Fall For You 7 (END)

166923

Poster by POKUPON

#7 : Enchanted

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 (END)

***

JUNG seonsaengnim masuk ke kelas, setelah menyapa dan disapa para murid di ambang pintu. Seperti biasa, setelah mengabsen, ia akan menjelaskan materi. Kali ini, kelas akan mempelajari unsur radioaktif.

“Keradioaktifan adalah kemampuan suatu unsur untuk memancarkan sinar berdaya tembus tinggi dengan sendirinya tanpa harus disinari terlebih dahulu. Sedangkan unsur radioaktif adalah unsur yang bersifat radioaktif yang biasanya mengandung isotop-isotop radioaktif yang inti atomnya tidak stabil dan memancarkan energi agar inti atomnya stabil.”

Minjung hanya mendengarkan, tidak mencatat. Ia sudah pernah membaca tentang radioaktif saat masih berada di sekolah menengah pertama. Ia tidak terlalu terkejut dengan penjelasan ini. Murid-murid lain mencatat.

“Ada tiga jenis sinar radioaktif.” Jung seonsaengnim berkata. “Ada yang bisa menjelaskan padaku?”

Minjung mengangkat tangan dengan malas.

“Ya, nona Hwang?”

Minjung menarik napas. “Sinar alfa, dengan nomor massa 4 dan nomor atom 2, sama sepeti helium. Sinar beta, nomor massa nol dan nomor atom -1, sama seperti elektron. Sinar gamma, nomor massa dan nomor atom nol. Muatan dapat dilihat dari nomor atomnya. Jadi, sinar alfa bermuatan +1, sinar beta -1, dan sinar gamma tidak bermuatan.”

“Bagus sekali.” Jung seonsaengnim memuji. Para murid mencatat.

Minjung bergumam pelan. “Itu mudah saja.”

Eunhyuk yang tengah menekuni catatannya mendengar gumaman pelan itu, cukup kesal melihat kembali kesombongan Hwang Min Jung.

“Unsur radioaktif juga terdiri dari partikel radioaktif.” wanita itu kembali menjelaskan. “Tiga jenis sinar tadi juga termasuk bagian dari partikel radioaktif. Ada yang bisa mengatakan padaku jenis partikel lain?”

Minjung sebenarnya ingin menjawab, tapi ia mengurungkan niat untuk mengangkat tangan. Ia mengamati seisi kelas. Tidak ada yang tahu jawabannya. Ia mendengus meremehkan.

Jung seonsaengnim menatap Minjung penuh arti. “Dari dengusan itu, sepertinya kau mengetahui jawabannya, nona Hwang. Apa kau bisa mengatakannya pada kami?”

“Tentu saja.” Minjung menjawab, sedikit terdengar ketus. “Itu mudah sekali. Selain tiga sinar tadi, masih ada partikel radioaktif lain. Proton, neutron, positron, deuteron, dan triton. Proton dan neutron, seperti yang kita semua tahu berapa nomor massa dan nomor atomnya. Positron, atau yang sering disebut elektron-positif, tidak bermassa tetapi memiliki muatan +1. Deuteron, atau hidrogen pada umumnya, aku yakin kita semua tahu berapa nomor massa dan nomor atomnya. Yang terakhir, triton, atau hidrogen dengan nomor massa 3 dan nomor atom 1.”

“Em.. seonsaengnim?” Shin Hyo Jin mengangkat tangan.

 “Ya, nona Shin?”

“Saya hanya ingin bertanya.” Hyojin berkata. “Jika proton dan neutron termasuk partikel radioaktif, apa elektron tidak termasuk ke dalamnya?”

Minjung tertawa mengejek. Tanpa dipersilahkan sang guru, ia berkata. “Dimana kau saat aku menjelaskan tentang tiga jenis sinar alfa? Bukankah tadi aku mengatakan ‘Sinar beta, nomor massa nol dan nomor atom -1’? Itu sama saja dengan elektron, kalau kau ingin tahu!”

Chan, Hyosung, dan Byul menahan tawa.

“Nona Hwang sudah menjelaskannya pada kita semua tadi, nona Shin,” Jung seonsaengnim melanjutkan ucapan gadis itu. “Meski aku sangat menyayangkan seandainya dia bisa menjelaskan dengan nada yang jauh lebih sopan.”

Minjung menganggap dirinya tidak mendengar teguran tak langsung itu.

Kemudian, Jung seonsaengnim menjelaskan tentang pita kestabilan inti dan lajur peluruhan radioaktif. Satu jam berlalu, suasana kelas kondusif. Selesai menjelaskan, Jung seonsaengnim menunjuk beberapa lembar kertas di mejanya, meminta Seo Joon Hee membagikan kepada tiap murid.

“Kerjakan tugas ini secara berkelompok dengan teman semejamu. Aku akan kembali.” Jung seonsaengnim pamit, meninggalkan kelas tanpa membawa barang-barangnya, pertanda kalau ia akan kembali lagi ke kelas ini.

Minjung menghela napas keras saat menerima soal dari ketua kelasnya. Ia memandang Eunhyuk dengan jengkel. Kenapa soal segampang ini harus dikerjakan berkelompok? Ia bisa mengerjakan semua soal ini sendirian dalam waktu lima belas menit!

Ia melihat warga kelas sudah menyibukkan diri dengan soal yang ada, serius dan santai mendiskusikan soal dan jawaban bersama. Jika saja teman diskusi Minjung bukan orang ini, ia pasti akan bisa bersikap sopan seperti teman-temannya.

Minjung hanya mengamati Eunhyuk yang mengerjakan soal itu dengan pikirannya sendiri.

“Kukira kau tidak akan mengerti apa yang sudah aku jelaskan tadi.” sinis Minjung.

“Sebaiknya kau mengoreksi hasil kerjaku daripada harus menunjukkan betapa sombongnya dirimu pada semua orang.” tangkis Eunhyuk.

Minjung mengamati kertas tulisan laki-laki itu, kemudian mendengus meremehkan. Ia menatap Eunhyuk hina. “Apa yang kau lakukan di kelas selama tadi? Memikirikan Hyojin-mu?”

Gadis yang disebutkan namanya itu menoleh. Begitu juga semua orang yang kini sudah mengamati keduanya.

Minjung mencoret-coret kertas itu dengan sedikit kasar sambil berkata judes. “Ini salah! Ini juga salah! Oh ayolah, persamaan reaksi ini sangat sederhana! Dan ini, kau bahkan melakukan kesalahan hanya pada nomor atomnya?! Apa-apaan ini?!”

