Love, Trust & Hate 7

114f2364b1a3b81e90c1df08a7ec65f5

#7 : She hates his

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 910 (END)

***

HWANG Min Jung berlari sejauh mungkin, dan menyelinap di antara orang-orang sebisa mungkin, agar Eunhyuk tidak bisa menemukannya jika saja Eunhyuk memang mengejarnya. Tapi Minjung rasa itu tidak mungkin. Kalaupun laki-laki itu mengejarnya, pastilah untuk diserahkan pada Ilhoon dan Jihye. Ia tidak mungkin berharap Eunhyuk mengejarnya karena peduli padanya.

Tunggu.. apa ini?

Mengapa Minjung masih berpikir Eunhyuk mempedulikannya setelah tahu bahwa ternyata selama ini laki-laki itu bekerja sama dengan mereka, dan berencana untuk melenyapkannya?

Apa itu alasan Eunhyuk pindah ke Jepang? Untuk membunuhnya? Mendekatinya pada awalnya, lalu pura-pura mencintainya, setelah itu menghabisi nyawanya?

Apa memang seperti itu?

Minjung menjambak kasar rambutnya dan berteriak seperti orang kesetanan. Kemudian terduduk begitu saja di tengah jalan dan menangis sekeras mungkin. Ia tidak peduli akan tatapan heran, jijik, takut, atau kasihan dari orang-orang. Ia hanya sedang menerima semua ini bukanlah kenyataan.

Namun sayangnya, inilah kenyataan yang paling menyakitkan. Ibu dan ayahnya mati dengan tragis. Kedua orangtua tiri yang sangat kejam. Kekasih yang mendekatinya selama ini hanya untuk membunuhnya.

Semua itu nyata.

Tangisan Minjung makin menjadi. Ia menyembunyikan diri di lorong sempit di antara bangunan-bangunan, duduk di sudutnya, dan menangis sekeras yang ia bisa. Suaranya nyaris hilang. Dan yang keluar dari tubuhnya saat ini hanya air mata yang tak kunjung berhenti dan suara yang terdengar menyakitkan.

Ia berdiri, keluar dari lorong itu. Ia tidak tahu harus ke mana. Ia tidak mau pulang, apalagi dengan kondisi seperti ini. Ia tidak boleh pulang, jika ia tidak ingin dimarahi kakek dan neneknya.

Ia berhenti, mengamati sebuah kedai kecil bersekat terpal di seberang jalan. Ada uap yang keluar dari pintunya, orang-orang masuk seraya memeluk tubuh mereka.

Minjung menghela napas. Ia tahu ini gila. Ia tahu keluarganya tidak bergaul dengan hal-hal seperti itu. Tapi untuk saat ini, sepertinya ia membutuhkannya.

Hwang Min Jung masuk ke kedai itu, dan memesan berbotol-botol soju.

☆☆☆

“Silahkan datang kembali!”

Lee Sung Min membalas penjaga kasir itu dengan senyum terbaiknya, lantas mengambil kantung kertas berukuran sedang, dan melangkah keluar dari toko menuju rumah.

“Ah, ibu pasti akan suka ini.”

Ia mengamati belanjaannya, memutar-mutar kantungnya, menunjukkan bahwa ia sangat bahagia dan ia yakin orang yang akan diberikannya ini juga akan bahagia. Memikirkan senyum ibunya yang akan terbit bila ia memberikan manisan ini membuatnya tak sabar untuk sampai di rumah.

Senyumnya semakin lebar ketika ia menikmati hingar bingar kota Seoul. Tinggal empat tahun di Jepang untuk menyelesaikan kuliahnya, dan kembali ke kota ini setelah lulus, membuat ia rindu semua aspek kota ini. Orang-orangnya, kesibukannya, gemerlap malamnya, bahkan sisi gelapnya.

Setidaknya ia tidak akan berpikir seperti itu kalau saja ia tidak melihat seorang gadis yang sedang diganggu oleh enam orang preman berbadan kekar.

Awalnya Sungmin sempat tidak mempedulikan gadis itu. Ia hanya sekilas memperhatikan bahwa gadis itu memang mabuk berat dan berjalan dengan sempoyongan. Sampai ketika ia melihat gadis itu didorong oleh salah satu preman sehingga punggungnya menubruk dinding dengan keras, dan pakaiannya yang hampir dilucuti, tanpa pikir panjang ia segera menghampiri gadis itu.

Namun rupanya, ia berhenti mendadak karena melihat seorang gadis yang muncul tiba-tiba dengan menendang punggung preman yang nyaris melepas pakaian gadis itu.

“MENJAUH DARI TEMANKU, BAJINGAN SIALAN!”

Ia terkesiap saat akhirnya ia bisa melihat dua gadis itu dengan jelas. Ia segera menghampiri si gadis mabuk, menjauhkannya dari enam preman itu.

Sementara di depannya, si gadis pemberani dikelilingi enam preman dengan tatapan membunuh.

“Lihatlah, ada serangga kecil yang mengganggu.” salah satu preman itu berdecih. “Kau sangat manis, Sayang. Tapi sepertinya kau harus dilenyapkan.”

Ketika preman itu mendekati ingin menyentuhnya, dengan cepat gadis itu mencengkeram pergelangan tangan orang itu, memelintir tangannya ke belakang punggung, dan menendang punggungnya. Orang itu terlempar ke dinding di seberangnya.

Ia berbalik, satu preman lain hendak menendangnya. Tanpa basa-basi, ia menendang perut orang itu. Setelahnya, ia melihat ada seorang preman yang ingin memukulnya. Ia menangkis ukulna itu, lalu menarik tangan dan meninju dagunya.

