Born to be Somebody 4 (END)

justin-born-to-be-somebody1

Too in love with this song, I try to create an ‘inspirated’ story about it.

1 | 2 | 3 | 4 (END)

***

“KAU tahu? Pamanmu melakukan hal yang benar.” gumam Moon Na Ra menerawang.

Yoojung menghela napas, memandang kedua temannya dengan lesu. Kini ia berada di dapur flat bersama dua wanita itu. Gadis itu duduk di kursi meja makan sambil memeluk lututnya, berhadapan dengan mereka. Nara dan Shinhae bersandar pada kulkas

Setelah kedatangan pamannya tadi sore, ia langsung meminta izin kepada presdirnya untuk pulang dengan alasan masalah keluarga. Jelas saja itu bohong. Karena pada praktiknya, Yoojung kembali ke flat, menceritakan semuanya pada Shinhae dan Nara. Semuanya. Tentang kehidupan masa kecilnya yang suram, kejadian di bandara, kedatangannya kembali dari Jerman, ketika Kyuhyun datang ke rumahnya, perlakuannya pada Sohee, pertemuannya dengan Hyena, Seungjo, dan Youngdae, juga perkataan Jiyong dan pamannya. Dan kalian bisa menebak betapa terguncangnya dua wanita itu karena teman satu flat mereka ini harus menanggung luka itu sendirian. Gadis yang dikenal tertutup itu – setidaknya menurut keduanya – kini membeberkan semuanya. Bahkan Shinhae yang sudah lebih lama mengenal Yoojung dibanding Nara saja terkejut setengah mati.

Yoojung memang tidak butuh pembelaan. Ia tahu dengan pasti apa yang dilakukannya salah. Sangat amat salah. Ia hanya ingin membagi semuanya, agar tidak merasa terbebani. Juga membutuhkan nasihat yang bagus serta pemantapan hati. Ya, pemantapan hati.

“Aku tahu.” jawab Yoojung setelah cukup lama terdiam. Ia menatap kedua temannya lagi. “Jadi, apa yang harus kulakukan sekarang?”

“Sebelum kau meminta maaf pada pamanmu, kau harus melapangkan hatimu untuk menerima mereka. Terutama Kyuhyun.” tambah Nara. “Kasihan sekali dia. Di saat dia menjadi berpengaruh di dunia, dia harus berjuang mati-matian untuk gadis yang dia cintai. Hargai perjuangan dan cintanya padamu, Jung. Aku yakin kau tidak akan menyesal.”

Yoojung menatap Nara kosong. Kalimat terakhir itu sama persis dengan yang diucapkan si kakak sepupu. Nara memang paling dewasa dan bijak di antara mereka bertiga. Dan gadis itu memang berperan seperti ibu untuk Yoojung dan Shinhae. Ia yang memperhatikan pola makan dan kesehatan keduanya. Shinhae juga sering menceritakan masalahnya pada Nara, dan meminta nasihat pada gadis itu. Selalu. Tetapi ini untuk pertama kalinya Yoojung menceritakan masalahnya. Karena selama ini, gadis itu hidup seperti tidak punya sedikitpun permasalahan hidup. Ia memiliki pertahanan diri yang kuat nan palsu. Tetapi kali ini berbeda. Untuk pertama kalinya, Yoojung berani menjadi lemah di depan kedua temannya.

“Begitukah?”

Keduanya mengangguk.

“Tenangkan diri. Mantapkan hatimu. Barulah kau meminta maaf pada paman dan kakakmu. Setelah itu, cobalah buka hatimu untuk Kyuhyun. Juga pada empat orang itu.” Nara menyarankan.

“Dan jangan lupa,” sambung Shinhae. “jadilah dirimu sendiri.”

Pandangan kosong Yoojung perlahan terfokus. Ia memandang kedua temannya bergantian, kemudian ia mengangguk pelan.

Setelahnya, Yoojung menghabiskan waktu untuk berpikir. Ia lebih banyak melamun dari biasanya. Bahkan melakukan segala hal sambil melamun. Makan sambil melamun, mandi sambil melamun, bahkan menonton televisi sambil melamun.

Sampai pada suatu sore, Yoojung keluar dari kamarnya dengan pakaian yang sangat rapi. Ia menuju dapur, dan duduk di kursi. Ia meminta Nara untuk menyiapkan jjajangmyeon untuknya. Jadi ketika makanan itu ada di depannya, ia menikmatinya dalam diam.

“Jadi, bagaimana?” ujar Nara seraya mencuci tangan. Setelah mengeringkan tangannya, ia menghampiri meja makan dan duduk di depan gadis itu. “Apa yang akan kau lakukan hari ini?”

“Hal yang sudah aku pikirkan selama empat hari terakhir ini.” Yoojung menjawab sebelum menyuapi jjajangmyeon ke mulutnya.

Shinhae dengan tiba-tiba memasuki dapur. Ia duduk di samping Nara. “Kau butuh waktu empat hari untuk berpikir?! Ckckck..”

Nara menyikut rusuk Shinhae dengan kesal. Arsitek itu meringis pelan, lalu bersungut-sungut.

Selesai itu, Yoojung langsung keluar menuju garasi, mengambil sepedanya, dan berangkat. Meski berjalan dengan santai, kali ini perjalanannya memiliki tujuan. Ia tidak lagi menikmati keadaan sekitar, seperti yang biasa ia lakukan. Perjalanannya kali ini, akan menentukan hidup dan nasibnya.

Ia sampai di rumahnya pukul delapan malam. Ia membuka gerbang, menuntun sepedanya masuk ke dalam, memarkirnya di halaman. Ia melangkah menuju pintu depan. Ia menekan bell sekali, menghindar dari interkom. Beberapa detik kemudian, seorang pria yang membuka pintu. Pria itu terkejut melihat siapa tamu yang datang.

Yoojung terdiam. Ia kembali teringat apa yang sudah dilakukannya dulu. Mata gadis itu berkaca-kaca, dan satu isakan keluar dari mulutnya. “Maafkan aku paman,” ucapnya sambil menangis tersedu-sedu. “Maaf telah membuatmu kecewa.. Aku tidak tahu.. apa yang terjadi padaku.. sampai aku bisa melakukan semua itu.. Aku jahat.. egois.. Dan kalian semua pasti kecewa padaku.. Maafkan aku, paman.. Maafkan aku..”

Kwon Chun Hee langsung menarik gadis itu ke dalam pelukan. “Jangan minta maaf padaku, gadis kecil.” balasnya. “Minta maaf pada kakakmu. Dia yang paling tersakiti atas semua yang kau lakukan.” ia melepas pelukannya, menuntun sang keponakan masuk ke rumah. Mereka mendapati Jiyong tengah menonton televisi di ruang tengah.

Jiyong terlihat kaget ketika melihat gadis itu. Dan saat ia melihat Yoojung tertunduk sembari menangis, ia menghampiri adiknya.

“Oppa, maafkan aku.” ujar gadis itu berlinang air mata. Ia mengangkat wajah. “Aku tahu apa yang aku lakukan salah.. Kebencian dalam diriku inilah yang membuatku seperti ini.. Aku tahu aku tidak seharusnya marah pada oppa.. atau merendahkan Hyena, Sohee, Youngdae, dan Seungjo.. atau membenci Kyuhyun.. Dan membalas dendam pada mereka semua.. Aku juga.. tidak berhak bersikap sombong.. Aku tidak tahu apa yang merasukiku.. Aku sudah mengecewakan paman dan oppa.. Karena itu.. aku mohon maafkan aku..”

Tangisan Yoojung semakin menjadi. Secara perlahan, ia membungkuk, dan berlutut. Begitu menyadari apa yang ingin adiknya lakukan, Kwon Ji Yong langsung menahan gadis itu, menariknya untuk berdiri, dan memeluknya.

“Jangan rendahkan dirimu di depanku, Jung..” balas pria itu. Air matanya juga mulai mengucur deras. “Aku memberimu waktu bukan untuk merendahkan diri di depanku, tapi untuk berpikir jernih. Aku tidak suka melihatmu merendahkan diri di hadapan siapapun. Karena itu jangan lakukan itu di depanku..”

