Love, Trust & Hate (After Story)

114f2364b1a3b81e90c1df08a7ec65f5

Such a cheesy thing that make they’re always in love

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 (END)

***

PAGI ini sama seperti awal musim panas lainnya, yang masih menyisakan bau musim semi yang segar. Bunga-bunga indah bermekaran masih terlihat basah karena embun. Awan bergumul memenuhi langit, menghalangi matahari untuk memancarkan kehangatannya, walau meski begitu masih ada sinar matahari yang muncul di sela-sela awan.

Hari memang sudah pagi. tetapi orang-orang seakan tidak mau memulai hari lebih awal. Mungkin karena hari ini adalah hari libur nasional ditambah akhir pekan keesokan harinya dimana semua orang bisa menambah jam ekstra pada waktu tidur mereka. Angin berhembus meniup dedaunan pada tanaman mereka, dan sesekali memukul pelan jendela-jendela rumah. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di luar rumah.

Yah, itu setidaknya sampai kau mendengar suara motor dari kejauhan.

Motor itu melaju dengan pelan, namun pasti. Orang itu mengenakan seragam khas sebuah instansi dan menggunakan tas yang dilempangan di depannya. Ia berhenti di depan sebuah rumah.

Bahkan di hari libur seperti ini, kau masih mendapatkan pos.

Orang itu turun dari motor, memasuki rumah itu sambil mengambil sebuah paket dari tasnya. Besarnya tidak seberapa, hanya saja, si petugas tampak kepayahan saat harus menahan paket itu dengan satu tangan sementara tangan yang lain menekan bel rumah.

Menunggu beberapa detik, pintu rumah pun dibuka oleh seorang gadis yang tampak sekali kalau dia baru bangun tidur.  Ia mengerutkan kening menatap tamunya, seraya membersihkan lensa kacamata dengan ujung kaosnya. Ia mengenakan benda itu dan mengerjap beberapa kali. Akhirnya ia mengenali tamunya.

“Nona Hwang Min Jung?”

“Itu aku.” Minjung mengangguk.

“Ada paket untuk Anda, nona.” petugas itu menyerahkan benda berat yang terbungkus dengan kertas coklat itu padanya.

“Sepagi ini?”

“Pos luar negeri, jika Anda ingin tahu.” jawab si petugas ramah.

Minjung sebenarnya ingin bertanya “Pos luar negeri?” tapi karena ia tahu ia tidak akan mendapat jawaban dan sepertinya jawaban yang ia butuhkan ada di dalam paket yang ada di depannya, ia tidak jadi mengatakannya. Jadi ia menerima paket itu ― ia langsung tergopoh menyadari beratnya ― lalu menandatangani sesuatu yang diminta si petugas. Ketika si petugas dan dirinya saling mengucapkan terima kasih, si petugas pos menjauh, dan Minjung menutup pintu, gadis itu duduk di sofa ruang tengah, mengamati bungkusan dengan saksama.

Setahu dirinya, ia tidak pernah berbelanja online di pasar luar negeri, atau meminta seorang teman kantornya menitipkan sesuatu dari Inggris. Ia langsung mengenali bungkusan yang berasal dari negeri Ratu Elizabeth itu karena perangkonya bergambar Big Ben abad 19 dan tertempel bagian depan kartu pos bergambar London Eye. Di ujung kanan bawah bungkusan, tertera namanya dan alamat rumahnya yang tidak ditulis dengan hangeul, melainkan dengan alfabet latin. Tulisannya agak besar dan bulat, tidak seperti huruf Minjung yang kecil. Rasanya ia pernah melihat huruf itu di suatu tempat..

Ia mengangkat bahu, membuka bungkusannya. Ternyata ia tidak langsung menemukan apa yang ia cari. Ia malah melihat sebuah kotak biru berukuran sedang yang bagus sekali, dengan semacam surat di atas penutupnya. Tulisan itu memang rapi, tapi banyak coretan di sana-sini. Kali ini, tulisannya menggunakan huruf hangeul.

v

Aku tahu eonni akan berpikir kalau aku sangat kuno karena aku mengirimkan ini dengan menggunakan pos berperangko. Aku sebenarnya ingin menitipkan pada temanku yang akan ke Korea lima hari lalu dan membiarkan dia memberikannya pada eonni saat eonni berulang tahun, tapi saat itu aku terlambat bangun dan temanku sudah berada di pesawat. Aku terpaksa mengirimnya dengan pos dan pastinya akan sampai sehari sebelum eonni berulang tahun. Tapi tidak apa. Asalkan hadiah eonni sampai aku sudah bisa bernapas lega. Itu original, tahu? Eonni pasti bisa menduga berapa uang yang aku habiskan, dan meskipun aku berkata begini, aku tidak akan menerima ganti dalam bentuk apapun. Dan harus kuakui, meskipun itu bukan punyaku, aku akan menangis tak tahu diri kalau sampai hadiah eonni hilang!

Oh ya. Minjung eonni, selamat ulang tahun walaupun aku terlalu cepat sehari! Aku tidak perlu mendoakan eonni ini itu karena aku yakin semua teman-teman eonni akan mengucapkan doa mainstream itu! Jadi, aku hanya mau bilang, semua eonni suka dengan hadiahku!

P.S : kartu pos bergambar London Eye itu, aku sendiri yang memotretnya dengan kameraku. Bagus kan?

P.P.S : aku menulis surat ini dengan terburu-buru. Petugas pos London sampai kesal menungguku menulis. Aku minta maaf karena hurufku.

 v

LJH

v

Minjung mendengus geli, tertawa pelan, dan tersenyum senang saat membaca tiap kalimat surat itu. Seharusnya ia sudah tahu, jika ada sesuatu yang berkaitan dengan London, itu pasti Lee Joo Hae, yang tengah menempuh tahun terakhir kuliahnya.