Teriakan kesakitan bersahut-sahutan dari mereka

“Oh kalian membuatku mengotori seni taekwondo yang suci!” gerutunya mengambil ancang-ancang.

Shin Ha Byul terdorong ke belakang ketika perutnya ditendang seorang preman. Ia segera bangkit, berlari, dan menendang kepala orang itu. Saat orang itu jatuh, Byul melompat dan menginjak kepalanya.

Preman lain menghampirinya dengan membawa pisau. Byul sudah menyadarinya saat orang itu mengeluarkan pisau dari sakunya. Ia menahan pergelangan tangan orang itu, kemudian menusuk mata orang itu dengan dua jarinya.

Ia terkesiap senang. “Wow.” lalu mengibas-ngibas jemarinya yang berlendir. “Ew.”

Insting nya mengatakan bahwa ada seseorang yang ingin menyerangnya dari belakang. Jadi gadis itu membungkuk, melakukan tendangan ke arah belakang dengan santai namun mematikan. Ketika ia menyentak kakinya, sasaran yang mengenai kaki gadis itu adalah perut si preman.

Ada tiga preman yang sudah tak berdaya hendak menyerangnya. Byul tersenyum mengejek. Ia menangkis setiap pukulan, menendang setiap kali ada kesempatan, dan sama sekali tidak memberikan ruang bagi preman itu untuk menyentuh dirinya.

Gadis itu menghela napas kasar, melihat hasil kerjanya. Semua preman itu teronggok menyedihkan di tempat mereka, tubuh penuh memar, dan darah keluar dari mulut dan hidung mereka. Mereka sama sekali tidak punya kekuatan untuk bangun.

“Awas saja kalau aku melihat kalian mengganggu gadis lain.” ancamnya.

Dengan sekuat tenaga, enam orang itu bangun dan pergi.

“Ah..” Byul merenggangkan tubuhnya. “Terima kasih karena kau membuatku berlatih, nona Hwang.”

Begitu ia berbalik, ia sudah melihat Hwang Min Jung di punggung Lee Sung Min.

Ia memiringkan kepala bingung. “Jadi kau juga berada di sekitar sini?”

“Dan tidak sedikitpun melewati pertunjukan jalananmu.” Sungmin berdecak kagum. “Kau sangat hebat, Sayang.”

Byul mendengus. “Kuharap Hyosung tidak mendengar hal ini.” Ia mengambil alih kantong belanjaan Sungmin. “Ayo, kita harus mengantarnya!”

Pada saat itu, Minjung meronta-ronta di punggung Sungmin.

Aniyaa..” teriaknya. “Jangan antar aku pulang..”

Byul dan Sungmin menghentikan langkah mereka, berdiri diam memperhatikan Minjung yang menggeliat liar di punggung Sungmin.

Minjung menepuk-nepuk pipi Sungmin seraya menggeleng-gelengkan kepala. “Jangan antar aku pulang, eoh? Kau tidak akan mengantarkan aku pulang ‘kan?”

Byul hanya mengamati gadis itu, lalu memandang Sungmin. “Eunhyuk tidak pernah bilang padaku kalau Minjung mau menyentuh minuman beralkohol.”

Mendengar nama itu, Minjung menegakkan kepalanya. “Neo!” ia menunjuk wajah Byul. “Berani-beraninya kau menyebut nama itu di depanku?!”

Tentu saja Byul dan Sungmin kaget dengan reaksi itu.

Sungmin menurunkan Minjung, menuntun gadis itu agar duduk di sebuah bangku terdekat di dekat situ. Ia dan Byul berjongkok di depannya, menunggu Minjung sadar sepenuhnya.

Minjung memandang kedua sahabatnya dengan setengah sayu.

“Jung-ah?”

Gadis itu menggeleng-geleng sambil menghentak-hentakkan kakinya. “Kumohon.. jangan antar aku pulang.. nenek pasti marah..”

Keduanya menghela napas.

“Bisa ceritakan apa yang terjadi padamu?”

Begitu mendengar pertanyaan itu, Minjung langsung menangis dengan keras. Tentu sekeras yang ia bisa, sementara yang keluar dari mulutnya adalah isakan tanpa suara yang memilukan. Jelas saja, Sungmin dan Byul makin bingung dengan situasi ini.

Keduanya memutuskan untuk membiarkan gadis itu. Namun, tangisan Minjung tak kunjung reda. Gadis itu terlihat sangat frustasi dari tangisannya.

“Apa salahku?!” tanya Minjung entah pada siapa di tengah-tengah tangisannya. “Apa aku pernah berbuat jahat?! Kenapa Tuhan memberikan semua ujian ini padaku?! Kenapa?!”

Minjung menangis lagi. Dan kemudian menunjuk Byul. “Kau! Kenapa kau punya sepupu seperti dia, eoh?! Kenapa sepupumu tidak pernah mau bicara jujur padaku?! Kenapa sepupumu membuatku menderita, hah?!”

Byul mengernyit bingung. “Memangnya apa yang Eunhyuk lakukan padamu?”

“JANGAN SEBUT NAMANYA DI DEPANKU, BRENGSEK!” raung Minjung mengerikan.

Byul mengerjap kaget, tidak menyangka seorang Hwang Min Jung akan bicara sekasar itu padanya. Ia terduduk, mengamati Minjung dan Sungmin bergantian dengan tatapan kosong.

Sungmin yang melihat hal itu langsung berlutut di depan Minjung. “Kita pulang sekarang, eoh?”

