Be A Good Girl

tumblr_m6gg2hhzgg1r9xp6bo1_500.png

So, go out your comfort zone and you’ll find how wonderful it is!

***

PANDANGAN gadis itu tidak terlepas dari layar ponsel yang ada di genggamannya. Jemari gadis itu bergerak lincah di layar. Sesekali satu tangannya terangkat untuk mengambil camilan di sampingnya, dan memasukannya ke mulut. Lalu ia kembali terfokus pada layar.

Shin Ha Byul tengah menikmati sore sembari bermain game. Ia duduk di tepi balkon dengan kaki menjuntai. Waktu menunjukkan pukul lima lebih tujuh belas menit saat gadis itu berteriak-teriak pada layar ponsel.

“Sialan!” pekiknya kesal. “Aku kalah lagi!” dan ia melanjutkan permainan.

Cho Kyu Hyun berdiri di ambang pintu balkon ketika ia melihat gadis’nya’ tengah asyik sendirian di sana. Ia berjalan mendekat, dan berdiri berjarak tiga langkah dari Byul. Bahkan dengan jarak sedekat ini, gadis itu belum menyadari keberadaannya.

Ia duduk di tepat di belakang gadis itu, memeluk dari belakang, mengalungkan kedua lengannya di pinggang kecil gadis itu.

Ya!” Byul tersentak. Bunyi dua benda bertabrakan terdengar dari ponselnya. “Lihat! Karena kau aku kalah!”

Laki-laki itu tidak mengindahkan kekesalan Byul. Ia malah mengangkat satu tangannya merangkul leher gadis itu, sementara tangannya yang lain tetap di pinggangnya.

“Aku merindukanmu, Byul..” bisik Kyuhyun tepat di telinga gadis itu. Ia membenamkan wajahnya di balik bahu gadis itu.

Byul bergidik ketika napas Kyuhyun berhembus di telinganya. Bulu kuduk gadis itu meremang. Well, sejujurnya ia juga sangat merindukan laki-laki’nya’ ini. Biasalah, orang kantoran, kalian tahu? Namun bagaimanapun juga, gadis ini tidak akan serta merta menunjukkan kerinduannya. Hei, ini masalah harga diri, jika kalian mengerti maksudku..

Jadi ia membiarkan Kyuhyun membenamkan wajah di bahunya, mengecup pipinya dan kepalanya berkali-kali. Seperti saat ini.

Kini Kyuhyun mengangkat wajah, menopang dagu di bahu gadis itu. “Apa yang kau lakukan?” tanyanya.

Sebagai jawaban, Byul menunjukkan layar ponsel pada laki-laki itu.

Kyuhyun mendengus. “Cih, Subway Surfers. cibirnya.

“Memangnya kenapa?” balas Byul acuh tak acuh. “Setidaknya aku jauh lebih unggul darimu!” lanjutnya menyombongkan diri.

“Lebih unggul?” Kyuhyun tertawa. “Oh, Byul ku sayang.. Aku seorang gamer. Jadi game seperti ini tidak ada apa-apanya bagiku!”

“Sombong sekali kau..” gadis itu balik mencibir.

“Kau mau bertanding?” tantang laki-laki itu.

“Siapa takut?!”

Kyuhyun mengubah posisi duduknya. Kini ia duduk di samping gadis itu. “Bagaimana kalau kita taruhan?”

Byul mengangkat bahu. “Jika kau kalah, kau harus menemaniku berlibur selama seminggu dan menuruti semua yang aku inginkan!”

Kyuhyun mengangguk. “Jika kau kalah, kita akan berkencan. Tetapi, kita berkencan di rumah. Kau harus mengenakan gaun dan rambutmu harus digerai. Juga, kau yang harus menyediakan makanan untuk kencan kita.”

“APA?!” Byul berteriak histeris.

“Itu kesepakatannya, nona.” Kyuhyun mengangkat bahu.

Byul membulatkan mata, menelan ludah dengan susah payah. Tantangan ini cukup berat baginya. Mungkin bagi perempuan pada umumnya, memasak, mengenakan dress dan sepatu hak tinggi adalah hal biasa. Namun itu semua adalah kendala besar bagi seorang Shin Ha Byul.

Selain unik, aneh, dan anti-mainstream, gadis itu adalah gadis yang cukup, bahkan sangat, tomboy. Kurasa satu kata itu sudah menggambarkan segalanya. Hanya saja, rambutnya tidak dipotong seperti model gadis tomboy pada umumnya. Ia pernah memotong rambutnya dengan model bob dan sebagai akibatnya Kyuhyun tidak menegurnya selama satu bulan penuh. Sejak saat itu ia tidak mau lagi memotong rambutnya dan membiarkannya panjang begitu saja. Sayangnya, Byul lebih sering mengikat rambutnya.

Kyuhyun menyeringai, mengulurkan tangannya. “Bagaimana?”

Tapi akhirnya gadis itu mengulurkan tangan, berjabat tangan dengan laki-laki nya. “Sepakat!”

Tampaknya Byul berani sekali menerima tawaran Kyuhyun, padahal dalam hatinya ia sangat takut. Dalam bidang ini, Kyuhyun jauh lebih unggul darinya. Ia mulai tidak percaya diri.. dan takut. Bagaimana jika ia kalah? Ia tidak bisa membayangkan dirinya mengenakan benda-benda wanita itu.

Yang terpenting sekarang, bermain dan mengalahkan Kyuhyun. Ia harus membuang jauh rasa takutnya itu supaya ia bisa menang.

Kyuhyun mengeluarkan ponselnya. “Kau siap?”

Byul mengangguk.

Dan permainan pun dimulai. Byul menarik napas, berusaha santai. Sementara Kyuhyun memang sudah santai dari awal.

