Everything Has Changed 6

everything-has-changed-taylor-swift-35296961-1191-669nce97g ce

Inspired by two friends’ song, Taylor Swift and Ed Sheeran.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 (END)

***

“KAU adalah gadis terbodoh yang pernah kukenal.”

Aku menghela napas begitu mendengar kalimat itu, masih terus melatih tendanganku pada sand-sack. Aku sedang berada di ruang latihan taekwondo di rumahku. Selama beberapa menit aku berlatih sendirian sampai si kurus itu datang merusak suasana.

Mengomentari apa yang terjadi antara diriku dan Kyuhyun beberapa minggu yang lalu. Seperti biasa.

Hei, kejadian itu sudah lama dan dia masih saja terus mengataiku bodoh!

“Memangnya kenapa kalau aku berkata begitu?” sahutku menendang sand-sack terus menerus. “Aku benar kan? Lukaku tidak akan pernah sembuh sekalipun dia bersujud di depanku!”

“Kau bilang kau mencintainya!”

Aku berdecih dan tersenyum sinis. “Cinta adalah kata terkonyol yang pernah kudengar dan kuucapkan setelah Kyuhyun membuatku menangis.” ungkapku. “Aku begitu konyol sampai bisa mencintainya. Aku tidak sepertimu! Kau bisa mencintai Minjung karena dia sangat sempurna! Sedangkan aku? Oh aku cuma gadis aneh yang sangat tidak pantas bahkan hanya untuk menjadi temannya!”

Aku menertawai diriku sendiri. Sementara Eunhyuk memberikan tatapan menyedihkan.

“Aku tidak perlu dikasihani. Jadi berhentilah menatapku begitu.”

“Kau benar, Byul.” Eunhyuk berkata. Dia menyandarkan satu sisi tubuhnya di dinding, memandang kosong langit-langit. “Minjung memang sempurna, tapi kesempurnaan yang kau maksud itu bukan alasanku untuk mencintainya.”

Aku berhenti menendang sand-sack.

“Minjung cerdas, menawan, dan memiliki apapun yang pria inginkan pada dirinya.” renung laki-laki itu. “Tapi itu bukan alasanku mencintainya, Byul.”

“Lalu?”

Dia tersenyum. “Aku mencintainya karena dia Hwang Min Jung.”

Aku menautkan alis.

“Aku tidak punya alasan apapun untuk mencintainya, dasar bodoh!” umpatnya. “Seolah hatiku mengatakan, meskipun dia sangat kasar padaku di saat pertemuan pertama kami, meskipun dia selalu membentakku, meskipun tatapannya tidak bersahabat padaku, aku tetap mencintainya. Minjung sukses membuatku menjadi laki-laki yang ingin melindungi dirinya karena dia sangat berharga untukku. Minjung membuatku menjadi laki-laki yang akan melakukan apa saja untuk dirinya. Benar-benar apa saja asal Minjung tetap menjadi milikku dan selamanya menjadi milikku.”

Aku diam. 

Mungkin kalian tidak tahu, saat tinggal di Jepang dulu, sepupu kurusku ini adalah seorang playboy level akut. Semua kalangan gadis hampir pernah dipacari olehnya, kecuali nenek-nenek dan anak kecil. Teman sekolah, kakak tingkat, pekerja kantoran, bahkan wanita yang bekerja di klub malam. Dan itu dilakukannya cuma untuk bersenang-senang, atau hanya untuk memanfaatkan uang mereka.

Jika dia sudah bosan dengan satu gadis, dia akan memacari gadis lain. Bahkan dia pernah memacari delapan gadis dalam satu waktu.

Coba bayangkan.

Tapi sejak pindah ke Korea, Hwang Min Jung, si nerd merangkap shopaholic itu, berhasil mengubah segalanya dalam diri sepupuku.

“Minjung membuatku mengerti apa arti cinta sesungguhnya.” Eunhyuk masih berkhotbah. “Minjung membuatku paham bagaimana rasanya memperjuangkan seseorang, membuatku tahu apa itu cemburu, membuatku menghargai seseorang yang dicintai, dan membuatku ingin memiliki dirinya seutuhnya. Aku sangat mencintai Minjung dan kau sangat tahu tentang hal itu. Jadi sebenarnya aku tidak perlu menjelaskan hal ini padamu.”

Benar sekali. Hwang Min Jung dan si kurus ini telah resmi menjadi sepasang kekasih.

Siapa sangka si cerdas itu ternyata juga terpikat pada sepupuku?

Ingat kalau si kurus ini pernah mendapat foto misterius? Nah, semua itu Minjung yang memotretnya. Secara diam-diam.

“Jadi jika kau memang ingin Kyuhyun juga mencintaimu, kau hanya harus membuat dirimu dicintai olehnya.”

