Love, Trust & Hate 5

114f2364b1a3b81e90c1df08a7ec65f5

Poster by MCLENNX @ ART FANTASY

#5 : Too much disturbance

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 (END)

***

TUAN dan nyonya Lee terkesiap saat predikat itu terucap begitu saja dari mulut anak mereka.

“Minjung?” gumam ayahnya pada dirinya sendiri.

“Tapi.. bagaimana bisa?” ibunya bertanya.

Eunhyuk memejamkan mata. Secara tidak langsung, orangtuanya mengharuskan dirinya untuk menyampaikan masa lalu kelam Minjung pada mereka. Sejauh ini, yang tahu tentang kehidupan Minjung hanya keluarga gadis itu dan para sahabatnya. Tidak ada ‘orang luar’ yang tahu tentang itu. Namun kini, jika membeberkan masa lalu Minjung adalah cara terbaik agar kedua orangtuanya tegas menolak tawaran dua buronan itu, maka ia harus mengatakannya.

“Song Ji Hye adalah ibu tiri Minjung.” buka laki-laki itu mendesah pelan. “Dia juga yang membunuh kedua orangtua kandung Minjung. Ibunya dibunuh saat dia baru lahir, sedangkan ayahnya saat dia akan memasuki sekolah menengah. Menurutku, Jihye sudah mengincar keluarga Hwang dari awal, maka dari itu setelah ibu kandungnya terbunuh, ayahnya memutuskan untuk menikahi wanita itu. Tentu Minjung tidak pernah menyetujuinya, karena Jihye selalu berlaku kasar padanya di belakang ayah gadis itu. Tapi tetap saja. Mereka menikah dan saat liburan masuk sekolah menengah ayahnya dibunuh.”

Dua orangtua itu tercenung. Oke, mereka memang tidak mengenal Minjung secara langsung, karena memang mereka tidak pernah bertemu dengannya sama sekali. Tapi, saat Eunhyuk mengatakan ia sudah memiliki kekasih dan kekasihnya itu adalah Minjung, ditambah lagi Byul yang sering menceritakan perangai gadis itu pada keduanya, membuat mereka langsung menyukai gadis itu. Mereka tidak pernah menentang hubungan keduanya, bahkan mendukung sampai ke jenjang yang lebih jauh.

Tetapi kini, di Seoul, di rumah anak termuda keluarga Shin, mereka mendengar sendiri masa lalu Hwang Min Jung dibalik semua kebahagiaan yang mereka tahu tentang gadis itu.

“Jadi bagaimana?” Eunhyuk bertanya. “Ada di pihak mana kalian sekarang?”

Itu jelas-jelas kalimat yang cukup kurang ajar untuk diucapkan pada orangtua. Tapi mengenai kondisi yang tengah dihadapi, sepertinya Eunhyuk perlu sedikit mengenyampingkan tata krama.

Mereka bungkam, tak tahu harus menjawab apa.

Sampai akhirnya deringan telepon mengangetkan ketiganya. Eunhyuk tersenyum sinis. Sepertinya ia tahu siapa yang menelepon.

“Kalau kalian menyayangi Minjung dan tidak ingin aku melaporkan ini ke nenek, jangan angkat telepon itu.”

☆☆☆

Rumah itu milik keluarga Lee, namun entah mengapa, yang sedang duduk di sofa ruang tengah rumah itu adalah Jug Il Hoon dan Song Ji Hye. Keduanya tampak sedang mencari sesuatu, lalu menyerah, dan memutuskan untuk duduk sebentar.

“Tidak ada barang berharga apapun yang bisa kita jadikan jaminan.” Ilhoon berkata merendahkan. “Sekarang aku mengerti kenapa Lee Kang Hoon begitu membutuhkan uangku.”

Rumah ini seperti rumah keluarga inti pada umunya. Bertingkat dua, minimalis, ruang tamu yang digabung dengan ruang keluarga, kamar mandi, dapur, satu kamar tidur di lantai bawah dan dua kamar lainnya di lantai atas. Tidak terlalu mewah memang. Dan sangat sederhana.

“Tidakkah kau tahu dia dan istrinya pergi kemana?” Jihye bertanya.

Pria itu mengangkat bahu. “Dia tidak mungkin melarikan diri sementara kita sudah memberikan uang kita pada mereka ‘kan?”

Ia mengeluarkan ponselnya, lantas menelepon orang itu. Terdengar nada sambung, namun panggilan itu tidak dijawab.

“Bagus.” desis pria itu. “Dia tidak menjawabku.”

Jihye bangkit dari sofa, mengamati foto-foto di seputar dinding ruang tamu yang cukup menarik perhatiannya. Ada sebuah foto keluarga di bingkai paling besar, lalu foto seorang diri mereka berempat yang dipajang di sebuah lemari. Sisanya foto-foto keluarga dalam versi yang lebih kecil.

Namun ternyata, ada satu foto yang begitu menarik perhatian wanita ini.

Yeobo, kemarilah.”

Ilhoon kini berdiri di samping wanita itu, melihat apa yang dilihatnya. Dan mendelik.

“Apa mereka mengenal Minjung?”

☆☆☆

Sedikit lagi, Minjung akan sampai di wilayah kampus. Kayuhan sepedanya berubah santai, seiring napasnya yang mulai tersengal. Ia tidak lelah, sungguh, ia sudah bersepeda selama enam tahun bila dihitung dari awal sekolah menengah. Hanya saja ia sedang tidak ingin energi yang seharusnya dipakai untuk menerima ilmu dari para dosennya terbuang sia-sia hanya karena ia ingin cepat-cepat sampai di kampus.

