A ‘Good’ Bye 2

escape-girl-postcards-from-far-away-running-away-sweet-escape-Favim.com-61017

He knows, his little sister is so genius, even to hide something from him. However, sooner or later, he knows the ‘something’ hiden by her.

1 | 2 | 3 (END)

***

SUATU sore di kota München. Dimana kita tidak akan pernah merasa asing dengan aktivitas kota yang padat. Orang-orang berjualan, kendaraan memenuhi jalan raya, dan suara-suara gaduh yang menginginkan berbagai hal. Bahkan saat menjelang malam, aktivitas di kota ini tidak menunjukkan tanda-tanda redup.

Lee Joo Hae berjalan pelan di trotoar. Ini benar-benar hari yang melelahkan. Ia memainkan kantong belanjaan di tangan, lalu berbelok masuk ke sebuah rumah. Ia membuka pintu, langsung merebahkan diri di sofa.

“Kim?” panggilnya.

“Segelas susu sapi murni tanpa gula?” jawab seseorang dari dapur.

Eung..” Joohae membenamkan wajahnya di sofa. Begitu ia mendengar sesuatu diletakkan di atas meja, ia langsung duduk tegak. “Terima kasih, Kim.”

“Oh, dengan senang hati, nona Lee.” gadis itu tersenyum. “Tapi aku akan lebih berterimakasih kalau kau mau belajar memanggilku ‘Eunhee’.”

Joohae tersenyum meminta maaf. Ia menghabiskan minuman itu dalam tiga tarikan napas.

Ya, apa kau selelah itu?” tanya Eunhee cemas. “Apa kampusmu harus melaksanakan gladi resik tiga kali? Kau tahu kan kalau besok adalah acara wisudamu dan kau tidak boleh terlalu capek?”

“Aku tahu.” Joohae menuangkan susu ke gelasnya. “Gladi resik sudah selesai. Hari ini aku nyaris mengunjungi seluruh butik di München hanya untuk mencari baju wisuda.”

Eunhee mengeluarkan isi kantong plastik yang Joohae bawa. Ia mendelik. “Kau mengelilingi seluruh München hanya untuk mencari.. ini?!”

Joohae menenggak susu, menyeka mulutnya. Lalu menatap Eunhee heran. “Memangnya kenapa?”

“Dasar aneh!” umpat gadis itu. “Tiga item ini adalah tipikal item yang bahkan dijual di butik depan stasiun! Aku benar-benar tidak tahu apa yang ada di otakmu saat ini!”

“Mereka menjual pakaian dengan warna-warna yang membuatku ingin muntah, kau tahu?” Joohae mengeluh. “Dan aku tidak tahu kenapa mereka kesulitan mencari ukuran celana untukku. Ya, apa aku sekurus itu?”

Eunhee terkekeh geli. Ia menepuk bahu Joohae. “Istirahatlah. Kau harus tampil mempesona besok. Kau tidak mau mengecewakan dosen, rektor, teman-teman, dan dua kakakmu kan?”

Joohae terdiam. Pikiran itu membuatnya tak bersemangat. Sungguh! Sejak dua hari terakhir, ia kesulitan menghubungi kakaknya, hanya untuk meminta kepastian apa keduanya datang pada acara wisudanya atau tidak. Padahal, beberapa bulan sebelumnya, setiap kali Joohae bertanya, mereka pasti akan menjawab dengan percaya diri bahwa mereka akan datang. Tapi sekarang? Mereka selalu mengalihkan pembicaraan, bahkan memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Membuat Joohae kesal dan mulai malas menanyai mereka.

Ia berdiri, menaiki tangga dengan gontai. “Bangunkan aku jam 6 besok, oke?”

☆☆☆

Eunhee meletakkan piring berisi tiga buah sandwich dan segelas susu strawberry hangat di meja makan. Ia menarik napas, dan berteriak dengan amat sangat kencang.

“JIKA KAU TIDAK MAU DITERTAWAKAN KARENA TAMPIL BERANTAKAN DI ACARA WISUDAMU, CEPAT BANGUN DAN BERSIAP!”

Gadis itu berdehem, lalu meminum segelas air. “Ohh, suaraku..”

