Untouchable 5 (END)

jl_taylorswift_untouchable

#5 : Thinking out loud

1 | 2 | 3 | 4 | 5 (END)

***

DONGHAE mengalihkan pandangan dari pintu ke arah gadis itu. Chan berbicara dengan begitu lirih, nyaris berbisik, dengan suara yang begitu lemah, namun masih bisa didengar olehnya.

“Kau barusan sadar dan kau sudah mulai mencari gara-gara denganku?” ujar laki-laki itu. “Kapan kau mulai belajar memanggilku ‘Donghae’?”

Chan mengangkat bahu pelan dan tersenyum polos. Dengan amat perlahan, ia menepuk bagian kasur yang kosong agar laki-laki itu menempatinya.

Donghae duduk berhadapan dengan gadis itu,. “Aku tahu kau tidak boleh banyak bicara, tapi ada banyak hal yang ingin kukatakan padamu. Kau tidak perlu membalas, kau hanya perlu mendengar.”

Chan mengangguk pelan.

“Maafkan aku.” katanya. Ia menatap langsung mata gadis itu. “Maaf karena melupakan ulang tahunmu. Maaf karena melukaimu dan membuatmu menangis. Percayalah, apapun yang aku katakan itu tidak benar, kau jauh lebih berarti dari semua mantan kekasihku. Lihat sekarang. Aku sudah putus dengan Jihyun karena dia tahu aku selalu memikirkanmu saat kau koma. Itu benar-benar saat yang sulit bagiku. Terima kasih, karena akhirnya kau sadar sehingga kau bisa mendengar permintaan maafku.”

Chan merasakan sensasi kebahagiaan yang tak terbayangkan dalam dirinya begitu mendengar kalimat itu.

“Aku.. minta.. maaf..” lirihnya.

“Itu tudak perlu karena kau hampir tidak punya salah padaku.”

“Aku.. tidak.. membenci.. mu..” lanjutnya lemah.

“Kau tidak punya alasan untuk itu.”

“Kau.. sahabat.. ku..” bisik gadis itu.

Donghae tersenyum lebar.

Tiba-tiba Chan memejamkan mata dan memegangi kepalanya. Donghae langsung berdiri di samping sahabatnya.

“Sebaiknya kau beristirahat, Yoo..” laki-laki itu merangkul bahu Chan dan menggenggam tangan kanan gadis itu.

Mata gadis itu menjadi selebar piring terbang. “Tapi.. aku..” balasnya antara lemah dan gugup.

“Ssst..” desis Donghae. “Jangan membantah, oke?”

Chan menghentikan Donghae yang tengah membantunya tidur dengan menunjuk keningnya, lalu menatap laki-laki itu penuh tanda tanya.

Donghae terpaku. Ia memperbaiki posisi duduk gadis itu. Ia tentu tahu maksudnya.

Itu berarti.. Chan mendengar apa yang dia ocehkan selama gadis itu koma.

“Ya,” katanya tegas. “hadiah ulang tahunmu.”

Chan terlihat terkejut, namun sejurus kemudian ia tersipu. “Terima.. kasih..”

Donghae tertawa. “Hei, kau tidak perlu berterima kasih untuk itu, kau tahu?”

Tangan kanan gadis itu terulur kembali, menyentuh kepala Donghae. Sepertinya Chan ingin mengacak-acak rambut laki-laki itu, tapi karena ia terlalu lemah, yang dirasakan Donghae adalah sentuhan pelan yang menenangkan di kepalanya.

Dan hal kecil itu mampu membuat Donghae merasa waktu di sekitarnya berhenti sesaat.

☆☆☆

Hari-hari di rumah sakit memang membuat Chan muak. Tetapi untunglah para sahabatnya mengunjunginya. Donghae selalu datang menemaninya setiap usai kuliah. Chan bahkan berpikir untuk terus-terusan berada di rumah sakit agar Donghae selalu ada di sisinya.

Tetapi hari ini ia sudah bisa keluar dari rumah sakit karena retakan di betisnya sudah membaik, meski tangannya masih dibebat. Setidaknya Chan tidak membutuhkan siapapun untuk berjalan. Setiap dua minggu sekali Chan harus mengganti perban di tangan dan kakinya, juga untuk mengetahui perkembangan tulang-tulang gadis itu. Donghae selalu menemaninya.