“Maaf, oppa..” lirih Yoojung mengeratkan pelukan. “Maaf..”

“Sudahlah..” kata Jiyong. Pria itu melepas pelukan, meyeka air mata gadis itu. Ia menangkupkan kedua tangannya di wajah gadis itu. “Kau sudah melakukan hal yang benar.”

Setelah itu, mereka bertiga berkumpul di ruang tengah. Oh, rumah keluarga Kwon menjadi lebih hidup setelah kehadiran Yoojung! Gadis kecil itu rupanya penyemangat bagi dua pria di rumah ini. Mereka senang melihat Yoojung yang berisik.

Sembari mendengar cerita Yoojung, diam-diam Jiyong mengeluarkan ponselnya, mengirim pesan kepada seseorang.

Tugasku selesai. Sekarang, giliranmu untuk berjuang.

 ☆☆☆

“Kosongkan landasan nomor 2! Pesawat KE 457 dari Frankfurt akan melintas!”

Ketika mendengar pengumuman itu, Yoojung mengamati dengan teliti pesawat yang disebutkan dari layar di menara pantau. Ada peringatan muncul yang ditandai dengan lampu merah yang berkedap-kedip di gambar pesawat. “Oh, tidak!” serunya. Ia menarik mikrofon, mengumumkan kepada para kru. “Kosongkan hanggar untuk pesawat KE 457! Siapkan peralatan de-icing agent!”

Ia juga memberikan instruksi pada pilot. “Menara kontrol pada pilot KE 457, apa kau bisa mendengarku?”

“Pilot KE 457 pada menara pantau, aku mendengarmu, ganti!”

“Percepat landing! Sistem aerodinamis pesawat itu terganggu!”

“Siap!”

Dengan terburu-buru, Yoojung menuju hanggar. Pesawat hendak memasuki hanggar ketika ia sampai. Ia berbicara kepada seorang teknisi. “Beritahu bagian informasi untuk menunda keberangkatan pesawat ini selama satu jam! Proses ini akan memakan waktu lama karena salju dan kristal es menempel di seluruh permukaan atas pesawat dan rudder.”

Orang itu mengangguk, dan segera meninggalkan hanggar. Sementara Yoojung mulai memerintahkan beberapa orang untuk mengisi alat de-icing agent dengan propilen glikol. Setelah itu, ia dan beberapa kru mulai membersihkan pesawat.

Pada saat itu, teknisi yang diminta Yoojung untuk memberitahu bagian informasi kembali. Tapi ia tidak sendirian. Ia bersama seorang ahli mekanik lain, Joon Tae Joon.

“Nona Kwon,” panggil orang itu. “Ada seseorang yang mencarimu di kantor.”

Yoojung menoleh, masih bersama beberapa orang membersihkan pesawat. “Bagaimana bisa aku pergi sementara aku sedang bekerja?”

“Aku yang akan menggantikanmu, nona Kwon.” tawar Taejoon. “Pergilah. Membiarkan tamu menunggu itu tidak baik.”

Yoojung keluar dari hanggar, mengikuti orang tadi. Ia sudah menduga hal ini akan terjadi, meskipun ia masih menerka-nerka siapa yang ingin menemuinya. Sang kakak sudah mengatakan padanya dua bulan lalu. Yah, setelah ia meminta maaf dan menginap semalaman di rumah, ia langsung masuk ke hanggar. Dan sudah selama itu ia mempersiapkan diri untuk ditemui oleh orang-orang yang – pada awalnya – ia benci. Akhirnya hari itu datang juga.

Gadis itu menatap seorang pria yang berdiri di ambang pintu kantor. Berdasarkan apa yang ia lihat, pria itu mengenakan jaket tebal – sekarang musim dingin – dengan kedua tangan dimasukkan di sakunya. Ketika gadis itu berdiri sekitar dua langkah dari pria itu, ia berdehem.

Saat pria itu berbalik, Yoojung nyaris lupa bernapas.

Untuk sesaat, Yoojung melupakan siapa orang itu. Meskipun sangat membencinya, ia mau tidak mau harus mengakui betapa tampannya seorang Cho Kyu Hyun. Pria itu memang hanya mengenakan kacamata hitam dan rambutnya sedikit berantakan, tapi entah kenapa, Yoojung langsung, ehm, terpesona. Jangan tanya kenapa, gadis itu sendiri pun tidak tahu.

Kyuhyun hendak membuka mulutnya, tapi Yoojung mengangkat satu tangannya untuk mencegah pria itu bicara.

“Aku tahu,” ucap Yoojung tenang. “Aku akan mendengar semua yang ingin kau katakan padaku. Tapi tidak sekarang. Aku sangat sibuk dan banyak hal yang harus kulakukan. Jadi, bisakah kau menungguku sampai nanti malam?”

Kyuhyun terperangah. Apa ia tidak salah dengar? Apa ia tadi mendengar kalau Yoojung mau mendengarnya? Apa tadi Yoojung memintanya untuk menunggu? Oh ayolah, coba jawab sudah berapa tahun ia menunggu untuk gadis itu? Kalau hanya beberapa jam, tentu saja ia bersedia!

“Aku harus mengurus satu helikopter setelah ini. Setelah itu, kita bertemu.” lanjut gadis itu. Kali ini ia bersungguh-sungguh. “Jam 8, pintu masuk bandara nomor 7. Kita bertemu di sana.”

Pria itu mengangguk setuju. Yoojung kembali ke pekerjaannya.

☆☆☆

Bandara Incheon memang tidak akan pernah sepi. Bandara yang merupakan salah satu bandara terbesar di Asia ini memang selalu dipenuhi oleh para penumpang domestik maupun mancanegara. Itu semua wajar karena bandara ini merupakan bandara penghubung untuk kawasan Asia Timur dan melayani 70 maskapai penerbangan internasional.

Setelah bertemu dengan Yoojung tadi, Cho Kyu Hyun menghabiskan waktu dengan mengelilingi kawasan di sekitar bandara. Tentu dengan penyamaran super – masket, topi, kacamata hitam, dan jaket tebal. Akan jadi masalah bila ada seseorang yang mengenalnya. Dari tempatnya berdiri, ia terus memperhatikan para penumpang yang keluar masuk bandara. Ada yang sendirian, berdua, atau beramai-ramai mengantar saudara atau orang yang mereka cintai. Sekilas, terbesit rasa iri ketika pria itu melihat mereka. Seandainya bersama orang yang ia cintai memang semudah itu..

Pria itu mendengar orang berdehem di sampingnya. Ketika ia menoleh, ia melihat Yoojung sedang mengamati apa yang ia lihat.

“Lama menunggu?”

“Tidak juga.” balas Kyuhyun. Matanya masih terfokus dengan orang-orang itu.

“Ramai, ‘kan?” kata Yoojung tanpa memandang lawan bicaranya. “Aku selalu melakukan ini kalau aku tidak berniat kembali ke Seoul. Aku akan berkeliling bandara, melihat stasiun kereta api, atau mengamati para penumpang. Setelah itu itu, aku akan kembali ke pekerjaanku. Aku menatap mereka, dan menyadari kalau mereka semua adalah tanggung jawabku.”

Kyuhyun hanya mendengar, tidak menyangka bahwa Yoojung bisa begitu ramah padanya. Membuatnya tidak bisa mengingat betapa kejamnya gadis itu padanya dulu.

“Kau pantas membenciku, kau tahu?” ujar gadis itu mulai memasuki pembicaraan. “Setelah apa yang aku lakukan padamu, kau masih juga menaruh harapan padaku? Bahkan.. mencintaiku.” ia menunduk. “Aku tidak akan pantas untukmu. Aku – “

“Aku tidak pernah membencimu, nona Kwon.” Kyuhyun dengan cepat memotong ucapan gadis itu. “Tidak pernah.”

Yoojung mengangkat wajah, menatap Kyuhyun. Ini untuk kedua kalinya mereka bertatapan.

“Aku sama sekali tidak membencimu.” tegas Kyuhyun. Mata hitamnya menatap mata sipit milik gadis itu. “Memang dulu aku terkesan membencimu, tapi itu semua salah.”

