Everything Has Changed 3

everything-has-changed-taylor-swift-35296961-1191-669nce97g ce

#3 : He’s talking

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 (END)

***

HAI! Senang bertemu dengan kalian! Bagaimana kabar kalian? Kuharap kalian semua baik-baik saja!

Hehe, mungkin itu agak kurang sopan untuk berkenalan, tapi begitulah caraku menegur siapapun! Menjadi ramah dan menyenangkan adalah prinsip utamaku dalam berteman. Mungkin sebagian besar mengganggap caraku ini agak dibuat-buat dan terkesan sok, tapi inilah diriku.

Aduh, aku jadi lupa memperkenalkan diri!

Aku Cho Kyu Hyun, tinggi badan di atas rata-rata, tampan, dan maniak game. Hanya itu yang bisa kukatakan, karena aku yakin kalian semua sudah mengenalku karena orang sinting itu telah memperkenalkan diriku pada kalian.

Dan si sinting itu adalah: Shin Ha Byul.

Benar kan?

Hmm. Shin Ha Byul. Tiga kata yang dapat menggambarkan beberapa hal. Kebahagiaan, kekonyolan, kegilaan, kesedihan, kehancuran, dan penderitaan, misalnya. Oke, dua kata yang terakhir memang agak sedikit berlebihan, tapi itulah yang akan terjadi jika seandainya kalian berada di dekat sahabatku yang satu itu.

Byul – begitulah kami memanggilnya – adalah gadis yang sangat aneh. Saking anehnya, kalian yang baru berkenalan dengannya tidak akan sanggup berlama-lama dengannya. Sikap dan perilaku gadis itu bergantung pada dua hal: es krim dan keripik kentang. Dia bisa tertawa bahagia dan menangis tersedu-sedu secara tiba-tiba bergantung dari keberadaan benda itu. Juga bertingkah tidak waras, menjadi gadis pendiam dan penurut. Mirip penderita bipolar disorder ya? Tapi sungguh, dia bukan penderita bipolar!

Entahlah.. sepertinya Byul tidak akan bisa hidup tanpa dua benda itu. Buktinya dia bisa tidak makan nasi berhari-hari, tapi tidak akan bisa bila tidak menikmati es krim dan keripik kentang sehari saja. Aku berani bertaruh bila seandainya kau meninggalkannya di sabana Afrika bersama para hewan liarnya, dan meninggalkan beberapa mangkuk es krim dan beberapa bungkus keripik kentang, dia pasti tidak akan keberatan. Anehnya, sebanyak apapun es krim dan keripik kentang yang dimakannya, berat badan gadis itu begitu-begitu saja. Naik setengah kilogram saja sulit, padahal porsi makan gadis itu sangat mengerikan. Kurasa dia tipe gadis yang tidak akan gemuk bila makan sebanyak apapun. Tubuh seperti dirinya adalah idaman para wanita – dan juga – aku.

Tunggu.. kenapa kita membicarakan es krim dan keripik kentang?

Baiklah, kembali ke topik pembicaraan yang sebenarnya!

Oke. Shin Ha Byul.. bagaimana ya menggambarkannya? Gadis itu memiliki kepribadian yang sedikit.. unik. Bahkan bisa dibilang anti-mainstream. Yah, selain perilaku yang bergantung pada es krim dan keripik kentang, gadis itu memiliki sesuatu dalam dirinya yang selalu membuatku bergantung padanya. Dia selalu menuruti apapun yang kuinginkan. Apapun! Sungguh, aku tidak bohong! Bahkan dia menuruti semua pemintaan tidak rasional ku!

Ini salah satunya.

☆☆☆

“Sampai jumpa besok!”

Kami bertujuh – aku, Byul, Sungmin, Chan, Donghae, Hyosung, dan Minjung – mengucapkan kalimat itu secara bersamaan ketika sudah berada di luar sekolah. Minjung, Donghae, dan Sungmin berbelok ke kanan – rumah mereka nyaris berdekatan, hanya berbeda blok – sementara Chan dan Hyosung menuju halte bus. Aku dan Byul mengambil jalan di kiri kami, berlawanan dengan Sungmin, Minjung, dan Donghae. Ingat ‘kan kalau kami bertetangga?

“Byul-ah, kau tahu?” ujarku memulai percakapan. “Action figure Buzz Lightyear terbaru sudah keluar di pasaran.”

“Ya.” balas Byul mengambil sebungkus keripik kentang dari tasnya. Ia membuka bungkusan itu, menikmati isinya. “Lalu?”