Eunhyuk menatap kertas itu dengan perasaan amarah tak terkendali, seakan seseorang tengah menginjak-injak harga dirinya. Tapi secara langsung, memang itu yang tengah Minjung lakukan padanya.

“Aku tidak pernah bertemu orang Jepang sebodoh dirimu.” Minjung mengambil kertas baru, menulis dan mengerjakan sendiri soal yang diberikan.

Laki-laki itu hanya mengamati Minjung, masih dengan amarah di dalam dirinya.

“Asal kau tahu, aku bisa saja lebih pintar darimu kalau aku tidak duduk denganmu dan mengenal orang sesombong dirimu.” sergah Eunhyuk.

Hwang Min Jung mendadak berhenti menulis. Sontak ia menoleh pada laki-laki itu.

“Apa?” tantang Eunhyuk. “Kau tidak terima kalau suatu saat kau akan dikalahkan di bidang akademik?”

“Kalau begitu kenapa kau tidak bisa mengerjakan soal segampang ini?” tangkis gadis itu.

Eunhyuk benar-benar ingin menampar Minjung untuk kedua kalinya.

“Kau tidak perlu terlihat bisa segalanya di depanku.” sinis gadis itu. “ Lagipula, aku tidak mempedulikan dirimu, ataupun semua hal yang berkaitan denganmu.” Minjung berdiri, membawa kertas jawaban dan meletakkannya di meja guru. Ia keluar kelas, entahlah kemana ia ingin pergi.

☆☆☆

Laki-laki itu sama sekali tidak mempedulikan apa yang dilakukan Minjung setelah gadis itu meninggalkan kelas.

Setelah selama sepuluh bulan bersekolah di sini, ia menyadari bahwa mereka tidak akan bisa berteman.

Padahal ia merasa hubungannya dengan gadis itu akan semakin membaik setelah keduanya saling meminta maaf, meski terkadang masih sedikit canggung. Tetapi, ketika ia menjalin kasih dengan Hyojin, Minjung mendadak berubah menjadi gadis yang ia kenal pertama kali. Sekarang bahkan sikap gadis itu sudah melanggar perikemanusiaan.

Salahkan ia sedikit.. berharap?

Tapi berharap apa? Ia tidak mengerti.

Apa yang sedang terjadi pada dirinya?

Sampai ketika Jung seonsaengnim masuk lagi ke kelas, gadis itu tak muncul juga.

Sepertinya guru kimia itu juga tidak mempedulikan keberadaan Minjung. Setelah melihat kumpulan kertas jawaban yang sudah tertumpuk di mejanya, ia segera berpamitan pada para siswa.

Pada saat itu, Chan, Hyosung, dan Byul langsung menodong Donghae.

“Apa yang terjadi padanya?” tanya Byul menuntut. “Apa kau tahu sesuatu yang tidak kami ketahui?”

Donghae mengangkat bahu. “Kau seperti tidak tahu kalau dia sangat membenci sepupumu.”

Chan melipat tangan dan menaikkan sebelah alis. “Minjung membenci semua mantan kekasihnya dan Hyojin. Tapi Minjung hampir tidak pernah bersikap kejam pada mereka semua.”

Donghae diam.

“Temukan dia dan beritahu kami apa yang terjadi.” perintah Byul.

Donghae berdecih. “Kenapa bukan kau saja yang pergi?”

“Dasar bodoh!” Hyosung menjitak kepala Donghae. “Dia tidak akan bisa bicara pada kami kalau dia belum bicara denganmu! Kau sudah mengenalnya seumur hidupmu dan kau masih tidak tahu hal ini?!”

“Baiklah, baiklah..” Donghae berkata pasrah. “Simpan kuku-kuku kalian.”

Akhirnya Lee Dong Hae meninggalkan kelas.

Kini giliran Eunhyuk yang ditodong tiga gadis itu.

Byul menyeringai. “Mengakulah, Lee Hyuk Jae..”

“Apa?” Eunhyuk membalas tak mengerti. “Ada banyak hal yang kupikirkan dan Minjung sama sekali bukan bagian dari pikiranku. Aku masih harus menemukan siapa yang mengirim foto-foto itu padaku.”

Dan ia juga meninggalkan kelas.

☆☆☆

Minjung mengambil satu buku, kemudian mencari tempat kosong di perpustakaan, kemudian mulai membaca.

Gadis itu hanya mengamati huruf di buku yang ia pegang, tapi pikirannya tidak sepenuhnya pada apa yang dibacanya. Ia sedang memikirkan apa yang sedang terjadi pada dirinya. Entah mengapa ia merasa sangat terluka padahal tidak ada yang menyiksanya. Ia merasa ingin menangis tapi tak ada yang membuatnya sedih. Apa ini ada kaitannya dengan laki-laki itu? Tapi bukankah mereka saling membenci?

Ada yang bisa menolong Minjung saat ini?

Gadis itu menutup buku, pergi ke miss Kim, menuliskan nama dan judul buku di bagian pinjaman. Ia sama sekali tidak bisa berkonsentrasi membaca untuk saat ini. Ia keluar dari perpustakaan. Sudah banyak siswa yang memenuhi koridor. Rupanya sedang waktu istirahat. Minjung menuju ke kelas.

Tiga sahabat gadisnya tidak ada. Begitu juga Donghae dan Eunhyuk. Tapi peduli apa dirinya tentang laki-laki itu? Ia hanya melihat Sungmin dan Kyuhyun di kelas. Ia bergabung dengan keduanya.

“Darimana saja kau?” tanya Sungmin.

“Menjauhi teman barumu.” Minjung bersandar pada punggung Kyuhyun. Laki-laki itu tengah bermain game.

“Entah kenapa aku merasa akhir-akhir ini kau agak keterlaluan, nona Hwang.” Kyuhyun berkomentar tanpa mengalihkan fokusnya.

“Jadi kau sekarang membelanya?” Minjung merampas ponsel Kyuhyun.

“Bukan sepert itu..” Kyuhyun membals. “Ada yang aneh dengan dirimu..”

Gadis itu mengabaikannya, mengambil earphone Sungmin di meja. Ia menghubungkan benda itu ke ponsel Kyuhyun, kemudian mendengarkan lagu sambil tetap bersandar pada Kyuhyun.