“Dan bagaimana kalau rasa cintaku itu akhirnya berubah menjadi benci?” sergahku.

Dia diam.

Aku mendengus. “Jangan bicara omong kosong padaku.”

“Cinta bukan omong kosong, bodoh!”

“Kau bilang begitu karena Minjung juga mencintaimu!” semburku. “Coba kau berada di posisiku, menjadi Shin Ha Byul yang aneh, tomboy, dan tidak mempedulikan apapun! Aku yakin kau akan lebih nyaman sendirian daripada memiliki kekasih!”

Dia terdiam lagi.

Aku meninggalkannya sendirian di ruang latihan.

☆☆☆

Aku mendiami Eunhyuk selama beberapa hari, terlalu malas untuk bicara dengannya. Orangtuaku sudah terbiasa dengan hal ini, karena kami memang sering bertengkar karena hal-hal konyol dan saling diam karena hal-hal konyol juga. Jadi mereka tidak terlalu mempermasalahkannya.

Tapi kali ini diamku pada sepupuku itu bukan karena alasan konyol.

Aku bahagia melihat seorang Cho Kyu Hyun memohon-mohon maaf seperti itu padaku. Kalian tahu, aku selama ini selalu menyadari tatapan sendu Kyuhyun ketika dia melihatku dari jauh, berdiri dengan wajah menyesal setiap kali aku tertawa bersama Donghae, atau membicarakan dan menanyakan diriku pada Chan dan Hyosung. Menyenangkan bisa membuat Kyuhyun seperti itu. Terlebih serelah apa yang dia lakukan padaku.

Ah, senang rasanya bisa membuat seseorang tunduk padamu.

Setidaknya untuk beberapa waktu.

Sampai aku menyadari sesuatu.

Kyuhyun tidak lagi bersikap seperti itu sejak aku menolak pelukannya.

☆☆☆

Selama ini, setidaknya saat aku dan Kyuhyun masih berteman, segala bentuk skinship sudah pernah kulakukan bersamanya. Jangan berpikiran yang aneh-aneh, kumohon. Maksudku di sini adalah, kami sering berpelukan, bergandengan tangan, dan semacam itu. Soal ciuman, dia hanya pernah menciumku di kening dan pipi. Aku hampir tidak pernah menolak semua bentuk skinship yang diberikan, kecuali waktu itu dia pernah meminta ciuman bibir dariku.

Jadi, saat aku menolak pelukannya, dan menyadari apa yang telah kuucapkan, aku menjadi lebih pendiam dan lebih sering berpikir.

Apa tindakanku benar?

Apa kalimat ‘Ingat kan kalau bekas luka tidak bisa hilang sekalipun sudah sembuh?’ adalah kalimat yang seharusnya kuucapkan?

Apa menolak pelukannya adalah tindakan yang tepat?

Apakah perasaanku tepat saat aku mengaku kalau aku bahagia saat dia terlihat menyedihkan?

Apa aku benar-benar membencinya?

Apa aku benar menganggap cinta itu omong kosong?

Apa aku benar bahwa mencintai Kyuhyun adalah hal yang.. konyol?

Aku menghela napas keras, memandang para murid yang berlalu lalang di koridor di bawahku. Aku sedang berada di atap sekolah, duduk dengan kaki menjuntai seraya memegang penghalang besinya. Sambil memakan beberapa roti yang disiapkan ibuku. Dan menikmati kesendirian ini.

Sambil memikirkan sesuatu.

Sudah beberapa bulan kejadian itu berlalu, dan aku mulai menyadari adanya perubahan dari Kyuhyun.

Aku tidak lagi melihatnya diam-diam menatapku sendu.

Tidak ada pertemuan memaksa dan permohonan maaf lagi darinya.

Bahkan ketika kami berdelapan berkumpul bersama, dia tidak mencoba untuk bicara denganku. Bahkan hanya sekadar memperhatikan aku bicara saja tidak.

Ketika kami berpapasan, dia hanya memberikan tatapan yang dingin dan tidak bersahabat yang sukses membuatku meringis dalam hati.

Apa sekarang keadaannya berbalik?

☆☆☆

Semenjak aku tahu Kyuhyun membenci air mataku dalam segala bentuk emosi apapun, aku jadi berpikir untuk menyembunyikan kesedihanku dengan sebuah cara agar setiap kali aku bertemu dengannya, dia tidak lagi mengomeliku soal air mataku, atau mengepalkan tangan marah setiap kali melihatku selesai menangis. Dan aku menemukannya.

Aku akan berolahraga sampai tidak tahu diri sampai aku menceritakan versi yang lebih bahagia dari masalahku padanya.

Tapi itu dulu.

Saat aku masih menjadi temannya.

