Everything Has Changed 4

everything-has-changed-taylor-swift-35296961-1191-669nce97g ce

Inspired by two friends’ song, Taylor Swift and Ed Sheeran.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 (END)

***

MIN So Eun.

Pertama kali aku melihat gadis itu di sebuah perkumpulan suatu olahraga. Aku lupa olahraga apa itu, karena aku tidak sempat melihat papan tandanya, dan dia keluar dari tempat itu tanpa menggunakan seragam olahraga apapun. Aku baru saja ingin mengikutinya kalau saja ibuku tidak memanggil.

“Oh Kyu, apa yang kau lakukan?! Apa kau akan membuat ayahmu uring-uringan lagi karena lapar?! Ayo, pulang!”

Aku menghela napas, dan berbalik masuk ke mobil. Yah, aku sedang menemani ibuku berbelanja di supermarket untuk makan malam. Dan aku lebih baik menunggu di luar daripada aku harus menonton ibuku memilih sayuran.

“Ayo, Kyu!”

“Baik, Bu!”

☆☆

Sejak aku melihat gadis itu, aku lebih sering menyendiri di kelas daripada bergabung dengan teman-temanku. Mereka juga tidak keberatan dengan hal itu. Aku memikirkan beberapa kemungkinan supaya aku bisa bertemu dengannya lagi. Apa ia akan ada di tempat olahraga itu lagi atau tidak, aku tidak tahu. Lalu apakah aku bisa bertemu dengannya lagi?

Pertanyaanku terjawab saat aku menoleh ke jendela kelas. Di koridor, bersama beberapa orang siswi, gadis itu berjalan sambil tertawa-tawa.

Bingo! Itu dia! Aku menemukannya!

Aku berlari keluar kelas, melihat dia memasuki kelas di sebelahku. Itu berarti, selama ini.. dia berada di sekolah yang sama denganku?! Wah, ini benar-benar keajaiban! Tuhan telah mempermudah jalanku untuk bertemu dengan orang yang aku cintai!

Baiklah, aku mengaku! Aku memang mencintainya!

Yah, dia cinta pertamaku!

Pada saat itu, Byul, dan Chan juga Hyosung berdiri di depanku, menatapku dengan pandangan bingung.

“Apa yang kalian lihat?” ujarku heran.

“Kau tampak seperti orang gila.” Byul berbicara seenaknya.

“Lantas kau apa kalau aku gila?!” tangkisku menjitak kepalanya. Oh, gadis ini!

Ya!” Byul menendang keras bokongku. “Jadi maksudmu, aku gila hah?!”

“Semua orang juga tahu itu, Byul ku sayang.. Bahkan Chan dan Hyosung tidak akan mengelaknya.” aku menyeringai, mengabaikan rasa sakit di bokongku akibat tendangan seorang taekwondo-in pemegang sabuk hitam. Aku mengambil roti selai kacang yang ada di tangannya. Aku melahap roti itu dengan santai.

Aku mendengar cekikikan Chan dan Hyosung, disusul teriakan kesal Byul. “Ya, ya, kenapa kau mengambil rotiku, Cho Kyu Hyun?!”

Oh, Tuhan. Aku benar-benar makhluk ciptaanmu yang tidak berdaya. Gadis itu memukul-mukul diriku sambil berteriak meminta kembali rotinya yang sudah dicerna lambungku. Kenapa aku bisa melupakan hal segenting ini? Kenapa aku malah mengambil rotinya dan memakannya? Aku benar-benar tidak ingat! Kalian tahu penyakit bipolar yang sering menjakiti Byul? Bukan hanya es krim dan keripik kentang yang dapat membuat penyakitnya itu kambuh. Selain dua item itu, saat Byul kelaparan adalah situasi terbaiknya! Dia akan menjadi lebih gila dari siapapun!

Seperti saat ini.

Aku melihatnya duduk di lantai, sembari terus berteriak. ‘Rotiku.. rotiku..’. Tidak lupa dengan serangkaian tinju yang dia lakukan pada kakiku.

“Dasar bodoh!” Hyosung memarahiku. Ia dan Chan meninggalkan aku bersama gadis gila ini. Aku menghela napas. Kira-kira siapa yang akan tahan menjadi suaminya kelak? Aku jadi ingin tahu.

“Byul-ah,” aku menariknya untuk berdiri, mendelik saat menyadari ada air mata di pipinya. Aku menyekanya dengan jariku, berbicara dengan begitu lembut, seperti seorang ibu yang tengah membujuk anaknya untuk berhenti menangis. “Aku akan membelikan roti yang baru untukmu, oke? Tapi kau harus berhenti bersikap seperti orang gila. Jangan mempermalukan dirimu sendiri di sini. Arraseo?”