Ditambah lagi, alunan lagi dari ponsel yang ia dengarkan melalui earphone nya membuat dirinya tidak ingin terburu-buru sampai ke tempat parkir sepeda kampus.

Got a long list of ex-lovers, they’ll tell you I’m insane~” senandunya.

Ia memarkir sepeda agak jauh dari pepohonan. Mengingat sekarang musim gugur dan ia tidak mau sepedanya dikubur oleh semua dedaunan itu.

Gadis itu mengenakan hoodie dan mengeratkan syalnya. Sampai ada seseorang yang menendang kakinya.

YA!”

Minjung menoleh, seketika raut wajahnya berubah masam saat tahu siapa yang menendangnya.

Orang itu tersenyum tanpa rasa bersalah. “Itu salah satu teknik yang diajarkan Byul padaku.” kicaunya riang. “Bagaimana? Aku hebat ‘kan?”

Minjung menghela napas kesal. “Darimana kau muncul?”

“Aku dan Joon sudah melihatmu bahkan sebelum memasuki kampus. Tapi kau tidak dengar saat kami memanggil.”

Minjung mengerutkan kening, lalu melepas earphone nya sambil tersenyum meminta maaf.

Yoo Seung Chan memberengut. Mereka berjalan beriringan memasuki wilayah kampus.

Ya, Minjung-ah?”

“Ng?”

“Kau ingat kapan terakhir kali kita bersama seperti ini?” Chan bertanya. “Kau benar-benar sibuk, ya.”

Minjung mencibir. “Kau bahkan seperti orang yang sedang menyiapkan sebuah konser!”

Chan tertawa. “Doakan aku agar bisa menyelenggarakannya suatu hari!” pintanya. “Dan aku akan mendoakanmu sebagai mahasiswa dengan nilai terbaik saat lulus nanti!”

Minjung tersenyum berterima kasih.

“Kau tahu? Saking sibuknya dirimu, aku lebih sering bersama Eunhyuk-mu dan Kyuhyun!” omel gadis itu. “Bahkan aku jarang bersama Donghae!”

“Donghae pasti sibuk dengan gadis-gadisnya.” Minjung bersiul. “Kuharap kau tidak lupa.”

“Yah,” Chan mengangkat bahu. “Kuharap dia tidak lupa gadisnya hanya satu dan ada di sini.”

Minjung mengangguk-angguk. Sesaat kemudian, ia tersentak, lantas berhenti mendadak. “Tunggu sebentar..” ia menyipitkan mata curiga. “Jangan bilang kalau..”

Chan tersenyum lebar seraya mengangguk.

YA!” teriak Minjung memukul keras bahu Chan. “Kenapa tidak ada yang mengatakannya padaku?! Apa aku yang paling terakhir tahu?! Bagaimana dengan Byul dan Hyosung?!”

“Mereka bahkan sudah meramalkannya.”

YA!” Minjung kembali memukul Chan.

“Oh hentikan, nona Hwang.” erang Chan mengelus bahunya. “Donghae akan marah jika dia tahu kau menyiksaku seperti ini.”

Minjung berdecih. “Aku mau lihat apa Donghae berani marah padaku jika Byul ada di sini.”

Chan merengut. Minjung tertawa bahagia.

Donghae memang termasuk tipikal pria romantis yang protektif. Ia tidak akan suka bila melihat gadisnya ‘disiksa’ oleh teman-temannya. Namun, entah mengapa, laki-laki itu, juga Sungmin dan Eunhyuk, sangat takut pada gadis aneh itu. Chan bisa mengerti. Para pria itu sering menjadi pelampiasan Byul saat berlatih taekwondo.

“Hei.” Chan menyipitkan mata, memandangi keramaian di salah satu fakultas. “Itu Eunhyuk ‘kan?”

Minjung melihatnya. Dan mereka pun menyaksikan apa yang terjadi di sana.

Chan tahu Minjung adalah gadis yang tidak terlalu suka mempedulikan apapun, apalagi menyangkut gadis-gadis yang sering menggoda Eunhyuk. Jadi gadis itu mengamit tangan sahabatnya dan berkata. “Ayo kita pergi.”

Minjung bergeming di tempatnya. Membuat Chan kebingungan.

“Tidak.” Minjung menggeleng, melepas rangkulan tangan gadis itu. “Aku tidak akan tinggal diam kali ini.”

☆☆☆

Eunhyuk mati-matian berusaha melepas Jo Na Young yang terus saja menciumnya. Mendadak, beberapa mahasiswa mengerumuni mereka. Sampai ketika ia mendorong paksa gadis itu, barulah tautan mereka terlepas.

Ia mengerang, mengusap kasar bibirnya. “Apa yang kau lakukan hah?!”

“Aku mencintaimu!” teriak Nayoung frustasi. “Jadilah milikku! Tinggalkan Minjung! Aku janji akan bersikap jauh lebih baik darinya!”

“Gagasan bodoh macam apa itu?!” sergah Eunhyuk marah. “Minjung-ku jauh lebih baik darimu bahkan kalian semua!” ia menunjuk liar kerumunan gadis-gadis itu, yang diyakini pasti pernah mengusik dirinya. “Jadi siapapun yang tidak menyukai hubunganku dengan Minjung enyahlah! Kalian tidak ada artinya bagi hidup kami!”