Tiga menit berlalu, dan keduanya masih bertahan. Jemari mereka bergerak lincah, bergerak menghindari segala rintangan, mendapatkan banyak koin, dan bonus-bonus selama perjalanan.

Tetapi beberapa detik kemudian, Byul salah menggerakan jemarinya sehingga gadis itu menabrak sebuah penghalang kereta. Bunyi kekalahan yang khas terdengar dari ponselnya.

Oow.

Saat ia hendak memulai permainan baru, Kyuhyun berdehem.

Byul tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia hanya bisa menunggu Kyuhyun menyelesaikan permainannya.

Dua menit kemudian, barulah Kyuhyun menyelesaikan permainannya. Atau seharusnya kukatakan, laki-laki itu membiarkan dirinya kalah. Itu disebabkan karena ketika ia melirik Byul, gadis itu sudah merengut kesal, menunggunya selesai bermain.

“Berapa skor-mu?” tanya Kyuhyun sopan.

Byul memajukan bibirnya. “Kalaupun aku mengatakannya, kau pasti pemenangnya!” gerutunya.

“Gadis baik!” Kyuhyun mengacak-acak rambut gadis itu.

“Kyuhyun-ah, bisakah kita tidak melaksanakan taruhan ini?” pelas Byul. “Kau tahu kan kalau aku tidak bisa memasak.. dan tidak punya satupun gaun dan sepatu hak tinggi?”

Kyuhyun mengangkat bahu tak peduli. “Taruhan tetap taruhan, Sayang..”

“Bagaimana kalau rok?” tawar gadis itu. “Setidaknya ‘kan?”

Kyuhyun menggeleng. “Rokmu hanya satu dan aku sering melihat kau memakainya saat kau bekerja.”

“Kyu-ya..” rayu Byul.

“Tidak!”

Oppa..”

Kyuhyun mendengus, sedikit terkejut karena Byul memanggilnya begitu. “Sikap sok manis itu sangat tidak cocok denganmu!”

Gadis itu diam, sedang memikirkan taktik baru.

“Tapi, bagaimana kalau aku tidak mau?” tantang Byul akhirnya.

“Aku akan menyebar semua foto memalukanmu pada teman-teman kita!” ancam Kyuhyun.

YA!” Byul memukul lengan laki-laki itu.

“Aku akan memberimu waktu tiga bulan. Bagaimana?” tambah laki-laki itu. Ia menarik dagu, dan menjamah bibir gadis itu. Kemudian, ia berdiri. “Masaklah sesuatu yang enak untukku, sayang..”

Kyuhyun berjalan meninggalkan gadis itu di balkon sembari menyeringai.

☆☆☆

“Hyosung-ah..”

Cha Hyo Sung―yang tengah berbaring di sofa sembari mengutak-atik ponselnya―melirik gadis yang duduk di lantai, di sampingnya. Kini mereka berada di ruang tengah rumah Hyosung.

“Apa?” kata Hyosung tanpa memalingkan wajah.

“Aku harus bagaimana?” rengek Byul. “Kyuhyun benar-benar kejam!”

Yeah, Byul sudah menceritakan semuanya pada para sahabatnya itu.

“Kau tahu? Menurutku Kyuhyun melakukan hal yang benar..” gumam Hyosung setengah menggoda.

“Hyosung-ah!” teriak Byul meninju lengan gadis itu itu.

“Baiklah..” jawab Hyosung pasrah. “Aku akan meminta Minjung mengajarimu memasak dan meminta Chan mengajarimu bagaimana menjadi wanita yang baik dan benar. Besok, aku akan mengajakmu ke butik. Kita akan mencari gaun dan high heels untukmu.”

Gadis itu duduk berhadapan dengan Byul. “Sekarang, kembali ke rumahmu karena mulai besok kau akan menjalani hari yang berat!”

☆☆☆

Begitu melewati ambang pintu tempat ini, Shin Ha Byul merasa ingin muntah. Untuk pertama kalinya ia masuk ke tempat seperti ini. Ia menatap pakaian dan sepatu di sekitarnya dengan muak―kurasa kalian bisa menebak isi butik yang hanya menjual pakaian wanita―kepalanya mulai pening ketika membayangkan ia harus mengenakan pakaian itu.

Kini ia dan Hyosung tengah berada di sebuah butik di kawasan Myeongdong. Setelah Hyosung menjelaskan keinginannya pada sang pemilik toko, Byul duduk dengan cemberut berhadapan dengan sederet gaun yang tergantung di depannya.

“Bagaimana kalau kau yang memilih?”

“Bagaimana kalau kau menyarankan beberapa pakaian mengerikan itu dan aku akan memakainya juga memberikan komentarku pada masing-masing pakaian itu?” sahut gadis itu jengah.

Dan itulah yang mereka lakukan. Si pemilik toko mengambil beberapa gaun dan Byul akan mencobanya. Setiap kali keluar dari ruang ganti, gadis itu mulai memberikan pendapatnya tentang pakaian yang dikenakannya.

“Terlalu besar!”

“Aku tidak suka baju tanpa lengan!”

“Bagian belakangnya terlalu panjang!”

“Aku tidak akan bisa berjalan jika roknya sesempit ini!”

“Terlalu banyak hiasan!”

“Aku tidak mau dadaku terlihat!”

“Terlalu pendek!”

“Terlalu ketat!”

“Aku benci pink!”

“Gaun ini benar-benar mau membunuhku!”

Hyosung menghela napas. Gadis itu itu juga melihat sepertinya si pemilik butik juga melakukan hal yang sama.

“Bagaimana kalau sekarang kita memilih-milih high heels?” saran Hyosung.

Gadis itu mengerang. Si pemilik toko memilih beberapa high heels dan menjejerkannya di depan gadis itu. Kali ini Hyosung yang memakaikan sepatu itu pada sang sahabat. Dan, yah.. Byul akan memberikan ‘sambutan manis’nya.

