All Around Us 1

all-around-us

PosterBySifxo@ArtFantasy1

#1 : She’s missing from him

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | …

***

BANGUNAN itu berdiri dengan gagah di sana. Gedungnya tinggi nyaris menyentuh langit. Sinar matahari memantul ke jendela-jendelanya, membuat siapapun akan mendelik dan refleks menutup mata karena silau. Warna kalem dari gedungnya menambah kesan mewah apartemen ini.

Hari ini cerah, meskipun awan tebal menutupi langit, membuat orang-orang yang sedang beraktivitas di bawah sana tidak merasa kepanasan. Lagipula, ini baru awal musim dingin. Orang-orang bergerak mengikuti irama mereka, berjalan kesana kemari karena tuntutan hidup, berkendara dan berusaha sabar menghadapi kemacetan.

Seorang pemuda menjadi salah satu korban kemacetan itu, menatap datar kendaraan, debu, dan asap dari dalam mobilnya. Sebentar lagi ia sampai di tujuannya, yang tidak lain adalah gedung tadi. Ia menjalankan mobil dengan amat sangat perlahan, mengingat jalanan begitu macet, sampai akhirnya ia berbelok dan bisa memasuki kawasan itu. Yah, bangunan itu tidak terdiri dari satu gedung saja. Ada tiga gedung dan ketiga-tiganya sangat mewah.

Ia memarkir mobil di basement, berjalan menuju lift terdekat. Setelah ia masuk, ia menekan digit angka yang berurutan, dan menunggu.

Ia telah sampai di apartemennya.

Ah tidak.

Lantai tempat apartemennya berada maksudku.

Ia melangkah dengan santai, menyusuri koridor apartemen yang — untungnya — sepi. Ia tersenyum kala mengingat keramaian yang selalu ada di depan apartemennya, dan itu pasti tidak akan habisnya jika petugas keamanan tidak mengerjakan tugas mereka.

Begitu ia hendak menekan digit sandi apartemen, sekonyong-konyong pintu apartemen di depannya terbuka.

“Lee Dong Hae-ssi, selamat sore.” sapa tetangganya. Seorang janda lima puluhan tahun, dengan wajah tirus dan berhidung mancung. Keriput di wajahnya mulai terlihat, begitu juga dengan uban yang mulai muncul sedikit demi sedikit di pangkal rambut hitam pendeknya. Penampilannya sederhana. Tatapan wanita itu ramah dan hangat.

Sudah hampir lima bulan mereka bertetangga, namun entah mengapa, setiap kali melihat tetangganya, Lee Dong Hae hanya bisa tersenyum nanar.

“Oh, selamat sore, nyonya Seo.” balas laki-laki itu tak kalah ramah. Terpaksa.

“Masih sibuk seperti biasa?”

“Bahkan waktu semenit untuk merenggangkan kaki sangat berharga bagiku.”

Wanita itu mengeluarkan tawa yang membuat Donghae berpikir mungkin ia bisa menjadi seorang pelawak.

“Anda akan pergi?” Donghae bertanya begitu tawa mereda.

“Anak temanku berulang tahun hari ini. Dan dia mati-matian ingin aku datang. Padahal dia tahu aku tidak terlalu suka pesta-pesta remaja seperti itu.”

“Tidak ada salahnya menghadiri pesta-pesta seperti itu.” Donghae tersenyum. “Kalau begitu sampaikan ucapan selamat ulang tahun dariku untuk anak teman Anda.”

Nyonya Seo mengibaskan tangan. “Tidak akan. Aku mati-matian menyembunyikan alamatku dari semua teman-temanku. Apa jadinya jika mereka dan anak-anak mereka tahu aku bertetangga dengan artis terkenal?” ia melirik arloji. “Baiklah. Aku harus pergi. Aku tidak mau diomeli oleh teman-temanku.”

Donghae tersenyum dan melambaikan tangan pada wanita yang mulai menjauh dan hilang di balik lift itu. Ia melanjutkan kegiatannya yang tertunda. Menekan digit sandi apartemen, dan masuk ke dalam.

Seperti biasa, ia akan melihat beberapa orang di ruang tengah, berkutat dengan laptop atau ponsel mereka, berfoto ria, atau apapun untuk menikmati waktu liburan yang sempit.

Ia memilih untuk menuju dapur. Dan sekali lagi, seperti biasa, pasti ada seseorang yang asyik sendiri di sana.

“Hai, hyung!” sapa Kim Ryeo Wook.

Donghae membalasnya dengan senyuman. “Bisakah kau membuatkan aku spaghetti?”

Kening Ryeowook mengerut. “Spaghetti?”

Donghae mengangkat bahu. “Hanya sedang ingin. Bisa kan? Atau kita kehabisan spaghetti?”

Ryeowook menggeleng. “Spaghetti kita masih banyak.” ia membuka lemari di atas kepalanya dan mengeluarkan apa yang dikatakannya sebagai bukti. “Tenanglah, hyung, akan kubuatkan.”

Lagi-lagi Donghae tersenyum. Ia menyalakan kompor dan meletakkan panci berisi air di atasnya. Setelah airnya mendidih, ia memasukan dua genggam spaghetti ke panci.

Ryeowook yang mengamati Donghae melakukan semua itu, mengernyit. “Aneh.” komentarnya. “Hyung memintaku membuatkan spaghetti tapi hyung ikut membantu.”

“Hanya sedang ingin.”

