A ‘Good’ Bye 1

escape-girl-postcards-from-far-away-running-away-sweet-escape-Favim.com-61017

He thinks his gone will made his little girl feel so sad. But in fact, he’s absolutely wrong.

1 | 2 | 3 (END)

***

LEE DONG HAE menutup pintu di belakangnya, lalu berdiri di apartemen di depannya. Ia merapikan bajunya sedikit, menekan beberapa digit sandi, dan membuka pintu. Ia mengamati sekitarnya. Tidak ada aktivitas yang menandakan kehidupan.

Pria itu mendesah. Ini bukan hal baru baginya.

Ia membuka tirai-tirai jendela, membiarkan matahari menyinari apartemen ini. Setelah itu, ia mematikan semua lampu. Lalu menuju sebuah kamar.

Lagi, ia mendesah. Dan lagi, ini bukan hal baru.

Seorang gadis tertidur dengan pose yang sangat-tidak-pantas-untuk-dilihat. Sungguh! Bahkan Donghae harus mengakuinya! Gadis itu tertidur tengkurap, kepala yang menggantung di pinggir tempat tidur, rambut yang nyaris menyentuh lantai, kaki yang tertekuk, dan selimut dan bantal yang letaknya tidak teratur lagi. Donghae beruntung, gadis itu tidak mendengkur!

Jadi, ia mendekati gadis itu, membangunkannya.

“Joohae-ah..”

Gadis itu melenguh malas ketika Donghae menusuk-nusuk pelan pipinya dengan jari. Ia menutup wajah dengan selimut, berbaring ke samping. Oke, ia sangat lelah dan sangat mengantuk. Semalam ia harus bekerja keras di kantor dan baru tidur pukul dua. Namun sekarang sudah pukul sebelas.

“Lee Joo Hae..”

“Ng..”

Donghae hanya tersenyum. Terlalu mengerti betapa kerasnya usaha gadis itu untuk membiayai hidupnya, dan terlalu tahu bagaimana tabiat buruk gadis itu ketika tertidur. Ia bisa saja membiarkan sang adik tertidur sampai besok, kalau saja ia tidak punya kepentingan mendesak dengan gadis kecil ini. Namun sayang, hari ini ia memiliki kepentingan mendesak itu.

Ia bergerak menuju jendela, menyibak tirainya, membiarkan sinar matahari menerangi kamar gadis ini dan menyadarkannya. Ia berhasil. Gadis itu langsung duduk dan berteriak kesal.

Oppa! Oppa tahu ‘kan semalam aku lembur?!”

Donghae mengernyit, duduk di tepi tempat tidur. “Ya, kau berani membentakku?”

Gadis itu tampak salah tingkah. “Ah, itu..” ia memegang tengkuknya dan menunduk. “Mianhae..”

Donghae mendengus geli. Ia tidak marah dengan adiknya. Sungguh. Gadis itu hanya kelelahan. Dan ia sangat mengerti. “Maaf, aku agak egois hari ini.”

Joohae langsung mengangkat wajah.

“Aku tahu kau ingin tidur seharian, tapi di saat yang bersamaan aku ingin menghabiskan waktu bersamamu.” ucapnya mengusap kepala gadis itu. “Kau mau menemaniku jalan-jalan ‘kan?”

Seketika kau tidak akan melihat rasa kantuk di wajah Lee Joo Hae. Ia melompat dari tempat tidur, dan berlari menuju kamar mandi.

Donghae terkekeh. “Kau masih suka jalan-jalan ternyata.” gumamnya. Ia mulai mendengar percikan air di kamar mandi. “Dan mungkin ini adalah salah satu hal yang akan kurindukan.”

☆☆☆

Oppa, oppa mau mengajakku kemana hari ini?”

Donghae melirik gadis yang tengah duduk manis di sampingnya, menikmati triple burger with cheese dengan lahap. Ah, lebih tepatnya, gadis itu menikmati makanannya dengan rakus. Tepat setelah gadis itu bersiap, ia tidak memasukkan apapun ke dalam perutnya, bahkan segelas air. Akhirnya mereka berhenti di salah satu restoran fast food dan membeli dua buah triple burger with cheese, dua coklat hangat, dan seporsi besar fried fries. Setelah itu, ia kembalikan fokusnya ke jalan raya karena, yah, ia sedang menyetir saat ini.

“Kemanapun kau ingin pergi.” jawab Donghae. “Aku akan menuruti semua perkataanmu. Tapi kita hanya akan berada di seputar Seoul saja. Arraseo?”

Joohae mengangguk patuh, meneguk coklatnya. “Bagaimana kalau kita ke supermarket dulu? Persediaan makananku hampir habis..”