Seperti saat ini.

Donghae menunggu di luar ruangan sementara Chan masuk ke untuk menjalani pemeriksaan pada tangannya. Saat ia mendengar pintu terbuka, ia melihat gadis itu berdiri di ambang pintu. Ia melihat tangan gadis itu masih dibebat tergantung kaku di depan dada. Ia memberengut dongkol menatap Donghae. Mereka berjalan bersama meninggalkan rumah sakit.

“Apa kata dokter?” tanya Donghae saat mereka sudah di dalam mobil.

“Tanganku akan sembuh dalam tiga bulan, dan aku tidak boleh menggerakkannya selama itu,” jawabnya setengah hati. Ia melihat tangan kirinya. “Jadi kata dokter aku harus bersabar.”

“Itu bagus.” Donghae beroptimis.

“Apanya yang bagus?!” pekik gadis itu kesal. “Aku seperti orang cacat yang tidak bisa melakukan apa-apa!”

“Oh ayolah, Yoo..” Donghae memutar bola matanya. “Kau tidak cacat! Tanganmu akan sembuh dan kau tidak usah khawatir..”

Chan menggembungkan pipinya.

“Kau tahu?” Donghae memutar setir sehingga mereka berbelok ke kanan. “Aku tidak pernah melihatmu tersenyum sejak kau keluar dari rumah sakit.”

“Kau pasti tahu alasannya.” Chan memandang keluar. “Setiap kali melihat kakek, Joon, Russel, Eunhyuk, dan Kyuhyun bermain gitar di depanku, aku ingin sekali meninju wajah mereka!”

“Jadi karena itu?” Donghae tertawa. “Hanya karena itu kau tidak mau tersenyum?”

Chan mengangguk muram.

“Kau mau ke suatu tempat?” Donghae meningkatkan kecepatan mobilnya.

“Ke mana?”

Donghae tidak menjawab karena mereka sudah sampai di tempat tujuan mereka. Hari sudah sore ketika mereka tiba di pantai itu. Donghae memarkir mobilnya. Mereka turun dari mobil, berjalan beriringan. Chan berhenti di tepi jalan raya.

Disitu Donghae baru menyadari bahwa mereka harus menyebrang untuk menuju pantai.

“Yoo-ya?”

Chan menatap Donghae.

“Kau.. trauma?”

Gadis itu cepat-cepat menggeleng. “Aku harus bisa menyebrang kapan saja ‘kan?”

Untuk mempertegas ucapannya, gadis itu menoleh ke kanan dan kiri untuk memperhatikan jalanan. Ia menginjakkan satu kakinya di jalan, tapi kemudian mengurungkan niat ketika beberapa mobil berdesing lewat di depannya.

Tanpa peringatan, Donghae mengamit tangan Chan yang tidak dibebat, dan mereka mulai menyebrang. Pada saat itu, Donghae merasa Chan mencengkeram tangannya kuat-kuat. Mereka sudah sampai di pantai.

“Kau trauma.” Donghae menyimpulkan.

Tidak ada jawaban.

“Kau tidak perlu terlihat tangguh di depanku, tahu?”

Chan diam sejenak, lalu mengangguk pelan.

Mereka berjalan menyusuri dermaga kecil, dan duduk dengan kaki menjuntai di ujung dermaga.

“Kenapa kita ke sini?” kata gadis itu saat mereka duduk.

Donghae memandang langit di depan mereka. “Sebentar lagi matahari terbenam. Jadi tidak ada salahnya kita menikmati sunset berdua.”

Chan agak sensitif mendengar kata kita dan berdua yang diucapkan Donghae. Setelah mengenal laki-laki ini, dua kata itu sangat menyentuh hatinya.

“Lagipula, akhir-akhir ini, kita jarang menghabiskan waktu bersama.”

Chan tersenyum kecil.

“Aku tidak membawa gitar,” ucap laki-laki itu mengeluarkan ponsel dan earphone. “Jadi yang bisa kulakukan hanya ini.”

Ia menyelipkan rambut Chan ke belakang telinga gadis itu, dan memasang sebelah earphone di sana―gadis itu mati-matian berusaha bersikap sewajarnya. Kemudian memasang sebelahnya lagi untuk dirinya. Laki-laki itu mulai memilih lagu.

