Fall For You 2

168999

Poster by POKUPON

#2 : Everything’s hidden by her

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 (END)

***

MINJUNG berjalan keluar kelas tiga detik setelah guru Bahasa Korea mereka, Gong seonsaengnim keluar. Ia berjalan dengan beberapa buku dalam pelukannya. Ia tidak  membalas teguran beberapa teman seangkatan dan adik tingkatnya. Beberapa menit kemudian, ia sudah menaiki tangga menuju perpustakaan dan masuk melewati pintu kaca transparannya.

Seorang wanita berkacamata sedang duduk di balik meja tinggi dan memeriksa buku pinjaman seorang siswa ketika Minjung masuk dan menuju ke arahnya.

“Selamat siang, Kim halmeoni!” sapa Minjung riang dengan tetap memelankan suaranya. Ia meletakkan buku-buku yang dibawanya tadi di meja tinggi itu.

Halmeoni?!” pekik wanita itu, mati-matian berusaha terdengar pelan. “Panggil aku Miss Kim, nona Hwang! Kalau kau tidak mau mendapat detensi dengan menata ulang buku-buku di perpustakaan, patuhilah perintahku!”

Minjung menghembuskan napas. “Baiklah.. er.. Miss Kim.”

Hwang Min Jung memang satu-satunya murid yang paling gagah berani mengganggu petugas perpustakaan yang satu ini. Ia punya alasan bagus dengan memanggil wanita itu dengan sebutan halmeoni. Bagaimana bisa seorang wanita bersuami dan sudah memiliki cucu dan berusia akhir pertengahan lima puluhan menuntut semua orang memanggilnya dengan sebutan Miss? Yang benar saja!

“Saya mau mengembalikan buku-buku ini.” ia menyorongkan tumpukan buku itu kepada si penjaga perpustakaan.

“Tepat waktu,” wanita itu tersenyum. Lesung pipi dan kerutan menghiasi wajahnya. “Kau tahu? Kadang aku heran kenapa kau bisa menghabiskan buku-buku itu dengan cepat.”

Minjung hanya membalasnya dengan senyuman. Gadis itu kembali mengambil buku, berjalan menuju rak-rak perpustakaan yang menjulang hampir menyentuh langit-langit, dan meletakkan buku sesuai kategorinya. Beberapa detik kemudian, ia kembali ke meja Miss Kim dengan satu buku.

“Kau meminjam lagi?” tanya Miss Kim menurunkan kacamatanya sedikit.

“Saya Hwang Min Jung, halmeo―maksudku Miss..” ia tersenyum paksa. “Kapan Anda melihat saya kembali ke kelas tanpa membawa salah satu buku perpustakaan?”

Miss Kim menyeringai. “Benar juga! Kadang aku merasa kau sudah membaca semua buku yang ada di sini. Apakah itu benar? Ah entahlah, bukan sesuatu yang penting. Oke, buku apa yang kau pinjam kali ini?” ia memposisikan kacamatanya dengan benar.

Minjung memutar bola mata dan menuliskan namanya dan judul buku yang dipinjamnya di sebuah buku.

Setelah selesai menulis, ia berkata. “Baiklah, saya harus pergi! Sampai jumpa, halmeoni..” gadis itu mundur dengan teratur dan berhasil keluar dari perpustakaan.

Wanita itu menghela napas jengkel. Seandainya ini bukan perpustakaan, ia pasti sudah berteriak-teriak di depan wajah Minjung. Seandainya perpustakaan tidak seramai ini ia pasti sudah mengejar gadis itu sampai dapat. Dan bila itu terjadi, ia pasti akan memberikan detensi sesukanya dan selama yang ia mau.

Miss Kim?”

Wanita itu tersentak dari lamunannya.

☆☆☆

Minjung tertawa lepas ketika ia keluar dari perpustakaan. Mengganggu si penjaga perpustakaan merupakan tradisi yang tidak boleh ia lewatkan saat pergi ke tempat itu. Ada kebahagiaan tersendiri baginya, karena dengan begitu, setidaknya ia tidak perlu memikirkan kesedihannya bila mengganggu Miss Kim.

Ia mengamati beberapa orang yang tengah mencuri pandang padanya. Beberapa dari mereka ada yang memandangnya dengan senyum tulus, ada juga yang penuh kebencian. Ada yang penuh kagum, ada juga yang penuh iri dengki. Bahkan ia berpapasan dengan salah satu mantan kekasihnya, menyapanya riang, seolah mereka seperti teman lama padahal orang itu jelas-jelas membencinya.

Ketika sampai di puncak tangga, ia menuruni tangga dengan buru-buru sampai-sampai tidak melihat ada kaki yang menjulur. Tiba-tiba saja, ia sudah terguling menuruni tangga dan sampai di dasar tangga dengan tubuh terlentang. Buku terlepas dari pelukannya

Minjung meringis kesakitan. Dengan amat perlahan ia duduk. Ia beruntung tidak ada orang yang lewat di tangga itu, jadi ia tidak perlu malu. Ia meraih buku yang tergeletak di samping, lalu ketika ia hendak berdiri, seseorang berdiri di depannya. Menghalangi dirinya untuk mengambil buku.