Donghae mengangguk. Mulai melaju di jalanan padat kota Seoul. Mereka tidak bicara apapun selama beberapa menit. Hanya terdengar suara berisik Lee Joo Hae yang sedang mengunyah.

Sampai akhirnya Lee Dong Hae buka suara.

“Ehm.. Joo?”

“Ya, oppa?” balas gadis itu dengan mulut penuh.

Donghae melirik sekilas gadis itu, terkikik geli. “Apa kau akan menjadi gadis kecilku untuk selamanya?” omelnya bercanda. Ia membersihkan sekitar bibir Joohae. “Makanlah dengan baik.”

“Aku tidak tahu apa aku bisa berhenti menjadi gadis kecil oppa.” kekeh Joohae. “Bagiku tidak ada yang lebih baik dari itu.”

“Kupikir kau lebih senang menjadi gadis kecil Jikyung daripada gadis kecilku.”

Wajah Joohae langsung memerah. “Aku.. kalau begitu.. aku..”

Donghae tertawa, merasa bahagia melihat adiknya tak berkutik.

“Ah, dan satu lagi.” tambah Donghae setelah puas tertawa.

“Apa itu?”

Pria itu membuat gerakan menunjuk mulut. “Tolong suapi kentang itu, Joo?”

Joohae membelalak, menoleh sepenuhnya pada sang kakak. Apa?! Seorang Lee Dong Hae minta disuapi? Hei, ini sangat jarang terjadi! Biasanya Joohae-lah yang paling sering ingin disuapi makanan oleh kakaknya. Tapi sekarang..

Oppa?”

“Ya?”

Gadis itu menyentuh kening sang kakak dengan telapak tangannya. “Oppa tidak sedang sakit ‘kan?”

Donghae tertawa. “Memangnya kenapa kalau aku mau disuapi makanan oleh adikku sendiri? Apa itu terlihat aneh?”

“Tidak juga sih..” cicit gadis itu pelan. “Tapi..”

“Ayolah, suapi saja..”

Joohae menurut, mengambil beberapa kentang goreng dan menyuapi kakaknya. Sesekali Joohae juga menyuapi kentang itu ke mulutnya, lalu ia kembali menyuapi sang kakak.

“Coklat hangatnya juga, ya?”

Joohae mengarahkan sedotan ke mulut Donghae, membiarkan pria itu meneguk minuman sesuka hatinya. Setelah semua itu, ia membersihkan mulut sang kakak.

Donghae tertegun ketika ― tanpa diperintah ― sang adik melakukan itu. Hei, ini bukan kali pertama Joohae melakukannya, tapi.. kenapa sentuhan sang adik terasa berbeda?

Oppa, mau kusuapkan burger nya juga?”

Tanpa berpikir panjang, Donghae mengangguk.

☆☆☆

Dengan riang, Joohae membawa dua kantong belanjaan di kedua tangannya. Ia berjalan menuju mobil, meletakkan semua itu di kursi penumpang belakang. Ia kembali ke tempatnya. Kursi penumpang depan. Dan Donghae sudah menunggu.

“Tadi itu menyenangkan, ya, oppa?”

Donghae menghela napas. “Yah, bagimu.”

Joohae tertawa riang.

“Kau beruntung mereka tidak mengenaliku.”

Gadis itu mengangguk. “Tidak apa. Itu suatu keuntungan bagi oppa, karena aku tahu itu sangat memalukan.”

Donghae menggeleng prihatin dan mulai menjalankan mobil. Bagaimana tidak memalukan? Joohae mengambil troli dan menaikinya seakan benda itu adalah sebuah scooter. Ia mengambil barang, melaju dengan trolinya, terus seperti itu sampai ia nyaris melukai tiga orang anak kecil. Gadis itu dimarahi habis-habisan oleh ibu ketiga anak itu. Bukannya jera, gadis itu tetap melanjutkan kegilaannya.

Dan ia beruntung, mereka tidak tahu kalau gadis itu sedang bersamanya. Yah, kita tahu dengan baik siapa kakak Lee Joo Hae.

“Tidak apa kalau hanya aku sendiri yang tahu kalau aku tadi sedang bersama Donghae Super Junior.” Joohae melanjutkan. “Itu tetap membuatku bahagia. Mengingat aku jarang berbelanja bersama oppa. Dan hal tadi bukan sesuatu yang bagus untuk diketahui netizen.

Donghae terdiam. Ia setuju dengan kalimat terakhir yang diucapkan gadis itu. Namun soal berbelanja bersama.. yah.. mereka jarang melakukannya. Bahkan Donghae tidak ingat kapan ia pernah berbelanja sesuatu bersama Joohae. Tidak, bukan jarang.. tetapi, ini pertama kali mereka berbelanja bersama!

