

Minjung berkata jujur. Ada banyak hal yang membuatnya semakin membaik selain karena kakinya terluka. Tapi itu tidak masalah baginya. Ia bertemu Eunhyuk, kakek neneknya mendukung dirinya. Apalagi yang kurang?

“Minjung-ah?”

“Hm?”

“Kau mau aku―” Eunhyuk memotong ucapannya sendiri. Seakan teringat sesuatu, ia menggeleng. “Tidak jadi.”

“Apa?” tanya Minjung penasaran.

Eunhyuk menggeleng. “Bukan apa-apa.”

Minjung tidak langsung menanggapi. “Kau mau bertemu kakek dan nenekku?”

Ekspresi laki-laki itu mendadak kaku. Sebenarnya, ia tidak ingin Minjung tahu bahwa neneknya ingin dirinya melamar gadis itu, tapi di satu sisi, ia masih ingin tahu bagaimana hubungannya dengan gadis itu dari sudut pandang keluarga Hwang.

“Aku tidak berani bertemu mereka..” bisiknya jujur.

“Kenapa? Karena mereka ingin kau mengunjunginya?”

Eunhyuk mengangkat wajah. “Apa?”

Minjung tersenyum dan berdiri. Ia menyangga dirinya dengan satu tongkat, lalu mengulurkan tangan pada laki-laki itu. “Ayo!”

Laki-laki itu menerima uluran tangan Minjung. Namun sejurus kemudian, entah mengapa ia sudah mengambil alih tongkat gadis itu, dan Minjung yang sudah berada di punggungnya.

☆☆☆

Selama perjalanan mereka menuju rumah keluarga Hwang, Eunhyuk mulai menceritakan segalanya. Termasuk soal gadis-gadis Jepang itu. Selama cerita bergulir, Minjung hanya mendengar, tidak menyela ataupun bertanya. Ia hanya berpikir, laki-laki ini begitu bodoh sampai menyembunyikan semua ini sendirian. Lihat akibatnya. Ia meninggalkannya. Sepupunya mematahkan hidungnya.

“Aku sebisa mungkin menjadi anak yang berbakti saat orangtuaku memaksaku menuruti mereka.” Eunhyuk mengakhiri cerita. “Dan itu benar-benar sulit.”

Minjung tersenyum mengerti dan menggenggam tangan laki-laki itu dengan tangannya yang bebas. “Aku juga berusaha menjadi anak yang baik saat ayahku menikahi Jihye, dan selalu berusaha terlihat baik-baik saja dan menerima semuanya.”

“Lega rasanya bisa mengatakan semua ini padamu.” ungkap Eunhyuk.

“Dan lega rasanya setelah menyadari betapa bodohnya dirimu.” sambung Minjung, menangkupkan satu tangan di sebelah pipi laki-laki itu, mengusap hidungnya. “Kreasi Byul amat sangat bagus.”

Eunhyuk tertawa. “Aku tahu kau akan sependapat dengannya.”

Minjung tidak lagi berada di gendongan Eunhyuk sejak mereka turun dari bus. Gadis itu mati-matian ingin berusaha terbiasa berjalan dengan keadaannya yang sekarang. Jadi keduanya berjalan bersama, Eunhyuk menyeimbangi langkah Minjung yang begitu pelan, sementara mereka tetap saja bergandengan tangan.

Tapi laki-laki itu gemas melihat Minjung yang seperti ini. “Kau yakin tidak mau naik ke punggungku lagi?”

Minjung mendengus. “Sebentar lagi kita sampai di rumahku.”

Eunhyuk menggaruk-garukan kepalanya. “Tidakkah kau tahu, orang-orang melihatku dengan tatapan merendahkan, seakan aku tidak mau kau naik ke punggungku atau menolongmu?”

“Biarkan saja.” gadis itu mengamati orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya. “Kau hidup bukan untuk menyenangkan mereka. Jadi untuk apa? Memangnya mereka siapa?”

