Hug Me Once 1

boy-girl-hug-love-Favim.com-434353

Siblings relation, however, can totally changed just because a simple thing: misunderstanding.

1 | 2 (END)

***

SEORANG gadis turun dari sepeda diiringi gemeretak kerikil di bawah kakinya. Dia mendekati si pengemudi dan berpamitan padanya.

Oppa, aku berangkat!”

Orang yang dipanggil oppa itu menasihati adiknya. “Ingat, jangan tidur lagi di kelas! Kalau kudengar prestasimu menurun, aku tidak mau lagi mengantarmu ke sekolah!”

Gadis itu merengut. “Oppa juga perlu dinasihati! Berlatihlah dengan giat supaya oppa bisa pergi ke Seoul! Jadi, aku bisa kuliah di sana!”

“Tanpa kau bilang, aku pasti akan melakukannya, Lee Joo!” laki-laki itu mengacak-acak rambut sang adik. “Aku mau memberi kejutan pada ayah dan ibu dengan menyekolahkanmu di sana!”

YA, jangan panggil aku begitu! Aku tidak mau mereka mendengar dan akhirnya mereka memanggilku begitu!”

“Baiklah, adikku sayang..” ia mencubit gemas hidung sang adik.

Gadis itu mengerucutkan bibirnya. Saat gadis itu hendak berlari memasuki wilayah sekolah, sang kakak mencegahnya.

“Ada apa lagi, oppa?” gadis itu bertanya jengah. “Aku bisa terlambat!”

“Kalau begitu, tutup matamu sekarang!”

“Baiklah..” gadis itu menjawab pasrah. Kemudian, laki-laki itu memakaikan adiknya sesuatu. Setelahnya, ia berbisik.

“Selamat ulang tahun, Lee Joo-ku..”

Gadis itu membuka mata, memegangi sesuatu yang terasa aneh di lehernya. Ia menunduk, dan membelalak. Lalu menatap mata kalung dengan berkaca-kaca. “Oppa..”

“Kau suka?”

“Ini.. indah sekali..” ungkapnya senang. Ia memeluk laki-laki itu. “Maaf, aku mempersiapkan apa-apa, padahal oppa juga berulang tahun hari ini..”

“Hei, hanya melihatmu memakai dan membanggakan kalung itu di depan teman-temanmu saja sudah merupakan hadiah untukku.” balas laki-laki itu. Ia juga memeluk adiknya. “Jaga kalung ini baik-baik, eoh? Jangan pernah lepaskan untuk alasan apapun!”

Gadis itu melepas pelukan, mengangguk. “Aku akan menjaga kalung ini dengan segenap jiwa dan ragaku!”

“Berlebihan.” dengus laki-laki itu.

“Baiklah, aku berangkat sekarang!” gadis itu mengecup kilat pipi sang kakak, berlari dengan kegirangan masuk ke wilayah sekolah.

 

Sang kakak yang memperhatikan tingkah gadis itu hanya tersenyum simpul. Gadis itu terlampau kekanak-kanakan untuk usianya yang telah menginjak tujuh tahun. Namun, apapun itu, ia tetap menyayangi adiknya. Kemudian, ia mengendarai sepeda menuju sekolahnya.

☆☆

Demikianlah hubungan antara Lee Dong Hae dan adiknya, Lee Joo Hae. Orang mengatakan bahwa tidak ada yang bisa memisahkan hubungan antara kakak dan adik. Dengan kata lain, darah lebih kental daripada air. Namun, yang terjadi pada mereka adalah sebaliknya. Hubungan mereka mulai memburuk sebab kejadian mengenaskan itu.

☆☆

Seorang gadis turun dari mobil diringi hentakan sepatu olahraganya. Dia berbalik menatap datar sang pengemudi yang balik menatap benci padanya.

“Aku berangkat.” ucapnya.

Orang di belakang kemudi itu memutar bola matanya dan mengabaikan gadis itu. Dia langsung menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi.

Gadis itu menundukkan kepala, berjalan gontai memasuki wilayah Universitas Nasional Seoul. Dari kejauhan, seseorang tengah menunggunya dengan menyandarkan tubuh pada pilar bangunan.

Orang itu menghela napas. “Beginikah caramu menyambutku? Dengan wajah kusut dan mata pandamu itu?” ujarnya ketika gadis itu mendekat padanya.

Joohae mengangat wajahnya. “Kalau begitu bisakah kau membuatnya luluh? Merubah semuanya seperti dulu? Meyakinkan dirinya bahwa bukan aku pelakunya? Membuatnya kembali percaya padaku? Lebih baik diam, Hwang Ji Kyung! Ucapanmu benar-benar membuatku semakin menderita!” tuturnya panjang lebar. Dia hendak berjalan meninggalkan orang itu, namun orang itu menahannya.

“Maafkan aku, Joo.” balas gadis itu penuh penyesalan. “Aku muak melihatmu bersedih. Tapi aku yakin suatu saat kalian akan berbaikan. Mungkin sekarang dia membencimu, tapi bisa jadi suatu saat dia akan menyayangimu lebih dari yang kau bayangkan.” dia menepuk-nepuk bahu Joohae, bermaksud untuk menghibur gadis itu. Atau setidaknya itu yang dilakukannya.

Gadis itu tersenyum kecil. “Terima kasih.”

☆☆

Setelah kuliah usai, Joohae hendak berjalan menuju gerbang sekolah, namun sebuah teriakan mengurungkan niatnya untuk melangkah.

“Joo-ah!” pekik orang itu. Dia langsung berdiri di depan Joohae. “Tunggu aku di gerbang dan pulanglah bersamaku!”

Joohae mengangguk. Dia melanjutkan langkah, mematung sejenak di gerbang kampus sembari menunggu sahabatnya itu. Tetapi ketika Jikyung berhenti di depannya, dia melihat ada sebuah mobil yang terparkir di tepi jalan. Sang pengemudi menatap Joohae tajam. Mengisyaratkan pada gadis itu untuk masuk ke mobil.

“Jikyung-ah, maafkan aku. Mungkin lain kali aku akan pulang denganmu.” kata Joohae hati-hati. Sang pengemudi keluar dari mobil, menarik kasar lengan Joohae dan memaksanya masuk ke mobil.

