Love, Trust & Hate 2

114f2364b1a3b81e90c1df08a7ec65f5

Poster by MCLENNX @ ART FANTASY

#2 : She loves his

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 (END)

***

EUNHYUK berjalan keluar supermarket dengan riang. Ia memutar-mutar kantung belanjaan di tangannya. Ia bahagia sekali hari ini. Setelah membelikan es krim untuk sepupu gilanya itu, ia yakin Byul akan mau disuruh melakukan apa saja. Sang nenek akan berkunjung malam ini. Mereka harus membersihkan rumah. Dan ia yakin Byul akan melakukannya tanpa dibantu dirinya karena ia telah ‘menyuap’ Byul. Tidak ada yang lebih membahagiakan dari itu.

Ia berbelok, sedikit lagi hampir sampai di rumahnya. Oh, bahkan ia sudah bisa melihat pagarnya.

Dan melihat seorang wanita Jepang keluar dari sana.

Awalnya ia hanya mengira itu adalah tamu paman dan bibinya. Sampai akhirnya ia melihat orang itu tersenyum penuh cinta padanya.

Laki-laki itu berhenti mendadak dan berdiri membeku. “Tidak mungkin.”

Ia bahkan tidak bisa melakukan apa-apa saat wanita Jepang itu dan berlari menghampirinya.

Bahkan ketika wanita Jepang itu berdiri di hadapannya, yang keluar dari mulutnya hanyalah. “Ai-chan.”

Wanita Jepang itu tersenyum cerah seraya memeluk dan mencium laki-laki itu.

Tersadar akan statusnya saat ini, Eunhyuk segera melepas pelukan dan berusaha agar membuat si Jepang tidak lagi menciumnya.

Ia menghela napas, bicara dalam bahasa Jepang. “Apa yang kau lakukan di sini?”

“Tentu saja mencarimu.” Orang itu menjawab dengan suara imut yang menjijikkan. Ia memeluk Eunhyuk erat. Lagi.

Dan lagi, laki-laki ini merasa rishi luar biasa, sekali lagi berusaha melepas pelukan, dan akhirnya berhasil.

Ia berusaha untuk tidak menampik ekspresi sedih bercampur menjijikan yang ditunjukkan wanita itu.

“Aku bukan kekasihmu lagi. Jadi, jangan lakukan ini.”

Jujur saja, ia sangat senang bisa mengatakan semua itu.

Perempuan itu membalas dengan mengangguk. “Aku hanya datang untuk mengunjungimu. Karena mulai hari ini aku tinggal di Busan.”

Eunhyuk mendengus. Keberadaan si Jepang itu sudah tidak ada artinya lagi bagi hidupnya.

“Lalu?”

“Hanya ingin kau tahu.”

“Sayangnya aku tidak ingi tahu dan tidak peduli.”

Rupanya kebiasaan berkata judes yang ditularkan gadisnya dan sepupunya sudah menular padanya.

Ia tersenyum saat melihat wajah Miyoko Ai ― dalam sepersekian detik ― menampakkan kekagetan dan kekecewaan. Walau ekspresi itu langsung diubah dengan memasang wajah datar. Ia tahu sifat gadis ini. Dan ia yakin, gadis manja dan sensitif sepertinya pasti akan menangisi hal ini dalam waktu yang cukup lama.

“Dan perlu kau tahu, aku sama sekali tidak membutuhkan kunjungan darimu. Hidupku sudah terlalu bahagia di sini.”

“Karena akhirnya kau mendapatkan kekasih baru.”

Sekarang, giliran Miyoko Ai yang tersenyum senang.

Laki-laki itu mengernyit. Itu sebuah pernyataan, dan memang benar adanya. Tapi sebenarnya, ia sudah tidak mau berurusan dengan gadis itu lagi.

“Aku sudah bertemu pacarmu. Dan dia kasar sekali bicara padaku tadi. Apa kau tidak salah orang? Bahkan kalian sudah tinggal serumah. Wow.”

“Dan kau peduli?” sergahnya. “Aku bahkan hanya diam saat melihat lima pria masuk ke apartemenmu, lalu kau tampil tanpa busana di depan mereka, dan kau membiarkan mereka melakukan apapun terhadap tubuhmu.”

Miyoko Ai bungkam seketika.

Eunhyuk mengangkat bahu, melanjutkan langkahnya yang tertunda.