“Kalau begitu kenapa kau begitu jahat padaku?!” sergah gadis itu. Matanya berkaca-kaca. “Kenapa perlakuanmu dulu begitu buruk padaku?! Kenapa kau membuat aku tidak punya teman?! Kenapa kau membuat semua orang membenciku?! Kenapa, hah?!”

Dan Yoojung pun bersandar pada tiang, merosot ke lantai, membenamkan wajah di lutut, mengacak-acak rambutnya frustasi sembari menangis dengan keras. Sangat amat keras dan terdengar begitu memilukan.

Kyuhyun berdiri mematung, kemudian berlutut di hadapan gadis itu. Tidak percaya bahwa penyebab gadis itu seperti ini adalah dirinya. Air mata penderitaan dan triakan frustasi itu karena dirinya! Oh Tuhan, sejahat itukah dirinya? Walaupun begitu, ia tidak berusaha menghentikan Yoojung, malah membiarkannya menangis sampai sesenggukan.

Pria itu ingin membuka mulut ketika Yoojung mengangkat wajah dan berkata lirih. “Kau tahu.. betapa menderitanya aku.. saat harus.. berpura-pura benci.. padamu?”

Mata Kyuhyun membulat sempurna.

Yoojung mulai mengendalikan tangisnya. Ia mulai bicara, meskipun masih sedikit sesenggukan. “Aku menyukaimu sejak kita.. berada di sekolah menengah.. Entahlah.. perasaan itu.. datang begitu saja.. Walaupun kau selalu menyakitiku.. aku tetap suka padamu.. Aku sudah mencintaimu dari dulu.. Aku selalu ingin berteman denganmu.. saat kita pertama kali bertemu di tempat ski.. Pertemuan kita hanya sambil lalu.. bahkan berkenalan denganmu saja tidak sempat.. Tapi anehnya kau sangat benci padaku.. Aku sakit hati. Kau juga membuat semua orang membenciku.. Apa salahku padamu? Aku selalu mempertanyakan hal itu.. Seiring berjalannya waktu, perasaan itu tak juga hilang.. malah makin menjadi. Tapi bagaimana caranya aku menunjukkannya kalau kau.. sangat benci padaku? Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku.. benar-benar.. putus asa saat itu..”

Ia mengerjap beberapa kali. Suaranya mulai terdengar normal, meski masih lirih. “Jadi saat tes masuk universitas.. aku memilih untuk mendaftar di universitas yang berbeda denganmu, dengan harapan perasaan itu hilang. Tapi itu sulit, kau tahu?! Walau aku berkuliah di KAIST, aku masih susah melupakanmu.. Akhirnya, aku mulai menyibukkan diri dengan belajar.. membuat diriku dikuasai sains – karena hanya itu yang bisa kulakukan – lalu mendaftar untuk mendapat beasiswa ke luar negeri.. Aku tidak percaya, aku lulus tes TU Berlin. Harus kuakui, belajar di luar negeri juga merupakan mimpi besarku.. Aku pergi, meninggalkan Korea, berusaha dengan keras melupakanmu, dan meraih mimpiku.. meski kau sudah menyatakan perasaanmu di bandara waktu itu.. Parahnya lagi, aku memilih untuk tidak menanggapinya..”

Gadis itu memandang nanar lawan bicaranya. “Saat aku lulus dari TU Berlin, aku sudah tahu kalau aku harus kembali ke Korea. Waktu itu aku tidak mau pulang, dan alasan utamanya adalah kau.. Walau aku tinggal di Jerman, aku masih saja mengingatmu. Aku takut aku semakin tidak bisa melupakanmu.. Aku takut kau membenciku, setelah apa yang aku lakukan di ruang musik, tapi ternyata apa yang kau lakukan berbanding terbalik dengan yang aku pikirkan.. Aku salut dengan perjuanganmu, tapi aku terlalu takut untuk menjadi lemah di depanmu. Karena itulah aku berpura-pura membencimu. Aku minta maaf..”

Cho Kyu Hyun diam, masih mencerna semua kalimat panjang lebar ini. Pendengarannya tidak salah. Hari ini, malam ini, di bandara Incheon, di depan pintu masuk bandara nomor 7, ia mendengar semua yang semestinya ia tahu. Tapi masih ada satu hal yang terasa janggal. Dan itulah yang ia tanyakan.

“Jika memang seperti itu, kenapa kau begitu cuek padaku saat di tempat ski?”

Gadis itu terdiam beberapa saat. Ia tidak sedang mencari alasan, melainkan sedang memilih kalimat untuk memulainya. Akhirnya, ia menjawab. “Kau ingat tanggal hari itu?”

Tanpa ragu, pria itu menjawab. “22 Desember, 16 tahun lalu.”

Yoojung mendelik, dan tersenyum getir. “Lucu, kau bisa mengingat hal sesederhana itu.” lirihnya. “Kau tahu apa yang terjadi padaku saat itu?”

Kyuhyun menggeleng.

“Hari itu, tepat satu minggu kematian kedua orangtuaku.” ujar gadis itu menerawang. Ia menatap sesuatu di jalanan. Ia sudah tidak sesenggukan. Setetes air matanya jatuh lagi, namun ia tidak menyekanya. “Siapa yang tidak bersedih ketika kau melihat sendiri orang tuamu ditembak teroris saat konser mereka di luar negeri? Yah, ibuku adalah penyanyi soprano dan ayahku adalah pemain piano. Mereka sangat terkenal di kalangan tertentu, seperti musisi, pemain piano, dan anggota orkestra. Sangat berbeda denganku, kan?” ia terkekeh menyedihkan.

Entah mengapa, Kyuhyun meringis mendengarnya.

“Waktu itu, mereka menggelar konser ke-24 mereka di Vienna.” sambung gadis itu. “Aku dititipkan oleh pamanku. Ketika kami – aku, pamanku, dan Jiyong oppa – menonton konser mereka di televisi, kami melihat secara tiba-tiba kedua orangtuaku tertembak oleh salah satu penonton, dan langsung meninggal. Aku yang baru berumur 4 tahun waktu itu langsung menangis sejadinya. Apalagi saat jasad mereka datang. Selama enam hari aku mengurung diri. Sampai akhirnya pada hari itu paman dan kakakku mengajakku ke tempat ski, tentunya dengan memaksa karena kondisiku mengkhawatirkan. Aku tahu mereka bermaksud membuatku ceria kembali, tapi itu tidak ada gunanya. Aku mulai menjadi pendiam saat itu. Itu sebabnya aku mendiamimu..”

Satu lagi fakta baru yang mengejutkan. Sekarang Kyuhyun mengerti. Jika memang gadis itu sangat membenci Korea, menurutnya itu wajar. Masa kecil gadis itu saat mengenaskan. Ditambah lagi perlakuannya pada gadis itu yang membuatnya semakin menderita. Oh, seandainya saja ia memperlakukan Yoojung dengan baik, ia pasti tahu bahwa dari dulu gadis itu sudah menaruh hati padanya. Ia benar-benar pria yang jahat!

“Bukan tanpa alasan aku memperlakukanmu seperti itu.” ucap Kyuhyun akhirnya.

Gadis itu menautkan alis dengan bingung.

“Ketika pertama kali aku melihatmu di tempat ski, entah mengapa ada sesuatu dalam diriku yang mengatakan bahwa aku harus berteman denganmu.” pria itu memulai penuturannya. “Tapi baru saja aku ingin berkenalan denganmu, kau langsung pergi, dengan tatapan yang kurang bersahabat, seakan kau memang sudah membenciku. Aku kesal. Aku semakin kesal saat aku bertemu lagi denganmu saat hari pertama di sekolah. Aku tidak tahu apa yang merasukiku saat itu, sampai aku melakukan hal buruk itu, menyakitimu, dan membuatmu menderita. Aku baru menyadari semuanya saat kejadian di ruang musik, saat kau menendangku, menampar Hyena, dan berteriak seperti orang gila. Aku ingin minta maaf, tapi aku tidak tahu kapan waktu yang tepat. Aku sedih saat di tahun terakhir kita tidak lagi sekelas, dan kita mulai jarang bertemu. Terus seperti itu sampai hari kelulusan. Aku senang akhirnya aku melihatmu lagi. Sungguh, aku baru menyadari kalau kau sangat cantik. Aku masih ingat betapa bahagianya dirimu hari itu.” ia tersenyum tulus, mengulurkan tangan untuk mengusap lembut kepala gadis itu.