Sesaat kemudian, ia mendengar bunyi pintu dibanting, suara percikan air, pintu dibanting lagi, teriakan frustrasi, dan beberapa bunyi gedebuk yang cukup keras. Di susul suara berisik seseorang menuruni tangga. Muncullah Lee Joo Hae yang sudah berpakaian rapi (dia cuma mengenakan kemeja sifon putih dan skinny jeans hitam, dan wedges sneakers hitam) dengan membawa ransel, topi, gordon, dan toga. Ia menaruh semua itu di sampingnya, kemudian menikmati sarapan secepat mungkin.

“Kau tidak perlu makan secepat itu karena acaranya baru dimulai tiga jam lagi!” tegur Eunhee.

“Aku harus mendandani teman-temanku!” kata Joohae disela-sela makannya. “Oh, ini enak sekali, Kim! Aku benar-benar tidak tahu bagaimana lagi aku harus berterimakasih padamu!”

“Sejak kau tinggal di sini, kau dan kakakmu terlalu sering berterimakasih padaku!”

Joohae tersenyum, menghabiskan sarapannya. Yah, Joohae bertemu dengan Eunhee saat hari ketibaannya di München. Ketika itu ia melihat Eunhee cukup kesulitan berbicara dengan satpam bandara, apalagi kalau bukan karena bahasa? Akhirnya, Joohae bertindak sebagai penerjemah bagi keduanya. Sebagai bentuk balas budi, Eunhee menawarkan Joohae untuk tinggal bersamanya. Dan sebagai bayaran, Joohae menjadi guru bahasa Jerman untuk Eunhee.

“Tapi kau terlalu banyak membantuku! Sungguh!”

Eunhee tersenyum simpul. Bukannya ingin sombong, ia memang telah banyak membantu Joohae. Begitu juga Joohae yang telah banyak membantu dirinya. Joohae selalu berkata kalau dia sangat beruntung bisa tinggal dengannya. Jujur saja, ia nyaris berperan sebagai ibu untuk adik artis itu. Ia memasak dan merawat Joohae dengan baik. Dan itu tentunya membuat Lee Dong Hae yang tinggal di Korea sana bisa bernapas lega karena sang adik tidak hidup urak-urakan di negeri orang.

Joohae memasukkan semua benda itu ke dalam ranselnya, lalu menuju pintu. “Aku berangkat, Kim!”

“Kau yakin tidak ada yang kau lupakan?”

Joohae menoleh dan mengangguk pasti.

Eunhee mengacungkan sebuah botol minuman transparan yang berisi sesuatu.

Joohae tersenyum, mengambil benda itu dari tangan Eunhee, dan keluar rumah.

☆☆☆

Gadis bermarga Lee itu berdiri dengan gelisah di barisan mahasiswa. Sebentar lagi gilirannya naik ke panggung dan ia tidak melihat tanda-tanda kemunculan Donghae dan Minjung. Ia sedang berusaha menghubungi mereka, namun keduanya sama sekali tidak menjawab telepon. Matanya mulai berkaca-kaca. Mungkinkah mereka tidak datang?

Pada saat itu, ada satu panggilan masuk untuknya. Gadis itu langsung menerima dan berbicara tanpa salam. “Oppa, apa oppa dan eonni akan datang? Sebentar lagi giliranku dan kuharap oppa dan eonni..”

Joohae-ah, mianhae..”

Bayangkan betapa kagetnya gadis itu sekarang. Ia mengedip-ngedipkan mata berkali-kali, tanpa mengucapkan apapun.

“Minjung harus lembur dan akhir-akhir ini jadwalku sangat padat.” Donghae menjelaskan. “Kau tidak marah kan?”

Setitik air mata gadis itu jatuh.

Joo-ah?”

Ne?” suara gadis itu langsung terdengar berbeda. “Tidak apa. Aku akan meminta Eunhee datang. Anyeong.”

Sambungan telepon terputus begitu saja. Ia memasukan ponsel ke saku, lalu menatap beberapa mahasiswa di depannya. Tidak, ia tidak akan menelepon Eunhee karena ia tidak mau merepotkan gadis itu. Gadis itu membiarkan air matanya mengalir, menangis dalam diam, meski sesekali terdengar isakan kecil.

