Love, Trust & Hate 3

114f2364b1a3b81e90c1df08a7ec65f5

#3 : The secret

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 (END)

***

MINJUNG memasuki lapangan indoor itu dengan tenang, berjalan santai ke tribun tempat para suporter berada. Duduk, berdiri, melompat, berteriak, apapun mereka lakukan untuk mendukung jagoan mereka yang tengah bertanding di sana. Suara decitan sepatu, pantulan bola, peluit wasit, pengumuman pelanggaran, dan sorak-sorai penonton mewarnai tempat ini.

Donghae melambaikan tangan saat ia melihat Minjung sedang melihat ke seluruh penjuru tribun untuk mencari siapapun yang dikenalnya. Gadis itu sedang menghampirinya.

“Apa aku melewatkan banyak hal?”

“Ini sudah kuarter keempat, bodoh!” Donghae menjitak kepala gadis itu. “Dan sebentar lagi pertandingan berakhir.”

Gadis itu mendesis sebal. “Aku harus membantu kakekku di rumah, dan mengantar pesanan. Kau tahu kan baru-baru ini tartlet nenekku sedang digemari?”

“Yah, kau benar..” Donghae mengangguk-angguk membenarkan. “Bahkan Chan yang tidak suka makanan manis saja memesan dua lusin untuk dimakan sendiri.”

“Dan keesokan harinya dia menangis padaku karena berat badannya naik dua kilogram.”

“Hei, Byul mencetak tiga angka!”

Minjung praktis menoleh ke lapangan tempat Byul bertanding. Ia langsung bisa mengenali gadis itu. Rambut dikuncir, kaos lengan pendek sebagai dalaman kostum basketnya, tubuh penuh keringat, dan sepatu tosca andalanya merupakan ciri khas gadis itu bila bertanding. Ia melambaikan tangan pada dirinya dan Donghae, lalu tersenyum penuh kemenangan.

“Perhatikan posisimu, bodoh! Jangan sombong!” Donghae berteriak dari tempatnya. Meskipun suaranya tidak akan terdengar oleh Byul karena suara sorak-sorai penonton mendominasi, Minjung yang setidaknya berada di sampingnya, bisa mendengar suara sahabatnya itu dengan jelas.

Baru saja ia hendak ingin menanyakan siapa yang unggul, ia langsung bisa melihat papan skor yang berubah setelah Byul mencetak angka.

Beberapa menit kemudian, mereka menyaksikan sisa-sisa pertandingan, tak lagi mengobrol sendirian karena sepertinya pertandingan basket ini benar-benar seru. Bahkan Minjung yang tidak suka olahraga pun mengakuinya. Mungkin ia harus sesekali mengajak kedua temannya, Chan dan Hyosung, untuk lebih sering menonton pertandingan olahraga, terutama pertandingan Byul.

Walaupun sayangnya, tim Byul harus kalah dalam pertandingan ini.

Byul duduk di lantai seraya merebahkan kaki, menerima air dari pelatihnya, meminumnya hingga habis. “Kau harus lebih fokus jika ingin melakukan slam dunk, nona Shin. Kakimu juga tidak terlalu kuat saat melakukan lay-up tadi. Walau harus kuakui, aku benar-benar tidak percaya kau bisa melakukan fade away dan hook shoot sebagus itu.”

Gadis itu hanya mengangguk-angguk, sesekali tersenyum saat diberi pujian. Setelah membicarakan beberapa hal, ia pergi ke ruang ganti untuk mengganti baju dan membersekan barang-barangnya. Lalu ia menghampiri Donghae dan Minjung yang telah menunggunya di dekat pintu keluar lapangan.

“Kau luar biasa!” hibur Donghae menepuk-nepuk bahu gadis itu. “Menjadi juara kedua juga tidak terlalu buruk!”

“Yah, mungkin kali ini kau harus mengalah karena terus-terusan menjadi yang pertama.” sahut Minjung seraya tersenyum.”Kau hebat!”

Mereka bertiga berjalan beriringan.

“Kalian harus tahu betapa tidak sportif-nya mereka tadi.” ungkap Byul akhirnya. “Kakiku ditendang, kalian tahu?!”

“Aku melihatnya, Byul.” Donghae menanggapi, wajahnya dipenuhi emosi.

