Fever

101362653

She just wanna make a best surprise.

***

SEMUA orang tahu, hari Sabtu adalah hari untuk diri sendiri. Hari yang dikenal sebagai ‘akhir pekan’. Hari dimana orang-orang beristirahat setelah selama satu minggu melakukan pekerjaan mereka. Hari libur bagi anak sekolah dan pekerja kantoran. Hari saat orang-orang bersantai dan menikmati hidup.

Namun tidak bagi Yoo Seung Chan.

Setidaknya untuk hari ini.

Ulang tahun Lee Dong Hae merupakan satu dari sederet hari istimewanya. Meskipun istimewa, gadis itu selalu mengacaukan hari jadi pria itu dengan memberikan hadiah-hadiah konyol. Karena itulah pagi ini ia berada di halaman belakang rumah. Bersama adiknya Yoo Seung Joon dan Lee Joo Hae, mereka tengah menyiapkan pesta kejutan.

Atau seharusnya, sedari tadi yang gadis itu tengah lakukan adalah memilih-milih hiasan untuk diletakkan di kue ulang tahun Donghae.

Ia menancapkan hiasan berbentuk Spongebob, lalu mengamatinya sambil menopang dagu. “Tidak, tidak,” ia menggeleng. “ini bukan pesta ulang tahun anak 5 tahun.”

Ia mengganti hiasan itu dengan hiasan berbentuk dua orang — pria dan wanita — yang sedang bergandengan tangan. Ia mengomentarinya lagi. “Basi.”

Ia meletakkan hiasan bergambar kaca pembesar dan topi detektif, kemudian menggele. “Oke, sudah cukup aku selalu menghancurkan hari ulang tahunnya.”

Ia mengambil hiasan terakhir, hiasan berbentuk piano, dan meletakkannya di atas kue menggantikan hiasan barusan. Wajahnya kelihatan kurang setuju. “Ayolah, Chan, ini untuk Donghae.” katanya menyemangati diri sendiri.

“Santai saja, eonni.” seru Joohae yang tengah mengisi balon dengan helium. “Menurutku itu bagus. Donghae oppa pasti akan menyukai apapun yang eonni lakukan.”

Ia menatap hiasan itu. “Aku hanya menginginkan sebuah kesempurnaan..” gumamnya.

“Bicara soal kesempurnaan,” Joon menaiki tangga untuk memasang balon, kemudian merentangkan tangan, menunjukkan hasil karyanya. “Check. This. Out.”

Chan berbalik, menatap apa yang ingin Joon tunjukkan padanya. Matanya membulat sempurna. Tentu saja ia kaget. Joon menghias halaman belakang ini persis seperti menghias pesta ulang tahun untuk gadis remaja 17 tahun. Sungguh konyol.

Gadis itu senyum dengan terpaksa.

Ia menghampiri Joon, menahan tangga agar adiknya bisa turun. “Setidaknya kalian berdua membantuku hari ini. Mengingat semua sahabatku tidak bisa menolongku saat ini.”

Chan memang tidak menyalahkan para sahabatnya karena tidak membantu dirinya dalam mempersiapkan ulang tahun Donghae. Mereka punya alasan yang kuat, kalian tahu? Sungmin dan Hyosung berada di Jepang — yah, mengertilah pasangan yang baru menikah — Minjung berada di rumah sakit karena tifus nya, Kyuhyun sedang mempersiapkan kedatangan keluarga besarnya. Terakhir, Eunhyuk dan Byul sedang berada di Jeju untuk memperingati hari kematian kakek mereka. Chan memaklumi itu, dan ia tidak keberatan bahwa tadi mereka semua menelepon untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada Donghae lewat dirinya.

Chan menghampiri sebuah meja, lalu sedikit merapikan taplaknya. “Aku hanya tidak mau terjadi sesuatu yang buruk pada hari ini.” ia menyeka hidungnya. “Setelah apa yang selalu kulakukan di setiap ulangtahunnya.”

Wajah Joon mengerut. “Sesuatu yang buruk? Seperti apa?”

Tepat saat Joon mengatakan hal itu, Chan berseru.

“Joohae-ya! Apa yang kau lakukan?!”

