Everything Has Changed 2

everything-has-changed-taylor-swift-35296961-1191-669nce97g ce

Inspired by two friends’ song, Taylor Swift and Ed Sheeran.

1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 (END)

***

“LEE Dong Hae menyukai ku?” aku memandang Hyosung dan Minjung bingung.

Saat ini, aku bersama tiga sahabat wanitaku sedang menempuh perjalanan menuju bioskop. Donghae dan Sungmin sudah menunggu di sana. Hah, akhirnya hari ini tiba juga. Kami bisa bersenang-senang bersama di bioskop. Dan film yang kami tonton nanti agak berbeda, jika biasanya kami menonton film ber-genre action, thriller, atau melodrama, kali ini kami akan menonton kartun. Wah, akhirnya Disney mempersembahkan karyanya lagi!

“Tentu saja!” tegas Minjung. “Itu kelihatan sekali, kau tahu?”

“Lihatlah betapa seringnya dia bersamamu akhir-akhir ini.”

Setelah mengatakan itu, Hyosung mulai menceritakan hal-hal yang membuktikan kalau Donghae menyukaiku. Minjung akan menambahkan, atau meralat, dan sesekali menyela. Sedangkan aku hanya diam, sebagai bentuk penghargaan.

Selama ocehan dua gadis itu berlangsung, tanpa sengaja aku memperhatikan Chan yang berjalan di samping Minjung. Dia juga diam, tidak melakukan apa-apa selain mendengar. Wajahnya berubah drastis sejak Hyosung menyebut nama Donghae. Awalnya ia tampak kaget, dan raut kecewa tampak dari wajahnya.

Oke, kami berenam memang bersahabat, saling membagi kebahagiaan, kesedihan, kekonyolan, kemarahan, dan permasalahan dalam diri masing-masing. Tapi untuk masalah asmara, tiga gadis itu – serta Sungmin – masih sangat saaangat tertutup. Yah, karena mereka semua sudah tahu siapa yang aku cintai – sekaligus aku benci – dan Donghae juga sudah membagi masalah asmaranya padaku, entahlah pada mereka berempat aku tidak tahu. Oleh sebab itu, sangat tidak mungkin Donghae menyukaiku.

Karena aku tahu dengan pasti dia mencintai orang lain, dan aku tahu siapa orangnya.

☆☆☆

Waktu senang-senang sudah berakhir. Sekarang, aku kembali terfokus pada pelajaran. Walau aku baru berada di tahun kedua, setidaknya aku tetap harus belajar kan?

Ketika bel tanda waktu istirahat berbunyi, aku langsung merapikan semua bukuku, melangkah keluar kelas dan menuju kantin. Ahh, aku lapar sekali. Pelajaran Park seosaengnim memang selalu membuatku lapar. Bukan berarti aku benci pelajarannya – oh ayolah, siapa yang bisa membenci pelajaran yang dibawa oleh guru setampan dirinya? – hanya saja aku selalu lupa sarapan setiap kali pelajarannya. Makan roti selembar pun tidak sempat.

Di tengah perjalanan, Donghae muncul tiba-tiba dari tikungan, membuatku berhenti mendadak. Refleks, aku memukul lengannya.

“Aish, Shin Ha Byul, kau kasar sekali!” laki-laki itu mengusap-usap lengannya.

“Aku lapar, tuan Lee!” bentakku. “Jadi bisakah kau tidak menggangguku?!”

“Wah, kau agresif sekali,” ejeknya. Dia merangkul erat bahuku. “Aku juga mau ke kantin. Ayo!”

Dan laki-laki itu mulai ‘menyeret’ku menuju kantin. Aku berjalan pasrah, menurutinya. Ini pasti ada apa-apanya. Sesampainya di kantin, kami langsung mengambil nampan berisi tiga bungkus roti dan segelas air, duduk di tempat yang agak jauh dari keramaian. Donghae mengambil tempat di depanku. Aku membuka bungkusan roti, makan dengan lahap.

Selama aku makan, orang itu menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan.

“Apa?” tanyaku dengan mulut penuh.

Dia mendengus. “Kau persis seperti korban gempa bumi yang sudah satu minggu belum dapat bantuan makanan.”

“Sudahlah, katakan saja apa yang kau ingin tahu..” aku menelan roti itu, meneguk airku. “Pasti tentang Chan.”

Donghae tersenyum. “Ah, aku bahagia punya sahabat sepertimu, Byul..”

Aku menghela napas, memakan roti kedua.

“Jadi, kau sudah bertanya padanya?”

“Aku tidak bertanya, aku tahu begitu saja.” aku mengangkat bahu. Aku mulai menceritakan apa yang kami bicarakan selama perjalanan ke bioskop dua minggu yang lalu. Tentangku yang merindukan.. err.. kalian-tahu-siapa, perkataan Minjung dan Hyosung, serta ekspresi Chan.

“Begitukah?” Donghae bergumam pada dirinya sendiri. “Jadi, Chan..”

Aku mengangguk. “Kau mengerti sekarang? Kalau kau terus-menerus menempel padaku seperti parasit..”

“Aku bukan parasit!”

“.. hal itu hanya akan membuat Minjung dan Hyosung semakin memperkuat dugaan mereka!” lanjutku tidak peduli.

Donghae mengangguk-angguk, persis seperti beruang yang sedang dilatih oleh penjaga kebun binatang. “Jadi, apa yang harus kulakukan?”

Aku menghela napas lagi. “Hanya katakan ‘Yoo Seung Chan, aku mencintaimu’ apa itu sulit?”

“Kau kira itu mudah, hah?!” Donghae menjitak kepalaku. “Kalau begitu kenapa kau tidak melakukan hal yang sama pada Kyuhyun?!”

Aku mematung seketika mendengar nama itu. Aku sampai lupa kalau kepalaku sakit karena jitakannya. Tanpa berkata apa-apa, aku berdiri, pergi meninggalkan Donghae.

Ya, ya, Shin Ha Byul!” aku mendengar dia memanggilku. Lihat, bahkan hanya mendengar namanya, perasaan terluka yang sudah lama tidak kurasakan kembali lagi. Apa luka itu belum tertutup sepenuhnya, sehingga ketika ia muncul lagi, rasanya sakit sekali? Oh, Tuhan. Aku tidak bisa membayangkan apa jadinya diriku kalau aku orang itu ada di depanku.