Ia melanjutkan. “Tapi aku kembali bersedih saat kau ternyata diterima di KAIST. Aku ingin sekali menemuimu, tapi aku tidak punya waktu. Sampai akhirnya aku punya waktu untuk datang ke Daejeon, kau malah mau ke Berlin. Aku mulai gila. Mencari dan mengejarmu di bandara, dan bertemu denganmu saat kau ingin memasuki ruang tunggu. Aku langsung menyatakan perasaanku, tapi balasannya..” ia menghela napas sedih. Ia menatap Yoojung dalam, meraih kedua tangan gadis itu, menggenggamnya. “Maaf, karena aku sendiri yang membuatmu membenciku..”

Yoojung menatap pria itu kosong. Ia sedang berjongkok di depan Cho Kyu Hyun, pria yang sebenarnya pura-pura ia benci. Pria itu berlutut di hadapannya, menggenggam tangannya, membuat bulu kuduknya meremang. Seperti saat pria itu mengungkapkan perasaan di bandara. Terasa hangat. Dan nyaman. Ia mengerjap, mulai terfokus pada tatapan pria itu. Dan tersenyum.

Senyum pertama yang ia berikan pada Cho Kyu Hyun seorang.

Pria itu tersentak. Ia gugup, bingung, namun di satu sisi, ia bahagia. Pikiran lelaki itu seketika menjadi kacau karena satu hal yang sepele. Senyuman itu mematikan dirinya walaupun hanya sepersekian detik, tapi disaat bersamaan senyuman itu.. membuatnya nyaman. Honestly, saat ini, ia ingin berteriak, ‘Hei, lihatlah! Kwon Yoo Jung tersenyum padaku!’

Yang membuatnya lebih kaget lagi adalah, Yoojung yang semula berjongkok, melepas genggaman, perlahan berlutut, merengkuh dirinya. Gadis itu menopang dagu di bahu pria itu, memejamkan mata, menangis dalam diam di sana. Membiarkan dirinya merasakan kasih sayang dari seseorang yang bukan anggota keluarga untuk pertama kalinya.

Kyuhyun tersenyum, membalas pelukan itu. Ia mengelus kepala dan punggung gadis itu dengan lembut, juga penuh kasih sayang.

☆☆☆

“Kau mau mengantarku? Ke Seoul? Dengan mobilmu?”

Saat ini, Yoojung dan Kyuhyun tengah berada di tempat parkir bandara. Tepatnya, di dekat mobil pria itu. Dan ia tengah menatap pria itu dengan heran.

Kyuhyun mengangkat bahu. “Memangnya kenapa? Setidaknya aku membuatmu berhemat dengan tidak membayar kereta dan taksi.”

“Tapi.. aku..” gadis itu berkata terbata-bata. “Ini-pertama-kalinya-aku-berada-di-mobil-bersama-pria-lain-selain-kakak-dan-pamanku.” lanjutnya cepat.

Pria itu terkekeh, menyadari betapa gugupnya gadis itu. Satu hal yang pasti, gadis itu tidak bohong. “Pengamalan pertama memang selalu berkesan.” ia membukakan pintu penumpang dan membuat gerakan tangan untuk mempersilahkan gadis itu masuk. “Ayo.”

Dengan ragu, Yoojung masuk. Ketika ia duduk, ia langsung merasa nyaman. Entahlah. Seakan semua yang ia lakukan terasa benar. Gadis itu mengenakan sabuk pengaman, dan bersandar di kursi, merasa tenggelam di sana. Sementara itu, Kyuhyun masuk, memakai sabuk pengaman, menyalakan mesin, dan mulai mengemudi.

Pria itu hendak mengajak Yoojung mengobrol ketika menyadari selama perjalanan mereka hanya terdiam, tidak bicara sedikitpun. Tapi saat ia melirik gadis itu lewat spion, ia terkejut karena gadis itu sudah terlelap. Kyuhyun tersenyum. Terdengar melankolis memang, karena hanya melihat wajah polos Yoojung yang sedang tidur membuat dirinya damai. Sepertinya ia mempunyai hobi baru.

Ia menepikan mobil, melepas sabuk pengamannya. Ia mencondongkan tubuhnya ke tubuh gadis itu, berusaha mengatur sandaran kursi Yoojung. Ia juga meletakkan bantal kecil di bawah kepala Yoojung. Kemudian ia menutup tubuh gadis itu dengan mantelnya yang lain. Setelah itu ia melanjutkan perjalanan.

Satu setengah jam berlalu. Selama mengemudi, Kyuhyun tak henti-hentinya melirik Yoojung, seolah ia takut kehilangan gadis itu walaupun hanya sedetik. Kenapa ia jadi bersikap aneh?

Pada saat mereka memasuki distrik Jongno, barulah Yoojung terbangun. Gadis itu menguap lebar – bahkan di depan Kyuhyun ia tidak berusaha menutupinya – sembari mengucek-ngucek matanya. Ia duduk tegak, menoleh ke si pengemudi.

“Apa aku tertidur?”

Pertanyaan retorik. Ia bahkan sadar kalau ia tertidur sepanjang perjalanan. Pekerjaan di hanggar tadi memang melelahkan. Setelah membersihkan pesawat dari es, ia tiba-tiba ditunjuk untuk mengemudikan helikopter uji coba. Tidak heran ia begitu kelelahan. Namun saat Kyuhyun menawari untuk pulang bersama, ia berencana untuk menikmati perjalanan. Sayangnya, rencana itu gagal. Tapi kemudian, ia melirik tubuhnya, menyadari bahwa Kyuhyun mengenakan sebuah mantel padanya, juga meletakkan bantal di bawah kepalanya. Diam-diam ia tersenyum.

“Saking nyenyaknya, aku tidak tega membangunkanmu.” kata Kyuhyun memandang lurus ke depan. “Ngomong-ngomong, di mana rumahmu?”

Sebenarnya Kyuhyun sudah tahu di mana gadis itu tinggal, tentu saja informasi itu ia dapat dari Jiyong. Pertanyaan itu hanya alibi, untuk membangun percakapan. Kapan lagi ia mendapat kesempatan langka ini? Hei, lagipula Kyuhyun ‘kan pernah datang ke rumah gadis itu, kenapa dia masih bertanya? Dan kenapa Yoojung meladeninya? Ah, entahlah..

Yoojung tersentak, kemudian, ia menunjuk sesuatu di depannya. “Kau lihat perempatan itu? Kita belok ke kiri.”

Kyuhyun agak terkejut mendengar kata ‘kita’ yang diucapkan Yoojung. Sejak kejadian di bandara tadi, kata itu begitu berarti baginya.

Ia pun mengikuti instruksi Yoojung. “Setelah itu?”

“Ada pertigaan, lurus saja. Kalau kau sudah melihat sebuah kedai yang ramai, kita berhenti. Rumahku di depan kedai itu.” lanjut gadis itu. “Ah tidak. Itu lebih seperti flat dari pada rumah. Dan aku tinggal bersama kedua temanku, tidak sendirian.”

Pria itu hanya menggumam, sembari terus mengemudi. Beberapa menit kemudian, mobil berhenti sekitar tiga meter sebelum flat Yoojung. Mereka berdua turun dari mobil, berdiri saling berhadapan dengan canggung.

Gadis itu membungkuk. “Terima kasih karena sudah mau mengantarku.”

Pria itu mengangguk. “Kau tidak perlu sekaku itu di depanku.”

Yoojung tersenyum. “Tapi aku tetap harus berterima kasih padamu.”

Hanya terdengar desiran angin malam yang berhembus selama beberapa saat sebelum Kyuhyun membuka mulut.

“Kau tidak ingin mengatakan sesuatu padaku?”

Kening Yoojung berkerut. “Apa, misalnya?”

“Yah, kau tahu lah..” Kyuhyun mengangkat bahu, dan berbisik lembut. “Aku mencintaimu.”