Setelah apa yang mereka alami bersama, mengapa ia baru menyadari betapa gadis kecilnya ini sangat berarti baginya?

☆☆☆

Mereka benar-benar menghabiskan hari itu dengan berjalan-jalan. Mulai dari menonton teater Nanta di Myeong Dong, melihat pergantian prajurit di istana Gyeongbeok, bermain air di Cheonggyecheon, mengunjungi Monumen Peringatan Perang Korea (Joohae berkata ketika ditanya sang kakak. “Liburan tidak mesti harus bersenang-senang. Kita tetap harus belajar, meskipun itu sejarah ataupun fisika.”), menikmati beberapa wahana ekstrem Lotte World,

Dan terakhir, beristirahat di salah satu taman dekat sungai Han.

Hari sudah malam ketika mereka tiba di sana. Ketika sebuah kain dibentangkan di rumput, Joohae segera mempersiapkan semua makanan untuk piknik mereka: sup hangat, nasi, dan bulgogi. Mereka makan sembari menikmati pemandangan sungai Han di malam hari.

“Joo-ah?” Donghae memanggil. “Suapi aku lagi?”

Gadis itu tidak langsung bereaksi. Ia diam, lalu menunjuk pipinya sebagai syarat.

Pria itu meletakkan mangkuk, menangkup wajah adiknya, dan mengecup pipi kanan dan kiri gadis itu berkali-kali.

Joohae tersenyum, lalu menyuapi Donghae dan dirinya sampai makanan mereka tandas.

Setelah itu, keduanya merebahkan diri, lelah karena ‘liburan sehari’ mereka.

Oppa, kenapa tiba-tiba mengajakku jalan-jalan?”

Donghae tidak langsung menjawab. Ia sudah menduga pertanyaan ini. Dan ia sudah mempersiapkan jawabannya.

“Ingat janjiku waktu kau marah-marah karena kepulangan mendadak kita saan liburan di Jerman? Nah, ini penggantinya. Yah, meskipun tidak di luar negeri, atau bahkan Jeju, aku tetap senang bisa menghabiskan seharian ini bersamamu.”

Gadis itu mengangguk-angguk. “Tapi.. kenapa cuma sehari? Haruskah kita melakukan semua tadi dalam waktu sehari?”

“Yah..” Donghae tengah berusaha mencari jawaban saat ini. “Kenapa tidak? Aku tidak punya satupun jadwal hari ini. Dan aku takut besok jadwalku akan sangat padat.”

Gadis itu mengangguk-angguk, mulai paham. Itu membuat Donghae lega.

Oppa?”

“Hmm?”

Gadis itu beringsut mendekat, mengecup pipi Donghae. “Gomawo.”

Pria itu menoleh. “Untuk?”

Joohae menengkurapkan tubuhnya, dengan kedua siku menopang tubuhnya. Ia menatap Donghae. “Karena telah berusaha untuk tidak mengubahku menjadi orang gila.” Ia meletakkan kepalanya di dada Donghae. “Oppa tahu betul kalau aku butuh liburan.”

Donghae mengusap-usap kepala gadis itu.

“Dan ini jauh lebih baik dari tidur seharian.” gadis itu memeluk tubuh Donghae erat. “Sekali lagi, terima kasih..”

Pria itu terkekeh. Adiknya bertingkah seperti remaja SMA yang sedang bersama kekasihnya. Ah, bahkan ia yakin, jika orang-orang tidak mengenalnya sebagai Donghae Super Junior, mereka pasti akan dikira pasangan kekasih. Donghae mengerti, tapi tidak dengan Joohae. Gadis ini bahkan tidak mengerti terkadang ada beberapa pasang mata yang memandangnya iri. Yah, bagi yang mengenal Super Junior, Lee Joo Hae adalah gadis beruntung yang memiliki kakak seperti Lee Dong Hae. Bagi yang tidak, gadis itu cukup beruntung untuk bisa ‘bersama’ pria setampan Donghae.

Kini gadis itu tidur telentang, masih menjadikan dada Donghae sebagai bantalnya. Ia memandang langit sambil tersenyum. Dan itu cukup membuat Donghae merasa bahagia, sekaligus sedih di saat yang bersamaan.

Sungguh, ia akan sangat merindukan gadis kecil ini.

☆☆☆

“Sampai jumpa besok!”

Dua orang pria  melambaikan pada Joohae dan temannya, Min Eun Joo, sembari melangkah menuju garasi. Joohae mencari-cari dompet dari tas, sementara Eunjoo terfokus pada ponselnya. Mereka berjalan menuju halte.

“Eunjoo-ah..” panggil Joohae. “Sepertinya dompetku ketinggalan lagi..”

“Ya, baiklah. Aku yang bayar..”

