All Around Us 3

all-around-us

PosterBySifxo@ArtFantasy1

#3 : Into the new environment

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | …

***

ENTAH mengapa Lee Dong Hae merasa mengenal si gadis yang baru saja memasuki toko.

Si pelayan memeluk gadis itu erat sekali, seolah takut kalau-kalau gadis itu lenyap dari dunia ini.

Gadis itu terkekeh, melepas pelukan kembarannya. “Aku tahu aku sulit dilupakan, tidak usah seperti itu.”

Si pelayan menjitaknya.

Gadis itu menghampiri sang nenek. “Nenek terlihat senang sekali hari ini.”

Wanita tua itu menunjuk Donghae dengan dagu. Donghae pura-pura tidak melihat, langsung memandang keluar jendela.

“Oh, pelanggan.” gumam si gadis dingin. Ia kembali memandang si pelayan. “Joon-ah, temani aku, eoh?”

Si pelayan tampak sumringah. “Kemana?”

“Kau akan tahu nanti.” Si gadis tersenyum penuh arti. “Nenek tidak apa-apa kan kalau kami tinggal sendirian di sini?”

“Pergilah.” Wanita itu mengusir mereka dengan gerakan tangan. “Aku tidak serapuh itu.”

Keduanya tertawa, lalu si gadis menatap si pelayan, dan menunjuk pipinya. “Ayo, berikan persyaratannya, kalau tidak aku tidak akan mengajakmu lagi.”

Si pelayan melepas celemek, memberikan ke si nenek, kemudian menangkup pipi si gadis, mengecup pipi si gadis berkali-kali. Bahkan si pelayan berniat mengecup bibir si gadis tapi langsung ditahan dengan jari telunjuk si gadis.

“Apa kata pacarmu kalau tiba-tiba dia lewat dan melihatmu menciumku?” si gadis mendorong si pelayan menjauh selangkah.

“Kau pacarku.”

Si gadis tertawa. “Ayo!”

Dan keduanya pergi meninggalkan kafe.

Donghae menghabiskan sisa makanan dan minumannya, lantas menuju kasir dan membayar.

“Terima kasih banyak.” Donghae membungkuk dalam.

Ia sudah hendak meninggalkan kafe kalau saja si nenek tidak berkata. “Apa aku mengenalmu?”

☆☆☆

Donghae tidak bisa melepas begitu saja apa yang baru saja terjadi.

Saat pertama kali melihat gadis tadi, ia merasa mengenali gadis itu, entah siapa dan dimana. Seperti seharusnya si gadis tidak berada di kafe tadi, tapi berada di suatu tempat yang jauh lebih.. cocok? Tapi apa? Donghae benar-benar bingung.

Dan kalaupun ia tidak mengenal gadis itu, entah mengapa bagian dari dalam dirinya ingin menjadi bagian dari gadis itu. Seolah ada perintah dari otaknya bahwa ia harus mengenal gadis itu, ia harus berteman dengan gadis itu.

Belum lagi si nenek yang mengaku mengenalinya.

Hei, benar juga. Apa dia tidak dikenali? Benarkah? Padahal dia tidak memakai penyamaran apapun? Tapi sebenarnya itu sesuatu yang bagus sekali. Bukannya itu yang ia butuhkan?

Namun di atas itu semua, interaksi si gadis dengan si pelayan yang paling menyita perhatiannya.

Ia yakin dan percaya bahwa dua orang itu kakak beradik. Sepertinya kembar. Wajah mereka mirip sekali. Tapi bila melihat mereka memperlakukan satu sama lain membuat siapapun yang melihatnya iri.

Termasuk Donghae.

Karena dulu interaksinya dengan Joohae membuat seluruh dunia iri pada keduanya.

Apapun yang dilakukan kakak beradik itu, membuatnya ingin Lee Joo Hae ada di sampingnya lagi. Tapi itu sungguh gagasan yang bodoh.

Ia memukul-mukul kepalanya. Apa yang terjadi pada dirinya? Mengapa ia berubah menjadi sosok menyedihkan seperti ini? Gadis kecilnya tidak akan suka melihatnya begini.

Cukup lama Donghae sibuk dengan pikirannya sampai ada satu pertanyaan yang terlintas begitu saja di otaknya.

Haruskah ia kembali ke kafe itu lagi?

Dan pertanyaan selanjutnya adalah: untuk apa?

Lalu lintas mendadak macet, dan Donghae terjebak. Seakan menjawab pertanyaannya sendiri, dia mengangkat bahu.

Mungkin tidak ada salahnya bila ia memiliki teman baru.

☆☆☆

“Chan-ah, tidakkah pelanggan yang tadi..”

