Everything Has Changed 5

everything-has-changed-taylor-swift-35296961-1191-669nce97g ce

Inspired by two friends’ song, Taylor Swift and Ed Sheeran.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 (END)

***

KETIKA aku melewati rumah Byul, aku melihat gadis itu menerjang memeluk seseorang. Aku bisa mendengar dia berteriak kegirangan.

“Eunhyuk-ah!” Byul berteriak. Ia memeluk laki-laki itu, lalu menangkupkan tangannya ke wajah si laki-laki. “Aish, jinjja! Ini benar-benar kau!”

Entah mengapa, saat aku melihat laki-laki itu memutar-mutar Byul di pelukannya, hatiku terasa sakit sekali.

Ya, turunlah!” laki-laki yang dipanggil Eunhyuk itu berusaha menurunkan Byul dari gendongannya.

“Baiklah!” Byul turun dengan satu sentakan, kembali memeluk laki-laki itu. “Ahh.. sudah lama sekali kita tidak bertemu, Eunhyuk-ah..”

Aku memandang mereka tak suka, langsung berlari menuju rumah. Siapa laki-laki itu? Dari mana asalnya? Mengapa dia memperlakukan Byul seperti itu? Mengapa dia memeluk Byul? Aku bahkan nyaris melihat laki-laki itu mencium Byul. Siapa dia?

Tunggu sebentar.

Kenapa aku merasa kesal saat melihat Byul bersama laki-laki lain?

Karena selama ini kaulah yang selalu bersamanya. 

Aku mendelik, lalu mendengus. Gagasan macam apa itu? Lagipula selama ini aku merasa biasa saja saat dia bersama Donghae atau Sungmin. Tapi kenapa laki-laki ini.. membuatku merasa.. merasa.. merasa apa?

Apa yang kurasakan saat melihat Byul bersama laki-laki lain? Aku tidak tahu! Kesal? Jengkel? Yah, harus kuakui itu juga benar..

“Ayo, masuk!” Aku masih bisa mendengar Byul berbicara. Gadis itu mengajak laki-laki itu ke rumahnya. “Kau pasti capek selama perjalanan dari Tokyo ke sini! Istirahat dulu di kamarku, aku akan merapikan kamarmu! Nenek akan datang nanti malam, dan kau harus menyambutnya dengan ceria!”

Perjalanan? Tokyo? Nenek? 

Siapa dia sebenarnya?

Aku terus memikirkan laki-laki itu, sampai dua hari kemudian, aku melihat laki-laki itu di sekolahku. Sekelas denganku pula.

Dia anak baru. Namanya Lee Hyuk Jae, tapi kemarin Byul memanggilnya Eunhyuk, dan begitulah panggilan akrabnya. Dia duduk dengan Minjung ― atas perintah Yoon seonsaengnim. Sepertinya gadis itu tampak kesal.

Dan saat aku melihat tempat duduk di samping Sungmin kosong, aku baru menyadari bahwa Byul tidak hadir.

☆☆☆

“Dimana Byul?” aku berbisik di telinga Chan saat Yoon seonsaengnim memarahi Minjung yang tertidur di kelas. Ha! Aku tahu betul tindakan Minjung yang satu ini! Dia pasti tidak mau duduk di samping si anak baru. Aku memang tidak tahu kenapa Minjung bisa sampai sekesal itu, dan aku juga tidak mau terlalu memikirkannya. Satu hal yang pasti, setidaknya sekarang aku punya kesamaan dengan Minjung.

“Tifus.” Chan menjawab singkat.

Aku tercenung. Byul? Tifus? Ayolah, itu konyol sekali! Byul memang hampir tidak pernah berjodoh dengan penyakit, karena dia punya daya tahan tubuh yang kuat. Dia rajin berolahraga, meski pola makannya agak berantakan.. Tapi..

“Apa karena stres?”

“Entahlah. Dia hanya bilang ini semua karena es krim dan keripik kentang. Tapi aku tahu, alasan itu tidak sepenuhnya benar.”

Aku juga tahu kalau itu tidak sepenuhnya benar. Terlalu transparan bagiku untuk tahu kalau dia berbohong tentang penyebab sakitnya. Lalu.. mungkinkah..

“Karena aku?”

Chan memandangku. “Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri!” bentaknya dengan suara pelan. “Dan kalau kau tidak mau jadi sasaran si pendek itu, lebih baik kau diam!”

Kami berlima – Hyosung, Donghae, Chan, Sungmin, dan aku – menghela napas lega saat Minjung menjawab makna puisi Inggris yang diberikan Yoon seonsaengnim, walau gadis itu menjawab dengan setengah hati. Minjung memang yang paling cerdas di antara kami bertujuh. Namun gadis itulah yang paling malas mengikuti pelajaran, apalagi jika mood-nya sedang jelek. Dan jika Minjung diberikan pertanyaan dan dia tidak bisa menjawab, maka sasaran selanjutnya adalah kami berenam, meskipun hal itu jarang terjadi. Karena Minjung selalu bisa menjawab pertanyaan para guru, dengan baik dan benar. 

