Fall For You 5

169019

Poster by POKUPON

#5 : So, is it gonna be better?

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 (END)

***

SEBENARNYA, Donghae bukanlah satu-satunya orang yang gelisah, khawatir, dan uring-uringan atas ketidakhadiran Hwang Min Jung selama tiga hari. Semua sahabat gadis itu percaya pada ketua kelas mereka, Seo Joon Hee, kalau Minjung sakit, dan alasan gadis itu tidak menghubungi mereka adalah karena gadis itu tidak ingin diganggu. Atau mungkin mereka menganggap gadis itu sedang malas ke sekolah, seperti pernah yang di lakukannya sebelumnya. Selama satu minggu Minjung tak hadir tanpa keterangan, ternyata gadis itu berada di Jeju sendirian, katanya menikmati liburan.

Oke, wajar bila mereka berpendapat begitu. Tapi itu karena mereka tidak tahu apa yang terjadi antara Minjung dan Donghae. Ia juga sebenarnya tidak tahu apa yang terjadi dengan keduanya, tapi melihat raut wajahnya, ia bisa melihat Donghae tidak mau menyinggung nama gadis itu.

Selama satu detik yang berharga, ia senang melihat Hwang Min Jung menderita.

Tapi sekonyong-konyong, ada perasaan tak jelas yang menggerogoti dirinya setelah kebahagiaan itu.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama bersitegang dengan gadis itu, Eunhyuk menyadari keberadaan gadis itu, meski hanya untuk mencacimaki dirinya. Ketidakhadiran gadis itu ternyata cukup berpengaruh, meskipun para guru terlihat senang karena tidak ada yang mengacaukan kelas, sekaligus kecewa karena tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan mereka sebaik gadis itu melakukannya. Eunhyuk bisa melihat, sebenarnya mereka mengharapkan gadis itu muncul di pintu kelas, baru saja dihukum Go seonsaengnim karena terlambat, masuk ke kelas dengan santai, memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan, dan mengatainya bodoh atau apapun yang keluar dari mulut pedasnya.

Hei!

☆☆☆

Di hari kedua, suasana masih sesunyi hari pertama ketidakhadiran si jenius itu. Hari ini, Yoon seonsaengnim mengisi pelajaran. Awalnya ia cukup kaget karena gadis itu tidak ada, dan lebih kaget lagi karena gadis itu sakit. Ia terang-terangan menunjukkan kebahagiaannya atas ketidakhadiran gadis itu, membuat para sahabat gadis itu sedikit geram. Terlebih ketika ia menasihati semua murid untuk jangan mencontohi kesombongan Hwang Min Jung. Donghae bahkan sudah kelihatan sangat marah, begitu juga dengan yang lain. Bahkan Byul mungkin berniatan ingin memukuli guru itu. Dan Eunhyuk diam-diam mengakui ia sedikit tak suka melihat cara Yoon seonsaengnim menjelek-jelekan Minjung.

Apalagi ini? Seharusnya ia sependapat dengan Yoon seonsaengnim dan para murid lain yang sudah ikut tertawa! Shin Hyo Jin tertawa paling keras.

Tapi keadaan berbalik. Saat melihat Hyojin dan satu temannya tidak bisa menjawab pertanyaan dari Yoon seonsaengnim, dan wanita itu meneriakinya lebih parah daripada meneriaki Minjung, mereka bertujuh tertawa, bahkan Eunhyuk. Byul tertawa paling keras.

Dan begitulah ia menjalani sisa hari. Park seonsaengnim, guru matematika, terang-terangan menunjukkan bahwa ia sedih karena Minjung tidak hadir. Dan menyatakan Minjung murid favoritnya setelah Kyuhyun. Gadis itu memang biang masalah bagi para guru, namun setelah Eunhyuk amati, hanya dengan Park seonsaengnim Minjung tak pernah bermasalah.

☆☆☆

Hari ketiga lebih buruk lagi. Gong seonsaengnim, guru bahasa Korea mereka, menyatakan dengan terbuka bahwa hanya Minjung yang bisa menjawab pertanyaannya dengan baik, tepat dan benar. Ia bahkan tidak peduli dengan sikap masa bodoh gadis itu di kelas. Padahal setelah Yoon seonsaengnim, guru bahasa Korea ini termasuk sering memberi Minjung detensi.

Baru kali ini Eunhyuk merasa kesepian karena kehilangan teman semeja.

Sedikit demi sedikit, ia mulai tidak mempedulikan mulut pedas gadis itu.

Ketika jam istirahat tiba, enam sahabat gadis itu terlibat pembicaraan serius. Ia juga ikut pembicaraan ini, meski yang dilakukannya hanya mendengar.

“Ini aneh, kalau kau tanya aku.” Byul berpendapat. “Aku hanya merasa ini tidak seperti saat dia membolos selama seminggu hanya untuk berlibur sendirian di Jeju.”

“Apa luka yang di tangannya separah itu?” Chan bertanya pada Donghae.

“Mungkin.” Donghae berkata gamang. “Telapak tangannya tertusuk banyak sekali pecahan lensa.” ia menghela napas. “Aku tidak mendapat pesan ataupun telepon darinya.”

“Oh, kau tidak sendirian, teman.” Kyuhyun menepuk-nepuk pundah Donghae. “Kami semua juga begitu.”

Donghae bergumam menatap Byul. “Mungkinkah kau tahu sesuatu?”

Yeah, mengingat kau selalu tahu segalanya tentang kami semua.” Sungmin menyahut.

Byul mengerutkan kening. “Apa, misalnya?”

“Kau orang terakhir yang bersamanya, setidaknya tiga hari lalu. Aku melihatmu mengantarnya ke parkiran sepeda. Benar bukan?” ucap Donghae.

