All Around Us 5

all-around-us

PosterBySifxo@ArtFantasy1

#5 : Myth and fact

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | … |

***

HANYA ada dua subfolder di dalam folder bernama Video ini. Sudah Diunggah dan Belum Diunggah. Donghae tentu saja membuka subfolder Belum Diunggah, karena sebenarnya ia sudah menonton semua video adiknya. Di dalam subfolder itu terdapat banyak sekali video yang dinamai persis sehingga Lee Dong Hae bisa tahu isinya.

Jika Donghae menyukai fotografi, maka sang adik menyukai videografi. Gadis itu sudah menggeluti bidang ini sejak sekolah menengah. Ia suka sekali mendokumentasikan banyak hal dengan video, sehingga mendorongnya menjadi seorang videographer, begitulah Joohae menyebut dirinya. Ia punya channel sendiri, yang berisi kehidupan kuliahnya, tutorial belajar bahasa (gadis itu menguasai beberapa bahasa dunia), tips-tips beberapa hal (seperti menghadapi wawancara, berbicara di depan umum, mengatasi demam panggung), pengalaman-pengalaman gadis itu (dua kali kuliah di luar negeri membuatnya mengalami banyak hal berharga dan konyol), opini-opini gadis itu (tentang isu-isu politik, kejadian yang sedang mendunia, dan tokoh-tokoh penting), video cover iseng (sebenarnya Joohae sedikit bisa bermain alat musik dan bernyanyi), dan aktivitasnya. Ia membuat videonya dengan menarik sekali, sehingga gadis itu memiliki banyak subscriber dari berbagai kalangan.

Donghae membuka video berjudul Tanya dan Jawab tentang Aku.

Hati Donghae terenyuh begitu wajah adiknya yang tengah memperbaiki posisi kamera terpampang di layar. Rupanya Joohae mengedit ini sehingga tampak seperti sebuah wawancara. Pertanyaan akan muncul di layar dengan latar belakang hitam dan warna huruf putih, setelahnya akan muncul wajah Joohae yang menjawab pertanyaan itu.

Gadis itu menyapa dengan riang sambil melambai dengan kedua tangannya.

“Hai! Selamat berjumpa kembali! Aku heran kenapa kalian masih membuang-buang waktu kalian di depan layar laptop dan ponsel kalian hanya untuk menonton seluruh videoku! Tapi tidak apa! Aku senang memiliki banyak penonton!”

Joohae mengatupkan bibirnya, tampak berpikir.

“Aku tidak tahu kenapa aku harus menjabarkan diriku di videoku sendiri, tapi entah mengapa aku merasa sangat keren saat melakukannya, hehe.”

Donghae mendengus. “Apa-apaan itu?”

Di layar muncul satu per satu huruf dengan backsound keyboard membentuk kata “Nama?”

Joohae membuka sebuah kertas yang tertulis namanya dalam hangeul dan dalam huruf alfabet biasa.

“Tempat dan tanggal lahir?”

“Mokpo, 15 Oktober 1991.”

“Golongan darah?”

“B.”

“Berat badan? Tinggi badan?”

“168 cm, 48 kg.”

“Pendidikan?”

Ada beberapa bangunan sekolah dan universitas yang ditampilkan. “Aku murid akselerasi, waktu seakan cepat berlalu saat aku di sekolah, jadi saat aku pindah ke Seoul, tahu-tahu aku sudah bersekolah di Hannyoung, mendapat strata ganda dari SNU dan Cambridge, magister di TU München, dan nyaris mendapatkan doktor di Tokyo Tech kalau saja aku tidak sakit.”

“Genre musik?”

“Klasik, R&B, pop. Aku tidak terlalu suka musik ballad.”

“Artis?”

Layar menampilkan foto beberapa artis. “Coldplay, Linkin Park, Ed Sheeran, twenty one pilots, Imagine Dragon.”

“Aktor dan aktris?”

Muncul foto beberapa orang. “Semua yang memerankan film Harry Potter.”

“Buku?”

Sebuah foto rak buku dengan banyak judul buku ditampilkan. “Harry Potter dan semua genre buku kecuali yang dilarang Donghae oppa.”

“Film?”

Joohae menyajikan beberapa poster film. “Harry Potter dan kartun.”

“Olahraga?”

“Catur.”

“Aktivitas di waktu senggang?”

“Membaca, menonton, videografi, mengganggu Super Junior oppa.”

“Bagaimana menurutmu kepribadianmu?”

“Entahlah. Tapi aku selalu bisa menyesuaikan dengan kepribadian orang.” Joohae mengangkat bahu. Well, bukankah aku sudah bilang aku tidak tahu kenapa aku membuat video seperti ini? Jadi, maafkan aku! Dan sampai jumpa!”

Dan video berakhir.

Donghae kembali melihat-lihat. Matanya menangkap video berjudul Tanya dan Jawab tentang Super Junior. Ia membukanya.