“Kenapa kau tidak membalas?” Minjung bertanya. “Jika aku jadi kau, aku akan membuat dia tidak bisa melakukan tiga pertandingan yang akan datang!”

Byul hanya tersenyum. “Ini bukan hal baru dalam pertandingan basket, nona Hwang.” jelasnya. “Buktinya, dia langsung dikeluarkan setelah membuatku jatuh.”

Donghae mengangguk membenarkan.

“Dan aku melakukan pembalasan yang cukup bagus tadi.”tambah gadis itu.

“Apa?”

“Saat aku sedang membawa bola, aku sengaja mengulur waktu dengan memberikan bola pada teman satu tim ku secara terus-menerus di depan salah satu pemain itu sehingga membuat dia menyikut rusukku, dan akhirnya dia diberi peringatan. Perlu kau tahu bahwa tidak boleh ada yang mengganggu saat kau sedang menggiring bola.”

Minjung hanya mengangguk-angguk. Hei, dia tidak sebodoh itu untuk tidak mengerti olahraga! Meski ia tidak semaniak Byul.

“Ah, aku lelah.” keluh gadis itu. “Tidak bisakkah kalian berdua membuat sang MVP ini merasa lebih baik?”

Minjung dan Donghae memutar bola mata.

“MVP katamu? Kemampuanmu masih di jauh bawah LeBron James dan Kevin Durant!” ejek Donghae. “Bahkan permainanku masih jauh lebih bagus darimu! Dan mungkin aku masih lebih pantas bergabung di Golden State Warriors atau Miami Heat.

“Itu adalah kalimat paling menjijikkan yang pernah kudengar.”

Satu jitakan keras mendarat di kepala Byul.

“Kau tidak perlu basa-basi seperti itu kalau mau dibelikan es krim.” gumam Minjung tanpa ekspresi.

Byul tersenyum lebar.

Mereka bertiga masuk ke sebuah restoran fast food, dan beberapa menit kemudian keluar dengan tiga es krim vanila cone di tangan masing-masing.

“Es krim setelah pertandingan adalah nikmat Tuhan yang tidak boleh kau dustakan.”gumam Byul senang.

Donghae tertawa mengejek. “Apa mendapat juara dua membuatmu jadi memiliki banyak kosakata tak masuk akal?”

Laki-laki itu mendapat satu tendangan keras di bokong. Minjung tertawa.

Di tikungan jalan itu, mereka bertiga berpisah. Minjung sendirian dan Donghae bersama Byul, walau pada akhirnya Byul dan Donghae juga akan mengambil jalan yang berbeda saat ia masuk ke bus. Mereka saling mengucapkan selamat tinggal dan melambaikan tangan.

Gadis bermarga Hwang itu menikmati perjalanan pulangnya seraya menghabiskan es krim vanilla itu. Ia memang tidak seperti Byul yang merupakan maniak es krim, tetapi mau tidak mau, harus ia akui, ini adalah es krim murah terenak yang pernah ada. Tidak heran Byul sering membelinya dalam skala yang tak wajar.

Ia melewati sebuah stan kecil yang menjual berbagai macam aksesoris wanita. Ia berhenti sejenak, melihat-lihat, dan mungkin ada sesuatu yang baru di tangannya yang akan ia bawa pulang nanti.

Dan benar saja. Sebuah gelang perak yang di sekelilingnya terdapat hiasan lonceng kecil dan menara Eiffel langsung menarik perhatian gadis itu.

“Pilihan yang bagus.” ujar si penjual. “Sangat cocok denganmu.”

 Formalitas. Pencitraan. Strategi penjualan.

Minjung membuka pengait gelangnya, kemudian melingkari benda itu di lengan kirinya. Namun sepertinya ia tampak kesusahan memasang pengait itu kembali.

Sang penjual yang melihatnya lantas berkata. “Biar kubantu.”

Benar saja, sang penjual memang membantu Minjung memasang gelang itu. Tapi yang terjadi selanjutnya adalah, bukan gelang yang terpasang, melainkan pergelangan tangan kiri Minjung tersayat secara kasat mata dan tiba-tiba, membuat darah mengucur deras di sana, mengakibatkan barang-barang jualan itu berlumuran darah.

Minjung terperangah, menatap penuh amarah sang penjual. Karena tentu saja, jelas-jelas penjual itu memang memegang sebuah pisau kecil. Sang penjual balik tersenyum penuh kemenangan padanya. Gadis itu terkejut setengah mati.

