The Most Ridiculous Request

whatsapp-status-for-brother-and-sister

She’s weird and selfish, but she loves him so much.

Hug Me Once

***

PEPOHONAN di sini tumbuh dengan rapi, mengikuti alur jalan setapak ataupun ditata sedemikian rupa dengan jarak yang sama setiap pohonnya. Udaranya benar-benar asri dan sejuk. Dedaunan tumbuh dengan lebatnya menutupi langit, menimbulkan kesan hijau dimana-mana. Tidak heran nama tempat ini adalah Grünewald – yang bila diartikan secara harfiah – Hutan Hijau. Pengunjung tempat ini juga dari berbagai usia. Anak-anak, remaja, bahkan orang-orang tua senang menghabiskan waktu di sini.

Termometer menunjukkan angka sepuluh derajat celcius. Para pengunjung banyak yang menggunakan jaket tebal, topi rajut, maupun syal. Beginilah udara di akhir musim semi. Riak air di sungai Havel bergerak tenang. Seorang gadis yang tengah duduk menghadap sungai merentangkan tubuhnya.

“Ahh..” gadis itu menghirup udara dengan berlebihan, lalu menghembuskannya. Ia mengeratkan jaket tebalnya, memandang seorang laki-laki di sampingnya yang tengah asyik dengan ponselnya.

“Sibuk sekali,” ujar gadis itu berusaha menarik perhatian. “Ayolah oppa.. kapan lagi kita bisa liburan bersama seperti ini?”

“Tunggu sebentar..” balas pria itu masih dengan ponselnya. Beberapa menit kemudian, ia menaruh ponsel di saku jaketnya. “Baiklah, sekarang aku tidak sibuk lagi..”

“Huh..” dengus gadis itu. Ia mengambil sebuah kerikil, lalu melemparnya ke sungai Havel. Ketika ia hendak mengambil batu lagi, gadis itu bersin dengan keras, beberapa kali. Ia menyeka hidungnya yang berlendir dengan tangannya. Dan bersin lagi.

“Ayo, kembali ke hotel,” ajak pria itu. “Lihat, kau jelek kalau hidungmu merah.”

“Tidak apa-apa, oppa..” gadis itu menyeka lagi hidungnya. “Aku masih mau di sini..”

Laki-laki itu berdiri. “Ayo!”

“Tapi op―ACHOO!!”

Gadis itu mendengus keras, membersihkan hidungnya dari lendir.

Lee Dong Hae memandang adiknya diam, dan tanpa aba-aba dia menyelipkan kedua lengannya masing-masing di bawah lutut dan bahu gadis itu. Kemudian mereka berjalan meninggalkan Grünewald.

Ya!” teriak Lee Joo Hae dalam gendongan. “Baiklah, baiklah! Turunkan aku!”

Donghae menurunkan adiknya dalam sekali hentakan. Gadis itu menggerutu kesal setelah kakinya sudah menginjak tanah.

☆☆☆

“Oppa.. kenapa kita tidak jalan-jalan lagi?”

Kini Joohae berada di kamar hotel tempatnya dan sang kakak menginap, sedang berbaring malas. Di tempat tidur di seberangnya, Donghae tengah duduk termenung menatap ponselnya. Kelihatannya dia tengah menunggu seseorang menelepon.

Pria itu tidak menggubris pertanyaan Joohae. Tepat ketika ponselnya berdering, ia langsung mengangkat telepon itu.

Joohae menyipitkan mata, berusaha menyimak percakapan.

“Baiklah.. Malam ini juga kami ke bandara.. Tak usah menjemput, kami bisa pulang sendiri..”

Gadis itu menyipitkan mata, tidak mengerti dengan apa yang diucapkan pria itu.

Donghae menutup telepon, menatap adiknya. “Bereskan semua baju-bajumu. Kita pulang malam ini.”

Sunyi beberapa saat, sampai akhirnya..

“APA?!”