Gadis itu menarik ingusnya – aku sudah biasa dengan semua ini – lalu mengangguk. Aku menarik tangannya menuju kantin, dan yah, membelikan roti selai kacang yang baru. Tapi setelah memakannya, ternyata gadis itu masih lapar.

Pada saat itu, bel pertanda masuk ke kelas berbunyi. Bagus sekali.

“Kyu-ah.. aku masih lapar..” rengek gadis itu.

“Kau tahu ‘kan pelajaran siapa setelah ini?” ucapku berusaha membujuknya. Yah, setelah ini, Park seosaengnim yang mengajar. Guru matematika yang sering mempersulit Byul, dan teman-temanku yang lain. Tapi, dalam hal ini, Byul yang paling menderita. Sebenarnya, Byul lah yang lebih sering mempersulit dirinya sendiri. Ingat kalau tindak-tanduknya selalu mempersulit siapapun?

“Tapi aku – “

“Kita akan membeli es krim untukmu setelah ini.” ucapku pasrah. Hanya ini satu-satunya cara agar dia mau mendengarkan aku.

“Hanya es krim?”

“Baiklah. Keripik kentang juga.”

Byul tersenyum dengan mata bersinar. Ia menarikku menuju kelas dengan riang.

Oh, hebat. Sepertinya dompetku akan menangis lagi.

☆☆

Itu terakhir kalinya aku menghabiskan waktu bersama Byul. Karena setelahnya, aku lebih banyak mencari tahu tentang Min So Eun, memperhatikannya dari kejauhan, sampai suatu hari, aku berhasil berkenalan dengannya!

Saat itu, aku melihatnya duduk sendirian di kantin, menikmati makan siang sembari terus menatap ke tempat lain. Tanpa aba-aba, aku duduk di hadapannya.

“Hai.” sapaku ramah. Dia menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan. Yah, aku mengerti tatapan itu. Semua orang juga akan memberikan tatapan yang sama bila seseorang yang tidak kau kenali menghampirimu dan bersikap sok akrab denganmu. Ingat prinsipku dalam berteman? Aku akan menerapkannya!

“Aku tetangga kelasmu, Cho Kyu Hyun.” Aku menjabat tangannya tanpa permisi. Ia menarik tangannya dengan cepat.

“Min So Eun.” jawabnya singkat. Aku memperhatikannya yang sedang makan sambil membolak-balikkan sebuah buku, sampai mataku menangkap sesuatu di sana.

“Hei!” aku terperangah. “Kau suka Jessie?”

Bagi para penggemar Toy Story, kalian pasti tahu Jessie si cowboy perempuan yang bertemu Woody di rumah Al karena mereka akan dijadikan benda koleksi di museum Jepang.

“Bukan apa-apa.” balasnya.

“Kau tahu?” ucapku antusias. “Aku jarang bertemu dengan sesama penggemar Toy Story. Dan kau adalah orang pertama yang aku temui.”

Setelah itu, kami banyak mengobrol tentang Toy Story, sequel, para tokoh, sikap dan sifat Andy yang masih menyayangi mainannya. Kami juga membahas kartun Disney yang lain. Sampai akhirnya tanpa sadar aku menyatakan perasaanku padanya.

Dan dia menerimaku!

☆☆

Semuanya berjalan lancar. Aku menjalin kasih dengan So Eun, tertawa, berduaan di atap sekolah, menjadi akrab, sampai akhirnya Hyosung dan Donghae memergokiku.

Aku lupa satu hal. Seluruh sahabatku tidak ada yang tahu tentang hal ini!

Aku tersenyum, berpamitan pada So Eun, dan menyusul mereka. Saat itu, Hyosung langsung menarik tanganku, mengikuti Donghae di depan kami, sampai kami berhenti di pertengahan tangga menuju kelas kami.

Hyosung menghempas tanganku kasar. “Apa-apaan itu?! Kau menjalin hubungan di belakang kami?!” bentaknya.

“Dan kau benar-benar menjalin kasih dengan orang yang tepat!” sembur Donghae.

Aku mengernyit. “Apa maksud kalian?”

“Kenapa kau menyembunyikan ini dari kami?!” bentak Hyosung lagi.

“Aku minta maaf.” kataku akhirnya. “Aku ingin sekali, tapi – “

“Oke.” potong Donghae. “Kalau kau memang keberatan untuk mengatakannya pada kami, tapi bagaimana dengan Byul? Haruskah kau menyembunyikan hal ini darinya juga?”

Aku terhenyak. Senyum Byul muncul dalam pikiranku saat ini.

