All Around Us 2

all-around-us

PosterBySifxo@ArtFantasy1

#2 : Welcome, new life!

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | …

***

TUAN dan nyonya Yoo yang tinggal di Seodaemun bangga menyatakan diri bahwa mereka orang-orang yang hidup dengan nyaman dan tentram, untunglah. Mereka tidak bisa diharapkan untuk terlibat dalam dunia dimana apapun hal yang kau lakukan, pasti akan diketahui seluruh dunia.

Tuan Yoo adalah pekerja di sebuah pabrik sepatu terkenal. Ia bertugas untuk mengetes kekuatan dan kenyamanan sepatu di sana. Dia laki-laki tinggi kurus, cukup tampan jika usianya dua puluh lima tahun lebih muda. Sedangkan nyonya Yoo wanita kurus berambut pendek, tubuhnya kecil, tetapi masih sebanding dengan suaminya. Keduanya memiliki dua orang cucu, satu laki-laki dan satu perempuan. Mereka kembar, si laki-laki lebih tua sepuluh menit dari si perempuan. Mereka adalah Yoo Seung Joon dan Yoo Seung Chan.

Joon adalah laki-laki tampan dengan tinggi hampir seratus delapan puluh. Sedangkan Chan memiliki tinggi seratus enam puluh lima. Terlepas dari jenis kelamin dan gaya rambut, keduanya memiliki bentuk wajah yang sama, warna mata yang sama, dan senyum yang sama.

Mereka tidak pernah tahu siapa orangtua mereka. Kakek dan neneknya juga tidak mengingat mereka, dan keduanya memaklumi. Orangtua dua anak itu juga tidak pernah mengunjungi mereka, dan itu bukan masalah.

Chan hanya seorang pegawai biasa di sebuah perusahaan biasa. Kurang mendapat promosi menyebabkan ia tidak pernah mendapat kenaikan gaji. Sedangkan Joon seorang pengangguran yang selalu ditolak banyak perusahaan. Padahal laki-laki itu lulus dari universitas terbaik dengan nilai di atas rata-rata.

Mereka cukup kekurangan dari segi moneter, sehingga uang yang didapat dari sang kakek dan Chan tidak terlalu cukup untuk menghidupi mereka. Karena itulah nenek mereka membuka kafe di sana, dengan harapan untuk menopang hidup mereka, tapi itu tidak ada gunanya karena kafe mereka sepi pengunjung. Jarang sekali ada yang mampir ke kafe mereka, padahal letak tempat itu cukup dekat dengan Universitas Wanita Ewha dan rasa kopi buatan kafe mereka tak kalah enak dengan kafe-kafe terkenal di luar sana. Entah apa yang membuat orang-orang tidak mau mengunjungi kafe mereka.

Karena itulah, terkadang Joon dan Chan bertindak sebagai pelayan dan barista, mengingat mereka tidak punya pelayan dan barista khusus.

Suatu hari, gadis itu sampai di kafe malam hari. Kakek neneknya sudah tidur. Joon duduk di kursi kasir, tertidur.

Chan mendorong pintu kafe, membuat lonceng di pintu berbunyi. Ia memandang sekeliling, terenyuh melihat kembarannya menunggu dirinya sampai terlelap.

Ia menghampiri kembarannya, menepuk pelan pipi laki-laki itu. “Bangunlah, dasar pemalas..”

Joon mengerjap, lalu duduk tegak saat melihat gadis itu. “Kau sudah pulang..”

Chan mendengus. “Kenapa kau tidak masuk ke kamarmu? Lagipula kafe sudah tutup.”

“Aku hanya ingin mendengar berita bagus apa yang akan kudengar hari ini darimu.”

“Kau tidak akan percaya.” Chan tersenyum lebar. “Cube menerima laguku!”

Mata Joon membesar lima kali lipat. “Benarkah?!”

Chan mengangguk, memberikan ponselnya pada laki-laki itu. “Hanya itu yang mereka bilang. Terlepas mereka akan mengaransemennya atau mengubah musiknya, aku belum tahu. Yang penting mereka menerima laguku.”

“Oh, aku sangat senang mendengarnya!” Joon berkata riang.

Chan mengambil dompet dari tasnya, mengeluarkan lima lembar mata uang sepuluh ribu won, memberikannya pada Joon. “Itu untukmu. mereka memberikan dua ratus ribu won sebagai jaminan. Aku akan memberikan sisanya pada kakek dan nenek. Gunakan uang itu sebaik-baiknya, oke?”

“Aku merasa seperti adikmu, padahal seharusnya aku yang memberimu uang, Doakan aku, eoh?”

Chan tertawa. “Kau selalu ada dalam doaku.”

Joon mencium kedua pipi Chan. “Terima kasih!”

Gadis itu berdiri, menarik laki-laki itu masuk ke rumah yang terletak di belakang kafe. “Kau sudah nyenyak saat aku datang tadi. Ayo!”

☆☆☆

Nyonya Yoo bergabung di meja makan dengan membawa empat cangkir yang diisi minuman berbeda. Ada dua kopi, satu teh, dan satu susu. Semua orang menikmati minuman mereka.

