Born to be Somebody 1

justin-born-to-be-somebody1

Too in love with this song, I try to create a ‘inspirated’ story about it.

1 | 2 | 3 | 4 (END)

***

BEL tanda berakhirnya pelajaran sudah berbunyi lima menit yang lalu. Para murid sudah pulang ke rumah mereka masing-masing. Di lapangannya hanya angin berdesir menerbangkan beberapa kertas. Di kelas, meja dan kursi dibiarkan tak beraturan. Wilayah sekolah sudah kosong.

Hampir.

Begitu menyusuri koridor ini, kau akan mendengar sayup-sayup nyanyian beberapa anak. Di ujung koridor ada sebuah ruangan yang pintunya sedikit terbuka. Dan dari ruangan itulah suara sayup itu berasal.

Dua puluh orang anak dengan jumlah yang seimbang antara laki-laki dan perempuan, sedang berlatih bernyanyi. Seorang yang paling tua di antara mereka – seorang guru musik – sedang berjalan mondar-mandir di hadapan anak-anak itu. Dengan beragam ekspresi, anak-anak itu bernyanyi. Serius, bosan, malas.

Saat nyanyian usai, guru itu langsung memberikan komentarnya.

“Ada peningkatan.” ujar guru itu memulai. “Nada kalian tepat dan kalian mulai menghayati lagu yang kalian nyanyikan. Hanya saja..”

Ia menunjuk seorang gadis berponi.

“Kwon Yoo Jung.” Ia tersenyum menenangkan. “Suaramu terlalu keras. Cobalah menyesuaikan dengan yang lain. Kau harus bernyany dengan nada yang tepat dan ekspresif. Suaramu masih terdengar false.”

Kemudian, ia memandang semua anak. “Oke, latihan kita sampai di sini.” Ia segera meninggalkan anak-anak itu.

☆☆☆

“Ada apa sebenarnya denganmu?! Apa sulit hanya membuka mulut dan bernyanyi?!”

Gadis itu hanya bisa menunduk takut mendengar bentakan yang dilontarkan Cho Kyu Hyun padanya. Ia hanya bisa menggumamkan kata ‘maaf’ dengan amat sangat pelan, namun masih bisa terdengar semua orang. Bukan hal baru ia dimarahi karena merusak kelompok paduan suara ini. Sementara itu, di belakang Kyuhyun, teman-teman anak itu ikut menggumamkan beragam kalimat olokan yang sudah tak asing di telinga Yoojung.

“Oh ayolah.. kenapa harus kau yang ditegur setiap latihan kita?!”

“Kau ini memang perusak!”

“Kenapa Kim saengnim harus memilihmu menjadi peserta lomba?!”

“Kalau kau diperingatkan lagi di latihan selanjutnya, awas kau!” ancam Kyuhyun. Ia dan teman-temannya mengambil tas, dan berjalan keluar ruangan musik. Meninggalkan Yoojung sendirian.

b

“There’s a dream in my soul

A fire that’s deep inside me

There’s a me no one knows

Waiting to be set free..”

c

Kwon Yoo Jung berjalan gontai memasuki rumahnya. Setelah berbasa-basi sedikit dengan orang rumah, ia masuk ke kamar. Masih dengan seragam sekolahnya, gadis itu merebahkan diri di tempat tidur. Matanya memandang langit-langit kamarnya dengan kosong. Ia sangat capek. Lahir dan batin.

Yoojung sama sekali tidak bisa menyanyi. Maksudku, sungguh! Gadis itu benar-benar memiliki suara yang sangat tidak enak didengar. Ia juga buta nada, sehingga tidak pernah bisa membaca not dengan baik. Dan dengan ‘kemampuan luar biasa’nya itu, ia dipaksa menjadi peserta lomba paduan suara antarkelas. Sudah berapa kali ia mengutarakan keinginannya untuk mengundurkan diri, tetapi selalu ditolak wali kelasnya.

Padahal ia tidak bersekolah di sekolah seni. Meski begitu, entah mengapa sekolah ini hanya mengandalkan kemampuan menyanyi. Mungkin karena sekolah ini jarang menjuarai lomba mata pelajaran manapun, dan selalu menjuarai lomba menyanyi. Terdengar sadis memang, tetapi itulah kenyataannya. Pelajaran eksata dipandang rendah di sini. Apalagi sang juara itu adalah Cho Kyu Hyun, sehingga semua orang berpikir bahwa menyanyi adalah segalanya.

Terlebih jika memang hanya itu yang mereka miliki.

Kyuhyun adalah anak terpandang di sekolah. Selain pintar, ia memiliki suara yang sangat bagus, sehingga ia sangat dipuja di sekolah. Dari segi fisik, ia sungguh pemuda yang tampan. Sorot matanya yang tajam, alis tebal, dan senyum yang mempesona. Rambutnya yang lurus dibiarkan tumbuh memanjang dan tidak beraturan, hidungnya pun mancung.

Sementara orang-orang seperti Yoojung terlahir dengan kondisi tidak memiliki kemampuan apapun yang tidak bisa dibanggakan.

Gadis itu adalah the one and only korban bullying Kyuhyun dan kawan-kawannya. Tubuhnya pendek, hanya sekitar 162 cm, kurus pula. Berat badannya bahkan tidak sampai 50 kilogram. Dari segi penampilan, ia bukan lawan yang sepadan dengan orang-orang seperti Kyuhyun. Gadis itu mengenakan kacamata berlensa tebal dan behel yang membuatnya sama sekali tidak menarik. Ia memiliki banyak bekas jerawat di kedua pipinya. Rambutnya selalu dikepang menjadi dua bagian, dan poni dibiarkan menutup keningnya. Persis seperti anak cupu yang norak dan kampungan.

Ia mulai mengenal Kyuhyun sejak ia mengenal apa itu sekolah. Laki-laki itu tidak pernah menyukainya di awal pertemua mereka, sehingga Kyuhyun sangat sangat sangat membencinya – untuk alasan yang tidak diketahui. Sejak saat itu, Kyuhyun mulai memprovokasi teman-temannya untuk membenci Yoojung. Dan usahanya tidak sia-sia.

Sampai sekarang, Kwon Yoo Jung tidak pernah mengenal apa itu ‘teman’. Bahkan setelah ia berada di tingkat kedua sekolah menengah.

Bagaimana bisa ia memiliki teman, sementara ia selalu dihina, dicaci, dimaki, diolok, dicela, dan dimusuhi teman-teman sekolahnya? Tidak ada yang menyukainya – kecuali para guru. Ia selalu disalahkan dalam setiap hal. Teman-temannya selalu punya cara untuk membuatnya menderita.

Sialnya lagi, selama ia menempuh pendidikan, ia selalu berada di sekolah yang sama dengan Kyuhyun. Bahkan sekelas.

Ia tidak pernah mengutarakan keinginannya untuk pindah sekolah, karena ia tidak tinggal dengan kedua orangtuanya.