“Oh, kau melihatku bersama Minjung?” Byul terkesiap. “Kukira kau tidak akan memperhatikan apapun karena kau bersama teman barumu!”

Eunhyuk tampak sangat jengkel. Bahkan di saat seperti ini bukan pembelaan yang ia dapatkan dari sepupunya sendiri.

Tak berniat melanjutkan pertengkaran, Byul berkata. “Dia tidak mengatakan apapun padaku kecuali betapa terkejutnya dia saat tahu Eunhyuk adalah sepupuku. Oh, dia juga menyakinkan aku kalau dia akan pulang dengan selamat walau tidak memakai kacamata. Setelah itu? Aku sama sekali tidak tahu keberadaannya. Hei, kukira kau akan mengunjunginya!”

Eunhyuk hanya menatap Byul tanpa mengatakan apapun.

“Oh, aku memang mengunjunginya!” Donghae berseru, meniru nada bicara Byul. “Aku menggedor-gedor pintu rumahnya! Tapi tidak ada yang menjawab! Aku juga tidak mendengar apapun dari dalam! Kau gila kalau kau menyuruhku ke rumah kakek dan neneknya!” ia langsung mencegah Byul yang mau bicara.

Byul langsung mengatupkan mulutnya.

Mereka tidak lagi bicara karena Song seonsaengnim sudah berada di depan pintu kelas dan menyuruh mereka ke ruang seni. Pria itu juga kaget karena Minjung tak ada, dan sedikit bersyukur karena ia tidak perlu menegur gadis itu di kelasnya. Minjung memang payah di bidang ini, dan Eunhyuk harus mengakuinya. Bahkan ia pernah mengembalikan semua ucapan gadis itu yang mengatainya bodoh dan tidak tahu apa-apa.

Tapi dengan ketiadaan gadis itu, hal itu tidak bisa dilakukannya lagi. Malah, ia merasa kesepian.

Well, ia harus mengakuinya.

Lee Hyuk Jae mau tidak mau harus mengakui bahwa ia mulai mengkhawatirkan gadis itu.

Bahkan ia berpikir ia harus mulai melunakkan sikapnya sekalipun gadis itu selalu berkata kasar padanya.

Yeah, ia memang bersalah setelah apa yang sudah dilakukannya. Ia terlampau sering mencelakai gadis itu hanya karena ia membenci gadis itu dan mulut pedasnya dan kesombongannya. Rasanya ia ingin sekali melenyapkan gadis itu.

Tapi benarkah ia membenci Minjung hanya karena itu? Atau karena alasan yang tidak mau ia akui?

Lalu saat melihat betapa diamnya Donghae selama tiga hari ini, entah mengapa ia merasakan sesuatu yang berbeda.

Dan mengenai apa yang sudah Donghae katakan padanya, hal itu menjadi pukulan telak baginya.

Haruskan Donghae memberitahunya semuanya mengenai Minjung? Meski masih ada yang belum diketahui? Dan mengapa Donghae menyinggung hubungannya dengan Minjung dan menyuruhnya untuk tidak mengkhawatirkan hal itu?

Well, ia memang sebal melihat interaksi keduanya.

Tapi kenapa?

Bukannya ia sangat membenci Minjung? Begitu juga Minjung yang sangat membencinya?

Hari itu adalah untuk pertama kalinya ia menyadari seharusnya Hwang Min Jung ada di samping tempat duduknya.

☆☆☆

Eunhyuk sangat menghargai usaha Donghae untuk mengembalikan hubungannya dengan Minjung seperti semula. Ia sebenarnya ingin sekali ikut bersama Donghae ke rumah gadis itu, tapi ia tidak lupa betapa gadis itu membencinya.

Kalau dipikir-pikir lagi, sepertinya ke rumah Minjung bukanlah gagasan yang buruk.

Diam-diam, Eunhyuk juga membolos. Ia meminta Byul membuatkan alasan untuknya.

Ia bertanya pada Byul dimana letak rumah Minjung. Rupanya rumah Minjung cukup jauh dari sekolah. Ia harus lima kali berganti bus.

Kompleks rumah gadis itu ternyata cukup jauh dari halte bus. Rumah Minjung sendiri juga masih harus ditempuh dengan berjalan kaki setelah sampai di gerbang kompleks. Tapi ia tidak keberatan sama sekali, asal dengan begini hubungannya dengan Minjung akan jauh lebih baik.

Di perjalanan, ia melihat Lee Dong Hae dengan sepedanya masuk kompleks rumah Minjung. Dari jarak yang cukup jauh, Eunhyuk mengikutinya.

Tapi itu hanya beberapa saat. Ketika ia berbelok, Donghae tidak terlihat di manapun. Tapi satu hal yang pasti, ia sudah di jalanan rumah Minjung, hanya saja ia tidak tahu persisnya yang mana rumah gadis itu. Ia sudah hendak menyerah ketika melihat Donghae keluar dari salah satu pagar dan berlari menuju entah kemana.

Eunhyuk mengikutinya, sambil menanamkan dengan baik di otaknya yang mana rumah Minjung.

Donghae hanya beberapa meter di depannya. Ia melihat laki-laki itu berhenti di dekat sebuah lapangan taman bermain, lalu melintasinya. Dari pinggir lapangan di tempat yang tidak terlalu terlihat ia berdiri. Ia mengerti mengapa Donghae ada di sana.

Minjung ada di sana. Sendirian. Duduk di ayunan, menatap langit mendung dengan wajah bengkak.

Bahkan dengan jarak sejauh itu Eunhyuk tahu bahwa Minjung baru selesai menangis.

Ia melihat Donghae berdiri di depan gadis itu, kemudian mengambil tempat di ayunan gadis itu.