Joohae menyeringai. “Aku janji, besok aku yang akan membayar bis untukmu.”

“Ya, ya.”

Joohae berpaling, cukup kesal karena jawaban teman kantornya itu terdengar setengah hati. Tapi begitu ia melihat apa yang terjadi, ia tahu sebabnya.

“Bagus. Fangirling lagi.”

Eunjoo tidak menanggapi.

Joohae menghela napas kesal. Ia tahu temannya ini adalah penggemar grup kakaknya. Tentu saja Eunjoo (bahkan seluruh penggemar Super Junior di dunia) tahu bahwa ia adalah adik Lee Dong Hae. Gadis itu tidak pernah ketinggalan satupun berita tentang Super Junior. Tidak heran Joohae sering diacuhkan . Namun begitu, Min Eun Joo tetap gadis baik. Dan Joohae sangat beruntung bisa berteman dengannya.

Juga Eunjoo yang sangat beruntung bisa mengenal Lee Joo Hae. Kalian mengerti maksudku?

MWO?!”

Joohae menghela napas. Kira-kira berita terbaru tentang Super Junior apa yang akan ia dengar?

“Joohae-ah!” Eunjoo akhirnya menganggap kehadiran Joohae.

“Ng?”

“Kenapa kau tidak bilang padaku kalau Donghae oppa akan menjalani wajib militer tahun ini?!”

Joohae mengernyit. “Wajib.. militer?”

Eunjoo memutar bola mata kesal. Pernah tinggal beberapa tahun di Eropa membuat Lee Joo Hae nyaris melupakan kebudayaan dan peraturan negara kelahirannya sendiri. “Itu.. yang dilakukan Shindong oppa dan Sungmin oppa.. kau tahu? Eunhyuk oppa, Donghae oppa, dan Siwon oppa juga akan menyusul mereka berdua!”

Joohae mengerjap. Sungguh, ia tidak tahu tentang hal ini.

“Kapan Donghae oppa akan memulai wajib militernya?”

“Lima belas Oktober!”

Mata Joohae menjadi selebar piring terbang.

Eunjoo mengernyit. “Aneh. Kenapa kau tidak tahu hal ini? Kukira kau adalah orang pertama yang tahu.”

Joohae diam. Lee Dong Hae akan menjalani wajib militer dan ia yang paling terakhir tahu tentang hal ini? Ya, ia yakin sekali. Ia yakin dan percaya seluruh penggemar kakaknya di dunia sudah tahu tentang hal ini. Dan kata Eunjoo, pria itu akan memulai kewajiban negaranya pada tanggal lima belas Oktober.

Itu hari ulang tahunnya dan kakaknya.

Dan itu.. dua hari lagi.

Pikirannya berkelana pada kejadian kemarin. Saat mereka menghabiskan waktu seharian. Saat kakaknya mengakui kalau dirinya akan sedikit egois. Saat Donghae minta disuapi olehnya. Saat Donghae betah memandang lama dirinya. Saat Donghae memeluk dirinya begitu erat dan lama ketika mereka berada di sungai Han. Saat Donghae – bahkan – mengantar dirinya sampai di kamarnya. Saat ketika ia tertidur semalam, sang kakak mengusap sayang kepala dan mengecup lembut keningnya.

Sekarang ia mengerti kenapa kemarin Donghae ingin menghabiskan waktu bersamanya.

Tapi, Joohae masih punya satu pertanyaan.

Kenapa Donghae merahasiakan ini darinya?

“Joo-ah, kau sudah ditunggu.”

Gadis bermarga Lee itu tersadar dari lamunannya. Ia melihat sebuah mobil berhenti di depannya, dimana sang pengemudi melambaikan tangan padanya. Setelah berpamitan pada Eunjoo, gadis itu masuk ke mobil. Tidak lupa Eunjoo yang tersenyum manis pada Donghae.

Mobil pun melaju. Tidak ada yang berbicara di sana. Sampai Joohae menyadari perubahan pada sang kakak.

Yeah, we know it too well : potongan rambut Lee Dong Hae.

Gadis itu mulai merasakan air matanya mendesak ingin keluar.

Oppa?”

Donghae melirik gadis itu sekilas.

“Apa aku yang paling terakhir tahu?”

Pria itu mengerutkan kening tanpa menoleh. “Tentang apa?”

Enlistment.”

Donghae tampak terkejut. “Jadi.. kau sudah tahu?!”

“Apa aku perlu mengulanginya?” gadis itu menoleh sepenuhnya pada sang kakak. “Donghae Super Junior siap masuk wajib militer pada tanggal 15 Oktober, dan Lee Joo Hae adalah orang yang paling terakhir tahu tentang hal ini!”

Pria itu tidak menanggapi.