Gadis yang diteriaki tadi langsung menyembunyikan tangan di balik punggungnya. Salah satu bagian krim kue rusak.

“Aku hanya ingin mencoba..” Joohae menggaruk kepalanya.

Chan tersenyum, menghampirinya. “Ini untuk kakakmu. Bukannya aku sudah memberimu kado?”

“Tapi tidak dengan kue..” cicit gadis itu pelan.

Chan memegang bahu gadis itu. “Kau akan mendapatkannya. Tapi tidak sekarang. Aku janji.”

Joohae tersenyum lebar.

“Baiklah, semua beres kan?” tanya Chan memastikan. “Ini waktunya aku membangunkan Donghae. Pastikan semuanya baik-baik saja selama aku pergi eoh?”

Noona bisa percaya pada kami.” Joon tersenyum.

“Dan jangan sentuh apapun!” seru Chan memperingati lagi. “Joohae?”

“Aku janji aku akan tetap di sini!” Joohae meletakkan satu tangan di dada dan tangan lainnya terangkat membentuk tanda V di udara.

Gadis itu berjalan menuju pintu, membukanya, dan melintasinya. Ia membiarkan pintu tertutup.

“Chan eonni hanya terlalu paranoid.” gumam Joohae berjalan santai. Karena tidak melihat, ia menabrak kue ulang tahun Donghae. Ia cepat-cepat menahannya, dan memperbaiki posisi kue itu.

“Perasaanku tidak enak soal ini..” balas Joon.

☆☆☆

Lee Dong Hae tertidur dengan posisi yang cukup-kurang-etis. Laki-laki itu teridur dengan posisi tengkurap, satu kakinya tertekuk dan lainnya tergantung di tepi tempat tidur. Satu tangannya nyaris menyentuh lantai. Mulutnya ternganga, membuat sebuah benda bening tercetak di pipi laki-laki itu. Suara dengkuran kecil melengkapi semuanya.

Menurut Chan, Donghae punya posisi tidur yang mengerikan serta membahayakan.

Gadis itu duduk di tepi tempat tidur, mengamati wajah laki-laki itu. Ia bahkan terlalu sulit untuk tertawa, saking mengerikannya.

“Psst,” bisik Chan menepuk bahu Donghae.

“Ng?” balas Donghae menyeka benda bening itu, dan kembali tertidur.

“Donghae-ah?”

“Ng?”

Chan mendekatkan wajah ke telinga Donghae. “Selamat ulang tahun..”

“Ng..” jawab Donghae masih dengan mata terpejam. “Selamat ulang tahun, Yoo..”

Chan tersenyum. “Ini ulang tahunmu, Donghae-ah..”

“Oh..” dengkur Donghae. “Ulang tahunku..”

“Donghae-ah, ayo bangun..” Chan menyibak selimut, membalik tubuh laki-laki itu dengan susah payah, dan berhasil. Tetapi laki-laki itu masih tidur.

“Donghae-ah..” panggil gadis itu berusaha sabar.

Donghae melenguh, menutup wajah dengan bantal, dan kembali tertidur.

Chan mendengus kesal. Akhirnya cara gadis itu membangunkan sang adik berlaku juga untuk kekasihnya. Ia menusuk-nusuk pipi Donghae dengan jarinya. Memainkan hidung laki-laki itu. Menepuk-nepuk bahu Donghae. Menggelitiki perut dan telapak kaki laki-laki itu.

Donghae bergeming.

Kesabaran gadis itu mulai menipis. Gadis itu melakukan usaha terakhir dengan..

Mencabut satu per satu bulu kaki Donghae.

Dan usahanya tidak sia-sia.

Argh!” teriak Donghae langsung terbangun. Laki-laki itu terduduk mengusap-usap kakinya dengan wajah yang masih mengantuk.

Chan tersenyum penuh kemenangan. Ia memutari tempat tidur dan duduk di berhadapan dengan laki-laki itu. Wajahnya berbinar-binar. Selamat ulang tahun!”

Donghae menatap kosong gadis itu, kemudian menguap. “Yeah..” sahutnya ogah-ogahan. Ia menguap lagi, lalu membelalakkan matanya. “Apa?! Ulang tahunku?!”

Chan mengangguk dengan terlalu bersemangat. “Dan hari ini akan menjadi hari yang paling sempurna!”