Laki-laki itu mengangguk-angguk, membuka kulkas guna mencari bahan-bahan untuk membuat bumbu. Begitu semuanya sudah didapatkan dan diletakkan di meja dapur, Ryeowook terhenyak. Ia teringat akan sesuatu.. atau seseorang?

Lalu ia menatap Donghae yang tengah mengaduk-aduk spaghetti. Pandangannya berubah sendu.

Senyumannya pun tak kalah sendu. “Hyung teringat Joohae.”

Itu pernyataan, bukan pertanyaan. Dan itu fakta.

Karena Lee Dong Hae sama sekali tidak memberikan reaksi bahwa dia menolak pernyataan itu.

Donghae menghela napas panjang. “Terbaca semudah itu, ya?”

“Dia selalu seperti ini, dan aku yakin hyung tahu.” Ryeowook menjawab seraya memotong bawang kecil-kecil. “Memintaku membuatkan spaghetti untuknya, tapi dia malah merebus spaghetti sementara aku membuat bumbu, dan saat aku mengatakan hal itu aneh, dia menjawab persis seperti cara hyung menjawab barusan.”

Sejenak hanya terdengar suara pisau beradu dengan talenan dan desis air yang mendidih.

“Aku bertemu nyonya Seo. Dan dia mau ke pesta ulang tahun anak temannya.” Donghae menjawab setelah sekian lama terdiam. “Aku jadi ingat kalau dua hari lagi ulang tahunku..” ia berhenti mengaduk. “.. dan ulang tahunnya.”

Ryeowook berhenti mengiris.

“Entahlah.” Donghae mengangkat bahu. “Apa 15 Oktober masih bisa disebut ulang tahunnya?”

Ryeowook kini memasukkan semua bahan bumbu spaghetti ke dalam penggorengan. Membuat pilihan sepihak untuk menjadi pendengar yang baik.

“Ataukah birthday bukan lagi kata yang tepat?” Donghae bermonolog. “Melainkan.. deathversary?”

Hyung..” lirih Ryeowook menatap laki-laki itu.

“Apa?” Donghae menoleh. “Aku benar kan?”

“Dia memang tidak ada di sini.” renung Ryeowook mengaduk-aduk bumbu. “Tapi dia tidak akan pernah pergi dari hati dan pikiranmu. Apakah kau masih belum merelakannya?”

“Tentu aku bahagia karena dia sudah di tempat yang lebih baik sekarang.” Donghae mematikan kompor, meniris spaghetti. “Tapi percakapanku dengan nyonya Seo tadi hanya membuatku kembali teringat padanya.”

Ia menyendokkan makanan itu ke piringnya, menerima bumbu dari Ryeowook. Ia mengambil segelas air, dan membawa semua itu ke kamarnya.

Ia duduk di kursi, makan dalam diam. Ia tersenyum sedih saat matanya bersibobrok dengan foto berbingkai gadis itu yang ia letakan di meja. Gadis itu melirik kamera dari kacamata tebalnya dan tersenyum lebar. Senyum yang mirip sekali dengan senyum Donghae.

Ia menyelesaikan makan, meneguk habis airnya. Tapi ia tidak berniat untuk langsung membawa piring dan gelas kotor itu ke dapur. Ia masih ingin berlama-lama di sini, menyembunyikan kesedihannya.

Nama gadis itu adalah Lee Joo Hae. Beda usia mereka lima tahun. Gadis itu jenius, serba bisa, selalu punya keingintahuan besar, dan cepat menyerap banyak hal. Sejak keduanya pindah dari Mokpo ke Seoul, Donghae mengejar mimpinya menjadi penyanyi dan Joohae bersekolah setinggi-tingginya dengan bermodal otak sehingga seluruh biaya sekolah gadis itu dibiayai pemerintah. Gadis itu mendapat gelar strata ganda dan magister di usia yang cukup muda. Dan Donghae dengan bangga menyatakan bahwa orang itu adiknya.

Mereka kakak adik yang saling menyayangi, sampai pernah Donghae menganggapnya pembunuh kedua orangtuanya, dan itu adalah saat terburuk bagi keduanya karena Donghae begitu membenci adiknya. Tetapi untunglah, hubungan keduanya kembali membaik dan makin harmonis. (1)

Gadis itu tadinya tinggal di apartemen milik nyonya Seo, sehingga Donghae bisa terus mengawasinya.

Hubungan gadis itu dengan member Super Junior sangat baik, setidaknya sampai ketika mereka semua menyembunyikan tanggal wajib militer Donghae, gadis itu marah dengan mereka semua. Tadinya gadis itu ingin berangkat ke München diam-diam dan tidak mengatakan pada mereka bahwa dia akan mengambil gelar magisternya di sana, tapi dia menyadari kebodohannya dan meminta izin pada mereka semua. (2)

Dan itulah sumber masalahnya.

Selama dua tahun berada di sana, seluruh anggota Super Junior bahkan Donghae tidak pernah tahu bahwa Joohae mengidap penyakit serius.