Ia kenal wanita penjual aksesori itu.

“Ini hanya awal, nona Hwang.” kata wanita itu. “Jika aku bebas nanti, aku akan membuat keluargamu menderita karena mayatmu tidak ditemukan.”

Minjung mendengus kasar, berusaha sekuat tenaga menahan sakit yang luar biasa itu. Ia menahan darah yang mengucur dengan jemarinya, menekan pergelangan tangan agar tidak terjadi pendarahan yang lebih serius. “Oh ayolah. Kenapa polisi bisa-bisanya membiarkan buronan berkeliaran seperti ini?!”

Mendengar hal itu, beberapa pria segera menghampiri mereka. “Ada apa ini?” salah satu dari mereka bertanya. Ketika melihat pergelangan tangan Minjung, ia langsung menatap tak ramah si penjual. “Percobaan pembunuhan lagi, Song Ji Hye?”

Minjung baru menyadari bahwa beberapa pria itu adalah polisi yang sedang menyamar.

Dua orang polisi segera melepas pemberat yang ada di kaki wanita itu, lalu membawanya menjauh. Sepertinya ia akan dikembalikan ke penjara lagi. Sementara yang lain membereskan barang jualan itu, seorang polisi berbicara pada Minjung.

“Kami minta maaf.” ucapnya membungkuk dalam. “Ia sedang melakukan pelayanan masyarakat. Kami tidak menduga kalau ia akan kembali melakukan percobaan pembunuhan lagi. Kau tidak apa? Ada sebuah rumah sait kecil setelah tikungan ini, kau bisa ke sana untuk mengobati lukamu, jika kau tidak ingin terjadi pendarahan serius.”

Minjung hanya mengangguk-angguk. “Terima kasih karena sudah berada dekat dengannya.”

Ia baru saja ingin pergi jika tidak dicegah oleh polisi tadi. “Maaf karena menahanmu lebih lama. Tapi aku harus tahu namamu dan hubunganmu dengan Song Ji Hye. Aku tentu saja harus melaporkan kejadian ini pada atasanku.”

Ia sedikit terkejut, namun akhirnya menghela napas. Dan menjawab. “Hwang Min Jung. Semua polisi tahu bentuk hubunganku dengannya.”

Ia segera berlari menuju rumah sakit yang telah dikatakan polisi tadi.

☆☆☆

Donghae tertawa terbahak-bahak saat mendengar Minjung mengatakan kalimat itu dengan begitu muram. Gadis itu hanya meliriknya, cukup heran mengapa sang sahabat bisa tertawa sampai seperti itu untuk hal yang sama sekali tidak bisa dibilang lucu.

Bahkan termasuk serius.

“Katakan padaku kau hanya bercanda!” ujar laki-laki itu selepas tertawa. “Tidak mungkin mereka akan membunuhmu.”

Minjung memilih untuk tidak menjawab.

“Lagipula aku ragu mereka membunuhmu hanya karena menginginkan semua kekayaan ayahmu.” Donghae berpikir sejenak. “Hei, kukira ibu tirimu sangat kaya!”

Berkat uang ayahku, bodoh. Minjung menjawab dalam hati.

“Apa hal-hal seperti itu masih berlaku di zaman se-modern sekarang?” Donghae masih mengoceh. “Ya, katakan padaku kau tidak serius soal hal ini!”

Menyadari Minjung yang sedari tadi hanya memasang wajah datar dan memilih untuk diam membuat senyum Donghae yang tadinya merekah langsung lenyap.

“Minjung-ah?”

Minjung mengerjap. “Ya?” gumamnya sambil menatap Donghae.

“Apa yang kau pikirkan?” Donghae bertanya. “Apa ada hal yang harus kuketahui?”

Gadis itu menggeleng. “Tidak. Tidak ada sama sekali.”

Tepat pada saat ini Minjung memutuskan, biarlah ia menutup mulut terlebih dahulu sebelum mengatakan semuanya dan membuat segalanya menjadi kacau dan tak terkendali.

“Kau yakin?”

Minjung menggangguk sekali.

“Benarkah?”

Gadis itu mengangguk lagi.

“Sungguh?”

Sekali lagi Minjung mengangguk.

“Kau bersumpah?”