Layar menunjukkan bahwa Joohae sedang duduk di kursi meja belajarnya, sambil duduk bersila dan bersedekap. Ia mengenakan kemeja fullprint bergambar Mickey Mouse. Rambutnya digerai. Ia berkata sambil melambaikan tangan.

“Halo! Selamat datang kembali! Kuharap semua hal baik terjadi pada kalian saat kalian memutuskan untuk menonton videoku. Aku kaget saat ada komentar yang masuk ke SNSku yang memintaku berbicara tentang Super Junior. Bukan gagasan yang buruk sebenarnya, mengingat selama ini aku beberapa kali mengunggah aktivitasku bersama mereka. Well, sebenarnya mereka yang memaksaku mengunggah setiap videoku dengan mereka.— Super Junior oppa, maafkan aku! Aku mencintai kalian! — Karena itu, aku akan menjawab pertanyaan yang secara tidak langsung sudah diajukan kepadaku. Maaf bila ada yang tidak terjawab, aku punya ingatan yang buruk kalau kau ingin tahu. Dan perlu aku ingatkan, semua yang aku katakan adalah benar, dan jika terselip hinaan atau semacamnya, percayalah, aku hanya bercanda.”

Di samping kanan Joohae, tertera beberapa baris kalimat yang menunjukkan pertanyaan. “Apa yang kau pikirkan saat kau mendengar kata Super Junior?”

“Kau mau aku menjawab dengan jujur?” Joohae mengangkat bahu. “Bagaimana kalau, grup yang berisi para pria yang selalu memperlakukan aku dengan tidak berperikemanusiaan?”

Joohae tertawa. “Well, selanjutnya. Apa kau penggemar mereka?”

Gadis itu menggeleng. “Tidak, tidak. Aku memang bukan penggemar mereka tapi aku mendengar lagu-lagu mereka dan menonton konser mereka.”

“Apa kau dekat dengan para member?”

“Tentu. Kau mau aku menjabarkan hal buruk yang mereka semua lakukan padaku?”

“Bagaimana rasanya menjadi tetangga mereka? Apa mereka mengusik hidupmu?”

Joohae membelalak. “Siapapun yang mengajukan pertanyaan ini, aku berterima kasih padamu karena kau begitu pengertian. Ya, mereka tetangga yang menyebalkan. Mereka menjadikan apartemenku seperti kandang hewan.”

“Pasti menyenangkan bisa akrab dengan mereka ‘kan?”

Joohae terlihat mengulum senyum, lalu menggedikkan bahu. “Ya, dan tidak. Ya karena jika aku lelah aku bisa meminta mereka memasak makanan untukku, tidak karena mereka tidak pernah menganggap aku seorang gadis yang usianya jauh lebih muda dari mereka semua.”

“Siapa member Super Junior favoritmu?”

Gadis itu terkekeh. “Kalian pasti bisa menebaknya.”

“Apa ada member yang kau benci?”

“Tidak. Sekejam apapun mereka padaku.”

“Jika Donghae menyetujui, apa kau mau berpacaran dengan salah satu dari mereka?”

Donghae terbahak. Begitu juga dengan Joohae di video itu.

“Bahkan untuk gadis yang memiliki selera kebarat-baratan sepertiku, aku harus mengakui mereka semua tampan. Tapi jika aku disuruh memilih siapa untuk menjadi pacarku, maaf dan terima kasih, aku lebih baik menikah dengan batu.”

“Bagaimana perasaanmu saat Donghae memperkenalkanmu sebagai adiknya setelah selama ini mereka mengira dirinya anak tunggal?”

Donghae terpaku. Di layar, Joohae terlihat sedikit kaget, kemudian menetralkan ekspresinya.

Gadis itu lantas tersenyum ke arah kamera, menarik napas panjang, mempersiapkan untuk meruntuhkan bendungan.

“Sudah kuduga. Saat ada yang memintaku bicara tentang Super Junior, hal pertama yang aku pikirkan adalah ini. Dan benar saja. Sebagian besar mempertanyakan tema ini. Dan disini, aku akan bicara menurut versiku. Perlu kuingatkan, aku tidak peduli apa kalian akan mempercayaiku atau tidak, karena tidak ada kebohongan atas semua yang aku katakan.

Perasaanku saat Donghae oppa memperkenalkan aku sebagai adiknya? Well, tentu saja aku senang. Apalagi yang harus kukatakan?

Dan kenapa aku baru muncul saat semua orang mengira Lee Dong Hae anak tunggal?

Itu sangat sederhana. Ada yang terjadi di antara diriku dan Donghae oppa.

