Born to be Somebody 2

justin-born-to-be-somebody1

Too in love with this song, I try to create an ‘inspirated’ story about it.

1 | 2 | 3 | 4 (END)

***

KAMAR di apartemen itu tenang. Bunyi klakson dan mesin kendaraan tidak membuatnya menjadi berisik. Mungkin karena kamar itu letaknya di lantai sebelas. Jendelanya terbuka lebar, membiarkan cahaya matahari menerangi setiap inchi kamar. Tirainya bergerak pelan, seirama dengan angin sepoi yang juga menggerak-gerakkan rambut seorang pria yang tengah duduk termenung di balik sebuah meja.

Pria itu mengalihkan pandangan dari awan yang bergerak beriringan ke sebuah bingkai foto yang dipegangnya. Ia menghela napas. Entah untuk keberapa kalinya.

Dua tahun berlalu sejak Cho Kyu Hyun lulus dari Universitas Kyunghee. Kehidupannya pun ikut berubah. Ia telah berhasil mewujudkan mimpinya, menjadi bagian dari Super Junior. Ia telah menjadi seseorang dari bukan siapa-siapa. Ia sudah mempunyai penghasilan sendiri. Ia membuat orangtua dan kakaknya bangga. Dulu ia tidak mengenal dirinya sendiri, tapi sekarang dunia pun tahu siapa dia. Dunia bahkan menginginkan dirinya, namun sayangnya ia hanya menginginkan seseorang.

Dan seseorang itu adalah gadis yang sedang ia tatap di foto.

Entah sejak kapan, gadis itu mengubah semua persepsi Kyuhyun tentangnya. Dulu ia mengejeknya, sekarang ia memujanya. Dulu ia ingin megenyahkannya, sekarang ia ingin gadis itu muncul dihadapannya. Dulu ia tidak pernah menyadari keberadaannya, sekarang ia merindukannya.

Dulu ia membencinya, sekarang ia mencintainya.

Sudah empat tahun berlalu sejak kejadian di bandara. Saat ia menyatakan perasaannya. Saat ia baru tahu betapa menyesalnya dirinya. Saat ia baru menyadari gadis itu sangat berarti baginya. Namun sudah empat tahun juga, ia tidak mendapatkan satupun kabar tentangnya. Meskipun Kyuhyun tahu dimana keberadaannya, entah mengapa pria itu hanya.. menunggu.

Ia bisa saja menyusul gadis itu ke Berlin dan bilang bahwa ia menyesali semuanya. Hello.. apa sih yang tidak bisa dilakukan Kyuhyun Super Junior? Ia masih harus mempertimbangkan beberapa hal. Misalnya, apa yang terjadi jika seandainya gadis itu melihat dirinya? Bagaimana kalau gadis itu menolaknya? Tidak menginginkannya? Membencinya? Sudah memiliki orang lain?

Ia juga sudah melihat sendiri reaksi gadis itu ketika ia menyatakan perasaannya. Waktu itu, gadis itu berhenti mendadak. Hanya beberapa saat, sebelum akhirnya gadis itu kembali melangkah. Dan setelahnya, ia merasa bahagia, sekaligus kecewa. Tapi ia tetap memilih untuk menunggu. Entahlah. Seakan menunggu gadis itu adalah tindakan yang benar.

Pintu kamar berayun terbuka. Tetapi Kyuhyun tidak memberi tanda bahwa ia akan menyambut siapa yang membuka pintu. Ia tetap di tempatnya. Masih menatap foto yang didapatnya dengan ‘mengemis’ pada Jiyong. Ia mendengar deritan sebuah benda empuk. Sepertinya orang itu tengah melompat ke tempat tidur. Orang itu meletakkan kedua tangannya di belakang kepala, menoleh ke Kyuhyun.

“Yoojung lagi?” kata orang itu. “Entah sudah berapa kali dalam hari ini kau melamunkan hal yang sama.” lanjutnya.

Kyuhyun hanya diam.

“Apa kau tidak bisa melakukan apa-apa? Yang kulihat kau hanya menunggu dan berharap gadis itu akan memaafkanmu.”

Lagi-lagi Kyuhyun hanya diam. Kalau mau dihitung, sudah terlalu banyak perjuangan yang Kyuhyun lakukan untuk gadis itu, hanya saja ia tidak mau bicara. Pergi ke KAIST sebulan sekali hanya untuk memastikan apa Yoojung kembali ke sana. Merubah persepsi Jiyong pada dirinya yang ternyata berhasil. Mengekor laki-laki itu supaya ia tahu dimana mereka tinggal yang berakhir dengan sia-sia. Membujuk Kwon Ji Yong untuk memberikan nomor ponsel Yoojung yang sayangnya selalu ditolak. Sebagai gantinya, nomor ponsel Jiyong yang diberikan. Dan lain sebagainya.

“Mudah bagi hyung untuk mengatakannya..” akhirnya Kyuhyun bicara.

“Tentu saja, karena aku tidak mengenalnya,” sahut Lee Dong Hae santai. “Dan aku juga tidak tahu kenapa kau bisa mencintai gadis yang kau benci. Kau selalu menjawab kesalahpahaman, tapi yang seperti apa aku tidak tahu.”

Bersama dengan helaan napasnya, ponsel Kyuhyun berdering kencang.

“Dan sudah ke depalan puluh empat kalinya kau menghela napas dalam waktu setengah hari.”

Kyuhyun berdecak pelan. Saat ini ia sedang tidak ingin perasaan sentimentalnya diganggu siapapun. Sedari tadi, Donghae hanya menggerutu, tidak memberi sesuatu yang membantu untuk memperbaiki suasana hatinya. Motivasi, misalnya? Ia sangat membutuhkannya saat ini.

Ia melirik ponselnya, berusaha mengetahui siapa si penelepon. Ia menghela napas, untuk ke delapan puluh lima kalinya – menurut Donghae. Moodnya sedang tidak baik untuk menerima telepon dari Jiyong – si penelepon. Deringan itu pun menghilang. Kyuhyun tidak menjawab panggilan itu. Lima detik kemudian, sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya. Dari si penelepon.

Bisakah kita bertemu? Kuharap jadwalmu tidak padat.

Pria bermarga Cho itu segera membalas pesan itu.

Hyung,” panggil Kyuhyun. Donghae yang nyaris tertidur langsung membuka mata. “Kita tidak ada jadwal hari ini kan?”

“Hanya jumpa fans nanti malam.”

“Bagus.” desis Kyuhyun berdiri. Ia mengambil jaket, topi, masker, dan kacamata. Kemudian meninggalkan Donghae sendirian di kamar.

“Hei!” seru Donghae baru tersadar. “Kau mau kemana?!”

Namun Kyuhyun telah menghilang.

☆☆☆

“Aku minta maaf. Sepertinya aku tidak bisa membantu lagi.”

Kalimat pembuka yang dilontarkan Kwon Ji Yong membuat Kyuhyun termangu. Sejenak hanya terdengar aliran air di sungai Han. Kini pria itu tengah menemui Kwon Ji Yong, atau sekarang dunia mengenalnya sebagai G-Dragon. Orang itu, tidak lain tidak bukan, adalah kakak sepupu gadis yang ditunggunya. Sama seperti dirinya, orang itu juga sudah terkenal sekarang.

“Tapi.. kenapa begitu?” Kyuhyun berkata terbata-bata.

“Yeah, kau tahu kan kalau aku tidak suka denganmu setelah apa yang kau lakukan pada adikku dulu?” sahut personil Big Bang itu sinis. “Kalaupun aku memberitahumu sesuatu, apa yang harus kuberitahu? Kalau sejak tinggal di Jerman dia suka makan kue jahe? Kalau dia bertemu Angela Merkel meski tidak saling menyapa? Kalau dia terlambat masuk kelas dan harus menetap di perpustakaan selama tiga jam? Kalau dia mengunjungi museum teknologi di München? Apa semua itu penting bagimu?!”