Eunhyuk masuk ke kelas. Pemandangan Minjung yang begitu dekat dengan Kyuhyun cukup mengganggunya. Entahlah. Ini aneh. Ia mendadak tidak menyukai siapapun yang menempel pada Minjung, padahal ia sangat membenci gadis itu begitu pula gadis itu yang sangat benci padanya.

Minjung melihat laki-laki itu, seketika berdiri dan menuju tempat duduknya. Ia merapikan dan memasukkan semua peralatan sekolahnya ke dalam tas, kemudian mengenakan tas, dan hendak melangkah ke luar.

Fokus Kyuhyun langsung teralihkan. “Mau ke mana kau?”

“Bersenang-senang.” Minjung menjawab sambil lalu. “Cari alasan untukku, oke?” Ia tersenyum pada kedua temannya. “Aku pergi.”

Dan Hwang Min Jung meninggalkan sekolah.

☆☆☆

Secara harfiah, Minjung memang bersenang-senang. Dengan sepedanya, ia berkeliling kota Seoul dan melakukan apapun yang ia inginkan. Mengunjungi makam kedua orangtuanya, panti asuhan teman ibunya, menikmati jajanan pinggir jalan kesukaannya, bermain di taman bermain, menonton pertunjukkan sulap jalanan, membantu sepasang orangtua menyebrang, balap sepeda dengan siapapun pengendara sepeda yang ditemuinya, dan masih banyak lagi. Semua itu ia lakukan hanya untuk menghilangkan perasaan aneh di dalam dirinya.

Minjung memang cerdas, tapi ia ternyata begitu bodoh untuk memahami sebuah perasaan. Ketika melihat Eunhyuk tadi, entah mengapa hatinya merasakan sesuatu yang aneh. Seperti ada yang menarik dirinya untuk mendekat. Tetapi ketika ia ingin mendekat, ia merasakan dihempas dengan begitu menyedihkan. Seperti ada yang menginjak-injak dirinya. Seperti ada yang tidak ingin dirinya ada.

Sungguh, Minjung benar-benar tidak mengerti. Ia membenci laki-laki itu, tapi ia punya satu perasaan lain yang tidak diketahuinya. Ia hanya merasa ia tidak seharusnya membenci laki-laki itu, terlebih setelah keduanya saling memaafkan. Tapi apa yang terjadi akhir-akhir ini, membuatnya ingin marah kepada siapapun, terutama Eunhyuk.

Hari sudah malam, dan akhirnya Minjung memutuskan untuk pulang ke rumah, meski hal yang dilakukannya tadi sama sekali tidak mengurangi beban perasaannya.

Ia membuka pagar rumah, menyimpan sepedanya di garasi, dan, memekik kaget saat melihat seseorang berdiri di depan pintu, menyilangkan kedua tangan di depan dada, dan memandangnya dengan kesal.

Minjung mengerutkan kening. “Apa yang kau lakukan disini?”

Donghae mengabaikan gadis itu dengan masuk ke rumah.

“YA!” Minjung berteriak, menyusul Donghae ke dalam rumah. Ia melepas sepatu tanpa merapikannya lagi, mengejar laki-laki itu, yang ternyata menuju kamarnya.

Donghae duduk di kursi, masih menatap Minjung dengan sebal. “Jadi?” ia mengangkat sebelah alis. “Mau menjelaskan semuanya padaku?”

Minjung duduk di tepi ranjang, menundukkan wajah, persis seperti bocah yang tengah dimarahi ibunya. “Well..”

“Apa?”

“Aku tidak tahu kenapa aku sangat marah padanya.” Minjung berkata dengan wajah cemberut dan sarat akan rasa kasihan. “Entahlah.. aku tidak tahu.. apalagi akhir-akhir ini Hyojin sering mengusiknya.. aku tidak suka itu.. aku..”

“Cemburu.” Donghae tersenyum, nyaris terbahak.

“Apa?” raut wajah gadis itu berubah bingung.

“Ini sangat sederhana, kau tahu?” Donghae mengangkat bahu. “Kau jatuh cinta pada Eunhyuk, kau berharap Eunhyuk tahu dengan sendirinya kalau kau yang mengirim foto-foto itu padanya, dan kau cemburu melihat Hyojin ada di dekat Eunhyuk. Aigoo, nona Hwang.. setelah banyak memiliki mantan kekasih, kau baru sekarang merasakan apa itu cinta?”

“APA?!” seru gadis itu, kemudian terbahak. “Aku? Jatuh cinta padanya?! Kau tahu kalau aku sangat membencinya!”

“Sekarang katakan padaku, kenapa kau mengikutinya dan memotret dirinya?” Donghae bertanya tenang. “Aku yakin kau berharap dia akan menemukanmu.”

Minjung mengerjap, kata-katanya tersangkut di tenggorokan. “Tapi.. Hyojin..”

“Mengakulah, Hwang Min Jung.” Donghae menyeringai. “Mengakulah padanya. Aku yakin kau tidak akan menyesal.”

Minjung memandang sahabatnya sinis. “Dan setelah itu harga diriku akan terinjak-injak?”

“Tidakkah kau tahu apa yang sudah dia lakukan untuk menemukanmu?” laki-laki itu memandang sahabatnya heran. “Karena dirimu dia terkena tifus dan berakhir di rumah sakit!”

Gadis itu membelalak, refleks berkata. “Jadi selama ini.. Eunhyuk yang menolak ajakan kalian ke kantin dan menyia-nyiakan waktu istirahatnya.. hanya untuk menemukan.. aku?”

Donghae terperangah. “Kau memperhatikannya selama ini?!” ketika dilihatnya Minjung akan mengelak, ia langsung berkata. “Kau benar-benar jatuh cinta, Sayang..”

Minjung ingin sekali melawan argumen Donghae, tapi ia sudah amat sangat disudutkan.

☆☆☆

Laki-laki bermarga Lee itu rupanya masih belum menyerah untuk mencari tahu siapa yang mengirim foto itu padanya.

Tahun ajaran sudah hampir berakhir, tapi ia masih belum mengetahuinya. Terlebih lagi, ia tidak mendapatkan foto-foto lagi.

Mungkinkah si pengirim sudah menyerah karena Eunhyuk tak kunjung menemukannya sementara ia masih belum menyerah akan orang itu?

Ia pergi sekolah seperti biasa. Ketika sampai di gerbang, ia membiarkan Byul berjalan mendahuluinya, karena tiba-tiba ia melihat sesuatu.