Chan mengoleskan selembar roti dengan selai strawberry, memberikannya pada Joon, kemudian mulai memakan rotinya sendiri. Tuan Yoo sedang membaca koran sambil menikmati sarapan.

“Chan-ah..” tiba-tiba Nyonya Yoo memanggil.

“Ada apa, Nek?”

“Apa kau tahu siapa yang memberikan amplop coklat di kamar kami? Aku baru melihatnya tadi pagi dan isinya uang seratus lima puluh ribu won.”

“Itu uangku. Untuk kakek dan nenek.”

“Dan darimana kau mendapatkannya?” sahut tuan Yoo menutunkan koran.

“Itu upah lemburku.”

Mata nyonya Yoo menyipit. “Bukan dari agensi tempat kau mengirim lagumu kan?”

Chan menggeleng. “Tentu saja bukan.” sangkalnya.

“Bagus sekali.” Tuan Yoo menyesap kopinya. “Kuharap kau tidak lagi mengirim lagumu di agensi-agensi bodoh itu.”

Setelah itu semua orang menyelesaikan sarapan mereka. Tuan Yoo, Chan, dan Joon masuk ke mobil tua mereka bersama, Joon yang menyetir. Chan duduk di kursi penumpang depan, sementara pasangan tua itu duduk di kursi penumpang belakang.

Setelah menurunkan nenek mereka di pusat perbelanjaan dan kakek mereka di pabrik, kakak beradik itu melanjutkan perjalanan. Kali ini mereka menuju kantor Chan.

“Aku masih tidak mengerti kenapa nenek dan kakek melarangmu menjadi seorang produser, padahal lagu-lagu yang kau ciptakan sangat luar biasa.” Joon berujar.

“Aku juga tidak tahu.” Chan memandang jalanan. “Tapi setidaknya aku bersyukur studioku tidak diketahui oleh mereka.”

“Apa kau merasa cepat atau lambat mereka akan tahu kalau kau diam-diam masih membuat lagu?”

“Kadang aku selalu memikirkan itu.” Chan bergumam. Mobil berhenti karena lampu lalu lintas berwarna merah. “Kau ingat saat ada seseorang dari Woolim datang menemuiku di rumah?”

“Ya, kakek dan nenek langsung mengusirnya tanpa memberikan mereka kesempatan untuk menjelaskan.”

“Mereka membeli laguku.” kata gadis itu setengah merenung. Entah mengapa suaranya terdengar sedih. “Mereka bilang laguku akan masuk salah satu tracklist di album salah satu soloist mereka, meski tidak akan menjadi tracklist utama. Tapi hanya dengan itu aku akan dibayar tujuh ratus ribu won. Karena kakek dan nenek menolak mereka, laguku tidak jadi dimasukkan ke dalam tracklist album dan aku tidak mendapat uang itu.”

“Dan sejak saat itu, kakek dan nenek benar-benar melarangmu membuat lagu.”

Chan menghela napas, mobil kembali melaju. Lampu sudah hijau.

“Tapi harus kuakui kau cukup hebat.” Joon membesarkan hati saudaranya. “Setelah kejadian itu, kau bahkan tidak berhenti untuk menulis lagu.”

Chan terkekeh. Mereka telah sampai di kantor gadis itu. Ia turun dari mobil.

“Kau mau ku jemput?”

“Tidak perlu. Aku akan bertemu orang dari Cube hari ini. Jangan katakan apapun pada nenek dan kakek, oke?”

Joon membentuk tangannya menjadi tanda hormat. “Apapun untukmu, Sayang!”

Chan tersenyum. “Berjuanglah!”

Laki-laki itu mengangguk. “Sampai jumpa di rumah!”

Gadis itu terus melambaikan tangannya sampai Joon lenyap dari pandangan. Ia menarik napas, mempersiapkan dirinya untuk bekerja di sini.

Begitu melewati pintu kantor, kau tidak akan menemukan sosok Yoo Seung Chan seperti saat bersama sang adik.

Chan memasukki kantor. Ia tidak akan heran bila tidak ada yang menyapanya atau menegurnya, atau bahkan sekadar menawarkan kopi pagi padanya. Ia sudah biasa dengan semua itu dan itu yang selalu ia harapkan.

“Seungchan-ssi, bagaimana laporan yang sudah aku berikan padamu kemarin?”

Itu direktur Hong, berbicara langsung padanya, sebelum ia memasuki lift.

“Akan saya berikan kepada sekretaris Anda hari ini, sajangnim.” Chan menjawab seperlunya.

Gadis itu keluar saat ­lift berhenti di lantai tempatnya bekerja. Ia melangkah pasti, tanpa mempedulikan orang-orang di sekitarnya. Bahkan setelah cukup lama ia bekerja disini masih aja bisik-bisik tak suka yang selalu ditujukan untuknya.

b

“Dia bahkan tidak pernah mau berbicara selain pada Hong sajangnim.”

“Aku tidak mengerti dengannya. Kenapa dia masih tidak mau berbaur dengan kita.”