Jikyung menatap mobil yang mulai menjauh itu, lalu menghela napas sedih.

☆☆

Donghae melempar gadis itu ke halaman rumah mereka. Dia keluar lalu membentak gadis itu. “Apa yang kau lakukan di rumah ini, hah?! Kenapa kau membiarkan rumah berantakan?! Bersihkan rumah ini! Kalau kulihat rumah ini kotor sedikit saja, awas kau!” Donghae mengajukan tinju kepada Joohae dengan tatapan mengancam, kemudian dia berjalan memasuki rumahnya.

Joohae mengangguk takut. Dia meletakkan tas sekolahnya di lantai teras, dan mengambil sapu untuk membersihkan halaman rumahnya. Kemudian, dia mengerjakan tugas rumah lain. Menyapu rumah, membersihkan kaca jendela, mencuci peralatan dapur, menyiram bunga-bunga di halaman, dan yang terakhir, membersihkan kamar kakaknya.

Setelah itu, Joohae menuju ke kamarnya. Dia langsung melompat ke tempat tidur, seperti melompat ke dalam kolam renang. Di kamar tidur bernuansa biru putih, dia menatap langit-langit dan memejamkan mata. Membiarkan dirinya tenggelam dalam kenangan manis dua tahun lalu bersama kakak dan orangtuanya. Melupakan penderitaan dan kesedihannya selama dua tahun terakhir ini. Menyimpan rasa rindu pada kakak yang selama ini selalu mengabaikannya.

Dia menoleh ke samping, mengambil sebuah bingkai foto berbentuk persegi panjang dari meja kecil di samping tempat tidurnya. Dia merebahkan tubuhnya di tempat tidur sambil menatap bingkai foto. Dalam foto itu, terdapat dua orang anak-anak dan dua orang tua. Kedua anak itu berdiri di depan orang tua mereka, saling berangkulan, tersenyum cerah. Begitu juga dengan orang tua mereka.

“Ibu.. Ayah..” gumamnya memperkenalkan orang di foto itu. Namun dia sedikit ragu untuk memperkenalkan orang selanjutnya.

Oppa..” suara gadis itu sedikit bergetar. Kemudian, sebuah buliran bening mengalir dari kelopak matanya, turun melewati pipinya.

“Kenapa oppa? Dulu bukannya kau berjanji kau akan menjagaku? Tapi kenapa sekarang kau memperlakukanku seperti orang lain?” racau gadis itu. Dia menengkurapkan tubuhnya, membenamkan wajah di bantal, membiarkan air matanya mengalir dengan bebasnya, meskipun sebenarnya dia merasa air matanya sudah kering karena belakangan ini dia sangat bahkan terlalu sering menangis.

Namun sekonyong-konyong, gadis itu mendengar ketukan pintu bertubi-tubi. Semakin keras dan semakin keras. Orang itu berteriak marah. “LEE JOO HAE, BUKA PINTUNYA!”

Gadis itu melompat dari tempat tidur. Dia mengusap air matanya, membuka pintu sambil mengucek-ucek mata seakan baru bangun tidur. “Ada apa?”

Orang itu membentak. “Kau bertanya ada apa?! APA KAU TIDAK MEMBERSIHKAN RUMAH INI, HAH?!”

Joohae mendelik. Hei, bukankah ia sudah membersihkan rumah ini tepat setelah dia pulang dari kampus?

“Aku sudah membersihkannya.” jawab Joohae takut.

“Oh benarkah?” ujar Donghae sinis. Ia mencengkeram lengan Joohae kasar, menyeretnya menuruni tangga, melempar gadis itu ke teras.

Joohae mengerang kesakitan, mengelus-elus lengannya dan menatap teras rumah dengan mata yang membulat sempurna. “Apa yang salah dengan teras ini?!”

“LIHAT LANTAINYA, BODOH!” bentak Donghae lagi.

Joohae menatap lantai yang ditunjuk Donghae. Lantai itu sedikit berdebu, tetapi tidak terlihat kotor bila yang melihatnya bukanlah orang yang perfeksionis.

“Jadi.. hanya ini? Kau menarikku karena ini?!” Joohae balas membentak. “Sebenci itukah kau padaku?! Apa maksudmu memperlakukanku begini?!”

PLAK!

Perkataan itu dibalas tamparan keras di pipi kanan Joohae. “Sejak kapan kau berani membentakku?! Kau pikir adik macam apa kau berani membentak kakaknya?!”

Joohae menuding jari pada Donghae. “Kau pikir aku takut apa denganmu?! Kau tahu, aku benar-benar muak denganmu! Hei, apa kau tidak pernah berpikir kau adalah kakak terjahat di dunia?! Apa perlu kita lakukan tes DNA supaya aku tidak ragu kalau kau adalah kakakku?!”

PLAK!

Lagi! Donghae kembali menampar Joohae. “Baiklah kalau begitu. Kau bisa pergi dari rumah ini sekarang!” pria itu menunjuk halaman dengan marah.

Joohae memegangi pipinya, menahan sakit yang ditimbulkan karena dua tamparan keras tadi. “Aku memang akan melakukan hal itu!”

Joohae melesat menaiki tangga, lalu masuk ke kamarnya. Dia melempar sebuah koper berukuran sedang ke tempat tidur, membuka lemari pakaiannya, kemudian melempar beberapa helai pakaian ke dalam koper. Dia mengenakan sebuah jaket tebal untuk menutupi kaus putih yang digunakannya. Setelah itu dia menuruni tangga, berlari keluar dari rumahnya.

☆☆

Donghae merebahkan diri di sofa dorm. Di luar, badai menghantam turun dengan semakin lebat. Dia bertekad, mulai saat ini ia tidak akan memikirkan apapun yang terjadi pada Joohae. Meskipun dia sakit, menderita, terluka, atau apapun itu, Donghae tidak akan memikirkannya. Terdengar sadis memang, tapi mau bagaimana lagi jika Lee Dong Hae sudah bertekad?

“Ryeonggu, tolong segelas air!”

“Siap, hyung!” balas Ryeowook menyembulkan kepala dari pintu dapur. Dalam sekejap pria itu sudah mengantarkan segelas air untuk Donghae.

