Everything Has Changed (After Story)

everything-has-changed-taylor-swift-35296961-1191-669nce97g ce

Inspired by two friends’s song, Taylor Swift and Ed Sheeran.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 (END)

***

“SUDAH kupastikan tidak ada kasus yang harus kau tangani hari ini dan beberapa hari ke depan.”

Seorang gadis yang tengah memegang sebuah toples berisi keripik kentang menoleh ke si pembicara dengan tatapan bertanya. Jemarinya yang dipenuhi bumbu keripik berada di mulut toples, sedang memegang sebuah keripik. Pipinya mengembung karena ia memang sedang mengunyah makanan itu. Di sekitar mulutnya terdapat bumbu keripik.

“Sungguh?” tanya si gadis setelah menelan makanannya. “Kukira kau tidak akan membiarkanku bermalas-malasan.”

Si pembicara pertama mengangguk. “Melihatmu menangani kasus Kyuhyun yang sebenarnya sangat remeh yang bahkan bisa ditangani oleh pengacara amatir, sepertinya aku harus mengistirahatkan otak, pikiran, dan emosimu.”

Mata Shin Ha Byul menyipit. “Sepertinya sudah banyak kasus yang kutangani setelah kasus Kyuhyun.”

“Kau benar. Tapi kasus Kyuhyun adalah kasus pertama dimana kau tidak memperhatikan etika saat bersaksi, melawan argumen, bahkan berbicara dengan hakim. Dan kau tidak pernah seemosional itu saat menangani kasus lain setelah kasus Kyuhyun. Kau selalu terlihat tenang setiap kali berada di pengadilan. Tapi kasus priamu ini ternyata benar-benar membuatmu melupakan tata krama.”

Byul diam, mengakui dalam hati bahwa sekretarisnya benar.

“Entahlah, Choi..” gadis itu menutup toples, membersihkan jemari yang penuh bumbu dengan mulutnya. “Kau tahu siapa yang kuhadapi saat itu.”

“Aku mengerti.” gadis yang dipanggil ‘Choi’ oleh Byul tersenyum tulus. “Dan kuharap kau bisa belajar untuk memanggil namaku, bukan margaku.”

Byul menyeringai. “Jadi bisakah aku pulang sekarang, Joyce?”

Gadis itu mendengus. “Jangan menyebut nama Amerika ku. Aku sudah tidak tinggal di sana selama empat tahun.”

Byul menghela napas keras, menyimpan toples keramatnya. Ia mengambil tasnya dan melambaikan tangan. “Baiklah, sekretaris Choi. Aku pulang.”

Sang sekretaris hanya mendesis kesal, bersungut-sungut menirukan ucapan Byul yang sudah keluar kantor.

☆☆☆

Gadis bermarga Shin itu memutar-mutar ransel di lengannya, yang sesekali dilanjutkan dengan memutar badan sambil berjalan. Ketiadaan pekerjaan tidak pernah membuatnya sesenang ini. Karena akhirnya ia bisa melakukan beberapa pekerjaan ‘penting’nya yang tertunda.

Salah satunya, menonton pertandingan NBA.

Senyum Byul melebar saat gagasan itu muncul di otaknya. Ia melangkah dengan riang, dengan kecepatan langkah yang sudah berubah. Menjadi lebih cepat, karena suntikan keinginan yang selalu ia dambakan.

Tapi sekonyong-konyong langkah gadis itu berhenti karena ia mendengar suara gemuruh di langit.

Byul mendongkak. Setitik air langit jatuh di keningnya. Lalu di matanya.

Dalam beberapa detik, wajah gadis itu basah. Dan dalam beberapa detik berikutnya, tubuh gadis itu basah total.

Byul tersenyum sangat lebar. Pikiran untuk menonton pertandingan NBA lenyap begitu saja.

☆☆☆

Kyuhyun memarkirkan mobil di halaman, menggerutu sepanjang perjalanan pulang dari kantor ke rumah karena hujan deras yang kurang lebih sudah mengguyur kota Seoul selama tiga jam. Ia kesal. Bagaimana tidak? Hujan membuat jalanan licin dan lalu lintas mendadak macet. Dan Kyuhyun terjebak di jalan kurang lebih satu setengah jam. Tidak heran kau mendapati raut kusut dan ekspresi masam dari wajah laki-laki bermarga Cho ini.

Laki-laki itu menutup pagar, berlari masuk ke rumah, dan melepas jas hujan dengan kasar, menunjukkan bahwa ia sedang berada di tahap emosi yang sedang tidak bagus.

Parahnya lagi, puncak ketidakbagusan emosinya sampai di klimaks saat ia menyadari satu hal.

Tidak ada siapapun di rumah selain dirinya.

“Byul-ah, dimana kau?”

Hening.

“Byul-ah?”

Tetap hening.

“Kau tidak sedang mengajakku bermain petak umpet ‘kan?”

Hanya suara hujan yang terdengar.

Kyuhyun menghela napas kesal, membersihkan diri dan mengganti baju sambil mengingatkan diri bahwa terkadang gadisnya jauh lebih sibuk dari dirinya. Siapa sangka gadis yang dulu sering membuat orang di sekitarnya menjadi gila kini dapat membantu orang gila yang sedang menghadapi hukum? Ia tidak menyangka Byul akan menjadi sehebat ini.

Dan siapa sangka ternyata Cho Kyu Hyun tidak bisa hidup tanpa si aneh itu?

Kyuhyun menghempas tubuhnya ke sofa ruang tengah, menyalakan televisi dan menonton acara-acara ringan untuk menyegarkan otak. Ia tidak perlu menunggu Byul untuk makan bersama karena dirinya sudah makan di kantor dan dia yakin Byul pasti sudah dipaksa makan oleh sekretarisnya yang super duper protektif itu.

Kyuhyun terkekeh. Terkadang ia merasa tersaingi oleh Choi Hye Won karena orang itu nyaris lebih peduli tentang Byul daripada dirinya. Tapi tetap saja, Kyuhyun masih menempati posisi ‘orang terpenting di dunia setelah orangtua, keluarga, dan sahabat Shin Ha Byul’.

Ia menikmati acara televisinya sampai tak terasa hari semakin larut.

Dan Byul belum juga pulang. Ditambah lagi, di luar masih hujan. Lebih lebat dari yang tadi.

Kyuhyun mulai mengirimkan beberapa pesan singkat pada gadis itu.

v

Si Aneh

Byul-ah?
Apa yang kau lakukan?
Apa kau masih di kantor?
Kau masih sibuk?
Sudah makan?
Mau kujemput?
Byul-ah?

g

Tapi tidak ada satu pun yang dibalas.