“Aku tidak pernah menghindarimu,” Eunhyuk tertegun. Ia bisa mendengar suara gadis itu dengan jelas sekali. “Aku hanya ingin menenangkan diri. Sesuatu terjadi padaku setelah kita bertengkar, membuatku menjadi mengenaskan. Kau pasti bertanya-tanya tentang hal itu. Namun sebelumnya, kau harus tahu beberapa hal yang seharusnya kau ketahui. Aku yakin, kau pasti ingin tahu tentang orangtuaku, dan kenapa ayahku meninggal..”

Laki-laki itu lebih kaget lagi saat mendengar kata-kata Minjung selanjutnya.

Ia diam, berdiri membeku, tak bisa bergerak. Ini sungguh diluar dugaan. Dengan masa lalu sesuram itu, ia akhirnya paham mengapa Minjung menjadi gadis seperti yang ia kenal. Hatinya terenyuh saat melihat Minjung menangis sambil membawakan ceritanya, menyadari bahwa ternyata Minjung memiliki luka sedalam itu. Seharusnya ia tidak memperbesar luka gadis itu dengan mencelakainya. Lihat apa yang sudah dilakukannya pada gadis tak bersalah ini.

Entah mengapa ia merasa ia ingin sekali menghilangkan kesedihan itu dari wajah cantik teman semejanya. Ia mau tidak mau harus mengakui bahwa Minjung masuk dalam tipenya. Dari segi visual.

Well, Minjung memang tidak meminta maaf karena insiden buku dan es krim itu. Tapi Minjung juga tidak berhak mendapat perlakuan sekasar itu darinya.

Perasaan bersalah makin menjalar dalam dirinya saat ingatan tentang tamparan pada Minjung seakan terputar otomatis di depannya.

Namun sekonyong-konyong, perasaan sedih dan bersalahnya berubah menjadi kemarahan luar biasa tak terkendali saat ia melihat bagaimana Lee Dong Hae menggenggam tangan Hwang Min Jung dan memeluknya.

Ia langsung meninggalkan tempat itu.

Apa itu yang dibilang Donghae ‘hubungan kami tidak seperti yang kau pikirkan.’? Hei, lihat bagaimana cara Donghae menatap Minjung, atau cara Donghae menggenggam tangan Minjung, atau cara Donghae memeluk Minjung! Persahabatan tidak ada yang seberlebihan itu! Ini sudah diluar batas!

Ia sampai di rumahnya saat hari sudah malam. Ia membuka pintu rumah, melihat Byul berbaring dengan posisi terbalik di sofa ruang tengah, sambil menikmati sebungkus keripik kentang, dan menonton Pororo. Ia duduk di samping gadis itu.

“Apa hubungan mereka sebenarnya?” Eunhyuk berkata frustasi. “Apa mereka sepasang kekasih?!”

“Itu harapan semua orang di sekolah.” jawab Byul masih dengan posisinya. “Tapi itu sama sekali tidak benar. Mereka berteman sejak kecil. Orangtua mereka berteman baik. Wajar bila mereka sedekat itu.”

Byul melanjutkan. “Donghae menyukai orang lain dan Minjung selalu bergonta-ganti pasangan.” Gadis itu memandang Eunhyuk. “Kau cemburu ya?”

Eunhyuk sedikit tersentak, kemudian menormalkan ekspresi. Ia membuat gerakan meludah. “Siapa bilang?! Enak saja!”

Byul mencibir.

Mereka terdiam untuk waktu yang lama.

“Kehidupan Minjung..” Eunhyuk bergumam lagi. “Apa dia semenderita itu?”

Byul langsung duduk dengan normal. “Kau tahu?!”

“Dia mengatakan semua itu pada Donghae. Dan aku tanpa sengaja mendengarnya.” ucap Eunhyuk datar. “Hei, kau tahu?!”

“Kau pasti tidak mendengar cerita setelahnya.” Byul menjawab tenang. “Ayah Minjung meninggal saat liburan sekolah. Semua teman-temanku pulang ke rumah kakek nenek mereka, kecuali aku karena sedang mempersiapkan ujian kenaikan sabuk. Aku sangat kaget saat baru saja pulang menyelesaikan ujian, ibu dan ayah menyuruhku bersiap untuk menghadiri pemakaman ayah Minjung. Tentu saja aku mati-matian menuntut gadis itu menceritakan segalanya. Di minggu pertama ayahnya meninggal, dia tidak keluar dari kamar di rumah kakek neneknya. Aku baru tahu kejadian lengkapnya sebulan kemudian, setelah aku terus memaksanya. Minjung membuatku berjanji agar tidak mengatakan hal ini sampai dia sendiri berani mengatakannya pada Donghae.”

Eunhyuk tidak berkomentar.

“Jadi, kalau kau tadi memang mendengar Minjung mengatakan semuanya pada Donghae, itu berarti dia sudah siap mengatakan hal ini pada mereka semua.” Byul tersenyum, kembali menikmati tontonannya sembari menikmati keripik kentang. Kali ini ia tidak bebaring terbalik. “Dan kau tidak perlu cemburu begitu. Kami sudah terbiasa melihat Donghae yang nyaris mencium Minjung sesuka hatinya.”

Eunhyuk pura-pura tidak mendengar kalimat terakhir Byul.

☆☆☆

Eunhyuk dan Byul masuk ke kelas bersama. Laki-laki itu menghela napas. Bukan untuk mengabaikan sapaan genit Hyojin dan teman-temannya. Matanya langsung tertuju pada bangku di sampingnya, menyadari bahwa bangku itu kosong. Tak ada tas, apalagi si pemilik tempat duduk. Gadis itu belum datang.

Byul langsung bergabung dengan dua teman wanitanya. Eunhyuk duduk di bangkunya.

