Hug Me Once 2 (END)

boy-girl-hug-love-Favim.com-434353

Hey, don’t you know? Misunderstanding can be fixed with two things: love and affection.

1 | 2 (END)

***

Incheon International Airport

TIDAK ada yang berubah dari bandara ini. Kedai, kebisingan, ruang tunggu, dan orang-orang yang berlalu lalang dari berbagai budaya. Semua orang sibuk mengurusi diri mereka. Check-in, menunggu pesawat, mengemasi barang, berangkat. Juga terdengar seruan kepada penumpang untuk segera berangkat ataupun beberapa pengumuman penting lainnya yang perlu didengar oleh mereka. Beberapa dari mereka memperhatikan dengan saksama papan informasi yang terus bergulir, dimana terdapat keterangan tentang kapan pesawat tujuan mereka berangkat, pesawat apa yang akan mereka naiki, dan kapan pesawat selanjutnya akan mendarat di bandara ini. Sibuk sekali.

Joohae menyaksikan kesibukan itu dengan wajah jengah, mungkin karena dia kelelahan setelah dia menunggu lama koper hitam miliknya. Namun sejurus kemudian dia tersenyum. Dia sungguh merindukan negara kelahirannya ini.

Gadis itu menjelajahi bandara, sekedar mencari tempat untuk beristirahat. Setelah cukup lama berkeliling, dia berhenti di sebuah kedai yang―sepertinya menjual berbagai macam makanan Eropa. Kedai itu memiliki jendela yang ditutupi tirai renda dimana tersembunyi sebagian harta karun mereka―kue sus, pastel, kue kering mentega, manisan coklat, dan gula-gula krim. Begitu dia berada di dalam, aroma manis vanili, kayu manis, coklat, dan gula bubuk memenuhi udara, menerbitkan air liur gadis berambut hitam ini.

Tak lama kemudian, gadis itu keluar dengan membawa rak besar berisi beberapa kue gandum kismis, kue sus strawberry, dan donat berlapis coklat. Dia berjalan keluar bandara sambil menarik kopernya. Dia memutuskan menyimpan kue itu untuk perjalanan pulang ke apartemennya.

Begitu taksi berhenti di depannya, dia mengambil sebuah kertas dari saku blazer dan memberikannya kepada sang supir. Setelah itu, dia masuk ke dalam taksi.

Dia mengedarkan pandangan pada gedung-gedung tinggi kota Seoul, sementara tangannya tak henti-henti mengambil kue dan memakannya penuh rasa syukur. Ketika taksinya sampai di alamat yang dituju, dia turun dari taksi, memberikan sejumlah uang pada sang supir, lalu mengenakan kacamata hitamnya.

Gadis itu berjalan perlahan sembari mengamati kertas di tangannya. Dia berhenti di satu pintu apartemen, mengecek nomor apartemen, lalu berjalan lagi. Setelah beberapa lama mencari, dia berhenti untuk beristirahat sejenak. Dia memiringkan kepala, mengamati dengan pandangan bertanya beberapa orang di depannya. Dia memperbaiki posisi kacamatanya, menyusurkan tangan di kepala. Dia kembali melanjutkan pencariannya.

Ketika gadis itu berpapasan dengan mereka, dia baru menyadari bahwa salah satu dari mereka terlihat familiar baginya. Dia berbalik, wajahnya berubah khawatir. Namun dia beruntung, dia sudah sampai di apartemennya.

Dia masuk ke apartemen, meninggalkan kopernya di dekat pintu, melompat ke sofa. Gadis itu mengambil ponsel, menekan nomor seseorang, memakai earphone untuk menghindari radiasi langsung dengan ponsel.

“Joo!” seru orang itu tanpa salam. “Aku menunggu telepon darimu, kau tahu?”

“Kau kira perjalanan Seoul-London sama dengan perjalanan dari flat ke istana Buckingham?” balasnya dalam bahasa Inggris.

Orang di seberang sana tertawa.

“Berapa harga apartemen ini?”

“Itu tidak perlu.”

“Tidak perlu?!” teriaknya. “Hei, kenapa kau mencari apartemen semewah ini untukku?! Apa tidak ada yang lebih murah?! Aku tidak akan bisa mengganti uangmu!”

“Anggap saja apartemen itu adalah hadiah kelulusanmu dariku.”

Joohae mendelik. “Benar.. kah?”

“Dan, yah, jika bukan karena kau, aku tidak akan hidup dengan baik di London.”

Gadis itu mendengus. “Berhentilah menjadi manusia yang selalu berterima kasih! Dan janganlah terlalu baik! Orang akan dengan mudah memanfaatkanmu!”

“Aku sungguh-sungguh!”

Joohae tertawa. “Terima kasih, Trix.”

“Tidak, tidak. Terima kasih.”

Gadis itu tersenyum. “Ah, bisakah aku bertanya sesuatu padamu?”

“Silahkan saja.”

“Tidak ada yang tahu aku kembali ‘kan?”

Ada jeda lama di telepon sebelum orang di seberang sana menjawab. “Tentu saja tidak! Ini sesuai permintaanmu.”

“Benarkah? Aku merasa melihat Jikyung sewaktu mencari apartemen.”

“Jangan berpikiran yang aneh-aneh! Mungkin itu hanya orang yang mirip dengan Jikyung! Aku tahu kau begitu merindukannya, tapi tidak perlu sampai seperti itu!”

“Bunuh aku kalau aku merindukannya!”

Orang di seberang sana tertawa. “Aku tutup, ya!” ia memutuskan sambungan secara sepihak.

Joohae memekik kesal, lalu menghela napas, membaringkan tubuhnya di sofa. “Aku harus istirahat.” gumamnya. Tak lama kemudian, gadis itu terlelap.

☆☆☆

Gadis itu memandang dirinya di cermin, merapikan kemeja dan menata rambutnya. Ini adalah hari pertama bekerja, jadi ia harus tampil sebaik mungkin. Ia mengambil tas jinjingnya, keluar dari kamar. Ia memasukkan bekalnya – yang berupa dua buah roti isi kacang dan sebotol susu – ke dalam tas, lalu keluar apartemen.

Pada saat itu, pintu apartemen di depannya terbuka. Menampakkan seorang laki-laki yang tengah memungut koran dari lantai.

“Selamat pagi!” sapa laki-laki itu begitu melihatnya.

Joohae menahan napas.

“Jadi kau penghuni baru apartemen ini? Kau tahu? Semua orang membicarakanmu!”

Gadis itu hanya tersenyum kaku.

“Wah, akhirnya aku bisa melihat sendiri tetangga baruku. Perempuan pula.” orang itu tersenyum. Nada bicaranya begitu ramah. “Bisakah kita berkenalan?” ia mengulurkan tangan dan melanjutkan. “Aku Ryeowook. Kim Ryeo Wook.”

Gadis itu membungkuk berkali-kali. “Jwaesonghamnida, aku terburu-buru!” ia berlari meninggalkan laki-laki itu.

☆☆☆

Kini seluruh anggota Super Junior berkumpul di ruang makan. Mereka masih belom meninkamti makanan mereka karena Ryeowook yang – entahlah – belum kembali. Hei, mengambil koran tidak butuh waktu selama ini!

Saat laki-laki itu bergabung dengan mereka sambil tersenyum-senyum secara sembunyi-sembunyi, mereka keheranan.

“Ryeonggu?” panggil Siwon.

Ne?”

“Ada apa denganmu?”

Senyum Ryeowook makin lebar.

“Sepertinya ada sesuatu yang terjadi di balik pintu..” Eunhyuk menyimpulkan.

“Ah, lupakan!” Ryeowook tertawa, mengibas tangannya. “Ayo kita makan!”

Sejenak hanya terdengar suara seruput ramen juga dentingan sumpit, sendok, dan mangkuk yang beradu. Sampai ketika Ryeowook sudah di suapan terakhir, ia baru menyadari sesuatu.