“Akhirnya kita sampai.”

Minjung semakin mengeratkan rangkulannya di pinggang Donghae sementara laki-laki itu terus menuju parkiran sepeda. Ketika laki-laki itu berhenti, barulah keduanya turun. Mereka berjalan beriringan memasuki gedung sekolah.

“Sering-seringlah menginap di rumahku.” satu tangan gadis itu memeluk pinggang Donghae. “Aku hampir lupa bagaimana rasanya dibonceng seseorang.”

Donghae merangkul pundak gadis itu. “Aku pasti tidak akan keberatan kalau kau tidak mendesakku untuk membawakan cookies imo untukmu.”

Minjung mengeratkan rangkulannya. “Aku benar-benar menyayangimu..”

Donghae memandang gadis itu seduktif. “Entah mengapa aku ingin sekali menciummu.”

Gadis itu mengangkat bahu. “Aku mau saja kalau kita tidak di sekolah! Haha!” ia berlari meninggalkan Donghae.

Donghae tertawa, kemudian mengejar Minjung. Ia kembali merangkul Minjung, dan akhirnya keduanya lenyap dari pandangan.

Yeah, Eunhyuk menyaksikan semua itu tanpa sedikitpun melewatkannya. Dan entah mengapa, rasanya ingin sekali ia mengenyahkan Lee Dong Hae.

Saat ia sampai di kelas, Minjung tengah berkumpul dengan tiga sahabat wanitanya, entah apa yang mereka gosipkan. Ia tidak peduli. Satu hal yang pasti, gadis itu tidak sedang berduaan dengan Donghae.

Pelajaran hari itu berlangsung seperti biasa. Minjung dan Eunhyuk tidak saling bicara, cukup bagus memang, sehingga tidak ada lagi yang membuat keributan di kelas. Gadis itu juga sepertinya tampak cukup malas untuk menganggap dirinya ada. Agak mengecewakan memang, tapi ini jauh lebih baik.

Ketika waktu istirahat tiba, Minjung meletakkan sebuah buku yang cukup tebal di meja. Awalnya Eunhyuk tidak terlalu memperhatikan, sampai ia melihat Donghae mengambil buku itu dan membaca keras-keras judulnya.

“Hei!” Donghae berseru. “The Moment It Clicks?” laki-laki itu menatap Minjung. “Sejak kapan kau membaca buku fotografi?”

Eunhyuk diam-diam memperhatikan reaksi Minjung. Gadis itu tampak berusaha menyembunyikan kegugupannya.

Minjung mengangkat alis. “Aku tidak membaca buku itu!” katanya. “Jikyung yang memintaku meminjam buku itu! Lagipula sejak kapan aku tertarik pada fotografi?”

Gadis itu mengambil buku dari Donghae, berjalan keluar meninggalkan kelas menuju perpustakaan.

Donghae berpaling pada Eunhyuk, tersenyum tanpa rasa bersalah pada laki-laki itu.

☆☆☆

Lee Hyuk Jae bangun dan duduk di tempat tidurnya, mengamati foto-foto yang sudah diletakannya dengan rapi nyaris memenuhi ranjang ini. Ia mengambil salah satu foto―foto dirinya tengah tersenyum lebar―memandanginya lama sekali.

Ia kembali teringat apa yang dilakukan Donghae dan Sungmin beberapa hari lalu. Itu sudah merupakan kode yang sangat keras, tetapi mengapa ia masih sulit mempercayainya. Hei, ingat kan kalau mereka saling membenci?

Ia mengamati inisial yang tertera di ujung foto. Eunhyuk mendengus, makin tidak mempercayai Donghae dan Sungmin. Kalaupun Minjung orangnya, mengapa inisial yang tertera adalah H? Bukan M?

Ia sudah hendak berbaring lagi ketika seseorang membuka pintu kamarnya.

Eunhyuk memandang jengkel orang itu. “Apa?”

Byul melempar kunci mobil. “Ibu menyuruh kita berbelanja. Ayo!” ia menutup pintu, pergi dengan senandung abstrak yang sering dilontarkannya.

Eunhyuk merengut menatap pintu. Ia segera mengenakan jaket dan menyusul Byul.

Ia mengendarai mobil dengan tatapan datar, sementara sepupunya asyik bermain game di kursi penumpang. Perasaannya sedang tidak bagus untuk diajak kemanapun hari ini! Sebenarnya Byul bisa saja ‘kan berbelanja sendirian? Hei, gadis itu bisa menyetir!

Mereka berhenti di sebuah pusat perbelanjaan yang cukup besar. Eunhyuk memutuskan biarlah Byul yang berbelanja sementara ia berjalan-jalan. Beruntung, gadis itu menyetujuinya.

Ia menatap langit, gedung, dan orang-orang dengan penuh rasa syukur, seakan ia hampir tidak pernah menyaksikan pemandangan ini. Ia tersenyum senang melihat anak kecil yang tengah merengek pada orangtuanya, atau sepasang kekasih yang tengah berjalan sambil saling tatap. Eunhyuk tahu makna tatapan itu. Dan ia harap ia bisa memberikan tatapan itu pada seseorang.

Ia berhenti menatap mereka karena tiba-tiba melihat sebuah toko kecil yang terletak agak jauh dari tempatnya sekarang.

Namun, bukan toko itu yang membuatnya terperanjat.

☆☆☆

Hwang Min Jung berhenti untuk mengetahui posisinya. Tempat itu sudah tidak jauh lagi. Ia memandang berkeliling, tidak ada orang yang ia kenal di sini. Ia mempercepat langkahnya menuju tempat itu. Gadis itu berbelok, dan masuk ke sebuah toko. Sang penjaga toko tersenyum manis padanya.

Ia membalas senyuman itu. “Pesanan atas nama Hwang Min Jung sudah jadi?”

“Tentu saja,” balas si penjaga toko ramah. “mohon tunggu sebentar.”

Dalam sekejap orang itu sudah melewati sebuah tirai yang membatasi bagian depan dan belakang toko. Tak lama kemudian, si penjaga toko kembali dengan sebuah kantong kertas di tangannya, dan menyerahkan benda itu pada Minjung.

Gadis itu mengeluarkan beberapa lembar foto dari sana. Foto itu adalah foto yang ddiambilnya saat ia sedang ingin menghabiskan waktunya dengan memotret. Foto kembang api, sungai Han pada malam hari, gedung-gedung pencakar langit Seoul, rak-rak toko buku Kyobo. Dan.. er.. Lee Hyuk Jae.

