Untouchable 2

jl_taylorswift_untouchable

#2 : Worst news ever

1 | 2 | 3 | 4 | 5 (END)

***

HARI ini genap tiga bulan kebersamaan Lee Dong Hae dan Go Hae Jin.

Donghae sudah terlalu terbiasa jadi pusat perhatian, jadi ia bahkan menikmatinya. Ia suka orang-orang yang memperhatikan sambil membicarakan dirinya. Terlebih para gadis.

Ia terkenal baik, tampan, dan multitalenta. Berteman dengan orang-orang populer di sekolah. Memiliki sahabat baik yang sangat cerdas. Ia tidak akan heran bila semua orang yang selalu membicarakan dirinya ketika ia bergonta-ganti pasangan.

Aneh memang. Donghae sering mendapat mimpi dimana ia berinteraksi dengan seorang gadis, dan gadis itu pasti tak teridentifikasi. Dan setiap kali ia menemukan gadis yang menarik perhatian dirinya, ia akan langsung mengklaim gadis itu adalah gadis yang selama ini datang ke mimpinya.

Seperti Haejin, dan para mantan kekasih laki-laki itu sebelumnya.

Sebenarnya, Donghae menyukai seseorang. Hanya saja, ia tidak tahu apa orang itu memiliki perasaaan yang sama dengannya atau tidak. Karena itulah ia suka bergonta-ganti pasangan. Salah satu alasannya, untuk menarik perhatian gadis itu.

Tapi nihil.

Jadi, Donghae tetap saja menjalani hidup seperti ini.

Kini, Donghae dan Haejin tengah berada di sebuah pusat perbelanjaan. Laki-laki itu tengah menemani sang gadis berbelanja. Hampir empat jam mereka berada di sini, dan Donghae mulai lelah. Tapi tentu saja ia tidak akan menunjukkan hal itu.

Ia sebenarnya muak. Haejin benar-benar gila belanja. Dan sebagian besar benda yang ia belanjakan sangat tidak berguna. Well, empat sahabat wanitanya juga gemar belanja, tapi mereka tidak pernah menjurus ke dalam hal yang namanya hedonisme. Karena Donghae, juga Kyuhyun, Eunhyuk, dan Sungmin, selalu memarahi keempatnya bila mereka sudah mulai mejerumus ke sana.

Tapi karena ia pikir ia bersama gadis yang ia cintai, ia mengurung dalam-dalam keinginan untuk menegur Haejin.

Haejin melirik arlojinya. “Oppa, aku baru ingat kalau aku harus ke perpustakaan kota, ada beberapa buku yang harus kupinjam..”

“Baiklah, kita ke sana sekarang.” tawar Donghae.

“Tidak, tidak,” tolak gadis kurus itu halus. “Oppa pulang saja, kau pasti capek menemaniku.”

“Tidak, sungguh! Aku akan mengantarmu!” Donghae berkeras. “Bagaimana dengan belanjaanmu?”

Oppa..” Haejin menatap tepat manik mata Donghae. “Aku tidak mau kau kelelahan karena aku. Jadi sebaiknya oppa langsung pulang saja, istirahatlah di rumah dan kita akan bertemu di kampus besok. Dan soal belanjaanku, aku akan meminta seseorang membawanya. Oke?” ia mengecup pipi Donghae kemudian berlari kecil meninggalkan laki-laki itu.

Donghae tersenyum. Ia menatap punggung gadisnya yang mulai menjauh dengan bahagia. Ia senang, seorang gadis kembali mengisi hatinya. Ia tidak menyangka hubungannya dengan seorang gadis bisa bertahan selama ini, jika biasanya hubungannya dengan gadis lain hanya bertahan paling lama sebulan.

Mungkinkah Go Hae Jin adalah gadis yang dicarinya selama ini?

Mungkinkah Go Hae Jin adalah gadis yang selalu datang dalam mimpinya?

Yah, mungkin saja. Siapa tahu ia akan membuat kejutan?