Ia membuka kotak itu, dan langsung terkesiap hebat saat melihat isi kotak. Ia bahkan melempar kotak itu menjauhinya.

Minjung mengerjapkan mata beberapa kali, kemudian berlutut mendekati kotak, melongo ke dalamnya dengan takut-takut. Kemudian, ia duduk tegak, mengerjap lagi, dan menampar pipinya sendiri.

Ia langsung berlari ke kamar, berjingkat pelan menuju nakas agar ia tidak menimbulkan suara seseorang yang tengah tidur di sana, mengambil ponsel, berjingkat menjauh, menutup pintu dengan pelan, dan langsung menelepon seseorang.

Tetapi ia kembali teringat kalau saat ini dini hari di London.

Ia baru hendak menutup telepon dan memutuskan untuk menelepon Joohae nanti ketika ― ternyata ― gadis itu menerima panggilan.

Dan karena itu, refleks Minjung berkata. “Kau hidup?”

Terdengar suara dengusan di sana. “Aku mahasiswa semester akhir, eonni!”

Minjung tertawa.

“Jadi, biar kutebak.” suara Joohae terdengar lelah tapi ceria. Eonni pasti sudah membuka hadiahnya. Mengingat sekarang jam 8 di Seoul.”

Minjung mengulum senyum. “Berapa uang yang kau habiskan, hah?!”

“Bukannya aku sudah bilang, aku tidak akan menerima ganti dalam bentuk apapun? Dan asal eonni tahu, aku membelinya di London Book Fair! Dan tebak, aku hanya menghabiskan 30 pound untuk buku eonni!”

“30 pound?!” Minjung memekik setelah mengonversikan nilai itu ke dalam won. “Hei, itu cukup mahal untuk ukuran tiga buah buku!”

“Tapi itu cukup murah itu untuk buku sebaru Harry Potter and the Cursed Child. Dan untuk The Tales of Beedle the Bard dan The Casual Vacancy yang diterbitkan lagi! Mereka menyiapkan stan khusus untuk J.K. Rowling, John Green, Haruki Murakami, Suzanne Colin, dan masih banyak lagi! Aku tidak heran saat menemukan lagi 7 buku Harry Potter dan novel-novel lain yang sudah kumiliki! Aku benar-benar beruntung! Aku bahkan membeli untukku juga!”

Minjung merengut.

“Jadi, katakan padaku. Apa eonni suka?”

“Apa aku harus mengatakannya?!”

Joohae tertawa. “Baiklah aku harus kembali ke tugasku. Annyeong!”

Gadis itu memutuskan sambungan telepon. Minjung terperangah menatap ponselnya, lalu kembali ke kotak tadi. Ia mengosongkan isinya, memandang tiga buku baru bersegel itu dengan mata melebar. Kemudian ia mengelus buku itu, seakan memastikan benda itu nyata. Ia memejamkan mata, menghembuskan napas penuh tekad. Ia membuka segel The Tales of Beedle the Bard.

Minjung sudah tahu waktu Joohae mengatakan kalau buku ini original itu berarti buku ini berbahasa Inggris, bukan berbahasa Korea. Tapi itu tidak masalah. Ia menumpuk dengan rapi dua buku tadi dan mulai membaca ciptaan hebat J.K. Rowling disamping Harry Potter ini.

☆☆☆

Eunhyuk mengucek-ucek matanya, merasa terganggu karena sinar matahari yang menerangi kamar karena tirai jendela dibuka lebar-lebar. Pasti Minjung yang membukanya, ia membatin. Ia melirik tempat di sampingnya, yang sudah ia duga akan kosong. Gadis itu sudah bangun dari tadi. Ia merasakannya. Saat Minjung dengan pelan melepas pelukannya dan pergi untuk membuka pintu untuk siapapun tamu yang berkunjung sepagi itu, ia kembali tidur dan tidak menunggu gadisnya lagi. Ia juga mendengar derap langkah pelan yang ditimbulkan gadis itu kira-kira satu jam yang lalu entah untuk melakukan apa, tapi hasratnya untuk tidur jauh lebih besar setelah ia bekerja seharian dan pulang larut malam. Tapi sekarang, ia sudah tidak punya alasan untuk kembali tidur selain karena sinar matahari.

Ia menyibak selimut, berdiri, merapikan tempat tidur, dan keluar kamar. Biasanya di hari libur ketika keduanya berada di rumah, Minjung akan berada di ruang makan bersama sarapan pagi yang sudah ia siapkan. Sudah menjadi kebiasaan bila ia keluar dari kamar dan menuju dapur. Tapi hari ini, ia malah melihat Minjung berada di ruang tengah dan sedang melakukan aktivitas yang sangat jarang sekali dilakukannya pagi-pagi.

Membaca.

Eunhyuk menggeleng-gelengkan kepala. Sekarang ia tahu siapa yang tadi pagi bertamu.

Kurasa kita semua tahu kecintaan Minjung pada buku. Dan siapapun kau ― bahkan kakek dan neneknya ― tidak berani mengganggunya bila dia sedang membaca. Ia sudah suka membaca bahkan sejak ia masih kecil. Gadis itu suka mengulang apa yang sudah dibacanya, karena pembacaan pertama untuk menghibur diri, pembacaan kedua dan seterusnya untuk menelaah dan mempelajari karakter penulis. Karena itu Minjung sama sekali tidak suka diganggu saat sedang membaca, bahkan dia tidak akan segan untuk marah padamu dan mengabaikanmu. Kyuhyun, Donghae, Sungmin, dan Eunhyuk pernah merasakannya.

