Untouchable 1

jl_taylorswift_untouchable

#1 : Everything has changed

1 | 2 | 3 | 4 | 5 (END)

***

LAKI-LAKI itu menopang dagunya dengan kedua tangan. Dengan mata memerah dan nyaris tertutup, ia terus memperhatikan pelajaran yang menurutnya cukup membosankan. Sesekali topangan dagunya meleset, nyaris kepalanya terjatuh di meja. Dan ia benar-benar akan masuk ke dunia mimpi kalau saja orang di depan sana tidak beranjak ke luar kelas.

“Akhirnya!” seru Lee Dong Hae kegirangan. Ia mengambil ranselnya dan lari keluar kelas dengan cepat. Sebenarnya bukan tanpa alasan ia ingin keluar kelas secepat ini. Karena ia ingin―atau seharusnya ‘harus’―menemui seorang.. ehm, gadis.

Baru saja ia keluar kelas, ia melihat seorang gadis tengah duduk di sebuah bangku panjang di ujung koridor.  Ia mengerutkan kening. Gadis itu duduk bersila di bangku, menopang dagu sembari merengut sebal. Hei, kenapa gadis itu ada di sini di jam produktif kuliah? Lagipula ini bukan gedung fakultas gadis itu.

“Yoo!” pekiknya menghampiri gadis itu.

Orang itu berbalik. Dan wajahnya yang sudah kusut, makin kusut sebab Donghae menghampirinya.

“Bukankah sudah kubilang jangan panggil marga?!” ujarnya begitu Donghae duduk di sampingnya. “Apa susahnya menyebut ‘Chan’?!”

“Aku tidak mau.” jawab Donghae keras kepala. “Anggap saja itu balas dendam karena kau selalu memanggilku ‘Dong’. Itu jelek sekali, tahu?”

Chan tidak menjawab. Ia kembali merengut.

“Apa yang kau lakukan disini?”

Chan meliriknya sebentar. “Memangnya aku tidak boleh berada di gedung fakultasmu?”

“Astaga, aku hanya bertanya.” sungut Donghae. Sepertinya mood gadis itu sedang buruk. Ia berusaha mencari tahu. Tidak ada yang aneh dengan penampilan gadis ini. Sampai ia melihat sesuatu yang terletak di samping gadis itu, ia diam-diam tersenyum.

“Ada apa dengan gitarmu?” Donghae meninju lengan atas gadis itu.

Tubuh Chan bergoyang pelan ke samping. “Joon.” balasnya singkat.

Donghae mengangguk mengerti. Satu nama itu sepertinya sudah bisa menjelaskan segalanya.

“Kau sendiri?” tanya Chan balik. “Apa kau mencariku?”

“Tidak,” jawab Donghae jujur. “Aku mencari gadisku. Dimana ya dia?”

“Seperti biasa.” gumam Chan sedikit menyindir agar nada kecewanya tidak terdengar.

Pada saat itu, seseorang menghampiri mereka.

Chan mengangkat wajah. “Apa yang kau lakukan di toilet?! Kenapa lama sekali?!” bentak gadis itu sekenanya.

“Aku mendadak sakit perut!” jawab orang itu. “Apa kau benar-benar tidak sabar menungguku?!”

Chan berdecih.

Laki-laki itu, Yoo Seung Joon―adalah versi pria dari Yoo Seung Chan. Keduanya kembar. Joon lahir sepuluh menit lebih dulu dari Chan, tapi entah mengapa Chan tampak lebih dewasa darinya. Mereka benar-benar memiliki bentuk wajah yang sama, warna mata yang sama, senyum yang sama, yang membedakan hanyalah tinggi badan, gaya rambut, serta gaya berpakaian. Rambut coklat Joon diberi gel dan dipelintir di tempat yang tepat, membuatnya terlihat semakin tampan. Dia mengenakan kemeja yang digulung sampai setengah lengan dan celana jeans berwarna hitam. Sneakers putih menutup kakinya sampai di tumit. Beberapa gadis tengah melirik genit ke arahnya.

Chan bangun dari duduknya. “Ayo!” kemudian dia menoleh ke Donghae. “Kau?”

“Aku di sini saja, menunggu Heesun.”

