Love, Trust & Hate 9

114f2364b1a3b81e90c1df08a7ec65f5

#9 : Puzzle’s last piece.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 (END)

***

RUMAH itu tampak tak tertawat. Pekarangannya berantakan, bekas rumput dipotong sembarangan ada di mana-mana. Banyak tanaman mati kekeringan. Dinding rumah tampak kusam, cat-cat mulai terkelupas. Tidak ada satu lampu yang menerangi tempat ini.

Dari luar, Eunhyuk dan seorang polisi mengamati kondisi rumah itu. Mereka sengaja belum memanggil seluruh pasukan, karena jika mereka melakukan itu, penyergapan ini bisa berpeluang gagal.

“Apa kau yakin mereka ada di sana?” tanya si polisi, yang merupakan bawahan sang paman dan ketua penyergapan ini. Detektif Gong.

“Seratus persen yakin, Pak.” Eunhyuk menjawab. “Mereka tidak punya tempat persembunyian lagi karena polisi sudah mengetahui tempat persembunyian mereka sebelum ini.”

Eunhyuk menjulurkan kepalanya, melihat dari balik pagar, kembali mengamati kondisi rumah. Tidak ada penjagaan ketat, tidak satupun orang di halaman rumah.

Kecuali seorang gadis.

Eunhyuk terkejut setengah mati.

“Perubahan rencana!” Eunhyuk berseru, menurunkan kepala. “Gadis itu ada di sini!”

“Gadis itu?” detektif Gong bertanya. “Minjung?” matanya berbinar. “Wah, itu bagus sekali! Umpan kita datang dengan sendirinya!”

“Tidak, Pak, ini sama sekali tidak bagus!” suara Eunhyuk dipenuhi kepanikan. “Risikonya sangat besar jika kita menggunakan gadis itu! Jadi, biar aku yang memimpin penyergapan ini!”

“Tidak!” si polisi menolak. “Aku kepalanya, dan aku –”

“Akan dituduh sebagai penyebab kematian Minjung jika sampai dia dibunuh oleh mereka!” potong Eunhyuk tepat sasaran. Ia berusaha semaksimal mungkin menahan kegetiran suaranya. “Harus kuakui, semua keluarganya akan menuduhku karena mereka hanya tahu aku bekerja dengan mereka, tapi jika memang benar dia mati, itu berarti Anda juga akan disalahkan.”

Pria itu terdiam. Bagaimanapun, Eunhyuk yang merencanakan hal ini atas izin dari kepala kepolisian Korea Selatan, yang tidak lain tidak bukan adalah paman laki-laki itu sendiri, Shin Hyun Sik. Dan apa yang Eunhyuk katakan benar. Ia tidak dapat mengelak.

Eunhyuk melanjutkan. “Aku mengenal mereka, dan aku hafal setiap tindakan yang belum, akan, dan sudah mereka lakukan. Dan ini rencananya!”

Eunhyuk membisikkan sesuatu kepada detektif Gong, yang membuat pria tegas itu menyeringai.

☆☆☆

Minjung mendorong pagar rumahnya yang sudah berkarat, membuat deritannya terdengar menyakitkan. Ia mengamati rumahnya, yang lebih terlihat seperti kuburan angker tak terawat dibanding sebuah rumah. Bagaimana tidak? Halaman yang dulu indah sekarang tak beraturan, kotor, dan berantakan. Ada sebagian dinding rumah yang mulai retak, dan kusen yang sudah dimakan rayap. Beberapa petak taman rusak. Semua tumbuhan kesukaan sang ibu layu tak bernyawa.

Berapa lama ia meninggalkan rumahnya sehingga tempat kenangan indah bersama orangtuanya ini menjadi begitu terbengkalai? Yah, meski ia tidak pernah bertemu sama sekali dengan ibunya, setidaknya ia tahu kalau di tempat ini sang ayah juga berbahagia dengan ibunya saat sedang mengandung dirinya ‘kan?

Baru selangkah Minjung menggerakkan kakinya, ia mendengar seorang laki-laki memanggil namanya.

“Minjung-ah!” seru orang itu. “Apa yang kau lakukan di sini?!”

Gadis itu memandang orang yang memanggilnya penuh kebencian. “Memangnya siapa kau sampai berani melarangku datang ke rumahku?!”

Eunhyuk terlihat agak sakit hati. “Ini sudah malam, nona Hwang! Sebaiknya kau pulang ke rumahmu!”

“Ini rumahku, dan aku sudah pulang!” Minjung berteriak. “Apa hakmu melarangku?!”

“Apa kau tidak mengkhawatirkan nenek dan kakekmu?” Eunhyuk masih mencoba membujuk gadis itu. “Mereka pasti sedang mencarimu!”

“Kenapa kau peduli padaku?! Bukannya dulu kau yang berniat membunuhku?!”

Eunhyuk tertegun. Selain karena perkataan Minjung menohok langsung hatinya, juga karena pintu rumah itu terbuka. Kedua, karena pintu rumah terbuka. Menampakkan seorang pria dan wanita dengan wajah tak bersahabat. Tapi ketika mereka melihat sumber keributan itu, mata mereka berbinar. Senyum dingin, jahat, dan sarat akan dendam menghiasi wajah mereka.

“Eunhyuk dan Minjung!” seru si pria bertepuk tangan. “Kejutan yang menyenangkan!”

Si wanita menyeringai. “Jadi, inikah alasanmu menghilang selama ini?”

Minjung terbelalak ketika memandang mereka berdua. Ia menoleh menatap Eunhyuk, yang terlihat tidak berdaya.