Sayangnya, soal olahraga itu, aku masih melakukannya sampai sekarang.

Walaupun aku tidak akan menceritakan versi bahagia masalah itu padanya, atau pada siapapun.

Karena masalahku yang sekarang berkaitan dengannya.

Aku terkapar seraya memegang bola di lapangan basket dekat taman bermain di kompleks rumahku, menatap ring dengan tatapan menerkam. Entah kenapa dari dua puluh lima tembakan, aku hanya berhasil tiga kali. Hei, Sungmin, Donghae, Kyuhyun, dan Eunhyuk selalu memuji betapa hebatnya permainan basketku! Tapi sekarang?! Apa yang terjadi pada diriku?!

“Kau masih tidak mau bicara padaku?”

Seketika aku duduk saat mendengar suara itu. Eunhyuk berjalan santai, lalu duduk bersila tepat di hadapanku.

“Kalau begitu, aku minta maaf.”

Aku hanya mengangguk. Kami memang sudah saling diam selama.. emm… selama.. ah, entahlah..

“Kau tidak sepenuhnya salah.” ucapku akhirnya. Lalu terkekeh, mungkin terdengar menyedihkan. “Bahkan kau tidak punya salah sama sekali.”

“Kau memikirkan sesuatu?”

Aku tersentak. Eunhyuk memang baru tinggal di rumahku hampir dua tahun, dan selebihnya interaksi kami hanya melalui telepon atau skype. Tapi dia sudah terlanjur mengenalku luar-dalam dan aku tidak akan bisa mengelak darinya.

Posisi Eunhyuk dalam hidupku terlalu berharga untukku. Sekalipun Minjung sudah memilikinya.

“Entahlah..” aku memantul-mantulkan bola basket tanpa menatapnya. “Permahkah terpikir olehmu kalau kau akhirnya terkena karma?”

Laki-laki itu mengerutkan kening.

“Kalau kau memang sepupuku, kau pasti menyadarinya. Jangan pura-pura bodoh.”

“Kau memikirkan ucapanku?”

Aku mengangguk. “Dia benci padaku.” gumamku. “Dan kebenciannya sudah sampai di tahap dimana dia tidak akan pernah meminta maaf padaku atau memaafkan diriku lagi.”

Setitik air mataku akhirnya jatuh. Akhirnya! Aku selalu ingin menangis tapi itu terasa sangat sulit. Merasakan mataku memanas saja sudah membuatku lega. Dan sekarang? Benda yang seharusnya keluar sejak aku mengatakan kalimat laknat itu jatuh! 

“Kenapa aku baru menyadarinya sekarang?” lirihku bercampur tangis, menatap Eunhyuk yang kabur karena mataku penuh dengan air mata. “Kenapa selama ini aku membiarkan dia menatapku dari jauh? Kenapa aku tidak pernah menerima permintaan maafnya? Dan kenapa aku.. membohongi diriku sendiri dengan mengatakan.. kalau aku sangat membencinya?”

Aku meletakkan kepalaku di bola, dan menangis sekeras mungkin di sana. Ini menyakitkan, dan kenapa aku baru merasakannya sekarang? Aku sudah menghilangkan kesempatan terakhirku.. karena Kyuhyun tidak mungkin meminta maaf lagi padaku.

Karena dia sudah sangat membenci Byul.

Dia membenci Byulnya.

“Byul-ah?”

Aku mengangkat wajah. Merasa pening mendadak. Entah sudah berapa lama aku menangis. Tapi ketika aku memandang Eunhyuk, tangisanku masih saja tidak mau berhenti.

“Kenapa kau menjadikan bola basket sebagai sandaranmu jika kau memiliki sandaran yang lebih berarti?”

“Ng?” 

Laki-laki itu tersenyum teduh, menarikku ke dalam pelukannya. Menjatuhkan kepalaku di bahunya. Menuntun kedua lenganku untuk merangkul pinggangnya. Dan dirinya sendiri membuat gerakan lembut di kepala dan punggungku, sedang berusaha menenangkan aku. Setidaknya untuk saat ini.

“Apa gunanya sepupu tercintamu ini kalau bukan menjadi sandaranmu untuk menangis?”

Dan tangisanku makin tak terkontrol.

☆☆☆

Aku memang sempat berhenti menangis, setelah Eunhyuk menenangkan aku di lapangan tadi. Hari sudah larut malam ketika kami pulang, dan Eunhyuk berusaha menceritakan para mantannya di Jepang untuk membuatku tertawa. Aku memang selalu mengejek mereka dan sepupuku ini sangat suka aku mengejek mereka, menertawakan dirinya yang dulu merupakan remaja bodoh yang tidak pernah berpikir. Tapi ketika Eunhyuk menyarankan untuk menghilangkan bengkak di mataku (dan menghindari wawancara konyol para sahabatku), aku menangis lagi.