Aku tidak bicara apa-apa lagi setelah Minjung menyelesaikan jawabannya.

☆☆☆

Saat bel berbunyi, aku memandang kesal Donghae yang mengajak si anak baru untuk pergi ke kantin bersama. Aku melihat Minjung menolak mentah-mentah gagasan itu, lalu mengambil sebuah novel tebal dan mulai membaca. Aku sebenarnya ingin mengikuti jejaknya, tapi Hyosung sudah memaksa.

Dan tepaksa aku mengikutinya. Karena percayalah, jika kalian mengenal Hyosung sebaik kami, kalian pasti akan lebih memilih menurutinya daripada menjadi sasaran gerutuannya yang menyebalkan.

Si anak baru tersenyum ke arahku ― yang kubalas dengan senyum masam yang singkat, padat, dan jelas ― lalu kami berkenalan singkat, dan menuju kantin bersama.

“Byul banyak bercerita tentang dirimu.”

Aku terkesiap saat si anak baru mengatakan hal itu.

“Aku sepupunya. Dan aku yakin dia pasti banyak bercerita tentangku.”

Oh. 

Jadi ini orang yang sering Byul ceritakan dengan tagline ‘sepupu tercinta’nya. Orang kuno yang minta dibelikan buku Panduan Wisata Korea. Orang yang membuat punggung Byul hampir patah. Orang yang membuatku meringis karena melihat air mata Byul. 

Aku heran, kenapa Byul menyebut orang ini sebagai ‘sepupu tercinta’nya jika dia hanya membuat Byul tersiksa.

Aku mengangguk, sebagai bentuk formalitas. Tidak baik memperlakukan orang baru dengan tidak berperikemanusiaan. Walaupun aku kesal karena dia yang membuatku harus menggendong Byul dari toko buku ke rumah ― harus kuakui, aku tidak pernah keberatan jika harus menggendong gadis itu di punggungku ― tetapi ia tetap ‘sepupu tercinta’ Byul.

Entah mengapa, ketika aku membicarakan tentang Byul dengannya, aku merasa jauh lebih baik.

☆☆☆

Hampir dua minggu Byul tidak masuk ke sekolah. Dan menurut apa yang Eunhyuk katakan, tifus yang dideritanya sangat parah. Aku ingin sekali menjenguknya, tapi itu tidak mungkin kulakukan. Aku hanya bisa mengekspresikan kerinduanku padanya dengan meminta Eunhyuk menyampaikan ucapan ‘cepat sembuh’ dariku.

Yeah, aku tidak akan membohongi diriku sendiri kali ini. 

Aku merindukan Byul, dan segala hal tentang dirinya. Aku merindukan dirinya yang selalu merengek padaku, merindukan dirinya yang tanpa malu menggandengku di depan seluruh warga sekolah, merindukan dirinya yang akan melompat ke punggungku jika dia kelelahan, merindukan dirinya yang selalu bersembunyi di belakangku setiap kali puas mengganggu Sungmin, dan merindukan segala hal yang sering kulakukan bersamanya.

Byul-ah, apa kau benar-benar membenciku?

“Kyu?”

Aku tersentak, mengerjap saat mendengar Sungmin memanggil. Saat ini aku sedang bersama Donghae, Sungmin, dan Eunhyuk. Hei, kami juga perlu bicara antar lelaki! Ada beberapa hal yang para wanita itu tidak boleh tahu tentang kami!

“Aku tidak pernah tahu kalau kau bisa berubah menjadi pendiam karena masalahmu dengan Byul.” Donghae berkata.

“Masalah?” Eunhyuk menimpali. “Apa ada masalah antara kalian berdua?”

Aku terdiam, tidak berani menjawab. Sejenak, ingatanku bergulir saat aku mengatai Byul hingga dia menangis.

☆☆☆

Aku tidak pernah menjawab pertanyaan itu, bahkan setelah Byul sembuh. Dan Eunhyuk juga sepertinya tidak keberatan. Dia tidak terlihat sedang menunggu jawaban, juga dia tidak pernah menyinggungnya lagi. Meski begitu, aku tetap merasa kalau aku harus mengatakan padanya.

Aku masih terus diam sampai suatu hari, aku menemukan fakta mengejutkan dari Eunhyuk.

“Kau tahu? Saat aku masih tinggal di Jepang, Byul sering sekali menceritakan tentangmu padaku. Dan dia selalu bersemangat setiap kali aku menyinggungmu dalam pembicaraan kami di telepon. Tapi, sejak aku tinggal di sini, reaksinya selalu datar setiap kali aku menyebut namamu.”

Aku mencoba bereaksi biasa, tapi sepertinya itu tidak akan bisa.

Karena pada akhirnya, aku menceritakan apa yang terjadi antara diriku dan Shin Ha Byul.

