Love, Trust & Hate 8

114f2364b1a3b81e90c1df08a7ec65f5

#8 : He never hates hers

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 (END)

***

SHIN Ha Byul keluar dari rumah itu, bergegas menuju sepedanya, dan mengayuh dengan terburu-buru menuju rumahnya. Berkali-kali roda sepedanya terperosok ke dalam salju tebal di jalanan, tapi ia tetap mengayuh. Ini sudah musim dingin dan salju sedang turun akhir-akhir ini, juga angin yang terus berhembus, membuat siapapun tidak ingin keluar dari rumahnya yang hangat.

Ia tidak peduli dengan cuaca. Yang ia pedulikan hanya keberadaan sepupunya.

Bagaimana ia tidak uring-uringan seperti ini? Ia ingin sekali mengumpat ke siapa saja. Pesan singkat dari Sungmin hanya membuat amarahnya makin membuncah.

Dan coba tebak: Eunhyuk juga menghilang. Byul membalas tanpa pikir panjang.

Ia masuk ke rumah. Betapa kecewanya ia, karena di sana tidak ada yang ia temui selain kedua orangtuanya.

Ia segera meninggalkan rumah, dengan gelisah berpikir harus mulai dari mana ia mencari.

Ia menghela napas, mungkin memulai dari tempat yang mungkin sering dikunjungi keduanya tidaklah buruk. Lapangan basket dekat rumah, restoran fast food tempat es krim favorit Byul bisa dibeli, kedai kopi favorit nenek mereka, tempat ia latihan taekwondo dulu (sekarang Byul sudah punya pelatih khusus karena ia sudah berada di tingkat yang cukup tinggi dan saat ia masih berlatih di tempat itu Eunhyuk sering menggoda gadis-gadis di sana, tapi itu sebelum ia mengenal Minjung), restoran Cina milik pamannya, toko roti bibinya, toko perhiasan kakak sepupunya, dan kantor-kantor keluarganya (berpura-pura sedang bersantai dan sedikit berlama-lama dengan mereka agar mereka semua tidak curiga). Namun semua itu tak membuahkan hasil.

Tahu-tahu, ia sudah tertidur di salah satu bangku taman dan berada di pusat kota.

Dimana suhu udara terus saja turun mendekati minus, salju yang tak berhenti turun, dan angin yang berhembus kencang.

Ia benar-benar putus asa dan terlihat seperti orang gila. Wajah kusut, bibir pucat, rambut awut-awutan, dan kepala penuh salju. Ia sudah tidak mengenal waktu lagi. Ia bahkan tidak tahu, ini sudah hari ke berapa ia tidak pulang ke rumah dan berganti baju.

Ia berlarian kesana kemari, masuk ke sebuah toko, menyusuri setiap sudut tempat itu dengan matanya, dan pergi, lalu masuk lagi ke suatu tempat, menyusuri dengan matanya, dan pergi lagi. Terus begitu sampai akhirnya ia menyerah dan bahkan tidak bisa lagi merasakan hawa dingin yang menusuk-nusuk tulangnya karena ia yakin kaki dan tangannya sudah membeku.

Ia tersengal-sengal, menopang tubuh dengan lutut, dan memandang berkeliling. Ia membersihkan salju di kepala dan mantelnya, mengusap wajah jengah. Perasaan bercampur aduk dalam dirinya, tak tahu mana yang lebih menonjol. Ia ingin menangis karena kelelahan, tapi sepertinya udara dingin bahkan telah membekukan kelopak matanya.

Ketika ia ingin mencari tempat untuk menghangatkan diri, tanpa sengaja, ia melihat sesuatu yang cukup menarik perhatian yang sedang berlangsung di perempatan pejalan kaki yang sepi itu.

☆☆☆

Mungkin kau akan langsung mengenali tempat itu begitu kau masuk ke dalamnya. Bagaimana tidak? Siapa yang tidak tahu tempat seperti ini? Musik yang memekakan telinga dengan seorang disc jokey yang mengatur irama seperti apa agar suasana menjadi semakin meriah, orang-orang dengan tingkat kesadaran mulai dari yang tinggi sampai sangat rendah karena pengaruh alkohol, juga mereka yang meliuk-liukan tubuh penuh hasrat (entah untuk menggoda lawan jenis atau menikmati irama lagu), dan beberapa pasangan yang terlihat tengah bercumbu panas secara terang-terangan. Juga para pria hidung belang yang tengah menggoda gadis-gadis berpakaian minim, atau sebaliknya.

Jadi, kau sudah tahu tempat ini ‘kan?

Bahkan tidak akan mungkin jika kau tidak melihat seorang wanita hampir melucuti pakaiannya sendiri sementara ia duduk di pangkuan pria yang menciumnya dengan ganas seraya tangan pria-pria itu bergerak liar menyentuh apapun yang ia inginkan.

Kau tidak salah. Hal itu memang benar adanya. Tepatnya di sana, di sudut ruangan namun siapapun punya akses bebas untuk melihat, di sofa setengah melingkar yang empuk, seorang wanita yang mengenakan pakaian hanya sebatas menutupi dada dan bagian terlarangnya (bahkan di cuaca sedingin ini), tengah mengangkangi seorang pria yang mencumbunya tanpa henti. Si wanita tampak menikmati setiap sentuhan yang diberikan laki-laki itu di tubuhnya.

Jung Hye Mi melenguh penuh kenikmatan di sela-sela cumbuannya dengan Lee Hyuk Jae. Gadis itu menggeliat kesenangan saat dirasa tangan laki-laki itu mulai menjamah tubuhnya, menyentuh punggung polosnya, dan perlahan sudah hinggap di bagian-bagian tubuhnya yang lain dan tangan itu berakhir di pahanya yang juga terpampang begitu saja. Ia mengeratkan rangkulannya di leher laki-laki itu untuk membuat ciuman mereka makin panas.

Beberapa menit kemudian, Eunhyuk sendiri lah yang mengakhiri pagutan itu. Ia terengah, bersandar pada sofa, sementara di pangkuannya, Hyemi tampak tidak terima, terlebih ia pikir Eunhyuk akan memindahkan cumbuannya sehingga ia sudah memberikan akses bebas bagi laki-laki itu dengan mendongkak.

“Kenapa berhenti?” Hyemi bertanya dengan mendesah. Bibirnya sudah bengkak, basah, dan kemerahan.

“Menurutmu?” Eunhyuk balas bertanya.

“Kupikir kau butuh hiburan, jadi aku dengan senang hati memuaskanmu di sini.” gadis itu menjawab tanpa ragu. “Bahkan aku bersedia jika kita menyelesaikan ini di ranjang.”