☆☆☆

Hari sudah malam ketika kakak beradik itu masuk ke dalam taksi, menempuh perjalanan menuju bandara. Suhu udara kota ini turun beberapa derajat dari sebelumnya. Tidak heran Joohae hampir mati kedinginan saat cukup lama mereka menunggu taksi. Dan ketika taksi datang, mereka berdua masuk dengan terburu-buru.

Gadis itu menghela napas kasar, membuat kepulan uap keluar dari mulutnya, berembun di kaca jendela mobil. Ia menikmati gemerlap kota Berlin dengan wajah ditekukkan, nyaris tanpa kebahagiaan. Ia melirik seseorang di sampingnya, yang tengah asyik dengan gadget di tangannya. Ia menghela napas – lagi! – dan menatap jalanan dengan muram.

“Oh berhentilah mendesah, Lee Joo Hae..” tegur Donghae tanpa beralih dari ponselnya.

“Kenapa kita harus pulang malam ini?!” seru Joohae kesal. “Masih banyak tempat yang belum aku kunjungi!”

“Apa?!” Donghae mendengus. “Lalu kau sebut apa Katedral Berlin, Reichstag, istana Neuschwanstein, Checkpoint Charlie, Stuttgart, Bonn, Dresden, Lindau, Hamburg, Hannover, Heidelberg? Kita bahkan ke Oktoberfest, dan kau bilang masih banyak tempat yang belum kau kunjungi?”

“Katedral Köln, tebing Rügen, gerbang kota Holstentor, istana Charlottenburg, museum Jewish, Düsseldorf!” cecar gadis itu. “Aduh! Aku bahkan tidak mengunjung teman ku Mark, padahal aku pulang melalui Frankfurt!”

Donghae hanya diam. Ia sudah tidak mau lagi meladeni adiknya. Gadis itu terus menggerutu bahkan saat mereka mulai mengemasi barang-barang mereka. Joohae tidak salah memang, ia marah karena kepulangan mereka yang sebenarnya empat hari lagi harus dipercepat menjadi malam ini.

Semua itu bukan tanpa alasan. Kita mengenal dengan baik seorang Lee Dong Hae Super Junior kan? Ia benar-benar sibuk. Setelah rangkaian tur dunia yang baru saja selesai, para anggota Super Junior mulai disibukkan dengan persiapan come back. Jadi Donghae belum bisa menikmati waktunya dengan leluasa. Sudah berulang kali ia memberi pengertian — dengan mengatakan bahwa hal ini benar-benar krusial — namun Joohae tidak mau mengerti rupanya. Yang ada di pikiran gadis itu adalah, liburan dan bersenang-senang.

Selama perjalanan Berlin – Frankfurt, mereka tidak berbicara satu sama lain. Sampai akhirnya taksi yang mereka tumpangi berhenti di depan bandara internasional Frankfurt.

“Kita sudah sampai.” ujar Donghae mengumumkan. Ia menyerahkan beberapa lembar Euro kepada sang supir, kemudian keluar dari taksi.

Joohae turun dengan raut wajah yang tidak berubah. Masih tetap cemberut. Ia menerima koper dari sang supir tanpa memberikan wajahnya sedikitpun. Ia berjalan cepat memasuki bandara meninggalkan sang kakak.

Donghae hanya menggeleng-gelengkan kepala. Ia menyusul Joohae dengan tidak terlalu terburu-buru. Ia tahu adiknya sedang tidak membutuhkannya sekarang. Ia tidak mau lagi mempertahankan egonya sehingga ia memarahi gadis itu dan kembali bertengkar hebat dengannya. Sudah cukup pertengkaran yang dulu, dia tidak mau mengulanginya lagi.

Secara tiba-tiba, Joohae berhenti di ambang ruang Keberangkatan Internasional. Ia baru ingat bahwa tiket pulangnya ke Korea dan paspornya ada di tangan sang kakak.