Semuanya.

☆☆☆

Aku tidak pernah berbicara dengan Eunhyuk lagi sejak saat itu. Karena dia selalu bersama dengan Byul. Aku tidak mungkin ‘kan mendekatinya? Aku hanya bisa melihat mengamati Byul dari kejauhan, melihatnya tertawa bersama sang sepupu membuatku kembali merasa kesal dengannya.

“Akhirnya aku punya kesamaan denganmu.”

Minjung duduk di tempat Chan ― di sampingku ― berkata tanpa memandangku. Ia menunduk, fokus pada novel tebal yang selalu setia menemaninya.

“Aku tidak tahu kenapa, tapi setiap kali aku melihatnya, aku ingin sekali memukul wajahnya.” lanjut gadis itu sambil membaca. “Untung saja aku bisa menahan diri karena dia adalah sepupu kebangaannya Byul.”

Yeah, nona Hwang. Aku setuju denganmu.

“Kenapa Byul bisa membanggakan orang seperti dia?” Minjung mulai menggerutu. “Penindas, kasar, tukang perintah, dan.. penggoda? Oh My God, lihat bagaimana caranya menggoda Hyojin dan adik-adik tingkat kita! Benar-benar menjijikkan! Apa kebanyakan laki-laki Jepang seperti itu?! Ugh!”

“Harus kuakui kau benar, nona Hwang.” kataku tanpa ekspresi. “Kau ingat saat Byul tidak bisa bangun dari tempat tidur karena terjatuh di toko buku? Nah, dia itu penyebabnya.”

“Ha! See!” celetuk gadis itu. “Satu fakta baru yang menambah sederet panjang daftar alasan kenapa Byul memberinya julukan ‘sepupu tercinta’!”

Aku hanya mengulum senyumku saat mendengar Minjung mengatakannya, dan melanjutkan omelannya.

“Jadi dia manusia kuno yang minta dibelikan buku Panduan Wisata Korea? Apa kemajuan internet di Jepang mengalami kemunduran?”

Bagi kalian yang belum mengenal Minjung, kalian pasti akan menganggap semua ucapannya sangat kurang ajar. Memang, mulutnya terlampau pedas, melebihi wasabi, atau bahkan cabai terpedas di dunia. Tapi memang begitulah gaya bicaranya, dan aku selalu menyukai caranya mengejek dan menyindir siapapun. Dan itu selalu bisa membuatku tertawa terbahak.

Seperti saat ini.

“Oh Kyu, sungguh! Aku tidak bisa menahan diriku lagi!” Minjung menutup buku, membatasi tempat terakhirnya membaca dengan jari telunjuk. “Donghae dan Hyosung selalu menyuruhku bersikap baik padanya, tapi aku tidak bisa!”

“Untuk apa kau bersikap baik padanya?” balasku. “Akulah satu-satunya orang yang mendukungmu saat kau menendang tulang kering orang itu! Dan itu sangat keren!”

Minjung sedikit tersipu. “Dan kau sendiri? Kenapa kau kesal padanya?”

Aku menatap Minjung bersungguh-sungguh. Tanpa memikirkan apapun, aku berujar. “Aku cemburu saat Byul berada di dekatnya.”

Minjung diam.

Kelas hening sejenak.

Sampai akhirnya..

MWO?!” Minjung berteriak sambil membelalak, dan saat itu aku tahu kalau aku sudah salah bicara.

Bagus sekali.

☆☆☆

“Kau sudah melakukannya dengan benar, nona Hwang. Kau hanya tinggal menguranginya saja.”

Aku berbicara di telepon sembari terus melihat buku tulis ku, dan sedikit iseng mencoret-coret buku, terus mendengarkan Minjung yang mengeluh karena kesulitan mengerjakan soal matematika. Yah, Minjung memang cerdas, tapi aku tetap lebih unggul darinya di matematika.

“Kau temukan luas daerahnya?” tanyaku lagi. “Ya, benar sekali. Telepon aku kalau kau masih butuh bantuan.”

Minjung mematikan sambungan telepon.

Aku kembali fokus pada buku-buku matematika di depanku, mengerjakan soal-soal dengan santai. Dalam beberapa menit aku yakin Minjung akan mendiskusikan sebuah soal denganku. Jadi, aku kembali bisa ‘memamerkan’ diri padanya.

Rasanya langka merasa lebih unggul dari Hwang Min Jung. Mengingat gadis itu hampir tak terkalahkan dalam hal akademis.

Selama beberapa menit mengerjakan soal, tidak ada satu pun panggilan atau pesan singkat untukku. Aku tidak keberatan, dan aku akhirnya bisa fokus pada soal-soal ini.

Entah sudah berapa lama aku berkutat dengan semua itu sampai aku tidak menyadari kalau di luar, hujan turun dengan derasnya.

Hujan.

Pikiranku tidak berada pada soal matematika lagi.