Gadis itu mendongkak, berdecih ketika tahu Lee Hyuk Jae-lah yang melakukan ini pada dirinya.

“Halo.” sapa Eunhyuk.

“Jangan sok ramah padaku.” Minjung mengambil bukunya. Usaha gadis itu patut diakui karena kini ia sudah berdiri dengan satu kaki terpincang menghadap laki-laki itu. Ia meringis pelan, merasa kesakitan di satu kakinya yang terkilir. “Apa ini? Kau hanya berani menindasku di belakang teman-temanku?” 

Eunhyuk tampak kelihatan marah. Sudah hampir sebulan ia bersekolah di sekolah ini dan seumur hidupnya ini pertama kalinya ia bermasalah dengan seorang gadis, bahkan sejak hari pertamanya bersekolah. Mereka saling membenci sejak insiden es krim dan buku itu. Para guru masih bersikeras mempertahankan mereka menjadi teman sebangku, dan pura-pura tidak peduli dengan hal itu, padahal Minjung sudah terang-terangan menunjukkan kebencian dan rasa muaknya. Sudah selama itu mereka saling membentak dan meneriaki, dan itu cukup mengganggu suasana kelas. Semua sahabat Minjung juga tidak bisa berbuat apa-apa, karena, yah.. Eunhyuk sudah menawarkan persahabatan pada mereka sementara mereka juga tahu betapa bencinya gadis itu pada laki-laki itu, setelah Donghae mengatakan sesuatu yang tidak mau dikatakan Minjung pada mereka.

“Asal kau tahu saja,” laki-laki itu balik menantang gadis itu. “Semua teman-temanmu tidak pantas melihatku melakukan ini padamu, karena kau layak mendapatkannya.”

Minjung memperbaiki posisi kacamatanya dengan sikap acuh yang luar biasa menyebalkan.

“Ada apa denganmu? Tidak terima karena sekarang aku bagian dari teman-temanmu?”

Gadis itu menunjukkan ekspresi kagum. “Oh, tidak biasanya kau mendadak pintar. Ada gunanya juga aku menjadi teman sebangkumu.”

Eunhyuk berdecih. “Kau gadis sok yang sombong, kasar, dan menjengkelkan. Apa yang teman-temanmu lihat darimu?”

Minjung tertawa mengejek. “Kau mengatakan hal itu seakan kau layak menjadi bagian dari kami. Jika kau ingin tahu, Donghae, Sungmin, dan Kyuhyun bukan laki-laki murahan yang suka menggoda gadis manapun yang mereka temui. Para gadis yang menggoda mereka! Dan kau tahu? Aku selalu bertanya-tanya apa mereka tahu tentang ini. Kuharap Chan dan Hyosung tidak termakan rayuanmu. Semoga saja.”

Sesungguhnya, Eunhyuk sudah tidak bisa membalas perkataan gadis sialan ini. Minjung memang bukan lawan yang sepadan dengannya untuk beradu mulut. Tapi sungguh, orang seperti ini harus diberi pelajaran.

“Apa?” Minjung menyilangkan kedua tangannya. “Mau memukulku? Silahkan saja. Para guru bimbingan konseling sudah bosan melihatku keluar masuk ruangan mereka. Kita lihat apa reaksi mereka kalau tahu murid yang baru sebulan bersekolah di sini sudah membuat masalah.”

Eunhyuk menggeleng-gelengkan kepala tak percaya. “Baru kali ini aku bertemu gadis cerdas yang bangga kalau ia selalu membuat masalah.”

Minjung membelalakkan matanya. “Kau memujiku? Terima kasih.” ia tersenyum kecut.

“Kau tidak layak mendapatkan kecerdasan itu.”

“Tapi sayangnya, aku yang memilikinya, bukan kau.” Minjung menyeringai jahat. Kemudian dengan kekuatan tak terduga, Minjung meninju wajah Eunhyuk, lalu menenendang tulang kering laki-laki itu.

Gadis itu berbalik, berjalan dengan terpincang-pincang sembari menahan sakit menuju kelasnya. Rasanya lega bisa mengatakan semua itu, dan itu memang terasa lebih melegakan saat mengatakannya hanya kepada Eunhyuk seorang. Satu tinju seperti tadi juga menambah kadar kebahagiaannya. Seharusnya anak baru itu tersanjung karena seorang Hwang Min Jung mau membuang-buang napasnya yang berharga untuk orang yang sangat ia benci.

Ketika ia sudah mendekati kelas, ia melihat Donghae yang tengah berdiri di ambang pintu, entah apa yang ia lakukan. Ia sudah ingin memanggil laki-laki itu untuk menemaninya ke rumah sakit sekolah. Namun sepersekian detik setelahnya, ia tahu mengapa Donghae berdiri di situ.

Yoo Seung Chan keluar dari kelas, dan mereka pun berjalan bersama entah kemana.