“Terlalu tinggi!”

“Heels nya terlalu tipis!”

“Terlalu banyak tali!”

“Jariku kram!”

“Warnanya mencolok!”

Lagi-lagi, Hyosung dan si pemilik toko menghela napas. Ini adalah cobaan berat bagi mereka.

Si pemilik toko mengembalikan semua itu ke tempatnya. Hyosung berdiri. “Baiklah, biar aku memilih untukmu..” ujarnya pasrah.

“Silahkan..” kata Byul acuh. “Seharusnya kau melakukan itu sejak tadi.”

Hyosung menjitak kepalanya dan pergi menjelajah.

Gadis itu kembali memandang berkeliling. Sepanjang yang ia lihat hanyalah dress, rok, gaun, blazer, kemeja, celana, dan beragam sepatu wanita. Ia memutar bola matanya kesal. Semua ini benar-benar tidak cocok untuknya.

Hyosung kembali tujuh menit kemudian, dengan membawa sebuah baju dan sepatu. Pertama, ia mengacungkan baju pada gadis itu. “Kurasa baju ini pas untukmu. Lengannya pendek, bagian dadanya tertutup, roknya tidak sempit, warnanya bukan pink, tidak terlalu banyak hiasan, aku yakin kau tahu cara memakainya, dan kau tidak akan menginjak bagian belakangnya saat berjalan nanti.”

Kemudian ia mengacungkan sepatu dan melanjutkan. “Dan sepatu ini. Lihat? Heels-nya tidak terlalu tinggi dan tidak tipis. Tidak ada tali-tali yang mengganggu, dan warnanya juga tidak mencolok.”

Gadis itu menatap kosong dua benda yang disodorkan gadis itu padanya.

Hyosung tersenyum. “Bagaimana?”

“Harus kuakui,” Byul menatap pasrah baju dan sepatu itu bergantian. “aku tidak punya pilihan lain..”

☆☆☆

Tiga hari kemudian, barulah Shin Ha Byul memulai Kursus Kepribadian Wanita-nya. Pelajaran pertama adalah Memasak. Kini ia sudah berada di dapur rumah nya bersama Hwang Min Jung. Ia beruntung karena Kyuhyun sedang berada di kantor. Dan tentu saja, ia juga sudah menceritakan apa yang terjadi sehingga ia terpaksa belajar memasak.

“Kau mau aku mengajarimu memasak apa?” tanya Minjung.

“Apapun yang disukai Kyuhyun.”

Minjung mencibir. “Kurasa dia akan menyukai apapun yang kau masak.”

Byul menyipitkan mata. “Bagaimana kalau sesuatu yang gampang? Tidak makan waktu dan murah?”

Kimchi?”

Gadis itu menoleh. “Minjung-ah,” ia merengut menatap orang itu. “Aku memang tidak bisa memasak, aku harus mengakuinya. Tapi aku tahu saat berkencan orang tidak akan makan kimchi!”

Minjung menyeringai selebar kuda. “Bagaimana kalau steak?”

Steak?” Byul mulai berpikir, lalu mengangkat bahu. “Tidak buruk.”

“Baiklah!” Minjung menggulung lengan baju, kemudian menyiapkan bahan-bahan. Daging sapi sirloin, bawang merah, peterseli, margarin, garam, dan lada. Ia mengambil pisau. “Kau tahu cara memotong daging?”

Byul menggeleng.

“Kuharap kau bisa mencincang ini, Byul.” Minjung memberikan pisau lain dan peterseli. “Kemampuan memasakmu benar-benar mengerikan.”

“Terima kasih atas pujiannya.” gerutu gadis itu.

Sementara Minjung memotong daging, Byul berusaha keras mencincang peterseli di depannya. Tapi yang ia lakukan malah menghempas-hempas pisau dengan kasar pada daun itu.

Minjung yang melihatnya langsung berhenti memotong daging. “Hei, hei! Bukan begitu!” ia mengambil alih pisau. “Lihat? Seperti ini.” ia mulai mencincang.

Gadis itu mengangguk-angguk, entah mengerti atau tidak. “Tidak sulit,” gumamnya. Ia kembali memotong kecil-kecil daun itu, dengan amat sangat lambat.

Minjung memutar bola matanya, dan melanjutkan memotong daging. Setelah selesai, ia mengambil wadah yang sudah berisi air, kemudian mencampurkan garam, lada, dan daun peterseli yang bentuknya tidak jelas. Byul menyeringai saat memperlihatkan hasil potongannya, dan itu cukup membuat Minjung gila.

Yeah, setidaknya potongannya kecil-kecil,” ujar gadis itu memasukkan daging dan merendamnya. “Sambil menunggu bumbu meresap di daging, ayo kita buat saus steak-nya.”

“Berapa lama kita harus menunggu dagingnya?”

“Setengah jam,” balas Minjung mengambil bahan untuk membuat saus dari lemari pendingin. Ia meletakkan semua itu, kemudian tersentak seakan teringat sesuatu. “Jangan katakan padaku kau tidak bisa menyalakan kompor dan meletakkan wajan.” ia berpaling menatap Byul. “Tunggu. Kau tahu bentuk wajan kan?”

“Jangan katakan padaku kau tidak bisa menyalakan kompor dan meletakkan wajan.” Byul bersungut-sungut menirukan ucapan Minjung, sembari melakukan perintah tak langsung itu. Ia menyalakan kompor dengan api kecil dan meletakkan wajan di atasnya. “Tunggu. Kau tahu bentuk wajan kan?” ia menoleh memandang gadis itu sebali. “Tidak, aku tidak tahu! Kenapa memangnya?”

Minjung tertawa. “Sekarang aku mengerti kenapa para pria sangat suka mengejekmu.”

Wajah Byul cemberut sempurna.

“Kau bisa mengiris bawang?”