Tiba-tiba, sebuah tangan asing menghentikan langkahku. Si pemilik tangan itu – Donghae – berdiri di depanku sambil memelas. “Byul-ah, maafkan aku..” pelasnya. “Aku hanya sedang putus asa sekarang, sehingga aku tidak sempat memikirkan kata-kataku.. Aku mohon, maafkan aku.. Aku sangat butuh bantuanmu..”

Aku menatap jengah laki-laki itu, yang balik menatapku penuh permohonan.

“Byul-ah..”

Aku bergeming.

“Byul?”

Hening.

Ya, Shin Ha Byul!”

Aku tidak peduli.

“Aku akan membelikan es krim dan keripik kentang untukmu.” Donghae mengangkat satu tangannya, sementara yang lain diletakkan di depan dada. “Aku janji.”

Mataku langsung berbinar. “Benarkah?”

Donghae memajukan bibirnya. “Cih, lihat dirimu,” cibirnya. “kau seperti seekor anjing yang sedang diiming-imingi tulang oleh pemiliknya.”

Aku kembali meninggalkannya.

“Hei!” Donghae meraih tanganku, mengembalikan aku ke tempat semula. Di hadapannya. “Aku hanya bercanda, Byul. Dan aku akan membelikan itu untukmu. Tapi kau harus membantuku..”

“Baiklah..” kataku pasrah.

“Jadi, apa yang harus kulakukan? Aku tidak mungkin langsung menemuinya dan mengatakan ‘Aku mencintaimu’ kan?”

“Tentu tidak, bodoh!” kami melanjutkan langkah menuju kelas. “Kau akan dikira gila olehnya.”

“Lalu?”

Aku megembungkan pipi. “Hei, apa Chan orang lain? Tidak ‘kan? Lagipula, menurutku kalian cukup dekat! Dan sekarang, kenapa kau tidak mencarinya?”

Donghae menatapku dengan pandangan kosong.

Aduh, aku mau menangis saat melihat wajah tolol Donghae! Ibu, Ayah, Nenek, tolong tampar aku! Kenapa si tampan jelek ini menjelma menjadi pria tak berotak kalau sudah berkaitan dengan Yoo Seung Chan?!

“Lakukan pendekatan.” jelasku menggerak-gerakkan tangan, persis seperti seorang guru taman kanak-kanak yang tengah mengajarkan bagaimana menulis hangul dengan benar kepada anak-anak berusia lima tahun. “Ajak dia pulang bersamamu, temani dia kemanapun dia pergi. Kita semua memang bersahabat, tapi Chan selalu tampak malu-malu kalau kau ada di dekatnya. Kau mengerti?”

Laki-laki itu mengangguk, lalu menjentikkan jemarinya. “Betul juga! Kenapa aku tidak pernah memikirkannya?” ia berkata senang. “Terima kasih, Byul. Kita akan membeli es krim dan keripik kentang saat pulang sekolah!” dia menepuk-nepuk bahuku, kemudian berlari meninggalkan aku.

Aku menatap punggung Donghae yang mulai menjauh. Aku mencibir dalam hati. Katanya dia dikenal oleh seantero sekolah sebagai seseorang yang romantis, tapi apa? Hanya untuk mendekati Chan saja, dia masih butuh bantuanku. Padahal dia mengenal Chan lebih lama dari siapapun. Apa itu yang disebut romantis? Cih.

Pada saat aku berbelok di koridor yang menuju kelasku, dari kejauhan, aku melihat Chan bersama seseorang keluar dari ruang musik. Mereka terlihat mengobrol dengan akrab. Awalnya kupikir itu Donghae, tapi ternyata aku salah besar.

Aku membelalak kaget, lantas bersembunyi di dinding koridor. Aku sedikit menjulurkan kepalaku. Mereka berhenti sejenak, berbincang cukup serius. Kemudian, Chan masuk ke kelas terlebih dahulu. Beberapa menit kemudian, barulah orang itu masuk ke kelas.

Ini tidak mungkin.

Aku segera berlari menuju kelas. Dan, yah, pemandangannya seperti biasa. Orang itu berada di tempat duduknya, mendengarkan musik menggunakan earphone, tidak mempedulikan sekitarAku mengamati lima temanku. Hyosung dan Sungmin bersandar pada dinding, memandang Minjung dan Donghae yang sedang berdebat seru, sementara Chan menatap keduanya dengan bingung. Ketika aku menghampiri mereka, barulah aku tahu apa yang terjadi.

Ternyata, Lee Dong Hae tengah memohon pada Hwang Min Jung agar ia diizinkan duduk dengan Yoo Seung Chan. Haha, jadi ini langkah pertamanya. Lucu sekali melihat caranya membujuk Minjung!

“Minjung-ah, aku mohon..” pelas laki-laki itu. “Untuk kali ini saja..” kemudian dia melanjutkan dengan pelan. “Atau setidaknya beberapa bulan ke depan..”

“Tidak bisa!” tegas Minjung. “Aku rabun jauh. Dan kau tahu kalau aku tidak akan sanggup duduk di belakang!”

Aku mengangguk-angguk. Alasan yang masuk akal. Meskipun Donghae adalah laki-laki yang paling mengenal Minjung, gadis itu tidak pernah mengizinkan siapapun merebut tempat duduknya. Minjung memang berkacamata, dan nilai minus matanya tidak main-main. Lensa kacamatanya tebal sekali! Menurutku itu wajar, karena gadis itu sangat amat suka membaca. Semua kegiatannya dilakukan sambil membaca, kecuali mandi dan tidur. Semua buku dilahap habis oleh gadis itu, mulai dari komik sampai biografi bahkan kamus bahasa Rusia! Dia juga unggul di hampir di semua mata pelajaran. Bukan berarti kami tidak unggul, hanya saja jika dibandingkan dengan dirinya, Minjung jauh di atas rata-rata.

Donghae tampaknya belum menyerah. Menurutnya, menaklukan Minjung hanya masalah waktu. “Kalau begitu, bagaimana kalau aku dan Chan duduk di tempatku, sementara kau tetap di tempatmu tapi kau akan duduk dengan Byul?”

Minjung hanya menatap Donghae datar.

“Ayolah, Jungie..” pelasnya semakin menjadi. Ternyata laki-laki itu tidak main-main. Semua orang tahu kalau Hwang Min Jung tidak akan berkutik bila sudah dipanggil semanis itu. “Kau tahu kan kalau aku tidak terlalu hebat di mata pelajaran fisika? Chan pasti bisa membantuku.. Bagaimana?” kini ia menoleh menatap Chan. “Kau tidak keberatan ‘kan?”

“Jangan khawatirkan aku.” balas Chan. “Aku tidak apa asal Minjung tidak keberatan.”