Aku berdecak kesal. Gadis ini sangat tidak peka! “Tentu saja kita harus membelinya!”

“Kita?” dia menoleh. Ia mengunyah keripik dengan berisik. “Maksudmu kau memintaku untuk menemanimu membeli masusia luar angkasa itu?”

Aku mengangguk antusias. Aku menarik kembali kalimat yang menyatakan kalau Byul sangat tidak peka.

“Aku tidak bisa,” Byul membalas. “Pertandingan NBA akan tayang di televisi. Aku harus menontonnya.”

“Kau tidak akan melewatkan pertandingan karena kita tidak akan lama!” sambarku. “Aku mohon..”

“Tidak akan, tuan Cho!” sahut gadis itu. “Chicago Bulls masuk perempat final, dan aku harus menonton! Aku tidak boleh melewatkannya!”

Aku mendengus kesal. Basket adalah dunia seorang Shin Ha Byul. Dia tidak akan mau melewatkan sedikit pun pertandingan olahraga itu, apalagi jika yang bermain tim kesayangannya, Chicago Bulls. Jika biasanya perempuan menyukai pria tampan, boneka, perhiasan, peralatan dan perawatan kecantikan, juga drama-drama romantis, maka bukan itu yang disukai Byul. Laki-laki dengan tinggi badan nyaris menyentuh dua meter, berkulit gelap, dan berkeringat, itu baru yang disukai gadis gila ini. Gadis itu menyukai basket dan Chicago Bulls seperti dia mencintai es krim dan keripik kentang. Lebih khususnya, Michael Jordan.

“Ayolah..” bujukku.

Hening.

“Kau mau menemaniku ‘kan, Byul?”

Gadis itu asyik dengan keripik kentangnya.

“Byul-ah?”

Sekarang Byul mengambil bungkus keripik kentang yang kedua.

“Ha Byul?”

Ya!” pekiknya memukulku dengan jemari yang penuh dengan bumbu keripik. “Jangan panggil aku begitu!”

Aku tertawa. Sama seperti Chan yang tidak suka dipanggil ‘Seung Chan’, Byul juga tidak akan senang bila dipanggil ‘Ha Byul’. Entah, padahal nama itu terdengar bagus. Maksudku, bagus untuk dijadikan ejekan..

“Bukannya kau sudah memiliki action figure terbaru Buzz Lightyear?” katanya. “Memang apa bedanya dengan action figure yang satu itu?”

“Oh, yang satu ini sangat berbeda, nona Shin!” jawabku bersemangat. “Yang kumiliki itu adalah action figure keluaran pertama. Action figure Buzz yang baru ini punya sabuk gravitasi! Dan mereka juga memproduksi raja – “

Ucapanku terputus ketika aku melihat seorang anak kecil sedang berjalan bersama ibunya. Langkah kakiku langsung terhenti. Begitu juga dengan Byul.

“Apa?” tanya gadis itu.

Mataku tidak beralih dari anak itu. Maksudku, apa yang ada di tangan anak itu. “Itu dia.” gumamku. “Action figure Buzz dengan sabuk gravitasi!” aku menatap gadis itu berbinar. “Kita harus ke toko mainan sekarang!”

Aku hendak menarik tangan Byul, namun gadis itu lebih dulu menahanku.

“Tunggu sebentar.” cegahnya. Ia menunjuk anak itu. “Kau tidak mendengar apa yang dibicarakan anak itu?”

Aku mengernyit. Oke, menguping pembicaraan orang memang bukan perbuatan yang baik. Apalagi orang itu adalah orang yang tidak kau kenali. Tapi jika menyangkut Buzz Lightyear, aku akan membuat pengecualian.

“Ibu,” kami mendengar anak itu berbicara. “Aku menyukai Woody, bukan Buzz. Tapi kenapa ayah membelikan aku action figure Buzz?”

“Benarkah?” jawab wanita itu. “Mungkin ayahmu tidak tahu, atau bisa jadi ia salah memilih. Kau bisa membuangnya kalau kau tidak mau, dan meminta ayahmu untuk membelikan action figure Woody.”

Aku dan Byul saling bertatapan. Membuangnya?! Apa aku tidak salah dengar?!

“Hei, aku menabung selama dua tahun untuk action figure itu!” gerutuku. “Kenapa anak itu malah mau membuangnya?!”

“Ssst,” Byul menyuruhku diam. Ia menyuruhku melihat apa yang dilakukan anak itu selanjutnya.

Oh My God. Anak itu benar-benar membuangnya. Setelah itu mereka pergi begitu saja.