“Kenapa, oppa?” bisik Joohae. Air matanya mulai mengucur. “Kenapa oppa tidak mengatakannya padaku? Kenapa oppa merahasiakan ini dariku?”

Mereka telah sampai di Star  City. Dan tidak ada satupun  dari mereka yang berniat turun.

Joohae mulai menangis. “Kenapa aku harus tahu dari orang lain, oppa?” ucapnya serak. “Kenapa aku tidak menjadi orang pertama yang tahu? Apa sulit untuk mengatakan, ‘Joohae-ah, oppa akan pergi wajib militer. Jaga dirimu selama aku tidak ada, eoh? Dan jangan lakukan hal-hal konyol yang menyulitkan Leeteuk hyung!’?”

Donghae hanya memandang gadis itu.

“Hal yang bahkan sudah diketahui seluruh dunia dari berminggu-minggu yang lalu.. bahkan baru diketahui olehku sekarang..” Joohae melanjutkan. Raut kecewa terpancar di wajahnya. Ia terkekeh menyedihkan. “Memang aku siapa? Ah, aku baru ingat kalau baru empat tahun dunia mengenalku sebagai adik Lee Dong Hae.”

Gadis itu keluar dari mobil, berlari memasuki apartemen. Ia mengabaikan Lee Dong Hae yang memanggilnya berulang kali.. sambil berlinang air mata.

Kalimat terakhir itu sukses membuat Donghae terluka.

☆☆☆

Seperti pagi-pagi sebelumnya, Joohae dibangunkan oleh suara alarm paling menyebalkan di dunia. Ia mematikan alarm itu dan menuju dapur. Tak lupa sebelumnya ia menyalakan televisi. Ia menyalakan coffee maker, memasukan roti ke dalam toaster. Sembari menunggu, ia memandang televisi. Ia mendengus. Kenapa ia menonton acara gosip?

Ia menuangkan cappucino ke cangkir, lalu meminumnya dengan perlahan. Tidak ada pemberitaan menarik diberitahukan pembawa acara gosip itu. Tidak ada skandal besar. Tidak ada yang bisa menyedot perhatiannya.

Joohae menghabiskan roti panggangnya. Saat ia hendak bangun untuk membereskan peralatan makannya, ia melihat ponselnya bergetar.  Ia melirik ponselnya sekilas. Sebuah pengingat muncul di layar.

Hari ini, 15 Oktober. Hari ulang tahun Lee Dong Hae dan Lee Joo Hae.

Biasanya orang itu akan menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Begitu juga dia yang akan menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun pada orang itu. Tapi hari ini.. bahkan tidak ada satupun telepon, pesan singkat, atau notifikasi SNS untuknya.

Hah, apa pedulinya jika orang itu atau orang lain tidak mengucapkan selamat ulang tahun? Umurnya tidak akan berkurang hanya karena itu!  Masih banyak hal yang bisa ia lakukan selain membalas ucapan selamat ulang tahun!

Salah satunya, menerima telepon.

Yah, ponselnya bordering.

“Hallo?” Joohae menjawab.

“…”

“Apa? Mengecek e-mail? Sepagi ini?”

“…”

“Haruskah?”

“…”

“Baiklah.”

Gadis itu memutuskan sambungan telepon, bergegas menuju kamarnya, menyalakan laptop. Dan ia nyaris membanting laptop-nya sendiri saat membuka e-mail­ yang masuk untuk dirinya.

☆☆☆

Park Jung Soo duduk di ranjangnya dalam diam. Pandangannya tak terlepas dari sebuah kotak seukuran kotak sepatu yang dibungkus rapi yang terletak manis di depannya. Ia menghela napas, tak tahu harus melakukan apa.

Kotak itu bukan miliknya, tentu saja. Kotak itu hanya dititipkan padanya, untuk diberikan pada seseorang. Namun ini sudah dua minggu sejak kotak itu diberikan padanya. Ia belum memenuhi janjinya pada orang itu.

Ia menghela napas, berdiri. Ia mengambil kotak itu, keluar apartemen, dan menekan bell pada apartemen di depannya.

Satu kali. Dua kali. Tiga kali.

Tidak ada jawaban.

“Joo-ah, apa kau di dalam?” teriak Leeteuk.

Beberapa detik kemudian, barulah pintu terbuka. Menampakkan seorang gadis yang penampilannya jauh dari kata baik. Rambut awut-awutan, lingkaran hitam di sekitar mata, dan wajah yang tampak lelah.

Anyeong, oppa.”

Leetuk mengerutkan dahi. “Apa yang terjadi denganmu?”