Terlebih saat dia menumbuk kentang di depanku sampai halus.

“Kenapa kita harus menggunakan kentang?” isakku. “Kita bisa menggunakan air es, dan kau tahu itu!”

Eunhyuk menyeringai.

“Kau tahu, lebih baik kau mengiris tipis tiga buah kentang dan menggorengnya daripada harus menumbuk seperti itu dan setelah pemakaiannya kentang itu harus dibuang.”

“Ini efektif untuk menghilangkan bengkak di mata setelah menangis.” ujarnya membungkus kentang itu dengan kain tipis, dan merendamnya sebentar di air hangat.

“Ada banyak cara untuk menghilangkan bengkak di mata, tapi kenapa kau menyiksaku dengan memakai kentang?!” pekikku. “Aku sudah cukup menderita dibenci Kyuhyun, jadi jangan buat aku menangisi kentang lagi!”

Laki-laki itu menyipitkan mata. “Apa kau bilang?”

Aku mendecakkan lidah, dan berpaling. Aku mengambil kompresan kentang darinya, kemudian naik menuju kamarku.

Tapi bagaimana aku mengompres mataku jika aku belum bisa berhenti menangis?

Apalagi dengan semua foto-fotoku dan Kyuhyun yang terpampang di seluruh dinding ruangan ini?

Aku duduk di tempat tidur, menangis dengan dahi menempel di dinding, untuk waktu yang cukup lama.

Sampai Eunhyuk datang dengan sebuah handuk kecil dan sebaskom air dingin.

Dia menarikku dan membaringkan aku di tempat tidur, sementara dia duduk di sampingku, mencelupkan handuk ke dalam baskom, memerasnya, dan mulai mengompres mataku.

Aku meringis karena kedinginan. “Aku bisa melakukannya sendiri.”

“Tapi aku mau melakukannya untukmu.”

Aku akhirnya diam dan memejamkan mata. Membiarkannya mengompres mataku.

“Berjanjilah kalau kau tidak akan terlihat menyedihkan seperti ini lagi.” kata Eunhyuk.

Eung?”

“Berjanjilah, Byul.”

“Aku tidak bisa.”

“Apa?”

“Aku tidak bisa berjanji padamu.” ucapku. “Aku tidak bisa menjamin apakah aku tidak akan menangis setelah aku tahu Kyuhyun sangat membenciku.”

Aku mendengar Eunhyuk menghela napas. “Wajar bila kau seperti ini.”

Untuk beberapa menit, hanya terdengar suara handuk dicelup dan air yang kembali jatuh ke baskom setelah handuk sedikit dikeringkan.

“Eunhyuk-ah?”

“Hmm?”

“Apa Minjung tidak cemburu padaku?”

Dia tergelak. “Minjung tidak sebodoh itu untuk cemburu pada adik pacarnya.”

“Benarkah? Tapi Chan sangat cemburu pada Minjung. Padahal Donghae belum menyatakan perasaannya.”

“Chan hanya terlalu sensitif untuk cemburu pada orang yang begitu berarti bagi Donghae setelah dirinya. Kita tahu betul hubungan Donghae dan Minjung seperti apa.”

“Dan kau tidak cemburu pada Donghae?”

“Sedang kuusahakan.”

“Sedang kuusahakan? Apa maksudnya itu?”

“Karena Minjung tidak pernah cemburu padamu, aku juga harus mencoba untuk tidak cemburu pada Donghae.”

“Kau cemburu pada Donghae.”

“Jika aku tidak mencintai Minjung, rasa itu tidak akan ada, bodoh!”

Aku menghela napas sejenak. “Kau benar.”

“Tentang apa?”

Aku memilih untuk tidak menjawab.

“Tentang apa?” ulangnya.

“Kadang aku cemburu melihat Kyuhyun bersama salah satu dari tiga gadis itu. Tapi aku memilih untuk menyembunyikannya.”

Entah mengapa, aku merasa lega setelah mengatakannya.

“Aku jadi iri padamu.”

“Tentang apa?”

“Aku kaget saat tahu kau ternyata juga bisa cemburu. Dan itu sangat tersembunyi dengan baik. Kau tahu? Minjung sering mengejekku karena aku terlalu blakblakan menunjukkan kecemburuanku.”

“Begitu.”

“Dan dia sama sekali tidak pernah menunjukkan kalau dia cemburu padamu. Apalagi dia tahu aku sepupu kesayanganmu.”

“Aku tidak akan mengelak fakta itu.”

Saat aku membuka mata, aku melihat Eunhyuk tersenyum.

“Sudah lebih baik.” gumamnya mengagumi usahanya untuk menghilangkan bengkak di mataku. “Bagaimana perasaanmu?”