“Ah, anak itu benar-benar!” teriakku marah. “Apa dia tidak tahu betapa berharganya action figure itu bagiku?!”

“Kau kan bisa membeli yang baru!” sahut Byul.

Aku memandangnya. “Kalau aku bisa mendapatkan sesuatu yang gratis, kenapa aku harus membayar?”

Byul mencibirku. “Kalau begitu kenapa kau membuang-buang waktu dengan mengoceh?” omelnya. “Cepat ambil! Lagipula benda itu belum lama dibuang.”

Aku bergegas menuju tempat sampah itu. Tapi aku kalah cepat dengan seekor anjing yang memasukkan mulutnya ke tempat sampah. Aku berhenti mendadak, menatap dengan terkejut saat menyadari bahwa anjing itu mengambil action figure Buzz. Dia membawa idolaku di mulutnya dan berjalan santai.

Aku melongo menatap anjing itu.

“Wah, kau kalah cepat dengannya.” sindir Byul berdiri di samping ku. Aish, gadis ini! Benar-benar pandai membuat suasana hatiku buruk! Apa dia tidak bisa memberi sedikit hiburan?!

“Kalau begitu kenapa bukan kau yang mengambilnya dari anjing itu?!” bentakku. Beginilah aku jika sudah menyangkut Buzz Lightyear.

“Dan apa imbalanmu kalau aku berhasil melakukannya?”

Aku tertegun. Ini keajaiban, kalian tahu? Tidak biasanya Byul mau berbaik hati denganku! Walau aku tahu ini tidak akan gratis, tapi demi Buzz Lightyear, aku bersedia!

“Jika aku mendapat action figure itu, aku bisa menggunakan semua uang tabunganku untuk membeli es krim dan keripik kentang untukmu.”

Tanpa ku duga, Byul mengejar anjing itu.

Aku tersenyum senang. Gadis itu benar-benar! Lihatlah, dia melakukan apapun demi es krim dan keripik kentang! Dan asal kalian tahu, janjiku padanya tidak sepenuhnya benar. Karena jika seluruh uang tabunganku dikalkulasikan, uang itu akan bisa membeli es krim dan keripik kentang untuk persediaan selama tiga tahun! Byul tahu apa soal jumlah tabunganku? Haha, aku hanya akan membelikannya untuk persediaan dua bulan saja! Maaf ya Byul, tabungan itu juga masa depanku!

Aku tahu permintaan ini gila, tapi aku sudah berjanji pada Byul. Dan gadis itu tidak akan main-main bila kau berjanji menggunakan ‘es krim dan keripik kentang’.

Aku melihat Byul berdiri beberapa meter di belakang anjing itu. Ia berjongkok, meraih beberapa kerikil, dan melemparnya berkali-kali pada anjing itu. Aku membelalak. Apa yang ada di pikiran gadis itu?! Dia hanya akan memancing kemarahan si anjing, dan..

Oh, no. There’s a something bad can be happened.

Aku melihat anjing itu membuka mulut , yang secara otomatis membuat action figure Buzz terjatuh. Ia menggonggong ganas ke arah Byul, mengambil ancang-ancang untuk mengejar. Parahnya, Byul malah berlari.

Ya!” teriakku. “Kau seharusnya tidak berlari, bodoh!”

“Ambil action figure itu dan selamatkan aku!” balasnya juga berteriak sambil terus berlari.

Wah, kecepatan berlarinya seperti seorang atlet! Hehe, sempat-sempatnya aku mengagumi gadis itu!

Kuharap kalian tidak perlu memikirkan apa yang terjadi selanjutnya, karena pada akhirnya, aku mendapat action figure Buzz Lightyear dan Byul mendapat keripik kentang dan es krim yang cukup banyak. Aku berani bertaruh kalau freezer dan lemari khusus di kamarnya sudah penuh dengan dua makanan itu.

Lihat ‘kan, betapa repot dirinya karena aku?

☆☆☆

Harus kuakui, meskipun dia agak kurang waras, Byul adalah gadis yang baik. Jika dibandingkan dengan sahabat wanitaku yang lain – Hyosung, Minjung, dan Chan – Byul memang yang paling dekat dan paling mengenalku. Kalian tahu bentuk hubungan antara Minjung dan Donghae? Seperti itulah hubungan kami. Dia selalu tahu apa yang aku inginkan, dan apa yang aku butuhkan. Hanya saja, Byul paling tidak pandai dalam memberi nasihat, tidak seperti aku yang selalu memberi dukungan saat dia bersedih karena kedua orangtuanya bertengkar. Tapi aku tidak keberatan. Karena aku hanya ingin melegakan perasaanku.

