Fall For You 3

168999

Poster by POKUPON

#3 : They don’t talk anymore

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 (END)

***

SEJAK saat itu, Minjung memilih untuk tidak mengenakan kacamatanya dan memutuskan memakai benda itu hanya saat ia berada di dalam kelas. Ia sedang menabung untuk membeli kacamata baru, dan uangnya belum cukup. Dan soal softlens yang dimilikinya, ia tidak memakainya karena ternyata nilai minusnya sudah berbeda dari matanya yang sekarang. Jadi, ia akan langsung memakai kacamatanya saat memasuki gedung sekolah agar ia tidak diomeli Donghae.

Seperti biasa, ia akan mendapat petualangan seru di perjalanannya. Hari-harinya menuju sekolah kini dipenuhi oleh suara tabrakan yang disebabkan oleh dirinya sendiri dan teriakan marah orang-orang yang ditabraknya. Bahkan hari ini ia menabrak anak kecil yang sedang menyebrang dan kakek-kakek renta. Ia dimarahi dengan tidak tahu diri oleh orang-orang saat kakek itu dibantu duduk oleh beberapa dari mereka. Selama sisa perjalanan, Minjung menuntun sepeda tanpa mengemudikannya. Lagipula, sekolah sudah tidak jauh lagi.

Tapi baru saja ia masuk ke parkiran sepeda, seseorang menjegal kakinya sehingga ia jatuh tersungkur. Sepeda menindihnya.

“Oh, maaf!” seseorang berseru.

Minjung kenal suara itu. Masih orang yang sama yang mengusik kehidupannya selama di sekolah.

Gadis itu berputar, telentang di jalanan. Ia mengangkat sepeda menjauh dari dirinya, kemudian berdiri. Sepedanya disandarkan di pohon. Orang itu berdiri di hadapannya, hanya mengamatinya dengan penuh rasa senang, tanpa sedikitpun ingin menolong.

“Apa kau hanya bisa melakukan ini padaku?!” Minjung berucap marah.

“Memangnya kenapa?” Eunhyuk membalas tidak peduli. “Kau pantas mendapatkan semua itu karena semua perlakuanmu padaku dan kesombonganmu yang sepertinya tidak akan hilang.”

Minjung melipat kedua tangannya, hanya mengamati orang ini tanpa berkata apapun. Harus ia akui, ia cukup kejam dalam memperlakukan Eunhyuk di kelas. Mengatainya bodoh, menertawai jawabannya, berkata judes saat tidak bisa menuliskan apapun yang dikatakan para guru dan akan diakhiri dengan hinaan yang super menyakitkan. Oh ayolah, yang di depannya saat ini adalah seorang laki-laki!

“Kau termakan fakta-fakta yang selalu kubeberkan?” Minjung tertawa jahat. “Laki-laki macam apa itu? Hei, jangan merasa dirimu istimewa karena kau selalu dicacimaki olehku! Masih banyak orang yang pernah aku hina yang lebih parah dari ini! Tidak usah merasa tersanjung! Lagipula kau seharusnya senang berkat semua fakta yang kukatakan padamu, aku selalu mendapatkan detensi!”

“Kau seharusnya dikeluarkan dari sekolah ini!”

“Oh ya?” sergah gadis itu ketus. “Tapi kau siapa? Kau hanya anak baru yang berurusan dengan pengacau sekolah yang cerdas! Mungkin sesekali kau harus dihukum untuk membersihkan seluruh penghargaan yang ada di ruang piala. Agar kau tahu nama siapa yang paling banyak ada di sana! Sekolah lebih merasa rugi kehilangan aku daripada kau!”

Eunhyuk baru akan menjawab, tapi Minjung mencegahnya. “Dan soal kesombonganku,” gadis itu menlanjutkan. “Kau tidak punya hak apapun atas diriku. Akulah yang cerdas. Akulah yang dibanggakan sekolah. Jadi wajar saja aku sombong dengan hal itu! Kau tidak lebih hanya seorang penggoda wanita yang mendadak populer hanya karena berteman dengan teman-temanku! Kau harus ingat itu!”

PLAK!

Eunhyuk mengangkat tangannya, menampar keras pipi gadis itu.

Bunyinya cukup nyaring, mengakibatkan beberapa anak yang sedang menempuh perjalanan ke gedung sekolah terhenti. Memilih untuk menyaksikan mereka.

Entah kenapa Minjung merasa sakit luar biasa di pipinya, padahal ia sudah sering ditampar para kakak tingkatnya karena mulutnya. Air mata terkumpul di kelopak matanya, namun ia mati-matian mencegahnya agar tidak jatuh.

Ia kembali menatap Eunhyuk. “Kau pikir kau akan menyadarkan aku kalau kau menamparku?” ucapnya pelan. “Kau sungguh menyedihkan.”