Minjung menghela napas sebal. “Apa kau akan terus memaksaku seperti itu, huh?”

Donghae menyeringai. “Hanya merasa aneh karena kau bisa sepucat hantu karena melihat berita buronan melarikan diri dari penjara.” Ia mengulangi kalimatnya untuk memastikan. “Katakan padaku kalau tadi kau hanya bercanda.”

“Soal apa?”

Laki-laki itu terhenyak, menyadari bahwa sahabatnya mendadak bodoh dan lupa ingatan. “Bahwa kau akan dibunuh kedua orang itu.”

Minjung tergelak. “Gagasan konyol macam apa itu?”

Donghae tersenyum menang. “Bagus. Aku tahu hal ini tidak mungkin terjadi.”

Gadis itu memasang senyum yang benar-benar terpaksa.

Pada saat itu, ponsel Minjung bordering. Eunhyuk menelepon.

“Halo?”

“Dimana kau sekarang?”

“Di rumah Donghae, ada apa?” Minjung melirik sahabatnya, sementara laki-laki itu membuat gerakan mulut seakan bertanya siapa yang menelepon.

“Hanya ingin mendengar suaramu.”

Minjung mengulum senyum.

“Orangtuaku memanggilku untuk menyelesaikan beberapa urusan. Jadi aku akan ke Jepang besok pagi dan akan menginap selama empat hari. Kau tidak keberatan kan?”

“Keberatan apa? Orangtuamu membutuhkanmu, dasar bodoh!”

Di seberang sana, Eunhyuk tertawa. “Aku takut mungkin kau akan merindukan aku.”

“Aku harap aku tidak merasa seperti itu.”

“Aku serius, nona Hwang. Karena aku mendapat pesawat sangat pagi dan Samchon menawarkan diri untuk mengantarku ke Incheon besok.”

“Begitukah?”

Eoh. Dan memang jika Donghae ada di dekatmu, sampaikan salamku untuknya. Aku minta maaf karena tidak bisa berpamitan kepada kalian semua karena ini urusan yang sangat mendesak. Setidaknya itu kata ibuku.”

“Kekasih abadi Byul menanyakan kabarmu.” Minjung menoleh pada Donghae dan kembali bicara di telepon. “Baiklah kalau begitu. Bersenang-senanglah di Jepang.”

Minjung baru hendak menutup telepon jika saja Eunhyuk tidak memanggilnya.

“Minjung-ah?”

“Ya?”

“Tidakkah kau ingin dibelikan sesuatu olehku?”

Minjung mendengus. “Apa misalnya?”

“Gelang, atau gantungan kunci mungkin?”

“Aku bisa menemukan semua itu di pinggir jalan.”

“Baiklah jika kau tidak ingin dibelikan apapun. Aku tetap akan membelikan sesuatu untukmu.”

“Terserah kau saja.”

“Dan satu lagi.”

“Apa?”

“Aku mencintaimu.”

“Aku bosan mendengarnya.”

“Baiklah. Sampai jumpa hari Sabtu.”

Dan sambungan telepon pun terputus. Minjung meletakkan ponselnya di meja dan tersenyum-senyum sendiri. Ia memang tidak akan mengakui jika semua perlakuan Eunhyuk padanya membuatnya bahagia, namun demi apapun, ia tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya meskipun ia tidak akan bertemu prianya selama empat hari.

“Coba kutebak.” Donghae menopang dagu seakan tengah berpikir keras. “Eunhyuk akan pergi ke Jepang?”

Minjung tersenyum kecil. “Aku tidak tahu ternyata kau secerdas adikmu.”

Donghae mencibir. “Kapan dia kembali?”

“Sabtu. Setidaknya itu yang dia bilang.” jawab Minjung.

“Tidakkah kau akan merindukannya?”

Gadis itu tertawa sinis. “Dia tidak pergi selama-lamanya dari hidupku ‘kan?”

Donghae diam. Minjung mengganti saluran televisi.

“Entahlah..” gumam Donghae kemudian. “Kurasa kau tidak perlu secuek itu bahkan pada kekasihmu sendiri.”

Minjung menoleh memandang sahabatnya.

“Aku tahu kau tipikal gadis yang tidak suka mengumbar-umbar hubungan, tidak cemburuan, dan cukup cuek dalam hubunganmu dengan Eunhyuk. Tapi kau tidak perlu harus seperti itu bahkan di depan Eunhyuk, kau tahu?”