“Apa wajahku menunjukkan kalau aku bisa mengiris sesuatu?” balas gadis itu masih terdengar kesal.

Minjung menggeleng-gelengkan kepala. Ia mengambil satu siung bawang dan mulai mengirisnya. Byul mengikuti apa yang Minjung lakukan. Setelah itu, ia memeriksa hasil irisan Byul.

“Lumayan,” komentarnya. Ia meletakkan tangan beberapa centi di atas wajan. “Kau bisa masukkan margarin itu sekarang.”

“Seperti ini?”

Minjung mengangguk. “Sekarang memasukkan irisan bawang itu.”

Byul menurut. Ia mengamati dengan saksama saat gadis itu menumis bawang.

“Setelah itu, masukkan tepung terigu, saus tomat, dan saus cabai.”

“Berapa banyak?”

“Secukupnya saja.”

Byul menurut. Minjung menumis semuanya. Sejurus kemudian, tercium bau harum di seluruh penjuru dapur.

“Sekarang masukkan garam dan lada.” perintah gadis itu sembari tetap mengaduk.

“Seperti ini?” Byul menuangkan semua isi botol garam dan lada.

Minjung membelalak. “ITU KEBANYAKAN, BYUL!” pekiknya histeris. Ia menatap sedih botol garam dan lada yang sudah kosong. “Aduh, apa jadinya saus ini nanti..”

Byul menyeringai bodoh.

Minjung menambahkan air kaldu dan mengaduk saus itu sampai mengental. Setelah itu, ia menyisihkannya. “Coba kita lihat dagingnya.”

Tepat saat Minjung ingin mengangkat daging itu, Byul mencegahnya.

“Tunggu!” tahan gadis itu. “Kita harus menunggu satu menit lagi. Baru tepat setengah jam.”

Minjung menggembungkan pipi dan kembali meletakkan daging. “Kalau begitu siapkan panggangan!” titahnya.

Yes, Sir!” Byul mengangkat tangan membentuk tanda hormat. Kemudian mencari-cari panggangan, dan memberikannya pada Minjung.

Laki-laki itu meletakkan panggangan di atas kompor. Setelah panas ia meletakkan daging sapi itu. “Daging harus dipanggang selama lima menit, setelah itu baru kau boleh membaliknya.” jelasnya.

“Lima menit?” Byul melirik arlojinya. “Oke.”

Dan gadis itu benar-benar menunggu selama lima menit penuh hingga ia membalikkan daging.

“Bahkan caramu membalikkan daging persis orang yang tidak pernah masuk ke dapur.” ejek gadis itu.

“Memang tidak pernah.” balas Byul masih berusaha membalik daging. “Dari kecil ibuku melarangku ke dapur.”

“Sekarang aku mengerti dimana letak kecocokanmu dengan Kyuhyun.” sindir Minjung.

Byul tersenyum meminta maaf, membalik potongan daging terakhir, memandang Minjung berbinar. “Lihat? Hebat kan?”

Laki-laki itu melirik jam dinding. “Kau butuh satu menit dua puluh tujuh detik untuk membalik tiga potong daging.” ia bertepuk tangan datar. “Hebat.”

Byul mendengus kesal.

Setelah itu, Minjung mengeluarkan piring untuk menyajikan steak, dan menyiram saus di atasnya. “Selesai!” katanya. “Kita lihat seberapa buruk masakan ini!” dan ia mulai mencicipi makanan itu.

Sejurus kemudian, mata Minjung melebar, kemerahan, dan berair. Ia berlari mengelilingi dapur dengan panik. Ketika ia menemukan air, ia menuangnya dengan tergesa-gesa, minum dengan kecepatan mengagumkan.

Byul menatap Minjung dengan bingung. “Apa seburuk itu?” katanya.

“Kenapa kau tidak..” kata gadis itu dengan napas tersengal-sengal, mengibas-ngibas mulut dengan tangan. Ia ber-hah kepedasan. “.. mencobanya?”

Gadis itu mengambil satu potong daging dan mencicipinya.

Dan Byul tidak kalah panik dengan Minjung.

☆☆☆

Pelajaran kedua, Menjadi Wanita Anggun bersama Yoo Seung Chan. Tempat kursusnya kali ini adalah ruang tengah rumahnya yang―untungnya, sekali lagi!―sepi.

“Kenapa kita berlatih di sini?” gerutu Byul.

“Karena rumahmu tidak punya catwalk untuk kau berlatih menggunakan sepatu hak tinggi!” sembur Chan. “Kau beruntung Kyuhyun tidak melihatmu karena dia sedang bekerja!”

“Baiklah..” balas Byul pasrah.

Chan melempar rok pada gadis itu. “Ganti celanamu dengan ini!”

“Apa?!” Byul membelalak menatap rok itu.

“Cepat kau ganti atau aku akan menelepon Kyuhyun dan memberitahunya apa yang terjadi!”

Gadis itu segera berlari ke kamarnya untuk mengganti ‘seragam’ kursusnya.

Chan tersenyum geli, mengamati tingkah sahabat gilanya yang masih saja seperti dulu. Tak lama kemudian, ia melihat pintu kamar Byul perlahan terbuka. Byul menyembulkan kepalanya, tak berniat untuk keluar.

“Apa yang kau tunggu?” panggil Chan. “Ayo!”

“Emm, Chan-ah..” katanya ragu. Perlahan ia menguakkan pintu kamar. “Apa aku terlihat mengerikan?”

Chan ternganga menatap Byul. Gadis itu mengenakan kemeja wanita berlengan pendek dan rok putih di atas lutut. Ia berjalan perlahan ke tengah ruangan sambil menarik-narik rok ke bawah.

“Kau tahu?” ujar Chan. “Kau punya kaki yang indah.. Apa kau tidak pernah memamerkannya kepada siapapun? Termasuk Kyuhyun?”