Hari sudah malam ketika Donghae dalam perjalanan ke rumahnya. Senyum tidak pudar dari wajahnya. Ia menikmati gemerlap kota Seoul dengan perasaan seringan bulu.

Namun senyuman itu seketika pudar ketika ia tak sengaja memandang sebuah bangunan di tikungan. Bukan bangunannya yang membuatnya tertegun.

Ia menepikan mobil, memincingkan mata. Ia tidak mungkin salah lihat. Matanya juga tidak rabun. Informasi yang diberikan mata kepada otaknya juga sudah jelas benar. Lalu.. mungkinkah?

Itu Haejin! Ia bahkan masih mengenakan pakaian yang sama saat mereka berbelanja tadi. Gadis itu melangkah dengan anggun menuju..

Tunggu dulu.

Orang bodoh pun tahu jika bangunan itu adalah diskotik. Masih belum jelas? D-I-S-K-O-T-I-K. Atau pub. Atau klub malam. Terserah kau ingin menyebutnya apa. Atau jika kau punya istilah lain, kau bisa mengatakannya. Donghae langsung turun dari mobilnya, membuntuti gadis itu masuk ke dalam.

Ia benar-benar menyesal telah masuk ke tempat bejat ini. Apa yang ia lihat lebih laknat lagi. Haejin―dikelilingi para pria mabuk―menyerahkan tubuhnya dengan senang hati. Ia tidak marah bila salah satu dari mereka menciumnya secara tiba-tiba, atau memegangi anggota tubuhnya, atau.. atau.. oh ayolah apa aku harus melanjutkannya?

Donghae langsung menelepon gadis itu. Ia melihat Haejin agak kaget ketika menerima telepon darinya.

“Kau masih di perpustakaan?” tanya Donghae nyaris muntah.

“Ya, oppa..” terdengar nada gugup dari suara Haejin.

“Apa masih lama?”

“Ya, mungkin dua jam lagi..”

“Ngomong-ngomong, buku apa yang kau pinjam? Seni Menjadi Jalang yang Baik?”

Donghae tersenyum mengejek saat Haejin tengah mencari-cari dirinya. Gadis itu cukup terkejut saat―akhirnya―ia melihat Donghae.

“Dasar jalang.” maki Donghae langsung menutup telepon dan berjalan keluar tempat itu. Ia tidak mempedulikan Haejin yang memanggilnya berulang kali sambil mengatakan hal berikut berulang-ulang.

Oppa, tunggu!”

“Aku bisa jelaskan!”

“Aku mohon dengarkan aku!”

Oppa, maafkan aku!”

Langkah Donghae terhenti ketika kalimat itu. Laki-laki itu berbalik, memberi tatapan tercela pada Haejin yang berdiri sekitar dua meter di depannya.

“Maaf? Setelah apa yang kau lakukan padaku?”

“Aku janji akan menjelaskan semuanya, oppa..” air mata gadis itu mulai jatuh. “Aku janji..”

Donghae tertawa mengejek. “Itu tidak perlu, Sayang. Kurasa semua ini sudah jelas dan nyata. Terima kasih atas semua kebohongan yang kau berikan padaku..” ia segera menuju mobilnya, meninggalkan tempat dan wanita itu.

Perasaan bercampur aduk mengisi jiwa dan raga laki-laki bermarga Lee ini. Kembali kisah cintanya berakhir dengan mengenaskan. Apa salahnya sampai harus menerima hukuman ini? Ia hanya ingin mencari gadis yang tepat untuk bersanding dengannya. Hanya itu, tidak lebih. Namun kenapa segalanya begitu sulit?

Donghae menghempaskan kepalanya ke setir mobil. Ia frustasi. Ia butuh seseorang untuk menumpahkan segala penderitaannya.

Yoo Seung Chan.