Gadis itu berjalan pergi meninggalkannya, mengikuti para murid karena ia tidak bisa melihat.

☆☆☆

Hal pertama yang ia lihat ketika ia tiba di kelas adalah, semua sahabatnya tengah mengobrol ceria dengan Byul. Hanya Kyuhyun yang tidak ikut bergabung. Chan berada di dekat Donghae, sesekali keduanya saling tatap dan kemudian tertawa bersama.

Minjung melewati mereka tanpa mengatakan apapun.

“Hei, Jung!” ia mendengar Sungmin tiba-tiba berseru. Ia duduk di tempatnya, memandangi teman-temannya yang balik memandanginya dengan aneh.

“Apa?” Minjung bertanya.

“Kau sangat kacau.” Hyosung mengomentari. “Apa yang terjadi padamu?”

Sebelum Minjung ingin melihat apa yang dimaksud Hyosung dengan kacau, Donghae langsung menghampirinya. Ia bisa melihat ekspresi Chan yang tidak biasa.

“Kau tidak memakai kacamtamu lagi?!” bentak laki-laki itu.

Minjung menyadari dengan bodoh bahwa ia lupa memakai kacamatanya.

“Memangnya kenapa?” Minjung bertanya polos, berusaha sebisa mungkin mengabaikan raut wajah Chan. “Aku tidak mati kan?”

Donghae menjitak keras kepala gadis itu.

Minjung mendesis sebal. Ia mengeluarkan tempat kacamatanya, menangkat benda itu dan menunjukkannya pada semua orang.

“Hei.” Byul berseru. “Apa yang terjadi dengan kacamatamu?”

“Aku jatuh di parkiran sepeda tadi.” Minjung menjelaskan singkat.

“Itu menjelaskan betapa kotornya seragammu, nona Hwang.” Kyuhyun menyahut, entah sejak kapan laki-laki itu berada di sampingnya. “Dan beberapa luka di siku dan lututmu.”

“Kau persis seperti anak 7 tahun yang baru belajar naik sepeda dan terjatuh dengan mengenaskan.” Donghae mengejek.

Minjung menatapnya sekilas, lantas menyeka seragamnya dari debu dan kotoran. Donghae yang berada di dekatnya membantu membersihkan dan merapikan rambut gadis itu.

Minjung menepis tangan Donghae. “Aku bisa melakukannya sendiri.”

Tapi laki-laki itu tidak mendengarkan. Ia tetap merapikan rambut panjang Minjung.

“Pakai kacamatamu.” perintah Donghae. Kini laki-laki itu duduk di meja, menatap tajam Minjung. “Aku akan mengawasimu kali ini.”

Gadis itu menatap jengah sahabatnya. “Tidak bisakah kau lihat apa yang terjadi dengan kacamataku? Mataku akan sakit sekali!”

“Dan bagaimana kau bisa melihat apapun yang ditulis di papan tulis?” semprot Donghae tidak peduli. “Aku yakin sekali kau tidak mungkin meminta teman semejamu untuk membacakan semua yang ada di papan tulis untukmu. Aku tidak lupa kalau kau sangat membencinya.”

Minjung diam, tidak berkutik.

“Pakai. Kacamatamu. Sekarang.” Donghae memberi perintah. Tegas. Lugas. Tak terbantahkan.

Minjung menurut.

Donghae mengangguk-angguk puas. “Bagus sekali.”

Saat itu, Eunhyuk masuk ke kelas. Seperti biasa, Shin Hyo Jin akan menyapanya dengan super genit dan super menjijikkan. Laki-laki itu tersenyum dengan terpaksa, berjalan menuju tempat duduknya. Semua orang sontak menyebar, kembali ke tempat duduk masing-masing.

Minjung sama sekali tidak mempedulikan laki-laki itu. Eunhyuk juga melakukan hal yang sama.

Sebelum Donghae kembali ke tempat duduknya, ia berbisik di telinga Minjung. “Aku serius akan mengawasimu hari ini, nona Hwang. Kau milikku sekarang.”

Eunhyuk duduk, mengamati Donghae yang kembali ke tempat duduknya, di depan mereka bersama Hyosung. Jung seonsaengnim masuk ke kelas.

Minjung menepuk bahu Donghae sekali, membuat laki-laki itu menoleh. “Aku bukan bocah yang tidak tahu apa-apa.”

“Memang benar. Tapi kau adalah bocah keras kepala yang tidak tahu apa-apa.”

Minjung mencibir sebal, kembali mengamati Jung seonsaengnim yang kini tengah mengabsen para siswa.

Eunhyuk, yang sedari tadi menyaksikan interaksi keduanya, entah mengapa merasakan sesuatu yang tidak biasa di dalam hatinya.