Ketika kematian orangtuaku beberapa tahun silam, aku menyalahkan diriku sendiri atas kecelakaan yang terjadi pada mereka, padahal kematian mereka murni karena kecelakaan. Aku menyembunyikan diri dari Donghae oppa, takut dia akan marah padaku. Aku tidak menampakkan diri saat pemakaman, atau saat semua orang mengucapkan bela sungkawa pada kakakku. Aku pergi, melarikan diri, dengan pikiran bahwa akulah yang membunuh orangtuaku. Saat Donghae oppa mulai terkenal, aku juga tidak menampakkan diri. Aku terus saja melarikan diri darinya dengan perasaan bersalah, sampai aku mendapat beasiswa untuk berkuliah di SNU. Kehidupan kuliahku sudah cukup membuatku sangat sibuk, salah satu cara menghindar yang sangat bagus. Dua tahun berkuliah di SNU, aku mengajukan beasiswa ke seluruh universitas di Eropa, dan aku mendapatkan Cambridge, Inggris. Donghae oppa tidak tahu adiknya bersekolah di luar negeri, bahkan dia tidak tahu bahwa setiap kali dia melewati SNU, ada adiknya sedang menuntut ilmu di sana. Kupikir aku sudah bebas karena aku akan tinggal di Inggris, tapi aku salah besar. Aku harus kembali ke Korea, karena beasiswa yang terikat padaku. Akhirnya aku hidup dalam pelarian lagi, masih bersembunyi darinya. Sampai aku bertemu dengan temannya, yang mengatakan bahwa sejak Donghae oppa mulai terkenal dia selalu mencariku tanpa sedikitpun diketahui oleh media. Seluruh anggota Super Junior juga membantunya untuk mencariku. Mereka akhirnya tahu aku bersekolah di SNU dan Cambridge, dan tahu aku menjadi salah satu insinyur di cabang perusahaan minyak milik luar negeri di Seoul. Lalu aku diajak bertemu Donghae oppa oleh salah satu kenalan mereka, setidaknya itu yang dia katakan. Aku takut sekali, walaupun aku sudah tahu semua usahanya untuk menemukan aku. Aku bahkan gemetaran saat bicara padanya. Tapi tidak dengannya. Dia menatapku dengan haru dan sarat akan kerinduan. Hal pertama yang dia lakukan saat aku muncul di hadapannya setelah sekian lama adalah, dia memelukku sambil menangis. Aku juga menangis, menyadari dengan bodoh bahwa selama ini aku bertindak sebagai pengecut.”

Gadis itu terlihat mengerjapkan matanya berkali-kali.

“Kenapa Donghae oppa tidak menyiarkan berita bahwa adiknya menghilang bertahun-tahun?

Well, dia hanya tidak mau membuat skandal yang melibatkan aku. Bahkan kemunculanku saja sudah membuat dirinya dan aku dikira pembohong. Lagipula itu cukup aneh. Lee Dong Hae, seorang anggota boygrup terkenal memiliki seorang adik yang berada dalam pelarian dan bersembunyi darinya. Bukankah netizen sudah cukup puas mencecar kakakku habis-habisan hanya dengan itu?

Dan akhirnya Donghae oppa memberikan banyak klarifikasi, memberikan banyak bukti yang menunjukkan bahwa dia memiliki seorang adik bernama Lee Joo Hae.

Sejauh ini, aku memang tidak terlalu mempermasalahkan siapapun yang mengataiku penipu dan pembohong. Toh, aku tidak merasa seperti itu dan Donghae oppa sudah menyampaikan kebenarannya.”

Joohae terlihat membersihkan tenggorokannya, kemudian tersenyum ke arah kamera. “Well, sebenarnya hanya sedikit pertanyaan untukku. Karena sebagian besar mempertanyakan keabsahan hubunganku dengan Donghae oppa. Dan semoga saja aku sudah menjawab semuanya. Terima kasih sudah menonton videoku, dan jangan lupa tonton videoku yang lain dan SNSku. Sampai jumpa!”

Video pun berakhir.

Donghae menghembuskan napas ― ia baru sadar sedari tadi ia menahan napas. Terutama sejak bagian pertanyaan yang berkaitan dengan keduanya. Dari videonya, ia bisa melihat sepertinya gadis itu ingin mengunggahnya, tetapi tidak sempat.

Ia menggeleng tidak percaya. Joohae membuat dirinya seakan yang paling bersalah dalam masalah ini, padahal dirinyalah yang lebih patut disalahkan. Ia menuduh adiknya yang telah membunuh kedua orangnya. Ia yang membuat adiknya dibenci oleh seluruh keluarganya, baik dari pihak ayah maupun ibu. Ia yang tidak mau mengakui bahwa ia memiliki seorang adik yang sudah membunuh kedua orangtuanya, sementara gadis itu hidup menderita karena dirinya. Ia yang menanamkan semua gagasan bodoh itu di dalam dirinya, sementara di video ini, gadis itu berbohong untuk melindunginya.

Mengapa Lee Joo Hae bisa menjadi begitu mulia setelah dia disakiti separah itu? Mengapa Lee Dong Hae bisa-bisanya membuat gadis yang ia sayangi merasakan sakit separah itu?

Bila ia mengingat betapa kejam dirinya pada Joohae, ia kembali ingin menangis dan terus meminta maaf pada gadis itu.

Mengingat ia selalu melarang sang adik bicara tentang hal ini, haruskan ia mengunggah video ini?

