Love, Trust & Hate 6

114f2364b1a3b81e90c1df08a7ec65f5

#6 : Come back is real

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 (END)

***

“NENEK benar-benar! Hanya karena aku meninggalkannya sebentar di toko es krim, dia semarah itu padaku?!”

Byul bersungut-sungut sepanjang perjalanan pulangnya. Ia kesal karena sang nenek sengaja memberhentikan mobil agak jauh dari rumah mereka, sehingga Byul berakhir dengan berjalan kaki seperti ini untuk sampai ke rumahnya.

“Tapi..” Byul tampak berpikir. “Kalau aku membalas dendam, nenek pasti akan langsung membakar setifikat taekwondo­-ku dan membuatku tidak bisa mengikuti ujian untuk mendapatkan yuk dan. Jadi, sebenarnya aku juga salah di sini..”

Lihatlah betapa drastis perubahan emosinya.

Baru saja Byul mendapat ketenangannya kembali karena akhirnya ia sudah dekat dengan pagar rumahnya, dari arah yang berlawanan, ia melihat seorang wanita yang berpakaian cukup minim untuk ukuran musim gugur. Ah, tidak. Akhir musim gugur lebih tepatnya.

Ia mendengus sinis. Jelas sekali wanita itu mengarah ke rumahnya. Dan jika tebakannya benar, wanita itu bukan orang Korea dan juga, pasti salah satu dari banyak korban sepupunya.

My God, another fucking slut. (Oh Tuhan, ada jalang lain.)” gerutu gadis itu saat ia sudah berada di depan pagar rumahnya. Wanita itu seketika berhenti mendadak di hadapan Byul.

Pardon me? (Maaf?)” wanita itu menyipitkan mata.

Byul memilih untuk tidak menanggapi. “What do you want? Meet your ex? (Apa maumu? Bertemu mantanmu?)”

Wanita itu mengeluarkan suara setengah mendengus setengah tertawa. “Look who’s welcoming me. (Lihat siapa yang menyambutku.)” sinisnya. “Let me guess.. Ms. Know-It-All? (Biar kutebak.. nona Sok Tau?)”

Byul berdecih. “Now you’re in my house and you must looking for Eunhyuk. (Ini rumahku dan kau pasti mencari Eunhyuk.)” katanya judes. “If you said that he’s your boyfriend, then go away! He has a better girl than you. Don’t you remember he has tossed you out? (Kalau kau bilang kau adalah kekasihnya, pergilah. Dia sudah memiliki kekasih yang jauh lebih baik darimu. Apa kau lupa dia sudah mencampakkanmu?)”

Wanita itu tampak menampakkan ekspresi yang sulit ditebak.

Baru saja Byul hendak mengibas tangan untuk mengusir, gadis itu malah menyilangkan tangan, menantang Byul. “And then why? Is it all related with you? (Lalu kenapa? Apa itu ada kaitannya dengamu?)”

Byul terperangah. “Omo.” Ia menatap si Jepang dengan hina. “Don’t you feel ashamed? Oh come on. I’m pretty sure people like you easy to get some man who wanna fuck you. (Apa kau tidak punya malu? Oh ayolah dengan penampilan seperti itu kau pasti sangat mudah mendapatkan pria dan langsung menyetubuhi mereka.)”

Gadis Jepang itu langsung maju dan mengayunkan tangannya untuk menampar Byul. Sayangnya, refleks Byul terlalu cepat sehingga ia sudah mencengkeram kuat lengan itu.

What?” ucap Byul meremehkan. “Don’t try to fight with me, bitch.

Why?” tangkis wanita itu. “Are you a karateka?

Unfortunately, no.” Byul menggeleng sedih. Lalu, ia memutar lengan wanita itu ke belakang punggungnya sehingga ia berteriak kesakitan. “I’m black belt taekwondo-in.” bisiknya tajam.

Mata wanita itu menjadi selebar piring terbang.

Go away.” usir Byul melepas tangan wanita itu. “And don’t ever think you’ll be here. Or looking for my cousin. I’ll kill you with my own hand. (Jangan pernah berpikir akan kembali. Atau mencari sepupuku. Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri.)”

Dan benar saja, wanita itu pergi. Tanpa bantahan lebih lanjut.

Byul segera masuk ke rumah dan mencari Eunhyuk. Ia bertemu laki-laki itu di atap.

Laki-laki itu cukup kaget dengan kedatangannya. Dan dengan napas yang masih terengah, ia berkata. “Hei, kau tidak bilang padaku kalau nenek akan menjodohkanmu!”