☆☆☆

Jung Il Hoon dan Song Ji Hye duduk di sofa ruang tengah. Minjung berdiri di tengah ruangan dengan tangan terikat ke belakang sebuah tiang. Eunhyuk berdiri beberapa meter dari gadis itu, memegang sebuah senapan. Dua puluhan orang pria berpenampilan sangar mengelilingi mereka.

Minjung tidak terlalu terkejut dengan pemandangan ini. Kenyataan bahwa ia akan kembali bertemu dengan kedua orang sialan itu, keberadaan Eunhyuk yang akan membunuhnya, dan diikat seperti ini, sudah pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia begitu terkejut karena ketika ia diseret oleh dua orang anak buah Ilhoon yang menjijikkan ke dalam rumah, melihat tidak ada satu pun dinding pembatas kamar dan dapur, sehingga rumahnya ini menjadi lebih luas dan terkesan seperti aula besar tempat perkumpulan mafia-mafia terkejam di dunia. Dan memang itulah kenyataannya sekarang.

“Lama tidak bertemu, nona Hwang.”

Minjung memandang pria itu. Jung Il Hoon, si tua renta yang memaksakan penampilannya seperti para yakuza yang sebenarnya sama sekali tidak cocok dengan dirinya. Setidaknya ia akan menjawab seperti itu jika ada yang menanyakan penggambaran awal orang tua itu. Pria tua jelek itu mengenakan jaket kulit hitam dan ripped jeans yang memamerkan kulit keriputnya, sungguh memuakkan!

Yeah, setidaknya selama itu kau tidak membuatku muntah karena kau masih terlihat menjijikkan sama seperti sebelumnya.” Minjung bercerocos santai.

Ilhoon terbelalak mendengar ucapan gadis itu.

“Dan kau masih sama seperti terakhir kali aku melihatmu.”

Minjung beralih menatap wanita di samping Ilhoon. Song Ji Hye, wanita tua gemuk yang memaksakan penampilannya seperti para model. Lihatlah, jalang itu mengenakan mini dress yang memamerkan seluruh lemak dan gelambir di perut, paha, dan lengan atasnya. Dandanannya juga terlihat seperti badut, karena ada perbedaan mencolok antara warna wajah dan lehernya.

“Begitukah?” Minjung pura-pura kaget. “Lalu apa yang kau lakukan di sini? Bukannya kau harus pergi ke Lotte World untuk menghibur anak-anak? Atau pimpinan Lotte World tidak megizinkanmu bekerja karena kau lebih pantas berada di klub-klub malam untuk melayani para pria lapar yang mau menikmati tubuhmu?” ia memiringkan kepalanya, memasang wajah ingin tahu.

Telinga Jihye dan Ilhoon memanas. Begitu juga anak buah keduanya.

Sementara Eunhyuk menahan napas setiap kali menyadari betapa kurang ajarnya Hwang Min Jung.

Jihye menunjukkan sebuah foto berbingkai pada gadis itu. “Lihat apa yang kutemui di rumah keluarga kekasihmu.”

Minjung dan Eunhyuk membelalak menatap foto itu. Tentu dengan alasan yang berbeda.

Wanita itu membaliknya, memandang Minjung yang tersenyum manis di foto. “Aku tidak tahu mereka sangat menyayangimu, sampai harus memajang fotomu di rumah mereka. Mungkin supaya mereka meningat kalau gadis kesayangan mereka harus mati di tanganku? Sungguh tepat sasaran.”

Jihye membanting foto itu dan menginjaknya.

Eunhyuk bisa melihat tangan Minjung yang terikat di balik punggungnya, mengepal penuh amarah pada wanita itu, dan juga ― ia mau tidak mau menyadari raut itu ― dirinya.

“Omong-omong, bagaimana kabar ayah dan ibumu?” Jihye melanjutkan.

“Entahlah,” Minjung mengangkat bahu. “Setidaknya aku tahu kalau mereka ingin aku cepat-cepat menyusul mereka.”

Eunhyuk mengerjap kaget.

“Yah,” Ilhoon berdiri, menghampiri gadis itu. Ia menatap Minjung dari kepala sampai kaki. “Kau begitu cantik, nona Hwang.” ujarnya menyentuh pipi gadis itu, namun Minjung langsung mengelak. “Dan sangat menggoda. Pantas saja Eunhyuk begitu tertarik padamu.”

Lee Hyuk Jae mengepalkan tangan saat menyadari apa yang ingin Ilhoon lakukan pada gadisnya.

Saat Ilhoon hendak mencium dirinya, Minjung mengangkat kaki dan menendang dengan kuat bagian rawan milik pria itu.

Minjung tersenyum meremehkan.

Ilhoon meringis, kemudian dengan sekuat tenang ia berdiri dan meninju pipi Minjung.

Eunhyuk memucat ketika mendengar teriakan Minjung. Gadis itu menunduk, kemudian mengangkat wajah, menatap rendah keduanya dengan sudut bibir berdarah. Tatapannya amat sangat angkuh.

Laki-laki itu diam-diam melirik Minjung, yang pipinya lebam. Ia menghela napas, merasa sangat bersalah.

Sekarang bagaimana?

Ia yakin rencana yang sedang dijalaninya akan berhasil, tapi ia lupa akan satu hal: Minjung ada di sini.

Bagaimanapun, Minjung tanpa sengaja masuk ke rencanaya. Ia akan merutuki dirinya sendiri bila membiarkan Minjung terluka dalam bentuk apapun. Tapi sepertinya, mengeluarkan Minjung tanpa luka, terlebih dengan situasi seperti ini, akan menjadi amat sangat sulit..

Ia menggigit bibir, menatap Minjung dengar perasaan campur aduk. Tidakkah Minjung paham situasi yang tengah dihadapinya saat ini?! Mengapa ia masih mempertahankan sifat pemberani-nya itu?! Lihatlah, ia masih mempertahankan tatapan hinanya saat Jihye menghampirinya!