Donghae mau tidak mau tersenyum dalam hati. Gadis itu ternyata masih tahu diri juga.. Ia menunjukkan dua tiket dan dua paspor pada security, lalu mereka melewati x-ray – berserta barang-barang mereka – dan akhirnya menuju tempat check-in.

Setelah itu, mereka berjalan menuju ruang tunggu. Cukup jauh memang, mengingat betapa besarnya bandara ini. Mereka bisa melihat, di sepanjang bandara ini banyak sekali makanan dan minuman yang dijual.

Donghae jadi ingat, bahwa mereka belum makan apapun sebelum ini.

“Joo-ya, apa kau lapar?” tanya pria itu.

“Tidak!” jawab gadis itu ketus.

Donghae mengerutkan bibirnya. “Ayo kita makan!”

“Aku tidak lapar!”

Pria itu menarik tangan Joohae ke salah satu restoran bandara. “Kita belum makan apa-apa sejak tadi! Ayo!”

Gadis itu menghempas tangan Donghae. “Bukannya aku sudah bilang, aku tidak lapar?!” bentaknya. “Kalau oppa mau makan, makan saja! Tidak usah mengajakku!”

Pandangan semua orang tertuju pada kedua orang itu. Donghae berusaha bersikap sewajarnya pada sang adik.

“Joohae-ah..” ucap Donghae memelas. “Aku tidak mau kita bertengkar lagi, oke? Jangan memancing perhatian semua orang di sini. Aku mohon, ikuti aku dulu. Setelah kita sampai di Korea nanti, kau bisa memarahiku sepuasnya. Aku mohon saat ini dengarkan aku..”

Tanpa menunggu reaksi gadis itu, Donghae tetap menarik tangan gadis itu menuju restoran itu.

Donghae memesan makanan untuk dua orang, kemudian kembali ke tempat duduknya. Begitu makanan datang, dia langsung melahapnya, seperti orang yang tidak makan berhari-hari. Begitu juga dengan Joohae. Mau tidak mau pria itu tersenyum saat Joohae melahap makanannya dengan rakus. Gadis itu lapar rupanya..

Setelah selesai makan, mereka kembali berjalan menuju ruang tunggu. Joohae meninggalkan pria itu di belakangnya.

“Joo..” panggil Donghae berusaha mengejar gadis itu.

Joohae tidak merespon panggilan itu. Ia terus saja berjalan.

Laki-laki itu mendesah kasar, menyamakan langkahnya dengan sang adik. “Semarah itukah kau padaku?”

Gadis itu tidak menjawab. Ia kembali mempercepat langkahnya.

Donghae meraih tangan gadis itu, sehingga kini mereka jalan sambil bergandengan tangan. “Apa yang harus kulakukan supaya kau tidak marah lagi padaku?”

Seakan mendapat sinyal, gadis itu memberikan perhatian penuh pada kakaknya. Raut wajahnya menjadi ceria. Bibirnya yang sedari tadi merengut mengembangkan senyum manis. Ia berteriak riang, menatap kakaknya dengan mata berbinar.

“Kembali ke hotel! Jangan pulang malam ini! Tambah waktu liburan kita, oppa! Ya, ya?”

“Tidak.”

Joohae memiringkan kepala. Raut cerianya berubah cepat menjadi bingung. “Eh?”

Laki-laki itu memberikan tatapan bersalahnya, berharap Joohae mengerti. “Maaf, kalau itu aku tidak bisa.” jawabnya. “Kau tidak lihat dari kemarin manager hyung terus meneleponku? Dia selalu bertanya kapan aku pulang dan aku selalu mengulur waktu hanya untuk dirimu! Sekarang dia benar-benar marah dan kita harus pulang!”

Joohae menggembung pipinya. “Tapi, oppa, aku hanya butuh tiga hari saja..”

“Tidak.”

“Oppa..” pelas Joohae memohon.

Gadis itu mencoba mengubah taktik. Bermaksud membuat Donghae akan luluh padanya jika ia memohon.. dan nyaris hampir menangis.