☆☆☆

“Pelan-pelan, Byul-ah..” Eunhyuk berusaha menenangkan gadis itu. Ia memberinya segelas air untuk minum. “Tarik napas, dan hembuskan. Tadi apa katamu?”

Byul memejamkan mata, bersandar lesu di kursi meja belajarnya, sementara Eunhyuk duduk di depannya dengan raut menenangkan. Mereka sudah berada di kamar gadis itu sekarang. Byul menuruti apa yang dikatakan sepupunya, kemudian membanting gelas di meja. “Kau tidak pernah bilang nenek akan menjodohkanmu.”

Gadis itu tidak melanjutkan.

Sebab kini Eunhyuk mulai mencernah maksud kalimat itu.

Satu. Dua. Tiga.

“APA?!” teriak Eunhyuk kaget bukan main. “Nenek mau menjodohkanku?!”

“Apa nenek tidak tahu kalau kau sudah punya kekasih?!” tanya Byul penasaran.

Ia mengamati sepupunya dengan raut wajah tegang, dan wajahnya semakin tegang ketika mendengar jawaban dari mulut laki-laki itu. “Tidak.”

“Aku tidak pernah menceritakan soal Minjung pada nenek.” laki-laki itu menjelaskan. “Kami juga belum bertemu dengannya. Jadi kupikir, lebih baik nenek tahu dengan sendirinya kalau aku sudah memiliki Minjung. Tapi soal perjodohan.. sungguh, aku tidak tahu aku se-menyedihkan itu di mata nenek.”

Byul mengeluarkan suara setengah mendengus setengah tertawa. “Aigoo.. nenek hidup di zaman apa sih, sampai harus melakukan perjodohan?!”

Eunhyuk mau tidak mau ikut tertawa mendengar dumalan sepupunya ini. Ia yakin, neneknya pasti dibuat kesal setengah mati olehnya, sehingga Byul juga berakhir seemosional ini.

“Tapi kenapa?” kali ini laki-laki itu yang bertanya. “Kenapa sampai nenek mau menjodohkan aku?”

Byul mendesah pelan. “Saat berbelanja, nenek kekurangan uang sementara aku sedang berada di toko es krim. Sepertinya ada seorang gadis yang membayar kekurangan uang itu sehingga nenek begitu senang dengan gadis tadi. Dan nenek berniat menjodohkanmu dengan gadis, yang katanya, adalah pilihannya. Aku yakin, gadis yang dimaksud itu pasti si gadis penolong nenek.”

“Apa?!” Eunhyuk memekik, kemudian menendang gadis itu. “Ya, bisa-bisanya kau meninggalkan nenek demi es krim bodohmu itu!”

Byul mendesis sebal. “Oke, aku juga cukup tahu diri kalau aku salah setelah nenek mengancam akan membakar sertifikatku.”

“Kalau aku jadi nenek, aku akan langsung membakarnya tanpa mengatakannya padamu.” dumal Eunhyuk sebal. “Katakan padaku soal gadis yang menolong nenek.”

“Nenek hanya bilang dia gadis yang manis dan baik.” beber Byul. “Setelahnya dia hanya mengomeli dan menceramahiku. Hanya itu.”

Bagus sekali.

Eunhyuk sudah cukup pusing dengan masalah yang dihadapinya dan situasi sulit yang Minjung alami. Dan sekarang, sang nenek akan menjodohkannya dengan.. seseorang yang bahkan neneknya tidak tahu menahu soal asal-usulnya? Jangankan asal usul, ia yakin neneknya tidak tahu nama gadis itu.

Tapi tiba-tiba, ia teringat apa yang dilihatnya tadi.

“Byul-ah?”

“Apa?” sahut gadis itu tanpa menoleh.

“Siapa yang bersamamu tadi?”

Gadis itu langsung duduk tegak. “Kau melihat semuanya?”

“Apa yang tidak bisa kulihat dari atap, huh?” sungut laki-laki itu.

Byul menyeringai. “Siapa dia?”

“Untuk apa kau harus tahu namanya?”

“Untuk berjaga-jaga, siapa tahu aku harus mewakilimu untuk mengatakannya pada Minjung.”

Eunhyuk mendadak bungkam.

☆☆☆

“Pokoknya ibu dan ayah tidak boleh mengatakan apapun pada mereka. Apalagi soal hubunganku dengan Minjung. Berbohonglah jika mereka menanyakan apapun. Akan kutangani semuanya di sini.”

Pria tua itu membuka pintu rumahnya, tidak terlalu terkejut mendapati Jung Il Hoon dan Song Ji Hye di sana. Keduanya tidak menyambut pasangan pemilik rumah ini, malah terkesan tidak mempedulikannya sama sekali.

“Jadi bagaimana?” Jihye bertanya.