Donghae kembali menatap Minjung. “Aku akan memberikan cookies buatan ibuku untukmu! Tiga toples!”

Aku terperangah. Wah, perjuangan laki-laki itu patut diapresiasikan! Dia tahu benar Minjung sangat menyukai semua masakan ibunya, terutama cookies buatan ibu Donghae. Jadi dia menggunakan hal itu untuk membujuknya. Sama sepertiku yang selalu luluh setiap kali diming-imingi es krim dan keripik kentang.

Minjung menatap Donghae dan Chan bergantian, menghela napas pasrah. Wajahnya menunjukkan bahwa sangat tergiur dengan tawaran Donghae, namun ia pura-pura menyembunyikannya. “Baiklah..”

“Terima kasih, nona Hwang!”

Aku memindahkan tasku, duduk bersama Minjung, begitu juga dengan Chan. Entahlah, mungkin hanya aku yang menyadarinya – atau mungkin juga Donghae? – kalau Chan sedang mencoba menetralkan ekspresinya. Ia berusaha membuat wajahnya terlihat biasa saja, tapi di mataku, Chan pasti sedang senang sekarang. Oh, Yoo Seung Chan! Kau hanya akan membuat Lee Dong Hae semakin mencintaimu!

“Ada apa sih dengan anak itu?” gerutu Minjung saat dia sudah duduk. “Aneh sekali.”

“Entahlah,” kataku pura-pura bodoh. “Mungkin dia ingin menghilangkan anggapan kalau dia menyukaiku.”

Minjung hendak membalas, tapi ia mengurungkan niat saat Byun seosaengnim masuk ke kelas. Pelajaran favorit Minjung pun dimulai. Lihatlah, perhatian si nerd-shopaholic itu langsung tersedot ke guru yang lebih mirip ilmuwan roket di depan kelas sana. Aku baru hendak memperhatikan pelajaran ketika saku rokku bergetar, menandakan ada pesan masuk di ponselku. Dengan kecepatan cahaya aku menaruh ponsel di laci, membukanya, dan membaca pesan di sana.

Yoo Seung Chan

Aku akan menelepon. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Jangan balas pesan ini kalau kau tidak mau dihukum Byun seosaengnim lagi.

☆☆☆

“Jadi begitu,” Minjung mengakhiri penjelasan panjang lebarnya di telepon. “Berdasarkan soal itu, kita bisa menyimpulkan kalau relativitas Newton tidak bisa digunakan untuk benda yang kecepatannya mendekati kecepatan cahaya.”

Arraseo.” aku mengangguk, walau aku tahu Minjung tidak akan melihat. Aku membolak-balikkan buku di depanku. “Terima kasih, Jung.”

Aku memutuskan sambungan telepon, melepas earphone, kembali memusatkan perhatian pada soal-soal fisika di depanku. Saat ini aku berada di atap rumah, belajar sembari ditemani semangkuk besar es krim yang tersisa setengah dan lima bungkus keripik kentang yang sudah dua bungkus aku habiskan – Donghae yang membeli semua itu tadi. Walaupun sebenarnya aku punya tujuan lain selain belajar..

🎵 You would never ask me why

🎵 My heart is so disguised

🎵 I just can’t leave a lie anymore..

Haha, maaf ya. Itu nada deringku. Aku memang penggemar lagu lawas, tapi sepertinya itu tidak penting untuk kuberitahu. Akhirnya gadis itu menelepon juga!

Aku mengenakan earphone. “Ya?”

“Maaf, Donghae menelepon cukup lama tadi..” jawab Chan dengan nada menyesal di ujung sana. “Aku sampai harus meminta Joon meneriakiku supaya aku bisa menutup telepon..”

Aku tersenyum simpul. “Seharusnya aku tahu.”

“Apa?!”

“Ah tidak, bukan apa-apa..” aku tertawa hambar. “Jadi, apa yang mau katakan? Apa ini tentang tetanggaku?”

Sepertinya Chan cukup kaget dengan perkataanku. “Darimana kau tahu?”

Aku berkata tanpa ekspresi. “Aku melihat kalian tadi, dari atap sekolah. Berbicara dengan akrab. Dan kau sengaja menyuruhnya masuk ke kelas setelah dirimu supaya tidak mencurigakan.”

Hening.

“Kau masih marah, ya?”

“Aku tidak marah, Chan. Aku hanya kecewa.” Mataku mulai berkaca-kaca. “Apa kau tidak kecewa kalau ternyata kau tidak berarti bagi orang yang sudah berteman denganmu selama lima tahun?”

Aku bisa mendengarnya menghela napas. “Dia sudah menyesali semuanya, Byul.”

Aku terdiam.

“Harus kuakui, awalnya aku juga kecewa padanya. Tapi akhir-akhir ini dia terus meyakinkan aku. Aku tidak tega melihatnya terus merendahkan diri di depanku. Dia begitu terlihat menyedihkan, kau tahu? Dia mengaku kalau dia juga sudah bicara pada Sungmin, Hyosung, Donghae, bahkan Minjung – kau tahu betapa Minjung membencinya ‘kan? – tapi mereka semua tidak ada yang peduli. Dia bilang hanya aku satu-satunya yang mau mendengar, bahkan membantunya. Aku kasihan padanya. Jadi, yah, kuputuskan untuk membantunya..”

Dasar tuan putri bergitar, ejekku dalam hati. Yoo Seung Chan adalah gadis yang memiliki sifat seperti para tokoh baik di dongeng anak-anak. Kalian mengerti maksudku? Baik hati, tidak sombong, suka menolong, lemah lembut, anggun, dan rela berkorban. Dan kata ‘bergitar’ yang aku tambahkan dalam ejekkan itu mengacu kepada kemampuannya dalam bermain gitar yang sangat sangat mengagumkan.

“Aku tahu ini sulit bagimu..” lanjut gadis itu. “Aku hanya mau bertanya, apa kau.. mau memaafkan dia kalau seandainya dia meminta maaf padamu?”

Apa? Memaafkan dia? Setelah dia melukaiku dengan semua kata-kata kasarnya? Setelah dia meragukan aku sebagai sahabatnya? Setelah dia tidak mempercayaiku? Setelah aku tahu kalau ternyata aku sangat tidak berarti baginya? Setelah Shin Ha Byul dinomorduakan oleh si brengsek Min So Eun? Tidak, terima kasih.

“Aku tidak tahu.” jawabku bohong. Aku hanya tidak mau melukai perasaan Chan, makanya aku menjawab begitu. “Entahlah, Chan, ini benar-benar sulit.. Kau sendiri tahu ‘kan betapa terlukanya aku setelah kami bertengkar?”