Meski sebenarnya tidak mengerti dengan maksud ucapan gadis itu, Eunhyuk memilih untuk langsung pergi dan tidak lagi mengindahkan kata-kata gadis itu.

Baru saja ia memasuki pekarangan rumah, ia berhenti mendadak ketika melihat Byul bersandar di kusen pintu rumah dengan satu sisi tubuhnya sembari menyilangkan kedua tangan. Wajahnya benar-benar tak berekspresi. Tatapan gadis itu sungguh merendahkan.

“Apa?” Eunhyuk bertanya.

“Jadi itu yang kau lakukan selama ini di Jepang..” gumam gadis itu seakan bicara dengan dirinya sendiri. Ia mengangguk-angguk paham.

“Apa maksudmu?”

Byul berdiri tegak, melenggang masuk ke rumah, sambil membuang napas kasar. “Aku baru tahu ternyata kau berteman dengan orang-orang seperti itu di Jepang.”

Eunhyuk mengikutinya. “Apa dia tadi kemari?”

Byul mengangguk. “Bahkan dia mengaku sebagai kekasihmu.”

“APA?!”

“Kau cukup populer.” Byul mengambil es krim dari kantung belanjaan yang dibawa sepupunya. Ia duduk di sofa, menikmati es krim itu sambil menonton. “Cukup populer sampai kalangan seperti itu bisa mengenalmu.”

“Yah, baiklah..” desah laki-laki itu. Tidak ada gunanya ia membohongi sepupunya. “Namanya Miyoko Ai—”

“Aku tahu itu namanya.” potong Byul tidak peduli. “Dia memperkenalkan diri padaku tadi.”

“Jadi yang dimaksudnya dengan kekasihku adalah kau?” Eunhyuk bertanya penuh selidik.

Perhatian Byul sepenuhnya beralih ke sang sepupu. “Apa?”

“Dia bilang aku sudah memiliki kekasih dan kekasihku bicara kasar padanya. Kurasa yang dia maksud dengan kekasihku tadi adalah kau.”

Byul mengernyit. “Hei, Minjung tidak bicara apapun padanya!” kilahnya. “Aku bahkan ragu kalau dia tahu Minjung adalah gadismu. Dan kenapa dia menyimpulkan dengan sesuka hatinya kalau aku adalah kekasihmu?!”

Kali ini Eunhyuk yang kelihatan bingung. “Minjung?”

Eoh.” Byul mengangguk. “Minjung tadi berkunjung.”

“Oh.” sahut laki-laki itu sambil lalu.

Eunhyuk mengambil sapu dan beberapa alat pembersih lain ke ruang tamu. Lalu dia menoleh ke sang sepupu dengan terkejut. Setelah sekian detik berlalu ia baru menyadari Byul mengatakan hal segenting itu secara gamblang dan keterlaluan santai.

“MINJUNG BERKUNJUNG?!”

Byul hanya menoleh sebentar lalu kembali fokus pada televisi. “Tepat sebelum si Jepang datang ke sini.”

“Apa Minjung juga melihat gadis itu?!”

Byul mengangguk.

Eunhyuk terperangah, sangat kesal melihat tingkah sepupunya yang kelewat tidak peduli. Jika Minjung melihat Miyoko Ai, itu berarti..

“Minjung mendengar semua yang dia bilang?!”

Byul mengangguk seraya menyuapkan satu sendok es krim ke mulut. Ia memejamkan mata, merasakan sensasi cokelat dan karamel menyatu di dalam mulutnya. Ia berkata senang. “Ah, ini enak sekali..”

Aish, Shin Ha Byul babo!” pekiknya marah. “Minjung marah padaku!”

“Tidak.” Byul menggeleng. “Dia tampak biasa saja tadi. Dia pamit karena Jikyung butuh bantuan. Dan raut wajahnya biasa saja.”

Laki-laki itu makin terlihat frustasi. Ia mengacak-acak rambutnya, berjalan mondar-mandir. Ia semakin kesal melihat sepupunya malah tidak mempedulikannya, malah asyik dengan tontonan dan es krim sialannya itu.

“Dasar tidak peka!” Eunhyuk mengambil jaketnya, bergegas pergi menuju rumah gadis itu.

Byul sontak menoleh. “Ya, siapa yang akan bersih-bersih?!”