“Sepertinya Eunhyuk mulai mencari gadis yang kalian minta.” jawab ayah Eunhyuk. “Dia akan segera mengabariku kalau dia menemukan gadis itu.”

Dua buronan itu mengangguk puas. “Cerdas sekali.” gumam Jihye puas. “Setelah ini aku akan melihat keluarga Hwang berlutut di hadapanku.”

Pasangan Lee saling pandang.

Ilhoon mengambil ponsel, menelepon seseorang. “Halo.. Oh bagus, kau rupanya.. Siapa yang akan menjemputku dan istriku? .. Apa kau sudah menyiapkan identitas baru dan persembunyian? .. Baguslah.. Dia akan datang dua jam lagi? .. Baiklah, sudah kuberi alamat tempat ku berada kan? .. Kami akan menunggumu.”

Dan sambungan pun terputus.

“Kemana kalian akan pergi?” ayah Eunhyuk bertanya.

“Korea.” Ilhoon memasukkan ponsel di saku. “Kalau memang Eunhyuk mencari Minjung di sana, sudah pasti kami harus ada di sana untuk membunuhnya kan?”

“Dan membuat anggota keluarga Hwang memohon belas kasihan dariku.” Sambung Jihye. Matanya berkilat-kilat, dipenuhi pembalasan dendam yang menggiurkan.

Satu panggilan kembali masuk di ponsel pria itu.

“Tuan, supirmu sudah datang.”

Dua orang itu kemudian meninggalkan pasangan Lee.

Ibu Eunhyuk menghela napas yang tanpa disadari ditahannya sejak tadi. “Apa kau yakin Eunhyuk akan menangani semuanya?”

Ayah laki-laki itu tidak menatap istrinya. “Pasti akan ada sesuatu yang terjadi.”

“Apa Minjung sendiri tahu soal ini?”

Keduanya tidak lagi bersuara. Sampai mereka sadar, foto berbingkai Minjung yang ada di ruang tengah rumah keluarga ini sudah lenyap.

☆☆☆

“Demikian hasil laporan dan presentasi atas nama Seo Joon Hee, Ahn Joon Hyung, dan Hwang Min Jung. Terima kasih.”

Tiga orang itu membungkuk hormat bersamaan dengan lampu ruangan kelas yang kembali menyala dan sorot dari proyektor yang mulai tampak pudar. Gemuruh tepuk tangan mewarnai ruangan ini. Seorang pria yang tampak lebih tua dan lebih cerdas dari mereka tersenyum puas. Tiga orang tadi tak henti-hentinya tersenyum.

“Aku selalu tahu presentasi dan laporan kalian tidak akan mengecewakan aku. Ternyata para dosen itu benar tentang kalian bertiga.” ungkap professor Choi puas. “Dengan ini, syarat kelulusan kalian di mata kuliahku terpenuhi. Bagus sekali.”

Minjung, Joonhee, dan Joonhyung saling tatap dan tampak gembira. Setelah itu mereka kembali ke tempat duduk mereka.

“Baiklah.” Professor Choi menutup laptopnya. “Penutup presentasi kali ini benar-benar bagus. Siapkan diri kalian untuk mengikuti ujian akhir dan segeralah mendaftarkan diri untuk wisuda. Pelajaran kita cukup sampai di sini.”

Ucapan terima kasih dari seluruh mahasiswa di kelas ini mengiringi professor Choi yang telah keluar dari kelas ini.

Namun anehnya, tidak ada tanda-tanda bahwa para mahasiswa itu akan beranjak dari tempat mereka. Semua orang tampak sibuk dengan laptop mereka masing-masing. Sampai kemudian, cetusan gembira beberapa orang terdengar.

“Aku sudah mendaftar!”

“Aku juga sudah mendaftar!”

“Hei, ada apa dengan koneksi internetnya?”

“Kau sudah terdaftar, dasar bodoh!”

“Benarkah? Hehe.”

“Aku akan lulus tiga bulan lagi!”

“Selamat tinggal, Hanyang! Selamat tinggal, para hoobae menyebalkan!”

“Oh, aku akan merindukan professor Kim!”

“Minjung-ah?”

Pemilik nama itu mengangkat wajah dari laptopnya, melihat dari balik kacamata tebalnya bahwa kini dua teman sekelompoknya tengah memandangnya.

“Kau sudah mendaftar?” kata Joonhee.

Minjung tersenyum, menutup laptop sebagai jawaban. “Aku senang kita semua akan lulus bersama.”

High-five?” kedua laki-laki itu mengangkat satu tangannya. Minjung menerima sinyal itu, dan menepuk kedua tangannya di telapak tangan masing-masing dua laki-laki itu. Mereka tertawa.