☆☆☆

“Chan-ah?”

“Apa?”

Kedua anak kembar itu kini berada di mobil dalam perjalanan menuju toko musik. Joon menyetir, dan Chan sedang mendengarkan lagu-lagu akustik di ponselnya.

“Apa tadi dia bilang dia menunggu Heesun?”

Chan mengiyakan.

“Jangan katakan padaku kalau Donghae.. dan Heesun..” ucapnya sembari memutar setir mobil.

“Yah, seperti yang kau tahu.” sahut gadis itu cuek.

Joon mengangguk-angguk. “Tapi, kau tahu kan seperti apa dia?”

“Oh, amat sangat tahu, oppa ku sayang..”

“Kenapa kau tidak mengatakannya pada Donghae?”

“Aku sudah mengatakannya, kau tahu?”

“Secara langsung?” lirik Joon dari spion mobil.

“Yah..” Chan menggaruk pipinya yang tak gatal, memandang ke segala arah. “Harus kuakui, ada banyak kata kiasan yang kuucapkan saat dia bertanya apa aku setuju jika mereka berpacaran..”

“Seharusnya aku tahu..” ejek Joon.

Yoo Seung Chan adalah gadis yang tidak pernah mau mengutarakan pendapatnya tentang seluruh gadis yang dikencani Donghae, padahal ia membenci mereka semua. Alasannya sederhana. Chan bukan orang yang suka menyakiti perasaan orang lain.

Dua orang itu sudah berteman sejak mereka berada di tingkat menengah pertama. Cukup lama memang, sekarang malah mereka berada di kampus yang sama meski beda fakultas. Interaksi keduanya sejak dulu memang sangat dekat, sehingga semua sahabat gadis Chan (Minjung, Hyosung, dan Byul) selalu bertanya-tanya kapan keduanya akan jujur dengan perasaan mereka. Mengingat Chan sudah menyukai Donghae sejak mereka pertama bertemu.

Tapi karena Donghae tidak kunjung menyatakan perasaannya, Chan memilih untuk menyembunyikan perasaannya juga.

Chan dan Joon memang sejak awal tidak ditempatkan di sekolah yang sama, untuk menghindari kalau-kalau keduanya bertengkar hebat di sekolah (mereka sering melakukannya di rumah), walau entah mengapa sekarang keduanya berada di kampus yang sama, jurusan yang sama, hanya saja berbeda kelas, dan syukurlah keadaan kampus baik-baik saja. Tapi Joon mengenal semua teman-teman Chan meski mereka tidak terlalu akrab, begitu pula dengan Chan.

“Kalau aku jadi kau, aku akan langsung menyatakan perasaanku padanya.”

“Itu tidak ada gunanya.” sahut Chan sinis. “Dan kau tahu itu.”

Begitu mobil berhenti di depan toko, Chan langsung membuka pintu. Gadis itu mengambil gitarnya dan berlari secepat kilat memasuki toko.

Toko musik itu cukup besar. Bangunan itu terdiri dari dua lantai, yang berisi―tentu saja―semua yang berkaitan dengan musik. Apapun yang kau butuhkan ada di sini. Cello, drum, piano, klarinet, harpa, gitar, terompet, saksofon, biola, organ, banjo, harmonika, simbal, dan masih banyak lagi. Tempat ini juga melayani perbaikan alat musik. Di toko ini juga dijual alat-alat seperti stik drum, busur biola, senar berbagai alat musik petik, bahkan tongkat dirigen.

“Hai, Russel!” Chan mengangkat tangannya dan tersenyum lebar.

Pemilik toko ini adalah Russel Ahn. Ia adalah laki-laki keturunan Eropa yang tinggal di Korea. Ayahnya orang Korea sedangkan ibunya orang Inggris. Toko ini dikelola kedua orangtuanya sejak mereka pindah ke Korea lima tahun lalu, dan Chan sudah jadi pelanggan tetapnya sejak toko ini baru dibuka. Chan selalu puas dengan hasil kerja Russel dan Russel sendiri sebenarnya teman sekolah Joon saat mereka di sekolah menengah.

“Aku hampir melupakan wajahmu karena terlalu sering bertemu Joon.” ujar laki-laki itu. “Well, kali ini apa?”