Eunhyuk mendengus meremehkan. “Untuk apa bermain di ranjang kalau aku sudah puas hanya dengan bibirmu? Bukannya dulu aku hanya sampai di sini dalam memperlakukanmu?”

Gadis itu merengut tak terima. “Jadi kau.. membuangku?”

Laki-laki itu tersenyum kalem. “Aku sudah membuangmu sejak dulu, nona Jung.” ucapnya tanpa beban. “Apa kau lupa kalau dulu aku tidak hanya bermain denganmu seorang? Kau hanyalah bagian dari kesenanganku. Jika aku sudah merasa puas, aku hanya tinggal membuangmu. Sederhana saja.”

Eunhyuk mengangkat tubuh Hyemi bak boneka yang ringan dan memindahkannya untuk berpindah dari pengkuannya dan duduk manis di sofa. Ia berdiri, sedikit merapikan pakaiannya, dan berkata. “Lagipula, aku tidak hanya memanggilmu untuk memuaskan aku.”

Hyemi butuh waktu beberapa menit untuk tahu apa yang terjadi.

Setelah itu, Eunhyuk keluar dengan santai dari tempat ini.

Ia tidak terlalu terkejut dengan udara yang berhembus dan salju yang jatuh dari langit. Ia mulai menyusuri jalanan itu, menemui seorang lagi yang akan digunakannya sebagai pelampiasan.

Ia menyeringai ketika melihat Mitsuko Naomi sudah menunggunya di perempatan jalan itu. Seringaiannya semakin lebar saat ternyata gadis itu kini berlari ke arahnya, dan langsung menerjang memeluk dirinya. Gadis itu sudah berada di gendongan laki-laki itu.

“Ku kira kau tidak akan datang.” Eunhyuk berkata dalam bahasa Jepang, memeluk pinggang gadis itu.

“Hanya karena sepupu bodohmu menghalangiku dan melarangku bertemu denganmu?” Naomi mendengus sinis. “Itu tidak mungkin!”

Eunhyuk tertawa begitu saja. Sesaat kemudian, ia sudah mencium gadis itu tanpa ampun.

Tentu Naomi mulai terlena dengan semua ini. Apalagi saat laki-laki itu mulai bergerak dan kini punggung gadis itu sudah menempel pada dinding di belakangnya. Apa yang dilakukan Eunhyuk pada Naomi tidak jauh berbeda dengan yang dilakukannya pada Hyemi. Ia kegirangan karena tahu meski gadis itu memakai mantel panjang, pada kenyataannya gadis itu mengenakan pakaian yang tidak jauh berbeda dengan Jung Hye Mi.

Eunhyuk tidak peduli dengan orang-orang yang melemparkan pandangan jijik padanya. Ia sudah tidak mempedulikan apapun sejak Hwang Min Jung meninggalkannya, membencinya, dan kini benar-benar pergi darinya. Tidak ada yang ia pikirkan selain untuk memuaskan dirinya, berperilaku seperti saat ia masih di Jepang dulu. Peduli apa tentang orang-orang di sekiratnya, sahabatnya, keluarganya, sepupunya?

Pada saat itu, ia membuka mata, melirik dengan ekor mata tanpa melepas ciuman, Jung Hye Mi berlari menghampirinya.

Naomi menyadarinya, dan menjauhkan wajah untuk melihat apa yang Eunhyuk lihat.

“Kau pria brengsek.” umpat Hyemi berkaca-kaca.

Eunhyuk mengangkat bahu tak peduli. “Butuh waktu lama untuk kau menyadarinya?”

Naomi memandang Hyemi mengejek dan semakin merapatkan tubuhnya pada laki-laki itu. Keduanya kembali bercumbu.

Secara tiba-tiba, ciuman panas itu terlepas begitu saja. Hyemi terdorong ke depan sehingga menubruk pasangan itu. Naomi jatuh dari gendongan Eunhyuk.

Seseorang tiba-tiba melompat dan menendang punggung Jung Hye Mi dengan sangat kuat dan penuh amarah. Eunhyuk terdorong ke dinding, Naomi dan Hyemi jatuh ke tanah.

Orang itu memaksa Naomi berdiri dengan menjambak kuat rambutnya. “It looks like you ignore my warn, right?! (Kau benar-benar mengabaikan peringatanku!)”

Sebelum Mitsuko Naomi sempat membalas, Shin Ha Byul sudah meninju dengan keras pipi gadis itu. Kemudian, ia menghempas gadis itu ke dinding, menendang perut polos orang itu, mengakibatkan Naomi nyaris muntah.

Hyemi bergidik ngeri, baru hendak diam-diam pergi kalau saja Byul tidak mencekal kakinya dan terjatuh.

Byul menyusurkan tangannya di rambut Hyemi, mencengkeramnya kuat, membuatnya berdiri, sementara satu kakinya masih setia di perut Naomi. “Aku tidak bilang kau boleh pergi.”

Dengan kekuatan yang mengerikan, Byul menabrakkan kepala Hyemi di dinding tiga kali. Gadis itu jatuh. Darah mengalir dari kepalanya, tampak mencolok di antara hamparan salju.

“Byul-ah, kau akan membunuh mereka!” seru Eunhyuk berusaha mencegahnya.

Byul menendang laki-laki itu, seakan Eunhyuk tidak berhak membela dua gadis murahan ini dan tidak berhak melarangnya berbuat seperti ini. Byul kembali menjambak Naomi dan menendangnya lagi. Kini gadis itu terlentang tak berdaya di tanah, di samping Hyemi yang tengah berusaha bangun. Byul menginjak kuat perut mereka berdua. Baik Naomi maupun Hyemi merintih penuh penderitaan.

“­You fool loathsome nasty little pathetic bitch!” makinya murka. Byul menendang sisi tubuh Naomi.

Saat melihat gadis Jepang itu berusaha berdiri dengan sekuat tenaga, Byul menendang kepalanya dengan keras untuk terakhir kalinya. Gadis itu tak sadarkan diri. Sekarang tatapannya beralih ke Hyemi yang merintih dan menangis.

“Aku tidak akan pernah mengasihani orang yang derajatnya lebih rendah dariku.” Byul tersenyum sadis. Sol sepatu olahraganya berada di pipi gadis itu, mengamati wajah Hyemi dengan mengejek. Ia menendang kepala Hyemi seperti menendang bola sepak. Sebagai sentuhan akhir, Byul menginjak kepalanya. Orang itu juga pingsan.

Kini ia berbalik. Melihat Lee Hyuk Jae yang merapatkan diri ke dinding, tampak ingin melawan tetapi ketakutan. Gadis itu mendekat, menatapnya dengan tatapan menerkam.