“Apa jadwal kita sebanyak itu?” gumamnya pada diri sendiri. “Kita bahkan tidak tahu ada tetangga baru di depan dorm.”

Semua orang tersedak.

“APA?!”

“Hei, pelan-pelan..” Ryeowook mencoba menenangkan.

“Ah..” Leeteuk mengangguk-angguk, membersihkan mulutnya. “Tapi aneh, kau bisa terlihat sesenang itu hanya karena tetangga baru.”

“Itu berarti, tetangga baru kita seorang wanita.” timpal Yesung.

“Lebih tepatnya, seorang gadis.” Ryeowook meralat seraya tersenyum. “Memang bukan gadis remaja tujuh belas tahun, karena berdasarkan apa yang kulihat, dia mengenakan seragam kerja tadi. Umurnya pasti dua puluhan!”

“Siapa namanya?” pertanyaan sambil lalu Shindong membuat semua orang kembali memperhatikan laki-laki itu.

Dan jawaban Ryeowook tentu saja membuat semua orang kecewa.

“Dia langsung pergi saat aku mau mengajaknya berkenalan.”

“Dia pasti gadis yang sombong.” sahut Donghae tak peduli.

Anggota Super Junior memperhatikan laki-laki itu. Mangkuk ramennya masih utuh, seperti belum tersentuh padahal Donghae sudah memakannya tiga suapan. Saat semua orang membicarakan tetangga baru mereka, ia hanya memutar-mutar ramen itu dengan sumpit, terlalu muak ternyata masih ada juga gadis yang memiliki sifat sejelek itu.

Ia mendorong kursi ke belakang dan berdiri, meninggalkan semua orang dan menuju kamarnya.

Mereka hanya menghela napas. Sejak menghilangnya Joohae dan permasalahannya dengan Minjung, Donghae memang menjadi sedikit lebih sensitif jika berhadapan dengan wanita. Terlebih jika ia mendengar tentang sikap wanita yang terkesan negatif dan sama sekali tidak mencerminkan kebaikan. Ia sudah tidak berhubungan dengan Minjung sejak saat itu. Setiap kali Minjung ingin bertemu, Donghae selalu menolak dengan alasan sibuk. Ia bersikap demikian karena setiap kali ia menanyakan keberadaan Joohae, Minjung hanya menjawab dengan ketidaktahuan. Dan itu membuat Donghae muak.

Tak berapa lama kemudian, bel dorm mereka berbunyi. Hanya sekali, menandakan bahwa mereka memiliki tamu yang tidak mendesak.

Untuk kali ini, Leeteuk yang membukakan pintu. Ia menahan napas saat melihat si tamu.

Tanpa si tamu bicarapun, ia sudah tahu siapa yang ingin dicari.

Leeteuk menoleh ke belakang. “Donghae-ah—”

Donghae berteriak dari kamarnya. “Jika Minjung yang berkunjung, suruh saja dia pulang!”

Si tamu membelalak terkejut. Ketika si tamu membungkuk hormat dan pamit, Leeteuk hanya memandangi punggung gadis itu.

☆☆☆

Minjung berlari dengan terburu-buru meninggalkan apartemen mewah itu. Ia menoleh ke belakang, memastikan tidak ada yang mengikutinya, kemudian ia mengenakan earphone, membuka playlist lagu-lagu ballad. Dengan tangan memegang ponsel, ia memasukkannya ke dalam saku hoodie­-nya. Berjalan kemanapun ia inginkan, dengan air mata yang tak kunjung berhenti. Ia tidak mempedulikan tatapan bingung orang-orang yang melihatnya.

Cukup lama ia berjalan dengan berlinang air mata seperti itu, sampai ketika ada seseorang muncul dari sebuah lorong kecil dan sempit di dekatnya. Orang itu menarik lengannya, sehingga di lorong itu hanya ada mereka berdua.

Sulit untuk mengetahui siapa orangnya, karena ia mengenakan masker, kacamata, dan topi. Tapi itu tidak menghalangi Minjung untuk tahu.

Mereka berdiri berhadapan, dengan si orang misterius yang bersandar pada dinding bangunan. Orang itu memandang wajah Minjung, yang mengakibatkan gadis itu menunduk dalam. Ketika ia hendak membuka mulut, Minjung sudah melakukannya lebih dulu.

“Untuk apa kau ke sini?” ucapnya tanpa memandang lawan bicaranya. “Menegaskan padaku kalau aku tidak boleh mendatangi temanmu?”

“Apa maksudmu?”

Minjung mendengus. “Jangan pura-pura bodoh.”

“Kau menyerah?”

Gadis itu mendongkak. Mereka saling menatap.

“Katakan padaku, kau menyerah?”

Sontak saja, air mata Minjung mengalir dengan derasnya. Gadis itu seketika memeluk orang itu, menangis sekeras dan sememilukan mungkin di sana.

Eunhyuk membuka masker, melingkarkan sebelah tangannya pada pinggang gadis itu, menariknya ke dalam pelukan, dan mengecup ringan kepala gadis itu. Ia tahu ini sama sekali tidak membantu, tapi setidaknya, ia bisa meredakan tangis Minjung dan membuat gadis itu bisa merasakan sedikit kelegaan.

Tidak ada satupun anggota Super Junior yang tahu tentang hubungan keduanya. Mereka sengaja merahasiakannya, untuk kebaikan semua orang. Eunhyuk mulai tertarik pada gadis itu sejak ia datang ke dorm dan menemui Donghae, mendapati bahwa ekspresi pertama yang ia lihat dari gadis itu adalah kesedihan yang mendalam. Sejak saat itu, ia merasa harus melindungi gadis itu, dan untungnya, gadis itu memang membutuhkan dukungan selain dari keluarga, mengingat hubungannya dan Donghae yang mulai memburuk. Perlu kuingatkan, hubungan mereka cukup tulus karena sebenarnya mereka saling mencintai.

“Aku lelah..” racau Minjung di sela tangisannya. “Apa salahku sampai Donghae begitu membenciku? Apa aku menyembunyikan Joohae? Apa aku tampak sedang berbohong?”

Gadis itu sama sekali tidak ingin pergi dari rengkuhan laki-laki itu. “Sungguh.. aku tidak tahu dimana Joohae berada..” isaknya menyedihkan. “Bahkan Jikyung pun menanyai semua dosennya di kampus.. tapi ternyata mereka merahasiakan hal itu karena permintaan Joohae.. Dia sama sekali tidak berusaha untuk menghubungiku ataupun Jikyung, kau tahu? Apa aku harus disalahkan karena itu?”

Minjung menangis lagi.

Laki-laki itu membiarkan gadisnya.

Saat dirasa tangisan Minjung berkurang, ia mulai bicara.

“Kau gadis yang sangat baik, nona Hwang.” ujar Eunhyuk tulus, menatap gadis di pelukannya. “Kau akan membuat orang-orang kagum setengah mati dengan perilakumu ini. Kau sangat peduli bahkan setelah sahabatmu sendiri membencimu. Tidakkah itu hebat? Jangan berpikiran hal yang buruk, Sayang. Donghae hanya belum menyadari betapa beruntungnya dia karena memiliki sahabat sepertimu..”

Eunhyuk melepas pelukan Minjung, menangkupkan tangannya di wajah gadis itu. Ia menyeka air mata Minjung dengan jemarinya, lantas mengecup kening gadis itu cukup lama. Setelahnya, ia membungkam bibir Minjung dengan bibirnya, juga dengan waktu yang cukup lama.

Minjung hanya menerima apapun yang laki-laki itu lakukan padanya.

“Akan tiba saatnya Donghae mendengarmu, Jungie..” Eunhyuk kembali mengecup kening gadis itu. “Kau hanya perlu bersabar sedikit saja. Hmm?”