“Aku tahu, dan dia pun tahu.”

Air mataku langsung mengalir dengan deras.

“Maaf.. aku hanya tidak tega padanya, sampai aku melupakan betapa menderitanya dirimu..”

“Tidak, tidak apa..” balasku menyeka air mata. “Aku tahu kau bermaksud baik.”

“Jangan membohongi dirimu sendiri, Shin Ha Byul. Aku tahu pasti kau sedang menangis sekarang.”

Aku tersenyum miris. “Akan kupikirkan,” jawabku mengalihkan pembicaraan. “Terima kasih, Chan.”

Aku mematikan sambungan telepon secara sepihak. Aku melepas earphone, memandang kosong buku-buku, es krim, dan keripik kentang yang ada di depanku. Aku memang tidak bisa mencegah air mataku kalau mengenai hal yang berkaitan dengan dirinya. Entahlah, sulit bagiku untuk membencinya, dan sulit bagiku untuk menerimanya kembali. Dia sudah keterlaluan padaku.

Aku menoleh, menatap rumah di samping kananku. Dari sini, aku memang bisa mengamati semua aktivitas keluarga Cho di luar rumah. Termasuk ketika aku melihat Ahra eonni yang sedang menyiram bunga-bunga di halaman. Aku menegurnya, melambaikan tangan. Dia tersenyum manis padaku, lalu melanjutkan kegiatannya. Yah, baik anggota keluargaku maupun Kyuhyun tidak ada yang tahu tentang pertengkaran kami. Sudah cukup aku dan dia saja yang bertengkar. Keluarga kami tidak boleh.

Aku menghela napas, mengalihkan dari halaman rumah keluarga Cho ke beberapa buku, es krim yang mulai mencair, dan bungkus keripik kentang. Aku menikmati es krim, sambil memandang berkeliling tempat ini. Oh, tempat yang langsung terhubung dengan kamarku ini terlalu menyimpan banyak kenanganku bersamanya. Ini salah satunya.

☆☆☆

Kejadian ini saat kami berada di tahun pertama sekolah menengah atas. Tepatnya, tiga bulan sebelum pertengkaranku dengannya.

Malam itu, aku duduk di atap rumahku. Entahlah, hanya sedang ingin saja. Aku menatap sekitar. Indah juga pemandangan malam hari di sekitar rumahku. Aku saja yang baru menyadarinya.

Sebenarnya, hari itu adalah hari ulang tahunku. Sialnya, ulang tahunku kali itu bertepatan dengan libur sekolah, jadi semua teman-temanku pergi berlibur, pulang ke kampung halaman masing-masing. Dan mereka cuma mengucapkan ‘Selamat ulang tahun’ lewat telepon. Kyuhyun bahkan lebih parah. Kemarin dia pamit pergi ke Daegu, dan hari ini dia tidak mengucapkan apa-apa padaku.

Aku terus duduk di sini sampai sekonyong-konyong satu-satunya lampu di tempat ini padam. Dan keadaan menjadi sangat gelap.

“Bagus sekali,” desisku kesal. “Ibu, Ayah, aku mohon jangan bercanda!”

Tapi ternyata lampu tidak juga menyala. Aku malah melihat kelebat cahaya lilin di tangga yang perlahan mendekat. Dan suara nyanyian.

Saengil chukha hamnida.. Saengil chukha hamnida..

Aku mengernyit. Oh, aku sangat kenal suara itu! Dan perlahan, si penyanyi mulai menampakkan dirinya.

Aku sangat terkejut saat melihat Kyuhyun berjalan mendekatiku dengan satu tangannya memegang kue ulang tahun, sementara yang lain memegang handycam dan kantong belanjaan yang cukup besar.

Aku senang, terharu, sekaligus heran. Jadi, aku mendekatinya, mengambil kantong belanjaan darinya, dan bertanya. “Kukira kau ada di Daegu sekarang.”

Dia tersenyum lebar. Dia meletakkan kue dan mengarahkan handycam pada kami. “Aku bohong,” katanya. “aku nyaris melupakan ulang tahunmu kalau bukan Minjung dan Sungmin yang mengingatkannya. Jadi, kubilang saja padamu kalau aku pergi ke rumah nenekku di Daegu, padahal selama seharian kemarin aku menyiapkan semua ini, hanya untukmu.”

Aku semakin terharu mendengar penjelasannya.

Kyuhyun mengambil kembali kue, menyodorkannya padaku. “Cepat, buat permintaan dan tiup lilin-lilin ini sebelum meleleh!”

Aku menurut, memejamkan mata, membuat permintaan. Beberapa detik kemudian, aku membuka mataku kembali dan meniup lilin-lilin itu.

“Selamat ulang tahun, Byul!”

Aku tersenyum. Ini benar-benar ulang tahun terbaik yang pernah ada. Kyuhyun membuat ulang tahunku ini menjadi ulang tahun yang paling berkesan. Aku bahagia bisa memiliki sahabat sepertinya. Aku tidak akan pernah melupakan hari ini.

Namun, belum lama aku merasa terharu, Kyuhyun melempar semua kue itu ke wajahku.

Ya!” teriakku membersihkan kue di mataku. “Apa-apaan ini?!”

Sementara yang diteriaki hanya tertawa. Kyuhyun merangkul bahuku, menuntunku sehingga kami berhadapan dengan handycam. “Katakan apa yang kau rasakan sekarang.”

Aku menatap kamera dengan sebal. Lalu mengambil sisa kue di wajahku, dan mengusap wajahnya dengan tanganku yang penuh dengan kue.

Ya!” dia berteriak kesal.

Aku tertawa. “Ambil ponselmu, kita harus punya foto untuk hari ini!”

“Apa?!” ia berseru. “Foto?! Dengan wajah seperti ini?!”

“Ayolah, ponselku ada di kamar! Aku malas untuk turun dan mengambilnya!”

“Aku tidak mau!” tolak Kyuhyun. “Wajah tampanku tidak akan terlihat!”

“Cih,” cibirku merangkul bahunya. “Ayolah, wajah cantikku juga tidak akan terlihat!”

Kyuhyun mendesah pasrah, mengambil ponsel dari sakunya, membuka kamera, mengarahkan benda itu sehingga kini wajah kami berdua – yang berlumuran kue – memenuhi kamera. Kami mulai berfoto-foto ria.