Kyuhyun berdecak. Ia mulai menelepon Byul.

Satu kali. Dua kali. Empat kali. Tujuh kali. Lima belas kali. Dua puluh empat kali.

Dan tetap tidak ada yang diangkat. Membuat pria itu terlihat gusar.

Hei, sesibuk apapun gadisnya, gadisnya itu pasti akan membalas pesannya atau menjawab teleponnya meski panggilan hanya berlangsung selama sepuluh detik! Walau Kyuhyun sering kali kesal karena hal itu, tetapi setidaknya ia bisa merasa lega karena Byul masih menyadari bahwa gadis itu adalah manusia yang dibutuhkan oleh Cho Kyu Hyun.

Namun malam ini, Shin Ha Byul sukses membuat Cho Kyu Hyun uring-uringan hanya karena pesan singkat dan telepon yang terabaikan.

“Ck, gadis itu..” Kyuhyun menelepon gadis itu sekali lagi, mengambil kunci mobil dan malangkah menuju pintu sambil menunggu telepon masuk.

Dan saat ia membuka pintu, ia dikejutkan karena ia hampir menabrak seseorang, yang sepertinya juga hendak membuka pintu. Ia mengamati orang itu from head to toe.

Seorang gadis. Berdiri tegak. Basah kuyub. Dan tersenyum lebar.

“KAU BERMAIN HUJAN SEMALAM INI?!”

Byul menutup telinganya dan memasang ekspresi sebal. “Jangan berteriak kalau kau berada di radius lima puluh sentimeter dariku.”

Kyuhyun menggeram. “CEPAT GANTI BAJUMU, DASAR BODOH!”

Gadis itu memutar bola mata jengah. “Baiklah..” sahutnya malas. Setelah Kyuhyun merampas tas nya, gadis itu berjalan menuju kamar mandi, dengan tetesan air hujan yang melekat di badan jatuh mengikutinya.

☆☆☆

Di luar masih hujan. Kyuhyun menjatuhkan semua isi tas Byul yang kering total ke meja ruang tengah. Ia mengambil ponsel gadis itu, terhenyak karena semua pesan dan panggilannya memang diabaikan. Sekarang ia mengerti.

Kita tahu seperti apa kecintaan Byul pada hujan.

Dengan santai, Byul yang sudah mengganti pakaian basahnya dengan sweater rajut kebesaran dan celana pendek, duduk di samping pria itu. Dengan semangkuk besar es krim di tangannya.

Kyuhyun menunjukkan ponsel Byul yang layarnya dipenuhi semua pesan singkat dan panggilan masuk darinya. “Kau benar-benar sibuk, ya.”

Byul mendelik menatap ponselnya. “Maaf..”

“Kau tidak kumaafkan.”

Byul sepenuhnya menoleh pada laki-laki itu.

Kyuhyun menatap marah gadis itu. “Berapa lama kau bermain hujan?”

“Ng?”

“Berapa lama kau bermain hujan?!” bentak Kyuhyun. Emosinya benar-benar tersulut kali ini.

Byul menggunakan jarinya untuk menghitung, mencoba mengabaikan bentakan Kyuhyun. “Entahlah..” ia menjawab. “Aku pulang kantor jam enam dan saat itu hujan turun..” ia melihat jam dinding. “Sekarang sudah jam setengah  dua belas.. itu berarti..”

“Kau bermain hujan selama lima setengah jam!” potong Kyuhyun tepat. Ekspresi wajahnya belum melunak. “Ya, aku tidak pernah melarangmu untuk semua kesenangan anehmu, tapi bermain hujan saat malam dan selama itu?! Kau bisa sakit, dasar bodoh!”

Byul mendengus. “Aku pernah bermain hujan lebih lama dari ini, dan aku tidak sakit.” ucapnya bangga.

“Dan kau malah menikmati es krim semalam ini?!” suara Kyuhyun dipenuhi emosi. “Apa kau merasa ini adalah musim panas?!”

Eoh.” Byul mengangguk polos, menyantap es krim nya. “Setelah bermain hujan, aku merasa kepanasan. Nyalakan pendingin ruangan malam ini, ya?”

Kyuhyun memandang Byul tak percaya.

☆☆☆

Sinar matahari mulai masuk melalui celah tirai, menyinari mata Kyuhyun yang membuat laki-laki itu mengernyit dan langsung membuka mata. Ia menyibak selimut, duduk, dan mengamati Byul yang masih tertidur lelap di sampingnya. Meringkuk seperti bayi dengan selimut membalut seluruh tubuhnya.

Ia mendengus geli. Ia beruntung semalam tidak menyalakan pendingin ruangan.

Laki-laki itu menjauh dari ranjang, menuju kamar mandi dan bersiap ke kantor. Ia sudah mengenakan kemeja putih polos dan mempersiapkan tas nya. Ia mengambil jas dari lemari, melirik ke ranjang, menyadari dengan terkejut bahwa Byul belum bangun dari tidurnya. Masih dengan posisi meringkuk yang sama.

YA, SHIN HA BYUL!” teriak Kyuhyun mendekati gadis itu. “KAU TIDAK MAU TERLAMBAT BEKERJA ‘KAN?”

Gadis itu bergeming.

Aish..” dengan sekuat tenaga, Kyuhyun menendang Byul hingga gadis itu jauh terjermbab ke lantai. Suara gedebuknya beriringan dengan pekikan Byul.

Kyuhyun mengernyit. Suara gadis itu terdengar aneh.

Ia menarik gadis itu untuk duduk di lantai, mendelik karena tangan dan sekujur tubuh gadis itu amat sangat berkeringat. Terlebih saat gadis itu meringkuk makin rapat dengan selimutnya.

Laki-laki itu menyentuh dahi Byul dengan punggung tangannya, tidak terkejut mendapati perubahan suhu yang sangat drastis.

“Bagus. Kau demam.” desisnya. Ia memindahkan gadis itu ke tempat tidur.

Kyuhyun mengambil pemanas ruangan, meletakannya di dekat Byul. Gadis itu memang tertidur, tapi seperti tidak nyaman dengan tidurnya. Mata yang ditutup rapat-rapat, wajah dan hidung memerah—sepertinya Byul bersin-bersin saat tertidur—juga alis bertaut cemas dan kening berkerut. Kemudian ia menuju dapur, kembali ke kamar dengan baskom berisi air dingin dan handuk kecil.