“Aku tahu apa yang kau pikirkan.” sela Chan cepat. “Dan, yah, kau benar.”

Joon langsung kembali fokus pada kemudinya. Tadi Chan mengajaknya untuk menikmati makanan Jepang, tetapi mereka bingung mau ke restoran mana. Sebenarnya tidak heran bila selalu mengetahui satu sama lain. Mereka kembar, dan meski sering bertengkar, mereka punya sesuatu yang selalu membuatnya kembali akur dan berbaikan lagi. Dan mereka menikmati hubungan yang seperti ini. Saudara kembar. Kakak beradik. Saling melengkapi.

“Aku tahu kau akan bersikap seperti itu.” Joon tersenyum. “Menurutmu dia mengenalmu?”

“Tidak.” jawab Chan pasti. “Aku hampir tidak pernah terlibat dengan mereka. Dan mengenai apa yang terjadi padaku di agensi itu, well.. hanya beberapa orang yang tahu.”

Joon mengangguk penuh perhatian. Ini adalah satu dari sekian topik haram yang dibicarakan antara keduanya, dan kakek neneknya. Jadi, karena Joon tidak akan tega untuk menyakiti sang adik, ia tidak lagi bicara.

Sampai ketika ponsel Chan berdering, dan Chan bicara dengan nada serius, rasa ingin tahunya pun mencuat.

“Oh, ya, halo?” sapa gadis itu. “Tidak, tidak, aku tidak sibuk … Apa? Bertemu denganmu lagi? … Kukira urusan kita sudah selesai … Sekarang? Aku sedang menuju salah satu restoran Jepang di Gangnam … Kalau begitu, kirim alamat restorannya padaku dan kita bertemu di sana, aku tidak terlalu hapal kawasan Gangnam … Baiklah, baiklah, tapi aku bersama kakakku, tidak apa-apa kan? … Baiklah, kau bosnya, sampai jumpa.”

Perbincangan pun berakhir.

“Siapa?”

“Orang Cube yang kemarin menemuiku.” Chan mematut dirinya di kaca spion, merapikan sedikit rambutnya. “Aku tidak tahu kenapa dia memintaku bertemu lagi, padahal dia sudah mengirim seluruh bayaranku.”

“Dimana dia akan menemuimu?”

Chan memberikan alamatnya pada laki-laki itu, dan mereka melesat pergi. Ketika mereka tiba, Mikyung sudah menunggu mereka.

“Oh, maaf.” Chan langsung menghampiri orang itu. “Kau pasti lama menungguku.”

Mikyung menggeleng. “Aku juga baru sampai.” Ia melihat Joon mengambil tempat di samping Chan. “Oh, jadi ini kakakmu?”

“Yoo Seung Joon.” Keduanya berjabat tangan sebentar.

“Kalian kembar?”

Chan dan Joon mengangguk.

“Jadi?” kata Chan tanpa basa-basi. “Kenapa kau memanggilku lagi?”

“Lagumu benar-benar luar biasa.” Mikyung mengeluarkan sesuatu dari tas tangannya. “Terutama setelah kami gunakan untuk comeback stage.”

Chan dan Joon saling tatap.

“Karena itu.” Mikyung mengacungkan sebuah amplop, memberikannya pada Chan. “Ini bayaranmu.”

Chan membelalak. “Hei. Kau sudah mengirim bayaran utuhku kan?”

Mikyung mengangguk. “Tapi itu hanya hasil dari penjualan album. Bagaimanapun, kau berhak menerima sedikit keuntungan dari comeback stage.”

Gadis itu menerima amplop. “Terima kasih..”

Mikyung tersenyum. “Agensi kami tidak akan segan untuk menerimamu sebagai produser kami.”

Raut wajah Joon berubah, tapi Chan membalas tersenyum. “Itu adalah sebuah kehormatan bagiku.” ucapnya. “Kau mau makan sesuatu? Hari ini aku yang traktir.”

☆☆☆

“Aku selalu berharap kau bisa menjadi produser di agensi.. lagi.”

Saat ini kakak beradik itu berada di tepi sungai Han, sedang menikmati suasana malam kota Seoul yang tidak akan pernah membuat siapapun bosan. Mereka duduk bersebelahan, sambil memeluk lutut.

“Entahlah, Joon..” Chan menghela napas. Ia menatap riak air di sungai. “Aku memang selalu mengarang lagu setelah aku vakum, tapi untuk kembali ke industri musik Korea.. aku belum siap.”

“Kalau begitu, jangan di agensi itu lagi. Dengar ‘kan yang Mikyung bilang? Kau diterima di Cube.”

“Aku mau saja.” kini Chan berpaling dari riak air sungai ke wajah saudaranya. “Tapi bagaimana dengan kakek dan nenek? Apa mereka mau aku kembali?”