Gadis itu menarik Donghae sampai laki-laki itu berdiri. Ia mendorong laki-laki itu sampai ke ambang pintu kamar mandi. “Kau tahu kan aku selalu mengacaukan ulang tahunmu?”

“Amat sangat tahu.” kata Donghae datar.

Ya!” Chan menepuk-nepuk pipi laki-laki itu. “Baiklah.. aku minta maaf soal itu..” ia mencubit pipi Donghae sambil berkata. “Karena itu mandilah! Ada banyak hal yang mau ku ― Achoo!”

Donghae mengernyit. Ia menurunkan tangan Chan yang masih bertengger di pipinya, lalu menggenggamnya dengan kuat. “Yoo-ah, kupikir kau ― “

“Aku baik-baik saja!” potong Chan langsung. Ia mendorong Donghae masuk ke kamar mandi, memberikan handuk dan pakaian, lalu menutupnya.

☆☆☆

Begitu Donghae keluar dari kamar mandi dalam keadaan sudah bersiap, Chan langsung berdiri. Meskipun hanya mengenakan kaus polo berwarna hitam dan jeans, entah mengapa laki-laki itu terlihat mempesona baginya.

Ia sedikit merapikan rambut Donghae, kemudian memberikan tangannya. “Hari ini, yang perlu kau lakukan adalah menuruti semua perkataanku tanpa ada bantahan sedikitpun. Oke?”

Donghae menatap tangan gadisnya dengan bingung. “Tunggu. Apa?”

Chan langsung mengamit tangan kekasihnya, dan berjalan keluar kamar.

“Apa yang kau lakukan?” Donghae bertanya.

“Kau akan tahu nanti.” ujar gadis itu menuruni tangga.

Donghae yang berjalan di belakangnya hanya mendengar.

Mereka tiba di dasar tangga, melangkah menuju ruang makan. “Aku tidak sendirian menyiapkan semua ini. Joon dan Joohae ― Achoo! ― membantuku.”

Hal pertama yang Donghae lihat adalah, sebuah burger yang terlihat begitu menggiurkan. Laki-laki itu langsung mengambilnya. Mereka kembali berjalan dan berhenti di ruang tamu.

“Lihat ke dinding.” perintah Chan. “Achoo!”

“Chan?” tegur Donghae merasa risih karena sedari tadi gadisnya bersin-bersin.

“Lihat ke dinding!” ulang Chan.

Donghae menurut, melihat ada dua foto berbingkai besar. Foto pertama, terdapat dirinya, Chan, Joon, Joohae, dan kakek-nenek Chan, dengan pose yang ceria. Foto kedua adalah foto dirinya dan Chan bersama semua sahabatnya. Minjung, Sungmin, Byul, Eunhyuk, Hyosung, dan Kyuhyun, dengan pose yang konyol.

“Bagaimana menurutmu?” Chan memasang wajah penuh harap.

“Oh. Wow.” Hanya itu yang keluar dari mulut Donghae.

Gadis itu tersenyum lebar. “Aku sudah tahu kau akan ― Achoo!”

Ucapan gadis itu terpotong karena bersin.

“Oh, Chan.” Donghae berusaha menyentuh dahi gadis itu. “Ada apa denganmu?”

“Aku tak apa!” gadis itu menepis tangan Donghae. Dan kembali bersin. “Achoo!”

“Tapi kau..”

Gadis itu tidak menggubris ucapan Donghae. Mereka berjalan keluar rumah. Chan mengajak laki-laki itu ke sebuah stan penjual topi. Ia mengambil satu dan memakaikan benda itu pada Donghae.

Gadis itu mengajak Donghae berjalan lagi. “Masih banyak kejutan yang aku persiapkan untukmu! Jadi kau harus ― Achoo!”

“Wow, Yoo Seung Chan.” Donghae merangkul pundak gadis itu. “Kau membuatku kagum sekali, tapi aku benar-benar mengkhawatirkanmu.”

Laki-laki itu menuntun gadisnya berjalan. “Sebaiknya kita pulang ke rumah dan berisitrahat.”