Ia duduk di tepi tempat tidur, di dekat Byul, mencelupkan handuk itu ke dalam baskom, memerasnya, dan meletakannya di kening gadisnya.

Pada saat itu, mata yang dipaksa menutup itu terbuka. Meski hanya setengah dan tampak sayu.

“Kyu..”

“Apa?” balas Kyuhyun cepat. “Masih berpikir kalau kau tidak akan pernah sakit?”

Byul tidak menjawab. Sebenarnya, hal itu benar adanya. Setelah sekian lama hidup dan bermain hujan kapanpun dan berapa lamapun, ia tidak pernah sakit. Kalaupun sakit, ia hanya akan bersin-bersin ringan keesokan harinya. Tapi sekarang? Lemah. Demam tinggi. Flu berat. Suara nyaris hilang. Byul benar-benar tak berdaya hari ini.

“Kau benar-benar..” laki-laki itu mengambil handuk basah dari kening gadisnya, mencelupkan ke baskom, mengerikannya, dan kembali meletakkannya di kening gadis itu.

“Kau.. tidak.. bekerja?” tanya Byul serak dan lemah.

“Dan membiarkanmu seperti ini?” Kyuhyun mendengus. “Aku memang marah padamu karena tidak menurutiku, tapi aku tidak akan membiarkanmu sendirian saat kau tak berdaya.”

Byul menghela napas. Oh, bahkan gadis itu membutuhkan tenaga lebih untuk melakukannya. “Maaf..”

“Mau sup jamur hangat?”

Gadis itu mengangguk.

☆☆☆

Tentu bukan Kyuhyun yang memasak sup jamur hangat tersebut. Ia membelinya di dekat rumah mereka, membawa sup itu secepat mungkin agar Byul bisa menikmatinya selagi panas. Ia masuk ke kamar dengan semangkuk sup.

Ia membantu Byul untuk duduk, membiarkannya bersandar pada tepi ranjang. Gadis itu benar-benar lemas. Sungguh! Tapi lemasnya kali ini bukan karena keagresifan Kyuhyun setelah menciumnya. Laki-laki itu mendesah sabar.

Terlebih ketika Byul meraih sendok sup, sama sekali tidak ingin disuapi. Kyuhyun memandang gadisnya jengah.

Saat Byul hendak memasukkan sesuap sup ke dalam mulutnya, entah bagaimana, sendok tersebut jatuh, sehingga sup panas itu mengenai paha Byul yang tidak tertutup celana.

Gadis itu meringis pedih, berteriak tanpa suara saking lemahnya.

Kyuhyun hanya menatap jengah gerak-gerik gadis itu.

“Apa sebenarnya yang ada di otakmu hah?!” bentaknya. “Kenapa sulit sekali kalau meminta bantuan pada kekasihmu sendiri?!”

Byul menunduk, menahan perih di luka bakarnya. Air matanya jatuh.

Kyuhyun berdecak, menuju kamar mandi dan kembali dengan membawa pasta gigi. Ia mengambilnya sedikit, mengoleskannya ke luka gadis itu. Setelahnya, ia mengambil alih mangkuk sup dan menyuapi gadis itu.

Kali ini, Byul sama sekali tidak membantah.

“Tidurlah.” titah laki-laki itu membantu gadis itu berbaring. “Aku akan pergi ke kantor sebentar untuk memeriksa keadaan dan setelah itu aku akan membeli obat untukmu. Tetaplah istirahat atau aku akan benar-benar marah dan tidak akan mempedulikanmu.”

Byul berbaring ke samping, menarik selimut sampai ke dagu. Ketika mendengar pintu kamar tertutup, ia menangis dalam diam.

Ia tahu dirinya sangat keras kepala, bahkan hampir tidak pernah mau menuruti perkataan Kyuhyun. Tapi haruskah Kyuhyun semarah itu padanya? Sampai mengancam tidak akan mempedulikannya?

Byul tidak bisa tidur. Jadi gadis itu berusaha duduk dengan selimut membalut tubuhnya. Ia terlalu lemah untuk bangun dan menonton televisi. Tidak ada yang ia lakukan selain memainkan ponsel. Entang untuk browsing, membuka beberapa sosial medianya, bermain game, menonton pertandingan basket yang tertunda, sambil beberapa kali bersin dan menyeka hidungnya. Ia akan beristirahat sebentar dan tidur jika ia merasa lelah, lalu kembali memainkan ponsel seperti tadi.

Sampai tanpa disadarinya hari sudah malam saat dia berteriak dengan suaa lemah setelah menyaksikan Kevin Durant menyumbangkan poin terakhir untuk Golden State Warriors.

Dan Kyuhyun tak kunjung pulang.

Byul memaksakan dirinya untuk bangun dari tempat tidur. Ia menghampiri lemari dengan terhuyung-huyung, mengambil jaket tebal, dan berjalan dengan penuh perjuangan ke dapur. Ia terus saja bersin-bersin dan batuk-batuk, menyeka hidungnya dengan ujung kaos yang penuh dengan ingus. Beberapa kali ia menabrak dinding dan merasa pusing. Ia mengambil roti dan selai dari kulkas, dan mulai memakannya. Setidaknya cukup untuk mengganjal perut sampai Kyuhyun datang dengan obat dan makanan.

Namun ketika hari sudah larut pun Kyuhyun tak kunjung pulang.

Apa itu yang dinamakan dengan ‘Aku akan pergi ke kantor sebentar untuk memeriksa keadaan.’?

Ia kecewa. Tapi di satu sisi, pikirnya, wajar bila Kyuhyun seperti ini setelah betapa keras kepalanya dirinya.

Dengan getir, ia kembali ke kamar, tidur dengan sangat tidak nyaman. Karena tidak bisa bernapas dengan hidung, Byul membuka lebar mulutnya untuk bernapas. Ia tidur telentang, dengan selimut menutupi leher. Ia akan bersin dan batuk beberapa kali tiap dua menit. Ia mencengkeram kuat kepalanya yang terasa menyakitkan dan berdenyut-denyut.

Ini benar-benar menyakitkan dan ia tidak tahu harus bertahan sampai kapan.

☆☆☆

Bak pembalap panik yang mengejar garis finish, Kyuhyun melajukan mobilnya dengan tidak terkendali. Ia menyelinap beberapa mobil dengan cukup berbahaya dan menerobos lampu lalu lintas tanpa peduli bahwa ia sudah melanggar setidaknya seratus peraturan lalu lintas. Ia tidak menduga urusan kantor akan serumit itu, yang membuatnya tertahan begitu lama sementara pikirannya berkelana ke rumah.