Shireo!” Minjung menghempas tangan Sungmin di bahunya. “Aku tidak mau pulang!”

Dan Minjung pun kembali menangis dengan keras seraya berteriak seperti orang gila. Sampai akhirnya, gadis itu pingsan dan terbaring begitu saja di sepanjang bangku. Sungmin pun langsung menuntun gadis itu ke punggungnya.

Minjung tidak bereaksi sepanjang dua orang itu berjalan. Tidak ada satu pun dari mereka yang hendak bicara. Byul memandangi orang-orang di depannya dengan tatapan kosong, sementara Sungmin memperhatikan gadis itu.

Tentu Sungmin paham apa yang dirasakan sahabat anehnya ini.

“Byul-ah, gwaenchana?”

Gadis itu diam.

“Oh ayolah..” Sungmin berusaha menenangkan. “Minjung pasti tidak serius soal itu. Dia sedang mabuk, ingat?”

“Tapi tidakkah kau berpikir kenapa Minjung menjadi seperti ini?” Byul berpendapat. “Kita semua tahu dia tidak mungkin menyentuh soju, dan sekarang dia meminumnya, dan mabuk berat, dan dia terus saja menangis seperti orang gila saat kita bertanya apa yang terjadi sementara dia langsung membentakku hanya karena aku menyebut nama Eunhyuk?”

“Pasti ada yang terjadi di antara mereka.” Sungmin menyimpulkan. “Kau tahu?”

“Ya, tapi tidak sekarang.” Gadis itu mengembalikan belanjaan laki-laki itu. “Aku pergi!”

Byul melesat meninggalkan Sungmin dan Minjung.

☆☆☆

Gadis itu berlari dengan terburu-buru memasuki rumah, mengelilingi rumah seperti orang kerasukan, membuat kedua orangtuanya takut dengan gadis itu.

Byul bertanya dengan panik. “Dimana Eunhyuk?”

“Dia bilang dia akan menginap di rumah nenekmu.” sang ibu menyahut dari dapur. Wanita itu menghampiri suaminya di ruang tengah dengan membawa beberapa camilan. “Makanlah. Ibu sudah menyiapkannya.”

Bagus, dia menghindariku.

“Aku akan menginap di rumah nenek!” putus gadis itu secara sepihak. Ia bergegas menaiki tangga menuju kamar untuk berkemas. Tetapi baru setengah jalan, sang ayah sudah mencegahnya.

“Kau tahu jam berapa sekarang?”

Byul berbalik. “Ayah, kumohon..”

“Tidak.” ayahnya menjawab. Pria itu berdiri, menatap sang anak di tangga. “Kau pikir aku akan mengizinkanmu keluar semalam ini? Apa kata nenekmu kalau kau sampai di rumahnya? Nenekmu akan memarahiku karena membiarkanmu berkeliaran! Besok kau kuliah pagi ‘kan? Dan apa perlu aku ingatkan kau harus menyelesaikan detail terakhir untuk kelulusanmu enam bulan lagi?”

Gadis itu tidak bisa berkutik akibat apapun yang dikatakan ayahnya. Semua itu benar. Ia tidak bisa membantah semua itu. Sudah cukup kedua orangtuanya dimarahi sang nenek karena selalu bertengkar demi dirinya, ia tidak mau ayahnya dimarahi lagi.

“Baiklah,,” ujarnya pasrah. Ia menaiki tangga dengan lesu.

☆☆☆

Hwang Min Jung terbangun dengan rasa sakit luar biasa di kepalanya. Pandangannya kabur total ketika ia membuka mata — selain karena ia memiliki nilai minus yang menyentuh angka sembilan. Namun, dengan pandangan sekabur itu, setidaknya ia masih bisa melihat bayang-bayang orang yang berada di sekelilingnya.

Gadis itu duduk, meraba-raba balas, dan saat menemukan kacamata ia lantas memakainya.

Rupanya orang yang ada di sekelilingnya adalah tuan Hwang, nyonya Hwang, dan adik sepupunya, Hwang Ji Kyung.

“Kau adalah anggota pertama keluarga Hwang yang mengotori tubuhnya dengan alkohol.” kata tuan Hwang berusaha terdengar tenang. “Tapi aku tahu kau tidak bodoh. Apa yang terjadi denganmu sampai kau membiarkan benda itu masuk ke tubuhmu?!”

Minjung menunduk dalam diam. Ia tidak peduli dengan kacamatanya yang kini sudah basah karena air mata. Kejadian kemarin kembali membanjiri ingatannya, membuatnya ingin kembali menangis dengan keras untuk menunjukkan betapa sakit dan terlukanya dirinya.

Tapi jika itu adalah cara agar ia dan keluarganya bisa hidup aman dan nyaman tanpa gangguan, maka seluruh anggota keluarganya harus tahu.

Jadi Minjung mulai menceritakan segalanya. Dan selama cerita bergulir, wajah tiga orang itu mulai menunjukkan kemarahan luar biasa.

Pada saat itu, mereka mendengar seseorang mengetuk pintu rumah mereka berkali-kali.

Tuan Hwang memutuskan secara sepihak bahwa ia yang akan membuka pintu dan menyambut si tamu.

Awalnya ia terkejut ketika melihat orang di depannya ini. Tetapi keterkejutannya perlahan berubah menjadi tatapan mencemooh.

“Setelah berhasil membuat cucuku mengkonsumsi alkohol, kau berani datang ke sini?”

Lee Hyuk Jae menunduk dalam. “Aku minta maaf atas apa yang sudah kulakukan pada Minjung.”

“Bahkan setelah dua manusia rendahan itu menyuruhmu membunuhnya?”