Karena ketika gadis itu kembali ke Korea, penyakitnya makin menjadi sampai ia menderita komplikasi. Selama sembilan bulan Joohae menjalani rawat jalan, dan ia sempat sembuh dari penyakitnya, namun penyakit itu kembali lagi tiga bulan kemudian, membuat Joohae makin menderita karena penyakit itu semakin parah. (3)

Pikiran Donghae bergulir ke lima bulan lalu. Saat melakukan video call dengan sang adik, saat ia melihat sendiri betapa kesakitannya gadis itu, saat ia melihat Joohae memejamkan mata tenang seolah sedang tertidur sementara dokter menekan dadanya yang membuat darah mengucur deras dari hidung dan telinganya, juga saat ia mendengar sendiri vonis dokter yang menyatakan bahwa adiknya telah pergi untuk selama-lamanya. (4)

Matanya memanas. Ia mengerjap-ngerjap.

Saat itu, Donghae tidak menyadari bahwa kini ia tidak sendirian di kamar.

Leeteuk masuk ke kamar, mengamati Donghae yang duduk di kursi memeluk lututnya.

“Teringat dia lagi, hm?” ujar Leeteuk.

Donghae mengalihkan pendangannya dari foto ke anggota tertua Super Junior itu.

“Oh, hyung rupanya..” hanya itu yang keluar dari mulut Donghae.

“Ryeowook sudah cerita.” Leeteuk berkata seakan tahu Donghae akan bertanya apa. “Kau juga terlihat aneh sejak masuk ke dorm tadi.”

Donghae menghela napas. “Setiap kali melihat apartemen nyonya Seo terbuka, aku selalu berharap yang keluar adalah anak itu bukan nyonya Seo.” gumamnya setengah merenung. “Tapi aku tahu kalau itu adalah gagasan bodoh.”

Leeteuk tersenyum sendu. Donghae kembali memandangi foto gadis kecilnya.

Leeteuk ikut menatapnya. Di kamar ini, Donghae hanya meletakkan tiga bingkai foto. Satu foto gadis itu, yang lainnya adalah foto dirinya dan gadis itu yang saling berangkulan dan tersenyum cerah ke arah kamera, dan terakhir adalah foto gadis itu dengan seluruh anggota Super Junior. Sebenarnya, ada banyak sekali foto yang Donghae punya, atau seharusnya kubilang, foto yang sekarang jadi milik Donghae.

Dulu, di apartemen Joohae, ada banyak sekali foto berbingkai gadis itu dengan semua orang-orang yang ia cintai, meski sebagian besar adalah foto diri gadis itu dengan Donghae. Foto itu dipajang di apartemennya. Ketika gadis itu tiada, Donghae sudah memutuskan untuk menyumbangkan semua barang yang Joohae punya (baju, buku, tas, sepatu), tetapi ketika dirasa ia tidak mungkin menyumbangkan foto-foto Joohae, ia memutuskan untuk tidak menyumbangkan semua barang milik gadis kecilnya. Pada akhirnya, Donghae menyimpan semua barang-barang milik Lee Joo Hae di apartemen pribadinya, menyisakan sebuah ruangan yang ia dedikasikan khusus untuk sang adik.

Mata Leeteuk kini beralih ke Joohae yang duduk di antara dirinya dan Heechul. “Adikmu dicintai oleh semua orang yang pernah mengenalnya.” Leeteuk kembali bersuara. “Aku benar-benar bersyukur karena semua teman-temannya mau mendengarmu, untuk tidak banyak bicara pada wartawan.”

“Aku hanya merasa dia sedang melanjutkan sekolahnya di luar negeri.” Kata Donghae pelan. “Aku hampir tidak percaya kalau dia.. sudah pergi. Bahkan setelah lima bulan..”

“Kami semua juga begitu.” sekarang Leeteuk berdiri di samping Donghae, menepuk-nepuk bahunya. “Kau pasti tahu bagaimana kami semua kehilangan adikmu. Kami juga merasakan apa yang kau rasakan.”

Donghae menopang dagu di lutut. “Aku jarang mengunjunginya di rumah sakit.”

“Karena kau artis terkenal yang super sibuk dan dia sama sekali tidak keberatan dengan hal itu.”

“Aku tidak pernah menjadi kakak yang baik untuknya.”

“Itu adalah sebuah kebohongan.” sahut Leeteuk. “Apa kau lupa kalau kau selalu menuruti permintaannya? Menghiburnya saat dia sedih dan melindunginya saat Heechul dan Sungmin menjahilinya? Kau sempurna untuknya, dan aku berani mempertaruhkan karierku, dia sangat beruntung menjadi adikmu.”

“Kalau saja aku lebih memperhatikannya..” Donghae masih bergumam sendirian. “..dia pasti tidak akan sakit separah itu.”

Ia meraih ponsel gadis itu. Layar kuncinya bergambar tumpukan buku koleksinya. Donghae sengaja membiarkan ponsel gadis itu, membiarkan nomornya tetap aktif, dan membiarkan semua media sosialnya, karena itulah caranya mengontrol semua teman-teman gadis itu.

“Berhenti menyalahkan dirimu sendiri.” Leeteuk terus menghibur Donghae. “Bahkan sebelum dia ada di dunia ini, dia sudah ditakdirkan pergi sebelum berumur 30 tahun. Lagipula dia terlalu sempurna untuk berada di dunia ini.”

Donghae menghela napas keras, tidak bisa menyembunyikan air matanya dari Leeteuk. Lagipula, Leeteuk pasti mengerti.

Ia meletakkan ponsel.

Leeteuk memincingkan mata. “Apa itu?”

“Ini?” Donghae kembali mengambil ponsel Joohae.

“Bukan.” Leeteuk mengambil map yang menjadi alas ponsel, membuka isinya. Ia mengernyit heran. “Ini.. berkas-berkas milik Joohae.. tapi untuk apa ini?”