“Eish..” Eunhyuk menjitak kepala gadis itu, yang dibalas dengan bahu bergedik tanda  tahu benar apa yang dia katakana benar dan dia tidak mau mempedulikan apapun. Tabiat buruk gadis itu memang tidak akan pernah lenyap dan akan terus menjadi ciri khas serta identitasnya.

Mereka sudah sampai di depan halaman keluarga Hwang. Eunhyuk mendadak gugup. Minjung, yang menyadari itu, lantas mengeratkan genggaman tangannya.

Hal pertama yang mereka lihat di ruang tamu rumah ini adalah, Shin Ha Byul yang berdiri dengan anggun setelah melakukan split, diiringi tepuk tangan yang meriah dari Hwang Ji Kyung dan Lee Joo Hae.

“Ceritakan pada kami bagaimana noona menghajar enam preman itu!” seru Jikyung.

“Jangan!” larang Joohae. “Ceritakan saja bagaimana eonni menghajar Eunhyuk oppa! Itu pasti seru sekali!”

“Atau bagaimana Byul noona mematahkan lima batu bata sekali pukul!” Jikyung menyahut.

“Oh, oh!” Joohae melompat kegirangan. “Yang membuat Donghae oppa dan Sungmin oppa ketakutan?” ia menyeringai.

“Aku tidak ketakuan!” teriak Donghae dan Sungmin bersamaan. Jikyung dan Joohae tertawa.

“Kapan kau tiba, Joo?” tiba-tiba Minjung bertanya.

Perhatian semua orang tertuju pada sepasang kekasih itu.

“Kemarin.” Joohae tersenyum lebar. “Donghae oppa mengancam membakar John Green ku kalau aku tidak datang ke pernikahannya.”

“Kau adikku, dasar bodoh!” Donghae menendang punggung gadis itu. “Kau harus ada di pernikahanku!”

“Byul eonni!” rajuk Joohae menunjuk Donghae. “Bisakah eonni menendangnya untukku?”

Aigoo.. ingatlah umurmu, adik kecil..” Chan mengacak gemas rambut gadis itu.

Minjung tersenyum geli, lalu perhatiannya jatuh pada Byul. Gadis itu hanya berdiri kaku dan menunduk.

Senyum Minjung makin lebar saat Byul berubah tegang ketika ia mendekat. Persis seperti anak tujuh tahun yang akan dimarahi ibunya.

“Kau masih memikirkan bentakanku?” Minjung langsung bertanya.

Byul mengangkat wajah.

“Aku mabuk, bodoh!” Minjung meninju bahu Byul. “Kalau aku tahu itu kau, aku tidak mungkin membuatmu sesedih ini. Apalagi kau sudah menyelamatkan aku.”

Saat dilihatnya Byul akan menangis, Minjung meraih kepala gadis itu dan memeluknya. “Kemarilah, Byul ku sayang..”

“Sialan kau.” umpat Byul tertawa.

Noona, duduklah!” Jikyung berkata dengan nada menuntut. “Ada yang harus Byul noona tunjukkan pada kami!”

“Baiklah.. baiklah..”

Minjung dan Eunhyuk bergabung dengan teman-temannya di sofa. Sampai akhirnya Eunhyuk mendelik karena tuan dan nyonya Hwang muncul. Eunhyuk menghampiri mereka, langsung terlibat pembicaraan serius dengan mereka.

“Jadi, kau akan datang ke pernikahan kami?”

Donghae melipat tangan, memandang Minjung menuntut jawaban. Chan disampingnya, terlihat was-was menunggu jawaban gadis itu. Hyosung dan Sungmin hanya memperhatikan Jikyung dan Joohae yang tengah terkagum-kagum saat Byul mengangkat satu kakinya lurus menempel pada satu sisi tubuhnya sambil sedikit mencuri dengar.

“Setelah aku seharian mencari baju?” Minjung tersenyum. “Tentu saja!”

“Bahkan dengan kaki seperti itu?” Sungmin menyahut.

“Tidak ada siapapun yang berhak melarangku ke pernikahan sahabatku.” Minjung melihat Chan hampir kehilangan kendali karena senang. “Dan.. Sungmin-ah.. Hyosung-ah.. aku minta maaf..”