Seluas senyum sedih terukir di wajahnya. Di dalam foto, Eunhyuk sedang melirik ke samping sambil sedikit menarik kemejanya. Gadis itu hanya memberi efek hitam-putih pada objek selain Eunhyuk, seakan tengah mengatakan pada semua orang bahwa mereka harus terfokus padanya dan hanya kepadanya. Ia memang tidak lagi berniat mengirim foto ini. Ia hanya ingin menyimpannya. Hanya untuk dirinya.

“Bagaimana? Apa semua sudah lengkap?” suara si penjaga toko membuyarkan lamunannya.

“Oh, ya, sudah.” balas gadis itu cepat. Ia memasukkan foto-foto itu kembali  “Terima kasih.” lanjutnya sembari berjalan keluar toko.

Gadis penjaga toko itu menghempas tubuhnya di kursi berlengan begitu Minjung pergi. Pekerjaan ini tidak mudah ternyata. Ia berjalan melewati tirai, masuk ke dalam toko. Ia melihat daftar nama yang belum mengambil pesanan, dan melirik mesin cetak foto. Ia mendesah, masih banyak sekali orang yang belum mengambil foto mereka. Ia menghampiri mesin itu, dan betapa kagetnya ia melihat dua lembar foto yang masih bertengger dengan manis di sana.

Gadis penjaga toko itu mengambil foto dan berlari menuju serambi depan. Pada saat itu, seorang laki-laki masuk ke dalam toko.

“Permisi,” sapa orang itu ramah. “Apa seseorang bernama Hwang Min Jung baru saja mengambil pesanan fotonya di sini?”

Tidak dapat diduga betapa gembiranya si penjaga toko. “Apakah Anda datang untuk mengambil pesanannya yang tertinggal?” serunya senang.

Orang itu lantas berseru. “Ya! Aku datang untuk itu!”

Gadis penjaga toko menyerahkan dua foto itu pada orang tadi. Orang itu sangat terkejut ketika melihat dua foto itu.

Begitu orang itu pergi, Minjung kembali masuk ke toko.

☆☆☆

Setelah sekitar seratus meter melangkah, Minjung baru menyadari ada dua fotonya yang tertinggal. Ia segera berlari menembus kerumunan orang, dan akhirnya sampai di toko itu.

Si penjaga toko menatap Minjung dengan bingung.

Ia berhenti untuk mengatur napas, dan mengangkat wajah. “Permisi,” tegurnya. “Aku datang karena aku ingin mengambil fotoku yang tertinggal.”

Gadis penjaga toko terkesiap. “Maaf, bukankah tadi Anda menyuruh seseorang untuk mengambil foto itu.”

“APA?!” teriak Minjung histeris. Ia lantas berpikir cepat, kemudian berkata. “Ah, ya.. aku baru ingat tadi ada seorang temanku ke sini. Maafkan aku..”

Minjung keluar dari toko dengan gontai. Benarkah ada seseorang yang datang untuk mengambil fotonya? Tapi siapa? Tidak ada yang mengikutinya tadi, dan tidak ada seorang pun tahu dimana tempatnya mencetak foto, bahkan Lee Dong Hae sekalipun. Sekarang apa yang akan dilakukannya?

Semangat Minjung langsung lenyap begitu saja seperti menghilangnya foto itu.

Sampai keesokan paginya, perasaannya tidak jauh membaik. Bagaimana tidak? Ini untuk pertama kalinya ia kehilangan fotonya. Apa ada siswi yang tidak dikenalnya telah membuntutinya dan mengambil foto itu darinya dan akan mengklaim foto itu sebagai miliknya?

Usai pelajaran olahraga, para siswa mengganti seragam olahraga dengan seragam sekolah. Gadis itu berjalan santai keluar dari ruang ganti wanita menuju lokernya, untuk meletakkan baju olahraganya di sana. Ketika ia membuka loker dan meletakkan seragam olahraganya di sana, ia melihat sebuah kertas kecil tertempel di balik pintu loker.

Pakiran sepeda, setelah semua orang pergi.

Begitulah isinya. Tidak ada salam pembuka, bahkan nama si pengirim. Ia bahkan tidak mengenal huruf orang itu. Minjung mengangkat bahu, dan menutup loker. “Mungkin orang yang mengambil fotoku. Dan dia dengan berbaik hati mau mengembalikannya.”

☆☆☆

Ketika jam sekolah berakhir, Minjung belum mengemasi barang-barangnya, tampak sangat panick dan bergairah di saat yang sama. Ketika Donghae bertanya, dia bilang ada sesuatu yang harus ia cari di laci mejanya, sehingga ia berpura-pura tengah memastikan sesuatu di tasnya, menunggu sampai semua orang pergi. Setelah jumlah siswa mulai berkurang, ia segera menuju tempat parkir.

Benar saja, hanya beberapa orang yang masih berada di sekolah,. Minjung duduk berjongkok di bawa pohon dekat sepedanya, menunggu orang itu.

Tapi udah hampir satu jam ia menunggu di parkiran sepeda dan orang itu tak kunjung datang.

Ia cukup kesal memang, harus menunggu selama ini. Tapi ia harus mengakui bahwa orang itu benar dengan menyuruhnya menunggu sampai sekolah sepi. Mungkin orang itu juga ingin melindungi dirinya.

Pada saat itu ia melihat seseorang menuju ke arahnya.

Minjung menautkan alis. Orang itu kini sudah berada di hadapannya. “Mau apa kau ke sini?!”

“Aku?” orang itu menunjuk hidungnya. “Untuk menepati janjiku padamu, tentunya.”

Mata Minjung menyipit. “Jadi kau.. yang menyuruhku datang ke sini?!”

Eunhyuk mengangguk.

“Apa maumu?!” pekik Minjung lagi.

Eunhyuk menatap gadis itu, yang kelihatan panik dan gugup. Sorot matanya yang takut dan nada bicaranya yang tinggi semakin membuatnya yakin kalau memang Minjung orangnya. Laki-laki itu mengeluarkan sesuatu dari saku seragamnya, mengacungkan benda itu pada Minjung. “Aku hanya ingin mengembalikan apa yang bukan milikku.”

Gadis itu kaget bukan kepalang.