Eunhyuk membelalak.

“Pergilah.” usir tuan Hwang. “Dan jangan pernah kembali ke sini atau mengganggu cucuku.”

Pria tua itu membanting pintu dengan kasar, dan kembali ke kamar Minjung.

☆☆☆

Dua hari berikutnya, Minjung berangkat ke kampus seperti biasa. Bedanya, ia cenderung menyendiri. Ia berusaha sebisa mungkin menyibukkan diri dengan kuliahnya agar ia bisa menghindari teman-temannya dan juga laki-laki brengsek itu. Bahkan kini ia lebih menghabiskan waktu dengan teman-teman sefakultasnya, sekumpulan anak teknik yang cerdas dan tidak suka mencampuri urusan orang lain.

Jujur saja, itu membuat teman-teman sefakultasnya heran karena ia tidak menghabiskan waktu dengan Eunhyuk.

“Mungkin dia sibuk.” jawab Minjung sambil lalu.

Mereka kembali berkutat dengan tugas yang diberikan profesor Jung.

Kelas Minjung hari itu berakhir sore nyaris petang. Gadis itu keluar bersama dua teman wanitanya dan tiga orang teman pria. Mereka sedang menertawakan lelucon yang dilontarkan salah satu dari mereka.

Mendadak mereka semua berhenti karena melihat Eunhyuk yang sedang bersandar di sisi tiang. Setelah itu, mereka meninggalkan Minjung berdua dengan orang itu.

“Kau ini bodoh atau apa?” ujar Minjung ketus. “Aku tidak mau lagi berada dekat-dekat dengan seorang pembunuh, asal kau tahu saja. Kau beruntung aku tidak mengatakan pada mereka agar mereka juga menjauhimu!”

“Bisakah kau mendengarkan aku kali ini saja?” Eunhyuk memelas.

Minjung tertawa mengejek. “Aku tahu kau akan mengelak semua ini dan mengatakan kalau kau disuruh atau semacamnya!”

“Aku mencintaimu, nona Hwang..”

“Tapi tidak denganku.” jawab gadis itu. “Aku tidak bodoh untuk mengetahui bahwa semua tindakan yang kau lakukan bersamaku selama ini hanyalah kedok, supaya aku luluh padamu dan kau bisa membunuhku dengan mudah!”

Laki-laki itu menggeleng. “Itu sama sekali tidak benar!” elaknya. “Aku mencintaimu, sungguh!”

“Kalau kau mencintaiku, kau tidak akan membiarkan aku menunggu dan membuatku terluka!” tukas Minjung marah. “Kau beruntung aku belum melaporkanmu ke polisi! Kalau kau berani muncul di hadapanku lagi, akan kupastikan kau berakhir di penjara!”

Minjung bergegas pergi meninggalkan Eunhyuk. Tapi ternyata, laki-laki itu mencengkeram pergelangan tangannya, menarik gadis itu ke dalam pelukannya, dan menciumnya paksa.

Eunhyuk memagut bibir itu dengan kasar dan penuh rasa frustasi. Ia sama sekali tidak peduli dengan Minjung yang meronta-ronta dalam pelukannya. Ia menahan tangan gadis itu di balik punggungnya, terus menciumi bibir gadis itu tanpa kelembutan sama sekali. Berkali-kali ia menggigit bibir gadis itu dengan keras, sehingga ia bisa mendengar Minjung meringis kesakitan. Kalau dilihat-lihat, ini untuk pertama kalinya Eunhyuk memperlakukan Minjung dengan kasar.

Laki-laki itu mengakhiri ciumannya, tercengang melihat air mata Minjung yang mengucur. Tapi entah mengapa ia tidak merasa kasihan dengan gadis itu.

“Kumohon mengertilah, Minjung-ah..” lirihnya. “Ini bukan kemauan ku.. aku dijebak oleh mereka.. aku sama sekali tidak mau membunuhmu.. kumohon percayalah padaku..”

Minjung tertegun. Untuk pertama kalinya ia diperlakukan sekasar ini oleh Eunhyuk. Ia benar tentang yang dipikirkannya tentang orang itu. Kalau tidak Eunhyuk tidak mungkin melakukan ini padanya.

Ketika dirasa cengkeraman tangan laki-laki itu mengendur, ia langsung menyentak kasar tangannya, mundur satu langkah, mengayunkan tangan dan menampar kuat pipi laki-laki itu

Baru pada saat itu Eunhyuk menyadari apa yang baru saja dilakukannya pada Minjung.

Ia hendak mendekati Minjung, tapi Minjung langsung meninggalkannya sambil terus menyeka air mata.

☆☆☆

Awalnya Minjung menyadari bahwa kejadian beberapa hari lalu hanya disaksikan beberapa orang dari jauh, sehingga pikirnya tidak ada yang tahu apa yang terjadi diantara keduanya. Lama-kelamaan, bisik-bisik tentang dirinya mulai terdengar. Orang-orang terus membicarakan dirinya ketika ia lewat di depan mereka. Dirinya yang mulai tidak pernah terlibat bersama Eunhyuk menjadi topik perbincangan hangat. Dan soal ciuman itu juga mulai dibicarakan.

Seperti biasa, Minjung tidak memusingkan diri sendiri hanya karena ini. Setidaknya sampai Jo Na Young berulah.

“Lihat siapa yang sedang bertengkar dengan pria kesayangannya.”

Minjung berhenti, melihat Nayoung menutup loker dan bersandar di sana.

“Bagaimana rasanya menjadi seseorang yang dicampakkan kekasihnya?”

