A ‘Good’ Bye 3 (END)

escape-girl-postcards-from-far-away-running-away-sweet-escape-Favim.com-61017

#3 : Goodbye forever

1 | 2 | 3 (END)

***

“ADIKMU ternyata menderita bronchopneumonia.”

Lee Dong Hae menahan napas. Begitu juga dengan Shindong, Leeteuk, Heechul, dan Eunhyuk yang juga mendengar semua perkataan Minjung di telepon. Dari cara Hwang Min Jung menyebut nama penyakit itu, mereka tahu bahwa itu pasti penyakit serius. 

“Penyakit ini menyerang pernapasan. Eunhee awalnya tidak menyadarinya. Saat Joohae sering terbatuk-batuk, dia hanya menganggap biasa hal ini. Tapi lama kelamaan batuknya semakin parah, dahaknya mengeluarkan darah, dan dia sering menggigil tanpa sebab, juga mengeluh nyeri dada. Akhirnya Eunhee membawa gadis itu ke dokter. Dan, begitulah.”

Donghae memejamkan mata, mati-matian berusaha menahan air mata yang ingin keluar. Ia benar-benar tidak percaya si gila nan hiperaktif itu akan menderita penyakit separah ini. Hei, Joohae tidak pernah menderita penyakit apapun sejak kecil! Daya tahan tubuh gadis itu luar biasa! Namun ia bisa apa kalau autoimun sudah menyerang gadis itu?

Autoimun adalah penyakit dimana sistem imun yang seharusnya melindungi tubuh seseorang dari berbagai ‘ancaman’ seperti bakteri dan virus, justru malah menyerang jaringan sehat orang tersebut. Pada penderita penyakit ini, sistem imun mereka tidak bisa membedakan mana yang termasuk ‘ancaman tubuh’ dan mana yang tidak, sehingga mereka ‘diaktifkan’ untuk melawan tubuh penderitanya.

Anemia hemolitik adalah satu dari sekian banyak jenis autoimun. Sistem imun Joohae ‘diaktifkan’ untuk menyerang sel darah merahnya, mengakibatkan umur sel darah merah Joohae lebih pendek dari rata-rata umur sel darah merah pada umumnya.

Dan parahnya lagi, bukan hanya autoimun yang menyerang gadis itu.

Donghae memegangi kepalanya, makin merasa frustrasi.

“Selama di sana, Eunhee sangat telaten merawat adikmu. Menemaninya menjalani rawat jalan, pemberian vaksin untuk menambah kekebalan tubuh, dan mengobatinya. Bahkan ia meminta sang ibu yang berada di Korea untuk membuatkan ramuan tradisional pencegah batuk dan demam, dalam bentuk minuman.”

Donghae mendelik, tampak gelagapan. “Aku.. aku tahu minuman itu!”

“Warnanya jernih seperti air mineral biasa sehingga kita berdua tidak curiga sama sekali.”

“Jadi? Bagaimana dengan penyakitnya itu?”

“Belum sembuh.”

Hati Donghae langsung mencelos. 

☆☆☆

Hari ini adalah hari pertama Lee Joo Hae menjalankan terapi immunoglobuline intervernous, setelah mempertimbangkan kondisinya selama enam bulan di rumah sakit. Sederhana saja, Joohae akan diberi semacam antibodi tambahan, sehingga antibodi baru tersebut tidak akan menyerangnya. 

Ia mengambil ponsel, mengirim chat melalui Line ke seseorang.

    f

Lee Joo
Aku akan menjalankan dua terapi
Pacar Abadi *Rotfl*
Dua terapi? 
Hei, kau tidak bilang apa-apa padaku!
Lee Joo
Pertama, autoimun
Kedua, bronchopneumonia
Scrool up!
Aku sudah mengatakannya kemarin
Oppa saja yang tidak ingat
Dasar pikun!
Pacar Abadi *Rotfl*
Bisa-bisanya kau mengejekku di saat seperti ini!
Lee Joo
😀
Pacar Abadi *Rotfl*
Lakukan dengan baik, ya! 
Lee Joo
Baik, Tuan Super Sibuk!
Pacar Abadi *Rotfl*
Jangan menyindirku! 
Kau membuatku merasa bersalah!
Lee Joo
Oppa terlalu sensitif
Aku baik-baik saja di sini
Tenanglah
Eoh?

  v

Kemudian seorang perawat memberi isyarat kepadanya untuk bersiap. Ia mengetik sebuah chat lagi.

  v

Lee Joo
Doakan aku, oppa!

vb

☆☆☆

  v

Bayi
Doakan aku, oppa!
Donghae
Selalu
Bayi
(foto)

v

Donghae tersenyum. Ia menatap lama selca Joohae bersama seorang dokter dan seorang perawat. Gadis itu tampak ceria. Padahal masih ada alat bantu pernapasan di hidung dan selang infus terhubung dengan tangannya.

Ia ingat percakapan mereka di telepon beberapa hari lalu. Joohae menjelaskan bahwa ia akan menjalani terapi terakhir untuk dua penyakitnya, yah karena hepatitis nya hanya perlu disembuhkan dengan keteraturan dalam meminum obat.  Dan setelah dua terapi terakhir ini, dokter akan melihat kondisi akhirnya. Jika tidak ada komplikasi atau efek samping setelah terapi, Joohae bisa dipulangkan.

Dalam keadaan sembuh.

Ia merasa senang, sekaligus sedih. Bagaimana tidak? Selama hampir satu tahun Joohae dirawat di rumah sakit, mungkin ia hanya mengunjungi gadis itu sebulan sekali, atau bahkan dua bulan sekali. Ia sangat sibuk, sementara ia ingin mengetahui perkembangan berarti sang adik tiap detiknya. Namun gadis itu selalu bilang. ‘Carilah uang yang banyak dan keluarkan aku dari sini. Aku tidak pernah keberatan jika oppa jarang menjengukku. Aku mengerti oppa dengan baik.’

Tapi sekarang ia tidak perlu sedih. Karena tidak ada kegiatan apapun utnuknya, dan ia bisa menjenguk gadis kecil kesayangannya itu.

“Kau beruntung dia bukan tipikal gadis sakit yang manja.” timpal Siwon.

Donghae terkekeh. “Oh bahkan dia tidak akan pernah mengaku kalau dia sedang flu!”