“Kali ini apa, Jalang?” ujar Minjung, masih dengan sikap seorang pemberani.

Jihye mendengus. “Kau benar-benar anak ayahmu, nona Hwang.” katanya. “Cerdas, bermulut tajam, dan pemberani. Sementara ibumu adalah wanita lemah lembut yang bahkan tidak berani menyakiti nyamuk dan lalat. Kau tahu bagaimana ayahmu menghinaku dulu? Mengingat dia begitu bodoh karena jatuh pada pesonaku sehingga dia mati di tanganku?”

“Sepertinya aku tahu.” balas Minjung sekenanya. “Dan apa perlu kuralat, kalau sepertinya kau jauh lebih bodoh darinya?” dengus Minjung mengejek.

Dengan sekuat tenaga, Jihye menampar Minjung tepat di tempat Ilhoon meninju pipinya.

Eunhyuk membelalak.

“Ayahku hanya melakukan tiga kesalahan di dunia ini.” Minjung berdalih. “Pertama, mencintaimu. Kedua, tidak meminta pendapatku saat beliau mau menikah denganmu. Dan ketiga, membiarkan aku dibesarkan oleh jalang.”

Sekali lagi, Jihye menampar Minjung di tempat yang sama. Tapi kali ini, Minjung tidak diam. Gadis itu menendang Jihye tepat di perut berlemak wanita itu.

Ilhoon langsung mengacungkan pistol, menembak kaki Minjung tiga kali.

Gadis Hwang itu berteriak kesakitan dan sangat memilukan. Siapapun akan tahu betapa sakitnya gadis itu saat mendengar teriakannya. Darah mengucur dari paha dan betis gadis itu.

Eunhyuk menatap luka tembak Minjung dengan mulut ternganga. Oke, ia benar-benar harus mengutuk dirinya sendiri. Ini seharusnya tidak boleh terjadi! Tidak boleh! Ia seperti ini bukan karena ia harus membuat kesan baik pada keluarga Hwang saat ia membawa gadis itu nanti.

Melainkan karena, luka yang Minjung rasakan dapat dirasakan juga olehnya.

Rasa sakit Minjung adalah rasa sakitnya. Maka penderitaan Minjung juga adalah penderitaan dirinya.

Ia sungguh tidak bisa berbuat apa-apa saat ini. Ia bisa saja membanting pistol, melepas ikatan tangan Minjung, dan membawa gadis itu pergi. Namun ia tidak akan melakukannya jika ingin rencananya berhasil. Bila penyergapan ini gagal, konsekuensinya adalah, selain dua buronan itu akan semakin bebas berkeliaran, nenek dan pamannya tidak akan bisa keluar rumah dengan nyaman!

“Eunhyuk-ssi!” Ilhoon berteriak menggelegar. “Bunuh gadis itu sekarang!”

Eunhyuk memandang senapan di tangannya. Ia tahu jenis senapan ini. Ada tiga puluh peluru, dan sekitar tiga puluh orang yang harus dilucuti. Ia harus menggunakannya dengan baik. Ia lalu memandang Minjung. Ia tercenung saat gadis itu balik menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Sorot mata gadis itu menunjukkan amarah dan kekecewaan. Kemudian, gadis itu tertunduk lemah, seolah tidak ingin melihat sang kekasih yang ingin membunuhnya.

“Ayo!” sokong Jihye. “Detik-detik kekayaanku akan segera dimulai!”

Eunhyuk menutup mata, menghembuskan napas, kemudian mengarahkan ujung senapan ke kepala Minjung. Ia menarik sedikit pelatuk.

Lalu berbalik arah dengan cepat menghadap Ilhoon.

Dan menarik seluruh pelatuk.

Peluru keluar dari laras, menembus kepala pria itu. Mata pria itu terbelalak. Darah mengucur deras dari kepala Ilhoon. Pria itu tersungkur di lantai.

Jihye, dan seluruh anak buahnya, tenganga.

“KENAPA KAU MELAKUKAN INI?!” Jihye berteriak histeris.

Eunhyuk tersenyum. “Hwang Min Jung-ku jauh lebih berharga daripada uangmu, dan dia lebih pantas untuk berada jauh darimu. Dia benar, ayahnya salah karena membiarkannya dibesarkan oleh jalang sepertimu.”

Dengan gerakan yang sangat cepat juga, secepat kaki Byul bila melakukan tendangan mematikan, ia menembak kaki Jihye, dan seluruh kaki anak buah keduanya yang ada di ruangan ini. “Dan karena aku telah mengungkap kasus ini kepada polisi, sehingga mereka memberikanku kewenangan penuh untuk melakukan ini.” ia menambahkan.

Bersamaan dengan teriakan Jihye, pintu depan menjeblak terbuka, dan tiga puluh polisi memasuki ruangan.

b

Membiarkan polisi mengurus mereka semua, Eunhyuk berdiri di depan Minjung. Kakinya menginjak sesuatu yang kental. Ada banyak cairan kemerahan yang tergenang di sekitar kaki Minjung yang bersumber dari lukanya. Ia melepas ikatan di belakang tubuh gadis itu. Ia tertegun karena Minjung langsung jatuh begitu saja di tubuhnya. Gadis itu pingsan.

Ia menyelipkan lengannya yang lain di bawah lutut Minjung. Ia segera menggendong Minjung, membawa gadis itu ke halaman, meninggalkan jejak darah di setiap langkahnya. Dengan lembut, ia membaringkan gadisnya di rumput. Ia menjadikan pahanya sebagai bantal untuk gadis itu. Ia melepas kacamata gadis itu, menyimpannya, lalu menatap gadisnya dalam. Wajah gadis itu pucat, pipinya lebam, sudut bibirnya luka dan seluruh permukaan kulit kaki gadis itu terututp oleh darah. Tapi di mata Eunhyuk, pada saat itu, di bawah sinar bulan purnama, Minjung tampak sempurna.

