Fall For You 6

166923

Poster by POKUPON

#6 : One step farther

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 (END)

***

SEKOLAH digemparkan dengan hubungan asmara Lee Hyuk Jae dan Shin Hyo Jin.

Setiap kali keduanya lewat bersama di gedung sekolah, pasti akan ada bisik-bisik seru oleh perkumpulan anak perempuan yang mereka lewati. Entah bagaimana mereka mengetahui tentang hal itu, tapi satu hal yang pasti, Hyojin menikmati dirinya yang kembali menjadi populer.

Sebenarnya Hyojin memang terkenal, sama terkenalnya dengan komplotan Minjung. Bahkan lebih. Tapi untuk alasan berbeda. Jika Minjung terkenal karena kecerdasannya dan suka bergonta-ganti pasangan, Hyojin juga, terkenal karena pernah menjalin hubungan dengan beberapa laki-laki tampan dan terkenal di seantero sekolah. Hanya saja, bukan para laki-laki itu yang menyatakan perasaannya, melainkan Hyojin sendiri.

Karena itu hal ini cukup heboh karena sekali lagi, Hyojin yang menyatakan perasaannya untuk Eunhyuk. Secara tidak langsung.

Keduanya tidak segan untuk menunjukkan kemesraan mereka, seakan tengah membuktikan kepada semua orang bahwa merekalah yang paling berbahagia di dunia ini. Mereka akan terlihat bersama dimanapun dan kapapun, sesuatu yang membuat beberapa orang risih sebenarnya.

Suatu hari, mereka menghabiskan waktu di sebuah restoran kecil sepulang sekolah.

Eunhyuk sedang mengamati foto-foto dirinya yang dipotret Hyojin, tersenyum bahagia mengagumi dirinya sendiri di sana.

“Apa kau terlalu malu untuk menyatakan perasaanmu padaku sampai kau harus mengirim foto-foto ini secara diam-diam?” Eunhyuk bertanya.

Hyojin tampak gugup, kemudian mengangguk kikuk.

Anehnya, itu membuat Eunhyuk tertawa. “Hei.” Ia menggenggam tangan gadis itu. “Ada apa denganmu?”

“Aku..” Hyojin berkata pelan. “Aku hanya tidak menyangka semua ini akan terjadi.”

Eunhyuk tersenyum mengerti. Entahlah, sampai sekarang semua teman-temannya belum memberikan respon mengenai hubungannya dengan Hyojin. Ia memang belum memberitahu mereka, karena ia sudah bisa membayangkan bagaimana reaksi Byul, Chan, dan Hyosung saat ia mengatakan hal ini langsung pada mereka. Bahkan di rumah pun, keduanya sama sekali tidak pernah menyinggung Hyojin.

“Jangan pikirkan teman-temanku.” ucap Eunhyuk, seperti bisa melihat kegusaran Hyojin. “Aku yakin, cepat atau lambat mereka akan menerimamu.”

Itu adalah hal yang sangat tidak mungkin. Setidaknya Hyojin tahu itu. Ia sudah tidak menyukai Minjung dan komplotan wanitanya sejak hari pertama ia bersekolah di sini. Selain karena keempatnya memiliki sesuatu yang bagus untuk dibanggakan, empat orang itu berteman dengan tiga laki-laki yang bahkan di hari pertama sekolahnya sudah mendapatkan penggemar yang sangat banyak. Eunhyuk saja yang tidak tahu hal ini.

Selain itu, ia menjadi sedikit lebih pendiam hari ini karena ada banyak yang ia pikirkan. Bukan ia yang memberikan Eunhyuk foto itu, apalagi memotretnya. Ia sama sekali tidak mengerti sedikitpun soal fotografi. Alasan ia mengakui foto itu adalah miliknya, karena, saat Eunhyuk menanyakan hal itu di depan supermarket, ia kebetulah melihat Hwang Min Jung di sana.

Ia tahu kalau kedua orang itu saling membenci, tapi ia bisa melihat kalau Minjung terus saja memperhatikan mereka. Dan ia cukup senang melihat betapa terkejutnya Minjung.

Selain itu, ia bisa mendapatkan laki-laki pujaannya tanpa bersusah payah.

“Apa kau akan memotret lagi?” Eunhyuk menghentikan lamunan Hyojin.

Gadis itu tampak kalap. “Apa?”

Laki-laki itu tersenyum. “Akankah kau memotret lagi untukku? Aku hanya merasa istimewa saja mendapatkan foto ini.”

Hyojin mengangguk kikuk.

Beberapa hari setelahnya, ia memutuskan waktu yang tepat untuk memberikan foto hasil karyanya pada laki-laki itu. Selain sambil mencari tahu siapa sebenarnya yang memberikan foto itu pada kekasihnya.

Hari itu, ia datang ke sekolah pagi-pagi sekali. Ia berpendapat bahwa siapapun yang memberikan foto itu pada Eunhyuk pasti akan meletakkan itu di saat tidak ada satupun yang melihat. Ia masuk ke gedung sekolah. Tidak ada siapapun selain dirinya. Begitu juga saat ia masuk ke kelas. Tidak ada orang. Tapi ia melihat ada sebuah kantong kertas terletak di meja Eunhyuk.

Ia mengumpat dalam hati, karena tidak bisa menangkap basah siapa sebenarnya yang memotret laki-laki pujaannya.