“Dia bahkan masih sempat menggangguku dan Saeun.” Sungmin menunjukkan ponsel yang berisi chat nya bersama Joohae. “Anak macam apa dia itu?”

Donghae tersenyum geli. 

“Hei, tidak ada jadwal apapun untuk kalian hari ini ‘kan?”

“Tidak.” Eunhyuk menjawab. “Memangnya kenapa?”

“Aku mau kalian membuat kejutan untuk seseorang di rumah sakit.”

☆☆☆

“Bagaimana perasaanmu?”

Joohae dibantu dokternya untuk duduk bersandar pada ranjang. Ia mengucek-ucek matanya. “Sedikit mengantuk?”

Sang dokter tersenyum. “Kami sengaja memberimu obat tidur agar kau bisa istirahat hari ini.” jelasnya. “Namun aku menyesalinya.”

“Kenapa?”

Sang dokter memberi isyarat untuk melihat pintu.

Joohae mendapati bahwa pintu terbuka perlahan. Menampakkan seorang pria tersenyum cerah padanya. Senyum gadis itu juga merekah.

Donghae mengambil kursi, menempatkannya di samping tempat tidur gadis itu.

Joohae menatap heran sang kakak. “Hei, kenapa oppa di situ? Sini, sini.” ia bergeser sedikit, menepuk tempat tidur di sampingnya. Donghae menurut, duduk di samping gadis kecilnya. Ia cukup tersentak saat Joohae langsung memeluknya dari samping.

“Aku merindukan oppa..” kata gadis itu lirih. Donghae menyandarkan kepalanya di kepala gadis itu, sementara satu tangannya merangkul pinggang sang adik. Ia mendelik, menyadari dengan terkejut bahwa penyakit ini menggerogoti tubuh sang adik lebih ganas lagi.

Lee Joo Hae nyaris seperti tengkorak hidup. Tidak ada daging yang melapisi tulang selain kulitnya. Namun dengan wajah yang lebih bersinar, dan pipi yang chubby. Seolah penyakit itu masih menyayangi wajah adik kecilnya ini.

Donghae memejamkan mata, membiarkan air matanya jatuh tanpa terlihat gadis itu.

Joohae membenamkan wajah di leher sang kakak. “Oppa tidak mau menanyakan kabarku?”

“Kau tampak sehat.” mati-matian Donghae meminimalisir suaranya. “Dan aku cukup senang karena bisa menjengukmu hari ini.”

Sang dokter yang terus memperhatikan mereka berkata. “Kami sudah mengambil sample darah nona Lee untuk diperiksa. Jika dalam dua jam dia tidak mengeluhkan apa-apa, dan tes darah menunjukkan perkembangan berarti, dia bisa pulang besok.”

Sang dokter lantas meninggalkan mereka berdua.

“Doktermu sangat baik.” komentar Donghae.

“Dan tampan!” Joohae tertawa.

“Sekarang aku mengerti kenapa kau betah di rumah sakit.” pria itu menggerutu.

“Tapi tetap oppa yang paling tampan.” Joohae menengadah, mengecup pipi pria itu. “Tenang saja.”

Donghae terkekeh. Ia mengacak-acak rambut gadis itu. “Ya, kau tidak merindukan makan bersama Shindong hyung? Masakan Ryeowook? Pertandingan catur bersama Siwon? Apa kau tidak mau lagi mengganggu mereka?”

“Oh, tentu aku sangat merindukan mereka, oppa..” gadis itu melepas pelukan, memandang lurus sang kakak. “Aku tidak sabar ingin meng-hack laptop Eunhyuk oppa dan membongkar semua isinya. Entah sudah berapa kali dia mengganti sandi karena aku selalu bisa memecahkannya.”

“Tunggu!” Joohae mengambil ponselnya, membuka kamera. “Haruskah aku mengirim selca kita pada mereka?”

“Tidak perlu.”

“Kenapa?”

“Kau ‘kan akan pulang!”

☆☆☆

Ruang tengah apartemen itu ramai sekali. Di tengahnya terdapat sebuah papan catur dengan bidak-bidak yang tidak lagi utuh posisinya. Beberapa terletak di pinggir papan, menunggu yang masih bertahan untuk berdiri bersama mereka.

Kedua pemain melemparkan tatapan yang berbeda. Siwon ― dan anggota Super Junior yang menonton ― memandang remeh Joohae, seolah gadis itu akan kalah telak hari ini. Sementara gadis itu memberikan tatapan bersahabat, ramah, dan tanpa konflik.

Sudah dua minggu Lee Joo Hae keluar dari rumah sakit. Karena kesibukan, baru hari ini mereka bisa merayakan kesembuhan gadis itu. Dan salah satu caranya adalah ini. Mereka melakukan taruhan catur: jika Joohae kalah, gadis itu harus memberi makan mereka semua. Tapi jika Siwon kalah, mereka semua harus memberi makan gadis itu. Yeah, mereka dengan percaya diri menyetujuinya. Mereka yakin Siwon akan menang dengan mudah karena kondisi Joohae masih lemah, sehingga gadis itu akan sulit berpikir. Terlebih ini catur.

Permainan sudah berlangsung dua jam. Sebenarnya sudah terlihat siapa yang akan kalah. Namun anggota Super Junior optimis mereka akan makan enak.

Siwon menggerakkan pion hitamnya, memakan ratu putih Joohae. Anggota Super Junior bersorak. Pria itu menyeringai.

“Sepertinya kau akan kehabisan uang.” kata Sungmin.

Joohae mengamati bidak-bidak, lalu membalas seraya memindahkan kuda putihnya ke tempat menteri hitam Siwon. “Mungkin.”

Siwon memakan menteri putih Joohae. “Tidak ada gunanya kau bergerak.” ujarnya sombong.

Joohae menghela napas, memandang Siwon kalah. “Sepertinya begitu.” ia memindahkan benteng putihnya ke sebuah kotak, lalu memiringkan kepala.

Barulah pada saat itu, semua orang menyadari raja hitam Siwon tidak bisa bergerak kemana pun. Di setiap sisi, selalu ada bidak Joohae yang siap menerkamnya.

Check mate.” ucap gadis itu menyeringai.

Bahu semua orang melorot, menatap papan catur dengan lesu. 

“Mana makananku?”