☆☆☆

Hari ini adalah jadwal Minjung mengembalikan buku perpustakaan. Kunjungannya ke tempat itu agak berbeda hari ini, karena ia tidak sendirian. Untuk pertama kalinya tanpa dibujuk, Donghae memaksakan diri untuk menemani gadis itu ke sana.

“Oh ayolah,” erang Minjung menaiki tangga. “Aku bukan anak kecil! Lagipula aku tahu jalan menuju perpustakaan!”

Donghae tidak menanggapi gerutuan gadis itu.

“Pergilah.” usir Minjung dengan kedua tangannya. “Aku tidak terbiasa pergi ke perpustakaan denganmu!”

“Bukankah sudah kubilang kau milikku sekarang?” Donghae membalas, dengan sedikit meninggikan nada pada tiga kata terakhir. Membuat para siswa perempuan menoleh terkejut pada mereka, meski sebenarnya mereka sudah terbiasa melihat interaksi Donghae dan Minjung. Banyak sekali yang menginginkan mereka menjalin hubungan yang lebih serius karena merasa miris kala tahu mereka hanya bersahabat sejak kecil. Tapi tidak. Hwang Min Jung dan Lee Dong Hae adalah pasangan yang membuktikan mereka tetap bersahabat sampai akhir, meski interaksi mereka seperti pasangan kekasih.

“Kau bisa menemani Chan di ruang musik atau melakukan apapun selain menemaniku!” kali ini Minjung berkata dengan sedikit berbisik.

“Kau jauh lebih penting dan berharga.”

Minjung tidak lagi banyak bicara.

Ketika masuk ke perpustakaan, mereka menyapa Miss Kim bersamaan, kemudian menghampiri meja wanita itu.

“Tingkat kedisiplinanmu sangat tinggi, nona Hwang.” ujar Miss Kim senang. “dan seandainya saja kau juga disiplin memanggilku Miss, aku pasti akan jauh lebih senang.”

Gadis itu tersenyum kecut. Ia berbalik, berbisik pada Donghae. “Katakan kalau kau bawa kantung muntah untukku!”

Donghae terkikik pelan. “Sayang sekali, Chan lupa memberikannya padaku.”

Minjung menuju rak buku sambil menggerutu.

“Jadi kau yang sering terlihat bersamanya.. kau tahu? Semua orang disini sering membicarakanmu dengan Minjung.” gumam Miss Kim mengangguk-angguk.

“Saya tahu maksud Anda. Hubungan kami tidak seperti itu. Kami berteman baik sejak kecil. Dan selalu bersama hingga sekarang. Katakan saja hal itu pada semua orang jika memang ada yang bertanya, dan jika memang ada yang perlu untuk tahu.” Donghae mengakhirinya dengan senyum.

Aigoo.. kau sangat ramah, Nak.” puji Miss Kim. “Kau sangat berbeda dengan si pengacau Minjung. Katakan padaku, apa yang membuat kalian berteman baik?”

Donghae tidak menjawab, untung saja, karena akhirnya Minjung menghampiri mereka.

Miss Kim kembali tersenyum ketika Minjung menulis di buku daftar pinjaman. Lalu ia menoleh pada Donghae. “Kau sendiri? Apa kau tidak meminjam?”

“Saya minta maaf, Miss Kim..” ujar Donghae dengan sopan. “Bukannya aku tidak berminat, hanya saja aku sudah punya buku berjalanku di sini.” ia melirik Minjung, dan tersenyum penuh arti.

Minjung memutar bola matanya. “Apa kau masih mau mengobrol dengan hal―maksudku Miss Kim, atau kita akan ke kelas sekarang?”

“Jangan terlalu terburu-buru, nona Hwang.” jawab Miss Kim sekenanya. “Biarkan aku mengobrol dengan temanmu ini.”

Minjung berpaling ke arah Donghae. Ia mendelik begitu melihat adanya bulir-bulir keringat dingin di wajah laki-laki itu. Donghae menatapnya dengan tatapan memohon.

“Maaf hal―maksudku Miss Kim, kami harus pergi sekarang.” pamitnya kepada Miss Kim. Minjung menyelipkan lengannya di siku Donghae, lalu menarik laki-laki itu dan berjalan keluar dari perpustakaan. Ketika mereka sampai di puncak tangga, Donghae mendadak berhenti.

“Kau kenapa?” tanya Minjung menyeka keringat Donghae dengan tangannya.

“Oh, kau menyelamatkan aku dari kucing tua genit itu, Jungie..” Donghae mundur selangkah, lalu mengangkat tangannya memberi isyarat menunggu. “Tunggu di sini sebentar, oke? Aku akan kembali.”

Donghae berlari meninggalkan Minjung, lalu berbelok dengan tajam menuju toilet pria.