Tapi saat ini, Eunhyuk lapar dan ia yakin Minjung belum menyiapkan sarapan.

“Minjung-ah?”

Tidak ada jawaban. Padahal gadis itu berada sekitar semester di depannya.

“Minjung-ah?”

Masih tidak ada jawaban.

“Jungie?”

“Apa?” balas gadis itu dengan agak membentak.

“Sarapanku.”

“Ada roti dan selai di kulkas.” Minjung menjawab tidak peduli. Ia kembali membaca. Kali ini ia merebahkan dirinya sepanjang sofa ruang tengah.

Eunhyuk menggerutu sebal, menuju dapur, menuruti perkataan Minjung.

Ia mengoleskan selai strawberry ke rotinya sambil terus menatap Minjung yang tengah membaca. Ia memakan roti dengan kasar, tanpa mengalihkan pandangan. Bagus sekali. Ia yakin seharian ini ia pasti tidak akan dianggap ada oleh gadis itu. Ia jadi penasaran buku apa yang membuat gadis itu bertahan.

Tetapi baru saja ia mendorong kursi ke belakang untuk berdiri, tiba-tiba ia melihat Minjung berjalan menuju ruang makan, dengan buku di tangannya. Ia mengambil roti dan mengoleskan selai tanpa memindahkan pandangan dari bukunya. Ia menikmati roti itu juga sambil membaca.

Eunhyuk mengerutkan kening melihat judul buku gadis itu. “The Tales of Beedle the Bard?” katanya. “Buku apa itu?”

Minjung tidak menjawab.

Mata Eunhyuk menangkap nama seseorang di sampul bukunya. “J.K. Rowling?”

Minjung melahap potongan roti terakhir, menutup buku. Rupanya gadis itu sudah selesai membaca. Ia menatap Eunhyuk sekilas, lalu kembali ke ruang tengah, merobek segel buku lain. Dan kembali merebahkan diri di sofa dan membaca.

Laki-laki itu terperangah luar biasa. Apa-apaan itu? Minjung benar-benar menganggapnya kasat mata! Sungguh! Dia memang sebelumnya pernah diabaikan seperti ini sekali, dan itu karena Allegiant-nya Veronica Roth. Tapi setidaknya, gadis itu masih mau tersenyum atau membalas sapaannya. Dan itu pun dengan nada yang ramah. Bukan seperti tadi.

Ia ke ruang tengah, melihat kini gadis itu membaca buku hardcover yang sampulnya didominasi warna kuning dengan judul Harry Potter and the Cursed Child.

Bagus sekali.

Jika itu Harry Potter, Eunhyuk menyerah.

Minjung sangat suka novel sihir itu. Ia membaca bukunya dan menonton filmnya berkali-kali, sampai Eunhyuk yang awalanya selalu terbawa suasana saat menonton padahal ia sudah tahu ceritanya sekarang merasa muak luar biasa. Gadis itu memang pernah berkoar-koar padanya, kalu J.K. Rowling akan merilis kelanjutan Harry Potter setelah Deathly Hallows. Hanya saja, buku itu belum diterbitkan di Korea dan di Inggris sendiri masih berupa drama musikal. Jadi, siapapun yang mengirim buku ini pastilah seseorang dari luar negeri.

Eunhyuk mendengus. Ia mendapatkan jawabannya saat melihat kotak sedang yang di tutupnya terdapat surat dari Lee Joo Hae.

Ia langsung mengirim pesan singkat pada adik sahabatnya itu.

b

Eunhyuk
Bagus sekali

b

Eunhyuk menyalakan televisi, tidak peduli dengan Minjung yang sedang membaca. Lagipula suara televisi tidak akan mengganggu seorang Hwang Min Jung. Saat ia mengganti saluran, sebuah pesan singkat masuk.

v

Adik Kecil
Apa?
Eunhyuk
Terima kasih
Karena sudah membuat Minjung melupakan aku
Adik Kecil
Haha!
Rasakan itu!

v

Eunhyuk berdecih ketika melihat balasan gadis itu, tidak lagi berniat mengiriminya pesan.

Ia melirik Minjung, yang kini wajahnya berkerut heran bercampur takjub. Bola matanya bergerak cepat mengamati tulisan itu, sesekali membalik halamannya. Ia menghela napas.

Ia menatap televisi, tapi tidak benar-benar menikmati acaranya. Ia sebal dengan Minjung yang sedang membaca. Ia sebal dengan Minjung yang hanya menatapnya seklias dan memandang lama novel bodohnya. Ia sebal dengan Minjung yang mengabaikannya!

Oke, ia memang sudah sering diabaikan Minjung jika gadis itu sedang membaca. Tapi saat itu ia hanya ingin mengetahui kabar gadis itu saja. Ia sedang sibuk dan kabar dari gadisnya adalah asupan energi yang tak terhingga. Sekarang, ia merasa seperti tidak punya kekasih!

Hari ini libur dan hal yang paling menyenangkan untuk dilakukan adalah bersama gadisnya sepanjang hari! Tapi lihatlah! Tiga buku itu jauh lebih berarti dari dirinya!

Perutnya berbunyi. Hebat sekali.

Bagaimana tidak? Tadi pagi ia hanya makan roti dan energinya tebuang sia-sia untuk mengekspresikan kekesalannya pada gadis itu!

Dan sekarang sudah jam makan siang!

“Minjung-ah?”