☆☆☆

Satu lagi kesukaan aneh Shin Ha Byul yang perlu kalian tahu adalah, hujan! Ya, gadis itu sangat suka hujan. Maksudku di sini adalah, ia sangat suka ketika air hujan mengguyur tubuhnya, dan menjadi basah. 

Aku mengetahui hal ini ketika kami berada di tahun pertama sekolah menengah. Suatu hari, saat sekolah berakhir, hujan turun dengan lebatnya. Aku membawa payungku, tapi tidak dengan gadis itu. Byul bahkan tidak akan pernah mau membawa payung karena dia benci benda itu. Dia menganggap bahwa payung hanyalah benda yang menghalangi kesenangannya.

Jadi saat itu, aku melihat dia berjalan santai di tengah hujan. Yah, tentunya setelah mengamankan semua bukunya..

Aku menyusul nya dengan payungku. “Ya, Shin Ha Byul!” teriakku berusaha menyaingi suara hujan. “Apa-apaan kau ini?! Seharusnya kau menungguku supaya kau tidak kehujanan!”

Gadis itu merengut. “Aku memang sengaja melakukan ini.” jawabnya. 

“Ini hujan pertama di musim panas!” kataku lagi. “Kau bisa sakit!”

“Memangnya kenapa kalau aku sakit?” semprot gadis itu keras kepala. “Aku hanya akan demam sehari dan besoknya aku akan masuk sekolah. Jangan terlalu merindukan aku, Kyu. Kau bisa menjengukku di rumah.”

“Cih,” sungutku. “Siapa yang akan merindukanmu? Sekolah akan lebih damai kalau kau tidak ada.”

“Yah, kalau begitu kau bisa pergi. Jangan pulang bersamaku.”

Aku langsung diam saat mendengar Byul mengatakannya. Lantas aku menyusul gadis yang tengah berjalan riang di tengah hujan.

Ya, kau marah?”

Gadis itu tidak menjawab.

“Baiklah, aku akan menemanimu..”

Byul tersenyum lebar. Ia memberikan tas nya padaku. Kalian tahu? Ini salah satu keuntungan (baginya) jika aku menemaninya bermain hujan. Aku akan terlihat seperti pesuruh yang tengah menyaksikan majikannya bermain.  

“Tapi aku harus tetap kering!” aku memperingatkan dirinya.

Ia membuat tanda hormat dengan tangannya. “Baik, tuan Cho!”

Byul berjarak beberapa langkah di depanku. Aku melihatnya menari dan memutar badannya berkali-kali, menikmati guyuran air itu. Sesekali dia melihat ke arahku, dan berkata kalau aku juga harus menikmati anugerah Tuhan yang satu ini. Dan kembali bermain dengan air-air itu. Dia sama sekali tidak terlihat kedinginan. Malah terlihat sangat bahagia. Wajahnya itu telah mengatakan segalanya.

Oh Tuhan. Gadis macam apa dia ini?

Aku masih tetap berjalan di belakangnya, terus menghindari percikan-percikan air yang akan membuatku basah. Saat aku kembali memandang Byul, aku tertawa terbahak karena sebuah mobil melintas dengan kecepatan tinggi melewati sebuah genangan air. Membuat Byul basah total.

Namun tawaku langsung berhenti saat aku juga terkena cipratan itu.

Berganti dengan tawa menggelegar yang terdengar menghina dari Shin Ha Byul.

“HAHAHAHAHA!” Byul berjongkok seraya memegangi perutnya, menunjuk-nunjuk diriku yang basah kuyup. “Mencoba untuk tetap kering, tuan Cho?” sindirnya.

Aku merengut kesal. Aku sebisa mungkin menyelamatkan bukuku, memindahkan semua yang kering ke tas Byul. Ingat kan kalau gadis itu sudah mempersiapkan segalanya?

Byul menutup payungku, lalu menyodorkan tangannya, seperti orang yang ingin mengajak berdansa waltz. “Mau bergabung, tuan?”

Aku menyambut tangannya dengan pasrah, membiarkan ia mengiringku untuk menjadi basah seutuhnya. Berjalan di tengah hujan seraya memperhatikan Byul yang tampak menikmati tetesan-tetesan air itu menghujam kepala dan tubuhnya.. mengabaikan orang-orang yang memandang aneh ke arah kami. Sampai aku menyadari bahwa..

Ini menyenangkan.

Yeah, aku tidak akan mengelaknya. Aku mulai menikmati hujan yang membasahiku. Menikmati tatapan-tatapan aneh, heran, iri dari orang-orang.

Sangat menyenangkan.

☆☆☆

Lamunanku buyar ketika pintu kamarku diketuk berkali-kali.

“Kyu-ah, Minjung berkunjung.” ayahku berkata dari luar kamar.

Eoh.” Aku membuka kamar, tersenyum pada Minjung yang duduk manis di ruang tamu, menungguku. Aku mengajaknya masuk ke kamarku.