Eunhyuk mengusap lembut kepala Minjung. “Kau akan baik-baik saja, Sayang..” ujarnya. Ia mendekatkan wajah, mengecup lama kening gadis itu.

Laki-laki itu masih terus memandangi wajah Minjung. Mata gadis itu terpejam tenang, seolah gadisnya hanya sedang kelelahan, dan langsung tertidur. Tangannya masih berada di kepala gadis itu, membelai rambutnya dengan sayang.

Ia cukup terkejut saat melihat kelopak mata Minjung bergetar. Perlahan, gadis itu membuka mata. Gadis itu, dengan pandangan buram, langsung mengenali tatapan hangat Lee Hyuk Jae yang selalu memikat dirinya.

“Eunhyukie..” Minjung berkata lirih.

Laki-laki itu tersenyum haru. Entah sudah berapa lama ia tidak mendengar gadisnya memanggil seperti itu.

Mianhae..”

“Itu kalimatku.” Eunhyuk mengusap pipi memar Minjung. “Bertahanlah sebentar lagi, oke? Dokter dari kepolisian akan segera menolongmu.”

Gadis itu tersenyum dan mengangguk lemah. Ia memejamkan mata, meringis menahan sakit di kakinya. Darah sudah tidak mengalir sebanyak tadi, tapi rasa sakitnya masih luar biasa. Setetes air mata Minjung jatuh. Eunhyuk meringis pedih. Ia menyeka air mata gadis itu.

Mata Minjung menangkap samar-samar beberapa polisi yang keluar dar rumahnya. Masing-masing mereka menangani seorang penjahat.

“Apa yang ter―”

“Ssst.” Eunhyuk langsung membungkam mulut gadis itu dengan meletakkan telunjuk di bibir gadis itu. “Tidak sekarang. Kau akan tahu nanti.”

Minjung mengangguk pelan, matanya perlahan kembali menutup. Gadis itu benar-benar terlihat sangat nyaman berada di dekat pria nya saat ini.

Eunhyuk yang hendak mengusap kepala gadis itu, mendadak berhenti ketika melihat Minjung yang berusaha tersenyum dengan sekuat tenaga dan berbisik lirih. “Saranghae..”

Eunhyuk tertegun. Setitik air matanya jatuh. Kapan terakhir kali ia mendengar Minjung mengucapkan kata itu? Ia tidak ingat lagi. Sejak Minjung tahu dirinya bekerja sama dengan pasangan sial itu, yang ia dengar dari mulut Minjung hanya cacian dan makian. Minjung tidak pernah lagi menatapnya dengan ramah. Minjung tidak lagi tersenyum manis yang selalu membuatnya luluh dan tak berdaya. Tetapi di sini, malam ini, ia kembali mendengar apa yang seharusnya ia dengar. Ia kembali mendapat tatapan memuja Minjung. Ia kembali merasakan betapa teduhnya hatinya saat melihat Minjung tersenyum meski dengan susah payah.

Secara tidak langsung, ia tahu bahwa Minjung telah memaafkan dan kembali menerima dirinya.

Ia menangkup wajah Minjung, mencium gadis itu dengan penuh kasih sayang.

Setelah itu, semua polisi itu keluar dari rumah Minjung sembari menyeret para penjahat. Ada dua orang membawa tandu, yang di atasnya terbari jasad Ilhoon. Mereka melihat detektif Gong menyerahkan Jihye kepada salah satu polisi. Pria itu menghampiri mereka. Dua orang dokter mengikuti pria itu.

“Senang bekerja sama denganmu, Eunhyuk-ssi.” detektif Gong menjabat tangan Eunhyuk.

Dua dokter itu dengan sigap membersihkan luka Minjung, mengobatinya, dan membalut kaki Minjung dengan perban. Setelah itu, mereka memberikan donor darah pada Minjung.

☆☆☆

“Nenek!” Donghae memekik saat membuka pintu rumah keluarga Hwang. Ia menuju dapur, melihat wanita paruh baya itu sedang memotong-motong sayuran. Ia memeluk wanita itu dari belakang. “Ah, aku benar-benar merindukan nenek!”

Nyonya Hwang memutar bola matanya. “Berhentilah bermanja-manja denganku!” ia masih membiarkan Donghae memeluknya sementara ia memasukkan potongan sayuran itu ke dalam panci yang berisi air panas. “Kau akan menjadi kepala keluarga sebentar lagi! Dan kau harus mengurus istrimu!”

“Oh ayolah, aku baru akan menikah satu bulan lagi, Nek!” Donghae mengerang. “Biarkan aku bermanja dengan nenek dan mengganggu Minjung selagi aku bisa!”

“Mengganggu Minjung?” nyonya Hwang mengernyit. “Kau mencari Minjung?”

“Mm-hm.”

“Untuk apa? Dia belum kembali sejak pagi.”

Donghae mendelik.

Nenek menggedikkan bahu. “Aku tidak tahu kemana dia pergi. Mungkin dia masih mencari gaun yang bagus untuk hadir di pernikahanmu? Entahlah. Dia pergi sendirian. Dan dia pergi dari pagi.”

Laki-laki itu melepas pelukan, keluar dari dapur, mengambil ponselnya dari saku celana. Tepat pada saat itu, ada panggilan masuk di ponselnya. Dari Minjung.

Ya!” Donghae berteriak tanpa memberikan salam. “Kau ada di mana?! Apa kau harus mencari gaun selama ini?! Aku di rumahmu sekarang!”

“Bisakah kau tidak berteriak?”

Donghae diam. Bukan Minjung yang menjawab. Melainkan seorang pria.