“Jangan mengguruiku.” sergah gadis itu. “Kau bahkan tidak punya keberanian untuk menyatakan perasaanmu pada Chan.”

Donghae terdiam.

Minjung tertawa mengejek. “Lihat? Aku benar kan? Terus saja kau membuatnya menunggu!”

“Aku tidak tahu dia mencintaiku atau tidak!” Donghae membela diri.

“Alasan klasik.” dengus gadis itu. “Apa-apaan itu? Terus saja kau berpedoman pada mimpi bodohmu itu dan memacari gadis-gadis yang sebenarnya kau tahu kau tidak mencintai mereka!”

Laki-laki itu mendesis sebal. Terus saja Minjung membuka semua aibnya!

Bagi kalian yang belum tahu, Donghae dan Yoo Seung Chan memang belum punya hubungan apa-apa untuk saat ini, kecuali fakta bahwa mereka bersahabat. Donghae memang sudah menyukai Chan sejak awal mereka bertemu, namun ia ragu. Chan memang gadis periang, ramah, dan baik hati, namun gadis itu pintar menyembunyikan perasaannya. Jadi Donghae sama sekali tidak tahu bagaimana perasaan gadis itu padanya. Sehingga untuk saat ini Donghae mengincar gadis-gadis yang menarik perhatiannya dan langsung memacari mereka semua. Entahlah apa maksud dan tujuan ia melakukan itu.

“Kau gampang terpikat pada gadis-gadis.” gumam Minjung menerawang. “Aku kasihan pada istrimu nanti.”

Donghae menjitak kepala gadis itu, benar-benar tak tahan dengan sikap blak-blakannya.

☆☆☆

Shin Ha Byul melipat kedua tangannya di depan dada, berdiri dengan satu kaki sementara tubuhnya ditopang oleh dinding dekat pintu depan rumah, menyipitkan mata curiga, menatap dengan bingung seorang gadis di depannya. Berwajah Asia, tentu saja. Namun penampilannya cukup membuat Byul heran. Bagaimana tidak? Gadis yang berdiri di depannya ini masih berseragam sekolah!

“H-h-halo..”

Byul menyadari bahwa tatapannya mungkin cukup membuat bocah ingusan di depannya ini tampak takut dan gugup, namun sekuat apapun ia berusaha membuat dirinya tampak ramah, hal itu hanya membuat bocah di depannya ini tampak semakin ketakutan.

“Apa maumu?”

Byul sialan. Lihat bagaimana ia tidak bisa mengontrol emosinya.

“Apa ini.. t-tempat tinggal.. Eunhyuk oppa?”

Byul mendesah berlebihan. Seharusnya ia tahu. Jadi ia masuk ke rumah, membuat gadis sekolahan itu bingung. Beberapa saat kemudian, Byul kembali ke hadapan gadis itu seraya berbicara di telepon. Ia menyerahkan telepon itu pada si tamu.

“Bicaralah.”

“Ya, halo?”

Byul sengaja mengubah mode telepon menjadi loudspeaker.

Oppa?”

“Maaf, tapi kau siapa?”

Byul mendengus merendahkan.

“Jung Hye Mi.. kuharap oppa tidak lupa.” gadis itu melirik Byul takut.

“Ah, Hyemi-ya? Kau rupanya! Bagaimana kabarmu? Dan bagaimana kau bisa sampai di rumahku?”

“Ah itu..” Hyemi melirik Byul. “Aku hanya ingin tahu keberadaan oppa, tapi adik oppa bilang kalau oppa di Jepang.”

“Memang benar aku di Jepang sekarang, ada beberapa hal yang harus ku selesaikan.”

“Kuharap itu bukan soal komplotan Miyoko siapalah-itu atau sejenisnya.” cetus Byul tiba-tiba.

Hyemi memandang Byul terkejut. Byul memiringkan kepala dan bertanya. “Apa?”

Terdengar helaan napas tertahan di telepon.

Hyemi menggeleng takut dan kembali berbicara di telepon. “Begini.. karena aku sudah ada di Korea.. jadi bisakah aku bertemu dengan oppa.. setelah oppa kembali dari Jepang?”