“Tidak.” jawab Donghae tegas. “Bahkan jika kau menangis meraung-raung di sini pun aku tidak akan menurutinya. Aku sibuk. Dan kau juga harus bekerja.”

Bagus. Lee Joo Hae tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Taktiknya terbaca sudah.

Tidak banyak yang ia inginkan. Ia hanya membutuhkan waktu tiga hari untuk mengunjungi tempat yang disebutkannya tadi. Setelah itu ia berjanji tidak akan meminta hal yang aneh dan tidak rasional lagi pada kakaknya.

☆☆☆

Begitu masuk ke ruang tunggu, Joohae langsung menuju bangku paling pojok, jauh dari kerumunan orang-orang. Untuk menyibukan diri, ia mengeluarkan novel yang belum selesai dibacanya.

“Donghae oppa pelit, bodoh, dan kejam!” maki gadis itu mulai membaca bukunya.

Orang yang disebutkan namanya itu mendengus. Ia duduk persis di depannya. Jadi jelas saja dia bisa mendengar ‘pujian manis’ itu dari mulut Joohae. Meskipun harus dia akui, ‘pujian’ itu agak sedikit menyakitkan. Namun dia sudah tahu apa yang harus dilakukan pada adik kecilnya itu.

Membiarkan adiknya, dia berkutat kembali dengan ponselnya. Dia memasang headphone ke telingannya, membiarkan beberapa lagu mengalun lembut merasuki dirinya. Membuar dirinya tenang.

Ia menatap gadis itu dari atas ponselnya. Joohae tidak kelihatan cemberut lagi. Ia sedang terhanyut dalam cerita yang dibacanya. Raut penasaran bercampur terkejut dan serius kini menghiasi wajah gadis itu. Entah mengapa, Lee Dong Hae senang melihat wajah natural sang adik seperti itu.

Di ruang tunggu, dia merasa seolah dunia berkumpul menjadi satu di sini. Beragam bahasa menyusup ke telinganya. Dia bisa mengidentifikasi mereka semua dari tujuan keberangkatan mereka. Awalnya terdengar pengumuman kepada penumpang Dubai, beberapa menit kemudian penumpang Paris. Setengah jam berlalu, berangkatlah penumpang New Delhi. Kemudian, penumpang Stockholm mulai meninggalkan ruang tunggu.

Tanpa ia sadari, setiap kali ada pengumuman untuk penumpang, Joohae memasang baik-baik telinganya untuk mendengar pengumuman kepada penumpang Incheon.

Satu jam menunggu, dan akhirnya pengumuman itu terdengar. Tapi bukan pengumuman keberangkatan.

Delay?!”  pekik Joohae tak percaya. Dia kembali membaca dengan raut wajah kesal. Ia duduk bersila di kursi, memangku bukunya di sana, dan membaca sambil bertopang dagu.

Jujur, Donghae juga merasakan kekesalan yang sama. Namun dia tidak serta merta menunjukannya. Dia lebih memilih kembali pada ponselnya dan memperhatikan gadis itu diam-diam.

Lalu terdengar seruan keberangkatan untuk penumpang Oslo. Dan penumpang Meksiko City. Lima belas menit kemudian, berangkatlah penumpang Kairo. Pengumuman delay kepada penumpang tujuan Tokyo. Pembatalan keberangkatan pada penumpang destinasi Athena. Pemberitahuan keberangkatan pada penumpang Jakarta. Pemberitahuan kepada penumpang Sydney untuk masuk ke pesawat. Dan keberangkatan penumpang tujuan Santiago.

Dan akhirnya, kembali terdengar pengumuman kepada penumpang tujuan Incheon. Tapi lagi-lagi, pengumuman penundaan keberangkatan.

Delay lagi?!” teriak Joohae sebal.

Donghae berpaling ke arah sang adik, yang kelihatannya sudah sangat bosan menunggu. Aneh, tadi dia ingin memperpanjang liburannya. Tapi sekarang dia ingin pulang cepat-cepat. Apa sebenarnya yang ada di otak gadis itu?