Lagu mulai mengalun lembut melewati earphone dan terdengar oleh mereka berdua. Senyum lebar tersungging di wajah gadis itu. “Kau selalu tahu kalau aku suka musik country.”

Gadis itu memejamkan matanya, menggoyang-goyangkan kakinya. Donghae yang melihat hal itu juga ikut tersenyum.

Chan membuka mata, berpaling memandang Donghae. “Terima kasih.”

“Untuk?”

Gadis itu menatap langit. “Segalanya.”

“Terlalu banyak terima kasih yang kudengar darimu, kau tahu?” gurau laki-laki itu. Chan tertawa.

Mereka terdiam beberapa saat sampai gadis itu kembali bersuara.

“Donghae-ah?”

Laki-laki itu tersenyum diam-diam. Ia tidak pernah tahu suara Chan bahkan jauh lebih indah jika gadis itu menyebut namanya. “Hmm?”

“Aku punya permintaan.”

“Kalau begitu sebutkan.”

“Tapi kau janji harus menurutinya.”

“Apa yang tidak bisa kulakukan untukmu?”

Chan merasa dunia di sekitarnya runtuh. Gadis itu menarik napas panjang. “Maukah..” ia menunduk menatap tangannya yang dibebat, dan mengangkat wajahnya kembali. “.. kau bermain piano untukku?”

Donghae mengangkat bahu. “Kenapa tidak?”

“Benarkah?”

“Tapi tidak hari ini.”

Wajah Chan berubah cemberut.

“Aku sudah seharian bersamamu, Yoo. Aku tidak mau diomeli kakek, nenek, dan kembaranmu karena aku menculikmu setelah kunjunganmu ke rumah sakit.”

“Joon tidak pernah mengeluh aku bersamamu.” gerutunya.

“Astaga.” Donghae merangkul bahu gadis itu, mendekatkan wajah. “Apa patah tulang akan membuat seseorang menjadi penggerutu?”

Chan mengerjap, menyadari wajahnya begitu dekat dengan Donghae. “Ya, menjauh dariku!” ia mendorong wajah lak-laki itu dengan telunjuknya.

Donghae tertawa, tanpa melepas rangkulan di bahu gadis itu. Lagipula Chan tidak mengeluh.

Matahari mulai tenggelam di cakrawala. Langit bersemburat jingga kemerahan seakan-akan sesuatu di luar batas cakrawala tengah terbakar.

☆☆☆

Donghae benar-benar menepati janjinya. Keesokan harinya, setelah keduanya menyelesaikan mata kuliah mereka di hari itu, Donghae berjanji menemui Chan di ruang seni jurusan musik.

Piano itu berada di sudut ruangan. Donghae menghampirinya, dan duduk di bangku piano, lalu ia menengadah menatap Chan yang berdiri di sampingnya. “Sini, duduklah.” katanya sambil menepuk bangku.

Gadis itu menurut dan duduk di samping kanan Donghae. “Lagu apa yang ingin aku mainkan umtukmu?”

Für Elise.” jawab Chan pasti.

“Bagaimana kalau aku menganti judulnya hanya untuk saat ini?”

Alis Chan terangkat. Ia mengerjap heran.

Für dich..” tanpa menunggu reaksi gadis itu, jari-jari Donghae mulai bergerak anggun di atas piano.

Chan tercengang mendengar kalimat terakhir itu. Ia tersipu, menundukkan wajah untuk menutupi pipinya yang memerah karena malu. Ia menikmati lagu yang dibawakan Donghae sambil memejamkan mata. Ketika ia membuka mata dan mengangkat wajah, ia melihat Donghae juga menutup matanya, hanyut dalam lagu yang ia mainkan. Ia tersentuh mendengar cara Donghae mengucapkan kata itu. Mereka memang tidak terlalu pandai berbahasa Jerman. Tapi setidaknya ia tahu – dan ia yakin Donghae juga tahu – arti dua kata barusan.

Untukmu..

☆☆☆

Pagi ini, kembali Donghae terbangun dengan mimpi misterius itu. Ia duduk di tempat tidur, berusaha keras mengingat mimpi apa yang dialaminya.

Ia sedang menonton sebuah konser tunggal penyanyi soprano bersama seorang gadis. Mereka sangat menikmati pertunjukkan itu. Namun masalahnya, ia benar-benar tidak percaya bahwa gadis yang menemaninya itu sangat nyata dalam mimpinya.