Laki-laki itu pergi begitu saja sementara Nayoung berdiri terpana. Tidak ada satupun orang dari kerumunan itu yang hendak pergi. Terlebih ketika seseorang menerobos kerumunan itu tanpa sopan santun sama sekali.

“Puas?”

Suara sopran itu mengejutkan semuanya. Mereka lantas berpaling pada pemilik suara itu. Minjung menghampiri Jo Na Young dengan tatapan meremehkan serta tangan dilipat di depan dada.

“Kutanya sekali lagi, puas?” Minjung memiringkan kepalanya. “Apa kau puas setelah merasakan bibir priaku?”

“Lihatlah.” gelegar Nayoung melihat semua orang. “Kenapa kau baru bereaksi saat aku mengganggu kekasihmu? Kenapa tidak dari dulu saja? Apa kau sengaja? Atau memang kau takut Eunhyuk akan jatuh dalam pesonaku?”

Minjung tertawa mengejek. “Eunhyuk-ku tidak akan jatuh ke pesona Ariana Grande sekalipun.” sahutnya. “Dan apa maksud pertanyaanmu barusan? Bahwa aku tidak pernah menegur yang lain sementara aku hanya menegurmu? Apa ada hal yang lebih bodoh lagi yang bisa kudengar dari mulut bodohmu? Atau kau terlalu buta untuk melihat tatapanku yang terlampau merendahkanmu?”

Nayong mengepalkan tangan marah.

“Begini, Jalang.” Minjung berkata tenang, seakan panggilannya barusan bukanlah apa-apa sementara Chan di belakangnya ― dan orang-orang di kerumunan ― mendengus tertahan. “Aku menegurmu sekarang mungkin karena aku secara langsung melihat apa yang kau lakukan pada kekasihku. Aku juga melihat yang lain, tapi mereka hanya menegur atau berpura-pura jatuh agar ditolong oleh Eunnhyuk. Sementara kau? Memeluk, mencium, bahkan hampir melucuti pakaiannya? Dan kau pikir aku hanya melihatmu seperti itu sekali? Aku sudah melihatnya berkali-kali! Dan jika bukan karena Eunhyuk dan wilayah tempat kalian berada sekarang, aku yakin kau pasti sudah tampil tanpa busana di depannya!”

Semua orang seakan tertampar karena kalimat barusan.

“Mereka, asal kau tahu..” Minjung menunjuk kerumunan di sekelilingnya. Ia berusaha semaksimal mungkin menetralkan emosinya. “Mereka cukup tahu diri karena aku hanya menegur mereka lewat mataku, tanpa perlu aku berkata seperti ini. Tapi kau? Kau sepertinya menganggap aku menyetujui apa yang aku lakukan karena selama ini aku hanya diam. Dan apa perlu kuingatkan kalau kaulah yang paling parah menggoda Eunhyuk? Setidaknya mereka masih punya otak, mereka masih bisa diberitahu kalau Eunhyuk milikku, dan aku tidak suka gadis manapun mendekatinya, jadi mereka tahu aku marah hanya dari tatapanku. Tapi kau sepertinya tidak mempan hanya dengan tatapan. Apa semua jalang sepertimu? Harus dipermalukan seperti ini agar mereka jera? Dan apa perlu kuingatkan kalau mangsamu bukan hanya Eunhyuk? Oh ayolah.. Eunhyuk sudah lelah menghadapimu, jangan buat Kyuhyun dan Donghae juga lelah menghadapimu!”

Minjung tersenyum miring. “Aku sebenarnya tidak perlu bicara seperti ini. Tapi ternyata kau berbeda. Kau berbahaya. Dan jalang seahli dirimu sepertinya harus diperingatkan.”

“Ah ya.” Minjung menjentikkan jari. “Persaingan antara seorang ratu dan jalang tidaklah imbang. Kau tahu itu ‘kan?”

Nayoung jelas saja marah dengan apa yang baru saja dilontarkan Minjung, terlebih ia sama sekali tidak bisa membalasnya. Wajahnya memerah, dan tangannya terkepal menjadi tinju memutih tanpa darah. “Tutup mulutmu!”

“Atau apa?” sergah Minjung menantang. “Kau akan menyetubuhi priaku di depanku?” ia menggerakkan tangan seakan mempersilahkan orang itu. “Silahkan saja. Dan kita lihat siapa yang rendah di sini.”

Nayoung meninju pipi gadis itu dengan kuat, mengakibatkan darah mengucur di sudut bibir gadis itu.

Minjung menahan sakit dengan menggigit bibirnya sebentar, lalu mendengus. “Membunuhku tetap tidak akan merubah kenyataan kalau Eunhyuk mencintaiku, sunbaenim.” kecamnya. “Jadi sebaiknya kau, dan siapapun yang tidak menyukaiku bersama dengan Eunhyuk..” ia memandangi gadis yang mengerumuninya dengan pandangan yang jauh lebih rendah, jauh lebih hina, sampai kau bahkan mulai menyadari bahwa tatapan itu tidak akan berubah ramah jika kau tidak berubah.

Minjung mendekatkan wajahnya pada wanita itu. “Enyahlah.”