Atau apakah gadis itu tidak akan hadir lagi?

Kapan ia baru akan bisa meminta maaf pada Minjung kalau gadis itu tidak ada?

Setelah kejadian kemarin, entah mengapa ia tidak ingin lagi mengunjungi rumah Minjung.

Lagipula untuk apa? Hei, ia sangat membenci gadis itu! Sekarang mengapa ia justru mengharapkan kehadirannya?

Ketika Eunhyuk menoleh menatap pintu kelas, sekujur tubuhnya serasa membeku. Tanpa disadarinya, ia tersenyum lega. Untuk pertama kalinya, kehadiran Hwang Min Jung membuatnya senang.

Minjung, bersama Donghae, memasuki kelas sambil mengobrol.

“MINJUNG-AH!” Hyosung, Byul, dan Chan berteriak kompak. Mereka berlari ke depan kelas, memeluk Minjung seolah mereka takut Minjung akan menghilang lagi.

“Senang melihatmu kembali, nona Hwang.” Kyuhyun muncul tiba-tiba, menepuk bahu gadis itu.

“Kami bukan tanpa apa-apa tanpamu.” Sungmin menambahkan.

Yeah, setelah kalian membuat Donghae begadang semalaman untuk mengerjakan semua hukuman itu.” Minjung menyindir. “Untung semuanya sudah selesai.”

Donghae tersenyum. Enam orang itu menyeringai.

Eunhyuk hanya mengamati mereka dari tempat duduknya.

Minjung duduk di bangkunya, meletakkan sebuah buku tebal di meja, meletakkan kepala di atasnya. Ketika Eunhyuk melihat Minjung bergerak, ia menoleh menatap langit.

Ternyata Minjung tengah memandangnya.

“Eunhyuk-ssi?” ada sedikit kegugupan dalam suara gadis itu. Dan laki-laki ini merasakannya. Mengingat ini untuk pertama kalinya Minjung memanggil dirinya.

Laki-laki itu melirik Minjung sebentar.

“Aku minta maaf.” kata gadis itu. “Tidak seharusnya aku menyeka es krim itu di bajumu.”

Hening sejenak.

“Dan tidak seharusnya aku melakukan semua itu padamu.” Eunhyuk menoleh. “Aku juga minta maaf.”

Eunhyuk cukup kecewa karena Minjung tidak menanggapinya.

Baru saja ia berpikir mungkin interaksinya dengan Minjung akan berubah jauh lebih baik. Tapi kemudian ia langsung mengubur dalam-dalam harapan itu.

Tepat pada saat mengangkat kepalanya, bel sekolah berbunyi. Tujuh detik kemudian, guru Bahasa Korea mereka masuk ke kelas sambil mengucapkan salam. Saat melihat Minjung, wanita itu tersenyum lebar.

“Hwang Min Jung!” seru guru itu. “Kejutan yang menyenangkan!”

Gadis itu tersenyum sopan.

Eunhyuk melirik gadis itu, kemudian meraih ranselnya. Ia mengeluarkan buku-buku, kemudian meletakkan ransel di samping mejanya. Dan saat ia memandang mejanya..

Apa itu?

Ia memandang dengan bingung sebuah kantong kertas berukuran lima belas kali tujuh sentimeter berwarna coklat di mejanya. Sekali lagi, ia melirik Minjung. Gadis itu tengah menatap lurus papan tulis di sana. Tumben sekali ia memperhatikan pelajaran, batinnya dalam hati. Ia membuka kantong kertas itu, dan ia lebih terkejut lagi saat melihat isinya.

Dua buah foto dirinya.

☆☆☆

Bel tanda istirahat berbunyi. Minjung―tanpa aba-aba―langsung menuju perpustakaan. Eunhyuk tersenyum. Entahlah. Ia hanya merasa senang melihat gadis itu hari ini. Mereka juga sudah saling memaafkan meskipun masih saling mengabaikan dan canggung. Namun tetap tidak ada yang lebih baik dari itu.

Setelah menemukan benda misterius tadi, ia bemaksud ingin mengajak Donghae berbicara. Ia memasang wajah harap-harap-cemas saat melihat Minjung berdiri dari kursinya dan menyapa Donghae.

Sejurus kemudian, ia bisa bernapas lega.

Ia beruntung, gadis itu tidak mengajak sahabatnya. Atau seharusnya kukatakan, Donghae memang tidak ingin pergi ke perpustakaan lagi. Ia bahkan sempat menyaksikan perdebatan mereka.

“Tidak, terima kasih, nona Hwang.” cecar Donghae. “Itu adalah pertama dan terakhir kalinya aku ke sana! Aku tidak akan membiarkan kucing tua genit dan mengerikan itu menggodaku lagi!”

Anehnya, Minjung tertawa. Hal itu membuat Eunhyuk sedikit terpana, sedikit marah, dan sedikit berharap bahwa seandainya ― atau seharusnya? ― ia yang bisa membuat Minjung tertawa seperti tadi, bukan Donghae. “Itu adalah kalimat yang akan kupakai untuk menghinanya nanti! Terima kasih!”

Ketika melihat Donghae di ambang pintu, Eunhyuk segera mencegatnya.

“Ada apa?” tanya Donghae tanpa basa-basi.

“Bisakah kau menolongku?” Eunhyuk menyerahkan kantong kertas tadi padanya.

“Apa ini?” Donghae menatap kantong kertas itu dengan bingung.

“Kau bisa melihat isinya.”

Donghae menurut, dan matanya menjadi selebar piring terbang.

☆☆☆

Sudah dua minggu sejak Lee Hyuk Jae mendapat kirirman foto misterius itu. Ia sudah meminta bantuan Donghae untuk menemukan siapa yang memberikannya, namun hasilnya nihil. Mereka tetap tidak mengetahui siapa pemilik dan pemberi foto ini.