Tolong jangan pikirkan hal yang aneh dan tidak rasional. 

“Apa kau merasa kesulitan sampai kau harus kemari di cuaca seperti ini?” aku duduk di tempatku semula.

“Aku butuh teman mengobrol.” Minjung menjawab sambil mengamati buku-buku koleksiku.

“Ternyata jatuh dari tangga bisa mengubah kepribadian, ya.” gumamku.

Gadis itu mengambil satu buku hard cover dan melemparnya padaku. Tepat mengenai kepalaku.

“Ini bagus.” Minjung melompat ke tempat tidur, berbaring telentang memandang langit-langit. “Karena dua sepupu itu, kita bisa menjadi lebih akrab dari biasanya.” Dia memandangku. “Apa kau sedang memikirkan Byul? Kau tahu kau bereaksi setelah sepuluh menit ayahmu mengetuk pintu.”

Aku mengangguk, karena aku tahu, tidak ada gunanya aku berbohong di depan Minjung setelah aku membuat pengakuan itu padanya. Aku memandang keluar. “Kau tahu betul kan kalau orang gila itu suka hujan?”

“Ohh.. sejak kapan Cho Kyu Hyun menjadi melankolis?” gerutu Minjung menatap langit-langit lagi. “Itu sangat tidak cocok denganmu..”

“Tapi itu cukup membuat adik-adik tingkat terpesona denganku!”

“Yah, kumpulan pria yang memiliki banyak penggemar.. aku tahu..”

Aku tertawa. Itu sindiran paling halus yang Minjung ucapkan padaku. Tidak bermaksud sarkasme, tapi memang itu kenyataannya. Kumpulan pria yang dimaksudnya adalah aku, Sungmin, dan Donghae. Mungkin Eunhyuk juga termasuk.

“Kau tidak pernah cerita kenapa kau sangat membenci Eunhyuk.”

Minjung duduk, memandangku. “Cuma alasan picisan kenapa aku sampai benci padanya. Tidak ada yang penting.Kalian cukup tahu aku benci padanya saja, tidak perlu tahu kenapa.”

Tegas. Sepihak. Tak terbantahkan.

Aku diam. Jika Minjung sudah bicara seperti itu, lebih baik kau tidak perlu menyinggungnya lagi. Gadis ini mengubah total kepribadiannya semenjak sang ayah meninggal, saat tahun terakhir sekolah menengah pertama.  Tentu Donghae paling pertama menyadari hal ini, dan dia tidak mau mempermasalahkannya, demi kepentingan hubungannya dengan Minjung.

Gadis itu berdiri, menghampiri sebuah rak delapan tingkat yang semuanya aku khususkan untuk meletakkan foto-foto berbingkai. Dia mengamatinya satu per satu. “Wah, aku tidak pernah tahu kalau kau punya kenangan dengan Byul semanis ini.”

Minjung menunjuk beberapa foto kami, dan tersenyum tulus.

Aku juga ikut tersenyum, tapi tidak selembut dan setulus Minjung. Melainkan tersenyum sedih.

“Kalau kau mau tahu, Kyu.” Minjung duduk di tepi ranjang, menatapku. “Interaksi kalian adalah interaksi favoritku di dunia ini. Entahlah.. kalian akrab, lucu, menyebalkan.. tapi di satu sisi, kalian sangat romantis..” dia tersenyum lagi. “Orang akan merasa kasihan kalau tahu kalian hanya berteman.. karena rata-rata warga sekolah sangat iri dengan kalian.. yah, walaupun mereka juga iri dengan persahabatanku dan Donghae, atau romantisme Chan dan Donghae.. atau bahkan penyiksaan yang dilakukan Hyosung kepada Sungmin..”

Aku hanya mendengar.

Gadis itu berdiri di sampingku, menunjuk fotoku dan Byul di meja belajar. Foto wisata sekolah. Foto saat aku menggendong Byul di punggungku, dengan kami yang tertawa bahagia.

“Lihat ini.” Minjung menunjuk sesuatu. “Harus kuakui Sungmin memotretnya dengan baik sekali, sehingga bagian ini kelihatan blur. Tapi jika kau menyadarinya, itu adalah tatapan iri orang-orang pada kalian.”

Minjung menepuk bahuku. “Berjuanglah jika kau memang mencintainya, Kyu..”

☆☆☆

Aku selalu tenggelam dalam kata-kata Minjung setiap kali melihatnya di sekolah. Parahnya lagi, dia bersikap seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Dia berbicara padaku, mengomel tentang Eunhyuk seakan dia tidak pernah membicarakan Byul denganku.

Minjung bukan hanya cerdas soal akademis. 