Minjung tersenyum. Untuk artian yang berbeda. Ia memang sudah tahu tentang kedua orang itu, meski mereka belum menyatakannya secara terbuka. Dan Minjung adalah orang pertama yang mendukung hubungan keduanya. Sejauh ini, sejak keduanya saling mengenal saat sekolah menengah pertama, hubungan mereka hanya seperti itu. Saling menyayangi dan peduli tanpa ada status apapun. Donghae sampai sekarang masih belum bisa jujur secara terang-terangan, entahlah kenapa, sementara Chan sudah sering kali terlihat gugup dan tidak berdaya di depan laki-laki itu. Seharusnya Minjung sudah terbiasa melihat Donghae yang selalu mencari perhatian Chan atau interaksi keduanya saat bersama. Tapi.. bagaimanapun, Donghae tetaplah sahabat terbaik gadis itu, dan ia masih sangat membutuhkannya..

Jadi ia pergi ke rumah sakit sekolah sendiri, berharap siapapun yang ada di sana ― entah dokter atau perawat ― mengobatinya.

“Oh, kau rupanya..” ternyata dokter Hong yang menyambutnya. Kepala rumah sakit sekolah. Wajar bila wanita itu bereaksi demikian. Minjung sering keluar masuk tempat ini setelah selesai berkelahi. “Aku lupa kapan terakhir kali kau ke sini karena kau sepertinya sudah tidak pernah lagi berkelahi sampai babak belur dengan siapapun. Sebuah kemajuan. Kali ini, apa yang terjadi denganmu?”

“Aku jatuh dari tangga.” jelas Minjung singkat. Dengan perlahan ia duduk di tepi tempat tidur.

“Kupikir ada duel maut lagi..” dokter Hong mulai mengobatinya. Minjung tidak menanggapi.

Gadis itu berteriak kesakitan ketika wanita berambut merah bergelombang itu mulai memijat-mijat kakinya. Tangannya terkepal menahan sakit.

Setelahnya, dokter Hong mundur selangkah, mengamati pasiennya. “Jauh lebih baik. Kau bisa kembali ke kelas sekarang.”

“Terima kasih.” Minjung membungkuk dalam, keluar dari ruang perawatan.

Dan pada saat itu, ia melihat Donghae dan Chan dari arah yang berlawanan. Mereka terkesiap. “YA, HWANG MIN JUNG! APA YANG TERJADI PADAMU?!”

Minjung menyusurkan tangan di rambut, mengabaikan keduanya yang kini sudah berjalan di antara gadis itu.

“Kau berkelahi dengan siapa lagi?!” tanya Donghae menoleh kepada gadis itu.

“Tangga.” ucap Minjung datar.

“Tangga?” Chan menimpali.

“Aku jatuh dari tangga di dekat perpustakaan. Oh tunggu, jangan menyela!” Minjung mengangkat sebelah tangannya mencegah Donghae bicara. “Aku memang mengganggu kucing tua itu hari ini, tapi dia tidak mengejarku. Aku berlari karena kupikir Byun seonsaengnim akan segera datang. Dan perlu aku katakan padamu kalau aku tidak berkelahi dengan siapapun! Jadi ini sepenuhnya salahku..”

Setelahnya, gadis itu hanya diceramahi oleh keduanya. Mereka tidak henti-hentinya memberikan nasihat pada gadis itu. Minjung hanya mendengarkan dan mengiyakan sesekali hanya untuk membuat Chan dan Donghae senang.

“Kalau kau tidak menyumbangkan banyak prestasi, aku yakin kau pasti sudah dikeluarkan sejak seminggu kau menginjakkan kaki di tempat ini.” adalah satu dari sekian banyak kalimat yang sering diucapkan Donghae untuk menceramahi Minjung.

“Tidak ada yang bisa diceritakan antarguru kalau mereka tidak mempunyai pengacau secerdas aku.” adalah jawaban yang selalu Minjung berikan jika Donghae sudah memarahinya. Biasanya Minjung akan dijitak setelah mengatakan hal itu.

Saat mereka masuk dan melewati ambang pintu kelas, mereka terlonjak kaget karena Kyuhyun, Hyosung, dan Sungmin ― dari tempat duduk mereka ― bereaksi tak kalah heboh seperti Donghae dan Chan di lorong tadi.

Minjung menghela napas. Ia ke tempat duduknya, sementara semua orang mengelilingi gadis yang saat ini tengah berusaha duduk. Chan mulai menjelaskan segalanya.

Donghae menoleh pada Minjung, memincingkan mata, menatap mata gadis itu.

“Minjung-ah, kacamatamu retak.”

Saat itu juga, barulah semua orang menyadarinya.

Gadis itu mendelik. Ia melepas kacamatanya, lalu membolak-balikan kacamata itu untuk mengetahui bagian mana yang retak. “Hanya sedikit..” gumamnya pada diri sendiri. “tidak apa, selama kacamata ini tidak hancur aku akan tetap bisa melihat.” ia kembali memakai kacamatanya.

Tiba-tiba, mereka mendengar suara heboh di pintu kelas. Shin Hyo Jin, terpekik kaget ketika melihat Eunhyuk masuk kelas seraya terpincang-pincang dan menyeka hidungnya yang berdarah.