Nama itu terlintas begitu saja di otaknya. Lewat seperti kotoran di jalanan sehingga kau sama sekali tidak punya waktu untuk melihatnya. Laki-laki itu mengangkat wajahnya. Matanya berbinar. Tentu saja! Mengapa ia bisa melupakan anak itu?! Sahabatnya sendiri!

Ia mengambil ponsel, mengetik nomor telepon Chan dengan cepat―nomor itu terlalu mudah dihafal bahkan sekalipun Donghae tidak berniat menghafalnya―meletakkan benda itu ke telingannya. Baru saja Donghae akan membuka mulut, gadis itu langsung berbicara tanpa jeda.

“Halo, Nek? Maaf aku pulang terlambat hari ini, karena aku harus mengambil beberapa novel. Agatha Christie, Nek, tahu kan? Aku tidak percaya mereka mencetaknya kembali. Tidak usah siapkan makan malam untukku, biar aku memasak sendiri nanti. Oke?”

Nenek? Donghae mengerutkan dahi. Gadis ini sungguh keterlaluan! Chan makin memperburuk perasaannya dengan.. menyamakannya dengan nenek gadis itu? Yah, walaupun Donghae tahu bahwa neneknya Chan masih terlihat cantik meskipun umurnya sudah tiga per lima abad.. Tapi.. yang benar saja!

“Hei, ini aku, bodoh! Bukan nenekmu!” bentak Donghae.

Chan tidak bicara dalam beberapa saat sampai akhirnya ia bicara lagi. “Maaf! Suaramu dan nenekku terdengar sama bagiku..”

“Aku kan belum bilang apa-apa!”

Chan tertawa riang.

“Kau dimana sekarang?”

“Toko buku.” gadis itu berhenti tertawa. “Kenapa? Mulai merindukan aku? Mana Haejin-mu?”

Kalimat itu sungguh menohok langsung hati Donghae. Harus ia akui, kadang Chan tidak berperasaan. Kata-kata tajam gadis itu sering sekali melukai hatinya. Dan jika sudah begini, lebih baik ia berbicara dengan kayu dan batu dibanding gadis itu. Apa karena gadis itu sudah terlalu sering bersama Minjung, Hyosung, dan Byul, sehingga Chan bukan lagi gadis putri dongeng baik hati dan lemah lembut yang ia kenal? Mulut pedas tiga gadis itu pasti sudah menular padanya.

“Tunggu di sana. Aku akan menjemputmu.” Donghae langsung memutuskan sambungan telepon itu. Dengan kecepatan penuh, ia mengendarai mobilnya ke toko buku langganan gadis itu. Tidak sulit untuk menemukan tempatnya.

Saat ia baru berhenti di depan toko, ia melihat Chan keluar dengan beberapa buku dalam pelukannya. Tanpa menunggu lama, Chan masuk ke mobil dan duduk di kursi penumpang di samping pengemudi.

Donghae menggeleng-gelengkan kepala ketika melihat buku-buku yang dibawa Chan.

“Masih 12 buku yang harus kudapatkan, kau tahu?” Chan meletakkan buku-buku dan ranselnya di kursi penumpang di belakang.

“Kau belum makan malam kan?” tanya Donghae memulai percakapan.

“Mm-hm” Chan memegang perutnya. “dan sekarang aku lapar..”

“Kau mau pizza?” tawar laki-laki itu.

Gadis itu mengangguk. “Boleh juga..”

Donghae mengeluarkan ponselnya, memberikannya pada Chan. Sementara ia menyetir, gadis itu menekan nomor telepon restoran. Ia mengubah mode telepon menjadi loudspeaker agar Donghae bisa mendengar. Ketika seseorang di sana memberi salam dan bertanya apa yang ingin mereka pesan, Chan langsung menjawab.

“Aku pesan acropolis pizza dengan tomat, paprika..”

“Bawang bombay, sedikit minyak zaitun..” sambung Donghae.

“Sedikit lada..” sahut Chan. “Jangan lupakan saus tomat!”

“Bagaimana kalau ditambah keju mozarela dengan saus krem?” timpal laki-laki itu.