Pikirannya benar-benar kalut selama bekerja. Bagaimana bisa ia meninggalkan Byul yang sedang kesakitan di rumah sendirian? Ia tidak tahu lagi tindakan bodoh apa yang akan gadis itu lakukan kali ini setelah gadis itu lepas dari pengawasannya. Ia melirik makanan dan obat yang sudah dibelinya, dan melesat menuju rumah.

Dari hatinya yang paling dalam, ia tahu ia salah setelah membentak Byul hanya karena masalah sesepele itu. Tapi kemarahan Kyuhyun tidak bisa ditolerir. Ia marah bukan karena Byul yang keras kepala dan susah diatur. Ia marah dan merutuki dirinya sendiri karena membiarkan Byul lepas dari bawah hidungnya sehingga jatuh sakit seperti itu. Kekhawatirannya pada Byul tanpa sengaja disalurkan lewat amarah yang seharusnya tidak Byul dapat darinya, membuatnya semakin merasa bersalah dan terus memakinya sendiri karena tidak bisa mengontrol perasaannya.

Hati Kyuhyun mencelos saat ia teringat air mata sialan itu jatuh tanpa kehendak karena dirinya.

Byul memang memiliki karakter yang berbeda dari kebanyakan wanita pada umumnya.  Susah diatur, keras kepala, cuek, benci diperlakukan manis, tidak manja, dan berhati batu. Semua itu memang mendominasi diri gadisnya. Tapi ada kalanya gadis itu bersikap normal, menajdi gadis yang baik dan benar.

Sekalinya menjadi gadis yang baik dan benar, Byul memiliki perasaan yang sangat sensitif. Air mata gadis itu bisa langsung jatuh hanya karena nada suara Kyuhyun yang terdengar tinggi.

Kyuhyun sebenarnya tidak terlalu pandai dalam mengontrol emosi, apalagi jika berkaitan dengan Shin Ha Byul. Ia akan cepat khawatir jika Byul tidak mengabarinya. Ia akan mudah marah jika Byul tidak menuruti dirinya, atau berubah menjadi gadis keras kepala. Dan ia akan berubah menjadi pria gila ketika melihat air mata Byul jatuh.

Shin Ha Byul benar-benar kelemahan terbesar Cho Kyu Hyun.

Betapa terkejutnya ia, ketika masuk ke kamarnya, ia mendapati Byul yang tengah berteriak kesakitan sambil menjambak rambutnya sendiri.

“Hei, hei.” Kyuhyun menghampiri gadis itu, melepas paksa cengkeramannya di rambut, dan memeluk Byul erat. Ia mengusap-usap kepala dan punggung gadis itu, membiarkan wajah Byul terbenam di bahunya. “Tenanglah, Byul-ah.. aku disini.. jangan khawatir..”

Gadis itu masih meringis kesakitan dan bersin-bersin di pelukan prianya. Membuat Kyuhyun makin ingin membunuh dirinya sendiri.

Kyuhyun masih menggumamkan beberapa kalimat untuk menenangkan gadis itu dan membuatnya merasa lebih baik. Sampai ketika ia merasa Byul sudah tidak seperti tadi, baru ia berani melepas pelukannya.

Laki-laki itu menatap gadis itu dengan raut wajah khawatir. “Apa kau sesakit itu hmm?” bisiknya menangkupkan tangan di wajah gadis itu, menyeka sisa-sisa air matanya, kemudian mengecup kilat kening Byul. Ia mengelus kepala gadis itu. “Maafkan aku..”

Byul tidak akan berbohong dengan berkata kalau ia baik-baik saja. Ia menunduk, terbatuk-batuk beberapa kali.

Kyuhyun menata bantal-bantal di kepala tempat tidur, membantu Byul nya bersandar. Ia mengambil makanan yang tadi dibelinya, dan mulai menyuapi gadis itu.

“Terima.. kasih..” lirih gadis itu menelan makanan.

Kyuhyun yang raut wajahnya masih menunjukkan kekhawatiran, menggenggam satu tangan gadis itu. “Maafkan aku, Byul-ah..”

“Tidak.. apa..” gadis itu masih berkata dengan serak dan lemah. “Kau.. di sini.. terima.. kasih..”

Kyuhyun tertegun. Sebegitu butuhnya kah Byul pada dirinya saat ini? Mendadak ia merasa menjadi pria paling kejam di muka bumi.

Setelah Byul selesai makan, laki-laki itu pun membukakan obat dan meminta gadis itu meminumnya. Ia membantu Byul memegang gelas untuk minum, meletakannya di nakas, dan akhirnya menutupi Byul dengan selimut sampai di dagu.

“Tidurlah..” Kyuhyun mengelus kepala gadis itu.

Byul menggeleng pelan. Ia menepuk tempat di sampingnya, menatap Kyuhyun penuh permohonan.

Kyuhyun terkekeh pelan, merasa aneh karena gadis itu tiba-tiba berubah manja padanya. “Setelah mandi dan berganti baju. Oke?”

Gadis itu mengangguk pasrah, dengan tiba-tiba menunjuk keningnya seakan meminta jaminan. Kyuhyun yang senyumnya makin lebar menurutinya, mengecup kening, lalu kedua pipi dan bibir gadis itu. ia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

Beberapa menit kemudian, ia keluar dengan mengenakan kaus polo biru dongker dan celana pendek, membawa baskom berisi air dingin dan handuk kering dari dapur. Ia mengambil tempat di sisi gadis itu ― yang ternyata sudah terlelap ― lalu mulai mengompres gadis itu beberapa kali, tentu dengan lembut agar gadis itu tidak terbangun. Cukup lama ia melakukan itu sampai suhu air di baskom naik. Ia ke dapur untuk mengisinya dengan air dingin, dan kembali ke kamar untuk mengompres Byul.

Empat puluh enam menit kemudian, ia memutuskan untuk meletakkan handuk basah di kening gadisnya, tidak lagi mengompresnya. Ia mengambil termometer, memasukan ujungnya secara perlahan ke mulut gadis itu. Ia menahan napas saat membaca hasil pengukuran suhu benda itu.

Empat puluh derajat.

Kyuhyun menghela napas berat. Ia menatap dalam wajah gadis itu. Byul sudah cukup tenang, meski masih bernapas dengan susah payah.