Bayangkan sudah berapa lama Yoojung menderita karena keberadaan Kyuhyun.

Ia duduk di tempat tidur. Mengusap-usap wajahnya. Ia duduk dengan menatap dalam poster di seberangnya. Ia tersenyum menatap dua orang di poster itu. Wright bersaudara.

Menyanyi memang bukan keahliannya. Tujuan hidupnya juga bukan untuk menyanyi. Gadis itu memiliki mimpinya tersendiri, yang bersemayam jauh di dalam jiwanya. Walau ia belum tahu apa itu, tetapi setidaknya ia memiliki sisi dimana orang-orang tidak mengenalnya.

Sisi yang menunggu untuk dibebaskan.

c

“I’m gonna see that day

I can feel it

I can taste it

Change is coming my way..”

c

Saem, aku mohon.. Saya pasti akan sangat sangat saaaangat berterima kasih kalau Anda mengeluarkan saya dari peserta lomba paduan suara.”

“Tidak, nona Kwon. Ini perlombaan antarkelas, dan pesertanya adalah semua anggota kelas.”

Disinilah Yoojung berada. Di depan Kim Ji Hyun. Guru biologi yang merangkap menjadi wali kelasnya. Seperti hari-hari sebelumnya, ia sedang memohon agar tidak terlibat dalam lomba itu.

“Tapi aku tidak bisa bernyanyi!” seru Yoojung kesal. Ia sampai lupa kalau ia sedang berbicara dengan seorang guru. “Dan semua anak di kelas membenciku!”

Wanita itu tersenyum. Jelas ia tahu tentang itu. “Sekarang, katakan padaku,” katanya. “Apa kau pernah berpikir terkadang Hwang saengnim kesal padamu karena kau sering menyerangnya dengan pertanyaan-pertanyaan kritismu?”

Gadis itu terdiam. Hwang seosaengnim adalah guru fisikanya. Ia menggeleng.

“Tapi hal itu juga yang membuatnya kagum padamu,” lanjut guru Kim. “Kau mengerti maksudku kan? Lakukan apapun yang kau mau, jangan pedulikan pendapat orang tentangmu. Jika kau terlalu bercermin pada orang lain, kau pasti akan gagal. Karena itu, teruslah berlatih. Kau tahu? Semua teman-temanmu hanya merasa iri padamu. Karena itu, mereka menyembunyikan perasaan iri mereka dengan menindasmu. Kau berpotensi, nona Kwon. Kau akan jadi orang hebat suatu hari nanti. Jangan pernah takut untuk menunjukkan dirimu yag sebenarnya pada dunia.”

Yeah, tapi bukan dengan menyanyi..

“Sekarang, kembalilah ke kelas.” perintah tegas wanita itu.

Dalam perjalanannya ke kelas, Yoojung tidak lupa mendapat ‘sambutan’ dari para murid. Ia diledek, namun ia hanya menunduk dan tetap melangkah menuju kelas. Biasanya, Kyuhyun-lah yang paling buruk mencelanya. Trouble maker-lah, perusaklah, penghancurlah, dan masih terlalu banyak ejekan yang dilancarkannya. Selain verbal bullying, Kyuhyun juga kerap melakukan bullying secara fisik; menjambak, memukul, dan membuatnya terjatuh. Tidak lupa ia mempermalukan Yoojung di tempat umum.

Seperti saat ini.

Karena berjalan sambil menunduk, Yoojung tidak memperhatikan orang-orang di depannya. Sehingga ia tidak sengaja bertubrukan dengan seseorang.. yang membuat seragamnya basah.

“Hei, apa gunanya kacamata tebalmu itu?! Dasar bodoh!” bentak Kyuhyun.

Yoojung diam, tidak menanggapi. Ia memperbaiki posisi kacamatanya. Dengan baju penuh noda jus jeruk, ia melanjutkan langkahnya menuju kelas, diiring tawa semua anak sepanjang koridor.

☆☆☆

Ketika pelajaran usai, Yoojung menunggu semua anak di kelas keluar terlebih dahulu. Setelah kelas sepi, barulah ia keluar. Gadis itu berjalan sambil menunduk, berusaha untuk tak terlihat. Namun berharap untuk tak terlihat sama saja dengan menahan gelombang pasang. Tidak ada gunanya.

Ia melewati seorang laki-laki yang tengah menunggunya.

“Jadi setelah apa yang terjadi tadi, kau hanya diam dan berusaha menghindar?” kata orang itu.

Yoojung berhenti.

“Kau pikir dengan kau menghindar, aku tidak akan tahu apa-apa, begitu?” kini laki-laki itu tengah berdiri di hadapannya, mensejajarkan kepalanya dengan kepala gadis itu.

☆☆☆

“Oppa..” panggil Yoojung. Matanya tertuju pada pemandangan perumahan yang terlintas dengan cepat. Sekarang ia tengah berada di boncengan sepeda laki-laki itu, Kwon Ji Yong. Atau seharusnya kukatakan, laki-laki itu adalah kakaknya.

“Kau mau aku menghajar Kyuhyun? Baiklah, aku akan menghajarnya besok.” balas laki-laki itu memandang lurus ke depan.

“Tidak!” cegah gadis itu cepat. “Bukan itu..”

“Kau gadis baik, Jungie..” kata Jiyong. “Kau terlalu baik sampai-sampai semua teman-teman brengsekmu itu kau biarkan. Sekarang aku mengerti kenapa mereka semakin bahagia setelah menyiksamu!”

“Aku hanya tidak mau mereka semakin merendahkan aku..” cicit gadis itu pelan.

“Terserah kau saja,” gerutu Jiyong. “Jadi, apa yang kau mau katakan?”

Hanya terdengar desiran angin beberapa saat.

“Oppa, apa aku akan mati kalau aku tidak bisa menyanyi?”

Jiyong tertawa. Yoojung benci tawa kakaknya bila sudah seperti ini. Ini berarti semua perkataan gadis itu hanya lelucon. Laki-laki itu tertawa terbahak-bahak, bahkan sampai air matanya muncul. Akibat tawanya ini, Jiyong kehilangan kendali setir sepeda sehingga sepeda dalam keadaan oleng.. dan mereka nyaris jatuh ke dalam parit.

Jiyong memberhentikan sepeda, melepas tawa terakhir, dan kembali mengemudi.

Laki-laki itu menghela napas. “Siapa yag bilang begitu?! Apa teman-temanmu yang bodoh itu?!”

“Tidak, kan barusan aku yang bilang.”

“Dan kenapa kau menanyakan hal bodoh itu?”

“Karena sepertinya semua teman-temanku ingin membunuhku hanya karena aku tidak bisa menyanyi.”

“Tidak,” ujar Jiyong. Kali ini terdengar serius. “Mereka seperti itu supaya mereka bisa terus menyiksamu. Kau tidak perlu menyanyi kalau itu membuatmu tersiksa. Kau tidak perlu menyanyi supaya mereka bersimpati padamu.”