Gadis itu tidak menjawab. Ia melangkah masuk ke kamarnya. Leeteuk mengikuti gadis itu. Ia melihat Joohae duduk di meja belajarnya, sedang menulis sesuatu. Ah, lebih tepatnya, gadis itu tengah berusaha untuk menulis sesuatu. Itu bisa terlihat dari banyaknya robekan dan remukan kertas yang bertebaran di meja, lantai, bahkan tempat tidur.

Pria itu melihat dari bahu Joohae. “Apa yang sedang kau tulis?”

“Surat pengunduran diri.” balas Joohae tanpa menoleh.

“Kenapa kau ingin mengundurkan diri dari kantormu? Hei, gajimu sangat besar dan kau adalah anak kesayangan bos-mu!”

Sebagai jawaban, Joohae memperlihatkan layar laptop pada Leeteuk. Menunjukkan pada pria itu e-mail yang masuk untuknya, dua minggu yang lalu. Setelahnya, ia kembali menulis.

Mata Leeteuk membelalak. “Kau akan kuliah lagi?!”

Joohae mengangguk. Masih fokus pada suratnya.

“Apa aku orang yang terakhir tahu?”

“Tidak.” Joohae menggeleng. “Oppa yang pertama tahu.”

MWO?!” pekik Leeteuk. “Bahkan keluargamu tidak ada yang tahu tentang hal ini?!”

Joohae mengangguk lagi. Kali ini ia tengah mencoret-coret kertas.

“Termasuk Donghae?!”

Joohae berhenti menulis.

Leeteuk membalik kursi gadis itu, sehingga Joohae tidak lagi membelakangi dirinya. Ia berlutut menghadap gadis itu, mensejajarkan diri dengan Joohae. “Semarah itukah kau pada kakakmu sehingga kau tidak mau mengatakan kabar baik ini padanya?”

Joohae menunduk, tidak berani memandang pria itu.

“Kau bahkan tidak mengantarnya pergi wajib militer, dan tidak mengucapkan selamat ulang tahun padanya!” bentak pria itu. Ia tidak dapat menahan kekesalannya lagi. “Adik macam apa kau ini?!”

Gadis itu mengangkat wajahnya dengan berani. “Donghae oppa juga tidak mengucapkan selamat ulang tahun padaku! Jadi kenapa aku harus mempedulikannya?!”

“Jadi begitu?” Leeteuk berdiri. Ia mengambil kotak yang tadi dibawanya, lalu menyerahkan benda itu. “Kau bisa membukanya. Dan kuharap pikiranmu terbuka.”

Joohae membuka kotak itu perlahan. Di dalamnya, ada sebuah album. Gadis itu membukanya, mendelik saat melihat sebuah amplop terjatuh dari sana. Ia membaca tulisan di amplop itu.

b

“Untuk adik kecilku satu-satunya,

Lee Joo Hae

Semua yang kau pertanyakan ada di sini.”

v

Satu isakan lolos dari mulut gadis itu.  Ia membalik amplop di tangannya, mengambil surat di dalam sana, kemudian membaca isinya.

b

“Selamat ulang tahun, gadis kecil! Ah, kuharap aku akan menjadi orang pertama yang mengucapkan ini untukmu, tapi karena kewajibanku pada negara, aku tidak bisa melakukannya! Maafkan kakakmu yang hina ini, ya!

Aku sempat kebingungan untuk memikirkan hadiah apa yang pantas aku berikan padamu, setelah aku menyembunyikan banyak hal darimu. Sampai akhirnya, aku membeli album foto ini dan mengisi semuanya dengan fotomu! Kau tahu? Sebagian besar foto yang ada di sini tidak kau miliki. Semuanya adalah hasil jepretanku secara diam-diam. Kau tampak sangat cantik dan aku mulai jatuh cinta padamu! Haha!

Kebanyakan foto ini diambil saat kita menghabiskan waktu seharian beberapa hari lalu. Yah, walaupun masih ada juga foto saat kita berada di Jerman, tapi tidak apa. Yang penting semua ini karyaku, dan aku harap kau menyukainya!

Joohae-ah, aku minta maaf karena aku merahasiakan tentang wajib militerku. Aku hanya tidak mau kau bersedih selama dua tahun ini. Ada banyak hal yang bisa kau lakukan selain memikirkan aku. Makan dan bekerjalah dengan benar, sehingga saat aku selesai menjalankan tugasku, kita bisa liburan dengan uangmu! Bukankah kau selalu memimpikan hal itu?

Lalu tentang liburan sehari itu. Aku hanya ingin menikmati wajah bahagiamu untuk terakhir kalinya, ah tidak, bukan hanya wajah bahagia, melainkan semua aspek di dalam dirimu. Aku takut aku tidak akan bisa mengingatnya saat aku bertugas. Hanya dengan memikirkan senyummu aku yakin dan percaya kau juga sedang tersenyum di sana. Semoga doaku terkabul. Kuharap kau bisa menikmati waktumu tanpaku, dengan bahagia tentunya!