Jika dilihat dari cara Joohae membuatnya, maka itu berarti ya.

Ia sudah tersambung ke internet, masuk ke akun Joohae, membuka channel video gadis itu, kembali ke folder Belum Diunggah dan mencari video yang baru saja ditontonnya.

Tapi ia mengurungkan niatnya karena ia menangkap sebuah video berjudul Aku dan Apa yang Terjadi Padaku.

Donghae membukanya.

Dalam video itu, seperti biasa, Joohae duduk di bangku meja belajarnya. Rambutnya diikat asal-asalan. Gadis itu tampak lebih kurus. Kaus hitam longgar yang dikenakan gadis itu benar-benar menunjukkan betapa kurusnya dia. Berdasarkan tanggalnya, video ini dibuat sebelum gadis itu masuk ke rumah sakit untuk terakhir kalinya. Tapi wajah gadis itu tetap secerah matahari, seakan penyakit itu hanya menyerang tubuhnya dan bukan wajahnya.

Terlebih ketika ia menampilkan senyum terbaiknya.

“Senang berjumpa lagi dengan kalian. Kuharap kalian semua sehat. Kali ini, aku hanya ingin berbagi pengalaman. Setelah sebelumnya aku berbagi pengalaman tentang pendidikanku, kali ini aku akan menceritakan tentang apa yang terjadi pada diriku. Kalian mungkin tidak akan menduganya.”

Layar menampilkan Joohae yang sedang menunjukkan beberapa dokumen yang tampak seperti surat keterangan dokter.

Gadis itu kembali menatap kamera, dengan senyum terbaiknya. “Aku sehat bila kau secara langsung melihatku dan bertemu denganku. Tapi sebenarnya, aku menyimpan banyak penyakit berbahaya di dalam tubuhku.”

Di layar, muncul beberapa gambar ilustrasi sebuah penyakit.

“Sejak masuk dunia perkuliahan, tepatnya saat aku berumur 16 tahun, aku sudah didiagnosa menderita hepatitis C. Tapi dokter bilang hepatitisku tidak kronis, jadi aku tidak mengatakan ini pada siapapun, bahkan sampai lupa kalau penyakit ini ada di dalam tubuhku. Aku mengidap penyakit ini karena pola hidupku yang berantakan dan stres ― jangan lupa, aku sudah hidup dalam pelarian sebelum usia ini ― dan aku juga pernah melakukan transfusi darah beberapa kali. Aku sudah menjalani beberapa tahap penyembuhan awal saat berada di London, dan berhasil. Atau yang kupikir berhasil. Karenai semakin lama, aku bukan merasa semakin sehat.”

Kemudian muncul lagi ilustrasi sebuah penyakit yang berbeda dari yang tadi.

“Lalu saat aku berada di Jerman untuk sekolah magister, aku punya penyakit baru lagi. Namanya bronchopneumonia. Ada semacam flek di paru-paruku, dan salah satu alasan kenapa aku mengidapnya karena aku hidup sebagai perokok pasif selama bertahun-tahun. Aku punya seorang teman Korea yang tinggal bersamaku di Jerman, jadi dia terus-terusan merawatku, bahkan meminta ibunya membuatkan ramuan tradisional untukku. Ibunya seorang apoteker, dan temanku sedang menempuh magister farmasi. Bukankah aku sangat beruntung bertemu dengannya?”

Ilustrasi penyakit kembali berganti.

“Dan ketika aku kembali ke Korea dengan semua penyakit itu, aku mulai merasa bahwa aku benar-benar sakit. Aku jadi gampang lelah. Beberapa bulan setelah kepulanganku dari Jerman, aku didiagnosa penyakit baru lagi. Aku menderita anemia hemolitik, suatu penyakit yang membuat umur sel darah merahku menjadi lebih pendek dari biasanya, sehingga sel darah merahku sudah mati padahal sumsum tulang belakangku belum menghasilkan sel darah merah baru. Penyakit ini satu dari banyak jenis autoimun, penyakit dimana sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melindungiku malah menyerangku. Tidak jauh berbeda dengan lupus.

Gambar-gambar penyakit itu hilang. Wajah Joohae muncul di kamera.

“Bila kalian ingin tahu, awlanya aku menyembunyikan semua ini dari semua orang yang kukenal, terlebih kakakku, agar dia tidak terlalu mengkhawatirkan aku. Tapi ketika dia tahu aku pernah pingsan enam kali dalam kurun waktu lima jam, dan pingsan di depannya, dia akhirnya tahu adiknya sakit-sakitan. Dan ngomong-ngomong, karena tidak pernah dirawat, hepatitisku sudah kronis sekarang.

Tapi yang membuatku ingin membunuh diriku sendiri, Donghae oppa bahkan tidak marah padaku karena aku menyembunyikan semua penyakitku. Dia hanya menyemangatiku, tanpa bertanya kenapa aku tidak pernah bilang kalau aku sakit.