“Lalu apa yang harus aku lakukan?”

“Jadilah dirimu dengan caramu sendiri.”

“Bagaimana? Aku bahkan tidak punya bakat apa-apa.”

“Apa?!” pekik Jiyong langsung menepikan sepeda. Ia berbalik, menatap tajam Yoojung. “Tidak punya bakat?! Lalu kau sebut apa memperbaiki lampu kamar ayah, televisi, komputer, pemanggang roti, AC, dan memodifikasi sepeda ini?! Apa itu bukan bakat?!”

“Itu kan hanya iseng!”

“Cih,” cibir laki-laki itu. Ia kembali mengemudikan sepeda. “Iseng katamu? Ayah sering memarahiku karena tidak bisa memperbaiki AC.” gerutunya.

Seharusnya ia tahu kalau seorang Kwon Yoo Jung itu adalah orang yang tidak akan pernah mengakui kemampuannya. Padahal menurutnya, Yoojung sungguh gadis yang hebat. Benar-benar hebat! Di saat semua laki-laki pandai berurusan dengan listrik dan reparasi, di rumah mereka justru Yoojung-lah – yang merupakan satu-satunya gadis di rumah mereka – yang mengurusi semuanya. Semua peralatan rusak bisa diperbaiki olehnya.

Pernah, suatu ketika, seorang tetangga datang ke rumahnya hanya untuk meminta Yoojung memperbaiki radio transistornya yang rusak, tak mau bersuara. Dengan santai, Yoojung membongkar radio itu di depan paman, kakak, dan tetangganya, meneliti setiap sirkuitnya, dan pada hari berikutnya mengganti komponen yang katanya rusak. Dan.. voila! Radio tetangganya pun menyala lagi!

Hal yang membuat Jiyong iri setengah mati pada Yoojung.

Hanya saja, Yoojung terlalu merendahkan diri. Yang kumaksud ‘merendah’ disini adalah, gadis itu benar-benar merendahkan dirinya serendah mungkin.

Satu lagi alasan mengapa ia selalu tertindas.

“Kau punya nilai yang bagus untuk mata pelajaran fisika.”

“Karena oppa memaksaku belajar.”

“Kau pemain catur yang baik.”

“Karena paman memaksaku menemaninya bermain catur.”

“Kau bahkan membuat mesin penyiram bunga otomatis.”

“Karena aku melihat pipa, keran, kabel, dan selang bekas.”

“Kau membuatkan aku alarm robot yang bisa bicara.”

“Karena oppa susah bangun pagi.”

“Berhentilah merendah, Jung!” bentak laki-laki itu. “Kalau kau tidak bisa menunjukkan siapa dirimu, kau akan selalu ditindas mereka!”

“Maaf..” lirih gadis itu. “Aku hanya belum percaya pada kemampuanmu..”

Sepeda berhenti di depan pagar rumah mereka. Ketika Jiyong hendak menuntun sepeda memasuki halaman, Yoojung mencegahnya.

“Apa?”

“Soal tadi..” tangan kecil gadis itu menggenggam tangan Jiyong. “Oppa akan merahasiakannya dari paman kan?”

Jiyong tersenyum. Dan mengangguk setuju. Tiba-tiba, mereka melihat pintu depan terbuka.

“Yoojung-ah? Oh, syukurlah..” panggil pamannya lega. “Cepat ganti bajumu, pemanas ruangan kita tidak mau menyala lagi.” pria itu kembali masuk ke rumah.

Yoojung dan Jiyong saling berpandangan, dan tertawa bersama.

Jiyong menepuk pundak adiknya. “Cepatlah, kau punya pekerjaan.”

Gadis itu menyeringai, memamerkan deretan behel di giginya. Ia berlari masuk ke rumah.

 

“I was born to be somebody

Ain’t nothing tha’s ever gonna stop me

I’ll light up the sky like lightning

I’m gonna rise above, show ‘em what I’ve made of

I was born to be somebody

I was born to be..

And this world will belong to me..”

 

Jam dua belas lewat tujuh belas menit. Waktu yang masih menunjukkan keadaan kelas yang tenang. Para murid memperhatikan guru mereka menjelaskan pelajaran di depan kelas. Beragam reaksi mereka tunjukkan. Ada yang serius mendengarkan, mencorat-coret kertas kosong, melamun menatap keluar lewat jendela memperhatikan gumpalan awan putih di langitu biru, mengutak-atik ponsel, ada yang berusaha mati-matian mempertahankan rasa kantuknya, bahkan ada yang sudah tidak tahan lagi karena terus menguap. It’s time to sleep!

Parahnya, pelajaran terakhir di kelas sesiang itu adalah fisika. Tetapi masih saja ada yang bersemangat mengikuti pelajaran yang satu ini.

“Air bila dipanaskan pada tekanan 218 kali tekanan udara normal..”

Yoojung mendengarkan penjelasan guru Hwang dengan saksama. Ia memperhatikan setiap corat-coretan yang dibuat pria itu di papan tulis, sesekali mencatat hal yang penting. Selain Yoojung, masih ada lima siswa lain yang masih memperhatikan pelajaran. Selebihnya? K.O!

“Tapi, apa bedanya proses pendidihan pada kondisi normal dengan pada kondisi kritis, saem? Sama-sama terjadi perubahan wujud kan?” tanya Yoojung, as usual.

Guru Hwang tersenyum. Ia ingin membuka mulut untuk menjelaskan, namun ucapannya dipotong Kyuhyun.

“Apakah itu penting?!” katanya ketus. “Dasar bodoh! Jelas tidak ada perbedaan diantara itu!”

“Kalau begitu, tuan Cho,” sela guru Hwang. “Kau bisa memberi penjelasan pada kami tentang perbedaan air saat kondisi normal dan kondisi kritis.”

Ditodong seperti itu, Kyuhyun hanya diam. Tidak bisa melaksanakan perintah pria itu.

“Setidaknya hargailah temanmu bila dia menanyakan hal yang tidak kau ketahui.” ujar guru fisika itu dingin. Kemudian, ia menjawab pertanyaan Yoojung.

Yoojung tersenyum menang dalam hatinya. Hanya dengan ini ia bisa secara tidak langsung menindas Kyuhyun. Karena hanya ilmu pengetahuan-lah yang ia miliki.

Keluarganya adalah keluarga berjiwa seni. Hanya saja, gen itu tida menurun pada Yoojung. Ia lebih senang mengamati alam, gerak, cara kerja benda-benda, dan menganalisis bagaimana semua bisa terjadi. Otak gadis itu lebih senang berpikir soal-soal lain, seperti:

Kenapa air laut asin?

Kenapa mulut mengeluarkan bau tak sedap saat baru bangun tidur?

Kenapa suara terdengar lebih jelas saat cuaca mendung daripada cerah?

Kenapa salju di pegunungan Jerman tidak mencair saat musim panas?