Ia mengambil foto itu, menukarnya dengan foto miliknya, dan pergi.

☆☆☆

Hanya soal waktu kabar soal Eunhyuk dan Hyojin sampai ke telinga Minjung dan komplotannya.

Minjung memang sudah tahu. Hei, jangan lupa, dia melihat semuanya! Hanya saja, ia tidak membuang-buang oksigen untuk menyebar gosip itu. Entah darimana para siswa mengetahuinya, yang jelas Minjung tidak peduli. Lagipula, ia yakin semua teman-temannya sudah tahu, hanya saja mereka tidak ingin membicarakannya.

Gadis itu berangkat ke sekolah seperti biasa. Kacamatanya baru, jadi sudah tidak ada kejadian seperti waktu itu lagi, dan ia sampai di sekolah dengan aman, nyaman, dan selamat. Begitu juga saat ia memasuki gedung sekolah untuk menuju kelasnya. Ia tidak menabrak apapun atau siapapun. Tapi telinganya cukup jengah karena hampir semua orang membicarakan Eunhyuk dan Hyojin seakan mereka adalah artis yang hubungan asramanya patut diperbincangkan seperti Taylor Swift.

b

“Hei, apa itu benar? Mereka berdua?”

“Oh, aku benar-benar senang!”

“Setidaknya aku tidak perlu iri lagi pada Minjung sunbae yang mendapatkan Eunhyuk sunbae!”

“Justru aku merasa lebih baik kalau mereka berdua bersama!”

“Hei, itu tidak mungkin! Mereka saling membenci!”

“Aku tidak percaya ini.. Eunyuk sunbae.. dan Hyojin sunbae?”

Yeah, kau seperti tidak mengenal Hyojin saja.”

“Oh ayolah, kukira dia akan menjalin hubungan dengan Minjung sunbae!”

“Haha, sangat tidak mungkin! Apa kau tidak tahu kalau mereka saling membenci?”

 b

Bahkan namanya pun tidak akan luput dari perbincangan mereka.

Minjung masuk ke kelas. Hal pertama yang ia lihat adalah Eunhyuk yang sedang bersama Hyojin, di tempat duduk Eunhyuk, sedang berpegangan tangan dengan mesra. Ia tidak melihat semua sahabatnya. Dimana mereka? Tas mereka ada, tapi dimana pemiliknya?

Oh shit. Hyojin duduk di tempat Minjung.

Sepertinya keduanya tidak menyadari kalau Minjung mendekat. Jadi, Minjung meletakkan tasnya di meja dengan kasar, membuat keduanya tersentak. Minjung melipat tangan, menatap Hyojin mengerikan, dan Hyojin langsung tahu, dari tatapan itu, ia harus segera pergi.

Setelah Hyojin pergi, Minjung menghempas bokongnya di kursi dengan santai.

“Apa-apaan itu?” Eunhyuk tampak tak terima. “Kau mengusirnya?”

“Oh, kau menyadarinya juga?” Minjung menatap Eunhyuk sinis. “Setidaknya aku tidak perlu membuang-buang napasku untuk mengusirnya. Lagipula, ini tempat dudukku.”

Eunhyuk menyadari bahwa hubungan mereka kembali seperti saat keduanya pertama kali bertemu.

“Kenapa?” Minjung tersenyum kejam. “Kau tidak terima aku mengusir gadismu? Kalau memang begitu, kenapa kau tidak berada di tempat duduknya saja?” ia menunjuk tempat duduk Hyojin ― yang sudah dipenuhi komplotannya, sedang berbicara seru menatap padanya ― dengan dagu. “Kau pasti tahu aku akan bertindak seperti ini pada gadismu, dan itu pasti akan membuatnya terluka. Oh, romantis sekali.”

Eunhyuk benar-benar jengkel dengan semua perkataan Minjung.

Pada saat itu, Byul, Chan, Hyosung, Donghae, Kyuhyun, dan Sungmin datang. Minjung langsung berteriak. “YA, darimana saja kalian?!”

“Kami hanya mengunjungi adik sepupu Sungmin, yang melanjutkan ke semi final di pertandingan taekwondo antar sekolah.” Hyosung menjawab, duduk di tempatnya bersama Donghae. “Tidak usah merindukan kami.”

Minjung mendengus jengkel. Pelajaran dimulai karena Park seonsaengnim sudah masuk ke kelas.

“Selamat pagi, anak-anak!”

Murid-murid membalas sapaan guru itu dengan riang.

Di antara semua gurunya, Minjung paling akrab dengan guru matematikanya. Oke, Kyuhyun memang lebih unggul darinya di pelajaran ini, tapi bukan itu yang membuat mereka akrab. Park seonsaengnim sudah tua, dan sering meminta Minjung mencari buku-buku di perpustakaan untuknya. Guru ini tidak pernah keberatan dengan sikap masa bodohnya, jadi guru ini hampir tidak pernah memberinya detensi.

Meskipun tua, guru ini adalah guru yang memiliki cara mengajar yang paling interaktif dari semua guru matematika yang ada di sekolah ini. Ia tidak seperti guru tua pada umumnya yang identik dengan cara mengajar yang membosankan. Park seonsaengnim akan menjelaskan materi yang diajarkan secara singkat, padat, dan jelas, lalu memberitahu penerapannya di kehidupan, setelah itu ia akan membiarkan para murid mengerjakan banyak soal yang diberikan. Jika ada soal yang tidak mereka ketahui, soal itu akan didiskusikan bersama.