Keduanye tersenyum penuh pengertian.

“Kau harus membayar, nona Hwang.” ujar Hyosung. “Harus.”

“Dengan cara apapun.” Sungmin menyahut.

Beberapa menit kemudian, Eunhyuk bergabung dengan mereka. Ekspresinya jauh lebih cerah dari sebelumnya, namun ia berusaha untuk menyembunyikannya. Ia hanya tersenyum tanpa menjawab apa ditanyakan teman-temannya tentang apa yang tuan dan nyonya Hwang bicarakan dengannya. Ia melirik Byul yang kini tengah memperagakan bagaimana ia hampir membunuhnya, yang ternyata gadis itu juga tengah meliriknya sambil lalu. Ia menunjukkan sesuatu dengan raut wajahnya, yang membuat Byul mengangguk pelan.

☆☆☆

Hyung, mana Minjung noona?”

Beberapa orang anak kecil tengah berkumpul mengerumuni satu-satunya laki-laki dewasa di sini. Sebenarnya, mereka tidak ‘sekecil’ yang kau bayangkan. Usia mereka antara delapan sampai lima belas tahun. Kini, mereka semua sedang menunggu beberapa orang yang tengah mempersiapkan pertunjukan di depan sana.

“Sebentar lagi dia sampai. Tenanglah.” jawab Eunhyuk.

Ia melihat beberapa dari mereka merengut, tanda tak setuju bahwa mereka harus menunggu lebih lama lagi. Ia memang sudah janji pada Minjung untuk menemani gadis itu menonton pertunjukkan boneka tangan di panti asuhan.

Gadis itu memang suka menonton pertunjukan boneka tangan. Siapa sangka? Terlalu kekanakan memang, namun ia tidak bisa menghilangkan kesukaan itu sampai sudah sebesar ini. Baginya, bisa menonton pertunjukan boneka tangan bersama seseorang yang dicintainya sama halnya dengan menonton konser artis idola.

Panti asuhan ini dulu dikelola ibu Minjung, setidaknya sampai ibunya meninggal. Sekarang ada anak kerabat sang ibu yang mengelolanya. Ayahnya juga dulu sering ke sini, memberikan makanan, mainan, pakaian, buku, atau beberapa benda lain. Sejak keduanya tiada, Minjung dan Donghae berusaha keras mencari banyak sponsor dan bantuan secara terus-menerus untuk tempat ini. Usaha mereka tidak sia-sia. Selalu saja ada bantuan untuk tempat ini. Karena itulah mereka bisa membuat semacam pertunjukkan tiap minggunya, selain karena hal itu merupakan ide Minjung yang memang sering mengunjungi anak-anak di sini, bermain dan belajar bersama mereka. Sebelum kejadian itu, Minjung sering mengajak Eunhyuk atau teman-temannya kemari. Tidak heran mereka mengenal laki-laki ini dan para sahabatnya sebaik mereka mengenal Minjung.

Walaupun tetap saja, laki-laki favorit mereka masih Lee Dong Hae.

Saat itu, ia melihat beberapa anak tersenyum cerah, berbalik menghadap panggung pementasan boneka tangan dan tampak bergairah, meski pertunjukkan belum dimulai.

Barulah ia mengerti mengapa semua anak-anak itu bersikap demikian.

Seorang gadis tiba-tiba menutup matanya dari belakang. Ia sudah bisa menerka siapa gadis ini. Jadi ia hanya tersenyum dan berkata. “Kau sama sekali tidak membuatku terkejut, tahu?”

Minjung merengut. Tangannya kini sudah mengalungi leher Eunhyuk. Gadis itu muncul dari balik bahunya, mengecup kilat pipi Eunhyuk. Dengan riang ia berkata. “Hei, mau tahu sesuatu?”

Tanpa menunggu jawaban, Minjung duduk di samping Eunhyuk, menjulurkan kaki kirinya yang mulus.. tanpa perban dan luka.

Eunhyuk menyeringai, menepuk tempat di sampingnya. “Pertunjukkan tidak akan dimulai tanpamu. Duduklah.”

