Born to be Somebody 3

justin-born-to-be-somebody1

Too in love with this song, I try to create an ‘inspirated’ story about it.

1 | 2 | 3 | 4 (END)

***

TIDAK ada yang diam di bandara itu. Semua orang bergerak, memeriksa pesawat, menguji coba helikopter, berjalan ke sana kemari. Suara bising pesawat yang take-off dan landing mendominasi di tempat ini. Terlebih di hanggar.

Seorang yang tengah memeriksa sebuah bagian pesawat mengacungkan ibu jari dan berteriak. “Sistem hidrolik aman terkendali!”

Kwon Yoo Jung sedang mengamati sebuah dokumen ketika salah satu dari kru perbaikan pesawat mengatakan hal itu. Ia mengangkat wajah – yang langsung bertatapan dengan bagian sayap pesawat. Ia dan beberapa orang tengah melakukan pemeriksaan rutin pesawat.

Gadis itu menoleh ke arah seseorang yang mengenakan baju khusus berbahan katun. “Kau sudah memperbaiki kebocoran tangki bahan bakar?”

“Ya, nona Kwon!”

Ia menatap bagian sayap lain. “Semua keretakan sudah teratasi.” ujarnya lebih kepada diri sendiri. “Tidak ada masalah dengan spoiler, flap, rem, aileron, baling-baling, thrust reverser, dan komponen lain. Baiklah,” ia memberi komando kepada beberapa orang di tepi hanggar yang memang sudah disiapkan. Sebuah tangki beroda ada bersama mereka. “Kalian bisa memompa bahan bakar ke pesawat sekarang.”

Yoojung menepi, membiarkan orang-orang itu bekerja. Pekerjaannya hampir selesai. Setelah bahan bakar terisi penuh, pintu hanggar dibuka. Seorang marshaller tengah megarahkan pesawat memasuki apron. Di sana, ada seorang ahli mekanik lain yang akan menangani uji coba pesawat.

Pada saat itu, seorang gadis tengah menghampiri Yoojung. Gadis yang selalu megusiknya selama ia bekerja di sini. Ia memandang orang itu malas.

“Kau mau ke mana setelah ini?” tanya gadis itu.

“Apa itu urusanmu?” sahut Yoojung ketus. “Yang jelas, urusanku tidak ada hubungannya denganmu.”

Orang itu tersentak sepersekian detik. Ia sudah biasa menerima reaksi ini. Namun kali ini ia sudah tidak bisa mentolerirnya. Hei, ia juga lelah, kalian tahu?

“Bisakah kau bersikap ramah padaku?” kata Shin So Hee – gadis itu – lelah. “Sudah lebih dari setahun kau bekerja di sini, kapan kau bisa menerimaku sebagai rekan kerjamu? Aku tahu aku pernah benci padamu, tapi itu dulu! Apa kau tidak bisa melupakan apa yang pernah aku lakukan padamu dulu dan memaafkan aku?!”

“Dan bisakah kau tidak mengangguku?!” tangkis Yoojung sengit. “Karena sudah lebih dari setahun aku bekerja disini, bisakah kau menyadari kalau aku tidak akan pernah menerimamu di kehidupanku?! Kau dan teman-temanmu yang brengsek itu tidak akan bisa kumaafkan dengan mudah! Kalau kalian jadi aku, kalian pasti akan melakukan hal yang lebih buruk dari apa yang kau lakukan sekarang!”

“Juga,” tambah Yoojung. “Aku tidak bisa melupakan apa yang telah kalian lakukan dulu! Malah aku semakin benci padamu ketika kau muncul di depanku!”

Gadis itu membuka jas putih-nya, menyampirkannya di sebuah kursi, dan berjalan meninggalkan hanggar. Ia memutuskan untuk berjalan-jalan. Beberapa menit kemudian, ia melihat sebuah cafe yang menurutnya menarik. Ia memegang perut, menyadari bahwa ia belum makan apapun dari tadi pagi. Ia langsung masuk ke dalam.

Ia mengambil tempat di dekat jendela, memesan, dan kemudian menunggu. Ia menatap keluar jendela, sibuk dengan pikirannya sendiri.

Helaan napas gadis itu mengisi suara di cafe yang tenang ini. Sudah sepuluh menit ia menunggu, namun minumannya tak kunjung datang. Ia mulai kesal. Sampai akhirnya..

“Pesananmu, nona,”

Kalimat itu memecah lamunan Yoojung. Ia menatap si pelayan dengan marah. “Kenapa lama sekali?! Aku tidak membayar untuk membuang-buang waktuku di tempat ini!”

“Maafkan saya, nona. Hal ini tidak akan terulang kembali.” pelayan itu meletakkan pesanan Yoojung di meja. “Selamat menikmati.”

Pelayan itu hendak berbalik ketika ia menyadari satu hal. Suara itu.. terdengar familiar baginya.

“Maaf nona,” katanya ramah. “Apa kita pernah bertemu di suatu tempat?”

Gadis itu mengurungkan niatnya untuk minum. Ia berdecak kesal karena kegiatannya diganggu. “Memangnya kenapa kalau kita – ” ia tertegun ketika menatap name tag yang dikenakan si pelayan.

“Kau pasti mengenalku, si perfeksionis Jun Hye Na.” Yoojung tersenyum sinis. “Aku adalah gadis culun yang nyaris kau tampar dulu. Tapi sayang, akulah yang menamparmu. Dan apa kabar tanganmu?”

Mendengar kalimat itu, tentu saja, pelayan itu kaget.

“Kau.. tampak berbeda.” ucapnya.

“Begitulah pendapat semua orang tentangku.” Yoojung mengangkat bahu, menatap penuh cela gadis di depannya from head to toe. “Dan kau sepertinya sukses.” ucapnya sinis. “Sudah berapa album yang kau keluarkan? Bagaimana tur konsermu? Apa nama fansclub-mu?”

Mulut gadis itu terketatup rapat.

“Ah, sebaiknya aku ke toko musik. Aku harus membeli albummu.” Tanpa menghabiskan coklat panasnya, Yoojung bangkit dari tempat duduknya, meninggalkan Hyena yang hanya berdiri mematung memandang pintu cafe.

☆☆☆

Shin So Hee menghela napas pasrah. Ia capek. Tidak mudah membuat Yoojung luluh. Bagaimana gadis itu mau mendengar, kalau gadis itu sangat membencinya, juga teman-temannya? Parahnya, baru sekarang ia menyesali semuanya.

Tapi, kalau dipikir-pikir lagi, Yoojung memang pantas membencinya. Bahkan sangat pantas, setelah perlakuan buruknya pada gadis itu dulu. Namun ia juga heran, kenapa ia bisa berlaku seperti itu.

Sohee memandang kosong ponselnya. Ada sebuah pesan dari orang yang menyuruhnya mendekati Yoojung dan menarik simpati gadis itu. Dari orang yang menyuruhnya berlaku baik pada gadis itu. Dari orang yang membuatnya menjadi sangat rendah di mata Yoojung. Ia mendengus.

Tiba-tiba, ada sebuah pesan baru yang masuk. Dari orang lain.

Sohee mengernyit, membaca isinya. Matanya membelalak. Ia langsung menelepon si pengirim pesan pertama.

☆☆☆

Hari yang melelahkan. Setidaknya itulah yang dirasakan Cho Kyu Hyun. Ia merebahkan diri di ranjang, menutup mata dengan lengannya. Mulai dari pagi hari, jadwalnya padat sekali. Pemotretan, jumpa fans, konser di sana-sini. Ah, benar-benar menguras tenaga.

Tapi tetap saja tidak ada yang berubah dengan perjuangannya untuk Kwon Yoo Jung.