Chan melepas rangkulan Donghae, dan menarik tangan laki-laki itu menuju sebuah toko hewan peliharaan. “Tidak! Kita tidak boleh pulang ke rumah dulu! Ini bagian terbaiknya!”

Begitu melihat mereka, sang penjaga toko langsung memberikan sebuah tali pengikat hewan pada Donghae. Matanya tertuju pada apa yang terikat di tali itu. Seekor anak anjing yang sangat lucu. Ia menatap si anak anjing dan Chan bergantian. “Kau memberikan aku.. ini?”

Gadis itu mengangkat bahu. “Memangnya kenapa? Aku tahu kau cukup tersiksa karena aku pernah membeli satu set peralatan kecantikan untukmu.”

Donghae ingat saat itu. Ulang tahunnya dua tahun lalu. Dan Chan tanpa rasa bersalah memberikan satu set peralatan kecantikan dan boneka beruang berwarna pink terang. Jelas saja ia tersiksa. Pertama, ia bukan perempuan ― seharusnya Chan membeli itu untuk dirinya sendiri! Dan kedua, Donghae benci warna pink!

Achoo!” gadisnya bersin lagi. “Ayo!”

Mereka menghampiri sebuah toko pakaian. Gadis bermarga Yoo itu menerima jaket dari seseorang di sana, dan memakaikannya pada Donghae. Namun Donghae melepasnya, ia hendak memakaikannya pada Chan. Gadis itu menolak dan memberikannya lagi pada Donghae.

“Ini hadiahmu! Kau yang harus memakainya!” seru gadis itu.

“Kau lebih kelihatan membutuhkannya daripada aku.” Donghae membalas.

Mereka kembali melangkah.

“Chan-ah, kupikir kau butuh istirahat..” kata Donghae cemas.

“Aku cukup tidur tadi malam. Tenang saja.” elak gadis itu. Ia menunjuk sebuah taman bermain di depannya. “Kita harus ke sana karena ada sesuatu yang harus kau ― Achoo!”

Lagi-lagi terinterupsi oleh bersin.

“Kau butuh perhatian medis, Yoo.”

Chan mengabaikan ucapan itu, menarik tangan Donghae menuju taman yang dibilangnya tadi. Di taman bermain itu, ada sekumpulan anak-anak yang sedang bermain, dan salah satu dari mereka memegang action figure pemain bola terkenal di dunia.

Begitu anak-anak melihat Chan dan Donghae, mereka langsung berbaris dengan rapi dan bernyanyi.

b

“We’re making today a perfect day for you..”

We’re singing a birthday song to make your wishes come true..

We love Lee Dong Hae.”

Achoo!”

b

Anak-anak itu sempat berhenti ketika Chan bersin. Gadis itu berbalik menatap laki-laki itu. Ia menyambung lagu yang dinanyikan anak-anak tadi. “And I love you too..”

Meskipun khawatir, Donghae tersenyum.

Anak-anak itu melanjutkan.

n

“So we’re making today a perfect day..

Yes we are making today a perfect day.”

v

Mereka berdua pergi meninggalkan anak-anak itu. Dan tempat terakhir yang mereka kunjungi adalah toko barang elektronik.

Chan mulai lemas dan sempoyongan. Gadis itu menjadi lebih sering bersin dari biasanya. Mata gadis itu sayu, dan hidungnya berlendir. Namun gadis itu masih saja keras kepala. Donghae semakin khawatir dengan gadis itu.

“Chan-ah, ini berlebihan!” tegas Donghae. “Kau harus istirahat!”

“Achoo!” Chan berbalik. Gadis itu mulai kedinginan, dan semakin pucat. “Kita harus membuat ulang tahunmu menggigil!” ia melanjutkan langkah. “Maksudku meriah!”

Gadis itu mendahului Donghae ke toko barang elektronik. Begitu sampai di pintu, gadis itu bahkan sulit membukanya.

“Chan-ah?!” panggil Donghae, tak lagi meyembunyikan kegelisahannya.

“Apa?!” bentak gadis itu lemas. “Aku tidak apa-apa!”

Ketika seseorang di dalam toko membuka pintu, Chan nyaris jatuh, namun cepat-cepat menyeimbangkan tubuhnya. “Ayo ikut aku!”