“Benar juga.” bahu Joon melesak. “Aku yakin sampai kapanpun kakek dan nenek selalu tertutup untuk dunia itu.”

Keduanya tidak bicara beberapa saat.

“Chan-ah..”

“Hm?”

“Aku menjadi pianis di salah satu restoran di Gangnam..”

Mata Chan melebar. “Benarkah?”

“Mereka membayarku mahal sekali.. aku tidak mengerti..”

“Bukankah itu bagus?”

“Tapi.. aku seperti mengkhianati kakek dan nenek, kau tahu?”

Chan tercenung. Lantas bagaimana dengan dirinya? Apa yang ia lakukan tidak mengkhianati kakek dan neneknya?

Ia menyandarkan kepalanya di bahu Joon. “Kita pasti sangat berdosa karena membangkang pada mereka..”

Joon tersenyum. Dia ikut menyandarkan kepalanya. “Pernahka kau berpikir kenapa kakek dan nenek begitu membenci industri musik Korea? Selain karena apa yang agensi itu lakukan padamu?”

“Aku selalu memikirkannya.” balas Chan. Kini ia menggandeng lengan laki-laki itu. “Aku ingin sekali melihatmu menjadi pianis terkenal, manjadi bintang di sebuah pertunjukkan musik klasik. Tapi apapun yang kita lakukan, yang berhubungan dengan musik, tidak pernah disetujui kakek dan nenek.”

Keduanya terdiam cukup lama, sedang beradu dengan pikiran masing-masing. Hanya terdengar suara kebisingan hiruk pikuk kota.

“Joon-ah..”

“Hm?”

“Pernahkan kau berpikir tentang orangtua kita?”

☆☆☆

Super Junior sedang berada di masa dimana waktu istirahat untuk minum air adalah waktu istirahat yang sangat berharga. Mereka sedang sibuk untuk persiapan comeback. Mereka akan kembali ke ranah hiburan Korea.

Saat ini semua orang tengah berada di ruang latihan. Beberapa tengah memperagakan tarian yang akan digunakan dalam lagu, sementara yang lain akan meniru. Mereka akan tertawa sebentar jika ada salah satu anggota yang salah melakukan gerakan, tapi akan langsung kembali berlatih serius lagi.

Mereka berlatih sampai gerakan mereka mulai terarah dan semakin kompak. Waktu berlalu dengan cepat. Leeteuk menyuruh mereka berhenti dan beristirahat.

Semua orang menepi dan mengambil air mereka. Ada yang duduk di bangku panjang, ada yang duduk di lantai bersandar pada dinding, ada yang merebahkan diri di lantai.

Aish, jinjja..

Lee Dong Hae mendesis kesal saat mengeluarkan ponselnya dari saku celana.

Leeteuk meletakkan botol air. “Ada apa?”

“Aku salah mengambil ponsel.” gerutu Donghae. “Aku mengambil ponsel Joohae.”

Siwon terkekeh. “Kau sedang memikirkannya ya?”

“Kapan dia hilang dari pikiranku?”

Eunhyuk menatap Shindong, melirik beberapa makanan di dekat orang itu. “Hyung, bolehkah aku?”

“Silahkan saja.” Shindong meneguk susu kotaknya. “Tidak ada Joohae yang menghabiskan semuanya ‘kan?”

Heechul memainkan ponselnya. “Apa tidak ada yang mau mengomentar tarianku selain gadis gila itu?”

Leeteuk melirik Donghae, yang kini tengah memainkan ponsel adiknya, kemudian berkata. “Dia pasti melihat kita dari suatu tempat.”

Sungmin menyikut Donghae. “Apa kau baru mengunjunginya?”

Donghae mengangguk. “Dua bulan yang lalu.” katanya tertawa menyedihkan. “Aku bahkan tidak punya waktu lagi setelah ulang tahunku.”

“Jangan kaget jika kalian melihat banyak bunga segar disana.” Heechul menyahut.

Hyung ke sana?” tanya Yesung.

“Seminggu yang lalu.” Heechul masih fokus dengan ponselnya. “Aku bahkan mengira aku salah mengunjungi makam.”

“Dia benar-benar berarti bagi siapapun yang mengenalnya..” renung Ryeowook. “Aku harap aku bisa memasak untuknya lagi..”

Seketika ruang latihan menjadi hening.

Kangin yang duduk disamping Donghae, mengamati apa yang pria itu lakukan dengan ponsel adiknya. “Hei, kau tidak menghapus semua media sosialnya?”

“Aku memang tidak akan menghapusnya.” Donghae berkata. “Semua temannya tahu akunnya tidak aktif lagi, hanya dibiarkan begitu saja olehku. Lagipula dengan begini aku tahu teman-temannya tidak akan berkata macam-macam. Lihat.”