Kini Eunhyuk tengah berbaring di kamarnya, sambil menatap kedua foto itu. Foto pertama adalah foto dirinya sedang mengendarai sepeda, dan foto kedua adalah foto dirinya keluar dari toko musik. Ia sangat terpesona dengan fotonya yang kedua ini. Di dalam foto, dirinya tengah menoleh ke samping, di ambang pintu toko musik yang beberapa waktu lalu dikunjunginya bersama Donghae. Sepertinya sang fotografer ingin memberitahu bahwa Lee Hyuk Jae-lah tokoh utama foto ini, sehingga sang fotografer memberi efek blur pada gambar selain dirinya.

Kesan pertama Eunhyuk saat melihat foto ini adalah, pastilah seorang profesional yang mengambil foto ini. Tapi benarkah itu? Seorang fotografer profesional datang ke sekolahnya hanya untuk memberikannya.. ini?

“Konyol.” gumamnya tanpa sadar. Tidak mungkin hal itu terjadi!

Ia sedang mengagumi dirinya di foto itu, dan dengan tiba-tiba menyadari sesuatu. Ia terduduk di tempat tidur secara mendadak. Ada sesuatu di foto ini. Ia meletakkan foto itu di tempat tidur, dan mengamati lebih baik lagi kedua foto. Di bagian paling ujung kanan masing-masing foto, tertera watermark berupa sebuah huruf. Inisial, tepatnya.

Laki-laki itu langsung menelepon Donghae.

☆☆☆

Minjung muncul dari lorong di antara dua rak buku dengan wajah kusut. Ia menghampiri meja perpustakaan dengan tangan kosong.

“Apa ini?” Miss Kim menurunkan kacamata, memicingkan mata pada gadis itu. “Kau tidak mau meminjam buku?”

“Saya sudah membaca semuanya.” Minjung menghela napas.

“Termasuk buku-buku baru yang waktu itu kau susun?”

Minjung mengangguk muram. “Seharusnya saya sudah tahu saat saya mengenali semua judulnya. Saya sudah membaca semua buku itu di perpustakaan kota. Astaga.”

“Aku yang lebih pantas mengucapkan kata-katamu yang terakhir, nona Hwang. Astaga..” miss Kim menggeleng takjub.

“Saya akan kembali ke kelas sekarang. Terima kasih, halmeoni..”

Minjung melangkah keluar perpustakaan. Untuk pertama kalinya, ia tidak diteriaki karena menyebut wanita itu nenek-nenek. Mungkin wanita itu paham situasi yang ia hadapi.

Meski sedang dalam suasana hati yang buruk karena sedang tidak punya bahan bacaan, Minjung tetap membalas sapaan siapapun yang menegurnya dengan senyum terbaiknya, membuat beberapa orang sangat kaget akan perubahan ini. Setelah ia membiarkan semua teman-temannya tahu apa yang selama ini mengubahnya menjadi gadis mengerikan, kini ia merasa dirinya seringan bulu. Ia sudah jarang mengacau di kelas, jarang mendapat detensi, mulai mengikuti pelajaran dengan baik, dan tidak lagi membuat tekanan darah para guru naik. Tentu saja hal ini sebuah kemajuan besar, meski ‘kejujuran’ Minjung masih susah dikendalikan, setidaknya gadis itu hanya akan membuat para guru mengelus dada, bukan meneriaki detensi yang akan diterimanya.

Dan mengenai hubungannya dengan Eunhyuk.. well.. meskipun mereka sudah saling meminta maaf dan saling memaafkan, mereka masih saling diam di kelas. Eunhyuk tidak lagi mencelakainya, dan Minjung juga tidak lagi mengatainya. Mereka sudah tidak bermusuhan, tapi mereka juga tidak bisa dibilang berteman.

Eunhyuk bahkan pernah beberapa kali bertanya pada Minjung mengenai pelajaran.

Saat itu pelajaran Moon seonsaengnim, dan Eunhyuk ― setelah cukup lama berpikir apa akan melakukannya atau tidak ― menyiapkan diri. Minjung mengerjakan apa yang diminta wanita itu dengan cepat sekali, dan tentu saja benar. Eunhyuk menghembuskan napas, kemudian memanggil.

“Minjung-ssi?”

Gadis itu tengah menghiasi bukunya ketika Eunhyuk memanggil. Ia menoleh, memasang raut tak pedulinya.

“Bisakah kau menjelaskan padaku bagaimana menentukan golongan darah dan keturunan hemofilia seperti ini?”

Minjung melihat pekerjaannya sebentar, lalu kembali mencoret-coret. “Itu mudah saja.” jelasnya tanpa menatap laki-laki itu. “Kau hanya tinggal memasangkannya. Yang kau perlu perhatikan hanya genotip golongan darah A atau B, karena genotip keduanya ada yang penuh ada yang sebagian. Dan kalau kau mau menentukan penderita hemofilianya, itu juga mudah. Laki-laki hanya punya genotip normal dan carier, perempuan ada genotip normal, carier, dan hemofilia. Kau harus ingat, anak perempuan yang mendapat gen hemofilia pasti mati, jadi kau tinggal mengurus sisanya. Sederhana saja.”

Eunhyuk sebenarnya tidak terlalu memahami penjelasan yang terlampau tidak peduli itu, namun ketika ia ingin kembali dengan pekerjaannya, ia melihat Minjung memberikan secarik kertas padanya. Kertas itu berisi penjelasan Minjung yang dapat dimengerti Eunhyuk.

“Terima kasih.” Eunhyuk berkata tulus.

Minjung membalasnya dengan senyuman.

Ia sempat melihat Eunhyuk tertegun beberapa saat, tapi ia tidak mau memikirkan kenapa.