“Dengan begini, gadisku akan sangat bangga padaku.” gumam Joonhyung senang sembari memakai ranselnya. “Ayo.”

Minjung membereskan barang-barangnya. “Aku tidak percaya professor Choi akan memuji hasil presentasi kita.” ungkapnya jujur. “Padahal kupikir aku tidak bisa mengikuti mata kuliahnya dengan baik.”

“Untuk gadis secerdas dirimu? Tidak mungkin!” Joonhee mengibaskan tangan. “Kau tahu betapa senangnya aku saat professor Choi mengelompokkanku denganmu? Ini benar-benar mukjizat!”

“Oh ayolah, kau berlebihan!” Minjung terkekeh. “Aku juga sangat senang saat aku dikelompokkan dengan kalian berdua.”

“Dia benar soal itu, nona Hwang.” sambung Joonhyung. “Dia sangat mengagumi kejeniusanmu. Aku yakin dia bahkan mau jadi kekasihmu kalau saja kau tidak memiliki Eunhyuk.”

“Kalau begitu kau harus melangkahi mayatnya lebih dahulu.”

Ketiganya tertawa.

Di luar kelas, seorang laki-laki tengah bersandar pada pilar bangunan seraya menyilangkan tangan. Minjung tersenyum lebar, lalu berpamitan pada Joonhee dan Joonhyung, dan menghampiri laki-laki itu.

Eunhyuk mengamati wajah gadisnya dengan teliti. “Biar kutebak.” selidiknya. “Presentasimu sukses?”

Gadis itu mengangguk penuh semangat. “Dan coba tebak?” ia menunjukkan layar ponselnya pada Eunhyuk. “Aku sudah mendaftar!”

Getar rasa bangga mengaliri punggung Eunhyuk. Persis seperti disiram air dingin, ia merinding, terperangah, lalu mengacak-ngacak poni gadis itu. “Kau mengagumkan!” pujinya membuat Minjung tersipu. Ia merangkul gadis itu dan mulai melangkah. “Kau mau sesuatu?”

Kali ini, mereka memang menjadi pusat perhatian. Selain karena tindakan Eunhyuk yang cukup berani untuk merangkul Minjung yang masih di wilayah kampus, kini tidak ada tatapan memuja atau menggoda dari mahasiswi manapun. Mungkin mereka jera. Mungkin mereka tidak ingin dipermalukan seperti Nayoung. Namun apapun itu, Eunhyuk dan Minjung tidak peduli.

Minjung mengangguk lagi. “Kau masih punya kelas?”

Eunhyuk menggeleng.

“Bagus.” desis Minjung riang. “Kuharap kau membawa uang lebih. Aku mau bermain di Lotte World.”

☆☆☆

Hwang Min Jung melompat-lompat kegirangan saat keduanya telah memasuki wilayah taman bermain itu. Ia merentangkan tangan, kemudian memutar-mutar tubuhnya, dan menari-nari riang. Lee Hyuk Jae yang tertinggal beberapa langkah di belakangnya hanya bisa tersenyum.

Tidak ada hal yang lebih membahagiakan dari ini. Siapa sangka gadisnya selalu ingin pergi kesini bersamanya dan hanya berdua? Mengingat jadwal kuliah mereka yang begitu padat membuat frekuensi pertemuannya dengan gadis ini sedikit berkurang. Namun hari ini, waktu luang itu pun datang secara mendadak.

Memang benar kata orang. Sesuatu yang mendadak biasanya jauh lebih berkesan daripada sesuatu yang direncanakan.

Ya, Minjungie!” panggil Eunhyuk. “Tunggu aku!”

Gadis itu berbalik tanpa menghentikan lompatan riangnya. “Kemarilah! Dasar lambat!”

“Kau menantangku?!”

Minjung menjulurkan lidah dan berbalik untuk berlari.

Gadis ini benar-benar. Lihatlah sisi lainnya yang satu ini.

Laki-laki itu mengejar Minjung yang terus saja menghindarinya, sampai ketika ia sudah dekat dengannya, ia langsung memeluk Minjung dari belakang dan memutar-mutar gadis itu.

Ya, lepaskan aku!” gadis itu tertawa-tawa.

“Masih mau lari dariku, hm?” Eunhyuk menjulurkan wajahnya.

Gadis itu mengangguk. Ia berbalik, menangkupkan pipi laki-laki itu dengan satu tangannya, dan mengecup kilat bibir gadis itu. Mengakibatkan rangkulan tangan Eunhyuk di pinggang Minjung lepas begitu saja. Minjung segera menggunakan kesempatan itu untuk melarikan diri.