Eunhyuk melihat gadis itu mengangkat alis dari balik bukunya. Ia mau tidak mau merasa senang karena dari reaksi itu, Minjung menyadari keberadaannya

“Aku lapar.”

“Kalau begitu makan.” kata gadis itu tidak jelas.

“Tidak ada makanan.”

“Kalau begitu masak.”

“Aku mau kau yang memasak.”

“Aku tidak akan memasak hari ini.” Minjung membalik bukunya.

Kali ini, Eunhyuk terang-terangan menunjukkan kalau ia tidak suka diabaikan.

YA!” pekik laki-laki itu merampas buku, lalu membuangnya sembarangan.

YA!” Minjung berteriak lebih keras lagi, berlari mengambil bukunya, meratakan dengan susah payah pada halamannya yang sedikit terlipat. “BERANI-BERANINYA KAU MEMPERLAKUKAN BUKUKU SEPERTI INI?!”

“Kau pikir aku peduli?!” Eunhyuk menyahut pedas. “Aku lapar dan aku mau kau menyiapkan makanan!”

Minjung mendengus. “Kau pikir aku juga peduli?!” ia masih berlutut, kini memangku bukunya, dan menatap laki-laki itu dengan sikap menantang. “Kau bisa membeli makanan yang kau mau di luar sana! Tidak perlu harus menungguku!”

“Kau gadisku!” bentak Eunhyuk marah.

“Hanya karena aku gadismu, bukan berarti aku tidak bisa melakukan apapun yang aku mau!” Minjung membalas. “Kau selalu membeli makanan saat aku sakit! Tapi kenapa sekarang kau tidak bisa?!”

Eunhyuk terkejut setengah mati. Ia berdiri, pergi menjauhi gadis itu, membuka pintu rumah, kemudian membantingnya dengan keras, dan lenyap.

Minjung menatap pintu tidak peduli, kembali membaca dengan posisi seperti tadi.

☆☆☆

Laki-laki bermarga Lee itu memutuskan untuk menuju salah satu restoran fast food, dan makan di sana. Ia bersumpah ia akan menghabiskan waktu seharian ini di luar rumah karena ia hanya hantu transparan di rumahnya sendiri. Ia menikmati makanannya dalam diam.

Jika ia boleh jujur, jarang sekali mereka saling meneriaki satu sama lain hanya karena buku, atau masalah sepele lain. Itu pun jika mereka sedang bercanda, atau Minjung yang kesal karena diejek dan digoda habis-habisan olehnya. Setelahnya mereka akan kembali akur lagi. Tapi sepertinya Minjung benar-benar marah padanya. Buku adalah benda yang paling Minjung sayangi di dunia, jadi kau akan menerima akibatnya bila kau berani membuatnya terlipat sepersekian mili saja.

Baru kali ini Eunhyuk berani untuk merampas dan melempar buku Minjung seperti tadi. Tapi entah mengapa, ia tidak merasa bersalah sedikitpun. Ia berhak marah seperti tadi. Orang awam akan memandang alasan marahnya dia sebagai satu alasan yang sepele, namun bagi Eunhyuk itu jauh lebih dalam dari itu. Ini masalah harga diri.. dan.. keabsahan tentang pengakuan Minjung yang menyatakan kalau ia adalah miliknya..

Sungguh, ia sangat membutuhkan Minjung di saat gadisnya sendiri tidak membutuhkan dirinya!

Ia menelan makanannya seperti minum sebutir obat pahit tanpa didorong air mineral.

Ia keluar dari restoran itu, memutuskan mungkin sebaiknya ia berjalan-jalan. Awal musim panas memang selalu menyenangkan. Minjung selalu senang menyaksikan es yang mencair di dedaunan, dan ia akan dengan senang hati menggoyangkan ranting pohon agar embun itu mengenai Minjung. Selanjutnya mereka akan saling kejar-mengejar sambil tertawa. Tidak jarang ia akan mendapat tendangan bokong dari gadis itu.

Ia merengut. Bukannya ia sedang marah dengan gadis itu? Kenapa masih memikirkannya?

Ia kemudian melihat beberapa pedagang camilan pinggir jalan, melayani pembeli yang ingin menikmati apa yang mereka sajikan. Jika saja Minjung ada di sini, ia yakin ia pasti sudah diseret untuk mampir ke salah satu dari mereka.

Oh, Minjung lagi.

Ia berjalan lagi. Kali ini ia melewati sebuah toko buku yang cukup ramai. Orang-orang masuk dan keluar, dengan ekspresi berbeda-beda. Mimik puas dan penasaran terpancar dari mereka yang membawa kantong berisi buku-buku yang baru saja dibeli. Raut tak sabar akan muncul dari mereka yang masuk dengan terburu-buru ke sana. Ekspresi sedih dan lelah akan muncul dari mereka yang tidak mendapatkan buku yang mereka inginkan. Semua itu persis seperti jika Minjung yang mengalaminya. Ia pernah sekali menemani gadis itu ke toko buku, dan ia bersumpah pada dirinya sendiri bahwa itu adalah pertama dan terakhir ia menawarkan diri menemani gadis itu ke toko buku. Karena dengan begitu, ia sama saja menawarkan dirinya menjadi hantu tak kasat mata yang akan kembai terlihat kalau mereka pulang nanti.

Eunhyuk memejamkan mata jengah. Bahkan di saat marah dan kesal pun, ia tidak berhenti memikirkan gadis pujaannya.

Mengapa semua hal yang ada di sini hanya mengingatkannya pada gadis itu?