☆☆☆

Cho Kyu Hyun dan Lee Dong Hae melangkah dengan terburu-buru, mengejar langkah Lee Hyuk Jae yang sudah berada beberapa meter di depan mereka. Tepat setelah Chan menelepon dan mengatakan kalau dirinya dan Minjung berada di ruang kesehatan jurusan musik (mengingat dari tempat mereka berada tadi, jurusan musik lah yang terdekat dibanding jurusan teknik ataupun ekonomi dan bisnis), tiga laki-laki itu segera bergegas ke sana.

Dan selama perjalanan, mereka tidak henti-hentinya melihat dan mendengar kehebohan yang diceritakan kembali oleh para mahasiswi. Ada yang menangis karena tahu diri dan bersalah, ada yang tampak senang, bahkan mereka melihat sendiri ada beberapa orang membuat rekaan kejadian itu, dan meniru apapun yang diucapkan Minjung. Juga memberi pendapat mereka tentang gadis itu.

b

“Aku tidak percaya seorang secerdas Minjung sunbae bisa berkata sekasar itu.”

“Kenapa tidak? Itu sangat keren, kau tahu? Nayoung sunbae seharusnya sudah diperingatkan dari dulu!”

“Aku cukup tahu diri setelah ditatap Minjung sunbae dan Chan sunbae, jadi aku tidak mau menggoda Kyuhyun sunbae, Donghae sunbae, dan Eunhyuk sunbae lagi.”

“Minjung sunbae benar-benar mengerikan.”

“Apa? Apa yang terjadi?”

“‘Begini, Jalang.’. Oh, seandainya kau melihat bagaimana ekspresi Minjung saat mengatakan hal itu!”

b

Donghae dan Kyuhyun bertatapan. Tanpa mendengar detail ceritanya seperti apa, dan bila ini memang ada kaitannya dengan Eunhyuk, sepertinya mereka sudah tahu apa yang terjadi.

Sesampainya mereka di ruang kesehatan jurusan musik, pemandangan pertama yang mereka lihat adalah: Chan yang sedang mengobati lebam di pipi Minjung.

Arghh..”

Minjung mengerang kesakitan sementara Chan terus saja mengompres lebam itu dengan kuat. Karena tidak ada siapapun orang di sini, jadi Chan-lah yang mengobati gadis itu.

Tiga laki-laki itu hanya mengamati mereka. Dua gadis itu menyadari kehadiran ketiganya, dan tanpa menoleh, Chan masih setia mengobati Minjung.

“Kau mengerikan, nona Hwang.” Kyuhyun berucap.

Mengingat apa yang sudah didengarnya, sepertinya itu adalah ujaran yang pantas diucapkan.

Ketiganya tidak terkejut dengan betapa pedasnya mulut gadis itu, oh ayolah sudah berapa tahun mereka mengenal gadis luar biasa ini? Yang membuat mereka terkejut, sekaligus kagum dan lega (ini Kyuhyun dan Donghae), adalah fakta bahwa akhirnya Minjung bicara, setelah selama ini ia diam dan hanya menjadi pengamat yang baik.

“Aku yakin Byul dan Hyosung akan bangga padamu.” Chan menyahut seraya menyeringai.

“Bohong jika mereka berdua tidak sepakat denganmu.” sambar Donghae.

Chan tertawa riang. “Aku jadi ingin tahu reaksi jalang-jalang lain saat tahu kejadian ini.”

Donghae dan Kyuhyun saling pandang. Chan pasti akan semakin bahagia bila mereka menceritakan apa yang mereka lihat tadi.

Eunhyuk mendekati Minjung yang duduk di tepi ranjang. Ia merengkuh gadis itu, tetap membiarkan Chan mengobati gadisnya. Ia menopang dagu di kepala gadis itu, mengusap-usap lengannya. Ia sudah bisa menyimpulkan apa yang terjadi tanpa perlu Chan menghabiskan energi untuk menceritakan kembali pada mereka. Jujur saja, ia sangat lega karena akhirnya Minjung bicara. Ia lelah karena sikap diam Minjung yang membuat mereka semua ― terkhusus Jo Na Young ― makin menjadi. Namun ia juga tidak menyangka karena hal ini, Minjung berakhir di ruang kesehatan, dengan Chan mengobati lebamnya.

Ia mengeratkan pelukan. “Tidakkah kau ingin marah padaku?” tanyanya dipenuhi rasa bersalah.

Yeah, marahi saja dia.” sembur Chan.

“Setelah apa yang terjadi?” timpal Donghae.

“Dia pantas mendapatkannya, nona Hwang.” Kyuhyun menyahut.

Saat Eunhyuk memeluknya, Minjung tidak menolaknya. Biasanya gadis itu tidak terlalu suka jika Eunhyuk menunjukkan kemesraan mereka di depan semua orang, bahkan di depan teman-teman mereka sendiri. Tapi kini, dalam pelukan pria nya, Minjung mendengus geli. Ia merasa semua ini lucu. Caranya menceramahi Nayoung, perhatian yang tertuju padanya, Chan yang terlihat tegang, kunjungan tiga orang ini, bahkan tinju yang didapatnya, entah mengapa semua itu membuatnya ingin tertawa.

“Ini menyenangkan, kalian tahu?” ucap Minjung kemudian.

Semua orang yang ada di dalam ruangan ini melongo.

“Jadi ini yang Byul rasakan saat nyaris membunuh Min So Eun dulu..” Minjung menyeringai senang. “Ini luar biasa.”