Minjung menggelelng pelan. “Aku.. lelah..” lirihnya. “Lahir dan batin..”

Eunhyuk tertegun.

“Aku tidak akan lagi mendatanginya..” Gadis itu menatap Eunhyuk, seakan tengah menegaskan dirinya sendiri melalui pandangan nanarnya itu. “Aku tidak akan lagi berusaha mencari Joohae.. atau meminta Jikyung bertanya pada teman-teman gadis itu.. tidak akan..”

Laki-laki itu masih dengan keterkejutan yang sama. Selama ia mengenal Minjung, ia tahu bahwa gadis itu adalah gadis yang kuat dan pantang menyerah. Sudah banyak hal yang gadis itu lakukan untuk mencari Joohae secara diam-diam, tapi hasilnya nihil. Ia tidak menemukan Joohae. Ia masih tidak tahu dimana gadis itu berada. Dan kini, melihat Minjung begitu rapuh dan lemah di depannya, Eunhyuk mulai percaya bahwa gadis itu menyerah.

“Baiklah.” laki-laki itu mengangguk. “Aku tidak akan pernah melarangmu. Berhentilah jika kau ingin. Istirahatlah jika kau lelah. Bangkitlah jika kau masih peduli. Aku tidak akan keberatan dengan apapun yang kau lakukan. Karena ketahuilah, aku akan selalu mendukungmu. Dalam suka dan duka.”

Minjung kembali memeluk laki-laki itu dan menangis sekeras-kerasnya.

☆☆☆

“Musim panas yang menyebalkan.” gumam Joohae sebal begitu dia keluar dari kantor. Dia hanya mengenakan kemeja putih dan rok bermotif bunga, tetapi hawa panas masih tetap dirasakannya. Dia berjalan menuju tempat parkir, mengambil sepedanya. Dia sudah merencanakan seluruh kegiatannya hari ini. Dan agenda pertamanya adalah menikmati hiruk pikuk kota Seoul dengan berjalan-jalan menggunakan sepeda.

Ban-ban sepeda Joohae membelah jalanan Seoul dengan kecepatan normal ― tidak cepat, dan tidak lambat. Saat melewati taman bermain, dia melambaikan tangan kepada anak-anak. Dia terus mengayuh, menikmati semilir angin yang menerpa wajah dan mengoyang perlahan rambutnya. Dia berhenti untuk membeli es krim, kemudian menghampiri pasar swalayan untuk membeli kebutuhan bulanannya

Joohae keluar dengan dua kantong belanjaan di tangannya. Ia senang karena bisa mendapat makanan dan barang-barang lain dengan harga yang lebih murah dari biasanya. Saking senangnya, ia sampai menabrak seseorang dan membuat seluruh belanjaannya berantakan.

“Oh, maafkan aku!” seru orang yang ditabrak Joohae yang ternyata adalah seorang laki-laki.

“Ah, tidak. Aku yang salah.” jawab Joohae sambil membereskan belanjaannya. Laki-laki itu juga ikut membantu Joohae.

Laki-laki itu berdiri, menyerahkan sebuah kantong pada Joohae. “Ini punya…” kalimat laki-laki itu terpotong ketika dia memperhatikan gadis itu.

“… mu.” lanjutnya.

Joohae bangkit dan berkata. “Terima kasih.” ucapnya. Dia mengambil kantong belanjaan dari laki-laki itu. Ketika Joohae hendak pergi, laki-laki itu memanggilnya, lebih tepatnya bergumam dengan ragu.

“Joo?”

Joohae berbalik, kembali mendekati laki-laki itu. “Anda mengenal saya?”

Laki-laki itu membuka topi dan menurunkan kacamatanya, membuat mata Joohae membulat sempurna.

“Jikyung?!” serunya terkejut.

Laki-laki itu juga membelalak, namun dengan cepat ia menornalkan ekspresinya. Menjadi sedater mungkin.

“Ikut aku!” dia menarik tangan gadis itu menuju sebuah cafe terdekat.

☆☆☆

Kini Jikyung dan Joohae sedang duduk berhadapan dengan sebuah minuman dingin di depan mereka. Keduanya terdiam, sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Jikyung, masih dengan perasaan marah dan kecewa karena ditinggal begitu saja. Sedangkan Joohae yang merasa gugup dan takut karena dia bingung apa yang harus dilakukannya sekarang.

“Jadi..” Joohae memulai. “Kenapa kita ke sini?”

“Dimana kau selama ini?” tanya Jikyung tanpa basa-basi. “Kenapa kau tidak mengatakan padaku kalau akan pergi?”

Joohae benar-benar kehilangan kata-kata.

“Dan kenapa kau kembali?”

Joohae tersentak mendengar pertanyaan itu, lalu menjawab. “Aku… terpaksa.”

“Terpaksa?” ulang Jikyung.

Joonhae menghela napas, menunduk. “Seluruh kehidupanku di London dibiayai oleh pemerintah Korea. Jadi, setelah aku menyelesaikan kuliahku, aku harus kembali, karena di sini, peluangku mendapat pekerjaan lebih besar daripada di sana.” dia menantang laki-laki di depannya lalu melanjutkan. “Hei, bukan karena itu, aku pasti tidak akan kembali, kau tahu?!”

Jikyung tertegun. Dia menatap gadis di depannya yang sedang menikmati minumannya santai. Sejujurnya, Jikyung tidak menyukai cara bicara Joohae.

Kemudian laki-laki itu bicara setelah lama terdiam. “Aku tidak tahu bagaimana caranya mengatakan ini padamu..” dia menarik napas. “Joo-ah, maukah kau menemui Minjung noona? Setidaknya dia harus tahu kalau kau sudah kembali.”

Dia mendengus sinis. “Supaya dia bisa memberitahu Donghae kalau aku ada di sini?!”

Jikyung membelalak. Ia tertegun dengan cara Joohae menyebut nama Donghae tanpa embel-embel oppa. Dan ekspresi gadis itu saat mengucapkannya sama sekali jauh dari kata ramah. Bahkan terkesan sangat tidak bersahabat. “Kau.. tidak mau menemui kakakmu?”

“Untuk apa? Membuatku kembali tersiksa?!”

“Kau.. tidak mengharapkannya lagi?!”

“Tentu saja tidak! Kau lupa kalau dia benci padaku?”

“Tapi dia sudah menyadari semuanya! Kau tahu, sikapnya benar-benar berubah sejak dia mendengarkan rekaman itu!”

Joonhae meminum jusnya santai. “Benarkah? Aku terkesan.” cemoohnya.

Jikyung benar-benar tidak mempercayai pendengarannya.

“Aku harus pergi.” Joohae berdiri hendak meninggalkan laki-laki itu. Namun tiba-tiba berhenti karena mendengar penuturan Jikyung.

“Kau bohong! Kau pikir aku percaya padamu? Kau kembali ke Korea karena Donghae hyung! Jangan membawa nama pemerintah untuk masalahmu yang satu ini! Akui saja kalau kau merindukannya! Dan kenapa kau tidak mau kembali padanya sementara dia sudah menyesali semuanya?! Adik macam apa kau ini?!”

Joohae memutar bola matanya dan berjalan pergi meninggalkan laki-laki itu.

Jikyung menatap tidak percaya kepergian Joohae. Dia kembali mengenakan topinya, pulang dengan langkah gontai. Dia memikirkan tiap detail pertemuannya dengan Joohae, atau setidaknya dia yakin kalau orang tadi adalah Joohae. Lalu.. kalau itu memang dia, apakah tinggal dua tahun di London telah mengubah kepribadiannya?

Noona harus tahu tentang hal ini!” Jikyung mengambil ponselnya dari saku celana, menelepon kakak sepupunya itu.

☆☆☆

“Kau yakin tidak ada yang mengikutimu ke sini?”