Perasaan aneh itu datang lagi, tapi Yoojung hanya terdiam. Gadis itu terlihat gugup, seolah ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan selain terfokus pada tatapan Kyuhyun. Tidak ingin kehilangan sedikitpun momen ini. Hei, ia memang tidak tahu apa yang harus ia lakukan!

“Tidak apa kalau kau tidak mau bilang apa-apa,” sambung pria itu dengan nada yang bahkan orang tuli pun tahu ia kecewa. “Aku tidak keberatan.”

“Baiklah,” ucap gadis itu. “Selamat malam..”

Kyuhyun mengamati punggung Yoojung yang mulai menjauh beberapa langkah darinya. Ia bisa melihat gadis itu memasukkan tangan ke saku mantel. Ia benar-benar kecewa. Ia berharap Yoojung akan melakukan sesuatu padanya, seperti misalnya, membalas pernyataan cintanya. Tetapi gadis itu tidak melakukan apa-apa. Jadi, bagaimana ia bisa tahu perasaan gadis itu padanya? Apa ia masih harus menunggu?

Baru saja ia hendak berbalik, ia melihat secara tiba-tiba gadis itu berhenti, dan berlari ke arahnya. Gadis itu berdiri di depannya, menangkup wajahnya, dan melakukan sesuatu yang benar-benar di luar dugaannya.

Mata pria itu membelalak ketika bibir Yoojung menempel sempurna di bibirnya. Tangan gadis itu masih menangkup wajahnya, tidak berniat untuk melepaskan. Ia bisa melihat mata gadis itu terpejam tenang, meskipun tidak melakukan apa-apa dengan bibirnya. Hanya menempelkan, tidak lebih. Kalaupun lebih, gadis itu cuma mengulumnya lembut. Dan sepertinya gadis itu tidak menuntut balasan, karena akhirnya ia sendiri yang melepaskan.

Kwon Yoo Jung telah memberikan ciuman pertamanya pada Cho Kyu Hyun.

Dengan tangan yang masih setia di pipi Kyuhyun, Yoojung berkata lembut. “Aku memang bukan orang yang romantis, aku tahu itu. Tapi kalau kau mau tahu perasaanku padamu, baiklah.”

Yoojung menarik napas, menghembuskannya pelan. “Kyuhyun-ah, aku juga mencintaimu.”

Gadis itu mengecup bibir pria itu tiga kali, kemudian berlari meninggalkan pria itu.

Kyuhyun melongo menatap punggung Yoojung yang mulai menjauh. Ia benar-benar tidak menyangka dengan apa yang terjadi barusan. Selama bertahun-tahun ia mengenal gadis itu, untuk pertama kalinya ia mendengar sendiri Yoojung menyebut namanya. Kalimat lembut yang diucapkan gadis itu membuatnya terhipnotis. Perlu bukti? Selama Yoojung menciumnya dan mengutarakan kalimat itu, Kyuhyun tidak bereaksi sedikit pun, ‘kan?

Ia menyentuh bibirnya. Ini memang bukan ciuman pertamanya, tetapi ciuman kali ini sungguh terasa berbeda. Ia tersenyum untuk kesekian kalinya dalam hari ini. Dan masih karena alasan yang sama.

Ini adalah hari terbaik yang pernah ada.

☆☆☆

Cho Kyu Hyun memandang ngeri Kwon Yoo Jung yang tengah berada di rollercoaster dari kejauhan. Ia bisa mendengar suara tawa riang gadis itu yang dihantar oleh udara musim dingin. Mereka tengah berada di Children’s Grand Park, menikmati waktu libur keduanya yang sangat sempit. Karena keesokan harinya Yoojung harus mengurus burung besinya, dan Kyuhyun bergelut dengan dunia keartisannya.

Satu tahun berlalu sejak akhirnya mereka berdua resmi menjadi pasangan kekasih. Kehidupan Yoojung pun mulai berubah. Lebih ceria dan berwarna. Meski jarang bertemu, setidaknya ia tahu kalau sekarang Cho Kyu Hyun miliknya. Sesekali pria itu menjemputnya di bandara, dan mengantarnya pulang. Ia juga sudah memperbaiki hubungannya dengan Hyena, Youngdae, Sohee, dan Seungjo. Keempat orang itu kini sudah menjadi temannya.

Beberapa menit kemudian Yoojung turun dari wahana itu dan menghampiri Kyuhyun. “Kenapa kau tidak mencobanya? Itu menyenangkan, kau tahu?”

Pria itu mencibir. “Menyenangkan apanya? Lihat orang itu.” ia menunjuk seseorang yang sedang muntah-muntah setelah dari wahana yang dinaiki gadisnya.

“Bilang saja kalau kau takut,” balas gadis itu juga mencibir.

“Hei,” pria itu menatap Yoojung sangsi. “Kalau aku naik wahana itu, dan berteriak-teriak sepertimu, akan jadi masalah kalau mereka mengenali aku. Dan apa kau mau menanggung risiko itu? Berurusan dengan media? Menjelaskan hubungan kita? Kalau aku sih tidak keberatan..” ia menyeringai.

Ya!” gadis itu meninju dengan keras bahu Kyuhyun. “Jangan mengancamku dengan itu!”

Kyuhyun tertawa. “Baiklah, baiklah, aku minta maaf..” ia mengacak-acak rambut gadis itu, merangkul bahunya. “Ayo, kita pergi!”

“Ke mana?”

“Kau pasti terkejut.”

Tanpa rasa curiga, Yoojung mengikuti saja kemana Kyuhyun ingin pergi. Sampai akhrirnya mereka tiba di apartemen yang sangat mewah, tepatnya di lobby gedung yang memiliki 50 lantai. Mereka sengaja berjalan agak berjauhan agar mereka mengira Yoojung seorang tamu yang tersesat.

“Tunggu sebentar,” ucap Yoojung ketika mereka berdua memasuki lift. Ia memperhatikan dengan saksama ketika Kyuhyun menekan tombol lantai. Hanya ada mereka berdua di sini. “Ini.. Star City?!”

“Wah, kau tahu juga, ya.” jawab Kyuhyun dibuat-buat kaget.

“Dan kita menuju lantai sebelas?!” Kyuhyun mengangguk.

Yoojung menoleh menatap pria itu. “Kau mengajakku ke tempat tinggalmu?! Dorm Super Junior?!”

“Kenapa tidak?” Kyuhyun mengangkat bahu. “Aku mau mengenalkanmu pada mereka semua. Mereka sudah menunggu selama setahun hanya untuk melihatmu, kau tahu?”

Gadis itu menggigit bibir, menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, berjalan mondar-mandir di lift. “Aduh.. bagaimana ini..” ia mengacak-acak rambutnya.

Kyuhyun memandang heran gadis itu. “Kau kenapa?”

“Aku gugup, malu, dan.. aduh!” Yoojung masih mondar-mandir. “Aku tidak pernah bertemu dengan artis tekenal sebelumnya!”

“Lalu aku ini apa?” dengan wajah bodoh Kyuhyun menunjuk dirinya.

Gadis itu menatap datar prianya. “Katakan, sudah berapa tahun aku melihatmu?”

Pria itu menyeringai lebar.

“Aduh.. aku harus bagaimana..” gadis itu berjalan mondar-mandir lagi.

Akhirnya, lift pun berhenti di lantai sebelas. Yoojung langsung berhenti mendadak dengan mata membelalak.

“Ayo!” Kyuhyun menarik tangan gadis itu keluar lift. Mereka sampai di depan pintu dorm. Yoojung diam mematung menatap pintu itu. Aduh..

Pria itu menekan beberapa digit sandi dan pintu pun terbuka. Ia masuk, tapi tidak dengan Yoojung. Gadis itu hanya diam, seolah berubah menjadi arca, meskipun masih bernapas.

Kyuhyun mendengus. “Kau mau masuk atau kugendong kau ke dalam?”

Secepat kilat, gadis itu mengekor prianya. Lebih tepatnya, ia bersembunyi di balik punggung pria itu. Ia mengintip dari bahu Kyuhyun, melihat bahwa semua member Super Junior sedang berada di ruang tamu. Semuanya! Oke, kali ini Yoojung benar-benar gugup.