Lalu saat aku masuk wajib militer. 15 Oktober. Sekali lagi, selamat ulang tahun untukmu, Sayang! Selamat ulang tahun juga untukku! Kita selalu mengucapkannya bersama ‘kan? Namun tidak hari ini. Well, tidak apa kau tidak ikut mengantarku. Aku tahu kau butuh waktu, apalagi setelah apa yang aku lakukan. Tenangkan dirimu, dan jika kau sudah tidak marah padaku, temui aku! Berjanjilah!

Hei, adik kecil! Berbahagialah, jangan sedih karena aku tidak berada di sisimu! Masih banyak orang yang bisa membuatmu bahagia! Ceritakan masalahmu dengan Teukie hyung, dia akan mendengarmu dan menghiburmu! Jika kau merasa lelah, habiskan waktu dengan Heechul hyung, aku jamin kau tidak akan menyesal! Mintalah Yesung hyung menyanyikan sebuah lagu untukmu jika kau ingin! Mintalah Ryeowook memasak untukmu kalau kau sedang malas atau kau tidak ingin makan di luar! Dan terakhir, datangi Minjung kalau kau sedang kesal padaku! Dia selalu mendukungmu jika kau menceritakan semua ‘kejahatanku’ padanya!

Aku sayang padamu, Joo! Kau adikku, dan akan selalu seperti itu! Memang benar dunia baru mengenalmu selama empat tahun, tapi itu bukan berarti kau tidak artinya untukku! Kau hidupku, Joo! Biarkan mereka yang selalu berkata buruk tentangmu, tapi ketahuilah, Lee Dong Hae-mu ini tidak akan pernah melakukannya, karena dia akan melindungi dan menjagamu sampai Tuhan memanggilnya!

 b

Salam sayang,

Lee Dong Hae.”

b

Surat itu kini basah oleh air mata. Joohae menyeka air matanya, memandang Leeteuk yang tampak kabur. “Oppa..”

Pria itu mengangkat alis.

“Kenapa oppa baru memberikan ini padaku?” gadis itu menangis lagi. “Kenapa oppa membiarkan aku berpikiran buruk tentang kakakku? Kenapa oppa membiarkan kakakku bertanya-tanya apakah hadiah untuk adiknya sudah diterima atau belum?”

Dan kini gadis itu tidak bisa membendung tangisnya. Ia menangis meraung-raung di depan Leeteuk, tampak begitu menyedihkan. Air matanya tidak mau berhenti, bahkan setelah bermenit-menit Leeteuk berada di sana. Sampai ketika Joohae mulai sesenggukan, Leeteuk memeluknya.

“Kau membuatku terlihat seperti orang jahat, kau tahu?”

Joohae berusaha mengendalikan tangisnya.

“Kau pikir ini semua karena kemauanku?” ujar pria itu sambil mengusap kepala Joohae. “Donghae yang memintanya. Dia tahu kau marah padanya soal wajib militer itu. Jadi, dia memintaku untuk memperkirakan sampai kapan kau marah padanya, sehingga aku bisa memberimu ini.”

Gadis itu membenamkan wajahnya lebih dalam di dada Leeteuk.

“Kau mau mengunjunginya?”

Tanpa melihat, Leeteuk tahu Joohae tengah mengangguk.

“Pastikan matamu tidak bengkak besok. Dan kau harus mengatakan padanya tentang beasiswa itu. Percayalah, dia akan senang mendengarnya.”

Gadis itu mengangkat wajah. “Oppa?”

Leeteuk menunduk. “Hmm?”

“Kenapa oppa begitu baik padaku?”

YA!” Leeteuk menjitak kepala Joohae. “Pertanyaan macam apa itu?!”

Joohae tertawa. “Gomawo, oppa..”

☆☆☆

Gadis itu menatap lantai, membuat garis khayal dengan kakinya, sementara Leeteuk, Yesung, dan Heechul menunggu Donghae. Yah, sebenarnya gadis ini juga ikut menunggu, tapi ia mempersilahkan tiga pria itu menemui kakaknya terlebih dahulu. Ia semakin menggengam amplop di tangannya erat, bingung harus memberikan reaksi apa saat ia melihat kakaknya nanti.

“Joohae-ah?”

Gadis itu mengangkat kepala, melihat tiga pria itu tersenyum padanya. Tak lama kemudian, orang itu muncul. Benar-benar berbeda dari yang terakhir kali ia lihat. Bagaimana tidak? Potongan rambut pendek dan seragam polisi itu membuat Joohae nyaris tidak mengenali sang kakak.

Anyeong!” Donghae melambaikan tangan.