Eunhyuk berpaling menatap Minjung yang berada di sampingnya. Gadis itu duduk bersila di rumput, menunduk seraya memainkan rerumputan di dekatnya. Sesekali gadis itu mengambil kerikil, melemparnya ke danau di depan sana. Danaunya tenang, setenang suasana di sekitar mereka.

Ini sudah enam bulan sejak Donghae mengusir Minjung. Dan sudah enam bulan lamanya sejak keduanya tidak bertemu. Tentu saja kalau bukan karena kesibukan Eunhyuk? Laki-laki itu masih belum melihat perubahan yang berarti dari gadisnya. Minjung memang menepati janjinya. Ia tidak datang ke dorm, dan sama sekali tidak berusaha untuk menghubungi Donghae. Tapi keadaan Minjung membuatnya cukup tertegun. Minjung memang tersenyum di depannya saat mereka tiba di sini, tapi Eunhyuk bisa melihat masih ada kesedihan yang begitu dalam di mata gadis itu.

Yang berarti bahwa, tidak ada informasi baru apapun tentang Lee Joo Hae.

Laki-laki itu memeluk Minjung dari samping, menyandarkan kepala di bahu gadis itu. “Aku merindukanmu, nona Hwang..”

“Aku selalu berharap kau ada di saat-saat sulitku..” gumam Minjung lirih seraya memainkan jemarinya di rambut laki-laki itu.

“Apa ada yang terjadi selama enam bulan ini?”

“Memang tidak ada.” Minjung menggeleng. “Tapi.. entahlah..” ia mengangkat sebelah bahu. “Aku selalu berharap kau ada di dekatku, padahal aku tahu kau tidak akan pernah bisa melakukannya.”

Dalam pelukan, Eunhyuk terperanjat. Ia tidak menyangka masalah Donghae dan adiknya bisa membuat Minjung berubah sejauh ini. Gadis itu sama sekali bukan gadis manja, tidak pernah keberatan dengan semua kesibukannya dan tidak pernah cemburu karena ia selalu berada di dekat wanita lain selain dirinya. Namun sepertinya, meskipun selama ini tidak ada yang terjadi yang berkaitan dengan Lee bersaudara, Minjung sepertinya begitu membutuhkan dirinya.

Ia mengecup lembut pipi gadis itu, kembali membenamkan wajah di bahu Minjung, seraya menggumamkan kata ‘maaf’ berkali-kali.

“Jangan meminta maaf kalau kau tidak punya salah.” ujar Minjung pelan. “Aku tidak apa. Aku baik-baik saja.”

Eunhyuk melepas pelukan dan duduk tegak. Ia memandangi Minjung yang masih setia bermain rumput.

Pada saat itu, ponsel Minjung berdering. Jikyung menelepon.

Noona!” pekiknya menggebu tanpa salam.

“Ada apa denganmu? Bicaralah dengan baik!” balas gadis itu.

Noona tidak akan percaya dengan siapa yang kutemui tadi!”

Minjung mengerutkan mening seraya menatap Eunhyuk, lalu  mengangkat bahu. “Buat aku terkejut.”

“Lee Joo Hae.”

Ponsel gadis itu lepas dari genggamannya.

☆☆☆

Donghae melangkah dengan dua buket bunga tulip putih di tangannya. Ia tidak tahu kenapa, hari ini, ia ingin sekali mengunjungi kedua orangtuanya. Sendirian, tanpa seorangpun tahu bahwa ia berada di sini. Sekalipun itu anggota Super Junior. Beberapa menit kemudian, dia sampai di depan dua buah makam identik. Dia meletakkan buket itu di masing-masing makam, kemudian duduk bersila di antaranya.

Donghae membersihkan dedaunan yang berada di makam, kemudian mengusap sayang dua batu nisan itu. Dia terdiam sejenak untuk berdoa. Untuk pertama kalinya, Donghae mengunjungi makam kedua orangtuanya setelah empat tahun kematian mereka.

“Ibu.. Ayah.. Maafkan aku..” panggil Donghae. “Kebencianku pada Joo membuatku tidak mau mengunjungi kalian.. Aku benar-benar minta maaf.. Aku sadar. Aku egois. Aku sudah menyiksa Joo, memperlakukannya seperti musuh bebuyutanku, padahal dia sama sekali tidak bersalah. Dan sekarang dia pergi karena dia tahu aku benci padanya. Aku sudah mencarinya, di semua sekolahnya. Aku bertanya pada teman-teman kampusnya, tapi mereka tidak ada yang tahu. Aku kembali ke Mokpo, yah siapa tahu dia di sana, tapi paman, bibi, juga yang lain membencinya karena mereka berpikir dia yang membunuh kalian. Dan itu semua karena aku! Apa yang harus kulakukan? Aku merindukan Joo, tapi aku tidak tahu dia dimana..” laki-laki itu menyeka air matanya yang mulai jatuh. Donghae sudah tidak bisa menahan tangisannya lagi.

Setelah itu, Donghae kembali mengusap kedua batu nisan. Ia berdiri, hendak meninggalkan makam. Namun, ia terpaku ketika ia menyadari sedang berhadapan dengan siapa saat ini.

Seorang gadis. Membawa dua buket bunga tulip putih. Rambut coklatnya tergerai. Mata hitam gadis itu membelalak.

“Joo?!”

Gadis itu terkesiap. Ia berdiri membeku saat melihat Donghae. Persendiannya seakan lumpuh. Ia merasa tengah berada di alam mimpi. Itu kakaknya. Orang yang dulu menyiksa dan menelantarkannya. Orang yang selalu ia minta waktu untuk mendengarnya namun tak pernah diberikannya. Orang yang mengatakan dengan mulutnya sendiri bahwa ia adalah seorang pembunuh.

Dan sekarang orang itu berada di makam kedua orangtuanya.

“Terima kasih karena sudah mau mengunjungi Ayah dan Ibu.” ujar gadis itu dingin tanpa sedikitpun mau menatap Donghae.

Kini laki-laki itu yang terlihat terkejut setengah mati.

Joohae meletakkan bunga tulip di makam ayah ibunya dengan cepat, setelah itu pergi meninggalkan makam begitu saja.

Tanpa ia sadari, sebuah benda berkilauan jatuh dari tangan gadis itu.

Donghae melihatnya, memungut benda itu. Lalu ia mengejar gadis itu sampai keluar dari kompleks pemakaman, tetapi ia terlanjur kehilangan gadis itu. Ia kehilangan jejaknya.

Tiba-tiba, ponselnya berdering. Leeteuk menelepon.

“Ada apa, hyung?”

“Donghae-ah..” Leeteuk berbicara lambat-lambat. “Temanmu ingin bicara denganmu.”

“Minjung?”

Eoh.”

“Untuk apa?! Aku tidak mau – “

“Ini tentang adikmu.”

☆☆☆

Minjung menautkan kedua jarinya, gelisah menunggu Donghae yang tak kunjung datang. Ia berada di dorm Super Junior saat in (Eunhyuk yang mengajaknya), bersama sang adik, Hwang Ji Kyung. Laki-laki itu juga tampak sama gugupnya dengan dirinya.

Pintu dorm menjeblak terbuka. Lee Dong Hae masuk dengan napas memburu, dan wajah bersemangat.

“Aku bertemu dengannya!” ucapnya tak kalah menggebu. “Di pemakaman kedua orangtua ku! Aku melihatnya!”

Minjung dan Jikyung terkesiap. Begitu pula dengan semua anggota Super Junior.

“Ini!” Donghae mengacungkan benda yang tadi ditemukannya. “Ini buktinya!”

“Itu membuktikan kau sudah tahu kalau dia berada di sini.” sahut Minjung mencoba tenang. “Sekarang bagaimana?”

“Bolehkah aku mendapatkan alamatnya?”