Donghae meneguk minuman itu sampai habis, lalu membanting gelasnya di meja. Semacam gerakan refleks? Bisa jadi. Ia menghela napas dan menyandarkan tubuhnya di sofa.

“Ada apa, hyung?”

Donghae menggeleng. “Bukan apa-apa..”

Tepat pada sat itu, sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya. Dari seorang gadis, tapi bukan dari Joohae.

 

Jung
Lee Dong Hae, kita harus bicara!

 

☆☆

 

Joohae mengerjap-ngerjap matanya, menyesuaikan dengan cahaya yang menyusup perlahan memasuki matanya. Keringat membasahi wajahnya yang terbakar demam. Dia mengamati ruangan tempatnya berada dan berhasil mengenali beberapa barang. Sebuah bantal diletakkan di kepalanya. Selimut menutupi dirinya sampai di dagu. Dia meraba pakaiannya. Sebuah piyama dari katun.

Gadis itu bangun dengan keget. “Apa yang terjadi? Aku di mana? Donghae oppa?”

Seseorang menyentuh bahunya, tapi orang itu bukan kakaknya. Suara itu terdengar jauh lebih lembut dibandingkan kakaknya.

“Tenangkan dirimu dulu, Joo. Kau aman sekarang”

Gadis itu mendelik. “Jikyung?”

Laki-laki itu mengangguk.

“Tapi.. di mana.. aku?” katanya terbata-bata.

“Rumahku.”

“Apa.. yang.. terjadi?”

Seorang gadis di belakang Jikyung yang menjawab. “Jikyung melihatmu berjalan di tengah hujan lalu pingsan. Jadi dia langsung membawamu ke sini.”

Joohae menatap orang itu. Berdiri dengan menyilangkan kedua lengan. Tatapannya begitu tajam dan menghunus, menuntut penjelasan. Joohae berusaha menjawab, tetapi suara menolak untuk keluar dari mulutnya. Dengan perlahan, sebuah kain basah diletakkan di dahinya dan akhirnya dia mengurungkan niatnya untuk bangun.

Eonni, aku.. kabur..” ucap Joohae berusaha menjelaskan.

“Hentikan.” cegah Jikyung. Nada suaranya tidak terdengar bersahabat. “Kau harus tidur. Banyak yang harus kau jelaskan pada kami. Jadi, sebaiknya..”

Ucapan laki-laki itu terputus saat ia memandang wajah Joohae yang tampak lemah. Tapi bukan itu yang menarik perhatiannya.

Jikyung menyentuh pipi Joohae dengan punggung tangannya. “Joo-ah, pipimu..”

Gadis itu hanya tersenyum tipis dan mengangguk. Dia memejamkan mata dan mulai tertidur. Sementara itu, disampingnya, Jikyung hanya memandangi wajah sahabatnya itu dengan tatapan sendu. Gadis tak bersalah ini.. menjadi mengenaskan dan menderita, tidak lain tidak bukan karena sahabat kakaknya sendiri.

Tanpa ia sadari, ia mengusap saying kepala Joohae.

Noona,” panggil Jikyung, memandang Minjung. “Apa kita akan membiarkan Joo tinggal di sini?”

“Aku tahu kau sangat ingin dia tinggal di sini dan merawatnya.” Minjung tersenyum penuh arti. “Tapi, akan jadi masalah jika dia tinggal di sini.” katanya. “Kau jaga dia, eoh? Aku akan pergi.”

“Tapi di luar masih hujan!”

“Aku Hwang Min Jung!” Minjung menyeringai. “Hujan tidak akan membuatku sakit.”

Ia berdiri, memandangi Joohae untuk terakhir kalinya sebelum ia pergi.

“Sampai kapan kau akan membiarkan adikmu menderita seperti ini, Lee Dong Hae? Apa kata ibumu jika dia tahu hal ini?” gumam Minjung sedih. Ia membiarkan pintu di belakangnya tertutup.

☆☆

Minjung duduk seraya memandangi cappuccino yang sama sekali belum disentuh. Saat ini, ia tengah berada di sebuah café dekat rumahnya. Ia punya janji dengan seseorang di sini, karena itu ia belum menikmati mnuman paginya.

Pintu café berayun terbuka. Minjung menoleh. Ternyata itu adalah seseorang yang sudah ditunggu olehnya. Orang itu mengambil tempat di depan Minjung.

“Mau memesan?” tawar gadis itu.

“Langsung saja.” balas orang itu sedikit ketus. “Apa yang mau kau bicarakan?”

Minjung berdecak, mengalihkan pandangan dari minuman paginya ke laki-laki itu.

“Apa kau akan menyembunyikan hal sebesar ini dari keluargamu dan semua orang?”

“Apa pedulimu pada Joohae?”

“Memangnya kenapa kalau aku mempedulikannya?” Minjung menjawabnya dengan pertanyaan.

Donghae diam sejenak, menatap Minjung curiga. “Kau tahu dimana di berada.” ujarnya.

“Lantas kau peduli?!” tukas Minjung. “Apa kau akan mencarinya, menyeretnya kembali ke rumahmu dan kembali menyiksanya?!”

Donghae terdiam.

“Kau beruntung memiliki sahabat sepertiku, Lee Dong Hae.” Minjung berkata lagi. “Kau beruntung masih ada yang mengingatkanmu. Kenapa kau bahkan merahasiakan hubunganmu dengan adikmu dari anggota Super Junior? Apa pengaruh hal itu untukmu? Cepat atau lambat kau pasti mengetahui yang sebenarnya! Begitu juga dengan mereka!”

“Dan kenapa bukan kau yang mengatakannya pada ku?!”

Minjung terdiam. Matanya berkaca-kaca, kecewa menyadari perubahan buruk dari sahabatnya. Ia bahkan tidak melihat ekspresi Donghae berubah. Pria itu, kini di matanya, tampak seperti penjahat.

“Aku tidak bisa.” Minjung menggeleng lemah, menunduk, tak tahan melihat tatapan jahat Lee Dong Hae. “Sungguh. Sekalipun aku menginginkannya. Hal ini, bagaimanapun caranya, kau dan keluargamu harus tahu dari Joohae, bukan orang lain. Aku tahu hanya bibimu itu yang mau menerimanya, tapi kenapa kau dan anggota keluargamu yang lain tidak?”