“Sekarang kau mengerti ‘kan kenapa dia tidak pernah mendapat promosi dan hanya bekerja di bagian marketing tanpa bisa naik jabatan?”

“Yang dia bicarakan pada kita hanya masalah pekerjaan.”

“Apa dia punya masa kecil yang buruk sehingga dia tidak mau berteman dengan siapapun?”

“Dia bahkan tidak pernah mau diajak pulang bersama.”

“Lihat saja bagaimana dirinya saat makan siang!”

b

Chan mendesah kasar, cukup lelah dengan semua itu. Tapi rasa tidak peduli lebih mendominasi di dalam dirinya.

Ia duduk di meja kantornya, mengerjakan laporan yang ternyata memang sudah menggunung. Ia tidak berbicara apapun selama itu, kecuali jika menerima telepon dari sekretaris direktur Hong atau direktur Hong sendiri.

Ia bahkan tidak pernah mengobrol dengan tetangga meja kantornya.

Ia terus saja mengerjakan laporan itu sampai istirahat makan siang.

Chan segera bangun, mengirim file mentahnya pada si sekretaris, menyimpan data, dan mematikan komputer. Ia segera menuju kantin.

Matanya menyapu seluruh kantin dan mencari dimana ada meja kosong. Ia menemukannya, dan berjalan cepat ke sana dengan membawa makanan.

Ia makan sendirian, di meja di ujung ruangan. Tidak ada yang berminta bergabung dengannya, mungkin karena mereka tahu Chan tidak suka berinteraksi dengan siapapun. Ia melihat orang-orang saling mengobrol dan menoleh ke arahnya, tapi ia tidak peduli. Ia sudah diperlakukan seperti ini bahkan sejak pertama kali ia bekerja di kantor ini.

Kembali bekerja.

Chan memberikan laporan kepada sekretaris direkturnya, kemudian kembali untuk mengerjakan laporan yang lain. Matanya hanya terfokus pada komputer dan sama sekali tidak berminat pada apapun yang sedang digosipkan teman-teman sekantornya.. yah, bila mereka bisa disebut sebagai ‘teman’.

Setidaknya begitu sampai ia menangkap beberapa kata yang menarik perhatiannya.

“.. sebulan lagi YG akan mengadakan audisi..”

Chan seketika berhenti mengetik. Ia menjulurkan kepalanya dari komputer. Yang bicara adalah dua orang wanita berwajah tirus dan segiempat. Chan mengenali keduanya, tapi tidak tahu nama mereka, bahkan tidak pernah berbicara satu kali pun dengan mereka.

Gadis itu memainkan jemarinya gugup, memutuskan apakah dia akan melakukan perubahan besar bagi hidupnya atau tidak.

Meskipun banyak kejadian pahit yang dialaminya yang berkaitan dengan dunia hiburan, entah mengapa hal itu tidak pernah membuatnya jera untuk terus berusaha menjadi bagian dari mereka.

“Maaf?” Chan mencicit pelan, menginterupsi pembicaraan keduanya.

Salah satu dari keduanya, yang berwajah tirus, mendelik menatap Chan, berbicara dengan sinis. “Oh? Akhirnya kau mau berbicara pada kami?”

Chan langsung menunduk takut, tidak jadi bicara.

Tapi satu orang lagi, yang berwajah segiempat, malah menganggap ini seperti sebuah kemajuan besar. Ia berbicara dengan riang. “Hei, kau mendengar apa yang kami bicarakan? Kau juga tertarik dengan hal seperti itu?”

Err..” Chan menggaruk belakang lehernya. Ini bahkan lebih gugup dari saat pertama kali sebuah agensi menerima lagunya.

Ia melihat si tirus menyikut si segiempat. “Kenapa kau mau bicara dengannya? Dia bahkan tidak mau berteman dengan semua orang yang ada di sini!”

“Memangnya kenapa?” si segiempat menukas. “Dia yang tidak pernah mau bicara dengan kita bukan berarti dia tidak mau berteman dengan kita. Buktinya sekarang, dia mau bicara dengan kita!” ia menatap Chan penuh minat. “Benar kan?”

Gadis itu mengangguk kikuk.

Si tirus sudah tidak lagi bicara.

Si segiempat tersenyum lebar. Ia mengulurkan tangan. “Aku Jung Bo Na. Ini Go Yeon Ji.”

Chan menjabat tangan Bona. “Yoo Seung Chan. Tapi cukup dipanggil Chan.”

Yeonji tidak menyambut uluran tangan Chan saat gadis itu selesai menjabat tangan Bona. Chan hanya mengulum senyum.

“Jadi?” Bona menatapnya lebih berminat dari saat pertama tadi. “Kau cukup tertarik untuk ikut audisi seperti itu?”

Chan mengangguk kaku.

“Kau ini apa? Penyanyi, penari, rapper?”

“Aku membuat lagu.”

“Kau seorang komposer?!” Bona memekik senang. “Boleh aku mendengar lagu-lagumu?!”

Chan sudah ingin memberikan ponselnya kalau saja sekretaris sang direktur tidak membuka pintu ruangan dan meneriaki mereka untuk bekerja.