Ia menghela napas. Usahanya untuk mendapatkan gadis itu sia-sia belaka. Jangankan untuk mendapatkan, mengubah persepsi dirinya di depan gadis itu saja ia gagal total. Ditambah lagi, setelah diberitahu Kwon Ji Yong bahwa mereka bertengkar dan Yoojung tidak lagi tinggal bersama sang paman, membuat pria itu nyaris menyerah. Gadis itu benar-benar tidak memaafkannya.

Sekarang ia mengerti apa yang Yoojung rasakan dulu.

Tapi, masalah ini tidak akan serumit itu jika seandainya Kyuhyun mengatakan hal yang sebenarnya. Seandainya ia memperlakukan Yoojung dengan benar. Seandainya gadis itu mau mendengarkannya. Seandainya dulu ia berpikir jernih.

Sial. Semua itu hanya ‘seandainya’.

Setelah Yoojung mengusirnya setahun lalu, ia memang pernah bertemu gadis itu. Hanya lima kali, setelah itu tidak pernah lagi. Itu pun dia dibentak, diusir, dan diberi sumpah serapah oleh gadis itu. Tapi hal itu juga membuatnya mendapatkan gagasan bagus.

Jadi di sinilah ia. Sedang menunggu telepon dari seseorang. Sebelumnya ia memang sudah mengirim pesan kepada orang itu.

Dan bunyi itu pun terdengar memenuhi kamar ini.

“Tepat sekali,” Kyuhyun berdiri, menghampiri meja tempat ponselnya diletakkan. Ia sengaja membuat mode telepon menjadi loudspeaker supaya ia tidak capek-capek menempelkan benda itu di telinganya. “Jadi, bagaimana?” Ia berdiri di dekat jendela, memandang kendaraan yang berlalu lalang di bawah sana.

“Aku menyerah, Kyu.”

Mata Kyuhyun membulat sempurna. Ia mengalihkan pandangan dari luar ke ponselnya. “Menyerah?”

“Yah, begitulah,” orang itu menjawab lagi. “Maafkan aku, Kyu. Sepertinya aku akan mengikuti Jiyong sunbae, membiarkanmu menyelesaikan sendiri. Kami resmi keluar dari permainan.”

“Memang apa yang dia lakukan padamu sampai kau menyerah?”

“Kau mau tahu?” sahut orang itu jengah. “Selama setahun aku bekerja dengannya, dia sama sekali tidak menanggapiku. Aku merasa seperti sampah baginya. Dia bahkan tidak pernah memintaku memperbaiki keretakan, atau menyuruhku mengerjakan selembar logam pun. Dia juga selalu menolak untuk bekerja sama denganku. Parahnya lagi, para anggota maskapai tidak keberatan dengan hal itu. aku terus saja mencoba ramah padanya, tapi apa? Dia tidak perlah melirikku sedikitpun! Dia selalu membalasku dengan perkataan yang.. ahh! Aku capek, Kyu! Sangat! Bahkan tadi, dia menyuruhku untuk tidak mengganggunya lagi! Sekarang aku mengerti apa yang dirasakannya dulu.”

Kyuhyun menghembuskan napas dengan keras. Sekarang apa yang bisa ia lakukan?

“Aku mengerti apa yang kau rasakan, Kyu. Aku benar-benar tidak percaya kau ternyata mencintainya, sampai harus melakukan ini. Jadi, aku minta maaf karena aku hanya bisa membantumu sampai di sini. Aku bahkan tidak berani menyebut namamu di depannya, apalagi setelah apa yang kau ceritakan padaku.”

“Kau tidak perlu meminta maaf, nona Shin. Kau sudah terlalu banyak membantuku.”

“Dan sebelum aku memutuskan untuk keluar dari permainan, aku harus memberitahukan hal ini padamu.”

“Apa?”

“Tadi, Hyena bertemu Yoojung di cafe tempat dia bekerja.”

☆☆☆

Ini adalah hari terbaik yang pernah ada!

Setidaknya menurut Yoojung, terlebih setelah melihat wajah memelas Sohee dan pertemuannya kembali dengan Hyena. Oh, ternyata gadis yang dulu berkoar-koar kalau dia memiliki suara yang bagus ternyata menjadi seorang pelayan di sebuah cafe tidak terkenal. Menarik sekali!

Yoojung merebahkan diri di sofa ruang tamu flat-nya. Dari dapur, terdengar suara berisik panci, piring, sendok, dan gelas. Sepertinya Moon Na Ra, teman satu flat-nya tengah menyiapkan makan malam. Lebih baik ia segera makan, sebelum gadis itu menceramahinya.

Ia bangkit, berjalan dengan langkah diseret-seret menuju ruang makan.

“Kau masak apa hari ini?” Yoojung duduk salah satu dari tiga kursi kayu, lalu mengangkat kakinya ke atas kursi.

“Makanan sehat untuk wanita super sibuk,” Nara datang dari dapur dengan membawa semangkuk sup rumput laut, meletakannya di meja. “Mana Shinhae?”

Yoojung memajukan bibirnya. Itulah jawaban yang selalu Nara berikan ketika ia bertanya menu makan malam. Dan yang dimaksud dengan ‘makanan sehat untuk wanita sibuk’ sebenarnya adalah sepiring bulgogi, chapchae¸ sup rumput laut, nabak kimchi, dan naengmyeon.

“Entahlah.” ia mengambil sumpit, mencicipi sepotong bulgogi yang ada di meja. “Sepertinya dia masih sibuk dengan proyeknya.”

“Dasar arsitek mahal.” gerutu gadis itu. “Ya sudah. Apa kita akan menunggunya lagi?”

Pada saat itu, pintu flat terbuka. Suara langkah kaki yang mendekati meja makan memutus percakapan mereka.

“Hai,” sapa Gong Shin Hae. Ia mengambil tempat di samping Nara. “Apa kalian baru mulai makan? Apa kalian menungguku?”

“Ya, tentu saja.” Nara yang menjawab.

“Syukurlah aku tidak mati kelaparan.” Yoojung mengambil mangkuk nasi, mulai menikmati makan malam.

Nara tertawa. “Kau selalu seperti itu setiap kali pulang kerja. Apa maskapaimu tidak pernah menyediakan makanan yang cukup?”

“Aku malas makan di hanggar,” jawab Yoojung dengan mulut penuh. “Tidak seperti makanan di rumah. Kalau aku tidak makan, biasanya aku menyibukan diri dengan mengurus pesawat, atau kalau aku sudah lapar akut, aku akan makan di luar.”

“Tidak heran kau makin kurus.” sahut Shinhae.

Yoojung menghela napas. Sudah setahun belakangan ini ia tinggal bersama Nara dan Shinhae di sebuah flat yang terletak di pinggir kota Seoul, tepatnya di distrik Jongno. Sebenarnya sejak ia kembali dari Jerman, ia sudah ditawari Shinhae untuk tinggal bersamanya di flat ini. Karena mengira akan baik-baik saja jika seandainya ia tinggal di Korea, ia memilih untuk tinggal bersama sang paman, dan sesekali sang kakak sepupu akan menginap sebentar. Tapi ketika ia mulai bekerja di Korean Air, sesuatu diluar dugaannya pun terjadi. Ia bertemu kembali dengan orang-orang dari masa lalunya yang suram. Shin So Hee, dan Cho Kyu Hyun.

Masih segar di ingatannya, ketika Kyuhyun datang ke rumahnya untuk mengemis maaf. Sayangnya, pintu maaf Yoojung sudah tertutup untuknya. Parahnya lagi, ia mengetahui bahwa sang kakak sepupu membantu Kyuhyun selama ia berada di Jerman. Pertengkaran pun tak bisa dihindari. Akhirnya, ia menerima ajakan Shinhae untuk tinggal di flat bersama satu orang lain, Moon Na Ra, desainer terkenal yang sudah tinggal lebih dulu dengan Shinhae.