Ia menghampiri sebuah stan kecil, membeli satu es krim cone. Ia duduk di salah satu bangku, menikmati matahari yang mulai menghilang dibalik gedung-gedung pencakar langitnya, menyisakan semburat kemerahan yang elegan.

Baru pada saat itu, Eunhyuk menyadari bahwa dirinya begitu menyedihkan.

“Ah.” ia mengingatkan dirinya sendiri. “Byul pasti mau menemaniku.”

Dan ia merogoh saku celana dan mengambil ponsel. Ia sudah hendak mengetik nomor yang sudah dihapalnya kalau saja ia teringat sesuatu.

Ia mengumpat dan kembali menyimpan ponselnya. Saat ini Byul pasti sedang bersenang-senang dengan Kyuhyun karena laki-laki itu menghadiahinya tiket menonton pertandingan NBA langsung di Amerika. Entah dari mana laki-laki itu mendapatkannya. Sialan.

Waktu menunjukkan pukul sembilan saat ia tiba di rumah.

Ia tidak terkejut karena tidak ada yang menyambut kepulangannya.

Ia tidak lagi melihat Minjung di sofa. Kini, gadis itu berada di kamar mereka, duduk bersandar pada bantal-bantal yang ditumpuk di kepala tempat tidurnya. Saat pintu terbuka, gadis itu tidak menunjukkan ekspresi bahwa ia mendengar sesuatu.

Kemarahan Eunhyuk tersulut lagi. Ia mengambil satu bantal dan selimut, lalu keluar kamar dengan membanti pintu.

Untuk pertama kalinya dalam hari ini, Hwang Min Jung menyadari keberadaan Lee Hyuk Jae.

☆☆☆

Minjung tidak habis pikir mengapa soerang Joanne Kathleen Rowling bisa mendapat inspirasi unuk membuat buku sehebat ini. Semua karangannya memang luar biasa. Dalam waktu dua belas jam saja, ia sudah menyelesaikan dua buku. Ketika hari menjelang sore, ia menyelesaikan Harry Potter and the Cursed Child dan sudah membaca The Casual Vacancy.

Ia tidak tahu bagaimana harus berterima kasih pada Lee Joo Hae karena sudah memberikan buku ini secara cuma-cuma padanya. Hari ini tidak ada yang ia lakukan selain membaca. Ia bahkan tidak merasa lapar dan jenuh sedikitpun.

Tanpa disadarinya malam pun tiba. Ia sudah berpindah dari sofa ke kamar tidurnya, agar nanti ia bisa langsung tertidur jika ia lelah. Sebenarnya ia sudah menguap beberapa kali, tetapi rasa penasaran lebih mendominasi di dalam dirinya.

Pada saat itu, ia mendengar suara pintu kamarnya dibuka. Ia tidak menoleh, karena ia tahu pasti ada seseorang di sana. Ia merasa seseorang menarik bantal dari belakang punggungnya dengan paksa, kemudian pintu terbanting menutup dengan keras.

Minjung tersentak. Gadis itu memandang berkeliling. Seperti baru bangun dari koma yang sangat lama.

Apa ia benar-benar hanya membaca seharian ini?

Minjung menandai dengan pembatas buku di tempat terakhir ia membaca, lalu menutup bukunya, mengamati ranjang di sebelahnya yang kosong. Seharusnya ada seseorang yang tidur di situ. Seharusnya ada seseorang yang sedari tadi merecokinya. Seharusnya ia tidak sendirian seharian ini.

Ia berdiri, mengingat apa yang sudah dilakukannya selain membaca. Hanya makan roti dan mandi. Itu saja.

Ia lalu membuka pintu kamar, mendapati semuanya tenang seperti biasa. Kemudian ia melihat sepasang kaki terjulur di ujung sofa.

Gadis itu kaget bukan kepalang.

Ia menghampiri sofa, mendapati Eunhyuk-nya berbaring dengan tidak nyaman di sana. Dengan berat hati, ia menyadari apa yang sudah dilakukannya pada laki-laki yang sangat ia cintai ini.

Entahlah.. buku terkadang bisa membuatnya kerasukan seperti tadi. Dan itu.. baiklah.. ia memang agak keterlaluan.. ia harus mengakuinya.

Gadis itu duduk di lantai, sejajar dengan kepala Eunhyuk. Ia mengusap lembut sisi wajah itu, berakhir dengan mengacak pelan rambutnya. Ia memang terkenal dingin, namun entah mengapa ia merasa laki-laki di depannya ini tidak pantas untuk melihat semua keburukannya. Dan mengingat betapa sensitifnya laki-laki ini, ia makin merasa bersalah.

“Eunhyuk-ah..” bisik gadis itu, tanpa melepas pandangan dan tangannya. “Baiklah.. aku salah karena tidak memberimu makan dan membentakmu bahkan mengusirmu..Tapi.. Joohae mengirim hadiah ulang tahunku terlalu cepat dan.. dan.. aku tidak bisa tidak membaca buku-buku itu kan? Kau tahu kalau cerita Cursed Child sangat seru.. dan.. dan The Casual Vacancy adalah J.K. Rowling tanpa sihir.. Oh baiklah, aku tahu kau tidak akan mengerti..” ia menghela napas keras. “Baiklah.. aku minta maaf.. oke? Aku minta maaf karena mengabaikanmu seharian ini..”

Jika Minjung secerdas itu, seharusnya ia bisa menyadari bahwa sebenarnya Eunhyuk mendengar semua yang ia ucapkan. Laki-laki itu baru hendak tertidur kalau saja tidak merasakan belaian lembut yang tidak didapatnya seharian ini. Ia senang Minjung menyadari kesalahannya. Dan ia sangat senang mendengar Minjung mengatakan maaf.