Beranjak besar, ia makin mencintai ilmu pengetahuan yang membantunya menjawab semua pertanyaan yang dilontarkannya dulu. Menjadi ejekan karena tidak bisa menyanyi bukan masalah baginya.

Karena ia lahir bersama sains.

☆☆☆

Dikatai seperti itu, hati Kyuhyun memanas. Yoojung pasti sedang bersorak di dalam hatinya. Gadis itu memang tidak pernah terang-terangan membalas semua perlakuan kasarnya. Justru dengan cara inilah Yoojung ‘secara halus’ menjatuhkan Kyuhyun.

Laki-laki itu memang tidak terlalu hebat dalam pelajaran fisika, karena ia lebih diunggulkan di matematika. Juara olimpiade pula. Namun Yoojung juga diunggulkan di pelajaran itu, membuat ia semakin membenci Yoojung.

Tidak apa ia diperlakukan seperti itu, karena Yoojung hanya seorang diri. Sementara semua orang di sekolah ini berpihak padanya, dan ia bisa melakukan apapun yang diinginkannya.

Seperti membalas dendam saat latihan paduan suara sepulang sekolah nanti.

 

“This life can kick you around

This world can make you feel small

They will not keep me down

I was born to stand tall..”

 

Siang yang menguras energi lahir dan batin. Setidaknya itulah yang dirasakan Yoojung saat ini selama mengikuti latihan untuk ‘lomba yang tidak penting’. Ia harus mengeluarkan energi untuk kegiatan yang sama sekali tidak disukainya.

Parahnya, sang wali kelas menyaksikan latihan mereka kali ini.

Yoojung semaksimal mungkin mencapai nada tertinggi di lagu dengan memperkecil otot lehernya, berharap pita suaranya bergetar makin kencang. Namun malah ia merasa epiglotisnya tercekik, saking tingginya nada yang ingin dicapainya.

Sang wali kelas menyudahi latihan mereka.

“Bagus sekali,” ujar pelatih mereka. “Namun kekurangan kalian masih pada Yoojung.”

Semua anak menatap gadis itu dengan tatapan tajam dan marah.

Pelatih mereka tersenyum pada Yoojung. “Kau mulai bisa membaca nada dengan baik. Hanya saja kau masih belum bisa menyesuaikan dengan yang lain. Selebihnya, kau sangat bagus.”

Guru Kim menatap gadis itu dengan senyum menenangkan. Detik berikutnya, kedua wanita itu meninggalkan ruang musik.

Kyuhyun mendorong Yoojung sampai gadis itu menabrak dinding. “Kau ini benar-benar, ya!” teriaknya marah. “Hanya kau yang merusak kelompok ini!”

Teman-teman Kyuhyun juga ikut mencela Yoojung. Dasar burung beo!

“Aku hanya perlu menyesuaikan suaraku dengan kalian..” kali ini Yoojung memberanikan diri berbicara, menatap mata Kyuhyun secara langsung. Laki-laki itu sempat tertegun, namun ia menyembunyikannya dengan cepat. Ini untuk pertama kalinya ia menatap langsung mata Yoojung. Sorot mata gadis itu tampak.. lelah.

Ah. Apa yang ia pikirkan?!

“Aku hanya harus berlatih mengatur otot leherku agar getaran yang dihasilkan pita suaraku bisa menghasilkan suara yang sesuai.” lanjut gadis itu.

“Alasan!” pekik laki-laki itu. “Jangan sok menerapkan prinsip fisika di sini!”

“Oh, ayolah! Jiyong sunbae saja bisa bernyanyi dengan baik!”

Yoojung terbelalak menatap anak itu, Song Eun Woo.

“Sebenarnya apa hubuganmu dengan Jiyong?!” timpal Min So Eun.

Mulut Yoojung mengatup kencang. Kenapa kakaknya dibawa-bawa?

“Kalau kau punya hubungan keluarga dengannya, kau pasti tahu, Jiyong adalah penyanyi yang hebat. Tapi kenapa tidak denganmu?!” Kyuhyun berucap dengan ketus sembari menunjuk-nunjuk gadis itu. “Semua keluarganya adalah penyanyi yang hebat. Tapi kenapa tidak denganmu?! Apa kau keluarganya?! Siapa kau sebenarnya?! Apa Jiyong saudaramu?!”

Telinga Yoojung memanas. Kenapa keluarganya dibawa-bawa?

“Dari wajah saja mereka tidak mirip!” sahut seorang anak di belakang Kyuhyun. Seo Ji Sung.

“Huuu, buangan!” tambah Ahn Yoo Min.

“Anak haram memang julukan yang pantas untukmu!”

Gadis itu mengepalkan tangannya, menjadi tinju memutih tanpa darah. Kalimat terakhir Kyuhyun membuatnya naik pitam.

Teman-teman Kyuhyun semakin gencar mengejeknya. Semua kalimat kasar terlontar dari mulut tak terdidik mereka. Yoojung tak bisa menahan diri lagi. Akhirnya tangan yang terkepal itu terangkat untuk meninju pipi Kyuhyun. Semua orang menatap Yoojung terkejut.

Kyuhyun terperangah. Darah mengalir di sudut bibirnya. Terasa sangat nyeri di pipi. “Kau..” ucapnya geram. Ia mengepalkan tinju yang mengarahkan pada wajah gadis itu, namun dengan cepat Yoojung berkelit, dan secepat itu juga, Yoojung meninju wajah Kyuhyun.. dan menendang perut laki-laki itu. Kyuhyun terlempar beberapa meter, menabrak beberapa meja dan kursi.

Dua orang anak laki-laki – Han Seung Jo dan Choi Young Dae – menghampiri Kyuhyun untuk membantunya berdiri. Sementara Jun Hye Na menghampiri Yoojung dengan marah.

“Apa yang sudah kau lakukan hah?!” ia mengangkat tangan hendak menampar Yoojung. Namun sayang, Yoojung menahan tangannya lebih dulu. Ia memelintir tangan anak itu, memaksa sendi pelana tangan Hyena bergerak lebih. Gadis itu mengerang kesakitan. Yoojung nyaris mematahkan tangannya.

Yoojung menampar Hyena dengan sangat keras. Menimbulkan bekas kemerahan yang sangat jelas di pipi gadis itu. Kemudian, ia menghempas tangan Hyena kasar.

“Kau kira apa yang sudah kau lakukan hah?!” bentak Shin So Hee.

“Dan kalian kira apa yang sudah kalian lakukan padaku selama ini?!” teriak Yoojung tidak kalah kencangnya. Air mata membanjiri wajah gadis itu. Ia memandang semua orang seperti sedang kesetanan. Ia menuding jari pada Kyuhyun. “Kau! Kau pikir kau hebat?! Apa kau pikir kau segalanya kalau kau menindasku?! Kau hanya menunjukkan pada semua orang kalau kau banci karena kau hanya berani menindas perempuan!”