Eunhyuk sempat diam membeku untuk beberapa saat. Ia mengerjap. Ini sangat tidak biasa, kalian tahu? Minjung hampir tidak pernah menciumnya lebih dulu. Selalu dia yang memulai dan selalu dia yang mendominasi. Entah mengapa hanya satu kecupan ringan itu bisa memiliki arti yang lebih baginya. Mengingat dalam hubungan mereka, Minjung cenderung cuek dan tidak peduli.

Apa ini tanda kalau Minjung memang akan tampil apa adanya dan hanya di depannya?

Minjung benar-benar sudah mempercayainya.

Sementara dirinya belum mengatakan apapun tentang dirinya pada gadis itu.

“Ayo kejar aku!” Minjung berteriak untuk memanasinya. “Ayo kejar aku! Ayo―”

Tiba-tiba teriakan itu terputus begitu saja.

Gadis itu menabrak sesuatu di belakangnya. Bukan orang. Bukan bangunan. Teksturnya lembut, dan sepertinya ‘benda itu’ tampak sedikit lebih besar darinya.

Minjung berbalik. Lalu terpaku. Dan berteriak histeris. Kemudian berlari begitu saja melompat dan menerjang pria nya di sana.

Eunhyuk tertawa. Laki-laki itu malah berjalan mendekati si badut sementara Minjung mengeratkan pelukan ketakutan. “Hei, lihatlah dia.” katanya menepuk punggung gadis itu.

Gadis itu mengerang, mengeratkan pelukan, dan membenamkan wajah di bahu laki-laki itu.

Aigoo, kau sudah besar, nona Hwang..” Eunhyuk menggeleng-gelengkan kepala. “Turunlah. Kita belum menikmati satu permainan pun.”

“Menjauh darinya.” rengek Minjung. “Kalau tidak aku akan pulang.”

“Wah, kau sangat menakutkan..” laki-laki itu mengangguk-angguk, dan mulai berjalan menjauhi si badut. “Baiklah, Sayang. Karena aku tidak mau merusak kencan kita hanya karena ini, jadi sebaiknya aku menurutimu.”

Minjung mengangkat wajahnya ceria, dan melompat turun dari gendongan. “Ohh, aku tidak pernah tahu kalau kau sangat pengertian.” Ia mengamit lengan laki-laki itu. “Ayo! Kita ke Atlantis!”

“Baiklah.” Eunhyuk menjawab pasrah. Tetapi itu sebelum dia mulai mencerna apa yang baru saja dikatakan Minjung. “Apa?!”

Rupanya gadis itu tidak main-main dengan ucapannya. Mereka menaiki roller coaster itu sekali, lalu menaiki beberapa wahana lainnya. Bahkan mungkin wahana yang dinaiki dirinya dan Minjung semuanya adalah wahana ekstrim. Tidak, bukannya Eunhyuk adalah pria pengecut yang takut akan ketinggian atau hal-hal seperti itu, tapi gadisnya yang satu ini memang sangat menyukai hal-hal ekstrim yang ada di sekitarnya. Dan tidak akan berhenti kalau saja bukan dirinya yang mabuk dan kelelahan.

“Minjung-ah.. cukup..” lirihnya mencegah gadis itu lari. “Kita istirahat sebentar, eoh?”

“Ayolah..” gadis itu memelas seraya menarik-narik tangan laki-laki itu. “Aku belum mencoba bungee jumping-nya..”

Eunhyuk menggeleng tegas. “Tidak.” ia menggandeng tangan gadis itu, menariknya untuk duduk di salah satu kursi. “Aku mual dan lelah. Apa kau tidak merasakan semua itu?”

Minjung menggeleng polos.

Eunhyuk langsung menyandarkan kepalanya di bahu gadis itu, sementara kini kedua lengannya sudah melingkari pinggang gadis itu, takut kalau-kalau gadis itu mencoba kabur darinya. Ia tidak peduli dengan ekspresi orang-orang yang dilontarkan pada mereka berdua, karena yang dia inginkan hanya Hwang Min Jung seorang.

“Kau benar-benar kelelahan rupanya..” gumam Minjung mengusap-usap kepala laki-laki itu.

Laki-laki itu hanya melenguh manja di bahu gadisnya. Ia mengeratkan pelukan. Hidungnya mengendus aroma rambut Minjung. Wangi coklat yang menyerbak ini membuatnya makin betah untuk berlama-lama di bahu gadisnya. Ia menyukai apapun yang ada di dalam diri Minjung. Sifat cueknya, mulut pedasnya, sikap cerobohnya, betapa manjanya gadis ini, apapun itu, ia menyukainya.