Gadis itu adalah gadis yang amat sangat menghindari konflik dengan siapapun, tapi ia tidak akan segan marah apabila ia tahu ia tidak bersalah, karena dengan begitu ia tidak harus meminta maaf. Mengatakan maaf bagi gadis itu sama saja melepas semua novel-novel bodohnya.

Eunhyuk menggeliat, sengaja memunggungi gadis itu agar ketika membuka mata wajah mereka tidak harus sejajar, karena hal itu akan membuatnya tertawa.

“Eunhyuk-ah..” ia mendengar Minjung merengek. “Aku sudah minta maaf kan? Bangunlah.. jangan tidur di sini.. Tidurlah di kamar bersamaku.. Aku.. aku takut..”

Laki-laki itu mengatupkan bibir agar tidak meledak tertawa.

“Aku janji aku tidak akan mengabaikanmu lagi kalau aku membaca.. aku janji..”

Eunhyuk berdecih, membuka mata, dan kembali menghadap gadis itu. Ia melihat Minjung membelalak, dan sebelum gadis itu sempat bicara ia berkata. “Aku tahu kau tidak sungguh-sungguh dengan ucapanmu.”

Dan dengan begitu, ia meraih tengkuk gadis itu, mendorong mendekatinya, sampai kini ia sudah melumat bibir gadis itu seakan ia sudah lama tidak melakukannya.

Minjung membelalak, kemudian perlahan matanya terpejam tenang. Ia selalu suka cara Eunhyuk memperlakukan bibirnya, meski saat ini ia tahu laki-laki itu sedang menyalurkan kekesalannya pada dirinya. Laki-laki itu sudah tidak pernah lagi melukainya, dan meski ciumannya terkesan menuntut dan haus akan balasan, Minjung memilih untuk merasakan apapun yang laki-laki itu bagi padanya. Karena itu ia tidak membalas, dan memutuskan untuk membiarkan Eunhyuk melakukannya, Toh, ia menikmatinya.

Pada akhirnya, Eunhyuk sendiri yang melepas pagutan itu. Ia mengakhirinya dengan gigitan menggoda pada bagian bawah bibir Minjung, yang membuat gadis itu melenguh pelan tanpa disadarinya. Ia terengah-engah, mengamati rona kemerahan pada wajah dan bibir gadisnya. Ia menyeringai.

Dengan sekali gerakan, tiba-tiba saja Minjung sudah berbaring di atas tubuhnya, dengan wajah yang begitu dekat.

Gadis itu melakukan kegitan favoritnya, menyusuri jemarinya di rambut prianya. Membuat rambut laki-aki itu berantakan karena ulahnya. Ujung hidung mereka bergesekan. Eunhyuk tidak bisa tahan untuk tidak mencium gadis itu lagi. Dan Minjung tidak akan mengelak bahwa ia merindukan sentuhan ini.

Ketika bibir keduanya benar-benar terlepas, barulah Eunhyuk berkata. “Kau tahu? Di satu sisi, aku harus membenarkan ucapan Jung Il Hoon yang mengatakan kalau kau sangat menggoda.”

Minjung hanya tersenyum.

“Jadi?”

“Apa?” Minjung terlihat bingung.

“Kau tahu kau bersalah?”

Gadis itu mengangguk. “Maaf..”

Mereka bangun, duduk berhadapan. “Aku akan membakar buku-buku mu kalau kau melakukannya lagi.”

“Awas saja kalau kau berani.” kata Minjung masam. “Aku akan langsung mengajukan surat cerai.”

Eunhyuk melongo. “Astaga, nona Lee.” ia meletakkan tangan di bahu gadis itu. “Ancamanmu mengerikan.”   

Minjung mengalihkan pandangan.

“Hei.” Eunhyuk menarik dagu Minjung agar mata mereka bertemu. “Mau ke suatu tempat?”

“Selarut ini?” gadis itu mengerutkan kening.

Eunhyuk mengangat bahu tak peduli. “Ayo.”

☆☆☆

Mereka berakhir di sebuah toko kue di pusat kota. Meski hari sudah larut, tidak ada tanda-tanda kalau aktivitas di kota akan redup. Kehidupan ini memang tidak lagi mengenal siang dan malam.

Keduanya duduk di meja dengan dua kursi yang saling berhadapan dekat jendela kaca yang besar. Alih-alih duduk bersebelahan, keduanya lebih memilik untuk duduk berhadapan. Eunhyuk menopang dagu, menatap Minjung sambil tersenyum.

“Apa?” Minjung bertanya.

“Kau cantik.” senyum Eunhyuk melebar.

Minjung tidak menanggapi. “Kau tidak mau makan?”

“Aku sudah memesan mimuman.”

Dan seorang pelayan menghampiri mereka dengan dua cangkir kopi panas.

Eunhyuk sedang melihat ke suatu tempat, kemudian memanggil gadisnya dengan tiba-tiba.

“Jungieah?”

Minjung memiringkan kepala dan mengangkat alis.

Laki-laki itu menarik dagu Minjung, mengecup kilat bibirnya. Lalu tersenyum lagi. “Selamat ulang tahun.”

Gadis itu mengerjap, memandang berkeliling. Di toko ini hanya ada tiga orang pegawai toko, dan seorang gadis yang duduk sendirian membelakangi dirinya. Ia berani taruhan bahwa saat mereka datang tadi, ia dan gadis itu duduk berhadapan, namun entah mengapa langsung mengubah posisinya. Diam-diam ia melihat para pegawai toko yang berbisik-bisik seru, mungkin tentang keduanya. Ia melihat keluar. Hanya orang yang berlalu-lalang ke sana kemari tanpa menaruh perhatian pada mereka.