Jika sesi diskusi soal sulit dimulai, Minjung hampir tidak pernah menyimak. Karena Minjung selalu bisa menyelesaikan semua soal itu tanpa kesulitan.

Beberapa soal sulit versi para murid perlahan terjawab. Ketika Park seonsaengnim bergerak ke soal lain dan bertanya apakah soal itu sulit atau tidak, semua murid mengangkat tangan kecuali Kyuhyun dan Minjung.

“Aku tidak akan heran dengan hal seperti ini.” Park seonsaengnim tersenyum simpul. “Karena tuan Cho sudah mengerjakan soal sebelumnya, maukah nona Hwang melakukan hal yang sama untuk kita semua?”

Minjung maju menuju papan tulis, mengerjakan soal, dan kembali ke tempatnya setelah selesai.

“Aku yakin tuan Cho akan sependapat dengan jawaban ini.”

Kyuhyun mengangguk takzim.

Saat sudah duduk di tempatnya, Eunhyuk refleks bertanya. “Bagaimana kau bisa mengerjakannya? Bahkan Park seonsaengnim belum mengajarkannya pada kita.”

Minjung menatap Eunhyuk. “Kau bodoh dengan berkata begitu.” katanya pedas. “ Park seonsaengnim sudah mengajarkannya. Kau saja yang tidak menyimak dan tidak mengerti apa maksud soalnya. Sekarang aku paham dimana letak kecocokanmu dengan Hyojin.”

“Oh, kupikir kau sudah berhenti menyombongkan dirimu.” Eunhyuk membalas, benar-benar sudah tidak tahan. “Aku baru saja ingin menilaimu dengan lebih baik.”

“Aku tidak butuh terlihat baik di depanmu.” sergah gadis itu. “Karena kau tidak ada artinya bagi hidupku.”

Keduanya tidak lagi berbicara sampai Park seonsaengnim selesai mengajar.

Kali ini, Minjung tidak menuju perpustakaan. Gadis itu, Chan, Byul, dan Hyosung pergi bersama, sepertinya menuju kantin karena Byul sudah mengeluh lapar.

Sekali lagi, Eunhyuk menemukan sebuah kantong kertas berisi foto dirinya.

“Hei, apa itu?” cetus Sungmin. Eunhyuk menunjukkan foto tadi.

“Hadiah penggemar.” Kyuhyun mengangkat bahu.

“Tidak.” Eunhyuk menggeleng. “Hyojin yang memberikannya.”

Tentu saja ia bisa langsung tahu karena gadis itu menuliskan namanya di seluruh permukaan kertas pembungkus.

Eunhyuk mengamati foto yang diberikan Hyojin dengan saksama. Kemudian mendengus.

“Ada apa?” tiba-tiba Donghae bertanya.

Eunhyuk mengeluarkan foto sebelumnya yang sudah didapatnya, meletakkan di meja. Ia juga meletakkan foto yang diberika Hyojin di meja. Ia menatap ketiga temannya. “Kalian bisa melihat perbedaannya.”

“Ya, pose di tiap fotonya berbeda.” Kyuhyun menjawab santai.

“Selain itu?” Eunhyuk memancing.

Sungmin memegang dua foto di masing-masing tangannya, mengamati dengan saksama. Lalu ia meletakkan kembali foto di meja. Ia menunjuk satu foto “Yang ini terlihat sangat biasa, kalau kau tanya aku.” ia berpendapat. Lalu menunjuk foto lain. “Sedangkan yang ini, well, aku berani taruhan, ini bukan karya seorang amatiran.”

Eunhyuk menyeringai. Ia menunjuk beberapa foto yang kata Sungmin bukan sekadar karya amatiran. “Aku mendapatkan ini beberapa minggu lalu. Tapi aku tidak tahu siapa yang memberikan foto itu. Tetapi, saat aku bertanya pada Hyojin, dia sendiri bilang dia pemilik foto ini.”

“Jadi,” Donghae menyimpulkan. “Kau mau bilang kalau kau dibohongi Hyojin?”

Eunhyuk mengangguk.

“Tapi kenapa kau menyatakan perasaanmu padanya?” sahut Kyuhyun.

“Awalnya karena kupikir dia yang memiliki foto ini. Tapi, setelah tahu yang sebenarnya..” Eunhyuk mengangkat bahu. “Kita lihat saja nanti.”

Donghae menyipitkan mata. “Apa kau sedang menyukai seseorang?”

Eunhyuk mengangkat alis. “Kenapa kau bertanya begitu? Apa aku terlihat sedang menyukai seseorang?”

Donghae mengangguk.

“Dan siapa menurutmu?”

Kali ini Donghae mengangkat bahu. “Aku tidak tahu.. mungkin Minjung?”

Eunhyuk mendengus. “Aku sangat membencinya! Terlebih setelah dia kembali bersikap sombong padaku! Kalian tahu? Aku bahkan sudah ingin berteman dengannya, tapi sepertinya dia tidak mau!”

Ketiganya terdiam.

Eunhyuk memutuskan untuk tidak melanjutkan percakapan soal Minjung. “Apa kalian tahu.. siapa?”

“Tentu saja tidak!” Sungmin langsung menjawab. “Jangan katakan pada kami kau ingin sekali tahu tentang orang ini karena kau.. jatuh cinta padanya?”