“Oh Hyukie-ku..” seru Hyojin menjijikkan. “Apa yang terjadi padamu?” ia menghampiri laki-laki itu.

Eunhyuk memutuskan untuk mengabaikan imbuhan kepunyaan pada namanya yang disebut gadis itu. “Kecelakaan kecil.”

Minjung menoleh kepada lima sahabatnya, dan mengernyit jijik. “Aku tidak pernah tahu kalau mereka saling memiliki. Hei, bukankah dia teman kalian sekarang?” pertanyaan itu lebih ia ajukan kepada para lelaki.

“Ada yang punya kantung muntah?” sungut Hyosung.

“Joon lupa memasukannya di tasku.” jawab Chan.

Kyuhyun, Sungmin dan Donghae tersenyum penuh pengertian. Sembari memandangi dua orang itu, Donghae mencium kecurigaan.

☆☆☆

“Oke, sejauh ini aku baik-baik saja.”

Hwang Min Jung turun dari sepedanya dengan amat sangat pelan. Kakinya sudah tidak sakit lagi. Ia membersihkan tanah dan rerumputan dari rok seragamnya, kemudian merapikan rambutnya yang sedikit awut-awutan. Ia berbalik, menyipitkan mata menatap para murid yang berlalu lalang di lapangan. Ia menghela napas, lalu berjalan dengan amat sangat lambat.

Pagi ini, Minjung mencoba untuk tidak berkacamata. Dan juga tidak memakai soft lens (Minjung memilikinya, tapi tidak pernah mau memakainya, sementara semua orang tahu ia tetap cantik walaupun tidak berkacamata). Meskipun begitu, ia tetap membawa kacamata, hanya untuk berjaga-jaga tentunya. Perjalanannya ke sekolah dengan sepeda tadi juga cukup menegangkan. Beberapa kali gadis itu hampir menabrak pohon, kotak pos, tiang lampu, bahkan mobil. Tak lupa ia mendapat ‘sambutan’ dari orang-orang sepanjang jalan. Namun akhirnya ia bisa sampai ke sekolah dengan selamat.

Gadis itu masuk ke kelas dengan memar di beberapa bagian tubuhnya. Mencari jalan menuju kelas memang tidak sulit, namun menghindari murid, guru, bahkan troli alat kebersihan merupakan kendala bagi Minjung. Ia akan diteriaki para guru dan lantas akan membungkuk meminta maaf. Ia tidak hanya menabrak mereka, tetapi juga menabrak dinding yang dikiranya pintu kelas.

“Selamat pagi, nona Hwang..”

Minjung berbalik. Ia kelihatan kaget melihat Donghae menyilangkan kedua lengan ke dada dan memberikan seluas senyum masam. Ia memang rabun, dan jarak pandang maksimal kurang dari lima puluh sentimeter, tetapi ia bisa langsung mengenali Lee Dong Hae dari senyumannya yang khas. Sudah hampir seumur hidup ia melihat dan mengenali senyuman itu.

Ia melihat sekitar Donghae. Terlihat buram memang, tapi ia tahu laki-laki itu sendirian, tidak ada siapapun di sekitarnya. Minjung aman.

“Aku melihatmu. Menabrak orang-orang, dinding, dan berjalan seperti orang buta.”

“Kau mengikutiku?”

Donghae menggeleng. “Tidak juga. Aku hanya kebetulan melihatmu di tempat parkir sepeda tadi.” ia menatap Minjung dari kaki sampai kepala, kemudian berdecak. “Sangat mengerikan!”

“Apa?”

“Penampilanmu!”

Mendengar hal itu, refleks Minjung merapikan rambutnya.

Donghae merengut. “Tidak jauh lebih baik.” ia berjalan mendahului Minjung. Gadis itu memegang ujung seragam Donghae, dan mereka masuk ke kelas.

“Dimana kacamatamu?” tanya Donghae begitu sampai di tempat duduk Minjung.

Sebagai jawaban, gadis itu mengeluarkan tempat kacamatanya.

“Kenapa kau tidak memakainya?”

“Dan membiarkan mataku rusak?” sergah gadis itu. “Aku tidak mungkin memakainya!”

“Jadi kau pikir dengan tidak memakai kacamata, penglihatanmu akan baik? Bukannya kau sendiri yang bilang, itu hanya retak dan selama tidak pecah kau masih bisa melihat?”

“Tidak, tentu saja.” Minjung menghela napas. “Tapi setidaknya sebelah mataku tidak sakit.”

“Kau tidak bilang hal itu pada kami kemarin.”

Minjung meminta maaf.

Donghae memandang Minjung dengan jengkel.

Minjung mendesah pasrah. Ia sangat benci tatapan Donghae seperti itu. “Oke, baiklah, aku pakai. Jangan menatapku begitu!” ia membersihkan lensa kacamatanya dengan hati-hati, lalu memakainya.

Donghae tersenyum. “Gadis baik.” ia merangkul kepala Minjung seklias. Saat itu, mereka melihat Shin Ha Byul, diiringi dua temannya, muncul di pintu kelas. Donghae langsung melepas pelukannya.

Minjung mendadak berdiri, merentangkan kedua tangannya. “Aigoo.. gadis kuat kami..”