Ketika di depannya tersisa dua orang, Joohae cepat-cepat menyeka air mata dan menormalkan suaranya. Sudah cukup ia dipandang aneh oleh teman-temannya, ia tidak mau diwawancarai dosen dan rektornya. Ia menatap beberapa temannya yang sudah diwisuda, yang tengah berfoto bersama keluarga mereka. Sekali lagi, ia tidak ditemani siapapun saat wisuda. Padahal ia mengira ia hanya merasakan kesedihan itu saat mendapat gelar sarjana di Inggris. Tetapi ternyata, ia harus merasakan kesedihan yang sama saat mendapat gelar magister di Jerman.

Ia melangkah menaiki panggung, berdehem, menerima ijazah, dan bersalaman dengan rektor seraya terus tersenyum melihat ke semua kamera yang memotretnya.

Baru pada saat itu, ia menyadari satu hal.

Di antara sekian banyak orang yang memotret dirinya, ada dua orang yang menarik perhatian.

Ia nyaris meneriaki sang rektor dan menyakiti tangan orang tua itu.

☆☆☆

Ya, apa ini tidak berlebihan? Kau tahu benar apa yang akan terjadi pada Joohae kalau kau melakukan ini!”

Hwang Min Jung berdiri di depan cermin, menata rambutnya. Ia mengenakan jepit, memoles wajahnya dengan sedikit bedak dan lipstik. Di belakangnya, Lee Dong Hae tengah mengancingkan kemeja.

“Percayalah padaku, nona Hwang..” Donghae kini berdiri di samping Minjung ― di depan kaca­ ― seraya menata rambut. “Dia pasti akan sangat terkejut.”

“Kau tahu aku tidak pernah menyetujui ini.”

“Aku tidak pernah memintamu berpendapat tentang rencanaku.”

Minjung mendengus kesal.

Kajja!”

Minjung mengambil kameranya, lalu keluar dari kamar. setelah menerima kunci kamar dari Donghae, mereka bersama-sama menuju lobby. Perlu kalian ketahui bahwa karena Minjung yang membayar sewa hotel (ia cukup tahu diri karena Donghae telah berbaik hati mau membayar tiket pesawatnya), ia memesan satu kamar dengan dua tempat tidur untuk menghemat biaya.

Empat puluh lima menit kemudian, mereka telah berada di auditorium Technische Universität München.

Donghae tersenyum, dengan mata tertuju pada seseorang di barisan mahasiswa. “Itu dia.” ujarnya. “Ohh.. adik kecilku cantik sekali..”

Minjung melirik Donghae malas. Terlebih ketika pria itu menelepon sang adik. Sontak saja, Joohae langsung berbicara, bahkan tanpa salam.

Oppa, apa oppa dan eonni akan datang? Sebentar lagi giliranku dan kuharap oppa dan eonni..”

“Joohae-ah, mianhae..” ucap Donghae dengan nada sedih yang dibuat-buat.

Sejenak tidak ada suara dari sana. Karena muak melihat Donghae, Minjung memilih untuk mengamati pergerakan Joohae dari kejauhan.

“Minjung harus lembur dan akhir-akhir ini jadwalku sangat padat.” jelas Donghae. “Kau tidak marah kan?”

Tidak ada jawaban.

“Joo-ah?”

Ne?” Minjung benar-benar menyadari perubahan suara gadis itu. “Tidak apa. Aku akan meminta Eunhee datang. Anyeong.”

Sambungan telepon terputus. Pria itu menyeringai.

“Donghae-ah?”

Pria itu menyikut sebagai jawaban.

“Kau keterlaluan.” Minjung berkata tanpa memandang pria itu. Ia melihat Joohae tengah berjuang menghapus air matanya.

“Tenang saja. Dia pasti akan sangat senang setelah ini.” Donghae mengajak Minjung mendekati panggung. “Kau potret dia, eoh?”

Eoh.” Minjung memutar bola mata malas, mengangkat kamera, mulai memotret.