Donghae menyipitkan matanya. “Jadi, hanya ini tujuanmu? Apa kau sudah selesai?”

Minjung mengangguk. Ia berdiri. “Dengarkanlah adikmu walaupun hanya sekali, atau kau akan menyesalinya.”

☆☆

Berulang kali Jikyung menjentikkan jari-jarinya di depan wajah Joohae namun sedikitpun gadis itu tidak bereaksi. Sama halnya ketika dia melambai-lambaikan tangannya di depan wajahnya. Gadis itu tetap bergeming.

“Joo-ah, kau membuatku merinding..” gumam Jikyung sedikit takut. Dia menyentuh dahi Joohae dengan punggung tangannya, memastikan apakah gadis itu demam atau tidak.

“Maksudmu?” akhirnya Joohae bereaksi ketika menyadari bahwa dia sedang diajak bicara.

“Akhir-akhir ini kau sering melamun.. Kau tahu? Kau membuatku khawatir..” ungkap Jikyung. Dia menyodorkan sepiring roti gandum dengan selai kacang padanya. “Makanlah.” perintah laki-laki itu.

Joohae menghela napas, mengabaikan suruhan Minjung. “Entahlah.. Kau tahu sendiri ‘kan? Banyak hal yang ku pikirkan.. Misalnya.. di mana aku harus bekerja?”

Jikyung tersedak minumannya. Ia membersihkan mulut dengan tissue dan berkata. “Apa katamu?! Bekerja?! Apa maksudmu?!”

Joohae menatap Jikyung jengkel, lalu memaparkan dengan memegangi kepalanya frustasi. “Kau lupa, ya? Sekarang aku tinggal sendirian. Aku sudah terlalu banyak merepotkanmu dan kakakmu. Bahkan kau masih sempat mengomel karena aku terlambat makan! Itu berlebihan! Aku harus bekerja! Dari mana aku mendapat uang kalau aku tidak bekerja? Hei, aku tidak punya siapa-siapa lagi sekarang! Aku tidak mungkin selalu bergantung pada Minjung eonni, sekalipun dia adalah sahabat baik Donghae oppa! Aku harus…”

Belum sempat Joohae menyelesaikan kalimatnya, Jikyung menyumpal mulut gadis itu dengan roti gandum berselai kacang yang sedari tadi belum disentuh Joohae. “Baiklah, Joohae-ku sayang. Aku mengerti.” gerutu pria itu.

Gadis itu terbatuk-batuk hebat. Dia mengunyah roti itu perlahan, dan mendorong makanan itu masuk ke kerongkongan dengan meminum jusnya. Dia menghela napas lega.  “Ya, apa kau mau membunuhku?!” erang Joohae seraya mengelus-elus kepalanya.

“Coba sebutkan satu orang yang mau mendengar dengan setia ocehan menyebalkanmu!” erang Jikyung frustasi.

Joohae memiringkan kepalanya, pura-pura berpikir. “Emm.. biar ku tebak..” dia menyeringai polos dan menjawab. “Kau?”

Jikyung menatap tajam Joohae. “Kau mau dijitak lagi ya?” katanya seraya mengangkat tangan hendak menjitak Joohae.

“Tidak, tidak! Tentu saja tidak!” Joohae menatap sebal sahabatnya yang tengah bersantai menikmati jusnya.

Namun kemudian, percakapan mereka diinterupsi oleh seseorang.

“Joohae-ssi, Jung seonsaengnim memanggilmu.”

Joohae menunjuk hidungnya dan berseru kaget. “Aku?! Ada apa?!”

Orang itu mengangkat bahu. “Aku juga tidak tahu. Ayo, ikut aku!”

Joohae bangun dari tempat duduknya. Ia berjalan mengikuti orang itu.

“Hei, ada apa denganmu?!” teriak Jikyung sebelum Joohae melangkah lebih jauh.

Joohae menyeringai. “Mungkin aku akan dimarahi karena lupa mematikan keran air toilet wanita.” jawabnya. Dia segera mengikuti orang tadi.

☆☆

Donghae menatap layar televisi di depannya dengan wajah datar. Tidak ada jadwal apapun untuknya hari ini, dan ia sendirian di dorm. Dia terus menekan tombol remote untuk mengganti channel, mengisi kebosanan. Namun hasilnya nihil. Pria itu tetap tidak menemukan acara yang menarik.

Dia mengambil majalah pria dari kamarnya, membolak-balik halamannya dengan bosan, kemudian melemparnya ke sembarang tempat sambil berteriak frustasi. Donghae bangkit dari tempat duduknya. Mengambil kacamata hitam dan topi, lalu berjalan ke pintu apartemen. Dia membuka pintu itu, lalu pergi.

Donghae menjalankan mobilnya tak tentu arah. Dia menikmati suasana kota Seoul yang ternyata tidak terlalu ramai. Mungkin karena anak-anak masih mengikuti pelajaran di sekolah mereka, pikir Donghae. Kemudian, dia memutuskan untuk menepikan mobilnya di kawasan persekolahan. Entahlah, bahkan dia tidak tahu dengan apa yang dilakukannya.

Dia keluar dari mobil, memasukan tangannya ke saku celana, dan berjalan santai. Dari tempatnya berjalan, dia bisa melihat anak-anak serius memperhatikan guru mereka di depan kelas. Namun sepertinya, dia baru menyadari bahwa di samping kawasan persekolahan itu ada sebuah universitas.

Dia berjalan sambil mengamati aktivitas para mahasiswa di sana. Berjalan tak tentu arah, mencari dosen mereka, tertawa bersama, dan lainnya yang bisa diamati oleh pria itu.

Kemudian dia merasa melihat sebuah mobil yang terlihat familiar. Saat melihat pintu pengemudi terbuka, ia langsung menegur orang itu.

“Minjung-ah!” tegurnya riang. Melupakan fakta bahwa ia secara tidak langsung telah ‘diancam,’ oleh sahabatnya. “Kau datang ke sini? Untuk apa?”