Ia berbaring di samping gadis itu, perlahan-lahan menarik Byul ke dalam pelukannya. Ia menjadikan lengannya sebagai bantal untuk gadis itu, lantas merengkuh tubuh gadisnya erat, sembari mengusap-usap kepala gadis itu.

Ia mengecup-ngecup lembut puncak kepala Byul sampai dirinya sendiri pun tertidur.

☆☆☆

Beberapa hari setelahnya, Byul terbangun dengan rasa sakit luar biasa di kepalanya. Ia meringis, memegang kepala dengan kedua tangan untuk meredakan rasa sakitnya. Tetapi itu tidak ada gunanya.

Pintu berderit terbuka. Kyuhyun masuk ke kamar dengan nampan berisi semangkuk bubur hangat dan segelas air.

Tentu Byul heran. “Kau tidak bekerja.. lagi?”

Kyuhyun mendengus sinis. Ia meletakkan nampan itu di nakas dekat tempat tidur, lalu duduk tepat di hadapan gadis itu. “Aku tidak akan jatuh miskin hanya karena aku tidak bekerja.”

“Tapi ini sudah empat hari kau tidak ke kantor.”

“Dan sudah empat hari kau sakit.”

Byul bersin dan batuk.

“Oke.” laki-laki itu mengambil termometer, memasukan ujungnya ke dalam mulut Byul. “Kita lihat bagaimana perkembangan tubuh kebalmu itu.”

Byul merengut karena merasa sedikit tersindir. Lalu batuk lagi.

Laki-laki itu membiarkan termometer di mulut Byul, menunggu beberapa detik, lalu mengeluarkannya. Ia membaca hasil pengukuran benda itu. Lalu menghela napas berat.

Tiga puluh sembilan derajat Celcius.

Ia menyimpan termometer, lantas menyuapi Byul. Gadis itu tidak sedikitpun membantah.

Kyuhyun tersenyum. Selama empat hari terakhir ini ia terus mengamati perkembangan gadis itu. Ia tidak lagi mendengar suara serak nan menyakitkan, atau ekspresi muak Byul saat ia membawakan makanan dan obat. Luka bakar gadis itu juga hampir sembuh. Hanya perlu diberikan perawatan rutin.

Baru saja ia hendak menyimpulkan bahwa gadisnya akan sembuh dalam waktu dekat, ia melihat sendiri Byul meringis menahan sakit di kepalanya.

Ia menghela napas.

Ia meletakkan mangkuk kosong di meja, membantu Byul minum. Setelahnya, ia menarik gadis itu agar bersandar padanya. Ia memijat-mijat kepala gadis itu lembut.

“Kyu-ah..”

“Diamlah dan biarkan aku melakukan ini untukmu.”

Byul mengatur posisinya agar ia bisa merasa semakin nyaman. Dan memejamkan mata. Pijatan lembut Kyuhyun mampu menenangkan dirinya. Ia tersanjung. Meskipun Kyuhyun sering marah-marah padanya, ia tidak bisa mengelak bahwa Kyuhyun sangat mempedulikan dan menyayangi dirinya lebih dari apapun.

Pada saat itu, ponsel Kyuhyun yang berada di meja dekat ranjang berdering. Laki-laki itu mengusap layar untuk menjawab, dan mengubah mode panggilan menjadi loudspeaker agar ia tidak perlu harus melepas pelukan Byul hanya karena ia ingin mengangkat telepon.

“Ya, Ayah?”

“KAU TAHU INI SUDAH BERAPA HARI KAU TIDAK KE KANTOR, HAH?!”

Laki-laki itu menutup telinga. Byul praktis melepas pelukannya, duduk dengan lesu memandang Kyuhyun.

Sementara laki-laki itu hanya duduk bertopang dagu seraya menjawab telepon. “Tidak ada yang harus kulakukan di kantor kan?”

“TAPI ITU BUKAN BERARTI KAU BISA SEENAKNYA MEMBOLOS!”

Dalam hati Kyuhyun bersyukur karena meletakkan ponsel jauh-jauh darinya. Mengamati Byul yang ada di depannya, ia segera membantu gadis itu berbaring seraya berkata. “Ayah tidak perlu berteriak sekencang itu jika hanya ingin aku mendengarnya. Byul sakit dan aku ―”

“Byul sakit?” sang ayah memotong pembicaraan. “Benarkah?”

Kyuhyun mengamati gadisnya yang balik menatapnya dengan pandangan sayu. “Aku tahu Ayah ingin tertawa saat ini.”

Bul memberengut kesal. Ia berbaring memunggungi Kyuhyun dan menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.

“Tidak, tidak seperti itu.” balas ayahnya. “Apa dia baik-baik saja?”

“Tidak, dia tidak baik. Suhu tubuhnya tidak kunjung turun dan dia terus mengeluh sakit kepala. Dia juga tidak berhenti batuk dan bersin. Aku tidak mungkin membiarkannya sendirian. Tidak apa-apa kan? Aku yakin sekretaris Ayah dan sekretarisku bisa menangani semua masalah di kantor.”

Ia mendengar sang ayah menghela napas. “Baiklah. Sampaikan salamku untuk Byul dan jangan biarkan dia melakukan apapun untuk membuatnya semakin merasa tidak baik.”

“Aku tidak mungkin melakukan hal itu.”

Sambungan telepon pun terputus. Kyuhyun melirik Byul, yang sepertinya sama sekali tidak ingin menunjukkan wajahnya.

“Hei.” panggilnya menggoyangkan pelan tubuh gadis itu.

Byul bergeming.

Sepertinya Kyuhyun tahu penyebab Byul-nya seperti ini. Jadi ia menyeringai jahat dan menarik selimut itu dan membuangnya ke segala arah.

“Pergilah bekerja.” lirih gadis itu meringkuk seperti bayi. Kedua tangannya disilangkan ke leher dan ia memejamkan mata erat. “Ayah membutuhkanmu.”

“Kau tidak dengar apa yang ayah katakan, hmm?” laki-laki itu segera berbaring di samping Byul yang memunggunginya, lantas memeluk gadis itu dari belakang. “Katanya aku disuruh merawat menantunya sampai sembuh.”

Pipi Byul praktis merona. Ia menutup wajahnya dengan bantal.

“Aku tahu kau marah padaku bukan karena Ayah.”  Kyuhyun sedikit mengangkat tubuhnya sehingga ia bisa melihat setengah wajah gadis itu. Ia menyingkirkan bantal yang menutupi wajah cantik gadisnya dan mengecup lama pipi Byul. “Maafkan aku.”