Chan memberikan gitarnya. Russel sudah langsung tahu apa yang diinginkan gadis itu karena ketika melihat gitar gadis itu, ia terbahak.

“Apa yang terjadi?”

Chan melirik Joon. “Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan sampai bisa-bisanya dia menggunting semua senar gitarku!”

“Hei, aku tidak sengaja!” pekik Joon di belakangnya. “Lagipula kenapa kau meletakkan gitar di dekatku di saat aku dan kakek tengah menggunting-gunting kertas?!”

“Kenapa kau tidak memindahkan gitarku dulu baru bekerja?” Chan menukas.

Joon memukul kepala Chan.

Russel tertawa. “Hei, sudahlah..” lerainya. “Baiklah, Chan. Ini tidak butuh waktu lama. Kau bisa menunggu sambil melihat-lihat beberapa gitar baruku.”

“Dengan senang hati.” Chan tersenyum.

Masih kesal dengan kembarannya, Joon berkata. “Aku juga mau melihat-lihat.”

“Kapan aku melarangmu?”

Joon naik ke lantai dua. Sementara Chan ke bagian ruangan lain tempat gitar akustik dipajang. Gadis itu mengamati sebuah gitar, mengagumi model dan warnanya, kemudian mencoba memainkannya. Setelah dirasa puas, ia akan beralih ke gitar lain, mencoba beberapa nada, dan meletakkannya kembali. Ketika sekitar enam gitar sudah dicobanya dan hendak mencoba gitar ke tujuh, ponsel gadis itu berbunyi.

Chan mengerutkan dahi, menyentuh benda itu, menempelkannya di telinga. “Apa?” jawabnya tanpa salam.

“Jangan pasang nada bicara itu padaku! Aku sedang patah hati!” balas orang di seberang sana.

“Lalu?”

YA, YOO SEUNG CHAN!”

Gadis itu refleks menjauhkan telepon. “Baiklah, baiklah.. Aku minta maaf.. Kau bisa ke toko Russel sekarang kan?”

“Aku sudah di sini.”

“Ng?” teriak Chan terkejut. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.

Ketika melihat ke arah Russel yang sedang memperbaiki senar gitarnya, ia mendapati ternyata orang itu tidak sendirian. Laki-laki itu sedang berbicara dengan orang yang menelepon gadis itu. Sesekali mereka tertawa, kemudian melanjutkan pembicaraan. Donghae masih menempelkan ponsel di telinganya. Sampai ketika Chan menghampiri mereka, barulah ia menurunkan ponsel itu.

“Dari mana kau tahu kalau aku di sini?” tanya gadis itu tanpa basa-basi.

“Sederhana saja.” Donghae mengangkat bahu cuek. “Kalu hal itu ada kaitannya dengan gitarmu, pasti kau ada di sini.”

“Memang jawaban seorang Lee Dong Hae.” cibir Chan. “Pendek dan tidak berbobot.”

“Memang jawaban pacar yang baik.” sahut seseorang. “Saling mengetahui keberadaan satu sama lain.”

Chan dan Donghae menoleh ke orang yang mengatakan hal itu. Russel, yang dengan wajah tanpa dosanya, memasang senar terakhir di gitar Chan sambil tersenyum kecil.

“Apa sudah selesai?” tanya Chan sedikit salah tingkah. Gadis itu melirik Donghae yang tidak beraksi apa-apa.

Russel memberikan gitar padanya. “Persis seperti baru! Kau pasti akan menyukai suaranya!”

Chan menerimanya, mulai memainkan beberapa nada dengan cepat, lalu mencoba dengan memainkan satu bait lagu.

Ia menatap Russel berbinar. “Ini luar biasa! Terima kasih, Russel!” serunya senang. “Bagaimana aku membayarmu?”

Laki-laki Inggris itu mengangkat bahu. “Makan siang?”

Gadis itu mengangguk. “Kalau begitu, ajak Joon makan siang denganmu.” ia langsung menarik Donghae keluar dari toko.

Tepat pada saat itu, Yoo Seung Joon turun dari tangga.

“Ah, tepat sekali, Joon.” desis Russel. “Aku sedang ingin menikmati makanan Italia.”