Beberapa menit kemudian, ia keluar dari toilet sambil merapikan rambut dan seragamnya. Ia membalas teguran para adik tingkat perempuannya dengan senyum. Ia sudah bisa menebak reaksi mereka jika Donghae sudah melontarkan senyumnya. Minjung sudah sering berkata untuk tidak terlalu menebarkan pesonanya, tapi Donghae hanya merasa ia sedang berbuat baik pada semua orang.

Ia tertegun ketika melihat buku pinjaman Minjung di dasar tangga tempat mereka berhenti tadi. Dimana gadis itu? Apa yang ia lakukan sehingga harus menelantarkan buku perpustakaan di sini?

Laki-laki itu memutuskan untuk mengambil buku itu. Dan saat ia menuruni tangga, ia mendapat jawabannya.

☆☆☆

“Tunggu di sini sebentar, oke? Aku akan kembali.”

Minjung melihat Donghae berjalan menjauhinya, kemudian setengah berlari, dan menikung tajam ke sebuah ruangan. Gadis itu tersenyum.

Minjung duduk di anak tangga teratas, lalu meletakkan kedua buku di sebelah kanannya. Ia membuka kacamata, membersihkan lensanya dengan ujung seragam sekolahnya. Ia menyeka matanya yang berair. Ketika ia hendak memakai kacamatanya, seseorang menendang punggungnya keras sehingga kacamata itu terlepas dari pegangannya, jatuh sampai ke dasar tangga.

Minjung menoleh ke belakang, dan melihat sepasang kaki. Ia menengadah, dan mendapati dirinya melihat sosok laki-laki yang terlihat kabur. Ia menuruni tangga satu per satu, tapi sosok itu lebih dulu darinya. Menuruni tangga dan sampai di dasar lebih dulu dari Minjung. Gadis itu meraba-raba lantai. Bayangkan saja kau harus mencari sesuatu yang bahkan tidak terlihat olehmu. Oh bagus, Minjung tidak menemukan kacamatanya!

Sepertinya Minjung terlalu cepat merasa senang karena ketika ia merasa telah memegang sesuatu yang ianggapnya tangkai kacamata, ia mendengar bunyi sesuatu yang hancur.

“Ups.”

Shit. Tanpa perlu melihat, Minjung sudah tahu siapa yang menendangnya dan menghancurkan kacamatanya.

Laki-laki itu berjalan menjauh, meninggalkan Minjung yang sedang memungut serpihan lensa kacamatanya.

Pada saat itu, terdengar suara langkah kaki di tangga. Dan seseorang memanggil namanya.

Saking kagetnya, Minjung sampai mengepalkan tangannya. Ia mengenal dengan baik suara itu. Mengapa Donghae harus melihat ini? Apa yang akan dikatakannya nanti? Apa ia melihat semuanya? Apa ia melihat orang itu tadi? Apa yang harus Minjung lakukan?

Donghae berjongkok di depan Minjung, mengamati apa yang dilakukan gadis itu. Tiba-tiba ia memanggil. “Minjung-ah?”

Gadis itu mendongkak, memiringkan kepala, menatap Donghae.

Laki-laki itu meraih tangan gadis itu, memperlihatkannya kepada Minjung. “Lihat?”

Mata sipit Minjung melebar, dan tiba-tiba saja air matanya jatuh ketika ia mengerjap. “Pantas saja rasanya sakit sekali..” bisik gadis itu kesakitan. Donghae berdiri, lalu menarik tangan Minjung yang tidak terluka untuk berdiri. Laki-laki itu membawa Minjung ke rumah sakit sekolah―lagi!

“Oh!” kali ini seorang perawat salah satu asisten doker Hong yang menyambut mereka. Ia tampak sangat bersemangat. Ia terkesiap. “Apa yang terjadi padamu?”

Sebagai jawaban, Donghae memperlihatkan tangan Minjung. Ia menuntun gadis itu duduk di tepi salah satu tempat tidur.

“Oh tidak, tidak!” gumam perawat itu. Ia menuju kotak obat-obatan yang tertempel di dinding. “Ini buruk! Sangat buruk!” ia mengambil beberapa helai kain kasa, kapas, sebotol hidrogen peroksida, pembersih luka, dan pinset dari kotak itu, lalu kembali menghampiri Minjung. Ia meletakkan semua itu di tempat tidur, kemudian memulai operasi kecilnya.

Minjung meringis setiap kali sebuah pecahan lensa iangkat dari telapak tangannya. Setelah itu, si perawat membersihkan darah supaya ia bisa memberikan hidrogen peroksida pada lukanya. Minjung mencengkeram lengan Donghae untuk menahan sakit, sementara laki-laki itu mengelus-elus punggung gadis itu untuk menenangkannya. Terakhir, asisten dokter Hong itu membalut tangan kiri Minjung dengan kain kasa.