Selama ini, tidak ada satupun dari kedua teman flat-nya yang tahu tentang hal ini. Entahlah, ia tidak terlalu suka mengumbar masalah pribadinya. Dan sepertinya mereka berdua tidak keberatan dengan hal itu.

Meskipun tidak lagi tinggal bersama pamannya, mereka masih saling berkomunikasi. Tetapi Yoojung selalu menolak setiap sang paman mengajaknya ke rumah. Alasannya jelas, bukan? Melihat wajah Kwon Ji Yong dan Cho Kyu Hyun hanya akan membuatnya ingin memukul dan melempar sesuatu.

Ia memang sudah tidak lagi mendengar kabar tentang mereka berdua, dan hal itu tentu saja membuatnya senang. Begitu juga saat bekerja. Melihat Shin So Hee yang memohon dan memelas padanya membuat gadis itu bangga. Ditambah lagi, tadi ia bertemu dengan komplotan lain gadis itu. Jun Hye Na.

Diam-diam, Yoojung merasa senang. Sindiran yang ia ucapkan tadi membuat Hyena tidak bisa berbuat apa-apa. Jadi, seperti ini rasanya menjadi bullyer. Melihat korban bullying mereka menderita merupakan suatu kesenangan. Menyaksikan betapa rendahnya Sohee dan Kyuhyun serta ketidakmampuan Hyena membalas perkataannya adalah hal terindah yang pernah ia rasakan.

Tapi, tetap saja, ada setitik rasa dalam hatinya yang sulit ia jelaskan. Seolah-olah, hati dan jiwanya tidak setuju dengan apa yang ia lakukan.

“Jung-ah,” tegur Shinhae. “Apa ada masalah?”

Lamunan Yoojung langsung buyar. “Tidak apa. Aku hanya lelah, kalian tahu?”

“Ya, menjadi teknisi pesawat bukan hal yang mudah.” sambung Nara.

“Ngomong-ngomong, mana tehku?” tagih Yoojung. Ia sengaja melakukan hal itu akan pembicaraan ini tidak berlarut-larut.

Nara mendengus, dan bangkit dari kursinya. “Aku heran denganmu.” gerutunya menyeduh teh. “Kau bisa mengurusi mesin-mesin pesawat dengan mudah, tapi hanya menyeduh teh hijau saja tidak bisa!”

“Aku lebih suka menikmati teh hijau yang dibuat langsung oleh seorang desainer terkenal.” balas Yoojung santai.

“Aku juga, ya!” pinta Shinhae.

“Baiklah..” Nara menjawab dengan suara yang dipanjang-panjangkan. Beberapa menit kemudian, gadis itu membawa nampan berisi tiga cangkir teh. Ketika ia sudah bergabung di meja, ia membagikan tiga cangkir itu.

Mereka menikmati teh itu dalam diam.

“Oh ya,” tiba-tiba Nara menjentikkan jari, baru mengingat sesuatu. “Tadi ada seorang pria tua datang ke flat kita.”

“Benarkah?!” Yoojung dan Shinhae berseru. Tentu saja ini mengejutkan, mengingat mereka jarang kedatangan tamu. Orang tua Shinhae tinggal di Jepang, dan Nara hampir tidak punya keluarga di Seoul, karena memang orangtuanya bukan orang Korea.

“Pria itu memang tua, tapi wajahnya ceria.” lanjut Nara. “Dan dia mencarimu, Jung.”

☆☆☆

Kwon Chun Hee menatap rumah itu ragu. Rumah itu tidak jauh berbeda dengan rumahnya, sederhana dan tidak bertingkat. Hanya saja, ia bisa melihat ada sebuah mobil mewah terparkir di halamannya. Di sinikah selama ini sang keponakan tinggal?

Terakhir kali gadis itu meneleponnya adalah dua bulan lalu. Oh, gadis kecil itu benar-benar sibuk, dan sangat sulit ditemui. Apalagi gadis kecil itu selalu menolak untuk datang ke rumah. Tentu saja, ia sudah tahu pertengkaran yang terjadi antara gadis kecil itu dan jagoannya, Kwon Ji Yong. Juga tentang Cho Kyu Hyun. Dan apa yang dilakukan idol itu pada gadis kecilnya.

Ia mengerti. Amat sangat mengerti. Karena itu ia hanya diam. Tidak mencampuri urusan gadis kecilnya. Ia hanya melaksanakan amanat sang adik. Untuk menjaga keponakannya, serta membesarkan dan memenuhi semua kebutuhannya sampai gadis itu cukup mapan untuk hidup sendiri. Ia tidak keberatan Yoojung kuliah di Jerman. Ia tidak keberatan gadis itu meninggalkan rumah dan memilih untuk tinggal sendiri. Ia bahkan tidak keberatan dengan mimpi besar gadis itu. Malah sejujurnya, ia kaget ketika Yoojung kembali ke Korea.

Tapi, bagaimanapun juga, Yoojung tetap harus memberi kabar padanya. Setidaknya itulah yang harus dilakukan gadis itu, jika memang gadis itu masih sayang padanya. Bukan berarti ia marah karena gadis itu menghilang begitu saja. Ia tahu betapa sibuknya gadis itu. Karena itulah ia memilih untuk mengunjungi sang keponakan.

Ia menekan bel flat itu. Menunggu seseorang membuka pintu. Beberapa detik kemudian, muncullah seorang gadis berambut sebahu yang mengenakan piama bergaris-garis. Wajahnya tirus, ada lesung pipi yang tampak ketika gadis itu bicara. Dan ia tidak benar-benar seperti orang Korea.

“Maaf, kau siapa?” tanya pria itu langsung.

“Aku juga akan menanyakan hal yang sama, Tuan.” sahut gadis itu. “Tapi sebelumnya, aku tentu harus memperkenalkan diri.” Ia mengulurkan tangan. “Namaku Moon Na Ra. Aku tinggal di sini bersama dua temanku.”

“Kwon Chun Hee,” pria itu membalas uluran tangan Nara. “Apa Yoojung tinggal di sini? Apa aku bisa bertemu dengannya?”

“Ya, itu memang benar, tapi maafkan aku, tuan.” jawab Nara sopan. “Yoojung belum pulang. Ada yang bisa aku sampaikan?”

Pria itu menggeleng. “Tidak ada, maaf merepotkanmu.” ia langsung pergi meninggalkan gadis itu. Ia segera menuju mobil yang sudah terparkir di dekat situ. Dan langsung masuk melalui pintu penumpang. Ada seseorang yang duduk di kursi pengemudi.

“Bagaimana?” tanya orang itu tanpa basa-basi.

“Jung tidak ada di sana. Sepertinya dia masih bekerja.”

“Ayah yakin? Apa tadi ayah bertemu dengannya?”

“Memang tidak.” Chunhee mengangkat bahu. “Aku hanya bertemu temannya. Dan sepertinya dia tipe orang yang tidak suka membohongi orang tua.”

“Begitukah?” masih ada nada tidak percaya dari perkataan Kwon Ji Yong.

“Setidaknya kau sudah tahu dimana dia tinggal kan?” pria itu berusaha menenangkan. “Sekarang antar aku pulang. Bukannya kau bilang kau mau kembali ke dorm?”

“Baiklah..” Jiyong melajukan mobilnya. Mengantar sang ayah pulang.

Ia memutuskan untuk kembali ke dorm. Mengingat bahwa ia tidak ada jadwal apapun untuk besok, jadi lebih baik ia beristirahat untuk menghabiskan waktu liburnya yang sempit.