Empat orang itu saling tatap satu sama lain, saling mengingatkan bahwa gadis yang satu ini memiliku daya pikir yang tidak biasa. Sementara dalam hati kecilnya, perasaaan bersalah kembali menghantui Lee Hyuk Jae.

“Kalau dipikir-pikir,” Minjung mengetuk dagu dengan telunjuk. “Kapan kita berlima berkumpul seperti ini?” ia tertawa. “Mungkin kita harus berterima kasih pada Nayoung sunbae karena berhasil mengumpulkan kita berlima.”

Chan, Eunhyuk, Kyuhyun, dan Donghae ternganga.

“Maaf, aku yang harus mengakhiri semua ini.” Minjung melirik arlojinya, melepas pelukan, mengambil tas, dan berdiri. “Kelasku lima belas menit lagi! Aku pergi!”

Dan keempatnya hanya melihat punggung Hwang Min Jung yang mendadak lenyap.

☆☆☆

Hari sudah menjelang malam. Matahari akan terbenam sebentar lagi. Tapi tidak ada tanda-tanda bahwa Eunhyuk akan masuk ke rumah.

Ia menatap langit di depannya dengan tatapan kosong. Saat ini, ia tengah berada di atap rumahnya yang datar. Pintu masuk tempat ini terhubung dengan kamar Byul. Karena gadis itu baru akan kembali nanti malam, makanya ia bisa bebas berkeliaran di kamar gadis itu sebelum akhirnya memutuskan untuk berlama-lama di atap.

Laki-laki itu tersenyum sedih. Matahari mulai memancarkan semburat kemerahan. Ia menunduk, duduk bersila sementara punggunya bersandar pada rangka tempat tidur yang tidak ada kasurnya.

Bukan tanpa alasan ia menjadi sedikit ‘lemah’ seperti ini. Ada banyak hal yang ia pikirkan. Kedatangan kembali semua mantan kekasihnya, Minjung yang mau dibunuh, kejadian tadi, Minjung yang tidak tahu apa-apa tentang kehidupannya, semua itu terasa memusingkan.

Sebenarnya bisa saja ia langsung mengatakan semua itu pada Minjung, tapi akankah Minjung menerima semuanya? Ia tidak mau ada kemungkinan buruk!

Seperti.. misalnya..

Kehilangan Hwang Min Jung.

Ia.. ia takut kehilangan Minjung bila gadis itu tahu apa yang sebenarnya sedang dialaminya sekarang.

Saat itu, ia terhenyak ketika satu-satunya lampu yang ada di sini menyala. Ia baru menyadari hari sudah mulai malam.

Byul duduk di sampingnya dengan dua mangkuk es krim dan dua bungkus keripik. Ia memberikan satu untuk laki-laki itu.

“Untukmu.” kata gadis itu. “Kau mendadak menjadi pendiam sejak samchon dan imo pulang. Ayah dan ibuku mendadak sedih saat melihatmu seperti ini.”

Eunhyuk hanya menatap sepupunya. Seandainya Byul tahu sikap pendiam nya itu bukan karena ia sedih lantaran kedua orangtuanya sudah kembali ke Jepang. Seandainya Byul tahu perintah bodoh apa yang diperintahkan kedua orangtuanya padanya. Seandainya Byul tahu dirinya dalam situasi sulit sekarang ini.

“Byul-ah..”

“Ng?” Byul menoleh tanpa melepas sendok es krim di mulutnya.

“Kau tidak mau bertanya siapa gadis-gadis yang akhir-akhir ini menemuiku?”

Byul membuka mulut, membuat sendok itu jatuh begitu saja di mangkuk es krim nya. Ia mengangkat bahu acuh. “Awalnya aku penasaran, kau tahu? Apalagi kesan pertama Miyoko siapalah-itu yang membuatku ingin muntah. Tapi aku yakin, mereka semua pasti mantan kekasihmu di Jepang dulu.”

Eunhyuk tak bisa berkata-kata.

“Saat itu, daripada aku mendesakmu untuk mengatakan siapa mereka, aku mulai berspekulasi.” gadis itu ikut menyandarkan punggungnya. “Dulu kau bukan secara diam-diam menunjukkan ketidaksukaanmu saat keluargamu pindah ke Jepang ‘kan? Bahkan nenek sampai tidak tega melihatmu bertingkah lebih gila dariku. Jadi, menurutku semua mantan gadis mu itu adalah gambaran ketidaksukaanmu pada Jepang. Kau mendekati mereka, mempermainkan mereka, memberi mereka harapan palsu, lalu mencampakkan mereka. Sederhana saja.”

Laki-laki itu ternganga. “Daebak!” gumamnya tanpa sadar.

“Aku tidak bodoh untuk tidak melihat semua itu, Eunhyuk-ah..” Byul tersenyum sangsi. “Kau tidak perlu setakjub itu..”

“Sekarang aku mengerti kenapa mereka semua menyebutmu si gila serba tahu.” Eunhyuk tercengang. “Kau benar-benar mengejutkan!”

Byul tertawa, kembali menikmati es krimnya.

“Omong-omong..” gadis itu membuka bungkus keripiknya dengan berisik. “Minjung tahu soal kehidupan Jepangmu?”

Eunhyuk tertegun, sangat tidak percaya bahwa Byul akan menanyakan hal ini. Gadis ini setipe dengan gadisnya, tidak terlalu suka ikut campur masalah orang lain, bahkan sahabat-sahabatnya sendiri, kecuali jika ia merasa ia harus bertindak. Mengingat sifat Byul yang pemberani, jadi tidak heran ia selalu bisa menjadi ‘penggerak’ untuk menyelesaikan masalah para sahabatnya.