Ia berdecak. Untuk ke sekian kalinya sang gadis dalam mimpi terlihat jelas. Namun untuk pertama kalinya, ia ingin mempercayai bahwa gadis itu memanglah gadis yang ia cintai.

Ia masuk ke kamar mandi, bersiap, sarapan, dan menempuh perjalanan menuju kampus.

Saat ia melangkah menuju kelas, ia melihat Chan bersama seseorang.. yang membuatnya terkejut setengah mati. Ia menghampiri Chan, dan sedikit menyimak percakapan mereka.

“Oh, Chan.. Kenapa tanganmu bisa seperti ini?”

“Aku akan menceritakannya, tapi saat kau berkunjung ke rumahku, oke? Kau bisa sekalian mengunjungi nenek dan kakek. Kau tahu? Mereka sangat merindukanmu! Tenang saja, Minyoungie, hari ini perbannya akan dilepas. Aku sudah bisa menggerakkan tanganku!” oceh gadis itu mengerak-gerakan tangan kirinya dengan bahagia, meski masih dibebat.

“Itu bagus, Sepupu!” orang itu melirik arlojinya. “Sebaiknya aku pergi! Sampai jumpa!” ia mengacak-acak rambut Chan, tersenyum pada Donghae, dan pergi meninggalkan mereka.

“Yoo-ya,” Donghae menoleh. “Aku bermimpi lagi..” lapornya.

Chan memutar bola matanya. “Jadi kau berlari-lari dari tempat parkir ke sini hanya untuk memberitahuku tentang mimpi basahmu?”

“Bukannya sudah kubilang itu bukan mimpi basah?!”

“Aku akan menganggapnya begitu.” sahut Chan cuek.

Donghae memberengut. “Ngomong-ngomong.. itu Minyoung.. si model itu kan?”

Chan mengangguk. “Kenapa? Jangan katakan padaku kalau kau menyukainya.”

Donghae terdiam.

“Sudah kuduga.” Chan berderap menuju kelasnya.

Donghae menyusul Chan. Gadis itu berbalik, menggerakkan tangannya yang tidak dibebat. “Sana ke kelasmu. Aku akan terlambat.”

Donghae menurut, masuk ke kelas untuk mengikuti mata kuliah pertama. Namun sayangnya, selama pelajaran berlangsung, hanya senyum Minyoung yang ada di pikirannya.

Hebat, sekarang targetnya adalah seorag model.

Dan kini, ia ingin bertemu orang itu. Jadi setelah selesai kuliah, ia langsung bergegas mengejar Minyoung. Ia ingin bertemu, amat sangat ingin bertemu! Tak peduli di mana keberadaan gadis itu. Ia terus membuntuti gadis itu, kemanapun Minyoung pergi.

Sampai-sampai, ia lupa kalau ia harus menemani Chan ke rumah sakit.

☆☆☆

Dengan kecepatan di atas rata-rata, Donghae melajukan mobilnya menuju rumah Chan. Ia cukup merasa bersalah karena tidak menemani gadis itu ke rumah sakit untuk melepas perban di lengan kiri Chan. Ini hari yang sangat indah untuk mereka berdua. Tangan Chan sembuh, dan Donghae akan mendengar permainan gitar gadis itu.

Laki-laki itu menekan bel rumah Chan dengan tidak sabaran. Ia mendengar suara dari dalam.

“Joon-ah, buka pintunya!”

“Aku di kamar mandi, Kek!”

“Dimana nenekmu?”

“Nenek belum pulang dari supermarket! Kenapa bukan kakek yang membuka pintu?”

“Aku sedang memperbaiki lampu kamarmu! Cepat keluar dan buka pintunya!”

Donghae tertawa kecil. Kehebohan keluarga ini memang tiada habisnya. Sekarang ia mengerti kenapa ia merasa senang jika sudah bersama keluarga ini.

Satu menit kemudian, Joon yang membuka pintu. “Kau rupanya. Kau tahu kau bisa langsung masuk tanpa menekan bel..”

Mereka berjalan memasuki rumah.

“Dimana dia?”

Joon tentu tahu ‘dia’ yang dimaksud Donghae. “Halaman belakang.” ujarnya merebahkan diri di sofa.