Eunhyuk diam.

Kyuhyun menggerak-gerakan tangan. “Oh ayolah, kau seperti tidak pernah mendapatkan hadiah dari penggemarmu saja!”

“Tapi..”

“Lupakan soal orang ini.” Sungmin merapikan foto-foto itu. “Anggap saja ini hadiah dari penggemarmu. Kau tidak perlu sekhawatir itu. Masih ada yang lebih parah darimu. Donghae misalnya. Adiknya sampai diteror tak karuan karena para penggemarnya marah saat tahu ada gadis yang tinggal serumah dengannya.”

☆☆☆

Tetapi Eunhyuk masih penasaran dengan siapa yang memberikan foto itu untuknya.

Kalau memang itu adalah pemberian dari pengagumnya, mengapa orang itu tidak mau menunjukkan dirinya sementara semua orang bersaing untuk mendapatkan atensinya? Ini benar-benar aneh.

Eunhyuk masuk ke kelas, diikuti Byul. Mereka menuju tempat duduk masing-masing. Minjung sudah datang, sedang bercanda dengan Donghae. Keduanya duduk di tempat mereka, tapi Minjung masih bisa menjangkau wajah Donghae dengan tangannya. Ia menepuk-nepuk wajah laki-laki itu.

“Donghae-ah..” panggil Minjung.

“Kau terdengar menjijikkan, nona Hwang. Sungguh.” Donghae membalas.

Kini Minjung mengusap kepala Donghae. “Apa imo benar-benar tidak membuat cookies? Aku sudah lama sekali tidak makan..”

Eunhyuk memutar bola matanya begitu mengamati interaksi keduanya. Ia menatap keluar jendela. Apa ini? Kenapa ia merasakan sesuatu yang aneh begitu melihat betapa berbedanya kelakuan Minjung bila sedang bersama Donghae? Apa karena ia tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti itu dari gadis manapun karena selama ini tiap gadis yang dekat dengannya hanya ingin dimanjakannya? Tapi ini berbeda. Minjung seakan membutuhkan Donghae begitu pula sebaliknya. Mereka seperti pasangan kekasih yang sempurna tanpa cela dengan status sahabat. Apa ia cemburu?

Benarkah?

Eunhyuk cemburu melihat interaksi Minjung dan Donghae?

Ia tertawa dalam hati. Tidak mungkin. Kalaupun itu terjadi, apa alasannya? Bukannya Eunhyuk menyukai orang lain?

Ah, benar juga. Ia belum bisa menemukan siapa yang memotret dirinya.

Haruskah ia memulai pencarian?

Ia memulainya dengan bertanya pada Im Na Eun, gadis di kelasnya yang tergabung dalam organisasi pecinta fotografi. Na Eun tidak mengenali foto itu, tapi kemudian Na Eun mengajak Eunhyuk untuk menemui beberapa orang anggota organisasi itu. Setiap kali bertemu seseorang, laki-laki itu akan menunjukkan foto, dan mereka akan menggeleng pertanda mereka tidak pernah memotret dirinya atau mereka bukan pemilik foto itu. Pencarian hari pertama gagal.

Eunhyuk masih belum menyerah. Di hari selanjutnya, ia lebih giat mencari, lebih giat bertanya. Ia langsung pergi setiap menerima jawaban tidak, atau akan mendesak tiap kali melihat seseorang yang ditemuinya merasa familiar dengan foto itu. Setelahnya, ia hanya mendapatkan jawaban tidak.

Selama ia melakukan pencarian itu, Hyojin masih berada di dekatnya, masih bersikap manja padanya, dan masih memamerkan kemesraan di depan banyak orang. Lama kelamaan, Eunhyuk mulai merasa risih. Sampai akhirnya, ia mengajak gadis itu berbicara.

Mereka bertemu di sebuah restoran dekat sekolah.

“Jadi, apa yang kau mau bicarakan?” tanya Hyojin riang.

Eunhyuk menatap lurus matanya. “Apa kau benar-benar orang yang memberikan foto-foto diriku padaku?”

Mata Hyojin melebar, menyadari nada serius pada pertanyaan itu. “Apa maksudmu?”

Laki-laki itu mengeluarkan dua foto berbeda. Ia menunjuk salah satunya. “Ini punyamu.” Katanya. Kemudian menunjuk foto lain. “Tapi aku yakin sekali foto ini bukan punyamu. Apa kau sedang menipuku?”

Gadis itu kaget bukan kepalang.

“Jangan kira aku bodoh karena aku tidak bisa menilai foto hasil karya amatiran dan profesional.” sembur laki-laki itu. “Kau bukan kekasihku. Aku bodoh karena menyatakan perasaanku padamu. Lagipula, aku tidak mencintaimu. Kau hanya membuang waktuku yang seharusnya kuberikan pada gadis yang kucintai.”

Hyojin terperangah.

“Selamat tinggal.” Eunhyuk berdiri. “Jangan pernah menggangguku lagi.”

Laki-laki itu pergi meninggalkan gadis itu.

☆☆☆

Keesokan harinya, tidak ada sapaan genit yang Eunhyuk dapat dari Hyojin ketika laki-laki itu masuk ke kelas. Hyojin sudah datang, hanya diam di tempat duduknya, mengamati Eunhyuk dalam diam. Byul, yang datang bersama Eunhyuk, cukup bahagia dengan perubahan bagus ini.