“Oh, itu berkas yang dia butuhkan untuk mengambil gelar doktor.” jelas Donghae dengan nada membicarakan cuaca. “Saat aku mengosongkan apartemennya, aku tidak menemukan berkas-berkas ini. Nyonya Seo yang menemukannya. Beliau memberikannya padaku dua bulan lalu.”

Leeteuk tidak terlalu mendengar penjelasan Donghae karena dia sedang terpaku akan dua kata. “Gelar doktor?”

Kini Donghae yang mengernyit heran. “Hyung tidak tahu kalau dia akan mengambil gelar doktor?”

Leeteuk menggeleng pelan. “Aku yakin mereka semua juga tidak tahu dia akan mengambil gelar doktor.”

“Benarkah? Kukira dia akan memamerkan ini pada kalian semua.”

“Oh ayolah, dia hampir pergi ke Jerman diam-diam untuk gelar magisternya ‘kan?”

“Tapi situasi saat itu berbeda..” Donghae berkata. “Mungkinkah dia mau memberi kejutan pada kalian?”

“Mungkin saja.” Leeteuk mengangkat bahu. “Dan kali ini.. dimana?”

“Jepang, Tokyo Tech.”

Mata Leeteuk menjadi selebar piring terbang. “Jadi maksudmu, dia akan kuliah dengan sakit-sakitan begitu?”

“Oh bahkan aku yakin rektor Tokyo Tech akan menyambut sendiri kedatangannya.”

 “APA?!” teriak Leeteuk, setengah kaget setengah kagum “Anak itu benar-benar sudah gila!”

Donghae hanya terkekeh. Ia kembali menatap foto Joohae.

☆☆☆

Seluruh dunia tentu tahu bahwa lima belas Oktober adalah hari spesial bagi seorang Lee Dong Hae. Terlebih, ketika mereka tahu bahwa lima belas Oktober juga merupakan hari jadi adik idol tersebut. Namun, sepertinya para penggemar tidak begitu larut dalam perayaaan ulang tahun idol mereka untuk tahun ini. Bagaimana tidak? Mereka juga menyadari dan tahu benar bahwa ini pertama kalinya Lee Dong Hae merayakan ulang tahunnya sendirian.

Jika di tahun-tahun sebelumnya penggemar dibuat gemas dengan posting-an Donghae ataupun sang adik di akun media sosial mereka — yang menunjukkan bahwa kakak beradik itu selalu merayakan ulang tahun bersama — di tahun ini, tidak ada apapun di akun media sosial keduanya.

Penggemar hanya mengucapkan selamat ulang tahun seadanya pada Donghae.

Begitu juga dengan para anggota Super Junior.

Donghae hanya tersenyum setiap kali mendapat ucapan dari mereka. Ia juga bisa melihat bahwa mereka semua sedang berusaha untuk tidak menyinggung sang adik. Terutama Kim Hee Chul, Park Jung Soo, Lee Sung Min, dan Shin Dong Hee.

Mengingat merekalah yang paling dekat dengan gadis itu.

“Ulang tahunku tidak pernah sesepi ini.” ujar Donghae. Tersenyum penuh arti.

Mereka semua menghela napas.

“Aku tidak pernah tahu bahwa merayakan ulang tahun akan semenyedihkan ini.”

“Sudahlah.” sahut Leeteuk. “Kita semua juga merindukannya, Donghae-ya..”

“Aku bahkan sudah berpikir untuk membelikannya hadiah.” gumam Shindong. “Tapi aku baru ingat kalau dia sudah tidak ada di sini.”

“Aku tidak akan mengelak lagi kalau aku sangat merindukannya.” Heechul berkata disertai ekspesi sedih yang mendalam di wajahnya.

☆☆☆

October 15th, 2013

Lee Joo Hae mengetuk-ngetuk pintu apartemen di depannya dengan terlalu menggebu-gebu, sehingga siapapun yang berjarak enam apartemen darinya pasti bisa mendengar ketukan pintu yang terlalu berisik itu. Lagipula, itu aneh. Hei, apartemen ini punya bel!

Seseorang membuka pintu dan membentak gadis itu begitu saja. “YA, tidakkah kau tahu kalau kau bisa langsung masuk?!”

Joohae hanya tersenyum lebar. “Eish, kenapa Sungmin oppa-ku berubah menjadi pemarah eoh? Nanti oppa cepat tua kalau terus-terusan marah seperti itu.” candanya.

Sungmin berdecih dan melenggang masuk ke apartemen tanpa mempedulikan gadis itu. Sejujurnya Joohae agak kaget dengan reaksi pria itu, namun seakan sadar diri hari apa hari ini, gadis itu, tanpa Sungmin sadari, mengekor di belakangnya seraya tersenyum geli.

Ia melihat bahwa saat ini semua anggota Super Junior benar-benar sibuk mengurus sesuatu. Dalam hatinya ia sedikit banyak berharap bahwa ‘sesuatu’ itu adalah ulang tahunnya dan sang kakak.

Tetapi perlahan-lahan, ia menyadari bahwa, kesibukan yang mereka semua lakukan sama sekali tidak ada kaitannya dengan ulang tahun. Ryeowook tidak sibuk membuat kue atau sup rumput laut, juga tidak ada hiasan apapun di ruang tengah apartemen ini.

