Photograph

screenshot_2016-06-09-08-39-40_com.instagram.android_1471492539985.jpg

That song bring him back to the best part of his life, with his little-beloved sister.

A ‘Good’ Bye | Donghae’s Video | The Little-Chicken-Hearted | Photograph

***

LEETEUK menuangkan air mineral ke gelas, meminumnya hingga tandas. Ia menghela napas panjang, merasa sangat lelah dengan jadwal yang begitu padat. Ia keluar dari dapur, bersamaan dengan seorang anggota lain yang keluar dari kamarnya.

“Pembelinya akan menempati apartemen itu minggu depan.” katanya. “Kapan kau akan mulai merapikan barang-barangnya?”

“Hari ini.” Donghae menutup pintu kamarnya. “Akan kupastikan aku menyelesaikan semua itu kurang dari enam jam.”

“Uh, aku beruntung kau masih ingat pekerjaanmu.”

“Tidakkah hyung mau melihat-lihat? Kita tidak akan bisa ke sana lagi mulai besok.”

“Aku ke sana dua hari yang lalu.” Leeteuk duduk di sofa ruang tengah. “Bersama Ryeowook dan Siwon. Heechul, Sungmin, Shindong, dan Eunhyuk bahkan ke sana setiap ada kesempatan. Hanya sekadar bernostalgia. Dan membuat kami menyadari bahwa kami tidak pernah menyesal setelah mengenal orang sehebat adikmu. Sementara Kangin, Yesung, dan Kyuhyun baru ke sana kemarin. Hanya kau yang belum ke sana, bahkan semenjak dia pergi.”

Donghae hanya tersenyum.

“Tak apa. Kami mengerti perasaanmu. Dan aku senang akhirnya kau bisa juga ke sana. Walau aku tidak bisa menjamin akan ada yang terjadi padamu. Kau tahu? Kemarin aku melihat bekas air mata di pipi Eunhyuk, Heechul, Sungmin, dan Shindong, tepat setelah mereka pulang dari sana.”

“Kuharap tidak ada dari kalian yang akan mengunjunginya hari ini.” ujar Donghae, lebih terdengar seperti sebuah permintaan.

“Tenang saja. Mereka pasti mengerti.”

Donghae mengangguk. “Terima kasih, hyung.” ia keluar dari apartemennya.

Kemudian berhenti menatap pintu apartemen Lee Joo Hae.

Apartemen itu masih milik adiknya, setidaknya sebelum si pemilik apartemen yang baru pindah dan menempatinya. Ia memejamkan mata, menguatkan dirinya sendiri.

Ia mengatupkan mulutnya. Leeteuk benar, sepertinya akan terjadi sesuatu pada dirinya.

Tangannya gemetaran ketika menekan sandi.

Ia membuka pintu dan masuk. Di sana seorang gadis tengah menunggunya di ruang tengah.

“Maaf.” Donghae membungkuk. “Kau pasti lama menungguku.”

“Aku mengerti.” Minjung berdiri, tersenyum tulus. “Bahkan aku yakin, kau butuh keberanian lebih hanya untuk membuka pintu apartemen ini.”

“Kau gadis kedua yang paling mengerti diriku setelah Joohae, Jung.”

Gadis itu tersenyum. “Aku juga bagian dari keluarga, tuan Lee.”

“Baiklah.” Donghae menghela napas. “Darimana kita harus memulai?”

“Satu hal yang pasti, akan sangat sulit memindahkan semua koleksi buku Joohae.” Minjung menyimpulkan. 

“Aku hendak menyumbangkan semua buku-buku Joohae ke perpustakaan di pinggir kota.” kata Donghae. “Bagaimana?”

Minjung mengangguk-angguk. “Ide bagus.” jawabnya. “Dan bagaimana dengan semua pakaiannya?”

“Akan ku berikan pada keluargaku di Mokpo. Entah mereka akan menggunakannya, atau menjualnya kembali. Itu urusan mereka.”

Minjung menunjuk dinding. “Dan semua itu?”

Donghae mengikuti arah telunjuk Minjung, mengamati foto-foto yang terpajang di hampir seluruh dinding ruang tengah apartemen. “Aku akan menyimpannya.”