Bersamaan dengan itu, satu tinju horizontal yang dilakukan dengan sepenuh hati mengarah ke wajah Eunhyuk.

“Apa yang kau lakukan?!” pekik Eunhyuk terkejut. Darah mengucur dari hidungnya, dan timbuh suara seperti sesuatu yang retak. Sepertinya tulang hidung laki-laki itu patah.

Byul juga menjambak rambut laki-laki itu. “Membunuhmu.”

Gadis itu membenturkan kepala Eunhyuk berkali-kali ke dinding di belakang mereka. Ia mengabaikan teriakan kesakitan sepupunya, malah semakin keras membentukan kepala itu.

“Kau bajingan! Brengsek! Pengecut! Bodoh! Murahan!” umpat Byul marah tanpa berhenti  menghempas kepala laki-laki itu.

“Byul..”

Gadis itu mendadak tuli, tidak mendengar rintihan kesakitan sepupunya. Ia sudah sangat muak dan marah dan hanya ini yang bisa ia lakukan untuk menyalurkan perasaannya.

Byul sudah melepas jambakannya. Dan dengan sekali gerakan, ujung sepatu Byul sudah menampar wajah laki-laki itu. Sekarang, Lee Hyuk Jae terbaring mengenaskan di jalanan yang tertutup salju.

Byul menginjak kuat perutnya. Ia tidak peduli dengan apa yang sepupunya rasakan di sana.

“Bangun kau, pengecut!” gadis itu menyalak mengerikan. Ia kembali menjambak kuat rambut laki-laki itu agar berdiri menghadapnya. “Beraninya kau melarikan diri setelah apa yang terjadi! Masalahmu tidak akan selesai dengan kau bercinta dengan gadis-gadis itu! Kau sangat bodoh dan sekarang aku mengerti kenapa Minjung membencimu!”

“Byul-ah..” bisik Eunhyuk lemah. Laki-laki itu benar-benar kesakitan.

Gadis itu meninju pipi Eunhyuk berkali-kali, memperlakukannya seperti saat ia sedang latihan dengan menggunakan sandsack.

“Ber.. hen.. ti..”

Byul tidak mendengar.

“Ku.. mo.. hon..”

Byul tidak peduli.

Ketika Byul hendak melayangkan tinju ke dua puluh, entah mengapa sekonyong-konyong  Shin Ha Byul tampak memejamkan mata, dan jatuh tersungkur ke jalanan.

Dengan sekuat tenaga, Eunhyuk mengambil ponsel, menelepon ambulans, dan jatuh begitu saja di dekat Byul.

☆☆☆

“Suhu tubuhnya menurun drastis dan nadinya tidak berdenyut sama sekali malam itu. Dia terkena hipotermia. Dia juga sudah berada di luar rumah selama tiga hari tanpa menghangatkan diri. Kondisinya masih jauh dari kata baik. Walaupun dia sudah sadar sejak dua hari yang lalu.”

Eunhyuk menunduk sedih. Yang terakhir ia dengar malam itu, sebelum tak sadarkan diri, adalah sirine ambulans yang mendekat, dan teriakan orang-orang untuk membantu keduanya. Ia tidak peduli apa orang-orang juga menolong Hyemi dan Naomi. Ia hanya memikirkan dirinya dan sepupunya.

Dua bersaudara itu mendapat penanganan berbeda sesampainya di rumah sakit. Byul masuk bagian gawat darurat karena gadis itu nyaris mati kedinginan, sedangkan Eunhyuk diobati oleh salah satu dokter tak jauh dari tempat Byul. Tuan dan nyonya Shin jelas sangat panik. Mereka beruntung, bahkan menangis terharu, bahwa Eunhyuk masih bisa berbicara pada mereka dan Byul masih sempat ditolong.

Karena tahu betapa marahnya Byul padanya, ia pulang, menunggu selama beberapa hari di rumah, tak pernah sekalipun menjenguk gadis itu, sampai entah paman atau bibinya pulang ke rumah. Mendengar penjelasan barusan, setidaknya ia masih bisa bernapas karena Byul selamat. Sekarang, sepupunya itu siuman dan sudah sekitar seminggu gadis itu di rumah sakit.

“Maafkan aku, imo.” lirih Eunhyuk menyesal. Kalau saja dia tidak mencariku sekeras itu..”

Do Yoo Jin tersenyum menenangkan. Ia menepuk-nepuk lembut bahu keponakannya. “Aku hanya sedang berusaha menyadari betapa bodohnya kalian berdua, dengan bertindak seperti itu.”

Laki-laki itu tidak berkomentar.

Yoojin menarik dagu Eunhyuk, mengamati seberapa parah Byul menghabisinya. Malam saat dua orang itu ditemukan, wajah laki-laki itu babak belur. Kepala penuh luka, mata memerah, pipi keunguan nyaris hitam, tulang hidung patah, darah terus keluar dari hidung dan sudut bibirnya. Meski sudah ditangani dokter, keponakannya sering mengeluhkan sakit kepala dan nyeri perut. Eunhyuk juga sering muntah tanpa sebab. Namun perlahan, semua itu berkurang.

Wanita itu menggeleng-geleng. “Ini benar-benar bakat alami anak itu.” ia mengganti perban yang ada di hidung Eunhyuk. Setelah itu, ia mengobati tiap memar dan lebam.

Penampilan Lee Hyuk Jae masih jauh dari kata baik.

“Oh ya.” Ibu Byul berhenti sebentar. “Teman-temanmu menjenguk Byul hari ini. Mereka memintamu datang. Jangan pedulikan Byul yang marah padamu. Datang saja. Dia tidak akan membuat hidungmu berdarah lagi, percayalah.”

Eunhyuk berusaha mencerna informasi ini.

Yoojin tersenyum ramah. “Pergilah. Atau mereka akan marah padamu.”

☆☆☆

“Jadi ini yang Byul lakukan padamu.”

Itulah komentar pertama Cho Kyu Hyun saat melihat Eunhyuk sudah berdiri di depan mereka. Ada Yoo Seung Chan Lee Sung Min di situ, menunggunya di depan pintu kamar Byul.

Chan menggeleng-geleng takjub. “Anak itu benar-benar gila.”

“Ayo masuk.” ajak Sungmin. “Ada yang harus kita bicarakan.”

Dan ketika mereka masuk ke kamar itu, pemandangan yang pertama dilihatnya adalah Shin Ha Byul yang berbalut selimut hampir di seluruh tubuhnya, kecuali wajah, bersandar pada kepala tempat tidur. Cha Hyo Sung dan Lee Dong Hae duduk di tepi tempat tidur, mengamati Byul yang masih sangat pucat dan sangat lemah.