Jikyung memberikan ponselnya, yang merupakan screenshoot percakapan Lee Joo Hae dengan seseorang yang diajak bicara oleh Jikyung. Trix Ford. Screenshoot itu menampilkan Joohae yang mengirim lokasi apartemennya di Korea kepada Trix.

Donghae membacanya. Dan ia lantas berteriak. “DIA TINGGAL DI DEPAN KITA?!”

MWO?!”

Ryeowook menjentikkan jari. “Jadi dia Lee Joo Hae?!” sahutnya.

Donghae bergegas keluar apartemen, namun sekonyong-konyong ia berhenti mendadak. Ia berlari menghampiri Minjung, memeluk erat gadis itu nyaris menggendongnya.

“Terima kasih, nona Hwang..” kata Donghae lembut. Ia nyaris lupa kapan terakhir kali ia memeluk Minjung, sehingga tak menyangka bahwa ia tidak mempedulikan Minjung membalas pelukannya atau tidak. Ia bahagia bisa memeluk sahabatnya kembali dalam keadaan yang jauh lebih baik. “Dan maaf karena telah membuatmu kecewa..”

Ia melepas pelukan, lalu menepuk-nepuk bahu Jikyung. “Aku berhutang budi padamu.”

Jikyung tersenyum. Donghae keluar dari dorm.

Minjung merasa semua ini terjadi begitu cepat, seperti kilat yang berkelebat di tengah hujan badai. Ia nyaris tak berdaya setelah Donghae melepas pelukan. Tapi begitu ia mengingat saat Donghae berterima kasih, juga saat Donghae meminta maaf padanya, seketika energinya kembali muncul.

Minjung memeluk Jikyung erat dan menangis penuh haru di sana.

☆☆☆

Dengan tidak sabar, Donghae menekan bel apartemen di depannya.  Si pemilik apartemen tidak merespon untuk waktu yang cukup lama sampai Donghae mendengar pintu menceklek terbuka.

“Ada a – “

Lee Joo Hae terkesiap saat melihat siapa tamunya. Saat ia hendak menutup pintu, Donghae menahannya.

“Joo-ah..” Donghae memanggil. “Aku.. sangat merindukanmu..”

“Mau apa kau ke sini?!” bentak gadis itu. “Pergi!”

Dengan sangat kasar, Joohae mendorong Donghae sampai keluar dari apartemennya. Ia segera menutup pintu dengan keras.

☆☆☆

Pertemuannya dengan Lee Dong Hae kemarin membuat Joohae tidak bisa berlama-lama dengan kedua orangtuanya, seperti yang biasa ia lakukan. Jadi hari ini, ia memutuskan untuk kembali ke makam. Ia cukup senang, karena ketika sampai di sana, tidak ada siapapun selain dirinya. Ia tersenyum menatap dua makam di depannya. Dia duduk di antara makam, menundukkan wajah untuk mengucapkan beberapa do’a.

Setelah itu, ia mulai bicara. “Ibu.. Ayah..” ucapnya memulai. ” Bagaimana perasaan kalian saat Donghae oppa mengunjungi kalian setelah sekian lama? Kalian tahu, kemarin Donghae oppa datang mengunjungiku. Harus kuakui, aku cukup senang setelah melihat wajahnya. Tapi haruskah aku memaafkan dirinya? Setelah apa yang dilakukan padaku? Setelah dia menyiksaku, mengusirku, dan mengacuhkan aku? Setelah dia menunduhku sebagai pembunuh? Aku tidak tahu apa dia sudah mendengar rekaman yang kuberikan atau tidak, tapi setidaknya, walaupun tidak secara langsung, aku sudah mengatakan kebenaran. Dan hal itu membuatku lega..”

Gadis itu menarik napas, kembali bicara tanpa henti. “Aku tidak tahu kenapa, tapi aku mulai membencinya sekarang..” ungkapnya terang-terangan. “Paman dan bibi melarangku ke Mokpo karena semua orang mengira aku membunuh kalian. Aku sendirian di sini. Aku tahu kalian pasti marah kalau kami bertengkar, tapi.. itulah kenyataannya..” dia meletakkan kepalanya di makam sang ibu, menangis sejadinya.

Setelah itu, dia mengangkat kepala, mengusap air mata. Dia meletakkan buket bunga dan berkata. “Aku sayang kalian.”

Dia mengusap batu nisan makam sambil tersenyum. Namun dia terkejut melihat bahwa tidak ada apa-apa di lengan kirinya.

“Gelangku?!”

☆☆☆

Joohae menyusuri jalanan ke apartemen, sembari berharap akan menemukan gelangnya di jalanan. Namun hasilnya nihil. Gelangnya lenyap. Gadis itu sangat sedih, gelang itu adalah motivasi keduanya untuk hidup. Harapan satu-satunya setelah motivasi pertamanya hilang. Lee Dong Hae.

Saat sampai di lantai apartemennya, ia cukup kaget karena melihat Donghae bersandar di samping pintu apartemennya. Ia membeku, tak bisa bergerak.

Laki-laki itu berdiri tegak, berhadapan dengan adiknya. “Hai.” katanya. “Lama tidak melihatmu.” Ia tersenyum. “Kau semakin cantik saja.”

Mata Joohae memanas mendengar kalimat itu. Ia sudah tidak ingat lagi kapan sang kakak berkata semanis ini padanya.

“Bisa kita bicara sebentar?”

“Untuk apa?” balas Joohae sengit. “Membuatku kembali terluka? Sudahlah. Lihat aku sekarang. Setidaknya kau tahu sekarang aku baik. Itu cukup untukmu ‘kan? Karena aku sama sekali tidak membutuhkanmu.”

Donghae melongo.

Joohae membuka pintu apartemen, lalu membiarkannya tertutup. Ia bersandar di pintu, merosot sampai ke lantai, lalu menangis sejadinya. Apa-apaan dia ini? Bukannya ia senang saat kakaknya berkunjung kemarin? Tapi kenapa ia malah melontarkan kalimat yang benar-benar membuatnya seperti pembohong?

☆☆☆

Sejak saat itu, Donghae makin gencar mendatangi Joohae. Meskipun selalu ditolak, Donghae tetap saja mengejar gadis itu. Berusaha meyakinkan gadis itu bahwa dia menyesali semua perbuatannya. Seperti yang dilakukannya saat ini.

Ketika Donghae berjalan keluar apartemennya, dia melihat Joohae dari arah yang berlawanan. Laki-laki itu mencengkeram lengan Joohae kemudian menarik gadis itu.

“Apa yang kau lakukan?! Lepaskan aku!” pekik Joohae.

“Kita harus bicara!” seru laki-laki itu berkaca-kaca.

“Bicara apa? Kalau kau mau aku kembali dan menyiksaku lagi?! Sudahlah! Bukannya dulu kau begitu?! Setiap kali aku mau bilang kenapa ayah dan ibu meninggal, kau tidak mau dengar! Setiap kali aku minta maaf, kau selalu mengabaikanku! Kau menamparku, memukulku! Aku tidak tahan lagi! Kau membuat semua keluarga ayah dan ibu membenciku! Jadi jangan ganggu aku lagi! Aku benci kau!” Joohae melepas lengannya dari cengkeraman Donghae kasar, lalu berjalan pergi sembari mengerjap-ngerjap matanya, mencegah air matanya jatuh.

☆☆☆

Donghae tetap tidak menyerah. Meskipun Joohae menolaknya mentah-mentah, dia tetap berusaha meyakinkan Joohae. Perlakuan Joohae padanya sekarang persis seperti perlakuannya pada gadis itu dulu. Donghae mulai berpikir bahwa karma berlaku untuknya.