Minjung tersenyum sedih, lalu menggeleng. “Kau tidak mungkin memajangnya di dorm.”

“Aku tahu.” Donghae menjawab. Tatapannya tidak terlepas dari foto-foto itu. “Akan ku letakkan beberapa di kamarku. Sisanya akan kusimpan.”

Gadis itu menghela napas, mengerjap matanya berkali-kali. “Kau bisa menurunkan foto-foto itu. Aku akan merapikan semua pakaiannya.”

Donghae mengangguk menyetujui. Saat Minjung hilang dari pandangannya, dia mengambil sebuah remote di samping televisi, menekannya untuk menyalakan pemutar musik. Ia menahan napas saat mendengar lagu pertama.

Taylor Swift, Blank Space.

Donghae tersenyum. Ia tahu betul adiknya adalah penggemar berat penyanyi yang kini mengganti genre lagu di albumnya yang terakhir itu. Ia pernah menghadiahkan sang adik tiket konser 1989 World Tour di Jepang. Bahkan ia masih ingat reaksi gadis kecil itu saat ia memberikannya.

Ia melangkah menuju dapur, hendak mengambil kursi tinggi. Tapi sekonyong-konyong ia malah berhenti di ruangan ini dan mengamatinya secara mendetail.

Kini di bayangannya, ia melihat sang adik menuju dapur seraya menyalakan toaster dan coffee maker. Sembari menunggu semua itu, Joohae duduk di kursi tinggi, menikmati lagu yang mengalun dari pemutar musik. Itulah yang akan dilakukan sang adik setiap hari.

Donghae merasakan matanya memanas.

Ia cepat-cepat mengambil kursi tinggi dan kembali ke ruang tengah. Dan mulai menurunkan foto-foto.

Ketika semua foto di dinding yang membatasi ruang tengah dan dapur sudah ia turunkan, lagu di pemutar musik berganti.

Twenty One Pilots, Heathens.

Donghae tahu lagu ini. Lagu dari film Suicide Squad. Setelah selesai menonton film itu, gadis itu langsung membaptis dirinya menjadi penggemar berat Margot Robbie, yang memerankan Harley Quinn.

Donghae kembali teringat saat sang adik memohon agar mengubah warna rambut seperti istri Joker itu, dan tersenyum-senyum mengingat reaksi tersipu malu-malu adiknya saat ia memuji rambut cokelat gadis itu. Ia terkekeh bahwa adiknya termakan ucapannya. Alhasil, Joohae tidak pernah mau lagi membahas soal pergantian warna dan gaya rambut. Kalaupun ke salon, gadis itu hanya akan merapikan ujung-ujung rambutnya.

Dan Lee Dong Hae memang menyukai melihat sang adik yang tampil apa adanya tanpa perlu ada yang diubah.

Itulah pesona Lee Joo Hae yang selalu ia bicarakan.

Lagu pun kembali berganti.

Super Junior, Rockstar.

Senyumnya makin lebar. Saking sukanya pada lagu ini, Joohae sering menari-nari abstrak sambil melakukan apapun. Mencuci piring, membersihkan apartemen, menjemur pakaian, pokoknya semua yang dilakukannya bersama lagu itu sambil menari.

Donghae tahu karena Donghae pernah memergokinya. Dan itu sangat lucu.

Seperti biasa, ia tidak akan pernah mengetuk atau berteriak dari luar ketika ia ingin berkunjung. Hei, Donghae kakaknya dan dia berhak melakukan apa saja! Jadi wajar saja dia akan memergoki gadis itu dalam keadaan tak terduga. Menari sembarangan, menangis saat menonton film, marah-marah pada novel kriminalnya karena akhir cerita yang tidak sesuai ekspektasi, bahkan saat Joohae selesai mandi!

Donghae tertawa mengingat hal itu.

Tapi tiba-tiba, ucapan sang adik yang tersirat bahwa gadis itu ingin menari bersama seluruh anggota Super Junior di atas panggung saat Super Show yang akan datang, terngiang-ngiang di kepalanya.

Senyum Lee Dong Hae memudar.

Berganti menjadi senyum sedih yang menyakitkan.

Sebagai pengalih perhatian, Donghae membereskan semua foto yang sudah ia turunkan. Ia menjejerkan semua itu di lantai, dan duduk di sekelilingnya, mengamati semua foto itu dengan semua emosi yang berkecamuk di dalam jiwanya.