Keesokan harinya, ia menghabiskan hari dengan berjalan-jalan. Ia sendiri tidak tahu mau ke mana. Entah mengapa tiba-tiba ia sudah berada di Seoul Arts Center untuk menonton pertunjukkan opera, melihat pergantian penjaga istana Gyeongbok, bermain air di Cheonggyecheon, dan berjalan-jalan di Dongdaemun.

Selanjutnya, pria itu lebih memilih berkeliling. Jiyong mengemudikan mobilnya dengan berbagai macam hal yang berseliweran di otaknya. Ia kembali gagal bertemu sang adik setelah cukup lama mereka tidak bertemu. Sungguh, ia sangat merindukan betapa berisiknya anak itu. Rumah mereka seperti rumah berhantu tanpa suara teriakan gadis itu. Bahkan saat di dorm, ia masih saja tidak bersemangat. Parahnya lagi, sang ayah malah membela anak itu.

Sebenci itukah Yoojung pada dirinya sampai ia harus dijauhi seperti ini? Apakah salah ia membantu Kyuhyun? Sebenarnya siapa yang jahat di sini?

Yang ada di pikirannya saat ini adalah bagaimana jika seandainya ia bertemu gadis itu, dan apa yang akan ia lakukan nanti. Bagaimana cara meminta maaf pada gadis itu, bagaimana membuat gadis itu mendengarnya, bagaimana mencairkan hati juga membuat gadis keras kepala itu luluh padanya.

Secara tiba-tiba, mobilnya berhenti di sebuah toko kue. Mungkin memakan beberapa buah muffin bisa membuatnya merasa lebih baik. Jadi ia turun dari mobil, melangkah masuk ke toko kue itu. Atau seharunya kukatakan, tempat ini tidak benar-benar seperti toko kue. Ada beberapa kursi dan meja di sana. Juga lemari kaca yang memamerkan semua jenis kue yang ada di toko.

Tempat ini tidak terlalu ramai. Hanya beberapa orang yang duduk di meja dekat jendela, dan seorang gadis yang sedang menunjuk beberapa kue. Ia hendak masuk ke antrian ketika mendengar gadis itu mengucapkan terima kasih dalam bahasa yang tidak dimengerti.

Dan ketika gadis itu berbalik, napasnya tercekat.

☆☆☆

Hari Sabtu memang hari yang ditunggu-tunggu semua orang. Terutama jika kau sudah bekerja selama seharian penuh tanpa istirahat. Apalagi jika orang-orang itu seperti Yoojung, Shinhae, dan Nara yang bekerja tanpa mengenal hari. Meskipun begitu, tetap Yoojung yang paling parah diantara mereka semua. Mungkin dalam dua bulan, ia hanya pulang dua kali, selebihnya ia akan tinggal di hanggar. Jadi, suatu keajaiban bagi Nara dan Shinhae mengetahui bahwa hari ini Yoojung libur dan baru akan kembali ke hanggar hari Senin nanti.

Gadis itu terbangun ketika mendengar suara teriakan Shinhae, yang menyuruhnya untuk bangun. Ia menghela napas, menyibak selimut dengan kesal. Ia duduk di tepi tempat tidur, menatap jam kecil di meja. Ia bangkit, menyibak tirai dan membuka jendela kamarnya, membiarkan lebih banyak cahaya yang masuk. Ia memandang keluar. Ia kembali teringat perkataan Nara semalam.

Jika dugaannya benar, berarti orang itu adalah pamannya. Oh tidak, apa yang sang paman inginkan? Sejujurnya, ia senang sang paman mencarinya, tapi tidak dengan datang ke rumahnya. Bagaimana kalau dengan begitu orang-orang yang tidak ingin dilihatnya lagi datang ke sini? Jiyong dan Kyuhyun misalnya?

Oke, jujur, ia sangat merindukan sang kakak yang cerewet itu. Hidupnya terkesan berantakan setelah tidak tinggal dengannya. Tidak ada yang memaksanya bangun pagi, tidak ada yang menyuruhnya ini itu, tidak ada yang memintanya merakit sesuatu, dan tidak ada yang menceramatinya, menasihatinya, atau menyemangatinya. Ia rindu rumah.

Tapi tidak dengan Cho Kyu Hyun. Beberapa kali ia bertemu pria itu, dan pria itu terus memohon padanya. Tentu saja ia tidak akan luluh, meskipun pria itu tidak memperlakukannya seperti dulu. Bagaimana bisa ia berlaku baik pada seseorang yang ia benci?

Baiklah. Ia akan memikirkan apa yang akan ia lakukan jika seandainya ia bertemu keduanya. Tapi nanti. Karena sepertinya Shinhae dan Nara mulai senewen. Ia keluar dari kamar, mendapati dua gadis itu tengah menunggunya.

“Apa yang kau lakukan di kamar? Kenapa lama sekali?” tanya Nara ketika gadis itu melewatinya.

Yoojung berjalan menuju kamar mandi. “Bersih-bersih.”

“Selama itu?”

Yoojung mengatakan sesuatu yang tidak bisa dipahami karena ia sedang sibuk menggosok gigi. Beberapa menit kemudian, gadis itu keluar sembari megeringkan wajah dengan handuk kecil.

“Kau ingat apa yang akan kita lakukan hari ini kan?”

“Tentu saja,” jawab Yoojung menguap lebar.

“Jadi siapa yang akan berbelanja?” tanya Nara.

“Aku.” Yoojung menawarkan diri. “Kalian saja yang bersih-bersih. Kalian tahu kan selama ini aku hanya melihat hanggar dan flat ini? Jadi dengan berbelanja setidaknya aku akan melihat dunia.”

“Yah, dan untuk sementara menyingkirkan mesin-mesin dari otakmu.” Nara memberikan daftar belanjaan pada Yoojung. “Kau mau pakai mobilku? Atau mobil Shinhae?”

“Tidak, terima kasih, desainer.” tolak Yoojung halus. “Aku akan bersepeda.”

“Aku heran kenapa kau tidak mau membeli mobil,” timpal Shinhae mengikat rambutnya. “padahal kurasa gajimu selama setahun bekerja di Korean Air sudah bisa membeli dua Lamborghini.”

“Aku tidak bisa mengemudi.” Yoojung menjawab. ” kalaupun bisa, tentu akan tidak akan membelinya. Lagipula mobil menyebabkan polusi, tidak bisa menyelinap kemacetan, dan perawatannya merepotkan. Sepeda itu bebas polusi, bisa menyelinap kemacetan, dan perawatannya mudah. Aku juga bisa sekalian berolahraga.”

“Untuk apa kau berolahraga kalau kau sudah kurus?”

“Harap bedakan kurus, langsing, dan sexy, nona Moon.” sergah Yoojung menjulurkan lidah. Ia cepat-cepat menutup pintu flat untuk menghindari lemparan bantal Nara.

Gadis itu membuka garasi, mengamati sepedanya di antara dua mobil mewah milik kedua temannya. Ia mendorongnya keluar, membersihkannya sebentar, dan berangkat.

“Woooohoooo!” pekik Yoojung senang. Ia merentangkan satu tangannya sementara tangannya yang lain memegang kemudi. Bukan hal buruk pergi ke Dongdaemun dengan bersepeda. Ini untuk pertama kalinya Yoojung merasa bebas. Bebas dalam arti benar-benar bebas! Ia sangat bahagia!

Ia bebas menatap gedung-gedung pencakar langit kota Seoul. Bebas bersepeda mendahului orang-orang dan kendaraan lain. Bebas mengganggu anak-anak yang bermain di taman. Bebas berlarian di pasar. Bebas mendorong troli belanjaan – menaiki besi di antara kedua roda troli yang sejajar, menganggapnya sebagai kereta luncur – dan mengambil barang-barang yang ia butuhkan. Ia bahkan bebas dimarahi oleh ibu-ibu karena gadis itu nyaris menabrak anak mereka!