Donghae berusaha mengejar gadis itu, namun parahnya Chan malah menaiki tangga, bukan lift. Gadis itu benar-benar lemas. Ia berjalan seperti orang mabuk. Wajahnya semakin pucat.

Ketika Chan hendak menginjakkan kaki ke satu anak tangga di atasnya, gadis itu terpeleset sehingga terhuyung ke belakang. Beruntung Donghae lebih cepat dari gadis itu, sehingga ia bisa menahan tubuh Chan agar tidak jatuh.

Laki-laki itu mendudukkan Chan di anak tangga, menyandarkan tubuh lesu gadis itu pada tubuhnya. “Chan-ah, lihat dirimu..” ia menyentuh dahi Chan dengan punggung tangannya, mendelik karena suhu tubuh gadisnya yang sangat tinggi. Ia memeluk tubuh gadis itu. “Kau demam. Dan badanmu panas.”

Gadis itu bersikeras ingin bangun, tetapi Donghae menahannya. Ia mengelus pipi dan menggenggam tangan gadis itu. “Kita tidak bisa terus seperti ini, oke? Ayo, akui saja kalau kau sakit..”

“Baiklah..” balas gadis itu lemas. “Aku memang sakit.”

☆☆☆

“Kau terlalu bersemangat untuk menyiapkan pesta kejutan untukku, sampai-sampai kau melupakan dirimu sendiri. Bodoh.”

Laki-laki bermarga Lee itu menggendong sang gadis di punggungnya. Saat ini mereka sedang menuju rumah mereka. Chan sakit, dan Donghae harus membawa gadis itu pulang. Donghae memakaikan Chan jaket yang menjadi hadiah ulang tahunnya.

“Maaf..” lirih Chan. Wajah gadis itu tersembunyi di balik bahu Donghae. “Aku hanya mau membuat hari ini menjadi sempurna, tapi aku malah mengacaukan ― Achoo! ― lagi..”

“Kau tidak mengacaukan apapun, Sayang.. ” laki-laki itu memperbaiki posisi Chan dalam gendongannya. “Kau hanya harus istirahat..”

Mereka akhirnya sampai di rumah.

Laki-laki itu berusaha membuka pintu depan, tetapi terkunci. Akhirnya ia menuju halaman belakang.

Dan betapa terkejutnya laki-laki itu ketika melihat apa yang terjadi.

☆☆☆

Joon sedang bersantai ketika ia mendengar suara gaduh dari halaman samping. Laki-laki itu terbangun dari baring-baring-santai mereka. Tiga orang anak berlarian di halaman belakang, nyaris menghancurkan hiasan ulang tahun.

Tentu saja ia heran setengah mati.

“Siapa yang memanggil anak-anak ini?!” seru Joon.

Dan kemudian, muncullah Lee Joo Hae bersama beberapa orang anak.

Keadaan menjadi amat sangat menarik.

“Joohae-ya?!” teriak laki-laki itu takjub.

“Apa?” jawab Joohae polos. “Bukannya Chan eonni bilang akan mengundang anak-anak ini?”

“Yah, tapi belum saatnya!” sahut Joon.

Anak-anak itu berlarian kesana kemari. Membuat meja-meja dan kursi-kursi berantakan, mengambil balon dan memecahkannya. Bahkan lima orang anak sedang berusaha memakan kue ulang tahun.

Secepat kilat, Joohae mengambil kue itu.

Joon masih berusaha menangkap mereka.

Beberapa dari mereka masih berusaha merebut kue dari Joohae, namun gagal. Joon masih terus mengamankan anak-anak ini.

“Oh, Joo! Kalau saja kau belum memanggil mereka!” gerutu Joon.

“Maafkan aku!” teriak Joohae berlari, masih mengamankan kue.

Joon sedang menangkap anak-anak, ketika ia mendengar rentetan nada-nada false dari piano.

Ia berbalik, dan melihat seorang anak sedang berjalan di atas tuts-tuts piano.

“Oh tidak!” teriak Joon berlari ke arah piano. “Aku sudah menyetemnya!” ia mengangkat anak itu dari piano. Anak itu masih terus berusaha meraih piano.

Oke, suasana halaman belakang rumah ini cukup ramai.