Gadis itu melingkarkan dua lengannya di leher lak-laki itu. “Tapi aku mau ke ice ring..”

“Tapi aku mau pulang..”

Aigoo..” Minjung mengacak-acak rambut Eunhyuk. “Ada apa dengamu, hm? Kenapa kau jadi begini?”

“Ini karena kau, nona Hwang..” laki-laki itu menegakkan kepala tanpa melepas pelukan, menatap mata gadisnya lurus-lurus. “Berapa lama kau menelantarkan aku sampai aku hampir mati karena merindukanmu, hm?”

Minjung merengut. Ia menangkupkan tangannya di pipi Eunhyuk, mencubitnya gemas. “Ckckck, ternyata aku berpengaruh buruk buatmu..”

Eunhyuk mengangguk. “Tepat sekali.” katanya. “Kau membuatku hanya selalu menatapmu dan membuatku tidak mau melirik gadis-gadis lain. Apa yang kau campurkan pada makananku selama ini?”

Anehnya, Minjung tertawa. “Tanyakan hal itu pada ibunya Byul. Beliau yang memberikanmu makan setiap hari.”

Laki-laki itu kembali membenamkan wajah di bahu gadis itu. “Aku tidak mau kehilanganmu, Jung-ah..”

Gadis itu mengerutkan kening. “Kenapa kau berpikir aku akan meninggalkanmu? Gagasan bodoh macam apa itu?”

“Berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku..”

Minjung memutar bola matanya. “Oh ayolah..”

“Berjanjilah, kumohon..”

Gadis itu terpana. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada orang ini, atau apa yang orang ini pikirkan sampai melontarkan pertanyaan-pertanyaan tadi. Namun jika Eunhyuk meminta ― ah tidak, laki-laki itu jelas memohon ― untuk tidak meninggalkannya.. tentu semua orang sudah tahu jawabannya.

Minjung mengusap-usap kepala pria nya. “Baiklah.” ia menjawab. “Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, ah bahkan untuk memikirkannya saja aku tidak mau. Aku akan selalu ada di sisimu, dan selalu ada kalau kau membutuhkan aku. Puas?”

Sebagai jawaban. Lee Hyuk Jae mengeratkan pelukannya.

☆☆☆

“Menurutmu, benda apa yang bagus untuk dijadikan hadiah pernikahan?”

Saat ini sepasang kekasih itu tengah berjalan-jalan di kawasan perbelanjaan Myeongdong. Mengingat sahabat baik mereka, Cha Hyo Sung, yang sudah dilamar oleh Lee Sung Min, jadi kemungkinan keduanya akan menikah tepat setelah kelulusan sangat besar. Dan sebaiknya mereka mencari hadiah itu mulai dari sekarang, karena bagi keduanya, kesibukan menjelang kelulusan sudah menghantui.

Eunhyuk mengangkat bahu. “Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku mendatangi pernikahan kakak sepupuku.” gumamnya. “Itu sudah lama sekali. Lagipula, semua kakak sepupuku sudah menikah. Mereka hanya tinggal menungguku dan Byul.”

Minjung mengerutkan bibir. “Aku juga tidak ingat.” ia menghela napas. “Hyosung pasti akan membunuhku kalau aku tidak memberikan apa-apa padanya.”

“Begitu juga dengan Sungmin.” laki-laki itu menimpali.

Beberapa sat kemudian hanya terdengar suara kebisingan khas perkotaan dan gesekan sneakers mereka dengan jalanan.

“Ah!” Minjung menjentikkan jari. “Bagaimana kalau aku menghadiahi Hyosung satu set peralatan make-up­ lengkap..”

“.. dan aku memberikan Sungmin jam tangan?” sambung Eunhyuk menyelesaikan pikiran Minjung.

Keduanya tersenyum lebar.

Mereka pun berpencar, menuju toko yang sudah disepakati oleh keduanya.

Eunhyuk mulai memilih beberapa jam yang mungkin disukai Sungmin. Model tak lazim, cukup bermerk, dan ia yakin Sungmin pasti akan menyukainya. Setelah semua itu, ia meminta kasir mengemasnya dengan baik, lalu membayar, dan keluar dari toko.

Minjung belum terlihat. Itu berarti gadis itu masih mencari. Heol. Tidak mudah bagi beberapa gadis untuk menemukan make-up yang akan disukai temannya, jadi seharusnya ia tidak heran Minjung akan kesulitan mencari dibanding dirinya.

Ia menyusuri setiap toko kosmetik yang mungkin saja dikunjungi gadisnya, namun sayangnya ia tidak menemukan Minjung dimana pun. Ia sudah hendak menuju titik awal mereka berpisah ― dan meyakinkan diri bahwa mungkin saja Minjung juga disana sedang menunggunya ― kalau saja tidak ada dua orang yang mencegahnya.