Berjalan dengan tenang, Lee Joo Hae menerima ijazah dan berjabat tangan dengan rektor sambil tersenyum. Gadis itu mengamati semua orang, terus tersenyum ke arah kamera.. dan mendelik ketika menyadari Minjung tengah memotretnya.

Dan Donghae yang melambaikan tangan padanya.

Mereka bisa melihat gadis itu nyaris menyakiti tangan sang rektor.

Joohae berusaha bersikap senormal-normalnya. Jadi ia berjalan seanggun mungkin menuruni panggung, lalu berlari dengan kalap kea rah Donghae. Melompat ke gendongan pria itu, memeluk dengan erat, dan menangis meraung-raung di sana.

Donghae terdiam.

“Sudah kuduga.” kata Minjung sangsi.

Pria itu membalas pelukan Joohae, mengusap-usap punggung dan mengecup puncak kepala gadis itu beberapa kali. Ia memang akan menduga adiknya menangis, tapi tidak se-menyedihkan ini. Raungan gadis itu membuat hatinya terluka. Setiap tangisan hanya akan membuatnya merasa sakit.

Minjung benar. Ia sangat keterlaluan.

“Joohae-ah, kau tahu? Aku sudah memperingatkan kakakmu sebelumnya, tapi dia tidak mau dengar.”

“Berhentilah merusak suasana, nona Hwang.”

Minjung mencibir kesal.

Donghae kembali menenangkan sang adik, seraya terus menggumamkan kata ‘maaf’ berkali-kali. Cukup lama ia berjuang, sampai akhirnya Joohae turun dari gendongan dan melepas pelukan.

Ia mengambil kamera dari Minjung dan memberikannya pada Donghae. “Tolong potret kami.” pintanya lebihkepada perintah daripada permintaan.

Pria itu menerima kamera dengan ekspresi kaget luar biasa. “Kau marah?”

“Potret saja, tuan Lee..” Minjung menyeringai jahat. Ia membantu Joohae menghilangkan sisa-sisa tangisan di wajah, lalu keduanya berpose. Dan keduanya bertindak seakan-akan Donghae tidak akan dapat kesempatan berfoto.

Eonni, mau mengunjungi Eunhee?” ajak Joohae setelah berfoto. Ia melangkah mendahului keduanya. Minjung menyusul gadis itu. Donghae terpaku di tempatnya, berdiri dengan perasaan terluka.

“Joohae-ah?” Donghae memanggil.

Gadis itu berhenti.

“Jika kau marah padaku, katakanlah. Jangan diam seperti ini.” pria itu berkata sedih. “Harus kuakui, aku bertindak terlalu jauh. Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu sangat bersedih. Hanya ingin mengejutkanmu setelah dua tahun kita tidak bertemu. Baiklah, aku memang bersalah. Aku minta maaf. Setidaknya katakana sesuatu, kumohon..”

Gadis itu berbalik sambil terkekeh geli. Membuat Minjung dan Donghae kebingungan.

Ya, oppa.” Joohae menghampiri sang kakak. “Kenapa oppa masih gampang tertipu, huh?”

Donghae melongo, lalu menatap keduanya kesal. “YA!”

Joohae memeluk sang kakak sembari tertawa terbahak-bahak. Donghae menjitaknya, tapi ia malah tertawa semakin keras. Gadis itu menggosok-gosok hidungnya ke pipi sang kakak, persis seperti anak kucing yang ingin dimanjakan oleh pemiliknya.

Minjung hanya tersenyum melihat tingkah keduanya.

Oppa, wae?” Joohae menengadah. “Kenapa oppa gampang tertipu olehku?” ia mengecup pipi sang kakak berkali-kali. “Mianhae.” ucapnya dengan nada riang. “Jangan tunjukkan wajah seperti tadi padaku, eoh? Itu lucu sekali.”

“Gadis nakal!” sungut pria itu memeluk dan memutar-mutar tubuh sang adik.

Minjung mengambil kamera dari pria, lalu memotret keduanya.