“Eunhyuk?”

“Kau benar. Ini aku.” Eunhyuk menjawab. “Jika kau berada dekat dengan salah satu anggota keluarga Hwang, bisakah kau menjauh?”

“Aku memang tidak berada di dekat mereka sekarang.” balas Donghae melihat sekeliling. Nyonya Hwang ada di dapur. Tuan Hwang sedang menonton televisi. Jikyung tidak terlihat, mungkin dia berada di kamarnya. Dan ia berada di depan kamar Minjung. “Memangnya kenapa?”

“Aku, Minjung, dan Byul berada di depan. Bisakah kau kemari? Kami butuh bantuanmu.”

☆☆☆

Setelah berbicara cukup lama dengan Eunhyuk di luar, Donghae dan Chan ― gadis itu datang bersamaan dengan mereka, sempat mendelik melihat keadaan Minjung ― masuk ke rumah. Donghae meminta Chan mengumpulkan seluruh anggota keluarga Hwang di ruang tamu. Laki-laki itu berdiri, membungkuk berkali-kali.

“Maaf karena aku sudah mengganggu kalian,” ia memulai. “Aku berdiri di sini, berdiri atas nama Eunhyuk, untuk meminta maaf kepada kalian.”

“Kenapa kau menyebut nama itu di depan kami?!” bentak tuan Hwang.

“Aku minta maaf, Kek.” Donghae membungkuk lagi. “Ada sesuatu yang terjadi pada Minjung malam ini, dan itu ada kaitannya dengan Eunhyuk. Meskipun kalian masih belum memaafkannya, tetapi kumohon, demi aku, dengarkan dia hanya untuk malam ini.”

Donghae menatap anggota keluarga Hwang satu per satu. “Aku bagian dari keluarga ini ‘kan? Jadi, maukah kalian mendengarkannya demi aku?”

Melihat cara Donghae membujuk anggota keluarga Hwang membuat Chan ingin tersenyum.

Ruangan hening sejenak.

“Baiklah.” Akhirnya nyonya Hwang menjawab, mewakili semua orang. “Tetapi setelah dia selesai mengatakan apa yang ingin dia katakan, dia harus segera pergi dari sini.”

Donghae tersenyum. “Terima kasih.”

Mendapat isyarat dari pria itu, Chan membuka pintu. Menampakkan Minjung yang tak sadarkan diri, berada di gendongan Eunhyuk. Byul berada di belakang mereka, memegang sebuah tongkat.

Semua anggota keluarga Hwang terkesiap.

Eunhyuk berjalan pelan, dengan Minjung berada di gendongannya. “Jikyung-ah?”

Laki-laki itu berdiri menghampiri Eunhyuk, yang lantas menyerahkan Minjung pada dirinya. Juga mengambil tongat dari Byul dan memberikannya pada adik gadis itu. “Biarkan dia beristirahat.”

Jikyung menurut, sementara itu Eunhyuk menyiapkan dirin di depan anggota tertua keluarga Hwang. Ia melihat bahwa kini semua orang memperhatikannya.

Jadi, ia mengambil napas panjang, memberanikan diri menatap mata tuan dan nyonya Hwang, lalu menghembuskannya perlahan. “Terima kasih karena telah memberikan kesempatan ini untukku. Dan maaf atas apa yang terjadi pada Minjung. Aku akan jelaskan semua dari awal. Dan satu hal yang perlu kalian tahu, aku tidak berbohong, ataupun mengarang semua cerita ini. Byul, Chan, dan Donghae bisa menjamin kebenarannya.”

Seiring dengan anggukan mereka berdua, Eunhyuk mulai menceritakannya dari awal. Alasan kembalinya ia ke Korea, bantuan Ilhoon kepada ayahnya, perintah pasangan itu untuk membunuh, keterkejutan orangtuanya saat mereka tahu sasaran Ilhoon dan Jihye adalah Minjung, pertemuan kemnbali Minjung dengan pasangan itu, kebencian Minjung pada dirinya, penyerahan diri kepada polisi (yang tidak diterima karena memang ia tidak bersalah), mengajukan kerja sama dengan polisi untuk menangkap mereka semua, dan kejadian tadi.

“Sebenarnya, detektif dari kepolisian Seoul memintaku menjadikan Minjung sebagai bagian dari rencana.” Eunhyuk masih berbicara. “Aku jelas menolak, karena aku tahu akan terjadi hal buruk jika penyergapan tadi melibatkan Minjung. Tapi, pada praktiknya, kami menemukan Minjung di sana. Aku sudah menyuruhnya pulang, tapi dia tidak mau mendengarku. Dan, yah, itulah yang terjadi. Mereka mengikatnya, memukulnya, dan menembak kakinya.”

Ia berdehem, pandangannya masih tertuju pada tuan dan nyonya Hwang. “Kalian tidak perlu kahwatir. Aku pasti akan dihukum oleh keluarga ibuku. Mengingat mereka sangat terpandang dan memiliki nama yang besar di Korea.”

Mendengar kalimat itu, Byul tersentak kaget. Donghae dan Chan memandangnya.

“Dan mereka semua dalam waktu dekat akan tahu kejadian ini karena pamanku adalah kepala kepolisian Seoul.” lanjut Eunhyuk. “Aku yakin, nenek dari pihak ibuku akan memanggil ayahku, ibuku, dan aku. Dan kami pasti akan diperlakukan dengan semestinya.”

Eunhyuk menatap Byul. Gadis itu juga balik menatapnya seolah berkata: Apa yang kau bicarakan?!

“Jangan khawatir jika kalian memang membenciku. Aku tidak akan muncul lagi di hadapan kalian, ataupun di hadapan Minjung. Aku jamin ini terakhir kalinya kalian melihatku. Aku bersumpah.”