Kami membersihkan wajah dengan tissue – yang memang sudah disiapkan Kyuhyun – lalu aku membuka kantong belanjaan, dan meletakkan semua isinya di meja. Ada empat cup besar es krim, sepuluh bungkus keripik kentang, dan sebuah kotak kecil yang diatasnya diberi pita.

Aku memegang kotak berpita itu. “Sepertinya ini hadiahku.”

“Siapa bilang?” sahut Kyuhyun membuang tissue yang penuh noda. “Semua itu hadiahmu, bodoh!”

“Benarkah?!” teriakku tidak percaya, terkekeh. “Ini terlalu banyak, kau tahu?”

Dia menggeleng. “Semua itu seimbang dengan semua kebersamaan kita, dan semua kebaikanmu padaku. Bahkan kurasa, itu semua masih kurang.”

Aku menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Terima kasih, Kyu!”

Dia mengerutkan dahi. “Hanya ‘terima kasih’?”

“Lalu?” aku balas bertanya. Apalagi yang dia inginkan?

Kyuhyun merentangkan kedua tangannya. Aku terkesiap. Aku tahu sinyal itu. Dia tersenyum, dan mengangguk, seolah mengizinkan aku untuk melakukannya. Aku langsung menerjang memeluknya dengan erat, sembari terus menggumamkan terima kasih.

Setelah itu, kami duduk menikmati es krim dan keripik bersama – kami melakukan semua kegiatan ini di depan handycam – sembari mengobrol. Yah, beginilah jika Shin Ha Byul bila sudah bertemu dengan Cho Kyu Hyun. Tidak ada yang tidak dilakukan. Ada saja yang kami bicarakan, tertawakan, komentarkan, bahkan gosipkan.

Sesudah kami menghabiskan semua itu, kami berbaring di lantai beralaskan karpet. Kami menatap langit yang bertabur bintang.

“Ngomong-ngomong,” kata Kyuhyun. “Kau belum membuka kotak berpita itu.”

Sabagai jawaban, aku mengeluarkan kotak itu dari saku celanaku. Aku melepas pita, membuka kotak, mengambil sesuatu di dalamnya. Aku mengernyit. Sebuah earphone?

“Maaf,” gumam Kyuhyun. “Hanya itu yang terlintas di pikiranku saat aku mau membeli hadiah.”

“Memangnya kenapa?” tanyaku. “Ini keren. Aku suka warnanya. Kombinasi warna lambang NBA memang keren.”

“Benarkah?”

Aku mengangguk dan tersenyum. “Terima kasih, Kyu. Kau membuat ulang tahunku menjadi sangat isitmewa.”

Aku meletakkan kembali earphone itu di kotaknya. Ketika aku menatap Kyuhyun, orang itu balas menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Apa?”

“Lagi-lagi hanya ‘terima kasih’.” gerutunya.

Aku mendengus. “Bukannya aku sudah memelukmu? Memangnya apalagi yang kau mau?”

Dia tersenyum lebar dan menunjuk bibirnya.

YA!” aku memukul bahunya. “Apa-apaan itu?! Aku tidak mau!”

“Ayolah, Byul..” pelasnya memohon. Uh, itu terlihat menjijikkan kalau kau menanyakan pendapatku. Tatapan sok imutnya itu membuatku ingin muntah. “Hanya di pipiii saja..”

Aku mengembungkan pipi. “Seharusnya ‘kan kau yang melakukan itu! Bukannya aku yang berulang tahun?”

Aku membelalak, baru menyadari apa yang aku katakan. Aduh, kenapa aku mengatakan hal itu? Kenapa aku selau terlihat bodoh dan tidak berdaya di depannya?

Kyuhyun tertawa terbahak-bahak. “Wah, kau juga menginginkannya, ya?”

“Tidak!” elakku. “Itu.. maksudku.. bukan aku.. kau..”

“Kau gugup, Shin Ha Byul..” ia menatapku instens. “Dan pipimu memerah..”

Aku menoleh ke tempat lain, agar dia tidak melihat pipiku yang semakin merah. Aduh, ada apa sebenarnya dengan diriku..

“Hah, baiklah..” Kyuhyun bangkit dan duduk, menatapku yang masih berbaring. “Aku akan melakukannya asal kau yang melakukannya terlebih dahulu.”

“Tidak akan!” aku memalingkan wajah, malas menatapnya – sebenarnya lebih karena malu daripada malas.

“Ayolah..” dia meraih tanganku, menarikku sampai aku duduk berhadapan dengannya. Dan dia menangkup wajahku dengan kedua tangannya, mengecup singkat kening dan kedua pipiku.

Aku terdiam, melongo, mengedipkan mata berkali-kali, secara tidak sadar menyentuh kening dan kedua pipiku. Kyuhyun adalah orang pertama yang bukan keluarga yang melakukan ini padaku. Aku yakin, pipiku pasti kembali memerah, tapi aku tidak akan menutupinya.

“Sekarang giliranku.” Kyuhyun mendekatkan wajahnya dan memejamkan mata. Aku menghela napas. Baiklah jika dia menunggu balasan. Ini yang kulakukan.

Aku mengecup ujung jari telunjuk dan jari tengahku, menempelkannya pada kening dan kedua pipi Kyuhyun.

Dia membuka mata, menunjukkan wajah kesalnya. “Ya! Apa-apaan itu?!”

“Apa?” balasku polos. “Setidaknya aku sudah melakukannya kan?”

“Aku tidak mau yang seperti itu!” dia berbalik dan memunggungiku dengan marah. Aish, sejak kapan anak aneh ini menjadi manja dan perajuk? Merepotkan saja..

Yah, mau bagaimana lagi? Daripada masalah ini semakin menjadi, aku bangkit dari tempat dudukku, berjongkok di depan Kyuhyun. Dan, sebagai balasannya, dia mengacuhkan aku.

“Baiklah..” kataku pasrah. Pada akhirnya, aku menangkupkan tanganku di wajahnya, mengecup singkat kening dan kedua pipinya.

☆☆☆

Aku menyeka air mataku, menyentuh tombol pause tepat saat layar ponsel menunjukkan saat aku mengecup kening Kyuhyun. Bukankah sudah kubilang semua yang kami lakukan saat ulang tahunku sudah diabadikan dalam sebuah video? Aku selalu menangis setiap kali menonton video ini. Lihat betapa menyedihkannya aku. Aku tidak tahu bagaimana dengan Kyuhyun, tapi yang jelas, aku tidak akan pernah menghapus video ini.