“Oh bagus,” Joon memutar bola matanya. “pasangan kekasih itu meninggalkan aku lagi..”

☆☆☆

“Setelah kau dan Joon pergi tadi, aku terus menunggu Heesun. Cukup lama aku menunggunya. Sampai akhirnya.. dia menghampiriku.. dan memutuskan hubungan kami begitu saja..”

Mereka kini berada di kamar Chan. Bukan hal baru bagi laki-laki itu berada di kamar gadis itu, ataupun sebaliknya. Mereka sudah amat terbiasa, asal kalian tahu? Donghae duduk di depan meja belajar gadis itu, sementara Chan berbaring ranjang, seraya bermain gitar dengan iseng.

“Begitu saja?”

“Begitu saja.”

Chan mengangguk mengerti. Ia kenal orang itu. Wang Hee Sun, salah sepuluh dari primadona kampus. Hobinya memutuskan hubungan dengan pria sesuka hatinya. Kalian tahu mengapa Chan bisa tahu? Kembarannya juga pernah mengalami hal yang sama. Baru tiga hari mereka berpacaran, Heesun langsung memutuskan hubungan dengan Joon dengan alasan yang cukup abstrak: ‘Kau bukan orang yang tepat waktu. Aku tidak suka itu.’

Jika itu alasan yang ia berikan pada Joon, maka alasan apa yang ia bilang pada Donghae?

“Ah, tidak mungkin. Pasti dia mengatakan sesuatu padamu.” Chan berbalik memandang Donghae.

Laki-laki itu mengambil novel Partners in Crime milik Chan dan membolak-balikkannya. “Tidak! Dia langsung sa―” Donghae berhenti mendadak dan berpikir sejenak. “Tunggu dulu.. Sepertinya yang dia katakan padaku..” ia terdiam, lalu dengan tiba-tiba menjentikkan jemarinya. “Ah, ya! Dia bilang aku terlalu kekanak-kanakan. Dia tidak suka kalau aku selalu membicarakan sepak bola di depannya..”

Chan tersenyum. Senyum meremehkan lebih tepatnya. Alasan yang klasik. Terlalu transparan. Sangat mudah baginya untuk mengetahui bahwa seorang Wang Hee Sun adalah wanita yang suka mempermainkan pria.

Dan memang bukan hanya dirinya saja yang tahu jika gadis itu suka mempermainkan lelaki. Semua orang juga tahu, namun Lee Dong Hae tutup telinga tentang itu. Dan baru akan membuka telinganya kembali ketika mereka sudah tidak berstatus pasangan kekasih lagi.

“Jadi..” Chan bangun, duduk, memetik satu senar, dan berkata. “Lagu apa yang harus kumainkan sekarang?”

Itulah kebiasaan Lee Dong Hae. Setiap kali ada masalah yang menghampirinya, Chan adalah pelabuhan pertama dan utama untuk mengembalikan mood baiknya. Ia akan meminta sang sahabat memainkan sebuah lagu sambil bernyanyi. Dan soal lagu.. biasanya gadis itu lebih sering menentukan sendiri.

Laki-laki itu berbalik memandang gadis itu. “Pokoknya yang ceria. Jadi setidaknya aku bisa langsung melupakannya.”

Donghae harus mengakui, permainan gitar seorang Yoo Seung Chan sangat luar biasa. Gadis itu jauh lebih hebat darinya di bidang ini. Bahkan lagu klasik terdengar indah jika gadis itu memainkannya menggunakan gitar. Maka dari itu ia sangat suka mendengar permainan gitar Chan. Menurutnya itu wajar, karena gadis itu berasal dari keluarga berjiwa seni tinggi. Ayahnya seorang pianis dan ibunya adalah seorang komponis. Sayang sekali mereka berdua harus meninggalkan Chan dan Joon selama-lamanya, sehingga kini mereka tinggal bersama kakeknya yang mantan pianis dan neneknya mantan penyanyi opera.

Soal suara.. Donghae tidak bisa menyatakan keraguan pada gadis itu.

Chan mengetuk-ngetuk jari di dagunya. “Bagaimana kalau.. Bruno Mars, Today My Life Begins?”

Donghae menyetujui. “Setidaknya itu memberiku sedikit motivasi..”