Dia sudah terlalu lama bersabar, menguatkan dirinya menerima setiap perkataan dan perlakuan kasar Joohae. Gadis itu benar-benar berubah total. Semua kalimat-kalimat kasar yang dilontarkan Joohae padanya selalu terngiang-ngiang di kepalanya, berputar-putar seperti CD rusak.

Dan kini Donghae telah mencapai suatu titik dimana dia harus mengatakan. “Aku menyerah..”

Donghae memelas di depan pintu apartemen Joohae. “Lee Joo..” panggilnya terdengar menyedihkan. “Apa aku harus berlutut di depanmu supaya kau percaya kalau aku menyesali semua perbuatanku?”

Joohae membuka pintu sedikit, menyembulkan kepala, berkata dengan nada mencemooh. “Kau tidak perlu menurunkan harga dirimu di depanku. Apalagi kau adalah seorang artis terkenal. Bukannya kau sendiri yang bilang kalau kau tidak mau mengakuiku sebagai adikmu? Sekarang aku sadar, Donghae-ssi. Aku gadis sialan, dan aku bukan adikmu karena kau sangat membenciku. Benar?”

“Tidak! Itu tidak benar!”

Gadis itu menjawab ucapan sang kakak dengan menutup pintu apartemen keras-keras.

Joohae merosot ke lantai lemas. Dia memeluk lutut, menunduk, dan menangis sedih. Dia merutuki kebodohannya karena berlaku munafik di depan Donghae. Dia merasa ingin bunuh diri begitu kembali mengingat semua perkataan kasarnya pada Donghae. Dia merasa tidak pantas hidup di dunia ini setelah menyakiti hati kakaknya.

Dia masih mendengar sayup-sayup Donghae memanggilnya. Panggilan itu.. panggilan yang sangat dirindukan Joohae.

Joohae menempelkan telinganya di pintu, mendengarkan Donghae yang sedang bicara dengan nada memohon sambil terisak.

“Lee Joo..” ia mendengar Donghae memanggil. “Apa kau tidak merindukan aku? Aku orang selalu memanggilmu dengan cara yang kau inginkan.. apa kau tidak merindukannya? Selama ini tidak ada yang memanggilmu Lee Joo ‘kan? Aku tahu kenapa kau hanya mau aku yang memanggilmu begitu.. Aku Lee Dong Hae, kakakmu.. Orang yang membantumu berdiri saat kau belajar berjalan. Orang yang menghibur dan menghapus air matamu saat kau menangis. Orang yang menggendongmu saat kau kelelahan. Orang yang selalu mendengar curahan hatimu. Apa kau lupa semuanya?”

Joohae membekap mulutnya supaya Donghae tidak mendengarnya menangis. 

“Baiklah kalau kau membenciku.. Tidak apa.. Aku menerimanya..” setelah itu Joohae tidak mendengar suara Donghae lagi.

Tangisan Joohae pecah begitu Donghae pergi.

☆☆☆

Donghae membiarkan dirinya menangis ketika mendengar setiap penuturan Joohae. Dia mendesah kasar, kembali ke apartemen dengan kesedihan yang sangat mendalam. Semua anggota Super Junior ada di sana, bersama Minjung yang berdiri kikuk menatap sahabatnya yang tengah berjuang.

“Bagaimana?” tanya Leeteuk. Laki-laki itu bisa melihat bekas air mata di pipi Donghae.

Donghae menggeleng sedih.

“Aku benar-benar tidak percaya ini semacam bentuk balas dendam.” Gumam Minjung.

Donghae memandang sekilas sahabatnya. “Sudahlah.. setidaknya aku tahu dia bisa hidup dengan baik tanpaku..”

Laki-laki itu masuk ke kamarnya, membiarkan pintu kamar menutup dengan sendirinya.

Minjung mendengus. “Ini benar-benar tidak sesuai dengan ekspektasiku.” katanya. “Siapa sangka ternyata gadis itu akan balik membenci Donghae?”

“Tidakkah kita punya cara untuk menyatukan mereka kembali?” tanya Leeteuk.

“Pasti ada caranya.” balas Minjung menopang dagu, tampak berpikir.

“Bagaimana kalau kita culik saja dia?” celetuk Yesung sembarangan.

“Ide bodoh macam apa itu?” timpal Kyuhyun judes. Yesung tampak kesal.

“Bagaimana kalau kita mengundangnya makan malam?” usul Shindong.

Ya! Ini serius, hyung!” sambar Ryeowook.

“Hei!” gumam Minjung mengangkat wajah. Matanya berbinar bahagia. “Itu masuk akal!”

Huh?”

Minjung menyeringai penuh kemenangan. “Ini pasti berhasil.” 

☆☆☆

Seperti biasa, setelah Ryeowook menyiapkan makanan dan membangunkan para member, dia akan keluar untuk mengambil koran. Dia membuka pintu sedikit, melihat tanda-tanda dari Joohae. Dia harus keluar bersamaan dengan gadis itu agar rencana mereka berhasil. Dan dia melakukannya dengan baik! 

“Ryeowook-ssi, selamat pagi.” sapa Joohae ramah ketika Ryeowook baru saja keluar.

“Oh, selamat pagi, Joohae-ssi..” balas Ryeowook tak kalah ramah. Sesungguhnya ia cukup terkejut karena bisa disapa seramah itu oleh Joohae. “Apa hari ini kau sibuk?” tanyanya basa-basi.

“Ah, tidak. Semalam aku lembur, jadi aku diberi waktu untuk istirahat.”

“Benarkah? Wah, kebetulan sekali!” Ryeowook mulai memasukan Joohae dalam perangkap. “Sejak kau tinggal disini, kami belum pernah menyambutmu. Kami ingin mengajakmu makan malam bersama. Kau mau?”

Joohae terdiam. Dia berpikir sejenak sebelum akhirnya berkata. “Entahlah. Aku takut atasanku memanggilku lagi. Tapi jika aku sempat, aku datang.”

“Baiklah. Jam 7 malam.” Ryeowook mengambil koran dan masuk ke apartemen dengan wajah sumringah.

“Bagaimana?” tanya Siwon antusias. “Dia mau?”

“Dia akan datang kalau malam ini tidak sibuk.”

“Aku kurang yakin.” sahut Leeteuk ragu.

“Kenapa? Bukannya hyung yang paling optimis soal rencana Minjung?”

Donghae diam-diam menyetujui.

Leeteuk merasa keraguan merayapi dirinya. “Dia benci Donghae, ingat? Sepertinya itu hanya alasannya saja. Aku tidak yakin dia mau datang.”

“Kalau begitu, harus ada satu orang yang bisa meyakinkannya.” timpal Sungmin.

Kode itu menunjukkan bahwa, Donghae harus menelepon Minjung secepatnya.

☆☆☆

Minjung menekan bel apartemen Joohae dengan nada monoton yang sama. Tak ada ekspresi di wajahnya. Bukannya sedang bersandiwara, sejujurnya ia cukup kesal setelah mengetahui bahwa Joohae balik membenci sang kakak. Dan dengan keberadaannya di sini, sepertinya Donghae masih membutuhkan dirinya untuk sentuhan akhir.

Joohae membuka pintu, terkesiap saat melihat Minjung.

“Lama tidak bertemu.” kata Minjung datar.

Eonni, anyeong.” sapa gadis itu takut-takut.

“Apa kau sebegitu bencinya kepada Donghae sampai tidak mau menghadiri acara makan malam yang disiapkan tetanggamu?” Minjung melipat kedua tangannya di depan dada. Tatapannya menghunus gadis itu.

Joohae tidak menjawab.

“Aku paham kenapa kau bisa sebegitu bencinya pada Donghae, tapi bisakah kau menghargai anggota Super Junior sebagai tetanggamu?” katanya sarkastis. Minjung langsung melenggang pergi.

Di dalam dorm, seluruh anggota Super Junior berseru penuh kemenangan.