Saat Minjung duduk, tirai panggung boneka tangan langsung terbuka. Semua anak bertepuk tangan, tidak terkecuali Minjung yang sudha tidak tampak seperti wanita dewasa lagi.

Ternyata pertunjukkan itu menampilkan cerita Tangled.

Semua orang mulai terbawa suasana cerita. Rapunzel yang diculik, dikurung oleh penyihir yang mengaku adalah ibunya, dikurung dalam menara selama tujuh belas tahun, sampai si pencuri Eugene tak sengaja bertemu dengannya, mengajaknya keluar dari menara untuk pertama kali selama tujuh belas tahun, mengunjungi kota tepat pada saat perayaan ulang tahun putri kerajaan yang hilang selama tujuh belas tahun.

Eunhyuk mengamati Minjung yang menikmati cerita ini. Gadis itu akan tertawa bila melihat adegan saat si kuda Maximus tampak sangat benci dengan Eugene. Atau akan ikut menyanyi saat Rapunzel juga menyanyi. Atau akan berubah tegang saat melihat si penyihir bekerja sama dengan teman-teman Eugene. Atau berubah terharu sekaligus sedih saat Eugene memotong rambut Rapunzel agar tidak dimanfaatkan ibu tirinya.

Ia tersenyum, tidak peduli lagi pada cerita yang sedang berlangsung di sana. Ia benar-benar bahagia bahwa Minjung yang tadi merangkulnya, menciumnya, dan duduk di sampingnya ini adalah Minjung-nya. Gadisnya. Pemilik hatinya. Ia bahagia hubungan mereka sudah seperti dulu lagi, saling mencintai dan saling menyayangi lagi. Ia merasa menjadi pria paling beruntung di dunia karena bisa memiliki gadis seperti Minjung. Ia tidak akan mendustakan nikmat Tuhan yang satu ini.

Ia kembali memandang penggung seraya mensyukuri semua kebahagiaan yang didapatnya.

Riuh tepuk tangan dan sorak gembira penonton mewarnai akhir dari pertunjukkan. Sampai akhirnya, ada seorang anak yang mencetuskan sebuah kalimat yang sepertinya tidak akan disetujui semua orang.

“Itu aneh.”

Seorang anak perempuan, umurnya kira-kira dua belas tahun, berambut hitam dengan potongan bob, berkata demikian tepat setelah para boneka yang merupakan tokoh utama pementasan ‘membungkuk’.

Semua orang memandangnya.

Si Rapunzel berkata. “Ada apa? Apa yang aneh?”

“Kalau memang ada seorang laki-laki melamar kekasihnya, kenapa si gadis hanya memberikan respon seperti itu?”

“Apa maksudmu? Bukannya Rapunzel sangat senang saat tahu dia akan menikah dengan Eugene?”

Anak itu menunjuk Minjung. Dengan polos ia berkata. “Lihatlah eonni yang itu. Kenapa dia diam saja saat oppa di sampingnya memberikan kotak cincin?”

Minjung menyipitkan mata, lalu menoleh ke Eunhyuk. Laki-laki itu memandang panggung dengan menopang dagu. Tapi begitu melihat apa yang ada di tangannya, Minjung terkesiap.

Anak itu tidak salah.

Minjung menyenggol bahu Eunhyuk. “Apa itu?”

Eunhyuk ― seakan baru tersadar dari lamunan panjang ― kaget. Ia menatap Minjung dengan bingung, lalu memandang kotak cincin yang dipegangnya. “Oh!” ia terhenyak, seakan baru menyadari ia memegang benda ini. “Benar juga. Maukah kau menikah denganku?”

Minjung menganga lebar. Apa Eunhyuk tengah melamarnya? Di depan anak-anak ini? Jika ya, kenapa ia melakukannya di depan mereka? Tetapi.. ia mengucapkan kalimat itu dengan nada yang begitu santai, seolah itu adalah pertanyaan dari kehidupan sehari-hari mereka.

“Apa-apaan itu?” seru Minjung heran.

“Apa?”

“Apa yang baru saja kau katakan?”

“Apa kurang jelas?”