“Jikyung agak manja hari ini.” jawab gadis itu. “Aku tidak tahu kenapa, tiba-tiba dia minta djemput olehku.”

“Benarkah? Kalau begitu dia pasti akan mengajak Joohae pulang bersamanya.”

Minjung menautkan kedua alisnya. “Kupikir dia akan pulang bersamamu.”

Donghae mendengus. “Menjemput Joohae?! Untuk apa?! Itu tidak ada gunanya!”

“Lalu untuk apa kau ke sini?”

“Iseng.”

Gadis itu masih menautkan kedua alisnya. “Kau..”

“Apa kau pikir aku akan menerimanya begitu saja?!” tukas Donghae. “Itu tidak mudah, nona Hwang!”

“Semua keluargaku masih menerimaku hanya karena aku tidak mengatakan pada mereka kenapa ayahku meninggal! Tapi kenapa kau tidak menerimanya?! Dia adikmu, Lee Dong Hae!”

“Untuk apa aku mengakui seorang pembunuh sebagai adikku?! Hei, aku masih punya harga diri! Dia menghindar dari polisi, kurasa semua itu sudah cukup untuk menjelaskan kenapa aku membencinya!”

Tanpa diketahui oleh mereka, dua orang – laki-laki dan perempuan – hanya berdiri mematung menyaksikan perang mulut mereka, tidak jauh dari situ. Si gadis hanya menatap sendu mereka berdua, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Sementara si pria hanya menatap si gadis. Namun akhirnya, dia memberanikan diri untuk bicara. “Eonni, aku dan Jikyung akan menunggu di mobil.” dia berjalan gontai menuju mobil sahabatnya.

Minjung berbalik, mendelik melihat gadis tadi, lalu kembali menatap Donghae.

“Kau puas?”

Donghae mengangkat bahu. “Kurasa iya.” dia berjalan santai meninggalkan Minjung yang masih terpaku.

Minjung segera masuk ke mobilnya. Dia mendesah lega, ternyata Joohae benar-benar menunggunya. Dia menghidupkan mesin, berpaling pada gadis itu.

“Kau tidak apa-apa ‘kan?” tanya Jikyung.

Joohae mengangguk. Dia memasang earphone di telinganya, membiarkan alunan musik lembut mengalir merasuki jiwanya.

“Kau yakin?” tanya Jikyung lagi sambil menyalakan mesin mobil. Namun, Joohae tidak mendengar. Gadis itu menutup mata, benar-benar menikmati musik dari iPod-nya.

Sepanjang perjalanan pulang, mereka hanya diam. Tidak ada satupun yang ingin memulai percakapan, bahkan Minjung sekalipun. Dia hanya melirik Joohae dan Jikyung yang duduk di kursi penumpang belakang sambil menyetir. Gadis itu hanya menatap kosong pemandangan kota dari jendela mobil.

Minjung dan Jikyung mengikuti Joohae memasuki apartemen―entahlah―mungkin untuk memastikan apakah gadis itu baik-baik saja. Mereka hanya merasa ada sesuatu yang salah bila nantinya dia meninggalkan Joohae sendirian.

“Kenapa kalian mengikutiku?” itu adalah kalimat pertama yang Joohae ucapkan setelah cukup lama dia terdiam. Dia melempar tasnya ke sembarang tempat, lalu duduk di sofa.

“Aku mau bersamamu saja saat ini.” jawab Jikyung bingung. Dia duduk di samping Joohae. Minjung duduk di hadapan mereka.

“Aku baik-baik saja! Lihat!” Joohae menunjuk dirinya dan menatap Jikyung.

“Benarkah?!” Jikyung balik menatap gadis itu tajam. Joohae terpaku, seolah-olah dia tidak berani beralih dari tatapan Jikyung. Namun kemudian, dia memalingkan wajah, menyandarkan kepala di sofa, melakukan apa yang seharusnya gadis itu lakukan sejak tadi. Menangis.

“Kau tidak akan bisa berbohong padaku, Joo-ah..”

“Lalu apa maumu sekarang?” tanya Joohae berlinang air mata.

Jikyung menghela napas. Dia benar-benar sudah tidak tahan lagi. Dia mendekat pada Joohae, menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Dia membenamkan wajah Joohae di bahunya, membiarkan gadis itu menangis.

Joohae tersentak begitu mendapati dirinya dalam pelukan Jikyung. Selama ini, bila dia bersedih, Jikyung hanya menghiburnya dengan berbagai macam hinaan. Atau dia menonton gadis itu menangis. Namun untuk kali ini berbeda. Pelukan Jikyung adalah solusi terbaiknya.

“Kenapa diam? Ayo, menangis saja..” Jikyung mengelus-elus kepala Joohae. Dan berkat perkataan itu, tangisan Joohae pecah. Tangisan yang bahkan belum pernah disaksikan Jikyung sebelumnya. Joohae mengeratkan pelukannya pada Jikyung, mengikuti irama tangisannya yang makin menjadi. Jikyung makin merasa iba pada gadis itu. Seluruh perkataan Donghae tadi sukses membuat Joohae seperti ini.

Meskipun hanya melihat, hati Minjung saat ini sedang teriris.

Eonni..” panggil Joohae serak dalam pelukan Jikyung. “Apa bisa jika.. aku.. membiarkan eonni yang.. mengatakan hal ini.. pada Donghae oppa?”

“Tidak.” Minjung menjawab tegas. “Kakakmu juga menanyakan hal yang sama denganmu, dan jwabannya akan sama persis dengan apa yang kuberikan pada kakakmu.”

Minjung menatap langsung mata gadis itu. “Bagaimanapun caranya, cepat atau lambat, kau harus mengatakan hal ini kepada Donghae. Aku dan Jikyung hanya membantumu sampai di sini, tapi kami tidak akan membantumu menjelaskan hal ini padanya.”

Air mata Joohae mengalir lagi. Jikyung kembali memeluknya.

☆☆

Minjung meletakkan kepalanya di meja belajar, menghadap ke jendela. Ia menghela napas keras, seakan helaan napas itu mempresentasikan beban hidupnya. Benar-benar sulit untuk dikeluarkan, dan ingin segera dilepaskan.