Kyuhyun ingin menjawab, tapi Jiyong tetap melanjutkan penuturannya.

“Apa yang harus kuberitahu padamu?!” ulang laki-laki itu terdengar frustasi. Ia menghela napas. “Aku benar-benar merasa aku adalah manusia yang paling tidak berguna! Gadis itu selalu memberikan informasi yang tidak penting kepadaku, atau kepada teman-temannya! Dia selalu mengalihkan pembicaraan setiap kali aku bertanya kapan dia pulang, atau kapan dia lulus! Padahal dia berjanji padaku akan pulang ke Korea dua tahun sekali, tapi apa?! Semua itu omong kosong! Bualan adikku!” Jiyong memandang Kyuhyun. “Jadi apa yang harus kuberitahu padamu?! Spekulasiku tentang dia yang tidak mau pulang?!”

Napas Kyuhyun tercekat.

“Aku percaya padamu, Kyuhyun-ssi,” tutur Jiyong melunak. “Aku bisa merasakan penyesalanmu, kebodohanmu. Aku juga bisa merasakan betapa tulusnya cintamu pada adikku. Aku sangat menghargai perjuanganmu selama ini untuk merebut simpatiku. Tapi apa yang kulakukan padamu sepertinya tidak ada gunanya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa untukmu..”

“Karena itu,” Jiyong mengeluarkan sesuatu dari jaketnya, memberikannya pada Kyuhyun. “Datanglah ke rumah kami untuk minum teh.” ujarnya. Ia berjalan menjauh meninggalkan pria itu.

Baru setelah punggung laki-laki hilang ditelan kerumunan manusia, Kyuhyun baru menyadari apa yang pria itu berikan padanya.

☆☆☆

Park Sae Hee duduk dengan gelisah di bangkunya. Matanya menyusuri deretan para mahasiswa Technische Universität Berlin berseragam toga, berusaha mencari seorang gadis di antara mereka, namun tidak kunjung ditemukannya gadis itu. Oh ayolah, sebentar lagi giliran gadis itu menerima ijazah. Kenapa gadis itu tidak ada?!

Baru ketika ia berbalik, ia akhirnya melihat gadis itu. Dengan menggunakan skateboard, gadis itu meluncur dengan terburu-buru sembari mengenakan seragam toganya, menuju barisan mahasiswa itu. Ia menginjak sisi belakang papan luncur dengan kaki kirinya, dan berhenti. Ia melangkah menuju podium, menerima ijazah dari rektor, menatap sebentar ke arah kamera, dan tersenyum lebar ke arah Saehee yang menatapnya dengan sebal.

Ya, kenapa kau terlambat?!” gerutu Saehee ketika Kwon Yoo Jung turun dari podium. Mereka berjalan menuju tempat parkir. Kali ini gadis itu tidak mengendarai skateboard-nya.

Pardon,” Yoojung tersenyum melepas topi toganya, mengeluarkan sesuatu dari saku, memberikan pada Saehee. “Ich müsse meine Lizenz nehmen.”

Saehee mengamati benda yang tampak seperti SIM itu. Walaupun sedikit mengerti bahasa Jerman, ia menjawab gadis itu dengan bahasa Korea. “Jadi, selama berkuliah, kau juga mengikuti ujian untuk mendapatkan lisensi AME?”

Gadis itu menggeleng. “Nicht nur das.

Saehee memandang Yoojung ingin tahu. “Kau juga sudah mendapat lisensi dasar?”

Das stimmt, Frau Park.” Masih dengan bahasa Jerman yang fasih, Yoojung menjawab. “Möchten Sie die Lizenz sehen?”

“Kau sudah lupa bahasa Korea ya, sampai kau harus menjawabku dengan bahasa Jerman?”

Yoojung tertawa, kemudian menunjukkan lisensinya yang lain.

“Tapi.. bagaimana bisa?”

“Kau pasti berpikir aku kuliah selama empat tahun hanya untuk mendapat gelar Magister. Itu keterlaluan, kau tahu?” Yoojung mulai menjelaskan. Akhirnya ia berbahasa Korea. “Aku mengikuti ujian untuk mendapat lisensi dasar selama dua tahun pertamaku di Jerman. Tahun selanjutnya, sambil kuliah, aku mengikuti ujian untuk mendapat lisensi AME.” ia menatap ijazahnya penuh haru. “Dan sekarang, aku sudah lulus dari TU Berlin. Ah, senangnya..”

Saehee mengernyit. “Jadi ini alasanmu selalu menjawabku dengan bahasa Jerman?”

Yoojung tersenyum meminta maaf.

“Tapi tak apa, kau tetap hebat di mataku! Kau luar biasa, nona Kwon!” Saehee mengacak-acak rambut dan meninju lengan Yoojung.

Gadis itu tersenyum lebar. Kemudian menghela napas lega, menatap kerumunan mahasiswa lainnya sambil berujar pelan. “Kira-kira, dimana ya aku harus melamar..” lanjutnya menerawang. “Lufthansa? Germanwings?”

“Apa maksudmu?” tanya Saehee bingung.

“Langkah selanjutnya untuk cita-citaku,” ujar Yoojung yakin. “Aku harus menjadi AME di salah satu maskapai Jerman.”

“Tidak, nona Kwon.” Mereka telah sampai di depan mobil. “Kau harus kembali ke Korea, secepatnya!”

Gadis itu mengurungkan niat untuk membuka pintu mobil. “Tapi kenapa?”

“Sekolahmu dibiayai pemerintah Korea, dan jelas kau harus kembali setelah kau lulus!”

Yoojung mengerutkan dahi, masih mencoba mencerna informasi yang sederhana ini.

“Bahkan sebelum kau lulus, kau sudah diminta untuk bekerja di Korean Air. Jadi kau kira buat apa aku datang jauh-jauh selain untuk menghadiri upacara kelulusanmu?”

“Menjemput.. ku?”

Saehee mengangguk. Ia membuka pintu pengemudi dan masuk. “Ayo. Kita harus berkemas. Pesawat kita jam 5 pagi besok.”

“Apa?!”

☆☆☆

“Payah! Seharusnya aku tidak menerima beasiswa itu!”

“Tidak ada gunanya kau menyesali hal ini setelah kau lulus.”

Yoojung menggerutu sebal. Kini ia dan Saehee sudah berada di pesawat Lufthansa dalam perjalanan menuju London, Inggris. Mereka akan transit di Bandara Internasional Heathrow untuk berganti pesawat, setelah itu akan melanjutkan perjalanan panjang ke tujuan selanjutnya. Bandara Internasional Incheon. Jadi ia tengah menghabiskan dua jam perjalanan dengan membaca salah satu majalah Jerman.

Transit di bandara Heathrow berlangsung satu jam empat puluh lima menit. Setelah itu, para penumpang tujuan Incheon mulai menghabiskan lima belas jam perjalanan mereka dengan berbagai hal. Mulai dari membaca majalah, mendengar lagu, memperhatikan pramugari, menonton televisi pesawat, bercengkerama, makan, tidur, bola-balik toilet, dan.. melamun.

Hal itulah yang dilakukan Yoojung saat ini.

Gadis itu tengah menatap kosong langit pagi dari jendela pesawat. Di sampingnya, sang dosen sudah tertidur dengan mengenakan headphone dan penutup mata. Sungguh, ia tidak ingin pulang! Ia benci Korea dan seluruh kehidupan yang ia alami di tanah kelahirannya! Mengingat Korea hanya akan membuka luka lamanya kembali. Orangtua yang meninggal di depan mata, penderitaan saat masih sekolah, dan Cho Kyu Hyun.