“Apa yang kau lakukan?”

“Menurutmu apa?”

“K-k-kau..melamarku?” gadis itu bertanya bodoh.

“Kau menganggap aku sedang bercanda?” Eunhyuk balas bertanya. “Apa kau mau aku mengulanginya?  Baiklah.” tanpa menunggu jawaban, ia melanjutkan. “Hwang Min Jung, maukah kau menikah denganku?”

Mata Minjung melebar, begitu juga dengan mulutnya. Ada dua alasan mengapa ia sekaget ini. Pertama, karena Eunhyuk melamarnya. Kedua, yah, ini adalah momen serius yang dibawa dengan candaan yang keterlaluan. Ia tidak bisa mendeskripsikan apa yang ia rasakan.

Atmosfer di sini berubah tegang karena sepertinya anak-anak sedang menunggu jawaban Minjung.

“Begini saja, akan kubuat lebih sederhana.”  kata Eunhyuk. “Maukah kau mendampingiku seumur hidupmu? Menjadi satu-satunya gadis yang selalu ada di sampingku? Melahirkan anak-anakku dan hidup bahagia bersamaku dan mereka? Mengubah namamu menjadi Lee Min Jung? Maukah?”

Semua anak bertepuk tangan dan berteriak heboh saat mendengar kalimat itu.

Saat ini, Minjung benar-benar membutuhkan orang untuk menampar wajahnya. Ia tidak salah dengar. Eunhyuk serius dengan lamarannya, terutama setelah penegasan yang dibuatnya. Itu.. sungguh.. demi apapun.. adalah kalimat termanis yang pernah ia dengar.

Tidak, laki-laki itu tidak membuat ini menjadi lebih sederhana. Ia hanya membelit-belitkan kalimat itu. Tapi.. ah sialan.. Minjung terlena.

“Apa kau masih tidak bisa menjawabku?” Eunhyuk bertanya lagi. Suaranya mulai terdengar panik.

“Bukan begitu..” Minjung terdengar gugup karena saking gembiranya.

“Begini saja.” Laki-laki itu menghela napas, menyodorkan kotak cincin itu. “Pakai jika kau menerimaku. Tutup kotak ini jika kau menolakku.”

Minjung menatap kotak itu, lalu merasakan suasana di sekitarnya. Semua orang sedang menunggunya saat ini. Ia sedang ditunggu. Ia yang menentukan bagaimana kelanjutan kejadian ini. Ia mempengaruhi segalanya.

Pada saat itu, ada satu hal yang terlintas di kepala Minjung. Jawaban atas pertanyaan itu.

“Kau mau aku menjawab ‘kan?”

Laki-laki itu mengangguk antusias.

Minjung menutup kotak itu.

Eunhyuk kaget bukan main.

Begitu semua orang yang ada di sini.

Minjung.. menolaknya? Benarkah? Apa ia tidak salah?

Bahkan anak-anak itu terkesiap secara terang-terangan saking kagetnya.

“Simpan cincin ini untuk pernikahan kita, eoh?”

Beberapa anak terlihat tengah menahan napas dengan tatapan kaget.

“A-a-apa?” Eunhyuk gelagapan.

“Kau tidak mengerti?” Minjung merengut. Ia menatap Eunhyuk sangsi. “Aku mau menikah denganmu. Aku mau mendampingimu seumur hidupku. Aku mau melahirkan anak-anakmu dan bahagia bersamamu dan mereka. Aku bersedia mengubah namaku menjadi Lee Min Jung. Haruskah aku menjawabnya secara harfiah? Itu basi, kau tahu?”

Eunhyuk mengedipkan matanya berkali-kali, mencerna pengakuan Minjung, sampai akhirnya ia sudah memeluk erat gadis itu.

☆☆☆

Sepanjang perjalanan pulang, sepasang manusia itu tidak berhenti tersenyum. Mereka berjalan beriringan, bergandengan tangan, memberikan senyum pada siapa saja yang lewat di depan mereka. Orang akan menganggap mereka gila kalau terus seperti itu, namun bila orang tahu apa yang baru saja terjadi, orang-orang pasti juga akan ikut bahagia.