Laki-laki itu berhenti di ambang pintu rumah. “Akan kutambahkan lima cup super besar kalau kau mau membersihkan semuanya untukku!”

Gadis itu menyeringai. Eunhyuk segera meninggalkan rumah.

☆☆☆

Saking paniknya, laki-laki itu bahkan lebih memilih menggunakan sepeda ke rumah Minjung.

Sesampainya di sana, ia menghempas sepeda di halaman begitu saja. Dan mengetuk-ngetuk pintu rumah, berusaha untuk tidak terdengar panik dari ketukannya itu.

Jikyung yang membukakan pintu. “Oh!” serunya begitu tahu siapa si tamu. “Hai, hyung!”

Eunhyuk membalasnya dengan lambaian tangan.

“Minjung noona sedang membantuku mengerjakan tugas sekolah, masuklah!”

Eunhyuk mengekori laki-laki itu, masuk ke rumah keluarga Hwang yang sudah terlalu akrab dengannya. Dari kejauhan, dia melihat Minjung berada di meja makan seraya menekuni sesuatu. Gadis itu hanya memandangnya sekilas, lalu kembali berkutat dengan tugasnya.

Laki-laki ini makin was-was melihat reaksi itu.

“Ah, kebetulan sekali kau berkunjung!” celoteh Minjung riang ketika Jikyung dan Eunhyuk sudah bergabung di ruang makan. “Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran Jung seonsaengnim sampai harus menugaskan semua murid untuk membuat lagu!”

“Membuat.. lagu?” seketika Eunhyuk melupakan tujuannya kemari. Hanya sekilas sebenarnya. Ia tidak melupakan itu sepenuhnya.

Eoh.” Minjung mengangguk.

Jikyung memang bersekolah di sekolah menengah yang sama dengan sang kakak sepupu sebelumnya, jadi tentu saja ia mengenal semua guru Jikyung. Dan bukan hanya itu saja. Minjung juga terkenal di kalangan para guru karena sering membuat onar di kelas.

“Apa ini semacam balas dendam karena dia tahu Jikyung dalah adikku atau karena dia sedang malas mengajar, aku tidak tahu! Yang pasti, aku kesulitan mengerjakannya. Kau bisa membantu Jikyung ‘kan?”

“Tentu.” Eunhyuk menyetujuinya langsung. “Bukan masalah bagiku untuk membuat lagu.”

Minjung tersenyum berterima kasih.

Tapi kemudian, senyum itu langsung berganti menjadi raut wajah bingung ketika Eunhyuk meliriknya, seolah mengisyaratkan sesuatu. Gadis itu membalas dengan satu alis terangkat. “Apa?”

Laki-laki itu menatapnya. “Dan setelah aku selesai dengan Jikyung, aku harus bicara denganmu.”

☆☆☆

Sepasang pasang manusia itu berjalan beriringan. Tidak ada satupun dari mereka yang hendak membuka mulut. Si gadis memandang sekitarnya, sesekali tersenyum pada orang yang menegurnya. Sementara si laki-laki hanya memandang gadis yang sepertinya sedang tidak menyembunyikan apa-apa itu.

“Kau tidak bilang kalau kau ke rumahku tadi.” ujar Eunhyuk.

“Aku hanya ingin mengunjungi Byul, memintanya mengajari beberapa teknik taekwondo sederhana. Tapi Jikyung ternyata butuh bantuanku.” Minjung membalas dengan lancar. Ia memetik sebuah bunga liar di dekatnya, memainkan bunga itu di antara jemarinya.

“Kau tidak mungkin datang ke rumahku hanya untuk meminta Byul mengajarimu taekwondo. Karena kau bisa menyogoknya dengan selusin kentang goreng supaya dia datang ke rumahmu.” sergah Eunhyuk.

Minjung bungkam.

Eunhyuk berhenti, mencekal tangan Minjung agar gadis itu juga berhenti. “Kenapa kau tidak bilang padaku?!”

“Soal apa?” gadis itu balas bertanya.

“Kau terlalu cerdas untuk tahu apa maksudku.”

Gadis itu memilih untuk tidak menjawab.

“Apa kau tidak marah padaku setelah seorang gadis mengaku-ngaku sebagai kekasihku?” tanya Eunhyuk dengan raut wajah frustasi.

Gadis itu menggeleng tegas.