Byul memutuskan untuk mengabaikan pujian itu. “Siapa yang membeli rok ini?! Keterlaluan! Ini sangat pendek!” gerutunya sambil tetap menarik-narik roknya.

“Hyosung.” sahut gadis itu datar.

Byul memilih untuk tidak menjawab.

“Baiklah, sekarang pakai ini.” Chan memberikannya high heels.

Dengan susah payah Shin Ha Byul mengenakan benda itu. Chan menggeleng-geleng tidak percaya. Ketika gadis itu selesai, gadis itu membantu Byul berdiri.

“Setelah melihatmu memakai benda itu,” ujar Chan. “Aku jadi ragu kalau kau ini seorang wanita.”

“Kadang aku ragu apa aku ini wanita atau bukan,” cecar Byul.

Chan mengangkat alis, seakan Byul tengah mencemarkan nama baik perempuan.

“Oke, pelajaran dimulai!” Chan melepas tangan Byul, yang seketika langsung terhuyung mundur.

“Hei!” Chan kembali memegang tangan Byul. “Aku belum menyuruhmu berjalan, Byul..”

“Merepotkan!” keluh Byul.

“Kau harus bisa berdiri dulu. Keseimbangan adalah hal terpenting.” jelas Chan. Pertama ia melepas satu jarinya dari genggaman tangan gadis itu, lalu dua jari, tiga jari, empat jari..

Ia menyisakan satu jarinya untuk digenggam gadis itu agar Byul bisa berdiri tegak. Dan setelah gadis itu bisa berdiri, Chan melepas satu jarinya.

“Sekarang berjalanlah mengelilingi ruangan ini.”

Baru empat langkah Byul berjalan, gadis itu sudah jatuh.

Chan menghela napas pasrah. Sepertinya hari ini akan menjadi hari yang panjang.

v

“Bagaimana kalau aku mematahkan heels-nya supaya aku bisa berjalan sendirian?”

Chan memutuskan untuk menuntun Byul berjalan mengelilingi ruang tengah ini. Sesekali gadis itu kehilangan keseimbangan, dan terjatuh. Namun dengan adanya Chan, kaki gadis itu tidak akan terkilir.

“Jika itu maumu, itu berarti tidak ada gunanya aku melatihmu!” balas gadis itu.

Setelah lima belas kali mengelilingi ruangan, barulah Chan membiarkan Byul berjalan sendirian. Dan gadis itu tidak akan terkejut saat Byul melangkahkan kakinya dengan amat sangat perlahan agar ia tidak terjatuh. Tetapi tetap saja, gadis itu akan terhuyung-huyung, berpegangan pada dinding, dan pada akhirnya terjatuh.. dan terkilir.

Chan dengan sigap membantu gadis itu dan mendudukinya di sofa. Gadis itu meringis kesakitan ketika kakinya menginjak lantai. Gadis itu melepas sepatu dari kaki Byul, lalu meluruskan kaki kanan Byul. Kemudian ia menekan telapak kaki gadis itu.

Byul berteriak kesakitan. Ia bersandar pada sofa dan meremas kuat roknya untuk menahan sakit. Sekali lagi Chan menekan telapak kaki gadis itu.

“Bagaimana?” tanya gadis itu duduk di samping Byul.

“Terima kasih,” kata gadis itu pelan. Ia memejamkan mata, berusaha meredakan sakit yang masih dirasakannya sedikit.

“Ini belum apa-apa, Byul.” ucap Chan. “Aku belum memberikanmu pelatihan putri raja, kau sudah seperti ini.”

Gadis itu memijit-mijit keningnya. Ia tahu tentang pelatihan putri raja itu. Ia melihatnya saat menonton Barbie. Hanya sekilas, sebelum akhirnya ia merasa mual. Aduh, kepalanya makin terasa pening. Di kartun itu, seorang putri harus bisa memilih mana sendok yang harus digunakan jika ingin makan, padahal semua ukuran sendoknya sama. Sementara Shin Ha Byul tidak peduli pakaian apa yang ingin ia gunakan untuk menghadiri acara pernikahan.

☆☆☆

Shin Ha Byul tidur dengan tubuh terbaring di sepanjang sofa kamarnya. Gadis itu tengah mengistirahatkan tubuh dan hatinya saat ini. Untuk menenangkan diri, ia mendengar lagu dari ponselnya. Sesekali ia memijat kening, kaki, dan tangannya.

Sudah tiga bulan ia mengikuti Kursus Kepribadian Wanita dengan dua mata pelajaran utamanya, Memasak dan Menjadi Wanita Anggun. Tentu saja ia menjalankannya dengan setengah hati. Tiga kali seminggu ia belajar memasak steak, dan juga ia harus berlatih tata cara menjadi wanita yang baik dan benar. Sebenarnya, ia tidak hanya dilatih untuk membuat steak, Minjung berbaik hati mengajarinya memasak makanan lain. Secara harfiah, Byul sebenarnya sudah bisa memasak. Meski belum bisa menjadi wanita yang baik dan benar.

Selama itu juga, ia mendapat kritikan dari Minjung karena steak yang dibuatnya.

b

“Lada dan garamnya kurang!”

“Kau memanggang dagingnya terlalu lama!”

“Sayuran yang kau rebus terlalu lunak!”

“Warna sausnya tidak menarik!”

“Kau terlalu banyak menggunakan mentega!”

“Terlalu manis!”

“Sausnya terlalu encer!”

“Yang ini malah kekurangan kaldu!”

v

“Oh ayolah..” erang Byul dengan suara serak. “Kyuhyun tidak mungkin mau merasakan makanan sedetail itu!”

Ia kembali mengenang komentar-komentar Chan saat melatihnya.

b

“Kakimu harus tegak lurus saat berjalan!”