Bahkan Minjung nyaris ingin berteriak pada semua orang bahwa Lee Hyuk Jae baru saja melamarnya. Namun, kalian tahu, gengsi adalah nomor satu. Meski ia tahu Eunhyuk tidak akan mengejeknya hanya karena ini.

“Minjung-ah?”

Gadis itu menoleh.

“Kau pernah merasa dimata-matai sebelumnya?”

Minjung mengerutkan dahi. “Kenapa kau bertanya begitu?”

Well..” Eunhyuk mengangkat bahu. “Aku sebenarnya memang ingin melamarmu, tapi tidak secepat ini.. Kau tahu? Nenekku sangat terkesan padamu, jadi beliau ingin sekali aku cepat-cepat melamarmu..”

“Nenekmu?” Minjung berkata. “Aku bahkan tidak pernah bertemu dengan nenekmu sebelumnya.”

“Kau pernah bertemu dengannya.” laki-laki itu tersenyum. “Hanya saja kau tidak menyadarinya. Apa kau pernah menolong seorang nenek yang kekurangan uang saat berbelanja? Itu nenekku. Hari itu seharusnya Byul bersamanya.”

Minjung membelalak saat ia mengingatnya. “Jadi itu nenekmu?!” pekiknya antusias. “Kalau saja aku tahu..”

“Dan sejak itu, beliau berusaha bertemu denganmu lagi, sampai akhirnya entah bagaimana beliau bisa tahu semuanya tentangmu melebihiku.”

Minjung tertawa. “Dan kau melamarku atas desakannya?”

“Selain karena cinta dan karena aku ingin memilikimu seutuhnya.”

Gadis itu tampak tersipu saat mendengarnya. “Ya.” Ia menghentikan langkahnya.

Eunhyuk yang berada dua langkah di depannya, berhenti dan menoleh seraya tersenyum.

Minjung melepas genggaman tangannya di tangan laki-laki itu, melingkarkan tangan di leher Eunhyuk dan merengkuhnya erat. Dengan senyum yang masih terpatri di wajahnya, Eunhyuk memejamkan mata, dan merangkul pinggang gadis itu. Mereka berpelukan lama sekali. Sampai Minjung mengangkat wajah dari bahu Eunhyuk, tanpa melepas rangkulan, keduanya saling pandang dengan tatapan memuja.

“Terima kasih.” ujar Minjung tulus dan lembut. “Aku bersyukur saat hari saat kita bertemu untuk pertama kalinya walau kita saling memarahi dan memaki. Aku bersyukur saat Tuhan memberikan aku kesempatan untuk tahu akan dirimu walau dulu kita saling membenci dan memusuhi. Aku sangat bersyukur saat hari dimana kau menyatakan perasaanmu padaku meski aku sempat menolakmu karena ada seorang jalang yang terus saja menempel padamu. Terima kasih karena mau menerima semua keburukanku, peduli akan diriku, selalu mendukungku dalam kondisi apapun, dan melindungiku dengan sepenuh hatimu. Terima kasih karena mencintaiku dan menginginkan aku di dalam hidupmu. Terima kasih karena tidak pernah membenciku dan melupakan aku. Terima kasih karena memprioritaskan aku dan menjadikan aku masa depanmu.”

Setitik air Minjung jatuh tanpa gadis itu menyadarinya. Ia mengecup kilat bibir laki-laki itu.

“Semua yang telah kau lakukan bersamaku, entah itu saat kau sedang bahagia, sedih, marah, gugup, takut, benci, atau apapun, terima kasih karena telah membiarkan aku berada di sisimu dan menyaksikan semua itu.” Eunhyuk juga berkata. Senyumnya melebar. “Aku benar-benar mensyukuri hari saat aku kembali ke Korea dan memutuskan untuk meninggalkan kehidupan Jepangku. Aku bersyukur pada Tuhan karena membiarkan aku menemukan gadis sepertimu. Terima kasih karena kau mengubah pandanganku tentang wanita. Terima kasih karena membiarkan aku tahu apa itu cinta yang sesungguhnya. Terima kasih karena menerimaku kembali di hidupmu setelah apa yang sudah kulakukan padamu dan setelah apa yang terjadi akhir-akhir ini. Terima kasih karena membiarkan aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku. Terima kasih karena mencintaiku meski kau pernah membenciku. Terima kasih, nona Hwang.. untuk segalanya..”