Tetapi setelahnya, ketika keduanya mencoba untuk menjadi lebih dekat, justru keduanya sangat terlihat canggung.

Interaksi mereka hanya seperti itu. Bahkan belum sampai di tahap mereka bisa disebut teman.

Ketika ia kembali ke kelas, ia melihat Byul tengah berbicara dengan Chan dan Hyosung. Para pria tidak ada. Mengingat ini masih jam istirahat.

“Kau tidak meminjam buku?” Hyosung bertanya saat Minjung bergabung dengan mereka.

“Aku bosan.”

“Tumben.” Chan berkomentar. Kemudian ia menjentikkan jari. “Oh, Minjung-ah, apa kau tahu, Eunhyuk masuk tim basket sekolah? Mereka akan latihan sore ini!”

“Lalu kenapa?”

“Oh, aku padamu, nona Hwang!” Byul menepuk bahu gadis itu. “Kau tahu, aku adalah orang pertama yang tidak menerimanya sebagai anggota tim! Aku ‘dibuang’ Go seonsaengnim karena itu!”

“Sepupu macam apa kau ini?” Chan melototi Byul. “Kenapa kau tidak pernah mendukung sepupumu? Minjung membencinya itu wajar, tapi kau tidak perlu mendukung Minjung juga!”

Byul mencibir. “Alibi yang bagus sekali, Yoo Seung Chan.” katanya. “Kau hanya ingin menonton latihan basket karena ada Lee Dong Hae ku. Jangan bawa sepupuku ke dalam masalah ini.”

“Sejak kapan kau membaptis Donghae jadi milikmu? Kukira imbuhan itu hanya berlaku untuk Kyuhyun!” sembur Chan.

“Bilang saja kalau kau cemburu hanya karena aku memakai imbuhan itu.”

Chan memukul kepala Byul. Hyosung dan Minjung tertawa.

“Jadi?” Hyosung bertanya. “Apa kau akan ikut kami?”

Minjung membelalak. “Kau juga?!”

Well..” Hyosung mengangkat bahu. “Aku tidak akan mungkin tidak menonton Sungmin dan Kyuhyun ‘kan?”

“Menonton Sungmin lebih tepat.” sahut Byul yang langsung mendapat pukul lagi.

Minjung menatap mereka tidak percaya.

“Bagaimana denganmu?” Minjung bertanya pada Byul.

“Aku harus ada di sana.” Byul menjawab masam. “Go seonsaengnim mau tidak mau membutuhkan aku sebagai ahli siasat dan penyusun strategi terbaiknya, meski aku terlalu cepat panik dan sedikit ceroboh.”

“Percaya atau tidak,” Chan bergumam sendirian, tersenyum lebar. “Karena Byul, kita akan duduk di tepi lapangan, bukan tribun! Baru kali ini aku merasa dia berguna menjadi sahabatku!”

Byul menjitak Chan dengan keras sekali.

Minjung menghela napas. Ia tidak suka olahraga, apalagi menonton pertandingan olahraga. Walaupun ia sering menyempatkan dirinya untuk menonton Byul karena gadis itu yang memintanya. Tapi.. hari ini.. bahkan Eunhyuk pun ada di sana. Ia sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi. Meski ia merasa hubungannya dengan laki-laki itu mulai membaik, namun ia merasakan sesuatu yang lain sekali soal ini.

☆☆☆

Aula sekolah ini berukuran cukup besar, seperti stadion dalam versi yang lebih kecil. Biasanya tempat ini digunakan untuk rapat organisasi siswa, pertemuan guru wali murid, dan melangsungkan acara-acara besar sekolah. Aula ini juga merangkap lapangan indoor, yang terdiri dari lapangan basket, lapangan voli, lapangan bulutangkis, dan lapangan futsal. Praktisnya, jika ingin bermain bulutangkis, tinggal pasang net-nya. Jika ingin bermain basket, lepas tiang dan net bulutangkis, dorong tiang-tiang basket yang terletak di sudut aula. Tribun penonton terletak satu setengah meter lebih tinggi dari lapangan, untuk mencegah penonton rusuh yang pasti akan merecoki para pemain setelah bertanding.

Minjung, Chan, Hyosung, dan Byul muncul dari tempat pemain biasanya keluar. Hal pertama yang mereka lihat adalah tiang basket yang sudah ada di posisinya, sementara lima belas pemain basket sedang melakukan pemanasan diawasi oleh Go seonsaengnim sendiri. Donghae, Sungmin, Kyuhyun, dan Eunhyuk ada di antara mereka. Byul langsung berdiri di dekat guru olahraga itu. Minjung, Chan, dan Hyosung duduk di tepi lapangan, tempat para pemain cadangan biasanya menunggu.

Beberapa detik kemudian, gerombolan siswi mulai menempati tribun di atas. Bahkan saat lathian, Go seonsaengnim melarang para penonton berada di tepi lapangan (pengecualian untuk teman-teman Byul). Karena menurutnya, hal itu hanya akan mengganggu latihan para pemain. Cukup bagus, setidaknya saat ini Minjung harus berterima kasih pada siapapun yang membangun lapangan ini. Karena ada Shin Hyo Jin di antara mereka.

Minjung dan kedua temannya menghela napas jijik saat mendengar Hyojin berteriak-teriak saat Eunhyuk melakukan dribble. Apa istimewanya sih? Donghae bahkan jauh lebih baik dari lai-laki itu. Go seonsaengnim meniup kencang peluit, lebih untuk mendiamkan Hyojin. Byul di sampingnya menahan tawa. Sementara tiga temannya sudah tertawa jahat di sana.