Gadis itu menghembuskan napas dengan sangat perlahan.

“Padahal kupikir itu lucu, kau tahu?” lanjut Kyuhyun seraya memutar tubuh gadis itu, tanpa rasa bersalah mengatakan hal tadi. Kini mereka saling berhadapan.

“Awas saja kalau kau sakit.” lirih Byul kesal. “Aku tidak akan merawatmu.”

Yaa.” Laki-laki itu menarik dagu Byul, membuat mereka saling bertatapan. “Nanti siapa yang akan merawatku? Aku tidak mungkin memanggil ibuku, ibumu, atau Ahra noona kan?”

Byul menepis tangan Kyuhyun di dagunya.

“Atau apakah aku harus meminta Min So Eun merawatku?” cetus Kyuhyun sembarangan.

Satu nama itu mampu membuat ekspresi wajah Shin Ha Byul berubah kaku. Ia kembali memunggungi Kyuhyun. Kali ini benar-benar marah dengan ucapan laki-laki itu.

Sebenarnya, Kyuhyun sedikit merasa bersalah karena membuat gadisnya kesal di saat seperti ini. Namun dengan hal ini, kesempatannya untuk bermanja-manja dengan gadis kesayangannya semakin luas.

“Byul-ah? Kau marah?”

Byul diam.

“Sayang?”

Gadis itu tetap tidak menjawab.

Baby?”

Tidak ada suara yang keluar dari mulut gadis itu.

Honey?”

Hening.

Sweetheart?”

Masih taka da reaksi.

Darling?”

“Diamlah!” pekik gadis itu sebal.

Kyuhyun tertawa, mengubah posisi tidurnya sehingga kini ia dan gadisnya kembali berhadapan. Byul memutar bola mata jengah dan melirik sekelilingnya asalkan matanya tidak bertemu mata Kyuhyun.

“Kau seperti para penyihir yang langsung ketakutan mendengar nama Voldemort, tahu?”

“Aku tidak ketakutan.” Gadis itu menghembuskan napas keras. “Dan asal kau tahu, Voldemort masih jauh lebih manusiawi dari jalang itu.”

Kyuhyun memasang wajah yang tampak sangat kaget yang menjengkelkan. “Aigoo.. kau juga membaca Harry Potter? Sejak kapan?” tanyanya ingin tahu dengan bercanda, sebenarnya.

Byul menatap Kyuhyun. “Kalau kau mau tahu, seleraku dalam memilih novel membuat gadis secerdas Hwang Min Jung berani meninggalkan novel-novel romance yang menjijikkan.” katanya dengan nada terhina.

Laki-laki itu tampak diam sejenak, pura-pura berpikir, meski sebenarnya ia sudah tahu tentang hal itu. Ia mengangkat bahu tidak peduli, masih ingin bercanda dengan gadisnya. “Hei, ada apa denganmu?” katanya riang. “Kalau mereka tahu kau menjadi seperti ini hanya karena jalang itu, aku yakin mereka pasti akan menertawakanmu!”

“Kalau begitu, kenapa kau tidak bergabung dan ikut tertawa bersama?” Byul menyerangnya dengan judes. “Pasti menyenangkan.” sindirnya.

Barulah pada saat itu Cho Kyu Hyun sadar bahwa Byul benar-benar marah.

Laki-laki itu menggenggam tangan Byul, berusaha mendapatkan kontak mata dengan gadis itu. “Aku minta maaf.” ucapnya tulus. “Aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu dan ―”

“Pergilah bersama jalang mu itu.” potong Byul ketus. “Aku tidak membutuhkanmu di sini.”

Laki-laki itu memasang tatapan memohon. “Ayolah.. aku hanya bercanda soal itu.. kau tahu kan aku sangat benci padanya? Mana mungkin aku kembali menemuinya setelah apa yang dilakukannya terhadap kita?”

Byul tetap tidak mau menjawabnya.

“Dan soal menertawakanmu.. itu..”

Gadis itu memberikan tatapan mencela padanya.

Kyuhyun menghela napas. Siapa sangka gadis berhati batu ini bisa berubah menjadi gadis yang super duper sensitif?

“Byul-ah..”

“Jangan menyebut namanya di depanku lagi.”

Laki-laki itu menautkan alis. “Apa?”

“Jangan menyebut nama para mantan picisanmu di depanku lagi.” ulang Byul dengan beberapa tambahan. “Aku tidak keberatan ditertawai di depan umum, tapi aku akan membunuhmu kalau kau berani menyebut nama itu lagi.”

Kyuhyun tersenyum geli.

Sejauh ia mengenal Byul, ia tidak pernah melihat gadis itu menampakkan ekspresi cemburu. Gadis itu benar-benar tidak mempedulikan apapun, jadi ia sama sekali tidak mempedulikan jika Kyuhyun sedang bersama para mantan kekasihnya dulu. Tapi sekarang? Lihatlah! Hanya dengan satu nama itu bisa membuat Byul seperti ini.

Sepertinya demam bisa sedikit mengubah kepribadian.

“Baiklah.” ia mengangguk. “Aku tidak akan menyebut nama gadis-gadis itu di depanmu. Atau bahkan berpikir untuk menyebut nama gadis-gadis sialan itu. Aku berjanji.”

Byul tersenyum kecil.

“Jadi, apa kau masih marah padaku?”

Gadis itu menggeleng.

Ohh.. kemarilah, Sayang..” gumam Kyuhyun manja dan menarik gadisnya dalam pelukan. “Cepatlah sembuh agar aku bisa mencium-ciummu..”

Byul mendengus di pelukan laki-laki itu. “Kau sudah sering melakukannya..” ia berhenti sejenak dan melanjutkan. “.. di kepala, kening, pipi, dan bibirku.”

“Tapi hanya kecupan kan? Apa itu bisa disebut sebuah ciuman?”

Byul membenamkan wajahnya lebih dalam di tubuh pria nya.

Kyuhyun tertawa. Ia menjauhkan sedikit badannya dan menangkup wajah gadis itu. “Aku tidak mungkin menciummu seperti biasanya di saat kau sakit seperti ini. Aku tidak sebodoh itu.”

Byul memilih untuk tidak berkomentar dan menutup mulutnya karena ia baru saja batuk dan bersih yang berderak-derak.

“Kau belum sarapan kan?”

Byul mengangguk.

“Mau omurice?”

Gadis itu mengiyakan.

☆☆☆

“Tiga puluh delapan derajat.”