Ia mengecup lama kening Minjung dan melanjutkan. “Aku mencintaimu dan selamanya tetap seperti itu.”

Eunhyuk mendekatkan wajahnya, membuat ujung hidung mereka saling bersentuhan. Ia memiringkan wajah, memejamkan mata, meraup bibir Minjung, mengulumnya dengan lembut, sayang, dan penuh cinta. Minjung membalas dengan setimpal. Napas mereka teratur dan terasa hangat dan nyaman.

Tidak ada yang lebih membahagiakan dari ini.

Keduanya tersenyum simpul setelah mengakhiri ciuman itu.

Pada saat itu, ponsel Eunhyuk berbunyi. Refleks, pelukan mereka terlepas. Ia terkesiap saat melihat siapa peneleponnya.

Laki-laki itu menjawab panggilan. “Halo, Nek?”

“Jadi, apa kau dan Minjung sudah menetapkan tanggal pernikahan kalian?”

b

End

 b

WAHAHAHAHAHAHA akhirnya selesaiiii 😀

Itu sebenernya aku mikir keras gitu pas di bagian lamarannya, jadi mohon maaf ya yang pas bagian melamarnya, feel-nya kurang dapet :3 bahkan mungkin keseluruhan cerita nggak dapet feel-nya samsek :3

Jadi gimana? Berikan pendapat kritik saran kalian, karena setelah ini aku mau vakum bentar karena kulya :v

Yah, walaupun aku udah siapin ceritanya Donghae sama Chan sih, semacam lanjutan dari A ‘Good’ Bye HEHE 😀

See ya!

Dan makasih buat Art Fantasy dan MCLENNX buat posternya!

Advertisements

13 thoughts on “Love, Trust & Hate 10 (END)

  1. 30 meniiit bacanyaa👏👏 sambil senyum senyum sendiri ketawa sendiri ahhh kurang banyaaak thor wkwkwk *ditabokbyul* endingnya maniiis bangeeet 😆😆 ahh cemburu gue mah lah.. Pengen jadi Min Jung beneran buat Eunhyuk hahaa…
    Di tunggu karyamu selanjutnya Author nim😊😊 hwaiting💪

    Liked by 1 person

  2. finally yaaaaaa aku selesai Bacanya wkwkwk /liburnyepiberfaedah ♡
    makasih ya dipaa udah namatin cerita ini 🙂
    aku ikut menikmati cerita tangled dan lamarannya ko 😉
    eunhyuk ga romantis itu wajar, dia bukan donghai /dug
    ditunggu cerita2 lainnya yaa 🙂 labyu dedek gemayku yang unch unch(?)

    Liked by 1 person

    1. Alhamdulillah yah eon udah bisa baca sampe ceritanya tamat 😂😂😂😂😂 seenggaknya kehidupan eonni nggak se-nirfaedah aku HAHAHAHA itu emang parah bet dah lamarannya karena udah gatau lagi mau bikin kek gimana, soalnya aku mau bikin yang agak unik dan nggak biasa karena emang aku orangnya gila kan 😂😂😂😂 dan emang bener sih eunyuk romantis itu sama aja dengan dongai yang nggak ngerusak barang2 *ke-nirfaedah-an kumat* 😂😂😂😂 overall aku cuma mau bilang makasih sih eonnnn karena udah mau ngikutin dan ngereview dan menunggu 😂😂😂😂 cerita2 baper unyu eonni juga ditunggu yaksss 😘😘😘😘

      Liked by 1 person

  3. akhir yg diharapkan. semua happy happy happy #korban iklan
    suka banget ff nya.. jeongmal chuaeyeo.
    eunhyuk ngelamarnya santai banget tapi ngena. pas!
    di tunggu karya lainnya thor

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s