Minjung masuk ke kelas seperti biasa. Gadis itu melempangkan tas, melangkah seperti preman sambil mengunyah permen karet, memberikan tatapan remehnya. Hyojin menatap gadis itu sekilas. Entah mengapa sejak pertemuan pertamanya dengan gadis itu, hal yang selalu ia ingin lakukan adalah meninju wajah sombongnya.

Minjung melempar tasnya ke meja, membuat Eunhyuk sedikit tersentak. Gadis itu duduk di tempatnya, mengambil novel, dan mulai membaca, sambil terus mengunyah.

“Sudah berapa lama kau mengunyah benda itu?” entah sejak kapan Lee Dong Hae berbalik ke tempat Minjung dan menarik novelnya.

Minjung menyipitkan mata. “Kembalikan.”

“Setelah kau membuang sampah di mulutmu.”

Gadis itu berdecak kesal, mencari tempat sampah dan membuang permen karet di mulutnya. Ia kembali pada Donghae, menjulurkan tangan, meminta novel.

Aigoo.. gadis cerdasku..” kata Donghae mengacak rambut gadis itu. “Aku amat sangat bangga padamu.. kalau ini bukan sekolah aku pasti akan menciummu..”

Eunhyuk tertegun. Rupanya Byul tidak bercanda.

Memutuskan untuk mengabaikan keduanya, Eunhyuk mulai berpikir untuk memulai pencarian si pemilik foto. Sudah dua minggu terakhir ia mencari, dan hasilnya nihil. Ia masih tidak tahu siapa orang ini.

Sebenarnya ia bisa saja mengikuti saran Sungmin dan Kyuhyun untuk mengabaikan orang ini. Kalaupun memang dari penggemarnya, pasti sudah banyak orang yang akan mengaku-ngaku kan? Tapi sejauh ini ia mencari, hanya Hyojin yang berani menipunya.

Ia mengunjungi beberapa adik kelasnya, bertanya pada siapapun yang dilihatnya. Ia akan menunjukkan foto itu, apa mereka pernah melihat foto itu atau seseorang pernah memiliki foto itu, dan mereka semua pasti menjawab tidak. Ia benar-benar putus asa.

Ia terus saja seperti itu. Menggunakan sebagian waktu istirahatnya untuk menemukan orang ini, tanpa sedikitpun membuahkan hasil.

Sampai keesokan harinya ia tidak bisa melanjutkan pencarian karena ia berakhir di rumah sakit.

☆☆☆

“Seharusnya kau menuruti Sungmin dan Kyuhyun, dasar bodoh.”

Byul membantu Eunhyuk bersandar pada kepala tempat tidur. Setelah laki-laki itu nyaman dengan posisinya, gadis itu duduk di tepi ranjang, mulai menyuapi makanan rumah sakit pada sepupunya.

Eunhyuk terkena tifus. Seminggu terakhir, ia mengalami demam tinggi. Saat tertidur ia juga mengigau (soal foto), ditambah lagi ia sering mengeluh sakit perut, juga diare parah. Ibu Byul yang langsung mengenali gejala itu segera membawa Eunhyuk ke rumah sakit, karena Byul juga mengalami hal yang sama saat gadis itu terkena tifus.

Dan sudah selama itu ia mendekam di rumah sakit. Terbaring lemah, dengan selang infus terhubung dengan tangan, dan setiap kali Byul yang menemaninya, gadis itu akan menceramahinya sesuka dirinya.

“Lagipula kenapa kau harus susah payah mencari sih?” Byul masih menggerutu. “Kau seperti tidak pernah mendapat hadiah dari penggemar saja!”

Pada saat itu, pintu ruangan terbuka. Lee Dong Hae dan Lee Sung Min masuk, masing-masing memegang sekeranjang buah.

Byul mendengus. “Kenapa kalian tidak mengganti buah itu dengan es krim dan keripik kentang? Kemarin Hyosung dan Chan membawa banyak makanan untukku! Mereka benar-benar sangat pengertian..”

Sungmin menjitak Byul. “Kau cukup mendapat banyak makanan saat kau sakit!”

Gadis itu bersungut-sungut, mengambil alih dua keranjang buah dan meletakannya di meja. Ia kemudian membereskan piring kotor. Sungmin dan Donghae mengambil kursi di dekat situ, duduk di samping tempat tidur.

“Terima kasih..” Eunhyuk berkata lirih.

Byul akhirnya bergabung, mengambil kursi lain, dan duduk di antara Donghae dan Sungmin.

Donghae merangkul pundak Byul, kemudian mengacak-acak rambutnya. “Apa dia benar-benar merawatmu? Atau dia memperlakukanmu sesuka dirinya?”

Eunhyuk tertawa lemah. “Dia merawatku dengan baik sekali..” balasnya.

Aigoo..” kini Sungmin yang membuat rambut gadis itu berantakan. “Kami bangga sekali padamu..”

Byul cukup tahu diri kalau ini rumah sakit. Jadi, ia hanya membiarkan teman-temannya ini sesuka mereka menindas dirinya.

“Jadi?” Sungmin mengangkat satu alis. “Apa itu benar? Kau berakhir seperti ini hanya karena foto-foto itu?”

Eunhyuk memilih untuk tidak menjawab. Ruangan ini hening beberapa saat.

“Sulit dipercaya.” komentar Donghae.