Kemudian gadis itu menatap kamera lurus-lurus, seakan tengah berbicara langsung dengan seseorang. Matanya sedikit berkaca-kaca. Oppa, kalau oppa menonton video ini, aku mohon maafkan aku karena aku menyembunyikan semua penyakit ini dari oppa. Jangan khawatirkan aku. Teruslah bekerja keras. Aku akan sembuh total. Aku sayang oppa.”

Gadis itu menghela napas, kembali memasang senyum terbaiknya.

Disini aku hanya ingin bilang, sekecil apapun perasaan aneh yang kau rasakan tentang tubuhmu, sebaiknya periksakan dirimu ke dokter dan jangan pernah menyembunyikan penyakitmu kepada siapapun. Kita hidup di zaman penyakit bukan hal tabu lagi, dan salah satu cara melawannya adalah bukan dengan berdiam diri dan membiarkan orang-orang tahu apa yang terjadi pada kita. Itu tidak akan membuat penyakitmu sembuh, malah sebaiknya. Untuk alasan apapun, aku mohon jangan ada yang sepertiku di antara kita semua.

Sekarang aku sudah sembuh meski aku tidak boleh terlalu capek dan pola makanku benar-benar harus dikontrol. Aku harap aku bisa sembuh permanen dari penyakit ini.

Terima kasih sudah menonton video ini. Sekali lagi, jangan anggap remeh sebuah penyakit dan jaga kesehatanmu.”

Dengan kalimat itu, video ini berakhir.

☆☆☆

Restoran itu sederhana. Letaknya strategis dan dekat dengan perkantoran dan beberapa pusat perbelanjaan, sehingga restoran ini memiliki banyak pengunjung. Bila hanya dilihat dari luar, restoran ini tampak sangat biasa. Tapi jika kau berani melangkahkan kakimu untuk masuk ke dalamnya, kau tidak akan punya alasan untuk pergi karena kau sudah menemukan seluruh budaya dunia bersatu dalam restoran ini.

Desain bagian dalamnya tampak seperti perpaduan dari berbagai negara: kursi dan meja ala abad pertengahan Eropa, daftar hidangan dan pantri ala daerah Latin, dan hiasan-hiasan dinding ala Timur Tengah. Tapi, semua makanan yang dihidangkan di dalamnya adalah makanan Korea, mulai dari camilan sampai makanan berat.

Ulasan para kritikus tentang restoran ini sangat baik. Makanannya enak, restorannya bersih, pelayannya ramah, dan suasana di dalamnya tenang meski kadang bising dengan sahut-menyahut orang-orang bicara. Suara permainan piano menambah kesan damai di restoran ini.

Para pelanggan mereka dari kalangan usia, menikmati makanan di sini sendirian, berdua, bertiga, atau beramai-ramai. Restoran tidak pernah sepi, setidaknya saat jam lapar. Semakin malam, semakin sepi, tapi tidak sesepi kafe milik keluarga Yoo di Seodaemun. Mereka menikmati makanan, mengobrol, sesekali berhenti untuk menyimak instrumental yang dimainkan dengan piano.

Alat musik itu terletak di sudut ruangan dekat meja bar, tidak di tengah ruangan. Seorang pemuda menggerakkan jemarinya dengan lincah di atas tuts-tuts piano, membentuk serangkaian lagu yang membuat orang-orang ingin berdansa. Pemuda itu berpenampilan sederhana, hanya celana jeans dan jaket. Ia melirik sekilas kertas partitur di depannya, lalu memejamkan mata ikut menikmati alunan musiknya sendiri.

Pemuda itu mengakhiri permainan pianonya dengan spektakuler, sehingga semua pelanggan dan pelayan bertepuk tangan meriah ketika ia berdiri dan membungkuk pada mereka semua.

Seorang gadis menghampiri si pianis. Ia tampak beberapa tahun lebih tua.

“Permainan pianomu selalu bagus seperti biasanya.”

Yoo Seung Joon berdiri dan membungkuk hormat. “Terima kasih karena membiarkan aku bekerja di sini, noona.”

“Tidak, tidak.” Orang itu menggeleng-gelengkan kepala. “Aku yang terlalu bodoh karena baru menemukan orang sehebat dirimu.”

Joon tersenyum merendah.

“Kau belum makan ‘kan? Sini, sini.” Orang itu memanggilnya dengan isyarat tangan. “Kita memang harus mengobrol berdua.”

Joon agak segan diperlakukan seperti ini.

Beberapa menit kemudian, keduanya sudah duduk berhadapan, dengan dua porsi lengkap hidangan makan malam di depan mereka. Kafe sudah tutup. Jadi tidak ada pelanggan yang mengganggu. Tempat Joon bekerja bukan jenis kafe yang buka semalaman.

“Sudah hampir sebulan kau bekerja di sini, tapi inilah pertama kalinya kita punya kesempatan untuk mengobrol.”

Joon terkekeh. “Kenapa noona begitu ingin mengobrol denganku?”

Orang itu mengernyit. “Kenapa kau selalu memanggilku noona padahal kita seumuran? Apa aku terlihat setua itu?”