“Simpan tinjumu, nona.” cekal Donghae begitu dilihatnya Byul hendak menyibak selimut dan turun dari tepi tempat tidur. “Dia harus ada di sini agar kita semua tahu apa yang terjadi pada Hwang Min Jung kita.”

Untuk pertama kalinya, Eunhyuk tidak berani memandang mata Byul. Jadi ketika ia memulai ceritanya, matanya berpindah-pindah; Donghae, Hyosung, Chan, Sungmin, Kyuhyun, dinding, jendela, lalu Donghae lagi. Ia benar-benar membeberkan semuanya. Semua yang dialami, kesulitan yang ia pikirkan, sampai apa yang terjadi pada Minjung dan dirinya.

“Kau tahu?” Sungmin memberikan komentar paling pertama. “Sekarang aku mengerti kenapa kau berakhir babak belur begini.”

Dengan kalimat itu, Sungmin pun menceritakan apa yang terjadi versi dirinya. Minjung mabuk, Byul berkelahi, dan bentakan Minjung pada Byul.

Potongan-potongan puzzle pun terpasang.

“Byul-ah..” kata Eunhyuk lirih seraya mendekati gadis itu. Ia duduk di tepi tempat tidur, bertukar tempat dengan Donghae. “Maafkan aku..”

Byul menekuk kakinya yang terbalut selimut. “Aku tidak akan membiarkan tangan kotor itu menyentuhhku.” ucapnya tegas, bahkan untuk ukuran orang sakit.

Lee Hyuk Jae menganga lebar.

Gadis itu mengalihkan pandangan dari Eunhyuk. Laki-laki itu hanya mengingatkan dirinya apa yang sudah ia saksikan. Ia benar-benar tidak percaya bahwa orang yang dilihat malam itu adalah sepupunya yang menyedihkan. “Kau menjijikkan.”

Eunhyuk menghela napas. Byul benar dengan memperlakukannya seperti kotoran. Ia menyesal, dan ia tahu ini sudah sangat terlambat.

“Oke, kau benar..” balasnya pasrah. Saat ini ia hanya ingin Byul memandangnya dengan lebih bermartabat. “Jadi kumohon.. maafkan aku, Byul-ah..”

“Maaf tidak akan mengubah apapun.” ucap Byul sedingin es. “Maaf tidak akan membuatku sembuh, menghilangkan babak belur di wajahmu, atau bahkan membuat para jalangmu melupakan apa yang telah kau lakukan pada mereka. Maaf juga tidak akan membuat Minjung berada di sini dan langsung menerimamu. Jadi tidak ada gunanya kau meminta maaf.”

Eunhyuk terperangah.

“Kami mengenal Minjung lebih lama darimu.” tambahnya. “Memangnya siapa kau sampai bisa membuat Minjung kami mabuk?”

Eunhyuk kaget bukan kepalang. Untuk pertama kalinya Shin Ha Byul bicara seperti ini padanya. Ini juga pertama kalinya mereka bertengkar sehebat ini. Mereka sedekat saudara kandung untuk ukuran saudara sepupu. Kau tidak akan menyangka Byul bisa sedemikian marahnya dengan orang yang selama ini selalu ia banggakan.

Gadis ini selalu peduli apapun tentang dirinya, tidak pernah sekalipun marah kecuali itu hanya bercanda. Byul tidak pernah menyudutkannya, atau membuatnya merasa terbebani. Bahkan kadang-kadang Byul tidak tega untuk menghajarnya. Tapi sepertinya, kejadian malam itu membuat persepsi sepupunya sendiri tentang dirinya berubah drastis.

Sementara lima orang itu bisa merasakan ketegangan yang mencekam dari perang saudara ini.

“Jadi kau mau aku melakukan apa?” pelas Eunhyuk.

Byul diam, tidak menjawab. Sampai sepersekian detik kemudian, entah sejak kapan Byul menanggalkan selimutnya, dan memberikan tinju kuat yang mengarah pada wajah Eunhyuk.

Bahkan dengan kondisi selemah ini, tinju Byul mampu membuat hidung Eunhyuk patah untuk kedua kalinya.

Sungmin dan Hyosung segera menjauhkan Eunhyuk dari Byul, Chan pergi dan kembali dengan kotak obat, membersihkan darah di hidung laki-laki itu dan mengobatinya dengan hati-hati. Donghae mengawasi. Kyuhyun menghampiri Byul dan menampar keras pipi gadis itu.

Semua orang tersentak saat mendengar bunyi keras itu.

“Sadarlah, bodoh!” seru Kyuhyun penuh emosi. Sedari tadi ia menahan diri karena melihat Byul begitu dingin pada sepupunya sendiri. “Pukulanmu juga tidak akan menyelesaikan apapun!”

Byul membelalak menatap Kyuhyun yang balik menatapnya marah. Ia memegang pipinya yang mendadak memanas karena tamparan Kyuhyun. Harus kuakui, satu-satunya orang yang bisa mengendalikan Byul hanyalah Kyuhyun, sekalipun mereka sedang berada dalam perang dingin.

“Percayalah, Minjung juga akan menamparmu kalau dia di sini.” Lee Dong Hae pun bicara.

Byul kembali merapatkan selimut, dan duduk bersandar.

“Sekarang bagaimana?” Hyosung bertanya pada semua orang. “Minjung menghilang dan kita tidak tahu kemana dia pergi. Dia bahkan tidak mengatakan apa-apa soal wisuda nya pada kita.”

“Dan keluarga Hwang pasti tahu kita akan mencarinya.” Byul menyahut masam.

“Keluarga Hwang pasti akan menyembunyikan apapun dari kita.” Sungmin bergumam. “Kita semua tahu seperti apa mereka dan betapa bencinya mereka pada orangtua tiri Minjung.”

Yeah, itulah keluarga Hwang.” tiba-tiba Kyuhyun menyeletuk. “Tapi, bagaimana dengan keluarga Song?”

“Maksudmu, keluarga ibu Minjung?” Kyuhyun mengangguk.

“Tidak ada satupun keluarga Song yang tinggal di Seoul.” Eunhyuk menjawab muram.

“Hei, itu sudah membuktikan satu hal bukan? Bahwa Minjung tidak berada di Seoul?” Donghae berseru.

“Tapi masalahnya, dimana gadis itu berada?”

“Dan masalah selanjutnya, akankah Minjung langsung luluh kalau kita memintanya kembali?” timpal Hyosung.