“Dan kalian semua!” ia membelalak menatap siswa lain. “Apa salahku sampai kalian benci padaku?! Apa salah keluargaku pada kalian?! Kalian tidak lebih hanya orang bodoh yang diperbudak banci! Asal kalian tahu itu!”

Gadis itu menyeka air mata, kacamatanya kini sudah berair. Ia meraung dengan marah. “Kalau kalian tidak tahu apa-apa tentang hubunganku dengan Jiyong oppa, lebih baik kalian diam! Kalian boleh mengejekku, menghinaku, memukulku! Tapi kalau kalian menyinggung Jiyong oppa dan keluargaku, di saat itulah aku marah!”

Semua orang di ruangan itu terdiam. Bingung, terkejut, dan takut menjadi atmosfer ruangan ini.

“Memangnya kenapa kalau aku tidak bisa bernyanyi?!” teriak Yoojung lagi. “Memangnya aku akan mati kalau aku tidak bisa bernyanyi?! Jangan jadi pengecut kalau memang kalian tidak mau aku ikut lomba! Kalian pikir aku mau bergabung dengan manusia bodoh seperti kalian?! Menjijikkan!” gadis itu membuat gerakan meludah dengan muak.

“Meskipun Kim saengnim menolak,” lanjut gadis itu. “Aku akan tetap memaksanya supaya aku dikeluarkan dari lomba ini. Tenang saja, pengecut, aku akan keluar! Dan kalian tidak perlu merasa risau akan keberadaanku! Aku yakin, setelah aku keluar, kalian pasti menang! Selamat tinggal, pecundang!”

Yoojung mengambil ranselnya, meninggalkan teman-teman brengseknya. Ia membanting pintu ruang musik, berlari keluar sekolah sembari berlinang air mata.

☆☆☆

Dari tempatnya, Kwon Ji Yong mendengar seseorang berjalan menuju pintu. Ia cepat-cepat menjauh. Ia tersentak ketika melihat Yoojung membanting pintu, dan berlari sambil menangis.

Ia keluar dari gedung sekolah, namun gadis itu sudah tidak ada. Cepat-cepat ia ke tempat parkir, menghampiri sepedanya, keluar wilayah sekolah mencari Yoojung. Ia menyusuri jalan pulang mereka, berharap bertemu gadis itu.

Betapa bersyukurnya ia, ketika melihat gadis itu pada tikungan pertama.

“Jung-ah!” seru laki-laki itu mempercepat kayuhan sepeda.

Gadis itu tampak kaget ketika mendengar Jiyong memanggilnya. Ia mempercepat langkah sembari menyeka sisa-sisa air matanya. Namun Yoojung tidak bisa mengalahkan kecepatan langkah kakinya dengan kecepatan kayuhan sepeda Jiyong.

Sehingga kini Jiyong telah memblokir langkahnya. Ia turun dari sepeda, berdiri di depan gadis yang tertunduk itu. Ia menarik dagu gadis itu agar menatapnya. Mata Yoojung memerah dan bengkak. Ada bekas air mata di pipi gadis itu. Pasti gadis ini menangis sepanjang jalan, pikirnya.

“Kau mau cerita?” tanya Jiyong memulai. Yoojung menggeleng.

“Kau melakukan hal yang benar, Jung..” Jiyong melepas kacamata Yoojung, menaruhnya di saku celana. Ia menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Ia membenamkan wajah sang adik di bahunya, melingkarkan lengan gadis itu di pinggangnya. Ia mengelus-elus kepala gadis itu untuk menghiburnya.

“Oppa tahu?” lirih Yoojung mengangkat wajah.

“Bahkan melebihi dirimu sendiri.”

Detik selanjutnya, Yoojung sudah menangis di pelukan sang kakak.

 

“I’m go in all the way

I can feel it

I believe it

I’m here, I’me here to stay..”

 

Apa yang terjadi kemarin membuat Cho Kyu Hyun tidak habis pikir. Itu adalah pertama kalinya Yoojung bicara sepanjang itu padanya. Dan pertama kalinya Yoojung meninju dan menendang Kyuhyun.

Dan untuk pertama kalinya, ia melihat Yoojung menangis.

Sejahat itukah dirinya? Selama ini, ia tidak pernah melihat gadis itu menangis karena bullying yang dilakukannya. Gadis itu benar-benar kuat, batinnya. Karena itulah ia kerap melancarkan serangan. Namun apa yang terjadi kemarin membuat apa yang ia pikirkan selama ini lenyap begitu saja. Ia benar-benar merasa bersalah pada gadis itu, namun ia tidak tahu caranya meminta maaf. Baru kali ini ia menyadari bahwa tindakannya sungguh keterlaluan.

Tidak ada satupun ejekan untuk Yoojung ketika gadis itu masuk ke kelas. Kyuhyun tertegun. Selain karena semua anak memandangnya takut, dari keadaannya saja gadis itu benar-benar tampak berbeda. Wajahnya pucat, dan matanya.. aish.. Kyuhyun ingin mengutuk dirinya sendiri! Pasti Yoojung menangis seharian kemarin. Mata merah, bengkak, dan berair gadis itu tidak bisa membohonginya.

Dan ia lebih terkejut lagi ketika guru Kim masuk ke kelas dan memulai hari ini dengan mengungkit kejadian kemarin.

“Kwon Yoo Jung.” ujar wanita itu menatap anak yang dipanggilnya. “Apa yang kau lakukan di ruang musik kemarin sungguh keterlaluan.”

Ia melirik Sohee, Hyena, Seungjo, Youngdae, dan beberapa anak lain yang tengah tersenyum bahagia.

Kyuhyun lalu melirik Yoojung. Gadis itu terlihat tenang. Tidak gugup, apalagi takut. “Jadi hukuman apa yang akan saya dapatkan?” jawabnya enteng. “Skors? Pemanggilan orang tua? Pengeluaran dari sekolah?”

Laki-laki itu terkejut mendengar penuturan Yoojung.

“Saat istirahat nanti, datanglah ke ruanganku.” jawab guru itu. Ia memandang semua anak. “Baiklah, kita mulai pelajaran hari ini.”

Sepanjang pelajaran berlangsung, pikiran Kyuhyun melayang entah kemana. Kalau gadis itu hanya mendapat hukuman skors atau pemanggilan orang tua, ia masih bernapas lega. Tetapi, jika seandainya dikeluarkan, ia tidak akan bisa melihat wajah gadis itu lagi! Ayolah! Tidak mengganggu gadis itu sehari saja membuatnya tidak bisa bernapas dengan baik. Apalagi kalau gadis itu dikeluarkan! Dia tidak akan bisa melihat wajah gadis itu! Yang terjadi padanya bukan sekadar kesulitan bernapas!

Tunggu dulu.

Apa yang terjadi pada dirinya sekarang?

☆☆☆

Ketika bel tanda istirahat berbunyi, Kyuhyun melihat Yoojung berjalan mengekor guru biologi itu. Diam-diam, ia mengikuti mereka.