Seseorang masuk ke kamarnya. Namun ia tidak mempedulikannya.

Noona!” Jikyung memanggil. Terdengar antusias. Begitu melihat apa yang kakaknya lakukan, ia diam di tempatnya.

“Apa?” Minjung menjawab setengah hati.

Jikyung meletakkan sebuah kotak dan amplop di depan gadis itu. “Aku menemukan ini di apartemen Joohae.”

Minjung menegakkan kepala, mengambil amplop itu. Ia membaca tulisan di atasnya.

G

“Untuk sahabat terbaikku satu-satunya

Minjung eonni dan Jikyung..

Bahkan mungkin sudah terlambat.

h

Minjung kebingungan. Dia membalik amplop itu di tangannya, mengambil surat di dalamnya. Kemudian dia membaca surat itu.

n

“Jikyung sahabatku, kau terlalu banyak membantuku dalam menghadapi masa-masa sulitku. Terutama kakakmu. Aku terenyuh saat aku tahu kalau eonni begitu peduli padaku. Kau selalu pamer pada semua orang kalau kakakmu yang terbaik. Kau tahu? Aku tidak akan mengelak fakta itu. Terima kasih pada kalian berdua. Aku tidak akan melupakan kebaikan kalian.

Jikyung-ah, pertama-tama, aku ingin meminta maaf padamu karena selama beberapa bulan terakhir ini aku selalu merepotkanmu dan Minjung eonni. Dan kalian tidak pernah keberatan dengan diriku. Terima kasih!

Kedua, aku minta maaf karena aku berbohong padamu tentang keran air itu. Jung seonsaengnim memanggilku bukan karena aku lupa mematikan keran air di toilet wanita, tapi karena suatu hal yang, emm.. aku tak tahu apa yang akan kau rasakan. Tapi kuharap kau bangga dengan berita ini!

Aku mendapat beasiswa untuk belajar di  luar negeri! Kau tahu betapa bahagianya aku?! Jung seosaengnim masih merahasiakan negara dan lama aku bersekolah di sana, aku juga tidak tahu kenapa. Maaf, ya!

Jikyung-ah, kau tidak boleh berpikir macam-macam tentangku. Tenang saja, aku baik di sini. Mungkin saat kau membaca surat ini, aku sedang tertawa bersama teman-teman baruku dari luar negeri. Atau mungkin aku sedang diajak jalan-jalan keliling kota. Kau percaya ‘kan?

Jikyung-ah, bisakah kau menolongku? Tolong kau berikan kotak yang ku kirim bersama surat ini pada Minjung eonni, dan minta eonni untuk memberikannya pada Donghae oppa. Kuharap aku tidak membuamu repot. Hanya ini yang bisa kusampaikan padamu. Terima kasih untuk semuanya, termasuk kasih sayang yang selalu kau berikan padaku…

Salam sayang,

Lee Joo Hae.

b

Minjung menghela napas lagi. “Bagus. Sekarang Joohae pergi seperti pengecut.” ia berpaling menatap Jikyung. “Kau tahu apa isi kotak itu?”

Jikyung menggeleng.

Gadis itu mengambil ponselnya, mengutak-atiknya dengan cepat, lalu meletakannya lagi di meja.

“Apa yang noona lakukan?”

Minjung menjawab pertanyaan itu. “Malam ini, Lee Dong Hae harus tahu segalanya.”

☆☆

Gadis bermarga Hwang itu menekan bel dorm Super Junior dengan gugup. Ia melihat sekeliling. Tidak ada yang memandang curiga padanya. Beberapa saat kemudian, seseorang membuka pintu dari dalam.

“Oh, kau tamunya Donghae?” Leeteuk berkata ramah.

Minjung membungkuk hormat. “Hwang Min Jung imnida.”

Leeteuk tersenyum. “Silahkan masuk! Dia menunggumu di kamarnya!”

Minjung berjalan di belakang Leeteuk, memasuki dorm Super Junior untuk pertama kalinya. Begitu pria itu menunjuk kamar Donghae, ia langsung membuka pintu kamarnya.

Dan Lee Dong Hae sudah menunggu dirinya.

“Apa yang begitu penting sampai kau harus menemuiku di sini?” tanya pria itu judes.

Minjung membelalak begitu menyadari nada bicara itu. Hei, Donghae tidak pernah seperti ini sebelumnya! Tapi ia mengabaikannya! Jadi, ia memberikan kotak itu pada Donghae.

“Apa ini?”

“Aku juga menanyakan hal yang sama.” balas Minjung. “Apa itu? Kau lebih berhak mengetahuinya dari pada aku.”

“Dari siapa?”

“Pembunuh orangtuamu.”

Donghae menatap Minjung marah, lalu mengambil kotak itu dengan kasar. Ia membukanya juga dengan kasar, dan mengeluarkan isinya. Sebuah ponsel.

Donghae membaca apa yang tertera pada wallpaper nya. “Bukalah rekaman yang ada di sini.”

Ia mengikuti instruksi itu. Hanya ada satu file yang ada di ponsel ini, yakni rekaman itu. Ia memutar rekaman itu. Awalnya hanya mendengar suara gemerisik yang tidak jelas, sampai akhirnya sebentuk suara muncul.

Suara Joohae.

Keduanya berkumpul mengerumuni benda itu, dengan keingintahuan yang besar.

 

Oppa.. Ah, tidak! Kurasa panggilan itu tidak cocok! Bagaimana bila aku memanggilmu.. Donghae-ssi? Yah, kurasa panggilan itu membuatku lebih nyaman.

Donghae-ssi, aku ingin berterima kasih karena kau pernah menyayangiku. Yah, setidaknya kau pernah mengakuiku sebagai adikmu, ‘kan?

Aku sekarang akan membuat pengakuan. Aku tahu kau amat sangat membenciku karena kematian ayah dan ibu. Tapi, perlu kau tahu bahwa bukan aku yang membunuh mereka. Bukan aku yang menyebabkan mereka meninggal. Bukan aku penyebab kebakaran itu. Aku hanya takut untuk menceritakan semuanya, karena semua orang menuduhku, termasuk kau.