Ia menghela napas. Demi apapun, ia sangat benci pria itu. Cho Kyu Hyun adalah orang yang menghancurkan kehidupan semasa sekolah. Orang yang membuatnya hampir tak mengenal seorang teman. Orang yang membencinya tanpa alasan yang jelas.

Padahal ia berharap bisa melupakan semua itu seandainya ia menetap di Jerman.

Sayangnya – atau sialnya – saat ini, semua yang dilakukan pria itu dulu seakan diputar ulang bak film di depan Yoojung. Termasuk kejadian di bandara empat tahun lalu.

Dua kalimat itu kembali terngiang-ngiang di telinganya. Apa maksud pria itu sebenarnya? Menyatakan perasaan pada dirinya, yang sudah jelas dibenci? Mengapa sikap pria itu melunak? Apa itu yang dilakukan para bullyer setelah mengetahui korban bullying mereka sukses? Apa pria itu mau memanfaatkannya?

Tanpa sadar, Yoojung menggeleng. Ia bukan lagi Kwon Yoo Jung yang dulu. Ia tidak lemah, apalagi takut. Tidak akan ia biarkan pria itu menindasnya lagi.

Gadis itu mengatur posisi kursi, dan bersandar mencari posisi yang nyaman. Ia mengambil penutup mata dan memakainya. Beberapa menit kemudian, ia sudah terlelap bersama satu impian yang ingin ia kemukakan.

Asalkan aku tidak bertemu dia, semuanya pasti akan baik-baik saja.

☆☆☆

Rumah itu masih sama sejak terakhir kali ia meninggalkannya. Kotak pos, pagar, rangkaian simbol nada yang membentuk hangul Kwon, pintu, dinding, interkom, dan penyiram bunga otomatisnya. Tidak ada yang berubah dari semua itu.

Kecuali, tentu saja, orang yang akan ditemuinya nanti pasti sudah bertambah usia.

Gadis itu menekan bel rumah, menghindar dari interkom. Terdengar seruan dari dalam, menyuruhnya untuk menunggu. Empat detik kemudian, pintu terbuka. Menampakkan sesosok pria dengan wajah berkeriput, berkacamata, rambut yang mulai memutih, namun masih tampak ceria.

Guten Abend, Onkel!” sapa Yoojung mengangkat satu tangannya riang.

Butuh waktu hampir sepuluh detik untuk Kwon Chun Hee menyadari bahwa di depannya ini adalah anak perempuan adiknya.

“Jung!” ia langsung menarik gadis itu ke dalam pelukannya. “Kau nyaris membunuhku, kau tahu?!” ia melepas pelukan, menatap gadis itu dari ujung kaki sampai ujung rambut. Ia menangkupkan kedua tangan di wajah gadis itu, seolah tengah memastikan apakah gadis ini nyata atau hanya mitos. “Oh Tuhan, ini benar-benar kau! Ayo masuk! Kau pasti capek!”

Yoojung berjalan di belakang pamannya dengan menyeret koper besar miliknya. Ia menuju kamar, menaruh semua barang-barang. Gadis itu menuju ke ruang makan, tempat sang paman sudah menunggunya.

Wo ist Jiyong?” tanya gadis itu menuangkan susu dan sereal ke dalam mangkuk makan malamnya.

“Apa wajahku kelihatan mengerti apa yang kau katakan?” pria itu menunjuk wajahnya. “Gunakan bahasa Korea!”

“Baiklah,” gadis itu duduk di kursi, berhadapan dengan pamannya. “Dimana Jiyong oppa?”

“Apa menu makan malammu di Jerman selama empat tahun adalah sereal?” ejek pamannya tanpa menjawab pertanyaan Yoojung.

“Jawab saja pertanyaanku, Paman.. Dimana Jiyong oppa?”

“Bahasa Koreamu jelek sekali.”

Gadis itu menyeringai. Ia mengerti kenapa sang paman berkata seperti itu. Begitu juga dengan sang dosen. Tidak, lebih tepatnya, dialek Yoojung yang jelek. Gadis itu berbahasa Korea dengan aksen Jerman yang kental, sehingga cara bicaranya terdengar aneh.

“Kau tidak punya TV selama tinggal di Jerman?” sindir pamannya lagi yang dibalas tatapan kesal Yoojung. “Anak itu sudah terkenal sekarang. Sama sepertimu, dia tidak akan memberitahuku kalau dia mau pulang.”

Bahkan kebiasaan sang paman yang selalu mengejeknya pun tidak berubah.

“Sekarang, jelaskan padaku kenapa kau pulang.” tuntut sang paman mulai menikmati makan malamnya.

“Aku baru lulus kemarin,” Yoojung mulai menjelaskan. “Dosen KAIST-ku yang menjadi waliku. Paman tahu kan? Yang mengantarku dulu?” sang paman mengangguk. Gadis itu melanjutkan. “Awalnya kukira dia datang hanya untuk menghadiri acara kelulusanku. Tapi ternyata dia menjemputku untuk kembali ke Korea.”

“Kenapa begitu?”

“Aku mendapat pekerjaan di sini.” Yoojung mengunyah makanannya dengan berisik. “Paman tahu dengan pasti apa yang sebenarnya aku mau kan?”

“Ya, bahkan aku tibak bisa berbuat apa-apa.”

“Tapi.. karena aku sudah mendapat pekerjaan di sini dan direkrut menjadi AME Korean Air, jadi lebih baik aku pulang saja.”

“AME?”

Aircraft Maintenance Engineer.

Menyadari raut wajah bingung pria di depannya, Yoojung tersenyum. “Singkatnya, aku ahli mekanik maskapai itu. Tugasku memeriksa kelayakan pesawat sebelum dan sesudah terbang.”

Selanjutnya,Yoojung mulai bercerita lebih banyak tentang kehidupannya di Jerman. Saat ia mengalami jetlag pada awal kehidupannya di negara kelahiran Einstein itu, hari pertama kuliah di TU Berlin, tur singkat keliling Jerman, teman-teman luar negerinya, kunjungan ke beberapa museun teknologi, dan pertemuan dengan Angela Merkel – walaupun gadis itu hanya melihat si perdana menteri dari kejauhan. Ia menunjukkan foto-fotonya selama berada di Jerman. Tak lupa ia menunjukkan ijazah dan semua lisensi yang telah didapatnya.

Cerita gadis itu diinteruspi oleh sebuah teriakan, dan suara pintu terbuka. “AYAH! AKU PULANG!”

Yoojung tersentak. Sang paman tersenyum. “Aku benar kan?”

Meskipun sudah tahu siapa tamu yang datang, gadis itu tetap menoleh ke pintu. Ia melihat seorang pria dengan penampilan yang sangat berbeda dari terakhir kali ia melihatnya. Pria itu berjalan sambil menggerutu – lebih karena kelelahan. Yoojung melanjutkan makan malamnya.

Ketika Jiyong masuk ke ruang makan, ia kaget ketika melihat seorang gadis yang membelakanginya. Bahkan hanya melihat punggung, ia langsung mengenali orang itu.

“Jung..?” gumamnya ragu.

Yoojung berbalik. “Guten Abend, Bruder!”

Pria itu termangu lebih dahulu, mengernyit, mengerjap, barulah ia berteriak kencang. “Oh, anak nakal!” Jiyong langsung memeluk gadis itu. Ia tidak peduli dengan Yoojung yang berteriak karena sesak napas dan kesakitan. Sampai gadis itu mulai kewalahan, barulah pria itu melepas pelukan. Ia menjitak keras kepala adiknya. “Kenapa kau pulang mendadak hah?!”

Kwon Chun Hee-lah yang menggantikan Yoojung untuk menjelaskan. Gadis itu makan dengan bersungut-sungut. Yoojung juga memamerkan ijazah dan semua lisensinya pada sang kakak sepupu.