“Setidaknya dia harus tahu, kenapa kau menjauh darinya selama sebulan terakhir ini.” Donghae melanjutkan. “Kau tahu? Dia merasa bersalah karena kau jarang menemuinya.”

Aku diam. Byul. Byul ­ku..

“Haruskah aku menemuinya?”

Hyosung tersenyum. “Kapanpun kau siap.”

☆☆

Perlu waktu seharian bagi diriku untuk mempersiapkan diri menghadapi Byul. Aku tidak tahu kenapa, perasaan bersalah menggelayuti diriku. Senyum tulus yang selalu ia berikan padaku membuatku tidak tega dengannya.

Aku melangkah menuju kelas, melihat Minjung, Chan, dan Hyosung yang awalnya duduk di sekitar Byul langsung menyebar. Sejenak aku memandang wajah gadis itu. Dia langsung melihat jendela saat dia menyadari aku menatapnya.

“Byul-ah?” aku memanggil. “Bisa kita bicara sebentar?”

Dia mengangguk. Aku langsung menariknya keluar dari kelas, menuju atap sekolah.

Dan pertengkaran tak terelakan.

☆☆

Aku sangat terkejut karena Byul tidak menyetujui hubunganku dengan So Eun.

“Apa maksudmu?”

“Bukannya sudah jelas?” dia menggedikkan bahu. “Aku tidak setuju.”

“Tapi.. kenapa? Semua orang bilang kami cocok!”

Byul tersenyum mengejek. “Semua orang yang kau maksud itu lebih kepada teman-teman So Eun yang membenciku! Bukannya kau sudah mendengar pendapat teman-teman kita tentang hubunganmu dengannya?!”

Keterkejutanku semakin bertambah.

“Dan kau berpendapat sama dengan mereka?”

“Iya!”

“Oh bagus!” aku memutar bola mata kesal. “Semua sahabatku percaya dengan gosip-gosip picisan itu!”

“Picisan, katamu?!” Byul menautkan alis. “Aku melihat sendiri bagaimana dia mencampakkan Donghae dan Sungmin! Dan itu memang dilakukannya di depan seluruh warga sekolah! Kau tahu betapa malunya mereka saat itu?! Asal kau tahu saja, dia tidak pernah memperlakukan aku, Chan, Minjung, dan Hyosung dengan baik! Dia dan teman-teman brengseknya itu sangat kurang ajar pada kami, apalagi setelah mereka tahu kami, terutama aku, sangat dekat denganmu! Dan kau memacari orang seperti itu?!” dia tersenyum sinis. “Di mana Cho Kyu Hyun yang kukenal sebagai laki-laki yang selektif?!”

Aku tidak diterima dikatai seperti itu oleh Byul. “Hentikan bicaramu yang tidak masuk akal tentangnya, Shin Ha Byul!” kecamku.

“Atau apa?!” sergahnya. “Kau akan menamparku?!”

Aku menggeram, mengepalkan tanganku menjadi tinju. Byul benar-benar! Bisa-bisanya dia bicara seperti itu padaku! Kalian tahu, Byul jarang sekali berbicara kasar padaku, kalaupun ya maksud gadis itu pasti hanya candaan. Tapi dengan semua perang mulut yang terjadi, secara tidak langsung dia memberi penggambaran yang sangat buruk pada Min So Eun ku! Dan aku tidak suka itu!

Tapi aku harus membalasnya, dengan lembut, namun menusuk!

“Kurasa ada alasan lain kenapa kau tidak menyetujui hubungan kami.”

Dia terdiam.

“Kau hanya cemburu ‘kan, melihatku bersama wanita lain selain kau, Minjung, Chan, dan Hyosung?”

“Cemburu? Cih.” Byul membuat gerakan meludah. “Untuk apa aku cemburu dengan wanita bodoh dan picisan seperti So Eun?!”

Hei, apa-apaan itu?! Kali ini dia merendahkan So Eun-ku!

“Apa katamu?!”

Dia menatapku hina. “Aku bersikap seperti ini karena kau adalah sahabatku, Kyu.” tuturnya pelan. “Bukannya kau menyukai wanita yang baik, ramah, dan memiliki harga diri?”

“So Eun gadis yang baik.” balasku polos. Namun akhirnya aku menyadari apa maksud ucapannya. “Maksudmu, So Eun tidak punya harga diri?!”

Byul menyeringai. “Bukan masalah pribadi.”

Aku sudah tidak tahan lagi. “Cukup, Shin Ha Byul! Kali ini kau keterlaluan!” bentakku.

Dalam sejarah, ini untuk pertama kalinya aku berbicara kasar pada Byul.

“Bukankah sudah kubilang yang aku dan teman-teman lain lakukan ini hanya untukmu?! Demi dirimu?!” dia berteriak lagi. “Kami hanya ingin sahabat kami mendapatkan yang terbaik di hidupnya! Apakah itu salah?!”

