Our Ridiculous Squabble

wp_ss_20141017_0002.png

Anyone never give a good response if their selves or something related to them are annoyed.

A ‘Good’ Bye | Heechul’s Video | Our Ridiculous Squabble

***

OH, bagus. Setelah video, aku disuruh menceritakan sebuah kejadian bersama si sinting Joo yang ‘katanya’ begitu berarti bagiku. Kalian tahu? Aku lebih sering menghina dan mengganggunya sampai dia menangis, karena memang itu caraku untuk bersenang-senang dengannya. Meski Donghae pernah bilang, setelah dirinya, akulah yang paling menyayanginya.

Harus kuakui, itu memang benar.

Karena, entahlah, aku hanya tidak tega melihat gadis sepertinya terluka, atau bersedih.

Oke, kali ini kalian bisa melihat sisi emosional dari Kim Hee Chul. Walau hanya sesaat. Haha!

Tapi aku tetap tidak akan terima jika diriku, atau sesuatu yang berkaitan denganku direndahkan.

Seperti yang pernah dia lakukan padaku!

☆☆☆

Aku sedang bosan saat itu. Tidak ada jadwal untukku, dan semua anggota sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Karena itu, aku keluar dorm, mengunjungi apartemen orang gila itu. Aku menekan sandi, dan masuk begitu saja. Maaf saja ya, Joohae sudah biasa dengan hal ini. Jadi kalian juga harus mulai terbiasa!

Jujur, aku sangat terkejut karena begitu aku masuk, Joohae sedang menangis. Sampai sesenggukan pula!

Baru saja aku hendak bertanya ada apa, aku langsung tahu jawabannya.

Gadis itu duduk di sofa, menonton Inside Out di televisi sambil terus membersihkan hidungnya. Ia menangisi setiap adegan terakhir di kartun itu.

“Apa yang kau lakukan?” tanyaku sambil berjalan ke dapur, mengambil sekaleng bir dari kulkas. Tentu bir ini punyaku, karena Donghae melarangnya mengonsumsi benda ini.

“Apa oppa tidak bisa melihat?” jawabnya sewot sambil menangis. “Kenapa oppa harus mengajukan pertanyaan yang sudah ada jawabannya?”

Lihat bagaimana perilakunya padaku.

Yeah, aku tahu dia sedang menonton sambil menangis. Tapi maksud pertanyaanku adalah.. apa yang dia lakukan sampai harus menangisi setiap adegan di film itu?

Dan itulah yang kutanyakan selanjutnya.

Gadis itu membersihkan ingus, sementara pandangannya tidak beralih dari sana. “Ini sangat sedih, oppa tahu? Lihatlah saat Bing Bong rela dirinya tidak diingat Riley hanya supaya Joy bisa kembali ke pusat kendali dan membuat Riley menjadi lebih baik! Atau saat Sadness menyentuh semua kenangan inti yang awalnya bahagia! Cobalah menjadi emosional, dasar aneh!”

Eish.. beraninya kau!” aku menjitak kepalanya. Dia selalu bertingkah seperti ini padaku dan Sungmin. Dia – sedikit – tidak menghormati kami, tapi coba saja kalau ada yang dia inginkan dan tidak dipenuhi Donghae! Kami selalu mengabulkannya, karena memang kami tidak pernah tahan dengan wajah memelasnya.

Joohae meringis, memukul tanganku, dan kembali menonton.

“Aku heran kenapa kau bisa begitu emosional saat menonton film ini.” kataku sangsi. “Kurasa kisah persaudaraan Elsa dan Anna lebih mengharukan.”

“Cih.” cibirnya. “Dasar maniak Frozen!”

“Maniak Anna lebih tepat!”

“Yeah, sampai harus memakai cosplay Anna di saat semuanya memakai Elsa dan itu sangat menggelikan!”

“Kau cuma cemburu aku bisa tampil lebih cantik darimu!”

Dia tersenyum mengejek. “Maaf saja, ya, ahjumma! Aku selalu terlihat cantik bahkan dengan semua ingus di hidungku!”

“APA?!” pekikku kesal.

“Uh, Heechul ahjumma marah..” ulangnya dengan nada yang sangat menyebalkan sambil membuang semua tissue yang penuh dengan ingusnya.

Aku mengacungkan satu jari. “Kuperingatkan kau..”

“Kalau Heechul ahjumma mulai marah?” cibir gadis itu seenaknya dengan raut wajah menjengkelkan. 