“Em, maaf?” Donghae berdehem, tidak menyebut nama perawat itu karena ia tidak mengenalnya. “bisakah Anda meninggalkan kami sebentar?”

“Kenapa tidak?” wanita itu mundur teratur kemudian keluar ruangan.

Donghae berpaling menatap Minjung. Gadis itu tengah menyeka air matanya, wajahnya terlihat sedikit pucat.

“Sekarang katakan padaku, nona Hwang,” ucap Donghae serius. “Apa yang terjadi padamu sampai kau berakhir mengerikan seperti ini?”

“Aku sedang membersihkan kacamataku, ketika tiba-tiba ada yang menendangku.” jelas Minjung. Sebenarnya ia tengah memikirkan alasan yang bagus sekarang. “Dan saat aku mau mencari kacamataku, aku malah menginjaknya.”

“Benarkah?” Donghae terlihat tidak percaya. “Kukira Eunhyuk yang menendangmu dan menginjak kacamatamu sampai hancur.”

Minjung benar-benar tidak bisa menyembunyikan kekagetannya, atau berusaha untuk berbohong.

“Dari awal aku sudah curiga.” ujar Donghae. “Kebencianmu pada Eunhyuk, apalagi setelah dia menceritakan saat kau menyeka es krim di bajunya. Aku yakin, pasti dia juga yang membuatmu jatuh dari tangga beberapa waktu lalu. Benar kan?”

Minjung menggigit bibir dan menunduk. Ia menatap kosong tangannya yang diperban. Ia sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi.

“Kenapa kau tidak cerita padaku?!” tanya Donghae tajam. “Kenapa aku harus tahu dari orang lain? Bukan darimu?!”

Minjung mengangkat wajah dan mendelik, menyadari dengan kaget bahwa untuk pertama kali Donghae membentaknya.

“Aku.. tidak punya alasan untuk memberitahu.” Minjung mulai bicara.

“Tidak punya alasan untuk memberitahu?! Apa maksudmu?!” balas Donghae lebih keras.

Gadis itu mengernyit. “Well, dia temanmu. Aku tidak mau kau menjauhinya karena aku. Lagipula, ini masalah pribadiku.”

“Teman? Perlukah aku ingatkan padamu kalau kau ini sahabatku?” Donghae bertanya dengan kesal. “Tentu saja aku lebih memprioritaskanmu darinya!”

Minjung hanya diam, sementara amarahnya sendiri mulai terbit.

“Kau sangat bodoh!” lanjut Donghae marah. “Apa yang kau pikirkan? Memanya kenapa kalau aku tahu? Kenapa kalau kau cerita? Apa kau takut aku akan menjauhimu kalau kau membencinya?”

“Bukannya sudah kubilang, ini masalah pribadiku?!” Minjung balas berteriak. “Ini tidak ada hubungannya denganmu! Ini masalahku dengannya! Bukan kau!”

“Masalahmu?” sergah Donghae. “Lalu selama ini kenapa masalahku selalu menjadi masalahmu? Kau selalu ikut campur dalam masalahku, dan aku tidak pernah keberatan dengan hal itu. Tapi kenapa sepertinya kau ingin menutup diri dariku?!”

Minjung tersentak. Ia kehilangan kata-katanya.

“Sebenarnya apa masalahmu?!” erang Donghae frustasi. “Apa ini karena ayahmu kau jadi seperti ini hah?!”

“Jangan pernah bicarakan ayahku di depanku! Dia sudah mati!” pekik Minjung marah.

“Dan kalau memang begitu kenapa kau menerima kenyataan itu dengan menjadi orang lain?!”

“Aku tidak pernah menjadi orang lain!”

“Setelah ayahmu meninggal, kau bukan lagi Hwang Min Jung yang kami kenal!”

Minjung tersentak mendengar hal itu. Selama ini, Donghae bahkan tidak pernah sedikitpun menyinggung ayahnya obrolan mereka. Tapi kali ini.. mengapa? Tidak pernah ia melihat Donghae bersikap seperti ini padanya.

Laki-laki itu beranjak dari tempatnya, meninggalkan Minjung sendirian di ruangan ini. Ia langsung berjalan ke pintu, berjalan keluar, dan membanting pintu di belakangnya.

☆☆☆

Kali ini Lee Dong Hae tidak akan menyangkal bahwa ia sangat marah pada Hwang Min Jung. Harus kuakui, terlalu kekanakan memang, hanya karena gadis itu tidak mau mengatakan apapun masalahnya padanya, sementara gadis itu selalu menjadi pendengar yang baik untuk setiap masalahnya.

Ia kembali ke kelas ketika Byun seonsaengnim tengah memberikan penjelasan tentang relativitas. Setelah menjelaskan keberadaannya sedari tadi dan keberadaan Minjung dengan setengah hati, ia duduk ke tempatnya.