Donghae menunjukkan foto seorang gadis Jepang bersama Joohae.

“Namanya Hideko Jung.” Ia menjelaskan. “Dan dia berkata padaku kalau netizen terus menyerangnya setelah Joohae meninggal.”

“Kau masih tidak mau mereka tahu apa yang terjadi pada adikmu?” Leeteuk bertanya.

Donghae mengangguk tegas.

“Banyak artikel-artikel yang beredar tentangnya, dan alasan semua itu untuk menjatuhkanmu, hyung.” tutur Ryeowook.

“Mereka kembali mempertanyakan apakah Joohae adalah adikmu.” Heechul menyimpan ponselnya, menatap semua orang. “Mereka kembali mempertanyakan kejadian beberapa tahun lalu, saat Joohae tiba-tiba muncul sebagai adikmu.”

Donghae terkekeh. “Mereka butuh bukti apalagi? Haruskah aku menunjukkan kartu keluargaku dan akte kelahirannya pada mereka?”

“Kita selalu terkena masalah sebelum comeback..” gumam Eunhyuk.

“Pokoknya jangan katakan pada mereka apa yang terjadi sebenarnya pada adikku.” pinta Donghae.

“Penyakit bukan hal yang tabu lagi, hyung..” timpal Kyuhyun. “Lihat saja Kim Woo Bin. Dia tidak ragu mengatakan kalau dia terkena kanker.”

“Penyakit Joohae ada tiga, dan aku yakin kalian tahu seberapa parah semuanya.”

“Kalau begitu beritahu mereka salah satunya.”

“Mereka hanya ingin menjatuhkan kita.” Donghae mendengus. “Bahkan setelah dia pergi, orang-orang masih mengatakan dirinya adalah seorang penipu yang mengaku-ngaku sebagai adikku.”

Donghae menunjukkan beberapa judul artikel pada seluruh member Super Junior.

“Entah kenapa aku ingin sekali Joohae muncul di hadapan mereka semua dan menakut-nakuti mereka.” celetuk Heechul kesal.

Donghae menyimpan ponselnya. “Kalian ingin kopi?”

“Tentu saja, selama kau yang bayar.” jawab Eunhyuk enteng.

“Aku tahu kedai kopi yang enak sekali, tapi di Seodaemun.”

“Itu terlalu jauh.” balas Siwon.

“Tapi entah kenapa aku ingin sekali chocorilla frappuccino nya.”

Shindong tersenyum. “Kopi kesukaan Joohae.”

“Kalau begitu lakukan saja delivery order!” saran Sungmin.

“Aku tidak membawa ponselku.” sungut Donghae. Tapi kemudian dia menyadari satu hal. Kalaupun dia membawa ponselnya, apakah dia mempunyai nomor telepon kafe itu?

Dasar bodoh. Ia lupa menanyakan nomor telepon mereka.

Gagal sudah kesempatannya bertemu gadis itu.

☆☆☆

“Chan-ah, kau harus ikut kami setelah pulang kerja nanti.”

Gadis bermarga Yoo itu sedang menyuapkan nasi dan sepotong daging ke mulutnya. Ia mengunyah makanan itu perlahan dan menelannya. Ia menatap Bona dan Yeonji yang duduk di depannya dengan tatapan bertanya. “Untuk apa?”

“Kau harus menjadi juri kami.” pinta Bona. “Audisi YG seminggu lagi dan kami harus berlatih.”

Chan mengangguk setuju. “Baiklah.”

Yeonji menepikan nampan makanan yang sudah kosong. “Kami akan menggunakan lagumu untuk audisi nanti.”

Chan langsung tersedak. “Apa?!”

“Memangnya kenapa?” tanya Yeonji. “Bukannya kau ingin menjadi produser tetap? Mungkin saja YG terkesan dengan lagumu dan mereka akan menjadikanmu produser mereka.”

“Tapi..”

“Berikan semua demo lagumu. Akan kami putuskan menggunakan lagu yang mana.”

Chan terdiam sejenak, lalu mengangguk. Semoga saja saat dia pulang ke rumah nanti, tidak ada seorangpun kecuali dirinya dan kembarannya.

☆☆☆

Mereka bertiga tiba di rumah Chan lebih cepat dari dugaan mereka. Kakeknya pasti masih bekerja, neneknya pasti masih berbelanja, dan Joon pasti baru mulai bekerja.

“Kau punya kafe?” Bona terperangah saat mereka melewati pintu kafe. Lonceng di pintu berdenting.

“Begitulah.” Chan mengangkat bahu. “Tapi jarang sekali ada yang berkunjung ke kafe kami.”