YA, LEE JOO HAE!”

“JANGAN BERTERIAK DI RUMAHKU!”

“MEMANGNYA KENAPA?!” tangkisku tak kalah kencang. “JIKA KAU TIDAK MENGHINAKU DAN ANNA AKU TIDAK AKAN SEPERTI INI!”

“APA SALAHNYA KALAU MENANGIS SAAT MENONTON INSIDE OUT?!”

“KAU BODOH MENGANGGAP FILM ITU SEDIH!”

“DAN KAU JUGA BODOH MENGANGGAP FROZEN FILM YANG BAGUS!”

“ASAL KAU TAHU SAJA, FROZEN LEBIH POPULER DARI INSIDE OUT!”

“ITU MENURUT PRIA TUA ANEH YANG MENONTONNYA!”

“DASAR GADIS GILA YANG MENYEBALKAN!”

“KALAU BEGITU KAU AHJUMMA ANEH YANG CEREWET!”

“APA KAU BILANG?!”

Tiba-tiba pintu apartemen menjeblak terbuka. Aku dan Joohae menoleh bersamaan, melihat Leeteuk dan Donghae berdiri di pintu dengan mulut ternganga.

☆☆☆

Aku memutar bola mata saat Donghae mengajak si gila itu ke dorm. Aku berpaling, sama sekali tidak berminat melihat wajahnya. Aku yakin dia sama muaknya denganku.

“Minta maaflah pada Heechul hyung.” aku mendengar Donghae berkata.

“Untuk apa?! Dia hampir tidak pernah minta maaf atas semua kesalahannya padaku!”

“Kau berbicara tidak sopan dan mengatainya ahjumma..”

“Dia mengataiku gadis gila.”

“Oh ayolah, kau memang seperti itu..” tiba-tiba Sungmin menimpali. Joohae meliriknya marah. Aku hampir tertawa.

“Steve Jobs pasti akan menangis kala tahu kalian bertengkar karena saling menghina kartunnya.” sambung Siwon. Terdengar netral. Dan sama sekali tidak ada hubungannya, kalau aku boleh jujur.

“Joo-ah..” ucap Donghae lebih lembut.

Gadis itu menghela napas keras, kemudian keluar dorm begitu saja. Aku baru mau mengatainya gadis gila yang kurang ajar kalau saja dia tidak kembali dengan membawa sebuah kotak.

Dan memberi kotak itu padaku tanpa sedikitpun mau menatapku.

“Aku sebenarnya mau memberikan ini, tapi karena hal tadi, aku tidak jadi memberikannya. Terimalah. Dan.. maafkan aku, oppa..”

Aku mengambil kotak itu, masih tidak mau memandang wajahnya.

“Dan juga..” dia berkata lagi. “Heechul oppa, selamat ulang tahun. Maaf karena baru mengucapkannya sekarang.”

Aku langsung memandangnya, yang tengah menunduk menatap lantai. Hei, gadis itu benar. Ulang tahunku minggu lalu. 

Aku membuka kotak itu, cukup terkejut melihat isinya. Tiga buah action figure Anna.

Aku terkagum-kagum sebentar, kemudian menjitak kepalanya. “YA!”

Wae?” dia mengangkat wajah, memandangku bingung sambil mengelus kepalanya. “Temanku baru pulang dari Amerika kemarin. Maaf saja kalau aku baru memberikannya hari ini.”

Aku menjitak kepalanya lagi. “Kenapa kau sangat menyebalkan hah?!”

“Menyebalkan apa?” tanya gadis itu. “Aku membeli itu dari gaji lemburku selama seminggu! Hargailah!”

Aku mencibir. Gadis ini benar. Dia bisa menjadi sangat kaya hanya dengan gaji lemburnya. Tapi yang membuatku kesal adalah, kenapa dia bisa mengubah emosinya secepat itu? Bukannya tadi dia sangat marah padaku? Hei, gadis ini tidak pandai ber-acting. Jadi kemarahannya tadi jelas bukan sandiwara.

Kenapa dia selalu sukses membuatku bersalah setelah memarahinya?

Aku baru menyadari bahwa gadis sialan itu adalah Lee Joo Hae, gadis paling menyebalkan yang pernah kukenal.

Dan sekarang, pertengkaran konyol kami itu hanya akan bisa kukenang, tanpa bisa terjadi lagi.

B

End

Advertisements

One thought on “Our Ridiculous Squabble

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s