“Jadi, kapan kau mulai bekerja?”

“Entahlah,” gadis itu merenggangkan badan, melanjutkan sarapan-malam-nya. “Pertama-tama, aku harus istirahat dulu dan menyesuaikan diri dengan waktu Korea. Sepertinya aku mengalami jetlag lagi.”

“Bahasa Korea mu aneh.” timpal Jiyong datar, karena itu untuk pertama kalinya ia mendengar Yoojung berbahasa Korea.

“Dan aku juga harus menghilangkan aksen Jerman dalam bahasa Korea ku.” gadis itu melirik sebal sang kakak. Kenapa semua orang harus menyinggung cara bicaranya? Jiyong hanya menyeringai tanpa dosa. “Setelah itu, barulah aku mengurus lamaran ke Korean Air.”

“Lamaran?” sang paman kembali bertanya. “Bukannya kau langsung diterima?”

“Justru itu aku mengajukan lamaran,” tutur Yoojung. “Aku tetap harus mengikuti prosedur yang ada. Mengajukan lamaran, tes tertulis dan wawancara kalau diterima. Itu akan menjaga kualitasku sebagai seorang ahli mekanik. Apa kata orang kalau aku bekerja di maskapai tanpa mengikuti prosedur?”

Pasangan bapak dan anak Kwon itu mengangguk-angguk. Di depan mereka saat ini, bukan lagi gadis kecil Kwon Yoo Jung yang dulu dipandang rendah semua orang. Gadis kecil itu kini telah tumbuh menjadi wanita dewasa yang memiliki tekad dan prinsip. Gadis kecil yang telah membuktikan kepada semua keluarganya bahwa ia bisa sukses tanpa harus menyanyi. Demi apapun, Chunhee dan Jiyong amat bangga pada gadis kecil ini. Meskipun hubungan mereka hanya sebatas paman dan kakak sepupu, mereka terlampau menyayangi gadis itu.

Yoojung mendorong mangkuk serealnya yang sudah kosong. “Aku sudah selesai,” katanya mengumumkan. Ia berdiri, meninggalkan ruang makan seraya berpamitan. “Selamat malam, paman. Selamat malam oppa. Aku capek sekali.”

“Tunggu sebentar, insinyur.” cegat Jiyong berdiri di depan gadis itu. “Sebelum kau melakukan itu, ada yang harus kau jelaskan padaku.”

☆☆☆

“Kenapa kau tidak mengabari kami kalau kau akan pulang?”

Yoojung menghela napas. Jengah. Kini Jiyong telah berada di kamarnya, duduk di balik meja belajar. Sementara gadis itu duduk di ranjang. Sang kakak tidak akan membiarkannya tertidur, karena ia menuntut penjelasan.

Sebenarnya, karena alasan inilah Yoojung ingin cepat-cepat tidur. Maka dari itu ia malas meladeni Jiyong. Ia sudah tahu pembicaraan ini akan mengarah ke mana.

Namun pada akhirnya, ia menjawab. “Karena kepulanganku sangat mendadak.” Yoojung mulai berimprovisasi. “Bayangkan saja, paginya, aku harus mengambil semua lisensiku. Siangnya, aku menerima ijazah. Setelah itu kami sibuk berkemas karena pagi-pagi buta kami berangkat. Semua itu sangat mendadak. Aku tidak terpikir untuk membuka ponsel. Kami bahkan check-in di bandara lima belas menit sebelum pesawat take-off.”

“Dan kenapa kau selalu mengalihkan pembicaraan setiap kali aku bertanya tentang waktu kelulusan dan kepulanganmu?”

Yoojung menggigit bibir. Perasaannya mulai tidak enak. Ia tetap menjawab. “Karena aku tidak tahu persisnya kapan aku lulus. Kupikir karena ujian mendapat lisensi dan pelatihan AME, aku akan lulus sedikit terlambat. Tapi ternyata tidak.”

“Dan kenapa kau berniat melamar di maskapai Jerman? Apa karena kau tidak mau pulang?!”

O-ow. Dugaan Yoojung tidak sedikitpun meleset.

“Aku mengenalmu dengan baik meskipun kau hanya adik sepupuku, Jung. Katakan saja alasanmu. Aku tahu semuanya. Kau tidak mau pulang karena kau sangat benci Korea. Benar kan?”

Perkataan itu terdengar halus, tapi menurut Yoojung terdengar begitu mengintimidasi.

“Mau kulanjutkan?” serang Jiyong. “Karena kau benci kehidupanmu di negara ini? Karena kau tidak mau bertemu teman-teman brengsekmu? Karena Kyuhyun?”

Check mate!

“Kenapa kau diam? Apa semuanya benar? Apa – “

“Ya, oppa!” teriak Yoojung memotong pembicaraan. Gadis itu terlihat lelah. “Semuanya benar! Di saat aku mengharapkan kehidupan yang lebih baik di negara orang, aku disuruh kembali ke tempat semua penderitaanku berawal! Aku tidak mau pulang! Bahkan aku hendak meninggalkan kewarganegaraan Korea-ku dan menjadi warga negara Jerman! Tapi apa?! Aku malah harus kembali ke tempat busuk ini! Membiarkan semua kenangan buruk itu menghantuiku! Aku tidak mau bertemu orang-orang yang kubenci di sini! Terutama pria brengsek itu!”

Jiyong tertegun. Ia tahu siapa ‘pria brengsek’ yang dibicarakan sang adik.

“Demi apapun, aku sangat membencinya..” suara Yoojung melunak. Ia memejamkan mata, membuat setitik air matanya jatuh, kemudian menatap kakaknya. “Aku beruntung dia tidak menghancurkan cita-cita dan impianku. Tapi kenapa dia harus menyatakan perasaannya padaku? Kenapa dia harus bilang kalau dia mencintaiku? Apa maksud dia meminta maaf padaku?! Melunakkan sikapnya di depanku?! Kalau memang dia merasa bersalah, kenapa bukan dari dulu dia meminta maaf?! Apa dia sadar, dengan sikapnya seperti itu, membuatku semakin benci padanya?!”

Kini Jiyong yang tidak bisa berkata-kata.

“Aku capek, oppa..” lirih Yoojung. Ia merebahkan diri di ranjang, menyelimuti dirinya sampai ke dagu. “Kalau oppa keluar, tolong matikan lampunya.”

G-Dragon mendekati ranjang. Mendapati bahwa Yoojung sudah tertidur. Ia duduk di tepi ranjang, memandang Yoojung dalam diam sembari mengusap kepala gadis itu. Apa dia benar-benar lelah, bahkan dalam hitungan detik ia sudah nyenyak? Yah, jelas ia mengerti. Bahkan terlalu mengerti. Yoojung capek lahir batin. Gadis itu tentu sangat kelelahan karena harus menempuh perjalanan semendadak dan selama itu. Ia sudah tahu sang adik akan memperhitungkan semua apa yang terjadi jika ia tiba di Korea. Ia bahkan sudah memperkirakan Yoojung akan mengatakan hal tadi. Ia hanya ingin memastikan.

Jadi inikah yang harus ia beritahu kepada Kyuhyun? Bahwa sang adik membencinya? Ia kemudian merutuki kebodohannya sendiri. Ia terlalu beroptimis bahwa Yoojung akan luluh dan memaafkan pria itu. Saking merasa tidak bergunanya, ia sudah memberikan alamat rumah ini pada Kyuhyun.

Ia menghela napas. Baiklah, sudah diputuskan. Ia akan membiarkan Kyuhyun sendiri menyelesaikan masalahnya.

Karena Kwon Ji Yong resmi keluar dari permainan.