“Saat berdiri, lebar kakimu tidak boleh melewati bahu!”

“Berdiri tegak, Shin Ha Byul!”

“Jangan terhuyung begitu!”

“Keseimbangan adalah segalanya!”

“Pastikan buku-buku itu tidak jatuh!”

“Jangan merengut!”

“Terlalu lambat!”

“Biasakanlah untuk tersenyum!”

“Kau tidak boleh membanting garpu saat makan!”

“Jangan menggoyang-goyangkan kaki saat duduk!”

b

Gadis itu meringis. Ia benar-benar dilatih seperti putri raja. Harus ia akui, itu membuatnya muak.

Kemudian, ia duduk tegak.. dan langsung berhadapan dengan gaun dan sepatu hak tinggi yang akan digunakannya.

Ia jadi ingat kalau waktu yang ditentukan Kyuhyun adalah malam ini.

☆☆☆

Diam-diam, Cho Kyu Hyun memperhatikan kekasihnya selama tiga bulan terakhir ini. Ia tahu betapa kerasnya usaha gadis itu untuk belajar memasak, maupun berlatih melangkah dengan high heels.

Ketika melihat gadis itu meringis kesakitan karena terkilir, hatinya terenyuh. Sejahat itukah dirinya sampai membuat orang yang dicintainya kesakitan?

Saat mendengar kritikan pedas yang dilontarkan Minjung dan Chan pada gadis itu, ingin sekali ia membawa Byul jauh-jauh dari mereka dan menenangkan gadis itu.

Kini ia duduk di ranjangnya, menatap kemeja berlengan pendek dan celana jeans yang telah ia siapkan dua minggu sebelumnya. Malam ini adalah waktu yang telah ia tentukan untuk Shin Ha Byul. Ia bertanya-tanya, pakaian apa yang akan digunakan gadis itu nanti.

Ia melirik jam kecil yang diletakkan di meja kecil samping tempat tidurnya. Sepuluh menit lagi, jarum jam akan menunjukkan pukul delapan tepat.

Sebaiknya ia bersiap.

☆☆☆

Laki-laki itu telah menyiapkan semua yang dibutuhkan untuk berkencan hanya dalam waktu sepuluh menit. Tempat yang dipilihnya adalah balkon rumah mereka sendiri. Tempat itu dipilih karena diantara semua bagian rumah yang ada, Kyuhyun hanya merasa tempat itu cukup sesuai untuk makan malam.

Sore tadi, ia melihat Byul sedang menonton Doraemon dengan sikap dan sifat yang jauh dari kewanita-wanitaan. Gadis itu berbaring di sepanjang sofa sembari memangku kaki kanan di kaki kirinya, dengan mengenakan kaus dan celana pendek ― bahkan model pakaian itu jauh dari kesan feminin. Yah, ia tidak keberatan, karena kencan mereka malam ini, bukan sekarang. Ia masih memberikan kesempatan Byul untuk bernapas.

Kyuhyun membentang taplak meja, kemudian mengibas-ngibaskan tangan dan tersenyum puas. “Oke, semua beres.” ia melirik arlojinya. “Tinggal menunggu sang putri datang.”

☆☆☆

Tiga sahabat gadis itu sudah sejak Kyuhyun mempersiapkan dirinya dan tempat mereka akan makan malam. Chan mempersiapkan pakaian, sementara Minjung menyiapkan bahan makanan yang diperlukan. Hyosung datang paling akhir.

“Kenapa kau belum bersiap?!”

Cha Hyo Sung meneriaki Byul yang masih mengenakan kaos dan celana pendek dan menonton Doraemon ketika ia datang. Byul berdiri, segera menuju ke dapur tanpa mempedulikan pertanyaan Hyosung.

Gadis itu mendapatkan pertanyaan yang sama dari Minjung.

Pada saat itu, Chan masuk ke dapur sambil mengiba-ngibas tangannya. “Byul-ah, aku sudah menyiapkan make-up yang akan ―”

Ucapam Chan terputus saat melihat Byul. “Ya, mana dress mu?! Kenapa kau belum bersiap?!”

Byul memandang mereka bertiga dengan jengah. “Kalian gadis-gadis merepotkan!” gerutunya memotong-motong daging. “Aku benci mengakuinya kalau pakaian itu punyaku, tapi bagaimanapun juga aku tidak mungkin memakainya saat aku memasak! Bisa-bisa aku mematahkan hak sepatu itu sekarang juga!”

Minjung, Chan, dan Hyosung mengangguk-angguk seraya membenarkan ucapan gadis itu. Mereka memperhatikan Byul memasak.

“Tunggu!” sahut Minjung. “Kau memasak dua kuah steak?”

Byul mengangguk. “Untuk Kyuhyun dan aku kan?”

“Benar juga..” gumam Minjung polos.

Byul mengambil sedikit kuah steak, lalu memberikannya pada laki-laki itu. “Cobalah.”

Minjung mencobanya. Matanya menjadi selebar piring terbang. “Wow!” serunya.

Hyosung dan Chan yang melihat itu langsung penasaran. “Bagaimana rasanya? Aku juga mau!”

Byul kembali mengambil sedikit kuah steak dan menyuapi kedua gadis itu. Dan mereka sama terkejutnya dengan Minjung.

“Bagaimana?” desak Byul. “Jangan buat aku mati penasaran!”

“Tidak sia-sia aku mengajarimu selama ini.” ungkap Minjung puas.

“Enak sekali!” kata Hyosung. “Aku mau lagi!”

“Aku juga!” sahut Chan.

Gadis itu kembali menyuapi keduanya.

“Baiklah, cukup!” gadis itu menyiapkan panggangan dan panci. “Aku akan memanggang daging dan merebus sayurnya sekarang.”

Byul melakukan apa yang ia katakan.