Bahkan cenderung semua orang tidak mempedulikan hari apa hari ini. Termasuk Lee Dong Hae.

Joohae menghampiri sang kakak yang tengah bolak-balik dari kamarnya dan ruang tamu, seakan tengah sibuk mencari sesuatu. “Oppa!” panggil gadis itu merangkulkan lengannya di lengan kakaknya. “Bukankah ini hari yang indah?”

Joohae tertegun bukan kepalang ketika Donghae menepis tangannya dan sama sekali tidak mau menatapnya. Ia merasa sakit hati, namun saat pikiran bahwa hari ini adalah hari spesial untuknya dan Donghae, ia kembali tersenyum.

Ia menghampiri Heechul yang tengah merapikan barang-barangnya.

Oppa, bisa kubantu?”

Heechul tidak menanggapi dan tetap mengemasi baranga-barangnya.

Joohae terlihat cemberut, namun ia tidak mau menyerah. Saking bersemangatnya, ia merebut apapun yang dibawa Heechul dengan paksa, membuat pria itu cukup marah dan merampas barangnya kembali.. sehingga beberapa dari apa yang dibawahnya terjatuh. Bahkan lensa kacamata hitamnya yang sangat mahal retak.

Ia memandang Joohae dengan mata menyala-nyala. “KAU TAHU BERAPA HARGA KACAMATA ITU HAH?!”

Untuk kali ini, gadis itu tidak berusaha menyembunyikan kekagetannya dengan tersenyum. Ia menunduk takut.

“KAU TAHU GAJIMU SELAMA BEKERJA DI PERUSAHAAN BODOHMU ITU TIDAK AKAN BISA MENGGANTINYA?!”

“Oke.” Joohae mengangkat wajah. “Aku tahu aku agak heboh hari ini. Maafkan aku. Tapi haruskan oppa memarahiku seperti itu hanya karena kacamata? Apa salahku dengan bertingkah heboh hari ini?”

Heechul mendengus kesal. “KAU PIKIR MAAF BISA MENGEMBALIKAN KACAMATAKU?!”

“Aku tahu, aku tahu!” gadis itu terlihat jengah. Matanya sudah berkaca-kaca. “Jadi apa yang mau aku lakukan untuk oppa supaya oppa tidak lagi marah padaku?”

Dengan kemarahan yang belum reda, Heechul menunjuk pintu. “Pergi.” titahnya. “Dan jangan ganggu kami karena kami semua sibuk di sini.”

Joohae membuka mulut, lalu menutupnya lagi, namun tidak ada apapun yang keluar dari mulutnya. Dengan gontai, ia melangkah menuju pintu dorm, membukanya, dan membiarkan pintu itu tertutup di belakangnya. Ia keluar dengan air mata membasahi wajahnya.

Benarkah dengan apa yang baru saja terjadi? Bahwa semua anggota Super Junior melupakan ulang tahunnya dan kakaknya? Tapi itu tidak mungkin! Seluruh dunia tahu ulang tahun Lee Dong Hae, yang mengakibatkan mereka juga tahu ulang tahunnya karena Joohae lahir 15 Oktober lima tahun setelahnya. Tidak mungkin mereka lupa!

Atau apakah.. mereka tidak mempedulikan dirinya dan diam-diam merayakan ulang tahun Donghae sendirian.. tanpa.. dirinya?

Gadis itu menyeka air matanya, menangis dalam diam. Tanpa disadarinya, ia sudah melangkah mengikuti hatinya.

Baiklah jika memang mereka tidak mempedulikan dirinya.. tidak apa.. Joohae akan menerimanya..

Ia pergi ke sebuah toko kue, membeli satu muffin coklat, membayar dengan meminta tambahan sebuah lilin, lalu pergi. Saat ia melihat salah satu penjual oden, ia meminta penjual itu membakarkan lilin untuknya. Ia kemudian duduk di sebuah bangku, sendirian, meletakkan lilin di atas muffin, dan memejamkan mata, seiring dengan air mata yang mengucur jelas di pipinya.

Ia menggumamkan permohonan, membuka mata. Dengan bisikan bercampur tangis, ia berkata. “Selamat ulang tahun, Lee Joo..”

Dan ia pun meniup lilin itu, memakan muffin itu sendirian seraya berlinang air mata.

Ia berjalan-jalan menyusuri kota, mampir ke sebuah toko stationary untuk membeli barang-barang lucu kesukaannya, yang akan dianggap sebagai kado ulang tahun untuk dirinya sendiri. Ia membeli sebuah gelang perak berhias lonceng kecil dan menara Eifell berselang-seling, sebuah hiasan berbentuk jam London Big Ben, sebuah gantungan kunci bergambar Baymax, dan sebuah gantungan foto polaroid. Ia membayar semua itu, lalu pergi berjalan-jalan lagi.

Beberapa jam ia melangkah kesana kemari, melihat ini dan itu, sampai seseorang meneleponnya. Ia mendengus sinis saat membaca nama si penelepon.

“Apa?” jawabnya kasar.

“Dimana kau sekarang?”

“Apa itu urusan oppa?” balasnya tanpa mengurangi kekasarannya.

“Kalau kau di apartemen, tolong bawa kacamataku ke sini.”

“Kenapa oppa tidak mengambilnya sendiri? Oppa ‘kan tahu sandi apartemenku!”