Joon membelalak. “Benarkah?”

“Panggil aku Chaewon, oke?”

Err..” Joon mengangguk kaku. “Baiklah, Chaewon-ssi..”

Gadis itu tersenyum. “Ayo, makan! Aku yakin kau pasti sangat lapar.”

Mereka makan dalam diam. Tanpa Joon sadari, dalam beberapa kali dalam semenit, Chaewon terus meliriknya diam-diam.

“Jadi,” Chaewon mulai bicara, di sela-sela kunyahannya. “Apa yang akan kau lakukan setelah ini?”

“Hm?” Joon memasukkan sesuap sayuran ke mulutnya. “Entahlah, mungkin aku akan langsung pulang ke rumah.”

“Mau ku antar?”

“Kau tidak tinggal disini?”

“Tentu saja tidak.” Chaewon mengayunkan tangannya. “Aku tinggal di apartemen di Mapo.”

Joon mengangguk-angguk.

“Dimana kau tinggal?”

“Seodaemun.”

“Itu bagus. Kita searah.”

“Tapi itu sungguh tidak perlu, kau tahu?” Joon berusaha menolak dengan sopan. “Aku bisa pulang sendiri.”

Chaewon tersenyum begitu manis. “Kenapa kau menolak tawaran seorang gadis yang ingin mengantarmu pulang? Apa kau sudah memiliki kekasih?” tanyanya. Meski nada suaranya terdengar ringan, gadis itu sedang berusaha untuk tidak penasaran.

Betapa leganya ia ketika mendengar jawaban Joon.

“Tentu saja tidak.”  Joon membalas. “Hanya saja..”

Chaewon masih tersenyum, melanjutkan makannya. Joon menghela napas. Sebenarnya ia bisa saja menerima tawaran Chaewon dengan senang hati. Tapi apa pendapat neneknya bila ia melihat Chaewon? Bagaimana ia menjelaskan kepada neneknya siapa sebenarnya Chaewon? Ia tidak mungkin berkata dengan gamblang bahwa Chaewon adalah bosnya kan? Jika dia berkata demikian, pertanyaan selanjutnya adalah dimana Joon bekerja dan sebagai apa dirinya kan?

“Yoo Seung Joon-ssi?” Chaewon mengangkat alis. “Kau baik-baik saja?”

Seakan ada yang menariknya dari mimpi, Joon menggeleng-gelengkan kepala dengan cepat. “Ya.” ia menjawab.

Gadis itu tersenyum lagi, berusaha untuk tidak terlihat kecewa. “Tidak apa kalau kau tidak ingin pulang denganku. Kau tidak perlu ragu untuk menolaknya.”

Laki-laki itu cepat-cepat menggeleng. “Tidak! Bukan begitu!” ucapnya. “Aku tentu saja mau pulang denganmu! Bukankah itu menyenangkan?”

Saking kagetnya akan jawaban Joon, Chaewon tersedak minumannya.

“Benarkah?” Chaewon memastikan, lupa menutup nada antusias yang ia lontarkan.

Joon mengangguk, tersenyum. Membuat Chaewon lupa dunia.

☆☆☆

Chan mendorong pintu kafe, tersenyum miris saat melihat tidak ada siapapun di sana. Kakek dan neneknya pasti sudah tidur, dan mereka sengaja membiarkan pintu ini tidak dikunci karena kedua cucunya belum pulang. Lagipula, siapa orang yang mau masuk dan mencuri disini? Mereka tidak punya barang berharga dan uang yang banyak.

Gadis itu memutuskan untuk menunggu Joon disini daripada di kamarnya. Ia menuju meja barista, menatap dengan senyum sedih melihat bubuk kopi yang dipajang di sana. Ia memperhatikan bungkusan itu, mengambil semuanya dan membuangnya ke tempat sampah karena semua itu sudah kadaluarsa. Ia duduk sambil menopang dagunya.

Hari ini ia menemani kedua temannya mengikuti audisi di Pledis. Agensi itu baru, jadi Chan tidak terlalu khawatir karena ia tidak punya kenalan di sana. Ia dengan senang hati menunggu Yeonji dan Bona tanpa perlu merasa dikenali. Tidak seperti saat ia menunggu mereka audisi di YG karena Chan dipenuhi perasaan waswas.

Sepulangnya mereka dari Pledis, tiga orang itu mampir sebentar di restoran cepat saji sambil terus saja membicarakan audisi yang mereka jalani.

“Aku cukup optimis Pledis akan menerima kita.” Ujar Bona mengunyah burger dengan semangat. “Entahlah dengan YG. Aku sedikit ragu.”

“Aku tidak bias memberikan pendapatku karena aku tidak ada disitu.” Chan berkata.

Ya, aku baru ingat sesuatu.” Yeonji berkata tiba-tiba. Ia menoleh pada temannya. “Bona-ya, kau ingat kan kau menungguku sementara aku ke toilet setelah audisi di YG?”

Gadis itu mengangguk-angguk.