Mereka meletakkan empat kotak pizza, enam kotak mochi, dan dua belas cup pudding vanilla. “Semua sesuai syarat Donghae.” jelas Leeteuk. “Pizza acropolis tanpa paprika, lada, merica, saus krem, minyak zaitun, dan daging asap. Mochi kacang alami tanpa pengawet dan pemanis buatan. Pudding vanilla dari susu sapi murni tanpa gula.”

“Apa kau tidak mau memberi kami sedikit?” tanya Eunhyuk. Nada suaranya terdengar menyedihkan.

“Siapa yang menang taruhan?” Joohae berkata tak peduli. “Ah, apa perlu aku ingatkan kalau dua hari lalu aku berhasil membuka laptop oppa? Dan oppa menjanjikan burger sayur? Mau ku umumkan kata sandi nya?”

Eunhyuk langsung melakukan delivery order. Membuat semua orang tertawa.

Joohae membuka satu kotak pizza, membiarkan dengan sengaja aromanya menguar. Ia memandang semua orang seraya menaik-turunkan alisnya, lalu mengambil potongan pertama.

Lelehan keju mozarela saat Joohae menarik pizza itu membuat siapapun tergiur.

“Ah kurasa kalian tidak mungkin mau makan makanan orang sakit.” ujar gadis itu sambil makan. “Benar ‘kan, uri Dongdong oppa?”

Shindong hanya menyaksikan gadis itu makan.

“Oh ini enak sekali.” Kini Joohae sudah menikmati potongan keenam. “Sering-seringlah menantangku. Atau haruskah aku membobol password laptop kalian semua? Sekarang aku mengerti perasaan hacker yang pernah meng-hack akun twitter Eunhyuk oppa dan instagram Donghae oppa.” kicaunya bercanda.

Ya, kau juga berniat meng-hack semua akun media sosial kami?!”

Joohae menggeleng. “Kalaupun aku melakukannya, aku hanya akan membuat kalian mem-follow akun temanku, atau memberikan like pada semua posting-an nya. Pekerjaan mudah. Dan bayarannya pasti sangat tinggi. Temanku akan berterima kasih seumur hidupnya.”

“Dasar.” sembur Kangin.

Gadis itu tertawa. “Karena itu, buatlah taruhan yang banyak denganku, ya?”

“Dan membuat uang kami habis?” sergah Yesung.

Joohae mengernyit. “Sejak kapan Yesung oppa menajdi sangat perhitungan seperti Eunhyuk oppa? Apa kalian terlalu merindukan aku sehingga kalian berubah? Uh, aku terharu..”

Joohae dihadiahi jitakan oleh semua orang.

Ya, kau benar-benar tidak akan memberikan semua itu?”

Joohae menoleh, memasang tampang polos. Sang kakak bicara dengan begitu dramatis, meski ia tahu sang kakak tidak serius. Dan mereka mengerti kalau saat ini ia sedang dalam tahap menaikkan berat badan. Ia membersihkan sisa-sisa bumbu di tangan dengan cara menghisapnya, lalu menuju dapur. Semua orang memandang ke arahnya.

Ketika gadis itu membuka kulkas ­― ­well, desain apartemen ini membuatmu bisa melihat dapur dengan leluasa bahkan dari ruang tamu atau dari depan pintu kamar Joohae ― semua orang membelalak terkejut.

“Hei, aku tidak sekejam yang kalian pikirkan.” katanya tersenyum. “Ini perayaan untuk kesembuhanku ‘kan?”

Eunhyuk, Heechul, dan Ryeowook bergerak lebih dulu. Mereka mengeluarkan seluruh isi kulkas dan mengambil beberapa makanan di meja dapur ― berkaleng-kaleng bir, dua buah black forest super besar, berkotak-kotak es krim berbagai rasa, dan beberapa buah kue beras ― dan membawanya ke ruang tengah.

“Karena aku tidak boleh makan semua itu, jadi kalian bisa menghabiskannya.”

Mereka semua berteriak senang. Dan mulai menikmati semua itu sambil mengobrol ceria, berseloroh tidak penting, melakukan kejahilan menyebalkan, dan membuat taruhan kecil, misalnya siapa yang paling cepat menghabiskan es krim.

“Kalian tahu ‘kan kalau aku tidak sanggup membereskan semuanya?” Joohae mengerling.

“Kau tenang saja.” Ryeowook mengacak-acak rambut gadis itu. “Duduk yang manis dan kami akan membereskan semua ini.”

“Ah, jika aku bisa mendengar kalimat itu setiap hari..”

Dan jawaban dari pernyataan itu adalah, pekikan bernada kesal yang menunjukkan mereka sangat keberatan.

Joohae tertawa seraya menyalakan televisi.

Kyuhyun mulai menyadari apa yang ditonton gadis itu. “Super Show 5?”

Gadis itu mengangguk. “Temanku yang memberikan kasetnya kemarin.” jawabnya. “Aku suka Rockstar. Jika bukan karena penyakitku, aku pasti sudah menari gila-gilaan sambil mendengar lagu itu.”

“Kau belum pernah menonton Super Show langsung ya?” tanya Siwon.

“Lupa kalau dia workaholic? Berambisi menyaingi gajiku?” sahut Donghae. “Aku sudah pernah memberikannya tiket Super Show 6 tapi dia tidak menonton.”

Joohae tersenyum simpul, menikmati tontonannya. Lalu pada satu bagian, ia berkomentar. “Aku heran dengan mereka. Kenapa berteriak-teriak saat Eunhyuk oppa dan Donghae oppa membuka baju? Tidak ada yang istimewa ‘kan? Apa mereka tidak kasihan dengan pita suara mereka? Bangun pagi keesokan harinya dan tidak bisa bicara? Ugh.”

Mereka terkekeh geli. Sudah Donghae jelaskan, gadis itu tidak akan pernah peka dengan hal-hal yang seperti itu. Si insinyur sudah nyaman dengan dunianya yang serba rumit, teratur, dan geometris. Makanya mereka cukup terkejut, Joohae juga menikmati lagu mereka. Karena mereka tahu, cara gadis itu bersantai adalah dengan membaca buku sastra, mendalami musik klasik Eropa, atau mengutak-atik barang di sekitarnya. 

“Mungkin aku akan buat pengecualian untuk Rockstar.” Joohae tersenyum. “Oke, aku tidak akan berteriak-teriak seperti itu, tapi aku tidak keberatan kalau aku ditarik ke atas panggung dan menari bersama kalian.”

“Baiklah, Joo!” Leeteuk menanggapi. “Super Show berikutnya, akan kami penuhi keinginanmu.”