☆☆☆

Joohae bergeming di pintu dorm Super Junior. Dia menghela napas, lalu menekan bel apartemen dengan gugup.

Seseorang langsung membuka pintu.

“Wah, kau rupanya!” pekik Ryeowook ceria. Ia membuat gerakan dengan tubuhnya agar gadis itu masuk. “Silahkan! Maaf ya! Apartemen ini sedikit.. emm.. berantakan!”

Joohae berjalan di belakang Ryeowook. Gadis itu memandang berkeliling, menyadari bahwa untuk pertama kalinya dia masuk ke dorm Super Junior. Ia mengikuti laki-laki itu yang ternyata menuntunnya menuju balkon dorm.

Ryeowook berbalik. “Bisakah kau menunggu di sini selama aku memasak? Lagipula, aku belum merapikan meja makan.”

“Baiklah.”

Joohae berdiri di tepi balkon, menghirup udara malam yang dingin, kemudian menghembuskannya dengan perlahan. Dari tempat ini dia bisa melihat gemerlap kota Seoul. Gadis itu membiarkan pikirannya berkelana pada kenangan-kenangan manis yang dilaluinya bersama Donghae. Dia tersenyum memikirkan hal itu.

Dia bahkan tidak menyadari bahwa kini dia tidak sendirian. Ada seseorang di sampingnya. Laki-laki itu memegang sebuah benda berkilauan. Dia meraih tangan Joohae―membuat gadis itu tersentak―memakaikan sebuah gelang silver di tangan kanannya.

“Aku tahu ini sangat berarti bagimu, jadi aku mengembalikannya.” ujar laki-laki itu.

Dia berdiri menatap suatu titik jauh di sana. Dia menggengam tangan Joohae, kalian bisa melihat ada benda berkilauan di tangan mereka. Gelang yang sama, terpantul sinar bulan dan tampak sangat indah. Dia mengambil napas panjang, lalu bertutur tanpa memandang lawan bicaranya.

“Sekarang aku mengerti. Ayah dan ibu meninggal.. itu kecelakaan.. Kau trauma ‘kan? Seandainya saja aku pulang lebih cepat, aku pasti bisa menolong mereka, dan tidak akan menyalahkanmu. Aku benar-benar minta maaf. Aku egois, terlalu kekanak-kanakan, dan bodoh. Karena itu aku tidak mau mendengarmu. Tapi sekarang aku sadar. Kau sama sekali tidak bersalah. Aku menyesal, aku menyiksamu. Aku jahat, itu sudah jelas. Seharusnya aku tidak menyebar berita itu, maaf.. Mungkin ayah dan ibu akan sangat marah padaku kalau mereka tahu aku begini,” orang itu berpaling menatap Joohae yang tidak menoleh padanya. Dia melanjutkan. “Joo-ah, maukah kau memaafkan aku?”

Joohae berdiri membeku. Kini dia berada di sini, dengan seorang laki-laki di sampingnya. Mendengar penuturannya dengan saksama―setiap kata, setiap kalimat―tanpa sedikitpun dilewatkan. Terkejut, itu sudah pasti. Perlahan, air mata gadis itu jatuh.

Dia berujar dengan air mata membasahi wajahnya. “Kenapa baru sekarang? Kenapa tidak dari dulu saja? Aku tersiksa menunjukkan kebencianku padamu, kau tahu?!”

Joohae berpaling menatap laki-laki itu dengan berlinang air mata. “Peluk aku, oppa.. Aku takut.. Sekali saja, itu sudah―”

Laki-laki itu langsung merengkuh tubuh Joohae, membiarkan gadis itu menangis di bahunya. Dia kembali merasakan kehangatan dan kenyamanan yang sebenarnya. Ia juga menangis, sembari terus mengusap kepala dan punggung adiknya. Ia lega, dan sangat bahagia. Joohae memaafkannya. Joohae kembali menerima dirinya. Dan Joohae tidak menolak saat ia memeluk adik kecilnya ini.

“Jangan takut, Joo. Aku akan selalu memelukmu. Kapanpun dan tidak hanya sekali. Kau tidak perlu memintanya..” kata Donghae. Kemudian dia melepas pelukannya, menyeka air mata Joohae dengan jemarinya.

“Maaf..” lirih gadis itu.

“Untuk apa? Karena kau mendapat beasiswa, belajar di luar negeri dan mendapat pekerjaan yang menjanjikan? Kau membuatku bangga! Kau tunjukkan pada ayah dan kakek kalau kau bisa sukses tanpa menjadi penyanyi, aktris, atau apapun itu! Aku sangat bangga!”

“Seharusnya aku yang minta maaf.” sambung laki-laki itu.

Donghae mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Dia menjuntaikan benda itu di depan wajah Joohae. “Lihat ini,” dia memakaikan kalung itu pada adiknya sambil berkata. “Ingat janjimu dulu? Kalau kau akan menjaga kalung ini dengan jiwa dan ragamu? Jadi, kau tidak boleh melepaskan ini dalam keadaan apapun. Aku tidak mau melihat kalung ini ada di tangan atau di meja riasmu. Kau harus selalu memakainya.”

Joohae mengangguk. Untuk pertama kalinya, dia tersenyum pada Donghae. Dia kembali memeluk laki-laki itu erat. Setelah cukup lama mereka berpelukan, dia menengadah. “Oppa?”

“Hmm?”

Gadis itu menatap kakaknya dengan mata berkaca-kaca. “Aku sayang oppa.” dia kembali memeluk Donghae.

Laki-laki membalas pelukan Joohae, mengelus lembut rambut adiknya. Dia mengecup singkat puncak kepala Joohae dengan penuh kasih sayang.

☆☆☆

Gadis itu mengeratkan selimut yang menutupi tubuhnya. Ia duduk dengan pena di genggaman, menatap keluar jendela di depannya. Tidak, ia tidak berada di kamarnya. Dan ia juga tidak berada dalam suatu tempat yang bisa disebut ruangan. Ada sebuah meja berukuran sedang dan kursi yang diletakkan di dekat jendela besar apartemen, masih menjadi bagian ruang tengah. Dan itu adalah tempat favorit Lee Joo Hae belajar.

Kalian tidak salah baca. Gadis itu memang sedang belajar saat ini. Tiga buah buku terbuka tergeletak begitu saja di meja, sementara ia mengetuk-ngetuk pulpen di buku yang berada paling dekat dengan dirinya. Ia menghela napas. Pandangannya tidak terlepas dari gemerlap malam kota yang ia saksikan dari jendela besar itu.

Terhanyut dalam pelajaran yang sedang ia tekuni dan pemandangan kota yang sedang ia resapi, ia tidak menyadari pintu apartemennya terbuka. Seorang laki-laki masuk. Laki-laki itu sebisa mungkin menutup pintu tanpa menimbulkan suara, takut kalau-kalau gadis di sana terganggu dengan keberadaannya.

Ia menghampiri gadis itu, berdiri di belakangnya. Ia lantas melingkarkan kedua lengannya di bahu gadis itu. Memeluknya dari belakang. Menopang dagunya di bahu kecil gadis itu.

“Kau belajar?”

“Mm-hm.” gumam gadis itu singkat tanpa menoleh.

“Bukannya kau sudah dapat pekerjaan?”

“Aku sedang berburu beasiswa.”

Donghae mengangguk-angguk paham, membuat gadis yang dipeluknya terkikik pelan karena sepertinya gerakan itu membuatnya merasa geli, mengingat dagu laki-laki itu masih setia bertengger di bahu gadis itu.

“Selamat ulang tahun, Joo..” Donghae mengecup kilat pipi sang adik.

Akhirnya gadis itu memalingkan wajah dari jendela. “Apa sudah tanggal 15 Oktober?”

“Lihat sekarang jam berapa.”