Eunhyuk meletakkan foto itu sadel sepeda Minjung yang menghalangi dirinya dan gadis itu. “Aku benar-benar tidak percaya, kau dibalik semua ini.” ia mulai bicara.

“Memangnya kenapa kalau itu aku?!” sergah Minjung.

“Aku tidak mengerti,” lanjut Eunhyuk. Ia mulai mendekati gadis itu. “Kenapa kau membohongi perasaanmu?”

“Karena aku tahu semua ini konyol!”

“Konyol?” Eunhyuk mengulang perkataan gadis itu. “Dan kau menggunakan cara pengecut untuk menunjukkannya? Kau tahu? Kau bisa langsung mengatakan hal itu padaku jika kau memang menyukaiku.”

“APA?!” teriak Minjung mengerikan. Sejurus kemudian, ia tertawa. Tawa mengejek tepatnya. “Hei,” ia meredakan tawanya. “Kau lupa sedang berhadapan dengan siapa sekarang?!” ia berujar sambil menggerak-gerakan tangannya liar. “Kau menyuruhku langsung menyatakan perasaanku sementara kau tahu kalau Hwang Min Jung sangat membencimu?!”

Laki-laki itu tertegun mendengar hal itu.

“Tapi kenapa kau lakukan semua ini?” Eunhyuk berkata nyaris berbisik. “Memotret dan memberikanku fotomu, membiarkan aku menemukanmu? Kenapa?”

Gadis itu terhenyak, tidak menyangka bentakannya akan dibalas selembut itu.

“Setidaknya.. ada yang bisa kulakukan..” gadis itu menurunkan nada bicaranya. “Aku tidak mengerti apa yang terjadi padaku yang ada kaitannya denganmu. Kau pasti tahu kalau aku memiliki banyak mantan kekasih, tapi itu karena mereka yang menyatakan perasaan mereka padaku. Aku tidak tahu sejak kapan ini terjadi, tapi aku tahu aku tidak mungkin mengatakannya padamu. Karena itu.. aku.. melakukan itu..”

Laki-laki itu terdiam, mendengarkan.

“Lagipula..” Minjung melanjutkan. “Apa yang akan terjadi jika aku menyatakan perasaanku langsung padamu?” ia memejamkan matanya. “Bagaimana jika harga diriku jatuh? Bagaimana jika aku menjadi hinaan seluruh siswa? Bagaimana jika nantinya kau menjauhiku, membenciku? Bagaimana jika―”

“Kau melakukan hal yang benar?” potong Eunhyuk sekenanya. Kini ia sudah berada di depan gadis itu. “Bagaimana jika yang kau lakukan adalah membuatku yakin dengan perasaanku? Membuatku tahu jika kau juga mempunyai perasaan yang sama denganku?”

Mulut Minjung menganga lebar.

Eunhyuk menarik tangan gadis itu untuk mendekat, melingkarkan lengannya di pinggang gadis itu, merasakan getaran hebat dari keduanya karena inilah pertama kalinya mereka melakukan skinship. Ia menenggelamkan wajahnya pada bahu gadis itu, menyadari dengan terkejut ketika merasakan kenyamanan luar biasa di sana. Ia mengeratkan pelukannya.

“Nona Hwang, aku mencintaimu.”

☆☆☆

Hari ini cerah. Langit bersih tanpa awan. Burung-burung terbang, bercicit dengan riang. Angin bertiup pelan, menggoyangkan cabang pohon mapple dengan malas. Namun sentuhan kecil itu menyebabkan satu helai daunnya pergi meninggalkan sang pohon.

Minjung menangkap daun yang terlepas itu, memutar dengan lembut di tangannya, tersenyum mengamati daun itu. Sambil berjalan, ia memperbaiki posisi earphone, menikmati lagu dari ponsel. Ia menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan. Ia suka musim gugur. Entahlah. Hatinya hanya merasa lapang jika melihat daun-daun pergi meninggalkan rantingnya.

Ketika ia hendak mengambil daun lain yang tengah melayang-layang, ia menabrak seseorang.

“Oh!” ia berseru, kemudian membungkuk berkali-kali. “Maafkan aku!”

Minjung mendongkak, terkesiap melihat orang yang ia tabrak.

Eunhyuk tersenyum begitu tulus. “Akhirnya kau bisa meminta maaf padaku setelah kau menabrakku?”

Minjung membeku, tidak bisa berkata dan melakukan apa-apa.

Oke, ia harus mengakui Lee Dong Hae benar soal yang ia alami yang berkaitan dengan laki-laki ini. Tapi ketika Eunhyuk memperjelas dengan menyatakan perasaannya, entah mengapa Minjung merasa takut, marah, gelisah, dan gugup. Ia tidak mengerti. Seharusnya ia senang kan? Tapi yang terjadi setelah Eunhyuk memeluknya adalah, ia melepasnya dengan paksa, kemudian pergi. Minjung sempat membolos tiga hari. Tapi karena tahun ajaran sudah hampir berakhir, ia memaksakan dirinya untuk hadir di sekolah, tetapi sebelumnya ia sudah memohon dengan amat sangat pada wali kelasnya, Gong seonsaengnim, agar ia duduk dengan Sungmin. Selama sisa tahun ajaran, ia tidak punya keberanian untuk menghadapi Eunhyuk.

Tapi hari ini, ia malah datang dengan sendirinya pada laki-laki itu.

Minjung menghela napas, memandang Eunhyuk jengah. “Apa yang kau inginkan?”

Laki-laki itu tersenyum. “Aku ingin kau menjawab beberapa pertanyaan.”

Minjung mundur selangkah saat laki-laki itu hendak meraih tangannya.

“Cukup bicara. Tidak perlu harus memegang tanganku.” kata gadis itu dingin.

Eunhyuk menghela napas. “Apa kau masih takut berhadapan denganku?”

“Tidak juga.” Minjung mengangkat bahu. Sedari tadi ia selalu menghindari tatapan Eunhyuk. “Aku hanya heran denganmu. Kau masih berharap padaku setelah kau mendapatkan.. Hyojin? Apa yang akan dia pikirkan kalau dia tahu kau menyatakan perasaanmu padaku? Bukankah kalian sudah sangat―”

“Jadi selama ini kau menghindariku hanya karena kau pikir Hyojin masih kekasihku?!” potong Eunhyuk. “Apa kau bisa menjelaskan hal yang lebih bodoh lagi dari ini?! Semua orang membicarakan aku yang mencampakkannya, dan kau tidak tahu?!”