Donghae menyusuri lorong kecil menuju halaman belakang rumah ini. Sembari melangkah, ia memikirkan bagaimana caranya meminta maaf pada gadis itu. Rasanya sudah terlalu banyak kesalahan yang Donghae buat padanya.

Langkahnya terhenti pada saat Donghae membuka pintu menuju halaman belakang.

Ia melihat Chan duduk di bawah pohon, membelakangi dirinya. Gadis itu tengah bernyanyi.. sembari bermain gitar. Ia berhenti untuk mendengarkan.

b

“But you’re untouchable burning brighter than the sun

Now that you’re close, I feel like coming undone

 b

In the middle of the night, when I’m in this dream

It’s like a million little stars, spelling out your name

You gotta come on, come on.. say that we’ll be together

Come on, come on

 n

Oh, in the middle of the night, waking from this dream

I wanna feel you by my side, standing next to me

You gotta come on, come on.. say that we’ll be together

Come on, come on , little taste of Heaven..”

b

Donghae tercenung. Bukan hanya karena nada lagunya yang terdengar sedih―Chan menyanyikannya seakan ingin menangis.

Melainkan juga, lirik lagunya yang terdengar begitu dalam.

Seperti.. kau mencintai seseorang.. tapi kau tidak bisa menggapai orang itu.

Ia memutuskan, biarlah dirinya terjerumus dalam pesona Yoo Seung Chan, dan mendengar sampai selesai gadis itu bernyanyi.

c

“I’m caught up in you.. oh.. oh.. oh..

Untouchable burning brighter than the sun

And when you’re close I feel like coming undone

 n

In the middle of the night, when I’m in this dream

It’s like a million little stars, spelling out your name

You gotta come on, come on.. say that we’ll be together

Come on, come on.. little taste of Heaven.”

 n

Donghae berjalan perlahan, dan seketika ia sudah duduk di samping gadis itu.

Ya!” Chan terlonjak kaget, refleks memukul lengan laki-laki itu.

Laki-laki itu meringis. “Tanganmu baru saja sembuh dan kau sudah memukulku?!”

“Kau pantas mendapatkannya!” gadis itu meletakkan gitarnya di rerumputan.

“Ngomong-ngomong..” Donghae menoleh. “Kenapa kau menyanyikan lagu itu?”

Chan mengangkat bahu. “Iseng.”

Laki-laki itu memajukan bibirnya. “Jangan bohong! Itu untuk pria ‘kan?”

Gadis itu diam. Apa dia harus mengatakannya? Ia tidak pernah mencurahkan isi hatinya ke siapapun sebelum ini, karena semua perasaan yang dirasakannya pasti ia tuangkan dalam lagu. Jadi.. apa ia harus mengatakannya?

“Yoo-ya?”

“Yah, baiklah.. aku tidak akan mengelak lagi.” Chan mengangkat tangan pasrah. “Sudah lama sekali aku ingin menyanyikan lagu itu.. untuk.. seseorang yang aku suka..”

Donghae mengernyit.

“Aku menyukainya dari dulu,” ungkap Chan. “Aku tidak pernah menunjukkan langsung perasaanku padanya, karena dia tidak menyukaiku. Padahal aku seringkali menunjukkan secara terang-terangan kalau aku menyukainya, tapi dia.. yah, begitulah. Ada banyak lagu yang sering aku nyanyikan untuknya, tapi tentu saja dia tidak tahu.” ia terkekeh kemudian melanjutkan. “Itulah kenapa selama ini kau tidak pernah melihat aku bersama seorang pria selain kau dan Joon kan? Itu karena aku sangat mencintai orang itu..”

Donghae terdiam. Jadi selama ini.. Chan menyukai seseorang? Siapa? Kenapa ia tidak pernah tahu?

Chan tersenyum. “Jadi, kenapa kau datang?”

“Memangnya aku harus punya alasan untuk datang ke rumahmu?” gerutu Donghae.

“Aneh saja, kau ingin menemuiku,” Chan menyandarkan tubuhnya di kursi ayunan. “Apa kau baru diputusi gadismu?”

Donghae menggeleng.

“Lalu?”

“Aku butuh pendapatmu tentang gadis incaranku..”

“Tumben.” Chan melirik Donghae. “Silahkan, aku mendengar.”