Joohae menatap ponselnya yang juga berada di meja. Ia membuka layar, terkejut menyadari bahwa sudah berjam-jam ia berada di sini. Ia menoleh ke arah sang kakak, membuat mereka begitu dekat. “Selamat ulang tahun juga, oppa..”

Donghae tersenyum, mengacak-acak rambut gadis itu. “Sudah berapa lama kau di sini?”

“Entahlah.” Joohae bergedik. “Bahkan aku tidak sadar oppa masuk.”

Mereka terdiam cukup lama menatap keluar, sama-sama menikmati kemegahan ibukota negara mereka. Sampai yang satu bertanya kepada yang lain.

“Apa kau hidup dengan baik di London?”

Joohae tidak langsung menjawab. Ia terdiam sejenak sebelum membuka mulutnya. “Mungkin semua temanku berpikir aku baik-baik saja di sana. Ya, aku memang hidup dengan baik. Trix selalu mengurusku seperti mengurus adiknya sendiri. Tapi.. tetap tidak ada yang jauh lebih baik saat oppa memelukku seperti ini.”

Donghae terperangah.

“Jika aku bisa hidup sebaik itu di London, maka aku pasti bisa hidup jauh lebih baik di sini bersama oppa.” Joohae tersenyum, mengecup kilat pipi sang kakak. “Terima kasih karena mau mendengarkan aku. Dan maafkan perlakuanku pada oppa.”

Donghae mengeratkan pelukannya. Kini, ia menopang dagu di kepala gadis itu, sehingga ia bisa memberikan kecupan-kecupan ringan di sana.

Oppa.”

“Hmm?”

“Bolehkah aku mengatakan sesuatu?”

“Silahkan saja.”

Joohae mengerjap, membiarkan air matanya turun. “Sebenarnya.. rekaman yang kuberikan itu tidak sepenuhnya benar.”

Donghae diam, namun akhirnya, ia tersenyum. “Aku tahu.”

“Aku sengaja tidak bilang kalau aku kuliah di London karena aku takut kalian akan mencariku..” dia menundukan wajah dan melanjutkan. “Lalu.. yang membawaku keluar rumah.. adalah ayah. Pemadam kebakaran datang terlambat, saat ayah kembali masuk ke rumah mencari ibu. Dan.. yah, saat aku mau mengejarnya, mereka menahanku.. Aku diam, berdoa dan berharap oppa segera datang. Tapi.. aku malah lari,” dia terkekeh sembari menyeka air mata dan mengangkat kepalanya. “Maaf, aku berbohong.”

Donghae mengangguk-angguk, melepas pelukannya. Itu cukup membuat Joohae terhuyung seakan baru saja kehilangan sisi ternyaman yang sudah ia genggam dengan erat. Laki-laki itu kini berlutut di hadapan Joohae, dan tersenyum teduh. Ia bisa melihat bekas air mata di pipi gadis itu.

Ia menyeka air mata itu. Setelahnya, ia menangkupkan kedua tangannya di wajah gadis itu. “Wajar kau bertindak seperti itu dengan kondisi psikologi seperti itu. Siapa yang tidak takut saat kau dituduh melakukan kesalahan dan tidak ada yang bisa membantumu untuk membuktikan kalau kau tidak bersalah? Itulah manusia, Joo. Hanya menyimpulkan apa yang mereka lihat, tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Itu kesalahan besarku padamu, yang membuatmu menderita begitu jauh. Sampai kau harus berusaha keras membuat semua orang menutup mulut soal keberadaanmu. Tapi tidak apa. Semua itu sudah berlalu. Kau sekarang bersamaku, dan aku akan selamanya melindungimu. Jadi, jangan pergi dariku untuk alasan apapun, atau aku akan sangat marah padamu.”

Donghae menarik gadis itu, merengkuhnya dengan penuh kasih sayang. Di dalam pelukan, Joohae mengangguk dan menangis dalam diam.

“Apa ada yang kau inginkan di hari ulang tahunmu?” Donghae bertanya.

Gadis itu menggeleng tegas. Masih dalam pelukan. “Saat berada di samping oppa, aku merasa sudah mendapatkan apapun yang aku inginkan.”

“Benarkah?”

Gadis itu mengangguk lagi. “Kurasa tidak ada yang aku mau selain bersama kakakku, Donghae!” dia melepas pelukan dan menatap kakaknya.

Laki-laki itu balas menatap Joohae. “Kau yakin?”

Joohae mengangguk, kembali menatap gemerlap kota Seoul. Namun kemudian, dia teringat sesuatu.

“Sebenarnya.. ada sih satu hal…”

☆☆☆

“WOOOOHOOOO! LIBURAN! LIBURAN!”

Joohae memandang berkeliling dengan terkagum-kagum, meyakinkan dirinya bahwa ini bukan mimpi indah belaka. Dia berlari, menari-nari sembarangan lalu merentangkan tangannya bahagia. “AKU DI JERMAN!”

Donghae terkekeh melihat tingkah adiknya. Dia tahu, adiknya selalu ingin ke Jerman. Joohae sangat menyukai Jerman―bahasa, budaya, seni, masyarakat, tradisi, mitos, makanan―semuanya!

Dia berlari menghampiri kakaknya yang sedang berdiri mengamati bangunan di depan mereka. “Begitu kita melewati pintu gerbang Brandenburg..” kata Joohae menarik tangan kakaknya, melewati gerbang.

Mereka berhenti untuk menyerap suasana kota. Langit Jerman sore hari, pohon di kiri kanan jalan, dan wajah-wajah yang berseliweran.

“… kita ada di Berlin!” sambungnya.

Gadis itu terpaku melihat bangunan di depannya. Dia menunjuk bangunan itu. “Oppa, lihat! Siegessäule!”

“Shin Gi.. siapa?”

“Bukan Shin Gi siapa-siapa,” Joohae menggeleng. “Siegessäule. Victory Column. Kolom Kemenangan. Oppa tahu, bangunan ini dibangun sebagai simbol kemenangan Prusia dalam perang melawan Denmark. Tapi saat bangunan ini selesai dibangun, mereka juga berjaya atas Austria dan Prancis. Dulu, Berlin adalah ibukota Kerajaan Prusia, Kekaisaran Jerman, Republik Weimar, Jerman Nazi sebelum menjadi ibukota Republik Federal Jerman.”

Gadis itu menunjuk sesuatu di atas Siegessäule. “Oppa lihat dewi yang berdiri di atas sana? Itu dewi Golden Lizzy, dewi itu juga ada di atas gerbang Brandenburg!” gadis itu menunjuk bagian atas gerbang yang mereka lewati tadi.

Mata Donghae mengikuti gerak telunjuk Joohae. Getar rasa bangga mengalir di punggungnya. Dia menatap Joohae terkagum-kagum. “Oh.. wow..” dia mengacak-acak rambut adiknya. “Kau benar-benar membuatku bangga!”

Joohae tersenyum malu. Dia melihat Donghae memunggunginya, mengisyaratkannya untuk naik ke punggung Donghae. Gadis itu langsung melompat, menyembulkan kepalanya di balik bahu Donghae.

“Memangnya oppa tidak capek apa menggendongku selama perjalanan kita?”

“Kau bahkan lebih ringan dari Eunhyuk!”

Joohae tertawa, mengecup pipi kakaknya dan berseru.

“Ke Berlin Cathedral!”

 

End

 

Aku mohon maaf sebelumnya, aku yang awalnya mau ngilangin romance di cerita ini malah dengan sengaja munculin romance-nya Eunhyuk Minjung -_- Sengaja aja biar banyak sih to be honest :3 Udah gitu aku merasa ini semacam cerita adik rasa pacar :v Yawdah lah yah wong aku sama adekku juga gini kok :3 cium-ciuman pipi :3 Anyway, aku berterima kasih bagi siapapun yang mau meluangkan waktu gabutnya buat ngebaca cerita jelek ini -_-

Advertisements