Chan mengangkat wajah. “Kita bisa menggunakan pernikahanku sebagai alasan agar Minjung kembali.”

Donghae tersenyum lebar. Tentu ia ingat beberapa hari yang lalu ia baru melamar gadisnya.

Saat itu, ponsel Donghae berdering. Lee Joo Hae menelepon.

“Ada apa, Sayang?”

Eish, kurasa aku akan muntah sekarang.” balas gadis itu. “Bisa tolong aku? Kalau ada paket yang datang, itu dariku. Temanku memberikan aku novel-novel John Green. Oppa tolong simpankan, ya? Aku tidak berani membacanya di sini. Oppa tidak mau aku berhenti kuliah hanya karena aku keranjingan membaca yang bukan mata kuliahku kan?”

“Oh, tentu saja!” Donghae membalas. “Ide bagus dengan mengirimnya padaku dan memintaku menyimpannya! Bagus sekali, Nak!”

Oppa jadi kedengaran seperti kakek!”

“Akan kubakar buku-bukumu begitu sampai!”

“Ooh, oppa ku sayang, pria tertampan di dunia,” goda suara itu. “Bagaimana kau bisa melihat adikmu bersedih?”

Donghae berdecih.

“Baiklah. Sampai jumpa dua tahun lagi! Aku sayang oppa!”

Dan sambungan telepon terputus.

Mereka semua diam, sibuk dengan pikiran dan ide masing-masing. Sampai akhirnya mereka menatap kebingungan Lee Dong Hae yang menjentikkan jari dan balik menelepon adiknya.

“Kita tidak lupa ‘kan kalau seorang Hwang Ji Kyung akan berubah penurut di depan adik kecilku yang manis itu?”

Semua orang menyeringai.

☆☆☆

Begitu pintu kereta terbuka, Donghae dan beberapa penumpang langsung turun dari sana. Ia menjauhi kereta yang mulai melaju dengan kecepatan tinggi. Ia menghela napas lega. Beberapa menit kemudian, ia keluar dari stasiun. Ia menyerap pemandangan di sekitarnya. Jalan raya, bangunan, keseharian semua orang.

Ia telah sampai di Pohang.

Dan sekarang apa yang harus kita lakukan?

“Hwang Min Jung memang terlahir untuk merepotkan aku.” gerutu pria itu mengamati ponsel. Itu adalah screenshoot percakapan Joohae dan Jikyung, yang mengatakan alamat tempat Minjung tinggal. Ia memperbaiki posisi ranselnya dan mulai menjelajah kota. “Jika aku berhasil menemukanmu, nona Hwang, percayalah, ini tidak akan gratis!”

Sekitar lima menit melangkah, perutnya bergemuruh meminta diisi sesuatu.

Lee Dong Hae lapar dan ia belum makan apa-apa.

“Oh kenapa aku bisa tahan bersahabat dengan gadis semerepotkan dirinya?!” pria itu melangkah dengan kesal ke sebuah restoran kecil. Ia memesan dua buah burger, satu fried fries, dan sebotol minuman soda.

Saat dia menggigit burger itu, ia mendengar seseorang memanggilnya.

“Donghae oppa?”

Pria itu tersedak, lantas menelan makanannya pelan. Donghae.. oppa? Adakah seseorang di Pohang yang mengenalnya? Meskipun si pemanggil itu terdengar ragu ketika meneriakinya, tetapi.. mungkinkah?

“Donghae oppa!”

Sekali lagi orang itu memanggil. Dan kali ini tidak ada keraguan dalam suaranya. Ia melihat seorang gadis berseragam sekolah menengah berlari ke arahnya. Yeah, untuk beberapa lama ia merasa tidak mengenal gadis itu.

Saat gadis itu menerjang memeluknya, ia baru mengingat siapa gadis ini.

“Yoomin?!” serunya ragu. Kemudian ia membalas pelukan gadis itu. “Aish, jinjja! Ini benar-benar kau!”

Ya!” gadis itu melepas pelukan. “Oppa tidak mengenaliku?!” sungutnya berpaling ke tempat lain.

“Maafkan aku, Yoomin sayang..” Donghae mengacak rambut gadis itu. “Kau masih kecil saat terakhir kali kita bertemu, dan aku baru tahu kalau sekarang kau tinggal di Pohang, bukan Daejeon. Apa peru kuberitahu kau tidak mengabariku soal ini dan membiarkan aku bertanya-tanya bagaimana keadaanmu?”

Gadis itu masih tidak mau memandang Donghae.

“Jadi, wajar kan kalau oppa-mu yang tampan ini tidak mengingat gadis kecil yang dulu ditemuinya sudah bertambah dewasa dan semakin cantik?”

Yoomin tersenyum salah tingkah dan kembali memeluk Donghae, seketika memaafkan orang itu. “Aku merindukan oppa..”

“Aku tidak akan mengelak kalau aku juga merindukanmu..” pria itu membalas pelukan Yoomin. “Dan aku benar-benar senang bertemu denganmu di saat seperti ini.”

Yoomin melepas pelukan. “Minjung eonni?”

Donghae mengangguk.

Oppa mau bertemu dengannya?”

“Kalau tidak untuk apa aku datang jauh-jauh dari Seoul dan mengelilingi Pohang seperti orang gila?”

☆☆☆

Yoomin dengan riang menggandeng tangan Donghae selama perjalanan mereka menuju rumahnya. Donghae benar-benar bahagia, karena ia tidak perlu repot-repot mencari Minjung. Ia akan mendatangi Minjung dengan mudahnya sekarang.

Namun satu hal masih terpikir olehnya: akankah Minjung mau mendengarnya?

Yoomin masuk ke rumah dan menyapa semua orang. “Hei, tebak siapa yang kutemui hari ini!”

Semua orang terperangah melihat Lee Dong Hae.

Termasuk Hwang Min Jung.

Namun malah sang bibi yang bereaksi.

Aigoo.. pria kecilku yang tampan..” ucap nyonya Song menghampiri laki-laki itu, menanngkupkan kedua tangan di wajahnya. Sedetik kemudian, ia sudah memeluk Donghae erat. Hwang Min Jung di belakangnya menjelma menjadi patung.

“Ayo masuk!” ajak wanita itu. “Kau pasti capek sekali.”

“Tentu.” Donghae mengangguk. Ia menatap Minjung sekilas, lalu membiarkan Yoomin menarik lengannya untuk masuk ke dalam rumah.