Ternyata, mereka tidak benar-benar berada di ruangan guru Kim. Mereka berada di koridor yang bercabang ke gudang dan laboratorium yang memang pada saat itu sedang sepi. Ia bersembunyi di balik loker.

“Saya mohon, saem, keluarkan saya dari lomba itu.” ujar Yoojung sopan. “Jika saya disuruh memilih, saya lebih baik dikeluarkan di sekolah ini daripada harus bernyanyi bersama mereka. Saya memang tidak bisa bernyanyi. Jadi jangan paksa saya mengikuti perlombaan yang sama sekali tidak menyalurkan bakat saya.”

“Kau hanya perlu berlatih lebih giat, nona Kwon.” wanita itu berkeras. “Selebihnya kau bagus..”

“Untuk apa aku melakukan itu kalau aku tidak mau?!” jawab Yoojung mulai sebal. Sopan santun tidak lagi ia perhatikan. “Seharusnya kalian bangga karena aku mempersembahkan medali emas untuk sekolah ini! Apa itu tidak cukup?!”

Guru Kim terdiam. Bukannya menyombongkan diri, tapi memang irulah yang terjadi. Yoojung dan empat siswa dari sekolah lain mewakili Korea Selatan untuk berlaga di Olimpiade Fisika Internasional. Meski bukan juara dunia, yah, setidaknya gadis itu mendapat medali emas. Dengan begitu, sebenarnya ia telah menepis kenyataan bahwa sekolah ini hanya mengunggulkan seni, bukan otak.

Namun menghentikan kebiasaan yang sudah mendarah daging memang terlampau sulit untuk dilakukan. Seorang diri pula.

“Bakatku memang bukan menyanyi, saem.. Aku punya banyak cara untuk membuktikan siapa aku..” lirih gadis itu pasrah. “Jadi aku mohon, keluarkan aku dari lomba itu..”

Kim Ji Hyun terdiam cukup lama, dan mengangguk pelan. “Baiklah,” ia menghela napas. “Mulai besok, kau tidak perlu latihan bernyanyi lagi..”

Mata sipit Yoojung melebar. Kebahagiaan membuncah dalam diri gadis itu. “Terima kasih, saem..” ia menjabat tangan wanita itu dengan terlalu bersemangat.

Kyuhyun tersentak ketika melihat Yoojung mulai berjalan menjauh. Ketika ia keluar dari tempat persembunyiannya, ia berpapasan dengan gadis itu.

Suasana makin terasa canggung.

Tatapan dingin Yoojung benar-benar menghunus. Ia juga bicara dengan suara sedingin es. “Selamat, ya. Kelompok kalian pasti akan menang dan tidak akan mendapat celaan setelah aku keluar.” ia meninggalkan Kyuhyun yang berdiri mematung di koridor.

Entah mengapa, ucapan itu membuat Kyuhyun sakit hati.

 

“I was born to be somebody

Ain’t nothing that’s ever gonna stop me

I’ll light up the sky like lightning

I’m gonna rise above, show ‘em what I’ve made of

I was born to be somebody

I was born to be

And this world will belong to me..”

 

Itulah terakhir kalinya mereka berbicara. Karena selanjutnya, Kyuhyun dan teman-temannya sibuk latihan hanya untuk dikalahkan junior mereka. Ya, mereka tidak memenangkan lomba paduan suara antarkelas itu.

Setelahnya, Yoojung tidak pernah bicara dengan siapapun di kelas. Ia juga tidak pernah di-bully­ lagi oleh Kyuhyun dan teman-temannya. Perang dingin antara Yoojung dan semua warga kelasnya terus berlangsung sampai penghujung tahun.

Ketika mereka naik ke tingkat akhir, Yoojung tidak lagi sekelas dengan teman-temannya dulu. Gadis itu jelas-jelas merasa bahagia. Ia tidak lagi mendapat olokan, meskipun ia masih belum memiliki teman. Ia benar-benar bersikap soliter kepada semua orang di sekolahnya. Namun setidaknya, kehidupan gadis itu jauh lebih baik.

☆☆☆

Sejak berada di penghujung tahun sekolah menengah, Kyuhyun hampir tidak pernah melihat gadis itu. Setidaknya itulah yang terjadi setelah ia tidak lagi sekelas dengannya. Yeah, mungkin dalam waktu tiga bulan ia hanya dapat melihatnya sekali, setelah itu Yoojung akan ‘terkesan’ menghilang begitu saja. Bahkan saat pelajaran olahraga, ketika Kyuhyun mencuri pandang ke lapangan, Yoojung tak terlihat. Juga ketika tes masuk perguruan tinggi. Sepertinya gadis itu mendaftar di universitas yang berbeda dengannya.

Dan terus seperti itu sampai hari kelulusan.

Hari itu semua orang bersuka cita karena akhirnya mereka ‘ditendang keluar’ dari sekolah ini. Hal itulah juga yang dirasakan Kyuhyun, terlebih nilainya sangat memuaskan. Posisinya terbaik kedua di sekolah ini.

Tentu saja, kalian pasti tahu siapa yang pertama. Dan Kyuhyun tengah mencuri pandang ke arahnya. Tanpa sadar, ia tersenyum. Sudah lama sekali ia tidak melihat gadis itu.

Ia melihat Yoojung sedang berpelukan dengan dua orang pria; Jiyong, dan seseorang yang tampak lebih tua dari mereka. Sepertinya pria itu adalah ayah Yoojung, atau ayah Jiyong? Ah, entahlah.. Gadis itu menyeka air matanya, kemudian tertawa, memperlihatkan behelnya. Jiyong memberikan kamera kepada pria-tak-dikenal itu, dan memotret dirinya dan sang adik. Lalu pria yang tampak lebih tua itu memberikan kamera pada Jiyong, meminta Jiyong memotret dirinya dengan Yoojung. Mereka juga menahan seseorang untuk memotret mereka bertiga.

Hei! Setelah cukup lama memperhatikan mereka, ia baru menyadari Yoojung tampak berbeda hari ini. Itu untuk pertama kalinya Cho Kyu Hyun melihat seorang Kwon Yoo Jung tidak memakai kacamata dan membiarkan rambutnya tergerai. Meskipun ia masih mengenakan behel.

Setelah sekian lama mengenal Yoojung, baru hari ini ia menyadari bahwa Yoojung begitu.. cantik.

“Kyu-ah,” ia menoleh ketika mendengar dua orang memanggilnya. Sohee dan Hyena. “Apa yang kau lakukan di sini?”

Ia cepat-cepat membelakangi Yoojung dan keluarganya agar tidak mencurigakan. “Aku.. hanya sedang berpikir, apa yang terjadi kalau seandainya kita melanjutkan ke perguruan tinggi..” ujarnya mengarang bebas. “Ah, kita semua pasti tidak akan bertemu lagi..”