“Kalian?” Aku menunjuk wajahnya. “Ah tidak, lebih tepatnya kau,” ralatku. “Sahabatku?”

Kelihatan sekali kalau Byul sangat kaget. Harus kuakui, ekspresi itu membuatku merasa menang.

“Kyu-ah, kau..” lirihnya tak percaya.

“Apa?” ucapku judes. “Kau cuma gadis lemah sok tahu yang membutuhkan perlindungan. Hanya itu! Tidak lebih!”

Aku melihat matanya mulai berkaca-kaca. “Lalu.. yang kita lakukan.. selama ini..”

“Hanya karena aku kasihan padamu!”

“Hiburan, canda tawa, kebahagiaan, kesedihan, pertengkaran konyol..”

“Oh, kau memikirkannya terlalu dalam, nona Shin..” aku menggeleng, dan berdecak. “Kasihan sekali.”

“Jadi ini, balasanmu untukku? Setelah lima tahun kita bersahabat?”

Aku mengangkat bahu tak peduli. Rasanya senang sekali saat aku bisa membalas semua perkataan Byul.

Tapi rasa senang itu hanya sesaat, saat aku melihat air mata di pipinya. Dan ia berkata dengan nada yang begitu menyedihkan. “Aku benar-benar tidak menyangka kalau aku hanya seperti itu di matamu. Apa aku sangat tidak berarti bagimu?!”

Aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku sampai aku bertepuk tangan sambil tersenyum mengejek padanya. “Wah, kau menebaknya dengan tepat. Hebat sekali.”

Saat dia benar-benar menangis meninggalkan atap, barulah aku menyadari apa yang telah kulakukan padanya.

☆☆

Dari jendela kamarku, aku bisa mendapat akses bebas untuk melihat atap rumah Byul. Saat ini, gadis itu tengah berada di sana, bersama para sahabatku. Aku tercenung saat melihat Byul menangis. Itulah pertama kalinya aku melihat Byul menangis tersedu-sedu setelah pertengkaran dengan kedua orangtuanya usai. Dan itulah untuk pertama kalinya, aku, yang menyebabkannya seperti itu.

Aku menoleh, tidak tahan melihat Byul menangis. Tapi mataku malah bersibobrok dengan fotoku dan dirinya yang kuletakkan di meja belajar. Foto saat aku menggendongnya di punggungku, dan kami tersenyum lebar ke arah kamera. Sungmin yang mengambil foto itu, saat wisata sekolah di Kyungsang Namdo Tongyeong.

Setelah semua ini, aku yakin tidak akan pernah melihat senyum itu di wajah Shin Ha Byul.

Aku menghela napas, kembali menatap jendela. Kali ini aku melihat Byul tertunduk, sementara para sahabatku hanya memandanginya. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan sampai mereka juga ikut terlihat menyedihkan seperti itu.

☆☆

Sejak saat itu, aku tidak pernah berbicara dengan Byul lagi. Kami seperti orang asing yang sama sekali tidak saling mengenal di sekolah. Kami juga tidak pernah pergi ke sekolah bersama lagi. Ibu, ayah, dan kakakku sering bertanya mengapa, tapi aku hanya bilang kalau Byul sedang ingin pergi ke sekolah cepat-cepat. Yah, aku dan Byul boleh bertengkar, tapi tidak dengan keluarga kami.

Teman-temanku juga memberika respon yang kurang memuaskan saat aku mencoba berbicara dengan mereka. Jujur, aku agak kesal. Ini adalah masalahku dan Byul, kenapa mereka juga marah padaku?

Aku terus-terusan bertanya pada diriku sendiri tentang semua itu. Sampai akhirnya, aku sendiri yang menemukan jawabannya.

Saat Min So Eun mempermalukan aku di depan seluruh warga sekolah.

☆☆

“KAU PEMBOHONG! PENIPU! PECUNDANG! LAKI-LAKI MACAM APA KAU INI?! BISA-BISANYA KAU MEMIKIRKAN PEREMPUAN LAIN SAAT SEDANG BERSAMAKU!”

Aku menahan napas saat aku mendengar So Eun berteriak seperti itu di lapangan sekolah. Teriakan itu membuat semua orang berkerumun mengelilingi kami, juga memenuhi balkon di depan kelas masing-masing. Dan di antara kerumunan itu, aku melihat Byul, dan semua sahabatku dengan beragam ekspresi.

Donghae dan Sungmin tertawa, Chan dan Hyosung berteriak kegirangan. Minjung tersenyum miring ke arahku, begitu mengejek dan menunsuk. Dan Byul? Aku melihatnya mencoba tersenyum seperti Minjung, tapi matanya memandangku sedih, atau setidaknya itu yang kurasakan.