“Dingin.” jawabku polos. “Mataku dingin.”

“Tentu saja, bodoh!” dia menjitak kepalaku. 

“Jangan mengataiku bodoh, bodoh!”

“Apa katamu?!”

Dan pertengkaran yang biasa pun berlanjut.

“Omong-omong, Byul-ah?” 

“Apa?”

“Tidakkah kau ingin tahu kenapa aku berusaha keras menghilangkan bengkak di matamu?”

“Supaya mereka tidak menginterogasimu?”

“Bukan hanya itu.”

“Lalu?”

“Besok karya wisata sekolah. Kau tidak lupa kan?”

Aku diam sejenak. Lalu.

“APA?!”

☆☆☆

Eunhyuk hanya memandang jengah ke arahku yang berlarian panik mengelilingi rumah sambil memikirkan apa yang harus dibawa untuk karya wisata. Oh Tuhan, kenapa aku melupakan hal ini?!

“Cukup siapkan baju untuk empat hari, Shin Ha Byul!” teriaknya. “Camilanmu ada bersamaku!”

Aku masih berlarian panik sampai akhirnya ibuku datang membantu menyiapkan barang-barangku.

Setelah lima belas menit, aku turun dari tangga dengan sebuah ransel dan koper kecil.

Eunhyuk hanya menghela napas dan setelahnya berpamitan kepada kedua orangtuaku.

Dan tidak ada sesuatu yang terjadi selama perjalanan dari rumahku ke sekolah, atau dari sekolah ke Busan. Kecuali, tentu saja, sikap dingin Kyuhyun padaku. Sepertinya semua teman-temanku mulai menyadarinya. Kyuhyun memang terlampau ramah pada mereka semua, dan akan menjadi super duper dingin dan tidak bersahabat padaku.

Aku hanya berusaha mengabaikannya.

Suasana masih kondusif saat ketibaan kami di penginapan. Kegiatan baru dimulai sore hari di kuil Beomeosa.

Oh bagus. Lagi-lagi perjalanan jauh hanya untuk belajar sejarah.

“Kurasa kau tidak perlu menunjukkan kebencianmu sebesar itu.” Chan menanggapi.

Aku menghela napas. Sepertinya aku tidak sengaja menyatakan pemikiranku keras-keras. Aku mulai mengikuti tiga gadis itu, menuruti apapun kata mereka seperti anak baik. Karena percayalah, meskipun aku benci karya wisata, aku lebih benci dihukum saat karya wisata.

Jadi sebisa mungkin aku mengikuti instruksi Minjung dengan baik dan benar.

Sampai Min So Eun berulah.

☆☆☆

“Oh, lihat siapa yang sedang tidak dipedulikan.”

Kami berempat praktis berbalik saat mendengar So Eun berkata demikian. Tentu kami berempat yang kumaksud adalah Hyosung, Chan, Minjung, dan aku. Dia bersama tiga orang temannya juga, bersandar pada dinding kuil sambil memandang kami penuh cela. Aku memutar bola mata kesal. Jelas sekali kalimat itu ditujukan untukku.

“Apa maumu?” ucapku jengah.

“Hanya menyampaikan fakta.” dia mengangkat bahu. “Apa aku salah?”

Aku menatapnya datar.

“Dulu dia selalu mengemis maaf darimu, sekarang melihatmu saja dia tidak mau.”

Minjung, Hyosung, dan Chan langsung tahu maksud gadis itu.

“Apa kau menguntitku selama ini?”

“Hei, kata ‘menguntit’ tidak pantas digunakan untuk situasi seperti ini.”

“Lalu apa?” sergahku. “Rutinitas sasaeng fans?”

Dia mengepalkan jarinya geram.

“Maaf, aku tidak punya waktu untuk mengurus semua penggemarku.”

Aku pergi mendahului tiga gadis itu, sampai mendengar So Eun berkata lagi.

“Yah.. setidaknya Kyuhyun pernah memacariku, memperlakukan aku seperti wanita pada umumnya, dan menciumku. Oh, aku tidak pernah lupa rasa bibirnya saat mengigit bibirku dan itu adalah ciuman terpanas yang pernah kami lakukan..”

“Lantas apa, Jalang?” semprotku emosi. “Kau bangga dengan semua itu? Bahwa bibirmu juga pernah dirasakan oleh Donghae, Sungmin, dan para pria jalanan di Seoul? Sedangkan aku tidak pernah merasakan bibir siapapun? Aku tidak memperhatikan hal seperti itu di hidupku, karena itu bukan caraku untuk hidup. Tidak sepertimu yang harus hidup dengan belaian pria.”