Minjung berkedip. Ia jadi ingat apa yang dikatakan Hyosung. Mengapa ia sampai melupakannya? Tapi benarkah karena itu? Atau karena ia tidak mau mengakui perasaannya?

“Aku..”

“Bodoh.” cetus Eunhyuk marah. “Karena hanya bisa bertindak kejam padaku setelah Hyojin mengklaim fotomu.”

“Baiklah, aku memang bodoh karena bertingkah seperti pengecut.” Minjung menatap Eunhyuk lelah. Air mata sudah terkumpul di kelopak matanya. “Kau puas?”

Eunhyuk tertegun.

Minjung sudah ingin pergi, kalau saja Eunhyuk tidak menahannya.

Laki-laki itu mencengkeram pergelangan tangan Minjung, menariknya mendekat. Sejurus kemudian, ia menangkupkan pipi Minjung dengan satu tangannya, lalu mencium gadis itu.

Minjung membelalak begitu dirasa bibir Eunhyuk menempel sempurna pada bibirnya. Laki-laki itu tidak melakukan apapun, hanya menempelkan, tidak lebih. Tapi itu sudah cukup membuat Minjung terkena serangan jantung. Ia berusaha keras melepas tautan itu dengan mendorong Eunhyuk. Barulah ketika ia memukul-mukul bahu laki-laki itu, ciuman mereka terlepas. Minjung mundur selangkah.

Gadis itu mengerjap-ngerjap kaget. “Kau,, kau pikir apa yang baru saja kau lakukan?!” tanyanya kalap.

“Menurutmu apa yang baru saja aku lakukan?!” Eunhyuk balas bertanya. Suaranya terdengar frustasi. “Apa kau masih tidak mengerti juga?! Aku mencintaimu! Aku memang kesal padamu sejak insiden es krim itu, tapi aku tidak pernah membencimu! Aku sangat senang saat kupikir hubungan kita akan membaik, tapi kau dengan bodohnya menjauhiku karena Hyojin! Aku mencelakaimu selama ini hanya semata-mata untuk mendapat perhatianmu, tapi aku malah membuatmu membenciku! Aku senang menjadi teman semejamu karena aku bisa selalu berada di dekatmu! Aku senang melihatmu tertawa! Aku sedih saat Joonhee bilang kau sakit! Aku terluka ketika melihatmu menangis! Aku tidak suka melihatmu dekat dengan laki-laki lain, terutama para sahabatmu! Aku hampir gila saat kau terus menghindariku terutama setelah aku menyatakan perasaanku padamu!”

Minjung terlihat seperti baru melihat hantu. “Tapi.. kukira.. Hyojin..”

“Ya, aku memang sempat berpacaran dengannya.” balas laki-laki itu. “Tapi itu karena aku tidak tahu kalau kau yang selama ini mengirim foto padaku! Aku sudah mencampakkannya dan sekarang aku sedang mengejarmu! Apa kau masih belum mengerti juga?!”

Sebenarnya, Minjung sudah sering mendengar bentakan yang ditujukan untuknya, dan ia sama sekali tidak pernah mempedulikan hal itu, tetapi entah mengapa bentakan Eunhyuk membuatnya sangat terluka. Lihatlah, setitik air matanya langsung jatuh.

Eunhyuk tertegun, tidak menyangka bahwa Minjung memiliki perasaan sehalus itu.

“Err..” ia menggigit bibir, merasa sangat bersalah. “Aku minta maaf..”

Sepertinya hal itu hanya membuat air mata Minjung terus mengalir.

Eunhyuk menghela napas, memeluk gadis itu, dan mulai menenangkannya.

☆☆☆

Kedua orang itu kini duduk di rerumputan di depan sebuah danau buatan. Mereka masih saling diam, tidak ada yang mau bicara. Atmosfer keduanya benar-benar sangat canggung.

“Aku masih tidak mengerti.” Minjung membuka percakapan. Ia duduk sekitar dua langkah dari laki-laki itu. Matanya menatap seberang danau. “Kenapa?”

“Apa?” laki-laki itu menoleh.

“Kenapa aku?” Minjung menunjuk dirinya sendiri. “Ada banyak gadis baik di sekolah dan kau.. memilihku?” ia menatap Eunhyuk sangsi. “Aku sombong, biang kerok sekolah, kasar, dan jahat.. dan kau.. menyukaiku? Kau tahu, semua mantan kekasihku hampir tidak pernah bilang ‘Aku mencintaimu’ padaku, tapi kau..”

“Aku tidak tahu.” Eunhyuk mengangkat bahu. “Kau langsung menarik perhatianku saat aku pertama kali bertemu denganmu.”

“Bahkan sepupumu masih jauh lebih beradab dariku.” Minjung bergumam sendirian. “Hyosung cantik, dan Chan baik hati.. tapi aku? Kenapa kau menyukaiku?”

“Aku mencintaimu karena memang seharusnya aku mencintaimu.” jawab laki-laki itu. “Aku sama sekali tidak punya alasan untuk mencintai seseorang, aku tidak tahu kenapa. Aku hanya.. mencintaimu.. begitu saja..”

Minjung terpana.

“Apa?”

“Mendengarmu berkata seperti itu membuatku sadar kalau semua mantan kekasihku tidak pernah mencintaiku setulus itu.” gadis itu tersenyum miris.

Mata Eunhyuk berbinar. “Jadi kau.. menerimaku?”

Hening.

Minjung menarik napas, tersenyum tulus. “Kau sudah tahu jawabannya.”

Eunhyuk mengerjap, berusaha mengingat kapan terakhir kalinya ia merasa sesenang ini. Tanpa berkata apapun, ia beringsut mendekat dan memeluk erat gadis itu.

Gadis itu terbenam begitu saja di pelukan laki-laki ini, menyadari bahwa ternyata ada pelukan yang jauh lebih nyaman dari pelukan Donghae. Perlahan, ia melingkarkan lengannya di pinggang laki-laki itu, menangis haru dalam diam di sana.

☆☆☆

Tahun ajaran baru sudah berjalan sekitar dua bulan. Para siswa benar-benar mempersiapkan diri mereka untuk masuk ke universitas. Itu terlihat karena mereka selalu sibuk belajar. Perpustakaan menjadi lebih ramai dari biasanya. Kelas menjadi lebih sunyi karena bila tidak ada guru di kelas mereka akan belajar sendiri. Bahkan ketika mereka berpapasan di koridor saat istirahat, mereka membahas pelajaran, ujian masuk universitas, daya tampung, dan segala hal yang berkaitan dengan itu.