☆☆☆

Keesokan harinya Yoojung menghabiskan waktu dengan bermalas-malasan di rumah. Itu suatu keuntungan baginya. Karena Jiyong belum ingin kembali ke dorm, dan memutuskan untuk menemani sang ayah. Jadi ia benar-benar diperlakukan seperti putri raja. Setiap kali Jiyong protes, Yoojung akan beralasan kalau dia harus menghilangkan jetlag-nya, walaupun itu tidak sepenuhnya benar.

Tapi, lama kelamaan, ia merasa bosan. Pada hari berikutnya, selama seharian penuh, ia habiskan dengan membuat surat lamaran. Tidak ada yang berani mengganggu Yoojung saat gadis itu berhadapan dengan laptopnya, berkutat memikirkan kata-kata yang berkualitas. Untungnya, pada keesokan hari, surat lamaran itu selesai dan sudah dikirmkan.

Hari-hari berikutnya, sembari menunggu hasil – diterima atau ditolak – Yoojung banyak menghabiskan waktu dengan membaca buku-buku penerbangan dan iseng merakit sesuatu. Saking tekunnya, Yoojung sering kali ditegur pamannya.

“Kau tidak perlu belajar sekeras itu.” komentar pamannya suatu pagi, ketika gadis itu keluar dari kamar. “Lagipula aku yakin kau akan diterima. Hei, mereka tidak akan menyia-nyiakan orang sepertimu, Jung. Jadi, bersantailah.”

“Bagaimana aku bisa bersantai kalau aku sudah melupakan semua yang sudah kupelajari?” sahut Yoojung menutup pintu di belakangnya. Matanya terfokus pada buku yang dipegang. Mechanic of Flight.

“Kau bahkan mengubah kamarmu seperti hanggar.” sambung Jiyong.

“Aku sedang belajar tentang kombinasi mesin pesawat, makanya kamarku jadi begitu.”

Yang dimaksud Jiyong dengan ‘kamar Yoojung tampak seperti hanggar’ sebenarnya lebih mengerikan dari itu. Seluruh dinding kamarnya ditempeli gambar bagian-bagian berbagai jenis pesawat komersial dan helikopter. Tak lupa gambar terperinci mesin-mesin dan kerangkanya. Beberapa gambar dilingkari, ditunjuk dengan panah kesana kemari. Rak buku gadis itu berantakan. Lantai kamar dipenuhi kertas dengan perhitungan rumit di atasnya. Buku-buku penerbangan dibiarkan terbuka di meja, beberapa bagian ditandai dengan warna tertentu. Dan sudah hampir seminggu Yoojung tidak merapikan semuanya.

Bagi Kwon Chun Hee dan Kwon Ji Yong, setidaknya selama satu minggu terakhir, mereka merasa seakan tinggal bersama B. J. Habibie versi perempuan – dan tentunya lebih muda – dibanding seorang gadis yang tengah belajar untuk diterima di sebuah maskapai penerbangan.

Bahkan sekarang, dengan memegang bukunya, Yoojung menuju ruang makan, belajar sendirian. Membiarkan sang paman dan kakak sepupunya menonton televisi di ruang tengah.

“Hei, apa ini?” tiba-tiba Yoojung mendengar Jiyong berseru. “Mereka menayangkan Tom and Jerry lagi?! Wah, sudah lama sekali!”

“Apa?!” Yoojung segera berlari ke ruamg tengah, menanggalkan bukunya di meja makan. Berpindah haluan dari Mechanic of Flight ke Tom and Jerry.

Chunhee dan Jiyong tersenyum. Masih seperti dulu, Yoojung memang gampang dipengaruhi.

Pada saat itu, terdengar semacam bunyi alarm menggema di rumah. Pertanda ada surat di kotak pos. Tentu saja, Yoojung yang membuatnya dua hari lalu – untuk mengisi waktu luang, dan untuk memastikan apakah surat lamarannya sudah datang atau belum. Ia meletakkan sebuah sensor di dalam kotak pos yang terhubung dengan sebuah speaker kecil. Jadi ketika si pak pos memasukkan surat, surat itu akan mengenai sensor, dan berbunyi nyaring. Fungsinya hampir mirip bel rumah. Namun bedanya, bel rumah dan speaker kecil dihubungkan dengan kabel, sedangkan sensor kotak pos itu dihubungkan ke speaker-nya dengan teknologi nirkabel yang canggih.

“Biar aku yang ambil.” kata Jiyong berdiri, berjalan keluar rumah. Tiga puluh detik kemudian, laki-laki itu dengan surat di tangannya. “Untukmu,” ia memberikannya pada Yoojung.

Gadis itu membuka surat, membacanya, dan tersenyum lebar.

☆☆☆

“Kalian tahu? Hari ini si AME berlisensi Jerman itu akan bekerja di sini!”

Shin So Hee yang sedang membuat sketsa kerangka logam pesawat terdiam sejenak. Sejak adanya rumor itu, anggota maskapai ini heboh sekali dan sangat tidak sabar untuk melihat si ahli mekanik. Apa ia sehebat itu sampai harus disanjung sedemikiannya? Ayolah, masih banyak ahli mekanik yang – ia yakin – lebih cerdas dari orang itu.

Kini, semua orang telah berkumpul di hanggar untuk menyambut si AME Jerman. Ia menggerutu sebal. Apa penyambutan orang itu harus seberlebihan ini? Yang benar saja!

Jadi gadis itu memilih untuk berdiri di antara kerumunan orang, sama sekali tidak berniat untuk tahu siapa anggota baru perusahaan ini. Ia mendengar Im Yang Ho – presiden Korean Air – berbicara beberapa patah kata yang cukup membosankan baginya.

“Kurasa kalian semua sudah tahu bahwa kita memiliki seorang anggota baru di maskapai ini.” ujar pria itu setelah sekapur sirih yang cukup panjang. “Sebenarnya, ia sudah direkrut dari tahun lalu. Tetapi karena ia harus menyelesaikan pendidikannya di Jerman, maka dari itulah ia baru bergabung bersama kita hari ini.”

Semua orang memandang si AME dengan antusias, kecuali Sohee.

“Baiklah,” pria itu berdehem. “perkenalkan, ini Kwon Yoo Jung, AME baru maskapai kita.”

Mendengar nama itu, wajah Sohee langsung terangkat. Ia menyelinap kerumunan orang-orang, dan sampai di barisan terdepan. Ia melihat seorang gadis di samping presdir mereka, yang tadi diperkenalkan sebagai Kwon Yoo Jung. Gadis itu tengah membungkuk, memandang semua orang sambil tersenyum.

Ia mengernyit. Apa dia Yoojung yang.. itu?

Sungguh, gadis itu tampak berbeda!

“Baiklah,” ucap Im Yang Ho menatap Yoojung. “Sekarang aku ingin mengujimu dengan beberapa pesawat yang sedang dalam pemeriksaan. Kau akan memberitahuku apa yang rusak dari pesawat itu. Kau tahu? Sebagai basa-basi.”

Semua orang kembali ke posisinya masing-masing, termasuk Sohee. Yoojung mengangguk, mengekor si presdir.

Pria itu menunjuk salah satu pesawat yang sedang dipreteli. “Silahkan, kau bisa mengecek kerusakannya.”

Dengan cekatan, Yoojung mengamati gambar detail pesawat Airbus A380, lalu mengamati pesawat aslinya. Ia menghampiri dan menjelajah seluruh pesawat, berjalan ke badan pesawat sebelah kiri, memeriksa bagian dalam tempat mesin berada. Ia menempatkan semacam lembar film sinar X pada permukaan mesin, dan menempatkan sebuah tabung logam yang panjang di dalam rongga sepanjang mesin itu. Lalu, ia mengambil isotop iridium 192 dan memasukannya ke dalam tabung untuk menghasilkan bayangan pada film. Setelah ia mendapat bayangan film yang sudah dicuci, ia tersenyum.