Aku akan memulainya dari awal, supaya kau tahu kisah lengkapnya. Kau berhak untuk tahu. Saat itu adalah pagi yang cerah. Yah, aku mengatakan pagi yang cerah sebelum aku tahu pagi itu akan menjadi pagi yang muram. Seperti biasa, ibu memasak dan ayah menonton berita pagi sambil menikmati secangkir kopi. Dan aku ada di kamar, sedang membaca komik sambil tertawa tanpa tahu akhirnya aku akan menangis. Tiba-tiba, aku mendengar suara ledakan. Awalnya aku tidak mempedulikan bunyi ledakan itu karena kupikir ledakan itu berasal dari luar rumah, tapi lama-kelamaan aku mulai merasakan hawa panas di sekitar kamar. Asap mulai masuk dari celah pintu. Karena aku mulai curiga, aku segera keluar dan api sudah menjalar hampir ke seluruh rumah. Aku sempat mendengar sayup-sayup ayah memanggilku. Aku terkejut, diam, tidak berani bergerak sedikitpun. Jadi aku menutup mata, entahlah apakah itu tindakan bodoh aku tidak peduli. Aku mengabaikan api yang mulai membakar bajuku. Tapi saat aku membuka mata, aku kaget karena aku sudah berada di luar rumah. Aku berlari lagi mendekati rumah, tapi aku ditahan oleh salah satu petugas pemadam kebakaran. Aku mengatakan pada mereka jika di dalam sana masih ada ayah dan ibu, tapi apa kata mereka? Api terlalu besar jadi mereka sulit untuk masuk! Aku panik! Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan!

Lalu setelah api padam, aku langsung berlari menuju rumah. Rumah itu benar-benar tidak bersisa. Aku sangat terkejut melihat ayah dan ibu yang hangus terbakar. Aku menangis, menangis tanpa memperhatikan orang-orang di sekitarku. Aku meneriaki ayah dan ibu, berharap mereka akan bangun dan memelukku. Ketika polisi datang, aku lari! Aku takut dengan mereka, aku masih belum menerima semua kejadian ini. Pikiranku melayang, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan selain menangis dan menangis. Saat itu, aku merasa seolah-olah ingatanku.. Whuss! Pergi begitu saja! Lalu pada saat kau datang, aku semakin takut! Aku bersembunyi agar kau tidak menemukanku. Aku juga sempat mendengar, ada beberapa orang yang menuduhku penyebab kebakaran itu. Mereka bilang. ‘Joohae melarikan diri karena dia pelakunya! Dia yang membakar rumah!’. Aku ingin mengelak, tapi aku terlalu takut untuk bicara.

 

Untuk sesaat rekaman itu kembali mengeluarkan gemerisik seperti pada awal tadi. Sampai akhirnya suara Joohae terdengar lagi, tapi kali ini suaranya diiringi dengan isakan sedih.

 

Aku tidak tahu apa setelah mendengar cerita ini.. kau akan percaya padaku atau tidak. Tapi.. setidaknya aku sudah mengeluarkan semuanya.. semua yang ku pendam selama dua tahun terakhir. Kalaupun kau masih membenciku.. tidak apa.. aku akan menerimanya.. Tenang saja, sekarang ini aku tidak berada di Korea. Aku mendapat beasiswa untuk belajar di luar negeri. Dan di sana aku akan memulai kehidupanku dari awal. Sendirian.. tanpamu.. dan Minjung eonni, bahkan Jikyung.

Donghae-ssi, aku juga mengembalikan kalung silver pemberianmu bersama dengan rekaman ini. Kurasa aku tidak membutuhkannya lagi. Aku tahu kau pasti mau meminta lagi kalung itu dariku. Kau tidak perlu khawatir, kalung itu milikmu sekarang.

Aku rasa ini saja yang perlu aku katakan padamu. Jadi, aku minta maaf karena baru mengatakannya padamu sekarang. Aku takut untuk mengatakan langsung padamu. Karena aku tahu kau tidak akan percaya padaku.

Aku hanya ingin kau mengingat bahwa aku sangat senang kau pernah menyayangiku sebagai adik. Tak peduli seperti apa kau menamparku, membenciku, melupakanku, memukulku, mengabaikanku―aku akan tetap menyayangimu, kakak. Sekarang dan selamanya.

 

Dengan kata-kata itu, pengakuan pun berakhir.

☆☆

Tidak ada yang memiliki keinginan bicara setlah rekaman dari Lee Joo Hae berakhir. Kedua orang itu sibuk dengan pikiran masing-masing. Mereka saling diam, untuk waktu yang cukup lama, sampai salah satu dari mereka mendesah kasar.

“Aku salah besar.”  ungkap Minjung. “Dia tidak pergi seperti pengecut.”

Donghae menatap Minjung marah. “Kau puas sekarang?!” bentaknya.

“Puas untuk apa?!” bentak Minjung balik. “Karena dia pergi?! Atau karena kau menyesal setelah dia pergi?!”

Donghae diam.

“Puas untuk apa?” ulang Minjung menurunkan nada bicaranya.. yang lebih terdengar begitu menyakitkan. “Caramu dalam memperlakukan dia.. kebohonganmu pada semua anggota Super Junior tentang hubungan kalian.. atau karena tingginya egomu sehingga kau menutup rapat telingamu untuk mendengar penjelasannya? Aku haru puas untuk apa? Coba katakan..”

Pria itu tertegun.

“Aku tidak puas untuk apapun, Donghae-ah..” aku Minjung sedih. Gadis itu mulai menangis. “Aku.. sungguh.. aku benar-benar kecewa padamu..”

Donghae menatap gadis itu nanar. Merasa begitu bodoh, bersalah, dan egois. Dia hanya mengamati Minjung yang menutup wajah dengan kedua tangannya dan menangis sejadi-jadinya. Ia terperangah. Minjung sampai seperti ini hanya karena dirinya dan sang adik. Mengapa ia malah mengecewakan sahabat yang selalu ia banggakan ke semua orang? Mengapa ia tega membuat sahabatnya menangis sampai seperti ini? Minjung tidak pernah menangis seperti ini setelah gadis itu menceritakan tentang sang ayah pada dirinya. Ia pernah meminta pada Minjung agar itu menjadi tangisan terakhirnya. Tapi hari ini, malam ini, Lee Dong Hae melanggar janjinya. Parahnya lagi, yang membuat Minjung seperti ini adalah dirinya.

