Let’s Be ‘Friend’

12126_180072422131400_976028921_n

No matter how rude and freak she is, they always love her so much

***

DI SINI aku akan menceritakan satu dari sekian banyak kisah konyolku bersama seorang gadis bernama Lee Joo Hae.

Yah, dia adik Donghae. Beda usia kami cukup jauh, aku lupa berapa tahun. Interaksiku dengannya persis seperti orang yang sudah berabad-abad tidak ingin menyatakan perdamaian. Aku akui itu. Mengganggunya, menjahilinya, membuatnya kesal dan frustrasi adalah sekian banyak dari kesenangan dunia yang bisa aku dapat darinya. Aku bukan Donghae yang selalu berperan menjadi kakak yang baik dan benar untuknya, atau Leeteuk hyung yang selalu dia hormati, atau bahkan Ryeowook yang seperti ibu baginya. Aku, sama seperti Heechul hyung, adalah dua dari seluruh anggota Super Junior yang paling tidak dia hormati.

Aku tidak tahu bagaimana mulainya, tapi sejak pertama aku mengenalnya, aku sering mengganggunya di apartemennya, membuat keributan di sana, menghabiskan makanannya, dan menjahilinya. Biasanya dia memukuliku dengan sapu tanpa ampun dan setelahnya dia akan dimarahi habis-habisan oleh Donghae dan Leeteuk hyung. Sejak saat itu, dia hanya bersikap lapang dada dan tidak mau memukuliku dengan sapu tiap kali aku mengganggunya. Itu membuatku senang sekali.

Tapi sejahat apapun aku padanya, aku tetap tidak tega melihatnya menangis.

Apalagi jika air mata itu jatuh karena diriku.

☆☆☆

Joohae, tidak seperti sang kakak, sama sekali bukan pecinta binatang. Dia benci semua hewan, apapun itu, bahkan lalat dan nyamuk sekalipun. Maka dari itu dia selalu pergi setiap kali melihat beberapa angota Super Junior sedang bermain bersama binatang peliharaan mereka. Dia adalah tipe gadis yang sangat takut dengan hewan peliharaan. Aneh kan?

Pernah suatu kali, dia datang untuk bertanding game dengan Kyuhyun. Hanya ada Kyuhyun, aku, Heechul hyung, dan Eunhyuk di dorm. Seperti biasa, mereka selalu melakukan taruhan sebelum mulai bertanding.

Well,” buka Joohae mengangkat bahu acuh tak acuh. “Kalau aku menang, oppa harus membeli tiket konser Coldplay, Ed Sheeran, dan Linkin Park untukku.”

“Oke.” Kyuhyun mengangguk. “Dan kalau aku menang―”

“Kau harus menggendong Choco dan Heebum selama lima menit.”

Aku menyahut tiba-tiba, muncul dari dapur dengan semangkuk sereal, duduk di samping Kyuhyun, dengan ide yang bagus sekali.

Joohae tampak tidak terima, ia menatapku seakan aku adalah hama yang perlu dibasmi. “Apa ini? Oppa tiba-tiba muncul dan mengajukan syarat taruhan? Ini urusanku dengan Kyuhyun oppa! Kami tidak butuh campur tangan oppa!”

Dia kembali menatap Kyuhyun. “Ayo, oppa! Katakan syarat taruhannya!”

Tapi tiba-tiba, Kyuhyun mengerling ke arahku dan mengangguk setuju. “Kalau kau kalah, kau harus menggendong Choco dan Heebum.”

Kini raut Joohae berubah takut. “Tapi.. oppa kan tahu aku.. takut..”

“Taruhan kita, Sayang..” Kyuhyun tersenyum manis. “Aku bersedia memberimu tiket konser semua idolamu, kalau perlu akan kupastikan kau bisa masuk backstage..”

Gadis itu terlihat ingin menangis.

“Oh ayolah, hanya lima menit.” sahut Heechul hyung entah darimana. Ia sudah menggendong Heebum.

“Lagipula tidak ada salahnya kau melawan ketakutanmu.” Eunhyuk juga muncul. Choco menggonggong di gendongannya.