“AKU INGIN MENGAKHIRI HUBUNGANKU DENGANMU!” So Eun kembali menggelegar.

“Dengan senang hati.” Aku berucap pasrah. Apalagi yang bisa kulakukan?

Aku menaiki tangga menuju kelas. Sebisa mungkin aku berusaha untuk tidak mendengar kalimat-kalimat indah yang diucapkan para murid. Aku berhenti ketika melihat para sahabatku. Ketika aku maju selangkah untuk mendekati mereka, mereka mundur selangkah.

Aku terkejut setengah mati.

“Teman-teman, ayo pergi.” Minjung berkata dengan menatapku hina. “Kita tidak ada artinya bagi dia. Buktinya, dia tidak mau mendengarkan kita. Terutama kau, Byul.”

Aku terhenyak, saat melihat Byul sempat memandangku sekilas. Lalu Donghae dan Hyosung menarik tangannya, mengikuti Sungmin, Chan, dan Minjung yang sudah masuk ke kelas.

Bagus. Semua teman-temanku sekarang membenciku!

☆☆

Lupakan apa yang telah kulakukan untuk melampiaskan kekesalanku! Satu hal yang pasti, aku ingin sekali meminta maaf pada mereka semua.

Tapi bagaimana caranya?! Melihatku saja mereka tidak mau! Setiap kali aku ingin menegur mereka, mereka tidak pernah mempedulikan aku! Mereka benar-benar dingin!

 

Sampai suatu ketika, aku mendengar lantunan merdu gitar dari ruang musik.

Aku sedang berjalan-jalan sembari menikmati roti kacangku saat aku melewati ruangan itu. Aku cukup terkejut saat mendengar petikan gitar dari sana. Jadi, aku mengintip, berdiri di ambang pintu, dan menikmati permainan gitar Yoo Seung Chan yang duduk di kursi di depan kelas. Gadis itu sendirian, tidak ada yang menemaninya. Dia memainkan lagu klasik, The Four Season, Antonio Vivaldi.

Yah, gadis itu memang sering ke sini jika dia sedang ingin bermain gitar. Chan suka sekali bermain gitar, dan memang permainan gitarnya luar biasa. Suaranya juga sangat merdu. Terkadang aku suka menyuruhnya memainkan lagu ini itu. Yang membuatku terkesan adalah, lagu klasik yang biasanya dimainkan dengan piano, akan terdengar indah jika Chan memainkannya dengan gitar.

Ini kesempatanku!

Ketika permainan gitarnya usai, aku bertepuk tangan. Membuat gadis itu tersentak dan menoleh ke arahku.

“Kenapa kau bisa ada di sini?!” tanyanya ketus.

Aku berusaha tersenyum. “Hanya lewat, lalu mendengarmu bermain The Four Season. Itu indah sekali.”

Gadis itu sedikit tersipu, tapi hanya sebentar. “Kalau ada yang mau kau katakan, katakan saja.”

Aku mendekatinya. “Chan-ah, mianhae..”

Gadis itu mengangkat sebelah alis, seolah bertanya kenapa aku meminta maaf.

“Aku memang bersalah.” ucapku memulai. “Dan tentang Byul.. aku tidak tahu kenapa aku bisa sekasar itu padanya..”

Aku menampakkan wajah menyesalku, memohon padanya. Membuat nada suaraku terdengar menyedihkan. “Sudah lama sekali aku ingin meminta maaf pada kalian, tapi kalian selalu mengabaikan aku.. Chan-ah, bisakah kau membantuku? Aku ingin sekali minta maaf pada kalian, katakan pada mereka kalau – “

Chan mengangkat satu tangannya untuk menghentikan ucapanku. Gadis itu bangkit, meletakkan gitar kembali ke tempatnya, lalu berdiri di depanku. Ia tersenyum. “Kau tidak perlu meminta maaf pada kami, karena kami, yah, sebenarnya kami hanya kesal saja denganmu. Tetapi, ‘kami’ yang ku maksud adalah Donghae, Minjung, Sungmin, Hyosung, dan aku. Kau mengerti?”

Mataku menjadi selebar piring terbang. “Jadi, Byul..”

Gadis itu mengangguk. “Kau harus meminta maaf padanya.” katanya. “Dan ‘kami’, memang menunggumu untuk meminta maaf padanya.”

Aku tersenyum lega. “Terima kasih!”

“Karena memang kewajibannya untuk membantu, seorang sahabat tidak akan menerima kata ‘terima kasih’ dari sahabatnya.” Chan tersenyum lembut.