“Aku tidak percaya kami bertemu denganmu di sini.”

Eunhyuk mengernyit bingung. Ia tidak mengenali orang ini, dan cukup risih dihampiri mereka dan berkata seolah-olah mereka sering bertemu. Ia sudah hendak pergi kalau saja mereka tidak menurunkan syal yang menutupi separuh wajah mereka.

Laki-laki itu hanya bisa berdiri membeku.

☆☆☆

Minjung tersenyum berterima kasih pada kasir tepat setelah orang itu membungkus kosmetik yang dibelinya dengan begitu rapi dan cantik. Ia melangkah keluar dengan riang seraya bersenandung.

“Oh, Cha Hyo Sung, kau akan berterima kasih seumur hidupmu!”

Senyumnya semakin lebar tatkala ia melihat Eunhyuk sudah menunggunya. Ia berniat mengangetkan laki-laki itu, namun ketika ia melihat ada dua orang yang menghampirinya dengan jaket tebal dan syal yang nyaris menutupi wajah mereka, ia mengurungkan niat.

“Aku tidak percaya kami bertemu denganmu di sini.”

Suara itu.. Minjung mengenal baik suara itu! Bahkan setelah sekian lama ia tidak mendengarnya!

“Kuharap kau segera menemukan Minjung dan langsung menyerahkannya pada kami.”

Minjung menahan napas kaget.

Ia tidak salah lihat ‘kan?

Ia mengerjap berkali-kali, memastikan bahwa yang dilihatnya adalah sesuatu nyata.

Bahwa Lee Hyuk Jae yang tengah berbicara dengan Jung Il Hoon dan Song Ji Hye adalah nyata.

Ia tidak salah lihat!

Ketika dua orang itu pergi, ia melihat Eunhyuk melihat ke arahnya, berlari menghampiri dirinya. Dan tepat ketika laki-laki itu hendak meraih tangannya, Minjung sontak melangkah mundur.

Eunhyuk menunjukkan raut wajah bingung. “Minjung-ah, ada a―”

“Menjauh dariku.” katanya pelan. Lalu ia membelalak menatap laki-laki itu. “Menjauh dariku!” ulangnya dengan berteriak.

“Ada apa denganmu?” ekspresi laki-laki itu belum berubah.

“Siapa yang bicara denganmu tadi?” tanya Minjung marah. “Siapa?!”

Barulah Eunhyuk menyadari apa yang terjadi. “Kau melhat mereka?!”

“Aku tidak percaya ini.” Minjung mendengus. “Kau mengenal Jung Il Hoon dan Song Ji Hye! Kau mengenal mereka!”

Eunhyuk seketika mematung. Itu sebuah pernyataan, dan ia tidak mungkin bisa mengelaknya.

“Jung-ah, akan ku perjelas semua ini!”

“Bahwa kau mengenal mereka dan ternyata kau yang disuruh mereka untuk membunuhku?!” tukas Minjung.

“Kau tahu kalau kau akan dibunuh?!”

Gadis itu tersenyum sinis. “Aku tidak bodoh untuk tidak tahu untuk semua itu!” cecarnya. “Kau pikir apa tujuan mereka keluar dari penjara kalau bukan untuk membunhuku?!”

Laki-laki itu bungkam.

Minjung menggerakkan tangannya liar. “Aku sudah menduga mereka akan meminta orang lain untuk membunuhku!” tatapannya pada laki-laki itu sungguh merendahkan. “Dan kau orang lain itu!”

“Tidak!” Eunhyuk mengelak. “Percayalah padaku, nona Hwang! Aku tidak mau membunuhmu!”

“Kau pikir aku percaya padamu?! Setelah banyak hal yang kau sembunyikan dariku?!”

Mata Eunhyuk menjadi selebar piring terbang.

“Selama ini aku selalu menunggu waktu yang tepat untuk kau mengatakan semuanya padaku!” bentak gadis itu tak tahan lagi. “Tapi kau tidak kunjung mengatakan tentang masa lalumu, jalang-jalang rendahanmu, bahkan soal mereka berdua! Kau tidak pernah mengatakan apapun padaku sementara kau tahu segalanya tentang diriku!”

Laki-laki itu masih berusaha meraih gadisnya, namun Minjung selalu menjauh setiap kali ia mendekat.