Joohae bergidik melihat Choco dan Heebum. Ia memandang kami semua, berharap belas kasihan. Donghae dan Leeteuk hyung sedang pergi, jadi tidak ada yang membelanya. Tapi kemudian gadis itu menarik napas dalam, mengangguk tegas. “Baiklah, hanya lima menit kan?”

Aku menyeringai puas. Kyuhyun dan Joohae mulai bermain.

Sebenarnya Joohae terlalu menyombongkan diri. Oke, kami memang pasti kalah bila bersaing soal ilmu pengetahuan dan bahasa (dia menguasai sekitar sepuluh bahasa asing, semuanya sempurna tanpa cela, entah bagaimana dia mempelajarinya), tapi bila ada satu hal yang bisa kami unggulkan darinya hanyalah ini. Jadi aku tidak akan heran jika gadis itu kalah.

Cukup lama mereka bermain sampai akhirnya sebuah musik khas terdengar, dan gadis itu meletakkan ponsel di meja dengan ekspresi hampir menangis.

“Apa tidak ada tantangan yang bisa aku jalani selain.. ini?” dia mundur saat Heechul hyung yang menggendong Heebum mendekatinya. “Aku bersedia membersihkan dorm sendirian.. tapi jangan ini..”

Itu tawaran yang cukup menggiurkan. Tapi saat ini aku sedang ingin melihat ekspresinya saat menggendong Heebum dan Choco.

“Tidak apa..” Eunhyuk berusaha menenangkannya. “Choco tidak akan menggigitmu..”

Joohae langsung berdiri saat Eunhyuk dan Choco berada di dekatnya. “Tapi.. Choco itu chihuahua.. dia sangat agresif dan aku adalah orang baru baginya..”

“Tidak, tidak..” Eunhyuk menggeleng. “Dia mengenalimu.”

Joohae menarik napas gugup. Dengan amat perlahan, dia menerima Choco dari Eunhyuk. Anjing itu meronta sebentar, membuat Joohae terkesiap, lalu kembali tenang saat berada di gendongan Joohae.

Gadis itu mendadak pucat dan berkeringat dingin.

Aku dan Kyuhyun tertawa. Apalagi saat satu tangannya terjulur pada Heechul hyung untuk menerima Heebum.

Pada saat itu, Heechul hyung berteriak panik. “Pegang perutnya, jangan lehernya!”

“Apa?!” Joohae juga mulai panik karena Heebum mulai mengeong keras dan meronta, membuat Choco menjadi tidak tenang.

Kejadian itu cepat sekali. Entah bagaimana bisa dua hewan peliharaan itu meronta dengan ganas di pelukan Joohae, sehingga gadis itu jatuh dengan bunyi yang keras di lantai, dan berakhir dengan sikap liar Choco dan Heebum.

☆☆☆

Joohae tertidur telentang di ranjang Donghae, menangis keras dan sangat menyedihkan. Sementara Donghae duduk di tepi ranjang, dengan telaten mengusap hidrogen peroksida pada luka-luka gadis itu.

Oppa.. mataku..”

“Oh!” Donghae tersentak, menyeka mata gadis itu yang sepertinya terkena hidrogen. “Maaf, maaf, aku tidak lihat..”

Dan gadis itu menangis lagi.

Kekacauan itu berakhir dengan teriakan minta tolong Joohae karena Choco dan Heebum mencakarnya tanpa ampun. Baju gadis itu robek. Wajah, tangan, dan perut gadis itu penuh luka cakar.

“Apa masih sakit?” kini Donghae mengusap hidrogen di perut gadis itu.

Joohae menjawabnya dengan tangisan.

Heechul hyung, Kyuhyun, Eunhyuk, dan aku hanya memandangi gadis itu, tanpa bisa mengatakan apapun. Leeteuk hyung menatap kami dengan kesal. Sebelumnya, kami sudah dimarahi habis-habisan.

“Jangan dulu banyak bergerak, oke?” kata Donghae lembut. “Luka-lukamu belum kering. Menginaplah disini, tidak ada yang menjagamu di apartemen.”

Gadis itu mengangguk. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, menggunakan ujung benda itu untuk menyeka air matanya.

Aku menunduk, benar-benar menyesali tindakanku. Eunhyuk langsung menelepon Donghae karena gadis itu mati-matian tidak mau diobati oleh kami.

Aku mendekatinya, duduk di tepi tempat tidur, memegang bahunya. Dia langsung mengelak sentuhanku dan memunggungiku.