“Aku sudah bilang untuk mengikuti saran Kyuhyun dan Sungmin, tapi dia tidak mau mendengarku.” Byul menimpali.

“Hei, tidak biasanya kau melakukan hal yang benar.” Donghae memandang gadis itu seakan-akan ia tengah melihat alien di depannya.

Well..” Eunhyuk akhirnya bicara, membuat ketiganya langsung diam. “Kadang aku harus mengakui kalau Minjung benar karena dia selalu mengataiku penggoda. Itu karena aku ingin sekali diperhatikan oleh gadis yang aku cintai. Seandainya kalian tahu betapa mudahnya aku mendapatkan gadis saat aku masih berada di Jepang. Oleh karena itu, aku selalu memperhatikan mereka, tidak pernah diperhatikan. Mereka hanya bisa menggodaku, sungguh. Secara tidak langsung, dengan foto-foto itu, gadis ini selalu memperhatikan aku. Aku tidak pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya. Para gadis akan sukarela datang padaku. Lihat saja Hyojin. Meski aku sudah mencampakkannya karena dia sudah menipuku, dia masih saja terus mengejarku. Tapi sekarang aku malah yang harus menemukan siapa sebenarnya orang ini, terlepas apa dia hanya mempermainkan aku atau benar-benar mencintaiku. Bagaimanapun juga, aku harus tahu. Cepat atau lambat.” Eunhyuk menelan ludah. “Aku bahkan rela mengubur perasaanku pada gadis yang kucintai karena gadis misterius itu.”

“Kau sedang menyukai seseorang, rupanya.” Byul menyimpulkan.

Eunhyuk tidak menjawab.

Donghae mengangkat wajah, sedari tadi hanya diam. “Jadi kau akan menerima gadis ini? Siapapun dia?”

Byul dan Sungmin menatap Donghae, merasa Donghae mengetahui sesuatu.

Donghae pura-pura tidak memperhatikan. Ia juga berusaha terlihat biasa saat dilihatnya Eunhyuk mengangguk.

☆☆☆

Hyojin geram. Sungguh. Setelah Eunhyuk mencampakkannya, entah mengapa tiba-tiba saja ia jadi membenci laki-laki itu dan siapapun yang mengirim foto bodoh itu. Satu hal yang ia ketahui, gadis si pemberi foto itu pastilah pengecut. Buktinya, ia tidak berani menampakkan wajahnya di saat Eunhyuk mati-matian mencarina. Gadis itu hanya membuat Eunhyuk menderita. Lihatlah, Eunhyuk mendekam di rumah sakit karena orang itu!

Saat bel tanda sekolah berakhir berbunyi, Hyojin membereskan peralatan sekolahnya dan memasukkan semua itu ke dalam tasnya. Ia tidak perlu mengunjungi lokernya. Semua yang ia butuhkan sudah ada di dalam tas.

Ia keluar dari kelas, menyusuri koridor yang hampir sepi. Ia melihat seseorang masih berkutat dengan lokernya, mungkin sekadar merapikan atau mencari sesuatu. Awalnya, ia tidak terlalu menaruh perhatian pada orang itu, sampai ia menangkap sesuatu dengan matanya.

Ia melihat orang itu sedang memegang foto-foto yang sangat dikenalnya.

Hyojin menunggu sampai koridor benar-benar sepi. Sepertinya orang itu tidak menyadari keberadaannya. Jadi ia bersandar di dinding dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

“Jadi, selama ini, kau orangnya.” Hyojin berkata.

Orang itu segera meletakkan foto yang tadi dipegangnya.

“Aku tidak percaya ternyata orang yang Eunhyuk cari selama ini berada di depan hidung semua orang.” Ia melanjutkan. “Kau rupanya, Hwang Min Jung.”

Orang itu menutup loker, kemudian berbalik. Wajahnya tadi kelihatan terkejut, tapi sekarang ia kembali memasang raut judes andalannya. “Memangnya kenapa kalau itu aku?”

“Sekarang aku mengerti mengapa kau terlihat begitu penasaran saat kami berada di depan supermarket waktu itu.” tandas Hyojin tepat. Yang ia kira akan menyudutkan Minjung.

Tapi ia salah besar.

Minjung menyeringai. “Kau sepertinya baru memahami hal ini hanya karena kau tidak sengaja melihat foto yang aku pegang. Apa kau terlalu bodoh karena tidak bisa melihat betapa kejamnya aku padanya akhir-akhir ini?”

“Oh!” Hyojin tampak kaget. “Kau cemburu rupanya.” Ia tertawa. “Seorang Hwang Min Jung cemburu? Sementara ratusan laki-laki ini di sekolah mengantri untuk dijadikan kekasihnya? Sungguh luar biasa. Hwang Min Jung sedang jatuh cinta.”

“Jangan lupakan fakta bahwa kau menyerahkan dirimu pada semua laki-laki yang pernah menjalin hubungan denganku.” sembur Minjung. “Walau harus kuakui, kau bisa mendapatkan Eunhyuk.”

Hyojin tampak terkejut, nyaris tidak bisa membalas kalimat itu. “Sekarang aku mengerti kenapa Eunhyuk selalu mengeluh padaku betapa dia membenci dirimu.”

Minjung menaikkan sebelah alis, tampak tak peduli.

“Bagaimana rasanya mencintai seseorang yang jelas-jelas membencimu?”