“Cukup menyenangkan.” Minjung berbalik, menyipitkan mata. “Dan asal kau tahu saja, aku yang mencampakkannya. Kau pikir kau serendah kau? Yang dicampakkan dan ditampar oleh hampir semua laki-laki yang kau paksa untuk bercinta denganmu?”

“Aku tidak memaksa mereka bercinta denganku.” Nayoung geram.

“Tapi kau nyaris melucuti pakaianmu sendiri di depan mereka kan?” sergah Minjung.

Gadis itu mengepalkan tangan. “Sekali lagi kau bicara..”

“Kau tidak berhak melarangku menyampaikan kebenaran.” potong Minjung tersenyum miring. “Dan memangnya kau siapa sampai harus mengurusi hubunganku dengan Eunhyuk? Jalang murahan tak kasat mata yang tidak pernah dimanjakan?”

“Tapi setidaknya, Eunhyuk tidak pernah menciumku sekasar itu.” tangkis Nayoung menyeringai, bersorak dalam hati karena akhirnya ia bisa membalas Minjung. “Kau terluka. Hubungan kalian hancur. Benar-benar di luar dugaan. Aku turut prihatin denganmu.”

“Maaf saja, Jalang.” Balas Minjung memiringkan kepala. “Aku tidak perlu dikasihani oleh orang yang derajatnya lebih rendah dariku. Lagipula aku tidak yakin kau prihatin. Kau pasti bahagia karena pria incaranmu sudah melepas kekasihnya yang dulu mempermalukannya. Kau mau mendekatinya? Silahkan saja. Cium dia sepuasnya, bahkan  aku tidak keberatan melihat kalian bercinta di depanku. Aku sudah tidak memiliki hubungan apa-apa dengannya dan kau bebas mengambilnya tanpa larangan dariku.”

Setelah mengucapkan itu, Minjung pergi.

☆☆☆

Seiring berjalannya waktu, orang-orang tidak lagi membicarakan dirinya ataupun laki-laki itu. Tidak ada lagi bisik-bisik penuh gosip tentang dirinya. Setiap kali ia lewat, ia hanya menatap dingin mereka tanpa sepatah kata, lalu masuk ke kelas, atau perpustakaan. Ia masih menghindari teman-temannya, dan menatap hina Eunhyuk tiap mereka berpapasan. Entah sudah berapa kali Eunhyuk berusaha membujuknya, ia tidak tahu, tidak mau, dan tidak peduli. Ia selalu menghindar dan menghina laki-laki itu. Hei, bagaimana kau bisa punya belas kasihan pada seorang pembunuh? Hanya orang bodoh yang akan melakukannya!

Hatinya sudah tertutup rapat untuk seorang yang pernah dicintainya.

Di satu sisi, ia merasa sangat sedih. Dulu selalu ada yang menunggunya di depan kelas untuk menyambutnya. Dulu ia selalu digoda dan dirayu sampai ia kesal. Dulu selalu ada yang memarahinya jika ia terlambat makan. Dulu selalu ada yang mendukungnya ketika ia merasa lelah akan suatu mata kuliah. Dulu selalu ada yang mendengarkan curahan hatinya tentang apapun yang ia alami.

Dulu ia mengalami semua itu.

Tapi sekarang ia sadar, ia telah kehilangan semua itu dalam sekejap.

Dan meyakinkan diri bahwa semua itu hanyalah tindakan yang sama sekali tidak didasarkan cinta.

Semua itu palsu.

Ia akan menangis sesekali mengingat semua itu, kemudian menjadi  marah saat tahu itu hanyalah kepalsuan belaka. Emosinya terus berubah-ubah, tapi tetap tidak mengubah pendiriannya bahwa kini ia membenci Lee Hyuk Jae.

Kini ia membenci Lee Hyuk Jae-nya.

Lebih dari apapun.

Hari-harinya di kampus diisi dengan kesibukannya menjelang kelulusan. Makin banyak kredit semester yang ia ambil, makin banyak pertemuan dengan dosen-dosen untuk membahas tugas akhir, makin sering ia mengikuti berbagai sidang untuk menguji seberapa mampu dirinya, membuatnya lupa dengan kesedihan, kemarahan, kebenciannya pada Eunhyuk. Itu bagus. Bahkan sangat bagus. Teman-temannya juga sepertinya mengerti dengan apa yang sedang ia hadapi.

Minjung terus saja seperti itu. Menarik diri dari dunia, berkutat dengan tugas akhir, menjauhi teman-temannya terbaiknya, sampai hari itu tiba.

Wisuda kelulusannya.

☆☆☆

Yoo Seung Chan sedang berkutat dengan berlembar-lembar kertas partitur di depannya. Ia menulis beberapa not balok, lalu menggerak-gerakan jari seakan tengah memainkan piano dan gitar bergantian, dan ketika ia merasa tidak sesuai, ia akan mencoret-coret serangkaian not itu dengan kesal. Kedua telinga gadis itu disumpal dengan earphone yang terhubung dengan ponsel. Ia menggerak-gerakan kepalanya dan bersenandung sesekali mengikutin alunan lagu yang didengarnya. Dan sekali dalam beberapa menit, tangannya mengambil gelas berisi susu coklat dingin dan meminumnya.

Selama hampir dua jam ia sendirian di mejanya di sudut kantin, menikmati tiap waktu dirinya yang tengah membuat lagu. Sampai akhirnya, ia melihat dua orang laki-laki yang hampir dikenalnya seumur hidupnya, menghampirinya dengan membawa nampan makanan mereka.

