Yours, Mine, and Mine

awesome-bella-bella-swan-boy-Favim.com-537979

Inspired by one of Spongebob’s episode: Yours, Mine and Mine.

***

“LOOSING HIM WAS BLUE, LIKE I NEVER KNOWN!”

Pagi ini Eunhyuk dibangunkan oleh suara musik yang sangat keras dari luar kamarnya. Ia mengerang, lalu menarik selimut untuk menutupi wajah. Tiga hari yang lalu, ia pergi ke Jepang untuk menemui orangtuanya karena ada yang harus mereka bicarakan. Dan baru pagi tadi ia tiba di Incheon, dan ia hanya tidur tiga jam! Oh ayolah, haruskah ia dibangunkan dengan cara seperti ini? Yang benar saja!

“BUT LOVING HIM WAS RED!”

Eunhyuk bangkit, menyibak selimut dengan kasar, membuka pintu kamar. Musik malah mengalun semakin kencang. Matanya yang setengah mengantuk melihat sepupunya tengah menari sembarangan sambil membersihkan perabotan, menikmati musik yang membuat jantung laki-laki bermarga Lee ituu berdentam-dentam akibat volume yang mencapai maksimum.

Laki-laki itu melihat ponsel dan active speaker diletakkan di meja ruang tengah. Ia menghampirinya, mematikan musik dengan sebal.

Byul — yang tengah membersihkan perabotan — menghentikan tarian abstraknya. Ia berbalik, melihat Eunhyuk yang menatapnya kesal.

“Puas?” ucap Eunhyuk jengkel.

“Maafkan aku, sepupu tercintaku.” Byul memasang tampang menyesalnya — yang bagi Eunhyuk bisa membuat siapapun muntah — lalu berkata dengan nada tak kalah menyesal. “Hari ini adalah jadwalku untuk bersih-bersih. Dan aku tidak ingin capek sendirian.”

Eunhyuk mendengus, terlalu mengerti maksud sepupunya yang tersirat itu. Ia menguap lebar. “Kau tahu ‘kan jam berapa aku sampai?”

“Ayolah..” Byul memelas. “Jika rumah ini tidak bersih sebelum ibuku kembali, ibuku akan meminta nenek membatasi persediaan es krim dan keripikku..” gadis itu mengerutkan bibir, memandang sang sepupu penuh harap. “Kau mau membantuku ‘kan?”

Eunhyuk mengerang. Harus ia akui ia sangat lelah dan mengantuk, tapi gadis ini membuatnya tidak bisa melakukan apa-apa selain menuruti permintaannya.

Ia menuju kamar mandi dengan gontai. Sebelum membanting pintu kamar mandi, ia berteriak. “Kalau kau butuh bantuan, bangunkan aku dengan cara yang lebih etis!”

“Aku sudah berusaha untuk membangunkanmu tadi!” Byul balas berteriak. “Membujuk dengan lembut, memukul menendang, menampar, sampai mencabut bulu kakimu! Dan itu sama saja!”

Beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Menampakkan Eunhyuk dengan wajah basah. Sebuah handuk kecil melingkari lehernya. “Mencabut bulu kaki?”

Byul mengangguk.

Eunhyuk menatap kakinya, mendelik saat melihat perbedaan mencolok antara kaki kiri dan kanan. Ia menatap sepupunya ternganga.

Gadis itu tersenyum polos. “Hei, kakimu bagus juga kalau tidak ada bulu kaki. Sepertinya aku harus menyelesaikan yang kanan, supaya serasi..”

Eunhyuk menendang keras bokong gadis itu.

YA!” Byul memekik.

Wae?!” balas Eunhyuk sengit. “Lihat apa yang kau lakukan pada kakiku!”

“Siapa suruh kau tidak mau bangun?!”

Eunhyuk menghela napas pasrah. Tidak ada gunanya berdebat dengan orang gila. “Baiklah.” ia berkata. “Aku membersihkan rumah, dan kau mengurus halaman.”

Byul tersenyum lebar, memberikan kain lap pada laki-laki itu, berjalan ke luar. Di ambang pintu, ia berhenti. “Oh ya. Aku belum menyapu dan mengepel. Piring juga belum dicuci. Bersihkan semua kamar ya!”

Pintu berayun menutup. Diiringi gerutuan Eunhyuk.

☆☆

“I’M TOO HOT, HOT DAMN!”

Eunhyuk bisa mendengar musik yang diputar Byul di luar. Dari jendela, ia melihat gadis itu menyiram bunga seraya menari sembrawutan, memutar-mutar selang seperti sedang bermain rodeo, menyapu dan merapikan tanaman tanpa sedikitpun bisa diam. Ia berdecak prihatin. Segila inikah sepupu tercintanya?