“Joohae-ah..”

“Pergilah kalian berempat..” lirih gadis itu bercampur tangis. “Jangan ganggu aku.. aku benci kalian..”

Donghae terperangah, begitu juga dengan Leeteuk hyung dan kami berempat. Semarah apapun Joohae pada kami, dia tidak akan pernah mengatakan kalau dia membenci kami.

Kini giliran Leeteuk hyung yang membujuknya. “Biarkan mereka meminta maaf, Joo..”

“Untuk apa?” gadis itu sontak duduk tegak, langsung berteriak pilu karena kesakitan. Dia menangis lagi. Donghae membantunya berbaring.

“Ssst..” bisik Donghae mengusap pelan kepala gadis itu. “Bukannya sudah kubilang jangan banyak bergerak dulu?”

Joohae menyeka air matanya dengan tangan, memandang kami dengan tatapan yang baru kusadari hari ini, dia benar-benar tidak ingin kami ada di dekatnya. “Kenapa kalian masih disini? Bagaimana perasaan kalian setelah melihatku begini? Senang kan?”

Heechul hyung, yang selalu bisa akur setiap kali habis bertengkar dengan gadis itu, untuk pertama kalinya merasa Joohae tidak akan memaafkannya. Sedari tadi dia diam.

Tapi bukan Kim Hee Chul namanya kalau tidak keras kepala.

“Aku menyuruhmu memegang perut Heebum, bukan lehernya.” ujarnya. Ini kalimat pertamanya setelah insiden cakar-mencakar. “Kenapa kau tidak menuruti itu?”

Joohae terlihat seperti dia akan meledak kapan saja.

“Kenapa kau tidak mendengarku dulu?” sewot Heechul hyung. “Kenapa kau tidak bertanya dulu padaku?”

Joohae menggeram marah, sepertinya benar-benar sudah tidak tahan. Ia menunjuk Heechul hyung dengan kurang ajar. “Kau hanya mau melihatku menderita! Hanya itu! Kau menyalahkan aku, bertindak seakan dirimu paling benar, dan akan tertawa senang melihatku mati diserang dua hewan tak berotak itu!” teriaknya marah. “Kau dan teman-temanmu!”

Dia bergantian menunjukku, Kyuhyun, dan Eunhyuk.

“Dan bagaimana denganmu?!” kini dia memandangku. “Idemu brilian sekali!” sindirnya. “Kau pasti menyesal karena aku tidak mati ‘kan?!”

Aku mengerjap kaget. “Tidak seperti itu!” elakku. “Aku ingin meminta maaf!”

“Apa gunanya?!” sergah gadis itu. “Toh aku yakin kalian lebih senang melihatku mendapat luka lebih parah dari ini.”

“Joohae-ah..” Eunhyuk memanggil gadis itu pelan. “Dengarkan kami dulu..”

“Tidak ada gunanya aku mendengar perkataan orang-orang bodoh dan egois seperti kalian!” geramnya menyibak selimut. Ia meringis sebentar, berjalan keluar kamar dengan penuh perjuangan, dan berakhir dengan membanting pintu kamar Donghae dengan keras sekali.

☆☆☆

Rupanya Joohae tidak main-main. Sejak saat itu, dia tidak pernah muncul di dorm. Dia juga mengganti sandi apartemennya agar kami tidak mengganggunya. Dia mengabaikan semua pesan dan panggilan kami, termasuk Donghae. Dan setiap kali kami bertemu dengannya di koridor apartemen, lift, atau basement, dia tidak pernah mau menyapa kami.

Hari itu untuk pertama kalinya aku menyadari bahwa dorm serasa mati tanpa suara dan dirinya.

Ketika kami semua tidak sibuk, aku, Kyuhyun, Eunhyuk, Donghae, Heechul hyung, dan Leeteuk hyung akhirnya berbicara mengenai masalah ini.

“Kemarin aku beralasan mengambil bir dari kulkasnya.” kata Heechul hyung. “Tebak apa yang dia lakukan? Dia membuka pintu hanya untuk menendang seluruh rak bir ku keluar, setelah itu dia mengunci pintunya lagi.”

“Astaga, anak itu benar-benar membenci kalian.” komentar Leeteuk hyung.