Cho Kyu Hyun meletakkan termometer di meja seraya tersenyum lebar. Ia mengalihkan pandangannya dari benda itu ke gadis kesayangannya. Byul duduk di hadapannya dengan berbalut selimut tebal.

“Kau akan sembuh dalam beberapa hari.” laki-laki itu menyimpulkan. Ia meletakkan sebuah mangkuk makanan di pangkuannya, mulai menyuapi gadisnya.

“Aku tidak pernah tahu kalau bibimbap akan seenak ini.” komentar Byul setelah menelan makanan. Ia membuka mulutnya lebar, meminta Kyuhyun menyuapinya lagi.

Sementara laki-laki itu hanya menuruti Byul. Melihat gadis itu sudah tidak selemah beberapa hari belakangan membuatnya senang. Selera makan Byul juga lumayan bagus. Biasanya jika gadis itu tidak menghabiskan makanannya, Kyuhyun-lah yang akan menghabiskannya. Tapi hari ini, ia semakin merasa bahagia karena Byul akhirnya menghabiskan seluruh makanannya.

Gadis itu menegak habis airnya seusai makan. Ia bangun dari tempat tidur tanpa melepas selimutnya. Kyuhyun mengernyit heran.

“Kau mau ke mana?”

“Menonton televisi.” Byul membalas tanpa menoleh. “Aku bosan setengah mati karena yang bisa kulakukan beberapa hari belakangan ini hanya tidur dan bermain ponsel karena setiap kali aku berdiri aku selalu merasa pusing.”

Kyuhyun memilih untuk tidak menanggapi pernyataan itu. Selain karena ia terlalu bahagia karena akhirnya Byul tidak lagi merasa pusing seperti yang diakui gadis itu, Byul juga akhirnya bisa berbicara lancar setelah sebelumnya hanya untuk mengeluarkan satu kata saja sepertinya membutuhkan tenaga lebih.

Jadi ketika ia keluar kamar, ia mendapati Shin Ha Byul tengah menonton seraya membungkus dirinya sendiri dengan selimut. Ia menyerahkan sebuah kantung plastik berisi obat-obatan pada gadis itu.

Byul meminum obatnya tanpa disuruh.

Ini benar-benar kemajuan yang sangat besar.

Kyuhyun mengambil tempat di sisi gadis itu, menyibak selimut, dan memeluknya dengan erat. Kini tubuh mereka berdua berbalut selimut tebal itu.

“Apa?” Byul bertanya.

“Melihatmu seperti ini membuatku senang.” aku Kyuhyun menopang dagu di bahu gadis itu. “Tidak ada batuk, bersin, suara serak, keluhan minum obat, makanan sisa, pusing, dan lemas. Kau benar-benar akan sembuh.” ia mengecup sayang pipi gadis itu.

Sementara Byul bersemu membayangkan bahwa prianya ini hanya bisa terlihat bahagia ketika dirinya kembali ceria dan semangat.

Byul melihat ponselnya di meja bergetar. Ia hendak mengambilnya, namun ternyata Kyuhyun jauh lebih cepat darinya.

“Apa maumu, Choi?” Kyuhyun menjawab tanpa salam. Gadis itu terkikik geli.

“Dimana Byul-mu? Kuharap dia tidak lupa kalau dia adalah seorang pengacara karena sudah hampir seminggu dia tidak ke kantor. Dan berhentilah memanggilku Choi. Kau tidak ada bedanya dengan gadis mu.”

“Byul-ku sakit dan untuk sementara ini dia tidak akan masuk ke kantormu tanpa izin dariku. Jadi, batalkan saja tiap ada klien yang ingin meminta bantuan dari gadisku.”

Untuk sesaat si penelepon tidak memberikan jawaban apa-apa.

Byul mencondongkan wajah di telepon. “Aku akan ke kantor besok atau lusa, Choi. Tidak usah merindukan aku. Apa aku mendapat klien baru?”

“Memang tidak, tapi setidaknya kau tidak boleh membolos kan?”

“Gadisku sakit dan dia tidak membolos!” sambar Kyuhyun.

“Oh aku sedang tidak ingin bertengkar denganmu, tuan Cho!”

Kyuhyun dan Byul tertawa. Kalian tidak lupa kan kalau Kyuhyun ‘sedikit’ cemburu dengan sekretaris Byul hanya karena kepeduliannya yang ‘sedikit’ melebihi Kyuhyun? Karena itulah laki-laki ini gemar memancing emosi sekretaris itu.

“Jadi, pengacara Shin. Kembalilah segera sebelum aku sendiri yang menjemputmu.”

“Bagaimana jika aku tidak mengizinkan?”

Sambungan telepon langsung terputus. Tentu saja si penelepon yang melakukannya.

Ya.” tegur Byul ketika Kyuhyun menaruh kembali ponsel di meja. “Kau sebaiknya tidak mengganggunya lagi. Kasihan dia, kau tahu?”

“Peduli apa aku tentangnya kalau yang harus kupedulikan hanya kau?” sahut laki-laki itu sewot.

Gadis itu menghela napas, menikmati acara televisi dengan tubuh terbungkus Kyuhyun dan selimut.

Laki-laki itu kembali merebahkan kepala di bahu Byul-nya, matanya memandang televisi. Tapi satu tangannya mengeratkan rangkulan di pinggang Byul, sementara tangannya yang lain ― entah mengapa ― berada di bibir gadis itu. Ibu jarinya yang bebas berkali-kali memainkan bibir Byul.

Gadis itu membiarkannya, menyadari dengan pasrah bahwa sejak ia sakit sampai sekarang, Kyuhyun belum bisa mengulum bibirnya dengan agresif. Laki-laki itu tidak bodoh untuk mengetahui bahwa flu bisa ditularkan lewat ciuman, jadi sebisa mungkin selama ini ia menahan diri, dengan mengecup-ngecup kilat bibir Byul, atau membiarkan jemarinya menyentuh bibir Byul dengan leluasa.

“Cepatlah sembuh, Byul-ah..” Kyuhyun tiba-tiba merengek. “Apa kau tidak kasihan padaku?”

“Kurasa kau sangat senang karena dengan begini kau tidak perlu ke kantor.” Byul memutar bola matanya.

Eish..” Kyuhyun makin mengeratkan pelukannya. “Bagaimana kau akan hidup kalau aku tidak bekerja?”

“Bukannya kau sendiri yang bilang kalau kau tidak akan jatuh miskin hanya karena kau tidak bekerja?”