Jika kalian tanya aku, aku tidak merasa hubunganku dan Byul seperti orang yang sedang dalam tahap pendekatan menjadi sepasang kekasih. Kami berteman! Sungguh! Aku butuh dia, dia butuh aku, sebagai seorang teman! Dia berani menggandeng tanganku di depan orang banyak hanya untuk menunjukkan pada semua orang kalau aku adalah temannya! Sahabatnya bahkan! Aku menggendongnya saat dia terjatuh dari punggungku karena sebagai seorang teman yang ada di dekatnya saat itu, aku harus membantunya!

Apa itu bisa disebut cinta?

Oh ayolah, hubungan kami tidak seberlebihan itu!

Aku bahkan ragu Byul bisa berpikir hubungan persahabatan kami adalah salah satu bentuk cinta.

Jika itu cinta antarsahabat, aku menerimanya.

Namun aku yakin, Minjung tidak mengartikan cinta seperti kami.

Kalian tahu, Minjung adalah salah satu gadis yang sama sekali tidak terlalu tertarik membicarakan cinta, kekasih, hubungan antara pria dan wanita, dan sejenisnya. Makanya aku kaget saat dia bicara begitu! Hei, apa dia mengubah genre novelnya dari thriller, petualangan dan fantasi menjadi.. romance?

Tidak mungkin.

Mungkin itu salah satu caranya untuk menutupi masalah yang sedang dihadapinya.

Terlebih kemarin Hyosung memberitahuku bahwa Donghae dan Minjung bertengkar.

☆☆☆

Berdasarkan apa yang si penggosip (panggilan kesayanganku untuk Cha Hyo Sung ku ‘tercinta’) ceritakan, setelah inseiden jatuhnya Minjung dari tangga dan tendangan tulang kering Minjung untuk Eunhyuk, kacamata Minjung retak. Yah, kami ada di sana saat Donghae menyadarinya. Dan keesokan harinya, Minjung malah mencoba tidak berkacamata. Jelas ini sulit. Nilai minus mata Minjung sangat tinggi! Hei, pandangannya kabur mulai dari sepuluh sentimeter!

Jadi, Donghae marah besar dan mati-matian memaksa Minjung untuk mengenakan kcamtanya yang retak. Bahkan dia menemani gadis itu ke perpustakaan untuk mengembalikan buku. Biasanya dia tidak akan mau sekalipun dipaksa Chan, tapi kali ini, dia melakukannya demi Minjung. 

Setelah itu, Donghae pergi ke toilet sementara Minjung menunggu di depan perpustakaan. Dan, di sanalah konflik terjadi. Eunhyuk mendorong Minjung sehingga jatuh terguling di tangga, kacamata Minjung hancur dan saat Minjung hendak membereskan pecahan kacanya, Donghae mengagetkannya, membuat tangannya berdarah.

Kami tidak tahu lagi apa yang terjadi di ruang perawatan, tapi begitu Donghae kembali sendirian, dengan wajah datar, itu sudah merupakan sebuah tanda kalau dia tidak mau menyinggung masalah ini.

Dan Cha Hyo Sung ku ‘tercinta’ dengan gagah berani menyimpulkan kalau mereka bertengkar.

Apalagi keesokan harinya, Minjung tidak hadir. Dan Donghae tampak lebih pendiam.

Biasanya jika sudah seperti itu, Minjung pasti sedang mendapatkan masalah yang membuatnya sangat desperate. Ah, gadis itu memang cerdas, tapi masih tidak menemukan cara untuk mengeluarkannya dari masalah yang besar.

Aku jadi teringat saat Byul sedang menghadapi masalah terbesarnya.

☆☆☆

Well, setelah Byul tahu aku membenci air matanya, gadis itu akhirnya menemukan caranya sendiri untuk terbebas dari penderitaannya ketika kedua orang tuanya bertengkar. 

Berolahraga sampai tak tahu diri.

Seperti pada saat itu.

Byul meneleponku untuk menemaninya bermain basket. Hanya kami berdua.

Jadi kami berangkat bersama ke lapangan dekat taman bermain. Sepertinya gadis itu memang memilih waktu yang tepat agar tidak ada anak lain yang bermain selain kami. Kami menguasai lapangan ini sendirian.

Dan kami bermain basket sampai benar-benar kelelahan.

“Kau gadis sialan.” umpatku menelentangkan tubuh di lapangan.

Gadis itu tertawa, duduk di sampingku. “Aku anggap itu pujian.”

Aku hanya tersenyum. Benar sekali. Itu memang pujian. Permainan basketnya sangat luar biasa dan aku hampir terkalahkan. Tapi Byul tetap kalan jika mengenai tinggi badan. Yeah, walau sebenarnya dia lebih pendek lima sentimeter dariku.

“Ada apa, Byul?” tanyaku. “Apa ini soal orangtuamu?”

Eoh.” dia ikut berbaring, menjadikan lenganku sebagai bantalnya. Dia menghela napas. “Mereka bertengkar lagi.” jelasnya. “Entah apa yang merasukiku, sampai aku pergi ke rumah nenekku dan menginap beberapa hari di sana. Aku menceritakan semuanya sambil menangis, bukan bermaksud untuk mendapatkan simpati tentunya.  Aku kaget nenekku tidak pernah tahu hal ini, dan akhirnya memarahi kedua orangtuaku. Dan kau tahu apa yang terjadi? Mereka meminta maaf padaku dan berjanji tidak akan memperlakukanku secara berlebihan lagi.”