Ia kenal keluarga ini sejak ia mengenal Minjung. Saat mereka masih tinggal di Daegu, dirinya dan Minjung masih berada di sekolah menengah, Joohae masih menjadi anak sekolah dasar dan Yoomin baru berumur tiga tahun, Minjung sering mengajaknya kemari ketika liburan tiba. Tidak heran bila keluarga Song bahagia karena kedatangannya. Ia selalu disambut dan dijamu dengan hangat di sini. Mengingat Minjung dan dirinya sudah saling mengenal hampir seumur hidup mereka, wajar bila Lee Dong Hae sudah dianggap keluarga dan laki-laki itu adalah favorit nyonya Song dan Yoomin.

Buktinya, selama mereka makan, tak henti-hentinya Yoomin menceritakan berbagai hal kepada Donghae.

Oppa!” panggil gadis itu. “Besok berangkatlah ke sekolah bersamaku! Teman-temanku pasti akan sangat iri padaku!”

“Hei!” tegur nyonya Song. “Donghae masih sangat capek dan dia harus istirahat! Lagipula dia datang ke sini untuk bertemu Minjung, bukan kau!”

Yoomin merengut sedih.

Donghae tersenyum, menatap gadis itu. “Tidak apa. Besok kita akan ke sekolahmu bersama-sama. Tapi, Minjung harus ikut dengan kita. Bagaimana?”

“Tentu Minjung eonni akan ikut!” seru Yoomin riang. “Iya kan?”

Minjung hanya memandang anak itu, membenarkan posisi kacamata, kemudian menikmati makanannya. Sepertinya itu adalah tanda persetujuan Minjung menurut gadis itu. Tidak heran Yoomin memekik kegirangan setelahnya. Donghae hanya menertawai tingkahnya.

Setelah itu, Yoomin dengan gembira membersihkan semua piring kotor, mencucinya hingga bersih, dan kembali ke ruang tamu tempat Donghae dan kedua orangtuanya berkumpul. Minjung ada di sana, hanya saja tidak memperhatikan, bahkan tidak mempedulikan. Ia setidaknya mendengar, bahwa kini paman dan bibinya tengah menanyai kabar laki-laki itu dan adiknya.

“Bagaimana dengan Joohae?” ia mendengar pamannya bertanya. “Apa dia senang di Inggris?”

“Tentu dia senang. Apalagi ini tahun pertamanya.” jawab Donghae.

“Setidaknya anak itu mengucapkan selamat tinggal pada kita sebelum berangkat.” sahut bibinya. “Kau harus memastikan dia kemari kalau dia pulang.”

“Itu pasti.”

Dan, yah, begitulah. Obrolan-obrolan seperti itu terus berlanjut sampai nyaris larut. Yoomin yang sudah mengantuk berpamitan pada mereka karena besok dia harus sekolah.

☆☆☆

Sepanjang perjalan menuju sekolah, Yoomin menggandeng tangan Donghae, berceloteh riang padanya, yang membuat Donghae sesekali tertawa atau mengacak rambut panjang bergelombang nya. Minjung persis di belakang mereka, dengan kedua tangan berada di saku mantel, mengamati keduanya tanpa perlu menaruh perhatian pada mereka. Keduanya juga tidak terlalu melibatkannya dalam pembicaraan, hanya saja sesekali Donghae menoleh ke belakang untuk melihatnya dan tersenyum manis — yang dibalas Minjung dengan tatapan super sinis — seakan memastikan bahwa ia tidak akan kabur kemana-mana dan tetap di belakang mereka.

Saat mereka sudah sampai di depan gerbang sekolah Yoomin, gadis itu berdiri tepat di depan Donghae, melepas genggamannya pada tangan laki-laki itu.

Mendadak semua gadis yang mau masuk ke sekolah berhenti sejenak untuk memperhatikan Donghae.

“Baiklah, adik manis!” kata Donghae, tangannya berada di puncak kepala gadis itu. “Belajarlah dengan giat! Awas saja kalau prestasimu menurun! Aku akan menyuruh Joohae berhenti mengirimkan uang untukmu!”

Yoomin memberengut. “Eish, oppa sangat mengerikan! Baiklah! Oppa juga harus memastikan Joohae eonni mengirimiku kado ulang tahun dari Inggris!”

Donghae terkekeh. “Pergilah! Mereka akan mengira aku kekasihmu!”

“Aku berangkat, oppa ku sayang!” Yoomin berteriak seraya menjulurkan lidah, dan masuk ke sekolah. Laki-laki itu terkekeh geli.

“Tukang pamer.”

Donghae melirik Minjung yang sejak dari rumah sampai sekolah tidak bicara sama sekali kecuali dua kata itu. Dengan gerakan kepalanya, ia mengajak Minjung pergi.

Kini mereka berjalan beriringan.

“Hai.” Donghae berucap. “Aku baru sadar sejak kemarin aku belum menyapamu.”

“Aku tahu tujuanmu kemari.” kata Minjung mengabaikan sapaan sahabatnya.

Donghae tidak berkomentar.

“Mungkin kau tidak akan tahu bagaimana rasanya saat orang yang kau cintai ternyata mencintaimu hanya karena dia ingin membunuhmu.”

Donghae menatap gadis itu, kemudian menatap jalanan. Ia tahu ini tidak akan mudah. Apalagi yang dihadapinya saat ini adalah Hwang Min Jung, gadis yang pemikiran dan keputusannya akan sulit ditentang oleh dirinya sendiri atau siapapun.

“Seandainya kau tahu yang sebenarnya, nona Hwang..” laki-laki itu menghela napas. “Aku sebenarnya ingin sekali menceritakan semuanya padamu. Tapi sepertinya membiarkanmu tahu sendiri dari mulut Eunhyuk akan lebih baik daripada kau mengira aku, sahabatmu sendiri, adalah seorang pembual.”

“Nah, kau sudah menebaknya sendiri.” Minjung mendengus sinis. “Aku yakin semua yang dia katakan pada kalian hanyalah dongeng agar kalian membela dirinya.”

Donghae sudah menebak jawaban Minjung yang seperti ini. Ia tampak berpikir, jika dengan perkataan seperti itu Minjung mengabaikannya, mungkin anggapan Minjung akan berubah jika satu nama diantara mereka disebut.

Donghae memandang jalanan di depannya. “Seandainya kau tahu betapa marahnya Byul padanya.”

Kali ini, Minjung yang tidak berkomentar.

“Kita semua mengenal Byul dengan baik ‘kan?”

Tentu, jawab Minjung dalam hati. Ia kenal. Terlampau kenal. Karena itu ia diam.