Tanpa ia sadari, lagu pun berganti.

Ed Sheeran, Photograph.

Donghae terpana. Masih mengamati foto-fotonya bersama sang adik dengan nanar. Ditambah lagi, dengan mengalunnya lagu ini di ruangan ini..

Lagu ini.. lagu kesukaan Lee Joo Hae. Setidaknya itu yang dia tahu, karena selama setahun gadis itu menderita penyakitnya, Lee Joo Hae tidak pernah absen untuk mendengarkan lagu ini. Setiap kali ia mengunjungi gadis itu di rumah sakit, lagu ini pasti mengalun lembut di ruang perawatannya. Setelah dia sempat sembuh selama dua bulan, sepanjang hari ia mendengar lagu ini di apartemen gadis itu. Bahkan di saat-saat terakhirnya, lagu ini masih ia dengarkan saat mereka melakukan video call.

Air mata Lee Dong Hae tidak bisa lagi dicegah.

Flove

We keep this love in a photograph

We made this memories for our selves

When our eyes are never closing

Hearts are never broken

And time’s forever frozen still

Ee

Pria itu mengambil satu bingkai foto, mengamatinya dengan berlinang air mata. Itu foto saat mereka liburan di Jerman, di depan pintu gerbang Brandenburg. Mereka bergandengan tangan dan merentangkan tangan yang bebas. Senyum mereka secerah sinar matahari.

Donghae meletakannya, kemudian mengambil foto yang lain. Mereka tidak melihat ke arah kamera di foto itu. Siwon yang memotretnya. Apartemen Joohae menjadi latar belakangnya. Mereka berdua tampak sedang bercengkerama dan tertawa. Foto favorit Lee Joo Hae.

Setelahnya, mata pria itu tertuju pada foto lain. Itu foto mereka di depan gedung SM Entertaintment, dengan pose Donghae menggendong sang adik ala pengantin dan gadis itu merentangkan kedua tangannya bahagia. Mereka tersenyum lebar ke arah kamera.

Foto yang lain. Ketika mereka berada di dalam mobil. Keduanya memasang wajah serius dengan pose tangan membentuk symbol V dan diletakkan di depan mulut.

Selanjutnya, foto Lee Joo Hae mengecup pipinya. Foto itu diambil saat mereka berulang tahun.

Kemudian, foto mereka di depan kantor Kedutaan Besar Korea di Jerman. Mereka berpose ala tentara, membentuk tanda hormat dengan tangan dan mendongkak menatap bendera Korea yang berkibar di tanah Jerman.

Ada juga foto mereka saat melakukan liburan sehari, sebelum Donghae menjalani wajib militer. Sebuah selca yang diambil Donghae ketika sang adik tidur di pahanya. Mereka sama-sama tersenyum.

Lalu foto wisuda Joohae di Jerman. Foto dimana Donghae memakai topi wisuda Joohae dan memegang ijazahnya, tersenyum lebar ke kamera, berpose seakan dirinya yang baru saja diwisuda. Sementara gadis itu, yang mengenakan toga, memandang kakaknya cemberut. Foto favorit Lee Dong Hae.

Ffg

And if you hurt me

That’s okay baby only words bleed

Inside these pages you just hold me

And I won’t ever let you go

Wait fot me to come home

Rrr

Donghae menyeka air matanya yang semakin tak terkendali.

Pada saat itu, Minjung keluar dari kamar dengan mendorong tiga kotak ukuran sedang yang ditumpuk ke atas. Ia baru menyadari lagu yang mengalun di apartemen ini.

Dan mengamati sahabatnya menatap dirinya lama di foto itu seraya menyeka air mata.

Gadis itu menghela napas.

“Donghae-ah..”

Pria itu menoleh.

Minjung duduk di sampingnya, memberikan sebuah kotak beludru biru muda kecil pada pria itu. “Kau harus menyimpannya.”

Donghae membuka kotak itu, menatap nanar isinya. Satu isakan pun lolos.

Ffff

Oh you can fit me

Inside the necklace you got when you were 16

Next to you heartbeat where I should be

Keep it deep within your soul

Fffflove

Itu adalah gelang pemberian orang tua mereka dan kalung pemberian Lee Dong Hae.