Call?”

Semua orang berteriak. “Call!”

☆☆☆

Donghae berjalan terburu-buru, dengan membawa sesuatu. Bukan apa-apa, hanya sebuah kue. Namun ia jamin sang penerima akan sangat senang saat menerimanya. Senyumnya semakin lebar saat memikirkan hal itu.

Ia berhenti di depan sebuah apartemen, menekan sandi, dan masuk. Hal pertama yang ia dapati adalah, seseorang tengah melompat-lompat kegirangan.

“Joohae-ah, mwohae?”

Gadis itu menatap Donghae berbinar, lantas menerjang pria itu. “Berat badanku naik, oppa!”

“Benarkah?!” respon Donghae sangat positif. Ia mengangkat gadis itu dan memutar-mutanya. Oh kadar kebahagiaannya bertambah hanya mendengar berat badan adik kecilnya naik dengan signifikan! Usahanya dan anggota Super Junior lain untuk memberi makan gadis itu dengan ini itu ― tentu dengan syarat tertentu ― selama dua bulan tidak sia-sia. 

“Ah, sebagai hadiah,” Donghae menurunkan gadis itu, memberikan sesuatu yang tadi dibawanya. “ini untukmu.”

Joohae langsung membukanya. Ia mengerutkan kening. “Kue?” gumamnya heran. “Kukira oppa melarangku memakannya.”

“Itu terbuat dari beras.” jelas Donghae. “Tanpa sukrosa, fruktosa, dan teman-temannya itu. Aku memesan khusus, menjamin kebersihan alat dan bahan, mengawasi setiap proses pembuatannya, dan akhirnya kuberikan spesial untukmu.”

“Woah, jinjja? Aku terharu.” ia menyeka air matanya, walau sebenarnya tidak ada apapun yang keluar dari mata gadis itu. Ia duduk di sofa ruang tengah, membuka kue itu secara utuh. “Berperan sebagai pembuat kue di drama membuat oppa perfeksionis soal kue, ya?”

“Bodoh.” Donghae mengambil tempat di samping gadis itu. “Kalaupun aku tidak bermain di drama itu, aku akan tetap melakukannya! Bagaimana jika mereka menambahkan pemanis buatan di kue ini? Apa yang akan terjadi denganmu nanti?”

Gadis itu mengangguk-angguk. “Oppa memang sempurna.”

“Ini demi kesehatanmu!”

Gadis itu melempar pandangan jengah. “Aku tahu, oppa-ku sayang.” Joohae mengelus-elus hidungnya di pipi sang kakak. “Terima kasih.”

Pria itu tersenyum, mengambil potongan kecil kue, dan menyuapi adiknya.  Mata gadis itu membelalak saat ia mengunyah dan menelan kue itu. “Ini..” katanya bersemangat. “Oh ini enak sekali! Wah, terima kasih, oppa!” ia membuat wajah aegyo yang menggelikan.

“Kau menjijikkan.” ejek Donghae bercanda.

“Haruskah aku menghabiskan semua ini sekarang?” gadis itu mengunyah dengan rakus. “Ini enak sekali!”

Donghae menggeleng. “Aku mau menghabiskan waktu bersamamu.”

“Jalan-jalan?”

Pria itu mengangguk.

Secepat kilat, Joohae menuju kamarnya dan berganti baju.

☆☆☆

Oppa, kita terlihat seperti pasangan kekasih.”

Joohae memandang tangannya yang digenggam erat oleh sang kakak. Ia melihat pria itu, yang terus memandang ke depan, tak mempedulikan siapapun. Lagipula tidak ada yang akan mengenali mereka di kawasan Myeongdong ini. Keduanya memakai penyamaran lengkap.

“Memangnya kenapa?” sahut pria itu acuh tak acuh. “Apa kau mau aku menciummu di sini?”

Joohae mendesis sebal.

Donghae tertawa. “Hei, tidak ada yang akan cemburu padamu, kau tahu?” ia merangkul bahu sang adik, terus melangkah seraya menikmati hiruk pikuk kawasan perbelanjaan ini. “Kecuali jika aku menggandeng Song Hye Gyo atau Taylor Swift, dan mencium mereka di sini.”

Gadis itu tertawa mengejek. “Perkataan bodoh macam apa itu.”

Eish..” Donghae menjitak kepala gadis itu.  “Kau tidak ingin menjadi adik ipar Taylor Swift?”

“Tidak, terima kasih.” tolak gadis itu halus. “Aku cukup senang bisa menonton konsernya. Dan aku tidak mau kakakku terbang tinggi dan tak kembali lagi. Membayangkannya saja aku sudah merinding. Uhh..”

Donghae mencubit gemas pipi gadis itu.

Akh.. oppa.. geumanhae..” ringis Joohae. Padahal Donghae tidak mencubitnya sekeras itu.

Ya, apa tinggal lama di rumah sakit membuatmu berubah menjadi manja?”

Eoh.” Joohae mengangguk, memeluk Donghae dari samping, lalu mendongkak. Matanya memandang lurus pria itu. “Aku sangat manja sampai-sampai aku tidak mau melepas oppa begitu saja. Jangan pernah tinggalkan aku, ya?”

Donghae mendengus. “Aku bahkan tidak punya alasan untuk melakukannya, sekalipun kau sangat menyebalkan.” ia membuat rambut gadis itu berantakan dengan tangannya.

Dan pada saat itu, hujan mendadak turun. Hujan itu amat lebat dan tiba-tiba. Dalam beberapa detik saja, tubuh keduanya sudah basah kuyup.

“Bagus sekali cuacanya.” Joohae berkomentar datar.

Donghae tertawa. Ia menarik gadis itu untuk mencari tempat perlindungan. Saat mereka sudah berteduh. Ia berkata. “Tunggu di sini. Aku akan ke mobil dan menjemputmu.”

Gadis itu mengangguk, melihat sang kakak berlari menembus hujan. Kadang ia merasa bersalah dengan pria itu. Sang kakak nyaris melakukan apa saja demi dirinya, tapi ia tidak pernah melakukan satupun hal berguna untuk Lee Dong Hae. Terlebih sejak ia menderita penyakit-penyakit itu.

Ketika mobil sang kakak sudah terparkir di depannya, ia segera masuk.

“Kau tidak apa-apa kan?”