Laki-laki itu cukup terkejut karena jawaban Minjung.

“Apa kau tidak cemburu?”

Minjung mendengus sinis. “Otakku tidak sedangkal itu untuk cemburu pada gadis seperti tadi.”

Eunhyuk mendecakkan lidah. “Minjung-ah.”

Gadis itu menatapnya.

“Kau tidak sedang berbohong ‘kan?”

“Untuk apa aku berbohong?” kata gadis itu mengangkat bahu. “Aku bisa mengerti jika orang seperti itu mengaku-ngaku sebagai kekasihmu. Kau pasti sangat populer di Jepang.”

Entah mengapa, jawaban itu tidak membuat rasa bersalahnya mereda.

“Dengar.” Minjung menggenggam tangan laki-laki itu, dengan mata yang terfokus pada mata laki-laki itu. “Kau mengenalku kan? Kau pasti tidak mungkin lupa bagaimana caraku untuk menanggapi hal-hal picisan seperti itu. Aku bisa memaklumi dan mengerti semua itu, apalagi untuk gadis semurah tadi. Jangan buat dirimu merasa bersalah karena hal ini, eoh?”

Eunhyuk mengerjap, mencerna pengakuan gadis itu. Minjung memang berbeda dari gadis di luar sana. Itulah yang membuatnya tertarik saat ia mulai mengenal gadis ini. Gadis itu memiliki sikap dan daya pikir berbeda dari kebanyakan orang. Minjung tidak seperti Chan yang raut wajahnya langsung berubah saat ada yang mendekati Donghae. Atau Hyosung yang langsung menarik lengan Sungmin saat Byul memukulnya. Minjung bukan gadis pencemburu. Minjung juga bukan gadis manja yang selalu ingin kekasihnya berada di dekatnya. Dan Minjung juga bukan gadis yang selalu merengek marah setiap kali kekasihnya melakukan kesalahan yang sangat kecil.

Ia tahu dengan baik bahwa gadisnya bahkan tidak akan pernah marah bila ada wanita yang mengaku-ngaku sebagai kekasihnya, terlebih untuk ukuran gadis seperti tadi. Bahkan ia bisa memaklumi ― jika seandainya, kalau memang ada ―seorang intelektual mengaku-ngaku sebagai kekasihnya.

Ia tahu semua itu. Tapi mengapa hatinya merasakan sesuatu yang berbeda? Seolah Minjung harus tahu tentang dirinya di masa lalu.

Ia tertegun.

Masa lalu..

Ah, tidak, tidak.

Masa lalunya.

Minjung tidak tahu sedikit pun tentang kehidupannya sebelum pindah ke Korea. Minjung tidak tahu seperti apa dirinya di Jepang. Minjung tidak mengetahui semua itu, sementara ia tahu semua masa lalu Minjung.

Eunhyuk tahu tentang orangtua Minjung, apa yang terjadi pada mereka, siapa yang melakukan hal sekeji itu pada mereka, dan soal trauma Minjung. Ia tahu semuanya.

Tapi Minjung sedikitpun tidak mengetahui tentang dirinya.

Apa hubungan seperti itu bisa dikatakan seimbang?

Jalan pikirannya terhenti ketika ia mendengar Minjung kembali bersuara.

“Aku tahu kau tidak mungkin memiliki kekasih lain selain diriku.” Minjung tersenyum. “Aku benar ‘kan?”

Eunhyuk mengangguk pasti. “Tapi tidakkah kau ingin tahu siapa dia?”

“Miyoko Ai, dan dia mantan kekasihmu.”

Eunhyuk diam.

“Hei.” Minjung menangkupkan tangannya di wajah laki-laki itu. “Jangan memasang raut wajah seperti ini. Kau menyedihkan. Dan aku benci melihatmu menyedihkan.”

Gadis itu menempelkan bibirnya pada bibir Eunhyuk. Hanya menempelkan, tidak lebih dari itu. Gadis itu memang tidak terlalu ahli dalam cium-mencium, karena itu memang keahlian laki-laki. Tapi hal ini cukup membuat Eunhyuk membelalak.

Minjung menjauhkan wajahnya. “Kau mencintaiku ‘kan?”

“Lebih dari yang kau bayangkan.”

Minjung tersenyum begitu manis. “Aku juga mencintaimu. Lebih dari yang kau bayangkan.”