Di belakang Byul, Chan dan Hyosung tertawa.

“Sambutan yang bagus sekali.” Byul berkomentar datar. “Aku sangat terharu.”

“Bagaimana makanan rumah sakit?” Donghae bertanya jahil.

Byul sudah menyiapkan kuda-kuda untuk menyerang Donghae kalau saja guru olahraga mereka tidak masuk ke kelas.

“Akhirnya kau kembali, nona Shin.” pria atletis itu menghela napas. “Aku sangat membutuhkan bantuanmu.”

“Oh ayolah, seonsaengnim..” Byul tersenyum ramah. “Sebentar lagi Anda juga akan bertemu dengan saya ‘kan? Pagi ini kelas milik Anda.”

“Ah, kau benar sekali.” Go seonsaengnim mengangguk. Ia langsung berbicara pada semua warga kelas. “Kutunggu kalian di lapangan indoor setengah jam lagi.”

☆☆☆

“Mungkin kalian sudah mempelajari basket di sekolah menengah pertama, tapi disini, aku akan mengajari beberapa teknik selain dribble dan shooting.”

Mata Minjung memang menatap guru berbadan atletis itu, tapi pikirannya entah kemana. Ia hanya cerdas di bidang akademis, tidak di olahraga dan seni. Ia tidak suka olahraga, dan ia benci seni karena tidak ada alat musik yang berjodoh dengannya. Tidak seperti Byul yang sangat pandai di bidang ini, juga Chan dan Hyosung yang sangat berbakat di seni, meski berbeda aliran.

Namun, meskipun seperti itu, ia setidaknya bisa mengerti olahraga melalui teori.

Jadi, ia tidak terlihat seperti orang bodoh saat Go seonsaengnim melontarkan pertanyaan padanya secara tiba-tiba.

Namun sebenarnya, bukan itu yang membuat ia jengkel.

Fakta bahwa Lee Hyuk Jae juga punya bakat luar biasa di bidang olahraga membuatnya sedikit terintimidasi.

Sialan.

Ketika ia berlatih gerakan lay-up dengan Byul, tiba-tiba saja sebuah bola basket melayang dan membentur belakang kepalanya dengan keras. Ia menoleh, melihat Eunhyuk tersenyum mengejek. Ia beruntung, Byul tidak melihat karena gadis itu sedang mengajarkan Hyosung dan Chan.

Minjung membalasnya dengan cukup berani.

Ketika laki-laki itu berlari mengejar bola, ia menggelindingkan bola di tangannya menuju laki-laki itu, membuat Eunhyuk jatuh dengan tidak berperikemanusiaan. Byul tertawa paling keras, meski ia tidak melihat siapa yang mengakibatkan hal itu.

Ketika Eunhyuk menatapnya, Minjung menyilangkan tangan dan mengangkat dagunya dengan angkuh.

Beberapa menit kemudian, Go seonsaengnim mengizinkan murid laki-laki untuk bertanding, sementara murid perempuan bisa berlatih atau beristirahat. Tentu saja ia dan Chan dan Hyosung menepi. Mengamati Shin Ha Byul yang tengah berkali-kali berlatih mencetak tiga angka sendirian, sampai Go seonsaengnim menghampiri gadis itu. Mereka berbicara sebentar, lalu Byul ikut bersamanya.

“Menurutmu dia tidak mungkin dihukum ‘kan?” Chan berkata. “Mengingat ini hari pertamanya setelah dia sakit?”

“Akan ada pertandingan taekwondo antarsekolah.” Hyosung menjawab. “Byul tidak akan diikutsertakan, karena, ayolah, dia sabuk hitam dengan empat strip! Jelas tidak ada yang mau kalah di tangannya! Dan itu juga sudah menjadi rahasia umum! Jadi sepertinya dia diminta untuk melatih beberapa murid calon peserta. Adik sepupu Sungmin mengikutinya. Dan Sungmin sudah memperingatkan kalau anak itu pasti akan bertemu Byul.”

“Dan kalaupun Byul dihukum, aku pasti akan bersamanya.” Minjung tertawa. “Byul tidak akan pernah dihukum sendirian.”

Hyosung mendesah. “Kau menjadi lebih sering membuat masalah sejak kau duduk dengan si anak baru.”

Minjung memandang kedua temannya. “Jika kalian memperhatikan, detensi terakhir yang kudapat karena dia. Aku masih punya tiga hari untuk membersihkan toilet. Bayangkan betapa senangnya si pendek Yoon!”

Chan menggeleng takjub. “Kau beruntung kau cerdas, nona Hwang!”

“Semu guru juga berkata seperti itu.” Minjung tersenyum manis.

Hyosung dan Chan menjitak keras kepala gadis itu. Gadis itu tidak merasakan sakit sedikitpun.

Pada saat itu, mereka melihat beberapa murid perempuan lain mengambil tempat di tribun, dengan jarak sepuluh bangku dari ketiganya. Tanpa sengaja mereka menangkap pembicaraan para penggosip itu.

“Kau melihat Changwoo sunbae kemarin? Dia bersama Hae Young sekarang!”