Ia meniup poninya. “Bisakah kau menahan dirimu untuk tidak menciumku di depan banyak orang?”

“Kau seharusnya bersyukur aku tidak menciummu seperti tadi.” Eunhyuk membalas. “Lagipula aku hanya mengucapkan selamat ulang tahun.”

Untuk sesaat, Minjung terdiam, kemudian matanya melirik arlojinya. Hari sudah berganti. Dan hari ini adalah ulang tahunnya. Bahkan karena buku-buku itu, ia tidak mengingat bahwa ia sedang menyongsong hari spesialnya.

“Terima kasih.” Minjung tersenyum kecil.

Eunhyuk berdiri menghampiri kasir, kemudian menyerahkan beberapa lembar uang dan kembali dengan membawa sepotong kue coklat caramel, sebuah lilin, dan sebuah korek. Ia meletakkan semua itu di meja. Ia menaruh lilin di atas kue, membakarnya, menyodorkan kue itu pada Minjung.

“Kau tidak perlu disuruh kan?”

Minjung menautkan tangan, memejamkan mata, dan menunduk. Semenit kemudian, lilin sudah padam. Ia mulai menikmati kue itu.

Sementara Eunhyuk hanya mengamati bahwa gadisnya menikmati kue itu sendirian tanpa peduli bahwa sebenarnya ia juga menginginkan kue itu.

“Hei.”

Minjung menatapnya dengan mulut penuh.

“Suapi aku.” pinta Eunhyuk menjijikkan.

“Ini kue ulang tahunku kan?”

Laki-laki itu mendesis sebal. Ia kembali menuju kasir, dan kemudian duduk di hadapan gadis itu dengan kue coklat strawberry keju karamel yang potongannya agak lebih besar dari punya Minjung.

Gadis itu melongo menatap kue Eunhyuk. “Err.. kau boleh mencobanya.” Ia menggeser piring mendekati prianya.

Laki-laki itu melebarkan mata dan menjulurkan lidah, menikmati kuenya tanpa peduli Minjung memandangnya penuh rasa ingin mencoba. Gadis itu kembali menikmati kuenya dengan perasaan terluka.

Ketika kuenya masih tersisa seperempat, Minjung mendorong kursi ke belakang, dan berdiri, berniatan untuk pulang sendirian. Eunhyuk juga ikut berdiri dan langsung mencekal tangan gadis itu.

“Hei!” Laki-laki itu menggeleng-gelengkan kepala. “Aku hanya bercanda, kau tahu? Aku tidak seserius itu!”

Kini ia menarik gadis itu untuk duduk di sampingnya. Minjung masih tidak mau menatapnya bahkan setelah Eunhyuk mengangkat garpu berisi piring di depan hidung gadis itu.

Eunhyuk menghela napas, menurunkan garpu. “Baiklah.. aku minta maaf..”

Minjung memandangnya sekilas.

Laki-laki ini tidak menyangka bahwa Minjung-nya bisa berubah menjadi perajuk yang super menyebalkan. “Aku janji tidak akan melakukannya lagi.”

“Bohong.” Minjung menyendokkan kue itu ke dalam mulutnya. Matanya melebar begitu menyadari betapa enaknya kue ini.

Eunhyuk terkekeh geli, merengkuh kepala gadisnya. “Aigoo.. kau sangat menggemaskan, Sayang..” gumamnya senang. “Kau benar-benar hanya membuatku menatapmu dan hanya dirimu..”

Sementara Minjung tersenyum malu di dalam pelukan. Ia yakin para pegawai toko, si pelanggan wanita di ujung toko, dan orang-orang yang lewat di depan toko pasti sedang menjadikan mereka tontonan gratis.

Selanjutnya mereka menikmati kue itu sambil saling bercanda dan saling menyuapi. Bosan selalu dilihati, Minjung bertingkah cukup menyebalkan (setidaknya ini menurut si gadis yang di pojok sana). Ia akan menopang dagu, menatap Eunhyuk dengan senyuman termanisnya sampai laki-laki itu menyuapinya. Eunhyuk pun akan melakukan hal yang sama jika disuapi, dan sesekali diselingi kecupan singkat di pipi atau bibir. Membuat orang-orang makin betah menyaksikan mereka (kecuali gadis tadi).

Pada saat itu mereka melihat si gadis pojokan pergi begitu saja.

Eunhyuk menggaruk kepalanya. “Emm, mungkin dia pergi karena kita.” katanya pada Minjung.

Minjung tersenyum mengejek. “Dan kau baru menyadarinya? Aku bahkan sudah tahu saat kita berada di sini. Yang kau perhatikan hanyalah reaksi para gadis pegawai toko.”

Ekspresi tiga pegawai toko itu berubah kaku saat Minjung menyindir mereka.

Minjung memang sengaja mengatakannya dengan cukup keras. Terlebih dengan hanya keberadaan lima orang di sini, membuat semuanya bisa mendengar apapun yang dia katakan.

Eunhyuk langsung berdiri, menarik tangan gadis itu, tersenyum meminta maaf pada ketiganya, dan keluar dari toko itu.

YA!” ia menjitak kepala gadis itu ketika mereka menjauh. “Tidak bisakah kau menjaga mulutmu?!”

Minjung menggedikkan bahu. “Seakan kau pernah menjaga tingkahmu saja.” ia memajukan bibirnya. “Jangan menegurku kalau kau sendiri selalu berusaha menjadikan kita pusat perhatian karena kau tidak bisa menahan diri untuk tidak menciumku di tempat umum!”