Merasa pertanyaannya tidak akan dijawab, Byul menyipitkan mata. “Coba kutebak.” nada bicaranya penuh kecurigaan yang dibuat-buat. “Dia pasti tidak tahu.”

Laki-laki ini hanya bisa menunduk pasrah karena Byul ― entah gadis itu menyadari atau tidak ― telah menyudutkannya.

“Aku tidak tahu bagaimana cara mengatakan semua ini padanya. Oke?” ungkap Eunhyuk frustasi. “Ada banyak hal yang kipikirkan dan aku tidak tahu dimana ujung pikiranku ini berada.”

Byul kemudian diam, memutuskan untuk dirinya sendiri agar ia tidak lagi bicara. Sampai ahkhirnya, sang ibu memanggil mereka untuk makan malam.

☆☆☆

Nam Hye Jung menggerutu sebal seraya menatap daftar belanjaan di tangannya, lalu beralih pada deretan barang-barang yang tertata rapi di depannya. Ia mengambil salah satu dari mereka, memasukan ke dalam troli, lalu mendorongnya, memasukkan barang lagi, melihat daftar lagi, dan mendorong lagi. Hei, ia hanya meminta ditemani berbelanja oleh cucunya, tapi mengapa sekarang malah dirinya yang harus.. berbelanja? Apa-apaan ini?

Ketika apapun yang di daftar belanjaan itu sudah terisi di troli, ia segera menuju kasir. Ia mengeluarkannya sementara penjaga kasir menyortir dan menjumlah harganya. Saat semua belanjaan sudah terisi di kantong dan layar komputer menampilkan total harga yang harus dibayar, ia segera mengeluarkan dompetnya dan membayar.

“Maaf, Nyonya.” ujar si penjaga kasir sopan. “Uang Anda belum cukup untuk membayar semuanya.”

Hyejung membelalak, lalu memeriksa setiap kantong kecil di dompet dan saku bajunya. Tidak ada uang sepersen pun. Ia mengambil telepon untuk menelepon seseorang, namun panggilan itu tidak dijawab. Bagus sekali.

Sekarang bagaimana?

Baru saja ia hendak mengurangi belanjaannya, seorang gadis dengan tiba-tiba memberikan beberapa lembar uang nominal lima puluh ribu won seraya berkata. “Kekurangannya aku yang bayar. Ini belanjaanku.”

Tentu Hyejung terkejut. Ia berusaha menolak pertolongan gadis tak dikenal itu, namun sepertinya gadis itu mengabaikannya. Ia mendadak merasa bersalah.

Setelah si kasir membereskan detail terakhir belanjaannya, seorang pegawai supermarket memberikan belanjaan itu padanya. Ia mengambilnya, dan menyadari dengan kaget bahwa ini benar-benar berat.

Dan dengan tiba-tiba juga, gadis yang membayar kekurangannya tadi membantunya membawa belanjaannya keluar supermarket. Ia melongo dan mengikuti gadis itu.

“Nah.” gadis itu menaruh belanjaan si nenek di dekat besi plang supermarket. “Akan kuletakkan di sini, ya, Nek!”

Wanita tua itu tampak tak enak. “Haruskah aku mengganti uangmu?”

Gadis itu mengibas tangannya. “Itu tidak perlu. Kekurangannya hanya sepuluh ribu won.” ujarnya. “Baiklah, aku pergi!”

Sebelum gadis itu benar-benar menjauh, Hyejung bertanya langsung. “Hei, dimana rumahmu? Akan kuantar kau pulang!”

Gadis itu tersenyum berterima kasih, kemudian menunjuk sesuatu di sana. “Itu sepedaku, Nek. Aku janji kalau aku bertemu nenek lagi, aku akan pulang bersama nenek. Anyeong!”

Hyejung melihat gadis muda itu mengikat belanjaan di kursi belakang, lalu duduk di sadel, dan melesat pergi.

“Hei, Nak!” Hyejung memanggil lagi.

Gadis itu berhenti dan menoleh ke belakang.

“Terima kasih!” teriak si nenek. “Dan behati-hatilah!”

Gadis itu tersenyum lebar, melambaikan tangan, dan pergi.

Hyejung balas tersenyum, sejenak melupakan bahwa ia sedang berada dalam kesulitan karena cucunya sendiri melesat pergi setelah menurunkannya di supermarket ini, dan membiarkannya berbelanja sendirian.

Ketika sebuah mobil yang sudah dikenalnya baik berhenti begitu saja di depannya, ia segera masuk dan duduk di kursi penumpang belakang.

“Kau benar-benar membuatku malu!” ia memukul sang supir berkali-kali. “Darimana saja kau hah?! Kenapa kau membiarkan aku yang berbelanja sementara aku yang menyuruhmu?! Kau keterlaluan!”

Sang supir hanya meringis seraya tersenyum tanpa rasa bersalah.

“Kau beruntung ada seseorang yang menolongku tadi.” desis Hyejung.

“Kalau begitu keberadaanku tidak dibutuhkan ‘kan?” celetuk supir itu santai.

YA!” Hyejung kembali memukul orang itu. “Aku meneleponmu berkali-kali, bodoh!”