“Ya!” jawab Chan di telepon. “Juga jamur segar!”

“Dan minumannya?” tanya orang di seberang sana.

Chocolate Milkshake!” keduanya menjawab bersamaan.

“Dan dimana kami harus mengantar pesanan ini?”

Chan memberikan alamat rumahnya, kemudian memutuskan sambungan telepon. Setelah itu mereka tidak berbicara sampai mereka tiba di rumah gadis itu.

Tepat saat mobil Donghae memasuki halaman rumah Chan dan mereka keluar dari mobil, pesanan mereka datang. Seorang laki-laki muda yang tampak sedikit lebih tua dari mereka, mengenakan seragam khas restoran, memberikan pizza pada Chan.

“Terima kasih..” kata Chan dan Donghae. Orang itu tersenyum.

Sebelum pergi, si pengantar pizza berkata. “Ternyata aku benar. Pasangan kekasih yang memesan ini.”

Keduanya memandang perginya si pengantar pizza dengan mulut ternganga.

“Pasangan kekasih, katanya?” sungut gadis itu. “Siapa yang tertarik dengan orang sok, egois, dan menyebalkan seperti dia?”

“Dan siapa yang tertarik dengan gadis keras kepala, ceroboh, dan bermulut pedas sepertimu?” sergah Donghae tak mau kalah.

Gadis itu merengut. Mereka berjalan memasuki rumah.

Setelah sedikit berbasa basi dengan kakek-nenek Yoo, Donghae dan Chan menuju halaman belakang. Halaman itu hanya berisi sebuah ayunan dan dua pohon rindang. Keduanya lebih memilih untuk duduk di atas rumput. Tidak lupa sebelumnya, Chan mengambil gitarnya di kamar.

Mereka menikmati makan malam mereka dengan penuh rasa syukur.

“Kau bisa menceritakan semuanya sekarang.” ujar Chan setelah meneguk minumannya.

Donghae menghabiskan minumannya dan mulai bicara. Ia menceritakannya secara rinci, seakan bendungan di dalam diri laki-laki itu hancur. Saat kebahagiaannya yang berakhir mengenaskan. Nyaris saja Donghae hampir menangis, namun ditahannya demi harga diri. Apa reaksi Chan bila melihat air matanya?

Selama cerita berlangsung, Chan hanya mendengar. Tidak bertanya, apalagi menyela. Ia membiarkan Donghae menumpahkan kekesalannya sekarang. Ia tidak perlu takut tidak mendapat kesempatan bicara karena bagiannya setelah ini.

“Mainkan satu lagu untukku..” pinta Donghae begitu cerita selesai.

“Tanpa kau minta pun aku pasti akan memainkannya.” kata gadis itu memetik beberapa senar. “Baiklah, lagu apa yang harus kumainkan?”

“Terserah kau saja.” laki-laki itu menopang tubuhnya dengan kedua tangan.

Chan mulai berpikir. “Emm, bagaimana kalau.. Bruno Mars, Grenade?”

Donghae menatap Chan dongkol.

Gadis itu menyeringai bodoh. “Sam Smith, I’m Not the Only One?”

Tatapan dongkol Donghae tidak berubah. Malah semakin menjadi.

Chan kembali menyeringai, kali ini wajahnya sungguh konyol. “Bruno Mars, When I was Your Man?”

Donghae memajukan bibirnya. “Baiklah, aku pulang.”

“Ya!” Chan menarik tangan Donghae sebelum laki-laki itu berdiri. “Aku ‘kan hanya bercanda..”

“Kalau begitu cepat mainkan!”

Gadis itu kembali berpikir. “Bagaimana kalau Taylor Swift, 22?”

Donghae diam sejenak, lalu mengangkat bahu. “Tidak buruk..”

Chan mulai memainkannya. Donghae tersenyum. Ia kembali menopang tubuhnya dan memejamkan mata. Suara merdu milik Chan merupakan satu-satunya obat penenang baginya.