☆☆

Keesokan harinya, aku mendapat jawaban yang cukup mengecewakan dari Chan.

Gadis itu mengajakku bertemu di ruang musik. Rupanya ia tidak sendirian. Ia mengajak Minjung dan Hyosung. Pada awalnya, mereka berdua kelihatan kesal karena tahu kalau mereka hanya diajak Chan hanya untuk menemuiku. Tapi, setelah Chan menjelaskan semuanya, yah, mereka mau membantuku.

“Entahlah, Kyu.” Chan berkata lesu. Perasaanku tidak enak soal ini. “Aku merasa Byul tidak mau membiacarakan masalah ini.”

“Lalu, apa yang harus kulakukan?”

“Coba saja kau temui dia.” Hyosung menimpali.

Cukup membantu. Setidaknya.

“Ini masalah kalian. Dan kami sama sekali tidak mau ikut campur.” sahut Minjung. “Kami akan membiarkan kau dan Byul sendiri yang menyelesaikannya.”

Mereka bertiga menepuk bahuku bergantian, memberikanku suntikan semangat. Aku benar-benar bersyukur. Mereka tahu akulah penyebab masalah ini, tapi mereka tetap mau membantuku.

Setelah itu, aku berpamitan pada mereka bertiga. Berjalan sambil memikirkan cara untuk meminta maaf pada Byul. Meskipun kadang menyebalkan, aneh, dan terkesan sembarangan, Byul adalah gadis yang memiliki pendirian teguh. Jika dia bilang dia membenci seseorang, yah, hal itu butuh waktu untuk berubah.

Aku tidak tahu apa yang kupikirkan sampai kubiarkan kakiku melangkah menuju atap sekolah. Dan saat sampai di sana, aku tak bisa melakukan apa-apa.. selain berdiri diam memandang Byul.

Gadis itu, Byu ku..

Dia sedang memasukkan earphone bersama ponsel ke saku roknya. Aku tersanjung. Aku tahu earphone itu. Aku yang memberikannya, saat ulang tahunnya. Aku yang memberikan earphone yang membuatnya terlihat seperti pemain basket itu, setidaknya itulah yang dia katakan waktu itu. Dan ulang tahun Byul saat itu merupakan hari terbaikku.

Intuisiku tidak melenceng sedikitpun.

“Sudah kuduga, kau pasti ada di sini.” ucapku tanpa sadar. Aku benar-benar merindukkannya saat ini. Merindukan saat aku bicara kepadanya dan hanya kepadanya.

“Mau apa kau ke sini?!”

Aku cukup terkejut, mengingat Byul berbicara dengan nada ketus. Jarang sekali ia melakukan itu padaku, paling jika aku mengambil keripik kentangnya diam-diam barulah aku merasakan betapa ketusnya gadis ini. Tapi sekarang..

“Hanya ingin tahu keadaanmu, setelah cukup lama kita tidak berbicara dan berhadapan seperti ini.”

Hebat. Aku sama sekali tidak memikirkan kalimat itu.

“Sudah lihat ‘kan? Jadi bisakah kau membiarkan aku pergi?! Obrolan ini membuang-buang waktu!”

Kali ini, Byul bahkan bisa menyakitiku hanya dengan ada bicaranya.

“Dan aku tahu, keadaanmu sangat tidak baik, Byul.”

Yah, untuk kalimat yang satu ini, aku memang sengaja mengatakannya. Karena aku merasa seperti itu. Keadaan Byul tidak baik, dan aku lebih tidak baik lagi darinya.

“Aku sempat melihatmu tadi pagi. Hanya seklias. Tapi aku tahu kau pasti menangis. Katakan padaku, kenapa?”

Oke, kalau itu memang benar. Saat aku masuk ke kelas tadi, aku melihatnya berpaling memandang jendela. Aku agak terkejut karena menyadari matanya bengkak. Tapi, mengenai pertanyaan tentang alasan Byul menangis.. aku tahu aku begitu bodoh. Karena aku tahu dia menangis pasti karena diriku!

Untuk kedua kalinya, aku membuat Byul menangis.

“Matamu bengkak, dan aku benci hal itu.”

Aku tidak akan mengelak fakta ini.

“Kau benci melihat ini? Itu berarti kau pantas membenci dirimu sendiri!”

Jujur, aku benar-benar terkejut dengan apa yang dia katakan. Dan hal selanjutnya yang dia katakan lebih membuatku terkejut lagi.

“Kalau begitu kau pasti lebih membenci dirimu sendiri saat kau melihat keadaanku saat itu!” Byul meraung. “Saat kau tidak mempercayaiku! Saat aku tahu ternyata aku sangat tidak berarti bagimu! Saat semua perkataanmu melukai hatiku! Saat kau lebih memilih si picisan Min So Eun daripada aku! Bisakah kau membayangkan betapa bencinya kau pada dirimu sendiri?!”