“Benarkah? Kukira dia masih akan mempertahankan kau-tahu-siapa.”

Minjung, Chan, dan Hyosung saling tatap. Sepertinya para siswi itu tidak menganggap ketiganya ada.

“Tidak mungkin! Setelah kau-tahu-siapa mempermalukannya di kelas kemarin?!”

Kali ini Hyosung dan Chan yang menatap Minjung.

“Aku iri dengannya, kau tahu? Dia cantik ― baiklah aku harus mengakuinya ― juga cerdas. Tidak heran semua pria akan terpikat padanya. Dia sangat sempurna. Terlepas dari betapa sombongnya dia dan betapa pedas mulutnya.”

Minjung hanya tersenyum membalas tatapan kedua temannya, seakan tengah berkata. ‘Hei, dia iri padaku!’

“Oh, lihat saja bagaimana cara dia memperlakukan Eunhyuk!” kali ini mereka kenal suara ini. Hyojin. “Dia benar-benar menganggap dirinya di atas segalanya!”

“Seharusnya kemarin kau melihatnya bagaimana Eunhyuk membuatnya jatuh dari tangga!”

Minjung diam-diam berharap Hyosung dan Chan tidak mendengar pembicaraan mereka yang satu ini.

“Benarkah?!” beberapa terdengar sangat antusias. “Coba ceritakan!”

Hyosung dan Chan langsung menarik Minjung keluuar dari lapangan, menuju toilet wanita.

“KENAPA KAU TIDAK BILANG KALAU KEMARIN KAU JATUH KARENA EUNHYUK?!”

Minjung menutup telinga. Hyosung dan Chan langsung menyudutkannya di dekat wastafel. Toilet ini kosong. Hanya ada merea bertiga di dalam.

“Kau beruntung Byul tidak mendengar hal ini.” geram Chan.

“Oke, baiklah..” Minjung berusaha menenangkan kedua temannya. “Aku sama sekali tidak―”

“Kami sudah menduga kau akan beralasan.” Hyosung memotong ucapan Minjung begitu saja. “Tapi itu tidak penting lagi. Kami juga tidak mau mendengar alasanmu. Apa yang kau lakukan pada Changwoo sunbae beberapa hari lalu?”

Minjung menjelaskan dengan tenang.

“Apa ada lagi laki-laki yang mengejar-ngejarmu?” tanya Hyosung. “Apa kau sedang berhubungan dengan seseorang lagi sekarang?”

“Setelah Changwoo?” Minjung menggeleng. “Tidak.”

Chan menatap Minjung dengan takjub, lalu menatap Hyosung yang juga sama takjubnya. Ini adalah sebuah keajaiban. Minjung sudah sering bergonta-ganti pasangan bahkan setelah seminggu berada di sekolah ini. Jadi melihat Minjung tanpa seorang kekasih adalah hal yang sangat luar biasa.

☆☆☆

Emosi Minjung kian memburuk pada pelajaran-pelajaran selanjutnya, semenjak kejadian saat pelajaran olahraga tadi. Ketika Byun seonsaengnim masuk ke kelas untuk mengisi mata pelajaran terakhir misalnya, saat pria tua tak renta itu menjelaskan beberapa hal tentang relativitas, Minjung hanya memandangi guru itu tanpa benar-benar mendengarkannya. Sampai ketika guru itu mengajukan pertanyaan dan meminta Lee Hyuk Jae mengerjakan soal di papan tulis, barulah Minjung mengamatinya.

Saat Eunhyuk kembali ke tempat duduknya, Byun seonsaengnim mengamati jawaban Eunhyuk dengan saksama. Minjung sepertinya tahu apa yang tengah diamati pria itu.

“Hampir benar.” ungkap Byun seonsaengnim. “Ada yang bisa menambahkannya?”

Minjung mengangkat tangan dengan malas. Tanpa disuruh, ia langsung maju. Gadis itu menghapus semua tulisan di papan pulis, menggantinya dengan tulisannya dan lantas memberikan jawaban dengan cepat dan tepat.

“Bukankah aku mengatakan bahwa aku hanya memintamu untuk menambahkan? Kau tidak perlu menghapus seluruh tulisannya, nona Hwang.”

Minjung menatap hormat pada guru itu. “Anda benar, seonsaengnim. Tapi jika diperhatikan lebih detail lagi, semua angka yang ditulisnya keliru. Tanda paling benar yang dibuatnya hanyalah tanda sama dengan.”

Gadis itu kembali ke tempat duduknya. Ia melihat Eunhyuk tampak sedang menahan amarah.

“Dasar bodoh.” desis Minjung kejam. “Aku baru menemukan orang Jepang yang sebodoh dirimu. Kau membuat malu negara itu, kau tahu?”

Di bawah meja, tangan Eunhyuk terkepal.

Bel tanda pelajaran berakhir pun berbunyi. Semua anak membereskan peralatan tulis mereka, memasukannya dalam tas. Minjung berdiri, menyampirkan tasnya dan berjalan santai.