Sampai dirinya dan Chan pun berduet menyanyikan lagu itu.

b

“It feels like a perfect night to dress up like hipsters

And make fun our exes, uh uh uh uh

It feels like a perfect night to breakfast at midnight

To fall in love with strangers, uh uh uh uh

 v

Yeah.. we’re happy, free, confused, and lonely at the same time

It’s miserable and magical, oh yeah..

Tonight the night when we forget about the heartbreak

It’s time..

 v

Oh oh

I don’t know about you, but I’m feeling 22..

Everything will be alright, if you keep me next to you..

You don’t know about me, but I’ll bet you want to..

Everything will be alright, if we just keep dancing like we’re.. 22..

 c

It feels like one of those night, we ditch the whole scene

It feels like one of those night, we won’t be sleeping

It feels like one of those night, she looks like bad news!

I gotta have you! I gotta have you!”

v

Donghae tertawa riang karena Chan mengganti subjek yang ada pada lirik you look like bad news.

Begitu lagu berakhir, kedua sahabat itu menghempas tubuh mereka ke rumput. Mereka menatap langit yang bertabur bintang.

“Indah sekali,” kata Chan. Ia melirik Donghae yang berbaring di sampingnya dan melanjutkan. “Bagaimana perasaanmu?”

“Aku sangat bodoh.” ungkap Donghae tak menyangka. “Kumohon jangan ingatkan aku jika aku pernah mencintai jalang sepertinya.”

“Tapi nyatanya, kau tergoda saat melihatnya pertama kali.” Chan tersenyum jahil.

“Terus saja kau menyindirku!” gerutu Donghae. “Siapa yang sebenarnya butuh hiburan di sini?!”

Chan tertawa. “Baiklah, baiklah.. aku minta maaf..”

“Tapi, sungguh!” laki-laki itu memandang langit. “Perasaanku jauh lebih baik sekarang.” ia menoleh. “Terima kasih, Yoo.”

Gadis itu tersenyum. Kali ini, ia tidak marah Donghae memanggil marganya.

Laki-laki itu melanjutkan kalimatnya. “Dan mulai sekarang,” ia mengunci pandangan gadis itu dengan matanya. “Aku akan mendengarmu.”

Mereka kembali menatap langit.

“Chan-ah?”

Gadis itu tersenyum lebar. “Bukankah dunia terasa damai mendengarmu memanggilku begitu?”

“Sepertinya ini terakhir kalinya kau mendengar hal itu.”

Chan tertawa. “Apa?”

“Kau akan membiarkan Minjung tahu dengan sendirinya aku baru saja putus dengan Haejin ‘kan?”

“Kenapa? Minjung sahabat terbaikmu ‘kan?”

“Memang.” Donghae mengangguk. “Tapi sejak dia bersama Eunhyuk..”

Chan tersenyum mengerti. Semua orang tahu Eunhyuk sangat cemburu pada Donghae.

“Kau berjanji tidak akan mengatakannya pada mereka ‘kan?”

Gadis itu menoleh ke Donghae, tersenyum lembut. “Aku janji.”

Donghae sempat terpana melihat senyum itu, tapi kemudian ia menautkan kelingkingnya dengan gadis itu, lalu mereka saling menempelkan ibu jari.

☆☆☆

“Ini kesempatanmu!”

Kali ini Chan hanya sedang bersama Kyuhyun dan Eunhyuk. Mereka berada di sebuah kafe dekat kampus. Minjung mahasiswa teknik, dan dia mengambil kelas lebih banyak dari semua sahabatnya, jadi mereka akan memaklumi jika Minjung jarang bergabung dengan mereka. Seperti dugaannya, gosip Donghae yang sudah tidak menjadi kekasih Go Hae Jin lagi menjadi perbincangan hangat.

Semua sahabat gadis itu tahu dengan sendirinya tanpa perlu Chan membeberkannya.

“Aku tidak pernah mau menyatakan perasaanku padanya lebih dulu.”