Gadis itu mengambil napas dan membersihkan tenggorokan. “Baiklah, ini dia..”

Dan Chan mulai memetik gitar, memainkan intro lagu itu. Sementara Donghae memejamkan mata, mulai menikmati suara Chan yang jernis dan khas.

“I’ve been workin’ hard so.. long.. “

 ☆☆☆

Seorang gadis mengenakan gaun yang sangat mewah. Rambut coklatnya digerai sehingga tampak aura kecantikannya. Donghae yang memakai pakaian resmi hanya diam menatapnya. Ia jatuh dalam pesona gadis itu, meskipun ia tidak bisa melihat wajahnya. Gadis itu mengulurkan tangannya pada Donghae, memberikan tawaran untuk berdansa. Dengan senang hati Donghae menerimanya.

Dua orang itu menari dengan anggun di tengah-tengah sebuah ruangan dansa besar bergaya Eropa. Begitu berada di sana, kau seperti terbawa ke Venesia abad 18. Hanya ada mereka berdua di ruangan itu. Dengan lembut Donghae memutar si gadis, dan kembali meletakkan tangannya di pinggangnya. Gadis itu tersenyum di balik topengnya, terus bergerak lincah bersama Donghae.

Bahkan dalam jarak sedekat ini, Donghae tetap tidak bisa melihat wajahnya.

Mereka terus saja berdansa. Donghae baru saja ingin bertanya siapa nama gadis ini, tapi ternyata gadis itu sudah mengangkat satu tangannya yang diletakannya di bahu Donghae. Ia menyentuh topeng Venesia-nya, perlahan membukanya.

Namun itu hanya menampakkan sinar menyilaukan dari wajah sang gadis. Donghae menjauh, menutup matanya, sampai akhirnya ia terduduk di ranjang.

Oppa, bangunlah!”

Donghae berkedip tiga kali. Ia melihat adiknya, Lee Joo Hae, tengah membuka tirai jendela kamarnya. Ia menatap gadis itu kosong. Ia berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi.

Oppa kenapa?”

Donghae menggeleng. Ia mendapati adiknya sudah memakai seragam sekolahnya.

“Cepatlah bersiap.” Gadis itu berderap menuju pintu, menutup pintu kamar dan lenyap dari pandangannya.

Ah, mimpi itu lagi..

Donghae mengambil pakaiannya dan membawanya ke kamar mandi. Beberapa menit kemudian ia keluar dengan mengenakan kaus berlengan pendek yang ditutupinya dengan kemeja yang tak dikancingnya dan celana jeans. Ia menuruni tangga dan menuju meja makan.

Setelah sarapan, Donghae dan adiknya langsung menuju garasi, masuk ke mobil, dan berangkat. Sembari menyetir, tak henti-hentinya laki-laki itu menghela napas kasar, membanting dirinya di sandaran kursi mobil, atau mengacak-acak rambutnya.

“Pasti ini soal gadis.” Joohae bergumam sambil lalu.

Donghae merengut. “Sok tahu.”

Oppa selalu seperti itu setelah putus dari seseorang.” Joohae menggeleng prihatin. “Oppa kan menyukai Chan eonni, dan sampai sekarang aku tidak melihat sedikitpun kemajuan.”

“Benar-benar sok tahu.”

Joohae mencibir. Ia melihat keluar, menghela napas. “Bagus. Oppa kelewatan lagi.”

Donghae menyeringai meminta maaf.

Setelah menurunkan sang adik di tempat yang ― syukurlah ― tidak terlalu jauh dari gerbang sekolah (Donghae pernah membuat sang adik berjalan hampir satu kilometer karena melamun), ia kembali melajukan mobil.

Ia seperti ini bukan karena Heesun yang memutuskannya kemarin. Justru karena mimpi itu. Ya, mimpi itu..