Aku merapikan semua bukuku – tidak lagi berniat untuk belajar – mangkuk es krim dan keripik kentang. Aku membuka galeri foto di ponsel, memandang nanar slide foto-fotoku bersama Kyuhyun. Aku mendesah berat. Perasaanku padanya masih belum berubah, bahkan semakin bertambah. Tetapi aku selalu sakit hati bila mengingat semua perkataannya. Aku juga selalu merasa rindu setiap kali melihatnya di kelas, atau dimanapun. Aku akan menampakkan senyum palsu bila aku melihat dia berbicara dan tertawa bersama orang lain. Dan aku akan menangis diam-diam jika aku mendengar seseorang atau beberapa orang berbicara buruk tentangnya.

Slide foto yang kulihat sampai pada foto saat ulang tahunku. Fotoku dan Kyuhyun yang berlumuran kue. Foto dimana Kyuhyun merangkul bahuku, dan kami tersenyum lebar ke arah kamera.

Aku menatap foto itu sambil tersenyum miris. “Sayang sekali, permintaanku saat ulang tahunku tidak terkabul.” gumamku sedih. Aku melepas earphone, meletakannya di atas buku.

Earphone ini..

Tangisanku langsung pecah saat menatap benda itu. Permintaanku saat ulang tahun terngiang-ngiang di otakku.

Semoga persahabatanku dengan Kyuhyun – yang paling utama – juga Donghae, Sungmin, Chan, Hyosung, dan Minjung, akan bertahan selama-lamanya.

☆☆☆

“Byul-ah, apa yang terjadi? Kenapa kau menangis?”

“Apa orangtuamu bertengkar lagi?”

“Apa adik-adik sepupumu mengusikmu?”

“Atau karena kau baru saja menonton sebuah melodrama?”

“Atau karena persediaan es krim dan keripik kentangmu habis?”

Aku meletakkan kepalaku di meja sembari menutup telinga, bosan mendengar semua celotehan mereka berlima. Aku juga bodoh, membiarkan diriku menangis semalaman karena mengingat semua kenanganku bersama Kyuhyun, sehingga ketika bangun di pagi hari mataku menjadi bengkak. Aku sama sekali tidak memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Dan salah satunya.. adalah ini..

“Anggap saja semua alasan kalian benar..” gumamku malas. Aku langsung memalingkan wajah ketika melihat Kyuhyun masuk ke kelas. Melihat wajahnya hanya akan membuatku menangis lagi. Dan apa kata guru-guru kalau mereka melihat mata sembabku? Sudah cukup aku diwawancarai lima sahabatku, aku tidak mau diwawancarai para guruku.

Aku hampir kembali diwawancarai kalau saja Song seosangnim tidak masuk ke kelas. Huh, aku harus berterima kasih pada guru biologi itu. Mereka berlima kembali ke tempat duduk, memperhatikan wanita gempal itu untuk mendapatkan ilmu yang baru. Kali ini aku duduk dengan Chan di belakang Minjung dan Sungmin, sementara Donghae dan Hyosung duduk di belakang kami.

Ketika aku sedang menuliskan apa yang kulihat di papan tulis, aku melihat Chan memberikan secarik kertas padaku. Aku membaca isinya.

Aku tahu kenapa kau menangis. Maaf..

Aku menoleh menatap Chan, yang tengah memperhatikan papan tulis. Aku melanjutkan tulisanku. “Aku mohon rahasiakan ini. Jangan sampai mereka tahu.”

Arraseo.” balas gadis itu singkat.

Ketika waktu istirahat tiba, aku melihat Chan mengeluarkan beberapa buku tebal dari tasnya. Ia hendak berjalan keluar kelas, tapi Donghae menghalanginya.

“Mau ke perpustakaan?” tanya Donghae. Oh, dasar bodoh! Memangnya dia mau ke lapangan basket dengan semua buku-buku itu? Basa-basinya payah sekali!

Chan mengangguk. “Kau mau menemaniku?”

Wah, gadis itu benar-benar! Lihatlah reaksi Donghae ketika mendengarnya. Dia tampak seperti anak anjing yang diiming-imingi tulang oleh pemiliknya. “Dengan senang hati, nona L – maksudku Yoo!”

Haha, aku pasti akan tertawa terbahak-bahak kalau saja Donghae tidak melirik tajam ke arahku.

Chan tersenyum senang. Dia menyerahkan tumpukan buku-buku di pelukannya kepada laki-laki itu. “Tolong ya, tuan Lee?” pintanya menggemaskan. Jelas sekali kalau Donghae speechless. Apalagi saat Chan melingkarkan lengannya di lengan Donghae. Laki-laki itu memandang tangannya dengan kaget. Dia seketika menjadi anak yang baik dan penurut, karena ia tidak melakukan apa-apa saat gadis itu menyeretnya keluar kelas.

Aku hendak berjalan ke kantin ketika Hyosung mencegahku. Aduh gadis ini.. aku lapar dan ini tidak bisa ditolerir lagi.. Gadis itu juga memanggil Sungmin dan Minjung. Sepertinya aku tahu apa yang akan dibicarakan.

“Hei, kalian tahu ada apa dengan mereka berdua? Apa mereka berpacaran?”

Aku benar ‘kan?

“Itu tidak mungkin,” balasku langsung. “Kalaupun benar, salah satu dari mereka pasti sudah mengatakannya pada kita.”

Sungmin mengangguk setuju. “Donghae bahkan nyaris memanggil Chan dengan sebutan ‘nona Lee’.”

“Kalau begitu, apa Donghae menyukai Chan?” gumam Hyosung.

“Dan Chan juga menyukai Donghae?” tambah Minjung.

Mereka bertiga saling pandang dengan terkejut.

“Tidak salah lagi!” kata Hyosung menyimpulkan.

Aku menatap mereka bertiga dengan tidak sabar. “Apa kalian sudah selesai? Aku sangat lapar dan – “

“Pergilah.” usir Minjung. “Kami tidak mau melihat kau menjadi gila karena kelaparan.”

Aku menyeringai, keluar kelas dan meninggalkan mereka.

☆☆☆

Di sinilah aku berada. Duduk di tepi atap sekolah yang datar dengan sebuah roti di tangan, sembari memandang para siswa dan guru di bawah. Aku menggigit sepotong kecil roti, mengunyah, dan menelannya, masih memandang ke bawah dengan melamun. Aku tidak tahu kenapa, sejak pertengkaranku dengan Kyuhyun, aku sangat suka menyendiri. Itu memberikanku sedikit ketenangan, yah, hanya sedikit, tidak lebih. Aku mengeluarkan ponsel, memasang earphone, dan mendengar lagu-lagu di ponselku.