Dia melihat adiknya menutup wajah dengan buku. Lalu duduk tegak sambil mengusap-usap wajah dengan kesal. Gadis itu kembali melanjutkan membaca dengan posisi yang.. ehm.. agak tidak normal. Kakinya bergelantungan di lengan kursi, sementara buku yang dibaca diletakkan di atas pahanya.

Donghae kembali mendengar musik dengan headphone-nya. Setelah hampir setengah jam mendengar musik, dia kembali melirik Joohae dari atas ponselnya. Tidak ada pergerakan. Ia menegakkan kepala, menyipitkan mata. Gadis itu tidak bergerak sama sekali.

Penasaran, pria itu mendekatinya. Gadis itu tetap tidak bergerak. Kedua kakinya masih bergelantungan di lengan kursi. Donghae sedikit mendorong gadis itu, dan ia terkekeh ketika mengetahui bahwa ternyata Joohae tertidur. Yang membuat laki-laki ini agak terkejut adalah, kondisi Joohae yang agak sedikit berbeda. Gadis itu merapatkan tubuhnya lebih dalam ke kursi – walaupun itu tidak ada gunanya – dengan wajah memerah dan bibir yang agak bergetar.

Donghae menggeleng begitu menyadari kebodohan adiknya. Dia meraih ransel Joohae, mengeluarkan syal, sarung tangan, dan topi rajut hangat yang masih sangat baru. Dia kembali teringat betapa hebohnya sang adik ketika melihat tiga benda itu saat perjalanan mereka di kawasan Postdam Platz.

“Lee Joo Hae bodoh, egois, dan menyebalkan..” gumamnya sembari memakaikan tiga benda itu pada gadis itu. Kemudian dia memasukan novel gadis itu ke dalam ransel. Setelah itu, barulah Donghae mengubah posisi tidur Joohae.

Perlahan, dia menarik gadis itu agar duduk tegak, lalu mendekatkan dirinya agar Johae bisa menyandarkan salah satu sisi tubuhnya di tubuh Donghae. Dia membenamkan wajah gadis itu di dadanya, sementara satu tangannya merangkul pundak atau sesekali mengelus kepala gadis itu.

Donghae tersenyum ketika menyadari bahwa kini tubuh gadis itu gemetaran.

Dia memeluk Joohae. “Uh, adik kecilku kedinginan..” bisiknya.

Tiba-tiba, dia merasakan adanya pergerakan. Gadis kecil itu bergerak gelisah dalam pelukan Donghae. Kedua tangan Joohae digunakan untuk memeluk dirinya, dan kepalanya dibenamkan semakin dalam di dada sang kakak. Donghae merapatkan tubuh gadis itu padanya, memperbaiki posisi tangan gadis itu agar melingkar di pinggangnya. Sesekali, dia mengecup puncak kepala Joohae yang tertutup topi, atau memainkan jemari gadis itu. Beberapa menit kemudian, Donghae mengikuti jejak sang adik. Terlelap dengan kepala bersandar pada kepala adiknya.

Kakak beradik itu tampaknya tidur dengan sangat nyenyak dan posisi yang sangat nyaman. Hampir satu setengah jam mereka teridur sampai akhirnya seruan keberangkatan kepada penumpang tujuan Incheon terdengar.

Donghae bangun terlebih dahulu, membuka matanya, mengerjap. “Akhirnya..” katanya senang. Dia menusuk-nusuk pelan pipi gadis itu dengan telunjuknya. “Joo..” panggilnya lembut. “Bangunlah.. kita akan berangkat..”

Joohae bergeming.

“Joo..” panggil Donghae lagi. Perlahan dia melepas rangkulannya. Gadis itu tetap di alam mimpinya.

Laki-laki itu menghela napas. Dia mengambil ransel Joohae, menyandarkan gadis itu pada bangku, dan berdiri. Dia menarik gadis itu agar bangun. Usahanya berhasil – untuk sesaat.