☆☆☆

Lee Dong Hae melajukan kendaraannya dengan santai. Ia tidak terburu-buru, tentu saja. Ia hanya ingin menjemput sang adik di kantornya. Dan ini merupakan kejutan. Karena Joohae sama sekali tidak tahu bahwa ia tidak akan membayar bus hari ini. Ia tersenyum geli membayangkan wajah terkejut adik kecilnya.

Seperti biasa, ia akan berhenti di halte tempat Joohae dan temannya biasa menunggu. Lalu ia beralih memandang pintu kantor. Melihat bahwa Min Eun Joo berjalan sendirian.

Sendirian?!

Donghae memandang gadis itu dengan kebingungan. Begitu pula dengan Eunjoo.

“Donghae oppa?!” gadis itu berlari mendekati pria itu. “Kenapa oppa ada di sini?! Joohae sudah pulang dari tadi!”

MWO?!”

“Dia pingsan enam kali dalam lima jam. Karena itu bos menyuruhnya pulang dan beristirahat.”

Donghae terlihat kaget setengah mati. “MWO?!”

“Tidakkah oppa tahu tentang hal ini?” Eunjoo bertanya. “Dalam sehari setidaknya Joohae bisa bertahan empat jam, selebihnya bos akan menyuruhnya istirahat atau dia akan dipulangkan lebih awal. Jadi, bos akan langsung tahu kalau Joohae tidak pergi bekerja.”

“Joohae pernah tidak pergi bekerja?!”

Eunjoo mengangguk. “Selama sebulan sejak dia kembali bekerja di sini..” ia menggunakan jemarinya untuk menghitung. “.. setidaknya sudah dua belas hari dia tidak masuk.”

Sungguh, Donghae benar-benar terkejut dengan hal ini.

“Terima kasih!” pria itu langsung memacu kendaraannya. Ia melangkah dengan terlalu terburu-buru menuju apartemen gadis itu. Menekan sandi dan membuka pintu dengan tidak sabar. Ketika sudah berada di dalam, ia mendapati sang adik tengah menonton televisi.

“Joo?!”

Wae?” jawab gadis itu tanpa menoleh. “Aku agak merasa kurang sehat. Karena itu aku tidak bekerja hari ini.”

“Yeah, Eunjoo sudah mengatakan semuanya padaku.” Donghae duduk di samping sang adik.

MWO?!”

“Sekarang, katakana padaku.” pria itu memojokkan Joohae. “Sudah berapa lama kau seperti itu? Dan kenapa kau tidak mengatakannya padaku?!”

“Itu cuma kelelahan yang biasa, oppa.” gadis itu berusaha menenangkan kakaknya. “Tidak apa.”

“Apa pingsan enam kali dalam waktu lima jam adalah kelelahan yang biasa?!”

Joohae membelalak terkejut.

Donghae merengkuh tubuh gadis itu, menyadari bahwa gadis itu mulai kehilangan sedikit isi tubuhnya. Ia membenamkan wajah di bahu kecil itu, membiarkan satu tangannya berada di kepala sang adik, mengusapnya. “Aku terlalu sibuk bekerja sampai aku lupa memperhatikanmu..” ucapnya lirih. “Mianhae..”

Gadis itu menghela napas. “Oh ayolah, aku hanya butuh istirahat.” ia melepas pelukan, tersenyum. “Oppa bekerjalah. Aku akan tidur seharian dan besok aku sudah sehat kembali.” ia mengecup kilat pipi pria itu lalu berbisik. “Percayalah padaku.”

Donghae melihat sang adik berdiri, lalu melangkah dengan pelan. Ia hendak meninggalkan apartemen itu ketika mendengar suara gedebuk di belakangnya.

Saat ia berbalik, ia melihat Lee Joo Hae tergeletak di lantai, tak sadarkan diri.

☆☆☆

Cahaya lampu yang begitu terang menyinari seorang gadis yang terlelap. Perlahan, mata gadis itu terbuka. Awalnya, ia hanya melihat samar-samar semua hal di sekitarnya, sampai akhirnya mata gadis itu mulai menyesuaikan keadaan sekitar. Ada satu orang berada di dekatnya. Perasaan lega terpancar di wajahnya.

Hwang Min Jung menekan tombol hijau di samping tempat tidur Joohae, lalu ia menelepon seseorang. “Dia sudah sadar.”