Salah satu dari mereka duduk di samping gadis itu, sementara yang lain mengambil tempat di depan keduanya. Chan tidak mempedulikan mereka, dan tetap dengan pekerjaannya.

“Berpacaran dengan tugas lagi, Yoo?” Lee Dong Hae melepas paksa earphone dari telinga gadis itu.

Chan tidak kelihatan marah, atau memberikan tanggapan berarti bagi laki-laki itu. Ia masih serius membayangkan rangkaian not yang dibentuk menjadi lagu, lalu menulisnya. “Aku tidak tahu kenapa profesor Klaus terus saja menyuruhku memperbaiki ini itu hanya karena profesor Fischer ingin aku menjadi ‘lebih seperti Beethoven’.”

Sambil mengatakan itu, ia berhenti menulis, lalu menggerakkan mulutnya dan meniru beberapa nasihat dosen itu dengan ekspresi menjengkelkan.

“Oh ayolah..” erang gadis itu menatap kedua temannya bergantian. “Aku bukan Beethoven! Atau anaknya! Atau keturunannya! Atau bahkan kenalannya! Kenapa orang-orang itu berusaha membuatku menjadi orang lain?!”

Tentu hal itu membuat Donghae dan Cho Kyu Hyun tertawa.

“Kau terdengar seperti Minjung, nona Yoo.” komentar Kyuhyun melahap sandwich.

“Lupakan saja.” Chan mengibaskan tangan, kembali mengetik. “Gadis itu jauh, jauh lebih sadis dari yang kau bayangkan. Aku masih bersikap ramah, setidaknya pada para mantan kekasih Lee Dong Hae ku. Tapi Minjung sama sekali tidak. Aku yakin dia tidak akan segan menyuruh Byul untuk membunuh mereka semua.”

Diam-diam, sang pemilik nama yang ditambah imbuhan kepunyaan, tersenyum simpul.

“Ah, omong-omong Minjung..” Donghae tampak menginagat. “Sebulan yang lalu acara wisuda ‘kan?”

“Benarkah?” Chan bertanya bingung. “Aku tidak tahu?”

“Kau sedang diuji oleh profesor-profesor mu. Bagaimana kau tahu?”

“Memangnya kenapa kalau bulan lalu wisuda?”

Donghae membelalak tidak percaya. “Kukira kalian akan ingat Minjung seharusnya wisuda sebulan yang lalu.”

“Dan kau mau bilang dia tidak mengatakan apapun pada kita?” sambung Kyuhyun.

Donghae mengangguk. “Kupikir dia akan memberitahu salah satu dari kita, tapi ternyata tidak. Bahkan aku sudah tidak pernah melihatnya bersama Eunhyuk.”

Wajah Chan mengeras. “Aku benci dengannya. Dia selalu menghindariku. Aku tidak mengerti.”

“Apa menurut kalian ada yang terjadi antara mereka berdua?”

“Kalaupun ada yang terjadi, Byul pasti sudah mengatakannya pada kita.”

Tepat pada saat itu, ponsel Chan berbunyi.

“Oh, Hyosung-ah!” gadis itu langsung menyapa. “Sudah lama sekali kau tidak menelepon.”

“Aku tahu, tapi aku tidak mau membicarakan itu sekarang.”

Chan mengernyit. “Ada apa?”

“Minjung menghilang!”

☆☆☆

Eunhyuk menatap kosong keluar jendela kamar. Ini sudah enam bulan sejak kejadian itu. Juga sudah selama itulah ia tinggal di rumah sang nenek dan tidak pernah sekalipun kembali ke rumah keluarga Shin. Ia menghela napas. Menyadari dengan bodoh betapa penakut dan lemahnya dirinya.

Ia menatap nanar layar ponselnya, yang masih menjadikan foto dirinya dan Minjung yang sedang berpelukan sebagai wallpaper. Ia merindukan gadis itu. Lebih dari apapun. Tapi ia terlalu takut untuk muncul di hadapannya dan keluarganya. Terlebih setelah apa yang terjadi dan apa yang sudah ia lakukan kepada Minjung. Ia ingin gadis itu kembali padanya, namun ia juga tidak ingin gadis itu terluka karena dirinya.

Sejak saat itu, ia cenderung menghindari teman-temannya, bahkan sepupunya. Ia hanya melihat Minjung sesekali sedang berjalan kesana-kemari dengan buku-buku tebalnya, mencari alasan untuk pergi setiap kali bertemu Chan, mengambil kelas yang berbeda dari Donghae dan Kyuhyun, juga mengabaikan semua pesan singkat dari Byul, Hyosung, dan Sungmin.

Sebenarnya, ia melakukan semua itu bukan tanpa alasan. Ia sengaja menghindari semua orang dan memilih untuk berlindung pada neneknya agar.. agar Ilhoon dan Jihye tidak menemukannya sampai ia tahu apa yang harus dilakukannya pada dua orang itu.

“Eunhyuk-ah?” tiba-tiba sang kakak sepupu, Shin Jae Kyung ― anak pamannya ― membuka pintu kamarnya. “Turunlah. Sarapan sudah siap.”

Laki-laki itu mengangguk, mengambil mantel tebalnya dan turun menuju meja makan. Semua orang sudah ada di sana. Nenek, paman, bibi, kakak sepupu, kakak ipar, dan anak kakak sepupunya. Di meja sudah tersedia roti, selai, susu, dan sereal untuk masing-masing orang.

Pada saat itu, seorang asisten menghampiri sang nenek dengan membawa beberapa berkas. “Nyonya, ini yang Anda butuhkan.”