Suatu hari, aku bertengkar hebat dengan kakakku, Ahra, karena ia tidak sengaja memformat laptopku sehingga semua game yang ada di laptopku terhapus. Arti game bagiku sama seperti arti es krim dan keripik kentang bagi Byul. Aku marah-marah pada kakakku, keluar dari rumah dengam membanting pintu. Melihat wajah kakakku hanya akan mengingkatkanku bahwa aku tidak punya satupun game lagi. Dan itu akan membuatku gila!

Aku berjalan melewati rumah Byul, yang ternyata sangat sepi. Apa gadis itu di rumah? Aku tidak tahu. Sejujurnya aku ingin sekali menceritakan masalah ini padanya. Tapi sepertinya dia tidak ada di sana. Jadi kuputuskan untuk berjalan-jalan saja.

Beberapa menit berjalan, aku berhenti di depan sebuah kedai ramen. Ah sial. Aku belum makan apapun sejak tadi, dan aku tidak membawa uang. Aku tidak mungkin mengemis pada pemilik kedai dan minta semangkuk ramen, ‘kan? Parahnya lagi, selama aku berjalan, aku belum melihat Byul. Dimana gadis berotak abstrak itu berada?

Kesialanku bertambah saat aku menyadari kalau aku tidak membawa ponsel.

Wow, aku benar-benar keluar rumah dengan tangan kosong!

Aku berjalan lagi, merasa terpuruk karena lapar, marah, putus asa, dan stres. Kenapa hari ini begitu banyak kejadian buruk menimpaku? Benar-benar sial!

Aku berjalan melewati lapangan basket, memandang kosong tempat itu. Ada seseorang sedang bermain basket sendirian di sana, tapi karena lapar, aku tidak mempedulikan orang itu. Sampai ketika aku melihat orang itu memasukkan bola ke dalam ring, aku terkesiap.

Itu pasti Byul! Tidak salah lagi! Caranya memasukkan bola dengan satu tangan itu selalu berhasil! Dan itulah salah satu keunggulannya!

Aku memanggil gadis itu dengan mata bersinar, berlari, menerjang memeluk gadis itu dengan sangat erat. Oh Tuhan, aku sangat senang bertemu dengannya di saat seperti ini. Dia seperti oasis di tengah-tengah gurun pasir! Rasanya aku ingin menangis!

“Kyuhyun-ah, wae?!” serunya dalam pelukan.

Aku melepas pelukan, menatap wajahnya dengan haru, dan memeluknya lagi. “Aku senang sekali bisa bertemu denganmu, Byul-ah..”

“Kyu-ah, ada apa denganmu?” tanya Byul khawatir. Aku benar-benar bahagia mendengar nada bicara itu. Meski dia terkadang tidak peka, setidaknya dia akan langsung tahu jika aku sudah seperti ini, itu berarti aku sedang ingin bermanja-manja dengannya. Beberapa menit kemudian, ia melepas pelukan. Ia menunjuk satu tempat di tepi lapangan. “Duduklah. Aku akan menyelesaikan satu shoot lagi.”

Benar ‘kan?

Aku duduk di bangku penonton di tepi lapangan, tempat dia menaruh barang-barangnya. Aku memakan keripik kentang Byul – setelah memohon dengan amat sangat – dengan penuh rasa syukur.

“Jadi, apa yang terjadi denganmu sampai kau berakhir mengenaskan seperti ini?” ujarnya menghampiriku. Ia meletakkan bola, mengambil botol air dan meminum isinya. Kemudian dia duduk di sampingku. Tanpa aba-aba, aku menyandarkan kepalaku di bahunya. Gadis itu mengusap kepalaku dengan sangat lembut. Oh Tuhan, terima kasih karena telah menciptakan dirinya untuk selalu mengerti akan diriku..

Aku mulai menceritakan apa yang terjadi. Saat aku pulang sekolah dengan begitu kelelahan, menyalakan laptop hendak bermain game untu menghilangkan stres, saat betapa kagetnya aku ketika semua game itu tidak ada, dan saat aku marah-marah pada kakakku.

“Kasihan sekali.” ujarnya masih mengusap kepalaku. “Tapi sepertinya, kalau aku tidak salah ingat, kau menyalin semua game mu di laptopku karena kau takut hal seperti ini akan terjadi.”