“Wah, gadisnya Kyuhyun sudah bisa memasak sekarang..” ujar Hyosung bangga.

“Seperti kebanyakan guru, aku terharu melihat anak muridku berhasil..” Minjung menyeka matanya seolah-olah sedang menangis.

Byul memutar bola matanya, dan melanjutkan memasak.

Empat puluh menit kemudian, barulah Shin Ha Byul menyelesaikan seluruh masakannya.

“Jangan ada yang ganggu masakanku sementara aku berganti baju!” kata Byul memperingatkan.

Yes, Sir!” jawab Chan, Hyosung dan Minjung serempak. Mereka keluar dari dapur.

Byul menuju kamarnya, menguncinya, dan berganti baju. Setelah itu, ia memakai make-up tipis, dan menata rambutnya.

Sepuluh menit kemudian, barulah pintu kamar nya terbuka. Gadis itu mengenakan gaun berwarna hitam selutut dengan aksen bunga-bunga putih kecil di pinggirannya. Sepatu hak tinggi bermodel sederhana dikenakan gadis itu. Byul membiarkan rambutnya digerai.

“Apa?” kata Byul ketus saat tiga gadis itu memperhatikannya. Lebih terkejut lagi, saat ia melihat ternyata di sana juga ada Donghae, Eunhyuk, dan Sungmin. Mereka juga ternganga. Hei, siapa sangka seorang Shin Ha Byul bisa berpenampilan seperti ini? Hebat sekali. “Jangan berkata apa-apa karena sekarang aku sedang tersiksa!”

Ia mengabaikan mereka yang masih melihatnya dengan mulut ternganga. Ia berjalan dengan susah payah menuju dapur. Setelah itu, ia melangkah dengan penuh perjuangan menuju balkon, sambil membawa dua piring steak.

 v

Saat itu, Kyuhyun tengah berdiri di tepi balkon sembari berkutat dengan ponselnya ketika ia mendengar suara langkah kaki.

Ia menoleh. Dan melihat Shin Ha Byul dengan dua piring steak.

“Hai,” sapa gadis itu. “Kuharap kau tidak kecewa dengan penampilanku.” katanya meletakkan dua piring itu di atas meja.

Kyuhyun tidak bisa berkata apa-apa. Seakan semua perkataan yang telah ia siapkan tertelan begitu saja. Apa ia salah lihat? Itu Shin Ha Byul! Si tomboy Byul! Kekasihnya! Gadisnya! Sungguh, gadis itu tampak menawan dengan dress dan sepatu sederhana yang ia gunakan! Gadis itu bahkan butuh lebih dari sekadar pujian untuk menggambarkan penampilannya yang berbeda malam ini!

Tapi anehnya, bukannya memuji, Kyuhyun malah berkata. “Kau benar-benar berjuang untuk ini ya?”

Meskipun Byul sangat cantik dan mempesona, Kyuhyun memutuskan untuk tidak mengutarakannya. Ini masalah harga diri, kalian tahu? Byul akan sewenang-wenang jika Kyuhyun melontarkan pujian.

“Duduk dan nikmati masakanku.” sahut gadis itu.

Kyuhyun mengernyit dan duduk. Ia merasa mendengar nada yang agak judes dari kalimat gadis itu.

Jadi ini yang ia katakan. “Kau marah?”

“Marah?” ulang Byul. “Marah kenapa?”

“Karena aku memaksamu untuk tampil seperti ini.”

Byul menghela napas. “Seandainya kau tahu perjuanganku untuk ini.”

Kyuhyun menatap gadis yang tertunduk itu. Tentu saja Kyuhyun sangat tahu!

Gadis itu mengangkat wajah. “Aku harus melakukan pekerjaan yang sangat sangat asing bagiku. Memasak, memotong daging, pokoknya semua pekerjaan dapur itu. Aku masih tidak tahu kenapa ibuku melarangku melakukan pekerjaan di dapur. Awalnya aku tidak peduli, tapi aku mulai menyadari alasannya tiga bulan terakhir ini.”

Kyuhyun diam.

“Bagaimanapun juga, aku seorang wanita. Seburuk apapun sifatku, aku tetaplah seorang wanita. Kemampuan memasak harus dibutuhkan setiap wanita, karena dia nantinya akan memasak untuk seseorang yang dia sayangi. Sama seperti aku yang harus belajar memasak untuk memberimu makan. Suka atau tidak suka.”

Laki-laki itu melongo.

“Dan pakaian ini.” Byul memegang lengan gaunnya. “Aku tahu semua wanita harus memakainya untuk menunjukkan identitas mereka sebagai perempuan. Dan aku baru sadar setelah mengingat betapa kerasnya Chan menceramahiku tentang perempuan dan segala hal yang berkaitan dengannya. Seperti yang kubilang tadi, bagaimanapun juga, aku seorang perempuan. Aku harus memakai gaun dan sepatu ini. Sebenci apapun aku pada semua benda ini.”

“Kau tahu kenapa aku menerima taruhanmu?” tanya gadis itu.

Kyuhyun menggeleng.

“Awalnya karena aku mau membuktikan padamu kalau aku juga seorang gamer. Tapi alasan sebenarnya baru terpikir tiga bulan terakhir ini.”

Ia melanjutkan. “Karena aku seorang wanita.”

Gadis itu tersenyum. “Jadi untuk apa aku marah karena kekasihku sendiri menginginkanku menjadi wanita yang sebenarnya?”

Kyuhyun terpaku. Ia mencerna dengan baik semua perkataan Byul tadi. Tampak bahwa gadis itu senang-senang saja menerimanya. Tapi Kyuhyun terlampau mengenal gadis itu.

Jadi ia akan mengatakan hal yang sebanarnya.

“Kau tahu kenapa aku memberi tantangan itu padamu?” Kyuhyun balas bertanya.

Byul menggeleng.