“Itu gagasan yang bagus..” jawab Eunhyuk di sana. “Tapi aku harus meminta izin gadisku dulu. Aku yakin dia tidak akan suka aku bertemu dengan gadis-gadis lain selain dirinya.”

Byul menyeringai.

Hyemi membelalak. “Gadis.. mu?”

“Yeah, aku sudah punya kekasih dan kuharap kau tidak muncul lagi di depanku atau bahkan di rumahku. Kau tahu betapa muaknya sepupuku padamu? Dia sedang menahan muntah saat ini. Pergilah.”

Byul segera merampas ponselnya dari Hyemi. Ia bersedekap. “Tidakkah kau dengar apa yang dikatakannya? Pergilah.”

Hyemi menunduk takut dan membungkuk hormat. Gadis itu berlari meninggalkan rumah.

Byul menyentuh layar sekali dan menempelkan ponsel di telinga. “Biar kutebak.” katanya sangsi. “Orang lain dari kehidupan hinamu yang memohon untuk kembali padamu?”

“Kau tidak perlu sekasar itu padanya, Byul-ah..”

“Itu sudah tindakan tersopan ku terhadap jalang cilik sepertinya. Oh iya. Kira-kira apa dia pernah tampil tanpa busana di depanmu?”

Terdengar Eunhyuk menghela napas di sana. “Entah mengapa aku merasa kasihan padanya karena kau sepertinya membuatnya ketakutan setengah mati.”

Byul memutuskan untuk tidak menjawab kalimat itu. “Aku jadi ingin tahu apa reaksi Minjung ketika melihat gadis itu.”

“Kau akan memberitahunya?”

Byul tertawa jahat. “Untuk apa? Itu tidak ada gunanya untukku. Lagipula aku yakin, jalang mu itu akan kembali tanpa kau minta.”

☆☆☆

Hwang Ji Kyung menatap papan catur di hadapannya dengan serius. Bidak-bidaknya sudah terletak tak beraturan, setidaknya itu pendapat orang awam. Tetapi bila seorang master catur yang melihatnya, ia pasti akan berdecak kagum karena baik kedua kubu menggerakkan bidak mereka dengan begitu perhitungan. Kau tak akan menduga apapun yang dipikirkan oleh kedua pemainnya.

Ia melirik gadis di depannya saat akan menggerakkan kuda. Namun sebelum menyentuh bidak itu, Minjung menggerakkan pion hitamnya.

Jikyung terpana menyadari apa yang dilakukan gadis itu.

Minjung hanya tersenyum.

Ini sudah hampir tiga jam mereka berdua bermain catur, namun sejauh ini masih belum terlihat siapa yang akan kalah. Kemampuan bermain catur mungkin sudah diwarisi oleh setiap anggota keluarga Hwang. Bagaimana tidak? Hampir semua anggota keluarga mereka pandai bermain catur.

Jikyung tampak berpikir, apa yang harus ia lakukan untuk mencegah Minjung ‘memakan’ menteri dan satu-satunya peluncur yang ia punya. Jadi ia menggerakkan pionnya, memancing Minjung.

Dan benar saja. Minjung termakan umpannya. Minjung memilih untuk memakan pion itu ketimbang menyelamatkan rajanya.

Jadi ketika Jikyung menggerakkan benteng, raja Minjung dalam posisi skak mat dan tidak ada yang bisa Minjung lakukan untuk mencegahnya.

Minjung menatap adiknya dengan terpana.

Check mate.” ujar Jikyung kalem.

Gadis itu menggeleng-geleng seraya berdecak bangga. “Strategi dan taktikmu semakin bagus saja.”

Jikyung mengerutkan kening. “Noona tidak sengaja kalah demi aku ‘kan?”

“Tentu tidak! Aku benar-benar dikalahkan olehmu hari ini! Sungguh!”

Hari ini adalah hari Sabtu. Kakek dan neneknya tengah bersantai sambil mengobrol di ruang tengah. Sementara Minjung memilih menghabiskan akhir pekan ini dengan memenuhi tantangan Jikyung untuk bermain catur. Selain untuk melihat seberapa jauh kemampuan adiknya, ia juga sedang menunggu sesuatu saat ini.

Seharusnya Eunhyuk sudah meneleponnya untuk mengabari dirinya bahwa laki-laki itu akan pulang dari Jepang. Tapi sejak pagi ia tidak mendapatkan pesan atau panggilan apapun dari laki-laki itu.