Gadis itu mengangguk. Lalu ia menatap pria itu dari kepala hingga kaki. “Oppa basah..”

“Tidak apa, asal kau baik-baik saja.” Donghae melajukan mobilnya dengan kecepatan standar. Sebenarnya ia ingin meninggikan kelajuannya, namun ia tidak mau Joohae marah-marah. Ditambah lagi sekarang sedang hujan.

Joohae menyandarkan tubuhnya. “Mianhae..”

Pria itu menoleh sebentar, lalu kembali fokus. “Kenapa kau meminta maaf?”

“Aku terlalu merepotkan oppa, membuat oppa tidak bisa bekerja dengan baik, dan.. tidak ada yang bisa kulakukan untuk membalas oppa.”

Donghae menghela napas. “Lee Joo Hae.”

Ne?”

“Kau tahu kenapa ibu dan ayah menamaimu seperti itu?” tanpa menunggu jawaban ia melanjutkan. “Karena jika mereka mendengar nama kita berdua diucapkan, mereka akan langsung tahu kalau kita bersaudara. Jangan pernah berpikir kau harus melakukan sesuatu untukku agar kau bisa merasa menjadi adik yang baik. Aku kakakmu. Tugasku adalah melindungi dan menjagamu. Kau sama sekali tidak pernah merepotkanku. Kau tidak membuatku tidak bekerja dengan baik. Hei, ingat kau hanya punya aku sekarang? Siapa yang akan melindungimu? Siapa yang akan merawatmu kalau kau sakit? Dan siapa lagi yang akan menggendongmu kalau kau kelelahan jika bukan aku? Jadi jangan pernah menyalahkan dirimu karena apa yang aku lakukan padamu. Itu manusiawi, dan itu wajar. Itu hukum alam. Karena kakak beradik memang seperti itu. Sampai Tuhan memutuskan siapa yang akan meninggalkan yang lain terlebih dahulu.”

Air mata gadis itu sudah mengucur dengan deras sejak Donghae mengatakan kalimat pertama.

“Kau menangis untuk hal yang sudah seharusnya kau dapatkan.” Donghae menanggapi. “Dasar bodoh.”

Kemudian mereka terdiam cukup lama di mobil.

Sampai Donghae menyadari satu hal.

Lee Joo Hae menggigil tak karuan.

☆☆☆

Pria itu menunggu dengan gusar di luar ruang pemeriksaan. Tak berapa lama setelah gadis itu menggigil, ia pingsan begitu saja. Tentu saja Donghae langsung membawa gadis itu ke rumah sakit. Dengan berganti baju apa adanya.

Ia menahan napas saat pintu ruang pemeriksaan dibuka. Seorang dokter menghampirinya.

“Aku tidak percaya, autoimun menyerangnya kembali.” buka sang dokter.

Donghae berdiri membeku di tempatnya.

“Hujan benar-benar menjadi sarana yang bagus untuk membuat system imun di tubuh Joohae balik menyerang gadis itu. Dia akan sembuh sangat lama, kecuali..”

“Kecuali apa?!”

“Kau mengizinkannya untuk menjalankan operasi.”

“Jalankan saja!” ujar pria itu langsung. Gelisah dan panik. “Aku menyetujuinya!”

“Tapi operasi pengangkatan limfa ini tidak bisa langsung dilaksanakan.” si dokter kembali menjelaskan. “Joohae masih harus menjalani beberapa kali donor darah dan terapi. CT scan, ultrasonografi, dan elektrokardiogram. Juga tes urin, darah, dan beberapa tes untuk mengevaluasi fungsi limfa. Dan jika operasi ini berhasil, Joohae akan hidup tanpa limfa.. atau dia akan meninggal setelah operasi.”

Donghae menahan napas. Sungguh, ia tidak pernah memikirkan kata itu sebelum ini. Bahkan tidak ingin memikirkannya. Tidak, hal itu tidak akan terjadi. Adik kecilnya pasti akan sembuh. Gadis itu pernah sehat sebelumnya. Pasti gadis itu akan hidup dengan normal setelah operasi.

Setelah dipersilahkan dokter, Donghae masuk ke ruang rawat gadis itu. Oh, ia sangat tidak sanggup melihat pemandangan ini. Tangan gadis itu terhubung dengan selang infus, dan alat bantu pernapasan berada di hidung Joohae.

Ketika ia menghampiri Joohae, sontak saja air matanya jatuh.

Joohae melihatnya. Dengan amat sangat jelas. Dan itu sudah cukup membuatnya terluka.

“Merasa lebih baik?” tanya pria itu.

Joohae mengangkat satu tangannya, menangkup pipi sang kakak. Lalu dengan ibu jari, ia menyeka air mata itu. “Kumohon, jangan menangis untukku..”

“Kakak mana yang tidak akan menangis saat melihat adiknya menderita, hmm?” Donghae mengusap sayang kepala Joohae. Kali ini ia tidak berusaha untuk menyembunyikan air matanya. “Patuhi perintah dokter, eoh? Kau harus menjaga kesehatanmu. Makin cepat kondisi tubuhmu stabil, makin cepat operasi dijalankan. Kau mau cepat sembuh ‘kan?”

Gadis itu mengangguk. Air matanya sendiri mulai terbit.

“Tidurlah. Aku akan menjagamu.”

“Tidak apa.” Joohae tersenyum. “Aku sudah cukup senang, walaupun besok bukan oppa yang menemaniku.” Gadis itu memejamkan mata, mulai terlelap. “Aku sayang oppa.”

Donghae mengecup lama kening gadis itu. “Semua orang tahu kalau aku sangat menyayangimu.”

Dan pria itu tertidur sambil duduk, dengan kepala berada di dekat kepala adiknya.

☆☆☆

Hampir tiga bulan sejak Lee Joo Hae dirawat di rumah sakit. Selama itu, ia sudah menjalankan empat kali donor darah dan terapi. Ia belum bisa menjalankan persyaratan operasi karena kata dokter, tubuhnya belum siap. Dan salah satu cara agar ia siap menjalankan operasi adalah, menjaga pola makan.

Namun semenjak ia kembali dirawat, nafsu makan gadis ini berkurang dengan signifikan. Bahkan ia tidak bisa menghabisan sepotong kecil kue karena sebuah alasan klasik.

“Joo-ah..” bujuk Donghae.

“Aku kenyang, oppa..” keluh gadis itu. “Jangan paksa aku makan lagi..”