“Hai, hyung!” sapa Kyuhyun pada semua orang. “Tebak siapa yang datang berkunjung.” pria itu melangkah ke samping, memperlihatkan Yoojung pada semua orang. Sontak saja, gadis itu membelalak, langsung menepi, berusaha mencari perlindungan agar tidak terlihat.

“Oh, jadi ini Kwon Yoo Jung-mu..” celetuk Kim Hee Chul.

“Dia pemalu juga, ya.” sambung Lee Sung Min.

“Dia tidak terlalu buruk.” sahut Park Jung Soo.

“Apa yang dia lihat darimu, Kyu?” ejek Lee Hyuk Jae.

“Wah, kurasa aku mulai mencintainya.” timpal Lee Dong Hae.

Mendengar ucapan terakhir itu, Yoojung semakin menyembunyikan wajahnya di balik bahu Kyuhyun.

“Enak saja!” Kyuhyun berteriak sewot. “Dia milikku! Dan selamannya menjadi milikku!”

Kalau boleh jujur, saat ini Yoojung tengah tersenyum-senyum sendiri.

“Oh ayolah, kau tidak perlu seberlebihan itu..” Shin Dong Hee memutar bola matanya kesal.

Selanjutnya, mereka mengajak gadis itu mengobrol di ruang tengah. Selain merasa gugup dan malu, Yoojung juga sangat senang. Kapan lagi ia bisa mengobrol bersama artis terkenal?

“Jadi kau seorang ahli mekanik pesawat?” tanya Choi Si Won. “Apa tugasmu hanya memperbaiki pesawat?”

Gadis itu tersenyum simpul. “Tidak, tugasku tidak hanya itu. Kadang aku ditugaskan di menara kontrol, untuk mengatur lalu lintas udara, memberi informasi dan instruksi pada pilot. Atau menjadi FOO, pengatur penerbangan dari darat. Atau menjadi seorang marshaller. Atau menjadi pilot untuk uji coba pesawat.”

“Pilot?!” pekik Kim Ryeo Wook kaget. “Maksudmu.. kau bisa mengemudikan pesawat?!”

Yoojung mengangguk membenarkan. “Sebenarnya.. tidak hanya itu..”

Kim Jong Woon masuk ke percakapan. “Itu berarti.. kau bisa mengemudikan pesawat tempur juga?”

“Tidak, tentu saja tidak.” gadis itu menggeleng. “Penerbangan militer sangat berbeda dengan penerbangan komersial biasa. Dan mereka punya orang-orang khusus yang tentunya lebih hebat dariku. Maksudku, selain pesawat, aku juga bisa mengemudikan helikopter..”

Semua orang ber-oh-ria sambil berseru kagum.

“Suatu kehormatan bagiku bisa berada di sini.” kata Yoojung lagi.

“Hei, kau tidak perlu sekaku itu pada kami. Santai saja..” Leeteuk tersenyum menenangkan.

“Bagaimana ini bukan sebuah kehormatan bagiku kalau saat ini aku bertemu idol yang sedang naik daun dan sibuk-sibuknya untuk promo album Bonamana?” sambung gadis itu lancar. “Selain itu, kalian pasti sibuk untuk menghadiri beberapa acara penghargaan. Juga jumpa fans serta beberapa konser. Bukannya kalian memenangkan empat penghargaan Golden Disk Awards dan Seoul Music Award?”

Sejenak, ruang makan ini mendadak hening. Pada saat itu, barulah Yoojung menyadari apa yang telah diucapkannya.

“Kau ELF?” Sungmin mengerutkan dahi. Kemudian ia menatap Kyuhyun. “Kau tidak pernah bilang di kami kalau pacarmu seorang ELF.”

“Aku bahkan tidak pernah tahu kalau Yoojung seorang ELF.” jawab Kyuhyun polos. Ia menoleh memandang gadis itu. “Kau tidak pernah bilang kalau kau seorang ELF.”

“Kau tidak pernah bertanya kalau aku adalah ELF.” sanggah Yoojung membela diri. Tentu saja ia menutupinya. Karena dulu ia kan masih ‘membenci’ Kyuhyun.

“Benar juga,” gumam pria itu pada dirinya sendiri.

Tiba-tiba, ponsel Yoojung berbunyi. Ada sebuah pesan yang masuk. Ia membacanya, kemudian menoleh ke pria bermarga Cho itu.

“Kyu-ah, aku harus ke Incheon. Sekarang.” bisik Yoojung.

“Incheon? Maksudmu ke bandara?”

Gadis itu mengangguk. “Bosku ingin mengatakan sesuatu yang penting. Tidak apa kan?”

“Biar aku yang mengantarmu.” kata Kyuhyun sepihak.

Setelah berpamitan kepada seluruh member Super Junior, pasangan kekasih itu keluar apartemen, menuju tempat parkir, dan segera menuju bandara.

Sesampainya di sana, Kyuhyun memutuskan untuk berkeliling sembari menunggu Yoojung yang sedang menuju kantor bosnya. Tanpa mengetuk, ia langsung masuk ke dalam ruangan. Seperti biasa, ia melihat pria itu sedang duduk bersantai di balik sebuah meja besar. Gadis itu lebih memilih untuk berdiri.

“Mengapa Anda memanggilku, sajangnim? Apa aku melakukan kesalahan lagi?”

“Oh tidak, tentu saja tidak.” balas Im Yang Ho. Ia memang ingin gadis itu selalu bersikap santai di depannya. “Mana mungkin gadis cerdas sepertimu melakukan kesalahan?”

“Lalu?”

“Kau tahu?” pria itu bangkit dari kursinya, memperlihatkan layar laptop pada gadis itu. “Aku tidak bisa menahanmu lebih lama lagi.”

Gadis itu menautkan kedua alisnya. “Aku tidak mengerti maksud Anda, sajangnim.”

Pria itu menunjuk sesuatu di layar laptop. “British Airways mati-matian ingin kau bekerja dengan mereka. Dan aku sudah mati-matian menahanmu selama setahun ini. Tapi aku tidak bisa lagi. Mereka bahkan sanggup menggajimu berkali-kali lipat dari gajimu di sini. Mereka juga mengirim masing-masing seorang AME, ATP, dan FOO baru untuk menggantikanmu. Jadi..” ia menghembuskan napas pasrah. “Kau diterima di maskapai itu, nona Kwon.”

“Tapi aku tidak mau pergi!” teriak Yoojung tanpa sadar.

“Aku juga sudah mengatakan hal itu pada mereka, tapi karena kau terlanjur mengajukan lamaran, mengikuti tes masuk, dan ujian lisensi, jadi sekarang mereka menginginkanmu.” jelas Im Yang Ho.

Yoojung terdiam. Kenapa hal ini terjadi padanya? Di saat ia ingin pergi, ia dicegah. Tapi di saat ia tidak ingin pergi, ia malah dipaksa untuk pergi. Dulu ia memang membenci Korea, tapi sekarang semuanya berubah. Ia tidak lagi membenci Kyuhyun – malah ia kelewat mencintainya. Sejujurnya, ia bahkan lupa kalau ia pernah mengajukan lamaran untuk bekerja ke British Airways.

Im Yang Ho memberikan selembar cek pada gadis itu. “Itu adalah uang tiketmu. Kau boleh berangkat kapan saja. Tapi kusarankan, berangkatlah secepatnya. Besok, tiga orang yang dikirim British Airways untuk maskapai ini akan datang. Dan mereka sudah menunggumu di Inggris.” Ia tersenyum, menjabat tangan gadis itu. “Senang bisa bekerja denganmu, nona Kwon. Kami sudah mempersiapkan sesuatu untukmu besok.”

Yoojung keluar dari ruangan sang bos dengan perasaan campur aduk. Well, ia sangat senang karena mimpi besarnya terwujud. Sang paman dan kakak sepupu pasti akan sangat senang mendengar berita ini. Tapi di satu sisi, ia sangat sedih. Hanya dalam waktu kurang dari 70 jam ia harus meninggalkan Korea. Bagaimana ia mengatakan hal ini pada.. Kyuhyun? Bagaimana kelajutan hubungannya dengan pria itu? Ia tidak mau lagi berpisah dengan pria-nya! Ia tidak sanggup berada jauh dari sosok Cho Kyu Hyun.