Ia tahu saat ini semua teman-temannya ingin tahu apa yang terjadi pada dirinya dan Minjung, namun ia memberikan tatapan seakan nanti mereka akan tahu dengan sendirinya. Jadi ia tidak menanggapi saat Hyosung bertanya.

Minjung pantas mendapatkan itu, tegas Donghae dalam hati. Sudah lama sekali ia ingin mengungkapkan hal itu, bahwa ia merasa Minjung berubah. Bahwa ia merasa Minjung menyembunyikan semua masalahnya darinya. Bahwa ia merasa Minjung terlalu menutup diri.

Tentu saja Donghae tidak merasa puas. Meski harus ia akui ia telah menumpahkan kemarahannya pada orang yang tepat. Namun entah mengapa, tiba-tiba saja, ada perasaan mengganjal dalam hatinya. Walaupun hanya sedikit, tapi pengaruhnya luar biasa. Donghae merasa bersalah pada gadis itu. Terlebih setelah ia menyinggung soal ayah Minjung.

Sejak dua tahun setelah kematian ayah gadis itu, inilah pertama kalinya ia berani menyinggung ayah sahabatnya. Memang, sejak saat itulah Donghae ― dan semua temannya ― mulai merasakan perubahan pada gadis itu. Namun.. membawa-bawa orang yang sudah meninggal dalam pertengkaran sungguh tidak benar. Apa ia harus minta maaf? Bukannya seharusnya Minjung yang minta maaf?

Bagaimanapun juga, Minjung atau dirinya-lah yang harus minta maaf. Tetapi setelah dirinya menenangkan diri.

☆☆☆

Gadis bermarga Hwang itu hendak bangkit dari tempat tidur ketika ia merasakan kehadiran seseorang di tempatnya berada. Ia kembali menutup wajahnya dengan selimut.

“Hwang Min Jung-ssi, lima menit lagi jam sekolah akan berakhir. Salah seorang teman kelasmu sudah membawakan ranselmu ke sini tadi.”

Tanpa menyibak selimut, Minjung menjawab. “Terima kasih.”

Setelah menyeka kasar air matanya, gadis itu menyibak selimut, segera duduk di tepi tempat tidur. Ia merapikan seragam dan roknya yang tampak kusut, lalu menyisir rambut dengan jarinya. Ia mengenakan sepatu secepat yang bisa ia lakukan dengan satu tangan diperban, lalu mengambil ransel yang diletakkan si perawat di sampingnya.

Ia berjalan gontai menuju pintu. Gadis itu berhenti untuk memakai ranselnya, ketika ia melihat (bila ia memang bisa melihat dengan jelas) seseorang berlari ke arahnya. Sejak kacamatanya hancur, Minjung hanya mendeteksi orang-orang dan benda-benda sekitar melalui suara. Ia butuh waktu beberapa menit untuk mengenal suara riang yang memanggilnya itu.

“Byul?” gumamnya ragu.

“Memangnya kau mengenal Byul lain selain aku?” sungut Byul.

Minjung menyeringai. “Kenapa kau kembali?” tanyanya.

“Aku tidak kembali. Aku memang baru saja dari lapangan indoor dan kebetulan melihatmu disini.” Byul berkata. “Ah, benar juga. Kau di rumah sakit sekolah saat Go seonsaengnim memanggilku. Beliau membutuhkan aku untuk melatih beberapa peserta taekwondo yang akan tampil dua minggu lagi. Kukira Hyosung sudah mengatakan soal adik Sungmin padamu.”

“Ah.” Minjung mengangguk-angguk. “Dasar atlet. Aku lupa.”

Byul tertawa. Mereka berjalan pelan menuju halaman sekolah.

“Minjung-ah..”

“Ya?”

“Maafkan sepupuku, eoh?”

Minjung mengerutkan kening. “Siapa sepupumu?”

Byul tidak langsung menjawab. “Eunhyuk. Dia sepupuku yang selalu aku ceritakan pada kalian. Dia dulu tinggal di Jepang.”

Minjung menoleh dengan kaget. “Dia sepupumu?!”

Byul mengangguk pelan. “Mereka semua sudah tahu kecuali kau. Aku baru hendak mengatakannya padamu saat mereka bilang kau sangat benci padanya. Maafkan dia, eoh?”

Minjung tetap diam, seraya menegaskan dalam hati pasti Donghae sudah menceritakan pada semua sahabatnya tentang kebenciannya pada laki-laki itu dan kejadian tadi, atau ada seseorang yang melihat kejadian tadi dan langsung menjadikan hal itu sebagai gosip aktual.

“Aku akan memukulinya setelah ini! Aku janji!” Byul heboh sendiri. Mereka hampir sampai di tempat parkir sepeda. “Tapi, omong-omong.. kenapa kau dan Donghae tidak pulang bersama? Eunhyuk mengajaknya ke toko musik, jadi jelas aku harus ikut mereka. Apa Donghae tidak mengajakmu?”