Donghae memainkan jemarinya. “Kau tahu? Akhir-akhir ini gadis di mimpiku semakin jelas..”

“Mimpi basah?”

“Terserah!” erang Donghae kesal.

Chan menyeringai.

Laki-laki itu melanjutkan. “Awalnya aku menolak mempercayainya, tapi ternyata aku salah besar.”

Gadis itu diam mendengarkan.

Donghae mengambil napas. “Gadis itu adalah definisi segalanya bagiku. Aku senang bila bersamanya. Dia sering membuatku tertawa. Dia juga pernah membuatku menangis, gelisah, dan takut. Kadang dia juga bisa membuatku gila. Aku sering sakit hati setiap kali dia menyindirku. Aku bahkan cemburu melihatnya dekat dengan pria lain. Meskipun begitu, dia selalu menghiburku kalau aku sedih. Karena itulah aku selalu nyaman kalau dia ada di dekatku. Aku tidak pernah merasakan semua ini pada gadis-gadisku sebelumnya. Tapi dibanding itu semua, dia gadis yang membuatku selalu merasa bersalah padanya.”

“Kenapa begitu?”

“Yah..” Donghae mengangkat bahu. “Dia sering menasihatiku, tapi aku tidak mau dengar. Dia selalu diam ketika aku marah padanya. Dan setiap pertengkaran kami, dia tidak pernah merasa kami bertengkar. Karena itu aku ingin minta maaf karena aku terlalu sering melukai perasaannya.”

Chan diam lagi.

“Aku tidak tahu kenapa aku baru menyadarinya, padahal aku yakin dia juga mencintaiku. Dia selalu ada di dekatku. Aku yakin dia tidak punya alasan untuk mencintaiku, tidak seperti gadis-gadisku sebelumnya. Dia gadis yang baik. Tapi tidak ada yang lebih disukainya selain cerita-cerita Agatha Christie. Dia juga ice skater yang baik, selalu mau mengajariku. Tapi dari semua itu, dia satu-satunya gadis yang membuatku terpesona dengan suara dan permainan gitarnya.”

Chan yang awalnya mendengar sambil menunduk, mulai mengangkat wajah perlahan. Ia terkesiap dengan kalimat terakhir yang diucapkan laki-laki itu. Ia semakin penasaran dengan gadis ini.

Ternyata ada seorang gadis lain yang sering bernyanyi untuk Donghae.

Tapi siapa? Kenapa ia tidak pernah tahu?

Dan tanpa sadar, Chan menyuarakan pertanyaan itu.

Donghae tidak bicara untuk waktu yang lama, sampai Chan merasa Donghae tidak akan menjawab pertanyaan itu. Chan sudah ingin bernyanyi lagi, tapi Donghae mencegahnya.

Laki-laki itu menatap lurus-lurus mata Chan. “Kau.”

Chan merasa dirinya berhenti bernapas. Jantungnya juga berhenti berdetak. Dan dunia seolah-olah berhenti berputar sesaat. Apakah ia salah dengar? Jantungnya mendadak kembali berdetak. Dua kali lebih cepat. Dua kali lebih keras. Apakah ia salah dengar?

“Apa?”

“Kau gadis itu.” ulang Donghae.

Chan memasang tampang wajah paling tolol.

“Aku mencintaimu, Yoo Seung Chan..” ujar Donghae mantap. “Setelah sekian lama mengenalmu, aku karena baru menyadari bahwa kaulah gadis yang kucintai..”

Chan menatap Donghae dengan pandangan kosong seakan tidak mempercayai pendengarannya. Tetapi kemudian, rasa lega yang hebat mengusainya, menyelubunginya, meyesakkannya, membuat sekujur tubuhnya gemetar, dan membuat air mata yang berusaha ditahannya sejak tadi tumpah keluar.

Ini bukan mimpi.

Semua hal yang dikatakan Donghae tadi merujuk pada dirinya.

Hanya dirinya yang bisa membuat laki-laki itu mengerti akan sebuah perasaan.

Karena Yoo Seung Chan adalah segalanya bagi Lee Dong Hae.

Harapan yang sudah lama dipendamnya tumbuh kembali.

“T-t-tapi..” gadis itu berkata terbata-bata. “Kukira.. Minyoung..”

“Oh, Minyoung..” Donghae berkata ringan. “Aku memang menyukainya, tapi hanya karena aku mengaguminya. Aku penggemar Minyoung, kau tahu?”