Yeonji dan Bona saling tatap, tidak ingin mengatakan apapun lagi.

Mereka menuju bagian belakang kafe, yang terdapat pintu yang menghubungkan kafe dengan rumah. Rumah keluarga Yoo bermodel sederhana. Di lantai satu hanya terdapat ruang tamu merangkap ruang duduk, dua kamar mandi, kamar suami-istri Yoo, dapur, dan ruang makan. Saat naik ke lantai dua, hanya ada kamar Chan dan kamar Joon, sebuah ruangan yang dulunya studio musik Chan tetapi sekarang telah menjadi gudang, serta sebuah balkon luas.

Ketiganya berada di kamar Chan.

“Kukira kau memiliki studio rekaman.” komentar Yeonji.

“Memang.” Chan tertawa singkat. Ia menggeser bangku meja riasnya, memutar sesuatu di lantai, dan pintu terbuka ke dalam. Ia berdiri, menunjuk pintu tingkap. “Masuklah. Hati-hati menuruni tangganya.”

Kedua itu melongo, kemudian menggeleng-gelengkan kepala. Mereka menurut. Bona masuk lebih dulu, disusul Yeonji, dan terakhir Chan, agar ia bisa menggeser bangku untuk menghalangi pintu, kemudian ia menutup pintu.

Bona dan Yeonji ternganga seperti turis asing yang tengah melihat Grand Canyon untuk pertama kalinya.

Chan mempersilahkan keduanya. “Selamat datang di studio rahasiaku.”

Bona meletakkan gitarnya di lantai. “Ini.. luar biasa!”

Yeonji mengitari tempat ini. “Apa ini masih bagian dari rumahmu? Bagaimana kau menemukan tempat ini?”

“Aku tidak tahu.” Chan mengangkat bahu. “Ada seseorang meninggalkan catatan di mejaku dan menyuruhku mencari sesuatu di lantai di bawah bangku meja rias.”

“So?” Bona memiringkan kepala. “Dimana kami bisa mendengar lagu-lagumu?”

Chan menunjuk komputer. Keduanya mengambil kursi, mulai berkutat di sana.

Gadis menuju kulkas, mengambil minum untuk mereka bertiga. Ia mengamati Yeonji dan Bona yang tengah mendengar lagunya.

“Aku bingung.” keluh Bona. “Lagu-lagu Chan bagus sekali, tidak kusangka.”

“Saranku,” Chan menunjuk beberapa file lagu. “karena kalian akan mengikuti audisi di YG, cobalah lagu-lagu ini. YG suka konsep yang unik, dan aliran musik mereka agak sedikit keras. Mengerti kan maksudku? Genre mereka tidak seperti SM.”

Yeonji mengangguk-angguk. “Ide bagus.”

Mereka kembali memilah-milah lagu. Setengah jam kemudian, keduanya berdiri, menuju ruangan bersekat kaca untuk mulai rekaman.

“Chan-ah.”

Gadis itu berpaling ke mereka.

“Kau akan tetap menjadi teman kami ‘kan bila seandainya kami menjadi trainee YG?”

“Tentu saja.” Chan tersenyum. “Tapi ada satu hal yang kuminta dari kalian.”

“Apa itu?”

Chan terdiam sejenak, menatap keduanya dengan raut wajah serius. “Jika kalian lolos audisi karena laguku, bisakah kalian merahasiakan identitasku sebagai pencipta lagu itu?”

☆☆☆

“Hai, Joo! Aku datang lagi!”

Donghae meletakkan bunga di makam, menyingkirkan bunga yang sudah kering. Ia duduk di sebelahnya, mulai memanjatkan doa. Beberapa menit kemudian, ia sudah duduk memeluk lutut sambil menatap nama sang adik di nisannya.

“Kau pasti baik di sana.” Donghae memulai. Ia menopang dagu di lutut. “Bagaimana kabar ayah dan ibu? Kakek dan nenek? Kuharap kau bertemu mereka dan mereka semua baik-baik saja.”

Ia tersenyum teduh. “Perasaanku hari ini baik sekali. Akhir-akhir ini semua orang terus teringat padamu. Apa Heechul hyung mengunjungimu? Apa yang dia lakukan? Apa dia memarahimu karena kau lebih dulu pergi?”

Donghae terkekeh. “Pasti banyak teman-temanmu yang mengunjungimu. Kau senang kan? Bagaimana dengan Minjung? Oh, dia pasti selalu mengunjungimu. Aku tidak pernah bertemu dengannya lagi sejak seminggu setelah pemakamanmu. Aku sibuk, dan dia juga sibuk. Apa Minjung mengeluh padamu betapa sibuknya aku sehingga kami tidak bisa bertemu terus?”