Aku membenamkan wajahku semakin dalam di bahunya, merasa begitu mengenaskan. Namun sekonyong-konyong, aku tersadar akan sesuatu.

Jinjja?!” pekikku mengangkat wajah dan duduk tegak. Well, perkataan Byul baru saja diterjemahkan oleh otakku. Jadi maaf saja jika aku baru bereaksi.

Dia mengangguk. “Waktu itu kau memaksaku untuk melakukannya. Dan juga, aku selalu menggunakan game itu untuk mengancammu.”

Aku terdiam, berusaha sekuat tenaga untuk mengingat. Ah, ya! Aku ingat, saat itu aku merengek seperti bayi yang menginginkan kembali mainannya, meminta agar Byul menyimpan semua game-ku agar tidak terjadi hal-hal buruk, salah satunya adalah diformat dengan sengaja atau tidak sengaja oleh kakakku atau siapapun. Juga, Byul selalu menggunakan itu supaya dia bisa mendapatkan es krim dan keripik kentang lebih.

“Ah, Shin Ha Byul!” pekikku bahagia, kembali memeluknya dengan erat. “Aku benar-benar menyayangimu!”

Ya, ya, lepaskan!” balasnya berusaha mendorongku, dan ternyata berhasil.

Aku tersenyum lebar. “Rasanya aku ingin sekali menciummu, kau tahu?!”

 

“Siapa mencium siapa?!”

 

Aku dan Byul menoleh dengan kaget ke asal suara. Ternyata itu adalah Sungmin dan Donghae. Mereka berjalan menghampiri kami sembari menyeringai tidak jelas. Aku tahu, saat ini pasti kemungkinan-kemungkinan kotor tengah terlintas di otak mereka. Itu kelihatan sekali dari mimik wajah mereka!

“Wah, aku tidak percaya kalian sudah berjalan sejauh itu!” ujar Sungmin membelalak.

Ya, apa masudmu mengatakan hal itu?!” seruku kesal.

“Bukannya sudah jelas?” Sungmin mengangkat bahu. “Wajah Byul sekarang sudah sangat memerah!”

“Byul-ah, bagaimana rasanya?” tanya Donghae jahil.

Mwo?!”

Ketika Byul memekik, aku menoleh untuk melihat gadis itu, tetapi dia sudah menyembunyikan wajahnya di balik punggungku. Meskipun hanya sekilas, sudah amat sangat jelas kalau Byul saat ini sangat malu! Di depan kami bertiga pula! Dan dia satu-satunya wanita di sini! Kasihan sekali, apalagi saat Donghae dan Sungmin tertawa riang, bahagia setelah kami terintimidasi. Sahabat macam apa mereka ini?! Benar-benar!

“Ngomong-ngomong..” ujarku penasaran. “Kenapa kalian bisa berada di sini?”

“Byul meminta kami untuk menemaninya bermain basket.” Donghae menjawab. “Sebenarnya dia juga meminta kami mengajakmu, tetapi saat kami ke rumahmu, kau tidak ada di rumah, dan parahnya, kau tidak membawa ponsel.”

Aku tersenyum meminta maaf. Selain penggemar berat basket, Byul juga adalah pemain basket yang hebat. Meskipun kami – aku, Sungmin, dan Donghae – sedikit lebih unggul darinya, tetapi jika dibandingkan dengan para wanita di sekolahku, jelas Byul yang terhebat. Karena itu ia sering mengajak kami bermain bersama. Memang, di antara kami bertujuh, dan di antara empat wanita di komplotan kami, Byul satu-satunya wanita pecinta olahraga. Chan, Minjung, dan Hyosung tidak akan suka jika tubuh mereka berkeringat.

“Baiklah!” Byul menarik diri dari tempat persembunyiannya. Wajah gadis itu sudah terlihat normal, tidak lagi memerah. “Karena kita semua sudah ada di sini, saatnya memilih tim!” ujarnya. “Aku akan bersama Sungmin, dan kau, Donghae, kau bisa bersama Kyuhyun.”

Donghae dan aku mengangguk. Setelah gadis itu mengambil bola, kami berempat melangkah ke tengah lapangan, berdiri dengan pasangan masing-masing, saling berhadapan, menatap musuh, menciptakan suasana peperangan.

Byul memutar bola basket di jari telunjuknya, menatapku dan Donghae dengan tatapan remeh. “Ayo kita bemain!”