Yeonji sudah sibuk lagi dengan pekerjaannya, tapi Bona diam-diam memberi isyarat seakan berkata. ‘Kita akan bicara lagi nanti’.

☆☆☆

Itu, dalam seumur hidupnya, adalah pertama kalinya ia bisa memiliki seorang teman.

Chan adalah anak yang kikuk. Terlahir tanpa orangtua membuatnya bingung akan cara kerja dunia. Meskipun ia memiliki kakek dan neneknya, ia tetap saja tidak bisa terus bertanya pada mereka ‘Apa ini?’ atau ‘Apa itu?’ atau ‘Bagaimana cara memiliki teman?’ dan sebagainya. Sejak kecil, Chan tidak punya teman. Bukannya sombong, ia hanya tipikal gadis yang susah sekali memulai interaksi lebih dulu dengan orang lain. Satu-satunya panutan yang ia miliki hanya kembarannya, tapi meskipun Joon memiliki banyak kenalan, anehnya hal itu tidak membantu banyak.

Tapi saat ini, entah bagaimana ia sedang berjalan beriringan dengan Yeonji dan Bona saat jam pulang kantor.

Yeonji masih bersikap dingin padanya. Chan terlihat agak kecewa, tapi sedikit tertutupi dengan betapa ramahnya Bona padanya.

“Bagaimana dengan kalian?” Chan balik bertanya, merasa antusias karena ssebelumnya ia jarang sekali banyak bicara. “Kalian sering mengikuti audisi?”

“Oh, sangat sering.” Bona mengamini. “Kami selalu mengikuti audisi di agensi manapun yang menyelenggarakannya, kau tinggal menyebutkannya saja. Sudah dua tahun ini kami mencoba, tapi sepertinya kami belum beruntung.”

Wajah Chan mendadak muram.

“Apa kalian selalu mengikuti audisi bersama?”

Bona mengangguk.

“Dan.. kalian ini apa?”

“Oh, aku sangat senang kau menanyakan kami!” seru Bona.

“Aku rapper, sedangkan Bona penyanyi biasa.” sahut Yeonji tiba-tiba. “Kami memang selalu melakukan audisi secara terpisah, tapi kami selalu berlatih bersama.”

Chan dan Bona melongo. Untuk alasan yang sama.

Yeonji tersenyum pertama kalinya untuk Chan, menjabat tangan gadis itu. “Aku minta maaf karena sikapku. Aku hanya sebal denganmu karena setelah sekian lama kau bekerja di kantor, kau baru memutuskan untuk berteman sekarang.” ujarnya panjang lebar. “Dan karena aku merasa kau mengerti apa yang kami rasakan, tidak seperti orang-orang di kantor yang menganggap impian kami tak akan pernah terwujud.”

Chan tersenyum lebar. Bona bertepuk tangan heboh.

“Dan bagaimana denganmu? Apa kau selalu mengirim lagu di tiap agensi?”

“Hanya beberapa kali.” Chan mengangkat bahu, mulai merasa rileks dengan orang-orang di sekitarnya. “Aku pernah mengirim lagu ke SM untuk project SM Station, tapi aku sudah tidak melakukannya lagi. Aku hanya seorang produser yang tidak terikat pada agensi manapun.”

“Apa lagumu pernah masuk ke salah satu album?”

“Sepertinya pernah..” gumam Chan ragu. “Tapi aku lupa di album apa dan siapa pemiliknya. Itu sudah lama sekali.”

Keduanya membelalak takjub.

“Boleh kami mendengar salah satunya?”

Gadis itu mengeluarkan ponselnya, memberikan benda itu pada keduanya. “Aku memberi judul berdasarkan genre. Silahkan dengarkan. Dan aku butuh pendapat kalian.”

Yeonji dan Bona terdiam cukup lama, sambil mendengar lagu Chan. Mata kedua gadis itu terpejam, kepala mereka mengikuti alunan lagu. Ini indah sekali, pikir keduanya. Jari-jari Yeonji bergerak, seolah tengah mencari-cari nada yang digunakan dalam lagu. Bona bahkan terlihat ingin sekali menari. Setidaknya begitu sampai lagu selesai.

Yeonji membuka mata, menatap Chan dengan takjub, seakan tidak menyangka lagu sebagus itu diciptakan sendiri oleh Chan. “Ini.. luar biasa..”

Chan mengibaskan tangan. “Itu bukan apa-apa..”

“Tidak, aku bersungguh-sungguh..” Yeonji mengembalikan ponsel gadis itu. “Kau benar-benar berbakat..”

Chan tidak terlalu suka mendapat perlakuan seberlebihan itu. Jadi ia bertanya. “Boleh aku melihat perform kalian?”

Dengan bersemangat, Bona memberikan ponselnya, langsung membuka galeri yang berisi banyak video.

Chan mengamatinya. Ia mendengar dengan saksama. Video yang diberikan Bona adalah saat keduanya berduet membawakan lagu Pallete milik IU dan G-Dragon.