Soal earphone.. well, aku tidak akan pernah membuangnya. Karena yang pertama, ini satu-satunya earphone yang kupunya, dan kedua, kalian bisa menebak sendiri alasannya.

Ketika aku kembali menatap ke bawah, aku melihat Chan dan Donghae berjalan beriringan. Aku menatap mereka dengan miris. Oh, lihatlah, mereka benar-benar terlihat seperti pasangan kekasih! Di sisi lain, mereka juga tampak sangat cocok! Lihat cara mereka memperlakukan diri satu sama lain, membuat siapapun yang melihatnya merasa iri. Termasuk aku.

Aku seperti melihat diriku dan Kyuhyun di dalam diri Chan dan Donghae. Cara mereka mengobrol akrab, tertawa, berteriak, saling memukul dan menjitak, persis seperti kami. Aku tersenyum lembut begitu mengingatnya, sementara di satu sisi merasa sedih karena semua itu tinggal kenangan. Dulu, kebersamaanku dengan Kyuhyun yang sering membuat iri para siswa, sekarang tidak lagi.

Aku bangkit dari tempat dudukku, memutuskan untuk kembali ke kelas daripada berputar di masa lalu. Aku melepas earphone, memasukannya bersamaan dengan ponsel ke saku rokku. Aku berhenti mendadak saat melihat ada seseorang lain yang datang ke atap, sehingga aku tidak sendirian di sini. Aku terdiam membeku, sama sekali tidak menyangka hal ini akan terjadi. Terlintas di pikiran pun tidak.

“Sudah ku duga, kau pasti ada di sini.”

Ya ampun, suara itu.. sudah lama sekali aku tidak mendengar suara itu berbicara kepadaku dan hanya kepadaku. Suara itu.. membuatku merasa ringan dan terluka di saat yang bersamaan.

“Mau apa kau ke sini?!” tanyaku sok pedas.

“Hanya ingin tahu keadaanmu, setelah cukup lama kita tidak berbicara dan berhadapan seperti ini.”

Aku terkekeh sinis. “Sudah lihat ‘kan? Jadi bisakah kau pergi? Obrolan ini membuang-buang waktu.”

“Kau masih seperti dulu. Masih suka menyembunyikan luka-lukamu dariku, Byul.”

Oh My God. Rasanya aku ingin sekali menangis sekeras mungkin, dan memukul-mukul dirinya. Aku merindukan caranya memanggil namaku yang selalu terdengar berbeda itu.. Dari semua orang yang kukenal, kenapa harus caranya bila memanggilku yang terdengar berbeda? Dan kata-katanya yang biasanya terdengar menenangkan, kenapa sekarang terdengar begitu menyedihkan?

“Aku sempat melihat mu tadi pagi. Hanya sekilas. Tapi aku tahu, kemarin kau pasti menangis. Katakan padaku, kenapa?”

Apa? Dia bertanya ‘kenapa’? Apa dia tidak tahu kalau dialah yang menyebabkan semua ini? Apa dia tidak tahu, setiap kali aku mengingatnya, aku akan menjadi seperti ini? Atau dia pura-pura bodoh, bahkan mungkin, pura-pura tidak tahu?

“Matamu bengkak.. dan aku benci melihat hal itu..”

Aku tersenyum sinis, memberanikan diri untuk menatapnya. “Kau benci melihat ini?” aku menunjuk mataku. “Itu berarti kau pantas membenci dirimu sendiri.”

Kyuhyun terlihat kaget dengan apa yang aku ucapkan.

“Kalau begitu kau pasti lebih membenci dirimu sendiri saat kau melihat keadaan mataku saat itu!” lanjutku marah. Emosiku tidak terkontrol lagi. “Saat kau tidak mempercayaiku! Saat aku tahu ternyata aku sangat tidak berarti bagimu! Saat semua perkataanmu melukai hatiku! Saat kau lebih memilih si picisan Min So Eun daripada aku! Bisakah kau membayangkan betapa bencinya kau pada dirimu sendiri?!”

Aku merasakan mataku memanas, dan sesuatu membasahi pipiku. Ah, air mata sialan.. kenapa harus keluar di saat seperti ini?!

Laki-laki itu berjalan mendekatiku. “Byul-ah..”

“Cukup, Kyu..” aku spontan melangkah mundur. “Aku tidak bisa terus melihatmu di sini..” lirihku. “Keberadaanmu di dekatku saat ini hanya akan membuatku terluka..”

Aku pergi, berlari meninggalkannya sendirian di atap. Setelah aku sampai di koridor yang menuju kelasku, aku mengambil napas panjang, mengeluarkannya perlahan, dan menyeka air mataku. Aku menyemangati diri, masuk ke kelas dengan semua kepalsuan dalam ekspresiku.

 ☆☆☆

Studi lapangan. Kegiatan yang paling ku benci di antara semua kegiatan sekolah yang ada. Aku tidak terlalu suka dengan metode pembelajaran seperti ini karena aku kurang bisa menangkap sesuatu bila tidak ditulis dan dibaca. Tapi aku bisa apa kalau kegiatan itu harus dilakukan?

Dan disinilah aku dan seluruh murid tingkat kedua Chunkuk berada. Di depan Museum Nasional Rakyat Korea, yang terletak di dalam kawasan istana Gyeongbok. Aduh, ini yang membuatku tambah kesal. Rata-rata murid sangat senang dengan kegiatan di luar sekolah, tapi tidak denganku. Datang jauh-jauh ke sini, meninggalkan kelas, hanya untuk.. belajar sejarah? Apa tidak ada museum lain yang bisa dikunjungi? Trick eye museum, misalnya?

“Baiklah, anak-anak!” kata guru sejarahku, Kang Gi Soo. “Patuhi aturan muesum, ambil gambar sesuai ketentuan, catat apa yang diperlukan, dan jangan lakukan hal-hal konyol!”

“Baik, seosaengnim!”

Kami menyebar. Sebagian besar murid lebih memilih untuk melihat pergantian prajurit di istana Gyeongbok, sementara yang lain mengunjungi museum. Dan ‘yang lain’ itu adalah kami berenam.

Ya, kenapa kita tidak melihat pergantian prajurit saja?!” rengek Donghae.

“Payah.” kata Minjung. “Kalau kita sudah menyelesaikan tugas dari Kang seosaengnim, kita bisa mengunjungi istana Gyeongbok sepuasnya!”

“Bagaimana kalao berfoto-foto sebentar dengan prajurit?”