“Baik, aku akan ke sana.”

Minjung mengakhiri telepon. Ia memandang Joohae, yang balik memandangnya heran. “Kau pingsan selama lima hari. Entahlah. Apa itu bisa disebut pingsan, atau koma? Aku juga tidak tahu. Satu hal yang pasti, kau membuat Donghae uring-uringan.”

Jinjja?!”

Minjung mengangguk. “Apa kau sering mengalami hal ini saat berada di Jerman?”

Joohae tampak gugup, lalu menggeleng.

Seorang dokter mendatangi mereka. Minjung berdiri, menonton si dokter memeriksa mata, mulut, telinga, dan suhu tubuh Joohae. Lalu si dokter akan bertanya. ‘Apa yang kau rasakan?’, ‘Apa lidahmu terasa pahit?”, “Apa kau merasa bingung?’, “Apa pandanganmu kabur?’, dan beberapa pertanyaan aneh lainnya.

Setelah semua itu, si dokter menghela napas, kemudian beralih memandang Minjung. “Bisa kita bicara sebentar?”

Minjung mengangguk, berjalan mengekori si dokter, meninggalkan Joohae untuk sementara waktu. Untuk menyibukan diri, Joohae memainkan ponselnya.

“Ah, sepertinya aku punya penyakit baru lagi..”

☆☆☆

Donghae berlari menyusuri koridor rumah sakit dengan terburu-buru. Ia hanya tersenyum sekilas ketika orang-orang di sana menyapanya. Bukan bermaksud tak peduli, hanya saja sekarang bukan saat yang tepat untuk bertegur sapa. Kita tahu apa yang terjadi lima hari lalu kan?

Siapa sih yang tidak panik jika kau melihat seseorang berjalan lalu tiba-tiba pingsan begitu saja? Saat itu, Donghae langsung membawa sang adik ke rumah sakit. Ia menunggu dengan gelisah ketika dokter memeriksa gadis itu, namun ia cukup terkejut karena saat itu Joohae belum sadar. Parahnya lagi, dokter tidak bisa memperkirakan kapan gadis itu akan bangun.

Selama empat hari terakhir, Donghae selalu mencoba fokus untuk melakukan apa saja. Namun sayangnya, setiap hal yang ia lakukan hanya akan mengingatkan dirinya bahwa sang adik tengah tak sadarkan diri. Ia beruntung kegelisahannya itu tidak terbaca saat ia sedang bekerja, meski semua anggota Super Junior tahu apa yang terjadi. Dan mereka tidak pernah ― bahkan tidak mau ― mengingatkan Donghae tentang hal itu.

Tetapi sekarang, entah mengapa Donghae bisa bernapas lebih baik dari sebelumnya ketika Minjung mengabarinya bahwa Joohae sudah sadar.

Donghae langsung bergegas ketika memikirkan hal itu. Ia keluar dari lift, mempercepat langkah, lalu mendadak berhenti karena melihat Minjung tengah serius bebicara dengan seorang dokter di depan ruang rawat Joohae.

Ia menghampiri Minjung tepat setelah si dokter pergi.

“Tidak biasanya kau mendengar dengan serius ucapan seorang dokter.” Donghae membuka pembicaraan. “Terakhir kali kau dirawat, kau nyaris membuat salah seorang perawat dipecat.”

Minjung memutuskan untuk mengabaikan ejekan itu. “Jika aku tidak menyimak, aku tidak akan bisa menjelaskan padamu betapa seriusnya penyakit Joohae!”

Donghae mengutip empat kata terakhir dan bereaksi. “Mworago?!”

“Gadis itu menderita anemia hemolitik.” kata Minjung. Saat melihat reaksi sahabatnya, ia mendengus geli. “Aku benar kan? Mendengar namanya saja kau sudah terlihat seperti orang bodoh.”

Menyadari Minjung balik mengejeknya, Donghae merengut. “Teruskan.”

