Starving

starving

Just another absurd story for celebrating Siwon’s birthday.

***

TANGAN gadis itu menggapai-gapai nakas di samping tempat tidurnya dengan susah payah. Sampai akhirnya ia mendapatkan sebuah jam kecil, dan memandangnya dengan kantuk berat. Jam 2 lewat 30 menit. Waktu yang bahkan belum bisa disebut pagi, atau malah subuh. Ia memejamkan mata, merasakan perutnya yang terus bergemuruh.

Ia menyibak selimut dengan pelan, berusaha untuk tidak membangunkan pria tampan yang tengah tertidur nyenyak di sampingnya. Ia berdiri, berjalan dengan linglung. Yeah, gadis ini benar-benar mengantuk, dan ia benar-benar lapar. Maka dari itu, ia butuh waktu untuk sampai ke pintu, setelah menabrak lemari, sofa, dan meja rias. Saat dirasanya sudah sampai di dekat pintu, ia malah menabrak dinding berkali-kali.

“Eunri-ya? Wae?”

Gadis itu terdiam. Bermaksud untuk tetap diam, ia malah membangunkan prianya.

Siwon menyibak selimut, menghampiri Eunri. Ia mengamati tubuh gadisnya. “Apa yang kau tabrak sehingga lengan, kaki, dan dahimu langsung memar?”

Eunri menjawabnya dengan erangan khas orang mengantuk.

Siwon berdecak, membukakan pintu untuk gadis itu. Ia menuntun gadis itu menuju ruang makan.

“Kau lapar kan?” Siwon bertanya. “Jadi biarkan aku memasak ramen untukmu.”

Eunri mengangguk, menjatuhkan kepalanya di meja makan.

Siwon tersenyum, lalu mulai membuat ramen untuk satu orang. Begitu selesai, ia langsung memberikannya pada Eunri.

Bahkan hanya untuk memegang sumpit, Eunri tidak bisa saking mengantuknya.

Siwon menangkup wajah gadis itu, meraih bibir favoritnya, mengulum dengan lembut dan sedikit membuat sentakan agar Eunri bisa bangun sepenuhnya.

“Makan dengan benar atau aku akan menyuapimu dengan mulutku.” ancamnya setelah puas membuat bibir favoritnya kemerahan.

Gadis itu langsung membelalak. Ia menikmati makanannya dalam diam.

Setelah itu, ia membiarkan Siwon menuntunnya menuju tempat tidur. Dan tidak butuh waktu lama bagi gadis itu untuk langsung terlelap.

Siwon menagamati wajah Eunri yang sudah tertidur. Ia mengusap kepala gadisnya lembut.

Dan mulai menyadari kalau dirinya juga lapar.

Dengan gerakan selembut sutra, ia keluar dari kamar, menuju dapur, dan memasak ramen untuk dirinya sendiri.

 -End-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s