Laki-laki itu merangkul bahu gadisnya. “Itu hanya menunjukkan pada mereka kalau kau adalah milikku. Itu cukup ampuh untuk menjauhkan aku dari para gadis dan menjauhkanmu dari para pria hidung belang.”

“Kalau begitu aku berkata seperti tadi hanya untuk menunjukkan kalau aku jujur dan tidak akan ragu menyatakan pikiranku dengan terbuka!”

“Tapi tidak dengan nada menyindir!” Eunhyuk kembali menjitak kepala Minjung.

Gadis itu tertawa. Ia menangkupkan satu tangan di pipi prianya. “Kau sangat menyeramkan jika menyangkut diriku, tahu?”

“Tanyakan saja pada dirimu, kenapa kau terlalu mempengaruhiku.”

Minjung berhenti melangkah, membuat Eunhyuk juga berhenti. Ia melepas rangkulan, mendekatkan wajahnya dan mengecup kilat bibir laki-laki itu. Ia berlari menjauh.

Lee Hyuk Jae baru menyadari bahwa Hwang Minjung sedang ingin bermain-main dengannya.

Laki-laki itu pun berlari mengejar gadis itu.

b

End

b

Mungkin agak ngebosenin gitu karena disini emang kebanyakan narasinya daripada ngomongnya. Dan ide ini emang udah terbayang-bayang gitu, dan keknya bagus aja kalo dijadiin LTH after story. Bagi yang udah minta, aku minta maaf ya kalo ini nggak worth it.

Nah, di situ emang aku kebanyakan nyinggung si penulis Harry Potter, J.K. Rowling dan buku-bukunya, itu bukan tanpa alasan. Aku emang lagi ngebaca 7 buku Harry Potter hanya karena aku mau bandingin yang di buku sama yang di film *ga ada yang nanya sih wqwqwq*

Terus aku mau ngasih tau tuh, tiga buku J.K. Rowling yang aku singgung di sini.

Yang pertama, The Tales of Beedle the Bard. Kalau kalian nyimak dengan baik pas nonton (soalnya kalau aku nggak salah judul bukunya nggak disinggung di film), dan buku ini emang disebutin beberapa kali di buku Harry Potter and the Deathly Hallows. Buku ini semacam dongeng di dunia sihir. Ada 5 dongeng sihir di sini. Jadi, anak-anak dari keluarga penyihir di Hogwarts kenalnya ya si Babbity Rabbity sama Tiga Bersaudara (disinggung banget di Deathly Hallows) kayak anak-anak Muggle kenal Cinderella.

Kalau kalian mau baca versi Indonesianya bisa baca di sini

Kedua, Harry Potter and the Cursed Child. Kalau kalian suka banget sama Harry Potter pasti nggak asing sama judul ini. Udah kusinggung sih di cerita, kalo emang yang pertama keluar itu drama musikalnya. Nah sekarang bukunya udah terbit. Dan aku pernah meratapi buku itu di Gramedia matraman *curhat terselubung* #maap

Terus, The Casual Vacancy. Aku emang belom baca, tapi buku ini adalah buku pertama JKR setelah move on dari Harry Potter. Ceritanya tentang pemerintahan gitu. Keren banget. Sengaja nggak aku jabarkan disini karena sama aja aku jadi spoiler dong HEHE

Jadi gimana menurut kalian cerita ini?

Aku keknya gabakal bikin cerita2 lagi deh, udah mau uts juga, dan aku sibuk kulya.

So, see you soon!

IMG_20130504_007546

Dan juga, selamat ulang tahun untuk Lee Hyuk Jae ku yang unch HEHE 😍❤🎉🎈

(ini emang sengaja pengen di post pas doi ultah seh, biar ada aja gitu yang dilakuin di ultah cowonya Minjung EA)

Advertisements

6 thoughts on “Love, Trust & Hate (After Story)

  1. daebak.. seru seru. kasihan hyuk jae di abaikan. tapi tetep sweet 😂😂
    saengil chukkae uri eunhyuk oppa 😂😂
    di tunggu karya lainnya thor

    ps. kok susah ngirim komenan ya thor. semoga ini terkirim.

    Liked by 1 person

  2. wah jinjja ceritanya seru banget, feelnya juga dapat, emang dasar minjung si kutu buku wkwjmkwkw kalau udah berhadapan sm buku, pasti gak kenal lagi sm orang disekitarnya, kalau gue jadi eunhyuk gue juga bakalan marah lah, habis kesannya buku itu lebih berharga 😪 wah jangan break buat ff dong thor, minimal post 1x seminggu juga gk apa2 yang penting ada.

    Liked by 1 person

  3. Wawawaaa baru baca ㅠ_ㅠ sibuk di dunia nyata yaa gini ketinggalan update. Makasih author-nim akhirnya ada after story nya 😊 gilaa tiap baca ff author pasti ketawa senyam senyum sendiri >^< aaaaa jadi pengen punya pacal kaya eunhyuk wkwkwkkk
    Tapii sedih juga sii author nya bakal ngga nulis lagi padahal ff author favorit aku semuaa.. Tp ywd deng ngga papa selagi itu kebaikan author aku support terus😊 semangat author buat kesibukanya di dunia nyataa hihii

    Liked by 1 person

    • AHAHAHAHAH aku juga sibuk dengan dunia nyata neh, u r not alone 😂 aku bukan ga nulis, cuma cakum aja bikoz gaada ide dan sibuk kulya, aku juga udah nyiapin beberapa cerita kok, ditunggu aja ehee 😉😉 btw makasih loh mau mantengin wp ini 😊😊😊😊

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s