“Aku sibuk dan sekarang aku tidak punya waktu untuk meladeni betapa marahnya kau padaku, Lee Joo Hae!” Donghae membentak dengan satu tarikan napas. “Aku tidak peduli dimana kau berada! Bawa kacamataku sekarang atau kau akan lihat apa akibatnya kalau kau membantahku!”

Joohae mendelik marah menatap ponselnya begitu sambungan telepon diputuskan sepihak oleh kakaknya. Ia kemudian menuju halte bus, dan menuju Star City lantai dua belas, apartemennya sendiri. Ia mengambil apa yang dibutuhkan Donghae, lalu menuju apartemen di depannya. Ia menekan beberapa digit sandi dengan tenaga berlebih, kemudian masuk.

Ia sungguh tidak mengerti dengan apa yang mereka sibukkan sampai harus mematikan seluruh lampu apartemen, tanpa menyisakan sedikitpun cahaya untuk ― setidaknya ― melangkah. Ia meraba-raba dinding di dekatnya, mencoba mencari saklar, agar ia bisa melihat setitik cahaya.

Namun yang terjadi adalah, Lee Joo Hae malah membuat seluruh lampu di ruangan ini menyala. Mendapati semua anggota Super Junior berkumpul di ruang tengah dengan Kim Ryeo Wook memegang sebuah black forest besar, dan yang lainnya berada di dekat saklar lampu.

Baru pada saat itu ia menyadari bahwa dorm ini telah dihiasi balon dan segala yang berbau ulang tahun.

“Selamat ulang tahun!” pekik mereka bersamaan.

Joohae memandangi mereka, terkejut bukan kepalang. Ia berdiri menatap mereka satu per satu, ekspresi wajahnya pun mulai berubah. Beberapa detik kemudian, ia sudah menundukkan wajah. Semua orang bisa melihat air mata gadis itu yang jatuh ke lantai.

Donghae meletakkan kotak berpita yang dipengangnya ― yang ukurannya paling besar dari yang lain ― lalu menghampiri gadis itu. Tanpa mengatakan apapun, ia langsung memeluk gadis itu, yang mengakibatkan gadis itu menangis dengan keras.

Gadis itu tidak memprotes apapun yang dilakukan Donghae sejak laki-laki itu memeluknya. Beberapa menit kemudian, ia mendongkak. “Kenapa kalian harus mengabaikan aku seperti itu hanya karena mau memberiku kejutan?” racaunya sambil menangis.

Kini seluruh anggota Super Junior sudah mengelilingi keduanya.

“Kau tahu? Itu cukup bagus untuk menaikkan emosimu.” Sungmin berkata mengangkat bahu.

Joohae menatap Heechul yang tampak samar karena air mata. “Kenapa oppa harus memarahiku seperti itu?”

“Yah.. kau tahu..” Heechul menjawab tanpa rasa bersalah dengan rasa kasihan yang mati-matian disembunyikannya. “Aku terbawa suasana saat Donghae mencetuskan ide ini..”

Gadis itu kemudian mendongkak menatap sang kakak. “Apa oppa tetap harus marah padaku di telepon seperti itu?”

“Baiklah..” Donghae menyeka air mata gadis itu. “Aku tidak menyangka kau akan terlihat semenyedihkan ini.. itu semua di luar dugaan kami.. karena itu maafkan kami..”

Gadis itu menarik ingus, mengusap wajah untuk menghilangkan sisa air mata. Donghae sudah melepas pelukannya. “Kalian tahu apa yang kulakukan saat aku pergi dari sini?”

Tanpa menunggu jawaban Joohae berkata. “Aku merayakan ulang tahunku sendiri!” mata gadis itu menatap semua orang. “Aku membeli muffin dan lilin sendiri, meniupnya sendiri, memakannya sendiri, dan membeli kado untukku sendiri!”

Ia menunjukkan kotak berpita yang berisi barang-barang yang tadi dibelinya, kepada semua orang.

Entah mengapa, semua orang tertawa melihat kotak itu. Joohae merengut hampir menangis lagi.

Aigoo..” Eunhyuk menggeleng-gelengkan kepala, mengacak rambut gadis itu. “Kenapa gadis kecil kami berubah menyedihkan? Kau seharusnya sadar kalau sikap kami yang seperti itu. Ada apa denganmu? Kau bisa menebak sandi laptopku dengan cepat, tapi menebak semua sikap kasar kami hanya untuk memberimu kejutan kau tidak bisa!”

Sekali lagi semua orang tertawa kecuali Joohae.

“Sekarang,” Ryeowook menyodorkan kue di depannya. “Kau tadi membuat permohonanmu sendirian. Jadi kau harus membuat permohonan lagi di depan kami, bersama Donghae.”

Gadis itu menurut. Ia dan kakaknya menautkan kedua tangan, memejamkan mata, dan berdoa. Setelah itu, mata mereka terbuka, dan mereka meniup lilin itu bersama. Semua orang bertepuk tangan dan keduanya tersenyum.

Ryeowook memberikan pisau pada Joohae, dan gadis itu memotong kue untuk dirinya sendiri. Yang setelahnya, kepala gadis itu mendapat jitakan dari berbagai sudut.

Joohae tertawa dengan sisa-sisa air mata di wajahnya, melahap sesendok kue. “Ini enak..”

Dan kemudian, gadis itu memotong-motong kue untuk semua orang, hanya untuk diraup dengan tidak berperikemanusiaan lalu dilumuri ke wajahnya.