Anak-anak berseliweran kesana kemari. Berlarian sambil berteriak. Joohae berlarian menghindari mereka sambil tetap membawa kue. Joon mengawasi piano sambil berusaha menenangkan mereka dengan mengiming-imingi permen, namun gagal. Mereka terus seperti itu sampai mendengar ada yang menuju ke halaman belakang.

Ketika melihat Lee Dong Hae, Joohae dan Joon itu terkesiap. Terlebih saat anak-anak berhenti mendadak, dan berteriak. “Kejutan!”

Mata Donghae menjadi selebar piring terbang. Chan yang berada di gendongan Donghae juga mengangkat wajah, ternganga. Dekorasi memang terlihat hancur ― bahkan ada seorang anak yang berjalan-jalan di atas piano ― tapi mereka tetap ternganga.

“Wow.” decak keduanya kagum-terkejut-terharu-bahagia.

“Achoo!” Chan bersin lagi.

Joohae dan Joon semakin kaget saat anak-anak langsung bernyanyi.

b

“We’re making today a perfect day for you

We’re making today a smiley face all shiny and new.

There’s a fine line between chaos

And a hullaballo

So we’re making today a perfect day

Making today a perfect day

Making today a perfect day for you.”

v

Joohae mengambil kue. Joon menurunkan anak yang berjalan-jalan di piano tadi, menuntun anak itu bergabung bersama teman-temannya. Mereka berseru bersamaan. “Selamat ulang tahun!”

“Katakan itu juga untukmu, adik kecil.” Donghae berkata pada adiknya. Keduanya tersenyum. Chan juga mengucapkan selamat ulang tahun pada gadis itu, tapi dengan suara sengau yang lemas.

Entahlah apa yang harus Lee Dong Hae harus rasakan. Ia sendiri bingung. Hanya tersenyum yang bisa ia lakukan. Terlebih ketika menyadari bahwa orang yang berada di balik semua ini adalah gadisnya, Yoo Seung Chan.

“Oh Joo,” kata Joon merangkul pundak Joohae. “Kalau saja kekacauan ini belum ada, aku pasti sudah menjadi orang pertama yang mengucapkan ‘Selamat ulang tahun’ padamu.”

Gadis itu tersenyum simpul.

Dua orang anak merebut kue dari Joohae, dan berhasil. Akhirnya Joohae mengambil pisau dan memotong-motong kue itu, membagikannya ke semua orang.

Yeah!” pekik Chan lesu. “Kita berhasil!”

Saking bahagianya, Donghae tidak menyadari bahwa Chan ada di gendongannya.

Donghae mengangguk-angguk. “Aku harus mengakuinya. Kau berhasil.” katanya. “Kau harus istirahat.”

☆☆☆

Lee Dong Hae membiarkan Yoo Seung Chan duduk bersandar di kepala tempat tidur. Ia menutupi tubuh gadis itu dengan selimut, dan mulai menyuapi sup jamur hangat pada Chan.

“Bagaimana menurutmu?” Chan bertanya setelah menelan sup.

“Sangat sempurna.” ujar Donghae senang.

“Semuanya?”

Donghae mengangguk.

“Bagian mana yang menurutmu paling istimewa?”

Donghae menyeka sisa-sisa sup di sekitar bibir Chan, kemudian membantu gadis itu berbaring. Ia meletakkan sebuah kain basah di dahi gadis itu, lalu mengusap sayang kepala Chan.

“Saat kau membiarkan aku menggendong dan merawatmu.”

Chan tersenyum. Membuat Donghae juga tersenyum.

“Achoo!”

c

End

 c

Ini sebenernya pernah aku post di page facebook SJFF, tapi cast-nya Kyuhyun. Mungkin ada yang udah pernah baca. Sengaja aku ganti cast-nya dan ada beberapa bagian yang aku aransemen. Cerita ini terinpirasi dari sequel Frozen, Frozen Fever.

Maaf yak kalo ga suka 🙂

Advertisements

6 thoughts on “Fever

  1. Uuuu so sweet banget sih mereka berduaa 😍 btw kocak banget ya kelakuan chan waktu ultah donghae yg dua tahun lalu 😂 walaupun ada aja rintangan yg menghadang/? Chan tetap bisa bikin perfect birthday buat donghae 😘.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s