Ia memperlihatkan film itu kepada si presdir. “Lihat?” ia menunjuk salah satu titik. “Ini adalah bagian yang terkikis di mesin turbofan. Ini disebabkan oleh udara yang dipadatkan dan disalurkan ke ruang pembakaran tidak mencukupi, sehingga terlalu banyak udara yang kepadatannya rendah disalurkan ke sekeliling bagian luar ruang pembakaran. Akibatnya, udara tidak bisa mendinginkan mesin dengan optimal.”

Semua orang terperangah. Belum ada seorang ahli mekanik yang bisa secepat itu dalam menyingkap kerusakan mesin. Bahkan Shin So Hee mau tidak mau kagum padanya.

“Dan juga,” Yoojung menghampiri sayap pesawat, menunjuk salah satu bagian. “Pergerakan spoiler ini sepertinya agak bermasalah. Kalian mengerti maksudku? Seperti pintu yang engselnya berkarat? Pasti ada guncangan yang cukup besar ketika pesawat mendarat karena spoiler ini bermasalah sehingga tidak bisa mengurangi gaya angkat secara maksimal. Jadi, sepertinya spoiler ini harus diperbaiki.”

Gadis itu melangkah ke bagian depan pesawat, melanjutkan penjelasan. “Saat aku memeriksa kokpit, aku menemukan bahwa altimeter dan magnetic compass-nya tidak layak. Jadi, kupikir, dua flight instrumen itu harus diganti.”

Riuh tepuk tangan terdengar setelah Yoojung mengemukakan analisanya.

“Bagus, bagus sekali.” puji Im Yang Ho. “Kurasa aku cukup mengujimu sekali. Kau bisa mulai bekerja sekarang.”

“Terima kasih.” Yoojung membungkuk hormat. Ia menuju badan kiri pesawat, mengamati beberapa orang tengah memperbaiki mesinnya. “Boleh aku tangani kokpitnya?”

“Tentu saja!” salah satu dari mereka mempersilahkan. Kemuadian menjabat tangan gadis itu. “Ji Rae Joon. Senang bisa bekerja sama denganmu.”

Yoojung tersenyum. “Aku juga senang bisa bekerja di sini.” Ia membalas uluran tangan itu. “Tapi bagaimana aku mendapatkan altimeter dan magnetic compass yang baru? Bukannya itu harus diganti?”

“Kau lihat seorang gadis di sana?” Raejoon menunjuk seseorang yang tengah berkutat di meja kerja di tepi hanggar. “Dia tahu kau harus pergi ke siapa untuk menangani kokpit.”

Yoojung menurut. Ia menghampiri gadis itu, menyapanya dengan ramah. “Permisi,” ucapnya. “Apa kau tahu dimana aku bisa bertemu seseorang yang menangani kokpit?”

Gadis itu berbalik. Yoojung sempat tersentak, namun dengan cepat bersikap normal.

“Tidak salah lagi.” kata gadis itu, Sohee, mengabaikan permintaan Yoojung. “Ternyata benar kau.”

“Dimana aku bisa bertemu seseorang yang mengurus kokpit?” tanya gadis itu sekali lagi, dengan nada yang tidak bersahabat.

“Kau benar-benar berbeda.” gumam Sohee lagi.

“Aku akan bertanya pada orang lain kalau kau tidak menjawab.” Yoojung hendak pergi, namun ia dicegat oleh Sohee.

“Aku minta maaf.” Sohee menunduk, lalu mengangkat wajah. “Aku tahu kau sangat benci padaku, tapi sekarang kita satu tim. Kau rekan kerjaku. Jadi,” ia mengulurkan tangan, hendak berjabat tangan. “Maukah kau bekerja sama denganku?”

Yoojung tidak menyambut uluran tangan itu. Ia memilih untuk membalas ucapan Sohee. “Kupikir kau lebih ingin terkenal sebagai seorang penyanyi dibanding menjadi rekan kerjaku.”

Mata Sohee membulat. Sindiran itu benar-benar tepat sasaran.

Yoojung menyeringai. Ia langsung meninggalkan gadis itu.

“Aku gagal audisi!” teriak Sohee. “Karena itulah belajar dengan sungguh-sungguh dan diterima di maskapai ini!”

Mendengar ucapan itu, Yoojung berhenti, dan berbalik. Kemudian berkata. “Apa peduliku tentang itu?” ia melanjutkan langkahnya yang tertunda.

☆☆☆

Tidak banyak pengunjung yang ada di cafe itu. Hanya ada lima orang yang menempati meja di sudut ruangan, terdiam karena sibuk dengan pikiran masing-masing. Seorang tengah menyanyikan Untitled milik Simple Plan. Pelayan sudah lima menit yang lalu mengantarkan minuman pada mereka, namun hanya satu gelas yang tampak masih penuh.

“Aku tidak diterima di perusahaan itu.” ujar salah satu dari mereka memulai. Han Seung Jo.

“Aku dipecat lagi.” sambung Jun Hye Na.

“Aku bekerja sebagai kasir sekarang.” timpal Choi Young Dae. “Hanya Kyuhyun dan Sohee yang sukses di antara kita semua.”

“Ah, tidak begitu,” jawab Cho Kyu Hyun merendah. “Aku baru dua tahun bergabung dengan Super Junior, dan aku tidak terlalu terkenal.”

“Tapi setidaknya kau sudah menjadi idol sekarang.”

Idol atau tidak, aku tetap menjadi teman kalian.”

Sedari tadi, Shin So Hee tidak banyak bicara. Ia lebih banyak mendengarkan obrolan keempat temannya yang lebih membicarakan pekerjaan. Apa kata Youngdae barusan? Sukses? Mereka tidak tahu kalau ia baru saja gagal audisi untuk kesekian kalinya! Karena itulah ia melamar di Korean Air.

“Aku hanya pekerja lembar logam, bukan pilot, teknisi, pengontrol cuaca, atau bahkan marshaller. Jadi tidak usah berlebihan.” ucap Sohee akhirnya.

“Tapi kau juga penting di maskapai itu.”

Sohee hanya menghela napas, tidak mau terlibat pembicaraan lagi. Ia memilih untuk membiarkan pikirannya berkelana ke beberapa hari lalu, saat hari pertama Yoojung bekerja. Gadis itu benar-benar tidak bersahabat dengannya. Jadi, ini perasaan Yoojung saat ia menghujatnya dulu.

Tiba-tiba saja, ia sedikit mendengar sepenggal lagu yang dinyanyikan si penyanyi.

b

“And I can’t erase the things that I’ve done, no I can’t..

How can this happen to me, I made my mistakes

Go now where to run, the night goes on

As I’m fading away, I’m sick of this life

I just wanna scream, how could this happen to me?”

b

Sohee menghela napas dengan keras. Lirik itu benar-benar menggambarkan suasana hatinya.

“Sohee-ah, ada apa?” tanya Hyena. “Kau jadi pendiam hari ini.”

“Kalian dengar lagu yang dinyanyikan orang itu? Si penyanyi benar-benar mengerti diriku.” Kata Sohee tanpa ekspresi.

“Memangnya kenapa?” kali ini Youngdae yang bertanya.

“Kalian tidak akan percaya kalau kubilang sekarang aku bekerja bersama Yoojung.”

“APA?!” teriak keempatnya. Kyuhyun-lah yang berteriak paling kencang.

“Dia bekerja di maskapai itu?!” pekik Seungjo.

Sohee menghela napas lagi. “Aku merasa saat itu aku sedang direndahkan olehnya. Sekarang aku mengerti apa yang dia rasakan saat kita berlaku buruk padanya dulu.”

Selanjutnya, Sohee menceritakan apa yang terjadi beberapa hari lalu. Penyambutan meriah Yoojung, pujian yang dilontarkan semua anggota maskapai tentang gadis itu, kecekatannya menangani mesin, analisanya yang hebat, dan perkataan gadis itu padanya.