Sebersit rasa lega muncul di dalam diri Eunhyuk.

Ia menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Cukup erat untuk dikatakan sebagai pelukan. Ia tidak tahu mengapa ia melakukan ini. Hanya insting dari dirinyalah yang menyuruhnya untuk memeluk Minjung. Seolah Minjung akan mengerti tentang dirinya hanya lewat pelukan, walaupun sebenarnya tidak.

Karena, untuk saat ini, memeluk Minjung dan meminta maaf lewat pelukan adalah tindakan yang benar. Menurutnya.

Setidaknya untuk saat ini.

☆☆☆

Gelap. Lembab. Mencekam.

Seperti kebanyakan penjara pada umumnya, itu pasti kesan utamamu saat kau berada di koridor yang di kiri-kanannya terdapat ruangan berjeruji besi, dimana di dalamnya berisi para pencuri, perampok, pembunuh, penipu, bos mafia, dan masih banyak lagi predikat keji yang didapat mereka karena mereka berkumpul di sini karena satu kesamaan: kejahatan.

Para komplotan di dalam jeruji itu tidak mengenal usia. Mulai dari anak kecil yang pada awalnya tertanam kesan tak berdosa saat pertama kau melihatnya sampai yang sudah tua renta, bahkan jika aku ingin berkata kasar, aku bisa bilang bahwa mereka akan langsung hilang seperti debu jika akau meniup mereka. Mereka dikurung sendirian, tanpa teman, tanpa pendamping, tanpa pasangan bicara.

Dari para komplotan itu, ada seorang wanita berusia akhir tiga puluhan yang sedang memainkan baju penjara lusuhnya. Rambutnya awut-awutan. Wajah dan badannya kotor, kau akan langsung tahu kalau dia mungkin tidak mandi bahkan sejak dimasukkan ke dalam penjara. Ia tampak gelisah, seperti sedang menunggu sesuatu.

Sekitar dua sel dari wanita itu, seorang pria ― yang kita semua tahu bahwa penampilannya tidak jauh berbeda dengan si wanita ― duduk di kasurnya tenang, seraya menatap kosong dinding di depannya. Berbeda dengan wanita tadi, ia jelas-jelas sedang menunggu sesuatu.

Bunyi gesekan antara besi dan lantai seketika menjadi pengisi suara dadakan di dalam penjara ini.

“Makanlah saat aku sudah menyiapkannya!” teriak kepala sipir saat anggotannya membagi-bagikan makanan kepada para penjahat dengan menendang nampan besi masuk ke dalam masing-masing sel melalui celah dibawahnya. “Bersyukurlah karena kami tidak membiarkan kalian mati di sini!”

Terdengar keluhan dari beberapa orang.

“Hanya santap makan malammu dan tidurlah! Jika kalian tidak menghabiskannya, aku tak akan memberi kalian makan dan minum untuk besok.”

Sipir itu mengamati salah satu tahanannya, yang merupakan wanita tadi. Ia secara kebetulan memang berdiri di dekat jeruji wanita itu sejak berteriak-teriak tadi. Ia mendengus saat melihat reaksi jijik wanita itu. “Kenapa denganmu? Tidak mau makan?”

Wanita itu hanya diam.

“Jika kau melihat makanan itu dengan tatapan sehina tadi, mungkin sekarang kau mengerti bagaimana orang-orang memandangmu dulu.”

Wanita itu mengangkat wajah, menatap sang sipir. “Akan kubunuh kau.”

Si sipir memiringkan kepala, balas menatap tanpa ekspresi.

Si wanita menatap penuah amarah pada si sipir. “Jika aku berhasil keluar di sini, kau akan masuk daftar sasaranku. Lihat saja. Aku dan suamiku akan membuat keluargamu mengemis-ngemis padaku.”

“Lelucon yang bagus sekali.” balas si sipir santai. “Tapi sayangnya, aku tidak tertawa.”

Wanita itu menggeram marah.

“Dan apa katamu tadi? Suamimu?” sang sipir menunjuk ke jeruji pria yang jelas-jelas sedang menunggu-entah-apa tadi. “Kau masih menganggapnya suami setelah dia memperkosa ribuan gadis di luar sana? Sekarang aku mengerti kenapa keluarga mantan suami dan anak tirimu sangat tidak menyukaimu.”