Gadis itu, dibalik semua sikap aneh dan diluar akal sehat, ia adalah gadis yang sangat tak terduga. Ia memang kasar, tapi tidak akan pernah memperlakukan orang-orang didekatnya dengan cara seperti itu. Ia sangat dingin dan tidak peduli pada orang-orang sok penting yang suka menjelek-jelekkan dirinya, tapi tingkat kepeduliannya sangat tinggi bila itu menyangkut keluarga dan sahabatnya. Ia memang gila, tapi ia tahu Byul masih waras untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Tiba-tiba ia jadi teringat apa yang sudah dilakukannya ketika ia mabuk.

Di antara para sahabatnya, Byul-lah yang tindakannya masih polos dan perlu pengendalian. Perasaannya juga sehalus anak umur tujuh tahun. Ia juga sering bertindak dan berkata tanpa berpikir. Gadis itu masih belum dewasa, setidaknya dibanding mereka semua. Tapi Byul tidak akan segan melakukan ‘sesuatu’ jika ia tahu kesalahan salah satu sahabatnya.

Dan bila dikaitkan dengan apa yang sudah dikatakan Donghae, ia sudah bisa menduga apa yang sudah Byul lakukan dan bagaimana kondisi Eunhyuk sekarang.

Tapi.. apa ia benar?

Apa jangan-jangan semua ini hanya skenario teman-temannya agar ia kembali ke Seoul dan bertemu.. bertemu orang-orang itu?

Ia membenci Eunhyuk, tapi tidak dengan teman-temannya. Bahkan ia merasa bersalah karena mengatai Byul sekasar itu, padahal Byul tidak tahu-menahu tentang masalahnya.

“Baiklah kalau kau tidak mau bicara soal itu.” Donghae berkata, menghentikan jalan pikiran gadis itu. “Kami akan menghormati keputusanmu. Tapi apa kau tetap tidak mau kembali ke Seoul?”

“Dan membiarkan Eunhyuk membunuhku?” tukas Minjung. Entahlah, sepertinya kebencian sudah memenuhi dirinya meskipun baru beberapa detik yang lalu ia sudah sedikit.. berharap.

“Aku sedang berusaha tidak menyinggung namanya karena aku, dan kami semua tahu kau membencinya.” balas Donghae marah, walau dari nada bicaranya, ia berusaha terdengar tenang.

Minjung menatap sahabatnya.

“Kau tahu betapa kecewanya Sungmin dan Hyosung karena kau tidak datang ke pernikahan mereka, dan sebagai gantinya Jikyung datang memberikan hadiahmu dan langsung pergi?”

Gadis itu terhenyak.

“Jujur saja, kalau aku jadi kau, aku tidak mau melihat Chan kecewa saat pesta pernikahannya sendiri.”

“Apa maksudmu?”

“Aku melamarnya beberapa minggu lalu dan kami akan menikah dalam waktu dekat.”

Minjung ingin sekali menunjukkan kegembiraannya, tapi entah kenapa, yang ditunjukkan wajahnya adalah mimik tanpa ekspresi dengan tatapan datar.

“Dan satu hal yang perlu kau tahu.”

Minjung mengangkat alis.

Mengabaikan itu, Donghae tersenyum tulus. “Sudah lama sekali kita tidak bersama seperti ini.” ucapnya lembut. “Aku merindukanmu, Teman.”

Untuk pertama kalinya, sejak kedatangan pertamanya di Pohang, Hwang Min Jung tersenyum selebar, selembut, dan setulus ini. Jika Minjung boleh jujur, ia benar-benar gembira saat kemarin ia melihat adik sepupunya, Song Yoo Min, masuk ke rumah mereka dengan membawa laki-laki ini.

“Bagaimana kabarmu?”

Minjung terkekeh. “Sialan kau.” umpatnya. “Aku juga merindukanmu!”

Senyum Donghae semakin lebar. “Kau benar-benar sibuk kuliah, ya.”

“Dan kau benar- benar sibuk mengurus gadis-gadismu, ya.” gadis itu meniru nada bicara laki-laki itu.

“Apa perlu aku ingatkan kalau gadisku cuma satu dan aku akan menikahinya sebentar lagi?”

Minjung tertawa. “Baiklah, sahabatku Lee Dong Hae yang akan menikah..” ia tersenyum simpul. “Ayo kita keliling kota!”

Benar saja. Dua orang itu saling kejar-kejaran di sana. Minjung akan menertawai Donghae jika laki-laki itu tertinggal di belakangnya, dan Donghae akan menjitak Minjung jika ia berada di dekat gadis itu. Mereka akan saling membelikan makanan jika salah satu mereka memenangkan taruhan kecil, seperti misalnya, berlari sampai ke batas rambu lalu lintas atau membuat anak kecil yang tidak mereka kenal menangis. Tawa mereka dihantar oleh udara akhir musim dingin. Salju yang menutupi tanaman, atap, dan jalanan kota mulai mencair.

Saat hari menjelang petang, mereka melangkah menuju rumah, dengan masing-masing memegang kue bbopki yang mereka beli di dekat toko hewan peliharaan.

“Ini bbopki terenak di Pohang.” Minjung melahap makanan itu penuh rasa syukur.

“Aku tidak akan meragukannya.” Donghae membalas. Gadis ini tidak seperti Byul yang suka es krim dan keripik, atau Chan yang sangat suka makanan Jepang, atau Hyosung yang cukup pemilih soal makanan karena ia cukup sensitif dengan berat badan, Minjung sangat suka makanan-makanan murah yang bisa kau dapatkan dengan mudah di pinggir jalan. Entahlah, bahkan ia lebih suka mengobrol bersama para pedagang kaki lima daripada makan dalam diam di restoran mahal. Ia berpendapat, lebih asyik melihat makanan itu dibuat daripada menunggu seperti orang bodoh sampai makanan itu datang.

Minjung melahap bbopki terakhir. Ia mendelik saat melihat sesuatu di pertigaan jalan. “Oh!” serunya, menarik Donghae menuju gerobak pedagang kkoci-eomuk.

Gadis itu memejamkan mata sambil tersenyum, menikmati kepulan asap hangat dari tempat makanan-makanan itu direbus. Ia mengambil beberapa tusuk, dan makan dengan lahap. Donghae juga melakukan hal yang sama. Mereka menikmati makanan itu seraya memandang matahari terbenam.

“Minjung-ah?” panggil Donghae.

Gadis itu menoleh. Mulutnya penuh. “Mm-hm?”

“Apa kau akan kembali?”

Minjung menelan makanannya, membuang tusuk-tusuk makanan itu di tempat sampah. Ia membayar untuk dirinya dan Donghae, kemudian mereka akhirnya benar-benar menuju rumah.

“Entahlah.” Minjung mengangkat bahu. “Aku tidak mau bertemu Eunhyuk tapi aku mau datang ke pernikahanmu.”