Nam Hye Jung mengangguk. “Tunggu aku di serambi depan. Aku akan menemuimu di sana.”

Pria itu mengangguk dan membungkuk hormat, dan pergi.

“Ada apa, Nek?” Jaekyung bertanya.

“Bukan urusanmu.” jawab neneknya seraya mengoleskan selai ke roti.

Wanita itu memberengut. “Seharusnya aku meminta Byul yang bertanya. Pasti akan langsung dijawab oleh nenek.”

Mendengar nama itu, Eunhyuk menahan napas.

“Aku lebih tidak akan mengatakannya pada si cerewet itu.” Hyejung menikmati rotinya.

“Ah, omong-omong Byul..” sahut anak tertua Hyejung, Shin Hyun Sik. “Sudah lama sekali anak itu tidak datang ke sini untuk mengunjungi kita.”

“Dia pasti sibuk untuk mengurus kelulusannya.” Jaekyung menjawab ayahnya. “Dia bahkan hampir tidak pernah pulang ke rumahnya hanya karena itu. Sekarang aku mengerti kenapa Eunhyuk tidak pulang ke rumah samchon.”

“Memangnya kenapa, Bu?”

Jaekyung tersenyum, mengusap-usap kepala gadis kecil itu. “Jisoo sayang, pamanmu pasti tidak mau diganggu oleh bibimu yang gila itu. Dia juga harus mengurus kelulusannya agar bisa menjadi manajer yang baik dan benar di perusahaan nenek nanti.”

Eunhyuk hanya mengangguk-angguk seraya menikmati serealnya.

Seusai sarapan, semua orang kembali ke kesibukan mereka. Sang bibi membantu pamannya menyiapkan beberapa hal yang dibutuhkan untuk ke kantor, kakak sepupu dan kakak iparnya bersiap untuk mengantarkan anaknya ke sekolah, dan dirinya yang akan bersiap ke kampus. Ia kembali ke kamarnya, mengambil mantel dan ransel, dan turun.

Pada saat itu, ia sekilas mendengar percakapan antara neneknya dan asistennya yang tadi.

“Wanita yang boros dan angkuh.” ucap sang nenek. “Orang seperti ini hanya akan menghabiskan uangku.”

Laki-laki itu mengintip dari tempatnya. Neneknya sedang mengamati berkas yang diberikan asistennya tadi. Sebuah laptop juga ada di depannya. Sepertinya sang asisten sedang menunjukkan sebuah rekaman video.

“Bagaimana dengan wanita ini?” asistennya kembali menunjuk sebuah berkas dan sebuah rekaman.

Nam Hye Jung memperhatikan dengan saksama.

“Gadis yang ramah.” komentar neneknya. “Tapi sepertinya dia cukup licik.”

Sang asisten terus saja menunjukkan rekaman dan menunjuk berkas. Sementara Hyejung hanya memberikan komentarnya.

“Tipikal wanita yang tidak bisa melakukan apapun.”

“Sombong, egois, dan pastinya hanya mengincar hartaku.”

“Perilakunya seperti seorang psikopat.”

“Tipe pesolek, dan pasti tak akan berani tampil tanpa semua make-up di wajahnya.”

“Tidak berotak.”

“Oh ayolah, dia terlalu tua untuk Eunhyuk.”

Lee Hyuk Jae menahan napas.

“Aku ingin sekali bertemu dengan gadis yang menolongku waktu itu.” Hyejung menatap asistennya. “Sangchul-ah, tidak bisakah kau menemukannya?”

Pria itu menunduk menyesal. “Sayang sekali, Nyonya. Aku tidak menemukannya. Ciri yang Anda berikan terlalu umum dan hampir semua wanita yang ku cari memiliki senyum yang menawan.”

Gelombang kekecewaan menghampiri Hyejung. “Entahlah..” wanita itu berpikir. “Dia tampak.. cerdas. Biasanya aku tidak bisa melihat orang cerdas jika aku belum mengenalnya. Dia tampak berbeda dari kebanyakan gadis yang kutemui.”

Wanita itu tiba-tiba tampak sumringah. “Ah, bagaimana kalau aku ikut bersamamu? Mungkin aku bisa menemukannya di supermarket itu?”

Ketika mereka beranjak bangun dari tempat duduknya, Eunhyuk segera pergi dari situ.

Dan sejak saat itu, ia tidak pernah kembali ke rumah neneknya. Atau bahkan rumah Byul.

Apalagi sejak ia mendapatkan telepon dari Hyosung yang mengatakan bahwa Minjung menghilang.

☆☆☆

Byul dengan setia mengamati arlojinya, menunggu setiap detik yang berharga agar jaksa Yong mengizinkannya pulang setelah mengajarkannya cara beradu argumen dengan lawan hukummu, dan membuatmu menang dengan terhormat di pengadilan. Sejujurnya orang itu sudah menjelaskannya berkali-kali, namun Byul masih ditahan lebih lama di kantor pengadilan untuk diajak berkenalan dengan beberapa anggota kejaksaan.

Gadis itu melesat pergi satu detik setelah profesor tinggi kurus itu mengizinkannya pulang. Ia berlari dengan tergesa-gesa menuju tempat parkir, menghampiri sepedanya, dan keluar dari kantor pengadilan secepat mungkin.

Ia tidak ingat, sudah sejak kapan sepupu sialnya tidak lagi tinggal di rumahnya. Setiap kali ia ingin mengunjungi sang nenek, selalu saja ada urusan perkuliahan yang harus diselesaikan dan berkaitan dengan syarat kelulusan, membuat dirinya seperti hidup hanya seputar kampus dan rumah. Ia bahkan tidak punya waktu untuk berlatih taekwondo, atau bermain basket, atau mengunjungi teman-temannya dan mengobrol ria dengan mereka.