Ia mendekat ke jeruji dan melenjutkan dengan nada sarkastis. “Kau lebih bodoh dari keledai dan lebih rendah dari babi.”

Sang sipir meninggalkan wanita itu, kembali ke pos penjagaannya. Ia menyuruh dua anggotanya untuk memastikan para tahanan itu tidur setelah makan.

Ia menyandarkan tubuh di kursi, meletakkan kaki di meja, merasa senang karena telah menyelesaikan pekerjaannya. Anggotanya berdiri di dekatnya. Dengan satu tarikan napas, ia mencari posisi ternyaman di kursinya. Ia mengambil gelar air mineral di dekatnya, meminum isinya hingga tandas.

Kedua anggota tersebut terkejut saat mendapati apa yang terjadi pada bos mereka selanjutnya.

Pria itu tersedak-sedak, susah payah mengeluarkan dahak di tenggorokannya, namun nihil tak ada apapun yang keluar. Setelah itu, ia terbatuk-batuk hebat, terjatuh dari kursinya dengan leher yang sudah meradang, berlubang, dan berdarah.

Kedua orang itu saling tatap, dan tersenyum penuh kemenangan. Selain karena berhasil menjalankan tugas dengan baik, juga karena hanya mereka berdua-lah saksi kematian kepala sipir itu.

Mereka berdua lantas menuju sel pria dan wanita tadi, lantas mengeluarkan mereka secara diam-diam.

☆☆☆

Anyeong!”

Lee Dong Hae — yang baru saja menuruni tangga — hanya menghela napas begitu melihat seorang gadis yang bertamu ke rumahnya, dan membuka pintu dan berteriak seperti berada di tengah hutan. Parahnya lagi, ia melihat gadis itu bersikap tanpa rasa bersalah sedikitpun.

Ini bukan hal baru.

“Kau selalu menegur Byul karena sering membuat nenek Chan terkena serangan jantung mendadak. Tapi kau sendiri hampir membuatku terpeleset di tangga karena suaramu itu.”

Eish.. laki-laki macam apa yang menggerutu seperti itu?” Minjung menutup pintu dan menghampiri Donghae. “Kau seharusnya mulai terbiasa dengan hal ini. Dan apa katamu tadi? Terpeleset? Apa kau sudah setua itu sehingga kau mudah kaget? Eoh?”

Ish!” Donghae menjitak keras kepala gadis itu.

Minjung hanya menyeringai bahagia.

“Kau ini kenapa? Punya sesuatu yang bisa diceritakan?”

Ani.”

“Lalu?”

“Aku merindukanmu.”

Donghae mendengus.

“Sungguh!”

Laki-laki itu mengabaikannya. Ia menuju dapur, membuka kulkas, dan mengambil dua buah minuman soda berkaleng. Dan menghampiri Minjung yang sedang menikmati acara di televisi.

“Eunhyuk akan membunuhku jika dia mendengar kau bicara begitu.”

Minjung terkekeh, mengambil minuman itu dari tangan sahabatnya. “Chagiya gumawo..”

Laki-laki itu memutar bola matanya. “Kurasa aku akan muntah sekarang.” keluhnya. “Ya, apa kau baru saja bertemu Byul?”

“Memangnya kenapa dengannya?”

“Ah, kau membuatku merindukannya..” Donghae tidak menjawab pertanyaan gadis itu. Ia membuka minuman kalengnya, melakukan cheers dengan gadis itu, dan meminumnya. Ia bersandar pada sofa seraya menatap langit-langit. “Si aneh itu.. kira-kira apa yang sedang dilakukannya sekarang? Kuharap dia tidak membuat para mahasiswa Yonsei pusing karena dirinya. Sudah cukup kita yang direpotkan olehnya, mereka jangan.”

Minjung tertawa. “Harus kuakui, kau benar. Aku juga nyaris merindukannya.”

“Nyaris? Kukira alasanmu sering ke rumahnya, selain karena Eunhyuk, juga karena dirinya.”

Gadis itu hanya tersenyum simpul. “Omong-omong, bagaimana kabar Lee Joo?”

“Terakhir kali menghubungiku, 3 bulan lalu.” Donghae menjawab dengan nada sedikit kesal. “Gadis itu benar-benar sibuk belajar.” Kemudian ia tersentak. “Apa ia tidak bisa meluangkan waktunya sedikit untuk jalan-jalan keliling London?”