Eunhyuk memutar bola matanya. “Apa hal seperti itu masih berlaku di zaman se-modern sekarang?”

“Untukku, Minjung, Hyosung, dan Byul, masih sangat berlaku.” tegas gadis itu. “Aku yakin kau tahu soal hal ini karena kau sendiri yang menyatakan perasaanmu pada Minjung lebih dulu.”

“Donghae memang sudah tidak terlihat lagi bersama seorang gadis.” Kyuhyun bergumam.

“Bukannya itu membuktikan kalau dia sedang mencari? Berpedoman pada mimpi bodohnya?”

Kyuhyun terbelalak. “Dia masih memikirkan mimpi itu? Astaga.”

“Padahal aku sudah sering mengejeknya tentang hal itu, tapi dia tetap tidak mau menyerah.”

“Lihatlah.” Eunhyuk berkata. “Kau harus mempertahankan laki-laki sepertinya.”

Chan memukul Eunhyuk. “Memangnya dia sudah menyatakan perasaannya padaku?!”

Kyuhyun tertawa.

Pada saat itu Donghae menghampiri mereka. Ia duduk di samping Eunhyuk.

“Kalian tidak ada kelas?”

“Kuharap kau tidak lupa kalau kita bertiga ada di kelas yang sama satu jam lagi.” Kyuhyun mengingatkan. Ia menoleh ke Chan. “Kau sendiri?”

Chan memutar-mutar sedotan di gelas minumannya. “Aku mau membo―”

“TIDAK BOLEH!” ketiganya berteriak bersamaan. Raut wajah mereka marah, tapi Donghae yang paling jelas menunjukkannya.

Gadis itu mendesah kasar, menatap ketiganya bergantian. “Kalian tidak pernah melarang Minjung membolos..” gerutunya. “Bahkan kalian tidak tahu apa yang Hyosung dan Byul lakukan di Yonsei kan?”

“Minjung sudah tidak pernah membolos sejak kuliah, dan kau pasti tahu itu.” kata Eunhyuk. “Sedangkan Hyosung, yah, meski Sungmin berada di Jepang sana, dia tidak henti-hentinya menegaskan gadis itu agar rajin kuliah. Dan kau tahu seperti apa nenekku sehingga Byul sama sekali tidak punya alasan membolos.”

Gadis itu mendengus kasar dan meletakkan kepalanya di meja.

Ya, rambutmu, Yoo!” seru Donghae menjauhkan gelas minumannya.

Chan duduk tegak tanpa merapikan rambutnya yang berantakan dan menutupi wajahnya. Ia menatap kesal tiga sahabatnya.

Ya, ikat rambutmu!” tegur Kyuhyun.

Chan mengulurkan tangan kanan yang di pergelangannya terdapat sebuah ikat rambut. Kyuhyun memukul kepala gadis itu sebelum mengikat rambut gadis itu asal-asalan.

Chan memegang kuncir rambutnya, menatap takjub Kyuhyun. “Tidak buruk.” Ia menggeleng kuat-kuat, mengakibatkan tiga orang itu terkena kibasan rambutnya.

YAA!”

Chan mendapat tiga pukulan telak di kepala.

Aish..” ringis gadis itu memegang kepalanya. “Kenapa kalian sangat kejam padaku..”

“Ada apa sebenarnya denganmu?” tanya Donghae menyelidiki. “Kenapa kau ingin membolos?”

Chan berdecak. “Aku sedang malas melihat kalian bertiga.” sahutnya, lalu memandang Donghae. “Terutama kau.”

Eunhyuk dan Kyuhyun tertawa mengejek, sedangkan Donghae terkekeh riang.

Kyuhyun menghela napas dan menggeleng-geleng. “Aku benar-benar kasihan padamu..” ia memeluk Chan, menepuk-nepuk kepalanya pelan.

Untuk kali ini Chan tidak berontak atau mengelak. Ia malah membiarkan Kyuhyun. Ia malah berkata. “Aku benar-benar menyedihkan, hm?”