“Aku harus menjalani detensi.” Minjung berkata saat Donghae menghampirinya. “Tidak usah menungguku. Kau tahu si pendek Yoon pasti akan mengulur waktu agar aku semakin lama membersihkan toilet.”

Gadis itu meninggalkan kelas, berjalan dengan santai menuju ruang guru. Ia menghampiri meja Yoon seonsaengnim, yang letaknya di ujung ruangan.

Seperti kebanyakan meja guru pada umunya, meja wanita itu penuh dengan tumpukan buku pelajaran dan tugas-tugas para murid. Ada sebuah bingkai foto diletakkan di sana, Minjung tidak bisa melihat dengan jelas siapa di foto itu. Yoon seonsaengnim sedang berbicara dengan Moon seonsaengnim ketika Minjung tiba.

“Bagus sekali, nona Hwang.” desis wanita itu. “Kau taat sekali menjalani detensi yang selalu diberikan padamu. Seandainya ketaatan itu bisa kau terapkan di kelas, alangkah damainya kehidupan sekolah ini.”

Minjung hanya tersenyum, membatin dalam hati bahwa jika ia setaat yang wanita itu katakan, alangkah sunyinya kehidupan sekolah ini.

“Kau tidak akan membersihkan toilet hari ini.” Yoon seonsaengnim berdiri. “Sudah ada beberapa murid yang diberikan hukuman itu oleh Han seonsaengnim. Ikut aku.”

Minjung berjalan di belakang wanita itu, mengekorinya. Dalam hati ia tidak menyesal karena keseringan menyebut guru bahasa Inggrisnya pendek. Tinggi badan Minjung, sama seperti Hyosung dan Chan, hanya 165. Secara fisik mereka menang dari guru ini.

Mereka tiba di depan perpustakaan. Wanita itu membuka pintu, masuk. Minjung yang menutup pintu. Ada Miss Kim di sana, duduk di tempatnya yang biasa. Begitu melihat Yoon seonsaengnim dan Minjung, ia sontak berdiri.

“Ah, rupanya nona Hwang yang akan membantuku hari ini. Kenapa kau tidak bilang padaku, Haerin-ssi? Biar aku bisa menyambutnya dengan lebih layak.” gumam Miss Kim senang.

Well,” Yoon seonsaengnim berbalik memandangi Minjung. “Kau akan menjalani detensimu bersama Miss Kim. Dan kumohon hilangkan pikiran kalau kau akan menata ulang buku perputakaan. Meski itu menggiurkan dan cocok sekali dilakukan untukmu, tapi setidaknya aku masih memiliki hati nurani.”

Minjung menunjukkan raut wajah yang menunjukkan bahwa ia mendengar semua ocehan itu tanpa mempedulikannya.

“Dua hari yang lalu, ada banyak sekali buku baru yang datang. Dipandu Miss Kim, kau akan menaruh semua buku itu sesuai kategorinya. Kau paham?”

Gadis itu mengangguk sekali. “Ya, seonsaengnim.”

“Bagus. Aku akan meninggalkanmu disini. Dan perlu aku ingatkan, detensimu berakhir setelah ini. Kau tidak perlu menjalani detensi lagi dariku, kecuali kalau kau mengacau.”

Saat Yoon seonsaengnim meninggalkan tempat ini, Minjung langsung menghampiri si penjaga perpustakaan. “Jadi, halmeo―maksudku Miss Kim, darimana saya harus memulai?”

Wanita paruh baya itu memberikan secarik kertas pada Minjung, kemudian menunjukkan tumpukkan buku di dekatnya. “Itu adalah daftar buku yang tiba dua hari lalu. Kau harus mengecek keadaannya, bagus atau tidak. Coret judul bukunya jika ada dan kondisinya bagus. Beri keterangan apapun kalau bukunya rusak. Susun berdasarkan kategorinya dulu, baru kau meletakannya di rak.”

“Baik, hal―maksudku Miss..”

Minjung duduk di lantai, membuka tasnya, mengambil pulpen, dan mulai bekerja. Sedangkan Miss Kim sendiri bersandar tenang di kursinya, dalam beberapa menit sudah tertidur. Minjung mendengus. Tidak ada yang mengawasi detensinya hari ini.

Ia mengambil earphone, memasangnya ke ponsel dan telinganya, mulai mendengar lagu dengan volume yang cukup untuknya merasa tak terganggu. Ia mengambil satu buku, mengamati judul dan keadaannnya, menulis dalam daftar, kemudian memindahkannya di tumpukan yang sudah disusunnya sendiri berdasarkan kategori. Tubuh dan kepalanya bergerak mengikuti irama lagu. Ia tidak pernah menjalani detensi sebahagia ini.

Satu setengah jam kemudian, semua judul buku yang ada di dalam daftar telah didata dan sudah ada beberapa tumpukan buku baru yang sudah disusun Minjung berdasarkan kategori. Melelahkan juga. Tapi setidaknya ia tidak mati kebosanan karena ia sedang mendengar lagu, bukan mendengar ceramah gratis dari para guru yang ditugaskan untuk mengawasi detensinya.