Donghae, Byul, dan Chan melongo.

Eunhyuk membungkuk hormat. “Terima kasih, karena telah memberikan aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Aku pergi.”

Laki-laki itu meraih tangan Byul, membawa sepupunya berjalan menuju pintu. Mereka pun meninggalkan rumah keluarga Hwang.

☆☆☆

“Kau yakin dengan semua yang kau ucapkan? Apa kau benar-benar melepas Minjung?”

Melihat kondisi sepupunya yang mungkin begitu terpuruk setelah menghadapi keluarga gadisnya, Byul menawarkan diri untuk menyetir. Eunhyuk hanya menerimanya, tanpa bisa menolak.

Eunhyuk memandangi sepupunya, lalu menatap jalanan. Ia terkekeh menyedihkan. “Aku mencintai Minjung dan aku tidak mungkin mau melepasnya begitu saja.” ia tersenyum getir. “Tapi, aku bisa apa jika semua keluarganya membenciku?”

Byul menghela napas panjang, memutar setir untuk berbelok. Rumah mereka sudah tidak jauh. “Mungkin mereka akan mempertimbangkannya. Mengingat kau tidak bersalah.”

Untuk beberapa saat hanya terdengar hembusan napas berat dari keduanya.

“Dan satu lagi.”

Eunhyuk memalingkan wajah ke Byul.

“Kenapa kau menyinggung keluarga kita di depan mereka?”

Laki-laki itu sudah menduga Byul akan menanyakan hal ini. Jadi saat ia terdiam, ia sedang menyiapkan jawaban yang pas untuk diberikan. Dan yah, akan dijawab pertanyaan itu.

“Aku yakin nenek akan segera tahu hal ini dari samchon.” ucap Eunhyuk menerawang. “Suatu hari dalam beberapa minggu ke depan, kita semua pasti akan dipanggil nenek untuk membicarakan hal ini.”

☆☆☆

Dan hari yang dibicarakan itu benar-benar tiba.

Lee Hyuk Jae memandang dirinya di cermin, merapikan sedikit kerah dan lengan kemejanya, lalu menata rambutnya. Tidak ada yang istimewa soal dandanannya hari ini, karena ini bukan kencan, atau perayaan sesuatu, atau apapun yang membahagiakan. Hari ini, semua anggota keluarga Shin dipanggil karena masalah yang baru saja terjadi.

Ia keluar dari kamarnya, melihat bahwa Byul, paman dan bibinya sudah bersiap. Ia tersenyum pada mereka. Empat orang itu keluar dari rumah, menuju mobil. Eunhyuk menawarkan diri untuk menyetir, dan mereka akhirnya menuju rumah Nam Hye Jung.

Beberapa menit kemudian, mereka akhirnya tiba di rumah anggota tertua keluarga Shin itu. Sudah ada banyak mobil di sini. Eunhyuk, Byul, dan orangtua Byul masuk ke rumah. Semua orang sudah mengambil tempat di ruang tamu besar rumah ini. Raut wajah mereka benar-benar tegang, bingung, dan takut.

Eunhyuk dan Byul duduk berdampingan, diantara dua sepupu laki-laki mereka. Ekspresi mereka tidak jauh lebih baik.

“Baiklah, karena semua orang sudah datang.” ucap Nam Hye Jung memulai. “Aku akan mulai membahas masalah ini.”

Wanita itu berdiri, memandang seseorang. “Eunhyuk appa, aku benar-benar tidak mengerti dengan dirimu.” ujarnya tanpa basa-basi. “Perusahaanku yang kau kelola di Jepang bangkrut, dan kau meminta bantuan dari seorang.. buronan? Apa yang ada di pikiranmu saat itu? Apa kau takut aku akan memarahimu?”

“Tidak seperti itu, Ibu.” ayah Eunhyuk bicara. “Sebelum itu aku sudah terlalu sering meminta uang pada ibu hanya untuk melunasi semua hutang perusahaan, tapi ternyata itu sama sekali tidak membantu melunasi hutang ―”

“Dan kau pikir jika kau meminjam uang dari seorang mafia, kau akan memperbaiki perusahaan?” potong wanita tertua itu. “Sekarang katakan padaku, apa perusahaan masih berjalan?”

“Tidak, Bu.” ayah Eunhyuk menunduk.

“Kau bahkan memaksa anakmu untuk membunuh supaya kau bisa mendapat semua uang itu.” lanjut wanita itu. “Ayah macam apa kau ini?!”

Ayah laki-laki itu semakin tertunduk. “Maafkan aku, Bu.”

“Dan kau, Eunhyuk eomma.” Hye Jung beralih memandang anak ke delapannya. “Istri dan ibu macam apa kau?! Apa aku pernah mengajarimu untuk menerima uang haram?! Kenapa kau membiarkan suamimu bekerja sama dengan buronan dan tidak mencegah anakmu yang mau membunuh?!”

“Maafkan aku, Bu.” Ibu laki-laki itu juga tertunduk. Merasa malu untuk menatap ibu, saudara, keponakan, dan terlebih khusus, anaknya.

“Kalian tahu betapa malunya aku saat aku mendengar hal ini dari Hyunsik?!” seru Hye Jung marah. “Kehormatan dan keluhuran keluarga ini dipertanyakan! Kenapa salah satu anggota keluargaku tergiur dengan uang haram, sementara mereka memiliki keluarga yang tidak kekurangan apapun?! Kenapa kalian lebih memilih meminta bantuan pada orang asing daripada keluarga kalian sendiri?!”

Ruang tamu yang luas dan terang itu mendadak sunyi senyap.

“Kalian beruntung apa yang kalian lakukan tidak terdengar sampai keluar.” Wanita itu mendegus sinis. “Bayangkan betapa malunya aku jika hal itu terjadi.”