Kyuhyun menyibak selimut dan melepas pelukan, tidak segan untuk menjitak keras kepala Byul. Dan ketika gadis itu berteriak kesakitan, barulah Kyuhyun menyadari apa yang sudah dilakukannya.

Laki-laki itu menaikkan sebelah alis. “Acting-mu sangat jelek. Berhentilah. Itu menjijikkan.”

Gadis itu memasang wajah cemberut, menonton televisi tanpa mempedulikan Kyuhyun yang sudah memeluknya lagi.

☆☆☆

“Cepatlah, Byul-ah! Kau dan aku akan terlambat!”

Byul keluar rumah dengan santai, bahkan langkahnya cenderung dilambat-lambatkan hanya untuk membuat Kyuhyun kesal. Gadis itu sudah sehat setelah Kyuhyun memastikan suhu tubuhnya normal kemarin. Jadi hari ini, Byul diizinkan bekerja dan mereka akan berangkat bersama.

Biasanya mereka akan berangkat terpisah, mengingat jam terbang mereka berbeda. Byul jauh lebih santai, maka dari itu ia bisa berangkat ke kantor sedikit lebih lambat dari Kyuhyun. Malah terkadang gadis itu lebih sering meminta sang sekretaris menjemputnya.

Tapi kali ini, karena Kyuhyun tidak mau Byul melakukan hal bodoh seperti waktu itu, terhitung sejak hari ini, Kyuhyun akan mengantar Byul ke kantor dan menjemputnya juga.

“Apa yang kau lakukan? Kenapa lama sekali?”

Gadis itu langsung diserbu begitu ia masuk ke mobil dan menutup pintu. Laki-laki itu menyalankan mesin, dan mereka berangkat.

“Kau pemilik perusahaan. Aku pengacara. Kita tidak akan dimarahi hanya karena kita terlambat. Lagipula Choi akan mengerti kenapa aku terlambat. Begitu juga ayah.”

Laki-laki itu memukul sisi kepala Byul sembari terus menyetir.

Mereka telah sampai di depan kantor Byul.

Gadis itu keluar dari mobil. Kyuhyun sudah berdiri di depannya.

“Apa?” Byul bertanya.

Laki-laki itu hanya memperhatikan Byul. Ia merapikan sedikit rambut coklat panjang gadis itu, lalu meletakkan tangan di kedua bahu gadis itu. “Bagus. Kau sudah rapi.”

Gadis itu terkekeh. “Kau seperti ibuku saat aku pertama kali masuk sekolah.”

“Jadi, nyonya Cho,” laki-laki itu mengabaikan gadisnya. “Telepon aku kalau Choi sudah mengizinkanmu pulang. Aku sudah bilang padanya untuk tidak membiarkanmu pulang sendirian. Awas saja kalau kau berani membantahku. Malammu tidak akan pernah selamat.”

Sebagai sentuhan akhir, Kyuhyun mengulum bibir itu, benar-benar melampiaskan segalanya setelah sekian lama tidak menyesap benda favoritnya itu.

Byul membuka mata ketika laki-laki itu sudah menyelesaikan kegiatannya. Sepertinya ia mulai terbiasa, sehingga kakinya tidak selemas saat pertama kali Kyuhyun menciumnya seperti ini.

Aigoo..” Kyuhyun menatap bibir Byul yang sudah berubah kemerahan. “Tidakkah kau tahu kalau setiap kali aku melihatmu kau selalu membuatku bergairah?”

Byul meninju dengan keras perut Kyuhyun.

Laki-laki itu tertawa, mencium kilat bibir itu sekali. “Pergilah. Choi akan mengamuk kalau tahu kau tertahan disini karena aku.”

Byul mengangguk, dan menaiki tangga masuk ke kantor. Kyuhyun baru akan pergi jika gadisnya lenyap dari pandangan. Tetapi, pada anak tangga kelima Byul berhenti. Gadis itu berputar, dan turun, lalu berdiri di depan Kyuhyun. Gadis itu menangkup pipi laki-laki itu ragu. Sepersekian detik kemudian, bibir Byul sudah beradu dengan bibir Kyuhyun.

Gadis itu menjauhkan wajah, merasakan pipinya yang memanas, mengingat ini pertama kalinya ia menicum Kyuhyun lebih dulu. Ia mengamati bahwa laki-laki di depannya tampak termangu, juga dengan alasan yang sama. Mendadak suasana tampak canggung.

“Terima kasih,” Byul menghancurkan kecanggungan itu dengan memeluk Kyuhyun tiga detik. “karena sudah merawatku.”

Dan kali ini gadis itu benar-benar pergi, lenyap dari pandangan Kyuhyun. Namun, laki-laki itu masih berdiri di tempatnya, berdiri mematung, seperti remaja bodoh yang baru saja mendapat ciuman pertamanya.

Laki-laki bermarga Cho itu mengerjap, masih mencerna fakta bahwa baru beberapa detik lalu, Shin Ha Byul, untuk pertama kali, menciumnya duluan.

Ia menyeringai.

“Akan kubalas kau saat pulang nanti, di mobil.”

v

End

 v

WAHAHAHAA mungkin ide cerita seperti ini udah mainstream 🙂 entah kenapa kebayang aja pengen nulis waktu akunya lagi flu berat juga WQWQ

Jadi gimana?

Aku juga bakal ngebikin lanjutannya A ‘Good’ Bye, jadi bagi yang nungguin mesti baca A ‘Good’ Bye :3 #maksa ada yang tau ceritanya? :v

Bagi yang nunggu sekuel LTH mohon bersabar yak :v

Advertisements

6 thoughts on “Everything Has Changed (After Story)

  1. ini emang khusus byul sama kyu. nggak ada geng yg lain 😂
    ini ceritanya pasangan aneh ini udah nikah ya. kenapa kyuhyun bilang kekasih ? haha yang penting pasangan ini bahagia. favorit banget soalnya. apalagi karakter byul nya wkwk
    ditunggu karya yg daebak lainnya thor 😂

    Liked by 1 person

    • Itu emang disengaja sih. Aku ngasih taunya tersirat aja kalo mereka udah nikah. Dan soal kekasih, aku cuma mikir kalo Byul dipanggil istri ketuaan dan ga cocok sama image nya dia soalnya HAHAHA

      Like

      • ooh begitu wkwk. byul siap nggak siap harus nya udah dipanggil istri thor. udah gede pun. haha😂
        ini adakah sequel nya ? byul hamil gitu wkwk 😂😂
        di tunggu karya lainnya thor

        Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s