“Dia hidup di antara warga Eropa, bodoh!” Minjung menjitak kepala Donghae. “Dia tidak mungkin berlibur sementara semua teman-temannya sibuk belajar!”

Donghae menggerutu sebal.

“Dia juga sudah jarang meneleponku. Biasanya dia akan memamerkan pria-pria tampan yang ada di kampusnya.”

Laki-laki itu merengut. “Dasar.”

Minjung mengambil alih remote televisi, memindahkan saluran sebelumnya ke saluran berita.

Donghae berdecak. “Kau seperti orang tua yang sibuk dengan politik negeri.”

“Maaf saja ya, Tuan. Saya hanya mengikuti berita kriminal.” balas Minjung dengan bahasa formal yang menjengkelkan.

Donghae mengacungkan tangan hendak menjitak gadis itu lagi.

Minjung mencibir Donghae, lalu menikmati acara beritanya. Awalnya ia tidak begitu memperhatikan pembawa acara yang sibuk mengomentari berita yang ada, sampai akhirnya pembawa acara tersebut memberitahukan berita selanjutnya, perhatian Minjung tersedot begitu saja.

Bahkan ia mengabaikan Donghae yang menawarinya sekaleng minuman lagi.

Berita itu mengenai dua orang buronan polisi yang melarikan dari penjawa. Mereka menayangkan dua buah ruang tahanan yang kosong, kemudian menampilkan beberapa bukti yang membuktikn bahwa mereka kabur dari penjara dengan sangat mulus. Bukti nyata yang ada hanyalah kematian seseorang dengan tenggorokan berlubang, dan dua orang yang sepertinya disekap sangat lama dan baru saja dibebaskan. Lalu, berita menampilkan wajah dua buronan — seorang pria dan wanita berusia pertengahan tiga puluhan — berseragam tahanan, serta ciri-ciri fisik keduanya. Terakhir, berita menginformasikan bahwa saat ini seluruh kepolisian Korea Selatan ditugaskan untuk mencari buronan tersebut, juga pemerintah Korea yang telah mengajukan kerjasama dengan negara terdekat seperti Jepang dan China untuk membantu mencari mereka.

“Jung Il Hoon? Song Ji Hye?” Donghae membaca nama kedua buronan tersebut. “Hei, nama mereka mirip seperti nama kedua orangtua tirimu!”

Donghae menoleh pada gadis itu. “Aku be―”

Laki-lai ini terdiam mendadak, menyadari bahwa nama itu bukan mirip dengan kedua orangtua tiri Minjung. Melainkan karena itu memang kedua orangtua tiri Minjung.

Sekali lagi ia melihat sahabatnya, ia cukup terkejut karena melihat wajah gadis itu yang sudah sepucat hantu.

Donghae mendorong bahu Minjung pelan, mencoba membuat gadis itu bereaksi.

“Itu memang mereka, Lee Dong Hae..” Minjung berkata pelan.

“Aku tahu, maaf..” sesal Donghae kemudian. “Lalu memangnya kenapa kalau itu mereka? Kenapa kau seperti ini?”

Minjung perlahan menoleh pada sahabatnya. “Kau tahu ‘kan kalau ibu dan ayahku dibunuh mereka?”

Donghae mengangguk.

“Dan kau juga tahu kan kenapa mereka membunuh kedua orangtuaku?”

Donghae mengangguk lagi. “Uang.. dan kekayaan.”

Raut Minjung tak jauh lebih baik. “Aku anak tunggal, jadi berdasarkan hukum, akulah yang mengambil alih semua kekayaan ayahku.”

Donghae terkesiap, mulai paham arah pembicaraan ini. “Jadi mereka..”

Minjung mengangguk tegas. “Aku sasaran mereka selanjutnya.”

☆☆☆

Hari masih pagi. Bahkan sama sekali belum terlihat aktivitas biasa orang-orang. Namun, pintu rumah keluarga Shin menjeblak terbuka. Menampakkan Shin Ha Byul yang terlihat tampak kelelahan. Sang ibu yang baru keluar dari dapur menyambut kedatangan gadis itu.

“Aku pulang!”

Byul melemparkan tas olahraganya dan bola basket di dekat pintu, lantas melompat ke sofa ruang tengah. Ia menghela napas keras.

“Kau tidak perlu berlatih sekeras itu, Byul-ah..”