Gadis itu menatap Donghae berkaca-kaca. Ia memeluk lutut, meletakkan sisi wajahnya di sana agar ia bisa menatap laki-laki sialan ini.

Air matanya jatuh. “Setelah sekian lama kita saling mengenal, dan setelah hampir semua orang menyuruhmu menyatakan perasaanmu padaku, kau baru memutuskan untuk mengatakannya padaku sekarang?”

Ketika dirasa Donghae tidak menanggapinya, Chan melanjutkan. “Kau adalah orang yang tadi aku ceritakan.”

Donghae melongo.

Kini Chan menopang dagu di lututnya. “Aku suka Taylor Swift karena sebagian besar lagunya mewakili perasaanku padamu, termasuk lagu tadi. Judulnya Untouchable. Aku kesal setiap kali kau bercerita tentang gadismu. Bahkan bertanya-tanya, haruskah aku menjadi seperti mereka agar kau mendekatiku? Tapi tidak. Pikiranku tidak sedangkal itu. Dan sekarang lihatlah, kau baru saja mengaku kalau kau mencintaiku.”

Gadis itu duduk tegak, balas menatap Donghae. “Terima kasih.” ucapnya pelan. “Aku juga mencintaimu.”

Gadis itu membiarkan Donghae memeluknya. Ia tidak membalas, karena laki-laki itu menggenggam tangannya yang ia gunakan untuk memeluk lututnya. Kepalanya terbenam di bahu Donghae. Keningnya bersentuhan dengan pipi Donghae, membuat laki-laki itu bebas mengecup kening dan kepalanya dengan penuh kasih sayang.

“Ngomong-ngomong, Dong-ah?” Chan mengangkat wajah. Masih dalam pelukan. Menghancurkan suasana magis itu.

Donghae menunduk, menghapus jarak di antara wajah mereka. “Apa?”

Gadis itu menelan ludah dengan susah payah. “Jika kau mengencani banyak gadis dengan harapan dialah gadis itu akan muncul di mimpimu..” ujarnya berspekulasi. “Itu berarti.. aku..”

Donghae tersenyum jahil, membenarkan. “Well, kau gadis mimpi basahku.” godanya.

Chan benar-benar kaget. Pelukan terlepas begitu saja. “Apa yang kau mimpikan denganku?!” ujarnya panik.

“Menurutmu apa yang dimimpikan laki-laki ketika mereka mimpi basah?” semprot Donghae.

“Seorang gadis..” jawab Chan polos. “dan mereka.. melakukan..”

Donghae menyeringai.

Chan speechless. Tiba-tiba, ia memukul-mukul Donghae. “Ya!” teriaknya. “Dasar mesum! Apa yang kau mimpikan denganku?!”

“Hei, hei!” Donghae menahan tangan gadis itu. “Tidak ada hal aneh yang kita lakukan di mimpiku, tahu? Lagipula mimpi yang kualami bukan mimpi basah! Kau saja yang punya pikiran aneh! Dasar mesum!”

“Benarkah?” Chan membulatkan matanya.

“Itu benar, Yoo Seung Chan ku sayang..”

Gadis itu menunduk malu. Sejurus kemudian, ia kembali memeluk Donghae.

☆☆☆

Donghae memutuskan untuk menunggu Chan di pintu depan toko musik Russel. Chan sudah berada lebih dulu di sana beberapa menit lalu, dan Donghae baru tiba. Tadi Chan mengeluh padanya karena kemarin semua senar gitar gadis itu tersayat lagi. Neneknya mengayunkan pisau dengan liar, dengan bodoh Chan melindungi diri dengan gitarnya, sehingga pisau menyayat semua senar gitar Chan. Karena gadis itu tidak bisa marah pada neneknya, jadilah Donghae sebagai pelampiasan.

Sebenarnya Chan bisa saja mengganti senar gitar itu sendirian. Tapi ia lebih menyukai hasil kerja Russel karena entah bagaimana bila laki-laki itu yang melakukannya, suara gitar Chan terdengar bagus sekali.

Donghae mendengar Chan berterima kasih pada Russel, dan berbalik dengan memegang gitarnya. Ia bersiap-siap. Gadis itu tersenyum ketika melihatnya, memamerkan gitarnya. “Voila!”