“Siapa bilang?” kata Hyena riang. “Kita berada di kampus yang sama, Kyu!”

Laki-laki itu mengernyit. “Maksud kalian.. kalian juga di Kyunghee?”

Keduanya mengangguk. “Hasil seleksi masuk universitas ‘kan juga ditempel di dekat peringkat kita.” lanjut Sohee. “Kita juga bisa tahu universitas mana yang ditempati anak-anak yang lain.”

Kyuhyun terdiam. Itu berarti.. ia juga bisa tahu Yoojung akan berkuliah dimana! Tapi akan mencurigakan jika ia langsung ke papan pengumuman dan melihat nama Yoojung. Ia berbalik. Keluarga Kwon sudah tidak terlihat lagi.

Dan itulah terakhir kalinya ia melihat Kwon Yoo Jung.

 

“You feel it

Believe it

Dream it

Be it.. “

 

Ada perasaan kosong dalam hati Kyuhyun ketika ia mulai berkuliah di Kyunghee. Entahlah, rasanya tidak seperti sekolah-sekolahnya yang dulu. Meski memiliki banyak penggemar, ia sering sekali merasa kesepian. Ia seperti menjadi orang lain. Menjadi Cho Kyu Hyun yang super duper dingin dan cuek. Ketika berkumpul bersama teman-temannya pun, ia merasa sendirian, nyaris antisosial.

Namun suatu ketika..

Seperti biasa, Kyuhyun berkumpul bersama teman-temannya di taman kampus, menunggu mata kuliah selanjutnya. Mereka tengah mengenang masa-masa kejayaan saat sekolah menengah. Sampai akhirnya Choi Young Dae dan Jun Hye Na hendak pamit pada mereka, dan laki-laki itu menarik tangan gadis itu untuk berdiri. Bukannya berdiri, Hyena kembali duduk dan berteriak. Ia mengelus-elus pergelangan tangannya, sembari meringis kesakitan.

Sohee menyipitkan mata. “Itu tanganmu yang nyaris Yoojung patahkan ‘kan?”

Mereka terlonjak kaget. Jantung Kyuhyun berdesir ketika mendengar nama itu.

Hyena mengangguk. “Aneh, padahal aku sudah tidak merasakan sakitnya lagi..” lirihnya.

“Ah, Yoojung..” gumam Seungjo menerawang. “Aku benar-benar bersalah padanya.”

Semua orang bergumam setuju. Kyuhyun tidak menanggapi.

“Apa kabar dia, ya?” sahut Youngdae. “Aku tidak pernah melihatnya lagi..”

“Sepertinya dia tidak tinggal di Seoul..” imbuh Sohee muram.

“Tentu saja dia tidak tingal di sini,” timpal Hyena enggan. “Bagaimana mungkin dia tinggal di Seoul sementara dia kuliah di KAIST?”

☆☆☆

Tak terasa sudah tiga tahun Kwon Yoo Jung berkuliah di Korea Advanced Institute of Science and Technology.

Kehidupan gadis itu di perguruan tinggi sungguh berbeda dengan kehidupan persekolahannya yang dulu. Kini Yoojung punya teman! Itu karena ia bertemu kembali dengan dua orang anak yang dulu bersamanya ikut mewakili Korea Selatan. Bahkan di KAIST, ia tidak pernah melihat seorangpun teman sekolah menengahnya dulu! Ia menjalani hari-hari di kampusnya dengan suka cita.

Suatu hari, Yoojung sedang dalam perjalanan ke perpustakaan kampus untuk mencari beberapa buku. Dua jam kemudian, barulah ia keluar dari perpustakaan dengan lima buku di pelukannya; Fundamental of Aerodynamics, What Engineers Know and How They Know It, Aircraft Structural Analysis, Aircraft Technology, dan Engineering Analysis of Flight Vehicle.

Ia baru saja ingin ke taman kampus untuk membaca ketika salah satu temannya memanggil. Joon Tae Joon.

“Kenapa Park seosaengnim mencariku?”

“Entahlah,” Taejoon mengangkat bahu. “Dia bilang ini ada kaitannya dengan beasiswa yang kau ajukan.”

Mendengar hal itu, mata Yoojung bersinar. Secepat kilat ia merapikan buku dan berlari mencari dosen itu. Saking senangnya, ia berlarian sepanjang koridor kampus sambil menarik tangan Taejoon. Laki-laki itu menghentikan larian Yoojung dengan mendadak persis di depan ruangan dosen yang dicari.

Ya, ceritakan padaku, nona Kwon!” serunya. “Apa yang terjadi?!”

Yoojung menyeringai. “Kau akan tahu nanti!” ia memasuki ruangan itu dengan sumringah.

Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah, seorang wanita yang tengah duduk seraya bermain rubik di belakang sebuah meja besar.

“Anda memanggil saya, saem?” tanya Yoojung tanpa bisa menyembunyikan kebahagiaannya.

Wanita itu mengangguk. Sementara satu tangannya masih bermain rubik, satu tangannya lagi mengambil dua berkas dokumen, dan mengacungkannya pada Yoojung. Gambar depan dokumen itu membuat gadis itu terkejut setengah mati.

“Apa kau yang mengajukan ini?”

 

“I was born to be somebody

Ain’t nothing that’s ever gonna stop me

I’ll light up the sky like lightning

I’m gonna rise above, show ‘em what I’ve made of

I was born to be somebody

I was born to be..

And this world will belong to me..”

 

Yoojung tersenyum menatap rumahnya. Ia akan merindukan rumah dan segala hal yang terjadi di sana. Ia melewati pagar, menyusuri halaman sambil memandang berkeliling. Ia membuka pintu rumah. Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah, Jiyong dan pamannya sedang bermain catur. Keduanya sangat kaget ketika melihat gadis itu.

Jiyong-lah yang pertama bereaksi ketika melihat ekspresi Yoojung yang terlihat begitu sedih. Ia berdiri, menggenggam tangan adiknya. “Kau kenapa?”

Sang paman terlihat khawatir ketika Yoojung dengan tiba-tiba memeluk Jiyong. Dan mereka semakin khawatir saat gadis itu bukannya menangis, melainkan tertawa. Jiyong melepas pelukan dengan heran.

“Kau ini kenapa sih?” tanya Jiyong, sewot. “Apa karena terlalu berurusan dengan pesawat makanya kau jadi gila?”

Tawa gadis itu makin kencang. “Ya, oppa benar,” jawabnya di sela tawa. Ia mengacungkan dokumen yang diserahkan dosen Park tadi kepada keduanya.

Jiyong dan ayahnya membaca dokumen yang diserahkan Yoojung.

Beberapa detik kemudian, air mata bangga membasahi wajah mereka.

“Sekarang, oppa,” gadis itu menggamit lengan sang kakak. “Temani aku ke dokter gigi, ya?”