Semua sahabat Hwang Min Jung mulai melihat perkembangan bagus pada gadis itu. Minjung tidak lagi mengacau di kelas. Ia mematuhi para guru, dan bersikap ramah pada semua orang. Bahkan mereka senang karena akhirnya gadis itu mau berteman dengan Eunhyuk.

Setidaknya itu yang mereka pikirkan.

Suatu ketika, Minjung ke sekolah tanpa menggunakan sepedanya. Ia menggunakan kendaraan umum, tidak ditemani siapapun. Membuat semua orang bertanya-tanya.

“Apa yang terjadi dengan sepedamu?” Hyosung yang bertanya.

“Aku hanya malas menggunakannya.” Minjung menjawab santai.

Gadis itu duduk di tempatnya bersama Byul, tersenyum sekilas pada Eunhyuk yang duduk di samping mejanya. Interaksi keduanya di sekolah hanya sebatas itu. Sebuah kemajuan.

Ketika bel tanda jam sekolah berakhir terdengar, mereka semua berjalan bersama menuju gerbang sekolah. Minjung memisahkan diri dari rombongan dan berkata. “Aku mau ke toko buku.”

“Sendirian?” Donghae menanggapi.

Minjung menggeleng. Sambil tersenyum lebar, ia menarik tangan Eunhyuk, kemudian berpamitan pada semua orang. “Kami pergi.”

Byul, Donghae, Kyuhyun, Hyosung, Sungmin, dan Chan melongo.

“Apa hanya aku yang mengerti?” Byul bergumam.

Donghae tampak kaget sekali. “Mereka.. benarkah?”

Ketika dua orang itu sudah menjauh barulah mereka semua paham apa maksud keduanya.

v

EPILOGUE

b

“Jadi, katakan padaku kenapa inisial di fotomu H, bukan M.”

“Sudah kuduga kau akan bertanya. Ayahku selalu memakai inisial itu, padahal nama ayahku juga berawalan M. Tapi sekarang aku mengerti itu merujuk kepada marga kami. Mungkin ayahku ingin menunjukkan bahwa seorang Hwang bisa menghasilkan foto yang sangat luar biasa.”

“Dan aku dengan bodohnya mengira itu Hyojin.”

“Bagaimanapun, dia pernah menjadi kekasihmu.”

“Haruskah kau membahasnya?”

“Aku selalu membahas Donghae dengan para mantan kekasihku.”

“Dan bisakah kita tidak membicarakan Donghae untuk saat ini?”

“Kenapa?”

“Aku sangat cemburu padanya dan kuharap kau tidak menyinggung namanya lagi saat aku berdua denganmu.”

“Lucu sekali. Donghae sudah jadi sahabatku sejak umur kami lima tahun. Jadi kau harus mulai terbiasa dengan interaksi kami.”

Yeah, sampai harus saling ingin mencium satu sama lain.”

“Astaga kau ini. Kami hanya bercanda soal itu. Lagipula, Donghae melakukan itu agar dia tahu seseorang benar-benar mencintaiku atau tidak. Karena sebagian besar semua mantan kekasihku tidak keberatan dengannya, makanya dia selalu mendesakku untuk putus dengan mereka. Donghae tahu kau cemburu padanya. Karena itu Donghae menyuruhku untuk menunjukkan diri. Aku yakin dia pasti melakukan sesuatu agar kau tahu aku pemilik foto itu.”

“Saat dia menyebut judul buku yang kau pinjam waktu itu, dia langsung tersenyum penuh arti padaku.”

“Itu berarti, Donghae sudah menyelesaikan tugasnya menjadi penanggungjawabku.”

“Apa maksudmu?”

“Donghae tidak akan pernah melepaskan aku sampai dia menemukan seseorang yang mencintaiku seutuhnya.”

“Begitukah? Jadi dia tidak akan merangkulmu, atau ingin menciummu, atau menatapmu dengan penuh perasaan lagi?”

“Mungkin dia tidak akan melakukannya di depanmu.”

“Sepertinya aku harus memperingatkannya.”

“Itu tidak perlu. Karena aku sudah memilikimu, dia pasti mulai fokus pada Chan.”

“Dia menyukai Chan?”

“Bahkan sejak pertama kali kami mengenalnya.”

“Ngomong-ngomong Chan, aku jadi teringat pada mereka semua. Apa yang terjadi pada mereka setelah melihat kita tadi?”

“Lihat saja nanti. Aku yakin sekali, jika kau sampai di rumah, kau tidak akan selamat dari Byul. Jadi sebaiknya, kau menyiapkan diri.”

“Dan bagaimana denganmu?”

“Aku bahkan sudah siap sejak kau menyatakan perasaanmu padaku untuk pertama kalinya.”

b

End

 b

Aku minta maaf ya kalo ini jelek, ga worth it, dan bikin kalian kecewa

Ini juga sebenernya biar wp ga sepi aja HAHA

Jadi setelah ini aku akan kambek dengan cerita Donghae Chan tapi bukan sekuel Hug Me Once sama A ‘Good’ Bye HEHE

Jadi aku suka aja sama si mbak yang mau aku baptis sebagai visualnya Minjung karena dia agak judes2 gitu HEHE. 

Minjung (4)

Dan kita udah tahu Eunhyuk kan?

Foto(18)

Visual tokoh lain bisa diliat di Red & Blue HEHE

Makasih ya bagi siapapun yang udah mau bacaa

Advertisements

5 thoughts on “Fall For You 7 (END)

    1. Hehehe hai Sonia, makasih ya udah baca 😉😉 cerita ini emang sebenernya prekuel nya Love, Trust, & Hate, jadi aku bikin semacam before story NYA Eunhyuk Minjung, gimana mereka bisa ketemu, kalau kamu mau baca lanjutannya di Love, Trust, & Hate aja, tinggal search di wp ini atau nggak buka tag thriller 😂😂😂 makasih ya udah mampir ughaa

      Like

  1. yeeee akhirnya mereka saling menyatakaan perasaannya masing2 😊😊 dan mereka juga sudah pacaran wkwkwk.. berharapa mereka gk kek tom&jerry seperti sebelumnnya ye ahahaha.. oh ya thor, bikin sequel after storynya dong, 😊😊

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s