Pria itu menghela napas. Ia menatap meja yang penuh berisi makanan. Semua itu adalah pemberian anggota Super Junior.

“Lihatlah, mereka mengirim semua itu untukmu, tapi kau hanya makan satu biskuit dari sekian banyak makanan yang ada.”

“Siapa suruh mereka memberikan semua itu?” Joohae berucap ketus.

Donghae tidak menanggapi.

Joohae melirik timbunan makanan itu, lalu berbisik. “Aku mau kue beras.”

Pria itu tersenyum lega, lalu menyuapi sang adik. Namun baru tiga suapan, gadis itu kembali menolak.

“Seharusnya kau akan terus merasa lapar jika aku yang menyuapimu.” kata Donghae dengan nada bercanda, sebenarnya. “Kau tahu ‘kan kalau ribuan gadis di luar sana berharap ada di posisimu? Kau seharusnya beruntung.”

“Beruntung.” Joohae mendengus sinis. “Apa mereka juga mau menderita penyakit sepertiku?”

Donghae terdiam cukup lama.

“Wah, seandainya aku adalah adik Lee Dong Hae!” tiru Joohae dengan suara yang diimut-imutkan. Lalu kembali bicara dengan suara aslinya. “Yeah, menjadi adik Lee Dong Hae dan sakit-sakitan? Apa mereka masih mau berada di posisi itu?”

“Joohae-ah.”

Gadis itu melirik malas sang kakak.

“Kau percaya pada Tuhan ‘kan?”

Gadis itu tidak menanggapi.

“Kau pernah menang melawan penyakit ini, dan aku yakin kau pasti akan menang lagi.” mata Donghae mulai berkaca-kaca. “Percayalah. Kau gadis yang kuat. Operasi ini akan membuatmu sembuh. Aku yakin kau akan sembuh. Apa kau percaya padaku?”

Joohae mengangguk perlahan. “Oppa jangan menangis lagi, ya?”

Donghae juga mengangguk. 

☆☆☆

Lee Dong Hae mengancingkan kemejanya seraya memandang cermin. Ia dan anggota Super Junior lain akan tampil di sebuah acara dua jam lagi, sehingga ia tidak bisa menyempatkan diri ke rumah sakit. Tapi tidak apa. Gadis kecilnya itu tidak pernah keberatan dengan kesibukannya.

Ia mengambil ponsel, membuka chat Line dengan seseorang. Sebenarnya si pengirim sudah mengirim chat itu dari dua hari yang lalu, bahkan lima hari yang lalu. Ia tersenyum geli saat membaca semuanya.

Ia keluar dari kamar, menghampiri anggota Super Junior lain yang sudah berkumpul di ruang tengah. “Hei, seseorang di rumah sakit merindukan kalian!”

Donghae meletakkan ponselnya di meja, membiarkan mereka membaca chat itu.

   b

Bayi
Oppa, hari ini aku menghabiskan makan siangku!
Bayi
Oppa, aku melakukan donor darah lagi hari ini!
Bayi
(foto)
Oppa lihat? 
Aku makan banyak hari ini!
Bayi
Oppa, biskuit Leeteuk oppa enak!
Bayi
Oppa, mintalah Ryeowook oppa membuatkan makanan untukku lagi, ya?
Bayi
Oppa, katakana pada Eunhyuk oppa kalau aku akan membobol laptopnya!
Bayi
Oppa, ajak Siwon oppa ke rumah sakit, ya? 
Aku mau bermain catur dengannya!
Bayi
Oppa, minta Sungmin oppa mengajak Saeun eonni kalau mengunjungiku. 
Aku mau mempermalukan pria tua imut itu!
Bayi
(foto)
Oppa, ini kalau anggota Super Junior merindukan aku 😀

    b

“Pria tua imut?!” Sungmin berseru kesal. “Apa-apaan itu?!”

“Anggap saja itu cara dia menyayangimu, hyung.” Kyuhyun menanggapi.

“Entahlah, aku berharap otaknya juga sakit.” gumam Eunhyuk yang dihadiahi jitakan keras dari Donghae.

“Haruskah aku membuatkan makanan yang banyak untuknya?” Ryeowook berkata senang.

Heechul melihat foto pertama yang dikirm Joohae. foto timbunan makanan yang sudah berkurang. “Ya, apa dia benar-benar menghabiskan semua itu?!” pekiknya tak percaya.

“Dan apa-apaan itu?” Siwon menanggapi foto terakhir yang dikirim Joohae. Sebuah selca. “Dia pikir aku merindukan dia?”

“Mungkin itu cara dia menunjukkan kalau dia merindukan kita, tapi dia masih menjaga harga dirinya.” ungkap Yesung.

“Lihat dia.” Leeteuk berkata pelan. “Lebih tampak seperti gadis mengantuk yang ingin tidur seharian, daripada gadis yang sedang sakit.”

Mereka semua diam memandangi foto selca Joohae, yang hidungnya masih dipasang alat bantu pernapasan.

“Aku tidak mengerti.” akhirnya Donghae berkata. “Dia mulai memiliki nafsu makan yang baik. Tapi saat dia kembali mendapat donor darah, kalian akan dibuat bingung apakah gadis ini akan sembuh atau tidak.”

Mereka terdiam cukup lama. Sampai akhirnya, ada dua buah chat yang masuk ke ponsel Donghae. Chat untuk hari ini.

Dan mereka bersorak bahagia setelah membacanya.

  b

Bayi
Oppa, coba tebak?
Donghae
Aku menyerah. Apa?
Bayi
Dua hari lagi aku siap operasi  😀

   b

☆☆☆

Seperti yang telah Joohae sampaikan dua hari lalu, hari ini ia akan dioperasi. Ia sudah melewati tes darah, urin, dan tes fungsi limfa dua hari yang lalu. Kemarin, ia menjalankan CT scan, ultrasonografi, dan elektrokardiogram. Dan hari ini gadis itu siap operasi.

Minjung yang menemaninya sejak tadi malam. Jadi, Minjung juga akan menemaninya menjalankan operasi.

Eonni, boleh aku menelepon Donghae oppa? Operasiku dua jam lagi ‘kan?”

Minjung mengangguk. “Silahkan saja.”

Gadis itu mengambil ponsel, menelepon seseorang. Namun bukan panggilan biasa.

Melainkan video call.