Yoojung hanya tertawa. Selama ia tidak membunuh anak-anak mereka, ia pasti tidak apa-apa. Ia kemudian meminta maaf kepada mereka, dan semua orang yang merasa terganggu akan keberadaannya. Ketika gilirannya, ia membayar semua belanjaan, dan melanjutkan kegiatannya untuk melihat dunia.

Benar kata Shinhae. Sejenak, ia melupakan mesin-mesin pesawat dalam otaknya. Gadis itu merasa seringan bulu, melayang kemanapun ia inginkan. Pergi ke manapun yang ia inginkan. Ber-window shopping­-ria sesuka hatinya. Membeli dan memakan sundae dan mandu sebanyak yang ia mau. Mengendarai sepeda mengikuti ritme dirinya. Menatap dengan terkejut kedai di depannya.

Gadis itu segera memarkir sepeda di depan kedai, masuk dengan terlalu riang ke dalam.

Ah, aroma ini..

“Sudah lama sekali..” gumamnya memandang kedai berkeliling. Ini jelas-jelas kedai Eropa. Lihat interior ruangannya. Persis seperti kedai-kedai yang biasa ia kunjungi sewaktu ia berada di Jerman. Menunya ditulis dengan tulisan tangan yang rapi. Semua makanan khas Eropa tertulis di sana. Beberapa hiasan dan lukisan khas benua itu dipajang dinding. Bahkan, setelah cukup lama memperhatikan, ia tidak melihat satupun pekerja kedai yang berwajah Asia.

Ia menghampiri meja kaca yang memperlihatan berbagai macam kue. Ia disambut oleh seorang pria berumur sekitar awal tiga puluhan, berambut pirang, dan berwajah oval. “Ada yang bisa kubantu?”

Yoojung tersenyum. Bahasa Korea orang ini terlalu kaku. Jadi ia menjawab dengan bahasa Inggris. “Apa kau orang Jerman? Belanda? Italia? Perancis? Inggris?”

“Ah, kau penyelamatku, nona,” jawab orang itu juga dengan bahasa Jerman. “Apa yang ingin kau pesan?”

Yoojung mengetuk-ngetuk dagu dengan jari, menatap kue yang terpampang di depannya. “Aku mau schwarzwalder kirschtorte, apfelstrudel, bienenstich, bretzel, dan lebkuchen. Semuanya satu dan tetap hangat.”

“Segera!” orang itu berseru. Ia mengambil kantong kertas, mengisi kantong itu dengan kue-kue tadi, dan memberikannya kepada Yoojung.

Gadis itu memberikan uang dan menerima kantong itu. “Danke schon.”

Ketika ia berbalik hendak keluar toko, ia bertemu seseorang yang membuatnya langsung mengurungkan niat untuk berjalan. Ia terkesiap.

Oppa..?”

Awalnya Kwon Ji Yong juga kaget sekali melihat gadis di depannya. Suatu kebetulan yang beruntung kah? Atau ini takdir?

Pria itu tersenyum. “Kebetulan sekali bertemu denganmu di sini.” Balasnya dengan suara yang ia buat sedatar mungkin. Sungguh, sekarang ini ia ingin berteriak di depan wajah gadis itu. “Apa kabarmu, insinyur? Lama tidak bertemu.”

Untuk sesaat, Yoojung diam membatu.

Jiyong mengamit tangan gadis itu, membawanya ke meja di sudut tempat ini. Ia mendudukkan gadis itu di kursi, dan ia sendiri mengambil tempat di samping itu.

“Kenapa, insinyur?” kata Jiyong. “Kau gugup bertemu denganku?”

Yoojung menggeleng. “Aku senang bertemu dengan oppa.”

“Bohong.” pria itu mendengus. “Kau pasti sedang memikirkan alasan yang bagus untuk kabur.”

“Tidak.” Kali ini Yoojung bersungguh-sungguh.

“Begitukah?” Jiyong memiringkan kepalanya. “Kalau begitu, kenapa kau tidak mau tinggal di rumah? Kali ini aku minta kejujuranmu, karena aku sudah tahu apa yang akan kau jawab.”

Yoojung menelan ludahnya dengan susah payah. Ia memang paling tidak akan bisa berbohong di depan Jiyong. “Baiklah,” ia menghembuskan napas. “Oppa tahu kan aku benci Kyuhyun? Karena dialah aku menerima tawaran temanku untuk tinggal di flat bersamanya.”

“Kau takut dia menemuimu lagi di rumah?”

Yoojung mengangguk.

“Jung-ah, dengarkan aku,” Jiyong berucap sungguh-sungguh. “Aku bukan membela Kyuhyun. Aku tahu kau membencinya. Dan aku tahu apa yang sebaiknya kau lakukan. Seandainya kau tahu kalau dia benar-benar menyesali semuanya. Aku memang tidak bisa memaksamu, aku tahu itu. tapi bisakah kau mendengarnya sekali saja? Maafkan dia, aku yakin kau tidak akan menyesal.”

“Kenapa aku harus menerimanya kalau dia sendiri membenciku?” cecar gadis itu. “Mungkin dia hanya berpura-pura baik di depan oppa supaya bisa mendekatiku. Jangan tertipu oleh penampilannya, oppa.” Yoojung bersandar di kursi, menyilangkan kedua lengannya.

“Kau masih membencinya?”

Yoojung menyeringai. “Wajahku terlalu menunjukkannya, ya?”

Jiyong melongo, persis seperti orang bodoh.

“Maaf, idol, aku harus pergi.” Yoojung bangkit dari kursinya. Ia hendak melangkah keluar ketika mendengar pernyataan Jiyong. Ia langsung berhenti.

“Keluarga Kwon adalah orang-orang yang baik, jujur, sabar, dan sederhana. Bukan orang-orang jahat, sombong, dan egois. Tidak ada satupun anggota keluarga Kwon yang tumbuh dengan sikap-sikap itu. Karena mereka tumbuh dengan prinsip kebaikan yang begitu kuat. Sehingga mereka akan tetap tabah meskipun mereka terus tertindas, menerima seseorang apa adanya, dan mudah memaafkan orang lain. Jangan sampai kami kecewa padamu, insinyur.”

Yoojung memutar bola matanya dan pergi.

Jiyong menatap kepergian gadis itu dengan kekagetan dengan tidak dibuat-buat. Itukah Kwon Yoo Jung, gadis polos nan baik hati yang selalu sabar? Tetapi setelah bertemu gadis itu ia benar-benar tidak percaya kalau gadis itu adalah Yoojung yang dulu. Apa yang tadi itu orang lain? Ah, ia sulit percaya kalau itu adik kecilnya yang pecicilan dan cengeng. Apa itukah pengaruh yang didapat Yoojung selama tinggal di Jerman? Kira-kira apa pendapat pamannya bila tahu keponakan tercintanya menjadi seperti ini?

Baru saja ia ingin memikirkan jawaban itu, ia melihat ada keributan di luar toko. Segera saja ia keluar dan melihat keributan itu.

Ia melihat Yoojung ditabrak oleh dua orang pria yang memegang banyak sekali buku – entah menabrak atau ditabrak ia tidak peduli lagi. Seluruh buku-buku pria itu jatuh. Namun bukannya membantu, Yoojung malah membentak pria itu.

“Apa saraf matamu tidak berfungsi saat berada dalam keramaian, Tuan-Tuan?!” demikianlah gadis itu berkata.

“Maafkan aku, nona.” salah satu pria itu membungkuk meminta maaf dan mengambil kembali buku-bukunya.

Jiyong melihat Yoojung tengah melirik buku-buku dua pria itu. Ketika mereka selesai dengan bukunya dan hendak pergi, gadis itu berucap. “Oh, wow,” ia seakan membuat dirinya kaget. “Aku menabrak artis terkenal. Dua orang pula.”