“Kenapa kau tidak mengajak Chan saja?” sembur Sungmin. “Aku yakin, ajakanmu itu lebih merujuk pada Chan daripada kami.”

Sementara Chan – yah – dia mencoba bersikap biasa. “Tapi aku setuju dengan Minjung, selesaikan tugas kelompok kita baru kita bersenang-senang. Bagaimana?”

Awalnya kupikir Donghae akan menurut, tapi ternyata aku salah. “Tidak mau!”

“Ayolah..” pelas Chan. Dia memberikan pulpen dan buku tulisnya pada Donghae. “Kau yang catat, oke?”

Aku berdecak. Chan hanya makin memperburuk suasana. Kenapa malah menyuruh Donghae mencatat, padalah orang itu hanya ingin berfoto?

“Aku tidak mau!” seru Donghae marah. Ia melempar buku dan pulpen Chan ke tanah, langsung pergi meninggalkan kami.

Ya, ya, Lee Dong Hae!” teriak kami berlima. Aku, Sungmin, Hyosung, dan Minjung melirik Chan, mengisyaratkan gadis itu untuk mengejarnya.

“Baiklah..” gadis itu memutar bola matanya kesal. Aku menatap punggung Chan yang mulai menjauh.

Dan sekarang, aku yang ditatap oleh Minjung, Sungmin, dan Hyosung.

“Apa?” tanyaku.

“Kita tidak mungkin berdiam di sini, sementara kita mau tahu apa yang terjadi kan?” ujar Hyosung. “Ikuti mereka!”

“Kau mata-matanya, Shin Ha Byul!” Minjung menepuk-nepuk bahuku. “Kami mengandalkanmu! Kami janji, tugas sejarah ini akan selesai jika kau kembali!”

Aku melangkah pergi meninggalkan mereka dengan sebal.

“Lakukan tugasmu dengan baik, eoh?” sahut Sungmin ketika aku sudah di luar museum. Sejak kapan Lee Sung Min menjadi orang yang ingin tahu seperti ini? Dia bersikap seperti perempuan!

Aku berkeliling istana, mencari Donghae dan Chan di antara kerumunan para murid dan pengunjung, namun aku tidak melihat mereka. Aku memeriksa museum – kembali bertemu mereka bertiga – mencari mereka di setiap lantai, tetap saja aku tidak menemukan mereka. Aku kembali mencari di luar, dan akhinya aku menemukan mereka.. di belakang museum.

Aku bersembunyi di balik pohon. Harus kuakui, tempat ini cukup sepi. Hanya kami bertiga yang berada di sini. Aku mengintip, melihat Chan tengah menarik-narik baju Donghae, sembari memelas.

“Donghae-ah, kau kenapa?”

“Aku hanya kesal, semua teman-temanku tidak mau mengikuti keinginanku, padahal aku selalu mengikuti keinginan mereka.” kata Donghae bersungut-sungut. Ugh, aku benar-benar ingin muntah melihat wajah memelasnya.

“Minjung benar, kau tahu?” Chan masih mencoba membujuknya. “Kita bisa selesaikan tugas kita dulu, setelah itu barulah kita bersenang-senang. Bagaimana?”

Aku terkekeh pelan. Chan persis seperti ibu yang tengah membujuk anaknya agar mau makan. Dia benar-benar sabar menghadapi orang itu. Kalau aku ada di posisinya, aku pasti akan menendang, meninggalkan, dan tidak akan mempedulikannya.

Sekeras apapun Chan berjuang, Donghae tetap juga keras kepala. “Aku tetap tidak mau!”

Ya!” bentak Chan. Sepertinya ia sudah tidak bisa bersabar lagi. “Kenapa kau berubah menjadi kekanakan begini, eoh?!”

“Lalu kenapa?!” sergah Donghae tak mau kalah. “Kau tidak suka?!”

Chan mengangguk. “Akhir-akhir ini sikapmu aneh dan menyebalkan!”

“Jadi, sikapku aneh dan menyebalkan?” Donghae menunjuk hidungnya. “Tebak semua ini karena siapa!”

Perasaanku agak tidak enak soal ini.

“Siapa?” tantang gadis itu.

Donghae menyeringai. Ia mendorong pelan Chan sehingga punggung gadis itu menabrak dinding. Laki-laki itu berdiri tepat di depan gadis itu, dan jarak wajah mereka sangat-sangat dekat. Apa yang akan mereka lakukan? Terlalu banyak pikiran kotor yang berseliweran di otakku. Haha, maaf ya. Itu becanda, kok.

“Yak, apa yang kau lakukan?” tanya Chan dengan tatapan takut-takut.

“Kau terlihat gugup.” balas Donghae masih dengan seringaiannya. “Kenapa?”

“Gugup?” elak gadis itu. “Aku tidak gugup!”

Donghae terkekeh mengejek.

“Bisakah kau menjauh?” pinta gadis itu mendorong bahu Donghae dengan satu jarinya. “Bagaimana kalau orang berpikiran yang tidak-tidak tentang kita?”

Laki-laki itu membuat wajahnya terkejut. “Wow, kau bahkan menyebut kata ‘kita’. Itu terdengar manis di telingaku.”

Intuisiku sepertinya benar.

“Apa maumu, tuan Lee?” sepertinya Chan mulai malas meladeni orang itu. “Cepalah, mereka semua menunggu kita di museum.”

“Aku?” laki-laki itu menunjuk hidungnya. “Aku hanya mau..”

Jantungku berdebar menunggu saat ini. Apa Donghae akan melakukannya? Ah, kita lihat saja.

Dia mendekatkan wajahnya pada Chan dan berbisik. “Aku hanya mau berfoto dengan para prajurit. Itu saja.”

Setelah mengatakan hal itu, dia langsung menjauhkan wajahnya.

Ah, Donghae sialan! Kukira dia akan melakukannya! Otakku sedang berkenala entah kemana sekarang! Harap maklum, ya!

Aku berbalik, pergi diam-diam, tidak mau tahu apa yang akan mereka lakukan selanjutnya karena intuisiku salah besar. Dan aku tentu saja harus melapor pada ‘bos-bos’ku tentang kejadian ini. Tiga orang yang tengah menunggu informasi dari mata-matanya sambil mengerjakan tugas kelompok. Aku yakin mereka tengah memikirkan apa yang aku pikirkan, tapi akan langsung kecewa setelah apa yang terjadi.

Baru saja aku mau memasuki museum, seseorang mencegalku dengan menahan tanganku.

“Bisa kita bicara sebentar?”

 

-To Be Continued-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s