“Nenek!” si supir ― akhirnya ― berteriak kesakitan sementara ia harus mengemudikan mobil. “Kalau nenek mau terbaring lemah di rumah sakit sementara paman dan bibi menangisi nenek, terus saja pukul aku!”

“Bicara apa kau?!” Hyejung lagi-lagi memukul si supir. “Akan ku bakar sertifikat taekwondo-mu!”

Aaah..” wajah si supir berubah ramah, mendadak tak lagi merasa kesakitan. “Baiklah, Nek!” ia memaksakan seluas senyum. “Sekarang nenek mau ke mana? Akan ku antarkan!”

“Kita ke rumahmu, dasar bodoh!”

“Oh iya.” si supir menjentikkan jari. “Maaf, aku kadang suka melupakan hal-hal kecil.”

Hyejung berdecih. “Carilah pasangan dan menikahlah! Kau benar-benar membuatku muak!”

“Oh ayolah, aku baru akan wisuda setahun lagi nenek sudah membicarakan pernikahan!” erang si supir sebal. “Kenapa nenek tidak menyuruh Eunhyuk saja yang menikah?”

“Ah, kau benar.” wanita itu mengangguk-angguk, cukup kagum bahwa cucu sintingnya ini bisa juga membicarakan hal berbobot. “Akan kujodohkan Eunhyuk dengan gadis pilihanku.”

“APA?!”

☆☆☆

Minjung turun dari tangga rumahnya seraya mengenakan jaket, lalu menuju garasi dan mengambil sepeda. Ia mengayuh menjauhi rumah, dan menuju toko bunga.

Ia mengamati buket bunga matahari segar dan mengambil dua buket. Ia menghirup aroma bunga itu, dan tersenyum senang. Ia membayar bunga itu di kasir, dan keluar dari toko. Ia meletakkan bunga itu di keranjang sepeda, kemudian mengayuh sepeda menuju suatu tempat.

Sesampainya di tempat itu, ia memarkir sepedanya, mengambil buket tadi, dan berjalan dengan riang menuju dua makam yang sudah dikenalnya baik.

Eomma, appa, anyeong!”

Minjung tersenyum teduh, duduk di antara dua makam identik berbeda tulisan nisan itu. Ia meletakkan buket bunga tadi di masing-masing makam. Ia mengusap sayang kedua nisannya. Ia menunduk, terdiam cukup lama untuk berdoa. Kemudian, ia mengangkat wajah dan tersenyum cerah.

“Apa kabar?” Minjung menyapa, sebagai pembuka ocehan panjangnya. “Aku benar-benar sibuk kuliah. Bakan aku merasa tidak ada tempat yang kukunjungi selain kampus dan rumah!”

Ia tertawa sendirian, lalu kembali bicara. Kini menghadap makam ayahnya. “Maaf karena aku jarang berkunjung. Akhir-akhir ini aku terlalu sibuk dengan kuliahku. Tugas, praktikum, presentasi, praktikum lagi, presentasi lagi. Aku bahkan hampir jarang di rumah. Aku tidak lagi sering menemani Jikyung bermain catur, atau membantu nenek mengantar tartlet, atau membantu kakek memperbaiki ini itu. Aku juga jarang menghabiskan waktu dengan teman-temanku, walau mereka selalu mengajakku kesana kemari, tapi aku jarang sekali menyanggupinya. Mereka malah akan heran kalau aku akan pergi bersama mereka. Donghae sering memarahiku karena terlalu sibuk, tapi aku tidak bisa mengabaikan tugas-tugasku demi mereka. Jujur saja, kadang aku merasa bersalah pada tiga gadis itu, dan para laki-laki.. terutama Eunhyuk..”

Ia memejamkan mata erat. “Ibu, Ayah, aku mencintai orang itu dan kalian pasti akan terkejut kalau tahu seberapa besar aku mencintainya, juga bagaimana dia mencintaiku. Aku yakin kalian pasti akan langsung menyukainya saat pertama kali bertemu, seperti kakek, nenek, dan Jikyung. Dia benar-benar baik. Dia sering membantu kakek dan nenek, juga mengerjakan tugas-tugas sekolah Jikyung tanpa aku sendiri tahu. Dia juga sangat peduli padaku, juga pada mereka bertiga. Dia menyayangiku dan aku juga menyayanginya. Tapi..”

Entah mengapa setitik air mata Minjung jatuh. “Tapi.. aku merasa aneh dengan hubungan kami..” ungkapnya. “Dia tahu semua tentangku, tentang ayah dan ibu, tentang bagaimana kalian bisa berakhir se-mengenaskan itu, bahkan tentang Ilhoon dan Jihye. Dia tahu semua tentangku, tapi aku tidak tahu sedikitpun tentang dirinya. Maksudku.. soal latar belakangnya. Aku hanya tahu dia pernah tinggal di Jepang. Hanya itu. Tidak lebih. Aku tidak tahu bagaimana kehidupannya di Jepang, atau alasan kepindahannya, atau bahkan tentang kedua orangtuanya, kecuali fakta kalau dia dan Byul adalah sepupu..”