☆☆☆

Cho Kyu Hyun menatap bangunan universitas itu dengan takjub. Jadi, ini tempat perkuliahan anak-anak pintar se-Korea Selatan, katanya dalam hati. KAIST. Entah apa yang merasukinya, kini ia berada di Daejeon untuk mencari seseorang yang dulu menjadi musuh bebuyutannya. Orang yang mempengaruhi dirinya bahkan setelah apa yang orang itu lakukan padanya. Orang yang telah mengubah kepribadiannya.

Orang yang telah menumbuhkan perasaan berbeda pada dirinya.

Ia mencegat salah satu mahasiswa dan bertanya tanpa basa-basi. “Apa kau mengenal Kwon Yoo Jung?”

“Yoojung?” ulang mahasiswa itu. “Oh ayolah, siapa yang tidak mengenal gadis cerdas itu?” katanya seolah itu adalah pertanyaan terbodoh yang pernah ia dengar.

“Apa dia kuliah di sini?”

“Tadinya.” jawab orang itu. “Tapi sekarang dia melanjutkan kuliahnya di luar negeri.”

“Di luar negeri?!”

 

“This world will belong to me..

This world will belong.. to.. me..”

 

“Mohon perhatian, penumpang Korean Air dengan nomor penerbangan KE 768 tujuan Paris, dipersilahkan masuk ke Ruang Tunggu B-2. Attention please, Korean Air passengers on flight number KE 768 flying to Paris, please browse seat to gate B-2.

Ruang tunggu. Entah mengapa, ketika pengumuman itu bergema di Terminal 2 Bandara Incheon, jantung Yoojung tiba-tiba berdetak lebih kencang. Napasnya menggelora. Ia terlihat sangat bersemangat. Sebentar lagi, ia akan mencapai impiannya. Membuktikan pada dunia bahwa ia bukan anak yang lemah. Menunjukkan pada semua orang bahwa ia bisa sukses tanpa harus menyanyi.

“Paris?” celetuk Gong Shin Hae polos, temannya di KAIST.

“Ya, pesawatku transit di Paris, setelah itu baru ke Berlin.” jelas Yoojung.

“Kau membuatku iri, nona Kwon..” kata Taejoon.

Yoojung tersenyum, kemudian memeluk kedua temannya itu. “Aku akan merindukan kalian..”

Lalu ia berpaling menatap paman dan kakaknya. Ia memeluk pamannya lebih dulu.

“Kau benar-benar membuatku bangga, Jung.” ucap pamannya memulai. “Orangtuamu pasti juga bangga..” Yoojung membalasnya dengan mengangguk-angguk.

Terakhir, ia menatap Jiyong yang balik menatapnya sambil tesenyum. Tangisnya langsung pecah ketika laki-laki itu memeluknya.

“Jaga kesehatanmu, ya.” Jiyong berkata sambil mengelus kepala gadis itu. Matanya berkaca-kaca. “Makanlah dengan teratur. Jangan belajar sampai larut kalau kau capek. Aku tidak tahu apa aku bisa mengunjungimu atau tidak, tapi yang jelas, aku akan merindukanmu, Jung. Sangat..”

“Oppa juga,” jawab Yoojung dalam pelukan. “Jangan berlatih sampai badanmu sakit. Olahragalah setiap pagi supaya kau tetap sehat. Kalau oppa sudah jadi artis nanti, kabari aku. Dan kalau ada konser, bilang padaku supaya aku bisa menonton. Aku juga akan saaaangat merindukan oppa..”

Yoojung melepas pelukan itu dengan berat hati. Ia mengenakan tas punggungnya, dan mengambil koper yang sedari tadi dipegang Jiyong. Setelah berpamitan dengan mereka semua, Yoojung dan dosennya, Park Sae Hee, bergegas masuk ke ruang tunggu keberangkatan.

Ketika hendak pulang, Shinhae menyipitkan mata ketika mengamati seseorang. Ia merasa mengenali orang itu, tapi ia tidak ingat dimana. Sampai ketika ia meneriaki nama Yoojung barulah ia ingat.

Orang itu adalah orang yang dua hari lalu menanyakan Yoojung padanya.

☆☆☆

Kyuhyun sudah tidak memperhatikan aturan lalu lintas lagi. Begitu ia sampai di tempat parkir Bandara Incheon, ia bergegas masuk ke sana. Ada sesuatu yang ingin ia sampaikan pada gadis itu. Ia berlari sembari meneriaki nama Yoojung, berharap gadis itu akan mendengarnya.

Sudah hampir sepuluh menit Kyuhyun bersikap seperti orang gila. Meneriaki Yoojung sambil berlari-lari. Tepat ketika ia nyaris menyerah, ia menemukan gadis itu.. dalam perjalanan menuju ruang tunggu.

Sekali lagi ia meneriaki nama gadis itu, Yoojung spontan berbalik.

Dan betapa terkejutnya gadis itu ketika melihat siapa yang memanggilnya.

Yoojung berusaha kabur, tetapi Kyuhyun jauh lebih cepat darinya. Laki-laki itu menggenggam erat tangan gadis itu. Kali ini Kyuhyun melihat gadis itu tanpa kacamata, tanpa behel, dan rambut tergerai. Gadis itu benar-benar cantik!

“Hei, apa yang kau lakukan?!” teriak Yoojung. “Lepaskan aku!”

“Jangan pergi, aku mohon..” pelas Kyuhyun.

“Memangnya siapa kau menyuruhku jangan pergi?!” semprot gadis itu. “Aku harus naik pesawat!” ia masih berusaha melepas cengkeraman Kyuhyun.

“Aku minta maaf, aku barus menyesalinya sekarang..” perkataan Kyuhyun semakin lirih.

“Aku harus naik pesawat!” Yoojung melepas paksa tangan Kyuhyun yang memegang erat pergelangannya, dan berhasil. Ia segera berlari masuk ke ruang tunggu.

Ketika Kyuhyun ingin masuk ke ruang tunggu, dua orang polisi mencegahnya.

“Yoojung-ah, maafkan aku!” teriak Kyuhyun. Namun Yoojung mengabaikannya.

Kembali memaksakan diri masuk ke ruang tunggu, Kyuhyun masih dicegah dua polisi itu.

“Kwon Yoo Jung!” pekikannya kali ini sungguh menggelegar.

Tentu saja Yoojung bisa mendengar dengan jelas suara itu. Terdengar jernih di telinganya. Ia hendak mengabaikannya dengan melangkah cepat, namun seruan terakhir Kyuhyun membuatnya membeku seketika.

“AKU MENCINTAIMU!”

Bulu kuduknya meremang. Matanya berkaca-kaca. Ia merasa seluruh aktivitas di tubuhnya berhenti. Juga waktu di sekitarnya. Dua kata itu mampu membuatnya seperti ini.

Ia melirik laki-laki itu, dan kembali berjalan dengan langkah lebar, menyusul sang dosen yang sudah berjalan jauh di depannya.

 

-To Be Continued-

 

Advertisements

2 thoughts on “Born to be Somebody 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s