Kini seluruh tubuh Joohae terbaring di sepanjang bangku itu.

Donghae mau tidak mau menahan tawanya. Hanya mereka berdua dan beberapa orang di ruang tunggu ini. Jadi tidak heran hal itu agak menarik perhatian.

Akhirnya dia memutuskan untuk menggunakan cara yang bahkan sudah dia pikirkan sebelumnya. Dia menyelipkan satu lengannya di bawah lutut Joohae sementara lengannya yang lain merangkul bahu gadis itu.

“Ah, dia benar-benar ringan..” gumam Donghae sambil berjalan keluar ruang tunggu. Dia menunjukkan tiket kepada pramugari – kalian bisa memikirkan sendiri bagaimana caranya, setelah itu mereka masuk ke pesawat.

Laki-laki itu tetap bersikap biasa sementara dia dihadiahi tatapan kagum semua orang. Oh ayolah! Memangnya kenapa jika ia menggendong adiknya yang sedang tertidur?

Dengan lembut Donghae mendudukan Joohae di kursi penumpang. Setelah itu dia memasukan ransel keduanya di bagasi. Lalu dia memakaikan Joohae sabuh pengaman, mengatur kursi sang adik agar gadis itu bisa tidur dengan baik, dan menyelimuti Joohae. Kemudian dia melakukan semua itu untuk dirinya.

Dia kembali mendengar lagu, sementara pesawat mulai bergerak. Sesekali dia memandang ke luar jendela. Langit malam ternyata diguyur hujan, namun tidak terlalu lebat. Hanya gerimis. Dia  kembali terfokus dengan lagunya.

Sekitar empat puluh lima menit kemudian, pramugari mulai mengantarkan makan malam untuk para penumpang. Saat pramugari sampai di tempat Donghae dan Joohae, dia mengambil dua makanan. Ia membuka meja di depannya, dan meja Joohae.

Dan tepat pada saat itu, sang putri tidur terbangun.

Joohae mengucek kasar matanya. Dia melihat kakaknya sedang membuka meja lipat di depannya, dan meletakkan makan malam di sana.

Gadis itu tampak bingung. Dia melihat ke bawah, menyadari bahwa kini selimut menutupi tubuhnya. Dia terkejut saat mengetahui bahwa dia mengenakan topi rajut, sarung tangan, dan syal. Dia bahkan bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Sejak kapan dia memakai semua itu? Sejak kapan dia ada di sini? Terakhir kali hal yang bisa diingatnya adalah dia menggerutu akibat delay nya pesawat dan – tentu saja – Lee Dong Hae. Tapi sekarang dia di sini, di dalam pesawat yang menuju Incheon, sedang memandang bingung sang kakak yang tengah menikmati makan malam dengan lahap.

“Makan.” perintah singkat Donghae.

Dengan patuh, Joohae membuka makanannya. Dia makan dengan perasaan tidak mengerti.

“Sederhana saja,” Donghae berucap setelah meneguk airnya. “Kau ketiduran di ruang tunggu dan aku menggendongmu ke sini.”

Gadis itu tiba-tiba berhenti makan. Dia menatap kosong laki-laki di sampingnya yang tengah makan dengan tenang. Sepertinya kalimat sederhana itu sudah bisa menjelaskan semuanya. Donghae yang memakaikannya tiga benda itu. Donghae juga yang.. menggendongnya.. dari ruang tunggu.. sampai ke pesawat ini..

Joohae makan dalam diam. Larut dalam perasaan bersalahnya.

Setelah pramugari mengambil tempat makan mereka, kakak beradik itu kembali ke aktivitas mereka. Donghae dengan lagunya, dan Joohae dengan pikirannya.

“Oppa tahu?” tiba-tiba gadis itu berkata. “Seharusnya oppa meninggalkanku di sana.”

“Heh?” Donghae menoleh. “Memangnya kenapa? Bukannya kita berangkat bersama?”