Pria lainnya tersenyum tulus. “Maaf, nona, kami bukan artis.” Kemudian seakan tersadar sesuatu, ia mengerutkan dahi. “Maaf, sekali lagi, apa kami mengenalmu?”

Yoojung mengeluarkan sesuatu dari sakunya. “Kau pasti mengenalku, Han Seung Jo.” Ia beralih menatap pria satunya. “Lama tak bertemu, Choi Young Dae.”

Oh, jadi itu Han Seung Jo dan Choi Young Dae.. Jiyong sudah lama tidak bertemu mereka. Dan buat apa ia mengingat wajah mereka karena mereka dulu sering menindas sang adik? Tapi sekarang yang terjadi malah sebaliknya. Ia masih terus memperhatikan sang adik.

“Yoojung?” ucap keduanya bersamaan.

“Kenapa?” nada sombong itu terdengar lagi dari mulut adik kecilnya. “Terkejut? Tidak menyangka kalau kalian akan bertemu gadis yang sering kalian tindas dulu?”

“Kau bahkan masih mengingat semuanya?” sahut Youngdae.

“Aku tidak akan bisa melupakan semua perlakuan brengsek kalian kepadaku.”

“Bahkan untuk memaafkan kami pun, kau tidak bisa?” timpal Seungjo.

“Ya.” Jawab Yoojung tegas. “Untuk apa aku memaafkan kalian kalau itu tidak ada gunanya untukku?”

Jiyong bisa melihat kekagetan yang dipancarkan wajah dua pria itu.

“Maaf, idol, aku harus pergi.” Lagi-lagi, Yoojung mengacuhkan mereka. Pergi begitu saja.

Oh, Tuhan! Benarkah itu Kwon Yoo Jung?! Gadis itu benar-benar berubah! Jiyong seakan tidak bisa melihat lagi sisi baik gadis itu. Sungguh sulit dipercaya! Gadis kecil bak malaikat itu seperti a nightmare dressed like a daydream. Mengerikan.

Namun dengan melihat hal ini, justru Jiyong mendapat ide bagus. Ia mengurungkan niat untuk keluar dari permainan. Karena untuk apa ia mundur jika ia bisa meminta pertolongan.. dengan menambah seorang pemain baru?

☆☆☆

Yoojung menaruh semua belanjaan di meja makan. Bersih-bersih sudah selesai dilakukan. Tiga wanita muda itu kini berkumpul di dapur. Shinhae tengah menikmati kue yang dibeli Yoojung, dan Nara tengah memasukkan belanjaan ke dalam kulkas, lalu mencuci beberapa sayur.

“Hari ini, kita akan makan bibimbap.” ujar Nara mengumumkan sembari memotong-motong sayuran. “Tidak apa kan? Aku sedang ingin memasak yang praktis.”

“Tenang saja, nona Moon.” Yoojung merenggangkan badannya, berjalan menuju ruang tengah. “Aku selalu suka masakanmu.”

Gadis itu membaringkan tubuhnya di sofa, dengan kepala diletakkan di lengan sofa. Lagi, ia mengalami hari yang berat. Ia benar-benar tidak menyangka akan bertemu dengan sang kakak dan Seungjo juga Youngdae. Semua kalimat yang dilontarkan Jiyong terngiang-ngiang di kepalanya. Apalagi kalimat yang terakhir itu.

Jelas, ia amat tahu hal itu. Keluarga Kwon adalah keluarga yang berbudi luhur. Tapi ia merasa ia tidak menghilangkan semua kebaikan dalam dirinya. Memangnya ia salah jika ia memperlakukan Sohee, Hyena, Kyuhyun, Youngdae dan Seungjo seperti itu? Bukankah itu yang dilakukan mereka dulu padanya?

Pada saat itu, bel flat mereka berbunyi.

“Bisa kau buka pintunya, Jung?” teriak Nara dari dapur. “Akhir-akhir ini kita sering kedatangan tamu.”

“Yeah..” jawab Yoojung malas. Dengan sekali gerakan, ia bangun dan membuka pintu.

Kalau boleh jujur, ia sangat kaget melihat si tamu.

Yoojung menutup pintu di belakangnya. “Apa yang kau lakukan di sini?! Bagaimana kau bisa tahu tempat ini?!”

Kyuhyun menatap gadis di depannya dengan jengah. Ia lelah dengan semua ini, tapi tentu ia tidak mau menyerah begitu saja. Ia memelas. “Aku mohon dengarkan aku, nona Kwon. Setelah itu aku akan menyingkir jauh-jauh kalau memang kau tidak menginginkan aku..”

Gadis itu memutar bola matanya malas. “Tapi sayangnya, aku tidak mau mendengarmu, tuan Cho.”

“Aku mencintaimu..”

“Tapi tidak denganku.” ucapnya datar, berusaha mengabaikan perasaan aneh yang menjalari tubuhnya. “Jadi bisakah kau pergi? Kau merusak hari liburku. Kau tidak jauh berbeda dengan keempat temanmu yang brengsek itu. Dasar pengusik hidup!”

Mata Kyuhyun membulat.

“Dan jangan pernah kembali ke sini. Atau aku akan benar-benar membunuhmu.”

Gadis itu hendak berbalik ketika mendengar Kyuhyun mengatakan sesuatu.

“Kau sangat keterlaluan, kau tahu?”

Ucapan itu membuat Yoojung kaget. Ia mengangkat sebelah alis, bersedekap. “Apa?”

“Kau boleh memperlakukan aku seperti ini, tapi tidak dengan keempat temanku.” Kyuhyun menatap gadis itu tidak lagi dengan pandangan memohon, tetapi marah. “Sadarlah. Seharunya kau bersyukur mereka tidak lagi membencimu dan menyesali semua tindakan mereka dulu.”

“Apa kau lupa siapa yang membuat mereka memperlakukanku seperti itu?!” nada bicara gadis itu meninggi. “Kau! Kau orang itu! Kalau bukan karena kau, kehidupanku tidak akan sesuram dulu!”

Yoojung kembali ke dalam flat. Persetan dengan Kyuhyun yang menunggunya atau tidak, ia tidak peduli. Tapi sekonyong-konyong, ia bersandar di balik pintu, memejamkan mata. Dan menangis dalam diam untuk waktu yang cukup lama. Ia bahkan tidak tahu kenapa ia menangis. Mungkin saat ini dalam otaknya, sadness sedang mengambil alih, bukan anger, yang selama ini menguasainya (kalau kalian pernah nonton kartun Inside Out, kalian pasti mengerti).

Setelah puas menangis dan menghilangkan jejak-jejaknya, ia menuju dapur, melihat Nara sedang memasak dan Shinhae yang sedang menata meja.

“Tadi itu siapa?” tanya Shinhae menata piring.

“Hanya orang yang iseng menekan bel flat.” Yoojung berdiri di samping Nara, menuangkan air ke dalam gelas, dan meminumnya dengan sekali teguk.

“Tapi kenapa kau lama sekali?” sahut Nara.

“Aku bertemu seseorang dari maskapai, dan, yah,” Yoojung mengangkat bahu. “Kami sedikit mengobrol.”

Gadis itu hendak menuangkan air ketika sesuatu tercetus di otaknya. Ia berlari ke kamar, mengabaikan kedua temannya yag terlihat kaget. Ia mengambil laptop, menyalakannya, dan mulai bekerja. Mungkin terdengar kejam, tapi hanya ini satu-satunya cara ia bisa pergi dari tempat busuk ini.