YA!” raung gadis itu mengerikan. Semua orang sepertinya menganggap itu lucu, karena mereka tertawa terbahak-bahak.

Donghae membersihkan wajah gadis itu dengan tisu basah, kemudian mengecup pipinya sambil berkata. “Selamat ulang tahun..”

Joohae tersenyum, memeluk erat laki-laki itu. “Selamat ulang tahun, oppa..”

“Joohae-ya!” Siwon tiba-tiba memanggil. “Leeteuk hyung menelepon dari camp!”

“Oh ya?” Joohae menghabisi potongan kue terakhir, membersihkan krim di tangan, dan bicara cukup lama di telepon.

☆☆☆

Donghae melangkah dengan pasti ke tempat baru yang sudah dikenal baik olehnya ini dengan membawa sebuket bunga matahari. Ia mengawasi sekitar, takut jika ada media yang mengenalinya karena untuk saat ini ia sedang tidak ingin berurusan dengan para wartawan.

Masih segar di ingatannya hari dimana gadis kecil kesayangannya berjuang melawan penyakit itu sendirian. Ia ingat teriakan pilu Joohae menjelang kepergiannya. Ia ingat vonis dokter yang mengatakan bahwa Lee Joo Hae sudah tiada.

Ia ingat segala hal yang terjadi saat pemakaman gadis itu, seperti baru terjadi kemarin. Media memadati rumah duka saat para anggota Super Junior membawa peti Lee Joo Hae menuju mobil. Donghae berada di dekat peti dengan memegangi foto gadis itu. Saat itu ia hampir tidak bisa menghadapi media. Ia beruntung sahabatnya Hwang Min Jung bersedia berpura-pura menjadi sepupunya dan menjawab apapun yang media inginkan, kecuali alasan sebenarnya mengapa gadis kecilnya meninggal. Entahlah. Ia hanya merasa penyakit Joohae dan perjuangan gadis itu saat menghadapinya bukan sesuatu yang bagus untuk diketahui semua orang.

Sampai sekarang, media dan penggemar hanya tahu bahwa adik Lee Dong Hae meninggal karena sakit. Hanya itu. Karena baik Donghae, Minjung, anggota Super Junior, keluarga laki-laki itu, maupun teman-teman Joohae tidak memberikan keterangan lebih.

Donghae sudah sampai di makam yang ia tuju. Ada beberapa bunga matahari segar yang terletak di atas makam, pertanda bahwa beberapa hari yang lalu ada yang mengunjungi gadis itu. Mungkin teman-temannya. Gadis itu memiliki banyak sekali teman. Tidak heran mereka begitu kehilangan gadis itu.

Donghae duduk di samping makam, meletakkan bunga, berdoa beberapa saat. Kemudian, ia tersenyum lembut sambil mengusap batu nisan. “Hai, Joo. Lama tidak bertemu. Kau tahu kalau aku sangat merindukanmu?”

Hanya terdengar desiran angin yang meniupkan rambut Donghae dan menggerakkan bunga matahari yang ada di atas makam.

“Maaf jarang mengunjungimu.” Donghae berkata lagi. “Aku sibuk, sungguh, sampai aku tidak punya waktu untuk dirimu. Bahkan saat kau masih ada. Kenapa kau tidak pernah keberatan karena aku jarang menjengukmu dan menjagamu di rumah sakit? Aku tahu kau pasti akan bilang ‘Lebih baik oppa bekerja dan membiayaiku daripada menjengukku’, tapi tidakkah kau tahu aku selalu ingin ada di sisimu saat kau sakit?”

Hening.

“Joo-ya..” lirih Donghae. “Kau ingin tahu kenapa aku sesedih ini? Aku sudah merelakanmu, dan meski masih sering menangisimu, perasaan ini muncul lagi sama seperti saat aku benar-benar kehilanganmu untuk pertama kalinya.. kau tahu kenapa?”

Laki-laki itu menarik napas panjang. “Aku masih belum bisa menerima nyonya Seo sebagai tetanggaku..” katanya. “Aku, bahkan kami, masih sering keluar dorm dan seenaknya menekan sandi apartemen di depan kami, kemudian dengan menyedihkan teringat bahwa kau bukan tetangga kami lagi. Aku bahkan sesekali berharap kaulah yang keluar dari apartemenmu, bukan nyonya Seo. Keberadaannya hanya membuatku teringat bahwa seharusnya tempat itu adalah tempat tinggalmu.. tapi..”

“Maaf..” Donghae kembali mengusap batu nisan sang adik. “Maaf karena aku yang terlalu kekanak-kanakan.. kau pasti akan bilang aku seharusnya tidak boleh seperti ini kan? Tapi.. sungguh.. aku merindukanmu, Joo..”

Donghae tersenyum sendu, memandangi makam seakan sang adik tengah memandang padanya.

“Aku ingin sekali merayakan ulang tahunku bersamamu, meski kau sudah tidak memilikinya lagi.”

Laki-laki itu mengeluarkan sebuah muffin coklat, sebua lilin kecil, dan sebuah korek. Ia meletakkan lilin di atas muffin, membakarnya, kemudian memejamkan mata, lalu meniup lilin itu. Ia memakan muffin itu sendirian sambil sesekali berkata ‘Kau mau kusuapi?’

“Terima kasih telah menemaniku..” Donghae mengakhiri kunjungannya. Ia mengusap lagi nisan itu, menciumnya lama sekali, kemudian berdiri dan pergi.