Harus Minjung akui, Minjung merindukan laki-laki itu. Sedikit. Tapi ia berusaha menahan diri agar tidak mengirim pesan atau menelepon Eunhyuk lebih dulu. Ia memang seperti ini. Terlihat sangat tidak peduli tentang apapun namun di dalam lubuk hatinya ia mempedulikan segala hal.

Ia hampir melompat kegirangan saat ponselnya berkedap-kedip, menandakan bahwa ada panggilan masuk. Dari laki-laki itu.

Ia berdehem agar suaranya terdengar biasa saja. “Halo?”

Minjung mengernyit karena ia mendengar suara pekikan, tendangan, pukulan, dan Eunhyuk yang berusaha mati-matian memanggilnya.

“Eunhyuk-ah?”

“Cepatlah kemari dan selamatkan aku! Kumohon..”

Minjung segera menuju kediaman keluarga Shin.

☆☆☆

Gadis itu bersedekap kesal, memandangi Shin Ha Byul dengan tatapan yang sulit diartikan. Sementara yang ditatap hanya menunduk mengobati setiap memar yang ada di tubuh Lee Hyuk Jae. Yah, laki-laki itu kini tengah berbaring lemah di tempat tidur dengan memar di seluruh bagian tubuhnya. Beruntung tidak ada tulang yang patah.

Saat laki-laki itu menelepon tadi, rupanya kedua sepupu itu sedang bertengkar hebat. Penyebabnya adalah, Byul memaksa sepupunya untuk bersih-bersih sementara Eunhyuk kesal dan membalas dengan menghabiskan semua es krim dan keripik kentang milik gadis itu. Aku tahu ini aneh, jadi kumohon untuk tidak menggeleng-gelengkan kepala prihatin.

“Aku tidak percaya kau menggunakan semua teknik taekwondo-mu hanya karena Eunhyuk memakan beberapa es krim dan keripik kentang mu.”

“Beberapa katamu?!” balas Byul kesal. “Persediaan makananku habis karena dia!”

Mungkin Byul tidak menyadari bahwa kekesalannya pada Eunhyuk membawa energi lebih pada diri gadis itu sehingga tidak sengaja ia menekan memar di tubuh laki-laki itu dengan keras. Eunhyuk berteriak kesakitan.

Ya, pikyeo!” titah Minjung menyuruh Byul menjauh. “Kau hanya akan membunuh sepupumu!”

Sementara Byul yang tidak mempedulikan apapun, memilih untuk keluar dari kamar dan melanjutkan bersih-bersih dengan diiringi musik yang cukup memekakan telinga siapa saja.

Kedua manusia itu menghela napas. Dengan perlahan nan lembut, Minjung mengompres semua lebam yang ada di tubuh prianya.

Eunhyuk hanya menatap Minjung yang tengah menekuni luka-lukanya. Sebersit perasaan bersalah muncul di dalam dirinya. Ia merutuki dirinya sendiri yang begitu naif, bahkan di depan gadis yang dicintainya sekalipun. Dirinya penuh dengan rahasia, sementara Minjung sudah sangat terbuka padanya. Saking frustrasinya, ia tidak sempat mengabarkan gadis itu kemarin.

“Maaf..” lirih Eunhyuk.

Gadis itu berhenti mengompres dan memandang laki-laki itu dengan kening berkerut.

“Maaf karena aku tidak mengabarimu..” lanjut Eunhyuk. “Seharusnya kemarin aku memberitahumu kalau aku mendapat pesawat malam, jadi aku sampai di Incheon jam dua pagi.”

“Tidak apa.” Minjung kembali mengompres luka laki-laki itu. “Kau pasti kelelahan. Aku bisa memakluminya.”

Terkadang, sikap menerima-apapun-apa-adanya-tanpa-alasan Hwang Min Jung sering membuat laki-laki ini merasa bersalah. Ia tahu Minjung tidak akan mungkin marah padanya hanya karena ia tidak mengabarinya. Mustahil dan sangat tidak masuk akal. Tetapi, entah mengapa senyum cerah, tawa ceria, dan air muka yang menandakan gadis itu baik-baik saja milik gadis itu sering membuatnya merasa bersalah.

Terlebih setelah apa yang terjadi di Jepang.