Ia membersihkan peralatan makan. Ia masih kesal dengan Byul, apalagi setelah tahu betapa tidak berperikemanusiaannya gadis itu dalam membangunkannya. Lihatlah kedua kakinya! Seperti zebra cross!

Eunhyuk menyusun peralatan makan, mengeringkan tangan. Ia berdiri di ambang pintu dapur, memandang rumah dengan puas. Akhirnya ia bisa beristirahat dengan tenang.

Dan memikirkan cara untuk membalas Byul.

☆☆

Begitu selesai mengurus halaman, Byul mematikan musik. Ia membereskan semua peralatan ― selang, sapu, gunting kebun, sekop kecil ― meletakannya di gudang peralatan. Ia mencuci tangan dan kaki, dan masuk ke dalam rumah. Ia tersenyum. Rumah sudah bersih dan rapi.

Senyum itu pudar ketika ia sampai di ruang tengah.

Eunhyuk tengah menonton televisi sambil tertawa-tawa, menikmati es krim dan keripik kentang. Ada beberapa bungkus kosong keripik dan beberapa cup es krim di meja.

Byul menghampiri televisi, mematikannya dengan kasar. Tatapannya pada Eunhyuk begitu menghunus. “Kenapa kau memakan es krim dan keripik kentangku?!” kata Byul mengerikan.

“Ini punyamu?” Eunhyuk mengacungkan bungkus keripik yang sudah kosong. “Kukira ini punyaku karena aku menemukannya di kamarku.”

Mata Byul memanas saat Eunhyuk membuka bungkus keripik baru. “Kau menemukannya di kamarmu, atau kau mengambil semuanya dari lemariku?!”

Byul masuk ke kamarnya. Beberapa menit kemudian, ia sudah menarik baju Eunhyuk agar laki-laki itu berdiri.

“Ada sebelas bungkus keripik dan tujuh cup es krim di lemariku!” Byul melepas cengkeraman di baju sepupunya. “Dan sekarang, es krim dan keripikku tinggal dua!”

Eunhyuk menelan ludahnya dengan susah payah.

“Lee Hyuk Jae,” Byul berujar sadis. “Ke mana semua makananku?!”

Sebagai jawaban, Eunhyuk berlari mengelilingi rumah.

“KEMBALIKAN SEMUA MAKANANKU!” pekik Byul mengejar Eunhyuk.

Dan pertarungan antara seorang taekwondo-in pemegang sabuk hitam dan seorang yang bahkan sama sekali tidak mengerti satupun gerakan taekwondo pun terjadi.

☆☆

“Kau menggunakan semua teknik taekwondo-mu hanya karena Eunhyuk memakan beberapa es krim dan keripik kentangmu?!”

Minjung berkacak pinggang memarahi Byul. Saat pertengkaran antarsepupu itu terjadi, Eunhyuk langsung menelepon Minjung, membiarkan gadis itu mendengar teriakan, pekikan, dan tendangan di telepon. Tanpa menunggu apapun, Minjung segera menuju rumah Byul.

Eunhyuk terbaring lemah di tempat tidurnya, dengan memar di wajah, lengan, pinggang, punggung, paha, dan betis. Byul duduk di sampingnya, mengompres semua lebam itu ― atas paksaan Minjung.

“Beberapa?!” balas Byul kesal. “Persediaan makananku habis karena dia!”

Saking kesalnya, Byul mengompres lebam di lengan Eunhyuk dengan keras, sehingga laki-laki itu berteriak kesakitan.

“Rasakan itu.” desis Byul. “Siapa suruh mengambil punyaku?!”

Ya, pikyeo!” titah Minjung bertukar tempat dengan Byul. “Kau hanya akan membunuh sepupumu!”

“Memangnya aku peduli?!” tukas Byul melipat tangan di depan dada. “Aku akan memaafkannya kalau dia mau mengembalikan semua makananku!”

Ya, bukannya kau sendiri yang bilang, milikmu adalah milikku, dan milikku adalah milikmu?!” kali ini Eunhyuk bicara.

Gadis itu mencibir. “Enak saja! Itu hanya berlaku untuk komik!”

Eunhyuk mendengus.

Byul keluar kamar, kembali memutar musik dengan keras. Melanjutkan tarian abstraknya.

“GIVE IT TO ME I’M WORTH IT!”

Minjung menghela napas. “Hanya Kyuhyun yang bisa mengendalikan gadis ini..”

Eunhyuk memilih untuk diam, membiarkan Minjung mengobatinya.

 

-End-

Advertisements

2 thoughts on “Yours, Mine, and Mine

    1. So you enjoy reading all of my stories? Such a honour for me to know there’s a reader from another country beside of mine 😊😊 It seems like I thank to you because you wanna waste your time to read all of mine 😊😊😊 thank you for being my reader and hope you always enjoying my stories 😊😊😊

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s