Akhir-akhir ini, Donghae sering sekali bermimpi tentang seorang gadis. Mimpinya memang tidak selalu sama. Hanya saja, aktris dalam mimpinya itulah yang selalu sama. Dan akhirnya juga selalu sama. Gadis itu akan berwujud cahaya terang menyilaukan setiap kali Donghae ingin tahu siapa dirinya. Kalau saja sahabat baiknya Minjung bukan kekasih Eunhyuk, Donghae bisa saja bermanja-manja pada gadis itu dan menceritakan segalanya. Tapi karena ia tahu Eunhyuk sangat cemburu padanya, ia tidak jadi melakukannya. Akibatnya ia tidak pernah menceritakan hal ini kepada siapapun kecuali Yoo Seung Chan. Entahlah. Dan karena hal ini pula ia jadi bahan ejekan gadis itu.

Ia kembali menghela napas. Ketika mobilnya sudah diparkir dengan baik, Donghae turun dari mobil dengan sedikit terburu-buru, sehingga dia menabrak seorang gadis.

“Oh, maafkan aku!” seru Donghae membantu sang gadis berdiri. “Apa kau baik-baik saja?”

Gadis itu mengibas rumput dan tanah yang menempel di roknya. Ia menerima uluran tangan Donghae dan berdiri. Ia sedikit merapikan baju dan rambutnya.

Gadis itu tidak terlalu buruk, harus Donghae akui. Rambut hitam yang dipotong pendek membuat tengkuknya terlihat jelas. Ia mengenakan rok diatas lutut sehingga kaki jenjangnya terekspos begitu saja. Kemeja hitam ketat membungkus tubuh modelnya. Lipstik merah merona menghiasi bibir gadis itu.

Dengan susah payah, Donghae menelan ludah.

Ia mengerjap, menggelengkan kepala kuat-kuat. Apa yang dia pikirkan?! Mengapa otaknya seketika membuat fantasi liar seperti ini?! Kenapa ia bisa membayangkan hal yang tidak-tidak?! Ia baru melihat gadis ini sekarang, tapi kenapa dia langsung.. terpesona? Apa ya kalimat yang tepat? Tergila-gila? Tergoda? Err.. oke, itu kedengarannya berlebihan dan mau tidak mau ia harus mengakuinya.

“Kau baik-baik saja?” tanya sang gadis lembut.

“Ah.. ya..” Donghae tertawa hambar, berusaha untuk tidak terlihat konyol. “Aku tidak apa-apa.. Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu. Apa ada yang terluka?”

“Sepertinya tidak,” jawab gadis itu. “Baiklah, aku harus pergi.” ia tersenyum sebelum berjalan meninggalkan Donghae yang―sungguh!―tampak seperti orang bodoh.

Oh My God.. Look at that face..” senandung seseorang menghampiri Donghae.

Donghae kenal dengan baik suara itu. Hampir sepuluh tahun ia akrab dengan suara bernada hina serta penuh ejekan milik gadis itu.

“Yoo-ya, Aku menemukan gadisku..” gumam Donghae masih memandangi orang itu.

Gadis itu melihat apa yang dilihat Donghae, lalu memasang wajah tanpa ekspresi. “I see no different between you and donkey.” balasnya.

Mendengar hal itu, Donghae menjitak kepala Chan dengan kuat.

“Aduh..” keluh gadis itu mengelus kepalanya. “Jangan pasang wajah begitu, bodoh! Semua orang akan langsung tahu kalau kau menyukainya!”

“Biarkan saja!” Donghae menyahut judes. “Peduli apa aku dengan orang-orang?!”

“Kau terlalu mudah mencintai wanita,” gumam Chan menerawang. “Aku jadi kasihan dengan istrimu nanti..” ia berjalan meninggalkan Donghae begitu saja.

“Yoo!” seru Donghae berlari mengejar gadis itu. “Ada yang ingin aku katakan padamu..”

“Apa? Jangan bilang tentang mimpi basahmu itu lagi?” sembur Chan. “Dasar bocah.”

“Itu bukan mimpi basah!” teriak Donghae kesal.

“Terserah aku!” sergah Chan. Ia berjalan tanpa mempedulikan sang sahabat. Bahkan ketika Donghae mensejajarkan langkah dengannya pun ia tidak peduli.

“Chan-ah..” rayu Donghae memasang wajah memelas.

“Oh, hebat..” erang gadis itu. “Apa yang kau inginkan sampai harus memanggilku semanis itu?”

Donghae tersenyum lebar. “Kau mngenalnya?”