“Dan bagaimana rasanya menipu seorang laki-laki untuk dijadikan kekasihmu? Ah, aku lupa kau selalu melakukan itu untuk mendapatkan semua mantan kekasihku.” Minjung membalas. “Oh ayolah. Ini pertama kalinya kau mendapatkan seseorang yang bukan mantan kekasihku kan? Kau seharusnya bangga!”

Kali ini Hyojin benar-benar geram. “Aku melihat kau sudah mulai berubah ke jalan yang benar. Mengikuti pelajaran, jarang mendapat detensi, dan bersikap ramah kepada semua orang.”

“Oh, kau sangat memperhatikan aku rupanya.” Minjung menimpali.

“Tapi sayang sekali.” lanjut Hyojin tanpa peduli. “Mulut kotormu itu benar-benar sangat sulit dikendalikan.”

“Jangan lupakan bagaimana kotornya dirimu.”

Hyojin langsung menampar pipi Minjung dan menendang perut Minjung.

Minjung terdorong ke belakang. Punggungnya mengenai loker dan itu sebenarnya sakit sekali. Ia langsung berdiri, sudah ingin menyerang Hyojin kalau saja tidak ada yang meneriaki namanya.

Hwang Min Jung kaget bukan main kala tahu siapa yang memanggilnya.

☆☆☆

“Apa ini? Hwang Min Jung yang kukenal bertengkar dengan Shin Hyo Jin hanya karena..  laki-laki?”

Minjung hanya menundukkan wajahnya, sama sekali tidak berani menatap laki-laki itu. Sebenarnya, ia ingin sekali marah dan menyangkal kalimat Donghae yang sudah jelas-jelas merendahkannya ― mengingat ini pertama kalinya Donghae merendahkan dirinya tanpa sedikitpun candaan ― tapi dengan apa yang baru saja terjadi, Hwang Min Jung tidak dapat mengelak. Lee Dong Hae sudah mengungkap fakta yang sebenarnya.

Sementara Lee Dong Hae berdiri dengan ekspresi meledak-ledak di depan Minjung. Keduanya berada di sebuah taman yang agak sepi.

Saat pulang sekolah, Donghae memang tengah menunggu Minjung. Gadis itu harus kembali ke loker karena ada sesuatu yang harus ia lakukan. Donghae menunggu dengan sabar di parkiran sepeda, sampai empat puluh lima menit lamanya gadis itu tidak kunjung selesai dengan urusannya. Akhirnya, Donghae menyusul gadis itu ke kelas dan ia mendengar semua yang dikatakan kedua orang itu.

Hyojin langsung melarikan diri saat Donghae menolong Minjung. Keduanya tidak bicara apa-apa sampai akhirnya Donghae menarik gadis itu ke sebuah taman. Dan, well, Donghae benar-benar sudah tidak tahan.

“Jadi..” gumam laki-laki itu. “Selama ini.. kau?”

Minjung masih menunduk.

“Kukira kau membencinya!”

Gadis itu tidak mengeluarkan sepatah kata pun.

“Sejak kapan?”

Minjung menggeleng. “Aku tidak tahu..” lirihnya sedih. “Aku juga tidak mengerti..”

“Kau bahkan bertengkar dengan Hyojin hanya karena ini.”

“Itu karena dia mengklaim fotoku sebagai miliknya..” Minjung mengangkat wajah. Matanya sudah sembab. Ia menatap Donghae dengan berlinang air mata. Beberapa detik kemudian, gadis itu menangis sejadi-jadinya.

Donghae termangu. Ia sudah pernah melihat Minjung menangis yang lebih memilukan dari ini, tapi tetap saja ia tidak bisa menahan diri jika melihat gadis ini menangis. Ia menghela napas, duduk di samping gadis itu, merengkuhnya dari samping, meletakkan kepala gadis itu di bahunya.

Tangisan Minjung makin tak tertolong.

Donghae menghela napas, memandang sekitarnya. Hanya ada beberapa orang yang sedang berjalan santai, bersepeda, dan duduk sambil menikmati sesuatu yang menyegarkan dari sebuah kedai kecil, juga beberapa pedagang kaki lima. Syukurlah. Donghae melepas pelukan dan berdiri, yang langsung saja membuat Minjung berhenti menangis, menghampiri kedai itu. Ia kembali dengan membawa dua buah milkshake coklat dingin dan beberapa gukhwappang. Ia memberikan masing-masing satu untuk Minjung.

“Makanlah.” kata laki-laki itu.

Minjung menerima makanan berisi custard itu dengan setengah hati, kemudian memakannya dengan berlinang air mata.

“Astaga, kau benar-benar sangat menyedihkan..“ Donghae menyeka air mata itu. Minjung hanya memandanginya.

Laki-laki itu tampak mengulum senyum. “Kau sudah pernah menjalin hubungan dengan banyak laki-laki, tapi aku sama sekali tidak pernah melihat kau menangis karena mereka. Tapi disini, kau menangisi seorang laki-laki yang bahkan semua orang tahu kau sangat membencinya.”

Minjung menelan makanan dan meneguk minumannya.

“Apa aku benar?” Donghae bertanya lebih kepada dirinya sendiri. “Apakah kau..”

 “Aku tidak tahu..” Minjung menatap Donghae. “Sungguh jangan tanya aku, aku bahkan tidak mengerti..”

Donghae tersenyum, sudah bisa menyimpulkan dengan sendirinya apa yang sedang dialami gadis kesayangannya ini.