Lelaki hina yang menelantarkan adik kandungnya dan mengecewakan sahabat yang sudah dianggap seperti keluargannya sendiri.

Minjung menarik napas panjang dan menyeka kasar air matanya. Ia mengeluarkan sesuatu dari tasnya, meletakkan benda itu di samping kotak rekaman, dan bangkit tanpa suara.

Ia membuka pintu kamar Donghae, terkejut melihat semua anggota Super Junior yang berkumpul di sekitar pintu. Ia memaksakan sebuah senyum, membungkuk pada semua orang, dan pergi.

“Emm, Donghae-ah?”

“Aku tahu.” Donghae mengangguk. Ia mengambil kotak tadi dan benda yang diberikan Minjung – sebuah foto, lalu membawanya ke ruang tengah. Setelah semua orang berkumpul, ia kembali memutar rekaman itu.

Suara Lee Joo Hae kembali memenuhi seluruh pelosok dorm.

☆☆

Hari sudah semakin larut. Di luar, suara bising kendaraan yang berlalu lalang mulai berkurang. Aktivitas manusia di kota juga mulai berkurang seiring berjalannya waktu.

Di dorm Super Junior, semua orang terdiam. Kebingungan? Well, itu jelas sekali. Mereka tidak tahu suara siapa yang mereka dengar dari rekaman itu. Namun satu hal yang pasti, semua ini ada kaitannya dengan salah satu dari mereka.

Jadi Donghae berdiri, menghadap semua orang. Ia menunjukkan benda yang diberikan Minjung. Sebuah foto setengah badan Lee Joo Hae yang tersenyum lebar.

“Gadis ini adalah adikku, Lee Joo Hae.” bukanya.

“Kau.. punya seorang adik?!” pekik Eunhyuk.

Donghae mengangguk.

Semua orang menatapnya.

“Dia si cerdas dari keluarga kami, walaupun ayah dan kakekku ingin dia mempunyai karier sepertiku. Tapi, dia menolak mentah-mentah gagasan itu. Dia suka membaca, oh benar-benar suka! Dia memohon-mohon pada orangtua ku agar dia bisa ikut denganku ke Seoul, dan belajar di sini. Syukurlah orangtua ku mengizinkannya. Awalnya hubungan kami baik-baik saja, sampai akhirnya.. aku mengira dia yang membunuh orangtua ku, dua tahun lalu.”

“Jadi hubunganmu dengan adikmu sudah dua tahun seperti ini? Saling membenci?”

“Bukan seperti itu.” sangkal Donghae. “Aku yang membencinya. Dan dia.. tidak pernah sekalipun membenciku..”

Semua orang terdiam.

“Kenapa kau tidak mengatakan hal ini pada kami?” Siwon bertanya. “Setidaknya kami harus tahu kau punya seorang adik, walau kau tidak mau kami mengenalnya.”

“Aku tahu, karena itu maafkan aku.” ungkap Donghae menyesal. “Sebenarnya, ini adalah kesepakatanku dengannya. Aku pernah bertanya padanya, apa yang dia inginkan saat aku sudah dikenal sebagai idol. Dan jawabannya mengejutkan aku. Dia tidak ingin kalian mengenalnya.”

“Kenapa?”

“Dia memang cerdas dan berprestasi, tapi dia sangat realistis. Dia tidak mau dunia memandangnya sebagai keluarga idol, karena dia ingin dunia memandangnya sebagai dirinya sendiri. Selain itu, dia sangat pemalu. Dia benci dunia hiburan, sorotan kamera, wawancara eksklusif, dan gosip. Karena itu aku tidak mengenalkannya pada kalian.”

Hening sejenak.

“Lalu gadis tadi? Siapa dia?”

“Gadis itu adalah sahabatku sejak kecil. Hwang Min Jung.” jelas Donghae. Senyum kecil tersungging di wajahnya. “Kami punya impian yang sama sejak kecil. Menjadi sukses dengan cara kami sendiri. Karena itu aku bersamanya, yang juga dari Mokpo, pindah ke Seoul. Dan yah, kami saling menepati janji. Aku sukses sebagai seorang idol, dan dia sukses sebagai seorang arsitek.”

Senyumnya lantas memudar. “Tapi malam ini, aku sukses membuatnya membenciku. Aku mengecewakannya. Padahal aku selalu membanggakannya di depan semua orang.”

Ruang tengah kembali diselimuti keheningan.

“Tidak heran dia bertingkah seperti itu hanya demi dirimu dan adikmu.” komentar Leeteuk.

“Aku ini idiot.” Donghae terkekeh sedih, mengejek dirinya sendiri. “Egoku terlalu besar hanya untuk mendengar penjelasan adikku. Dan aku bahkan melupakan sahabatku sendiri, mengecewakannya sampai seperti ini.”

“Kau ingin mencarinya?”

Donghae mengangguk. “Tapi itu tidak mungkin.” jawabnya. “Dia tidak berada di Korea. Dia di luar negeri. Dia bisa berada di mana saja.”

“Apa media harus tahu hal ini?”

“Tidak, jangan.” cegah Donghae. “Kumohon, hyung. Joohae akan benci padaku jika kita melakukan hal ini!”

“Lalu? Apa kau punya ide yang lebih baik?”

“Aku tidak tahu, apa ini yang terbaik atau tidak.” Donghae menggeleng pasrah. Ia menatap keluar jendela, menyadari dengan terkejut bahwa di luar sana hujan.

Ia menarik napas panjang, melanjutkan perkataan yang menggantung.

“Tapi akan lebih baik aku menunggu.. dan berharap.”

 

To Be Continued

Sebenernya aku udah pernah ngepost cerita ini di page facebook, tapi itu versi yang ada Kyuhyun nya. Dan emang itu ada romance nya. Sengaja aku repost dan remake karena aku mau di cerita ini just about family and friendship. Maaf ya kalo nggak suka :3 ah elah kayak ada yang baca aja -_- #bhay :3

Advertisements

One thought on “Hug Me Once 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s