Aku terkejut karena dia melayangkan satu tendangan dengan sasaran ulu hati padaku sehingga punggungku terbentur dinding. Hei, ini salah satu gerakan taekwondo dan aku tahu betul kalau ini.. gerakan dasar.

Aku tersenyum sinis. “Wah, akhirnya kau mempelajari sesuatu yang berguna di hidupmu.”

“Untuk memberimu pelajaran, supaya mulutmu tidak sekotor tadi.” balasnya.

“Oh jika mulutku sudah sekotor itu bagaimana dengan tubuhmu?”

Dia hendak memberikan satu pukulan lagi, tapi aku menghindar dengan cepat, menendangnya satu kali, sehingga dia terjerembab di dekat kaki teman-temannya. Dan menatapku terkesiap.

“Kau juga mempelajarinya?!” serunya tak percaya.

Aku menggedikkan bahu. 

“Apa warna sabukmu?” tanyanya berusaha terdengar tenang, namun aku tahu dia sedang panik.

“Haruskah kau mengetahuinya?”

“Untuk mengetahui seberapa jauh kau tahu tentang taekwondo.”

“Bagaimana kalau kau mengatakan milikmu lebih dulu?”

Gadis itu berdiri, berkata dengan nada bangga. “Kuning strip.”

Chan, Minjung, dan Hyosung langsung terbahak.

“Bagaimana kalau kita bertarung?” tantangnya.

Aku tergelak. “Bertarung? Dengan amatiran sepertimu? Oh, lupakan saja!”

“Dan setelah bertarung, kau boleh mengatakan apa warna sabukmu.”

Aku menghembuskan napas. “Baiklah..” ucapku memasang kuda-kuda.

YA, SHIN HA BYUL!” teriak tiga gadis itu.

“Apa?” aku menoleh pada mereka. “Aku hanya mau bersenang-senang!”

Dan pada saat itu, So Eun melancarkan serangan pertama saat aku belum siap. Punggungku kembali terbentur di dinding.

“Jadi kau ingin bermain kotor? Baiklah.” 

Tanpa basa-basi, aku melancarkan semua tendangan dan pukulan padanya, membuat memar di tubuhnya yang kotor itu. Aku tidak peduli saat dia merintih kesakitan, karena aku terus saja memukul dan menendangnya. Menyalurkan semua emosiku padanya lewat kaki, tangan, dan kemampuan taekwondo-ku.

Sampai akhirnya Kang seonsaengnim datang.

O-ow.

☆☆☆

“Aku tahu kau seorang taekwondo-in pemegang sabuk hitam tiga strip –” 

“Empat strip.” ralatku.

“Aku tidak peduli berapapun itu!” teriaknya. “Satu hal yang pasti, kau tidak perlu memperagakannya di sini!”

Aku menunduk saat Kang seonsaengnim membentakku di depan hampir seluruh teman sekolah dan pengunjung kuil. Min So Eun teronggok menyedihkan dan lemah di sampingnya. Dan sedikit terkesiap saat dia mengetahui warna sabukku.

“Shin Ha Bul, karena hari ini kau telah membuat seorang anak hampir mati, aku menghukummu untuk tidak boleh datang ke Trick Eye Museum besok!”

Setelahnya, Kang seonsaengnim menyuruh semua anak kembali ke tugas yang diberikan. Kami berempat juga melanjutkannya. Hanya bicara seperlunya, tanpa sedikitpun menyinggung hukumanku.

Aku juga tidak banyak bicara selama perjalanan menuju penginapan. Begitu pula menjelang keesokan harinya. Saat akhrirnya semua orang mengunjungi Trick Eye Museum dan aku sendirian di penginapan.

Tidak buruk berada sendirian di sini.

Setidaknya untuk 33 detik.

Karena aku melihat tiga orang gadis masuk ke penginapan ini. Parahnya, aku kenal ketiga-tiganya.

“Bagus. Kalian membolos.” gerutuku.

“Chan ber-acting dengan cukup bagus, kau tahu?” puji Hyosung.

“Dan para lelaki tidak bisa membolos karena Kyuhyun memaksa mereka menemainya.” sahut Minjung. “Dia tahu mereka akan membolos demi dirimu.”

Apa peduliku dengan keberadaan para lelaki di sini? Terutama Kyuhyun? Lagipula aku dihukum karena membicarakan dirinya.

“Dan Eunhyuk sudah menceritakan apa yang terjadi pada kalian.”

Itu bagus. Akhirnya aku tidak perlu mengatakannya pada mereka.

“Aku takut Eunhyuk akan mengadu pada ibu dan nenekku soal ini.”

“Omong kosong!” Minjung mengibas tangannya. “Dia pasti merahasiakan hal ini!”