“Pada awalnya aku hanya ingin mengerjaimu.” jelas laki-laki itu. “Pasti asyik melihatmu berdandan seperti ini. Tapi setelah melihat bagaimana usahamu untuk berlatih memasak dan menjaga keseimbangan dengan sepatu hak tinggi itu, aku tahu kalau aku bersalah padamu.”

Byul menautkan kedua alisnya. “Bersalah?”

Kyuhyun mengangguk. “Aku mengenal dirimu, Byul. Bahkan melebihi dirimu sendiri. Aku tahu kau muak dengan semua hal yang berkaitan dengan wanita. Aku tahu sifatmu. Aku tahu kau tidak punya satu gaun ataupun sepatu hak tinggi. Aku tahu kau membeli sebuah rok hanya karena tuntutan pekerjaan, bukan karena keinginanmu. Aku tahu kau sangat benci berdandan. Karena semua itu aku sangat merasa bersalah padamu. Aku minta maaf, Byul..”

Byul makin bingung dengan penjelasan ini.

“Kau tahu kenapa aku mencintaimu?”

Gadis itu membulatkan mata tidak percaya. Kenapa Kyuhyun mengatakan hal itu?

“Karena menurutku, kau gadis yang sangat hebat.” laki-laki itu melanjutkan tanpa menunggu jawaban Byul. “Kau lebih memilih menjadi dirimu sendiri dibanding berubah untuk menarik lawan jenismu. Kau bahkan tidak mempedulikan penampilanmu. Kau tidak peduli dengan sifatmu yang tidak ada feminin-nya sama sekali. Kau tidak peduli saat semua orang mengejekmu karena kau berteman dengan Hyosung, Chan, dan Minjung, yang merupakan gadis yang sangat mempedulikan semua aspek tentang wanita. Aku kagum kau dapat bertahan dengan dirimu yang apa adanya. Dengan menjadi Shin Ha Byul yang tomboy, cuek, judes, aneh, dan keras kepala.”

Kyuhyun tersenyum. “Kau tidak perlu mengubah dirimu demi aku. Karena aku akan tetap mencintai Shin Ha Byul yang seperti saat ini. Aku mencintai semua sifat jelek dan kekuranganmu. Aku mencintaimu lebih dari apapun, nona Shin..”

Byul tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Kalimat-kalimat Kyuhyun terlalu manis baginya.

“Jadi sebenarnya, aku tidak serius dengan taruhan ini..” laki-laki itu mengakhiri penjelasan panjang lebarnya.

Byul kaget bukan kepalang. Jadi.. semua yang dilakukannya.. sia-sia?

“Jadi kau tidak akan mempermalukan aku meskipun aku menolak taruhan ini?” ucap Byul.

Kyuhyun menunduk, dan mengangguk pelan. Laki-laki itu sudah bisa menebak reaksi Byul. Mungkin gadis itu akan berteriak dan marah-marah padanya. Mungkin ia akan menggebrak meja dan memukul-mukul dirinya. Ia sudah siap.. dan menunggu.

Aneh, tidak terjadi apa-apa. Kyuhyun mengangkat wajah dengan sangat pelan. Ia membelalak melihat gadis di hadapannya saat ini. Bukannya marah, Byul malah.. tersenyum cerah?

“Kau…” ucap Kyuhyun terbata-bata. “.. tidak marah?”

“Untuk apa?” balas Byul masih dengan senyum cerahnya. “Seharunya aku berterima kasih padamu karena telah berusaha membuatku menjadi gadis yang baik dan benar.”

Kyuhyun benar-benar tidak mempercayai pendengarannya. Apakah ini Shin Ha Byul kekasihnya?

“Sudahlah,” gadis itu mengayunkan tangannya. “Ini pertama kalinya aku memasak untukmu kan? Jadi kukira tidak ada salahnya kau mencicipi masakan perdanaku.”

“Tapi.. kukira..”

“Aku tidak marah, Kyu..” sahut Byul lembut. “Kau tidak mau makan? Atau mau kusuapi?”

Laki-laki itu tampak salah tingkah. Cepat-cepat ia menggeleng. “Itu tidak perlu! Aku bisa makan sendiri!”

“Kalau begitu, makanlah!”

Byul memperhatikan Kyuhyun yang mulai memotong daging. Ia menunggu sampai laki-laki itu mencicipi makanannya. Ia melihat laki-laki itu mengoleskan saus steak pada daging yang ada di garpu. Ketika Kyuhyun memasukkan daging itu ke mulutnya, ia menunggu dengan tegang.

Laki-laki itu mulai mengunyah daging.

Byul menunggu dengan sabar. Satu.. dua.. tiga!

Pisau dan garpu lepas begitu saja dari tangan Kyuhyun. Mata laki-laki itu melebar dan berair. Wajahnya memerah. Byul menyeringai.

Laki-laki itu menuangkan air ke gelas dengan terburu-buru dan meneguknya. Ia minum sampai rasa pedas itu menghilang.

“Apa..” ucap Kyuhyun terengah-engah, ber-hah kepedasan. “.. yang kau tambahkan.. sampai sepedas.. ini?!”

Byul mengangkat bahu tak peduli. Ia menjawab dengan polos.

“Dua botol lada?”

Gadis itu melepas sepatunya, dan berlari dengan cepat memasuki rumah. Kyuhyun mengejar gadis itu sambil meneriaki namanya dengan kesal.

YA, SHIN HA BYUL!!”

End

n

NYEHEHEHEHEHEHEHEHEHEHE

Ini sih sebenernya juga udah di-post di SJFF, dan seperti sebelumnya, aku ubah cast nya. Aku emang lagi nggak punya ide banget, makanya lebih suka repost ff ku yang udah di remake. Maaf ya kalo ada yang keberatan. 

 

Advertisements

4 thoughts on “Be A Good Girl

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s