Ia menyesali tindakan yang sudah ia lakukan. Seandainya ia tidak mengajukan lamaran. Seandainya ia tidak menawarkan diri mengikuti ujian lisensi Inggris. Seandainya sang bos tidak mengizinkannya untuk mengikuti tes masuk British Airways. Seandainya ia tidak gegabah melakukan tindakan itu.

Ia meringis. Semua itu hanya ‘seandainya’. Pada kenyataannya, ia harus pergi ke Inggris secepatnya.

Ia keluar dari bandara, langsung bertatapan dengan punggung Kyuhyun. Sepertinya pria itu tengah menatap para penumpang. Hal yang selalu ia lakukan setiap kali ia menunggu Yoojung selesai bekerja. Gadis itu langsung merengkuh tubuh prianya dari belakang. Menyandarkan kepalanya di balik bahu lebar Kyuhyun. Menangis dalam diam di sana.

“Yoojung-ah?” panggil Kyuhyun. Karena gadis itu tidak menjawab, ia bertanya. “Ada apa?”

“Hanya mau memelukmu.” lirih gadis itu.

Kyuhyun melepas rangkulan gadis itu di pinggangnya, berbalik, berhadapan dengan Yoojung yang menundukkan wajah. “Apa ada masalah? Katakan padaku.”

Perlahan, gadis itu mengangkat wajah. Ia mulai menyadari bahwa mata sang gadis berkaca-kaca.

“Kyu-ah, aku diterima di British Airways.”

Pria itu mengerutkan dahi. “British Airways?”

“Maskapai Inggris.” Yoojung pun mulai menjelaskan segalanya.

“Maksudmu.. kau akan pergi?! Ke Inggris?!”

Dengan berat hati, Yoojung mengangguk.

“Tapi kenapa?!” seru Kyuhyun terdengar marah. “Kenapa semendadak ini?!” Yoojung diam membisu. “Apa kau tidak mencintaiku?!”

“Tidak, bukan begitu..”

“Kita sudah bersama selama setahun, dan kau mau meninggalkanku begitu saja?!”

“Aku juga tidak ingin pergi, Kyu. Apalagi sekarang aku sudah bersamamu..” bisik gadis itu tanpa bisa mencegah air matanya. “Tapi ini impianku. Mimpi besarku.”

Kyuhyun terdiam. Tentu ia tahu. Yoojung sering mengatakan hal ini padanya. Tapi ia belum siap kalau pada akhirnya mimpi gadis itu benar-benar terwujud. Ia belum siap berada jauh dari gadisnya. Ia tidak akan tahan.

Gadis itu menatap suatu titik di depannya. “Dari dulu, aku selalu ingin keluar negeri. Bekerja dan menjadi sukses di negara orang. Mengharumkan nama Korea di kancah internasional. Aku tidak hanya ingin Korea diakui karena industri musiknya, tapi juga karena teknologi. Aku tahu aku sangat bodoh di bidang seni, karena itu aku memperdalam pengetahuan sainsku, berkuliah di KAIST, mendapat beasiswa untuk kuliah di Berlin, dan melamar di British Airways. Itu murni karena mimpiku. Sudah selangkah lagi aku menuju impianku. Aku mohon, jangan cegah aku untuk ini..”

“Kau melamar di maskapai itu bukan karena ingin menghindariku?”

“Ya, pada awalnya.” Yoojung mengangguk mantap. “Tapi sekarang semuanya berubah. Semua itu adalah cita-citaku.”

Hening.

“Kau.. tidak lagi mencintaiku?” bisik Kyuhyun.

Yoojung menatap pria itu, menangkupkan tangannya di wajah Kyuhyun. “Apa kau meragukan aku?” ujarnya pelan.

“Tidak! Tentu saja tidak!”

“Kalau begitu, apa kau percaya padaku?”

Pria itu tidak bisa menjawab.

“Aku akui aku tidak bisa berada jauh darimu, tuan Cho.” lanjut Yoojung. “Tapi ini impianku. Bekerja di Korean Air sama sekali bukan cita-citaku. Aku juga takut kalau aku jauh darimu. Demi cita-citaku, aku akan berusaha. Aku akan belajar untuk berada jauh darimu. Aku akan beradaptasi. Aku akan bisa melakukannya. Lagipula aku tidak selamanya tinggal di Inggris. Aku akan pulang. Dan kau juga harus seperti itu, aku mohon.. Aku tidak bisa tidak pergi..”

Kyuhyun kembali terdiam. Ini adalah hal terberat yang akan mereka berdua alami. Mereka akan berada jauh satu sama lain untuk waktu yang cukup lama. Apa ia sanggup menjalankannya?

Akhirnya pria itu berucap pasrah. “Aku akan mencoba.” ia tersenyum tulus. “Aku bisa menunggu bertahun-tahun untuk mendapatkanmu. Aku baik-baik saja saat kau berada di Jerman. Aku akan menunggumu. Raih mimpimu, harumkan nama Korea, dan sukseskan dirimu di luar sana. Kau cerdas, sayang, mereka pasti tidak akan menyesal bila mereka bertemu denganmu. Sementara di sini, di Korea, aku juga akan mengharumkan nama Korea dengan caraku sendiri. Kita akan sama-sama berjuang mengenalkan Korea di mata dunia.”

Gadis itu mengerjap. Tangannya yang berada di pipi Kyuhyun perlahan turun untuk menggenggam satu tangan pria itu. “Kau percaya padaku?”

“Sama seperti kau yang selalu percaya padaku.”

Perlahan, Yoojung juga tersenyum. “Jadi.. aku boleh pergi?”

Kyuhyun mengangguk. “Kalau untuk mimpimu, ya.”

Yoojung langsung memeluk Kyuhyun erat. Pria itu membalasnya, mengusap lembut kepala dan punggung sang gadis. Ia mengecup puncak kepala Yoojung dengan penuh kasih sayang.

☆☆☆

Hari ini, selesai bekerja, semua anggota maskapai Korean Air tengah mengadakan pesta perpisahan kecil-kecilan dengan Kwon Yoo Jung di hanggar. Yah, pesta itu memang tidak diadakan semewah mungkin, karena mereka tahu betul keinginan gadis itu. Hanya beberapa makanan ringan dan minuman dingin yang tersedia untuk mengisi mulut.

Tadi pagi, gadis itu sudah bertemu dengan seorang AME, ATP, dan FOO dari British Airways yang akan menggantikannya. Mereka benar-benar memiliki kemampuan yang luar biasa, bahkan ia merasa AME itu lebih hebat darinya. Ia malah bertanya-tanya, kenapa maskapai Inggris itu lebih memilihnya dibanding AME itu. But however, ia bersyukur karena ia bisa ke luar negeri. Dan malam ini, mereka semua dipertemukan di hanggar selain untuk mengadakan pesta perpisahan, juga untuk berkenalan dengan tiga anggota baru maskapai. Meskipun bahasa Korea mereka agak kacau, setidaknya itu bukan menjadi penghalang.

“Yoojung!” seru Raejoon. AME itu memang yang paling sering bekerja dengan Yoojung. Tidak heran gadis itu menangis ketika berpelukan dengan Yoojung. “Aku akan merindukanmu..”

“Aku juga, nona Ji..” Yoojung melepas pelukan. “Aku akan datang ke sini kalau aku pulang. Aku juga akan datang ke rumahmu.”

Seorang pria menepuk bahu gadis itu. Yoojung berbalik. Pria itu tersenyum. “Aku tidak percaya, kita akan berpisah lagi.” Taejoon menjabat tangan gadis itu. “Senang bekerja denganmu, nona Kwon.”

Ya, Joon Tae Joon!” gadis itu memukul pundak Taejoon. “Kau ini bicara apa?! Aku akan kembali saat liburan!”

Dan mereka pun berpelukan.