Cukup lama ia mengurung diri di kamar untuk berkutat dengan laptopnya. Gadis itu tampak serius sekali. Menatap layar dengan kening berkerut, memainkan jarinya di atas tuts, dan sepertinya gadis itu tengah menunggu sesuatu.

Beberapa menit kemudian, ia tersenyum puas. Urusannya telah selesai.

Ia keluar dari kamar dengan senyum mengembang, dan menuju dapur. Di sana, sepertinya Nara dan Shinhae sudah selesai memasak. Buktinya, ia sudah melihat tiga mangkuk bibimbap di meja.

Endlich!” Yoojung langsung duduk di kursi, menyantap bibimbap dengan rakus.

“Sikapmu akhir-akhir ini agak aneh, Jung.” Nara berkata sembari menikmati makanannya dengan tenang. “Apa karena pria tua yang mencarimu waktu itu?”

“Aku tidak tahu siapa dia, pasti hanya orang iseng.” jawab gadis itu dengan mulut penuh. “Setelah ini aku akan langsung kembali ke hanggar.”

“Apa?!” pekik Shinhae dan Nara. “Bukannya kau akan kembali besok?”

“Ada pekerjaan yang harus kulakukan.” gadis itu memasukan suapan terakhir bibimbap, mendorong mangkuknya, dan meneguk airnya. “Aku sudah selesai.” Ia berdiri, menuju kamarnya, dan keluar sembari mengenakan jaket.

“Oh ya,” ucap Yoojung ketika ia membuka pintu. “Sepertinya aku akan menginap di hanggar lagi. Sampai jumpa.”

☆☆☆

Kyuhyun menghempas tubuhnya di tempat tidur. Hatinya benar-benar sakit. Ia memijat-mijat kepalanya, merasa sangat frustasi. Kapan Yoojung akan menerimanya? Gadis itu selalu menolaknya. Sebenci itukah gadis itu pada dirinya? Jika memang itu yang Yoojung inginkan, baiklah. Ia akan kembali membenci gadis itu.

Pria itu duduk di tepi ranjang. Kemudian mengacak-acak rambutnya. Ia tidak bisa! Sungguh ia tidak bisa membenci gadis yang ia cintai! Kenapa rasanya sakit sekali?! Ia benar-benar tidak tahan lagi!

Ia mengambil ponselnya, menelepon Jiyong. Orang itu mengangkatnya pada dering kedua.

“Oh, hai.” Sapa Jiyong di sana. “Bagaimana kabarmu?”

“Bagaimana kau menanyakan kabarku sementara aku hancur seperti ini?!” teriak Kyuhyun di telepon. “Aku menyerah! Aku tidak bisa memenangkan hati gadis itu! Dia selalu menolakku! Aku tidak bisa!”

“Bersabarlah sedikit, Kyuhyun-ssi. Aku sudah melakukan sesuatu untukmu.”

“Apa?!”

“Kau akan tahu nanti. Aku yakin, setelah peranku ini, dia pasti mau mendengarmu.”

☆☆☆

Beberapa hari berlalu sejak terakhir ia bertemu Kyuhyun. Yoojung tidak pernah pulang ke flat. Selain karena sibuk, tentu saja ia tengah menghindari semua orang.

Dari menara pantau, Yoojung mengamati dengan saksama ketika pintu hanggar dibuka. Seorang marshaller tengah mengarahkan pesawat untuk masuk ke runway. Pria itu mengisyaratkan sesuatu pada gadis itu, dan ia mendengar pilot bicara untuk melapor.

“Uji coba Korean Air 589, kecepatan angin 160 knot. Siap untuk lepas landas.” ucapnya. “Take off!”

Terdengar suara mesin dinyalakan. Ia segera mengenakan penutup telinga. Pesawat mulai melaju dengan kecepatan tinggi. Perlahan, nose terangkat beberapa derajat. Ketika sudah melayang di udara, roda dimasukkan.

Gambar struktur mendetail pesawat mulai muncul di layar. Yoojung sedang bersama Joon Tae Joon – temannya di KAIST yang juga sudah menjadi AME Korean Air – untuk meneliti pesawat. Taejoon mengatakan sesuatu sambil menunjuk bagian tertentu.

“Lihat,” katanya. “Ada sedikit guncangan saat pesawat mencapai ketinggian 5.000 kaki.”

Yoojung mengangguk. “Tekanan udara dalam pesawat juga sepertinya agak bermasalah.” Ia menunjuk bagian ekor. “Lihat! Keretakan terdeteksi di bagian ekor.”

“Pesawat ini masih harus masuk hanggar. Belum bisa digunakan.”

Gadis itu berbicara di walkie talkie. “Menara pantau kepada pilot, berikan laporanmu, ganti.”

“Pilot kepada menara pantau, ada sedikit masalah dengan navigasi dan mode control panel.”

“Baiklah. Kembali ke lintasan. Bersiap untuk landing.”

Dari layar yang ditatapnya, ia melihat pesawat berbalik. Perlahan, pesawat turuh mendekati landasan, mengeluarkan roda, dan berjalan melintasi runway.

Flap bermasalah. Terjadi sentakan saat landing.”

Yoojung menarik sebuah mikrofon. “Marsheller,” perintahnya. “Arahkan pesawat uji coba itu langsung ke hanggar. Sekarang!”

Pesawat berbelok, menuju apron, dan masuk ke hanggar. Yoojung hendak turun dari menara pantau menuju hanggar ketika seseorang memasuki ruangan dan berbicara padanya.

“Nona Kwon, presdir ingin bicara kepadamu.”

“Apa ada masalah?”

“Entahlah, katanya ini penting. Biar aku yang membantu Taejoon menangani pesawat itu.”

“Baiklah.” Gadis itu segera turun dari menara, berlari menuju ruangan presdir. Sesampainya di sana, ia mengetuk pintu, mendengar seruan dari dalam, dan masuk ke ruangan.

“Apa ada masalah, sajangnim?”

“Bukan hal penting, sebenarnya.” Im Yang Ho mengacungkan beberapa dokumen. “Aku hanya ingin bertanya, apa kau mengajukan lamaran ke British Airways?”

Gadis itu tersentak, kemudian mengangguk. “Ya, sajangnim.”

“Karena itulah kau mengajukan surat pengunduran diri?” pria itu menunjuk bagian lain.

Yoojung mengangguk lagi. “Ya, sajangnim.”

“Jadi, apa kau tahu kalau diterima di sana dan diminta mengikuti tes masuk maskapai?”

“Apa?!” teriak Kwon Yoo Jung tanpa sadar, kemudian berdehem. “Maksudku.. benarkah?!”

“Tapi aku tidak akan membiarkanmu, nona Kwon.”

Yoojung menautkan alis. “Kenapa, sajangnim?”

“Aku tidak akan membiarkan gadis cerdas sepertimu dimiliki maskapai lain.” jawab Im Yang Ho tegas.

Gadis itu diam. Langkahnya untuk pergi kembali terhalang. Sedikit lagi ia menunaikan tujuan hidupnya. Tapi semua itu ternyata tidak mudah.

“Itu mimpiku, sajangnim.” tutur Yoojung akhirnya. “Cita-citaku adalah menjadi AME yang sukses dan berkarir di luar negeri. Aku ingin membanggakan kedua orangtua dan keluargaku. Aku mohon, jangan cegah aku. Masih banyak ahli mekanik Korean Air yang lebih hebat dariku.”

“Bahkan jika aku menaikkan gajimu dua kali lipat?”

Yoojung membelalakkan matanya. Sejujurnya ini menggiurkan. Gajinya akan lebih tinggi dari ahli mekanik lain. Namun, konsekuensinya, ia harus menetap di Korea. Aduh.. bagaimana ini..

“Kau tenang saja, nona Kwon.” pria itu tersenyum. “Aku akan mengurus semuanya.”