Hati Minjung terasa getir saat mendengar nama Donghae. “Aku pulang ke rumah nenekku.” jawabnya bohong.

Byul memperhatikan sampai Minjung menaiki sepedanya. “Kau yakin akan pulang dengan sepeda? Aku bisa mengantarmu pulang. Masa bodoh dengan mereka. Aku bisa memukuli Eunhyuk kalau dia sudah tiba di rumah.”

“Kenapa tidak?” Minjung mengangkat bahu. “Dibalik semua kecelakaan yang aku alami, aku masih hidup kan?”

Byul menghela napas jengkel. “Kau memang hidup, tapi penampilanmu setelah kau menabrak segala hal itu membuat semua orang melihatmu dengan tatapan prihatin.”

Minjung tertawa. “Pergilah! Aku bisa pulang sendiri!”

“Baiklah kalau begitu. Sampai jumpa! Dan berhati-hatilah, nona Hwang! Aku serius!” pamit Byul. Gadis itu berlari menuju tempat dua laki-laki itu menunggunya.

Minjung tertawa sebentar, kemudian mengamati Byul yang menjauh. Ia memang tidak bisa melihat dengan jelas dimana persisnya mereka menunggu Byul ― nilai minus matanya benar-benar tinggi. Tetapi ketika mengikuti arah gerak gadis itu, ia bisa mengetahui bahwa Byul muncul dengan melompat dan menendang kedua orang itu (seperti tengah melakukan split di udara). Ia dijitak oleh keduanya, kemudian merangkul bahu keduanya dan berjalan menjauh.

Ketika Minjung melihat ― atau yang ia yakin ia bisa melihat dengan jelas sementara yang tampak olehnya hanya pemandangan buram ― Donghae berjalan bersama Byul, dan si anak baru, ia hanya bisa tersenyum miris. Ingin rasanya ia menggantikan si anak baru di sana, tertawa bersama dua sahabatnya. Membiarkan Donghae yang merangkul dirinya dan Byul. Tapi apa yang bisa dilakukannya sekarang? Hanya memandang sahabat terdekatnya tersenyum bersama orang lain? Sangat menyedihkan.

Minjung mengayuh sepedanya keluar sekolah. Dalam sekejap, ia sudah kehilangan orang yang paling berarti dalam hidupnya. Orang yang sudah mengenalnya selama dua belas tahun, orang yang menyayanginya setelah keluarganya, dan orang yang selalu ada untuknya, kini membencinya. Itu jelas sekali. Donghae tidak ingin Minjung berada di dekatnya lagi. Bahkan gadis itu yakin Donghae tidak ingin bersahabat dengannya lagi.

Gadis itu memutuskan untuk tidak pulang ke rumah kali ini. Setelah memperbaiki―atau lebih tepatnya membuat kacamata baru ― ia berkeliling kota dengan sepeda, berusaha untuk menghilangkan kesedihannya. Ia membeli sebuah bubble tea dan burger, kemudian menikmati jalan-jalannya, jikalau ia bisa melupakan perasaannya. Ia terkejut saat ia memutuskan untuk pulang ke rumah, hari sudah malam.

Dan yang lebih mengejutkan lagi, saat Minjung membuka pagar, menuntun sepeda memasuki halaman rumahnya, pintu rumah gadis itu terbuka lebar, dengan seseorang berdiri di sana.

☆☆☆

Keesokan harinya, Eunhyuk duduk terdiam di tempat duduknya. Pelajaran biologi di kelas itu belum dimulai, Moon seonsaengnim belum masuk ke kelas. Laki-laki itu terdiam menatap kursi kosong di sampingnya. Ia sudah merasa tidak enak sejak pagi tadi. Dimana gadis itu? Mengapa ia belum datang? Apa ada yang terjadi?

Sebenarnya ia menunggu Minjung bukan tanpa alasan. Setelah semua yang dilakukannya gadis itu, kini ia ingin meminta maaf. Harus ia akui, tindakannya sangat keterlaluan. Perasaan bersalah itu muncul saat kemarin Donghae masuk ke kelas sendirian, dan menjelaskan pada Byun seonsaengnim bahwa Hwang Min Jung berada di rumah sakit sekolah.

Eunhyuk merasa ada yang aneh dengan Donghae hari ini. Biasanya laki-laki itu akan mengabsen keberadaan Minjung setiap hari. Tapi hari ini, Donghae bahkan tidak berbalik melihat meja Minjung. Ia juga terlihat lebih pendiam. Apa ada yang terjadi di antara mereka?

Semua teman-teman gadis itu tampaknya tidak terlalu mempermasalah ketiadaan Minjung di antara mereka. Mungkin Minjung juga kadang bisa datang terlambat, jadi ketidakadaan Minjung di antara mereka merupakan sesuatu yang lumrah.