Kedua orangtua Eunhyuk menunduk semakin dalam.

“Dan kalian beruntung Eunhyuk mati-matian menolak gagasan itu dan membantu polisi untuk menangkap dua buronan sialan itu. Entah kenapa aku merasa beruntung karena Byul tidak mengatakan apapun padaku. Walaupun aku sangat menyesali tindakan bodohnya dengan hampir membunuh sepupunya sendiri.”

Semua orang langsung tahu apa yang sudah Byul lakukan pada Eunhyuk.

Baik Eunhyuk maupun Byul menunduk dalam karena takut.

“Kalian semua tahu kalau Eunhyuk menolak pembunuhan itu selain karena ia tidak mau melakukannya juga karena yang harus ia bunuh itu seseorang yang sangat dikenalnya?”

“Memangnya siapa yang hampir dibunuh itu, Nek?” cetus Shin Nan Hee, salah seorang cucunya, yang merupakan kakak sepupu Byul dan Eunhyuk, bertanya.

Hye Jung tersenyum. “Orang itu adalah Hwang Min Jung..”

Semua orang mengerutkan kening saat mendengar nama itu, karena dari cara Hye Jung mengucapkannya, seakan-akan semua orang seharusnya sudah tahu siapa Hwang Min Jung.

“.. calon istrinya.”

Byul dan Eunhyuk serentak mengangkat wajah. Calon istri?!

“Dan karena dia tahu kalau dia harus membunuh gadisnya, dia memutuskan untuk bekerjasama dengan polisi.”

Byul dan Eunhyuk masih terkejut dengan perkataan nenek mereka. Mereka lalu bertatapan, dan memikirkan hal yang sama: Kau tidak pernah mengatakan padaku tentang hal ini!

Hye Jung menghampiri Eunhyuk. Sebagai bentuk penghormatan, Eunhyuk berdiri.

Wanita itu menepuk bahu Eunhyuk. “Kapan kau akan melamarnya, Eunhyukie sayang? Nenek ingin segera membanggakan Minjung pada semua kolega nenek.”

Byul ternganga.

Eunhyuk mengerjap. “A-a-aku tidak tahu, Nek..” jawabnya. Ia lebih kelihatan kaget daripada gugup. “Minjung sakit, jadi aku belum memikirkan hal itu.”

“Ah.” Hye Jung mengangguk penuh pengertian. “Luka tembak itu? Aku benar-benar melupakannya.”

Mulut Byul menganga semakin lebar.

Jika tidak ada neneknya, Eunhyuk pasti sudah menertawakan gadis itu sekarang. Ia memberi isyarat gadis itu agar menutup mulutnya.

“Oh ya, Eunhyuk appa, Eunhyuk eomma,” wanita itu kembali menatap orangtua cucu tercintanya. “Rumah ini terlalu besar untukku dan keluarga Hyunsik tinggali. Kalian dan anak-anak kalian bisa tinggal di sini jika kalian mau. Dan mengenai kawasan pertokoan Myeongdong, bisakah kalian mengelolanya?”

Kini, giliran kedua orangtua Eunhyuk yang menganga.

“Benarkah, Bu?” ibu dan ayah Eunhyuk berdiri, membungkuk beberapa kali. “Terima kasih!”

“Berterima kasihlah pada anakmu ini.” Hye Jung mengacak rambut Eunhyuk. “Dan ingat, aku menunggu undangan pernikahanmu dengan Minjung.”

☆☆☆

Setelah itu, semua orang bercengkerama seperti biasa, seolah tidak ada satupun keluarga mereka yang baru saja dimarahi. Mereka saling menanyakan kabar, tertawa, membicarakan anak dan teman-teman mereka, dan melakukan hal-hal yang biasa dilakukan dalam reuni keluarga.

Eunhyuk terkekeh merendah atau menjawab apa adanya setiap kali para sepupu memujinya. Selama perbincangan yang melibatkan dirinya terjadi, matanya terus mencari-cari seseorang. Aneh, padahal orang itu terus bersamanya sejak tadi, tapi ke mana orang itu sekarang?

Laki-laki itu berdiri, berpamitan kepada semua orang, pergi mengelilingi rumah untuk mencari sepupu tercintanya itu. Beberapa menit kemudian, ia melihat gadis itu berdiri di bawah tangga yang menuju lantai dua, sedang berdiri menghadap dinding.

“Byul-ah?”

Gadis itu tersentak.

“Apa yang kau lakukan?”

Refleks, gadis itu berbalik.

Laki-laki itu terkesiap. “Kau menangis?”

Byul cepat-cepat menyeka air matanya tanpa menjawab.

“Ada apa?”

Byul menggeleng.

Eunhyuk tersenyum. Terkadang, gadis kasar ini bisa berubah menjadi gadis normal yang berperilaku seperti anak kecil. Byul, dan segala tingkah laku gadis itu, membuatnya merasa harus menjadi kakak yang baik dan benar untuknya. Mengingat Byul adalah anak tunggal. Dan ia tidak memiliki adik.

“Ayo, katakan apa yang membuatmu sedih. Sepupu tercintamu ini ingin tahu..”

Setelah sekian lama diam, Byul akhirnya memberanikan diri menatap Eunhyuk. “Nenek memintamu dan keluargamu tinggal di sini ‘kan?”

Laki-laki itu mengangguk.

“Itu berarti.. apa kau tidak akan tinggal di rumahku lagi?”