Donghae merangkul bahu gadis itu, dan mereka berjalan beriringan.

“Tangan Russel benar-benar ajaib!” kicau Chan senang. “Aku tidak mengerti apa yang selalu dia lakukan pada gitarku, tapi aku senang!”

Chan memakai strap gitarnya. “Dengarkan.” ia mulai memainkan sebuah bait lagu dan bernyanyi. “Losing you was blue, like I never known. Missing you was dark grey all alone.. Forgetting you was like try to know somebody you’ve never met.. But loving you was red!

Donghae menyadari Chan mengganti liriknya dari him menjadi you. Ia mengacak-acak rambut gadis itu. “Tidakkah kau tahu semua orang memperhatikan kita?”

Chan mengangkat bahu acuh. “Kau senang menjadi pusat perhatian kan?”

Donghae melepas rangkulan, mengambil alih gitar Chan, kini tengah menyamakan suara gitar dengan suaranya.

“Apa yang kau lakukan?”

“Dengarlah.” Donghae mulai memetik senar. Sambil berjalan, ia mulai menyanyikan satu kalimat dari sebuah lagu.

And, darling, I will be loving you ’til we’re 70..Donghae melirik Chan seraya tersenyum.

Gadis itu terperangah. Ia selalu tahu kalau Ed Sheeran memiliki lagu-lagu yang penuh makna. Dan ini.. sungguh.. ia tidak menyangka Donghae menyanyikan lagu ini untuknya. Padahal Donghae hanya menyelaraskan suaranya dengan gitar. Tapi Chan merasa seakan ia bisa terbang kapan saja. Suara Donghae yang begitu merdu menghipnotisnya. Ditambah lagu ini, lagu yang sedang Donghae nyanyikan saat ini, membuatnya makin tak terkendali. Astaga, ia bisa gila saking senangnya.

And, baby, my heart could still fall as hard at 23..

Chan memegang belakang lehernya, bulu kuduknya meremang.

And I’m thinking ’bout how people fall in love in mysterious ways.. Maybe just the touch of a hand..

Mengapa lagu ini terasa lebih manis saat Donghae yang menyanyikannya?

“Well, me – I fall in love with you every single day.. And I just wanna tell you I am..”

“Oh hentikan.” wajah dan telinga Chan sudah semerah darah. “Aku bisa gila.”

Donghae terkekeh. “Aku memang memiliki bakat tak wajar untuk membuat wanita tergila-gila padaku.”

“Kuharap kau tidak membuat wanita lain tergila-gila.”

“Oh, tenang saja. Aku memang hanya ingin melakukannya untukmu.”

Chan merasa ia bisa mati lemas kapan saja.

“Kau mau aku menyanyi lagi?” Donghae menawarkan.

“Tidak, terima kasih.” balas Chan langsung. “Aku sudah semerah lipstik Taylor Swift.”

Donghae tertawa keras, rupanya baru menyadari bahwa seorang Yoo Seung Chan akhirnya luluh di hadapannya.

“Jangan menyanyikan lagu untukku di depan orang banyak, oke?”

“Kenapa?”

Chan tersenyum lebar. “Karena aku tidak mau orang lain ikut menikmati lagu yang seharusnya kau nyanyikan hanya untukku.”

Gadis itu menarik strap gitar sehingga gitar berada di punggung Donghae, menangkup wajah Donghae, mencium laki-laki itu.

Mata Donghae melebar terkejut. Hei, mereka di tengah jalan saat ini! Dan Chan.. menciumnya? Di depan orang banyak? Ia yakin saat ini orang-orang pasti berhenti untuk memperhatikan mereka, seketika melupakan urusan dunia mereka dan terfokus pada pasangan ini. Tapi, itu tidak masalah..

Jadi Lee Dong Hae menarik pinggang Chan mendekatinya, membalas ciuman gadis itu, tanpa peduli pada keadaan sekitarnya yang sudah sangat rusuh.

 b

End

b

EHEEE

Jadi aku tuh aga ga niat bikin cerita ini, Cuma buat ngulur waktu untuk bikin cerita Donghae Chan yang satunya.

Jadi gimanaaaaaa

Nantikan cerita Donghae Chan yang lain setelah ini yaaaa HEHEHE

Advertisements

5 thoughts on “Untouchable 5 (END)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s