Urusannya ke negeri Sakura itu memang mendesak. Namun ini bukan soal berkas-berkas sekolah, atau beberapa hal yang diperlukan untuk menjadi warga negara Korea, atau bahkan bukan menyangkut Miyoko Ai dan sejenisnya.

Melainkan lebih buruk dan sama sekali di luar dugaan Lee Hyuk Jae

v

To Be Continued

v

Ada beberapa scene di sini yang ada hubungannya dengan cerita-ceritaku sebelumnya, kayak percakapan Donghae sama Minjung soal Chan, atau nggak yang Byul sama Eunhyuk berantem sampe Minjung dateng. Kalo emang kalian pengen baca *yakali ada* soal percakapan Minjung dan Donghae itu di Untouchable, dan yang Byul sama Eunhyuk berantem itu di Yours, Mine & Mine. Terima kasih telah membaca dan mohon kritik sarannya.

Daftar kata-kata yang mungkin terdengar asing (sumpah ini udah kayak apaan aja HAHA)

  • Slam Dunk : teknik memasukkan bola basket ke keranjang dengan telapak tangan menyentuh besi keranjang setelah bola melewati tinggi dari ring
  • Lay Up : usaha memasukkan bola ke dalam ring dengan dua langkah dan melompat agar mendapat poin
  • Fade Away : teknik yang mendorong badan ke belakang saat melakukan shoot, menyulitkan pemain untuk menghadang bola.
  • Hook Shoot : teknik menembakkan bola dari samping dengan satu tangan.
  • MVP : singkatan dari Most Valuable Player, istilah dalam dunia olahraga untuk pemain terbaik atau pemain bernilai tinggi karena kontribusinya di setiap pertandingan sehingga tim nya bisa memperoleh kemenangan.
  • LeBron James & Kevin Durant : nama pemain NBA
  • Golden State Warriors & Miami Heat : nama tim NBA
Advertisements

6 thoughts on “Love, Trust & Hate 3

  1. oh well wow wkwkekwkwk aku tadi udah dapet feel ya eunhyuk yang lagi sedih gegara gabisa ngasih tau alesan dia ke jepang sebenernya, eh tau2 tbc aja daaaaan aku berasa lagi baca blog olahraga pas baca kosakata2 asing itu wkwkwkwkwk
    syukak lah, makin bikin kepo aja bacanya 😉 btw disini Dongai ko cemen yes? -.- perlu diapain deh cowo php kek gitu 😦
    tapi omongan dongai yang bilang kalo minjung itu terlalu cuek ke eunhyuk, somehow itu ngena banget deh di ulu hatiku :’) /dangdut ih apasiii akutu
    tapi iyasih, minjung jan cuek2 ke unyuk, ntar kalo dia diambil orang bakal nyesel 😥 /curhat terselubung /gak /abaikan pls bye

    lanjutin eaaaaa dhifa ucuuuul pls pls pls 😉 😉

    Like

    1. HAHAHAHA dont baper unyu dong eon, bcs cuma cerita eonni yang bisa bikin aku baper unyu HAHAHA apalah ini WQWQ sebenernya aku males sih nyantumin istilah2 basket itu, tapi kasyand juga takutnya ada ya g baca tapi nggak ngerti yawdah deh aku cantumin WQWQ maapkeun lidonghe di sini yak eon HUEHUEHUE Dan makasihh banget udah mampir dan ngereview apalah ini 😊😊😊😊💕

      Liked by 1 person

  2. Wah bener2 nih song ji hye, lagi pelayanan masyarakat masih saja coba melakukan percobaan pembunuhan dg minjung.. 😠😠 selain gadis jepang kemarin skrng masih ada juga yeoja yg nyariin eunhyuk, kira2 itu siapa? Mantannya eunhyuk kah ??

    Liked by 1 person

    1. HUEHUEHUEHUE jangan salahkan saya yak soal itu, bcs itu cuma nambah2in aja biar banyak HEHE let’s see da next part aja ya HUEHUEHUEHUE makasih loh udah mau baca ☺☺☺☺

      Like

  3. penasaran sebenarnya apa yg disembunyiin eunhyuk. gimana masa lalu nya segitu nggak mau terbuka sama minjung.
    minjung cuek cuek sayang 😂. hati2 loh bisa bisa eunhyuk ngerasa nggak dicintai sama minjung gara cuek banget.
    lanjut baca next part thor

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s