Seketika atensi Chan langsung tersedot untuk melihat video itu. Entah bagaimana ia mengungkapkannya, tapi cara Yeonji dan Bona memainkan intro dari lagu itu bagus sekali. Permainan musik Bona betul-betul menyihirnya begitu pula cara Yeonji memainkan gitar listriknya. Terlebih ketika mendengar Yeonji dan Bona fasih menyanyikan lirik berbahasa Inggris. Vokal keduanya luar biasa bagus!

“Siapapun agensi yang kalian datangi untuk audisi, mereka benar-benar buta untuk tidak bisa melihat bakat sealami ini.” Chan memberi pendapat dengan sungguh-sungguh. “Kalian hebat sekali.”

Yeonji terlihat seperti dia baru saja menemukan pasangan hidupnya.

“Sekarang kami mengerti kenapa kau begitu pendiam.” Bona menepuk-nepuk bahu Chan.

Mereka telah sampai di halte bus. Saat bus datang, Yeonji dan Bona langsung masuk, tapi tidak dengan Chan.

“Kalian duluan saja. Ada sesuatu yang harus kuurus.”

Ketiganya saling menlambaikan tangan dan mengucapkan selamat tinggal.

Chan tersenyum lebar, sangat bersyukur ia bisa menjalani hari se-spektakuler hari ini. Entahlah, ternyata berani memulai untuk kepentinganmu juga tidak terlalu berakibat buruk.

Ia melirik arloji, kemudian mendelik. Setengah jam lagi ia harus menemui orang dari Cube yang ingin membicarakan lagunya. Tetapi ia cukup beruntung karena orang itu memilih restoran dekat kantornya. Ia segera bergegas.

Ia sampai ketika orang dari agensi itu datang. Ia menghela napas lega. Setidaknya ia tidak mengecewakan orang itu dengan keterlambatannya.

“Oh, kau pasti produser Yoo!” seru orang itu.

Chan agak sedikit merasa aneh dengan cara orang itu memanggilnya. “Aku hanya komposer biasa, nona.”

“Kau pantas dipanggil seperti itu setelah aku mendengar lagumu!” orang itu berkata lagi. “Ah, aku hampir lupa. Ini bukan topik yang bisa dibicarakan di depan pintu restoran. Ayo masuk dan cari tempat. Mari kita bicara sambil makan.”

Keduanya mendapat tempat di tengah restoran. Orang itu langsung memanggil pelayan untuk mencatat pesanan mereka, kemudian memberi Chan kesempatan untuk memesan, dan kemudian pelayan pergi.

“Kita belum berkenalan.” Orang itu mengulurkan tangan. “Kwon Mi Kyung, salah satu produser Cube Entertainment. Tidak, kau tidak perlu memperkenalkan diri.” Ia menjabat tangan Chan. “Aku sudah tahu siapa kau.”

Chan hanya tersenyum.

“Suatu kehormatan bisa bertemu denganmu.” Mikyung balas tersenyum. “Lagumu bagus sekali.”

“Terima kasih.”

Pada saat itu pelayan mengantarkan pesanan mereka. Setelah menggumamkan terima kasih, keduanya makan sambil terus mengobrol.

“Kami memutuskan untuk tidak mengubah apapun pada lagumu karena itu sudah bagus sekali dan sangat cocok untuk dinyanyikan artis kami. Apa kau tidak keberatan jika lagumu tidak akan menjadi main track, tapi tetap akan masuk salah satu tracklist?”

“Tentu saja.” Chan terlihat senang sekali. “Adalah sebuah kehormatan bagiku karena laguku akan dipakai mentah-mentah tanpa perlu diubah lagi. Terima kasih banyak.”

Mikyung merogoh tas jinjingnya dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat yang isinya sudah bisa ditebak oleh Chan. Gadis itu menerimanya dan membua isinya.

Ia membelalak. “Ini.. ini terlalu mahal untuk ukuran lagu yang bukan main track..” ia memandang Mikyung tanpa berkedip. “Apa ini tidak terlalu banyak?”

Anehnya, Mikyung malah tertawa. “Itu baru jaminannya. Jika albumnya sudah keluar nanti, kami akan membayar sisanya.”

Chan seketika terdiam, tidak tahu harus melakukan apa. Sumpitnya terlepas begitu saja. Ia jadi lupa melanjutkan untuk makan. Ini memang bukan pertama kali lagunya diterima, tapi ia lupa kapan terakhir kali lagunya diterima sebuah agensi terkenal. Hei, bagaimanapun, Cube tempat bernaung 4Minute, ingat?

“T-t-terima.. kasih..” ia senang sampai merasa gugup.

“Kamilah yang seharusnya berterima kasih padamu.” Mikyung mengibaskan tangannya, seolah ucapan itu tidak ada bedanya dengan memberikan permen pada anak kecil. “Apa aku boleh bertanya beberapa hal padamu?”

“Kau sudah bertanya satu. Aku akan mendengar yang lain.”

Mikyung meneguk minumannya, kemudian bicara. “Apa kau produser salah satu agensi?”

Chan menggeleng.

Mikyung tampak terkejut sekali. “Benarkah? Tapi lagumu bagus sekali!”