Lalu Yeonji menoleh pada Chan. “Sekembalinya aku dari toilet, aku melihatmu sedang berbicara dengan salah satu juri audisi kami.”

Chan tampak terlihat biasa saja. “Kurasa kalian salah orang.”

“Tidak, sungguh.” Yeonji menegaskan. “Dan aku mengenali dengan baik postur tubuh seorang Teddy Park. Apa yang kau lakukan dengannya waktu itu?”

Chan menghela napas keras. Ia membuka laci kasir, merapikan uang yang tidak banyak sambil melamun. Ia tidak memungkiri bahwa salah satu dari kedua temannya memergokinya ketika Teddy Park menghampirinya di kafe YG saat itu. Chan tidak menjawab pertanyaan Yeonji, berusaha dengan keras membuat raut wajah seakan ia tidak pernah mengenal seorang Teddy Park. Ia beruntung Bona tidak terlalu mempermasalahkan itu karena menurut Bona seorang pegawai kantoran yang tidak terkenal seperti Chan tidak mungkin bisa terlihat begitu akrab dengan Teddy Park.

Tapi itu yang mereka tahu.

Setidaknya Chan ingin mengubur semua masa lalunya, meskipun ia ingin sekali ada sebagian dari masa lalunya itu akan menjadi masa depannya.

Lonceng pintu kafe berbunyi, menandakan ada seseorang yang baru saja melewati pintu.

Joon langsung menghampiri Chan. “Kenapa kau belum tidur?”

“Aku menunggumu.” balas gadis itu setengah melamun.

Yeah, sambil menghitung uang yang bahkan jumlahnya tidak sampai lima puluh ribu won.” gerutu laki-laki itu menutup laci kasir. “Ayo masuk!” ia menarik tangan Chan dan berdiri.

Chan hanya pasrah ditarik seperti itu sampai ia berhenti dan berdiri dengan defensif di dasar tangga.

“Apa?” Joon, yang sudah menaiki sekitar tiga anak tangga, menoleh, tanpa melepas tangan kembarannya.

Gadis itu malah menarik Joon turun satu anak tangga di atasnya, memeluk sang kakak dengan erat. Ia membenamkan wajah di dada orang itu.

“Chan-ah..”

Chan menggeleng, tidak ingin bicara.

Joon dian, tidak banyak menuntut, lantas membalas pelukan itu.

☆☆☆

Leeteuk duduk di sofa ruang tengah dorm sambil bermain ponsel, sesekali melirik ke pintu kalau-kalau pintu itu terbuka. Hari ini, ia memanggil semua orang untuk datang. Ia ingin mengajak mereka ke suatu tempat. Tetapi tidak semua yang akan datang, karena Siwon sedang melakukan pemotretan, Heechul dan Shindong yang sedang syuting sebuah acara, juga Kangin dan Yesung yang katanya ada yang harus mereka lakukan.

“Kami datang.” Sisa orang yang bisa hadir pun masuk ke dorm. Leeteuk menyuruh mereka duduk terlebih dahulu.

“Jadi, ada apa, hyung?” Ryeowook bertanya langsung.

“Nyonya Seo mengundang kita makan malam karena ia baru saja membuka butik baru di daerah Dongdaemun. Dia sudah mengundang kita dari dua bulan yang lalu. Tapi karena kita semua sibuk, dan seperti yang kulihat tidak ada satupun dari kalian yang punya jadwal individu hari ini, jadi aku memenuhi undangannya atas nama kita semua.” Jelas Leeteuk.

“Kita akan ke sana?” sahut Eunhyuk. “Maksudku.. maksud ke sana? Apa hyung gila?”

Leeteuk mengerutkan kening. “Memangnya kenapa?”

“Ada Donghae disini! Apa hyung lupa?” Kyuhyun menimpali.

“Jadi kalian semua belum merelakannya?” Leeteuk berkata seraya menatap mata tiap anggota. “Kalian pikir selama ini aku tidak mempertimbangkannya? Sudah dari dua bulan lalu aku menolaknya karena memikirkan perasaan kalian saat masuk ke sana, tapi aku tidak mungkin menolak wanita itu selamanya kan?”

Mereka semua terdiam, dalam hati membenarkan.

“Donghae-ah..”

“Aku tidak apa-apa.” Donghae tersenyum tulus. “Sungguh. Terima kasih karena mengkhawatirkan aku. Dan terima kasih karena kalian masih mengenangnya.”

“Oh, gadis semenyebalkan itu tidak akan bisa dilupakan dengan mudah..” Sungmin berkata.

“Eunhyuk-ah? Kyuhyun-ah?”

Eunhyuk menghela napas. “Aku belum mengunjunginya di Seodaemun.. aku tidak tahu apa yang terjadi padaku jika aku masuk ke sana..”

“Aku dan Kyuhyun mengunjunginya tiga minggu lalu.” renung Ryeowook. Matanya terlihat kosong. “Bunga di makamnya banyak sekali..”