Oppa!” sapa Joohae melambaikan tangannya. Ia bisa melihat, back stage menjadi latar belakang sang kakak. Entah mereka baru ingin tampil, atau sudah selesai tampil, ia tidak tahu.

Ya, apa yang kau lakukan?!” wajah Donghae yang panik memenuhi layar ponsel gadis itu. “Jangan angkat tanganmu tinggi-tinggi! Berbaringlah! Kau akan kelelahan nanti!”

“Berlebihan.” desis Joohae menuruti perkataan kakaknya. “Coba tebak siapa yang menemaniku!”

Minjung muncul dari balik bahu gadis itu. “Hai!”

“Lama tak bertemu, nona Hwang!”

Yeah, tuan Super Sibuk. Aku bahkan nyaris merindukanmu.”

“Jangan lupa, kau nona Super Sibuk.”

Minjung tertawa.

“Bagaimana perasaanmu? Apa kau sudah menjalankan semua persyatan operasi? Apa tadi ada yang sakit?”

“Satu per satu, oppa.” Joohae tersenyum jahil. “Satu per satu.”

“Kurasa kau cukup jenius untuk menjawab semua itu.”

Joohae tertawa. “Persyaratan operasi? Tidak ada yang istimewa.”

“Aku bertanya serius, Lee Joo Hae.”

“Aku juga menjawab serius, Lee Dong Hae.” Joohae menirukan nada bicara Donghae. Minjung, yang sudah kembali duduk, tertawa.

Donghae mengerut sebal.

“Baiklah.” ia menjawab akhirnya. “Aku sudah menjalankan CT scan, elektrokardiogram, ultrasonografi, tes darah, urin, dan tes fungsi limfa. Syukurlah, padahal mereka mengira aku akan mengalami efek samping setelah menjalankan semua itu. Tapi lihatlah. Aku baik-baik saja, oppa ku sayang.”

Joohae memajukan bibirnya dan membuat gerakan seakan ingin mencium Donghae. Pria itu tersenyum.

Sesaat kemudian, bukan hanya wajah sang kakak yang memenuhi layar ponselnya.

Joohae-ah, anyeong!” tegur semua anggota Super Junior.

Gadis itu membalas dengan lambaian tangan.

Ya, cepatlah kembali!” teriak Shindong. “Apa kau tidak mau makan jjajangmyeon bersamaku lagi?!”

“Aku tidak mau pulang!” Joohae menjawab acuh tak acuh. “Asal oppa tahu, bibimbap di sini sangat enak! Kapan oppa kemari?”

“Apa kau tidak apa karena kau jarang ditemani rumah sakit?” Sungmin menimpali.

“Aku tidak pernah kesepian karena para dokter dan perawat di sini sangat baik padaku. Dan for your information..” ia memelankan suaranya. “.. banyak dari mereka yang tampan! Haha!”

“Eish.. pantas saja dia tidak pernah mendesak kita untuk berkunjung..” sambung Yesung. “Dia tidak kekurangan pria tampan di sana.”

“Dan juga..” gadis itu mulai cekikikan. “Para perawat yang ada di sini sangat cantik! Lebih cantik dari Heechul oppa!”

MWO?!” Heechul berteriak kesal. “Dulu kau sering bilang kalau aku lebih cantik dari perempuan mana pun! Tapi sekarang?! Dasar pengkhianat!”

Joohae tertawa. Memang tidak ada alasan untuk tidak tertawa jika gadis ini sudah berinteraksi dengan mereka.

“Super Junior oppa.”

Mereka diam. Begitulah cara Joohae memanggil mereka semua sekaligus. Terlebih mereka tahu bahwa panggilan itu berarti ada yang ingin dibicarakan dengan serius.

Ia tersenyum. Begitu tulus, begitu manis, sampai para anggota Super Junior tidak menyangka bahwa senyum itu milik seseorang yang tengah menderita penyakit akut. “Aku minta maaf jika selama ini merepotkan kalian, membuat kalian kesal, bahkan membuat kalian marah. Aku banyak melakukan kesalahan pada kalian, bahkan membuat kalian bersedih karena penyakitku. Terkuhusus, Donghae oppa.”

Pria yang disebutkan namanya itu terlihat bingung.

Oppa pasti kecewa padaku karena aku menyembunyikan apa yang terjadi selama aku kuliah. Aku tahu aku membuat oppa merasa seperti itu. Asal oppa tahu saja, aku cuma tidak mau oppa berlarut-larut memikirkan penyakitku. Sudah cukup oppa bekerja untuk membiayai rumah sakit dan obat-obatan, aku tidak mau oppa gila karena aku. Lihatlah, aku baik-baik saja sekarang. Dokter bilang aku adalah gadis yang hebat, karena memiliki daya tahan tubuh yang sangat kuat. Mereka semua bisa menjamin keberhasilan operasiku, dan akan sangat yakin kalau aku akan bisa hidup tanpa limfa.”

“Benarkah?” Donghae berkata pelan. “Benarkah semua itu?”

“Sembuh total.” Joohae mengangguk. “Tanpa obat. Tanpa rawat jalan. Tanpa pantangan makanan.”

“Kau tidak sedang menipuku ‘kan?”

“Aku tidak setega itu untuk menipu oppa sejauh ini.”

Ya, bisakah aku ke sana sekarang juga? Aku mau memeluk dan memutar-mutar tubuhmu!”

“Datang saja! Aku tidak keberatan!”

Joohae-ah?”

“Hmm?”

“Aku mencintaimu.” Donghae tersenyum.

“Wow, apa oppa baru saja menyatakan perasaan padaku? Oppa mau pacaran denganku?”

“Perkataan bodoh macam apa itu.”

Joohae kembali tertawa.

“Karena aku mencintaimu, jadi cepatlah keluar dari rumah sakit. Oke?”

Joohae baru hendak menjawab ketika tiba-tiba ia merasa sangat pusing. Ia memegang kepala, nyaris menjambak rambutnya sendiri.

Dan seketika pandangannya menjadi gelap.

☆☆☆

Donghae tidak berhenti tersenyum selama melakukan video call bersama adiknya yang sebentar lagi dioperasi. Terlebih saat melihat gadis itu tertawa.

“Karena aku mencintaimu, jadi cepatlah keluar dari rumah sakit. Oke?”

Ia mengerutkan kening ketika melihat Joohae menjambak rambutnya. Lalu erangan memilukan dari gadis itu. Dan seketika, mata Joohae terpejam.