Kyuhyun memasang raut wajah sedih, mengangguk-angguk sambil terus menepuk-nepuk kepala Chan.

Donghae tertegun, tidak bisa mengalihkan wajahnya dari ekspresi Chan yang terlihat sangat nyaman di sana. Entah mengapa, ia merasa tindakan Kyuhyun bukanlah sesuatu yang benar.

☆☆☆

 c

“I just wanna know you better, know you better, know you better now

I just wanna know you, know you, know you

Cause all I know is we said ‘hello’

And your eyes look like coming home

All I know is a simple name

Everything has changed

All I know is you held the door

You’ll be mine and I’ll be yours

All I know since yesterday is

Everything has changed..”

v

Beberapa hari berlalu sejak kandasnya hubungan Donghae dan Haejin, juga pertemuannya dengan para pria. Waktu terus berjalan, tidak ada satupun yang dapat menghentikannya. Lembar cerita baru akan terukir kembali.

Sekarang ini Chan tengah berada di taman belakang kampus, bermain gitar sembari menunggu kelas berikutnya.

Entah mengapa, gadis itu ingin sekali memainkan lagu itu. Sekadar iseng? Tidak punya inspirasi lagu lain? Atau sedang mengungkapkan perasaan?

Permainan gitarnya berhenti saat seseorang memegang bahunya.

“Hei,” tegur Donghae, duduk di samping gadis itu. Ia mengerutkan kening, mencoba menebak lagu yang dimainkan gadis itu.

“Everything has changed.” jawab Chan begitu merasa tampaknya laki-laki itu tidak bisa menebak lagi.

Donghae mengangguk-angguk. “Kenapa kau menyanyikan lagu itu?”

Chan mengangkat bahu. “Hanya iseng..”

“Tidak, itu tidak mungkin..” sanggah Donghae. “Sudah hampir sepuluh tahun aku mengenalmu, Yoo. Dan kau tidak mungkin memainkan sebuah lagu hanya karena keisengan belaka!”

“Sungguh!” elak Chan, matanya membulat untuk meyakinkan Donghae.

“Kau menyukai seseorang ya?” tebak Donghae dengan nada menggoda.

“Tidak..” sangkal gadis itu.

“Bohong!”

“Sungguh!”

Donghae diam sebentar. Ia harus merubah strategi agar gadis itu membuka mulut. Ia tersenyum dalam hati. “Katakan saja, Yoo..” ucapnya lembut. “Memangnya kenapa kalau kau menyukai seseorang? Kau berhak untuk itu, bodoh.. Kau takut aku akan menertawakanmu?”

Gadis itu tidak menjawab. Ia malah melanjutkan permainan gitarnya.

“Baiklah kalau kau tidak mau bicara,” ucap laki-laki itu menyerah. “Kalau begitu mainkan All of Me untukku!”

All of Me.. John Legend?”

Donghae mengangguk.

Gadis itu mengernyit bingung. Tidak biasanya Donghae menentukan sendiri lagu yang ia ingin dengarkan. Chan tahu lagu ini untuk siapa, tapi ia pura-pura bertanya sekadar memastikan.

“Untuk siapa?”

“Kekasih baruku!” pekik Donghae sumringah. “Jung Min Ri!”

Seandainya sebelum ini kedua orangtua gadis itu berdiri di depannya dan memeluknya, Chan tidak akan sekaget ini. Tetapi ia dengan cepat memulihkannya. Ia tidak kaget saat tahu lagu ini untuk kekasih baru Donghae. Yang membuatnya terkejut adalah ketika mendengar nama itu.

“Minri.. yang itu?!”

“Ya, Minri yang itu!”

Tampaknya Donghae tidak mengerti maksud itu yang diungkapkan oleh Chan.