“Tenang saja, Joo. Aku sudah tidak sesedih saat kau pertama kali meninggalkanmu. Dorm juga hidup lagi, tidak seperti saat kau meninggalkan kami. Mereka selalu bilang padaku kalau kau ternyata sangat berarti bagi mereka, tidak peduli betapa menyebalkannya dirimu. Oh ayolah, siapa yang bisa dengan mudah melupakan sosok sepertimu? Sebagai kakakmu, aku selalu bangga padamu.”

Ia mengusap-usap batu nisan. “Aku baik-baik saja sekarang. Meski nyonya Seo selalu membuatku teringat padamu. Tapi perlahan aku akan mencoba menerimanya. Lagipula dia bukan tetangga yang buruk.”

Donghae terdiam cukup lama. Semilir angin musim dingin menerpa wajahnya, membuat rambutnya bergoyang lembut. Ia seakan tengah menikmati udara ini dengan gads kecilnya. Ia hanya memandangi makam tanpa bicara apapun.

Ia memejamkan mata, menarik napas, dan mengeluarkannya perlahan. Makam Joohae letaknya agak jauh dari pintu makam, tapi tempatnya sejuk dan asri sekali. Jadi siapapun yang mengunjungi gadis ini, pasti betah berlama-lama sebelum pergi.

“Baiklah, Joo..” Donghae tersenyum lagi. “Aku harus pergi. Ada latihan lagi malam ini. Aku memang sibuk, tapi aku bersyukur bisa mengunjungimu. Aku akan datang lagi. Tetap rindukan aku, hm?”

Ia mengecup nisan makam, kemudian pergi.

Tapi ia tidak langsung menuju Star City.

Apalagi ketika kafe Seodaemun yang waktu itu ia kunjungi entah mengapa cukup menarik perhatiannya.

Ia memarkir mobil dan masuk. Bunyi dentingan lonceng yang lembut menyambutnya.

Tidak ada orang. Persis yang ia sukai. Bahkan ia tidak melihat pemilik kafe ini.

Sampai kemudian..

“Aku datang!”

Tirai yang memisahkan kafe dan bangunan di belakangnya menyibak terbuka. Menampilkan seorang gadis yang waktu itu dipeluk si pelayan.

Gadis itu tercenung sebentar, kemudian membungkuk hormat. “Selamat datang.”

Donghae tersenyum, mengambil tempat di meja bar.

“Ada yang bisa kubantu?” si gadis bertanya. Keduanya berhadap-hadapan, hanya terpisah oleh meja bar yang memang dekat dengan meja kasir.

Chocorilla frappuccino dingin dengan caramel di whip cream, juseyo.”

“Baiklah.” Gadis itu mengangguk-angguk. “Mohon tunggu sebentar.”

Donghae mengamatinya. Gadis itu mulai meracik kopinya. Entah mengapa tatapan Donghae tidak ingin terlepas darinya. Seolah ia akan menyesal seumur hidup bila ia melewatkan kesempatan untuk melihat gadis itu.

Ini untuk pertama kalinya Donghae berbicara langsung dengan si gadis yang menarik perhatiannya waktu itu. Ia akhirnya melihat dengan jelas wajah gadis itu. Gadis itu memiliki wajah bulat dengan mata yang besar. Rambut panjangnya dikuncir ke belakang, menampilkan leher jenjangnya. Sekilas ia tidak tampak seperti orang Korea. Mungkin campuran, Donghae pikir. Dan penampilan gadis itu sederhana sekali. Ia hanya mengenakan jaket tebal dan skinny jeans.

Dan menurutnya, sepertinya gadis itu ingin sekali ia cepat-cepat pergi dari sini.

“Ini pesanan Anda, tuan.” Chan memberikan kopinya.

Donghae tersentak dari lamunannya, menerima kopi dengan senang hati. Ketika dilihatnya gadis itu ingin pergi, Donghae menahannya.

“Apa kita pernah bertemu?” tanya pria itu.

Chan mengerutkan kening. “Maaf?”

“Kau tampak familiar di mataku. Apa aku mengenalmu?”

“Sepertinya tidak.” Chan menggeleng sopan.

“Apa kau mengenalku?”

“Maaf?”

Kali ini Donghae yang mengerutkan kening. “Kau sungguh tidak mengenalku?”

“M-maaf..” Chan membungkuk lagi. “Saya tidak mengenal Anda.”

“Beberapa minggu lalu aku ke sini.” Donghae menjelaskan, sedikit terpana karena gadis ini tidak mengenalnya sebagai Donghae Super Junior. “Tapi bukan kau yang menyambutku. Ada seorang laki-laki yang sangat mirip denganmu, dan seorang nenek-nenek saat aku datang. Kemudian kau datang beberapa menit setelah aku.”