“Jangan memperburuk suasana, hyung.” sahut Kyuhyun.

“Bahkan sekarang kau pun merasa bersalah?” Leeteuk hyung mengangkat sebelah alis.

Kyuhyun menghela napas. “Baiklah. Tidak seharusnya aku menyutujui usul Sungmin hyung.”

“Dia berpapasan denganku tiga hari yang lalu, dan sama sekali tidak mau melihatku dan menyapaku. Apa dia benar-benar tidak mau bicara pada kami?” Eunhyuk bertanya, lebih kepada Donghae. “Kau sudah bicara padanya?”

“Menurutmu selama ini apa yang aku lakukan?” Donghae balas bertanya. “Dia mengabaikan semua telepon dan pesanku.”

“Tidak ada salahnya membujuknya lagi kan?” Heechul hyung menimpali.

“Ya, tapi jangan kau.” sambung Leeteuk hyung. “Donghae saja.”

“Akan kucoba.” Donghae berdiri, meninggalkan dorm.

Kami menunggu dengan was-was, karena Donghae tak kunjung kembali. Setengah jam kami menunggu, dan kami melihat gagang pintu bergerak dan pintu berayun. Menampakkan kakak beradik itu.

Donghae membawa Joohae duduk bersama kami, tapi tidak mau terlalu dekat dengan kami. Luka gadis itu sepertinya mulai membaik.

“Ada apa?” katanya dingin. “Aku sibuk.”

Aku, Kyuhyun, Eunhyuk, dan Heechul hyung saling tatap. Kemudian aku langsung berkata. “Maafkan aku, Joo..” lirihku. “Tidak seharusnya aku mencampuri urusanmu dengan Kyuhyun.”

Joohae memutar bola matanya. “Ng.”

“Tidak seharusnya aku menyutujui usul Sungmin hyung.” sahut Kyuhyun.

“Ng.”

“Maaf karena Choco mencakarmu.” timpal Eunhyuk.

“Ng.”

“Maafkan Heebum dan maafkan aku karena aku hanya membuatmu marah.” tutup Heechul hyung.

Gadis itu menatap Heechul hyung sebentar, tidak memberi tanggapan apapun, lalu memandang kami bergantian dengan alis terangkat. “Sudah?”

Kami berempat mengangguk.

Jika dari sudut pandang lain, kejadian ini lucu sekali. Pemandangan seorang gadis yang jauh lebih muda dari kami, memarahi kami seperti seorang ibu tengah memarahi anaknya.

Joohae masih mempertahankan wajah judesnya ketika ia bertanya. “Boleh aku tanya satu hal?”

Kami mengangguk lagi.

Untuk kali ini, Joohae tersenyum lebar, menguapkan aura menyeramkan pada dirinya. “Acting-ku bagus kan?”

Kami semua melongo. Termasuk Leeteuk hyung.

“Jadi maksudmu..” Eunhyuk tergagap. “Kau tidak pernah benar-benar marah dengan kami?”

Joohae mengangguk dua kali.

“Lalu bagaimana dengan semua bentakan dan apa yang kau lakukan pada kami selama ini?” tanyaku.

Gadis itu terkekeh geli. “Karena itu aku bertanya, acting-ku bagus kan?”

Entah mengapa, kali ini aku benar-benar kesal padanya. Dan sepertinya, aku tidak sendirian.

YA, LEE JOO HAE!”

Gadis itu tertawa bahagia sekali, bersembunyi di belakang Donghae untuk meminta perlindungan, sementara kami berlima (Leeteuk hyung juga kesal setengah mati dengannya) mencari-cari celah agar bisa memukulnya.

v

End

v

HEHEHEHEHEHEHEHEHE

Jadi ini adalah opening buat cerita Chan sama Donghae yang lain, kan ga lucu kalo romance melulu, meski ini gaada lawaque nya sama sekali. Sejauh ini aku bikin cerita Donghae Chan yang baru sih udah selesai 2 part, part 3 nya stuck gitu.

Masa liburanku emang belom selesai, tapi setelah cerita Donghae Chan tamat, aku udah qulya, jadi mulai jarang nulis.

Jadi gimana?

Makasih ya udah mampir

Advertisements

5 thoughts on “Let’s Be ‘Friend’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s