Aku tertegun ketika melihat setitik air mata Byul jatuh. Hanya setitik, sebelum dia menyekanya. Tapi itu cukup membuatku tahu kalau saat ini, aku lagi yang membuatnya menangis. Untuk ketiga kalinya.

Aku berusaha mendekatinya. “Byul-ah..”

Gadis itu mundur selangkah. “Cukup, Kyu.” ucapnya. “Keberadaanmu di dekatku saat ini hanya akan membuatku terluka..”

Byul langsung pergi meninggalkan aku.

☆☆

“Keberadaanmu di dekatmu saat ini hanya akan membuatku terluka..”

Kalimat itu terus terngiang-ngiang di otakku, seperti wabah. Wabah yang membuatku sakit dan menderita! Apa seperti itu aku di mata Byul sekarang? Apa aku telah melukainya terlalu dalam? Sesakit itukah yang dia rasakan? Apa semua air mata itu karena diriku?

Aku.. membuat Byul terluka.. Aku membuat gadis itu hanya karena kata-kata yang waktu itu aku ucapkan. Harus kuakui, jika aku memikirkannya lagi, kata-kata itu memang menyakitkan. Kata-kata itu.. tanpa ku sadari, membuat Byul ku berdarah. Dan berkat semua itu, Byul semakin sering menangis karena aku.

Oh, aku benar-benar makhluk terkejam di dunia!

Aku meletakkan kepalaku di meja, langsung bertatapan dengan fotoku dan Byul saat karya wisata sekolah. Melihat senyum Byul, aku kembali menyadari satu hal. Semua perkataanku padanya, telah membuat senyum manis itu menghilang. Mengakibatkan gigi kelinci gadis itu tak terlihat lagi. Memudarkan lesung pipi yang biasa menghiasi wajahnya.

Siapapun tolong aku..

☆☆

Studi lapangan. Aku suka sekali kegiatan ini. Terkadang aku benci pembelajaran di kelas yang dari dulu sampai sekarang menggunakan metode yang membosankan, kuno, dan tidak menarik. Walaupun cara pembelajaran ini tidak cocok untuk matematika..

Dan sekarang aku dan seluruh murid tingkat kedua Chunkuk berada di depan Museum Nasional Rakyat Korea, di depan istana Gyeongbok. Aku yakin saat ini Byul sedang kesal setengah mati, karena ia benci sekali studi lapangan, ditambah lagi, ia tidak suka pelajaran sejarah.

Ketika kami mulai menyebar, aku berjalan bersama dua teman sekelompokku, Joonhee dan Yoomi untuk mengerjakan tugas sejarah dari Kang seosaengnim. Aku bisa saja mengerjakan tugas ini bersama Minjung, Chan, atau Hyosung, tapi tampaknya Donghae dan Sungmin belum mengetahui keterlibatan mereka bertiga pada masalahku dan Byul.

Awalnya aku masih serius dengan diskusiku dengan Yoomi dan Joonhee, sampai akhirnya aku melihat Byul berjalan kesana kemari, sepertinya dia tengah mencari seseorang. Dia sudah keluar masuk museum tiga kali, dan masih kelihatan bingung.

Aku menyerahkan buku dan alat tulisku pada Yoomi, bergegas meninggalkan mereka.

Ya, mau ke mana kau?!” teriak Joonhee.

“Memperbaiki sesuatu yang sudah kuhancurkan!” balasku berteriak.

 

Aku berjalan sekitar lima meter di belakang Byul, mengekor kemanapun gadis itu pergi. Rupanya, ia mencari Donghae dan Chan. Karena aku melihatnya bersembunyi di balik pohon, menguping pembicaraan kedua orang itu. Dasar, gadis itu menguping!

Setelah selesai menguping – sepertinya Sungmin, Minjung, dan Chan yang menyuruhnya – dia langsung pergi begitu saja. Ketika aku melihatnya hendak memasuki museum, aku menjegal tangan gadis itu.

“Bisa kita bicara sebentar?”

Tanpa menunggu jawaban gadis itu, aku menariknya menuju wilayah istana yang cukup ramai. Hal itu disengaja, supaya para sahabatku kesulitan mencari Byul.

“Apa lagi?!” Byul menatapku jengah, lantas menghempas tangannya yang digenggamku.

Aku terdiam cukup lama karena aku sangat kaget. Byul benar-benar marah. Aku terpaku padanya, gugup, tapi aku tetap harus mengatakan apa yang harus kukatakan.