Mengapa harus Minri?! Chan berteriak dalam hati. Apa tidak ada gadis lain di kampus ini yang bisa menjadi kekasihnya? Mengapa dari dulu Donghae selalu mendapatkan gadis yang seperti.. itu? Gadis yang tidak pernah mengerti perasaannya? Gadis yang hanya memanfaatkannya? Gadis yang hanya melihat Donghae dari ketampanannya? Gadis yang.. tidak benar-benar mencintainya?

“Yoo-ya?”

Gadis itu tersentak. Selama itukah ia melamun sampai Donghae harus menegurnya? Ia menjawab singkat. “Apa?”

“Kau tidak mau berkata apa-apa tentang hubungan kami?”

Chan menunduk memandang gitarnya. Ia harus bicara. Ia tidak bisa menyembunyikan kenyataan ini begitu saja.

“Lebih baik aku diam daripada aku menyampaikan kebohongan padamu..”

Chan benar-benar merasa lega setelah mengucapkan hal itu.

“Kebohongan?” Donghae berkata keheranan. “Apa maksudmu?”

“Aku tidak percaya kau tidak tahu kalau dia―”

“Jadi kau percaya rumor itu?!” potong Donghae.

Chan sedikit kaget karena dibentak seperti itu. “Itu bukan rumor. Itu sungguhan!”

Donghae mendengus. “Aku tidak percaya padamu!”

Chan meletakkan gitarnya. “Ingat kalau kau pernah bilang kalau kau akan mendengarku?”

“Tidak ada gunanya aku mendengarmu jika kau tidak setuju denganku!”

“Donghae-ah..” ucap Chan lembut, berusaha menenangkan sahabatnya. “Tak bisakah kau mempercayainya? Semua orang juga mengatakannya, bukan hanya aku.. Kadang aku kasihan denganmu, kau tahu? Aku berharap kau mendapat gadis baik untuk menjadi prndampingmu nanti..”

Donghae memandang Chan dengan marah. “Tahu apa kau tentangku?!” sergahnya. “Tahu apa kau tentang gadis yang kucintai?! Tahu apa kau tentang perasaanku?! Kau tidak tahu apa-apa, Yoo Seung Chan! Jadi lebih baik kau diam! Ini kisah cintaku, dan tidak seharunya kau ikut campur! Dan tidak seharusnya aku minta pendapatmu!”

Chan tertegun. Bukan karena Donghae membentaknya. Melainkan karena Donghae tidak mempercayainya. Salahkah seorang sahabat ingin sahabatnya mendapat hal terbaik dalam hidupnya?

Donghae meninggalkan Chan begitu saja, sementara gadis itu hanya diam dengan wajah tertunduk.

Ia melangkah menuju mobilnya di tempat parkir, menaikinya, dan memutuskan untuk jalan-jalan seharian.

Ia benar-benar tidak menyangka Chan akan seperti ini. Untuk pertama kalinya, gadis itu tidak menyetujui hubungannya dengan kekasihnya. Dan ia benar-benar tidak percaya seorang Yoo Seung Chan mempercayai gosip yang beredar di kalangan para mahasiswa tentang Jung Min Ri. Ia tidak menyesal telah memarahi Chan seperti itu karena―menurutnya―Chan pantas mendapatkannya.

Hari sudah malam ketika ia sampai di rumah. Ia langsung menuju kamarnya, merebahkan diri di tempat tidur. Beberapa menit kemudian, ia terlelap.

Keesokan harinya, ia terbangun karenan mimpi Gadis-Misterius nya.

Namun gadis itu bukan Minri.

c

To Be Continued

v

Konfliknya emang dikit dan ini emang gajelas banget hehehehe

Aku jadi sadar betapa jeleknya tulisan aku dulu hehe hehe

Masih mau dilanjutin?

Dan karena aku sedang dalam perjalanan minggu depan, jadi kemungkinan besar aku belum bisa ngepost part 3 sama 4 nya hehehe jadi kalo yang mau membaca ditunggu ya hehe eheh hehe

Advertisements

5 thoughts on “Untouchable 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s