“Penyakit ini menyerang darah. Yeah, kita bisa tahu dari namanya. Tapi ini bukan anemia biasa. Kau tahu? Sel darah manusia berumur 120 hari, dan setelah itu sel darah akan mati dan digantikan dengan sel darah baru. Namun Joohae memiliki umur sel darah yang lebih pendek dari itu, sehingga sel darah Joohae lebih cepat mati pada saat sumsum tulang belum memproduksi darah baru untuknya. Dengan kata lain, itu menyebabkannya kekurangan darah.”

“Itu menjelaskan kenapa dia bisa pingsan enam kali dalam waktu lima jam.”

Minjung mengangguk membenarkan. “Dan kau tahu? Salah satu penyebab penyakit ini adalah hepatitis.”

Donghae mengerutkan kening. “Maksudmu, dia pernah sakit sebelumnya?”

“Bahkan hepatitisnya belum sembuh sampai sekarang.”

Mata Lee Dong Hae menjadi selebar piring terbang.

“Sekarang kita tahu Joohae menyembunyikan penyakitnya dari kita. Ini benar-benar menjawab pertanyaanku.”

“Pertanyaan tentang apa?”

“Kau masih ingat Kim Eun Hee?”

Donghae mengangguk.

“Dia dan Joohae kuliah di tahun yang sama ‘kan? Masuk dan mulai belajar pada hari yang sama ‘kan? Walaupun berbeda tempat kuliah dan jurusan?”

Pria itu kembali mengangguk.

Minjung menyeringai. “Apa kau tidak merasa aneh? Apa kau tidak terganggu dengan fakta, ‘Eunhee lulus enam bulan lebih dulu dari Joohae’, sementara kau tahu betapa jeniusnya adikmu itu?”

☆☆☆

Lee Joo Hae menatap kantung darah, menyusuri tiap tetes darah dari selang kecil itu memasuki tubuhnya. Ia memejamkan mata, merasa sedikit pening. Dalam waktu sehari, ia sudah mendapat donor sebanyak empat kantung darah. Rasanya luar biasa, setidaknya. Perlahan, ia merasakan genggaman lembut seseorang di tangannya.

“Aku mau duduk.” katanya.

Dengan sigap, Donghae membantu gadis itu. Namun sekonyong-konyong, ia menyadari bahwa gadis itu mulai merasa pusing dan kembali memejamkan mata dalam beberapa detik. Setelah itu Joohae akan memandangnya seolah ia tidak tahu bahwa ia baru saja kehilangan kesadaran.

Pria itu mendesah, sudah mulai ‘terbiasa’ dengan keadaan ini. Yah, melihat keadaan Joohae yang seperti ini bukan baru baginya. Mengingat gadis itu sudah berada di rumah sakit selama empat bulan.

“Joo-ah?”

Gadis itu mengangkat alis.

“Apa kau mau aku mengajukan cuti? Agar aku bisa merawatmu dan terus berada di dekatku?”

“Tidak.” Joohae menggeleng cepat. “Kumohon, jangan.” lirihnya. “Sudah cukup aku membuat oppa, paman, bibi, dan lainnya bersedih. Aku tidak mau membuat penggemar oppa bersedih karena oppa tidak tampil bersama Super Junior. Mereka menunggu oppa wajib militer saja sudah cukup lama, bagaimana denganku yang tidak pasti? Kumohon jangan.. oppa tidak boleh hiatus, atau aku tidak akan mau minum obat lagi.”

Ya!” Donghae menjitak kepala gadis itu. “Kau mengancamku?!”

Tiba-tiba, Joohae memejamkan mata, memegang kepala nyaris menjambak rambutnya sendiri. Donghae yang melihat itu langsung berubah khawatir. Ia hendak menyuruh gadis itu beristirahat ketika gadis itu mengangkat kepala, memandangnya dengan senyum nakal.

Oppa tertipu ya?”  ucapnya jahil.

YA!” teriak Donghae. Gadis itu tersenyum, lalu tertawa terbahak-bahak. Ia memegangi perutnya untuk meminimalisir tawa tersebut.

Namun, ia malah kembali tak sadarkan diri selama beberapa menit.