Chan hanya mendengar dan memandangnya.

“Kau masih belum mengenaliku?”

Chan tampak mengingat-ingat, dan menghela napas. Lega?

Donghae tersenyum. “Kau ingat sekarang?”

Gadis itu mengangguk.

Donghae mengulurkan tangannya. “Aku Donghae. Mungkin nama itu akan mengingatkanmu pada seseorang.”

Gadis itu menyambut tangan Donghae. “Chan.”

Chan kembali diam, sementara Donghae menikmati kopinya sambil sesekali mengamati gadis itu.

“Jadi kau juga pemilik kafe ini?”

Chan mengangkat wajah, meletakkan gelas yang baru saja dibersihkannya, lalu mengangguk.

“Apa laki-laki yang wajahnya mirip denganmu itu adikmu?”

“Dia kembaranku.”

“Siapa yang lahir lebih dulu.”

“Dia.”

Donghae diam lagi, menyesap kopinya, sementara Chan kembali mengelap gelas dan cangkir, kemudian menatanya dengan rapi.

Kopi Donghae habis. Ia berdiri, mengeluarkan beberapa lembar uang, memberikannya pada Chan.

“Terima kasih.” keduanya berucap bersamaan.

Donghae meninggalkan kafe, menuju mobil, dan menuju Star City.

Ia memikirkan pertemuannya dengan gadis itu. Ia tidak bohong dengan mengatakan kalau ia mengenal gadis itu. Gadis itu tampak familiar, ia pernah melihatnya di suatu tempat dan itu bukan sama sekali kafe, atau bukan saat ia melihat gadis itu pertama kalinya. Dan nama gadis itu Chan. Benarkah ia pernah mengenal seorang gadis dengan nama Chan?

Dan benarkah gadis itu sama sekali tidak mengenalnya? Hei, dia anggota Super Junior! Sungguh gadis itu tidak mengenalnya? Atau gadis itu pura-pura tidak mengenalnya?

Aneh sekali. Donghae kembali mengingat setiap interaksi yang mereka lakukan. Gadis itu hanya bertanya dan menjawab dirinya dengan singkat. Terlebih lagi gadis itu hampir seperti tidak ingin bicara padanya. Buktinya gadis itu selalu menghindari tatapan matanya.

Apa yang terjadi? Adakah sesuatu di dalam dirinya yang membuat gadis ini.. marah?

☆☆☆

Chan, Yeonji, dan Bona menuruni tangga. Keduanya tampak puas sekali dengan latihan yang baru saja mereka lakukan. Mereka tidak sabar untuk mengikuti audisi minggu depan.

“Kami akan selalu membutuhkanmu.” kata Bona. “Dan kau harus menolong kami.”

Chan tertawa. “Aku tidak punya alasan untuk menolak.”

“Baguslah.” Yeonji mendesis senang. “Kau harus hadir saat audisi kami nanti.”

Chan mengangguk setuju.

Gadis itu memimpin keduanya menuju luar rumah, yang otomatis melewati kafe. Tapi baru saja ia ingin menyibak tirai yang membatasi kafe dan rumahnya, Yeonji berseru kaget.

“Bodoh sekali.” makinya kesal. “Aku lupa menyalin materi lagu. Bagaimana kita akan berlatih?”

Dan pada saat yang sama, terdengar dentingan lonceng dari pintu kafe.

Pelanggan?

Sepertinya iya. Karena jika itu Joon, laki-laki itu pasti sudah meneriaki dirinya.

“Sepertinya kami punya pelanggan.” Chan berkata. “Kalian pergi saja ke studio tanpaku.”

“Tapi bagaimana cara membuka pintu tingkapnya?”

“Geser bangku meja rias. Lihatlah dengan jeli. Jika kalian melihat retakan setipis rambut berbentuk segiempat, coba kalian raba sekitarnya. Setelah itu, kalau kalian melihat sebuah tombol kecil, putar tombol itu ke kanan. Pintu akan langsung terbuka.” jelas Chan. “Kalian mengerti?”

Keduanya mengangguk, bergegas menuju kamarnya.

Sementara Chan melewati pintu.

Ia sangat terkejut kala tahu siapa yang menjadi pelanggannya.

Orang itu tersenyum sesaat, Chan refleks membungkuk. “Selamat datang.”

Orang itu mengambil tempat di meja bar.

“Ada yang bisa kubantu?” Chan bertanya lagi.

Chocorila frappuccino dingin dengan caramel di whip cream, juseyo.”

“Baiklah.” Gadis itu mengangguk-angguk. “Mohon tunggu sebentar.”