Aku diam untuk waktu yang cukup lama sebelum bicara. “Jika kau mengatakannya pada nenekmu dari dulu, masalah ini pasti sudah berakhir.”

Dia mengangguk. “Kau tahu, Kyu? Saat mereka bertengkar, mereka selalu melihat bagaimana caramu menghiburku.”

Aku menoleh ke arahnya. “Jadi aku juga termasuk alasan mereka tidak mau bertengkar lagi?”

Eoh.”

Sungguh, aku sangat tersanjung.

“Terima kasih.” dia kembali duduk, melihatku dengan senyum terbaiknya. “.. karena telah  berusaha membantuku keluar dari masalah sulitku.”

Eish.. apa-apaan itu?” aku menariknya agar dia kembali berbaring di sampingku, masih dengan lenganku sebagai bantalnya. “Kau tidak perlu berterima kasih untuk sesuatu yang sudah seharusnya kau dapatkan, dasar bodoh!”

Dia cuma tersenyum. Kami diam untuk waktu beberapa menit, sambil menikmati angin musim semi. Aku mengamati wajah Byul yang tampak damai. Wajah bahagianya setelah masalah terbesarnya berakhir. Dan itu sudah cukup membuatku ikut bahagia.

Sampai akhirnya hujan tiba-tiba turun dengan lebatnya. 

Membuat kami basah kuyup dalam waktu beberapa detik.

Byul menoleh ke arahku, dan kami tertawa bersama di tengah hujan. Merasa sangat konyol.

☆☆☆

Sudah tiga hari Minjung tidak masuk sekolah. Apalagi sejak ketidakhadirannya, gadis itu tidak bisa dihubungi. Itu cukup membuat Donghae uring-uringan. Entahlah, kurasa dia sedang mencoba menyelesaikan masalahnya dengan Minjung. Dan kami pasti akan tahu apa yang terjadi jika gadis itu hadir nanti.

Dugaanku benar. Hari ini, Minjung datang ke sekolah bersama Donghae.

Benar saja, Minjung mengumpulkan kami semua untuk menjelaskan apa yang terjadi selama tiga hari itu, kematian ayahnya, dan masalahnya dengan Eunhyuk.

Dan semuanya menjadi seperti sedia kala. 

Sampai kami tahu kalau Eunhyuk memiliki hubungan spesial dengan Shin Hyo Jin.

☆☆☆

Minjung, semenjak mengetahui hal itu, berubah menjadi lebih dingin dan lebih judes dari biasanya. Dia makin memperlakukan Eunhyuk dengan tidak berperikemanusiaan. Hei, aku jadi kasihan dengan laki-laki itu, kau tahu?

Saat pelajaran kimia misalnya. Kami ditugaskan untuk mengerjakan tugas dengan teman sebangku. Jadi aku dengan Chan, Byul dengan Sungmin, Donghae dengan Hyosung, dan.. Minjung dengan Eunhyuk.

“Apa kau tidak bisa menulis reaksi ini dengan benar setelah tiga kali aku mengatakannya?!” bentak Minjung waktu itu. “Kukira semua orang Jepang terlahir dengan otak yang jenius!”

Kami berenam menghela napas.

“Dan ini! Oh, kenapa kau bisa melakukan kesalahan sekecil ini hah?! Jika kau rabun, belilah satu kacamata dan gunakan matamu dengan baik! Apa matamu hanya digunakan untuk melirik adik-adik tingkat dan menggoda mereka?! Apa semua orang Jepang seperti itu?!”

“Oh kau membuatku menghina Jepang lebih banyak dari biasanya! Jawaban macam apa itu?! Aku sudah mengatakannya dan kenapa kau menulis seperti ini?! Apa kau bodoh?!”

Oke, itu kalimat terkasar yang pernah Minjung lontarkan pada Eunhyuk.

☆☆☆

Ya, kenapa kau diam saat Minjung berkata begitu?” tanya Sungmin ketika kami berempat berkumpul di kantin.

“Aku minta maaf atas nama Minjung.” sahut Donghae. “Akhir-akhir ini, mood-nya sedang buruk.”

“Yah..” gumamku. “Biasanya aku selalu memuji mulut pedasnya itu. Tapi kali ini dia keterlaluan.”

“Aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku.” Eunhyuk berkata. “Memiliki hubungan dengan Shin Hyo Jin sementara aku terus mencari siapa sebenarnya yang terus mengirim foto padaku. Jujur saja, aku tidak benar-benar mencintainya. Entah karena Minjung yang sangat membencinya, atau karena aku tahu Hyojin bukan pemilik foto itu.. aku tidak tahu.”