☆☆☆

Membuka album foto dengan begitu perlahan, Donghae memandang lama wajah Lee Joo Hae di sana, yang masih dipenuhi tawa dan senyuman. Entahlah. Bahkan saat dia terbaring di rumah sakit pun gadis itu masih bisa tersenyum dan tertawa, tetapi itu sudah berbeda di mata Donghae. Tidak ada yang lebih baik selain melihat gadis itu kembali sehat. Setidaknya itu yang diharapkan Donghae saat ini.

Leeteuk, Eunhyuk, Shindong, dan Heechul bergabung dengan Donghae yang memang tengah berada di ruang tengah. Donghae meletakkan album di meja, membiarkannya terbuka.

Eunhyuk mengambil album itu, membolak-balikkannya. “Dia tampak sangat cantik, kau tahu?”

“Entah kenapa, aku merindukan anak itu.” ujar Shindong. “Rasanya ada yang aneh jika dalam sebulan kami tidak makan bersama.”

“Bagaimana keadaannya?” Leeteuk bertanya.

“Dalam sehari, dia akan mendapat donor darah empat atau lima kantung.” mulai Donghae. “Dan dia akan kehilangan kesadaran selama beberapa detik setelahnya, itu juga berkali-kali. Entahlah. Jika kalian punya waktu untuk menjenguknya, kalian tidak akan menyangka dia sedang sakit. Dia masih bermain ponsel, berbicara dengan pasien lain, makan dengan baik, tertawa bersama sahabatku, bahkan mengerjaiku, seperti orang sehat pada umumnya. Terkadang aku merasa dia akan secepatnya sembuh, dan terkadang aku merasa sebaliknya.”

Ia tersenyum. “Kalian tahu? Aku sempat meminta izinnya untuk hiatus agar aku bisa merawatnya. Tapi apa? Dia menolak mentah-mentah gagasan itu. Dan kalian tahu kenapa? Dia hanya tidak mau melihat para ELF bersedih karena ketidakhadiranku dalam setiap event bersama Super Junior. Seolah dia hanya ingin dirinya yang menderita, orang lain tidak boleh.”

Ia melirik wajah Joohae di album. “Bahkan saat sakit dia masih bisa memikirkan orang lain. Lihat betapa keras kepalanya dia.”

Empat pria itu tidak bereaksi. Tidak, mereka tahu Donghae tidak ingin mengatakan ‘keras kepala’. Ada satu kata yang tersirat dalam kalimat terakhir Donghae dan mereka menyadarinya.

Karena mereka tahu, bahkan merasakan, Lee Joo Hae memiliki hati bak malaikat. Dibalik semua kegilaannya.

Pada saat itu, ponsel Donghae berdering. Minjung menelepon. Donghae mengubah mode panggilan ke loudspeaker, meletakkan ponsel di meja.

“Apa?”

“Kau tidak di rumah sakit?”

“Aku meminta bibiku yang menjaganya.”

“Bagaimana keadaannya?”

“Sama seperti terakhir kali kau melihatnya.”

Hening sejenak.

“Donghae-ah, kau tahu? Aku mendapat informasi baru dari Eunhee!”

“Bahwa Joohae menderita hepatitis selama enam bulan?”

“Tidak.”

“Lalu?”

“Bahwa Eunhee tidak tahu kalau Joohae punya penyakit hepatitis.”

“Apa maksudmu?”

“Joohae memang pernah sakit selama enam bulan di Jerman, tapi itu bukan hepatitis.”

 

-To Be Continued-

Advertisements

8 thoughts on “A ‘Good’ Bye 2

  1. Di pertengahan cerita senyum” sendiri sama sikap kakak adik ini , jd ngebayanin klu seandainya aku yg jd lee joo hae 😄😄 ah pasti seneng bgt klu punya oppa kayak donghae 😄

    Tapi pas tau joo hae sering pingsan bahkan 6x dalam 5 jam dan penyakitnya kok jd sedih yaa. Kasihan bgt joo hae harus ngerasaain penyakit kayak gitu 😭 dan lebih parah lagi kalau joo hae bukan mengidap penyakit hepatitis trus penyakit apa ?? Mudah”an penyakitnya gak parah

    Oh ya untuk next chapter nya ditunggu secepatnya ya thor , jangan lama-lama 😁😁😁

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s