Tapi itu dulu. Itu adalah enam bulan yang sulit seeumur hidupnya di Yonsei, juga enam bulan yang sulit bagi semua temannya. Baru dua bulan yang lalu mereka wisuda, dan semuanya sudah mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan dan sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Dirinya baru saja menjadi jaksa di salah satu pengadilan, sehingga masih harus dilatih oleh bebeapa jaksa senior. Chan menjadi penulis lagu di salah satu agensi industri musik terkenal. Hyosung menjadi seorang asisten desainer ternama (tidak semua orang langsung menjadi hebat saat awal karir mereka bukan?). Eunhyuk, Kyuhyun, dan Donghae sedang dilatih untuk mengelola perusahaan besar milik keluarga masing-masing. Sementara ia tidak tahu apa pekerjaan Minjung karena gadis itu belum mengabarinya.

Sekarang, setidaknya setelah ia melepas status mahasiswa dan sudah memiliki pekerjaan sendiri, ia bisa melakukan apapun yang ia inginkan. Bertemu sang sepupu, dan meminta jawaban atas apa yang terjadi pada Hwang Min Jung.

Ia menyeringai menuh kemenangan saat dilihatnya rumah keluarga nenek dan kakeknya sudah terlihat dari kejauhan.

Ia turun dari sepeda begitu saja, mengakibatkan sepeda itu sempat bergerak sebentar sebelum jatuh ke tanah, dan berlari memasuki rumah. Ia mendadak berhenti, menarik napas, dan mulai menjadi gadis yang baik dan benar agar sertifikan taekwondo nya tidak dibakar. Ia melangkah dengan lumayan anggun memasuki rumah. Seanggun yang bisa dilakukan seorang Shin Ha Byul, sementara teman-teman pria nya sedang meragukan jenis kelaminnya.

Di dalam rumah itu, yang ia temui hanya Shin Jae Kyung dan anak perempuannya.

“Oh, hai, eonni!” Byul menyapa orang itu.

“Kau pasti mencari Eunhyuk.” tebak sang kakak sepupu melangkah ke dapur. “Mengingat sudah lama sekali kau tidak ke sini. Bagaimana di pengadilan?”

Byul tersenyum, menghampiri Kwon Ji Soo yang sedang bermain boneka di ruang tengah. “Sebenarnya jaksa Yong suka sekali mengulang-ulang apapun yang sudah dijelaskan.”

Jaekyung tertawa dan, kembali dari dapur. “Tapi dia mengenalkanmu dengan beberapa jaksa hebat lainnya kan?”

Byul mengangguk. “Dia sangat baik.” kemudian ia kembali teringat tujuannya ke sini. “Oh ya. Eonni belum menjawab pertanyaanku.”

“Soal Eunhyuk?”

Gadis itu mengangguk.

“Kupikir sekarang dia tinggal di rumahmu karena sudah lebih dari seminggu dia tidak di sini.” Jaekyung menjawab. “Agak aneh bagiku kalau kau mencari Eunhyuk di sini.”

Byul mengerjap beberapa kali, sudah cukup kaget tanpa perlu ditambah dengan pekikan.  Namun kekagetannya memuncak saat ia mendapat pesan singkat dari Sungmin.

“Coba tebak: Minjung menghilang.”

b

To Be Continued

n

NYEHEHEHEHEHEHE makin nggak jelas kan yak :3 yawdah gausah dibaca lagi aja, gimana? HEUHEUHEUHEU :v

Yeah sebenernya udah aku bikin sih part 8 nya, jadi nggak bakal ketunda negpostnya, teteup di hari jumat, kira2 ada yang mau nungguin ga? *EXACTLY NO* :3

Jadi gimana? Mohon kritik dan saran nya yak, karena ini ending nya part 10 dan pasti bakan bikin lu pada yang baca ginian muntah :v

Advertisements

9 thoughts on “Love, Trust & Hate 7

  1. daebakk 😱😱 itu byul mampu ngalahin 6 orang preman cuma seorang diri.. gue jd ragu byul itu yeoja atau namja wkwkwkw.. dan utk hubungan minjung dg eunhyuk kenapa makin pelik sih, ini gara kesalahpahaman aja, minjung menghilang??? apa jangan2 orang tua tirinya yg ngelakuin

    Liked by 1 person

  2. dududu tiap chapter bikin mikir sumpah wkwkwkwkwkwk /ini galucu tapi alu pengen ketawa /otakku gakuat hiks :’)))
    minjung kenapa gabilang2 kalo udah wisuda sih 😥
    si unyuk juga harusnya ngejar dikit2 kek, kalo aku jadi minjung(ngarep ih), ya aku bakal tambah benci sama unyuk kalo kek gitu /gabisaaaaa unyuk tuh lovable bingit /stop
    yaudah ku mau baca next part dulu hiksssss TTTT

    Liked by 1 person

    1. Wew mikir wew HAHAHAHA ini diluar dugaan sumpah 😂😂😂😂 berharap nggak salah kok eon, cerita ini kan juga reores dari harapan yang nggak akan terkabul HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAAHAHAHAHAHA *ketawa jahat nan menyedihkan* *fak apaan sih aku* *aduh aku berkata kasar* WQWQWQ MAAPKEUNNN 😐😐😐😐 yawdah eon silahkan silahkan, dan eonni nggak nyepam kok aku malah senengggggg 😏😏😏😊😊😊😘😘😘😘

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s