Chan mulai membuat pesanan orang itu. Sialan. Kenapa orang itu harus datang lagi. Chan melirik orang itu diam-diam. Rupanya orang itu tengah memperhatikannya. Ada yang salah dengan dirinya? Apa ia terlihat aneh? Chan menyibukkan diri dengan pesanan orang itu.

“Ini pesanan Anda, tuan.”

Orang itu mengerjap sesaat, kemudian menerima kopi darinya. Chan hendak menjauh dari orang itu dengan menuju meja kasir, tapi tiba-tiba orang itu bertanya. “Apa kita pernah bertemu?” tanya pria itu.

Chan mengerutkan kening, kembali berdiri di depan si pelanggan. “Maaf?”

“Kau tampak familiar di mataku. Apa aku mengenalmu?”

“Sepertinya tidak.” Chan menggeleng sopan. Sesopan yang ia bisa.

“Apa kau mengenalku?”

Chan berkedip. “Maaf?”

Kali ini si pelanggan yang mengerutkan kening. Ia menatap Chan dengan alis terangkat heran. “Kau sungguh tidak mengenalku?”

“M-maaf..” Chan membungkuk lagi. “Saya tidak mengenal Anda.”

“Beberapa minggu lalu aku ke sini.” Chan tampak kaget. Orang itu tidak bicara formal padanya. “Tapi bukan kau yang menyambutku. Ada seorang laki-laki yang sangat mirip denganmu, dan seorang nenek-nenek saat aku datang. Kemudian kau datang beberapa menit setelah aku.”

Chan hanya mendengar dan memandang si pelanggan, tak bisa mengatakan apapun.

“Kau masih belum mengenaliku?”

Chan tampak mengingat-ingat, kemudian bersyukur bahwa bukan itu yang si pelanggan maksud. Orang ini adalah pelanggannya beberapa waktu datang kemari, bukan orang yang sebagaimana dikenal orang-orang. Tanpa sadar ia menghela napas lega.

Si pelanggan tersenyum. “Kau ingat sekarang?”

Chan tertegun ketika orang itu menyunggingkan senyum padanya. Ada yang aneh dengan dirinya, tapi ia tidak mau memikirkannya. Daripada membuat orang itu menunggu, ia mengangguk.

Orang itu mengulurkan tangannya. “Aku Donghae. Mungkin nama itu akan mengingatkanmu pada seseorang.”

Dalam hati, Chan berharap laki-laki ini tidak mengatakan hal barusan. Untuk menjaga sopan santun, ia menyambut tangan Donghae. “Chan.”

Chan kembali diam, sementara Donghae menikmati kopinya sambil sesekali mengamati gadis itu. Ia sedang mengelap cangkir dan gelas, hanya untuk mengalihkan perhatiannya agar ia tidak harus selalu bertemu pandang dengan orang ini.

“Jadi kau juga pemilik kafe ini?”

Chan mengangkat wajah, meletakkan gelas yang baru saja dibersihkannya, lalu mengangguk.

“Apa laki-laki yang wajahnya mirip denganmu itu adikmu?”

“Dia kembaranku.”

“Siapa yang lahir lebih dulu.”

“Dia.”

Donghae diam lagi, menyesap kopinya, sementara Chan kembali mengelap gelas dan cangkir, kemudian menatanya dengan rapi.

Chan melihat kopi Donghae habis. Ia berdiri, mengeluarkan beberapa lembar uang, memberikannya pada Chan.

“Terima kasih.”

Keduanya berucap bersamaan.

Dentingan pintu kafe menjadi suara terakhir yang didengar di dalam kafe.

Chan langsung terduduk lemas. Ia senang mereka memiliki pelanggan, tapi ia tidak akan menyangka orang itu akan kembali ke sini. Dari semua orang yang ada di tanah Korea, kenapa harus dia yang menjadi pelanggannya?

b

To Be Continued

v

NYAHAHAHAHAHAHAHAHA

Maaf ya ini aku ngetiknya kek maksain ide gitu loh biar ada cerita.

Moga cerita ini nggak mengecewakan kalian ya.

Dan ini kayaknya bakal jadi 10 part deh atau mungkin lebih, jadi bagi yang mau baca sabar ya, dan kalo emang ga menarik mending gausah dibaca.

Maaf ya telat dua hari. Jumat kemarin udah mau aku post tapi aku lupa hehehe.

Advertisements

4 thoughts on “All Around Us 3

  1. sebenernya apa yang terjadi antara donghae dg chan ? apa mereka udah pernah bertemu sebelumnya? apa mungkin chan pernah bekerja ditmpat agensi Donghae? jadi makin penasaran sm mereka berdua sampe² banyak pertanyaan begitu

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s