“Aku..” gumam Kyuhyun pelan. “Aku sebenarnya tidak berani masuk ke sana..”

Semua orang terdiam lagi.

“Tapi aku tidak mau Joohae menertawakan aku karena menangisinya.” Tegas pria itu.

Leeteuk terkekeh. “Jadi?” ia memastikan. “Apa kalian hanya akan duduk di sini?”

Sebagai jawaban, semua orang berdiri.

Leeteuk memimpin mereka keluar dari dorm, menekan bel apartemen. Ia sudah hampir menekan digit angka untuk sandi apartemen, tapi kemudian ia mengurungkan niatnya.

Nyonya Seo membuka pintu dengan riang. “Oh, astaga.” gumamnya senang. “Aku tidak percaya kalian semua memenuhi undanganku. Ayo, masuklah..”

Semua anggota Super Junior masuk ke apartemen milik nyonya Seo.

Dan mereka baru menyadari bahwa, setelah enam bulan kepergian gadis itu, inilah pertama kalinya mereka menginjakkan kaki di tempat ini lagi.

Donghae menahan napas. Bahkan nyonya Seo tidak mengubah tata letak apartemen ini. Sofa, meja, dan televisi itu masih berada di posisi yang sama seperti enam bulan lalu. Begitu juga dengan tata letak dapur dan sebuah petak kosong yang berada di dekat jendela. Satu yang berbeda hanyalah dinding yang tadinya dipenuhi foto-foto sang adik, diganti menjadi lukisan tanaman besar yang cukup ruwet dan nyaris menutup seluruh permukaan dinding. Dan pada petak kosong itu diletakkan sebuah lemari terbuka yang dihiasi banyak sekali bingkai foto.

Mereka dipersilahkan untuk duduk di ruang tengah.

“Tunggu sebentar, eoh? Aku harus memastikan kalkun yang kumasak tidak gosong.” Dan wanita itu menuju dapur.

Mereka serempak menghela napas, sama-sama merasakan hal yang sama.

“Bahkan aku masih bisa melihatnya membuka kulkas dari sini, sama seperti yang dia lakukan dulu.” gumam Sungmin.

“Tidak ada yang diubah..” lirih Eunhyuk sedih.

Donghae berdiri, berjalan mengelilingi apartemen. Entah mengapa, lemari terbuka tempat memajang beberapa foto berbingkai itu cukup menarik perhatiannya. Ia mengamati foto-foto itu. Sebagian besar memang foto nyonya Seo seorang diri. Namun di rak foto paling bawah, ia menangkap foto sebuah keluarga lengkap.

Ada empat orang duduk berdampingan di foto itu. Nyonya Seo, dan seorang pria yang sepertinya suami wanita itu, mengapit dua orang anak, laki-laki dan perempuan, yang wajahnya mirip sekali. Saudara kembar. Dan sepertinya foto itu diambil saat wanita itu masih muda. Kedua anak di foto itu juga tampak seperti anak berusia sepuluh tahunan.

Ia meletakkan foto itu, baru saja ingin bergabung dengan anggota lain ketika ia menangkap sebuah bingkai foto lain. Saudara kembar tadi, yang sudah beberapa tahun lebih tua dari foto sebelumnya, tersenyum simpul saling menatap satu sama lain.

Donghae tentu saja terkejut. Sudah enam bulan nyonya Seo tinggal sendirian di sini. Dan sudah selama itu juga, Donghae, bahkan anggota Super Junior yang lain, melihat nyonya Seo dengan seorang pria tua, atau bersama kedua anak kembar ini (karena jika salah satu dari anggota Super Junior melihatnya, mereka pasti sudah membicarakannya).

Dan yang membuat ia mendapat shock therapy kedua adalah, ia mengenal saudara kembar itu.

Apakah nyonya Seo adalah ibu dari Yoo Seung Joon.. yang juga berarti ibu dari Yoo Seung Chan?

c

To Be Continued

v

HAIIIIIIIIII HEHEHEHEHEHEH

Maaf ya aku baru muncul lagi, kuharap masih pada inget sama cerita ini *GAK*

Jadi aku hiatus udah dari kapan tahu itu, karena kehidupan perkuliahanku yang semakin pelik *heu*

Aku nggak jamin bisa post part selanjutnya tepat waktu, ini aja iseng ngisi liburan HEHEHE

Aku juga berharap semoga cerita ini nggak mengecewakan karena aku sendiri udah lupa ceritanya gimana, jadi kalo agak rancu, maafin aku, dan teken tomblo back aja nggak usah dibaca lagi

Jadi semoga siapapun yang masih mantengin situs ini, aku makasih banget lohhhh

Advertisements

2 thoughts on “All Around Us 5

  1. wah akhirnya published juga 😀😀 udah berpa lama yaa nunggu nya ?? smpe gak ingat lagi wkwkw.. welcome back authornim 😊

    btw jd kangen sm joohae setelah donghae buka video² Joohae 😥 dan keknya nyonya seo emng bener ortunya si kembar deh 🤔

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s