Saat gadis itu mulai melakukan dribble, permainan pun dimulai. Seketika, perasaanku tentang game yang dihapus hilang dan lenyap begitu saja. Aku terlalu sibuk untuk bermain basket bersama para sahabatku, dan juga terlalu sibuk untuk bekerja sama dengan Donghae dan bagaimana cara mengalahkan lawan kami. Aku benar-benar bahagia! Hormon endorfin ku meningkat dengan tajam!

Kalian tahu? Itu baru masalah game. Di lain waktu, aku pernah merengek pada Byul karena papan ski ku patah. Lalu karena aku dikalahkan anak berumur delapan tahun saat bermain Starcraft di taman. Lalu karena aku melewatkan pertandingan sepak bola. Sungguh, gadis itu benar-benar sabar dalam menghadapiku, meskipun – sudah ku bilang sebelumnya – dia tidak akan bisa memberikan solusi yang membangun. Namun, meski begitu, Byul juga selalu mau menemaniku setiap kali aku ingin pergi ke suatu tempat. Yah, anggap saja dia ‘teman kencan’ ku. Berdasarkan apa yang dia akui, dia paling tidak bisa menolakku, karena – tentu saja – aku selalu berhasil membujuknya, terlebih jika embel-embel ‘es krim dan keripik kentang’ sudah ada dalam ancamanku.

☆☆☆

Meskipun sering kali merepotkan Byul, asal kalian tahu, Byul juga tak kalah merepotkannya dibanding diriku! Jika persediaan dua benda favoritnya sudah menipis, dia akan bersikap sok baik padaku, atau mengancam akan menghapus game ku di laptopnya. Mau tidak mau, aku membelikannya, dengan amat sangat terpaksa. Sebenarnya, gadis itu bukan tipe orang yang suka merepotkan orang lain. Hanya saja, setiap tindak-tanduknya – tanpa disadari – sudah sangat merepotkan aku.

Kejadian ini salah satunya.

Suatu hari saat pulang sekolah – omo! Aku seperti ibu muda yang tengah mendongeng! – Byul memaksaku untuk menemaninya ke toko buku. Dia bilang, dia ingin mencari buku Panduan Wisata Korea untuk sepupunya yang berada di Jepang. Woah, kalau saja gadis yang sedang menikmati es krim di sampingku ini bukan Byul, aku pasti sudah terbahak-bahak. Hei, ini sudah mau memasuki abad 21! Lalu apa gunanya internet?!

Jadi di sinilah kami berada. Di toko buku dekat sekolah, sedang membaca setiap judul buku di rak di sekeliling kami.

Aku sedang serius mencari buku di rak bagian bawah, ketika aku menabrak punggung Byul.

“Aish, jinjja!” teriakku. “Kenapa kau berhenti mendadak?!”

Gadis itu tidak menjawab. Dia berdiri mematung, dengan mata terpaku pada langit-langit. “Itu dia.”

Aku mendongkak untuk melihat apa yang dilihat gadis itu. Sebuah buku tebal dengan judul yang sama yang dikatakan gadis itu, terletak di rak paling atas, nyaris menyentuh langit-langit.

Byul berjinjit untuk mengambil buku itu, namun aku tahu itu tidak ada gunanya.

Aku terbahak. “Dasar pendek.” Aku membantunya meraih buku itu, tapi tidak bisa. Hal yang sama juga terjadi saat aku berjinjit. Aku tetap tidak bisa meraih buku itu.

Byul tertawa. “Oh, jadi itu yang namanya tinggi?” sindirnya.

Aku merengut. “Apa solusi terbaikmu?”

Dia menyeringai. “Membungkuklah! Tahan tanganmu di rak!”

Dengan polosnya, aku melepas tas, mengikuti apa yang diinginkannya. Tapi kemudian, aku berdiri tegak. “Ya, apa-apaan ini?!”

“Kau mau cepat pulang kan?”

Aku memutar bola mata kesal, kembali ke posisi yang diinginkan Byul. Aku melihat gadis itu membuka sepatu, menanggalkan tas, dan naik ke punggungku.

Omo!” keluhku terkejut. “Apa yang membuatmu begitu berat padahal kau sangat kurus?!”

Dia menjawab santai. “Es krim dan keripik kentang?”

Aku memejamkan mata, menahan dirinya, sedikit menggeliat. “Aish, kau benar-benar!”

Dia menginjak punggungku. “Ya, bisakah kau diam?!”

Aku menghela napas, berusaha untuk diam. Aku memang masih bisa menahannya, tapi tidak akan lama. Kakiku mulai goyah.

“Byul-ah, bisakah kau lebih cepat?!” tanyaku. “Aku tidak kuat lagi!”