☆☆☆

Eunhyuk masih belum hadir di sekolah keesokan harinya.

Minjung menyadari itu. Tepat ketika ia melewati ambang pintu kelas, yang ia saksikan adalah beberapa orang yang tengah mengobrol. Hyojin dan komplotannya terlihat sedang melirik diam-diam ke arahnya, yang sudah bisa disimpulkan bahwa mereka sedang membicarakan dirinya. Para sahabatnya juga tengah mengobrol ria di sekitar tempat duduknya, dan biasanya Eunhyuk akan duduk di tempatnya dan menjadi pendengar yang baik. Jarang sekali ia melihat laki-laki itu ikut heboh bersama Byul atau Sungmin.

Gadis itu mendengus. Sejak kapan ia menjadi pemerhati seperti ini? Dari semua mantan kekasih yang ia punya, ia tidak pernah sekalipun memperhatikan mereka, lagipula untuk apa Minjung memperhatikan mereka kalau cukup mereka saja yang memperhatikan dirinya? Eunhyuk bahkan bukan mantan kekasihnya, tetapi kenapa laki-laki itu harus menyedot seluruh perhatian Hwang Min Jung?

Minjung duduk di tempatnya, memperhatikan keluar, tampak tak berminat memperhatikan cerita Sungmin yang dijadikan bulan-bulanan Byul. Ini sangat aneh. Mengapa Minjung menjadi seperti ini? Ada sesuatu yang sedang terjadi di dalam dirinya, dan ia tidak tahu apa itu. Minjung bahkan hampir tak ada waktu untuk memikirkan mantan kekasihnya, tapi sekarang?

Hwang Min Jung mendadak menjadi pemikir dan pendiam selama Lee Hyuk Jae tidak masuk ke sekolah.

Sampai hari dimana ia melihat laki-laki itu masuk ke kelas bersama Sungmin dan Kyuhyun, ia merasa menjadi manusia paling bahagia di dunia. Ia tidak ingat kapan terakhir kali ia tersenyum, namun dengan kemunculan laki-laki itu hari ini, itu sudah cukup untuk membuatnya tersenyum.

Setidaknya sampai Eunhyuk duduk di tempat duduknya. Minjung memasang wajah dingin nya.

Keduanya tidak saling bicara, seperti biasa. Mereka juga terlihat tidak berminat untuk menjadi teman. Jujur saja, Minjung agak kecewa. Di satu sisi, ia ingin masa-masa saat pertama kali keduanya bisa mengobrol (walaupun hanya soal pelajaran) kembali.

Saat jam istirahat, Minjung memutuskan mengikuti Hyosung, Chan, dan Byul menuju kantin. Karena ia sedang dalam masa sedang malas membaca, ia tidak berminat mengunjungi perpustakaan. Keempatnya mengobrol riang, tertawa bersama, sambil menikmati makanan dan minuman mereka.

Saat mereka hendak kembali ke kelas, tanpa sengaja mereka melihat Hyojin yang tengah mengejar-ngejar Eunhyuk.

Minjung terperangah. Ia tahu seharusnya Hyojin tidak akan tinggal diam.

Keempatnya diam-diam mendengar apa yang mereka bicarakan.

“Apa maumu?!” Eunhyuk membentak, menghempas tangan Hyojin.

“Ada yang harus kau ketahui!” Hyojin berseru. “Ini soal foto-fotomu!”

“Untuk apa aku mendengar perkataan seorang penipu?!” balas Eunhyuk. “Sudah cukup kau menipuku! Aku tidak akan tertipu lagi olehmu!”

Dan Eunhyuk pun masuk ke kelas. Begitu juga dengan Hyojin.

Keempatnya saling tatap.

“Apa yang terjadi?” Chan bertanya.

“Kau tidak tahu?” Hyosung menjawab. “Eunhyuk mencampakkan Hyojin! Gadis itu rupanya membohongi Eunhyuk dengan mengatakan bahwa foto yang selama ini didapat olehnya adalah foto gadis itu!”

“Darimana kau tahu?” Byul menyahut.

“Oh ayolah!” Hyosung memutar bola mata. “Semua orang membicarakannya sampai aku muak mendengarnya!”

Heol!” Chan berseru. “Aku merasa seperti menonton drama picisan!”

Byul tertawa. Minjung hanya mendengarkan. Mereka pun masuk ke kelas.

Minjung benar-benar tidak menyangka hal ini akan terjadi. Mengapa hal ini semakin rumit? Ia tidak pernah memikirkan konsekuensi dari semua yang ia lakukan. Sekarang bagaimana? Ia tidak tahu apa yang akan terjadi jika dirinya ketahuan, dan dari semua itu, ia masih harus memikirkan cara untuk membuat Hyojin diam.

Karena setelah apa yang ia amati, Hyojin tak henti-hentinya mengusik laki-laki itu.

b

To Be Continued

 v

Hayoooo satu part lagi end…

Siapa kira-kira yang masih mantengin sampa ini?

Advertisements

3 thoughts on “Fall For You 6

  1. wah benar kan yang gue pikirkan, yang foto dan motret itu pasti minjung 😄 soalnya dari gelagatnya udah kecium hehe.. semoga aja eunhyuk bakalan cepat tahu kalau yg motret dirinya itu minjung a.k.a musuh nya dalam berdebat wkwkwkw

    ditunggu last part nya ya

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s