Aku menghela napas lega. Bila ibu, terutama nenekku tahu tentang hal ini, semua sertifikat taekwondo ku bisa dibakar oleh beliau. Dan itu sama saja dengan membakar usahaku selama bertahun-tahun untuk mendalami bela diri ini.

“Dan kuharap Min So Eun dan teman-temannya akan menutup mulut.”

“Kita laporkan saja apa yang pernah kita lihat! Dia pasti akan diam!” Hyosung mengerling nakal.

Aku tersenyum. 

Kami menghabiskan seharian itu dengan berkeliling penginapan, menyapa tukang kebun yang ada di seberang tempat ini, bernyanyi-nyanyi sembarangan di kamar, menghabiskan semua camilan sampai semua orang tiba malam harinya.

Aku cukup beruntung karena hanya dihukum hari ini. Karena aku ternyata diizinkan untuk mengikuti kegiatan di hari terakhir. Wisata ke Sea Life Busan Aquarium dan pantai Haeundae.

Terlepas dari rasa cuek Kyuhyun padaku, aku sangat bahagia!

Aku memotret seluruh biota laut yang ada di sini, tak lupa foto diriku dan para sahabatku bersama mereka. Juga foto bersama para warga kelas. Dan puncak kebahagiaanku saat kami tiba di pantai.

Saem, bolehkah aku berenang?!” tanyaku berteriak karena di sini sangat berangin.

“Jangan macam-macam, nona Shin! Kau sudah cukup dihukum kemarin!”

Aku tertawa dan menurut. Aku berdiri di tepi pantai, merasakan pasir dan air laut mengitari kakiku. Ketika ombak datang, aku berlari menghindar. Kami beruntung karena air sedang surut, jadi aku bisa berbaring di pasir tanpa takut ombak besar menerpaku.

Aku benar-benar bersenang-senang seharian ini! 

Kesenangan itu tidak berakhir di pantai. Saat  sampai di penginapan, semua gadis warga kelasku mengusulkan untuk membuat semacam ‘karaoke dadakan’, sehingga salah seorang dari kami menyalakan beberapa lagu dari ponselnya yang nantinya terhubung ke speaker nirkabel. Kami menari dan menyanyi sembarangan sampai akhirnya Kang seonsaengnim menyuruh kami untuk tidur.

Dan tibalah hari kepulangan kami.

Seperti biasa, kelas kami akan ada di dalam bis yang sama. Jadi entah mengapa pagi ini aku terlambat bangun, terpaksa mengemasi barangku apa adanya, dan menjadi yang terakhir sampai di bus. Ketika aku masuk, hanya tersisa satu kursi kosong.

Saem, aku akan menunggu bis selanjutnya.” ujarku. “Sepertinya bis ini sudah penuh.”

“Apa kau gila?! Ini bis yang terakhir dan masih ada satu kursi lagi di samping Kyuhyun! Duduklah! Kita akan berangkat!”

Aku menghela napas pasrah. Saat aku melangkah, aku melihat enam orang sialan itu tersenyum jahil padaku. Mereka duduk bersama pasangan mereka masing-masing. Minjung dan Eunhyuk, Sungmin dan Hyosung, Donghae dan Chan..

Aku dan Kyuhyun.

Laki-laki itu memberi sedikit jalan, membiarkan aku duduk di dekat jendela. Aku menghempaskan tubuh ke kursi dengan kesal. Dia tidak menanggapi.

Sepanjang perjalanan pulang, aku terus menatap keluar, sama sekali tidak berniat memandang bagian dalam bis. Aku tidak mau mataku bersibobrok dengan Kyuhyun dan suasana berubah menjadi melankolis. Itu menjijikkan.

Bahkan aku tidak bicara dengan siapapun selama itu. Karena aku yakin, mereka yang sengaja membuatku duduk di samping Kyuhyun.

Aku memasang headphone, mendengar musik dari sana. Aku mengeraskan volume agar aku tidak mendengar apapun selain lagu di ponselku.

Dalam beberapa menit, aku sudah mengantuk.

Aku memposisikan kepalaku senyaman mungkin dengan bersandar pada jendela. Tapi itu tidak ada gunanya. Kepalaku malah membentur jendela berkali-kali dan itu sama sekali bukan posisi tidur yang aku idamkan.

Dan setelahnya, aku sudah tertidur nyenyak. Akhirnya.

Tapi sekonyong-konyong, aku merasa seseorang melepas headphone-ku dan menarikku bersandar pada sesuatu yang lebih nyaman. Bahuku dirangkul. Tanganku digenggam. Kepalaku dikecup.

Dikecup.

Siapa lagi yang berani melakukan hal itu selain.. Cho Kyu Hyun?

Aku terkejut, tapi tidak berusaha untuk menghindar, apalagi untuk bangun. Malah aku menikmatinya. Ini sangat nyaman. Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku tidur di bahu Kyuhyun, tapi aku masih mengingat kenyamanan yang sama. Dan tidak berubah.