Dia mendengus. “Aku masih belum bisa meraihnya! Rak ini sangat tinggi!”

Aku berusaha menegakkan kaki, tapi hal itu hanya membuat tubuhku bergoyang-goyang. Dan membuat Byul menginjak punggungku lagi.

“Berhenti menginjak punggungku, Shin Ha Byul!”

“Maka kau harus berhenti bergerak!”

“Turunlah!”

“Tunggu sebentar! Aku hampir bisa mengambilnya!”

“Aku tidak kuat lagi!”

Punggungku kembali diinjak olehnya. “Diamlah!”

Aku terkesiap. Oh, ini tidak bisa ditolerir lagi. Dengan marah, aku menegakkan tubuhku. Bersamaan dengan itu, terdengar suara gedebuk keras, disusul suara beberapa benda yang jatuh.

Oops.

Aku berbalik. Ah, pemandangan yang sungguh tidak bagus untuk dilihat. Di depanku saat ini, Byul terbaring kesakitan dengan banyak buku yang berjatuhan di atas dirinya. Untung saja rak buku itu tidak ikut terjatuh.

Aku menyingkirkan buku-buku yang menutupi gadis itu, membantunya duduk bersandar di dinding. “Byul-ah, kau baik-baik saja?”

Gadis itu membuka mata, menatapku dengan sayu. Dia hendak menegakkan tubuh, ia berteriak kesakitan dan kembali bersandar. Dalam hati aku meringis.

“Kurasa itu sudah menjawab semuanya.” Aku terkekeh, namun terkekeh di saat seorang teman sedang kesakitan adalah perbuatan tercela.

Tiga orang petugas toko menghampiri kami. Satu di antara mereka membawa tangga, sementara yang lain meyusun buku-buku di rak dengan cepat. Si petugas yang membawa tangga menghampiri kami. “Permisi, ada yang bisa kubantu?” ujarnya sopan.

Aku menunjuk buku panduan itu, meminta si petugas mengambilnya. Satu menit kemudian, petugas itu sudah memegang buku tadi. Ketika dia mau memberikannya padaku, aku menolaknya. “Apa Anda bisa menolongku lagi?”

“Tentu saja!” jawabnya riang.

“Bisa tolong bawakan buku itu ke kasir?” pintaku memberikan beberapa lembar uang. “Tolong jelaskan apa yang terjadi pada temanku ini, aku akan mengambil kembalian dan bukunya di sana. Terima kasih.”

Petugas itu tersenyum ramah, pergi dengan membawa buku dan tangga.

Aku menoleh ke arah Byul, menatapnya dengan marah. “Kau ini bodoh atau apa hah?!” bentakku. “Kenapa kau tidak memanggil salah satu petugas dan meminta bantuan mereka?! Apa kau senang melukai dirimu sendiri?!”

Byul membuka mulutnya pelan, namun tidak ada apapun yang keluar dari mulutnya. Dia memejamkan mata, meringis sakit. Setitik air matanya jatuh. Aku tertegun.

Apa sesakit itu yang dirasakan Byul?

Baiklah, ada satu hal yang kurasa penting untuk kuberitahu. Dari dulu, aku tidak pernah suka melihat air mata wanita, baik itu karena bahagia apalagi sedih. Dan sejak mengenal Byul, ketidaksukaanku itu semakin menjadi, terutama pada gadis itu. Aku benci melihatnya menangis, atau merasa terharu, bahkan bahagia sampai air matanya jatuh. Aku tidak tahu kenapa! Sungguh!

Tanpa aba-aba, aku menuntun gadis itu untuk naik ke punggungku, melingkarkan lengannya di leherku. Aku berdiri tegak, mengambil tas kami berdua, berjalan menuju kasir. Aku meminta si penjaga kasir memasukkan buku dan kembalian di tas ku, kemudian kami meninggalkan toko buku.

“Kyuhyun-ah, mianhae..”

Aku tercenung. Kalimat itu adalah kalimat pertama yang keluar dari mulut Byul setelah dia terjatuh. Dan setelah setengah jam aku berjalan dengan dia berada di gendonganku.

Kalau boleh jujur, sebenarnya bukan Byul yang seharusnya meminta maaf. Aku lah yang salah. Jika seandainya aku bisa menahan dirinya lebih lama, bersabar, dan tidak langsung berdiri, hal ini pasti tidak akan terjadi. Aku yang seharusnya meminta maaf. Tapi aku tidak akan mengatakannya.