Chan memilih untuk tidak membahas topik ini lebih lanjut. Jadi ia langsung mengalihkan pembicaraan. “Benarkah kalian tidak mengubah apapun dalam laguku?”

Perhatian Mikyung langsung teralihkan. “Oh, tentu saja! Lagu itu sudah sempurna sampai kami hanya tinggal menyuruh artis kami untuk menyanyikannya.”

Kedua orang itu menyelesaikan makan malam mereka. Setelah membayar, mereka berjalan bersama keluar restoran.

Chan berhenti di depan pintu restoran, membungkuk dalam dan hormat pada Mikyung. “Terima kasih karena mau menerima laguku.”

“Bukan masalah.” jawab Mikyung. “Dan aku yakin Simon Hong dan Monica Shin akan senang bila kau menjadi produser kami.”

Wajah Chan mendadak kaku.

Mikyung menyadari itu, dan cepat- cepat berkata. “Tidak usah dipikirkan. Terkadang aku hanya terlalu berlebihan. Aku hanya senang bisa bertemu produser lepas sehebat dirimu. Terima kasih!”

“Terima kasih kembali!”

Chan membungkuk kaku dan pergi menuju halte bus terdekat.

Mikyung mengamati gadis itu sampai menaiki bus dan lenyap dari pandangannya. Ia masuk ke mobilnya dan mulai menyalakan mesin. Kalau dipikir-pikir, sebenarnya apa yang diucapkannya tidak terlalu berlebihan. Bahkan benar adanya pemilik Cube itu juga terkesan dengan lagu Chan, meskipun belum sebagus main track untuk artis mereka. Dan keputusan mereka untuk tidak mengubah apapun yang ada pada lagu Chan sebenarnya hanya alibi agar gadis itu tertarik bekerja dengan mereka.

Mikyung menyalakan lagu Chan di dalam mobilnya, menjalankan mobil, bergabung dengan keramaian kota Seoul. Demi apapun- lagu yang diciptakan gadis itu sangat luar biasa. Suara Chan benar-benar kuat, unik, dan berkarakter. Ditambah musik dengan genre lawas dan pop yang digabung menjadi satu, ditambah permainan beberapa alat musik perkusi, membuat lagu itu langsung bisa membuat siapa saja ikut menari. Belum lagi makna lagu ini benar-benar membuat Mikyung tersentuh: seorang yang ingin melakukan apapun yang ia inginkan, tapi apa yang ia lakukan selalu salah di mata dunia. Dengan makna seperti itu, lagu ini dibawakan dengan nada yang tidak terlalu sedih, dan tidak terlalu gembira.

Ketika mobil berhenti karena lampu merah, Mikyung menggunakan kesempatan ini untuk mengambil sebuah kertas dari tasnya. Dengan cepat ia membaca kertas itu. Isinya adalah biodata lengkap Yoo Seung Chan yang sudah ia cari dengan susah payah. Mengingat Chan hanya memberikan data-data seadanya saat Mikyung memintanya.

Berdasarkan biodata itu, Chan berasal dari keluarga pemusik dan bersekolah di sekolah musik terbaik di Korea.

Ini aneh, jika kau tanya pendapat Mikyung. Bahkan pemilik Cube mengizinkan untuk tidak mengubah apapun dalam lagu Chan. Hal ini selalu membuatnya bertanya-tanya, setidaknya sejak ia mendengar lagu itu. Seharusnya komposer dan pencipta lagu sehebat gadis itu pastilah bergabung di salah satu agensi terkenal. Tapi mengapa Chan memilih untuk menjadi komposer lepas?

☆☆☆

Itu adalah pertemuan terakhirnya dengan Mikyung. Chan sudah diberitahu lagu nya akan dimasukkan ke album apa dan milik siapa. Ia hanya tinggal menunggu reaksi dunia pada album itu. Setelah itu, ia akan diberikan sisa bayarannya oleh Cube.

Keesokan harinya, Joon sedang membersihkan di kafe sebelum berangkat, sementara nyonya Yoo membuat kopi untuk suaminya. Kafe sedang buka, dan itu tidak masalah jika ditinggal karena memang tidak akan ada yang datang. Begitu Joon membereskan pekerjaannya di kafe, ia segera bergabung dengan kakek neneknya. Chan baru saja bangun dan sedang menuruni tangga menuju dapur.

Saat itu, televisi sedang menampilkan acara musik.

“Itu apa, Joon?” Chan bertanya dari dapur.

Comeback stage.” jawab laki-laki itu. “Tapi aku tidak sempat membaca nama artisnya. Pssti rookie.”

Terdengar riuh tepuk tangan dan teriakan penonton ketika kamera menyorot si artis. Suara itu makin menjadi saat si artis memainkan intro lagu, dan perlahan senyap saat memasukki lagu.

Chan dan Joon tertegun. Tapi Joon terlalu nyata menunjukkannya, sehingga kakek mereka langsung menurunkan koran dan bertanya. “Ada apa?”

Joon menggeleng santai, seolah tidak melakukan apapun. “Aku hanya terkejut. Lagu itu bagus sekali.”