Setelah itu, Yoojung sering dihampiri orang-orang untuk berpelukan dan menyampaikan pujian untuknya. Ada juga yang berbincang dengan tiga anggota baru maskapai. Yoojung sedang berbicara dengan beberapa orang teknisi avionik ketika seseorang menghampiri mereka. Yoojung meninggalkan para teknisi itu, mengajak orang tadi agak menjauh dari keramaian.

“Aku tidak percaya kau akan meninggalkan maskapai ini.” ucap Shin So Hee sambil tersenyum.

“Aku tidak percaya akhirnya aku tidak akan memintamu membuat selembar logam lagi.” balasnya juga tersenyum.

“Maafkan semua perlakuanku padamu, Yoojung-ah..”

“Oh, Sohee, bisakah kau tidak mengingatkan aku tentang hal itu?” kata Yoojung memutar bola matanya. “Lupakan masa lalu buruk itu. Sekarang semuanya sudah berubah. Aku juga minta maaf atas semua sikapku padamu..”

Sohee mengangguk. “Senang bisa bekerja sama denganmu, nona Kwon.” Ia mengulurkan tangannya.

“Aku juga senang bisa bekerja denganmu.” Yoojung menerima uluran itu, dan mereka berjabat tangan.

Pesta pun selesai. Semua orang kembali ke rumah mereka masing-masing. Yoojung keluar dari bandara, menuju tempat parkir. Di sana, Kyuhyun sudah menunggunya. Mereka pun menempuh perjalanan panjang menuju Seoul. Ketika mereka sampai di flat Yoojung, semua orang sudah ada di sana. Nara, Shinhae, sang paman, dan Jiyong. Gadis itu mulai mengemasi barang-barangnya. Ia dibantu Shinhae. Nara yang memeriksa semuanya. Sedangkan para pria hanya menonton.

“Kau sudah masukkan semua pakaianmu? Inggris akan memasuki musim semi pada bulan Februari.” tanya Nara.

“Sudah.” Yoojung membuka kopernya.

“Jaket, syal, sepatu, iPod, laptop?”

“Sudah.”

“Buku-buku penerbanganmu?”

Yoojung menunjuk sebuah kotak yang bagian atasnya tertulis Aeronautical Books. “Sudah.”

“Tiket, cek dari bos, dompet, paspor?”

“Sudah, Bu.”

Nara mengernyit. “Apa kau bilang?!” Yoojung menyeringai.

Walaupun kesal, Nara melanjutkan. “Kau tidak lupa membawa semua Super Junior’s stuff-mu kan?”

Yoojung menggeleng. “Sudah kukemas.”

“Wah, sepertinya kau akan membayar lebih untuk bagasi.” gumam Jiyong mengamati semua barang-barang gadis itu.

“Yah, begitulah..” Yoojung mengamati sebuah koper besar, dua buah kotak, dan dua buah ransel yang akan ia bawa nanti.

“Dasar perempuan.” ejek sang paman.

“Hei!” celetuk Shinhae tiba-tiba. “Kau tidak membawa makanan apapun untuk bekalmu di pesawat?”

“Aku memang akan membelinya malam ini, bersama Kyuhyun.” Yoojung melirik pria itu.

“Kalau begitu cepatlah! Ini sudah hampir larut!”

Mereka berdua pun keluar, menuju mobil Kyuhyun. Mereka langsung menuju Dongdaemun. Pria itu memutuskan untuk menunggu di mobil selama Yoojung berbelanja. Beberapa menit kemudian, gadis itu muncul dengan dua kantung plastik besar di tangannya. Ia meletakkan semua itu di kursi penumpang belakang.

Yoojung meminta Kyuhyun untuk tidak mengantarnya pulang. Ia sedang ingin ke taman. Dan pria itu menurut. Mereka berhenti di sebuah taman, dan berjalan-jalan sebentar di sana. Gadis itu menggenggam erat tangan prianya, menikmati udara malam dan bintang di langit.

“Aku tidak percaya kalau hari ini adalah hari terakhir kita bergandengan seperti ini.” ujar Kyuhyun memulai.

“Dan hari terakhir aku melihat wajahmu.” sambung Yoojung. Nada bicaranya terdengar sedih.

“Maaf, aku tidak bisa mengantarmu besok.” Kyuhyun menundukkan wajahnya tanda menyesal.

“Tidak apa,” gadis itu menepuk-nepuk tangan Kyuhyun yang digenggamnya. “Besok ‘kan banyak yang mengantarku. Paman, Jiyong oppa, Nara, dan Shinhae. Tenang saja, Kyu.”

“Tapi tetap saja berbeda..”

Yoojung menghentikan langkah, yang secara otomatis langkah Kyuhyun juga terhenti. Ia menatap wajah pria itu. “Yak, kenapa priaku jadi manja begini, eoh?”

Kyuhyun agak terkejut dengan kata pria-ku yang diucapkan gadis itu. Ia semakin memasang wajah manjanya. “Aku tidak mau berada jauh darimu..”

“Kau bisa bertahan saat aku berada di Jerman, tapi sekarang kenapa tidak? Aku akan pulang, Kyu, jangan khawatirkan aku..”

“Baiklah, baiklah..” Kyuhyun langsung merengkuh gadis itu. “Jaga dirimu baik-baik, eoh? Jangan bekerja terlalu larut. Kalau kau capek, istirahatlah. Selalu kabari aku, jangan pernah sekalipun kau mengabaikan panggilan dan pesanku. Dan ingatlah,” ia melepas pelukan, memandang Yoojung tajam. “Kalau sampai kau melirik pria lain, awas kau! Aku tidak akan segan-segan membawamu pulang dan langsung menikahimu!”

“Wow, aku takut sekali..” balas Yoojung dengan ketakutan yang dibuat-buat. “Baiklah, tuan, aku tidak akan melirik pria lain. Kecuali kalau di sana aku bertemu Usher, atau Adam Levine, atau Justin Timberlake..” ia menyeringai.

Ya!”

“Baiklah, sayang.. aku juga tidak akan melirik mereka..” Yoojung kembali serius. “Tapi kau juga! Kalau sampai kau tidak mengabariku kau berperan di drama musikal atau pemotretan bersama model wanita, awas kau! Aku akan membawa pria asing ke sini!”

“Kau tidak masalah dengan adegan yang akan kulakukan nanti?”

“Asalkan kau mengabariku, semuanya akan baik-baik saja.” gadis itu mengacungkan ibu jarinya. “Karena aku tahu, kau tidak mungkin memperlakukan mereka seperti kau memperlakukan aku.”

Pria itu mengangguk, tapi kemudian. “Tunggu dulu,” ucapnya. “Apa kau sedang mengujiku?”

“Tidak.” Yoojung menggeleng.

“Kau menantangku?” Kyuhyun menyeringai seram.

“Menantang apanya?” balas Yoojung tak mengerti. Lalu ia bergidik. “Jangan memasang senyum itu, Kyu..”

“Kau takut?”

Yoojung mengangguk.

“Kalau begitu, kau pasti tidak akan takut kalau aku melakukan ini padamu..”

“Melakukan apa?”

Tanpa menjawab pertanyaan itu, satu tangan Kyuhyun melingkari pinggang gadis itu, sementara tangan yang lain berada di tengkuknya. Ia mendekatkan wajah Yoojung sampai akhirnya kedua bibir itu bertemu. Pria itu memejamkan mata, menyesap serta mengulum lembut bibir itu. Namun karena semakin lama tidak ada reaksi dari Yoojung, akhirnya ia melakukan usaha terakhir.. dengan menggigit pelan bibir bawah gadis itu.

Seakan diberi tanda, barulah Yoojung melingkarkan kedua lengannya di leher Kyuhyun, memberi balasan yang Kyuhyun inginkan.

Kwon Chun Hee dan Jiyong sedang menonton televisi. Shinhae merapikan barang-barang yang sudah dikemas olehnya dan Yoojung. Nara berjalan mondar-mandir mengelilingi ruang tamu. Sudah dua jam yang lalu Yoojung dan Kyuhyun pergi, tapi mereka berdua tak kunjung kembali. Apa harus selama itu hanya untuk berbelanja bekal?

“Aduh, di mana mereka berdua berada?”

 

-End-

Advertisements

2 thoughts on “Born to be Somebody 4 (END)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s