Pria itu menjuntaikannya, mengusap nama Joohae yang terukir di mata kalungnya dengan lembut. “Kalung ini diperbarui olehnya.. Menjadi lebih bagus tapi tetap seperti saat aku memberikannya pertama kali..” lirih Donghae.

Ia mengecup mata kalung itu, lama sekali. Sampai setitik air matanya jatuh.

Minjung memandang sahabatnya sendu.

Gadis itu merengkuh sang sahabat, menjatuhkan wajah pria itu di bahunya. Ia mengusap-usap punggung lebar Donghae secara terus-menerus.

“Bukankah kau sendiri yang bilang kalau kita harus merelakannya?” bisik Minjung. Ia menjadikan kepala Donghae sebagai sandaran kepalanya. “Dia tidak akan senang bila melihatmu seperti ini. Kita hanya harus merelakannya, bukan melupakannya. Sosok sepertinya tidak akan terlupakan, kau tahu? Dia terlalu berarti bagi orang yang mengenalnya..” gadis itu menarik napas dan menghembuskannya. Ia masih terus mengusap punggung sang sahabat. “Jadi, relakan dia, Lee Dong Hae.. Dia berada di tempat yang jauh lebih baik. Dia bersama Tuhan, ingat? Dia pasti bahagia karena bisa bertemu dengan orangtuamu. Kau juga harus bahagia di sini..”

Donghae membiarkan apapun yang dilakukan Minjung pada dirinya. Dan melakukan sedikit renungan di pelukan sang sahabat. Minjung benar. Adik kecilnya pasti bahagia karena bisa bertemu semua keluarganya yang telah tiada, termasuk orang tuanya. Jadi jika Joohae bahagia, seharusnya ia juga bahagia. Joohae tidak akan suka bila ia menangis, apalagi menangis untuknya. Ia tahu sang gadis kecil benci hal itu.

Jadi ia menarik napas panjang, menghembuskannya secara perlahan. Dan melepas tangisan terakhirnya. Dan tersenyum.

Minjung melepas pelukan.

“Terima kasih.” ucap Donghae menatap lurus-lurus mata Minjung. “Untuk segalanya.”

Minjung tersenyum manis.

Keduanya merapikan foto-foto itu, memasukannya dengan sangat hati-hati ke dalam kotak. Setelah membereskan semua itu, mereka menuju perpustakaan Lee Joo Hae.

Donghae tersenyum sedih.

Ia berada di Surga Dunia sang adik.

Surga Dunia yang sebentar lagi hanya akan menjadi kenangan.

Ffff

End

Rt

Waaaa, sedih ya? 😂

Pengen tau, feel-nya dapet nggak di sini, huehehehe :3

Cuma pengen melakukan sesuatu di ulang tahun Kibum, tapi nggak dapet ide buat bikin cerita romance -_-

Walaupun nggak ada sangkut pautnya sama Kibum, aku tetep mau ngucapin selamat ulang tahun buat doi. Maaf ya bang, nggak kepikiran bikin cerita tentang lu etapi pengen dan nggak punya ide gimana dong 😐

Aku tetep cinta Kim Ki Bum apa adanya #iniapasih

PS: yang penasaran sama visual Joohae yang kupake bisa intip Red & Blue #promosi 😚

Advertisements

8 thoughts on “Photograph

  1. Part ini bener-bener menguras emosi.
    Keren2 aku suka banget sama ceritanya alurnya juga pas banget pokoknya feelnya dapet banget… biar donghae ga sedih terusss cariin pendamping buat donghae dong thor.. Buat cerita romance buat donghae biar ga sedih2 lg karna ditinggalkan adiknya 😔

    Liked by 1 person

    • Eheheheheheh makasiiiihhhhhhh banget review nya ya 😊😊😊😊 iya deh aku bikinin tapi nggak sama Minjung, sama orang lain aja 😂😂 tapi nggak sekarang 😂😂😂😂

      Like

    • Kalo baca ini, mending kamu mulai dari a good bye aja dulu, nah dari situ kamu bisa liat di kalender nya kan banyak bulan Agustus ya, nah kamu urutun aja berdasarkan tanggalnya hehehe

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s