Namun.. kalau dipikir-pikir lagi.. mengapa ia harus memikirkan Hwang Min Jung? Mengapa ia harus meminta maaf? Bukannya Minjung pantas mendapatkan itu? Bukannya ia sangat membenci gadis itu?

“Kau memikirkan Minjung?”

Lamunan Eunhyuk terhenti saat sang sepupu mengatakan hal itu. Byul bersandar pada jendela dekat tempat duduknya.

Laki-laki itu mendengus. “Kau tahu aku sangat membencinya.”

Byul mengangkat sebelah alis. “Yeah, sampai harus membuatnya jatuh dari tangga, melempar bola tepat mengenai kepalanya, membuatnya jatuh di tempat parkir, menamparnya, menendangnya dan menghancurkan kacamatanya.”

Eunhyuk bungkam. Cara sepupunya merangkum semua itu membuatnya terkesan seperti laki-laki paling kejam di dunia. Dan sejak kapan Byul tahu kalau ia pernah menampar Minjung? Bukankah tidak ada salah satu dari para sahabat Minjung yang tahu?

“Jangan khawatir. Tidak ada yang tahu semua itu selain aku.” Byul menyindir. “Dan kalau bukan karena Donghae, aku pasti sudah menghajarmu habis-habisan.”

Eunhyuk melihat Byul kembali ke tempat duduknya, di samping Sungmin. Pada saat itu, Moon seonsaengnim masuk ke kelas. “Selamat pagi, anak-anak!” sapanya riang seperti biasa.

Mata coklat Moon seonsaengnim menyapu seluruh kelas sambil tersenyum. Tetapi tiba-tiba senyumannya memudar ketika ia menatap kursi kosong di samping Eunhyuk. “Dimana Hwang Min Jung?”

Seluruh kelas berpaling menatap kursi kosong Minjung. Eunhyuk tersentak kaget. Sedari tadi, kelas tidak ada  menyadari ketidakhadiran gadis jenius itu. Bahkan para sahabat gadis itu, kecuali Byul, kelihatan terkejut sekali.

“Dia.. sakit, seonsaengnim…” Seo Joon Hee, sang ketua kelas menjawab lambat-lambat.

Donghae, Kyuhyun, Chan, Byul, Eunhyuk, Hyosung, dan Sungmin menoleh ke orang itu.

“Benarkah?” guru biologi itu bertanya cemas. “Aku turut sedih.. tapi harus kuakui itu bagus sekali.. itu yang dia butuhkan.. dia memang harus beristirahat sebentar untuk membuat sekolah ini bangga, dan juga.. membuat para guru gila.” ia tertawa hambar dan melanjutkan. “Baiklah, kita mulai pelajaran hari ini.”

Minjung sakit?

b

To Be Continued

b

Well, sejak hari ini, cerita ini bakal aku post 2 kali seminggu, di hari selasa dan jumat, dank arena aku anak burung hantu aku nge-post nya subuh HEHE, biasalah anak paket midnight  #curhatterselubung #maap

As usual, gimana ceritaku?

Moga aja ada yang baca dan ngerespon ya

Tapi kalo gamau dilanjutin juga gapapa, aku juga udah punya cerita baru setelah ini HEHE

 

Advertisements

8 thoughts on “Fall For You 3

  1. huwa 😭😭 kenapa makin kesini minjung makin menderita 😭 terlebih itu karena eunhyuk. perbuatan eunhyuk bener2 udah kelewat batas tuh smpe2 tega nampar minjung 😱 minta gue tabok si eunhyuk nih. dan sekarang minjung kemana??

    Liked by 1 person

    1. Ayo unyuk emang jahad emang WQWQWQWQ hehe ditunggu aja ya hari Selasa si mbak minjung kemana 😊😊😊 makasih loh kamu udah mantengin ceritaku 😊

      Like

  2. si eunhyuk jahat amat yak:(
    tapi minjung juga jahat siy wkwkwk. Etapi Minjung tuh normal tau gak jahatnya /normallyinsane kali/ maksudku, dia gapake fisik gitu cuman modal omongan (nylekit)
    si dongai disini berperan as he is in real lyfe. Sahabat baperan yang pengen dikasi tau semua masalah yang nimpa sahabatnya wkwkwk. Paling gasuka sebenernya sama karakter dia yang baik ke semua orang ((cewe)), bikoz bikin orang delusi hm untung ganteng wkwk
    istilllovethisstory, keep writing juseyo:)))

    Liked by 1 person

    1. Tau tuh jahat amat tuh bedua WQWQWQWQ donge mah gitu, kebiasaan dasar, orang gans mah bebas eon HAHAHA makasih loh eon udah bacaaa 💃💃💃💃

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s