Setelah itu, mereka berlatih melakukan tembakan tiga poin. Dari sepuluh kesempatan menembak, sebagian besar dari mereka berhasil melakukannya dengan baik. Byul mau tidak mau harus mengakuinya. Hyosung dan Chan bertepuk tangan heboh, Minjung bertepuk tangan datar.

Go seonsaengnim menerima telepon. Byul mengamatinya dengan saksama, berusaha menebak arah pembicaraan. Sesaat kemudian, guru itu menutup telepon, menepuk bahu Byul seraya berkata. “Ada rapat guru dadakan. Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Awasi latihan mereka, aku akan kembali paling lama satu jam.”

Byul mengangguk sopan. Go seonsaengnim pergi. Byul menyeringai.

Latihan selanjutnya, men-dribble bola kemudian mencetak angka dari area tiga poin. Ada tiga orang yang akan bertindak sebagai lawan, mencegah orang itu mencetak angka. Kyuhyun berhasil dengan baik. Donghae sedikit menyenggol lawan sebelum mencetak angka, tapi berhasil. Langkah Sungmin berjalan dengan mulus. Eunhyuk cukup sulit menghindari tiga lawan karena ini latihan pertamanya.

“Lihat bolanya!” Byul meneriaki Eunhyuk dari tepi lapangan. Gadis itu memegang sebuah bola basket, entah untuk apa. “Bagaimana kau akan mencetak angka kalau kau hanya mengamati lawanmu?! Mereka akan mengambil bolamu!”

Sepertinya semua pemain baru menyadari bahwa Go seonsaengnim sudah pergi. Yang secara otomatis berarti, Byul yang melatih mereka. Karena Byul tidak akan berani berteriak seperti itu kalau ada Go seonsaengnim. Gadis itu hanya bisa mengomentari jalannya latihan dengan suara pelan dan jauh lebih lembut.

Eunhyuk menghela napas jengkel. “Ini latihan pertamaku! Wajar kalau aku belum mengenali lawanku!”

“Ya, itu benar sekali!”

Hyojin berdiri sambil meneriaki kalimat itu. Byul menoleh, berkacak pinggang. “Siapa kau berani mengomentari latihan para pemain basket?!”

Eunhyuk yang melihat hal itu langsung berkata. “Tunjukkan betapa hebatnya dirimu sampai kau bisa meneriakiku dan Hyojin seperti itu!”

Byul membelalak kaget. Begitu juga dengan Minjung, Hyosung, dan Chan. Donghae Kyuhyun, dan Sungmin juga tidak kalah kaget. Hei, Eunhyuk tahu mereka semua membenci Hyojin, tapi.. hari ini dia membela orang itu?

Byul menatapnya hina. “Baiklah, jika itu bisa membuatmu dan temanmu diam.” katanya. Gadis itu meminta lima orang bertindak sebagai lawannya. Dari segi fisik, Byul kalah telak dengan tubuh 170 sentinya. Ditambah lagi, ini permainan yang tak adil, lima lawan satu. Tapi itu sebelum kau melihatnya beraksi.

Byul mulai men-dribble bola. Salah satu lawan berhasil menghadang Byul, tapi Byul berkelit dengan mengangumkan. Kontrol bolanya bagus sekali. Kemudian untuk beberapa detik bola dikuasai lawan. Bola dilempar ke pojok kanan lapangan. Lawan lain menyambutnya dengan baik. Ketika ia hendak melakukan tembakan, Byul dengan gesit merebut bola yang tengah melayang, kemudian gadis itu men-dribble bola menuju keranjang lawan, berkelit dari siapapun yang mencoba merebut bola darinya, dan saat ia berada di area tiga poin, ia melompat, melakukan shooting, dan berhasil.

Hyosung dan Chan bertepuk tangan lebih heboh lagi. Minjung menyeringai, bertepuk tangan.

Eunhyuk membelalak. Meskipun Byul sepupunya, ia tidak pernah melihat Byul bermain basket semengagumkan ini. Lagipula ia menantang gadis itu hanya supaya tidak ada yang mengetahui mereka saudara sepupu, kesepakatan mereka dari awal. Tetapi Byul seperti terlalu menghayati perannya.

Seluruh angota tim basket sekolah melihat Byul dengan mulut ternganga.

Byul tersenyum miring, mengambil bola. Satu tangannya berkacak di pinggang, sementara tangannya yang lain digunakan untuk memutar bola di satu jarinya.

“Apa kau sudah bisa diam sekarang?” Byul bertanya pada Eunhyuk. Hyojin terduduk, takjub.

Latihan kembali dilanjutkan. Kali ini, mereka latihan seakan sedang bertanding sungguhan. Dua tim dengan lima orang di tiap timnya telah menempati posisi masing-masing. Permainan menjadi semakin seru. Byul mengamati mereka. Hyosung dan Chan larut dalam pertandingan dengan cepat. Minjung mengamati mereka semua dengan malas.

Tapi sekonyon-konyong, ketika Eunhyuk mencetak angka, sementara Hyosung dan Chan heboh seperti biasa, Minjung merasa seperti disihir. Sejak saat itu, hanya satu orang yang Minjung perhatikan.

Hei. Minjung memang tidak terlalu suka menonton pertandingan olahraga, kecuali bila para sahabatnya yang berlaga. Namun saat ini, entah kenapa, pandangannya mengikuti kemanapun Eunhyuk bergerak. Ia berusaha terlihat tidak peduli, tapi itu susah sekali dengan keberadaan Hyosung dan Chan di antara dirinya. Tapi kemudian ia menyadari keduanya tidak memperhatikan Minjung yang sedang memperhatikan Eunhyuk.

Ia tampak tegang saat Eunhyuk dihadang lawannya, marah saat ada yang membuat Eunhyuk terjatuh, dan diam-diam tersenyum saat Eunhyuk mencetak angka.