Ia berdiri, merenggangkan tubuh setelah menyadari betapa lamanya ia duduk, mengambil tumpukan buku, membawanya ke kategori yang sudah ditetapkan. Ia menyusun buku itu, merapikannya, kemudian kembali ke tempat tadi, pergi ke kategori berbeda, dan menyusun bukunya. Terus seperti itu sampai tumpukan buku yang berada di dekat meja Miss Kim menghilang.

Minjung menuju meja Miss Kim, mengamati wanita yang tertidur pulas itu dengan jengkel.

Miss Kim?” Minjung memanggil.

Wanita itu bangun dengan kaget, mengenakan kacamata dan merapikan rambutnya. Ia menatap Minjung dengan wajah mengantuk. “Nona Hwang? Apa yang kau lakukan di sini?”

Minjung melongo bodoh, kemudian menormalkan wajahnya. Ia meletakkan kertas tadi di meja wanita itu. “Anda meminta saya menyusun buku-buku perpustakaan yang baru datang dua hari lalu atas perintah Yoon seonsaengnim. Saya sudah memeriksanya dan semua buku yang ada di daftar ini lengkap, semuanya ada, dan semuanya dalam kondisi bagus. Saya juga sudah selesai menyusun buku itu di kategori yang sudah Anda tetapkan. Dengan kata lain, saya sudah selesai menjalankan detensi yang diberikan Yoon seonsaengnim.

Miss Kim menjentikkan jari. “Ah, kau benar!” cetusnya girang, tertawa sendirian. “Cepat juga kau mengerjakannya, sangat tidak disangka. Tidak ada murid yang bisa menyelesaikan ini dalam dua jam, hanya kau seroang! Hebat sekali! Sering-seringlah mendapatkan detensi setelah ini, nona Hwang! Aku akan meminta siapapun guru yang memberimu detensi untuk membantuku lagi di perpustakaan! Tapi sayang sekali, Yoon seonsaengnim berkata setelah ini kau resmi bebas dari detensimu. Dengan menyesal, aku ucapkan selamat.”

Minjung sama sekali tidak mendengar apapun ocehan yang dilontarkan nenek-nenek ini.

“Terima kasih, Miss Kim. Saya permisi.” Minjung membungkuk hormat, berpamitan dengan layak.

“Oh, baiklah, baiklah!” wanita itu mengangguk-angguk. “Berhati-hatilah di jalan, nona Hwang! Sampai jumpa di perpustakaan! Dan teruslah belajar untuk tidak memanggilku halmeoni! Kau seharusnya sudah terbiasa! Bukankah bagus mendengarmu memanggilku Miss?”

Minjung memutar bola matanya jengah. Ia berjalan menuju pintu seraya menyimpan ponsel, pulpen, dan earphone-nya.

Tiba-tiba saja, dari arah yang berlawanan, seseorang masuk ke perpustakaan dengan terburu-buru. Ia membuka pintu dengan bersemangat sehingga pintu itu membentur keras kepala dan wajah Hwang Min Jung.

Minjung mundur dengan kaget. Kepalanya berdenyut-denyut menyakitkan. Kacamatanya miring. Hidungnya mengeluarkan darah. Bagaimana tidak? Hidungnya membentur semacam penggantung plang yang menandakan perpustakaan buka atau tutup yang terbuat dari kayu.

Gadis itu menyentuh hidungnya dengan jari, membersihkan darah seadanya dengan jemarinya. Karena pintu itu transparan, ia bisa langsung mengetahui siapa pelakunya.

Orang itu menyeringai jahat, penuh kemenangan. Raut wajahnya jelas menunjukkan ia puas telah melakukan itu pada Minjung, yang menunjukkan secara nyata bahwa memang Lee Hyuk Jae melakukan itu dengan sengaja. Tanpa mengucapkan apapun, laki-laki itu pergi begitu saja.

Minjung menuju toilet perempuan, membersihkan darah dari tangan dan hidungnya. Setelah dirasa pendarahan di hidungnya berhenti, ia mencuci tangan.

Ia memandang cermin. Kemudian terkesiap.

Retakan kacamatanya semakin parah.

Minjung melepasnya, mengamati retakan itu dengan saksama. Jika pada awalnya retakan di kacamata Minjung hanya pada lensa kiri di pinggirannya, sekarang setengah lensa kirinya retak parah, jatuh sedikit saja akan hancur. Lensa kanannya retak seperempat bagian.

“Laki-laki brengsek. Berani bertindak hanya di belakang semua orang.” umpatnya kembali memakai benda itu, keluar dari gedung sekolah, menuju tempat parkir sepeda.

v

To Be Continued

 c

HAHAHAHAHAHAHAHAH

Gimana? Makin tak jelas kah? :3

Maaf ya kalo ini kesannya kek apa banget dah WQWQWQ

Advertisements

2 thoughts on “Fall For You 2

  1. lama2 si eunhyuk kurang ajar juga, masa balas dendam dg cara kasar sih 😱 sm yeoja pula lagi.. hedeuh.. apa dia gak bisa beain yeoja sm namja apa. dan apa maksud minjung tidak memikirkan kesedihan lagi ?? apa dia ada masalah dg keluarga??

    fighting thor buat next chapternya 😀

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s