“Aku sudah cukup bersabar dengan kehidupan gelapmu di Jepang dan semua selingkuhanmu yang ternyata masih mengharapkanmu.” nada suara gadis itu turun begitu saja. Ia memejamkan mata, membuat air matanya jatuh begitu saja. “Dan sekarang kau semakin membuatku tidak percaya lagi padamu dengan.. dengan bekerjasama dengan mereka! Tidakkah kau tahu semua hal tentang dirimu kini membuatku muak?!”

Laki-laki itu kaget setengah mati.

“Apa maksudmu menyuruhku untuk tidak meninggalkanmu?” raut wajah Minjung masih jauh dari kata baik. “Karena kau tahu hal ini akan terjadi dan kau mau aku menyanggupinya? Aku mau saja kalau kau bukan bagian dari mereka. Tapi ternyata aku salah. Meninggalkanmu adalah satu-satunya cara agar aku tetap hidup.”

Lee Hyuk Jae yakin dirinya tidak bisa melakukan apapun kali ini.

“Pergilah.” pinta Minjung sarat akan permohonan yang begitu dalam, seakan memastikan bahwa laki-laki itu harus menerima permohonannya. “Jangan pernah muncul di hadapanku lagi. Menjauhlah dari keluargaku. Kau tahu mereka akan langsung membencimu jika mereka tahu kau bagian dari mereka. Dan jangan pernah berharap kau akan kembali padaku, karena aku pun tidak akan pernah kembali padamu.”

Hwang Min Jung berbalik dan meninggalkan Lee Hyuk Jae yang hanya diam mematung.

“Aku pergi.”

b

To Be Continued

v

HAHAHA berasa nggak kalo pendek? Yeah, kalo mau dibandingin sama part sebelumnya yang nyaris menyentuh 5k, ini bahkan cuma menyentuh 4k doang WQWQWQ abis kalo aku ceritain semuanya disini gabakal nyampe 10 part dong HEHEHE *ketawa jahad*

Dan kalo boleh jujur ceritanya juga mulai rada gajelas yez -_-

Yeah, as usual ya, Alhamdulillah banget nih kalo aku ngepostnya tepat waktu, tiap minggu di hari jumat. Kok kesannya kek horror bet dah, yah seenggaknya bukan di malam jumat lah ya #iniapasihgajelasbetkekidupludhif :3 Tapi kalo rada molor, bisa dua atau tiga minggu lagi, tapi teteup di hari jumat *ini ga penting*

Etapi kalo aku mau spoiler-in, part 7 nya udah sih, tinggal finishing doang, dan penambahan beberapa detail. Tapi part 8 nya masih kosong banget, jadi yah, lait aja ke depannya kek gimana HEHE *ga ada yang peduli woy*

So, gimana pendapat kalian soal bagian dari otakku yang ga beres ini? Ya Alhamdulillah juga kalo ada yang baca, masih mau dilanjutin? Kalo nggak, aku stop sampe disini aja kali yak? HEHE

PS: arti dari yuk dan adalah tingkatan keenam dalam sabuk hitam taekwondo.

Advertisements

9 thoughts on “Love, Trust & Hate 6

  1. waw 😦
    disini juga berasa nanonano yak meskipun pendek 😦 😥
    mulai dari perjodohan eunhyuk yang kutebak bakal ucul ucul manis karena jodohnya emang cewenya dia, terus jalan2 nya min-hyuk yang bikin senyum2, dan terakhir malah kaget gegara eunhyuk ketahuan hiksssss x((((
    mungkin perasaanku aja, tapi ini cukup cepet ya alurnya, hmmm tapi aku suka sih hehehehehe
    aku ga akan lompat langsung ke part 10 nya, bakal baca satu2 dulu, maafin yaaak kalo bakal nyepam wkwkwkwkwkwk

    Liked by 1 person

    • Wah akhirnya eonni muncul 😘😘😘😘 emang sih eon kecepetan, bcs of ke-blank space-an aku itu WQWQWQ udah males mikir dan males ngubah juga dan voila malah jadi gitu 😂😂😂😂 but however makasih ya eonnnn udah ngereviewww 😊😊😊😊😘😘😘😘

      Like

      • jadi sebenernya akutuh udah ninggalin review jugak di chapter 5 sama 8. Tapi berhubung komentarnya kepanjangan jadi gamau masuk gitudeh hikssss maapin ya deeek TTTT

        wkwk kamu blank space aja bisa ngefinishin cerita berat kek gini, gimana pas ga blank space coba u.u

        ku kangen iih wkwk♡♡♡

        Liked by 1 person

      • Aku baru tau kalo komenan kepanjangan nggak bisa masuk ihh WP gaasek 😐😐😐😐 yawdah komenin lagi aja eon HAHAHA ya gitu deh mungkin tekanan perkulyaan makanya bisa finish 😂😂😂😂😂😂

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s