Di atas semua itu, ia bisa melihat Byul kesal karena sepanjang pertandingan Hyojin tak henti-hentinya berteriak menyemangati Eunhyuk dengan berisik. Namun Minjung yakin sekali, ia jauh lebih kesal dari Byul.

Apa yang terjadi pada dirinya?

Minjung tidak mengerti, sungguh. Terlebih ketika Byul meneriaki Eunhyuk karena kurang memperhatikan situasi sehingga gadis itu melempar bola tepat mengenai kepalanya, entah kenapa Minjung harus mengakui bahwa ia marah.

“YAA!!”

Dua orang berseru bersamaan. Tapi Minjung langsung cepat menutup mulutnya, dan bertindak seakan tak ada yang terjadi. Dan Minjung menyadari, bukan dirinya yang berteriak.

Itu Hyojin, dari tribun, berteriak marah sambil menunjuk-nunjuk Byul.

Hyosung dan Chan terlihat was-was. Minjung mengawasi. Byul menoleh sebentar menatap Hyojin seakan tak terjadi apa-apa.

Sampai sejurus kemudian, Byul melempar bola, dengan kekuatan seakan dia tengah melakukan jurus taekwondo mematikan, mengarah pada Hyojin, dan tepat mengenai wajahnya.

Itu adalah hal yang paling membahagiakan bagi Hwang Min Jung.

☆☆☆

Pertandingan selesai menjelang malam. Minjung menolak dengan halus saat Donghae menawarkan diri akan menemaninya pulang, karena ia melihat sepertinya Chan ingin sekali pulang dengan Donghae. Ia juga harus mampir sebentar di supermarket untuk berbelanja kebutuhan bulanannya. Ia keluar sekolah dengan sepedanya.

Minjung mengayuh dengan santai, berusaha untuk tidak terlalu memikirkan kenapa ia bertindak aneh sepanjang latihan basket tadi.

Gadis itu berhenti di sebuah supermarket besar, segera berbelanja semua kebutuhannya, dan langsung keluar dengan belanjaan. Ia mengikat belanjaan itu di tempat boncengan. Setelah memastikan belanjaannya tidak akan jatuh, Minjung memposisikan dirinya di sadel.

Tetapi pada saat itu, ia melihat seorang laki-laki dan perempuan yang sangat dikenalinya berjalan melewati supermarket. Kedua orang itu tidak memperhatikan dirinya.

“Apa sesakit itu?” si laki-laki bertanya penuh kekhawatiran. Minjung mengerjap kaget, tidak jadi melaju dengan sepedanya.

Si perempuan terisak pelan. “Ini sakit sekali..” ia merengek, menunjuk wajahnya pada laki-laki itu. “Sungguh.. ini sangat sakit..”

Minjung harus mengakui bahwa saat ini ia sangat ingin muntah.

Keduanya berhenti melangkah tepat di bagian ujung bangunan supermarket. Si laki-laki mengusap wajah si perempuan dengan sangat lembut. “Tidak apa.. berhentilah menangis.. wajahmu tetap sama cantiknya bagiku..”

Siapapun yang membawa kantung muntah,tolong, Hwang Min Jung membutuhkannya.

Si perempuan perlahan tersenyum, menyeka kasar air matanya. Ia menatap laki-laki di depannya dengan pandangan penuh arti. “Terima kasih..”

Minjung sudah ingin pergi, sebelum dia benar-benar muntah. Sampai sekonyong-konyong, ia melihat si laki-laki mengeluarkan dua lembar foto dari dalam saku jaketnya.

“Aku mau menanyakan padamu satu hal.” Laki-laki itu bertanya.

Shin Hyo Jin sedikit limbung saat Lee Hyuk Jae menurunkan tangan dari pipinya.

“Apa kau yang memotret foto ini?”

Hyojin diam. Minjung membeku.

Eunhyuk bertanya lagi. “Apa kau yang memberikan foto ini padaku? Aku menemukan foto ini sebulan yang lalu di mejaku. Apa kau yang meletakannya?”

Hyojin tetap diam. Minjung masih membeku di tempatnya.

Eunhyuk menghela napas. “Kalau kau memang ingin menyatakan perasaanmu dengan memberikan foto ini padaku, kenapa kau tidak bisa menjawabku?”

Hyojin menggeleng. Minjung tampak terkejut.

“Baiklah, aku akan bertanya sekali lagi..” Eunhyuk mundur selangkah, kembali mengacungkan foto. “Apa kau yang memotretku, memberikan foto ini padaku, dan diam-diam ingin aku menjadikanmu sebagai kekasihku?”

Minjung hampir berteriak saat melihat Shin Hyo Jin mengangguk seraya menjawab tegas. “Ya, itu milikku.”

Hari-hari selanjutnya, Hyojin dan Eunhyuk menjadi topik pembicaraan hangat, sementara hubungan yang semakin membaik kembali seperti sedia kala.

m

To Be Continued

 m

Ada yang mau muntah?

Sumpah ini gajelas bet, dan ini bahkan lebih panjang dari part sebelumnya.

Apa masih ada yang baca bagian otak gua yang ga beres ini?

Advertisements

4 thoughts on “Fall For You 5

  1. ciee kek ada yg mulau suka nih sm musuh nya dulu wkwkw.. di awal kek tom & jerry tp sekarang minjung senyum2 sendiri lihat eunhyuk 😁😁

    oh y apa mungkin foto2 itu minjung yg motret?? soalnyo ko mj dia kaget pas denger dan lihat foto yg di pegang eunhyuk

    Liked by 1 person

    1. Cerita ini emang mainstream HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAAH ini emang awal tuh bedua ketemu, sama2 ga suka HAHAHAHA makasih ya udah bacaaaaaaa 😂😂💃💃

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s