Sontak saja, air mata gadis itu menyeruak.

Oppa!” Joohae menerjang memeluk pria itu. Menangis sekeras-kerasnya di sana. “Donghae oppa..” katanya di sela-sela tangisan, semakin mengeratkan pelukan. “Mianhae.. jeongmal mianhae..”

Donghae membalas pelukan gadis itu. Menepuk bahu Joohae berkali-kali, bermaksud untuk meredakan tangis adiknya. Dan ia berhasil, setelah beberapa menit.

Pelukan gadis itu perlahan mengendur. Ia masih terisak selagi Donghae menangup wajahnya. Pria itu menyeka air mata sang adik, lantas mengecup kening dan kedua pipi gadis itu. Kemudian ia menatap lama wajah itu. Dan tersenyum.

Joohae memberikan amplop yang sedari tadi dipegangnya pada Donghae. “Bacalah. Dan berikan tanggapan oppa.”

Baru saja Donghae membaca bagian depan amplop itu, ia berseru. “Kau meminta persetujuan dariku untuk ini?” ia mengacungkan amplop itu. “Apa kau begitu bodoh?!”

Joohae kembali menatap lantai.

“Atau kau terlalu pintar sampai sulit membedakan mana hal yang membuat kakakmu bangga dan mana hal yang membuat kakakmu gila?!”

Gadis itu memandang sang kakak dengan mulut ternganga.

Ya!” Donghae menjitak kepala gadis itu. “Sejak kapan aku melarangmu belajar?! Bukankah aku begitu sering menunjukkan betapa bangganya aku padamu?! Apa kau lupa semua ekspresi kagumku saat kau menjelaskan dengan baik sejarah Korea pada wisatawan Meksiko? Saat kau ternyata begitu lancar berbicara lima bahasa berbeda? Saat kau..”

“Baiklah..” omel Joohae menutup telinganya bercanda. “Aku mengerti.”

Donghae merengut.

“Aku berangkat bulan depan.” Joohae menjelaskan. “Karena itu, aku akan mulai sibuk mengurus ini itu. Mungkin aku tidak akan sempat menjawab panggilan oppa jika oppa menelepon.”

Pria itu mengangguk-angguk mengerti.

“Dan oppa tidak perlu mengantarku ke bandara.”

“Kau pikar aku mau mengantarmu?” sergah sang kakak.

Kini giliran Joohae yang merengut.

“Tapi..” Joohae mangacungkan jari kelingkingnya. “Berjanjilah oppa akan datang ke acara wisudaku! Bersama Minjung eonni!”

YA!” lagi-lagi kepala Joohae dijitak. “Kau kira tiket pesawat murah?! Minjung pasti akan memintaku membayar tiket untuknya!”

“Memangnya berapa sih gaji tiap member Super Junior setiap kali tampil di acara ini itu?” Joohae menggerutu, melirik kakaknya dengan wajah datar. “Memang berapa banyak uang hasil penjualan album baru? Keuntungan dari tiap konser? Belum lagi jika tiap menjadi model di berbagai majalah, menjadi MC, dan bahkan menjadi bagian dari suatu drama. Apa uang itu tidak bisa disisihkan untuk membeli dua tiket pesawat? Dan apa perlu kuingatkan jika oppa sudah menyelesaikan wajib militer saat aku wisuda?”

Leeteuk, Heechul, dan Yesung menyeringai. Sedari tadi mereka hanya menyaksikan drama kakak beradik itu.

Donghae mendengus. “Kau insinyur yang pandai berdagang, ternyata.”

Joohae tertawa.

“Baiklah.” Donghae menautkan jari kelingkingnya pada sang adik. “Aku dan Minjung akan datang ke acara wisudamu! Aku berjanji!”

Mereka saling menempelkan ibu jari. Setelah itu mereka berpelukan.

☆☆☆

Two Years Later

Lee Dong Hae tidak pernah menyangka, membiarkan sang adik menyelesaikan gelar magister-nya di Negara Hitler akan berdampak buruk baginya, dan juga hidupnya.

v

To Be Continued

 

 

Advertisements

5 thoughts on “A ‘Good’ Bye 1

  1. hy thor ketemu ane disini wkwk 😁😁. pengen juga punya kakak kayak dong hae #plak siapa sih yg gak mau 😂
    gue juga punya brother thor. kayak2 dong hae joo hae juga lah. sepasang. tapi dia nya cuek nauzubillah. suka marah suka ngatur kata2 nya ke gue pedes2 disituasi tertentu sih. begitu juga gue nya ke dia. jarang akur kalo dirumah. tapi gimana lah namanya juga sodara. ada akurnya di saat tertentu walau sedikit wkwk 😂😂. aduh malah curhat. sorry kak😂😂

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s