“Bagus katamu?” nyonya Yoo mengangkat alis. “Genre seperti itu kau bilang bagus?”

Chan bergabung dengan mereka sambil membawa dua cangkir susu coklat dingin. Ia duduk di lantai dekat Joon, memberikan segelas pada laki-laki itu, dan mereka menikmatinya. Ia memberikan tatapan penuh arti kepada laki-laki itu.

“Tidak juga.” Chan berkomentar. “Tapi genre seperti itu sedang digemari saat ini.” ia melihat televisi. “Lihat saja reaksi penonton.”

Tuan Yoo mendengus. “Ada apa dengan para agensi itu? Kenapa memilih lagu seperti itu untuk comeback stage? Payah!”

Tetapi pada praktiknya, keluarga itu menikmati acara musik sampai selesai.

Setelah suasana agak kondusif dan tidak terlalu mencurigakan, Chan mengisyaratkan Joon untuk mengikutinya.

Mereka naik ke lantai dua, menuju kamar gadis itu. Chan menghampiri meja riasnya, lalu menggeser bangku meja itu. Memang tidak ada apa-apa di lantai, tapi kalau kau lebih jeli melihatnya, kau bisa melihat garis setipis rambut berbentuk segiempat yang cukup lebar. Chan memutar sesuatu di lantai, kemudian pintu jebakan itu terbuka ke dalam. Dengan gerakan tangan, ia memerintahkan Joon untuk masuk ke sana. Ia juga ikut masuk, menuruni tangga, kembali menggeser bangku, dan menutup pintu.

Well, selamat datang di studio rekaman rahasia Yoo Seung Chan.

Ruangan itu dua kali luas kamar tidurnya. Di salah satu dinding terletak satu set komputer, digital audio workspace untuk merekam, mengedit, dan mastering lagu, dua speaker sedang, dan beberapa alat musik seperti gitar dan organ. Ada sebuah meja di ujung ruangan, terdapat beberapa peralatan seperti laptop, headphone, microfone, beberapa kabel XLR, pulpen, pensil, penghapus, dan setumpuk kertas partitur. Sebuah kursi berlengan empuk terletak di tengah ruangan. Terdapat sebuah ruangan yang dibatasi oleh kaca transparan, yang di dalamnya terdapat stand mic dan headphone yang ditaruh di atasnya. Di sini ada sebuah rak berisi koleksi kaset, sebuah lemari pendingin, sebuah microwave, dan sebuah toilet. Di tiap sisi dinding dan langit-langit dipasang peredam suara.

Jadi, nenek dan kakek dua orang itu tidak akan mendengar saat Chan berteriak pada Joon. “Bisa kau jelaskan apa yang terjadi padamu tadi?! Kau hampir membuatku ketahuan!”

Joon menunduk, tahu benar bahwa apa yang ia lakukan tadi salah. “Maaf..” lirihnya. “Aku tidak bisa menahan diri. Aku baru mendengar demo lagu barumu, dan saat aku mendengar keseluruhan lagu, itu sangat menakjubkan.”

Yeah, aku juga kaget ternyata bakal sebagus itu saat dibawakan.” gumam Chan. “Hei, kau tahu? Orang dari Cube yang aku temui kemarin tidak mengatakan padaku kalau laguku akan digunakan untuk comeback stage.”

“Artis tidak hanya menyanyikan main track saat comeback stage kan?” Joon berpendapat. “Aku rasa kau tahu itu.”

“Aku tahu.” gadis itu merengut memandang kembarannya. “Aku hanya takut kakek dan nenek menyadari kalau itu laguku.”

“Apa kau bilang pada orang Cube kalau namamu akan dicantumkan pada lagu?”

Chan diam sejenak, lalu menjentikkan jari. “Brilian!” serunya. “Aku akan meminta orang itu untuk menyamarkan namaku sebagai partisipan dalam album itu! Kau sangat jenius!”

Joon menatap jam dinding di dekat komputer. “Sebaiknya kita keluar. Aku harus menemui seseorang dan kau harus bekerja. Jangan sampai nenek dan kakek menemukan kita disini.”

☆☆☆

Yoo Seung Joon sebenarnya menemui seorang pemilik restoran ternama untuk melamar menjadi pianis di sana. Kemarin ia melweati restoran itu dan cukup heran karena di sana da sebuah grand piano dan tidak ada yang memainkannya. Karena itu ia menawarkan diri untuk menjadi ‘pianis’ mereka.

Keduanya memang memiliki kemampuan luar biasa di bidang musik. Mereka menguasai gitar, piano, drum, biola, dan terompet. Tapi Joon lebih menyukai piano sedangkan kembarannya menyukai gitar.

Alhasil, ia diterima menjadi pianis di sana dan akan bermain piano setiap hari. Ia harus berada di restoran itu pada sore hari dan akan pulang pada malam hari.

Tetapi hari ini, karena ia baru akan mulai bekerja di sana besok, ia sudah tiba di Seodaemun sore hari. Begitu ia hendak masuk ke kafe, tanpa sengaja ia menabrak seorang wanita di luar pintu.