☆☆☆

Donghae melajukan mobilnya dengan perlahan, sedang ingin menikmati waktu liburnya yang sempit di luar dorm. Perasaannya jauh lebih baik setelah mengunjungi rumah baru adiknya. Ia memutuskan untuk mampir ke sebuah kafe sebelum kembali ke dorm.

Kafe itu sepi. Itu yang ia butuhkan. Mengingat ia tidak mengenakan penyamaran apapun dan ia sedang ingin menenangkan diri.

Seorang pelayan menghampirinya, mencatat pesanan Donghae, dan kembali dengan membawa secangkir kopi dan sepotong kue.

Ia jadi ingat. Joohae sangat suka kopi.

☆☆☆

Chocorilla frappuccino dingin dengan caramel di whip cream, juseyo!”

Joohae tersenyum lebar saat si pelayan memasuki pantri, membuatkan pesanannya dan sang kakak. Gadis itu melihat Donghae yang tengah menatapnya.

“Kenapa kau selalu memesan jenis kopi itu setiap kali kita ke kafe?” tanya Donghae. “Ada banyak jenis kopi di sini dan kau selalu memesan itu.”

Oppa tahu aku tidak pernah menyukai kopi. Tapi ketika aku mencoba yang satu itu saat aku di Inggris aku langsung menyukainya.” gadis itu berkata. “Oppa harus coba!”

“Kau juga harus mencoba apa yang kupesan.”

Pada saat itu pesanan keduanya datang.

Joohae cemberut saat menatap kepulan asap di cangkir Donghae. “Kenapa harus hangat? Aku tidak suka kopi hangat.” ia mendumal.

Donghae tersenyum. “Kopi ini tidak akan enak kalau dingin.” ia menggeser cangkirnya mendekati gadis itu. “Cobalah.”

Joohae menghidu aromanya, matanya terpejam tenang beberapa detik. Setelah itu, ia menatap sang kakak terkejut.

“Kau bahkan belum mencobanya.” kata Donghae. “Ayo, minumlah.”

Gadis itu menghela napas, mencicipi kopi itu sedikit. Ia meneguknya sekali. Seketika masing-masing sudut bibirnya tertarik begitu saja, seperti ada dorongan aneh yang membuatnya ingin tersenyum. Gadis itu menatap Donghae.

Oppa..”

“Bagaimana?”

Joohae memberikan kopinya pada Donghae. “Itu untuk oppa. Ini aku.” ia kembali menikmati minumannya.

Donghae tertawa, sama sekali tidak keberatan minumannya ditukar. Ia juga mulai menyadari apa yang selalu dipesan Joohae ternyata tak kalah enak.

☆☆☆

Laki-laki itu menyesap minumannya, menatap keluar jendela. Sejak gadis itu pergi, entah mengapa semua hal yang dia alami akan ia kaitkan dengan gadis itu.

Donghae tidak tahu sudah berapa lama ia duduk di kafe dan memikirkan sang adik sampai ia melihat seorang gadis masuk ke kafe.

Tidak, ia tidak sedang memperhatikan gadis itu. Kafe ini sepi, jadi jelas saja tiap bunyi lonceng yang terdengar setelah membuka pintu akan menarik perhatian.

Gadis itu tidak duduk di salah satu meja. Mungkin tamu si pemilik kafe. Tapi itu sebelum si pelayan yang tadi mengantarkan pesanannya muncul.

Begitu melihat gadis tadi, si pelayan tersenyum lebar menghampiri gadis itu, memeluknya erat, dan memutar-mutarnya di gendongan.

b

To Be Continued

b

EHEEEEEEEEE

Jadi aku kambek lagi, jangan ada yang bosen ya sama aku hehe hehe hehe

Gimana cerita ini menurut kalian?

Aku gatau ini bakal jadi berapa part, pantengin aja ya hehe hehe hehe

Untuk cerita ini, aku bakal ngepost seminggu sekali, di hari jumat, waktunya terserah aku HAHA

Nah kalo kalian belom ngerti, cerita ini nanti ada hubungannya sama Hug Me Once sama A ‘Good’ Bye, aku emang nyeritain garis besar cerita itu di sini, tapi entahlah kalo kalian udah ngerti sebagian besar ceritanya dan udah ngerti silahkan dilanjutkan bagi yang berminat, kalo yang nggak ngerti dan mau baca cerita ini, silahkan dibaca dulu dua cerita yang udah aku sebutin HEHE map ya ribet

Perlu aku bilang juga, aku belom selesai nulis cerita ini, jadi kalo emang ada yang ngikutin cerita ini, aku minta maaf kalo aku apdet nya agak lama, selain karena aku mau liat responnya di cerita ini, yah, aku belum selesai namatin cerita ini. Aku juga udah mau masuk kulya, siboek heuheu

Sampai jumpa di part berikutnya ya hehe hehe hehe

b

(1) Baca Hug Me Once

(2) Baca A ‘Good’ Bye 1

(3) Baca A ‘Good’ Bye 2

(4) Baca A ‘Good’ Bye 3 (END)

 

Advertisements

3 thoughts on “All Around Us 1

  1. donghae masih belum rela kalau joohae udah tidak ada lagi 😭 gue pun kek gitu suka sama karakternya joohae.. oh ya itu donghae oppa bisa buat gue kagak? wkwkw oppa idaman banget yang sayang banget sama adekny 😘

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s