Setelah itu, keduanya tidak pernah membicarakan hal ini sampai Lee Dong Hae kembali ke Seoul.

☆☆☆

“Jadi, apa rencanamu?”

Byul sudah sembuh dan akhirnya keluar dari rumah sakit (dan sudah diomeli habis-habisan oleh neneknya di depan banyak dokter dan perawat). Ia juga sudah memaafkan Eunhyuk sepenuhnya (setelah neneknya mengancam akan membakar sertifikat taekwondo-nya dan paksaan teman-temannya). Saat ini, keduanya berada di kamar laki-laki itu, di rumah keluarga Shin, merundingkan apa yang harus dilakukan selanjutnya, setelah mereka mendengarkan sendiri kesaksian Donghae setelah laki-laki itu pulang dari Pohang.

“Entahlah..” laki-laki itu mengusap-usap perban di hidungnya. “Setidaknya aku harus membuktikan pada Minjung kalau aku tidak bersalah..”

Kali ini, Byul tidak memandang Eunhyuk dengan penuh hina, atau berbicara dengan nada ketus. Sehebat apapun mereka bertengkar, sepertinya dua bersaudara itu tidak bisa saling diam untuk waktu yang cukup lama.

“Kau bisa langsung melaporkan mereka ke polisi.”

“Tapi bagaimana kalau mereka tahu dan melarikan diri lagi?” sahut Eunhyuk gelisah. “Anak buah mereka ada dimana-mana!”

Byul diam.

Suasana kembali hening. Sampi tiba-tiba, Byul memberi gagasan yang dipikirnya cukup bagus.

“Kalau kau mau membuktikan pada Minjung kau tidak bersalah, kenapa kau tidak bekerja sama dengan polisi dan menangkap basah mereka?”

Eunhyuk menoleh memandang sepupunya. “Kau pikir akan segampang itu?” katanya gusar. “Aku tidak tahu apa yang mereka rencanakan. Aku sedang berpura-pura mencari Minjung untuk mereka.”

Gadis itu tersenyum miring. “Tapi setidaknya, kau tahu kalau sekarang mereka menjadikan rumah lama Minjung sebagai markas terakhir mereka.”

Eunhyuk memandang gadis itu kosong.

Gadis itu menyeringai penuh kemenangan. “Aku yakin, Shin samchon akan senang dengan ini.”

☆☆☆

Hanya Lee Dong Hae dan keluarga Hwang yang tahu ketibaan Minjung di Seoul malam ini. Gadis itu meminta untuk tidak mengatakannya pada semua orang. Ia memutuskan untuk kembali ke Seoul, selain untuk menghadiri pernikahan Donghae, juga karena ia harus menerima kenyataan.

Ia tahu, cepat atau lambat, ia akan tahu semuanya.

Dan ia sudah menyiapkan diri untuk menerima konsekuensi hubungannya dengan Eunhyuk.

Keesokan paginya, Minjung memutuskan untuk kembali mengunjungi kedua orangtuanya, setelah sekian lama ia tidak ke sana. Ia kembali mencurahkan isi hatinya, menangis sesuka dirinya, dan menyapa kedua orangtuanya sebelum ia akan menghadapi kenyataan pahitnya. Saking lamanya ia di makam, ia tidak menyadari bahwa hari sudah sore ketika ia meninggalkan kompleks perisitrahatan terakhir itu. Ia mulai mengunjungi berbagai macam butik untuk mencari pakaian terbaik yang akan dikenakannya di pesta pernikahan Chan dan Donghae.

Hari sudah malam ketika ia berhasil menemukan gaun yang cocok untuk dirinya.

Namun, setelah itu, ia memutuskan untuk mampir ke sebuah tempat sebelum ia pulang ke rumah kakek neneknya.

Ia menaiki bus untuk sampai ke tempat yang dituju. Ia menghela napas kasar, melangkah dengan mantap memasuki kompleks tempat rumah lamanya berada.

Tanpa menyadari bahwa rumah itu rupanya tidak kosong.

b

To Be Continued

b

SUMPAH INI PANJANG BANGETTT DAN NGEBOSENIN BANGETTTT HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA :v

Sebenernya ya, kalo ada yang merhatiin, posting-an ini seharusnya di-protect, karena ada scene yang mulai menjurus ke ‘sana’ (walau dikit banget) dan scene berantem yang keknya.. ugh.. aku aja nggak nyangka bisa nulis sampe kek gitu HEUHEUHEU :3

NAH, jadi gimana? Apa kekurangan rongsokan ideku ini? Dua part lagi selesai loh, tapi yah, liat aja siapa yang masih pengen tahu kelanjutannya *GAADA BEGO LU* :3

PS: sandsack itu peralatan taekwondo untuk melatih tendangan dan pukulan.

Advertisements

8 thoughts on “Love, Trust & Hate 8

  1. kok aku merasa lucu ya sama keadaan eunhyuk pas di hajar habis2an sm byul, tp masih ada sedikit kengerian juga sih sm byul😁 dan pas dirumah sakit, aku kira itu minjung yg 3 hari diluar, eh tau nya si preman byul 😁😁 syukurlah kalau minjung gak diculik sm orangtua tirinya,

    Liked by 1 person

  2. Gila!! Ngebayangin gimana marahnya Byul serem bangeet yaa😂😂 tapi untunglah dua bersaudara itu baikan lagi👏👏 jadi makin penasaran next partnya😁 buat Donghae semoga pernikahanya lancar yaa.. Dan masalah Minjung sama Eunhyuk cepet selesai😇😇

    Liked by 1 person

    • HAHAHAHAHA iya tahu tau si byul kalo marah serem banget WQWQWQWQWQ wah donghae oppaku diucapin selamet HEUHEUHEU :v tungguin aja next nya yakk HEHEHE makasih lh undah mau nungguin wqwqwqwqwqwq

      Like

  3. sumpah demi apa disini byul seram dan kuat bingits. 2 wanita dan 1 laki2 pingsan. dia lagi hipotermia loh tapi kuat banget buat orang sekarat. di part ini ceritanya berpusat di byul. astajim. lagi sakit aja di segitu nya gimana sehat. 😱😱
    ya ampun sukaaaa banget sama karakter byul.
    minjung jangan masuk ke rumah lama mu nak. berbahaya 😦

    Liked by 1 person

    • HEHEHE si Byul emang gitu, serem2 tapi Kyuhyun teteup cinta 😂😂😂 emang sengaja sih aku pusatin di Byul, tapi yang ada kaitannya sama Eunhyuk minjung WQWQWQ 😏😏 however makasih yaaa udah mampir 😉😉😊

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s