Gadis itu menghembuskan napas kasar. “Kau harus masuk ke kelasmu, tuan Lee. Setelah itu, aku akan memuaskan rasa ingin tahumu tentang Go Hae Jin.”

☆☆☆

Usai pelajaran profesor Kim, Chan memutuskan untuk mencari makan siang. Baru saja ia keluar dari kelas, ia kaget karena Donghae sudah berdiri di dekat pintu kelasnya.

“Kita mau ke mana?” rengek Donghae.

“Mencari makan untukku.” balas Chan memandang lurus ke depan.

Tiba-tiba, Chan mendadak berhenti. Bukan sembarang tempat dimana perhentiannya. Mereka berhenti di sebuah toko kue yang cukup besar. Beberapa menit kemudian, Chan keluar dengan membawa kantong kertas besar berisi kue sus strawberry, kue gandum kismis, roti keju, donat bersalut coklat, dan kue jahe. Gadis itu berjalan sambil memakan kue dengan penuh rasa syukur.

Sementara itu, Donghae berjalan di belakang Chan sambil bersungut-sungut. Gadis itu benar-benar memperlakukannya seperti hantu. Namun bagaimanapun juga, ada yang harus Chan bagi padanya. Bukan kue, melainkan informasi. Tidak apa ia berjalan dengan perut yang terus berbunyi, asalkan ia mendapat info itu.

“Dong-ah?” panggil Chan dengan mulut penuh.

Begitu dipanggil, laki-laki itu segera mensejajarkan langkahnya dengan Chan.

“Makan.” Chan menyerahkan kantong kertas itu. “Perutmu sedari tadi terus berbunyi, kau tahu?”

“Akhirnya kau menyadarinya?!” teriak laki-laki itu.

Chan menyeringai senang. Donghae menerima kantong itu dengan enggan. Ia makan dalam diam seraya mendengar cerita Chan.

Well, namanya Go Hae Jin. Dia teman sekelas Joon saat di sekolah menengah. Joon tidak terlalu dekat dengannya. Tapi menurutku, dia anak yang pendiam dan baik. Hanya saja..”

“Dia akan menjadi pacarku besok!” potong Donghae dengan mulut penuh donat.

“Tapi aku..”

“Terima kasih, Yoo!” tanpa diduga, Donghae memeluk dan mengecup pipi gadis itu sekilas. Setelah itu ia berlari meninggalkan Chan sendirian.

Chan menatap punggung Donghae yang mulai menjauh dan akhirnya lenyap dari pandangan. Ia berdiri mematung dengan tatapan kosong. Ia tidak peduli tatapan aneh orang-orang yang menganggapnya konyol, atau bodoh, atau apalah. Ia membiarkan berbagai hal berpacu dalam dirinya. Otaknya. Hatinya. Ia membiarkan jantungnya berdetak tak beraturan, memompa darah mengikuti irama dirinya. Ia merasa tubuhnya merinding, seakan baru saja melihat hantu. Ia membiarkan rasa hangat pada pipinya menjalar seenaknya, mengakibatkan setruman kecil itu meninggalkan jejak kemerahan di sana.

Donghae memeluknya. Itu sudah biasa. Tapi kali ini ada satu perlakuan baru yang cukup mengejutkan.

Perlahan, tangan gadis itu menyentuh pipinya.

Ia tidak peduli apa makna Donghae melakukan itu. Entah karena sangat berterima kasih, atau karena saking cintanya pada Haejin, atau perasaan lain yang sulit di artikan.

Apapun itu, Chan menyukainya.

☆☆☆

Benar saja. Hari ini, ketika Chan melangkah menuju kelasnya, ia melihat sang sahabat bermesraan dengan kekasih barunya. Gadis centil dan genit yang kemarin sukses menjatuhkan Donghae dalam pesona mengerikannya. Go Hae Jin.

Ketika sedang menunggu mata kuliah professor Choi, Chan memutuskan untuk menemui para sahabatnya di kantin. Ia tersenyum mendapati mereka tengah berkumpul.

“Hai, Yoo!” sapa Kyuhyun. Chan mengambil tempat di sampingnya, di depan Minjung dan Eunhyuk.

“Sudah dengar kabar terbaru Donghae?” Chan mulai bergosip.