Aku mengambil napas. “Byul-ah, sebenci itukah kau padaku? Di saat aku ingin merubah segalanya menjadi lebih baik, kau malah mempertahankan hubungan buruk ini?”

“Mengubah segalanya menjadi lebih baik?” Byul mendengus. “Apa kau lupa siapa yang menghancurkan hubungan ini?!”

Mataku membelalak.

“Sudah selesai ‘kan?” dia menatap mataku. “Aku pergi.”

Baru saja dia mau pergi, aku langsung mencegahnya.

“Jika kau memang terluka karena aku, bisakah aku menyembuhkannya?”

Byul berhenti. Aku bisa melihat bekas air mata di pipinya saat dia berbalik.

“Kalaupun kau menyembuhkannya, bekas luka itu tidak akan hilang. Jadi, itu tidak ada gunanya.”

Aku termangu saat menatap punggungnya yang mulai menjauh.

☆☆

Baiklah jika memang itu yang Byul inginkan, aku akan mulai menerima kalau dia membenciku!

Saat ini, aku berada di lapangan basket, bermain sendirian, memasukkan bola ke ring dengan kasar. Melampiaskan kemarahanku pada bola basket yang sebenarnya tidak punya salah apapun. Aku hampir tidak pernah bermain basket sendirian. Karena biasanya aku bermain bersama Sungmin, Donghae, dan.. Byul. Dan gadis itu paling sering mengajakku. Atau tidak aku bermain tanpa gadis itu, hanya kami bertiga, pertarungan antar lelaki. Tapi tetap bersama Byul lah permainan basket kami akan semakin seru, berwarna, dan pasti saja ada hal-hal aneh yang akan dilakukan salah satu dari kami. Entah bermain curang, mendorong, saling menggendong supaya bisa melakukan slam dunk. Yang jelas, bermain basket bersama Byul selalu menyenangkan!

Dan ini untuk pertama kalinya aku bermain basket sendirian!

Aku melakukan dribble dengan kasar, gagal memasukkan bola dan malah memantul ke backboard, dan memantul-mantul sendirian di lapangan.

“Jika kau memasukkan bola seperti itu, aku yakin anak-anak lain tidak akan bisa bermain basket karena kau sudah merusak ring-nya.”

Aku berbalik, melihat Donghae dan Sungmin di tepi lapangan. Sungmin memegang bola basketku, dan mereka berjalan menghampiri diriku.

“Chan sudah menceritakan semua pada kami.” Donghae menjelaskan. “Dan kami minta maaf karena sudah mengacuhkanmu.”

“Sekarang kau mengerti ‘kan kenapa dia tidak menyetujui hubunganmu dengan So Eun?” Sungmin berkata tanpa memandangku. Karena ia sedang berusaha memasukkan bola basket ke dalam ring.

“Aku minta maaf karena tidak mendengarkan kalian dan Byul.”

“Dalam masalah ini, Byul lah yang paling tersakiti.” Sungmin melanjutkan.

Oh, please, berhentilah mengucapkan kalimat itu! Byul sakit, Byul terluka, Byul tersakiti, Byul menderita, dan itu semua karena aku! Aku tahu, dan tolong jangan ingatkan aku lagi!

“Tidak ada lagi yang bisa kulakukan.” ujarku.

Donghae dan Sungmin menoleh, membuat bola memantul dan mengenai kepala Sungmin.

Aku memandang mereka. “Aku bisa apa kalau Byul membenciku?”

Mereka diam.

“Jangan bicara lagi tentangnya. Aku mohon.” Aku memandang keduanya, mengambil bola dan perlengkapan olahragaku, lalu pergi meninggalkan lapangan basket.

 

Aku tidak tahu kenapa, tapi kurasa sekarang aku mulai membenci Byul. Jika memang dia tidak mau menerima maafku, ah bahkan hanya untuk mendengarkan aku saja dia tidak mau, baiklah. Aku menerimanya. Aku akan mulai membencinya. Aku akan melupakan semua kenanganku bersamanya, menyimpan semua barang-barangku yang pernah diberikannya, membakar juga menghapus semua foto-fotoku bersamanya.

Tunggu sebentar.

Mungkin butuh waktu untuk semua itu. Dan aku tidak akan melakukan poin terakhir. Karena, yang kulihat, meskipun Byul membenciku, dia tidak membuang earphone pemberianku.

Jadi, aku hanya akan berusaha untuk membencinya.

Walau aku tahu ini akan sangat sulit.

Apalagi, ketika aku melewati rumahnya, aku melihatnya berpelukan dan digendong bersama seseorang yang tidak kukenal.

 

-To Be Continued-

Advertisements

2 thoughts on “Everything Has Changed 4

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s