“Dia.. sudah kembali?!” gumam Kyuhyun, lebih kepada diri sendiri.

­­­☆☆☆

Sinar matahari pagi menembus melalui celah jendela kamar Yoojung, menyorot langsung mata gadis itu. Ia menutup wajah dengan selimut, melanjutkan tidurnya. Ia mengalami hari yang sibuk akhir-akhir ini. Menjadi seorang ahli mekanik memang melelahkan, terutama ia sudah bekerja dua bulan di sana. Tapi berurusan dengan mesin-mesin lebih menyenangkan dari bermain roller coaster di Lotter World! Setidaknya, itu menurut Yoojung.

Namun sia-sia saja ia bisa terus bersama bantal, selimut, dan gulingnya. Karena setelah itu, gangguan mulai berdatangan.

Pertama, suara pintu kamarnya yang terbuka – sial, Yoojung lupa mengunci pintu kamar. Kemudian sebuah seruan yang menyuruhnya untuk bangun dan tidak bermalas-malasan – ia kenal suara itu dengan baik, jadi ia tidak menanggapinya. Terakhir, selimutnya diambil orang itu dan dibuang begitu saja.

“Apa?!” pekik Yoojung serak. “Ini masih pagi! Aku capek!”

“Oh, jam 11 siang di Jerman berarti masih pagi ya?”

Gadis itu berdecak sebal.

“Ayo bangun, pemalas!” Jiyong menarik tangan Yoojung hingga berdiri. “Hari ini Hari Bersih-Bersih Keluarga Kwon!”

“Aku capek, oppa..” Yoojung menguap lebar, dan melepas cengkeraman Jiyong.

Ya, cuci muka dan sikat gigimu!” Jiyong menarik lagi tangan gadis itu. “Mulutmu bau sekali!”

Oppa saja yang bersih-bersih..” gadis itu membanting diri di tempat tidur.

Jiyong menarik lagi sang adik sampai berdiri. Kali ini, ia ‘menyeret’ gadis itu ke kamar mandi, memaksa gadis itu masuk ke sana, menutup dan menahan pintunya agar gadis itu tidak keluar.

Oppa!” teriak Yoojung dari kamar mandi.

“Aku tunggu di ruang tengah, ya.. Ayah sudah memberi pembagian tugasnya.”

Gadis itu bersungut-sungut ketika mendengar langkah Jiyong yang mulai menjauh. Yah, ia sudah ada di kamar mandi. Tidak ada salahnya kan kalau dia mandi?

Sepuluh menit kemudian, barulah Yoojung keluar dari kamarnya. Dan pada saat itu, ia melihat seekor anjing berlarian di ruang tengah – tempat Jiyong menunggunya – sambil menggonggong.

“Sejak kapan di rumah ini ada bulldog?!” seru gadis itu. Yoojung sangat benci anjing, kucing, ataupun jenis hewan yang umum dipelihara orang-orang. Ia lebih menyukai hewan yang berada satu tingkat di atas mereka, tidak umum, dan hidup di alam liar. Gajah, ular, buaya, hiu, harimau, dan hyena, misalnya? Itu baru keren!

Bulldog?!” kata Jiyong terperanjat. “Namanya Gaho. Ga-Ho.” tegasnya. “Lagipula, dia berjenis shar pei, bukan bulldog.” Laki-laki itu menatap Yoojung, berkata sangsi. “Aneh, dia selalu ada disini dan kau tidak menyadarinya?”

“Apa aku perlu menyadari keberadaannya?” Yoojung menunjukkan raut wajah benci ketika hewan itu memandangnya. “Apa oppa selalu membawanya setiap kali oppa pulang?”

“Tentu saja!” sahut Jiyong sewot. Ia kadang lupa kalau sang adik benci anjing. “Dia akan kesepian kalau aku tinggalkan di dorm.”

Yoojung mencibir. “Sudahlah, katakan saja tempat kerjaku.”

“Begini,” Jiyong mulai menjelaskan. “Aku akan membersihkan rumah dan halaman, kau menbuat kandang Gaho.”

“Apa?!”

“Bukankah itu tawarkan menggiurkan? Kau tidak harus menyapu, mengepel, memangkas rumput, dan sebagainya. Malah aku yang akan akan melakukan semua itu.”

“Kenapa aku harus membuat kandang si bulldog jelek ini?!” Yoojung menunjuk anjing itu.

“Namanya Gaho!” pekik Jiyong kesal. “Dan jenisnya shar pei! Dia tidak jelek!”

Yoojung memajukan bibirnya.

“Lakukan!”

Gadis itu sekali lagi menatap hewan yang berjalan mengikuti pemiliknya dengan muak. “Lihat anjing itu.” omelnya. “Berkeriput. Persis pemiliknya.”

“APA KAU BILANG?!”

Yoojung segera berlari, mengambil topi dan keluar rumah. Di halaman, sudah tersedia papan kayu berukuran 1,0 x 0,5 meter persegi sebanyak 7 buah, gergaji, palu, sekaleng paku, dua buah kaleng cat berwarna biru dan coklat, 20 lembar kertas, sebuah pensil, penghapus, dan bor pipa. Lihat, bahkan Jiyong sudah menyiapkan semuanya.

“Hei, aku ini ahli mesin pesawat! Bukan arsitek kandang anjing!” teriak gadis itu kesal.

“Itu ‘kan sama saja!” balas Jiyong dari dalam rumah.

“Sama?” Yoojung mendengus. “Apa sekilas kandang anjing mirip dengan pesawat?”

Gadis itu mendesah pasrah. Daripada ia mendengar gerutuan sang kakak yang menyebalkan itu, lebih baik ia menurutinya. Pertama, ia mendesain kandang anjing itu terlebih dahulu. Gadis itu hanya butuh waktu satu jam untuk menggambar ukuran dinding, atap, dan lantai. Selanjutnya, ia mulai bekerja.

Dua jam berlalu. Ia sudah selesai membangun dasar dan memasang tembok. Terakhir, ia membuat atap.

Pada saat itu, seseorang memasuki rumahnya. Sepertinya tamu sang kakak, jadi ia tidak terlalu mempedulikannya. Malah ia memilih untuk meneriaki Gaho ketika anjing itu berlari ke arahnya. Tapi pada saat orang itu menyebut namanya, ia mengangkat wajah.

Dan betapa terkejutnya gadis itu ketika melihat si tamu.

☆☆☆

Kyuhyun berdiri ragu di depan sebuah rumah. Menurut alamat di kertas yang digenggamnya, ia sudah sampai di tempat yang benar. Seperti kebanyakan rumah di sekitarnya, rumah ini sangat sederhana. Tidak bertingkat. Ada jalan setapak dari gerbang menuju bangunan rumah, yang memisahkan halaman luasnya menjadi dua bagian.

Ia mengambil napas, dan menghembuskannya perlahan. Ini saatnya.

Ia membuka gerbang, dan berdiri mematung untuk membuat sketsa tempat ini di dalam otaknya. Ia melihat sebuah pancuran air yang tengah menyirami tanaman. Muncul dari halaman belakang, seekor anjing yang berlarian di halaman – menghampiri seorang gadis yang sedang membuat kandang anjing.

Awalnya ia tidak mempedulikan gadis itu, dan terus berjalan menuju teras. Tapi sekonyong-konyong, ia mendengar suara gadis itu meneriaki si anjing.

Ya, pergi kau, anjing jelek!”

Jantung Kyuhyun berdegup kencang. Napasnya mulai tak beraturan. Suara itu.. Ia kenal dengan baik suara itu! Ah tidak, lebih tepatnya, ia merindukan suara itu!

“Yoo.. jung?” gumamnya tanpa sadar. Gadis itu berdiri sekitar satu meter di depannya.