“Oh, maafkan aku!” Joon berseru dan membungkuk berkali-kali. Wanita itu hanya tersenyum, berlalu begitu saja. Joon terpaku memperhatikannya.

Untuk wanita berusia sekitar enam puluhan yang masih bugar, penampilan seperti itu cukup menarik perhatian Joon. Wanita itu mengenakan kemeja hijau lumut yang ditutup dengan mantel bulu panjang berwarna putih, dengan celana bahan yang nyaman berwarna coklat. Di tangan dan lehernya ada banyak sekali perhiasan emas. Ia juga membawa tas tangan kecil dengan hiasan berlian. Pasti semua yang ia kenakan berharga puluhan juta won. Tapi di atas semua itu, entah mengapa Joon tertarik dengan senyumannya.

Tidak, bukan berarti ia menyukai wanita itu. Tidak seperti itu. Ketika ia melihat wanita itu tersenyum, entah mengapa senyum itu mengingatkannya pada senyum milik seseorang.

Tapi siapa?

Cukup lama ia memperhatikan wanita itu sampai lenyap dari pandangannya, barulah ia masuk ke kafe.

Seperti biasa, kafe nya sepi dan hanya ada sang nenek yang sedang merapikan gelas dan cangkir. Kakeknya pasti masih berada di pabrik sepatu dan Chan pasti masih bekerja.

Setelah membersihkan diri dan berganti baju, Joon mulai membersihkan meja, menyadari dengan sedih bahwa sebenarnya tidak perlu membersihkan apapun karena ia sudah membersihkannya tadi pagi, satu hal yang membuktikan bahwa mereka tidak memiliki pelanggan sejak pagi. Tapi.. kapan pelanggan terakhir kemari? Ia tidak ingat. Mungkin lima bulan lalu.

Ia lalu mengelap cangkir-cangkir dari debu sambil bersenandung, tentunya bukan lagu sang kakak. Dan pada saat itu, ia yang nyaris melupakan bunyi dentingan lonceng pintu di pintu masuk, kembali mengingat dengan jelas bunyi itu.

Joon menatap nyonya Yoo dengan mata membelalak.

“Siapkan dirimu!” seru neneknya senang. “Perlakukan dia dengan baik!”

Seorang laki-laki berpenampilan biasa masuk ke dalam kafe., mengambil tempat di ujung ruangan dekat jendela. Joon langsung menghentikan kegiatannya, menghampiri orang itu.

“Selamat sore.” sapa Joon ramah. “Bolehkah aku mencatat pesananmu?”

Chocorila frappuccino dingin dengan caramel di whip cream, dan sepotong red velvet, juseyo.

“Baiklah.” Joon kembali ke pantri, sangat bahagia karena setelah sekian lama mereka kedatangan pelanggan. Sementara sang nenek menyiapkan kue, Joon meracik kopinya. Dua menit kemudian, pesanan orang itu sudah jadi. Joon mengantarnya. Setelah itu, ia kembali ke sang nenek.

Mereka memperhatikan si pelanggan. Orang itu lebih banyak melamun daripada menikmati makanannya.

“Kenapa aku merasa tidak asing dengannya?” gumam nyonya Yoo.

“Apa nenek pernah melihatnya di suatu tempat?” tanya Joon polos. “Pasar Seodaemun atau Taman Kemerdekaan, mungkin?”

“Tidak, dia tidak terlihat seperti seorang pedagang.” tatapan nyonya Yoo tak terlepas dari orang itu. “Dia cukup tampan dan terlihat seperti seorang..”

Pada saat itu, terdengar lagi dentingan lonceng di pintu masuk. Kali ini bukan pelanggan.

Melainkan Chan.

Joon langsung memeluk gadis itu.

Entah mengapa, si pelanggan langsung memperhatikan keduanya.

m

To Be Continued

,

NYEHEHEHEHEHEHE

Entah kenapa aku bisa nulis sesuatu kek gini, padahal aku bukan anak seni, lagu yang bisa aku mainin pake gitar cuma lagunya shinchan sama lagu spongebob yang ripped pants, dan nilai kesenianku di sekolah jelek #maapcurhat HEHE

Jadi sebenernya aku ga pernah kepikiran buat nulis tentang genre ini, pas nulis aja baru idenya muncul gitu.

Aku minta maaf ya kalo di part ini feel-nya ga dapet karena deskripsi dan narasiku yang ga jelas, rancu, dan ambigu

Apa mau dilanjutin?

Maaf ya aku nggak nge-post minggu lalu, aku lupa dan emang karena minggu lalu kurban sih hehe

But however makasih banget ya karena udah mau ngebaca

Advertisements

4 thoughts on “All Around Us 2

  1. emang bener² keluarga seni banget yaa 😄 sampe sikembar bisa main berbagai alat musik. nah wanita yg ditabrak si joon siapa ye?? kenapa si wanita itu tersenyum 🤔 apa jangan² itu eommanya sikembar 🙄 moga aja iya. dan pelanggan pertama yg datang ke kafe apa itu donghae ??

    next part nya dipublish cepat y authornim

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s