“Tapi sebelumnya, sajangnim..” Yoojung mengajukan sesuatu. “Bolehkah aku mengikuti ujian lisensi Inggris dan tes masuk British Airways? Hanya untuk menguji kemampuaku.”

Pria itu tampak berpikir. Yoojung menggigit bibir, menunggu keputusan bos-nya. Tetapi beberapa menit kemudian, ia mengangguk.

☆☆☆

Satu bulan berlalu sejak Kyuhyun mendatangi Yoojung. Dan sudah satu bulan juga ia tidak kembali ke Seoul karena ia berada di Incheon. Selama itu juga, ia tidak pernah mendapat kunjungan dari pamanya, Jiyong, ataupun Kyuhyun. Lagipula, ia ragu mereka rela datang ke bandara hanya untuk menemuinya. Dan hal itu membuatnya bahagia.

Seperti biasa, gadis itu tengah bekerja. Kali ini, ia yang akan menjadi pilot uji coba pesawat. Tidak ada pilot yang tersisa di maskapai karena mereka sedang mengantar para penumpang.

“Kau yakin akan melakukannya?” tanya Ji Rae Joon ketika Yoojung hendak masuk ke kokpit. “Bukannya aku ingin merendahkanmu, tapi..” ia menggantungkan kalimatnya, berharap Yoojung mengerti.

Gadis itu langsung mengeluarkan sesuatu seperti SIM dari saku jasnya. Itu adalah lisensi pilot miliknya. “Masih meragukanku?”

Raejoon melongo, lalu menggeleng. Yoojung segera menutup pintu kokpit.

Gadis itu duduk di kursi pilot. Tidak ada co-pilot yang menemaninya, karena ini hanya uji coba. Ia mengenakan sabuk pengaman, menekan beberapa tombol di depannya, menarik tuas-tuas kecil di atasnya. Setelah itu, ia mulai megendalikan joystick.

Pintu hanggar terbuka lebar. Yoojung mengarahkan pesawat sesuai arahan marshaller. Beberapa detik kemudian, ia sudah tiba di runway. “Boeing 747-400, kecepatan angin 120 knot, siap untuk lepas landas!” lapornya. Ia mulai menjalankan pesawat dengan kecepatan tinggi, memegang alat komunikasi di telinganya, dan berkata. “Takeoff!”

Pesawat mulai terangkat beberapa derajat. Ia menekan sebuah tombol untuk memasukkan roda pesawat, dan ia mulai melayang di udara. Alat komunikasi berbunyi di telinganya, meminta gadis itu untuk melapor.

“Ketinggian 14.000 kaki di atas permukaan laut, kecepatan pesawat 502 knot.” Yoojung memulai laporan sambil menekan beberapa tombol dan menatap ke depan. “Semua flight instrument bekerja dengan baik. Avtur terbakar merata, dan pengiriman minyak pelumas ke mesin juga sangat baik.”

“Aktifkan auto-pilot system!”

“Baik!” Yoojung menekan sebuah tombol, kemudian bersandar pada kursi. Ia memandang sebuah layar yang menunjukkan ketinggian pesawat, indikator bahan bakar, koordinat pesawat, posisi pesawat dalam garis horizon, kecepatan pesawat, kecepatan angin, pergerakan aileron dan rudder, informasi navigasi, serta posisi bandara menurut pesawat dengan saksama.

“Matikan sistem itu! Kemudikan pesawat dengan manual!” Kembali terdengar seruan dari alat komunikasinya. “Uji coba selesai. Runway sudah disiapkan untuk landing!”

“Siap!” Yoojung memutar joystick sehingga pesawat berputar arah. Ia kembali mengatur tuas-tuas kecil di depan dan atas kepalanya. Lintasan bandara sudah mulai terlihat. Ia menekan sebuah tombol, sehingga flap terbuka. Ketika pesawat mendekati lintasan, roda dikeluarkan. Kini pesawat sudah menyentuh lintasan. Saat pesawat melintasi runway, Yoojung menekan satu tombol lagi, membuat thrust reverser terbuka. Pesawat bergerak semakin pelan. Ia meggerakkan joystick ke kiri, dan pesawat masuk ke apron. Mesin dimatikan. Pesawat berhenti.

Gadis itu membuka pintu di belakang kursi pilot dan menuruni tangga keluar dari pesawat. Di apron, beberapa kru ternyata tengah menunggunya.

“Kau sangat luar biasa, nona Kwon!” puji Raejoon melakukan ­hi-five dengan gadis itu. Beberapa anggota maskapai juga melontarkan pujian padanya.

Yoojung tersenyum. “Dan kau sempat meragukan aku.”

Pada saat itu, seseorang menghampiri mereka. “Yoojung-ssi, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu.”

Yoojung memandang orang itu penuh tanya, lalu berjalan mengekor orang itu sembari sedikit merapikan jasnya. Mereka menuju kantor. Sesampainya di sana, orang itu menunjuk seseorang yang membelakanginya, dan mengangguk. Perlahan, gadis itu melangkah perlahan menghampiri orang itu.

“Anda mencari saya, Tuan?” ucap Yoojung sopan. Ketika orang itu berbalik, mata gadis itu membulat sempurna.

“Paman!” serunya senang. “Paman datang jauh-jauh dari Seoul hanya untuk menjengukku? Wah, paman sangat baik!”

Pria itu mundur selangkah ketika gadis itu hendak memeluknya. Jelas saja, Yoojung kaget.

“Kenapa, paman?” tanya Yoojung heran. “Kenapa paman tidak mau memelukku?”

“Kau tampak berbeda, Jung.” ucap pamannya memulai. “Tidak lagi seperti dulu.”

Gadis itu mencoba untuk tertawa, tapi terdengar hambar. “Aku ‘kan sudah dewasa, jadi tentu saja aku tidak lagi seperti dulu.”

“Maksudku sifatmu, Jung.” pamannya memandang suatu titik di depannya. Tidak berniat menatap sang keponakan.

“Maksud paman?”

Chunhee akhirnya menoleh menatap gadis itu. “Jiyong sudah menceritakan semuanya padaku. Tentang apa yang kau lakukan padanya, dan perlakuanmu pada orang-orang itu.”

Yoojung kaget setengah mati.

“Aku tidak pernah mengajarimu untuk menjadi sombong dan egois.” pamannya berkata dingin. “Aku memang tidak mau terlalu mencampuri urusanmu, tapi kalau sudah seperti ini aku harus bertindak. Keluarga Kwon tidak pernah diajarakan untuk membalas kejahatan dengan kejahatan, karena keluarga Kwon adalah kumpulan orang-orang baik, jujur, sederhana, dan sabar. Seluruh anggota keluarga Kwon tidak pernah dikembangkan dengan sikap sombong, egois, dan enggan memaafkan orang lain. Kau berhak untuk marah, Jung. Bahkan sangat berhak. Tapi kau tidak berhak membalas dendam pada mereka. Itu tidak baik, dan sama sekali bukan ciri keluarga Kwon.”

Gadis itu tidak bisa berkata apa-apa.

Pria itu melanjutkan penuturannya, dengan sarkastis. “Kau tidak akan kuanggap keluarga kalau kau bersikap seperti itu. Aku sangat kecewa padamu. Dan aku yakin, orangtuamu juga pasti kecewa denganmu.”

Tanpa mengindahkan Yoojung yang memanggilnya, Kwon Chun Hee langsung meninggalkan gadis itu.

 

-To Be Continued-

Advertisements

2 thoughts on “Born to be Somebody 3

  1. Nggak bisa nyalahain Yoojung juga sih,dia kaya gitu kan juga gara gara perlakuan Kyuhyun sama Teman-temannya…
    Semoga Yoo Jung mau maafin Kyuhyun trus baikan…
    Peace…

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s