“Tentu saja.” Minjung menyahut. Ia menoleh ke Eunhyuk. “Apa kalian tidak pernah bilang padanya siapa itu Go Hae Jin? Kukira dia tahu!”

“Dasar penggosip.” Eunhyuk memukul kepala keduanya.

“Padahal kukira kalian akan berhenti bergosip setelah Hyosung berbeda kampus dengan kalian.”

Kali ini, Chan dan Minjung memukul kepala Kyuhyun.

Minjung memajukan wajahnya, menatap Chan. “Kau tidak apa-apa kan?”

Chan mendengus. “Memangnya kenapa kalau dia bersama orang lain? Itu haknya kan?”

Kyuhyun menggeleng prihatin, lantas memeluk kepala gadis itu. “Aku jadi kasihan denganmu..”

“Jangan mengejekku.” Chan melepaskan diri. “Pikirkan saja bagaimana membuat Byul luluh padamu.”

Mereka terus mengobrol seperti itu sampai mereka harus berpisah karena mereka harus menghadiri kelas.

Sudah tiga bulan berlalu. Selama itulah Chan jarang bertemu Donghae. Ia lebih memilih menghabiskan waktu bersama para sahabatnya. Jelas saja Donghae akan lebih memilih Haejin dibanding dirinya. Oh ayolah, Chan hanya sahabatnya! Tidak ada yang istimewa dari itu! Donghae hanya akan datang padanya di saat diperlukan saja! Bahkan Minjung jauh lebih istimewa darinya, meski sekarang gadis itu menjadi hak paten Eunhyuk. Selebihnya? Nevermore!

Seperti hari-hari sebelumnya, ketika Chan menuju ke kelas, ia akan melihat Donghae dan Haejin sedang.. sedang.. ah.. kalian tahulah apa yang biasa dilakukan pasangan-pasangan yang sedang dimabuk cinta.

Ia memandang mereka dengan jengkel. Rasanya ia ingin muntah saat melihat betapa manjanya laki-laki itu pada Haejin. Saat itu ia belum selesai bicara, dan seandainya Donghae mendengar kelajutannya dan tahu yang sebenarnya.. Chan tidak tahu apa yang terjadi nanti.

Bahkan Minjung, Kyuhyun, dan Eunhyuk tahu siapa Go Hae Jin. Donghae saja yang tidak mau mendengar.

“Donghae memang mengerikan jika sudah dimabuk gados-gadis..” gumamnya memasuki kelas.

Saat jarum panjang menunjuk angka sepuluh dan jarum pendek menunjuk angka enam, Yoo Seung Chan baru menyelesaikan mata kuliah terakhirnya. Chan hanya sekilas memandang Donghae dari gedung fakultasnya. Di satu sisi, Chan beruntung tidak satu fakultas dengan Donghae..

Gadis itu memutuskan untuk menuju toko buku langganannya yang letaknya tidak jauh dari kampus. Ia langsung menuju bagian yang paling disukainya, komik dan novel. Ketika ia baru mengambil satu buku, ponselnya berdering. Ia langsung bicara tanpa henti.

“Halo, Nek? Maaf aku pulang terlambat hari ini, karena aku harus mengambil beberapa novel. Agatha Christie, Nek, tahu kan? Aku tidak percaya mereka mencetaknya kembali. Tidak usah siapkan makan malam untukku, biar aku memasak sendiri nanti. Oke?”

Chan menyadari bahwa itu bukan telepon dari neneknya.

bn

To Be Continued

m

HAHA

Sebenarnya aku emang udah punya cerita Donghae Chan, tapi bukan ini. Cerita yang aku bawa nanti ada hubungannya sama A ‘Good’ Bye dan Hug Me Once, Cuma aku belom nyelesaiin dan aku pengen aja repost ini.

Kalau kalian tahu aku dari SJFF, ini sebenarnya udah pernah diaplot di sana, dengan cast Kyuhyun Chan, tapi karena di website ku Kyuhyun pasangannya sama Byul, aku ganti jadi Donghae Chan. Dan jadilah seperti ini.

Ini juga aku remake sih sebenernya HEHEHE

So, what do you think?

 

Advertisements

5 thoughts on “Untouchable 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s