Aku ingin menangis sekarang. 

Terlebih saat dia mengatakan sesuatu yang langsung menohok hatiku.

“Byul ku yang bodoh..” lirihnya lembut mengusap kepala dan lenganku. “Kenapa kau termakan ucapan So Eun hmm? Kenapa kau menjadi begitu emosional saat dia membicarakan hal yang tidak benar tentangku? Lihatlah, kau mengotori tangan dan kakimu dengan menyentuhnya. Bukankah kau selalu bilang taekwondo adalah seni bela diri yang suci? Kenapa kau menodainya dengan menunjukkan kehebatanmu padanya? Ini sama sekali bukan Byul ku. Kau tahu? Aku sangat senang melihatmu begitu lepas saat berada di akuarium dan pantai kemarin. Mengingat kau pasti sangat bosan berada di penginapan sendirian. Kau berhak bahagia, Byul ku sayang. Karena itu aku ingin kau juga bahagia dalam tidurmu..”

Aku tidak dapat mencegah air mataku.

☆☆☆

Kyuhyun masih mendiamiku sejak karya wisata sekolah berakhir. Tatapannya padaku masih dingin, masih tidak bersahabat, masih acuh.  Aku dan dia bersikap seperti orang yang tidak saling kenal lagi, padahal dia membiarkan aku tidur di bahunya dan mengatakan sesuatu yang membuatku luluh.

Dia bersikap seakan-akan dia tidak pernah melakukan semua itu. Tapi kenapa? Karena dia masih membenciku?

Aku tersentak.

Itu dia. 

Kyuhyun masih membenciku. Kyuhyun membenci gadis yang di namanya terdapat imbuhan kepunyaan yang sebutnya.

Sebenci itukah dirinya padaku? 

Kenapa dia membuatku selalu mengubah-ubah kadar kebencianku padanya?

Terlebih saat aku tahu, dia kembali menjadi playboy brengsek seperti dulu.

☆☆☆

Aku sudah tidak mempedulikannya lagi sejak saat itu. Jika kau tanya padaku, aku tidak akan mengelak kalau aku membencinya, tapi di satu sisi, aku merindukannya. Tapi aku juga tidak mempedulikan perasaanku yang itu. Karena kami telah berada di tingkat terakhir sekolah menengah dan tengah fokus untuk ujian masuk universitas.

Dan akhirnya, kami lulus!

Minjung, Chan, Kyuhyun, Donghae, dan Eunhyuk diterima di Hanyang, aku dan Hyosung mendapatkan Yonsei, sementara Sungmin mendapat beasiswa dari Universitas Tokyo. Laki-laki itu memang selalu ingin ke Jepang, sama seperti Hyosung yang ingin ke Prancis untuk mempelajari fashion dan mode yang sedang berkembang. Berbeda dengan Minjung dan Chan yang selalu ingin ke Jerman. Minjung karena teknologinya, Chan karena musiknya.

Sedangkan aku selalu ingin ke Amerika untuk menonton pertandingan NBA secara langsung.

Haha, aku bercanda!

Aku memang suka Amerika, selain karena alasan di atas, juga karena aku ingin sekali diterima di Harvard dan belajar hukum di sana.

Sejak menjadi mahasiswa, kami hanya bisa bertemu enam bulan sekali, karena saat libur mereka semua akan kembali ke Seoul, kecuali Sungmin yang hanya bisa menemui kami setahun sekali. Dan itu cukup membuat Cha Hyo Sung menjadi pribadi yang kuat.

If you know what I mean..

Kami baik-baik saja di universitas. Begitu juga saat wisuda dan masuk ke dunia kerja. Sungmin kembali ke Seoul untuk membantu ayahnya mengelola perusahaan. Begitu juga dengan Eunhyuk yang membantu mengelola perusahaan rekaman nenek. Donghae dan Kyuhyun mulai merambah dunia bisnis.

Sedangkan Minjung menjadi seorang arsitek ternama. Chan menjadi penyanyi solo kebanggaan agensinya. Hyosung menjadi desainer favorit para artis. Dan aku menjadi seorang pengacara bergaji tinggi. 

Kami juga baik-baik saja di dunia baru kami.

Sampai Min So Eun – setelah sekian lama – muncul dan kembali berulah.

Dan sungguh, ulahnya kali ini sangat keterlaluan.

F

To Be Continued

Advertisements

2 thoughts on “Everything Has Changed 6

  1. kyuhyun nggak ketebak. apa maksud perlakuan mu kyu ?
    lama banget kyu byul nggak sapaan. sejak sma sampai kerja. ampun.. kapan baeknya nih ?
    lanjut baca lo thor 😂😂

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s