Eunhyuk memang sedang menghadapi masalah barunya akhir-akhir ini. Sejak menjalin hubungan dengan Hyojin, ada seseorang yang terus mengirim foto-foto dirinya padanya. Tidak ada satupun dari kami yang tahu siapa pemilik foto itu. Jadi dia terus mencari siapa pemilik foto itu. Dia bahkan melakukan itu semua sampai terserang tifus. Dan begitu penyakitnya sembuh, dia melakukan pencarian lagi.

“Tunggu sebentar.” ucapku menyelidiki. “Kau tidak benar-benar mencintai Hyojin.. dan Minjung yang sangat benci padanya.. apa itu ada hubungannya?”

Eunhyuk mengangguk. “Aku mencintai Minjung, tapi di satu sisi, aku ingin tahu siapa yang terus mengirim foto padaku.” ia menghembuskan napas keras. 

Donghae, Sungmin, dan aku mengangguk-angguk mengerti.

Sampai kami menyadari betapa Eunhyuk begitu enteng menyebut nama itu.

“APA?!”

Dan begitu aku melihat perjuangan Eunhyuk untuk mendapat atensi Minjung, hatiku tergerak untuk melakukan sesuatu.

Meminta maaf pada Shin Ha Byul.

☆☆☆

Aku menahan napas setiap kali melihat Byul, seakan butuh keberanian lebih bagiku hanya untuk bertemu pandang dengannya. Jujur saja, semenjak pertengkaran kami, Byul jadi tampak seperti Minjung. Dingin dan tidak bersahabat, tapi tetap tidak ada yang bisa menandingi mulut pedas si gadis Hwang itu. Terlebih kepadaku. 

Jika aku seperti ini, sampai mati pun aku tidak akan bisa meminta maaf padanya.

Jadi saat pulang sekolah, aku langsung menariknya dari kerumunan siswa, membawanya menuju sebuah kelas yang sudah kosong di dekat gerbang.

Dia menghela napas. “Apa lagi?”

Terdengar sangat tidak bersahabat, bukan?

Namun aku akan menahannya.

“Kumohon, Byul.. dengarkan aku..” pelasku.

Dia melipat kedua tangannya, menatapku malas. Aku cukup gugup ditatap seperti itu.

“Aku minta maaf.” ucapku memulai. Tulus dan sungguh-sungguh. “Karena tidak mendengarkanmu, karena membuatmu terluka, dank arena membuatku menangis. Aku memang tidak terkendali karena cintaku pada So Eun, tapi itu hanya sementara. Aku menyesal sekarang. Sungguh, Byul. Aku keterlaluan padamu, dan kau sangat tidak pantas mendapat perlakuan seperti itu. Jadi, aku minta maaf. Biarkan hubungan kita seperti dulu lagi. Biarkan kita menjadi teman yang saling berbagi dan tertawa bersama. Dan biarkan aku tetap di sisimu sebagai temanmu.”

Aku merentangkan kedua tanganku seraya memberi isyarat. “Izinkan aku memelukmu untuk mempertegas permintaan maafku.”

Sungguh, hatiku sangat lapang saat mengatakan semuanya.

Tapi begitu aku melihat reaksi Byul, rasanya aku ingin bunuh diri.

Ekspresi gadis itu yang awalnya datar, berubah menjadi sangat meremehkan dan merendahkan.

Dia hanya tersenyum, dan membungkuk dalam, lalu pergi. Ya, dia pergi setelah aku minta maaf.

Aku menurunkan tanganku lesu. 

Byul berhenti, mengatakan sesuatu tanpa berbalik. “Ingat kan kalau bekas luka tidak bisa hilang sekalipun sudah sembuh?” ujarnya sarkastis.

Dan akhirnya dia benar-benar pergi. 

Meninggalkanku sendirian.

Bersama rasa benci yang mulai tumbuh dalam diriku untuk Shin Ha Byul.

f

-To Be Continued-

Advertisements

5 thoughts on “Everything Has Changed 5

  1. Kayaknya byul kagak bakalan maafin kyu deh , byul nya udah terlanjur terluka smpe bilang “Ingat kan kalau bekas luka
    tidak bisa hilang sekalipun sudah
    sembuh?” udah benar” gak bisa dimaafin sepertinya

    Like

  2. ya ampun shin ha byul. tolong maafkan kyuhyun 🙏
    kayaknya aku pernah baca ff eunhyuk minjung sebelum love trust and hate. serius deh. tapi aku lupa judulnya. iya perasaan pernah dulu. dulu sekali. oh makanya aku add mu kak di fb. makanya aku dapat wordpress ni dari fb mu

    Liked by 1 person

    • Unpredictable girl bukan? Kalo iya berarti bener, bcs itu karangan aku dan pernah aku post di sini tapi udah aku hapus karena ada satu dan lain hal WQWQWQ dulu aku suka ngirim2 cerita di SJFF emang sekarang udah nggak

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s