“Apa?! Apa yang terjadi?!” ia berteriak kalap. “Minjung-ah, biarkan aku melihat!”

“Joohae tak sadarkan diri!” Minjung memekik panik. Donghae bisa melihat sepertinya Minjung tengah berusaha memposisikan ponsel agar pria itu bisa melihat segalanya. “Aku sudah memanggil dokter, dan kita.. Mereka sudah datang!”

Dari layar ponselnya, semua anggota Super Junior melihat dokter sedang berusaha untuk menyadarkan gadis itu. Mereka menekan dada Joohae dengan alat pacu jantung berkali-kali, namun Joohae tetap tidak sadarkan diri. Sampai ketika si dokter sendiri yang menekan dada gadis itu dengan tangannya, darah mengucur deras dari hidung dan telinga Joohae.

Minjung berteriak histeris. “Tidak! Jangan katakan itu!”

Tampak seorang dokter sedang menahan Minjung. Lalu dokter yang lain berdiri diam sambil berkata pelan. “Pasien, Lee Joo Hae. Waktu kematian..”

Lee Dong Hae membelalak dengan pandangan kosong, menjatuhkan ponselnya. Ia terduduk lemas, tidak mendengar apapun yang terjadi di sana.

☆☆☆

Seorang pria berjalan tergesa-gesa, mengabaikan salju yang jatuh di atas kepalanya. Ia memasukkan tangan ke saku mantel, berusaha meminimalisir rasa dingin. Ia memandang lurus ke depan. Sedikit lagi ia sampai di tujuannya.

Begitu ia menginjakkan kaki di taman itu, ia memandang ke segala arah. Ada seorang gadis duduk sendirian di salah satu bangku taman. Ia menghampiri gadis itu.

“Kau mencariku, ya?” tanya gadis itu begitu menyadari seseorang mengganggu kesendiriannya.

Pria itu mengangguk. “Jikyung yang bilang padaku kau di sini.”

Gadis itu menatap sesuatu di depannya. “Sejak Joohae tidak ada, aku selalu ke sini setelah bekerja. Dan memandangi ini.”

Donghae ikut memandang sesuatu yang dipegang Minjung. Sebuah jam tangan.

“Aku juga mendapatkannya.” Donghae mengeluarkan sebuah jam tangan dari saku mantelnya.

Minjung mendengus. “Aku tidak percaya anak itu masih sempat berbelanja di saat-saat terakhirnya.”

Mereka memandangi jam tangan yang dipegang masing-masing. Warna keduanya sama, silver. Tapi berbeda model. Dan sepertinya itu dibuat khusus untuk mereka berdua.

“Harus kuakui, aku benar-benar tidak menyangka saat mendengar kabar itu. Bahkan sampai sekarang. Seolah aku merasa anak itu hanya sedang belajar di luar negeri saja. Aku sedih, tentu saja. Begitu juga dengan anggota Super Junior yang lain. Ada banyak janji-janji yang belum kami tepati untuk Joohae.”

Minjung berdehem, membiarkan air matanya jatuh begitu saja. Ia bicara sambil menangis. “Aku terus menangis selama seminggu ini. Apapun yang kulakukan, aku pasti menangis. Seakan-akan semua hal di sekitarku hanya mengingatkanku pada gadis itu. Yang paling parah ketika aku melamun. Tidak ada yang berani mendekatiku. They look at me like shit because of my tears. But I don’t care. Sungguh, aku belum bisa berhenti menangis. Joohae, dan segala hal tentangnya.. aish..”

Gadis itu menunduk, menutup wajah dengan kedua tangannya, dan menangis lagi. Donghae tidak bereaksi, untuk waktu yang cukup lama. 

“Kita harus merelakannya, Jung.” ujar Donghae merangkul bahu Minjung. Suaranya seperti terdengar dari jauh. “Aku juga terus saja menangis. Saat melihat wajahnya, saat penghormatan terakhir, dan saat pemakaman. Bahkan setelah tiga hari kepergiannya, aku hanya mengurung diri di kamarku dan menangis. Namun aku mulai menyadari satu hal. Dia tidak akan tenang jika kita seperti ini. Oke, kita memang kehilangannya. Tapi tetap kita harus merelakannya. Aku yakin anak itu juga tidak mau melihat kita terpuruk seperti ini.”

Minjung menoleh sepenuhnya ke arah Donghae. Dan melihat bahwa pria itu juga menitikkan air mata.

“Jadi kita harus menghentikan ini.” Donghae tersenyum, menyeka air mata Minjung dengan tangannya yang bebas. “Kita harus berusaha untuk tidak menangis lagi. Joohae-ku tidak boleh menderita karena kesedihan orang-orang tersayang nya.”

Minjung ikut tersenyum, lalu dia juga menyeka air mata pria itu. Dan memanggil. “Donghae-ah?”

“Hmm?”

“Aku janji, hari ini adalah terakhir kalinya aku menangis.” kata Minjung sungguh-sungguh. “Jadi.. bolehkah?”

Donghae mengangguk menyetujui.

Minjung menyandarkan kepalanya di bahu pria itu. Donghae tahu betul saat ini Minjung membutuhkan dirinya. Jadi ia memenuhi keinginan gadis itu. Membiarkan sahabatnya menangis dalam diam untuk yang terakhir kalinya. Dan berjanji pada dirinya sendiri, bahwa ini adalah tangisan terakhir, untuk keduanya.

 

End

Cerita ini terinspirasi dari kakakku, yang meninggal karena autoimun. Jadi kepikiran aja buat bikin ceritanya.

Aku minta maaf ya kalau ending-nya mengecewakan *oh, nobody’s care* :3

Advertisements

5 thoughts on “A ‘Good’ Bye 3 (END)

  1. Huaaa ceritanya bikin saya nangis tengah malam #tanggungjawathor 😭😭 kasihan joo hae nya punya penyakit sebegitu banyaknya ditmbah lagi proses penyembuhan super duper panjang.. tp ujung” nya joo hae nya meninggal 😭😭

    Liked by 1 person

    1. Wah, maafkan daku ya :3 Ini mengecewakan banget dan ngeselin sumpah -,- udah gitu feel nya gadapet lagi -_- huuu sekali lagi maafkan daku yahh :3 tapi aku nanti tetep bikin cerita Donghae Joohae kok, sebagai penghibur 😀 iya kalo emang menghibur :3

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s