Eunhyuk diam. Meski mereka teramat sering berkelahi ― Eunhyuk sering membuat Byul kesal dan Byul sering membuat tubuhnya lebam ― entah mengapa laki-laki ini betah tinggal di rumah itu. Seolah ia tak akan lengkap jika bukan Byul yang membangunkan dirinya, atau bukan dirinya yang menemani gadis itu kemanapun Byul ingin pergi. Sejak kedatangan laki-laki ini, tidak ada hari tanpa pertengkaran, namun itulah bentuk kasih sayang mereka.

Ada kalanya mereka menjadi sangat akur dan kompak. Saat hujan lebat dan listrik padam, mereka akan menghabiskan waktu semalaman dengan membaca komik di bawah selimut dengan senter sebagai penerangan. Kadang Eunhyuk meminta Byul mengajarinya beberapa teknik taekwondo sederhana. Saat Byul sedang kesal setengah mati karena tim basket kesayangannya kalah, Eunhyuk akan mengajak gadis itu berjalan-jalan, atau bermain basket bersama. Bahkan Byul rela membagi es krim dan keripik kentangnya pada Eunhyuk, supaya laki-laki itu mau meminjamkan komik miliknya. Dan mereka saling mengetahui kelebihan, kelemahan, dan rahasia diri masing-masing.

Mereka saling menyayangi, meski mereka pernah bertengkar hebat yang nyaris membuat hubungan keduanya hancur.

Jika Eunhyuk tinggal bersama neneknya, apa kejadian itu tidak akan terulang kembali? Akankah Byul masih ingin membagi rahasianya pada Eunhyuk? Akankah Eunhyuk masih bisa meminta Byul melakukan ini itu untuknya?

Eunhyuk tersenyum, memegang kedua bahu Byul. “Baiklah. Kita akan bicara dengan nenek.”

Byul mengangguk-angguk, namun air matanya masih menetes.

“Hei, kenapa kau menangis lagi?” Eunhyuk menyeka air mata gadis itu. “Aku juga tidak mau berpisah denganmu, Byul ku sayang..”

Oke, harus kuakui Eunhyuk kini seperti ibu yang tengah membujuk anaknya agar tidak berhenti menangis.

Senyum Byul merekah. Hanya ada dua orang yang memanggilnya seperti itu. Pertama, Kyuhyun. Kedua, sepupunya ini. Ia memeluk laki-laki itu dengan erat.

Eunhyuk tersenyum lembut, membalas pelukan Byul, dan menepuk-nepuk pelan punggungnya.

“Kau tidak pernah bilang padaku kalau kau akan melamar Minjung.” kata gadis itu masih dalam pelukan.

“Kau pikir aku tahu nenek akan berkata begitu?” balas Eunhyuk. “Aku saja kaget nenek bisa mengenal Minjung padahal aku belum mengenalkannya.”

Gadis itu menyipitkan mata. Pelukan mereka terlepas begitu saja. “Apa nenek memata-mataimu selama ini?”

Eunhyuk mengangkat bahu. “Tidak ada yang bisa tidak nenek lakukan ‘kan? Kau seharusnya tahu itu.”

Byul melebarkan matanya, teringat akan sesuatu, lalu berdehem tenang. “Jadi Minjung yang mau dijodohkan denganmu..” gumamnya sangsi.

“Apa maksudmu?”

“Bukankah sudah jelas?” gadis itu memutar bola matanya sebal, sungguh keheranan mengapa sepupunya tidak mengerti hal sesederhana ini. “Nenek sangat terkesan dengan gadis yang menolongnya di supermarket! Gadis itu pastilah Minjung!”

Laki-laki itu membelalak. Ia kembali teringat apa yang didengarnya ketika nenek sedang menyeleksi jodoh untuknya. Ia menceritakan hal itu pada Byul.

“Tidak salah lagi.” gadis itu menggeleng takjub. “Sekarang aku mengerti apa yang dimaksud nenek dengan ‘Entah kenapa aku merasa beruntung karena Byul tidak mengatakan apapun padaku’.”

“Karena kau sama sekali tidak pernah bilang apapun soal Minjung dan aku pada nenek?” sahut laki-laki itu. “Karena kau sama sekali tidak pernah bilang pada nenek soal hubungan kami? Karena kau, di satu sisi, nenek merasa beruntung kau meninggalkannya di supermarket?”

“Persis.” mata Byul menyipit seiring dengan senyum yang dilontarkannya.

“Apa itu alasanmu meninggalkan nenek di supermarket?”

“Aku tidak berpikir sampai ke situ.” gadis itu bergumam.

“Kau memang tidak pernah berpikir sebelum bertindak.”

Byul menjitak keras kepala Eunhyuk.

Laki-laki itu hanya mendesis. “Ini lebih baik daripada kau mematahkan hidungku untuk ketiga kalinya.”

Byul tertawa, memainkan jemarinya. Ia menatap Eunhyuk nakal. “Mau merasakannya lagi?”

Eunhyuk mengerjap heran. “Apa kau sadar kalau saat itu kau hampir membunuhku?”

Gadis itu mengangkat bahu tidak peduli.

“Ah.” Byul menjentikkan jadi. “Ngomong-ngomong soal Minjung..”

“Apa?”

“Nenek tahu apa yang terjadi antara dirimu dan Minjung yang sebenarnya?”

b

To Be Continued

b

Satu part lagi end loh HAHAHA :3

Ada yang masih penasaran sama ending-nya gimana? *GAK*

Kali ini, aku bakal ngepost tepat waktu HEHE

Advertisements

8 thoughts on “Love, Trust & Hate 9

  1. sempat deg2 an saat minjung bertemu dengan 2 orang setan itu terlebih pas minjung ditembak, 3 kali pula 😱 dan yg lebih parah lagi pas minjung ditembak itu, gue juga ikutan ngersain nya 😭 apa mungkin gue bacanya terlampau menghayati ya wkwkwkwk .. tinggal nunggu last chapter nya, dipost cepat ya, moganya happy ending

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s