Sang ibu datang dengan membawa segelas susu coklat dingin, yang langsung diteguk habis ketika diberikan kepada gadis itu.

“Aku akan kembali ke kampus besok, jadi sebaiknya aku bermain basket sampai bosan agar selama kuliah aku tidak tergoda untuk bermain basket.” Balas gadis itu setelah meminum susunya. “Terima kasih, Bu.”

Ibunya hanya tersenyum.

“Ah!” Byul menjentikkan jari, duduk tegak di sofa. “Dimana ayah? Apa sepagi ini ayah harus berangkat ke kantor?”

“Kau tidak tahu? Ayahmu ke bandara.”

“Bandara? Apa karena perjalanan bisnis?”

Ibunya menggeleng.

“Lalu?”

Nyonya Shin mengerutkan kening. “Aneh. Apa Eunhyuk tidak memberitahumu kalau dia ke Jepang tadi pagi? Ayahmu menawarkan diri untuk mengantarnya karena kata orangtua Eunhyuk ini urusan yang mendesak. Ah, mungkin soal berkas-berkas yang ia butuhkan untuk menjadi warga negara Korea kembali.”

“APA?!”

v

To Be Continued

b

HEHEHEHEHEH

Siapapun yang udah mau buang-buang waktunya buat ngebaca ginian, aku berterima kasiiiihhhh bangettt

Tolong hargain aku dan karyaku dong, bukannya gila hormat atau apa, aku pasti bakal seneng banget kalau ada siapapun yang bgebaca ceritaku dan ngasih komentar apapun di siniiii

Poster by: Art Fantasy

Advertisements

7 thoughts on “Love, Trust & Hate 2

  1. Huwaa minjung emang daebak 👏 beda dr yeoja lain. Biasanya kalo ado cew yg ngaku kekasih pacarnya pasti bakalan cmburu habis tu, tp beda sm minjung.. jd dia udah benar2 percaya sm eunhyuk.. orangtua tiri minjung kabur dr penjara ?? wah bakalan terancam dong nyawa minjung 😱 eunhyuk juga lagi gak ada di korea.. semoga aja gak terjadi apaa2 lah

    Liked by 1 person

    1. Dan aku juga baru nemu komenan ini :((((( maapkeun aku yang baru ngebales :((((( nyehehe Minjung emang beda lah, sengaja kubuat beda sih biar beda #iniapasih maapkeun aku yang baru ngebaless :(((

      Like

  2. ko tegang ya bacanya? 😦
    duh ini bakal rumit beneran huuu TuT
    gak nyangka Minjung punya masa lalu kek gitu, itu orangtua tirinya juga serem huhu 😦
    ini ceritanya udah bagus menurutku, konfliknya jelas dan keknya lebih bagus lagi kalo alurnya agak dilambatin, bukan maksudnya buat bertele-tele, tapi biar lebih runtut mungkin ya? 😉
    tapi aku iri deh sama Dhifa bisa bikin cerita romance semi action(?) gini :))
    lanjutin plssss, dan jan apa-apain minjung :((

    Liked by 1 person

    1. HUEHUEHUEHUE ingin selalu tersenyum dah tiap kali ngeliat eonni walau ga nyata yak WQWQ Dan udududududu makasiiiihhhhh banget cerita jelekku dibilang bagus 😐 emang sengaja dilambat2in biar banyak eon part nya HAHAH *ketawa jahad* tapi aku lebih iri lagi sama eonni bcs bisa bikin cerita romance fluff yang bikin aku baper unyu, baper mampus, intinya baper dah apa2an ini HE Minjung nya diapa2in ga yaaa WQWQWQWQ let’s see ya eon HEHE makasih loh udah mau bacaaaa 💕💕💕💕💕

      Liked by 1 person

  3. makin seru nih. minjung dalam bahaya sedangkan hyuk pergi ke jepang. ada apa selanjutnya ya. izin baca next part thor
    baca ff ni bisa meringankan kerinduan eunhyuk oppa yg beberapa bulan lagi out hehe😂😂
    maaf thor baru komen

    Liked by 1 person

    1. HEHEHEHEEHE makasih yaaa pujiannyaaa ☺️☺️☺️☺️ silahkan, dibaca ajaaa, nggak papa asal ninggalin trace wqwqwq ☺️☺️☺️☺️

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s