“Jangan lakukan hal ini lagi. Belajarlah untuk meminta bantuan pada orang lain.” nasihatku.

Eung..” balasnya lemas.

Aku menghela napas. “Kuharap tidak ada satupun tulangmu yang patah.”

Na.. do..”

Aku memperbaiki posisi Byul di gendonganku, kemudian berjalan lagi. “Oh, Byul ku..” aku bersungut-sungut. “Kau berbakat membuat orang di sekitarmu khawatir, kau tahu?!”

Mi.. an..

Ketika tiba di rumah Byul, kami disambut perkataan-perkataan khawatir orangtua gadis itu. Aku menjelaskan apa yang terjadi pada ayah ibunya. Saat mereka mengizinkan aku untuk masuk ke kamar gadis itu, aku mendudukannya di tempat tidur, menahan tangannya, membaringkan dirinya dengan lembut, dan menyelimutinya.

Keesokan harinya, Byul tidak masuk sekolah, sehingga saat aku masuk ke kelas, aku langsung diserbu lima sahabatku. Tentu saja, setelah diwawancarai, aku dimarahi habis-habisan.

☆☆☆

Aku yakin kalian pasti sudah tahu jika Byul suka menggunakan sufiks ku pada namaku, mengklaim diriku adalah miliknya. Aku juga begitu. Selalu menyebut Byul adalah milikku.

Dan kalian pasti bertanya-tanya tentang hal itu.

Baiklah. Mungkin kalian harus tahu jawaban Byul saat dia juga ditanya seperti itu, mengapa dia sering menyisipkan akhiran ku pada namaku.

Tidak ada maksud apapun sebenarnya. Sufiks ku yang digunakan memang terkesan merujuk pada ‘Kyuhyun adalah milikku’. Tapi harus kuakui, penggunaan sufiks itu memang sangat ambigu. Sufiks ku yang digunakan memiliki arti yang sama saat aku berkata, ‘Es krim itu milikku!’. Lihat? Apa aku punya hubungan khusus dengan es krim itu? Tidak ‘kan? Jadi begitulah maksud sebenarnya.

Apa kalian sudah mengerti? Jawabanku persis sama dengan Byul. Namun, ada beberapa hal yang akan aku tambahkan.

Memang, ‘Byul ku’ sama artinya dengan saat aku berkata ‘PSP itu milikku’, tetapi aku akan menambah pengertian lain. ‘Byul ku’ mempunyai arti ‘Byul adalah sahabatku’. Gadis itu adalah sahabat yang dimilikki oleh ku. Aku tidak akan tinggal diam jika ada yang merebut sahabatku dariku!

Jelas? Jadi jangan berpikir yang tidak-tidak ya. Apalagi menyangkut pautkan penggunaan sufiks itu dengan cinta.

Tunggu dulu.. cinta?

☆☆☆

Sejak mengenal Shin Ha Byul, aku punya pengertian tersendiri tentang cinta.

Menurutku, cinta tidak mesti menggambarkan ungkapan perasaan seseorang kepada lawan jenisnya. Atau tentang konsep berpacaran, bahkan pernikahan. Cinta memiliki arti yang lebih luas dari itu. Misalnya saja, aku suka bermain game karena aku ‘mencintai’ game. Atau jika seandainya kalian ingin hal ini kukaitkan dengan Byul. Aku mencintai sahabat-sahabatku, sama seperti aku mencintai Tuhan dan keluargaku. Bukannya dengan pengertian itu, kalian paham jika cinta tidak berarti kau harus memiliki suatu hubungan khusus? Tapi, jika dipikir-pikir lagi, aku punya hubungan khusus dengan gadis itu.

Shin Ha Byul adalah tetangga, adik, guru, tempat curhat, tempat pelampiasan, penyemangat, pesuruh, dan yang lebih khusus, sahabatku.

Sudah empat tahun aku bersahabat dengan si sinting ini. Semuanya baik-baik saja. Kami saling mengobrol, bercanda, tertawa, bergosip, menghina, mengejek, menyindir, menjitak, memukul, dan berbagi. Kami juga sering bertengkar, lebih karena hanya taruhan-taruhan konyol yang – baik aku ataupun dia – lakukan dan tidak mau kami ikuti. Setelahnya, kami akan berbaikan lagi.

Sampai pada akhirnya, aku mulai mengartikan cinta sebagai ‘saling memiliki’.

Dan itu semua terjadi saat aku bertemu gadis itu.

Min So Eun.

 

-To Be Continued-

Advertisements

2 thoughts on “Everything Has Changed 3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s