“Setelah apa yang kulakukan,” Joohae memainkan ujung selimut dengan gugup. “Seharusnya oppa melakukan itu.” ia mengangkat wajah, menatap tepat pada mata sang kakak. “Maafkan aku..”

Donghae hanya diam.

“Oppa kan yang memakaikan ini padaku?” Joohae menunjuk topi, syal, dan sarung tangan. “Oppa juga kan yang menggendongku sampai ke sini? Oppa bahkan melakukan semua itu.. setelah aku marah-marah?”

Gadis itu menatap kakaknya dengan mata berkaca-kaca. “Aku benar-benar anak yang tidak tahu diri. Egois, dan kejam.. Aku bahkan membuat kita menjadi pusat perhatian.. Aku hanya memikirkan diriku sendiri sampai-sampai aku lupa kalau kakakku adalah seorang artis yang memiliki waktu liburan yang sangat sempit.. Oppa pasti kecewa denganku.. Aku minta maaf..”

“Hei, hei,” pria itu menatap adiknya, lalu mengamati sekitarnya, memastikan tidak ada yang melihat mereka. “Jangan menangis, Joo..” dia menyeka air mata gadis itu dengan jemarinya. “Kau adikku, dan selamanya adalah adikku.. Jadi tidak ada salahnya kan seorang kakak melakukan hal itu?”

Donghae membawa Joohae ke dalam pelukannya. Membiarkan gadis itu menangis dalam diam. Menyalurkan rasa sayangnya dengan belaian pria itu di kepala adiknya.

Di balik bahu gadis itu, Donghae menyeringai. Mudah saja menaklukan gadis kecil ini. Semarah apapun Lee Joo Hae, segila apapun hal yang dia lakukan, Lee Dong Hae pasti bisa menaklukannya.. dengan sedikit kelembutan.. dan kasih sayang yang dimilikinya.

“Sekarang, tidurlah..” pria itu melepaskan pelukan, menuntun gadis itu merebahkan tubuhnya di kursi. “Ini sudah malam, dan perjalanan kita masih panjang.”

Joohae menurut. Dia menarik selimut sampai menutupi dagu, lalu menoleh. “Oppa?”

Donghae mengangkat alisnya.

“Aku janji tidak akan meminta hal-hal aneh dan tidak rasional lagi padamu..” Joohae menutup matanya, mulai masuk ke alam mimpi. “Aku janji..”

Donghae tersenyum. “Tidurlah..” katanya lagi sembari memperbaiki posisi topi, syal, dan selimut gadis itu. Dia menutup topi rajutnya sampai menutupi mata, lalu dia sendiri pun mulai terlelap.

☆☆☆

Ruang tamu di rumah itu tenang. Cahaya matahari menembus kaca jendelanya. Tirai jendela bergerak tenang, mengikuti irama angin yang bergerak pelan. Tidur di sepanjang sofa, seorang gadis tengah asyik dengan ponselnya.

Lee Joo Hae terduduk, membelalak kaget menatap benda itu, kemudian dia berteriak-teriak kegirangan, dan berlari menaiki lantai atas rumahnya, menuju kamar seseorang. Tanpa mengetuk pintu, dia masuk begitu saja, tanpa permisi.

Seseorang yang tengah berbaring di sana, memandang gadis yang terlihat heboh itu dengan bingung.

“Oppa!!” pekiknya menunjukkan ponsel pada Donghae. “Ada tiket murah tujuan Yunani!! Ayo, oppa! Kita tidak mungkin menyia-nyiakannya begitu saja kan?”

g

End

 

Advertisements

4 thoughts on “The Most Ridiculous Request

  1. Kalau kayak gini, gue juga pengen jadi adiknya donghae 😊😊 udah orangnya romantis sekarang jd oppa yang penyayang dan super perhatian sm dongsaengnya ☺ beruntungnya kau joohae 😀😀

    Oh ya thor, apa perasaan aku aja ya kalau kalimatnya ada yg sama dengan ff kamu sebelumnya yg pernah kamu buat di WP.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s