“Ibu dan ayah tahu ‘kan kalau aku sebenarnya tidak akan mempedulikan semua itu kalau saja tidak ada sesuatu yang janggal?” Minjung masih mengoceh. “Pada awalnya aku seperti itu. Kupikir mungkin Eunhyuk butuh waktu untuk mengatakan semuanya padaku. Tapi sudah empat tahun aku bersamanya dan dia tidak pernah bilang apa-apa soal itu. Ditambah lagi, akhir-akhir ini dia sering dikunjungi oleh gadis-gadis Jepang yang tidak kukenal. Dan asal ayah dan ibu tahu, mereka dari berbagai kalangan profesi dan umur. Aku tidak mengerti. Kalaupun memang mereka semua mantan kekasihnya, kenapa mereka muncul lagi? Apa yang mereka inginkan? Aku tidak tahu dan aku muak..”

Ia mengusap wajahnya, lalu memandang makam itu bergantian. Ia memeluk lutut, menopang dagu di lututmya. “Banyak hal yang kupikirkan.. salah satunya tentangnya, dan yang lain soal Ilhoon dan Jihye. Mereka kabur dari penjara. Aku sangat takut. Dulu Jihye pernah hampir membunuhku dan aku yakin dia tidak akan puas dengan itu. Mereka pasti akan membunuhku, atau menyuruh seseorang membunuhku. Mereka tidak mungkin berani menampakkan diri setelah mereka dicari hampir di seluruh Asia. Aku yakin itu. Dan karena itulah aku lebih menyibukkan diri dengan kuliah supaya aku tidak memikirkan semua masalahku..”

Hwang Min Jung menghela napas lega. “Selama ini aku selalu mencari waktu agar bisa kemari dan mengatakan semuanya pada ibu dan ayah. Entahlah. Aku tidak berniat menceritakan ini pada teman-temanku, bahkan pada Donghae. Mereka pasti sibuk, dan aku tidak mau mereka terbebani hanya karena masalahku. Eunhyuk juga selama ini baik-baik saja, karena aku selalu menunjukkan sikap tidak peduli dan masa bodohku. Tenang saja, aku akan baik-baik saja. Jangan khawatirkan aku.”

Sekali lagi ia mengusap dua batu nisan itu. “Aku pulang, ya? Dan kuharap ayah selalu menyukai bunganya karena ibu suka bunga matahari. Sampai jumpa!”

Minjung berdiri, membersihkan tanah dan rerumputan di celananya, lalu berjalan menjauhi makam.

☆☆☆

Laki-laki bermarga Lee itu merapikan peralatan kebun dan memasukannya ke kotak kayu dekat pintu halaman belakang. Ia membasuh kakinya dengan air yang mengalir dari keran di dekat situ, kemudian mengeringkan telapak kakinya dengan keset. Setelah itu, barulah ia masuk ke rumah lewat pintu belakang yang langsung terhubung dengan dapur.

Do Yoo Jin, yang memang sedang ada di dapur untuk membuat makan malam, melihat keponakannya tengah mengeringkan tangan. “Ah, kau sudah menyelesaikannya?” ia berkata. “Maafkan imo, Eunhyuk-ah, biasanya Byul yang melakukan semua itu.”

“Tidak apa, imo.” balas Eunhyuk. “Kurasa Byul lebih menderita karena nenek memintanya untuk menemaninya hari ini.”

Ibu Byul langsung tertawa. “Aigoo, anak itu.” gumamnya. “Kuharap dia tidak membuat darah tinggi ibu naik. Lihatlah bagaimana dia memohon padaku supaya dia tidak menemani nenekmu! Apa-apaan itu?”

“Kurasa Byul akan melakukannya.”

Yoojin kembali tertawa.

Eunhyuk menuju lantai dua, tempat kamarnya dan Byul berada. Ia masuk ke kamar Byul. Ia menarik seutas tali di langit-langit sudut kamar, sehingga sebuah tangga kayu turun begitu saja. Ia menaikinya, dan membuka pintu tingkap menuju atap.

Akhir-akhir ini ia lebih suka menyendiri di atap ini. Ini memang menenangkan, tapi tidak membuat masalahnya terpecahkan. Kalau boleh jujur..

Tiba-tiba, dari tempatnya berdiri, ia melihat Byul sedang adu mulut dan hampir mematahkan tangan seorang gadis Jepang. Setelah itu Byul berlari dan secara tiba-tiba sudah muncul di atap.

“Hei, kau tidak pernah bilang padaku kalau nenek akan menjodohkanmu!”

n

To Be Continued

n

HEHE panjang yak? Maapkeun ya, ini udah susah payah banget aku ngarangnya, dan mungkin karena akunya yang capek makanya jadinya rada ngebosenin gitu. Ini hampir 5k malah wqwqwqwqwq -_- Dan ini sumpah demi apapun bertele-tele banget :3

Aku minta maaf juga kalo misalnya aku bakal ngepost next partnya agak lama, soalnya kesibukan kulya mulai menghantui :v Maaf curhat :v

Jadi yawdah lah ya, intinya aku mau nanya, gimana pendapat para pembaca *ya kalo ada yang baca* soal cerita rongsokan ini? Mau dilanjutin? Endingnya masih 5 part lagi soalnya, jadi pasti bakal boriiiiiiiiiinggg banget :3 #spoiler #HEHE

Advertisements

3 thoughts on “Love, Trust & Hate 5

  1. Wahhh minjung kalau beraksi ganas juga ya, gak nyangka 😀😀 daebakkk kkkk .. tapi gak apa2 lah.. oh ya bakalah ada yg dijodohin nih kkkk.. sayang nya yg mau dijodohin udah ada yg punya dan itu sama2 orang yg sudah jdian 😀😀😀

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s