Untuk beberapa saat, Kyuhyun hanya memperhatikan penampilan Yoojung. Gadis itu mengenakan topi yang bagian depannya menghadap ke belakang. Rambutnya tergerai begitu saja, tampak natural. Kaus putih polos berlengan pendek yang dikenakannya berpadu dengan baju overall jeans pendek.

Oh Tuhan, apakah pria itu sedang melihat malaikat sekarang? Bahkan dengan penampilan sesederhana itu, Yoojung tampak menawan!

“Sedang apa kau di sini?” Yoojung berkata judes, membuyarkan lamunan pria itu. Gadis itu memegang palu di tangannya.

Kyuhyun mengerjap. Kemudian melangkah mendekati gadis itu.

Yoojung mundur. “Tidak! Tetap di tempatmu dan jangan mendekat!” kecamnya. “Katakan apa yang kau inginkan dan pergi secepatnya!”

“Aku menginginkanmu!” teriak Kyuhyun. Wajahnya tampak lelah.

Gadis itu tersentak beberapa saat. “Aku?” ia menunjuk hidungnya. “Untuk apa? Minta maaf? Sudah terlambat!”

“Kumohon dengarkan – “

“Apa?!” potong Yoojung tidak sabar, dan berkata dengan nada mengancam. “Aku tidak akan segan-segan menghancurkan kepalamu kalau kau tidak segera pergi!”

“Bisakah kita bicara baik-baik?”

“Tidak!”

“Kau hanya perlu mendengar penjelasanku sekali saja.”

“Untuk apa?! Merusak pendengaranku?!”

“Aku mohon..”

“Lihat dirimu.” Yoojung menatap hina Kyuhyun dari atas sampai bawah. “Kau pasti berjuang mati-matian untuk mendapat alamat rumahku. Dan setelah kau mendapatkannya, kau datang padaku untuk merendahkan diri dan meminta maaf? Apa perlu aku ingatkan kalau kau benci padaku?!”

“Tidak!” Kyuhyun menggeleng. “Dengarkan aku dulu!”

“Oh, idol, kau tidak perlu mengemis maaf dari seorang gadis culun yang kau benci!” sergah gadis itu. “Tidak ada gunanya kau bersikap begini, karena aku tetap akan benci padamu!”

Kyuhyun terperangah. Yoojung tersenyum sinis. “Siapa yang pecundang sekarang?”

Ia hendak melangkah untuk kembali melanjutkan pekerjaannya ketika Kyuhyun menggenggam tangannya. Perasaan aneh tiba-tiba menjalari tubuh gadis itu. Tapi kemudian, ia menepis tangan pria itu, dan berbalik.

“Kumohon..” pelas Kyuhyun lagi.

Gadis itu mengacungkan palu di depan wajah Kyuhyun. “Aku bersungguh-sungguh, idol!”

“Yoojung-ah..”

“PERGI!”

Gadis itu rupanya tidak main-main dengan ancamannya. Namun saat ia mengayunkan palu itu mengarah ke kepala Kyuhyun, sebuah suara menyuruhnya untuk berhenti.

☆☆☆

“Oh, jadi sekarang kalian berteman?!”

Setelah Jiyong menjauhkan Kyuhyun dari Yoojung dan berbicara sebentar pada pria itu, entah apa yang dibicarakan mereka sampai Kyuhyun akhirnya meninggalkan rumah itu. Dan Jiyong mulai berbicara dengan Yoojung.

“Oke, berteman memang bukan kata yang tepat.” Jiyong memulai.

“Lalu?” sembur gadis itu. “Bersekongkol? Bekerja sama? Saling percaya?”

Pria itu terdiam.

“Bahkan sekarang kakakku sendiri mengkhianatiku!” Yoojung berkata frustasi. “Oppa bahkan tahu aku benci padanya, tapi kenapa oppa melakukan ini padaku?!”

“Jung-ah.. dengarkan – “

“Tidak ada lagi yang harus kudengar!” gadis itu menggerak-gerakan tangannya liar. “Jadi ini alasan kenapa oppa marah karena aku pulang mendadak?!”

“Jung..”

“Kalau oppa ingin tahu yang sebenarnya, oke! Aku akan menjelaskan semuanya!” salak gadis itu. “Aku benci Cho Kyu Hyun! Alasan utama aku tidak mau pulang adalah dia! Oppa tahu, paman saja kaget saat melihatku di sini karena memang dia sudah tahu kalau aku tidak mau pulang dan ingin berkarir di luar negeri! Paman sudah setuju aku melepas kewarganegaraanku!”

Yoojung tersenyum jahat. “Biar mereka tahu siapa Kwon Yoo Jung yang sebenarnya! Biar orang-orang brengsek itu tahu aku sudah berbeda!” katanya sombong. Ia menunjuk Jiyong. “Dan kalau oppa tidak mencegahku tadi, aku yakin mungkin sekarang para penggemarnya sudah menangis tersedu-sedu karena dia dibunuh olehku! Apa sudah jelas?!”

Pria itu menatap adiknya tidak percaya.

“Sekarang, selesaikan sendiri kandang anjingmu!” teriak Yoojung melempar palu mengarah pada kandang itu dengan marah. Dan, yah, kandang itu jelas saja hancur. Ia berjalan melewati sang kakak, masuk ke rumah, membanting pintu dengan keras.

Jiyong menghela napas. Yoojung marah besar padanya. Namun, entahlah.. hatinya mengatakan Kyuhyun tulus dengan semua perasaannya pada Yoojung. Ia yakin laki-laki itu melakukannya semata-mata karena cinta. Tidak adala alasan lain untuk itu.

Ia menatap rumah Gaho yang telah hancur. Bagus sekali! Sekarang siapa yang akan menyelesaikannya?

☆☆☆

Suasana rumah keluarga Kwon cukup kurang bersahabat sejak Yoojung marah pada sang kakak. Selama seharian penuh, gadis itu lebih banyak menghabiskan waktu di kamar. Ia hanya keluar saat makan siang, dan makan malam. Ketika bertemu pandang dengan sang kakak pun, ia sama sekali tidak peduli.

Keesokan harinya, pada saat sarapan, sang ayah memulai percakapan dengan Jiyong yang membuat hatinya tak enak.

“Yoojung berangkat pagi sekali hari ini. Kau tahu kenapa?”

Ayolah, kenapa ayahnya harus menanyakan hal itu di saat ia sedang perang dingin dengan sang adik? Moodnya benar-benar buruk sejak Yoojung mengacuhkannya. Bagaimanapun, agar tidak mncurigakan, ia menjawab. “Entahlah, memangnya kenapa?”

“Apa dia sebegitu sibuknya sampai harus membawa kopernya? Apa dia akan menginap?”

“Menginap?” Jiyong mengernyit. “Maksud ayah?”

“Kenapa kau tidak mengecek kamarnya saja?”

Laki-laki itu langsung meninggalkan sarapan dan menuju kamar gadis itu. Ia membuka kamar Yoojung, dan betapa terkejutnya ia melihat kamar itu.

Ia tidak lagi melihat gambar-gambar pesawat yang memusingkan di dinding kamar. Beberapa buku hilang dari rak. Tidak ada lagi kertas berserakan di lantai. Meja rias dan lemari baju gadis itu kosong melompong.

Bagus, apalagi sekarang?

 

-To Be Continued-

Advertisements

2 thoughts on “Born to be Somebody 2

    • udah ada kok, tenang aja.. aku bocorin yaa. judul second sequelnya ‘Mean’, twoshots. aku masih harus perbaiki di sana sini dan belum ada waktu untuk itu karena aku udah kelas 3 dan mulai sibuk sama try out dsb. mohon pengertiannya yaa, dan makasih udah mau ngengomentarin cerita ini 😊

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s